Anda di halaman 1dari 30

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 LATAR BELAKANG Di antara penyakit degeneratif, diabetes adalah salah satu diantara penyakit tidak menular yang akan meningkat di masa datang. Diabetes sudah merupakan suatu ancaman utama bagi kesehatan umat manusia pada abad ke 21. Perserikatan Bangsa-Bangsa (WH ! membuat perkiraan bah"a pada tahun 2### $umlah pengidab diabetes diatas usia 2# tahun ber$umlah 1%# $uta &rang dan dalam kurun "aktu 2% tahun kemudian, pada tahun 2#2%, $umlah itu akan membengkak men$adi '## $uta &rang ( (ud&y&, )ru W,2##*!. Diabetes adalah salah satu penyakit yang paling sering diderita dan penyakit kr&nik yang serius di +nd&nesia saat ini. (etengah dari $umlah kasus Diabetes ,ellitus (D,! tidak terdiagn&sa karena pada umumnya diabetes tidak disertai ge$ala sampai ter$adinya k&mplikasi. Pre-alensi penyakit diabetes meningkat karena ter$adi perubahan gaya hidup, kenaikan $umlah kal&ri yang dimakan, kurangnya aktifitas fisik dan meningkatnya $umlah p&pulasi manusia usia lan$ut (His"ani,2##.!. Dengan makin ma$unya keadaan s&si& ek&n&mi masyarakat +nd&nesia serta pelayanan kesehatan yang makin baik dan merata, diperkirakan tingkat ke$adian penyakit diabetes mellitus (D,! akan makin meningkat. Penyakit ini dapat menyerang segala lapisan umur dan s&si& ek&n&mi. Dari berbagai penelitian epidemi&l&gis di +nd&nesia di dapatkan pre-alensi sebesar 1,%-2,' / pada penduduk usia lebih besar dari 1% tahun. Pada suatu penelitian di ,anad& didapatkan pre-alensi *,1 /. Penelitian di 0akarta pada tahun 1..' menun$ukkan pre-alensi %,1/ (His"ani,2##.!. ,elihat p&la pertambahan penduduk saat ini diperkirakan pada tahun 2#2# nanti akan ada se$umlah 112 $uta penduduk berusia di atas 2# tahun dan dengan asumsi pre-alensi Diabetes ,ellitus sebesar 2 /, akan didapatkan ',%* $uta pasien Diabetes ,ellitus, suatu $umlah yang besar untuk dapat ditanggani sendiri &leh para ahli D, (His"ani,2##.!. ,elihat tendensi kenaikan kekerapan diabetes secara gl&bal yang tadi dibicarakan terutama disebabkan karena peningkatan kemakmuran suatu p&pulasi, maka dengan demikian dapat dimengerti bila suatu saat atau lebih tepat lagi dalam kurun "aktu 1 atau 2 dekade yang akan datang kekerapan diabetes di +nd&nesia akan meningkat drastis ((ud&y&, )ru W,2##*!.

+ni sesuai dengan perkiraan yang dikemukakan WH

seperti tampak pada tabel 1,

ind&nesia akan menempati peringkat n&m&r % sedunia dengan pengidap diabetes sebanyak 12,3 $uta &rang pada tahun 2#2%, naik 2 tingkat dibanding tahun 1..%((ud&y&, )ru W,2##*!. 4abel 1. 5rutan 1# negara dengan $umlah pengidap diabetes terbanyak pada penduduk de"asa di seluruh dunia 1..% dan 2#2%. (umber 6 (ud&y&, )ru W. 2##*. Buku )$ar +lmu Penyakit Dalam 5rutan 1 2 ' 3 % * 1 2 . 1# 7egara +ndia 8ina )merika (erikat 9ederasi :usia 0epang Brasil +nd&nesia Pakistan ,eksik& 5kraina (emua negara lain 1'%,' '## *,' 3,. 3,% 3,' ',2 ',* 3.,1 1 2 . 1# 2,. 3 % * 1..% ($uta! 1.,3 1*,# 1',. 5rutan 1 2 ' 7egara +ndia 8ina )merika (erikat Pakistan +nd&nesia 9ederasi :usia ,eksik& Brasil ,esir 0epang 11,1 11,* 2,2 2,% 13,% 12,3 12,2 2#2% ($uta! %1,2 '1,* 21,.

,elihat dari data-data tersebut dan besarnya kemungkinan peningkatan $umlah pengidap diabetes di dunia dan khususnya di +nd&nesia, maka langkah-langkah dalam mengantisipasi ledakan kenaikan $umlah tersebut harus dilakukan sedini mungkin.

1.2

PERMASALAHAN

)pakah diabetes melitus itu; )pa sa$a k&mplikasi diabetes melitus; Bagaimana penanganan dari diabetes melitus; 1.3 TUJUAN

1.3.1 TUJUAN UMUM ,emberikan inf&rmasi mengenai penyakit diabetes melitus dan langkah-langkah penanganannya. 1.3.2 TUJUAN KHUSUS 1. ,emberikan inf&rmasi mengenai definisi, pat&fisi&l&gi, diagn&sis, dan k&mplikasi penyakit diabetes melitus. 2. ,emberikan inf&rmasi mengenai penanganan diabetes melitus di ind&nesia. 1.4 MANFAAT

1.4.1 Bagi Penuli ,endapat pengetahuan penyakit diabetes melitus serta langkah penanganannya serta menambah pengalaman dalam membuat karya tulis yang baik dan benar. 1.4.2 Bagi Ma !a"a#a$ (ebagai sumber inf&rmasi dan pengetahuan masyarakat sehingga masyarakat dapat lebih memahami mengenai penyakit diabetes melitus serta cara pencegahannya.

BAB II PENATALAKSANAAN DIABETES MELITUS DAN K%MPLIKASIN&A 2.1 DEFINISI ,enurut WH 1.2# dikatakan bah"a diabetes melitus merupakan sesuatu yang

tidak dapat dituangkan dalam satu $a"aban yang $elas dan singkat tapi secara umum dapat dikatakan sebagai suatu kumpulan pr&blema anat&mik dan kimia"i yang merupakan akibat dari se$umlah fakt&r di mana didapat defisiensi insulin abs&lut atau relatif dan gangguan fungsi insulin (P<:=<7+ 2##*!. Diabetes ,elitus (D,! sering $uga dikenal dengan nama kencing manis atau penyakit gula. D, memang tidak dapat didefinisikan secara tepat, D, lebih merupakan kumpulan ge$ala yang timbul pada diri sese&rang yang disebabkan &leh adanya peningkatan gluk&sa darah akibat kekurangan insulin baik abs&lut maupun relatif ((uy&n&, 2##%!. Diabetes melitus merupakan suatu kel&mp&k penyakit metab&lik dengan karakteristik hiperglikemia yang ter$adi karena kelainan sekresi insulin, ker$a insulin atau kedua-duanya((ud&y&,)ru W,2##*!. Diabetes ,elitus adalah suatu penyakit kr&nik yang ditandai dengan peningkatan kadar gluk&sa didalam darah. Penyakit ini dapat menyerang segala lapisan umur dan s&sial ek&n&mi((hahab,)l"i, 2##*!. ,enurut American Diabetes Association ()D)! 2##%, Diabetes melitus merupakan suatu kel&mp&k penyakit metab&lik dengan karakteristik hiperglikemia yang ter$adi karena kelainan sekresi insulin, ker$a insulin atau kedua-duanya (P<:=<7+, 2##*!.

