Anda di halaman 1dari 28

REFERAT

STRABISMUS

Disusun oleh :
Muhamad Hidayat
FK UPN VETERAN
99.311.012
Pembimbing :
Dr. Ernita T Sp. M
KEPANITERAAN KLINIK DEPARTEMEN ILMUN PENYAKIT MATA
RUMAH SAKIT PUSAT ANGKATAN DARAT GATAOT SOEBROTO
JAKARTA
2007
i

KATA PENGANTAR
Pertama-tama saya panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah yang maha kuasa
karena atas rahmat dan karunia-Nya lah saya dapat menyelesaikan penyusunan referat yang
berjudul STRABISMUS.
Referat ini disusun untuk memenuhi tugas kepaniteraan Departemen Ilmu Penyakit
Mata Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto periode 5 November 15
Desember 2007. Serta untuk menambah wawasan kami sebagai coass dibagian Ilmu
Penyakit Mata dan sebagai calon dokter umum mengenai strabismus.
Saya ucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan masukan
dan bantuan dalam penyusunan referat ini. Terima kasih kepada para dokter konsulen yang
banyak membantu selama kepaniteraan dibagian Ilmu Penyakit Mata, terutama kepada
dr.Ernita T Sp.M selaku pembimbing dalam kepaniteraan Ilmu Penyakit Mata. Terima kasih
juga kepada teman sejawat dan kepada siapapun yang telah membantu. Dan hanya Allah lah
yang mampu membalas semua jasa kalian.
Tiada gading yang tak retak, begitupun dalam penyusunan referat ini yang mungkin
jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat saya
harapkan agar dapat memberi karya yang lebih baik lagi di masa yang akan datang.
Harapan saya, semoga referat ini dapat berguna khususnya bagi saya dan bagi
siapapun yang membaca.

Jakarta, Desember 2007

Penyusun

ii

DATAR ISI

KATA PENGANTAR ...................................................................................................


i
DAFTAR ISI ................................................................................................................
ii
BAB I
1

PENDAHULUAN ................................................................................
I.
II.

BAB II
3

PEMBAHASAN ..................................................................................
I.
II.
III.

BAB III
20

Latar Belakang .........................................................................


1
Tujuan Penulisan ......................................................................
2

Definisi .....................................................................................
3
Etiologi .....................................................................................
3
Diagnosa ..................................................................................
3
1. STRABISMUS PARALITIKA ..........................................
4
2. STRABISMUS NONPARALITIK ..................................
11

KESIMPULAN

..................................................................................

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................


21

BAB I
PENDAHULUAN
I.

LATAR BELAKANG
Faal penglihatan yang optimal dicapai seseorang apabila benda yang
dilihat oleh kedua mata dapat diterima setajam-tajamnya oleh kedua fovea,
kemudian secara simultan dikirim ke susunan saraf pusat untuk diolah menjadi
suatu sensasi berupa bayangan tunggal. Faal penglihatan optimal seperti tersebut
di atas, yang terjadi pada semua arah penglihatan disebut sebagai penglihatan
binokular yang normal. ( 1, 2 )
Faal penglihatan yang normal dapat membedakan bentuk, warna dan
intensitas cahaya. Visus yang normal dapat terjadi apabila disertai fiksasi dan
proyeksi yang normal pula.
Seorang bayi yang baru lahir, hanya dapat membedakan gelap dan
terang, belum ada daya fiksasi. Perkembangan fovea sentralis terbaik terdapat
pada umur 3-6 bulan setelah lahir. Bila setelah berumur 6 bulan bayi masih
terdapat kelainan deviasi, harus segera diberi tindakan dengan maksud untuk
mendapat pembentukan visus yang baik dan juga mempertinggi kemungkinan
hasil fungsional untuk melihat binokular yang baik. ( 2 )
Agar terjadi penglihatan binokular yang normal, diperlukan persyaratan
utama, berupa :
1. Bayangan yang jatuh pada kedua fovea sebanding dalam ketajaman maupun
ukurannya, hal ini berarti bahwa tajam penglihatan pada kedua mata tidak
terlalu berbeda sesudah koreksi dan tidak terdapat anisokonia, yang baik
disebabkan karena refraksi maupun perbedaan susunan reseptor.
2. Posisi kedua mata dalam setiap arah penglihatan adalah sedemikian rupa
sehingga bayangan benda yang menjadi perhatiannya akan selalu jatuh tepat
pada kedua fovea. Posisi kedua mata ini adalah resultante kerjasama seluruh
otot-otot ekstrinsik pergerakan bola mata.
3. Susunan saraf pusat mampu menerima rangsangan yang datang dari kedua
retina dan mensintesa menjadi suatu sensasi berupa bayangan tunggal. ( 3 )
4

Apabila salah satu dari ketiga persyaratan tersebut di atas tidak dipenuhi,
maka akan timbul keadaan penglihatan binokular yang tidak normal.
Aniseikonia yaitu suatu disparasi penglihatan berat yang menimbulkan
diplopia dan perbedaan hipermetropia sebanyak dua dioptri atau lebih dapat
menyebabkan gangguan faal penglihatan dalam masa perkembangan anak yang
disebut sebagai Developmental Arrest.
Gangguan keseimbangan gerak bola mata akibat tonus yang tidak sama
kuat antara otot-otot penggerak bola mata maupun karena kelainan yang bersifat
sentral juga dapat mengakibatkan deviasi bola mata. ( 3, 4, 5 )
II. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan referat ini adalah untuk mengetahui diagnosis dan
penatalaksanaan Strabismus. Serta untuk menambah wawasan kami sebagai
coass dibagian Ilmu Penyakit Mata dan sebagai calon dokter umum mengenai
strabismus.

