Anda di halaman 1dari 70

1

BAB I PENGENALAN MINERAL

I.1 Pengertian Mineral Suatu benda padat / tidak selamanya padat yang terbentuk secara alamiah yang merupakan bahan anorganik, mempunyai sifat fisik tertentu, homogen, mempunyai susunan kristal dan mempunyai komposisi kimia. I.2 Sifat-sifat fisik mineral Mineral-mineral batuan yang umum dan juga mineral-mineral ekonomis yang jarang terdapat biasanya dapat dikenal tanpa alat-alat yang khusus dan rumit tetapi hanya cukup mengenal sifat-sifat fisik yang meliputi : 1.Warna 2.Kilap 3. Cerat 4. Kekerasan 5. Belahan 6. Pecahan 7. Bentuk 8. Kemagnetan 9. Berat Jenis. I.2.1. Warna Kenampakan langsung yang dapat dilihat , akan tetapi tidak dapat diandalkan dalam pemerian mineral karena suatu mineral dapat berwarna lebih dari satu warna , tergantung keanekaragaman komposisi kimia dan pengotoran padanya. I.2.2. Perawakan Bentuk mineral dapat dikatakan kristalin, bila mineral tersebur mempunyai bidang kristalin yang jelas dan disebut amorf, bila tidak mempunyai batas batas kristal yang jelas.
1

Struktur Mineral dapat dibagi menjadi : Granular atau butiran , ukuran butir seragam. Struktur kolom atau prisma , bila panjang disebut fibrous atau berserat. Struktur lembaran atau lamelar , seperti tabular , konsentris , dan foliasi. Struktur imitasi , seperti asikular , filiformis , membilah I.2.3. Kilap Kesan mineral akibat pantulan cahaya yang dikenakan pada mineral. Kilap dibedakan menjadi dua : Kilap Logam Kilap Non Logam , dibedakan menjadi : Kilap Kaca (vitreous) Kilap Intan (adamantine) Kilap Sutra (silky) Kilap Damar (resinous) Kilap Mutiara (pearly) Kilap Lemak (greasy) Kilap Tanah (dull)

I.2.4. Kekerasan Ketahanan Mineral terhadap goresan , relatif menggunakan Skala Mosh :
Tabel 1. Skala Mosh (http://lorenskambuaya.blogspot.com/2012/05/skala-mohs.html)

I.2.5. Goresan atau cerat Warna mineral dalam bentuk bubuk. Cerat dapat sama atau berbeda dengan warna mineral. Umunya warna cerat tetap. I.2.6. Belahan Kenampakan mineral berdasarkan kemampuannya membelah melalui bidang-bidang belahan yang rata dan licin. I.2.7. Pecahan Kemampuan mineral untuk pecah melalui bidang yang tidak rata dan tidak teratur .

Pecahan dapat dibedakan menjadi : Pecahan Konkoidal Pecahan berserat/Fibrous Pecahan Tidak rata Pecahan Rata Pecahan Runcing Pecahan Tanah I.2.8. Berat Jenis Setiap mineral mempunyai berat jenis tertentu. Besarnya ditentukan oleh unsur-unsur pembentuknya serta kepadatan dari ikatan unsur-unsur tersebut dalam susunan kristalnya. Umumnya mineral-mineral pembentuk batuan mempunyai berat jenis sekitar 2.7, meskipun berat jenis rata-rata unsur metal didalamnya berkisar antara 5. Emas murni umpamanya, mempunyai berat jenis 19.3 I.2.9. Sifat Kemagnetan Sifat mineral terhadap gaya magnet . Dikatakan sebagai feromagnetic bila mineral dengan mudah tertarik gaya magnet seperti magnetik , phirhotiti . Mineral-mineral yang menolak gaya magnet disebut diamagnetic , dan yang tertarik lemah yaitu paramagnetic .

BAB II PENGENALAN BATUAN II.1. Pengenalan Batuan Beku Batuan beku atau batuan igneus (dari Bahasa Latin: ignis, "api") adalah jenis batuan yang terbentuk dari magma yang mendingin dan mengeras, dengan atau tanpa proses kristalisasi, baik di bawah permukaan sebagai batuan intrusif (plutonik) maupun di atas permukaan sebagai batuan ekstrusif (vulkanik). Magma ini dapat berasal dari batuan setengah cair ataupun batuan yang sudah ada, baik di mantel ataupun kerak bumi. Umumnya, proses pelelehan terjadi oleh salah satu dari proses-proses berikut: kenaikan temperatur, penurunan tekanan, atau perubahan komposisi. Lebih dari 700 tipe batuan beku telah berhasil dideskripsikan, sebagian besar terbentuk di bawah permukaan kerak bumi. II.1.1. Pengertian Jenis batuan yang terbentuk dari magma yang mendingin dan mengeras , dengan atau tanpa proses kristalisasi , baik dibawah permukaan sebagai batuan intrusif (plutonik) maupun diatas permukaan sebagai batuan ekstrusif (vulkanik). II.1.2. Klasifikasi Batuan Beku
A. Klasifikasi Batuan Beku Berdasarkan Komposisi Kimia

Menurut Hulburt (1977) Pembagian batuan bekuberdasarkan komposisi ini telah lama menjadi standar dalam geologi, dan di bagi dalam empat golongan yaitu :

a. Batuan Beku Asam Termasuk golongan ini bila batuan beku tersebut mengandung silika (SiO2) lebih dari 66%.contoh batuan ini dalah Granit dan Ryolit. Batuan yang tergolong kelompok ini mempunyai warna terang (cerah) karena (SiO2) yang kaya akan menghasilkan batuan dengan kandungan kuarsa, dan alkali feldspar dengan atau tanpa muskovit. b. Batuan Beku Menengah (intermediat) Apabila batauan tersebut mengandung 52 66% silika maka termasuk dalam kelas ini. Batuan ini akan berwarnagelap karena tingginya kandungan mineral feromagnesia. Contoh batuan ini adalah Diorit dan Andesit. c. Batuan Beku Basa Yang termasuk kelompok batuan beku ini adalah bataun yang mengandung 45 52% silika. Batuan ini akan memiliki warna hitam kehijauan karena terdapat kandungan mineral olivine. Contoh batuan ini adalah Gabbro dan Basalt. d. Batuan Beku Ultra Basa Golongan batuan beku ini adalah apabila bataun beku mengnadung 45% SiO2 . Warna batuan ini adalah hijau kelam karena tidak terdapat silika bebas sebagai kuarsa. Contoh batuan ini adalah Peridotit dan Dunit.

