Anda di halaman 1dari 11

PATOFISIOLOGI KATARAK DIABETIK Katarak diabetik merupakan salah satu penyebab gangguan penglihatan yang utama pada pasien

diabetes melitus selain retinopati diabetik. Patofisiologi terjadinya katarak diabetik berhubungan dengan akumulasi sorbitol di lensa dan terjadinya denaturasi protein lensa.
10 4,

Katararak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, atau akibat denaturasi protein lensa. Pada diabetes melitus terjadi akumulasi sorbitol pada lensa yang akan meningkatkan tekanan osmotik dan menyebabkan cairan bertambah dalam lensa. Sedangkan denaturasi protein terjadi karena stres oksidatif oleh ROS yang mengoksidasi protein lensa (kristalin). Penulis Asli: dr. Ansari Rahman
4, 10

Sementara tindakan rehabilitasi dengan operasi umumnya dilakukan pada mereka yang memiliki katarak dengan grade 3-4. Walau sebenarnya katarak grade 3 biasanya masih bisa dikoreksi dengan kacamata, kebanyakan pasien sudah minta dioperasi. Tindakan operasi dilakukan dengan mengganti lensa mata yang keruh dengan lensa tanam. Menariknya, lensa tanam yang ada sekarang ini sudah demikian maju. Sehingga sudah memiliki pelindung antiUV atau blue filter protector. Namun, bila pola hidup sehat diadopsi sejak masih muda, seseo rang bisa saja tidak terkena katarak. Tidak semua orang terkena katarak. Ya, memang jarang sih, tetapi beberapa pasien saya yang berusia lanjut, lensa matanya masih jernih. Kemungkinan besar karena pola hidupnya memang sehat, tambahnya. Jadi sebenarnya, katarak bisa dicegah dengan pola hidup sehat. Tidak merokok, menyantap makanan gizi sehatseimbang, serta melindungi mata dari paparan sinar matahari, menjadi sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk membantu mencegah terjadinya katarak. Pakai Kacamata AntiUV Pelindung mata terutama dibutuhkan ketika melakukan aktivitas di luar ruang. Lindungi mata dengan menggunakan topi serta kacamata pelindung antiUV, Khusus untuk kacamata pelindung ini, dokter lulusan FKUI ini memberi rekomendasi penting. Hendaknya, kacamata yang digunakan bukan hanya bersifat adem saja. Karena hal tersebut malah bisa menjadi bumerang bagi kesehatan mata. Kalau kacamata hanya membuat adem saja tanpa filter ultraviolet pupil mata akan melebar. Akibatnya sinar ultraviolet menjadi lebih banyak masuk ke mata, katanya. Untuk itu, pilih kacamata yang memang dirancang menghalau sinar ultraviolet. Boks Komplikasi Katarak Berisiko Glaukoma Glaukoma bisa menyebabkan kebutaan permanen. Yang sebenarnya dapat dicegah bila dideteksi dini. Dengan pemberian obat maupun tindakan operasi. Tindakan tersebut untuk menjaga mata. Memang tidak bisa pulih, tetapi setidaknya belum sampai mengalami kebutaan permanen,

Selain faktor genetik, penyakit diabetes maupun hipertensi bisa menjadi faktor risiko terjadinya glaukoma. Trauma dan komplikasi katarak pun nyatanya dapat menjadi glaukoma. ( AINI/Dr.FTH)

pasien dewasa Jika seorang ayah menderita stroke, apa yang akan terjadi? Apakah terjadi perubahan perilaku sosial? Orang yang stroke bisa tetap punya rasa percaya diri untuk beraktivitas berkat dukungan dari keluarga(keluarga memberi support). Tetapi, ada keluarga yang sering mengisolasi anggota keluarganya yang stroke. Mereka ditempatkan di kamar tersendiri dan keluarganya tidak pernah menyapa. Akibatnya, kondisi fisiknya makin lama makin turun.