BAB II
PEMBAHASAN
I.

DEFINISI
STRABISMUS adalah suatu keadaan dimana kedudukan kedua bola
mata tidak searah. Strabismus merupakan suatu kelainan posisi bola mata dan
bisa terjadi pada arah atau jauh penglihatan tertentu saja, atau terjadi pada semua
arah dan jarak penglihatan. ( 4, 5, 6 )

II. Etiologi
Strabismus ditimbulkan oleh cacat motorik, sensorik atau sentral. Cacat
sensorik disebabkan oleh penglihatan yang buruk, tempat ptosis, palpebra, Parut
Kornea Katarak Kongenital Cacat Sentral akibat kerusakan otak.
Cacat Sensorik dan Sentral menimbulkan Strabismus Konkomitan atau non
paralitik. Cacat motorik seperti paresis otot mata akan menyebabkan gerakan
abnormal mata yang menimbulkan strabismus paralitik. ( 4, 5 )
Gangguan fungsi mata seperti pada kasus kesalahan refraksi berat atau
pandangan yang lemah karena penyakit bisa berakhir pada strabismus.
Ambliopia (berkurangnya ketajaman penglihatan) dapat terjadi pada strabismus,
biasanya terjadi pada penekanan kortikal dari bayangan mata yang
menyimpang. ( 5 )

III. DIAGNOSA STRABISMUS


Kelainan kedudukan mata dapat dibagi dalam :
-

strabismus - paralitik (noncomitant) = incomitant


- nonparalitik = (comitant = concomitant)
- manifes = strabismus = heterotropia
- laten

= heteroforia
- akomodatif
-

non akomodatif

Seringkali heteroforia bertambah secara progresif, sehingga kelainan deviasi ini


tidak dapat lagi diatasi, sehingga menjadi = strabismus.

1. STRABISMUS PARALITIKA (NONCOMITANT, INCOMITANT)


Tanda-tanda :
1.

Gerak mata terbatas, pada daerah dimana otot yang lumpuh bekerja. Hal ini
menjadi nyata pada kelumpuhan total dan kurang nampak pada parese. Ini dapat
dilihat, bila penderita diminta supaya matanya mengikuti suatu obyek yang
digerakkan ke 6 arah kardinal, tanpa menggerakkan kepalanya (excurtion test).
Keterbatasan gerak kadang-kadang hanya ringan saja, sehingga diagnosa
berdasarkan pada adanya diplopia saja. ( 4 )

2.

Deviasi
Kalau mata digerakkan kearah lapangan dimana otot yang lumpuh
bekerja, mata yang sehat akan menjurus kearah ini dengan baik, sedangkan mata

yang sakit tertinggal. Deviasi ini akan tampak lebih jelas, bila kedua mata
digerakkan kearah dimana otot yang lumpuh bekerja. Tetapi bila mata
digerakkan kearah dimana otot yang lumpuh ini tidak berpengaruh, deviasinya
tak tampak.
Contoh : kelumpuhan m.rektus lateralis, menyebabkan esotropia, mata
berdeviasi kenasal. Deviasi ini tampak jelas bila kedua mata digerakkan kearah
temporal dan menjadi tidak nyata, bila digerakkan kearah nasal. Deviasi dari
mata yang strabismus disebut deviasi primer, selalu kearah berlawanan dengan
arah bekerjanya otot yang lumpuh. Kalau mata yang sakit melihat sesuatu obyek
dan mata yang sehat ditutup maka mata yang sehat ini akan berdeviasi pada arah
yang sesuai dengan mata yang sakit, tetapi dengan kekuatan yang lebih besar.
Deviasi dari mata yang sehat disebut deviasi sekunder. Deviasi sekunder ini
lebih besar, karena rangsangan yang kuat dibutuhkan mata yang sakit untuk
melihat kearah tempat otot yang sakit bekerja. Kekuatan rangsangan yang sama
didapatkan pula oleh otot yang normal sebagai pasangannya, karena itu timbul
deviasi sekunder yang kuat, pada mata yang sehat (hukum Hering). ( 4, 5 )
Ini merupakan cara untuk membedakan strabismus paralitik dari yang
nonparalitika, dimana diviasi primer sama dengan diviasi sekunder.
3.

