Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENYAKIT INFEKSIUS 1

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI PADA SUSU SAPI PENDERITA MASTITIS

Oleh: KELOMPOK III A (PAGI) Nama Anggota Kelompok : 1. Dwi Budiono B04100063

2. Anizza Dyah K. M. B04100069 3. Arlita Sariningrum B04100070

BAGIAN MIKROBIOLOGI MEDIK DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DAN KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2013

I. PENDAHULUAN Mastitis adalah peradangan pada jaringan kelenjar ambing yang umumnya terjadi pada saat laktasi. Penyakit ini sering terjadi pada sapi perah dan menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat besar bagi peternakan sapi perah di seluruh dunia (Bannerman dan Wall 2005). Gejala klinis dari infeksi mastitis yaitu timbulnya rasa sakit, pembengkakan, kemerahan, dan peningkatan suhu pada kelenjar ambing. Dampak dari infeksi ini salah satunya menimbulkan kerugian secara ekonomi karena menyebabkan penurunan produksi susu yang dapat mencapai 70% dari seluruh kerugian yang ditimbulkan oleh mastitis serta bertambahnya biaya pengobatan dan tenaga kerja yang diperlukan. Kerugian lainnya yang dapat ditimbulkan oleh mastitis adalah adanya residu antibiotika pada susu, pengafkiran, meningkatnya biaya penggantian sapi perah, kematian pada sapi, serta adanya penurunan kualitas susu (Hurley dan Morin 2000). Berdasarkan respon radang yang terjadi, mastitis dapat dibedakan menjadi mastitis perakut, akut, sub akut, subklinis dan kronis (Hurley dan Morin 2000). Mastitis subklinis merupakan jenis mastitis yang paling sering terjadi, yaitu sekitar 15-40 kali lebih banyak dibandingkan dengan mastitis klinis (Hurley dan Morin 2000). Jenis mastitis yang sering terjadi di Indonesia adalah mastitis subklinis. Penyakit mastitis sendiri dapat disebabkan oleh berbagai jenis mikroorganisme, salah satunya adalah bakteri. Tingkat keparahan dan intensitas terjadinya mastitis dipengaruhi oleh faktor mikroorganisme penyebab mastitis itu sendiri. Menurut Akoso (1996), bakteri yang dapat menyebabkan, antara lain adalah Streptococcus agalactiae, Streptococcus disgalactiae, Streptococcus uberis, Streptococcus zooepidemicus, Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Enterobacter aerogenees dan Pseudomonas aeroginosa. Salah satu penyebab utama mastitis yang umum pada sapi perah adalah Staphylococcus aureus (Jones et al. 1984). Mastitis yang disebabkan oleh S. aureus dapat terjadi secara klinis namun seringkali terjadi secara subklinis dan menahun (Bannerman dan Wall 2005). Klasifikasi ilmiah atau taksonomi Staphylococcus aureus menurut Baba et al. (2003) adalah sebagai berikut: Kerajaan Divisi Class Order Family Genus : Prokariot : Monomychota : Schizomycetes : Schizomycetales : Coccaceae : Staphylococcus Species : Staphylococcus aureus

