Anda di halaman 1dari 27

PERSPEKTIF DALAM PSIKOLOGI SOSIAL

Hasan Mustafa
Pengantar :
Tulisan ini disusun sebagai upaya membantu mahasiswa memahami isi mata kuliah
Psikologi Sosial pada program studi Administrasi Negara Fisip Unpar. Acuan uraian ini
adalah buku yang ditulis oleh James A. Wiggins, Beverly B. Wiggins, dan James Vander
Zanden ( 1994), dilengkapi oleh sumber bacaan lain. Topik lain yang juga merupakan
pokok bahasan dalam mata kuliah tersebut akan segera disusun. Semoga bermanfaat.
Akar awal Psikologi Sosial
Walau psikologi sosial merupakan disiplin yang telah lama ada ( sejak Plato dan
Aristotle), namun secara resmi, disiplin ini menjadi satu ilmu yang mandiri baru sejak
tahun 1908. Pada tahun itu ada dua buku teks yang terkenal yaitu "Introduction to Social
Psychology" ditulis oleh William McDougall - seorang psikolog - dan "Social
Psychology : An Outline and Source Book , ditulis oleh E.A. Ross - seorang sosiolog.
Berdasarkan latar belakang penulisnya maka dapat dipahami bahwa psikologi sosial bisa
di"claim" sebagai bagian dari psikologi, dan bisa juga sebagai bagian dari sosiologi.
Psikologi sosial juga merupakan pokok bahasan dalam sosiologi karena dalam sosiologi
dikenal ada dua perspektif utama, yaitu perspektif struktural makro yang menekankan
kajian struktur sosial, dan perspektif mikro yang menekankan pada kajian individualistik
dan psikologi sosial dalam menjelaskan variasi perilaku manusia.. Di Amerika disiplin ini
banyak dibina oleh jurusan sosiologi - di American Sociological Association terdapat satu
bagian yang dinamakan "social psychological section", sedangkan di Indonesia, secara
formal disiplin psikologi sosial di bawah binaan fakultas psikologi, namun dalam
prakteknya tidak sedikit para pakar sosiologi yang juga menguasai disiplin ini sehingga
dalam berbagai tulisannya, cara pandang psikologi sosial ikut mewarnainya.

Apakah perbedaan di antara Sosiologi dan Psikologi ??


Kita sering berpikir bahwa yang namanya dunia psikologi adalah dunia yang
berkaitan dengan persoalan perasaan, motivasi, kepribadian, dan yang sejenisnya.
Dan kalau berpikir tentang sosiologi, secara umum cenderung memikirkan persoalan
kemasyarakatan. Kajian utama psikologi adalah pada persoalan kepribadian, mental,
perilaku, dan dimensi-dimensi lain yang ada dalam diri manusia sebagai individu.
Sosiologi lebih mengabdikan kajiannya pada budaya dan struktur sosial yang
keduanya mempengaruhi interaksi, perilaku, dan kepribadian. Kedua bidang ilmu
tersebut bertemu di daerah yang dinamakan psikologi sosial . Dengan demikian para
psikolog berwenang merambah bidang ini, demikian pula para sosiolog. Namun
karena perbedaan latar belakang maka para psikolog akan menekankan pengaruh
situasi sosial terhadap proses dasar psikologikal - persepsi, kognisi, emosi, dan
sejenisnya - sedangkan para sosiolog akan lebih menekankan pada bagaimana
budaya dan struktur sosial mempengaruhi perilaku dan interaksi para individu dalam
konteks sosial, dan lalu bagaimana pola perilaku dan interaksi tadi mengubah budaya
dan struktur sosial. Jadi psikologi akan cenderung memusatkan pada atribut dinamis
dari seseorang; sedangkan sosiologi akan mengkonsentrasikan pada atribut dan
dinamika seseorang, perilaku, interaksi, struktur sosial, dan budaya, sebagai faktor-
faktor yang saling mempengaruhi satu sama lainnya.

1
Pertanyaan yang paling mendasar yang senantiasa menjadi kajian dalam psikologi
sosial adalah : " Bagaimana kita dapat menjelaskan pengaruh orang lain terhadap perilaku
kita?'". Misalnya di Prancis, para analis sosial sering mengajukan pertanyaan mengapa
pada saat revolusi Prancis, perilaku orang menjadi cenderung emosional ketimbang
rasional? Demikian juga di Jerman dan Amerika Serikat dilakukan studi tentang
kehadiran orang lain dalam memacu prestasi seseorang . Misalnya ketika seorang anak
belajar seorang diri dan belajar dalam kelompok, bisa menunjukan prestasi lebih baik
dibandingkan ketika mereka belajar sendiri. Gordon Allport (1968) menjelaskan bahwa
seorang boleh disebut sebagai psikolog sosial jika dia "berupaya memahami,
menjelaskan, dan memprediksi bagaimana pikiran, perasaan, dan tindakan individu-
individu dipengaruhi oleh pikiran, perasaan, dan tindakan-tindakan orang lain yang
dilihatnya, atau bahkan hanya dibayangkannya"
Teori-teori awal yang dianggap mampu menjelaskan perilaku seseorang, difokuskan
pada dua kemungkinan (1) perilaku diperoleh dari keturunan dalam bentuk instink-
instink biologis - lalu dikenal dengan penjelasan "nature" - dan (2) perilaku bukan
diturunkan melainkan diperoleh dari hasil pengalaman selama kehidupan mereka -
dikenal dengan penjelasan "nurture". Penjelasan "nature" dirumuskan oleh ilmuwan
Inggris Charles Darwin pada abad kesembilan belas di mana dalam teorinya
dikemukakan bahwa semua perilaku manusia merupakan serangkaian instink yang
diperlukan agar bisa bertahan hidup. Mc Dougal sebagai seorang psikolog cenderung
percaya bahwa seluruh perilaku sosial manusia didasarkan pada pandangan ini
(instinktif).
Namun banyak analis sosial yang tidak percaya bahwa instink merupakan sumber
perilaku sosial. Misalnya William James, seorang psikolog percaya bahwa walau instink
merupakan hal yang mempengaruhi perilaku sosial, namun penjelasan utama cenderung
ke arah kebiasaan - yaitu pola perilaku yang diperoleh melalui pengulangan sepanjang
kehidupan seseorang. Hal ini memunculkan "nurture explanation". Tokoh lain yang juga
seorang psikolog sosial, John Dewey mengatakan bahwa perilaku kita tidak sekedar
muncul berdasarkan pengalaman masa lampau, tetapi juga secara terus menerus berubah
atau diubah oleh lingkungan - "situasi kita" - termasuk tentunya orang lain.
Berbagai alternatif yang berkembang dari kedua pendekatan tersebut kemudian
memunculkan berbagai perspektif dalam psikologi sosial - seperangkat asumsi dasar
tentang hal paling penting yang bisa dipertimbangkan sebagai sesuatu yang bisa
digunakan untuk memahami perilaku sosial. Ada empat perspektif, yaitu : perilaku
(behavioral perspectives) , kognitif (cognitive perspectives), stuktural (structural
perspectives), dan interaksionis (interactionist perspectives).
Perspektif perilaku dan kognitif lebih banyak digunakan oleh para psikolog sosial
yang berakar pada psikologi. Mereka sering menawarkan jawaban yang berbeda atas
sebuah pertanyaan : "Seberapa besar perhatian yang seharusnya diberikan oleh para
psikolog sosial pada kegiatan mental dalam upayanya memahami perilaku sosial?".
Perspektif perilaku menekankan, bahwa untuk dapat lebih memahami perilaku seseorang,
seyogianya kita mengabaikan informasi tentang apa yang dipikirkan oleh seseorang.
Lebih baik kita memfokuskan pada perilaku seseorang yang dapat diuji oleh pengamatan
kita sendiri. Dengan mempertimbangkan proses mental seseorang, kita tidak terbantu
memahami perilaku orang tersebut, karena seringkali proses mental tidak reliabel untuk
memprediksi perilaku. Misalnya tidak semua orang yang berpikiran negatif tentang

2
sesuatu, akan juga berperilaku negatif. Orang yang bersikap negatif terhadap bangsa A
misalnya, belum tentu dia tidak mau melakukan hubungan dengan bangsa A tersebut.
Intinya pikiran, perasaan, sikap (proses mental) bukan sesuatu yang bisa menjelaskan
perilaku seseorang.
Sebaliknya, perspektif kognitif menekankan pada pandangan bahwa kita tidak bisa
memahami perilaku seseorang tanpa mempelajari proses mental mereka. Manusia tidak
menanggapi lingkungannya secara otomatis. Perilaku mereka tergantung pada bagaimana
mereka berpikir dan mempersepsi lingkungannya. Jadi untuk memperoleh informasi yang
bisa dipercaya maka proses mental seseorang merupakan hal utama yang bisa
menjelaskan perilaku sosial seseorang.
Perspektif struktural dan interaksionis lebih sering digunakan oleh para psikolog sosial
yang berasal dari disiplin sosiologi. Pertanyaan yang umumnya diajukan adalah : "
Sejauhmana kegiatan-kegiatan individual membentuk interaksi sosial ?". Perspektif
struktural menekankan bahwa perilaku seseorang dapat dimengerti dengan sangat baik
jika diketahui peran sosialnya. Hal ini terjadi karena perilaku seseorang merupakan reaksi
terhadap harapan orang-orang lain. Seorang mahasiswa rajin belajar, karena masyarakat
mengharapkan agar yang namanya mahasiswa senantiasa rajin belajar. Seorang ayah rajin
bekerja mencari nafkah guna menghidupi keluarganya. Mengapa ? Karena masyarakat
mengharapkan dia berperilaku seperti itu, jika tidak maka dia tidak pantas disebut sebagai
"seorang ayah". Perspektif interaksionis lebih menekankan bahwa manusia merupakan
agen yang aktif dalam menetapkan perilakunya sendiri, dan mereka yang membangun
harapan-harapan sosial. Manusia bernegosiasi satu sama lainnya untuk membentuk
interaksi dan harapannya. Untuk lebih jelas, di bawah ini diuraikan satu persatu keempat
prespektif dalam psikologi sosial.

1. Perspektif Perilaku (Behavioral Perspective)


Pendekatan ini awalnya diperkenalkan oleh John B. Watson (1941, 1919). Pendekatan
ini cukup banyak mendapat perhatian dalam psikologi di antara tahun 1920-an s/d 1960-
an. Ketika Watson memulai penelitiannya, dia menyarankan agar pendekatannya ini tidak
sekedar satu alternatif bagi pendekatan instinktif dalam memahami perilaku sosial, tetapi
juga merupakan alternatif lain yang memfokuskan pada pikiran, kesadaran, atau pun
imajinasi. Watson menolak informasi instinktif semacam itu, yang menurutnya bersifat
"mistik", "mentalistik", dan "subyektif". Dalam psikologi obyektif maka fokusnya harus
pada sesuatu yang "dapat diamati" (observable), yaitu pada "apa yang dikatakan (sayings)
dan apa yang dilakukan (doings)". Dalam hal ini pandangan Watson berbeda dengan
James dan Dewey, karena keduanya percaya bahwa proses mental dan juga perilaku
yang teramati berperan dalam menyelaskan perilaku sosial.
Para "behaviorist" memasukan perilaku ke dalam satu unit yang dinamakan
"tanggapan" (responses), dan lingkungan ke dalam unit "rangsangan" (stimuli). Menurut
penganut paham perilaku, satu rangsangan dan tanggapan tertentu bisa berasosiasi satu
sama lainnya, dan menghasilkan satu bentuk hubungan fungsional. Contohnya, sebuah
rangsangan " seorang teman datang ", lalu memunculkan tanggapan misalnya, "tersen-
yum". Jadi seseorang tersenyum, karena ada teman yang datang kepadanya. Para
behavioris tadi percaya bahwa rangsangan dan tanggapan dapat dihubungkan tanpa
mengacu pada pertimbangan mental yang ada dalam diri seseorang. Jadi tidak terlalu
mengejutkan jika para behaviorisme tersebut dikategorikan sebagai pihak yang