Diplopia : terjadi pada lapangan kerja otot yang lumpuh dan menjadi lebih nyata
bila mata digerakkan kearah kanan.

4.

Ocular torticollis (head tilting)


Penderita biasanya memutar kearah kerja dari otot yang lumpuh.
Kedudukan kepala yang miring, menolong diagnosa strabismus paralitikus.
Dengan memiringkan kepalanya, diplopianya terasa berkurang.

5.

Proyeksi yang salah


Mata yang lumpuh tidak melihat obyek pada lokalisasi yang benar. Bila
mata yang sehat ditutup, penderita disuruh menunjukkan suatu obyek yang ada
didepannya dengan tepat, maka jarinya akan menunjukkan daerah disamping
obyek tersebut yang sesuai dengan daerah lapangan kekuatan otot yang lumpuh.
Hal ini disebabkan, rangsangan yang nyata lebih besar dibutuhkan oleh otot

yang lumpuh, untuk mengerjakan pekerjaan itu dan hal ini menyebabkan
tanggapan yang salah pada penderita. ( 3, 4 )
6.

Vertigo, mual-mual, disebabkan oleh diplopia dan proyeksi yang salah.


Keadaan ini dapat diredakan dengan menutup mata yang sakit.
Diagnosa berdasarkan : 1. Keterbatasan gerak
2. Deviasi
3. Diplopia.
Ketiga tanda ini menjadi nyata, bila mata digerakkan kearah lapangan kerja

dari otot yang sakit. Pada keadaan parese, dimana keterbatasan gerak mata tak begitu
nyata adanya diplopi merupakan tanda yang penting. Cara pemeriksaannya dengan
tes diplopi. Dengan cara ini dapat diketahui :
1. Pada arah mana didapat diplopia
2. Apakah diplopianya bertambah kesatu arah
3. Mata mana yang menderita.

Dengan demikian dapat diketahui mata mana dan otot mana pada mata itu yang
salah.
Caranya : Penderita disuruh mengikuti gerak korek api, dengan matanya, tanpa
menggerakkan kepalanya, yang digerakkan keatas, kebawah, kekanan dan kekiri,
secara maksimal. Diperhatikan apakah timbul diplopia pada salah satu arah.
Umpamanya pada waktu melihat kekanan tampak diplopia. Dalam hal ini ada 2
kemungkinan :
1. Mata kiri yang tertinggal karena eksotropi mata kiri = kelumpuhan m.rektus
internus
2. Mata kanan tertinggal, karena esotropia mata kanan = kelumpuhan m.rektus
eksternus.
Kemungkinan

Kiri

OS

OD

OS

OD

kanan

Pada eksotropia mata kiri (OS) = paralise m.rektus internus pada mata kiri
Rangsangan pada mata kanan difovea sentralis.
Pada OS, retina yang terangsang disebelah kiri fovea sentralis, jadi bayangan OS
ada disebelah kanan dari bayangan OD yang melalui fovea sentralis, dilapangan
penglihatan.
OD

OS

Disini terdapat crossed diplopia, karena bayangan palsunya terletak berlawanan


dengan mata yang berdeviasi.

10

1. Pada esotropia OD = paralise m.rektus eksternus mata kanan


Rangsangan pada OS tepat difovea sentralis. Pada OD, fovea sentralis ketinggalan
dalam gerakan dan terangsang retinanya pada daerah sebelah kiri dari fovea
sentralis. Jadi bayangannya dilapangan penglihatan terletak disebelah kanan
bayangan OS yang melalui fovea sentralis.
Disini diplopianya OS

OD, disebut juga homonymous diplopia, karena

bayangan palsunya terletak pada sisi yang sama dengan mata yang berdeviasi.
Dengan menutup salah satu mata, setelah terlihat diplopia, dapatlah diketahui
kedudukan bayangan dari diplopia itu, karena bayangan yang hilang menunjukkan
kedudukan bayangan mata itu. Umpamanya bayangan yang sebelah kiri yang hilang,
bila mata kanan yang ditutup, maka bayangan yang sebelah kiri adalah bayangan dari
mata kanan. ( 4 )
Pengukuran derajat deviasinya dengan tes Hirschberg, tes Krimski, tes Maddox
cross.
Penderita strabismus paralitika sebaiknya dirujuk dahulu dengan seorang ahli
saraf, sebelum diberikan pengobatan pada matanya, untuk menentukan da mengobati
penyebabnya, yang seringkali merupakan keadaan yang gawat seperti tumor diotak.
Kalau dari fihak bagian saraf sudah dianggap tengan barulah matanya diberi
pengobatan.
Kelumpuhan otot dapat mengenai satu otot, biasanya m.rektus lateralis, m.obliqus
superior atau salah satu otot yang diurus oleh N.III. Dapat juga mengenai beberapa
otot yang diurus oleh N.III.

11

ESOTROPIA PARALITIKUS = ABDUSEN PALCY = NONCOMITANT


ESOTROPIA
Sering terdapat pada orang dewasa yang mendapat trauma dikepala, tumor
atau peradangan dari susunan saraf serebral. Jarang ditemukan pada anak-anak, yang
biasanya disebabkan trauma pada waktu lahir, kelainan kongenital dari m.rektus
lateralis atau persarafannya.