Diagnosis penyakit ganas, seperti kanker, yang disampaikan dokter kepada pasiennya akan menimlbulkan reaksi yang berbeda-beda dari masing-masing pasien. Reaksi-reaksi yang timbul diantaranya:

1. Reaksi pengingkaran Ada pasien yang mengingkari bahwa dirinya menderita penyakit kanker. Ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan dokter. 2. Ketidakseimbangan antara fisik, emosi, dan sosial J perasaan yang tidak menentu

( kecemasan, ketakutan, mudah tersinggung dan emosi lain yang tidak menyenangkan ). J rasa sakit, lelah, pegal linu, nyeri J enggan bersosialisasi:malas bertemu orang, malas bicara, lebih senang menyendiri/mengurung diriReaksi psikologis yang timbul pada orang yang sakit biasanya orang yang sakit suka marah-marah, contohnya anak yang menderita leukimia setelah gagal pungsi lumbal 2 kali akan marah-marah dan berguling-guling padahal setelah pungsi lumbal dilakukan, pasien harus tidur telentang selama kurang lebih 2 jam.

Ada tiga kategori yang menjadi penyebab timbulnya stres, yaitu: 1. Major Life Events : peristiwa mendadak, tidak diharapkan, berpotensi berkembang menjadi peristiwa kehidupan yang menyedihkan/menakutkan (mis. meninggalnya pasangan hidup, kecelakaan, kabar buruk yang mengejutkan) menyebabkan perubahan yang mendadak dan substansial pada kehidupan sehari-hari 2. Chronic stressors : situasi yang persisten atau berlangsung terus menerus seharihari dalam waktu yang lama (mis. problem perkawinan, dikriminasi dalam pekerjaan, pengobatan jangka panjang) 3. Daily hassles : gangguan-gangguan atau tekanan kecil tapi terjadi sehari-hari (mis. deadlines, traffic jams) yang apabila dialami secara terus menerus dapat menyebabkan akibat kumulatif. Seseorang yang menderita sakit pastilah terjadi perubahan dalam dirinya, baik dari segi jasmani maupun rohani. Ketika seorang dokter menyampaikan diagnosis tentang penyakitnya, maka si pasien akan menjadikan saat itu sebagai peristiwa kehidupan besar (major life event) yang mengejutkan, apalagi jika penyakit yang dideritanya adalah penyakit ganas/terminal. Periode pemeriksaan dan pengobatan yang dilakukan juga dapat menambah tekanan/stres pada diri pasien pasien akan merasa sakit, takut, panik, malu, sedih, bingung, marah, dll.

Ada beberapa penyebab timbulnya stres di rumah sakit, di antaranya adalah:

"Rasa sakit / nyeri dan ketidak nyamanan

"prosedur / tindakan medis

"suasana rumah sakit

"immobilitas & terisolasi

"hilang kesempatan untuk beraktivitas

""aturan-aturan" dalam rangka proses pengobatan/penyembuhan

"perasaan tidak menentu, cemas, takut, panik

"sikap keluarga dan tenaga kesehatan "mispersepsi dan miskonsepsi tentang sakit dan pengobatannya

Apabila terjadi suatu dominasi emosi yang tidak menyenangkan maka bisa menimbulkan terjadinya stres. Stres yang berkepanjangan (distress) dapat mempengaruhi pembentukan kepribadian, pola coping, dan manifestasi potensi diri, serta dapat juga mempengaruhi proses pengobatan dan penyembuhan.

(Dis)Stress

Disruption of homeostasis

ehavioral disturbance Autonomic dysregulation Immune system dysregulation Endocrine changes

Reaksi emosi seseorang terhadap keadaan dan penyakit dipengaruhi oleh: Ustatus kognitif dan emosi Usikap keluarga Usikap tenaga kesehatanUsuasana rumah sakit Yang penting sekali dilakukan untuk membantu kesembuhan pasien adalah dukungan sosial. Dukungan sosial yang diberikan dapat berupa:

dukungan emosional bisa memahami dan mengerti kondisi pasien

dukungan informasi

dukungan instrumental dukungan appraisal Pasien butuh second opinion. Oleh karena itu, seorang dokter tidak perlu takut untuk mereferkan ke dokter sejawat. Pasien akan sangat menghargai dokter yang bersifat terbuka. Dukungan appraisal juga bisa diterapkan jika dokter ikut menjelaskan penyakit pasien pada orang-orang yang ikut mengantar pasien. Dukungan sosial harus diberikan oleh petugas kesehatan dan keluarga pasien juga sangat berperan dalam memberikan dukungan sosial. Jadi, petugas kesehatan perlu memberikan pengarahan kepada keluarga pasien. Konflik pada diri pasien : "Peran" sebagai pasien yang baik ??? Penyakit kronis pada anak bisa menimbulkan masalah yang sangat kompleks, baik pada diri anak maupun pada diri orangtua: 1. Anak %Waktu pengobatan panjang, hospitalisasi berulang, tindakan medis trauma psikis %Menurun & terhambatnya kemampuan/perkembangan