2.2 KLASIFIKASI Diabetes melitus diklasifikasikan menurut eti&l&ginya seperti yang tertera pada tabel 2. 4abel 2. =lasifikasi diabetes menurut eti&l&ginya. (umber 6 P<:=<7+, 2##*

=lasifikasi lainnya membagi diabetes melitus atas empat kel&mp&k yaitu diabetes melitus tipe-1, diabetes melitus tipe-2, diabetes melitus bentuk khusus, dan diabetes melitus gestasi&nal ()dam, 0&hn ,9, 2###!. )merican Diabetes )ss&ciati&n ()D)! dalam standards &f ,edical 8are in Diabetes (2##.! memberikan klasifikasi diabetes melitus men$adi 3 tipe yang disa$ikan dalam (De"i, Debhryta )yu, 2##.!6 1. Diabetes melitus tipe 1, yaitu diabetes melitus yang dikarenakan &leh adanya destruksi sel > pankreas yang secara abs&lut menyebabkan defisiensi insulin. 2. Diabetes melitus tipe 2, yaitu diabetes yang dikarenakan &leh adanya kelainan sekresi insulin yang pr&gresif dan adanya resistensi insulin. '. Diabetes melitus tipe lain, yaitu diabetes yang disebabkan &leh beberapa fakt&r lain seperti kelainan genetik pada fungsi sel > pankreas, kelainan genetik pada akti-itas insulin, penyakit eks&krin pankreas (cystic fibr&sis!, dan akibat

penggunaan &bat atau bahan kimia lainnya (terapi pada penderita )+D( dan terapi setelah transplantasi &rgan!. 3. Diabetes melitus gestasi&nal, yaitu tipe diabetes yang terdiagn&sa atau dialami selama masa kehamilan. 2.3 DIAGN%SIS Diagn&sis diabetes melitus harus berdasarkan atas pemeriksaan kadar gluk&sa darah. Dalam menentukan diagn&sis diabetes melitus harus diperhatikan asal bahan darah yang diambil dan cara pemeriksaan yang dipakai. 5ntuk diagn&sis, pemeriksaan yang dian$urkan adalah pemeriksaan gluk&sa dengan cara en?imatik dengan bahan darah plasma -ena. 5ntuk memastikan diagn&sis diabetes melitus, pemeriksaan gluk&sa darah sebaiknya dilakukan di lab&rat&rium klinik yang terpercaya. Walaupun demikian sesuai dengan k&ndisi setempat dapat $uga dipakai bahan darah utuh, -ena maupun kapiler dengan memperhatikan angka-angka kriteria diagn&stik yang berbeda sesuai pembakuan WH . 5ntuk pemantauan hasil peng&batan dapat diperiksa gluk&sa darah kapiler ((ud&y&,)ru W, 2##*!. Berbagai keluhan dapat ditemukan pada penyandang diabetes. =ecurigaan adanya D, perlu dipikirkan apabila terdapat keluhan klasik D, seperti tersebut di ba"ah ini (P<:=<7+, 2##*! 6 1. =eluhan klasik D, berupa 6 p&liuria, p&lidipsia, p&lifagia, dan penurunan berat badan yang tidak dapat di$elaskan sebabnya. 2. =eluhan lain dapat berupa 6 lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur dan disfungsi ereksi pada pria, serta pruritus -ul-ae pada "anita. 0ika keluhan khas khas, pemeriksaan gluk&sa darah se"aktu @ 2## mgAdl sudah cukup untuk menegakkan diagn&sis diabetes melitus. Hasil pemeriksaan kadar gluk&sa darah puasa @ 12* mgAdl $uga digunakan untuk acuan diagn&sis diabetes melitus. 5ntuk kel&mp&k tanpa keluhan khas diabetes melitus, hasil pemeriksaan gluk&sa darah yang baru satu kali sa$a abn&rmal, belum cukup kuat untuk menegakkan diagn&sis diabetes melitus. Diperlukan pemastian lebih lan$ut dengan mendapat sekali lagi angka abn&rmal, baik kadar gluk&sa darah puasa @ 12* mgAdl, kadar gluk&sa se"aktu @ 2## mgAdl pada hari yang lain, atau dari hasil tes t&leransi
6

gluk&sa &ral (44B ! didapatkan kadar gluk&sa darah pasca pembebanan @ 2## mgAdl ((ud&y&,)ru W, 2##*!. 4abel '. =riteria diagn&sis diabetes melitus. (umber 6 P<:=<7+, 2##*

)da perbedaan antara u$i diagn&stik diabetes melitus dengan pemeriksaan penyaring. 5$i diagn&stik diabetes melitus dilakukan pada mereka yang menun$ukkan ge$ala atau tanda diabetes melitus, sedangkan pemeriksaan penyaring bertu$uan untuk mengidentifikasikan mereka yang tidak berge$ala, yang mempunyai resik& diabetes melitus. (erangkaian u$i diagn&stik akan dilakukan kemudian pada mereka yang hasil pemeriksaan penyaringnya p&sitif, untuk memastikan diagn&sis definitif ((ud&y&,)ru W, 2##*!. Pemeriksaan penyaring bertu$uan untuk menemukan pasien dengan Dibetes melitus, t&leransi gluk&sa terganggu (4B4! maupun gluk&sa darah puasa terganggu (BDP4!, sehingga dapat ditangani lebih dini secara tepat. Pasien dengan 4B4 dan BDP4 $uga disebut sebagai int&leransi gluk&sa, merupakan tahapan sementara menu$u diabetes melitus. =edua keadaan tersebut merupakan fakt&r risik& untuk ter$adinya diabetes melitus dan penyakit kardi&-askular di kemudian hari (P<:=<7+, 2##*!. Pemeriksaan penyaring dapat dilakukan melalui pemeriksaan kadar gluk&sa darah se"aktu atau kadar gluk&sa darah puasa, kemudian dapat diikuti dengan tes t&leransi gluk&sa &ral (44B ! standar ((ud&y&,)ri W, 2##*!.

4abel 3. =adar gluk&sa darah se"aktu dan puasa sebagai standar penyaring dan diagn&sis diabetes melitus. (umber 6 P<:=<7+, 2##*.

Diperlukan anamnesis yang cermat serta pemeriksaan yang baik untuk menentukan diagn&sis diabetes melitus, t&leransi gluk&sa terganggu dan gluk&sa darah puasa tergagnggu. Berikut adalah langkah-langkah penegakkan diagn&sis diabetes melitus, 4B4, dan BDP4.