Tanda-tandanya :
- gangguan pergerakan mata kearah luar
- diplopi homonim, yang menjadi lebih hebat, bila mata digerakkan kearah luar
- kepala dimiringkan kearah otot yang lumpuh
- deviasinya menghilang, bila mata digerakkan kearah yang berlawanan dengan otot
yang lumpuh
- pada anak dibawah 6 tahun, dimana pola sensorisnya belum tetap, timbul supresi,
sehingga tidak timbul diplopia
- pada orang dewasa, dimana esotropianya terjadi sekonyong-konyong, penderita
mengeluh ada diplopia, karena pola sensorisnya sudah tetap dan bayangan dari
obyek yang dilihatnya jatuh pada daerah-daerah retina dikedua mata yang tidak
bersesuaian (corresponderend). ( 4, 5 )

12

Pengobatan :
Penderita diobati dahulu secara nonoperatif selama 6 bulan, menurut
kausanya, kalau dapat dengan kerjasama beserta seorang ahli saraf. Bila terdapat
diplopia, mata yang sakit ditutup untuk menghilangkan diplopia dan segala
akibatnya. Adapula yang menutup mata yang sehat untuk menghilangkan
diplopianya.
Baik pada anak ataupun dewasa, bila setelah 6 bulan pengobatan belum ada
perbaikan, baru dilakukan operasi, yaitu reseksi dari m.rektus lateralis atau reseksi
dari m.rektus medialis, sebab bila dibiarkan terlalu lama dapat terjadi atrofi dari otot.
KELUMPUHAN DARI N.III (N. OKULOMOTORIUS)
Pada kelumpuhan total dari saraf ini didapatkan :
- ptosis.
- bola mata hampir tak dapat bergerak. Keterbatasan bergerak kearah atas, kenasal
dan sedikit kearah bawah.
- mata berdeviasi ketemporal, sedikit kebawah. Kepala berputar kearah bahu pada
sisi otot yang lumpuh.
- sedikit eksoftalmus, akibat paralise dari 3 mm rekti yang dalam keadaan normal
mendorong mata kebelakang.
- pupil midriasis, reaksi cahaya negatif, akomodasi lumpuh.
- ada crossed diplopia.
Hal tersebut terjadi oleh karena N.III mengurusi :
M.rektus superior, m.rektus medialis, m.rektus lateralis, m.obliqus inferior, m.
sfingter pupil, mm.siliaris. bila ini semua lumpuh tinggal m.rektus lateralis,
m.obliqus superior yang bekerja, karena itu mata berdeviasi kearah temporal sedikit
kearah bawah dan intorsi (berputar kearah nasal). Pupil lebar tak ada akomodasi.
Kelumpuhan N.III sering tak sempurna hanya mengenai 2-3 otot saja. Dapat
disertai dengan kelumpuhan dari otot-otot lain. Bila terdapat kelumpuhan dari semua
otot-otot, termasuk otot iris dan badan siliar, disebut oftalmoplegia totalis. Kalau
hanya terdapat kelumpuhan dari otot-otot mata luar, disebut oftalmoplegia eksterna,
yang ini lebih sering terjadi. Kelumpuhan yang terbatas pada m.sfingter pupil dan
badan siliar, disebut oftalmoplegia interna. Hal ini sering dijumpai misalnya pada :

13

- pemakaian midriatika, sikloplegia, waktu mengadakan pemeriksaan fundus atau


refraksi
- kontusio bulbi
- akibat lues, difteri, diabetes, penyakit serebral.
Dalam hal ini kita dapatkan pupil lebar, tak ada akomodasi. Pada
oftalmoplegia interna, diobati menurut penyebabnya dan lokal diberikan pilokarpin
atau eserin. Kalau akomodasinya tetap hilang, beri pula kacamata sferis (+) 3 D
untuk pekerjaan dekat.
Penyebabnya :
Kelainannya dapat terjadi pada setiap tempat dari korteks serebri keotot.
Macam kelainan dapat eksudat, perdarahan, periostitis, tumor, trauma, perubahan
pembuluh darah yang menyebabkan penekanan atau peradangan pada saraf. Jarangjarang disebabkan peradangan atau degenerasi primer. Pada umumnya disebabkan
oleh lues yang dapat menyebabkan tabes, ensefalitis. Infeksi akut (difteri, influenza),
keracunan (alkohol), diabetes mellitus, penyakit-penyakit sinus, trauma, sebagai
penyebab yang lainnya. Terjadinya bisa sekonyong-konyong ataupun perlahan-lahan,
tetapi perjalanan penyakitnya selalu menahun. Kekambuhan sering terjadi. Kalau
telah terjadi lama, prognosis tidak menguntungkan lagi, karena kemungkinan
terjadinya atrofi dari otot-otot yang lumpuh dan kontraksi dari otot lawannya. ( 4 )
Pengobatan :
Untuk menghindari diplopia, mata yang sakit ditutup. Ada pula yang menutup
mata yang sehat.
Kalau setelah pengobatan kira-kira 6 bulan tetap lumpuh, dilakukan operasi
reseksi dari otot yang lumpuh disertai resesi dari otot lawannya. Supaya tidak terjadi
atrofi dari otot yang lumpuh. Hasil dari operasi ini sering mengecewakan, tetapi
perbaikan kosmetis mungkin dapat memuaskan.

