Anda di halaman 1dari 6

Persiapan Indonesia Menghadapi Bonus Demografi di Tengah Persaingan Asean Economic Community

Oleh: Radityo Yudi Wibisono Mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro, Semarang.

Kajian-kajian akademis terkini yang meramalkan terjadinya Bonus Demografi di Indonesia pada tahun 2020-2030 mendatang membuat beberapa pihak melontarkan kritikan ataupun saran mengenai hal tersebut. Pertanyaan yang sangat lazim terdengar adalah mampukah Indonesia dapat memanfaatkan fenomena demografi tersebut sebagai kekuatan untuk membuat pertumbuhan ekonomi melesat naik, atau justru akan menjadikan beban di masa mendatang?

Pertanyaan tersebut menjadi sangat wajar untuk dilontarkan jika melihat pengalaman beberapa negara yang sudah melewati fase tersebut. Jika dilihat dari gambaran kondisi distribusi penduduk dunia, lebih dari tiga perempat penduduk dunia hidup di negara berkembang, kurang dari seperempat jumlah itu hidup di negara maju.

Kondisi tersebut dapat dijelaskan dalam beberapa alasan. Pertama, dilihat dari budaya yang ada pada banyak negara berkembang. Perempuan di negara berkembang cenderung untuk menikah pada usia muda yang menyebabkan lebih banyak jumlah keluarga dalam kelompok usia tertentu. Selain itu, pernikahan di usia muda jelas menyebabkan lebih panjangnya masa subur untuk melahirkan yang nantinya akan meningkatkan tingkat kelahiran secara signifikan. Hal yang sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan penduduk di negara maju yang justru menunda pernikahan karena lebih memilih untuk bekerja. Kedua, bersamaan dengan itu, tingkat kematian justru menurun karena penerapan teknologi kedokteran dari negara modern. Dengan meningkatnya pelayanan di bidang kesehatan tersebut terbukti efektif menurunkan angka kematian. Jika kedua alasan tersebut digabungkan, akan terjadi peningkatan jumlah penduduk yang besar pada banyak negara-negara berkembang.

Secara kuantitatif, tingkat pertambahan penduduk (Rate of Population Increase), diukur sebagai presentase pertambahan (pengurangan) relatif netto dari jumlah penduduk per tahun karena pertambahan alamiah (Natural Increase) dan Migrasi Internasional Neto (net international migration). Walaupun dalam beberapa dasawarsa terakhir jumlah penduduk di negara berkembang hanya bergantung pada selisih jumlah kelahiran dan kematian, bukan tidak mungkin Migrasi Internasional di masa mendatang akan menjadi hal yang sangat berpengaruh. Seperti yang menjadi fokus pada penilisan makalah ini, penerapan AEC (Asean Economic Community) akan sangat memungkinkan arus perpindahan penduduk antar negara terjadi dalam jumlah besar dalam beberapa tahun mendatang.

Bonus Demografi. Bonus demografi kerap diinterpretasikan sebagai peluang bagi Indonesia di masa depan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Perlu diketahui, bonus demografi adalah keuntungan ekonomi yang disebabkan oleh menurunnya kelahiran jangka panjang. Salah satu gejala yang terlihat adalah jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) yang akan melonjak sehingga melebihi jumlah penduduk usia nonproduktif (<15 tahun dan >64 tahun). Hal ini terkait dengan dependency ratio, atau rasio yang menyatakan jumlah penduduk usia nonproduktif yang ditanggung oleh usia produktif. Di tahun 2020-2035 mendatang, Indonesia diperkirakan akan memiliki dependency ratio sebesar 0,4-0,5 yang berarti setiap 100 orang penduduk usia produktif hanya menanggung 40-50 orang penduduk usia nonproduktif. Hal ini tentu jauh berbeda dengan kondisi di tahun 70-an, di mana dependency ratio Indonesia berkisar di angka 0,8-0,9.

Jumlah anak menurun, lansia meningkat pelan tapi jumlah pekerja meledak
200.0 180.0 160.0 Sri Moertiningsih Adioetomo diolah dari UN Population Projection 2008

187.0 167.2

Population (million)

140.0 120.0

Usia kerja 15-64 thn

100.0
80.0 60.0 40.0 20.0 0.0

60.9 43.9

Anak <15 thn Lansia 65+


16.1

51.9 47.8

Perubahan struktur umur yang tergambar dalam grafik diatas menyebabkan terjadinya lonjakan jumlah penduduk yang berada di usia produktif sehingga akan menyumbang pertumbuhan ekonomi yang tinggi apabila bisa dimanfaatkan dengan baik. Untuk dapat mempersiapkan bonus demografi itu, harus ada perbaikan pada berbagai bidang, seperti pendidikan, kesehatan, dan lapangan pekerjaan.

Bila dilihat dari proyeksi diatas, tentu akan menimbulkan optimisme bahwa kita akan bisa melewati fase tersebut dengan memanfaatkannya sebagai kekuatan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi. Tetapi pertanyaannya sekarang adalah, apakah pertumbuhan tinggi yang di dambakan tadi dapat sejalan dengan pembangunan ekonomi di Indonesia?

Teori Thomas Robert Malthus Mengenai Pembangunan Ekonomi. Thomas Robert Malthus adalah nama yang selalu dikaitkan dengan teori terkenal kependudukan. Dia sangat memeperhatikan teori pertumbuhan yang jelas dan sistematis ketimbang berbagai teori yang

1950 1955 1960 1965 1970 1975 1980 1985 1990 1995 2000 2005 2010 2015 2020 2025 2030 2035 2040 2045 2050

ada di jamannya. Gagasan tentang pembangunan ekonomi terdapat pada buku II berjudul The Progress of Wealth yang diterbitkan 1820.