Bambar 1. Cangkah-langkah diagn&stik diabetes melitus dan t&leransi gluk&sa terganggu. (umber 6 (ud&y&, )ru W, 2##*.

2.4 PENATALAKSANAAN =asus diabetes yang terbanyak di$umpai adalah diabetes melitus tipe 2, yang umumnya mempunyai latar belakang kelainan yang dia"ali dengan ter$adinya resistensi insulin. )"alnya resistensi insulin masih belum menyebabkan diabetes secara klinis. Pada saat tersebut sel beta pankreas masih dapat mengk&mpensasi keadaan ini dan ter$adi suatu hiperinsulinemia dan gluk&sa darah masih n&rmal atau baru sedikit meningkat. =emudian setelah ter$adi ketidaksanggupan sel beta pankreas, baru akan ter$adi diabetes melitus secara klinis, yang ditandai dengan ter$adinya peningkatan kadar gluk&sa darah yang memenuhi kriteria diagn&sis diabetes melitus ((ud&y&, )ru W, 2##*!. 4u$uan penatalaksanaan diabetes melitus secara umum adalah meningkatnya kualitas hidup penyandang diabetes (P<:=<7+, 2##*!. 4u$uan penatalaksanaan diabetes melitus dibagi men$adi dua yaitu (P<:=<7+, 2##*!6 1. 2. 0angka pendek, hilangnya keluhan dan tanda diabetes melitus, mempertahankan rasa nyaman dan tercapainya target pengendalian gluk&sa darah. 0angka pan$ang, tercegah dan terhambatnya pr&gresifitas penyulit mikr&angi&pati, makr&angi&pati, dan neyr&pati. 4u$uan akhir pengel&laan diabetes melitus adalah turunnya m&rbiditas dan m&rtalitas diabetes melitus. 5ntuk mencapai tu$uan tersebut perlu dilakukan pengendalian gluk&sa darah, tekanan darah, berat badan dan pr&fil lipid, melalu pengel&laan pasien secara h&listik dengan menga$arkan pera"atan mandiri dan perubahan tingkah laku (P<:=<7+, 2##*!. Cangkah pertama dalam mengel&la diabetes melitus selalu dimulai dengan pendekatan n&n farmak&l&gis, yaitu berupa perencanaan makan atau terapi nutrisi medik, kegiatan $asmani dan penurunan berat badan bila didapat berat badan lebih atau &besitas. Bila dengan langkah-langkah tesebut sasaran pengendalian belum tercapai, maka dilan$utkan dengan penggunaan &bat atau inter-ensi farmak&l&gis. Dalam melakukan pemilihan &bat perlu diperhatikan titikker$a &bat sesuai dengan macam-macam penyebab ter$adinya hiperglikemia seperti yang tertera pada gambar 2.

Bambar 2. (arana farmak&l&gis dan titik ker$a &bat untuk pengendalian kadar gluk&sa darah. (umber6 (ud&y&, )ru W, 2##*. 5ntuk penatalaksanaan diabetes melitus, di +nd&nesia, pendekatan yang digunakan adalah berdasarkan dari pilar penatalaksanaan diabetes melitus yang sesuai dengan k&nsensus penatalaksanaan diabetes melitus menurut P<:=<7+ tahun 2##*. )dapun pilar penatalaksanaan diabetes melitus sebagai berikut 6 A. E'u#a i. Diabetes tipe 2 umumnya ter$adi pada saat p&la gaya hidup dan perilaku telah terbentuk dengan mapan. Pemberdayaan penyandang diabetes memerlikan partisipasi aktif pasien, keluarga dan masyarakat. 4im kesehatan mendampingi pasien dalam menu$u perubahan perilaku. 5ntuk mencapai keberhasilan perubahan perilaku, dibutuhkan edukasi yang k&mprehensif dan upaya peningkatan m&ti-asi.

10

4u$uan dari perubahan perilaku adalah agar penyandang diabetes dapat men$alani p&la hidup sehat. Perilaku yang diharapkan adalah (P<:=<7+, 2##*! 6 1. 2. '. 3. %. *. 1. ,engikuti p&la makan sehat ,eningkatkan kegiatan $asmani ,enggunakan &bat diabetes dan &bat-&bat pada keadaan khusus secara aman, teratur ,elakukan Pementauan Bluk&sa Darah ,andiri (PBD,! dan memanfaatkan data yang ada ,elakukan pera"atan kaki secara berkala ,emiliki kemampuan untuk mengenal dan menghadapi sakit akut dengan tepat ,empunyai ketrampilan mengatasi masalah yang sederhana, dan mau bergabung dengan kel&mp&k penyandang diabetes serta menga$ak keluarga untuk mengerti pengel&laan penyandang diabetes. 2. ,ampu memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada.

B. Te"a(i Gi)i Me'i . 4erapi Bi?i ,edis (4B,! merupakan bagian dari penatalaksanaan diabetes secara t&tal. =unci keberhasilan 4B, adalah keterlibatan secara menyeluruh dari angg&ta tim (d&kter, ahli gi?i, petugas kesehatan yang lain dan pasien itu sendiri!. (etiap penyandang diabetes sebaiknya mendapat 4B, sesuai dengan kebutuhannya guna mencapai sasaran terapi. Prinsip pengaturan makan pada penyandang diabetes hampir sama dengan an$uran makan untuk masyarakat umum yaitu makanan yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kal&ri dan ?at gi?i masing-masing indi-idu. Pada penyandang diabetes perlu ditekankan pentingnya keteraturan makan dalam hal $ad"al makan, $enis dan $umlah makanan, terutama pada mereka yang menggunakan &bat penurun gluk&sa darah atau insulin (P<:=<7+, 2##*!

11

Beberapa manfaat yang telah terbukti dari terapi gi?i medis ini antara lain ((ud&y&, )ru ", 2##*! 6 1. 2. '. 3. %. *. ,enurunkan berat badan ,enurunkan tekanan darah sist&lik dan diast&lik ,enurunkan kadar gluk&sa darah ,emperbaiki pr&fil lipid ,eningkatkan sensitifitas resept&r insulin ,emperbaiki sistem k&agulasi darah )dapun tu$uan dari terapi medis ini adalah untuk mencapai dan mempertahankan ((ud&y&, )ru ", 2##*! 6 1. =adar gluk&sa darah mendekati n&rmal 2. '. Bluk&sa puasa berkisar .#-1'# mgAdl Bluk&sa darah 2$am setelah makan D12# mgAdl =adar )1c D 1/

4ekanan darah D 1'#A2# mmhg Pr&fil lipid yang berkisar n&rmal =&lester&l CDC D 1## mgAdl =&lester&l HDC E 3# mgAdl 4rigliserida D 1%# mgAdl

3.