14

Kelumpuhan m.rektus medialis :


Menyebabkan strabismus divergens, gangguan gerak kearah nasal, cross
diplopi. Kelainan ini bertambah bila mata digerakkan kearah nasal (aduksi). Kepala
dimiringkan kearah otot yang sakit.
Kelumpuhan m.rektus superior :
Terdapat keterbatasan gerak keatas, hipotropia, diplopia campuran (diplopi
vertikal dan crossed diplopia). Bayangan dari mata yang sakit terdapat diatas
bayangan mata yang sehat. Kelainan bertambah pada gerakan mata keatas.
Kelumpuhan m.rektus inferior :
Terdapat keterbatasan gerak mata kebawah, hipertropia, diplopi campuran,
crossed, yang bertambah hebat bila mata digerakkan kebawah. Bayangan dari mata
yang sakit terletak lebih rendah.
Kelumpuhan m.obliqus superior :
Terdapat keterbatasan gerak kearah bawah terutama nasal inferior, strabismus
yang vertikal, diplopia campuran, terutama vertikal dan homonim yang bertambah
hebat bila mata digerakkan kearah nasal inferior. Bayangan dari mata yang sakit
terletak lebih rendah. ( 4, 5 )
Kelumpuhan m.obliqus inferior :
Terdapat keterbatasan gerak keatas, terutama atas nasal, strabismus vertikal,
diplopia campuran, homonim. Kelainan ini bertambah bila mata digerakkan kearah
temporal atas. Bayangan dari mata yang sakit terletak lebih tinggi.

2. STRABISMUS NONPARALITIK
15

Disini kekuatan duksi dari semua otot normal dan mata yang berdeviasi
mengikuti gerak mata yang sebelahnya pada semua arah dan selalu berdeviasi
dengan kekuatan yang sama. Deviasi primer (deviasi pada mata yang sakit) sama
dengan deviasi sekunder (deviasi pada mata yang sehat). Mata yang ditujukan pada
obyek disebut fixing eye, sedang mata yang berdeviasi disebut squinting eye.
Dibedakan strabismus nonparalitika - nonakomodatif.
- akomodatif berhubungan dengan kelainan
refraksi.
STRABISMUS NONPARALITIK NONAKOMODATIF :
Deviasinya telah timbul pada waktu lahir atau pada tahun-tahun pertama.
Deviasinya sama kesemua arah dan tidak dipengaruhi oleh akomodasi. Karena itu
penyebabnya tak ada hubungannya dengan kelainan refraksi atau kelumpuhan otototot. Mungkin disebabkan oleh : ( 1, 4 )
Insersi yang salah dari otot-otot yang bekerja horizontal
Gangguan keseimbangan gerak bola mata, dapat terjadi karena
gangguan yang bersifat sentral, berupa kelainan kwantitas rangsangan pada
otot. Hal ini disebabkan kesalahan persarafan terutama dari perjalanan
supranuklear, yang mengelola konvergensi dan divergensi. Kelainan ini dapat
menimbulkan proporsi yang tidak baik antara kekuatan konvergensi dan
divergensi. Untuk melakukan konvergensi dari kedua mata, harus ada
kontraksi yang sama dan serentak dari kedua m.rektus internus, sehingga
terjadi gerakan yang sama dan simultan dari mata ke nasal. Divergensi dan
konvergensi adalah bertentangan, overaction dari yang satu menyebabkan
kelemahan dari yang lain dan sebaliknya. Rangsangan sentral yang
berlebihan untuk konvergensi, menyebabkan kedudukan bola mata yang
normal untuk penglihatan jauh (divergensi) sedang menjadi strabismus
konvergens untuk penglihatan dekat (konvergensi).

16

Dibedakan :
1. Kelebihan konvergensi : (convergence excess)
pada penglihatan jauh normal, pada penglihatan dekat timbul strabismus
konvergens.
2. Kelebihan divergensi (divergence exess) :
pada penglihatan dekat normal. pada penglihatan jauh timbul strabismus
divergens.
3. Kelemahan konvergensi : (convergence insufficiency) : pada penglihatan jauh
normal, pada penglihatan dekat timbul strabismus divergens.
4. Kelemahan divergensi (divergence insufficiency) : pada penglihatan dekat
normal, pada penglihatan jauh timbul strabismus konvergens.
Kekurangan daya fusi :
Kelainan daya fusi kongenital sering didapatkan. Daya fusi ini berkembang
sejak kecil dan selesai pada umur 6 tahun. Ini penting untukk penglihatan binokuler
tunggal yang menyebabkan mata melihat lurus. Tetapi bila daya fusi ini terganggu
secara kongenital atau terjadi gangguan koordinasi motorisnya, maka akan
menyebabkan strabismus.
Pada kasus yang idiopatis,
Kesalahan mungkin terletak pada dasar genetik. Eksotropik dan esotropia
sering merupakan keturunan autosomal dominan. Kadang-kadang pada anak dengan
esotropia, didapatkan orang tuanya dengan esoforia yang hebat.
Tidak jarang strabismus nonakomodatif tertutup oleh faktor akomodatif,
sehingga bila kelainan refraksinya dikoreksi, strabismusnya hanya diperbaiki
sebagian saja.