3
menggunakan pendekatan "kotak hitam (black-box)" . Rangsangan masuk ke sebuah
kotak (box) dan menghasilkan tanggapan. Mekanisme di dalam kotak hitam tadi -
srtuktur internal atau proses mental yang mengolah rangsangan dan tanggapan - karena
tidak dapat dilihat secara langsung (not directly observable), bukanlah bidang kajian para
behavioris tradisional.
Kemudian, B.F. Skinner (1953,1957,1974) membantu mengubah fokus behaviorisme
melalui percobaan yang dinamakan "operant behavior" dan "reinforcement". Yang
dimaksud dengan "operant condition" adalah setiap perilaku yang beroperasi dalam suatu
lingkungan dengan cara tertentu, lalu memunculkan akibat atau perubahan dalam
lingkungan tersebut. Misalnya, jika kita tersenyum kepada orang lain yang kita hadapi,
lalu secara umum, akan menghasilkan senyuman yang datangnya dari orang lain tersebut.
Dalam kasus ini, tersenyum kepada orang lain tersebut merupakan "operant behavior".
Yang dimaksud dengan "reinforcement" adalah proses di mana akibat atau perubahan
yang terjadi dalam lingkungan memperkuat perilaku tertentu di masa datang . Misalnya,
jika kapan saja kita selalu tersenyum kepada orang asing (yang belum kita kenal
sebelumnya), dan mereka tersenyum kembali kepada kita, maka muncul kemungkinan
bahwa jika di kemudian hari kita bertemu orang asing maka kita akan tersenyum. Perlu
diketahui, reinforcement atau penguat, bisa bersifat positif dan negatif. Contoh di atas
merupakan penguat positif. Contoh penguat negatif, misalnya beberapa kali pada saat kita
bertemu dengan orang asing lalu kita tersenyum dan orang asing tersebut diam saja atau
bahkan menunjukan rasa tidak suka, maka dikemudian hari jika kita bertemu orang asing
kembali, kita cenderung tidak tersenyum (diam saja).
Dalam pendekatan perilaku terdapat teori-teori yang mencoba menjelaskan secara
lebih mendalam mengapa fenomena sosial yang diutarakan dalam pendekatan perilaku
bisa terjadi. Beberapa teori antara lain adalah Teori Pembelajaran Sosial (Social Learning
Theory) dan Teori Pertukaran Sosial (Social Exchange Theory).

a. Teori Pembelajaran Sosial.


Di tahun 1941, dua orang psikolog - Neil Miller dan John Dollard - dalam laporan
hasil percobaannya mengatakan bahwa peniruan (imitation) di antara manusia tidak
disebabkan oleh unsur instink atau program biologis. Penelitian kedua orang tersebut
mengindikasikan bahwa kita belajar (learn) meniru perilaku orang lain. Artinya peniruan
tersebut merupakan hasil dari satu proses belajar, bukan bisa begitu saja karena instink.
Proses belajar tersebut oleh Miller dan Dollard dinamakan "social learning " -
"pembelajaran sosial". Perilaku peniruan (imitative behavior) kita terjadi karena kita
merasa telah memperoleh imbalan ketika kita meniru perilaku orang lain, dan
memperoleh hukuman ketika kita tidak menirunya. Agar seseorang bisa belajar mengikuti
aturan baku yang telah ditetapkan oleh masyarakat maka "para individu harus dilatih,
dalam berbagai situasi, sehingga mereka merasa nyaman ketika melakukan apa yang
orang lain lakukan, dan merasa tidak nyaman ketika tidak melakukannya.", demikian
saran yang dikemukakan oleh Miller dan Dollard.
Dalam penelitiannya, Miller dan Dollard menunjukan bahwa anak-anak dapat belajar
meniru atau tidak meniru seseorang dalam upaya memperoleh imbalan berupa permen.
Dalam percobaannya tersebut, juga dapat diketahui bahwa anak-anak dapat membedakan
orang-orang yang akan ditirunya. Misalnya jika orang tersebut laki-laki maka akan
ditirunya, jika perempuan tidak. Lebih jauh lagi, sekali perilaku peniruan terpelajari

4
(learned), hasil belajar ini kadang berlaku umum untuk rangsangan yang sama. Misalnya,
anak-anak cenderung lebih suka meniru orang-orang yang mirip dengan orang yang
sebelumnya memberikan imbalan. Jadi, kita mempelajari banyak perilaku "baru" melalui
pengulangan perilaku orang lain yang kita lihat. Kita contoh perilaku orang-orang lain
tertentu, karena kita mendapatkan imbalan atas peniruan tersebut dari orang-orang lain
tertentu tadi dan juga dari mereka yang mirip dengan orang-orang lain tertentu tadi, di
masa lampau.
Dua puluh tahun berikutnya, Albert Bandura dan Richard Walters (1959, 1963),
mengusulkan satu perbaikan atas gagasan Miller dan Dollard tentang belajar melalui
peniruan. Bandura dan Walters menyarankan bahwa kita belajar banyak perilaku melalui
peniruan, bahkan tanpa adanya penguat (reinforcement) sekalipun yang kita terima. Kita
bisa meniru beberapa perilaku hanya melalui pengamatan terhadap perilaku model, dan
akibat yang ditimbulkannya atas model tersebut. Proses belajar semacam ini disebut
"observational learning" - pembelajaran melalui pengamatan. Contohnya, percobaan
Bandura dan Walters mengindikasikan bahwa ternyata anak-anak bisa mempunyai
perilaku agresif hanya dengan mengamati perilaku agresif sesosok model, misalnya
melalui film atau bahkan film karton.
Bandura (1971), kemudian menyarankan agar teori pembelajaran sosial seyogianya
diperbaiki lebih jauh lagi. Dia mengatakan bahwa teori pembelajaran sosial yang benar-
benar melulu menggunakan pendekatan perilaku dan lalu mengabaikan pertimbangan
proses mental, perlu dipikirkan ulang. Menurut versi Bandura, maka teori pembelajaran
sosial membahas tentang (1) bagaimana perilaku kita dipengaruhi oleh lingkungan
melalui penguat (reinforcement) dan observational learning, (2) cara pandang dan cara
pikir yang kita miliki terhadap informasi, (3) begitu pula sebaliknya, bagaimana perilaku
kita mempengaruhi lingkungan kita dan menciptakan penguat (reinforcement) dan
observational opportunity - kemungkinan bisa diamati oleh orang lain.

b. Teori Pertukaran Sosial (Social Exchange Theory)


Tokoh-tokoh yang mengembangkan teori pertukaran sosial antara lain adalah
psikolog John Thibaut dan Harlod Kelley (1959), sosiolog George Homans (1961),
Richard Emerson (1962), dan Peter Blau (1964). Berdasarkan teori ini, kita masuk ke
dalam hubungan pertukaran dengan orang lain karena dari padanya kita memperoleh
imbalan. Dengan kata lain hubungan pertukaran dengan orang lain akan menghasilkan
suatu imbalan bagi kita. Seperti halnya teori pembelajaran sosial, teori pertukaran sosial
pun melihat antara perilaku dengan lingkungan terdapat hubungan yang saling
mempengaruhi (reciprocal). Karena lingkungan kita umumnya terdiri atas orang-orang
lain, maka kita dan orang-orang lain tersebut dipandang mempunyai perilaku yang saling
mempengaruhi Dalam hubungan tersebut terdapat unsur imbalan (reward), pengorbanan
(cost) dan keuntungan (profit). Imbalan merupakan segala hal yang diperloleh melalui
adanya pengorbanan, pengorbanan merupakan semua hal yang dihindarkan, dan
keuntungan adalah imbalan dikurangi oleh pengorbanan. Jadi perilaku sosial terdiri atas
pertukaran paling sedikit antar dua orang berdasarkan perhitungan untung-rugi. Misalnya,
pola-pola perilaku di tempat kerja, percintaan, perkawinan, persahabatan - hanya akan
langgeng manakala kalau semua pihak yang terlibat merasa teruntungkan. Jadi perilaku
seseorang dimunculkan karena berdasarkan perhitungannya, akan menguntungkan bagi

5
dirinya, demikian pula sebaliknya jika merugikan maka perilaku tersebut tidak
ditampilkan.
Berdasarkan keyakinan tersebut Homans dalam bukunya "Elementary Forms of
Social Behavior, 1974 mengeluarkan beberapa proposisi dan salah satunya berbunyi
:"Semua tindakan yang dilakukan oleh seseorang, makin sering satu bentuk tindakan
tertentu memperoleh imbalan, makin cenderung orang tersebut menampilkan tindakan
tertentu tadi ". Proposisi ini secara eksplisit menjelaskan bahwa satu tindakan tertentu
akan berulang dilakukan jika ada imbalannya. Proposisi lain yang juga memperkuat
proposisi tersebut berbunyi : "Makin tinggi nilai hasil suatu perbuatan bagi seseorang,
makin besar pula kemungkinan perbuatan tersebut diulanginya kembali". Bagi Homans,
prinsip dasar pertukaran sosial adalah "distributive justice" - aturan yang mengatakan
bahwa sebuah imbalan harus sebanding dengan investasi. Proposisi yang terkenal
sehubungan dengan prinsip tersebut berbunyi " seseorang dalam hubungan pertukaran
dengan orang lain akan mengharapkan imbalan yang diterima oleh setiap pihak
sebanding dengan pengorbanan yang telah dikeluarkannya - makin tingghi
pengorbanan, makin tinggi imbalannya - dan keuntungan yang diterima oleh setiap
pihak harus sebanding dengan investasinya - makin tinggi investasi, makin tinggi
keuntungan".
Inti dari teori pembelajaran sosial dan pertukaran sosial adalah perilaku sosial
seseorang hanya bisa dijelaskan oleh sesuatu yang bisa diamati, bukan oleh proses
mentalistik (black-box). Semua teori yang dipengaruhi oleh perspektif ini menekankan
hubungan langsung antara perilaku yang teramati dengan lingkungan.

2. Perspektif Kognitif (The Cognitive Perspective)


Kita telah memberikan indikasi bahwa kebiasaan (habit) merupakan penjelasan
alternatif yang bisa digunakan untuk memahami perilaku sosial seseorang di samping
instink (instinct). Namun beberapa analis sosial percaya bahwa kalau hanya kedua hal
tersebut (kebiasaan dan instink) yang dijadikan dasar, maka dipandang terlampau ekstrem
- karena mengabaikan kegiatan mental manusia.
Seorang psikolog James Baldwin (1897) menyatakan bahwa paling sedikit ada dua
bentuk peniruan, satu didasarkan pada kebiasaan kita dan yang lainnya didasarkan pada
wawasan kita atas diri kita sendiri dan atas orang lain yang perilakunya kita tiru. Walau
dengan konsep yang berbeda seorang sosiolog Charles Cooley (1902) sepaham dengan
pandangan Baldwin. Keduanya memfokuskan perhatian mereka kepada perilaku sosial
yang melibatkan proses mental atau kognitif .
Kemudian banyak para psikolog sosial menggunakan konsep sikap (attitude) untuk
memahami proses mental atau kognitif tadi. Dua orang sosiolog W.I. Thomas dan Florian
Znaniecki mendefinisikan psikologi sosial sebagai studi tentang sikap, yang diartikannya
sebagai proses mental individu yang menentukan tanggapan aktual dan potensial individu
dalam dunia sosial". Sikap merupakan predisposisi perilaku. Beberapa teori yang
melandasi perpektif ini antara lain adalah Teori Medan (Field Theory), Teori Atribusi dan
Konsistensi Sikap (Concistency Attitude and Attribution Theory), dan Teori Kognisi
Kontemporer.

a. Teori Medan (Field Theory)