B. Klasifikasi Batuan Beku Berdasarkan Mineralogi Analisa kimia batuan beku itu pada umumnya memakan waktu, maka sebagian besar klasifikasi batuan beku berdasarkan atas susunan mineral dari batuan itu. Mineral-mineral yang biasanya dipergunakan ialah mineral kuarsa, plagioklas, potassium feldspar dan foid untuk mineral felsik. Sedangkan untuk mafik mineral biasanya mineral amphibol, piroksen, dan olivine (Graha 1987). Klasifikasi yang didasarakan atas mineralogi dan tekstur akan lebih dapat mencerminkan sejarah pembentukan batuan daripada atas dasar komposisi kimia. Tekstur batuan beku adalah mengambarkan keadaan yang mempengaruhi pembentukan batuan itu sendiri. Seperti tekstur granular memberi arti akan keadaan yang serba sama, sedangkan tekstur porfiritik memberikan artibahwa terjadi dua generasi pembentukan mineral. Dan tekstur afanitik mengambarkan pembekuan yang cepat (Graha, 1987). Klasifikasi batuan beku yang dibuat oleh Russell B Travis (1955), dalam klasifikasi ini tekstur batuan beku yang didasrkan pada ukuran butir mineralnya dapat dibagi menjadi: a. Batuan Dalam Bertekstur faneritik yang berarti mineral-mineral menyusun batuan tersebut dapat dilihat dengan mata biasa tanpa bantuan alat pembesar. b. Batuan Gang bermasa dasar faneritik Bertekstur porfiritik dengan masa dasar faneritik.

c. Batuan Gang bermasa dasar afanitik Bertekstur porfiritik dengan masa dasar afanitik. d. Batuan Lelehan Bertekstur afanitik, dimana individu mineralnya tidak dapat dibedakan atau dilihat dengan mata biasa. II.1.3. Cara Pemerian Batuan Beku A. Struktur Batuan Beku Masif, yaitu struktur yang memperlihatkan suatu masa batuan yang terlihat seragam. Skoria. Lubangnya tidak teratur Vesikular, yaitu struktur yang memperlihatkan lubang-lubang pada batuan beku. Lubang ini terbentuk akibat pelepasan gas pada saat pembekuan. Lubangnya teratur Amigdaloidal, yaitu struktur vesikular yang kemudian terisi oleh mineral lain seperti kalsit, kuarsa atau zeolit Xenolit, yaitu batuan beku yang diinklusi pecahan batuan lain. Struktur aliran, yaitu struktur yang memperlihatkan adanya kesejajaran mineral pada arah tertentu akibat aliran Sheeting joint, yaitu struktur batuan beku yang terlihat sebagai lapisan

Gambar 1. Sheeting Joint (Noor, Djauhari (2009))

Columnar joint, yaitu struktur yang memperlihatkan batuan terpisah poligonal seperti batang pensil

Gambar 2. Columnar Joint (PPT Praktikum Geologi Dasar 2012 Teknik Geologi IST AKPRIND)

Pillow lava, yaitu struktur yang menyerupai bantal yang bergumpal-gumpal. Hal ini diakibatkan proses pembekuan terjadi pada lingkungan air.

10

Gambar 3. Pillow Lava (PPT Praktikum Geologi Dasar 2012 Teknik Geologi IST AKPRIND)

Euhedral, yaitu bentuk kristal yang sempurna Subhedral, yaitu bentuk kristal yang kurang sempurna Anhedral, yaitu bentuk kristal yang tidak sempurna.

Gambar 4. Anhedral dan Euhedral (PPT Praktikum Geologi Dasar 2012 Teknik Geologi IST AKPRIND)

11

B. Tekstur Batuan Beku 1. Derajat kristalisasi (Tingkat kristalisasi ) Holokristalin, yaitu batuan beku yang hampir seluruhnya disusun oleh kristal Hipokristalin, yaitu batuan beku yang tersusun oleh kristal dan gelas Holohyalin, yaitu batuan beku yang hampir seluruhnya tersusun oleh gelas 2. Garanularitas (Ukuran butir ) Fanerik, yaitu batuan beku yang hampir seluruhmya tersusun oleh mineral-mineral yang berukuran kasar. Afanitik, yaitu batuan beku yang hampir seluruhnya tersusun oleh mineral berukuran halus.

Gambar 5. Afanitik (PPT Tugas Batuan Beku 2012 Teknik Geologi IST AKPRIND)

12

3. Bentuk kristal (bentuk kristal) Ketika pembekuan magma, mineral-mineral yang terbentuk pertama kali biasanya berbentuk sempurna sedangkan yang terbentuk terakhir biasanya mengisi ruang yang ada sehingga bentuknya tidak sempurna. 4. Hubungan antar kristal(relasi) Equigranular, yaitu ukuran butir penyusun batuannya hampir sama Inequigranular, yaitu ukuran butir penyusun batuannya tidak sama

Gambar 6 .Equigranural dan Inequigranular (PPT Tugas Batuan Beku 2012 Teknik Geologi IST AKPRIND)

C.Komposisi Mineral

Komposisi mineral, didasarkan pada 3 macam : A. Berdasarkan terbentuknya terdiri atas: Mineral utama (Essential mineral): mineral penentu penamaan batuan. Contoh: Kuarsa, felspar, mika,

amphibol, piroksin atau olivin.

13

Mineral sekunder (Secondary mineral) : Mineral yang terbentuk dari mineral primer yang mengalami proses pelapukan, hidrotermal atau metamorfisme. Contoh: kalsit, serpentin, klorit, serosit atau kaolin.

B. Berdasarkan terang-gelap warna, dibagi menjadi asam dan basa. Mineral Asam (felsik) : Kaya akan silika alumina, warna cerah, mineral cerah: kuarsa, feldspar (orthoklas), feldspar (plagioklas), atau muscovit (mika putih). Mineral basa (Mafic) : Kaya akan besi, magnesium dan kalsium, warna gelap. Contoh: Biotit (mika hitam), piroksin (augit), amphibol (hornblende) atau olivin. Perkecualian : Dunit (batu beku basa: warna terang) dan Obsidian (batuan beku asam : warna gelap) C. Klasifikasi batuan beku berdasarkan kandungan silika
Tabel 2. Jenis batubeku dan kandungan silika (Buku Pedoman Praktikum Geologi Fisik) No Jenis Batuan Beku Kandungan Silika Asam (acid) > 66 % 1. 2. 3. 4. Intermediet Basa (basic) Ultrabasa 52 66 % 45 52 % < 45%

II.2. Pengenalan Batuan Sedimen Sedimen merupakan bahan atau partikel yang terdapat di permukaan bumi (di daratan ataupun lautan), yang telah mengalami proses pengangkutan (transportasi) dari satu tempat (kawasan) ke tempat lainnya. Air dan angin

14

merupakan agen pengangkut yang utama. Sedimen ini apabila mengeras (membatu) akan menjadi batuan sedimen. Ilmu yang mempelajari batuan sedimen disebut dengan sedimentologi. II.2.1. Pengertian Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk akibat litifikasi hancuran batuan lain (dentritus) atau karena hasil proses kimiawi maupun biokimiawi. Dibagi menjadi 2 macam berdasarkan atas asalnya: Batuan sedimen klastik (testur klastik): batuan sedimen yang tersusun oleh hasil hancuran (fragmen) batuan lain yang sudah ada terlebih dahulu (batuan asal) baik dari batuan beku, sedimen, maupun metamorf. Umumnya telah mengalami transportasi atau perpindahan. Batuan sedimen nonklastik (testur nonklastik): batuan sedimen yang tersusun oleh hasil reaksi tertentu, baik bersifat anorganis, biokimiawi, atau biologis. Umumnya merupakan hasil litifikasi dari koloid, maka akan merupakan massa batuan yang kristalin dan berbutir seragam, dan belum mengalami transportasi atau

perpindahan. II.2.2. Klasifikasi Batuan Sedimen Pettijohn (1975), ODunn & Sill (1986) membagi batuan sedimen berdasar teksturnya menjadi dua kelompok besar, yaitu batuan sedimen klastika dan batuan sedimen non-klastika.