17

Tanda-tanda :
1. Kelainan kosmetik, sehingga pada anak-anak yang lebih besar merupakan beban
mental.
2. Tak terdapat tanda-tanda astenopia.
3. Tak ada hubungan dengan kelainan refraksi.
4. Tak ada diplopia, karena terdapat supresi dari bayangan pada mata yang
berdeviasi.
Pada strabismus yang monokuler, karena supresi dapat terjadi ambliopia ex
anopsia. Bila deviasinya mulai pada umur muda dan sudut deviasinya besar, maka
bayangan dimakula yang terdapat pada mata yang fiksasi (fixing eye) terdapat
didaerah diluar makula pada mata yang berdeviasi (squiting eye). Jadi terdapat
abnormal retinal correspondence (binocular fals projection). Pengukuran derajat
deviasinya dilakukan dengan : tes Hisrchberg, tes Krimsky, tes Maddox cross.
Pemeriksaan kekuatan duksi untuk mengukur kekuatan otot. ( 3, 4, 5 )
Pengobatan :
1. Preoperatif
2. Operatif
Ad. 1. Preoperatif :
Pengobatan yang paling ideal pada setiap strabismus adalah bila tercapai hasil
fungsionil yang baik, yaitu penglihatan binokuler yang normal dengan stereopsis,
disamping perbaikan kosmetik. Hal ini sukar dicapai karena tergantung dari pada :
1. lamanya strabismus.
2. umur anak pada waktu diperiksa.
3. sikap orang tuanya.
4. kelainan refraksi.
Pada strabismus yang sudah berlangsung lama dan anak berumur 6 tahun atau
lebih pada waktu diperiksa pertama, maka hasil pengobatannya hanya kosmetis saja.

18

Sedapat mungkin ambliopia pada mata yang berdeviasi harus dihilangkan dengan :
1.

Menutup mata yang normal (terapi oklusi = patching).


Dengan demikian penderita dipaksa untuk memakai matanya yang
berdeviasi. Biasanya ketajaman penglihatannya menunjukkan perbaikan dalam
4-10 minggu. Penutupan ini mempunyai pengaruh baik pada pola sensorisnya
retina, tetapi tidak mempengaruhi deviasi. Sebaiknya terapi penutupan sudah
dimulai sejak usia 6 bulan, untuk hindarkan timbulnya ambliopia. Pada anak
berumur dibawah 5 tahun dapat diteteskan sulfas atropin 1 tetes satu bulan,
sehingga mata ini tak dipakai kira-kira 2 minggu. Ada pula yang menetesinya
setiap hari dengan homatropin sehingga mata ini beberapa jam sehari tak
dipakai. Sedang pada anak-anak yang lebih besar, dilakukan penutupan matanya
2-4 jam sehari. Penetesan atau penutupan jangan dilakukan terlalu lama, karena
takut menyebabkan ambliopia pada mata yang sehat ini.

2.

Pengobatan dengan cara penutupan, pada anak yang sudah mengerti (3 tahun),
harus dikombinasikan dengan latihan ortoptik untuk mendapatkan penglihatan
binokuler yang baik. Kalau pengobatan preoperatif sudah cukup lama dilakukan,
kira-kira 1 tahun, tetapi tak berhasil, maka dilakukan operasi.

Tindakan operatif sebaiknya dilakukan pada umur 4-5 tahun, supaya bila masih ada
strabismusnya yang belum terkoreksi dapat dibantu dengan latihan.
Prinsip operasinya : - reseksi dari otot yang terlalu kuat
- reseksi dari otot yang terlalu lemah. ( 4 )