Malthus tidak menganggap pembangunan ekonomi terjadi dengan sendirinya. Malahan proses pembangunan ekonomi membutuhkan berbagai usaha yang konsisten di fihak rakyat (M.L Jhinghan, 1990). Malthus menitik beratkan perhatian pada perkembangan kesejahteraan suatu negara, yaitu pembangunan ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan suatu negara. Kesejahteraan itu dapat dilihat dari seberapa besar kuantitas produk yang dihasilkan oleh tenaga kerjanya, dan sebagian lagi pada nilai atas produk tersebut.

Hubungan antara pertumbuhan penduduk dan pembangunan ekonomi yang diungkapkan Malthus dapat diterapkan sepenuhnya pada negara berkembang. Menurutnya, di negara yang hanya mengalami pertambahan penduduk saja, usaha peningkatan akan berjalan sangat lambat. Fenomena tersebut terjadi di negara-negara Asia dan Afrika.

Gagasan dasar Malthus adalah dengan menghubungkan antara tingkat pertumbuhan perkapita, dengan pertumbuhan penduduk dan tingkat pertumbuhan pendapatan total. Pertumbuhan perkapita sendiri adalah selisih antara pertumbuhan pendapatan dan pertumbuhan penduduk. Seperti yang dijelaskan pada model Harrod-Domar, apabila tingkat pertambahan total lebih besar daripada tingkat pertambahan penduduk maka tingkat pendapatan perkapita akan meningkat. Begitupun sebaliknya.

Apabila tingkat pendapatan sangat rendah berdasarkan paritas daya beli, asupan nutrisi sedemikian buruknya sehingga orang-orang akan mudah terkena penyakit infeksi yang mematikan, kehamilan dan perawatan anak menjadi problematis, dan akhirnya akan terjadi kelaparan. Dan apabila tingkat pendapatan perkapita minimal tercapai, penduduk mulai tumbuh hingga mencapai kondisi stabil.

Asean Economic Community. Komitmen negara-negara yang tergabung dalam ASEAN untuk meningkatkan kinerja ekonominya dilanjutkan dengan penerapan AEC pada Tahun 2015 mendatang. Pasar bebas antar negara-negara Asean tidak hanya terjadi dalam perdagangan barang, melainkan juga dalam bidang jasa. Hal itu sama halnya dengan Bonus Demografi yang memiliki tantangan dan peluang dalam bidang perekonomian. Tetapi

celakanya pertarungan ini akan membawa menuju hukum rimba, siapa yang paling siap akan menjadi pemenang, dan yang tidak siap akan membawa negara tersebut dalam ancaman besar.

Menurut hasil survey lembaga-lembaga pemeringkat Internasional, ranking keunggulan Indonesia memang terus meningkat. Tapi, itu belum mencukupi. Terakhir misalnya, angka Global Competitiveness Index 2013 yang dikeluarkan World Economic Forum pada September 2013, menempatkan competitiveness Indonesia di peringkat 38. Naik 12 tingkat loncatan terbesar dari seluruh yang dicatatkan 148 negara yang diperingkatkan dari semula berposisi di peringkat ke-50 pada tahun silam.

Peringkat Human Development Index Indonesia menurut Human Development Report 2013 yang dibuat United Nation Development Program (UNDP) pun tak bisa dibilang memuaskan. Di laporan itu dikatakan, nilai Indeks Pembangunan Manusia Indonesia berada di posisi 121 dari total 187 negara di dunia yang diperingkat.

Dengan peringkat itu, artinya Indonesia dianggap masih tergolong negara ekonomi lemah. Daya saing, apalagi daya tandingnya, dikategorikan belum digdaya. IPM Indonesia yakni 0,629, masih di bawah rata-rata dunia 0,694. Bahkan di bawah angka regional 0,683. Indonesia dikategorikan sebagai Negara Pembangunan Menengah bersama 45 ne gara lainnya. Kalah dibanding Singapura (peringkat ke-18), Brunei Darussalam (30), Malaysia (64), Thailand (103) serta Filipina (114).

Bonus Demografi yang diproyeksikan akan terjadi pada tahun 2020-2030 jelas akan mendapat tantangan baru dengan penerapan AEC yang dimulai pada 2015 nanti. Apalagi ditambah dengan data-data yang mengindikasikan bahwa Indonesia sendiri kurang persiapan dalam menghadapi AEC. Singkatnya, ledakan jumlah tenaga kerja yang nantinya akan terjadi mau tidak mau harus dipaksan bersaing dengan tenaga kerja asing yang sangat memungkinkan membanjiri Indonesia. Apabila tenaga kerja Indonesia sendiri kalah dalam persaingan, maka ledakan penduduk usia kerja akan berubah menjadi ledakan angka pengangguran di masa itu. Kalaupun tingkat pendapatan akan meningkat, pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah bisa diikuti dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat? Untuk itu, Indonesia harus segera mempersiapkan segala hal dalam menghadapi segala tantangan yang ada di masa depan.

Referensi: Todaro, Michael P. Pembangunan Ekonomi. Jhinghan, M.L. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. Nasir, Jamal Abdul. Prolonging the Native Demographic Bonus: An Empirical Evidence. UNFPA. TAKING ADVANTAGE OF THE DEMOGRAPHIC BONUS IN VIET NAM; Opportunities, Challenges, and Policy Option.