Salah

satu

langkah

dalam

penanganan

kasus

mastitis,

yaitu

dengan

mengidentifikasi S. aureus dengan bakteri gram positif lainnya. Identifikasi dilakukan atas dasar kriteria fenotip yang tampak, yaitu morfologi pertumbuhan koloni, uji katalase, uji koagulase, serta adanya fermentasi manitol pada media agar MSA. Faktor patogenitas S. aureus berhubungan dengan adanya produksi enzim koagulase. Enzim inilah yang membedakan S. aureus dengan bakteri Staphylococcus lainnya (Levinson dan Jawetz 2003). Bakteri S. aureus juga dapat diisolasi dengan media selektif MSA maupun dengan media umum. Penggunaan MSA tidak dapat digunakan secara mutlak untuk membedakan S. aureus dengan bakteri Staphylococcus lainnya, namun dapat digunakan untuk membedakan S. aureus dengan bakteri Streptococcus. Tujuan dari praktikum isolasi dan identifikasi bakteri dari sampel susu mastitis adalah mengetahui dan mengidentifikasi jenis bakteri Gram positif yang terkandung dalam susu hewan penderita mastitis sehingga dapat mengetahui terapi untuk menanggulanginya. II. METODE a. Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam praktikum adalah ose, tabung reaksi, rak tabung reaksi, obyek glass, pembakar Bunsen, korek api, mikroskop, rak pewarnaan Gram, kertas saring, lap/kain, mikropipet, mikrotube, spidol waterproof, dan candle anaerobik jar. Sedangkan bahan yang digunakan adalah susu sapi penderita mastitis (sampel), akuades, larutan kristal violet, larutan Lugol, larutan safranin, larutan aseton alcohol, xylol, minyak imersi, kapas, agar miring, blood agar, H2O2 3%, 200l plasma kelinci 300l BHI, media Manitol Salt Agar, larutan glukosa, dan larutan desinfektan. b. Prosedur Percobaan SAMPEL SUSU
Pewarnaan Gram
Gram Positif - coccus/Batang Blood Agar 37oC 24 jam Gram Negatif -Batang langsing/coccoid

Tanam Pupuk Sub cultur pada media BHI

Mac Concey Agar

Koloni

Koloni

ISOLAT Gambar 1 Diagram Alir Pembuatan Isolat Murni

ISOLAT
Pewarnaan Gram Bakteri Gram + Coccus Batang/coccoid Susunan Berantai Kecil halus, bulat lonjong batang pendek UJI KATALASE Bakteri Gram -

Batang tak berspora -Mycobacterium -Corynebacterium -Lactobacillus

Batang berspora -Bacillus sp. -Clostridium sp.

Bergerombol

Bulat besar

+ bergelembung
Micrococaceae UJI FERMENTASI GLUKOSA MIKROAEROFILIK

- tidak ada perubahan


Streptococaceae

+ Kuning
Staphylococcus

- Merah Micrococcus non patogen

UJI KOAGULASE MEDIA BHI

MSA

+ penggumpalan Staphylococcus patogen S. aureus S. intermedius S. hyicus

- tidak ada penggumpalan Staphylococcus non patogen S. epidermidis

+ Kuning Staphylococcus patogen S. aureus

- tidak ada perubahan warna Staphylococcus non patogen S. epidermidis

Gambar 2 Diagram Alir Identifikasi Bakteri Gram Positif

III. HASIL PENGAMATAN Tabel 1 Hasil Pengamatan Berbagai Uji Laboratorium pada sampel susu penderita Mastitis No Jenis Uji Laboratorium Hasil Uji Gambar

Pewarnaan Gram pada sampel susu penderita mastitis

bakteri coccus Gram positif

Penanaman Kultur pada media blood agar

aspek jernih pada sekitar koloni bakteri. Terjadi hemolisis beta pada blood agar. Koloni bakteri yang berukuran besar Berwarna ungu kuat, bergerombol, dan bulat besar (Bakteri Gram positif) + ditandai dengan adanya gelembung udara + ditandai dengan perubahan warna dari merah menjadi kuning + ditandai dengan terjadinya penggumpalan dan tidak berubah posisi saat dibalik + ditandai dengan terjadinya perubahan warna menjadi kuning Staphylococcus aureus