19

ESOTROPIA NONAKOMODATIVA
Meliputi lebih dari setengahnya strabismus nonparalitika. Deviasinya sudah
timbul pada waktu lahir atau pada tahun-tahun pertama. Deviasinya sama kesemua
arah dan tak terpengaruhi oleh akomodasi, tak ada hubungan dengan kelainan
refraksi atau kelumpuhan otot.
Penyebabnya mungkin insersi yang salah dari otot bekerja horizontal,
kelainan persarafan supranuklear atau kelainan genetis. ( 4, 5 )
Terapi penutupan secepat mungkin, disamping
latihan ortoptik, sebelum dilakukan tindakan
operatif ;
a. resesi dari m.rektus medialis
b. reseksi dari m.rektus lateralis.
STRABISMUS NONPARALITIKA AKOMODATIVA :
Gangguan keseimbangan konvergensi dan divergensi dapat juga berdasarkan
akomodasi, jadi berhubungan dengan kelainan refraksi.
Dapat berupa : - strabismus konvergens (esotropia)
- strabismus divergens (eksotropia).
Pemeriksaan yang dilakukan :
Pemeriksaan refraksi harus dilakukan dengan sikloplegia, untuk menghilangkan
pengaruh dari akomodasi.
Caranya : - Pada anak-anak dengan pemberian sulfas atropin 1 tetes sehari, tiga hari
berturut-turut, diperiksa pada hari keempat.
- Pada orang dewasa diteteskan homatropin 1 tetes setiap 15 menit, tiga
kali berturut-turut, diperiksa 1 jam setelah tetes terakhir.
Pengukuran derajat deviasi dengan tes Hirschberg, tes Krismky, tes Maddox
cross. ( 2, 3, 4 )
Pemeriksaan kekuatan duksi, untuk mengukur kekuatan otot yang bergerak pada
arah horizontal (adduksi = m.rektus medialis; abduksi = m.rektus lateralis).

20

Pengobatan :
1. koreksi dari kelainan refraksi, dengan sikloplegia.
2. hindari ambliopia dengan penetesan atropin atau penutupan pada mata yang
sehat.
3. meluruskan aksis visualis dengan operasi (mata menjadi ortofori).
4. memperbaiki penglihatan binokuler dengan latihan ortoptik.
STRABISMUS

KONVERGENS

NONPARALITIK

AKOMODATIF

(KONKOMITAN AKOMODATIF)
Dinamakan juga esotropia, dimana mata berdeviasi kearah nasal. Kelainan ini
berhubungan dengan hipermetropia atau hipermetropia yang disertai astigmat.
Tampak pada umur muda, antara 1-4 tahun, dimana anak mulai mempergunakan
akomodasinya untuk melihat benda-benda dekat seperti mainan atau gambar-gambar.
Mula-mula timbul periodik, pada waktu penglihatan dekat atau bila keadaan
umumnya terganggu, kemudian menjadi tetap, baik pada penglihatan jauh ataupun
dekat.
Kadang-kadang dapat menghilang pada usia pubertas. Anak yang
hipermetrop, mempergunakan akomodasi pada waktu penglihatan jauh, pada
penglihatan dekat akomodasi yang dibutuhkan lebih banyak lagi. Akomodasi dan
konvergensi erat hubungannya, dengan penambahan akomodasi konvergensinyapun
bertambah pula. Pada anak dengan hipermetrop ini, mulai terlihat esoforia periodik
pada penglihatan dekat, disebabkan rangsangan berlebihan untuk konvergensi.
Lambat laun kelainan deviasi ini bertambah sampai fiksasi binokuler untuk
penglihatan dekat tak dapat dipertahankan lagi, dan terjadilah strabismus konvergens
untuk dekat. Kemudian terjadi pula esotropia pada penglihatan jauh.

21

Pengobatan :
1. Koreksi refraksi dengan sikloplegia. Harus diberikan koreksi dari hipermetropia
totalis, dan kacamata dipakai terus-menerus. Karena terdapat akomodasi yang
berlebihan, juga dapat diberikan kacamata untuk dekat meskipun belum usia
presbiopia, untuk mengurangi akomodasinya. Jadi diberikan kacamata bifokal.
2. Mata yang sehat ditutup atau ditetesi atropin untuk memperbaiki visus pada mata
yang sakit, 1 tetes 1 bulan 1 kali dapat juga dengan homatropin setiap hari atau
penutupan mata yang sehat. Kacamata harus diperiksa berulang kali, karena
mungkin terdapat perubahan, sampai kelainan refraksinya tetap.
3. Latihan ortoptik harus dilakukan bersamaan dengan perbaikan koreksi untuk
memperbaiki pola sensorik dari retina, sehingga memperbesar kemungkinan
untuk dapat melihat binokuler.
4. Kalau setelah tindakan diatas esotropianya masih ada, dan kelainan deviasinya
tidak begitu besar, dapat diberikan koreksi dengan prisma, basis temporal.
5. Bila semua tindakan tidak menghilangkan kelainan deviasinya, maka dilakukan
operasi, untuk meluruskan matanya.
6. Setelah operasi, diteruskan latihan ortoptik untuk memperbaiki penglihatan
binokuler. Pada esotropia untuk jarak jauh, dilakukan reseksi m.rektus eksternus,
(otot yang lemah). Pada esotropi jarak dekat, perlu resesi m.rektus internus (otot
yang kuat). Untuk esotropi yang hebat, lebih dari 30 derajat, terjadi jauh dekat,
dilakukan operasi kombinasi. ( 4 )

STRABISMUS

DIVERGENS

NONPARALITIK

AKOMODATIF

(EKSOTROPI KONKOMITAN AKOMODATIF)


Mata berdeviasi kearah temporal. Hubungannya dengan miopia. Sering juga didapat,
bila satu mata kehilangan penglihatannya sedang mata yang lain penglihatannya
tetap baik, sehingga rangsangan untuk konvergensi tak ada, maka mata yang sakit
berdeviasi keluar.
Strabismus divergens biasanya mulai timbul pada waktu masa remaja atau dewasa
muda. Lebih jarang terjadi.