Berat badan sen&rmal mungkin =&mp&sisi bahan makanan terdiri dari makr&nutrien yang meliputi kerb&hidrat,

pr&tein dan lemak, serta mikr&nutrien yang meliputi -itamin dan mineral, harus diatur sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi kebutuhan diabetisi secara tepat ((ud&y&, )ru ", 2##*!. )dapun k&mp&sisi bahan makanan yang direk&mendasikan untuk diabetisi menurut k&nsensus penatalaksanaan diebetes melitus di +nd&nesia menurut P<:=<7+ tahun 2##* adalah sebagai berikut 6 1. =arb&hidrat, sebagai sumber energi, diberikan pada diabetisi tidak b&leh lebih dari %%-*%/ dari t&tal kebutuhan energi dalam sehari, atau tidak b&leh lebih dari 1#/$ika dik&mbinasi dengan pemberian asam lemak tidak $enuh rantai tunggal

12

(,59) F monounsaturated fatty acids!. Pada setiap gram karb&hidrat terdapat kandungan energi sebesar 3 kil&kal&ri. :ek&mendasi pemberian karb&hidrat ((ud&y&, )ru ", 2##*! 6 1. =andungan t&tal kal&ri pada makanan yang mengandung karb&hidrat, lebih ditentukan &leh $umlahnya dibandingkan dengan $enis karb&hidrat itu sendiri. 2. Dari t&tal kebutuhan kal&ri per hari, *#-1#/ diantaranya bersumber dari karb&hidrat '. 0ika ditambah ,59) sebagai sumber energi, maka $umlah karb&hidrat maksimal 1#/ dari t&tal kal&ri perhari 3. 0umlah serat 2%-%# gram per hari %. 0umlah sukr&se sebagai sumber energi tidak perlu dibatasi, namun $angan sampai lebih dari t&tal kebutuhan kal&ri per hari *. (ebagai pemanis dapat digunakan pemanis n&n kal&ri seperti aspartame, acesulfam dan sucralosa 1. Penggunaan alk&h&l harus dibatasi tidak b&leh lebih dari 1# gram per hari 2. 9rukt&sa tidakk b&leh lebih dari *# gram per hari 2. Pr&tein, $umlah kebutuhan pr&tein yang direk&mendasikan sekitar 1#-1%/ dari t&tal kal&ri per hari. Pada penderita dengan kelainan gin$al dimana diperlukan pembatasan asupan pr&tein sampai 3# gram perhari, maka perlu ditambahkan suplementasi asam amin& esensial. Pr&tein mengandung energi sebesar 3 kil&kal&riAgram ((ud&y&, )ru ", 2##*!. :ek&mendasi pemberian pr&tein sebagai berikut ((ud&y&, )ru ", 2##*!6 1. =ebutuhan pr&tein 1%-2% / dari t&tal kebutuhan energi per hari 2. Pada keadaan kadar gluk&sa darah yang terk&ntr&l, asupan pr&tein tidak akan mempengaruhi kadar gula darah '. Pada keadaan kadar gula darah tidak terk&ntr&l, pemberian pr&tein sekitar #,21 mgAkgbbAhari 3. Pada gangguan fungsi gin$al, $umlah asupan pr&tein diturunkan sampai #,2% gramAkgbbAhari dan tidak kurang dari 3# gram %. 0ika terdapat k&mplikasi kardi&-askular, maka sumber pr&tein nabati lebih dian$urkan daripada he"ani.

13

'.

Cemak, mempunyai kandungan energi sebesar . kil&kal&ri per gramnya. Bahan makanan ini sangat penting untuk memba"a -itamin yang larut dalam lemak seperti -itamin ), D, <, dan =. Berdasarkan ikatan rantai karb&nnya, lemak dibedakan men$adi lemak $enuh dan lemak tidak $enuh. Pembatasan asupan lemak $enuh dan k&lester&l disarankan bagi diabetisi karena terbukti dapat memperbaiki pr&fil lipid tidak n&rmal yang sering tidak n&rmal di$umpai pada diabetes. )sam lemak tidak $enuh rantai tunggal (monounsaturated fatty acid F ,59)!, merupakan salah satu asam lemak yang dapat memperbaiki kadar gluk&sa darah dan pr&fil lipid. Pemberian ,59) pada diet diabetisi dapat menurunkan trigliserida, k&lester&l t&tal, k&lester&l GCDC dan meningkatkan k&lester&l HDC. (edangkan asam lemak tidak $enuh rantai pan$ang (polyunsaturated fatty acid F P59)! dapat melindungi $antung, menurunkan kadar trigliserida, memperbaiki agregasi tr&mb&sit. P59) mengandung asam lemak &mega ' yang dapat menurunkan sintesis GCDC di dalam hati dan meningkatkan aktifitas en?im lip&pr&tein lipase yang dapat menurunkan kadar GCDC di $aringan perifer, sehingga dapat menurunkan kadar k&lester&l CDC ((ud&y&, )ru ", 2##*!. :ek&mendasi pemberian lemak adalah sebagai berikut ((ud&y&, )ru ", 2##*! 6 1. Batasi k&nsumsi makanan yang mengandung lemak $enuh, $umlah maksimal 1# / dari t&tal kebutuhan kal&ri per hari 2. 0ika kadar k&lester&l CDC @ 1## mgAdl, asupan asam lemak $enuh diturunkan sampai maksimal 1/ dari t&tal kebutuhan kal&ri per hari '. =&nsumsi k&lester&l maksimal '## mgAhari, $ika kadar k&lester&l CDC @ 1## mgAdl, maka maksimal k&lester&l yang dapat dik&nsumsi 2## mgAhari 3. Batasi asupan asam lemak bentuk trans %. =&nsumsi ikan seminggu 2-' kali untuk mencukupi kebutuhan asam lemak tidak $enuh rantai pan$ang. *. )supan asam lemak tidak $enuh rantai pan$ang maksimal 1#/ dari asupan kal&ri per hari.

3.

(erat, seperti halnya masyarakat umum penyandang diabetes dian$urkan meng&nsumsi cukup serat dari kacang-kacangan, buah dan sayuran serta sumber karb&hidrat yang tinggi serat, karena mengandung -itamin, mineral, serat dan bahan lain yang baik untuk kesehatan. )n$uran k&nsumsi serat adalah H 2% gA1### kkalAhari (P<:=<7+, 2##*!.