Pewarnaan Gram dari Isolat Murni pada agar miring

Uji Katalase

Uji Fermentasi Glukosa Mikroaerofilik

Uji Koagulase pada media BHI

Uji pada media MSA

Spesies Bakteri

IV. PEMBAHASAN Hal pertama yang harus dilakukan untuk mengidentifikasi bakteri yang ada di dalam suatu sampel adalah dengan melakukan pewarnaan gram. Dalam sampel susu yang digunakan dalam praktikum berasal dari sapi yang didiagnosa menderita penyakit mastitis. Berdasarkan pewarnaan gram yang telah dilakukan, diperoleh bakteri coccus gram positif dan diduga sebagai bakteri Staphylococcus sp. Kemudian bakteri tersebut dibiakan di dalam media blood agar selama 24 jam pada suhu 37oC. Blood agar adalah media yang mengandung 5% darah domba. Digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme yang sulit untuk dibiakan dan juga untuk membedakan kelompok mikroorganisme yang melisis atau tidak melisis butir darah merah. Bila proses lisis sempurna, maka akan terlihat wilayah yang benar-benar jernih atau disebut hemolisis beta. Bila proses lisis tidak sempurna dan muncul warna kehijauan maka disebut hemolisis alpha. Namun bila bakteri tidak tidak mampu melisiskan butir darah merah disebut hemolisis gamma. Oleh karena itu blood agar disebut sebagai media diferensiasi (Lay 1994). Dari biakan yang berasal dari susu tersebut didapatkan bakteri melisis darah pada blood agar secara sempurna dengan ciri-ciri adanya aspek jernih pada sekitar koloni bakteri. Dengan demikian maka telah terjadi hemolisis beta pada blood agar. Koloni bakteri yang berukuran besar menunjukan bahwa bakteri yang berbiak adalah Staphylococcus sp.Selain dengan identifikasi secara cepat tersebut, dapat pula dilakukan pengujian yang lebih lanjut. Adapun uji yang digunakan adalah uji katalase, uji fermentasi glukosa mikroaerofilik, MSA (Mannitol Salt Agar) dan uji koagulasi. Uji katalase digunakan untuk membedakan bakteri kelompok Micrococaceae dengan bakteri kelompok Streptococaceae. Bakteri kelompok Micrococaceae

menghasilkan katalase positif sedangkan bakteri kelompok Streptococaceae menunjukan katalase negatif. Uji ini dilakukan pada biakan murni atau setelah bakteri dari blood agar dibiakan pada media TSA. Dari hasil praktikum diperoleh uji katalase positif dengan ciri terbentuknya gelembung-gelembung gas pada H2O2 3% saat dicampurkan dengan koloni bakteri. Hal ini menunjukan bahwa bakteri yang ada pada susu tersebut termasuk bakteri kelompok Micrococaceae. Kemudian dilanjutkan dengan melakukan uji fermentasi glukosa microaerofilik untuk membedakan bakteri kelompok Micrococaceae yaitu Staphylococcus dan Micrococcus. Staphylococcus akan menunjukan hasil positif sedangkan bakteri Micrococcus akan menunjukan hasil negatif. Uji fermentasi glukosa mikroaerofilik menggunakan media NB yang ditambah dengan methyl red sebagai indikator dimasukkan kedalam tabung reaksi, lalu ditambahkan