6
Seorang psikolog, Kurt Lewin (1935,1936) mengkaji perilaku sosial melalui
pendekatan konsep "medan"/"field" atau "ruang kehidupan" - life space. Untuk
memahami konsep ini perlu dipahami bahwa secara tradisional para psikolog
memfokuskan pada keyakinan bahwa karakter individual (instink dan kebiasaan), bebas -
lepas dari pengaruh situasi di mana individu melakukan aktivitas. Namun Lewin kurang
sepaham dengan keyakinan tersebut. Menurutnya penjelasan tentang perilaku yang tidak
memperhitungkan faktor situasi, tidaklah lengkap. Dia merasa bahwa semua peristiwa
psikologis apakah itu berupa tindakan, pikiran, impian, harapan, atau apapun,
kesemuanya itu merupakan fungsi dari "ruang kehidupan"- individu dan lingkungan
dipandang sebagai sebuah konstelasi yang saling tergantung satu sama lainnya. Artinya
"ruang kehidupan" merupakan juga merupakan determinan bagi tindakan, impian,
harapan, pikiran seseorang. Lewin memaknakan "ruang kehidupan" sebagai seluruh
peristiwa (masa lampau, sekarang, masa datang) yang berpengaruh pada perilaku dalam
satu situasi tertentu.
Bagi Lewin, pemahaman atas perilaku seseorang senantiasa harus dikaitkan dengan
konteks - lingkungan di mana perilaku tertentu ditampilkan. Intinya, teori medan
berupaya menguraikan bagaimana situasi yang ada (field) di sekeliling individu
bepengaruh pada perilakunya. Sesungguhnya teori medan mirip dengan konsep "gestalt"
dalam psikologi yang memandang bahwa eksistensi bagian-bagian atau unsur-unsur tidak
bisa terlepas satu sama lainnya. Misalnya, kalau kita melihat bangunan, kita tidak
melihat batu bata, semen, kusen, kaca, secara satu persatu. Demikian pula kalau kita
mempelajari perilaku individu, kita tidak bisa melihat individu itu sendiri, lepas dari
konteks di mana individu tersebut berada.

b. Teori Atribusi dan Konsistensi Sikap ( Attitude Consistency and Attribution


Theory)
Fritz Heider (1946, 1958), seorang psikolog bangsa Jerman mengatakan bahwa kita
cenderung mengorganisasikan sikap kita, sehingga tidak menimbulkan konflik.
Contohnya, jika kita setuju pada hak seseorang untuk melakukan aborsi, seperti juga
orang-orang lain, maka sikap kita tersebut konsisten atau seimbang (balance). Namun
jika kita setuju aborsi tetapi ternyata teman-teman dekat kita dan juga orang-orang di
sekeliling kita tidak setuju pada aborsi maka kita dalam kondisi tidak seimbang
(imbalance). Akibatnya kita merasa tertekan (stress), kurang nyaman, dan kemudian kita
akan mencoba mengubah sikap kita, menyesuaikan dengan orang-orang di sekitar kita,
misalnya dengan bersikap bahwa kita sekarang tidak sepenuhnya setuju pada aborsi.
Melalui pengubahan sikap tersebut, kita menjadi lebih nyaman. Intinya sikap kita
senantiasa kita sesuaikan dengan sikap orang lain agar terjadi keseimbangan karena
dalam situasi itu, kita menjadi lebih nyaman.
Heider juga menyatakan bahwa kita mengorganisir pikiran-pikiran kita dalam
kerangka "sebab dan akibat". Agar supaya bisa meneruskan kegiatan kita dan
mencocokannya dengan orang-orang di sekitar kita, kita mentafsirkan informasi untuk
memutuskan penyebab perilaku kita dan orang lain. Heider memperkenalkan konsep
"causal attribution" - proses penjelasan tentang penyebab suatu perilaku. Mengapa Tono
pindah ke kota lain ?, Mengapa Ari keluar dari sekolah ?. Kita bisa menjelaskan perilaku
sosial dari Tono dan Ari jika kita mengetahui penyebabnya. Dalam kehidupan sehari-hari,
kita bedakan dua jenis penyebab, yaitu internal dan eksternal. Penyebab internal

7
(internal causality) merupakan atribut yang melekat pada sifat dan kualitas pribadi atau
personal, dan penyebab external (external causality) terdapat dalam lingkungan atau
situasi.

c. Teori Kognitif Kontemporer


Dalam tahun 1980-an, konsep kognisi, sebagian besarnya mewarnai konsep sikap.
Istilah "kognisi" digunakan untuk menunjukan adanya proses mental dalam diri
seseorang sebelum melakukan tindakan. Teori kognisi kontemporer memandang manusia
sebagai agen yang secara aktif menerima, menggunakan, memanipulasi, dan mengalihkan
informasi. Kita secara aktif berpikir, membuat rencana, memecahkan masalah, dan
mengambil keputusan. Manusia memproses informasi dengan cara tertentu melalui
struktur kognitif yang diberi istilah "schema" (Markus dan Zajonc, 1985 ; Morgan dan
Schwalbe, 1990; Fiske and Taylor, 1991). Struktur tersebut berperan sebagai kerangka
yang dapat menginterpretasikan pengalaman-pengalaman sosial yang kita miliki. Jadi
struktur kognisi bisa membantu kita mencapai keterpaduan dengan lingkungan, dan
membantu kita untuk menyusun realitas sosial. Sistem ingatan yang kita miliki
diasumsikan terdiri atas struktur pengetahuan yang tak terhitung jumlahnya.
Intinya, teori-teori kognitif memusatkan pada bagaiamana kita memproses informasi
yang datangnya dari lingkungan ke dalam struktur mental kita Teori-teori kognitif
percaya bahwa kita tidak bisa memahami perilaku sosial tanpa memperoleh informasi
tentang proses mental yang bisa dipercaya, karena informasi tentang hal yang obyektif,
lingkungan eksternal belum mencukupi.

3. Perspektif Struktural
Telah kita catat bahwa telah terjadi perdebatan di antara para ilmuwan sosial dalam
hal menjelaskan perilaku sosial seseorang. Untuk menjelaskan perilaku sosial seseorang
dapat dikaji sebagai sesuatu proses yang (1) instinktif, (2) karena kebiasaan, dan (3)
juga yang bersumber dari proses mental. Mereka semua tertarik, dan dengan cara sebaik
mungkin lalu menguraikan hubungan antara masyarakat dengan individu. William James
dan John Dewey menekankan pada penjelasan kebiasaan individual, tetapi mereka juga
mencatat bahwa kebiasaan individu mencerminkan kebiasaan kelompok - yaitu adat-
istiadat masyarakat - atau strutur sosial . Para sosiolog yakin bahwa struktur sosial terdiri
atas jalinan interaksi antar manusia dengan cara yang relatif stabil. Kita mewarisi struktur
sosial dalam satu pola perilaku yang diturunkan oleh satu generasi ke generasi
berikutnya, melalui proses sosialisasi. Disebabkan oleh struktur sosial, kita mengalami
kehidupan sosial yang telah terpolakan. James menguraikan pentingnya dampak struktur
sosial atas "diri" (self) - perasaan kita terhadap diri kita sendiri. Masyarakat
mempengaruhi diri - self.
Sosiolog lain Robert Park dari Universitas Chicago memandang bahwa masyarakat
mengorganisasikan, mengintegrasikan, dan mengarahkan kekuatan-kekuatan individu-
individu ke dalam berbagai macam peran (roles). Melalui peran inilah kita menjadi tahu
siapa diri kita. Kita adalah seorang anak, orang tua, guru, mahasiswa, laki-laki,
perempuan, Islam, Kristen. Konsep kita tentang diri kita tergantung pada peran yang kita
lakukan dalam masyarakat. Beberapa teori yang melandasi persektif strukturan adalah
Teori Peran (Role Theory), Teori Pernyataan - Harapan (Expectation-States Theory), dan
Posmodernisme (Postmodernism)

8
a. Teori Peran (Role Theory)
Walau Park menjelaskan dampak masyarakat atas perilaku kita dalam hubungannya
dengan peran, namun jauh sebelumnya Robert Linton (1936), seorang antropolog, telah
mengembangkan Teori Peran. Teori Peran menggambarkan interaksi sosial dalam
terminologi aktor-aktor yang bermain sesuai dengan apa-apa yang ditetapkan oleh
budaya. Sesuai dengan teori ini, harapan-harapan peran merupakan pemahaman bersama
yang menuntun kita untuk berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Menurut teori ini,
seseorang yang mempunyai peran tertentu misalnya sebagai dokter, mahasiswa, orang
tua, wanita, dan lain sebagainya, diharapkan agar seseorang tadi berperilaku sesuai
dengan peran tersebut. Mengapa seseorang mengobati orang lain, karena dia adalah
seorang dokter. Jadi karena statusnya adalah dokter maka dia harus mengobati pasien
yang datang kepadanya. Perilaku ditentukan oleh peran sosial
Kemudian, sosiolog yang bernama Glen Elder (1975) membantu memperluas
penggunaan teori peran. Pendekatannya yang dinamakan “life-course” memaknakan
bahwa setiap masyarakat mempunyai harapan kepada setiap anggotanya untuk
mempunyai perilaku tertentu sesuai dengan kategori-kategori usia yang berlaku dalam
masyarakat tersebut. Contohnya, sebagian besar warga Amerika Serikat akan menjadi
murid sekolah ketika berusia empat atau lima tahun, menjadi peserta pemilu pada usia
delapan belas tahun, bekerja pada usia tujuh belah tahun, mempunyai istri/suami pada
usia dua puluh tujuh, pensiun pada usia enam puluh tahun. Di Indonesia berbeda. Usia
sekolah dimulai sejak tujuh tahun, punya pasangan hidup sudah bisa usia tujuh belas
tahun, pensiun usia lima puluh lima tahun. Urutan tadi dinamakan “tahapan usia” (age
grading). Dalam masyarakat kontemporer kehidupan kita dibagi ke dalam masa kanak-
kanak, masa remaja, masa dewasa, dan masa tua, di mana setiap masa mempunyai
bermacam-macam pembagian lagi.

b. Teori Pernyataan Harapan (Expectation-States Theory)


Teori ini diperkenalkan oleh Joseph Berger dan rekan-rekannya di Universitas
Stanford pada tahun 1972. Jika pada teori peran lebih mengkaji pada skala makro, yaitu
peran yang ditetapkan oleh masyarakat, maka pada teori ini berfokus pada kelompok
kerja yang lebih kecil lagi. Menurut teori ini, anggota-anggota kelompok membentuk
harapan-harapan atas dirinya sendiri dan diri anggota lain, sesuai dengan tugas-tugas
yang relevan dengan kemampuan mereka, dan harapan-harapan tersebut mempengaruhi
gaya interaksi di antara anggota-anggota kelompok tadi. Sudah tentu atribut yang paling
berpengaruh terhadap munculnya kinerja yang diharapkan adalah yang berkaitan dengan
ketrampilan kerjanya. Anggota-anggota kelompok dituntut memiliki motivasi dan
ketrampilan yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas-tugas kelompok yang
diharapkan bisa ditampilkan sebaik mungkin.
Bagaimanapun juga, kita sering kekurangan informasi tentang kemampuan yang
berkaitan dengan tugas yang relevan, dan bahkan ketika kita memiliki informasi, yang
muncul adalah bahwa kita juga harus mendasarkan harapan kita pada atribut pribadi dan
kelompok seperti : jenis kelamin, ras, dan usia. Dalam beberapa masyarakat tertentu,
beberapa atribut pribadi dinilai lebih penting daripada atribut lainnya. Untuk menjadi
pemimpin, jenis kelamin kadang lebih diprioritaskan ketimbang kemampuan. Di
Indonesia, untuk menjadi presiden, ras merupakan syarat pertama yang harus dipenuhi.