22

Dapat dimulai dengan :1. Kelebihan divergensi


2. Kelemahan konvergensi.

Pada miopia mulai dengan kelemahan akomodasi pada jarak dekat, orang
miop hanya sedikit atau tidak memerlukan akomodasi, sehingga menimbulkan
kelemahan konvergensi dan timbullah kelainan eksotropia untuk penglihatan dekat
sedang untuk penglihatan jauhnya normal. tetapi pada keadaan yang lebih lanjut,
timbul juga eksotropia pada jarak jauh. Bila penyebabnya divergens yang berlebihan,
yang biasanya merupakan kelainan primer, mulai tampak sebagai eksotropia untuk
jarak jauh. Tetapi lama kelamaan kekuatan konvergensi melemah, sehingga menjadi
kelainan yang menetap, baik untuk jauh maupun dekat.
Pengobatan :
1. Koreksi penuh dari miopinya, ditambah overkoreksi 0,5-0,75 dioptri untuk
memaksa mata itu berakomodasi, kacamata ini harus dipakai terus-menerus.
2. Latihan ortoptik, untuk memperbaiki penglihatan binokuler, disamping terapi
oklusi.
3. Operasi, bila cara yang terdahulu tak memberikan pengobatan yang memuaskan.
Pada eksotropia hanya untuk jarak jauh, dilakukan dari m.rektus lateralis,
sedang pada kelemahan dari daya konvergensi, yang timbulkan eksotropia pada jarak
dekat dilakukan reseksi dari m.rektus medialis. Untuk eksotropia yang menetap

23

untuk jauh dan dekat, dilakukan operasi kombinasi. Bila kelainan deviasinya tak
begitu besar, dapat dicoba dulu dengan kacamata prisma basis nasal.
Pada bayi dan anak kecil ada kecenderungan konvergensi yang berlebihan,
yang dipengaruhi oleh persarafan supranuklear. Kecenderungan untuk berdivergensi
menjadi lebih besar dengan bertambahnya umur. Karena itu, bila tidak ada daya
untuk berfusi, seperti pada mata yang buta atau mata dengan visus yang sangat
menurun, maka mata ini akan berdeviasi kenasal pada anak-anak sampai umur 6
tahun dan pada orang-orang yang lebih dari 6 tahun usianya akan berdeviasi kearah
temporal. ( 4 )

24

BAB III
KESIMPULAN
1. Diagnosa Strabismus ditegakkan berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik
berdasarkan diagnosa kualitatif dan kuantitatif.
2. Tujuan pengobatan Strabismus pada anak-anak yaitu mengembalikan efek
sensorik yang hilang dan mempertahankan mata yang telah membaik dan telah
diluruskan, baik secara bedah maupun non bedah.
3. Tujuan pengobatan Strabismus pada orang dewasa, dengan strabismus yang
didapat yaitu mengurangi deviasi dan memperbaiki penglihatan binokuler
tunggal.
4. Langkah penanganan adalah memperbaiki tujuan penglihatan sehingga sensasi
penglihatan kedua mata sama, kemudian memperbaiki kedudukan bola mata.
5. Hasil akhir dari penatalaksanaan Strabismus tidak dapat mencapai penyembuhan
total, hanya bisa memperbaiki visus, dan merupakaan hal yang harus
diperioritaskan dalam penatalaksanaan Strabismus adalah mengetahui atau dapat
mendiagnosa sedini mungkin kelainan yang terjadi sehingga efek terapi yang
dicapai lebih optimal.

25

DAFTAR PUSTAKA
1. Radjamin. T, 1993, Strabismus, dalam Ilmu Penyakit Mata, Perhimpunan Dokter
Ahli Mata Indonesia, Airlangga University Press, 121-126.
2. Ilyas S, 1998, Strabismus, dalam Ilmu Penyakit Mata, Balai Penerbit FKUI,
Jakarta, 233-265.
3. Ilyas S, 2000, Strabismus, dalam Sari Ilmu Penyakit Mata, Balai Penerbit FKUI,
Jakarta, 181-194.
4. Wijana. N, 1993, Strabismus, dalam Ilmu Penyakit Mata, Abadi Tegal, Jakarta,
282-311.
5. Voughan D, Asbury T, 1996, Strabismus, dalam Oftalmologi Umum, edisi II,
Jilid 1, Widya Medika, Jakarta, 237-263.
6. Glasspool. MG, 1994, Strabismus, dalam Atlas Berwarna Oftalmologi, Widya
Medika, Jakarta, 91-96.

26

27

28