15

1. Batuan sedimen klastika (detritus, mekanik, eksogenik) adalah batuan sedimen yang terbentuk sebagai hasil pengerjaan kembali (reworking) terhadap batuan yang sudah ada. Proses pengerjaan kembali itu meliputi pelapukan, erosi, transportasi dan kemudian redeposisi (pengendapan kembali). Sebagai media proses tersebut adalah air, angin, es atau efek gravitasi (beratnya sendiri). Media yang terakhir itu sebagai akibat longsoran batuan yang telah ada. Kelompok batuan ini bersifat fragmental, atau terdiri dari butiran/pecahan batuan (klastika) sehingga bertekstur klastika. 2. Batuan sedimen non-klastika adalah batuan sedimen yang terbentuk sebagai hasil penguapan suatu larutan, atau pengendapan material di tempat itu juga (insitu). Proses pembentukan batuan sedimen kelompok ini dapat secara kimiawi, biologi /organik, dan kombinasi di antara keduanya (biokimia). Secara kimia, endapan terbentuk sebagai hasil reaksi kimia, misalnya CaO + CO2 CaCO3. Secara organik adalah pembentukan sedimen oleh aktivitas binatang atau tumbuh-tumbuhan, sebagai contoh pembentukan rumah binatang laut (karang), terkumpulnya cangkang binatang (fosil), atau terkuburnya kayu-kayuan sebagai akibat penurunan daratan menjadi laut. Sanders (1981) dan Tucker (1991), membagi batuan sedimen menjadi : 1. 2. 3. Batuan sedimen detritus (klastika) Batuan sedimen kimia Batuan sedimen organik, dan

16

4.

Batuan sedimen klastika gunungapi Batuan sedimen jenis ke empat batuan sedimen bertekstur klastika dengan bahan penyusun

itu adalah

utamanya berasal dari hasil kegiatan gunungapi. Graha (1987) membagi batuan sedimen menjadi 4 kelompok juga, yaitu : 1. 2. Batuan sedimen detritus (klastika/mekanis) Batuan sedimen batubara (organik/tumbuh-tumbuhan)

Batuan sedimen jenis kedua pada umumnya bertekstur non-klastika. Tetapi batuan sedimen jenis ketiga dan keempat dapat merupakan batuan sedimen klastika ataupun batuan sedimen non-klastika. 3. Batuan sedimen silika, dan batuan

Batuan sedimen karbonatBerdasar komposisi penyusun utamanya,

sedimen klastika (bertekstur klastika) dapat dibagi menjadi 3 macam, yaitu : 1. Batuan sedimen silisiklastika, adalah batuan sedimen klastika dengan

mineral penyusun utamanya adalah kuarsa dan felspar. 2. Batuan sedimen klastika gunungapi adalah batuan sedimen dengan

material penyusun utamanya berasal dari hasil kegiatan gunungapi (kaca, kristal dan atau litik), dan 3. Batuan sedimen klastika karbonat, atau batugamping klastika adalah

batuan sedimen klastika dengan mineral penyusun utamanya adalah material karbonat (kalsit).

17

II.2.3. Cara Pemerian Batuan Sedimen Cara Pendeskripsian Batuan Sedimen Klastik Warna (secara kasat mata) Kenampakan langsung yang dapat dilihat. Warna segar Warna lapuk

Struktur: Merupakan tekstur dalam dimensi yang lebih besar,umumnya berhubungan dengan unsur-unsur luar. Macam-macam struktur batuan sedimen: Masif: apabila tidak terlihat struktur dalam atau ketebalan lebih dari 120 cm. Perlapisan: terjadi karena adanya variasi warna, perbedaan besar butir, perbedaan komposisi mineral ataupun perubahan macam batuan, terdiri atas: Perlapisan sejajar: bidang perlapisan sejajar. Perlapisan pilah (graded bedding): bergradasi halus ke kasar. Perlapisan silang siur (current bedding): perlapisan yang saling berpotongan. Laminasi (lamination): perlapisan yang berukuran lebih kecil dari 1cm.

18

Berfosil: apabila tercirikan oleh kandungan fosil yang memperlihatkan orientasi tertentu. Tekstur Suatu kenampakan yang berhubungan dengan ukuran dan bentuk butir serta susunannya (Pittijohn, 1975). Adapun tekstur meliputi:

1. Ukuran butir (Grain Size )


Tabel 3. Skala Wentworth (http://zonegeologi.blogspot.com/2010/08/batuansedimen.html)

19

2. Pemilahan (Sorting )

Gambar 7. Derajat Pemilahan (PPT Praktikum Geologi Dasar 2012 IST AKPRIND)

3. Kebundaran

Gambar 8. Kebundaran (PPT Praktikum Geologi Dasar 2012 Teknik Geologi IST AKPRIND)

4. Kemas (Fabric ) Di dalam batuan sedimen klastik dikenal 2 (dua) macam kemas, yaitu: 1. Kemas terbuka butiran tdk saling brsentuhan 2. Kemas tertutup butiran saling brsentuhan satu dngan yang lainnya.

20

Gambar 9. Kemas Terbuka dan Kemas Tertutup (PPT Praktikum Geologi Dasar 2012 Teknik Geologi IST AKPRIND)

Komposisi Di dalam batuan sedimen klastis, ada 3 komposisi: 1. Fragmenbagian butiran yg ukurannya paling besar. 2. Matrik lebih kecil dari fragmen, terletak di antara fragmen massa dasar 3. Semen bukan butiran, tpi materian pengisi rongga antar butir. sebagai

Cara Pendeskripsian Batuan Sedimen Non Klastik Warna (secara kasat mata) Kenampakan langsung yang dapat dilihat. Warna segar Warna lapuk

21

Struktur: Berfosil

Gambar 10 . Batuan Berfosil (PPT Praktikum Geologi Dasar 2012 Teknik Geologi IST AKPRIND)

Oolitis: fragmen-fragmen klastik diselubungi oleh mineral non klastik (biasanya mineral karbonat), dengan ukuran lebih kecil dari 2 mm

Gambar 11. Batuan Berfragmen (PPT Praktikum Geologi Dasar 2012 Teknik Geologi IST AKPRIND)

22

Pisolitis: seperti oolitis, tapi ukurannya lebih besar dari 2 mm

Gambar 12. Batuan Berfragmen besar (PPT Praktikum Geologi Dasar 2012 Teknik Geologi IST AKPRIND)

Tekstur: Adapun tekstur meliputi: Amorf (tidak kristalin)

Gambar 13. Amorf


(PPT Praktikum Geologi Dasar 2012 Teknik Geologi IST AKPRIND)

23

Kristalin.

Gambar 14. Kristalin (PPT Praktikum Geologi Dasar 2012 Teknik Geologi IST AKPRIND)

Komposisi mineral: Komposisi mineral sederhana, karena hasil kristalisasi dari larutan kimia. Contoh: batugamping (kalsit, dolomit), gypsum (mineral gypsum), chert (kalsedon) dsb. II.3. Pengenalan Batuan Metamorf Batuan metamorf adalah batuan yang terbentuk sebagai akibat dari proses metamorfosa pada batuan yang sudah ada karena perubahan temperatur(T), tekanan (P), atau Temperatur (T) dan Tekanan (P) secara bersamaan. Batuan metamorf diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) kelas atas dasar derajat

metamorfosanya, yaitu: (1). Batuan metamorfosa derajat rendah; (2). Batuan metamorfosa derjat menengah, dan (3). Batuan metamorf derajat tinggi.