9
Berger menyebut gejala tersebut sebagai “difusi karakteristik status”; karakteristik status
mempengaruhi harapan kelompok kerja. Status laki-laki lebih tinggi dibanding
perempuan dalam soal menjadi pemimpin, warganegara pribumi asli lebih diberi tempat
menduduki jabatan presiden. Difusi karakteristik status tersebut ( jenis kelamin, ras, usia,
dan lainnya) dengan demikian, mempunyai pengaruh yang kuat terhadap interaksi sosial.

c. Posmodernisme (Postmodernism)
Baik teori peran maupun teori pernyataan-harapan, keduanya menjelaskan perilaku
sosial dalam kaitannya dengan harapan peran dalam masyarakat kontemporer. Beberapa
psikolog lainnya justru melangkah lebih jauh lagi. Pada dasarnya teori posmodernisme
atau dikenal dengan singkatan “POSMO” merupakan reaksi keras terhadap dunia
modern. Teori Posmodernisme, contohnya, menyatakan bahwa dalam masyarakat
modern, secara gradual seseorang akan kehilangan individualitas-nya – kemandiriannya,
konsep diri, atau jati diri. (Denzin, 1986; Murphy, 1989; Dowd, 1991; Gergen, 1991) .
Dalam pandangan teori ini upaya kita untuk memenuhi peran yang dirancangkan untuk
kita oleh masyarakat, menyebabkan individualitas kita digantikan oleh kumpulan citra
diri yang kita pakai sementara dan kemudian kita campakkan..
Berdasarkan pandangan posmodernisme, erosi gradual individualitas muncul
bersamaan dengan terbitnya kapitalisme dan rasionalitas. Faktor-faktor ini mereduksi
pentingnya hubungan pribadi dan menekankan aspek nonpersonal. Kapitalisme atau
modernisme, menurut teori ini, menyebabkan manusia dipandang sebagai barang yang
bisa diperdagangkan – nilainya (harganya) ditentukan oleh seberapa besar yang bisa
dihasilkannya.
Setelah Perang Dunia II, manusia makin dipandang sebagai konsumen dan juga
sebagai produsen. Industri periklanan dan masmedia menciptakan citra komersial yang
mampu mengurangi keanekaragaman individualitas. Kepribadian menjadi gaya hidup.
Manusia lalu dinilai bukan oleh kepribadiannya tetapi oleh seberapa besar
kemampuannya mencontoh gaya hidup. Apa yang kita pertimbangkan sebagai “ pilihan
kita sendiri” dalam hal musik, makanan, dan lain-lainnya, sesungguhnya merupakan
seperangkat kegemaran yang diperoleh dari kebudayaan yang cocok dengan tempat kita
dalam struktur ekonomi masyarakat kita. Misalnya, kesukaan remaja Indonesia terhadap
musik “rap” tidak lain adalah disebabkan karena setiap saat telinga mereka dijejali oleh
musik tersebut melalui radio, televisi, film, CD, dan lain sebagainya. Gemar musik “rap”
menjadi gaya hidup remaja. Lalu kalau mereka tidak menyukai musik “rap”, dia bukan
remaja. Perilaku seseorang ditentukan oleh gaya hidup orang-orang lain yang ada di
sekelilingnya , bukan oleh dirinya sendiri. Kepribadiannya hilang individualitasnya
lenyap. Itulah manusia modern, demikian menurut pandangan penganut “posmo”.
Intinya, teori peran, pernyataan-harapan, dan posmodernisme memberikan ilustrasi
perspektif struktural dalam hal bagaimana harapan-harapan masyarakat mempengaruhi
perilaku sosial individu. Sesuai dengan perspektif ini, struktur sosial – pola interaksi yang
sedang terjadi dalam masyarakat – sebagian besarnya pembentuk dan sekaligus juga
penghambat perilaku individual. Dalam pandangan ini, individu mempunyai peran yang
pasif dalam menentukan perilakunya. Individu bertindak karena ada kekuatan struktur
sosial yang menekannya.

4. Perspektif Interaksionis (Interactionist Perspective)

10
Seorang sosiolog yang bernama George Herbert Mead (1934) yang mengajar
psiokologi sosial pada departemen filsafat Universitas Chicago, mengembangkan teori
ini. Mead percaya bahwa keanggotaan kita dalam suatu kelompok sosial menghasilkan
perilaku bersama yang kita kenal dengan nama budaya. Dalam waktu yang bersamaan,
dia juga mengakui bahwa individu-individu yang memegang posisi berbeda dalam suatu
kelompok, mempunyai peran yang berbeda pula, sehingga memunculkan perilaku yang
juga berbeda. Misalnya, perilaku pemimpin berbeda dengan pengikutnya. Dalam kasus
ini, Mead tampak juga seorang strukturis. Namun dia juga menentang pandangan bahwa
perilaku kita melulu dipengaruhi oleh lingkungan sosial atau struktur sosial. Sebaliknya
Mead percaya bahwa kita sebagai bagian dari lingkungan sosial tersebut juga telah
membantu menciptakan lingkungan tersebut. Lebih jauh lagi, dia memberi catatan bahwa
walau kita sadar akan adanya sikap bersama dalam suatu kelompok/masyarakat, namun
hal tersebut tidaklah berarti bahwa kita senantiasa berkompromi dengannya.
Mead juga tidak setuju pada pandangan yang mengatakan bahwa untuk bisa
memahami perilaku sosial, maka yang harus dikaji adalah hanya aspek eksternal
(perilaku yang teramati) saja. Dia menyarankan agar aspek internal (mental) sama
pentingnya dengan aspek eksternal untuk dipelajari. Karena dia tertarik pada aspek
internal dan eksternal atas dua atau lebih individu yang berinteraksi, maka dia menyebut
aliran perilakunya dengan nama “social behaviorism”. Dalam perspektif interaksionis ada
beberapa teori yang layak untuk dibahas yaitu Teori Interaksi Simbolis (Symbolic
Interaction Theory), dan Teori Identitas (Identity Theory).

a. Teori Interaksi Simbolis (Symbolic Interaction Theory)


Walau Mead menyarankan agar aspek internal juga dikaji untuk bisa memahami
perilaku sosial, namun hal tersebut bukanlah merupakan minat khususnya. Justru dia
lebih tertarik pada interaksi, di mana hubungan di antara gerak-isyarat (gesture) tertentu
dan maknanya, mempengaruhi pikiran pihak-pihak yang sedang berinteraksi. Dalam
terminologi Mead, gerak-isyarat yang maknanya diberi bersama oleh semua pihak yang
terlibat dalam interaksi adalah merupakan “satu bentuk simbol yang mempunyai arti
penting” ( a significant symbol”). Kata-kata dan suara-lainnya, gerakan-gerakan fisik,
bahasa tubuh (body langguage), baju, status, kesemuanya merupakan simbol yang
bermakna.
Mead tertarik mengkaji interaksi sosial, di mana dua atau lebih individu berpotensi
mengeluarkan simbol yang bermakna. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh simbol yang
dikeluarkan orang lain, demikian pula perilaku orang lain tersebut. Melalui pemberian
isyarat berupa simbol, kita mengutarakan perasaan, pikiran, maksud, dan sebaliknya
dengan cara membaca simbol yang ditampilkan orang lain, kita menangkap pikiran,
perasaan orang lain tersebut. Teori ini mirip dengan teori pertukaran sosial.
Interaksi di antara beberapa pihak tersebut akan tetap berjalan lancar tanpa gangguan
apa pun manakala simbol yang dikeluarkan oleh masing-masing pihak dimaknakan
bersama sehingga semua pihak mampu mengartikannya dengan baik. Hal ini mungkin
terjadi karena individu-individu yang terlibat dalam interaksi tersebut berasal dari budaya
yang sama, atau sebelumnya telah berhasil memecahkan perbedaan makna di antara
mereka. Namun tidak selamanya interaksi berjalan mulus. Ada pihak-pihak tertentu yang
menggunakan simbol yang tidak signifikan – simbol yang tidak bermakna bagi pihak

11
lain. Akibatnya orang-orang tersebut harus secara terus menerus mencocokan makna dan
merencanakan cara tindakan mereka.
Banyak kualitas perilaku manusia yang belum pasti dan senantiasa berkembang :
orang-orang membuat peta, menguji, merencanakan, menunda, dan memperbaiki
tindakan-tindakan mereka, dalam upaya menanggapi tindakan-tindakan pihak lain. Sesuai
dengan pandangan ini, individu-individu menegosiasikan perilakunya agar cocok dengan
perilaku orang lain.

b. Teori Identitas (Identity Theory)


Teori Indentitas dikemukakan oleh Sheldon Stryker (1980). Teori ini memusatkan
perhatiannya pada hubungan saling mempengaruhi di antara individu dengan struktur
sosial yang lebih besar lagi (masyarakat). Individu dan masyarakat dipandang sebagai
dua sisi dari satu mata uang. Seseorang dibentuk oleh interaksi, namun struktur sosial
membentuk interaksi. Dalam hal ini Stryker tampaknya setuju dengan perspektif
struktural, khususnya teori peran. Namun dia juga memberi sedikit kritik terhadap teori
peran yang menurutnya terlampau tidak peka terhadap kreativitas individu.
Teori Stryker mengkombinasikan konsep peran (dari teori peran) dan konsep diri/self
(dari teori interaksi simbolis). Bagi setiap peran yang kita tampilkan dalam berinteraksi
dengan orang lain, kita mempunyai definisi tentang diri kita sendiri yang berbeda
dengan diri orang lain, yang oleh Stryker dinamakan “identitas”. Jika kita memiliki
banyak peran, maka kita memiliki banyak identitas. Perilaku kita dalam suatu bentuk
interaksi, dipengaruhi oleh harapan peran dan identitas diri kita, begitu juga perilaku
pihak yang berinteraksi dengan kita.
Intinya, teori interaksi simbolis dan identitas mendudukan individu sebagai pihak
yang aktif dalam menetapkan perilakunya dan membangun harapan-harapan sosial.
Perspektif iteraksionis tidak menyangkal adanya pengaruh struktur sosial, namun jika
hanya struktur sosial saja yang dilihat untuk menjelaskan perilaku sosial, maka hal
tersebut kurang memadai.

RANGKUMAN
Telah kita bahas empat perspektif dalam psikologi sosial. Yang dimaksud dengan
perspektif adalah asumsi-asumsi dasar yang paling banyak sumbangannya kepada
pendekatan psikologi sosial. Perspektif perilaku menyatakan bahwa perilaku sosial kita
paling baik dijelaskan melalui perilaku yang secara langsung dapat diamati dan
lingkungan yang menyebabkan perilaku kita berubah. Perspektif kognitif menjelaskan
perilaku sosial kita dengan cara memusatkan pada bagaimana kita menyusun mental
(pikiran, perasaan) dan memproses informasi yang datangnya dari lingkungan . Kedua
perspektif tersebut banyak dikemukakan oleh para psikolog sosial yang berlatar belakang
psikologi.
Di samping kedua perspektif di atas, ada dua perspektif lain yang sebagian besarnya
diutarakan oleh para psikolog sosial yang berlatas belakang sosiologi. Perspektif
struktural memusatkan perhatian pada proses sosialisasi, yaitu proses di mana perilaku
kita dibentuk oleh peran yang beraneka ragam dan selalu berubah, yang dirancang oleh
masyarakat kita. Perspektif interaksionis memusatkan perhatiannya pada proses
interaksi yang mempengaruhi perilaku sosial kita. Perbedaan utama di antara kedua
perspektif terakhir tadi adalah pada pihak mana yang berpengaruh paling besar terhadap

12
pembentukan perilaku. Kaum strukturalis cenderung meletakan struktur sosial (makro)
sebagai determinan perilaku sosial individu, sedangkan kaum interaksionis lebih
memandang individu (mikro) merupakan agen yang aktif dalam membentuk perilakunya
sendiri.
Karena banyaknya teori yang dikemukakan untuk menjelaskan perilaku sosial maka
seringkali muncul pertanyaan : “Teori mana yang paling benar ?” atau “teori mana yang
terbaik?” . Hampir seluruh psikolog sosial akan menjawab bahwa tidak ada teori yang
salah atau yang paling baik, atau paling jelek. Setiap teori mempunyai keterbatasan dalam
aplikasinya. Misalnya dalam mempelajari agresi (salah satu bentuk perilaku sosial), para
behavioris bisa memusatkan pada pengalaman belajar yang mendorong terjadinya
perilaku agresif – pada bagaimana orang tua, guru, dan pihak-pihak lain yang memberi
perlakuan positif pada perilaku agresif. Bagi yang tertarik pada perspektif kognitif maka
obyek kajiannya adalah pada bagaimana seseorang mempersepsi, interpretasi, dan
berpikir tentang perilaku agresif. Seorang psikolog sosial yang ingin menggunakan teori
medan akan mengkaji perilaku agresif dengan cara melihat hubungan antara karakteristik
individu dengan situasi di mana perilaku agresif tersebut ditampilkan. Para teoritisi
pertukaran sosial bisa memusatkan pada adanya imbalan sosial terhadap individu yang
menampilkan perilaku agresif. Jika memakai kacamata teori peran, perilaku agresif atau
tidak agresif ditampilkan oleh seseorang karena harapan-harapan sosial yang melekat
pada posisi sosialnya harus dipenuhi.
Demikianlah, setiap teori bisa digunakan untuk menjadi pendekatan yang efektif tidak
untuk semua aspek perilaku. Teori peran lebih efektif untuk menjelaskan perilaku X
dibanding dengan teori yang berperspektif kognitif, misalnya.