gula yang akan difermentasikan 1-2%. Tabung durham dimasukkan ke dalam tabung reaksi tersebut, kemudian disterilkan setelah steril diinokulasi masing-masing isolat bakteri kemudian diinkubasi selama 24-48 jam pada suhu 37oC. Indikator pembentukan asam laktat apabila terjadi perubahan warna medium dari merah menjadi kuning tanpa pembentukan gas pada tabung durham. Uji akan bersifat fermentasi asam campuran apabila warna medium berubah dan diikuti pembentukan gas pada tabung durham dan uji akan bersifat fermentasi alkohol apabila terbentuk gas pada tabung durham tanpa diikuti perubahan warna medium. Dari hasil biakan yang diperoleh bahwa warna medium dari merah berubah menjadi kuning namun tidak terjadi pembentukan gas. Dengan demikian maka bakteri tersebut dapat digolongkan ke dalam Staphylococcus sp. Untuk membedakan antara Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis dilakukan uji koagulase dan penggunaan medium MSA. Uji koagulase digunakan untuk membedakan spesies Staphylococcus yang mampu mengkoagulasi plasma. Untuk mendapatkan inokulum yang cukup padat pada hasil tes, koloni murni terlebih dahulu ditransfer ke dalam 0,5 ml BHI. Setelah diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam, tambahkan plasma dengan perbandingan 1:1 lalu inkubasi kembali pada suhu 37oC dan amati hasilnya maksimal 24 jam. Masa inkubasi pendek dalam BHI tidak hanya menyediakan inokulum yang cukup besar untuk tes tetapi juga memungkinkan elaborasi dari enzim koagulase dan nuklease, meningkatkan intensitas dan kecepatan reaksi positif (Barry et al. 1973). Koagulase positif dapat dinilai dalam 4 skala yaitu: 1+ positif bila ada sedikit gumpalan yang bentuknya tidak jelas; 2+ positif bila terdapat sedikit gumpalan namun sudah terorganisir dengan baik; 3+ bila terdapat banyak gumpalan yang terorganisir dengan baik; dan 4+ positif bila keseluruhan isi tabung menggumpal dan tidak berubah posisi bila tabung dibalik (Sperber and Tatini 1975). Dari praktikum terjadi penggumpalan dan tidak berubah posisi bila tabung dibalik pada serum sehingga bakteri tersebut termasuk kedalam bakteri Staphylococcus yang patogen. MSA (Mannitol Salt Agar) adalah media yang mengandung NaCl 7.5%, manitol, dan merah fenol. Dengan kandungan NaCl yang tinggi maka menyebabkan bakteri tidak tumbuh kecuali Staphylococcus. S. aureus akan membantuk zona kuning, sedangkan S. epidermidis membentuk zona merah. Warna kuning disebabkan oleh fermentasi manitol disertai pembantukan asam, sedangkan warna merah menunjukan manitol yang tidak terfermentasi. Merah fenol merupakan indikator yang digunakan untuk melihat adanya pembentukan asam oleh karena itu media ini termasuk media diferensiasi (Lay 1994).

Dari hasil praktikum diperoleh warna medium MSA berubah warna dari merah menjadi kuning. Sehingga bakteri tersebut termasuk kedalam bakteri Staphylococcus aureus. Pengobatan mastitis sebaiknya menggunakan Lincomycin, Erytromycin dan Chloramphenicol. Disinfeksi puting dengan alkohol dan infusi antibiotik intra mamaria bisa mengatasi mastitis. Injeksi kombinasi penicillin, dihydrostreptomycin,

dexamethasone dan antihistamin dianjurkan juga. Antibiotik akan menekan pertumbuhan bakteri penyebab mastitis, sedangkan dexamethasone dan antihistamin akan menurunkan peradangan. Mastitis yang disebabkan oleh Streptococcus sp. masih bisa diatasi dengan penicillin, karena masih peka terhadap penicillin. Akibat penggunaan antibiotik pada setiap kasus mastitis, yang mungkin tidak selalu tepat, maka timbul masalah baru yaitu adanya residu antibiotika dalam susu, alergi, resistensi serta mempengaruhi pengolahan susu. Mastitis subklinis yang disebabkan oleh bakteri gram positif juga makin sulit ditangani dengan antibiotik, karena bakteri ini sudah banyak yang resisten terhadap berbagai jenis antibiotik. Middleton dan Foxt (2001) bahwa penggunaan infus intramammaria dengan 120 mL, 5% Povidone-Iodine (0,5% Iodine) setelah susu diperah habis pada 7 ekor penderita mastitis akibat Staphylococcus aureus menunjukkan hasil yang baik, karena 100% (7 ekor) penderita bisa memproduksi susu kembali pada laktasi berikutnya. Sedangkan terapi mastitis dengan