24

II.3.1. Pengertian Batuan Metamorf adalah batuan yang terbentuk dari proses metamorfisme, dimana terjadi perubahan atau altereasi; physical (struktur, tekstur) dan chemical dari suatu batuan pada temperatur dan tekanan tinggi di dalam kerak bumi. Proses metamorfisme adalah perubahan batuan yang sudah ada menjadi batuan metamorf karena perubahan tekanan dan temperature yang besar. Batuan metamorf dapat berasal dari batuan beku, batuan sedimen , maupun batuan metamorf yang sudah ada. Kata metamorf sendiri artinya adalah perubahan bentuk. Media atau agen yang menyebabkan terjadinya proses metamorfisme adalah panas, tekanan, dan cairan kimia aktif. Sedangkan perubahan yang terjadi pada batuannya adalah sifat fisik dan komposisi mineral. Proses metamorfisme terjadi apabila kondisi lingkungan batuan

mengalami perubahan yang tidak sama dengan kondisi pada waktu batuan tersebut terbentuk, sehingga batuan menjadi tidak stabil. Untuk mendapatkan kestabilannya kembali pada kondisi yang baru, maka batuan mengalami perubahan. Perubahan tersebut terjadi pada kondisi tekanan dan temperatur yang beberapa kilometer di bawah permukaan bumi. Proses metamorfisme tersebut terbagi menjadi tiga macam yakni metamorfisme kontak, dinamik dan regional II.3.2. Klasifikasi Batuan Metamorf Klasifikasi ini di tinjau dari unsur-unsur kimia yang terkandung di dalam batuan metamorf yang akan mencirikan batuan asalnya. Berdasarkan komposisi kimianya batuan metamorf terbagi menjadi 5 kelompok, yaitu :

25

Calcic Metamorphic Rock adalah batuan metamorf yang berasal dari batuan yang bersifat kalsik (kaya unsur Al), umumnya terdiri atas batulempung dan serpih. Contoh: batusabak dan Phyllite. Quartz Feldsphatic Rock adalah batuan metamorf yang berasal dari batuan yang kaya akan unsur kuarsa dan feldspar. Contoh : Gneiss Calcareous Metamorphic Rock adalah batuan metamorf yang berasal dari batugamping dan dolomit. Contoh : Marmer Basic Metamorphic Rock adalah batuan metamorf yang berasal dari batuan beku basa, semibasa dan menengah, serta tufa dan batuan sedimen yang bersifat napalan dengan kandungan unsur K, Al, Fe, Mg. Magnesia Metamorphic Rock adalah batuan metamorf yang berasal dari batuan yang kaya akan Mg. Contoh : serpentit, sekis. II.3.3. Cara Pemerian Batuan Metamorf A. Struktur 1. Struktur Foliasi Struktur batuan metamorf yang disebabkan oleh adanya penjajaran mineralmineral penyusun batuan. Dibedakan menjadi :

26

Slaty cleavage ,yaitu kenampakan pada batuan metamorf yang berbutir halus ditunjukkan oleh bidang belah yang sangat rapat. Nama batuannya adalah slate (batu sabak).

Phyllitic, yaitu struktur yang bidangnya tidak rata dan hampir sama dengan slaty cleavage tetapi tingkatannya lebih tinggi ditunjukkan oleh kilap sutera yang disebabkan oleh adanya mika yang sangat halus. Nama batuannya adalah filit.

Schistosic, yaitu strukturnya disebabkan oleh penjajaran mineral-mineral yang pipih. Kenampakan belahannya lebih jelas dari filit sehingga lebih mudah dibelah. Nama batuannya disebut sekis.

Gneissic, yaitu struktur foliasi yang diperlihatkan leh penjajaran mineralmineral granular / berbutir kasar. Dan umumnya berupa kuarsa dan feldspar. Nama batuannya adalah gneiss.

2. StrukturNonfoliasi Struktur batuan metamorf yang dicirikan dengan tidak adanya penjajaran mineral yang ada dalam batuan metamorf. Dan struktur ini dibedakan lagi menjadi : Hornfelsik : struktur yang dimana butirnya equidimensional dan tidak menunjukkan pengarahan atau orientasi. Nama batuannya adalah hornfels. Kataklistik : struktur yang terdiri dari pecahan fragmen batuan dan tidak menunjukkan arah. Misalnya breksi patahan. Milonitik : butiran lebih halus dari kataklistik dan dapat dibelah.

27

Phyllonit : pecahan-pecahan atau fragmen batuan dan mineral dan butirannya lebih besar.

B. Tekstur 1. Kristaloblastik Mineral-mineral batuan asal sudah mengalami kristalisasi kembali seluruhnya pada waktu terjadi metamorfisme. Tekstur ini masih dibagi lagi menjadi 6,yaitu : Porfiroblastik Granoblastik Lepidoblastik : dijumpai porfiroblast di dalam suatu massa dasar. : butir butir mineral berukuran seragam. : mineral-mineral yan g sejajar dan terarah adalah

mineral-mineral pipih. Nematoblastik mineral prismatik. Idioblastik Xenoblastik : mineral-mineralnya euhedral (batas kristalnya baik) : mineral-mineralnya anhedral (batas kristalnya jelek) : mineral-mineral yang sejajar dan terarah mineral-

2. Relict texture / tekstur sisa tekstur batuan metamorf yang masih menunjukkan tekstur batuan asalnya. Macam-macamnya yaitu : Blastoporfiritik tampak. Blastofitik tampak. : sisa tekstur ofitik batuan asal (batuan beku) masih : sisa tekstur porfiritik batuan asal (batuan beku) masih

28

C. Komposisi Mineral Pada Umumnya mineral yang terbentuk adalah kuarsa, mineral mika, feldspar, klorit, amphibol, dan piroksen.

29

BAB III PENGENALAN FOSIL III.1. Pendahuluan Fosil berasal dari bahasa latin, yaitu fosilis yang berarti sisa

menggali/mengambil sesuatu

dari dalam tanah. Fosil adalah Jejak atau

kehidupan baik langsung / tidak langsung terawetkan dalam lapisan kulit bumi, terjadi secara alami dan mempunyai umur geologi ( > 500.000 tahun ). Fosil-fosil yang sampai kepada kita adalah bagian-bagian tubuh suatu organisme, atau sisa-sisa yang ditinggalkan saat mahluk hidup terkait masih hidup (yang terakhir ini disebut fosil jejak). Fosil terbentuk ketika binatang atau tumbuhan mati terawetkan sebelum sempat membusuk sempurna, lalu menjadi bagian dari batuan endapan Bumi. Agar proses pemfosilan berlangsung, binatang atau tumbuhan harus cepat-cepat terkubur-biasanya dengan cara dibungkus lapisan lempung. Secara umum, hal itu diikuti oleh proses kimiawi, dengan mana pengawetan terjamin lewat cara perubahan mineral yang terjadi pada jaringanjaringan asli. Fosil adalah petunjuk terpenting rincian kehidupan prasejarah. Dari berbagai kawasan dunia, ratusan juta fosil telah diperoleh dan semuanya memberikan sebuah jendela untuk melihat sejarah dan struktur kehidupan di Bumi. Jutaan fosil menandakan bahwa spesies-spesies muncul mendadak, terbentuk sempurna dan beserta struktur rumitnya, dan tidak mengalami

perubahan apapun selama jutaan tahun setelah itu. Inilah penting bahwa kehidupan dimunculkan dari ketiadaan dengan kata lain, kehidupan itu diciptakan.