14

5. =ebutuhan kal&ri, )da beberapa cara untuk menentukan $umlah kal&ri yang

dibutuhkan penyandang diabetes. Di antaranya adalah dengan memperhitungkan kebutuhan kal&ri basal yang besarnya 2%-'# kal&ri A kg BB ideal, ditambah atau dikurangi bergantung pada beberapa fakt&r yaitu $enis kelamin, umur, akti-itas, berat badan, dll (P<:=<7+, 2##*!. Perhitungan berat badan +deal (BB+! dengan rumus Br&cca yang dim&difikasi adalah sbb (P<:=<7+, 2##*! 6 1. Berat badan ideal F .#/ I (4B dalam cm - 1##! I 1 kg. rumus dim&difikasi men$adi 6 1. 2. '. 3. Berat badan ideal (BB+! F (4B dalam cm - 1##! I 1 kg. BB 7&rmal 6 BB ideal H 1# / =urus 6 D BB+ - 1# / Bemuk 6 E BB+ J 1# / 2. Bagi pria dengan tinggi badan di ba"ah 1*# cm dan "anitadi ba"ah 1%# cm,

Perhitungan berat badan ideal menurut +ndeks ,assa 4ubuh. +ndeks massa tubuh dapat dihitung dengan rumus6 +,4 F BB(kg!A4B(m2! =lasifikasi +,4 adalah sebagai berikut menurut WH 1. 2. '. b! c! BB =urang D12,% BB 7&rmal 12,%-22,. BB Cebih E2',# a! Dengan risik& 2',#-23,. bes + 2%,#-2.,. bes ++ @ '# WP:A+)( A+ 49 dalam The Asia Pacific Perspective6Redefning Obesity and its Treatment.

*. La$i+an ,a -ani. Pengel&laan diabetes yang meliputi empat pilar, akti-itas fisik merpakan salah satu dari keempat pilar tersebut. )kti-itas minimal &t&t skeletal lebih dari sekedar yang diperlukan untuk -entilasi basal paru, dibutuhkan untuk semua &rang termasuk diabetisi sebagai kegiatan sehari-hari ((ud&y&, )ru ", 2##*!. Catihan $asmani selain untuk men$aga kebugaran $uga dapat menurunkan berat badan dan memperbaiki sensiti-itas insulin, sehingga akan memperbaiki kendali gluk&sa darah. Catihan $asmani yang dian$urkan berupa latihan $asmani yang

15

bersifat aer&bik seperti6 $alan kaki, bersepeda santai, jogging, dan berenang. Catihan $asmani sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran $asmani. 5ntuk mereka yang relatif sehat, intensitas latihan $asmani bisa ditingkatkan, sementara yang sudah mendapat k&mplikasi D, dapat dikurangi. Hindarkan kebiasaan hidup yang kurang gerak atau bermalasmalasan (P<:=<7+,2##*!. 4abel %. )ktifitas fisik sehari-hari. (umber 6 P<:=<7+, 2##*

D. In$e".en i Fa"-a#/l/gi +nter-ensi farmak&l&gis ditambahkan $ika sasaran gluk&sa darah belum tercapai dengan pengaturan makan dan latihan $asmani (P<:=<7+, 2##*!. Dalam melakukan pemilihan inter-ensi farmak&l&gis perlu diperhatikan titik ker$a &bat sesuai dengan macam-macam penyebab ter$adinya hiperglikemia ((ud&y&, )ru W, 2##*!. %0a$ +i(/gli#e-i# /"al 1%H%2 Berdasarkan cara ker$anya, H dibagi men$adi 3 g&l&ngan (P<:=<7+, 2##*! 6 1. pemicu sekresi insulin (insulin secretagogue!6 sulf&nilurea dan glinid Sul3/nilu"ea, &bat g&l&ngan ini mempunyai efek utama meningkatkan sekresi insulin &leh sel beta pankreas, dan merupakan pilihan utama untuk pasien dengan berat badan n&rmal dan kurang, namun masih b&leh diberikan kepada pasien dengan berat badan lebih. 5ntuk menghindari hip&glikemia berkepan$angan pada berbagai keadaaan seperti &rang tua, gangguan faal gin$al dan hati, kurang nutrisi serta penyakit kardi&-askular, tidak dian$urkan penggunaan sulf&nilurea ker$a pan$ang.
16

Glini' merupakan &bat yang cara ker$anya sama dengan sulf&nilurea, dengan penekanan pada meningkatkan sekresi insulin fase pertama. B&l&ngan ini terdiri dari 2 macam &bat yaitu6 :epaglinid (deri-at asam ben?&at! dan 7ateglinid (deri-at fenilalanin!. bat ini diabs&rpsi dengan cepatsetelah pemberian secara &ral dan diekskresi secara cepat melalui hati. 2. penambah sensiti-itas terhadap insulin6 metf&rmin, tia?&lidindi&n Tia)/li'in'i/n (r&siglita?&n dan pi&glita?&n! berikatan pada Peroxisome Proliferator Activated Receptor Gamma (PP):-K!, suatu resept&r inti di sel &t&t dan sel lemak. B&l&ngan ini mempunyai efek menurunkan resistensi insulin dengan meningkatkan $umlah pr&tein pengangkut gluk&sa, sehingga meningkatkan ambilan gluk&sa di perifer. 4ia?&lidindi&n dik&ntraindikasikan pada pasien dengan gagal $antung klas +-+G karena dapat memperberat edemaAretensi cairan dan $uga pada gangguan faal hati. Pada pasien yang menggunakan tia?&lidindi&n perlu dilakukan pemantauan faal hati secara berkala. '. penghambat gluk&ne&genesis6 metf&rmin Me$3/"-in4 &bat ini mempunyai efek utama mengurangi pr&duksi gluk&sa hati (gluk&ne&genesis!, di samping $uga memperbaiki ambilan gluk&sa perifer. 4erutama dipakai pada penyandang diabetes gemuk. ,etf&rmin dik&ntraindikasikan pada pasien dengan gangguan fungsi gin$al (serum kreatinin E 1,% mgAdC! dan hati, serta pasien-pasien dengan kecenderungan hip&ksemia (misalnya penyakit serebr&- -askular, sepsis, ren$atan, gagal $antung!. ,etf&rmin dapat memberikan efek samping mual. 5ntuk mengurangi keluhan tersebut dapat diberikan pada saat atau sesudah makan.

17

3. penghambat gluk&sidase alfa (acarb&se! bat ini beker$a dengan mengurangi abs&rpsi gluk&sa di usus halus, sehingga mempunyai efek menurunkan kadar gluk&sa darah sesudah makan. Acarbose tidak menimbulkan efek samping hip&glikemia. <fek samping yang paling sering ditemukan ialah kembung dan flatulens. 8ara Pemberian H , terdiri dari (P<:=<7+, 2##*! 6 1. H dimulai dengan d&sis kecil dan ditingkatkan secara bertahap sesuai resp&ns kadar gluk&sa darah, dapat diberikan sampai d&sis hampir maksimal 2. '. 3. %. *. 1. (ulf&nilurea generasi + L ++ 6 1% M'# menit sebelum makan Blimepirid 6 sebelumAsesaat sebelum makan :epaglinid, 7ateglinid 6 sesaatA sebelum makan ,etf&rmin 6 sebelum Apada saat A sesudah makan Penghambat gluk&sidase N ()carb&se! 6 bersama makansuapan pertama 4ia?&lidindi&n 6 tidak bergantung pada $ad"al makan.

tabel *. ,ekanisme ker$a, efek samping utama, dan pengaruh terhadap penurunan )18 (Hb-glik&silat!. (umber 6 P<:=<7+, 2##*.