Buku Acuan :

Theories of Social Psychology – Marvin E. Shaw / Philip R. Costanzo, Second Edition,


1985, McGraw-Hill, Inc.

Thinking Sociologically, Sheldon Goldenberg, 1987, Wadsworth, Inc.

Social Psychology, James A. Wiggins, Beverly B. Wiggins, James Vander Zanden, Fifth
Edition, 1994, McGraw-Hill, Inc.

Sociology, Concepts and Uses , Jonathan H. Tuner, 1994. McGraw-Hill Inc.

Social Psychology, Kay Deaux, Lawrence S. Wrightsman, Fifth Edition, 1988,


Wadsworth, Inc.

home.unpar.ac.id/~hasan/PERSPEKTIF DALAM PSIKOLOGI SOSIAL.doc


27.08.09

PENDEKATAN POST-MODERN DALAM NPENELITIAN ILMU SOSIAL

13
Oleh: Dr. H. Endang Komara, M.Si.
http://www.geocities.com/endang.komara/PENDEKATAN_POST-
MODERN_DALAM_NPENELITIAN_ILMU_SOSIAL.htm
27.08.09
I. Abstract.
Postmodern in contemporary society with high technological media (high tech),
transformation process and change that happened yield a new postmodern society
arranged contradiction thinking, controversy, paradox, and dilematics. Hereinafter
postmodern represent postmodernity era have attended new history phase and new
sociocultural notching which need new theory and concept. Modernity in the form of
technology like media and computer, new form of knowledge, and change of socio-
economcs system yield materialization of postmodern society.

Research represent effort to look for and comprehend a number of information which in
its gathering through research of field not always use just one technique. Information
which will look for immeasurable also, many, special or sometime have to be selected by
various researcher consideration and its research scope. Research method ( method
field) consist of participation observation, informan interview and enumerate and
sample.

Keyword: Postmodern knit poststructuralist implication in three core, that is clarification


of science ( truth), aesthetics ( beauty), and morality ( kindness)

II. Pendahuluan
Karakteristik posmo dalam pengembangan ilmu adalah karakteristik sikap ilmiah dalam memaknai
perubahan sosial masyarakat. Untuk memahami laju percepatan perubahan sosial yang luar biasa
membuat kita perlu mencari terus filsafat, teori, dan metodologi pengembangan ilmu yang tepat. Di
samping itu mengenai karakteristik posmo tidak hanya untuk mengubah sikap ilmiah, melainkan juga
dimasudkan agar substansi telaahannya dikenal baik, dan selanjutnya diolah dengan lebih baik.

Studi Geertz di Pare yang disamarkan dengan nama Mojokuto membagi masyarakat menjadi
priyayi, abangan, dan santri mendapat kritik para fungsionalis (yang positif modern), sebagai sinkretis,
dengan kesimpulan mengarah ke marginalisasi peran Islam, dan dimaknai bahwa Islam itu tidak berbahaya.
Tetapi interpreti Geertz tentang priyayi, abangan, dan santri juga mendapat kritik dari ilmuwan Muslim
sekarang, dengan mendekontruk paradigma yang dipakai Geertz, menampilkan peran aktif dan signifikan
Islam.

14
Konsep Posmo pertama kali muncul di lingkungan gerakan arsitektur. Arsitektur modern
berorientasi pada fungsi struktur; sedangkan arsitektur posmo berupaya menampilkan makna simbolik dari
konstruksi dan ruang. Sepeti dikemukakan oleh Prof. Dr. H. Noeng Muhadjir dalam bukunya Metode
Penelitian Kualitatif (2000:236) bahwa benang merah pola fikir modern antara lain: yang rasionalistik,
yang fungsionalis, yang interpretif, dan yang teori kritis: yaitu dominannya rasionalitas. Dalam komparasi
dapat dijumpai: yang positivist membuat generalisasi dari frekuensi dan variansi, yang interpretif membuat
kesimpulan generative dari esensi; yang positivist menguji kebenaran dengan uji validitas, yang interpretif
menguji thuthworiness lewat triangulasi. Tradisi ilmu sampai teori kritis masih “mengejar” grand theory.
Logika yang dikembangkan dalam berilmu pengetahuan masih dalam kerangka mencari kebenaran,
membuktikan kebenaran, dan mengkonfirmasikan kebenaran.

Sejumlah ahli mendeskripsikan posmo sebagai menolak rasionalitas yang digunakan oleh
fungsionalis, rasionalis, interpretif, dan teori kritis. Namun Muhadjir (2000:237) berpendapat bahwa Posmo
bukan menolak rasionalitas tetapi tidak membatasi rasionalitas pada yang linier, tidak membatasi pada yang
standar termasuk yang divergen, horizontal, dan heterarkhik tetapi lebih menekankan pada pencarian
rasionalitas aktif kreatif. Bukan mencari dan membuktikan kebenaran, melainkan mencari makna perspektif
dan problematis; logikan yang digunakan adalah logika unstandard menurut Borghert (1996), logika
discovery menurut Muhadjir (1982), atau logika inquiry menurut Conrad (1993).

Rasionalitas modernist yang ”mengejar” grandtheory dan jabarannya, ditolak oleh posmo. Posmo
menggantinya dengan perbedaan (differences), pertentangan (opposites), paradoks, dan penuh misteri
(enigma). Dalam pola pikir era modern, kontradiksi intern merupakan indikator lemahnya suatu konsep
atau teori. Dalam era posmo kontradiksi baik intern maupun ekstern menjadi suatu pola fikir yang dapat
diterima. Untuk mengembangkan pola fikir spesifik posmo adalah Postpositivistik Phenomenologik-
Interpretif Logik dan Etik, misalnya berupa model Interpretif Geertz, Grounded Research, Ethnographik-
Etnometodologik, Paradigma Naturalistik, Interaksionisme Simbolik dan Model Kontruktivist.

Tata fikir spesifik posmo adalah: kontradiksi, kontroversi, paradoks, dan dilematis. Posmo lebih
melihat realitas sebagai problematis, sebagai yang selalu perlu di-inquired, yang selalu perlu di-discovered,
sebagai yang kontroversial. Bukannya harus tampil ragu, melainkan harus memaknai dan selanjutnya in
action. In action-nya kemana? Ber-action sesuai dengan indikator jalan benar. Yang benar absolut dimana?
Bagi sekuler: benar absolut adalah benar universal, benar berdasarkan keteraturan semesta. Keteraturan
semesta sampai millenium ketiga pun masih banyak yang belum terungkap. Baru saja teramati bagaimana
suatu galaksi terbentuk, baru saja teridentifikasi DNA sebagai intinya gen yang diturunkan, dengan
diketemukannya struktur setiap sesuatu dapat dikembangkan tiruan berupa polimer, dan banyak lagi. Bagi
yang religius, benar absolut hanya diketahui Allah. Manusia berupaya mengungkap dan memanfaatkan
keteraturan semesta untuk kemaslahatan manusia. Posmo dengan logika dan rasionalitas berupaya untuk in
action berkelanjutan. Segala yang problematis, yang beragam, yang kontradiksi perlu dipecahkan secara

15
cerdas untuk menemukan jalan menuju kebenaran. Ilmiah, bagi era modern akan bergerak dari tesis atau ke
tesis lain, dan dari teori satu ke teori lain.

Ilmiah, bagi era posmo dengan logic of discovery dan logic of inquiry bergerak dari innnovation
dan invention satu ke innovation dan invention lain. Kebenaran semesta dapat dipilahkan menjadi dua,
yaitu kebenaran keteraturan substantif dan kebenaran keteraturan esensial. Invensi berbagai keteraturan
esensial dapat dikreasikan oleh manusia berbagai rekayasa teknologi. Hasilnya dapat luar biasa dan tak
terduga, sebagaimana temuan di bidang komputer, temuan DNA, polimer dan lain-lain. Karena itu, inovasi
hasil rekayasa teknologi memang tak tergambarkan sebelumnya, dan substansu kebenarannya pun memang
belum ada. Meskipun demikian bertolak dari invensi-invensi esensial, imajinasi manusia dapat
memprediksikan inovasi masa depan, seperti cerita ilmiah imajinatif pistol laser dari Prins Barin di planet
Mars, pesawat ruang angkasa dari Flash Gordon, pembiakan lewat sel, ternyata terbukti dapat
direalisasikan. Berbeda dengan rekayasa sosial. Banyak futurolog menampilkan struktur masyarakat atau
dinamika masyarakat masa depan, seperti Toffler, Daniel Bell, Naisbitt, atau lainnya. Meskipun
menggunakan indikator tertentu, tetap saja akan lebih banyak salahnya daripada benarnya.

Dari penjelasan di atas, dapat dijelaskan bahwa ilmu menjadi empat yaitu: pertama, temuan basic
and advanced research yang umumnya lewat eksperimen laboratori (seperti listrik, sinar gamma, struktur
polimer, DNA); kedua, temuan fikir cerdas manusia, umumnya secara deduktif (seperti temuan angka arab,
angka 0, sistem desimal, huruf latin, logika); ketiga, temuan rekayasa teknologi, temuan technological and
advanced research, yang umumnya lewat eksperimen laboratori (seperti temuan televisi, komputer, satelit,
polimer buatan, operasi jantung); dan keempat, temuan rekayasa sosial (seperti sistem kasta, monarkhi,
teori konflik, teori fungsionalisme, teori posmo).

Apakah posmo hanya menyangkut rakayasa sosial? Tidak. Dengan mengkonstruksi paradigma
genetik jantan-betina, menjadi paradigma lain, ditemukan DNA. Dengan mendekonstruk sistem desimal
menjadi sistem digital berkembang software ilmu komputer. Dekonstruksi paradigma sosial, berkembang
berbagai teori para futurolog. Dekonstruksi sosial paling banyak, tetapi nampaknya juga yang paling
banyak membuat kesalahan prediksi. Makna poststruktural, postparadigmatik akan menjadi semakin
menonjol dalam peran berfikir postmodern. Pada era modern, baik positivist maupun postpositivist, para
ahli terpusat pada upaya membangun kebenaran dengan mencari tata hubungan rasional-logis, baik secara
linier pada positivist, maupun secara kreatif (divergen, lateral, holographik, dan lain-lain) pada
postpositivistik. Pada era Postmodern para ahli tidak mencari hubungan rasional-integratif, melainkan
menemukan secara kreatif kekuatan momental dari berbagai sesuatu yang saling independen dan dapat
dimanfaatkan. Akhir era postposivist menampilkan pemikiran sistematik, sedang awal berfikir postmodern
perlu mulai mengembangkan pemikiran sinergik. Berfikir sistemik sekaligus sinergik dapat dilakukan
dalam paradigma postmodern.

16
III. Pembahasan
A. Pendekatan Post-Modern

Jean-Francois Lyotard (1984) dikenal sebagai tokoh yang pertama kali mengenalkan konsep
Postmodernisme dalam filsafat. Istilah postmodern sudah lama dipakai di dunia arsitektur.