29

30

Syarat-syarat terbentuknya Fosil Organisme memiliki bagian dalam yang keras, cangkang atau kulit yang keras yang dapat terawetkan bisa berupa gigi, cangkang, tulang atau jaringan kayu pada tanaman Organisme tersebut harus terhindar dari kehancuran setelah mati atau utuh Organisme segera terkubur oleh material yang dapat menahan terjadinya pembusukan di dalam lingkungan pengendapan atau belum tertransportasi dri tempat awal orgnisme tersebut terkubur. III.2. Jenis-jenis Fosil 1. Organisme itu sendiri Tipe pertama ini adalah binatangnya itu sendiri yang terawetkan/tersimpan. Dapat berupa tulang, daun, cangkang, dan hampir semua yang tersimpan ini adalah bagian dari tubuhnya yangkeras. Dapat juga berupa binatangnya yang secara lengkap (utuh) tersipan, misalnya Fosil Mammoth yang terawetkan karena es, ataupun serangga yang terjebak dalam amber (getah tumbuhan). Contoh fosil yang dihasilkan dari organisme itu sendiri:

Gambar 14. Fosil Organisme (http://berita-iptek.blogspot.com/2008/11/cara-terbentuknya-fosil.html.)

31

2. Sisa-sisa Aktifitasnya Secara mudah pembentukan fosil dapat melalui beberapa jalan, antara lain seperti yang terlihat dibawah ini. Fosil sisa aktifitasnya sering juga disebut dengan Trace Fosil (Fosil jejak), karena yang terlihat

hanyalah sisa-sisa aktifitasnya. Jadi ada kemungkinan fosil itu bukan bagian dari tubuh binatang atau tumbuhan itu sendiri. Penyimpanan atau pengawetan fosil cangkang ini dapat berupa cetakan. Namun cetakan tersebut dapat pula berupa cetakan bagian dalam (internal mould) dicirikan bentuk permukaan yang halus, atau external mould dengan ciri permukaan yang kasar. Keduanya bukan binatangnya yang tersimpan, tetapi hanyalah cetakan dari binatang atau organisme itu. Contoh Fosil Berupa Jejak :

Gambar 16. Fosil Berupa Jejak (http://berita-iptek.blogspot.com/2008/11/cara-terbentuknya-fosil.html)

32

3. Fosil tidak terubah, semua bagian organisme atau hewan yang terawetkan,

baik yang lunak maupun yang keras. Contoh: mammoth yang terawetkan di dalam es di Siberia.

Gambar 17 . Mammoth terawetkan (PPT Praktikum Geologi Dasar 2012 Teknik Geologi IST AKPRIND)

4. Fosil yang mengalami perubahan, dapat berupa: a. Permineralisasi/ petrifikasi : bagian organisme yang porous (pori-pori) terisi oleh mineral-mineral sekunder, akibatnya fosil menjadi lebih berat dan lebih tahan terhadap pelapukan.

Gambar 18. Fosil gastropoda yang sudah mengalami permineralisasi (PPT Praktikum Geologi Dasar 2012 Teknik Geologi IST AKPRIND)

33

b. Replacement atau mineralisasi : mineral-mineral sekunder mengganti semua material fosil asli, hasilnya berupa jiplakan dari fosil asli, mineral sekunder biasanya berupa material karbonatan, silikatan atau senyawa besi.

Gambar 19. Fosil kayu yang mengalami replacement (PPT Praktikum Geologi Dasar 2012 Teknik Geologi IST AKPRIND)

c. Rekristalisasi : setiap butiran yang sangat halus dari material asli bagian yang keras mengalami penyusunan kembali ke dalam kristal-kristal yang lebih besar, biasanya tidak ada material baru yang masuk maupun keluar sehingga tidak terjadi perubahan bantuk luar dari bagian yang keras.

Gambar 20.Contoh Rekristalisasi (PPT Praktikum Geologi Dasar 2012 Teknik Geologi IST AKPRIND)

34

5. Fosil berupa fragmen, berupa fragmen dalam batuan sedimen yang dapat berubah dan tidak berubah.

Gambar 21. Batuan sedimen yang tersusun oleh fragmen-fragmen fosil gastropoda (PPT Praktikum Geologi Dasar 2012 Teknik Geologi IST AKPRIND)

III.3. Cara Pengamatan Fosil Fosil yang terdapat di alam mempunyai ukuran yang beragam, dari yang besar hingga kecil, sehingga perlu alat untuk melihatnya. Cara pengamatan dibagi 2 cara: Makro paleontologi, pengamatan tidak perlu alat bantu (mikroskop). Mikro paleontologi, pengamatan perlu menggunakan mikroskap.

Pada dunia organik kehidupan dialam dibagi menjadi 2 kelompok besar (kingdom) yaitu animal/ binatang dan plant/tumbuhan. Kerajaan besar ini dibagibagi lagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dengan urutan: Kingdom Phylum Class Ordo Family Genus Spesies

35

BAB IV PENGENALAN GEOLOGI STRUKTUR IV.1. Pengertian Geologi Struktur Geologi struktur adalah bagian dari ilmu geologi yang mempelajari tentang bentuk (arsitektur) batuan sebagai hasil dari proses deformasi. Adapun deformasi batuan adalah perubahan bentuk dan ukuran pada batuan sebagai akibat dari gaya yang bekerja di dalam bumi. Secara umum pengertian geologi struktur adalah ilmu yang mempelajari tentang bentuk arsitektur batuan sebagai bagian dari kerak bumi serta menjelaskan proses pembentukannya. Beberapa kalangan berpendapat bahwa geologi struktur lebih ditekankan pada studi mengenai unsurunsur struktur geologi, seperti perlipatan (fold), rekahan (fracture), patahan (fault), dan sebagainya yang merupakan bagian dari satuan tektonik (tectonic unit), sedangkan tektonik dan geotektonik dianggap sebagai suatu studi dengan skala yang lebih besar, yang mempelajari obyek-obyek geologi seperti cekungan sedimentasi, rangkaian pegunungan, lantai samudera, dan sebagainya. IV.2. Macam-macam Geologi Struktur Dalam geologi dikenal 3 jenis struktur yang dijumpai pada batuan sebagai produk dari gaya gaya yang bekerja pada batuan, yaitu: (1). Kekar (fractures) dan Rekahan (cracks); (2). Perlipatan (folding); dan (3). Patahan/Sesar (faulting). Ketiga jenis struktur tersebut dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis unsur struktur, yaitu:

35

36

A. Kekar (Fractures) Kekar adalah struktur retakan/rekahan terbentuk pada batuan akibat suatu gaya yang bekerja pada batuan tersebut dan belum mengalami pergeseran. Secara umum dicirikan oleh: a). Pemotongan bidang perlapisan batuan; b). Biasanya terisi mineral lain (mineralisasi) seperti kalsit, kuarsa dsb; c) kenampakan breksiasi. Struktur kekar dapat dikelompokkan berdasarkan sifat dan karakter retakan/rekahan serta arah gaya yang bekerja pada batuan tersebut. Kekar yang umumnya dijumpai pada batuan adalah sebagai berikut: I. Shear Joint (Kekar Gerus) adalah retakan/rekahan yang membentuk pola saling berpotongan membentuk sudut lancip dengan arah gaya utama. Kekar jenis shear joint umumnya bersifat tertutup. II. Tension Joint adalah retakan/rekahan yang berpola sejajar dengan arah gaya utama, Umumnya bentuk rekahan bersifat terbuka. III. Extension Joint (Release Joint) adalah retakan/rekahan yang berpola tegak lurus dengan arah gaya utama dan bentuk rekahan umumnya terbuka.