18

4abel 1. bat hip&glikemia &ral. (umber 6 P<:=<7+, 2##*

%. In ulin +nsulin merupakan h&rm&n yang terdiri dari rangkaian asam amin&, dihasilkan &leh sel beta pankreas. Dalam keadaan n&rmal, bila ada rangsangan pada sel beta, insulin disintesis dan kemudian disekresikan kedalam darah sesuai kebutuhan tubuh untik keperluan regulasi gluk&sa darah ((ud&y&, )ru W, 2##*!. +nsulin diperlukan pada keadaan (P<:=<7+, 2##*! 6 1. Penurunan berat badan yang cepat 2. Hiperglikemia berat yang disertai ket&sis '. =et&asid&sis diabetik 3. Hiperglikemia hiper&sm&lar n&n ket&tik %. Hiperglikemia dengan asid&sis laktat *. Bagal dengan k&mbinasi H d&sis hampir maksimal 1. (tres berat (infeksi sistemik, &perasi besar, +,), str&ke! 2. =ehamilan dengan D,Adiabetes melitus gestasi&nal

19

.. yang tidak terkendali dengan perencanaan makan 1#.Bangguan fungsi gin$al atau hati yang berat 11.=&ntraindikasi dan atau alergi terhadap H Berdasar lama ker$a, insulin terbagi men$adi empat $enis, yakni (P<:=<7+, 2##*! 6 1. insulin ker$a cepat (rapid acting insulin! 2. insulin ker$a pendek (short acting insulin! '. insulin ker$a menengah (intermediate acting insulin! 3. insulin ker$a pan$ang (long acting insulin! %. insulin campuran tetap, ker$a pendek dan menengah premixed insulin! tabel 2. 9armak&kinetik insulin berdasarkan "aktu ker$a. (umber 6 P<:=<7+, 2##*

2.5 Penilaian +a il $e"a(i Dalam praktek sehari-hari, hasil peng&batan D, tipe 2 harus dipantau secara terencana dengan melakukan anamnesis, pemeriksaan $asmani dan pemeriksaan penun$ang. Pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah (P<:=<7+, 2##*! 6

20

2.5.1 Pe-e"i# aan #a'a" glu#/ a 'a"a+ 4u$uan pemeriksaan gluk&sa darah6 a! b! 5ntuk mengetahui apakah sasaran terapi telah tercapai 5ntuk melakukan penyesuaian d&sis &bat, bila belum tercapai sasaran terapi

5ntuk mencapai tu$uan tersebut perlu dilakukan pemeriksaan kadar gluk&sa darah puasa dan gluk&sa 2 $am p&sprandial secara berkala sesuai dengan kebutuhan. =alau karena salah satu hal terpaksa hanya dapat diperiksa 1 kali dian$urkan pemeriksaan 2 $am p&sprandial. 2.5.2 Pe-e"i# aan A1* 4es hem&gl&bin terglik&silasi, yang disebut $uga sebagai glik&hem&gl&bin, atau hem&gl&bin glik&silasi disingkat sebagai )18, merupakan cara yang digunakan untuk menilai efek perubahan terapi 2-12 minggu sebelumnya. 4es ini tidak dapat digunakan untuk menilai hasil peng&batan $angka pendek. Pemeriksaan )18 dian$urkan dilakukan minimal 2 kali dalam setahun. 2.5.3 Pe-an$auan Glu#/ a Da"a+ Man'i"i 1PGDM2 5ntuk memantau kadar gluk&sa darah dapat dipakai darah kapiler. (aat ini banyak dipasarkan alat pengukur kadar gluk&sa darah cara reagen kering yang umumnya sederhana dan mudah dipakai. Hasil pemeriksaan kadar gluk&sa darah memakai alat-alat tersebut dapat dipercaya se$auh kalibrasi dilakukan dengan baik dan cara pemeriksaan dilakukan sesuai dengan cara standar yang dian$urkan. (ecara berkala, hasil pemantauan dengan cara reagen kering perlu dibandingkan dengan cara k&n-ensi&nal. PBD, dian$urkan bagi pasien dengan peng&batan insulin atau pemicu sekresi insulin.

21

Waktu pemeriksaan PBD, ber-ariasi, tergantung pada terapi. Waktu yang dian$urkan adalah, pada saat sebelum makan, 2 $am setelah makan (menilai ekskursi maksimal gluk&sa!, men$elang "aktu tidur (untuk menilai risik& hip&glikemia!, dan di antara siklus tidur (untuk menilai adanya hip&glikemia n&kturnal yang kadang tanpa ge$ala!, atau ketika mengalami ge$ala seperti hypoglycemic spells. Pr&sedur PBD, dapat dilihat pada tabel ..

2.5.4 K"i$e"ia (engen'alian DM 5ntuk dapat mencegah ter$adinya k&mplikasi kr&nik, diperlukan pengendalian D, yang baik yang merupakan sasaran terapi. Diabetes terkendali baik, apabila kadar gluk&sa darah mencapai kadar yang diharapkan serta kadar lipid dan )18 $uga mencapai kadar yang diharapkan. Demikian pula status gi?i dan tekanan darah. =riteria keberhasilan pengendalian D, dapat dilihat pada 4abel 1# (P<:=<7+, 2##*!.

22

4abel 1#. =riteria pengendalian diabetes melitus. (umber 6 P<:=<7+, 2##*.

2.6

K/-(li#a i 2.6.1 K/-(li#a i a#u$

Ke$/a i'/ i 'ia0e$i# =et&asid&sis diabetik adalah keadaan dek&mpensasi-kekacauan metab&lik yang ditandai dengan trias hiperglikemia, asid&sis dan ket&sis, terutama disebabkan &leh defisiensi insulin abs&lut atau relatif. =)D dan hip&glikemia merupakan k&mplikasi akut diabetes melitus yang serius dan membutuhkan pengel&laan ga"at darurat. )kibat diuresis &sm&tik, =)D biasanya mengalami dehidrasi berat bahkan sampai menyebabkan sy&k ((ud&y&, )ru W, 2##*!.

