Anda di halaman 1dari 5

KATARAK SENILIS Katarak Senilis adalah Semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut, yaitu usia

di atas 50 tahun. Prevalensi katarak pada individu berusia 65-74 tahun adalah sebanyak 50 %, prevalensi ini meningkat hingga 70 % pada individu di atas 75 tahun. Katarak terikat usia terbagi menjadi 3 bagian : 1. Sklerosis nuclear yang disebabkan karena adanya kondensasi normal dalam nucleus lensa. Sehingga warna lensa menjadi kuning hingga keruh dan opak. Berlokasi di bagian tengah lensa/nucleus. Nucleus menjadi keras dan gelap. Progresivitasnya lambat dan paling sering terjadi pada usia lanjut. Pandangan jauh lebih dipengaruhi daripada pandangan dekat. Ini merupakan akibat dari meningkatnya kekuatan focus lensa bagian sentral, menyebabkan refraksi bergeser ke myopia ( penglihatan dekat). Gejala- gejala lain berupa diskriminasi warna yang buruk atau diplopia monokular. Sebagian besar katarak nuclear adalah bilateral tetapi bisa asimetrik.

2. Katarak kortikal adalah kekeruhan pada korteks lensa. Perubahan hidrasi serat lensa menyebabkan terbentuknya celah-celah pola radial di sekeliling daerah ekuator. Katarak ini cenderung bilateral, tetapi sering asimetrik. Derajat gangguan fungsi penglihatan bervariasi, tergantung seberapa dekat kekeruhan lensa dengan sumbu penglihatan. Timbul di usia 40-60 tahun, keluhan penurunan penglihatan jauh dan silau. Penderita sulit membedakan warna terutama warna biru.

3. Katarak subkapsular posterior terdapat pada korteks di dekat kapsul posterior bagian sentral. Di awal perkembanganna katarak ini cenderung menimbulkan gangguan penglihatan karena adanya keterlibatan sumbu pengihatan. Gejala-gejala yang umum, antara lain glare yang terang. Kekeruhan lensa di sini dapat timbul akibat trauma, penggunaan kortikosteroid (topical atau sistemik), peradangan, atau pajanan radiasi pengion. Mulai timbul sekitar usia 40-60 tahun.

Patogenesis dan Patofisiologi Katarak Senilis

Komponen utama lensa adalah air dan protein Semakin tua

Lensa akan menjadi kekurangan air dan menjadi lebih padat di bagian tengah

Kemampuan focus untuk melihat benda dekat berkurang

Terbentuk lapisan kortikal Baru

terjadi perubahan protein lensa, yaitu terbentuknya protein dengan berat molekul tinggi mengakibatkan perubahan refraksi pada lensa

Sklerosis nuclear (mendesak Nucleus dan mengeras)

perubahan kimia ini juga diikuti dengan pembentukan pigmen pada nuclear. ( mengalami perubahan warna menjadi kuning,cokelat hingga keruh)

Memantulkan sinar masuk Dan mengurangi transparansi lensa

Lensa tidak transparan

menyebabkan gangguan penglihatan

Pupil berwarna putih dan abu-abu, kekeruhan ini juga dapat ditemukan pada berbagai lokalisasi lensa seperti korteks dan nucleus.

Fundus okuli semakin sulit dilihat seiring dengan semakin padatnya kekeruhan lensa bahkan reaksi fundus okuli bisa hilang sama sekali Stadium Katarak Katarak Insipien Katarak imatur Katarak matur Katarak hipermatur Perbedaan Stadium Katarak Insipien Ringan Normal Imatur Sebagian Bertambah (air masuk) Terdorong Dangkal Sempit Positif glaukoma Matur Seluruh Normal Hipermatur Massif Berkurang (air+massa lensa keluar) Tremulans Dalam Terbuka Pseudopos Uveitis+glaucoma

Kekeruhan Cairan Lensa

Iris Bilik mata depan Sudut bilik mata Shadow test Penyulit

Normal Normal Normal Negative -

Normal Normal Normal Negative -

Katarak Insipien, pada stadium ini akan terlihat hal-hal sebagai berikut : Kekeruhan mulai dari tepi ekuator berbentuk jeruji menuju korteks anterior dan posterior (katarak kortikal) Vakuol mulai terlihat di dalam korteks Katarak subkapsular posterior, kekeruhan mulai terlihat anterior subkapsular posterior, celah terbentuk antara serat lensa dan korteks berisi jaringan degeneratif (benda Morgagni) pada katarak insipien. Kekeruhan ini dapat menimbulkan poliopia oleh karena indeks refraksi yang tidak sama pada semua bagian lensa. Bentuk ini kadang-kadang menetap untuk waktu yang lama.

Katarak Intumesen, Kekeruhan lensa disertai pembengkakan lensa akibat lensa yang degeneratif menyerap air. Masuknya air ke dalam celah lensa mengakibatkan lensa menjadi bengkak dan besar yang akan mendorong iris sehingga bilik mata menjadi dangkal dibanding dengan keadaan normal. Katarak intumesen biasanya terjadi pada katarak yang berjalan cepat dan mengakibatkan miopia lentikular. Katarak Imatur, Sebagian lensa keruh atau katarak. Katarak yang belum mengenai seluruh lapis lensa. Pada katarak imatur akan dapat bertambah volume lensa akibat meningkatnya tekanan osmotik bahan lensa yang degeneratif. Pada keadaan lensa mencembung akan dapat menimbulkan hambatan pupil, sehingga terjadi glaukoma sekunder. Pada pemeriksaan uji bayangan iris atau shadow test, maka akan terlihat bayangan iris pada lensa, sehingga hasil uji shadow test (+) Diagnosis Anamnesa : 1. Pandangan kabur 2. Penglihatan silau 3. Sensitifitas terhadap kontras 4. Miopisasi 5. Variasi diurnal penglihatan 6. Distorsi 7. Halo 8. Diplopia monokuler 9. Perubahan persepsi warna 10. Bintik hitam Pemeriksaan Fisik 1. Penurunan ketajaman penglihatan 2. Miopisasi