Gambar 22. Kekar Tensional dan Kekar Gerus

(http://id.wikipedia.org/wiki/Geologi_struktur )

37

B. Lipatan (Folds) Lipatan adalah deformasi lapisan batuan yang terjadi akibat dari gaya tegasan sehingga batuan bergerak dari kedudukan semula membentuk lengkungan. Berdasarkan bentuk lengkungannya lipatan dapat dibagi dua, yaitu a). Lipatan Sinklin adalah bentuk lipatan yang cekung ke arah atas, sedangkan lipatan antiklin adalah lipatan yang cembung ke arah atas. Berdasarkan kedudukan garis sumbu dan bentuknya, lipatan dapat dikelompokkan menjadi : I. II. Lipatan Paralel adalah lipatan dengan ketebalan lapisan yang tetap. Lipatan Similar adalah lipatan dengan jarak lapisan sejajar dengan sumbu utama. III. Lipatan Harmonik atau Disharmonik adalah lipatan berdasarkan menerus atau tidaknya sumbu utama. IV. V. VI. VII. Lipatan Ptigmatik adalah lipatan terbalik terhadap sumbunya. Lipatan Chevron adalah lipatan bersudut dengan bidang planar. Lipatan Isoklin adalah lipatan dengan sayap sejajar. Lipatan Klin Bands adalah lipatan bersudut tajam yang dibatasi oleh permukaan planar.

38

Gambar 23. Pegunungan Lipatan (Folded Mountains) sebagai hasil dari produk tektonok (orogenesa) (Noor, Djauhari (2009))

Hubungan Antara Lipatan dan Patahan Batuan yang berbeda akan memiliki sifat yang berbeda terhadap gaya tegasan yang bekerja pada batuan batuan tersebut, dengan demikian kita juga dapat memperkirakan bahwa beberapa batuan ketika terkena gaya tegasan yang sama akan terjadi retakan atau terpatahkan, sedangkan yang lainnya akam terlipat. Ketika batuan batuan yang berbeda tersebut berada di area yang sama, seperti batuan yang bersifat lentur menutupi batuan yang bersifat retas, maka batuan yang retas kemungkinan akan terpatahkan dan batuan yang lentur mungkin hanya melengkung atau terlipat diatas bidang patahan. Demikian juga ketika batuan batuan yang bersifat lentur mengalami retakan dibawah kondisi tekanan yang tinggi, maka batuan tersebut kemungkinan terlipat sampai pada titik tertentu kemudian akan mengalami pensesaran, membentuk suatu patahan.

39

Gambar 24. Batuan yang bersifat lentur diatas batuan yang rentas yang tidak ikut terpatahkan (atas) dan Batuan yang bersifat lentur yang tersesarkan (dragfold) (Noor, Djauhari (2009))

C. Patahan/Sesar (Faults) Patahan / sesar adalah struktur rekahan yang telah mengalami pergeseran. Umumnya disertai oleh struktur yang lain seperti lipatan, rekahan dsb. Adapun di lapangan indikasi suatu sesar / patahan dapat dikenal melalui : a) Gawir sesar atau bidang sesar; b). Breksiasi, gouge, milonit, ; c). Deretan mata air; d). Sumber air panas; e). Penyimpangan / pergeseran kedudukan lapisan; f) Gejala-gejala struktur minor seperti: cermin sesar, gores garis, lipatan dsb.

40

Sesar dapat dibagi kedalam beberapa jenis/tipe tergantung pada arah relatif pergeserannya. Selama patahan/sesar dianggap sebagai suatu bidang datar, maka konsep jurus dan kemiringan juga dapat dipakai, dengan demikian jurus dan kemiringan dari suatu bidang sesar dapat diukur dan ditentukan. Dip Slip Faults adalah patahan yang bidang patahannya menyudut (inclined) dan pergeseran relatifnya berada disepanjang bidang patahannya atau offset terjadi disepanjang arah kemiringannya. Sebagai catatan bahwa ketika kita melihat pergeseran pada setiap patahan, kita tidak mengetahui sisi yang sebelah mana yang sebenarnya bergerak atau jika kedua sisinya bergerak, semuanya dapat kita tentukan melalui pergerakan relatifnya. Untuk setiap bidang patahan yang yang mempunyai kemiringan, maka dapat kita tentukan bahwa blok yang berada diatas patahan sebagai hanging wall block dan blok yang berada dibawah patahan dikenal sebagai footwall block. Normal Faults adalah patahan yang terjadi karena gaya tegasan tensional horisontal pada batuan yang bersifat retas dimana hangingwall block telah mengalami pergeseran relatif ke arah bagian bawah terhadap footwall block. Horsts & Gabens Dalam kaitannya dengan sesar normal yang terjadi sebagai akibat dari tegasan tensional, seringkali dijumpai sesar-sesar normal yang berpasang pasangan dengan bidang patahan yang berlawanan. Dalam kasus yang demikian, maka bagian dari blok-blok yang turun akan membentuk graben sedangkan pasangan dari blok-blok yang terangkat sebagai horst. Contoh kasus dari pengaruh gaya tegasan tensional yang bekerja pada kerak bumi pada saat ini adalah East African Rift Valley suatu wilayah dimana terjadi pemekaran benua

41

yang menghasilkan suatu Rift. Contoh lainnya yang saat ini juga terjadi pemekaran kerak bumi adalah wilayah di bagian barat Amerika Serikat, yaitu di Nevada, Utah, dan Idaho.

Gambar 25. Sesar / Patahan Normal yang disebabkan oleh gaya tegasan tensional horisontal, dimana hangingwall bergerah kebagian bawah dari footwall. (Noor, Djauhari (2009))

Gambar 26. Rangkaian patahan normal sebagai hasil dari gaya tegasan tensional horisontal yang membentuk Horst dan Graben. (Noor, Djauhari (2009))

Half-Grabens adalah patahan normal yang bidang patahannya berbentuk lengkungan dengan besar kemiringannya semakin berkurang kearah bagian bawah sehingga dapat menyebabkan blok yang turun mengalami rotasi.

42

Gambar 27 . Patahan normal yang bidang patahannya berbentuk lengkungan dengan besar bidang kemiringannya semakin mengecil kearah bagian bawah. (Noor, Djauhari (2009))

Gambar 28. Berbagai jenis patahan normal sebagai hasil dari gaya tegasan tensional horisontal . (Noor, Djauhari (2009))

Reverse Faults adalah patahan hasil dari gaya tegasan kompresional horisontal pada batuan yang bersifat retas, dimana hangingwall block berpindah relatif kearah atas terhadap footwall block.

43

Gambar 29. Reverse Fault sebagai hasil dari gaya tegasan kompresional, dimana bagian hangingwall bergerak relatif kebagian atas dibandingakan footwallnya . (Noor, Djauhari (2009))

A Thrust Fault adalah patahan reverse fault yang kemiringan bidang patahannya lebih kecil dari 150. . Pergeseran dari sesar Thrust fault dapat mencapai hingga ratusan kilometer sehingga memungkinkan batuan yang lebih tua dijumpai menutupi batuan yang lebih muda.