Menyaksikan penindasan kolonial di Aljazair tempat dia bekerja sebagai guru filsafat, setelah
kembali ke Perancis dan meraih doktor 1971 di Universitas Sorbone dalam bahasa dia bergabung pada
gerakan Marxis. Kerangka pemikirannya menggabungkan antara Marxis dan Psikoanalisis Freud.
Pemikiran Postmodernnya berkembang setelah melihat kenyataan sejarah hilangnya daya pikat seperti
perjuangan sosialisme, runtuhnya komunisme, melihat gagalnya modernitas, kejadian-kejadian
“Auschwitch” yang tak terfahami secara rasional, modernitas dalam kesatuan ideal yang menjadi terpecah
dan berlanjut 10 tahun setelah buku pertamanya tentang Postmodernisme yang terbit 1986.

Posmo menolak ide otonomi aesthetik dari modernis. Kita tidak dapat memisahkan seni dari
lingkungan politik dan sosial, dan menolak pemisahan antara legitimate art dengan popular culture. Posmo
menolak hirarkhi, geneologik, menolak kontinuitas, dan perkembangan. Posmo berupaya
mempersentasikan yang tidak dapat dipersentasikan oleh modernisme, demikian Lyotard. Mengapa
modernisme tidak dapat mempresentasikan, karena logikanya masih terikat pada standard logic, sedangkan
posmo mengembangkan kemampuan kreatif membuat makna baru, menggunakan unstandard logic.

Baik teori peran maupun teori pernyataan-harapan, keduanya menjelaskan perilaku sosial dalam
kaitannya dengan harapan peran dalam masyarakat kontemporer. Beberapa psikolog lainnya justru
melangkah lebih jauh lagi. Pada dasarnya teori posmodernisme atau dikenal dengan singkatan “POSMO”
merupakan reaksi keras terhadap dunia modern. Teori Posmodernisme, contohnya, menyatakan bahwa
dalam masyarakat modern, secara gradual seseorang akan kehilangan individualitas-nya-kemandiriannya,
konsep diri, atau jati diri. Menurut Denzin, 1986; Murphy, 1989; Down, 1991; Gergen, 1991 (dalam Hasan
Mustafa) bahwa dalam pandangan teori ini upaya kita untuk memenuhi peran yang dirancangkan untuk kita
oleh masyarakat, menyebabkan individualitas kita digantikan oleh kumpulan citra diri yang kita pakai
sementara dan kemudian kita campakkan.

Berdasarkan pandangan posmodernisme, erosi gradual individualitas muncul bersamaan dengan


terbitnya kapitalisme dan rasionalitas. Faktor-faktor ini mereduksi pentingnya hubungan pribadi dan
menekankan aspek nonpersonal. Kapitalisme atau modernisme, menurut teori ini, menyebabkan manusia
dipandang sebagai barang yang bisa diperdagangkan-nilainya (harganya) ditentukan oleh seberapa besar
yang bisa dihasilkannya.

Setelah Perang Dunia II, manusia makin dipandang sebagai konsumen dan juga sebagai prodesun.
Industri periklanan dan masmedia menciptakan citra komersial yang mampu mengurangi keanekaragaman

17
individualitas. Kepribadian menjadi gaya hidup. Manusia lalu dinilai bukan oleh kepribadiannya tetapi
seberapa besar kemampuannya mencontoh gaya hidup. Apa yang kita pertimbangkan sebagai “pilihan kita
sendiri” dalam hal musik, makanan, dan lain-lainnya, sesungguhnya merupakan seperangkat kegemaran
yang diperoleh dari kebudayaan yang cocok dengan tempat kita dan struktur ekonomi masyarakat kita.
Misalnya, kesukaan remaja Indonesia terhadap musik “rap” tidak lain adalah disebabkan karena setiap saat
telinga mereka dijejali oleh musik tersebut melalui radio, televisi, film, CD, dan lain sebagainya. Gemar
musik “rap” menjadi gaya hidup remaja. Lalu kalau mereka tidak menyukai musik “rap” menjadi gaya
hidup remaja. Perilaku seseorang ditentukan oleh gaya hidup orang-orang lain yang ada di sekelilingnya,
bukan oleh dirinya sendiri. Kepribadiannya hilang individualitasnya lenyap. Itulah manusia modern,
demikian menurut pandangan penganut “posmo”.

Intinya, teori peran, pernyataan-harapan, dan posmodernisme memberikan ilustrasi perspektif


struktural dalam hal bagaimana harapan-harapan masyarakat mempengaruhi perilaku sosial individu.
Sesuai dengan perspektif ini, struktur sosial-pola interaksi yang sedang terjadi dalam masyarakat-sebagian
besarnya pembentuk dan sekaligus juga penghambat perilaku individual. Dalam pandangan ini, individu
mempunyai peran yang pasif dalam menentukan perilakunya. Individu bertindak karena ada kekuatan
struktur sosial yang menekannya.

Menurut Pauline Rosenau (1992) mendefinisikan Postmodern secara gamblang dalam istilah yang
berlawanan antara lain: Pertama, postmodernisme merupakan kritik atas masyarakat modern dan
kegagalannya memenuhi janji-janjinya. Juga postmodern cenderung mengkritik segala sesuatu yang
diasosiasikan dengan modernitas: … akumulasi pengalaman peradaban Barat adalah industrialisasi,
urbanisasi, kemajuan teknologi, negara bangsa, kehidupan dalam jalur cepat. Namun mereka meragukan
prioritas-prioritas modern seperti karier, jabatan, tanggung jawab personal, birokrasi, demokrasi liberal,
toleransi, humanisme, egalitarianisme, penelitian objektif, kriteria evaluasi, prosedur netral, peraturan
impersonal dan rasionalitas. Kedua, teoritisi postmodern cenderung menolak apa yang biasanya dikenal
dengan pandangan dunia (world view), metanarasi, totalitas, dan sebagainya. Seperti Baudrillard (1990:72)
yang memahami gerakan atau impulsi yang besar, dengan kekuatan positif, efektif dan atraktif mereka
(modernis) telah sirna. Postmodernis biasanya mengisi kehidupan dengan penjelasan yang sangat terbatas
(lokal naratif) atau sama sekali tidak ada penjelasan. Namun, hal ini menunjukkan bahwa selalu ada celah
antara perkataan postmodernis dan apa yang mereka terapkan. Sebagaimana yang akan kita lihat,
setidaknya beberapa postmodernis menciptakan narasi besar sendiri. Banyak postmodernis merupakan
pembentuk teoritis Marxian, dan akibatnya mereka selalu berusaha mengambil jarak dari narasi besar yang
menyifatkan posisi tersebut. Ketiga, pemikir postmodern cenderung menggembor-gemborkan fenomena
besar pramodern seperti emosi, perasaan, intuisi, refleksi, spekulasi, pengalaman personal, kebiasaan,
kekerasan, metafisika, tradisi, kosmologi, magis, mitos, sentimen keagamaan, dan pengalaman mistik.
Seperti yang terlihat, dalam hal ini Jean Baudrillard (1988) benar, terutama pemikirannya tentang
pertukaran simbolis (symbolic exchange). Keempat, teoritisi postmodern menolak kecenderungan modern

18
yang meletakkan batas-batas antara hal-hal tertentu seperti disiplin akademis, budaya dan kehidupan, fiksi
dan teori, image dan realitas. Kajian sebagian besar pemikir postmodern cenderung mengembangkan satu
atau lebih batas tersebut dan menyarankan bahwa yang lain mungkin melakukan hal yang sama. Contohnya
Baudrillard (1988) menguraikan teori sosial dalam bentuk fiksi, fiksi sains, puisi dan sebagainya. Kelima,
banyak postmodernis menolak gaya diskursus akademis modern yang teliti dan bernalar (Nuyen, 1992:6).
Tujuan pengarang postmodern acapkali mengejutkan dan mengagetkan pembaca alih-alih membantu
pembaca dengan suatu logika dan alasan argumentatif. Hal itu juga cenderung lebih literal daripada gaya
akademis.

Akhirnya, postmodern bukannya memfokuskan pada inti (core) masyarakat modern, namun
teoritisi postmodern mengkhususkan perhatian mereka pada bagian tepi (periphery). Seperti dijelaskan oleh
Rosenau (1992:8) bahwa … perihal apa yang telah diambil begitu saja (taken for granted), apa yang telah
diabaikan, daerah-daerah resistensi, kealpaan, ketidakrasionalan, ketidaksignifikansian, penindasan, batas
garis, klasik, kerahasiaan, ketradisionalan, kesintingan, kesublimasian, penolakan, ketidakesensian,
kemarjinalan, keperiferian, ketiadaan, kelemahan, kediaman, kecelakaan, pembubaran, diskualifikasi,
penundaan, ketidakikutan.

Dari beberapa pendapat tersebut di atas, dapat dipahami bahwa teoritisi postmodern menawarkan
intermediasi dari determinasi, perbedaan (diversity) daripada persatuan (unity), perbedaan daripada sintesis
dan kompleksitas daripada simplikasi.

Secara lebih umum, Bauman (1992:31) menetapkan kebudayaan postmodern antara lain:
pluralistis, berjalan di bawah perubahan yang konstan, kurang dalam segi otoritas yang mengikat secara
universal, melibatkan sebuah tingkatan hierarkis, merujuk pada polivalensi tafsiran, didominasi oleh media
dan pesan-pesannya, kurang dalam hal kenyataan mutlak karena segala yang ada adalah tanda-tanda, dan
didominasi oleh pemirsa. Lebih lanjut Bauman (1992:98) menjelaskan bahwa postmodernitas berarti
pembebasan yang pasti dari kecenderungan modern khusus untuk mengatasi ambivalensi dari
mempropagandakan kejelasan tunggal akan keseragaman … Postmodernitas adalah modernitas yang telah
mengakui ketidakmungkinan terjadinya proyek yang direncanakan semula. Postmodernitas adalah
modernitas yang berdamai dengan kemustahilannya dan memutuskan, tentang baik dan buruknya, untuk
hidup dengannya. Praktik modern berlanjut sekarang, meskipun sama sekali tanpa objektif (ambivalensi)
yang pernah memicunya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa postmodernitas mengkhawatirkan namun demikian


masih menggembirakan. Atau dengan kata lain, postmodernitas penuh dengan sebuah inomic-tercerabut
antara kesempatan yang ia buka dan ancaman-ancaman yang bersembunyi dibalik setiap kesempatan. Juga
kebanyakan kaum postmodernis memiliki, sebagaimana kita akan ketahui, sebuah pandangan yang jauh
lebih pesimistis atas masyarakat postmodern. Hal tersebut sesuai dengan pemikiran Jameson (1989) bahwa
masyarakat postmodern tersusun atas lima elemen utama, antara lain: (1) masyarakat postmodern

19
dibedakan oleh superfisialitas dan kedangkalannya; (2) ada sebuah pengurangan atas emosi atau pengaruh
dalam dunia postmodern; (3) ada sebuah kehilangan historisitas, akibatnya dunia postmodern disifatkan
dengan pastiche; (4) bukannya teknologi-teknologi produktif, malahan dunia postmodern dilambangkan
oleh teknologi-teknologi reproduktif dan; (5) ada sistem kapitalis multinasional.

B. Penelitian Ilmu Sosial

Setiap pendekatan dalam penelitian merupakan cara untuk memahami sesuatu, yang dalam ilmu
sosial dan humaniora menurut Prof. H. Judistira K. Garna, Ph.D. (1999:59) adalah untuk memahami gejala-
gejala sosial, gejala kehidupan kita sendiri ataupun orang lain. Pendekatan itu juga adalah upaya untuk
mencari, menemukan, atau memberi dukungan akan kebenaran yang relatif, yang sebagai suatu model
biasanya dikenal dengan paradigma. Penelitian melalui pendekatan kualitatif dan kuantitatif memberikan
dua macam paradigma yang perlu diperhatikan.

Positivisme menekankan akan pentingnya mencari fakta dan penyebab dari gejala-gejala sosial
dengan kurang memperhatikan tingkah laku subyektif individu yang dapat dimasukkan dalam kategori
tertentu, yang dari anggapan itu tampak bahwa positivisme melatarbalakangi pendekatan kuantitatif.
Pendekatan kualitatif menekankan akan pentingnya pemahaman tingkah laku menurut pola berpikir dan
bertindak subyek kajian, karena itu paradigma alamiah atau naturalistik, mewarnai pendekatan kualitatif.
Positivisme ialah pandangan filosofis yang dicirikan oleh suatu evaluasi yang positif dari ilmu dan metoda
ilmiah, yang dengan demikian telah memberi dampak pada etika, agama, politik, dan filsafat serta metoda
ilmiah, sehingga mempersiapkan suatu rasionalitas baru untuk melaksanakan atau operasional ilmu.