23

=)D adalah suatu keadaan dimana terdapat defisiensi insulin abs&lut atau relatif dan peningkatan h&rm&n k&ntra regulat&r (glukag&n, katek&lamin, dan h&rm&n pertumbuhan!, keadaan tersebut menyebabkan pr&duksi gluk&sa hati meningkat dan utilisasi gluk&sa &leh sel tubuh menurun, dengan hasil akhir hiperglikemia. =eadaan hiperglikemia sangat ber-ariasi dan tidak menentukan berat ringannya =)D. )dapun ge$ala dan tanda klinis =)D dapat dikel&mp&kkan men$adi dua bagian yaitu ((ud&y&, )ru W, 2##*! 6 1. )kibat hiperglikemia 2. )kibat ket&sis

Bambar '. Pat&fisi&l&gi =)D. (umber 6 sud&y&, aru ", 2##* =)D ditegakkan dengan kriteria diagn&sis sebagai berikut ((ud&y&, )ru W, 2##*! 6 1. 2. '. 3. %. =adar gluk&sa E 2%# mg/ pH D 1,'% H8
'

rendah

)ni&n gap yang tinggi =et&n serum p&sitif

24

Begitu masalah =)D ditegakkan, segera pengel&laan dimulai. Pengel&laan =)D tentunya berdasarkan pat&fisi&l&gi dan pat&genesis penyakit, merupakan terapi titerasi, sehingga sebaiknya dira"at diruang pera"atan intensif. Prinsip-prinsip pengel&laan =)D adalah ((ud&y&, )ru W, 2##*! 6 1. 2. '. 3. Penggantian cairan dan garam yang hilang ,enekan lip&lisis sel lemak dan gluk&ne&genesis sel hati dengan insulin ,engatasi stres sebagi pencetus =)D ,engembalikan keadaan fisi&l&gi n&rmal dan menyadari pentingnya pemantauan serta penyesuaian peng&batan. K/-a +i(e"/ -/la" +i(e"gli#e-i# n/n #e$/$i# (indr&m k&ma hiper&sm&lar hiperglikemik n&n ket&tik (HH7=! ditandai &leh hiperglikemia, hiper&sm&lar tanpa disertai adanya ket&sis. Be$ala klinis utama adalah dehidrasi berat, hiperglikemia berat dan seringkali disertai gangguanneur&l&gis dengan atau tanpa adanya ket&sis ((ud&y&, )ru W, 2##*!. Per$alanan klinis HH7= biasanya berlangsung dalam $angka "aktu tertentu (beberapa hari sampai beberapa minggu!, dengan ge$ala khas meningkatnya rasa haus disertai p&liuri, p&lidipsi, dan penurunan berat badan. =&ma hanya ditemukan kurang dari 1#/ kasus ((ud&y&, )ru W, 2##*!. HH7= biasanya ter$adi pada &rang tua dengan D,, yang mempunyai penyakit penyerta yang mengakibatkan menurunnya asupan makanan. 9akt&r pencetus dapat dibagi men$adi enam kateg&ri 6 infeksi, peng&batan, n&nc&mpliance, D, tak terdiagn&sis, penyalahgunaan &bat, dan penyakit penyerta. +nfeksi merupakan penyebab tersering (%1,1/!. 8&mpliance yang buruk terhadap peng&batan D, $uga sering menyebabkan HH7= (21/! ((ud&y&, )ru W, 2##*!. 9akt&r yang memulai timbulnya HH7= adalah diuresis gluk&suria. Bluk&suria mengakibatkan kegagalan pada kemampuan gin$al dalam mengk&nsentrasikan urin, yang semakin memperberat dera$at kehilangan air. Pada keadaan n&rmal, gin$al berfungsi mengeliminasi gluk&sa di atas ambang batas tertentu. 7amun demikian, penurunan -&lume intra-askular atau penyakit gin$al yang telah ada sebelumnya akan menurunkan la$u filtrasi gl&merular, menyebabkan kadar
25

gluk&sa meningkat. Hilangnya air yang lebih banyak dibanding natrium menyebabkan kadar hiper&sm&lar. +nsulin yang ada tidak cukup untuk menurunkan kadar gluk&sa darah, terutama $ika terdapat resistensi insulin ((ud&y&, )ru W, 2##*!. Penatalaksanaan HH7=, meliputi lima pendekatan ((ud&y&, )ru W, 2##*!6 1. 2. '. 3. %. :ehidrasi intra-ena agresif cairan hip&t&nis. Penggantian elektr&lit Pemberian insulin intra-ena Diagn&sis dan mana$emen fakt&r pencetus dan penyakit penyerta Pencegahan.

Hi(/gli#e-ia Hip&glikemia ditandai dengan menurunnya kadar gluk&sa darah D*# mgAdC. Bila terdapat penurunan kesadaran pada penyandang diabetes harus selalu dipikirkan kemungkinan ter$adinya hip&glikemia. Hip&glikemia paling sering disebabkan &leh penggunaan sulf&nilurea dan insulin. Hip&glikemia akibat sulf&nilurea dapat berlangsung lama, sehingga harus dia"asi sampai seluruh &bat diekskresi dan "aktu ker$a &bat telah habis. 4erkadang diperlukan "aktu yang cukup lama untuk penga"asannya (23-12 $am atau lebih, terutama pada pasien dengan gagal gin$al kr&nik!. Hip&glikemia pada usia lan$ut merupakan suatu hal yang harus dihindari, mengingat dampaknya yang fatal atau ter$adinya kemunduran mental bermakna pada pasien. Perbaikan kesadaran pada D, usia lan$ut sering lebih lamban dan memerlukan penga"asan yang lebih lama (P<:=<7+, 2##*!. Be$ala hip&glikemia terdiri dari ge$ala adrenergik (berdebar, banyak keringat, gemetar, rasa lapar! dan ge$ala neur&-glik&penik (pusing, gelisah, kesadaran menurun sampai k&ma! (P<:=<7+, 2##*!. Hip&glikemia harus segera mendapatkan pengel&laan yang memadai. Diberikan makanan yang mengandung karb&hidrat atau minuman yang mengandung gula berkal&ri atau gluk&sa 1%-2# g melalui intra -ena. Perlu dilakukan pemeriksaan ulang gluk&sa darah 1% menit setelah pemberian gluk&sa. Blukag&n diberikan pada pasien dengan hip&glikemia berat (P<:=<7+, 2##*!.

26

5ntuk penyandang diabetes yang tidak sadar, sementara dapat diberikan gluk&sa 3#/ intra-ena terlebih dahulu sebagai tindakan darurat, sebelum dapat dipastikan penyebab menurunnya kesadaran (P<:=<7+, 2##*!. 2.6.2 K/-(li#a i #"/ni# (eperti telah diungkapkan, hiperglikemia merupakan peran sentran ter$adi k&mplikasi pada D,. Pada keadaan hiperglikemia, akan ter$adi peningkatan $alur p&ly&l, peningkatan pembentukan Pr&tein Blikasi n&n en?imakti serta peningkatan pr&ses glik&silasi itu sendiri, yang menyebabkan peningkatan stress &ksidatif dan pada akhirnya menyebabkan k&mplikasi baik -askul&pati, retin&pati, neur&pati ataupun nefr&pati diabetika (Permana,Hikmat, 2##1!. =&mplikasi kr&nis ini berkaitan dengan gangguan -askular, yaitu