Gambar 30. Thrust Fault (Noor, Djauhari (2009))

Strike Slip Faults adalah patahan yang pergerakan relatifnya berarah horisontal mengikuti arah patahan. Patahan jenis ini berasal dari tegasan geser yang bekerja di dalam kerak bumi. Patahan jenis strike slip fault dapat dibagi menjadi 2(dua) tergantung pada sifat pergerakannya. Dengan mengamati pada salah satu sisi bidang patahan dan dengan melihat kearah bidang patahan yang berlawanan, maka jika bidang pada salah satu sisi bergerak kearah kiri kita sebut sebagai

44

patahan left-lateral strike-slip fault. Jika bidang patahan pada sisi lainnya bergerak ke arah kanan, maka kita namakan sebagai right-lateral strike-slip fault. Contoh patahan jenis strike slip fault yang sangat terkenal adalah patahan San Andreas di California dengan panjang mencapai lebih dari 600 km.

Gambar 31. Strike Slip Fault adalah patahan yang pergerakan relatifnya berarah horisontal mengikuti arah patahan (Noor, Djauhari (2009))

Gambar 32. Peta sebaran batuan yang memperlihatkan pergeseran (off set) batuan disepanjang bidang patahan mendatar (strike slip fault) jenis left-lateral strike-slip fault dimana blok kiri bergerak relatif ke selatan dan blok kanan bergerak relatif ke utara (Noor, Djauhari (2009))

45

Transform-Faults adalah jenis patahan strike-slip faults yang khas terjadi pada batas lempeng, dimana dua lempeng saling berpapasan satu dan lainnya secara horisontal. Jenis patahan transform umumnya terjadi di pematang samudra yang mengalami pergeseran (offset), dimana patahan transform hanya terjadi diantara batas kedua pematang, sedangkan dibagian luar dari kedua batas pematang tidak terjadi pergerakan relatif diantara kedua bloknya karena blok tersebut bergerak dengan arah yang sama. Daerah ini dikenal sebagai zona rekahan (fracture zones). Patahan San Andreas di California termasuk jenis patahan transform fault.

Gambar 33 . Patahan jenis Transform-Fault hanya terjadi diantara batas kedua pematang samudra (Noor, Djauhari (2009))

46

BAB V PENGENALAN PERALATAN GEOLOGI V.1. Pendahuluan Dalam bidang pengenalan alat diperlukan alat-alat dan bahan pengumpul data penelitian dan bahan yang ingin diamati. Perkembangan alat dan bahan untuk suatu masalah telah mengalami perkembangan alat dan bahan untuk suatu masalah telah mengalami perkembangan yang cepat dan hampir tidak ada seperti kristal batuan,sempel batuan,tiruan fosil maka perlu jga alat yang berguna untuk meneliti. Alat-alat geologi sebagai alat ukur fenomena geologi dan media pembelajaran dan menjunjung kemampuan pemahaman dan keterampilan mahasiswa tentang konsep geologi. V.2. Macam-macam peralatan geologi dan cara penggunaannya A.Kompas Kompas adalah alat navigasi untuk mencari arah berupa sebuah panah penunjuk magnetis yang bebas menyelaraskan dirinya dengan medan magnet bumi secara akurat. Kompas memberikan rujukan arah tertentu, sehingga sangat membantu dalam bidang navigasi. Arah mata angin yang ditunjuknya adalah utara, selatan, timur, dan barat. Apabila digunakan bersama-sama dengan jam dan sekstan, maka kompas akan lebih akurat dalam menunjukkan arah. Alat ini membantu perkembangan perdagangan maritim dengan membuat perjalanan jauh lebih aman dan efisien dibandingkan saat manusia masih berpedoman pada

46

47

Kedudukan bintang untuk menentukan arah. Alat apa pun yang memiliki batang atau jarum magnetis yang bebas bergerak menunjuk arah utara magnetis dari magnetosfer sebuah planet sudah bisa dianggap sebagai kompas.

Gambar 34. Kompas


http://franzbonbon.blogspot.com/2011/01/peralatan-geologi.html

Bagian Utama Kompas Bagian utama kompas geologi adalah: 1. Jarum Kompas Ujung jarum kompas selalu mengarah ke kutub utara megnetik bumi, biasanya diberi tanda warna kuning. 2.LingkaranPembagianDerajat Dibagi dua, yaitu kompas azimuth dan kompas kwardan.

-Kompas azimuth, mempunyai pembagian derajat, mulai dari 0 derajat (utara) sampai 360 derajat (kembali ke utara) yang ditulis berlawanan arah jarum jam, dan pembacaannya juga demikian.

48

- Kompas kwardan, mempunyai pembagian derajat mulai dari derajat pada arah utara dan selatan sampai 90 derajat pada arah timur dan barat. pembacaan dimulai dari arah utara atau selatan kea rah timur atau barat sesuai kedudukan jarum kompas. 3. Klinometer Merupakan rangkaian alat yang digunakan untuk mengukur besarnya kemiringan bidang. rangkaian alat tersebut terdiri dari Nivo tabung, penunjuk skala, busur setengah lingkaran berskala. pada bagian atas busur bernilai 00 di tengahnya. pada bagian tepinya bernilai 900. pada bagian bawah busur, skala bernilai 0% dan di tengah dan 100% tepat pada 450 (tan 45=1=100%). klinometer dapat digerakkan dengan menggerakkan tangkai di belakang kompas. 4. Pengatur Horizontal Alatnya adalah sebuah nivo bulat yang bergandengan dengan klinometer. kedudukan kompas horizontal bila gelembung udara tepat di tengah lingkaran. 5. Pengatur Arah Rangkaian alatnya terdiri dari sighting arm, peep sigh, axial line, felding sight, dan sight window. alat-alat tersebut dibantu dengan cermin. bila kompas ditembakkan ke sasaran, semua rangkaian alat tersebut harus bearada di garis

49

B. Peta Dasar (Base Map) Peta dasar berguna untuk mengetahui gambaran secara garis besar terhadap daerah yang akan kita selidiki, sehingga memudahkan penelitian lapangan baik litologi, morfologi, struktur, dan lain-lain. Selain itu, peta dasar digunakan juga untuk menentukan lokasi dan pengeplotan data. Umumnya peta dasar yang digunakan adalah peta topografi/ kontur. C.Palu Batuan Beku Atau disebut juga pick point, yaitu jenis palu yang berujung runcing dan umumnya dipakai untuk jenis batuan keras. Selain digunakan untuk batuan beku, palu ini juga bias digunakan untuk batuan metamorf.

Gambar 35. Palu Batuan Beku (http://franzbonbon.blogspot.com/2011/01/peralatan-geologi.html)

D. Palu Batuan Sedimen Disebut juga chisel point, yaitu jenis yang berujung lebar seperti pahat umumnya dipakai untuk batuan berlapis seperti sedimen.

50

Gambar 36. Palu Batuan Sedimen (http://franzbonbon.blogspot.com/2011/01/peralatan-geologi.html)

E.Lup Lup atau kaca pembesar adalah sebuah lensa cembung yang mempunyai titik fokus yang dekat dengan lensanya. Benda yang akan diperbesar terletak di dalam titik fokus lup itu atau jarak benda ke lensa lup tersebut lebih kecil dibandingkan jarak titik fokus lup ke lensa lup tersebut. Bayangan yang dihasilkan bersifat tegak, nyata, dan diperbesar. Lup ditemukan oleh seorang dari Arab bernama Abu Ali al-Hasan Ibn Al-Haitham. Lup digunakan untuk membantu mengamati batuan. lupa yang umumnya dipakai di lapangan adalah yang pembessarannya 8 sampai 20 kali.