infus Chlorhexidine hanya menghasilkan 71% (5 ekor). Sekresi susu dari kuartir yang diberi Iodine tidak mengandung residu pada pemeriksaan 35 hari post infusi, sedangkan pada infusi dengan Chlorhexidine ternyata mengandung residu antibiotik. Kontrol terhadap pemakaian antibiotika ini sulit dilakukan untuk keamanan konsumen terhadap produk susu. Salah satu alternatif yang dapat digunakan adalah dengan menggunankan bahan alami yang berasal dari tanaman yaitu Receptalum Bunga Matahari (BUMATA) dan bahan alami yang berasal dari ternak yaitu BIOPLUS. Sesuai dengan bahan yang dikandungnya, bahan-bahan ini diharapkan dapat meningkatkan kesehatan ternak sehingga daya tahan tubuh meningkat, karena mastitis dapat diatasi

dengan meningkatkan sistem pertahanan tubuhnya. BUMATA mengandung senyawa antiinflamasi yang diharapkan dapat membantu mengatasi radang yang menyertai mastitis dan antioksidan yang diharapkan dapat meningkatkan daya tahan tubuh (Nurdin 2006), sedangkan BIOPLUS mengandung bakteri apatogen yang diharapkan dapat bekerjasama dengan bakteri rumen untuk menekan bakteri patogen sehingga kesehatan dan daya tahan tubuh ternak lebih baik.

V. SIMPULAN Bakteri yang terkandung dalam sampel susu yang diduga penderita mastitis adalah bakteri Gram positif yaitu Staphylococcus aureus. Bakteri ini memberikan hasil positif terhadap uji katalase, uji fermentasi glukosa mikroaerofilik, uji koagulase pada BHI, dan uji pada media MSA. Pengobatan dapat dilakukan dengan infus intramammaria 120 mL, 5% Povidone-Iodine (0,5% Iodine) setelah susu diperah habis.

VI. DAFTAR PUSTAKA Akoso, T. B. 1996. Kesehatan Sapi. Yogyakarta: Kanisius Baba, T., F. Takeuchi, M. Kuroda, T. Ito, H. Yuzawa, and K. Hiramatsu. 2003. The genome of Staphylococcus aureus, p. 66-153. In D. Al'Aladeen and K. Hiramatsu (ed.), The Staphylococcus aureus: molecular and clinical aspects. Ellis Harwood, London, United Kingdom Bannerman, D. D. and R. J. Wall. 2005. A Novel Strategy for the Prevention of Staphylococcus aureus-Induced Mastitis in Dairy Cows. Information Systems for Biotechnology News Report. Virginia Tech University. USA. 1 - 4. Barry, A.L., R. V. F. Lachica, and F. W. Atchison. 1973. Identification of Staphylococcus aureus by Simultaneous Use of Tube Coagulase and Thermonuclease Tests. Applied Microbiology Vol. 25 (3) p.496-497 Hurley W.L., D.E. Morin., 2000 - Lactation biology, Ed. ANSCI, 84 110; Jones, G. M., R. E. Pearson, G. A. Clabaugh, and C. W. Heald. 1984. Relationships between somatic cell counts and milk production. J. Dairy Sci. 67:1823-1831. Lay,W.B.1994. Analisa Mikroba di Laboratorium. Ed I. Jakarta : PT.Raja Grafindo Persada Levinson W, Jawetz E. Medical Microbiology and Immunology. 6ta ed. McGraw-Hill, 2003. Nelson Philpot, W., S.C. Nickerson, 1991. Mastitis: counter attack, a strategy to combat mastitis. Babson Bros Co. Naperville, Illinois USA. Middleton, J. R., and L. K. Fox. 2001. Therapeutic cessation of lactation of Staphylococcus asureus-infected mammary quarters. J. Dairy Sci., 84:1976-1978 Nurdin E. dan Mihrani, 2006, Pengaruh Pemberian Bunga Matahari Dan Bioplus Terhadap Produksi Susu Dan Efisiensi Ransum Sapi Perah Freis Holland Penderita Mastitis, Jurnal Agrisistem Vol 2 (2), Dosen Fakultas Peternakan Universitas Andalas, Padang. Sperber, W. H. and S. R. Tatini. 1975. Interpretation of the Tube Coagulase Test for Identification of Staphylococcus aureus. Applied Microbiology Vol. 29 (4) p.502505