(Permana,Hikmat, 2##1!6 O =&mplikasi mikr&-askular O =&mplikasi makr&-askular O =&mplikasi neur&l&gis 1. K/-(li#a i Mi#"/.a #ula" 4imbul akibat penyumbatan pada pembuluh darah kecil khususnya kapiler. =&mplikasi ini spesifik untuk diabetes melitus. Re$in/(a$i 'ia0e$i#a =ecurigaan akan diagn&sis D, terkadang bera"al dan ge$ala berkurangnya keta$aman penglihatan atau gangguan lain pada mata yang dapat mengarah pada kebutaan. :etin&pati diabetes dibagi dalam 2 kel&mp&k, yaitu :etin&pati n&n pr&liferatif dan Pr&liferatif. :etin&pati n&n pr&liferatif merupkan stadium a"al dengan ditandai adanya mikr&aneurisma, sedangkan retin&pr&liferatif, ditandai dengan adanya pertumbuhan pembuluh darah kapiler, $aringan ikat dan adanya hip&ksia retina. Pada stadium a"al retin&pati dapat diperbaiki dengan k&ntr&l gula darah yang baik, sedangkan pada kelainan sudah lan$ut hampir tidak dapat diperbaiki hanya dengan k&ntr&l gula darah, malahan akan men$adi lebih buruk apabila dilakukan penurunan kadar gula darah yang terlalu singkat.

27

Ne3"/(a$i 'ia0e$i#a Diabetes mellitus tipe 2, merupaka penyebab nefr&pati paling banyak, sebagai penyebab ter$adinya gagal gin$al terminal. =erusakan gin$al yang spesifik pada D, mengaikibatkan perubahan fungsi penyaring, sehingga m&lekul-m&lekul besar seperti pr&tein dapat l&l&s ke dalam kemih (mis. )lbuminuria!. )kibat nefr&pati diabetika dapat timbul kegagalan gin$al yang pr&gresif. 7efr&pati diabetic ditandai dengan adanya pr&teinuri persisten ( E #.% grA23 $am!, terdapat retin&pati dan hipertensi. Dengan demikian upaya pre-entif pada nefr&pati adalah k&ntr&l metab&lisme dan k&ntr&l tekanan darah. 2. K/-(li#a i Ma#"/.a #ula" 4imbul akibat ater&skler&sis dan pembuluh-pembuluh darah besar, khususnya arteri akibat timbunan plak ater&ma. ,akr&angi&ati tidak spesifik pada diabetes, namun pada D, timbul lebih cepat, lebih seing ter$adi dan lebih serius. Berbagai studi epidemi&l&gis menun$ukkan bah"a angka kematian akibat penyakit ,kardi&-askular dan penderita diabetes meningkat 3-% kali dibandingkan &rang n&rmal. =&mplikasi makr&angi&pati umumnya tidak ada hubungannya dengan k&ntr&l kadar gula darah yang balk. 4etapi telah terbukti secara epidemi&l&gi bah"a hiperinsulinemia merupakan suatu fakt&r resik& m&rtalitas kardi&-askular, dimana peninggian kadar insulin menyebabkan risik& kardi&-askular semakin tinggi pula. kadar insulin puasa E 1% m5AmC akan meningkatkan risik& m&rtalitas k&r&ner sebesar % kali lipat. Hiperinsulinemia kini dikenal sebagai fakt&r ater&genik dan diduga berperan penting dalam timbulnya k&mplikasi makr&-askular. Pen!a#i$ Jan$ung K/"/ne" Berdasarkan studi epidemi&l&gis, maka diabetes merupakan suatu fakt&r risik& k&r&ner. )ter&skier&sis k&r&ner ditemukan pada %#-1#/ penderita diabetes. )kibat gangguan pada k&r&ner timbul insufisiensi k&r&ner atau angina pekt&ris (nyeri dada par&ksismal serti tertindih benda berat dirasakan didaerah rahang ba"ah, bahu, lengan hingga pergelangan tangan! yang timbul saat beraktifitas atau em&si dan akan mereda setelah beristirahat atau mendapat nitrat sublingual.
28

)kibat yang paling serius adalah infark mi&kardium, di mana nyeri menetap dan lebih hebat dan tidak mereda dengan pembenian nitrat. 7amun ge$ala-ge$ala ini dapat tidak timbul pada pendenita diabetes sehigga perlu perhatian yang lebih teliti. S$"/#e )ter&skler&sis serebri merupakan penyebab m&rtalitas kedua tersering pada penderita diabetes. =ira-kira sepertiga penderita str&ke $uga menderita diabetes. (tr&ke lebih sering timbul dan dengan pr&gn&sis yang lebih serius untuk penderita diabetes. )kibat berkurangnya aliran atrteri kar&tis interna dan arteri -ertebralis timbul gangguan neur&l&gis akibat iskemia, berupa6 - Pusing, sink&p - Hemiplegia6 parsial atau t&tal - )fasia sens&rik dan m&t&rik - =eadaan pseud&-dementia Pen!a#i$ (e-0ulu+ 'a"a+ Pr&ses a"al ter$adinya kelainan -askuler adalah adanya ater&skler&sis, yang dapat ter$adi pada seluruh pembuluh darah. )pabila ter$adi pada pembuluh darah k&r&naria, maka akan meningkatkan risik& ter$adi infark mi&kar, dan pada akhirnya ter$adi payah $antung. =ematian dapat ter$adi 2-% kali lebih besar pada diabetes disbanding pada &rang n&rmal. :isik& ini akan meningkat lagi apabila terdapat keadaan keadaan seperti dislipidemia, &bes, hipertensi atau mer&k&k. Penyakit pembuluh darah pada diabetes lebih sering dan lebih a"al ter$adi pada penderita diabetes dan biasanya mengenai arteri distal (di ba"ah lutut!. Pada diabetes, penyakit pembuluh darah perifer biasanya terlambat didiagn&sis yaitu bila sudah mencapai fase +G. 9akt&r fact&r neur&pati, makr&angi&pati dan mikr&angi&pati yang disertai infeksi merupakan fact&r utama ter$adinya pr&ses gangrene diabetik. Pada penderita dengan gangrene dapat mengalami amputasi, sepsis, atau sebagai fact&r pencetus k&ma, ataupun kematian.

29

3. Neu"/(a$i 5mumnya berupa p&lineur&pati diabetika, k&mpikasi yang sering ter$adi pada penderita D,, lebih %# / diderita &leh penderita D,. ,)nifestasi klinis dapat berupa gangguan sens&ris, m&t&rik, dan &t&n&m. Pr&ses ke$adian neur&pati biasanya pr&gresif di mana ter$adi degenerasi serabut-serabut saraf dengan ge$ala-ge$ala nyeri atau bahkan baal. Pang terserang biasanya adalah serabut saraf tungkai atau lengan. 7eur&pati disebabkan adanya kerusakan dan disfungsi pada struktur syaraf akibat adanya peningkatan $alur p&ly&l, penurunan pembentukan my&n&sit&l, penurunan 7aA= )4P ase, sehingga menimbulkan kerusakan struktur syaraf, demyelinisasi segmental, atau atr&fi aI&nal.

30