%Hubungan OT-anak mengalami perubahan 2. Orangtua

Terpukul & panik Mengamati keadaan anak stresor berat & kronis Ketidak pastian & ketidakjelasan Kelelahan fisik & psikis

Masalah keuangan Mendengar & menjawab berbagai pertanyaan kerabat

Ada hubungan antara perilaku coping orang tua / ibu dengan perilaku coping anak penderita leukemia (Grootenhuis, Martha A., 1996; Dwi Susilawati & Gamayanti, 2001). Dukungan sosial bisa berupa pendampingan oleh keluarga.

Kapan perlu dilakukan pendampingan ? Sejak awal : merasakan adanya gejala Pemeriksaan awal untuk penegakan diagnosis Diagnosis Proses pengobatan Proses pemulihan Menghadapi kemungkinan terburuk

Menunggu dan Menerima Diagnosis

Merupakan periode yang sangat menggelisahkan dan tidak menentu.

Penderita sangat membutuhkan dukungan emosional Sebaiknya saat menerima / mendengar diagnosa tidak sendirian tetapi didampingi Perlu bantuan untuk menenangkan diri dan menentukan langkah selanjutnya

Proses Pengobatan dan Pemulihan

Penderita perlu dibantu untuk menyesuaikan diri dengan pengobatan yang harus dijalaninya Kondisi emosi biasanya "up and down", perlu "teman" untuk berbicara dan berbagi perasaan Kalau bisa dipertemukan dengan mantan penderita yang telah berhasil sembuh Memfasilitasi partisipasi anggota keluarga untuk mendampingi penderita Pendampingan secara spiritual

Menghadapi kemungkinan terburuk Terutama adalah pendampingan secara spiritual terhadap penderita dan keluarganya.

Terutama adalah pendampingan secara spiritual terhadap penderita dan keluarganya. Memberikan ketenangan dan menyiapkan mental anggota keluarga yang lain.

Coping (pengatasan masalah) yang efektif pada penderita Dapat mengakibatkan : Motivasi untuk sembuh

Lebih kooperatif dalam proses pengobatan Melancarkan proses pengobatan Regulasi emosi Perilaku dan penyesuaian diri yang tepat

Katarak dapat dicegah, di antaranya dengan menjaga kadar gula darah selalu normal pada penderita diabetes mellitus, senantiasa menjaga kesehatan mata, mengonsumsi makanan yang dapat melindungi kelainan degeneratif pada mata dan antioksidan seperti buah-buahan banyak yang mengandung vitamin C, minyak sayuran, sayuran hijau, kacang-kacangan, kecambah, buncis, telur, hati dan susu yang merupakan makanan dengan kandungan vitamin E. Vitamin C dan E dapat memperjelas penglihatan. Vitamin C dan E merupakan antioksidan yang dapat meminimalisasi kerusakan oksidatif pada mata, sebagai salah satu penyebab katarak. Hasil penelitian yang dilakukan terhadap 3.000 orang dewasa selama lima tahun menunjukkan, orang dewasa yang mengonsumsi multivitamin atau suplemen lain yang mengandung vitamin C dan E selama lebih dari 10 tahun, ternyata risiko terkena katarak 60% lebih kecil. Makannya kurang riboflavin (vitamin B2) berisiko lebih tinggi terserang katarak. Menurut Farida, ribovlafin memengaruhi aktivitas enzim glutation reduktase. Enzim ini berfungsi mendaur ulang glutation teroksidasi menjadi glutation tereduksi, agar tetap menetralkan radikal bebas atau oksigen reaktif lain yang bersifat toksis, akibat paparan sinar ultraviolet matahari pada lensa mata. Makanan-makanan sumber riboflavin di antaranya susu, daging, sayur, telur sayuran hijau seperti kol, brokoli, asparagus serta biji-bijian (cereals). Read more: Tindakan Pencegahan Dari Katarak http://www.muslimedica.info/2013/04/tindakan-pencegahan-darikatarak.html#ixzz2ShR8MOcf Follow us: @bung_destur on Twitter | muslimedica on Facebook