Penelitian yang kualitatif berakar dari data, dan teori berkaitan dengan pendekatan tersebut
diartikan sebagai aturan dan kaidah untuk menjelaskan proporsisi atau perangkat proposisi yang dapat
diformalisasikan secara deskriptif atau secara proporsional. Dua kepentingan akan terpenuhi, yaitu teori
substantif disusun bagi keperluan empirik, dan teori formal bagi keperluan pengembangan. Penyusunan
teori itu dilakukan melalui upaya kategorisasi dan relasi logik antara unsur-unsur dalam membina integrasi
yang berlaku: analisis banding dapat dilakukan antara unsur satu dengan unsur lainnya, dan teori formal
selain menguji teori formal lainnya, juga untuk analisis hasil penelitian.

Unsur-unsur berkaitan satu sama lainnya dalam melakukan fungsi menurut pola kebudayaan dari
masyarakat yang diteliti, karena itu pendekatan emik dianggap penting dan tak perlu ditarik suatu
generalisasi sebelum keseluruhan analisis itu selesai. Data uraian tentang data akan tampak, yang bukan
sebaliknya berupa bangunan analisis yang diterapkan pada data. Atas asumsi bahwasanya tingkah laku
yang terpolakan itu adalah menurut runtutan tindakan warga masyarakat yang menjadi obyek kajian, maka
gaya analisis struktural memberikan keleluasan uraian dari kajian empirik. Ilmu-ilmu sosial tidak berubah
bentuk, karena yang berubah adalah paradigma-paradigmanya, selain itu dilihat dari epistemologinya masih

20
mengacu kepada peningkatan ilmu-ilmu sosial, meneliti fakta sosial dalam semua bentuk, dan mencari asal
perjalanan institusi sosial dari satu bentuk ke bentuk lainnya.

Penggunaan metode kuantitatif, positivistik dan asumsi telah ditolak oleh peneliti kualitatif
generasi yang terikat dan mendukung aliran poststruktural, postmodern yang sensitif. Para peneliti
berargumentasi bahwa metode positivistik bukan jalan menceritakan kisah tentang masyarakat atau dunia
sosial. Mereka juga bukan yang utama atau tidak lebih buruk dari metode yang lain, merka hanya dikatakan
sebagai suatu perbedaan dari semacam kisah yang dimiliki.

Para ahli dari kelompok critical theory, constructivist dan aliran postmodern menolak kriteria
positivis dan postpositivist sebagai pekerjaan yang layak. Mereka melihat bahwa kriteria itu tidak sesuai
untuk kegiatan lapangan dan isinya merupakan reproduksi kriteria yang selalu memiliki macam kepastian
dari sains, padahal sains itu bisu dan penuh kekerasan. Peneliti justru melihat bahwa kegiatan evaluasi kerja
mengandung emosi, tanggapan pribadi, kebusukan pada etika, political praxis, teks kekerasan dan dialog
dengan subjek. Sebaliknya positivistik menggunakan kelemahan di atas untuk bertahan diri dengan
argumentasi bahwa mereka adalah sains yang baik, bebas dari bias individual dan subjektivitas; sebagai
catatan bebas mereka melihat postmodern sebagai suatu serangan terhadap pikiran dan kebenaran.

Menurut Prof. Dr. H. Noeng Muhadjir (2000:319-321) bahwa penelitian antropologi kultural dan
sosiologi terdiri atas: ethnologi orientalis, ethnography, ethnomethodologi dan critical ethnography.
Ethnologi Orientalis yang dilandasi asumsi bahwa budaya banyak negara di Timur lebih inferior dibanding
dengan budaya Barat, berkembang studi kebudayaan primitif yang disebut ethnologi. Ethnography bertolak
dari asumsi ethnosentrisme, yaitu bahwa terjadi pengelompokan atas dasar kesamaan keyakinan atau
kesamaan budaya atau kesamaan tradisi terdapat keberbedaan yang dapat dideskripsikan, tetapi tidak dapat
digeneralisasikan. Karena itu berkembang studi deskriptif beragam budaya sebagai studi ethnography.
Karena tradisi dan budaya masyarakat maju telah sangat luas dipelajari, maka ada semacam pemisahan
antara studi ethnography bagi satuan-satuan masyarakat minoritas dengan studi antroplogi dan sosiologi
bagi satuan-satuan masyarakat yang sudah lebih berkembang.

Ethnography bersifat idiographik “mendeskripsikan” budaya dan tradisi yang ada, dilawankan
dengan studi nomothetik yang mengeneralisasikan temuan-temuan (dalam hal ini sosiologi). Era
ethnography ini berada pada era positivisme. Kerangka teoritik dan kriteria pola budaya yang dipakai untuk
“mendeskripsikan” budaya satuan minoritas dalam studi ethnography adalah teori dan kriteria budaya
Barat. Akibatnya “deskripsinya” banyak bias; masyarakat minoritas dan masyarakat negara berkembang
dilihat sebagai terbelakang, budayanya masih rendah, dan seterusnya.

Ethnomethologi termasuk era postpositivistik. Perintisnya adalah Garfinkel. Keyakinan, budaya, dan
tradisi dideskripsikan sebagai masyarakat itu sendiri meyakini dan menyadarinya. Tidak lagi
menggunakan kerangka teori atau kriteria Barat, melainkan diangkat dari grass root sebagaimana
masyarakat itu sendiri menjelaskan. Dengan demikian studi ethnomethologi berkembang pada
lingkungan masyarakat lebih luas. Studi ini menjadi overlap atau tumpang tindih dengan studi

21
antropologi dan studi sosiologi; atau dalam visi menyatukan sering pula dikatakan ethnometologi
merupakan salah satu model atau cara untuk mempelajari sosiologi atau antropologi.
Critical Ethnography merupakan hasil proses dialektik; pada satu sisi tumbuh dari ketidakpuasan
dengan struktur masyarakat berupa kelas sosial, patriarkhat, dan rasialis, sehingga manusia sebagai
pelaku sosial human tidak dapat tampil. Yang tampil hanyalah representasi kelas, ras dan gender. Pada
sisi lain demokratisasi tanpa pembedaan kelas, ras dan gender pernah dapat muncul. Entah sadar entah
tidak, telenovela dari Meksiko yang ditayangkan pada berbagai televisi di Indonesia telah dan sedang
menanamkan struktur masyarakat berkelas.
Dalam perkembangannya ilmu sosial sejak tahun 1960-an, hal mana politik dan intelektualisme meragi
(ferment) dan menantang grand theories dan metodologi ortodox (maksudnya metodologi fungsional)
yang tampil “obyektif”, tetapi sebenarnya hendak mempertahankan kemapanan. Gerakan ini berupaya
meninggalkan teori-teori substantif, dan mengembangkan interpretasi dan diskursus tentang realitas
sosial itu sendiri. Critical Ethnography oleh Lather (dalam Muhadjir, 2000:320) disebut sebagai
openly ideological research dalam konsep konvensional. Critical Ethnography, sebagaimana
interpretivist, juga men-generate insights, menjelaskan kejadian dan mencari pemahaman. Para
interpretivist memaknai realitas sosial sesuai dengan experience-near daripada pemaknaan peneliti
sendiri, demikian Geertz. Meskipun demikian interpretivist adalah rekonstruksionist atas realitas
sosial.
Penganut teori kritis dalam ethnography mencermati bahwa studi ethnographi sudah terlalu bersifat
teoritis dan bersikap netral atas struktur sosial yang ada. Critical ethnography mencermati bahwa
struktur sosial seperti sistem kelas, patriarkhat, dan rasisme bertentangan dengan humanisme.
Pemikiran ilmu sosial pada tahun 1960-an mulai menggugat grand theories dan metodologi berfikir
yang cenderung memapankan ketidakadilan.

IV. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
1. Teori postmodern menawarkan intermediasi dari determinasi, perbedaan (diversity) daripada persatuan
(unity), perbedaan daripada sintesis dan kompleksitas daripada simplikasi.
2. Postmodern menanyakan bagaimana setiap orang dapat percaya bahwa modernitas telah membawa
kemajuan dan harapan bagi masa depan yang lebih cemerlang. Juga cenderung menolak apa yang
biasanya dikenal dengan pandangan dunia (world view), metanarasi, totalitas. Pemikir postmodern
cenderung menggembor-gemborkan fenomena besar pramodern seperti emosi, perasaan, intuisi,
refleksi, spekulasi, pengalaman personal, kebiasaan, kekerasan, metafisika, tradisi, kosmologi, magis,
mitos, sentimen keagamaan, dan pengalaman mistik. Teoritisi postmodern menolak kecenderungan
modern yang meletakkan batas-batas antara hal-hal tertentu seperti disiplin akademis, budaya dan
kehidupan, fiksi, teori, image dan realitas. Serta postmodern menolak gaya diskursus akademis modern
yang teliti dan bernalar.
3. Pendekatan kualitatif dicirikan oleh tujuan penelitian yang berupaya guna memahami gejala-gejala
yang sedemikian rupa tak memerlukan kuantifikasi, atau karena gejal-gejala tersebut tak
memungkinkan diukur secara tepat. Yang termasuk pendekatan penelitian kualitatif; penelitian
kualitatif naturalistik atau penelitian alamiah, etnografi atau ethnometodologi, studi kasus, perspektif
dalaman, penafsiran dan istilah lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Baudrillard, Jean. 1990. The Transparancy of Evil: Essays on Extreme Phenomena. London: Verso.
Bauman, A.T., 1992. The Role of Rhetorical Devices in Postmodernist Discourse. Philosophy and Rhetoric
25:183-197.

22
Best, Steven & Dauglas Kellner. 2003. Teori Postmodern: Interogasi Kritis.Malang: Boyan Publishing.
Borgherts, Donald M. 1996. The Encyclopedia of Philosophy Supplement. New York: Simon & Schuster
Macmillan.
Conrad, C., et al. 1993. Qualitative Research in Higher Education. Needham Heights MA: Giun Press.
Garna, Judistira K. 1999. Pendekatan Penelitian: Pendekatan Kualitatif. Bandung: Primaco Akademika.
Geertz, Clifford. 1960. Religion of Java. Glencoe: Free Press.
______________ 1973. The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books.
Jameson, Fredric. 1989. Postmodernism or The Cultural Logic of Late Capitalism. Durham: Duke
University Press.
Lyotard, Jean Francois. 1984. The Postmodern Condition: A. Report on Knowledge. Minneapolis:
University of Minnesofa Press.
Muhadjir, Noeng. 1982. Teori Perubahan Sosial. Yogyakarta: Rake Sarasin
______________ 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi IV. Yogyakarta: Rake Sarasin.
Mustafa, Hasan. 2004. Perspektif dalam Psikologi Sosial {OnLine}. Tersedia: http://home.unpar.ac.id/doc
(13 Januari 2005)
Nuyen, A.T.,1992. The Role of Rhetorrical Devices in Postmodernist Discourse. Philosophy and Rhetoric
25:183-197.
Rosenan, Pauline Morie. 1992. Post Modernism and the Social Sciences: Insight, Inroads, and Intrusions.
Princeton: Princeton University Press.
Salim, Agus. (ed). 2001. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial: Dari Denzin Guba dan Penerapannya.
Yogya: Tiara Wacana.

RIWAYAT HIDUP PENULIS

Nama Lengkap : Dr. H. Endang Komara, Drs. , M.Si.

Tempat tanggal lahir : Purwakarta, 19 Juli 1964

Pekerjaan : Dosen PNS Kopertis Wilayah IV

Dpk pada STKIP Pasundan Cimahi

Pangkat/golongan : Pembina Tingkat I, IV/b

Jabatan fungsional : Lektor Kepala IVc

Alamat
Rumah : Jl. Jati Indah IV/6 Bandung 40275 telpon 7309887

Kantor : STKIP Pasundan Cimahi Jl. Permana No. 32B telpon 6628311

23
Hp. 08122010150

Riwayat Pendidikan :

S1 Sarjana Pendidikan, lulus 1990

S2 KBU Ilmu Sosial Unpad, lulus1998

S3 KBU Ilmu Sosial Unpad, lulus 2003

Judul Disertasi : Transformasi Sosial Budaya Masyarakat Agraris ke

Masyarakat Industri (Studi Kasus pada Wilayah

Industri Campaka Kabupaten Purwakarta)

Bandung, 8 Pebruari 2005

Penulis,

Dr. H. Endang Komara, M.Si.

NIP. 132007609

Sosiologi Perspektif Realitas Sosial


Telah kita catat bahwa telah terjadi perdebatan di antara para ilmuwan sosial dalam hal
menjelaskan perilaku sosial seseorang. Untuk menjelaskan perilaku sosial seseorang
dapat dikaji sebagai sesuatu proses yang (1) instinktif, (2) karena kebiasaan, dan (3) juga
yang bersumber dari proses mental. Mereka semua tertarik, dan dengan cara sebaik
mungkin lalu menguraikan hubungan antara masyarakat dengan individu.

William James dan John Dewey menekankan pada penjelasan kebiasaan individual, tetapi
mereka juga mencatat bahwa kebiasaan individu mencerminkan kebiasaan kelompok
yaitu adat-istiadat masyarakat atau strutur sosial . Para sosiolog yakin bahwa struktur
sosial terdiri atas jalinan interaksi antar manusia dengan cara yang relatif stabil. Kita
mewarisi struktur sosial dalam satu pola perilaku yang diturunkan oleh satu generasi ke
generasi berikutnya, melalui proses sosialisasi. Disebabkan oleh struktur sosial, kita
mengalami kehidupan sosial yang telah terpolakan. James menguraikan pentingnya
dampak struktur sosial atas "diri" (self) perasaan kita terhadap diri kita sendiri.
Masyarakat mempengaruhi diri self.

Sosiolog lain Robert Park dari Universitas Chicago memandang bahwa masyarakat
mengorganisasikan, mengintegrasikan, dan mengarahkan kekuatan-kekuatan individu-
individu ke dalam berbagai macam peran (roles). Melalui peran inilah kita menjadi tahu

24
siapa diri kita. Kita adalah seorang anak, orang tua, guru, mahasiswa, laki-laki,
perempuan, Islam, Kristen. Konsep kita tentang diri kita tergantung pada peran yang kita
lakukan dalam masyarakat. Beberapa teori yang melandasi persektif strukturan adalah
Teori Peran (Role Theory), Teori Pernyataan Harapan (Expectation-States Theory), dan
Posmodernisme (Postmodernism).

Dalam tahun 1980-an, konsep kognisi, sebagian besarnya mewarnai konsep sikap. Istilah
"kognisi" digunakan untuk menunjukan adanya proses mental dalam diri seseorang
sebelum melakukan tindakan. Teori kognisi kontemporer memandang manusia sebagai
agen yang secara aktif menerima, menggunakan, memanipulasi, dan mengalihkan
informasi. Kita secara aktif berpikir, membuat rencana, memecahkan masalah, dan
mengambil keputusan.

Manusia memproses informasi dengan cara tertentu melalui struktur kognitif yang diberi
istilah "schema". Struktur tersebut berperan sebagai kerangka yang dapat
menginterpretasikan pengalaman-pengalaman sosial yang kita miliki. Jadi struktur
kognisi bisa membantu kita mencapai keterpaduan dengan lingkungan, dan membantu
kita untuk menyusun realitas sosial. Sistem ingatan yang kita miliki diasumsikan terdiri
atas struktur pengetahuan yang tak terhitung jumlahnya.

Intinya, teori-teori kognitif memusatkan pada bagaiamana kita memproses informasi


yang datangnya dari lingkungan ke dalam struktur mental kita Teori-teori kognitif
percaya bahwa kita tidak bisa memahami perilaku sosial tanpa memperoleh informasi
tentang proses mental yang bisa dipercaya, karena informasi tentang hal yang obyektif,
lingkungan eksternal belum mencukupi.

Walau Park menjelaskan dampak masyarakat atas perilaku kita dalam hubungannya
dengan peran, namun jauh sebelumnya Robert Linton (1936), seorang antropolog, telah
mengembangkan Teori Peran. Teori Peran menggambarkan interaksi sosial dalam
terminologi aktor-aktor yang bermain sesuai dengan apa-apa yang ditetapkan oleh
budaya. Sesuai dengan teori ini, harapan-harapan peran merupakan pemahaman bersama
yang menuntun kita untuk berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Menurut teori ini,
seseorang yang mempunyai peran tertentu misalnya sebagai dokter, mahasiswa, orang
tua, wanita, dan lain sebagainya, diharapkan agar seseorang tadi berperilaku sesuai
dengan peran tersebut. Mengapa seseorang mengobati orang lain, karena dia adalah
seorang dokter. Jadi karena statusnya adalah dokter maka dia harus mengobati pasien
yang datang kepadanya. Perilaku ditentukan oleh peran sosial.

Kemudian, sosiolog yang bernama Glen Elder (1975) membantu memperluas


penggunaan teori peran. Pendekatannya yang dinamakan “life-course” memaknakan
bahwa setiap masyarakat mempunyai harapan kepada setiap anggotanya untuk
mempunyai perilaku tertentu sesuai dengan kategori-kategori usia yang berlaku dalam
masyarakat tersebut.

Contohnya, sebagian besar warga Amerika Serikat akan menjadi murid sekolah ketika
berusia empat atau lima tahun, menjadi peserta pemilu pada usia delapan belas tahun,

25
bekerja pada usia tujuh belah tahun, mempunyai istri/suami pada usia dua puluh tujuh,
pensiun pada usia enam puluh tahun. Di Indonesia berbeda. Usia sekolah dimulai sejak
tujuh tahun, punya pasangan hidup sudah bisa usia tujuh belas tahun, pensiun usia lima
puluh lima tahun. Urutan tadi dinamakan “tahapan usia” (age grading). Dalam
masyarakat kontemporer kehidupan kita dibagi ke dalam masa kanak-kanak, masa
remaja, masa dewasa, dan masa tua, di mana setiap masa mempunyai bermacam-macam
pembagian lagi.

Sosiologi Perspektif Fakta Sosial


Fakta sosial bersifat eksternal, umum (general), dan memaksa (coercion). Fakta sosial mempengaruhi
tindakan-tindakan manusia. Tindakan individu merupakan hasil proses pendefinisian reslitas sosial, serta
bagaimana orang mendefinisikan situasi. Asumsi yang mendasari adalah bahwa manusia adalah makhluk
yang kreatif dalam membangun dunia sosialnya sendiri.

Fakta sosial inilah yang menjadi pokok persoalan penyelidikan sosiologi. Fakta social dinyatakan oleh
Emile Durkheim sebagai barang sesuatu (Thing) yang berbeda dengan ide. Barang sesuatu menjadi objek
penyelidikan dari seluruh ilmu pengetahuan. Ia tidak dapat dipahami melalui kegiatan mental murni
(spekulatif). Tetapi untuk memahaminya diperlukan penyusunan data riil diluar pemikiran manusia. Fakta
sosial ini menurut Durkheim terdiri atas dua macam :

1. Dalam bentuk material : Yaitu barang sesuatu yang dapat disimak, ditangkap, dan diobservasi. Fakta
sosial inilah yang merupakan bagian dari dunia nyata contohnya arsitektur dan norma hukum.

2. Dalam bentuk non-material : Yaitu sesuatu yang ditangkap nyata ( eksternal ). Fakta ini bersifat inter
subjective yang hanya muncul dari dalam kesadaran manusia, sebagai contao egoisme, altruisme, dan opini.

Pokok persoalan yang harus menjadi pusat perhatian penyelidikan sosiologi menurut paradigma ini adalah
fakta-fakta sosial. Secara garis besar fakta sosial terdiri atas dua tipe, masing-masing adalah struktur sosial
dan pranata sosial. Secara lebih terperinci fakta sosial itu terdiri atas : kelompok, kesatuan masyarakat
tertentu, system sosial, peranan, nilai-nilai, keluarga, pemerintahan dan sebagainya. Menurut Peter Blau ada
dua tipe dasar dari fakta sosial :

1. Nilai-nilai umum ( common values )


2. Norma yang terwujud dalam kebudayaan atau dalam subkultur.

Ada empat varian teori yang tergabung ke dalam paradigma fakta sosial ini. Masing-masing adalah :

1. Teori Fungsionalisme-Struktural, yaitu teori yang menekankan kepada keteraturan (order) dan
mengabaikan konflik dan perubahan-perubahan dalam masyarakat. Konsep-konsep utamanya adalah :
fungsi, disfungsi, fungsi laten, fungsi manifestasi, dan keseimbangan.

2. Teori Konflik, yaitu teori yang menentang teori sebelumnya (fungsionalisme-struktural) dimana
masyarakat senantiasa berada dalam proses perubahan yang ditandai oleh pertentangan yang terus menerus
diantar unsure-unsurnya.

3. Teori Sistem

4. Teori Sosiologi Makro

Dalam melakukan pendekatan terhadap pengamatan fakta sosial ini dapat dilakukan dengan berbagai
metode yang banyak untuk ditempuh, baik interviu maupun kuisioner yang terbagi lagi menjadi berbagai
cabang dan metode-metode yang semakin berkembang. Kedua metode itulah yang hingga kini masih tetap

26
dipertahankan oleh penganut paradigma fakta sosial sekalipun masih adanya terdapat kelemahan didalam
kedua metode tersebut.

Sosiologi Dimensi Stratifikasi Sosial


Ada banyak dimensi yang bisa digunakan untuk mendeskripsikan stratifikasi sosial yang ada dalam suatu
kelompok sosial atau komunitas (Svalastoga, 1989), misalnya: dimensi pemilikan kekayaan (diteorikan
Koentjaraningrat), sehingga ada strata wong sugih dan wong cilik. Awalnya, di-mensi ini digunakan untuk
melakukan identifikasi pada masyarakat Jawa, maka yang disebut pemilikan kekayaan akan ter-fokus pada
simbol-simbol ekonomi yang lazim dihargai masyarakat Jawa. Misalnya, pemilikan tanah (rumah,
pekarangan atau sawah).

Dimensi distribusi sumber daya diteorikan oleh Gerhard Lensky, di mana ada strata tuan tanah, strata petani
bebas, strata pedagang, strata pegawai, strata petani, strata pengrajin, strata penganggur-an, dan strata
pengemis. Dimensi ini pada awalnya diberlakukan pada masyarakat pra-industri di mana sistem stratifikasi
sosialnya belum sekompleks masyarakat industri.

Ada tujuh dimensi stratifikasi sosial (diteorikan Bernard Baber), yaitu: occupational prestige, authority and
power ranking, income or wealth, educational and knowledge, religious and ritual purity, kinship, ethnis
group, and local community. Ketujuh dimensi ini, baik secara terpisah maupun bersama-sama, akan bisa
membantu dalam mendeskripsikan bagaimana susunan stratifikasi sosial suatu kelompok sosial
(komunitas) dan faktor yang menjadi dasar terbentuknya stratifikasi sosial tersebut.

Samuel Huntington mengemukakan bahwa ada dimensi modernisasi untuk menjelaskan stratifikasi sosial,
yaitu: strata sosial (baru) yang mampu merealisasi aspirasinya ( the new have) dan strata sosial yang tidak
mampu merealisasi aspirasinya atau mereka kalah dalam memperebutkan posisi strata dalam komunitasnya
(the looser). Dimensi ini lebih terfokus pada stratifikasi sosial yang pembentukannya didasarkan pada
berbagai simbol gaya hidup. Teorisasi Huntington ini dalam beberapa hal berhimpitan dengan teori Leisure
Class-nya dari Thorstein Veblen (Beteille, 1977).

http://de-kill.blogspot.com/2009/04/sosiologi-perspektif-realitas-sosial.html

27