Menghitung Jarak Titik Fokus Lup

Titik fokus suatu lup menentukan perbesaran yang dihasilkan, oleh karena itu titik fokusnya adalah besaran yang perlu diketahui (lihat juga dibawah). Dalam

51

penggunaan sehari-hari jarak titik fokus dari sebuah lup dapat ditentukan dengan percobaan sederhana cahaya dapat dikumpulkan di satu titik yang berjarak tertentu dari lensa lup. Apabila cahaya mencapai tingkat energi yang tinggi maka kertas, serpih kayu, atau lainnya dapat terbakar ketika diletakkan di bawah lup tersebut. Dalam hal ini cahaya dikumpulkan di sebuah titik yang disebut titik fokus atau titik api yang sifatnya maya atau semu bukan nyata atau di belakang lensa tersebut.

Metode lain yang lebih nyata untuk menentukan jarak titik fokus atau disebut juga Autoklimasi dapat menggunakan: persamaan gambar Newtonschen (juga dapat diturunkan dari persamaan lensa) Metode Bessel Metode Abbe F. Alat Ukur Biasanya yang dipakai adalah tali ukur atau meter (roll meter atau lipat). berukuran dengan skala cm atau ukuran standar lainnya. dipakai untuk mengukur G.HCl Asam klorida adalah larutan akuatik dari gas hidrogen klorida (HCl). Ia adalah asam kuat, dan merupakan komponen utama dalam asam lambung. Senyawa ini juga digunakan secara luas dalam industri. Asam klorida harus ditangani dengan wewanti keselamatan yang tepat karena merupakan cairan yang sangatkorosif.Asam klorida pernah menjadi zat yang sangat penting dan ketebalan lapisan, lebar singkapan, dan lain-lain.

52

sering digunakan dalam awal sejarahnya. Ia ditemukan oleh alkimiawan Persia Abu Musa Jabir bin Hayyan sekitar tahun 800. Senyawa ini digunakan sepanjang abad pertengahan oleh alkimiawan dalam pencariannya mencari batu filsuf, dan kemudian digunakan juga oleh ilmuwan Eropa termasuk Glauber, Priestley, and Davy dalam rangka membangun pengetahuan kimia modern. Pada saat di lapangan, HCl digunakan untuk menguji kadar karbonat pada batuan. HCl yang digunakan sebaiknya tidak terlalu pekat, umumnya yang dipakai adalah yang 0,1 N. H.Kantong sampel Kantong sampel atau kantong contoh batuan dapat digunakan kantong plastik yang kuat atau kantong jenis lainnya asal kuat yang dapat dipakai untuk membungkus contoh-contoh batuan dengan alat yang baik, yaitu dengan ukuran kurang lebih 13 x 9 x 3 cm.

53

BAB VI PENGENALAN PETA TOPOGRAFI VI.1. Pendahuluan Peta topografi adalah jenis peta yang ditandai dengan skala besar dan detail, biasanya menggunakan garis kontur dalam pemetaan modern. Sebuah peta topografi biasanya terdiri dari dua atau lebih peta yang tergabung untuk membentuk keseluruhan peta. Sebuah garis kontur merupakan kombinasi dari dua segmen garis yang berhubungan namun tidak berpotongan, ini merupakan titik elevasi pada peta topografi. Sebuah peta topografi adalah representasi grafis secara rinci dan akurat mengenai keadaan alam di suatu daratan. Penulis lain mendefinisikan peta topografi dengan membandingkan mereka dengan jenis lain dari peta, mereka dibedakan dari skala kecil "peta sorografi" yang mencakup daerah besar, "peta planimetric" yang tidak menunjukkan elevasi, dan "peta tematik" yang terfokus pada topik tertentu Karakteristik unik yang membedakan peta topografi dari jenis peta lainnya adalah peta ini menunjukkan kontur topografi atau bentuk tanah di samping fitur lainnya seperti jalan, sungai, danau, dan lain-lain. Karena peta topografi menunjukkan kontur bentuk tanah, maka peta jenis ini merupakan jenis peta yang paling cocok untuk kegiatan outdoor dari peta kebanyakan.

53

54

VI.2. Bagian-bagian Peta Topografi Peta topografi menggambarkan secara proyeksi dari sebagian fisik bumi, sehingga dengan peta ini bisa diperkirakan bentuk permukaan bumi. Bentuk relief bumi pada peta topografi digambarkan dalam bentuk Garis-Garis Kontur. Dalam menggunakan peta topografi harus diperhatikan kelengkapan petanya, yaitu: 1. Judul Peta Adalah identitas yang tergambar pada peta, ditulis nama daerah atau identitas lain yang menonjol. 2. Keterangan Pembuatan Merupakan informasi mengenai pembuatan dan instansi pembuat. Dicantumkan di bagian kiri bawah dari peta. 3. Nomor Peta (Indeks Peta) Adalah angka yang menunjukkan nomor peta. Dicantumkan di bagian kanan atas. 4. Pembagian Lembar Peta Adalah penjelasan nomor-nomor peta lain yang tergambar di sekitar peta yang digunakan, bertujuan untuk memudahkan penggolongan peta bila memerlukan interpretasi suatu daerah yang lebih luas. 5. Sistem Koordinat Adalah perpotongan antara dua garis sumbu koordinat. Macam koordinat adalah: a. Koordinat Geografis

55

Sumbu yang digunakan adalah garis bujur (BB dan BT), yang berpotongan dengan garis lintang (LU dan LS) atau koordinat yang penyebutannya menggunakan garis lintang dan bujur. Koordinatnya menggunakan derajat, menit dan detik. Misal Co 120 32 12 BT 5 17 14 LS. b. Koordinat Grid Perpotongan antara sumbu absis (x) dengan ordinal (y) pada koordinat grid. Kedudukan suatu titik dinyatakan dalam ukuran jarak (meter), sebelah selatan ke utara dan barat ke timur dari titik acuan. c. Koordinat Lokal Untuk memudahkan membaca koordinat pada peta yang tidak ada gridnya, dapat dibuat garis-garis faring seperti grid pada peta. Skala bilangan dari sistem koordinat geografis dan grid terletak pada tepi peta. Kedua sistern koordinat ini adalah sistem yang berlaku secara internasional. Namun dalam pembacaan sering membingungkan, karenanya pembacaan koordinat dibuat sederhana atau tidak dibaca seluruhnya. 6. Skala Peta Adalah perbandingan jarak di peta dengan jarak horisontal sebenarnya di medan atau lapangan. Rumus jarak datar dipeta dapat di tuliskan JARAK DI PETA x SKALA = JARAK DI MEDAN Penulisan skala peta biasanya ditulis dengan angka non garis (grafis). Misalnya Skala 1:25.000, berarti 1 cm di peta sama dengan 25 m di medan yang sebenarnya.

56

7. Orientasi Arah Utara Pada peta topografi terdapat tiga arah utara yang harus diperhatikan sebelum menggunakan peta dan kompas, karena tiga arah utara tersebut tidak berada pada satu garis. Tiga arah utara tersebut adalah: a. Utara Sebenarnya (True North/US/TN) diberi simbol * (bintang), yaitu utara yang melalui Kutub Utara di Selatan Bumi. b. Utara Peta (Grid Nortb/UP/GN) diberi simbol GN, yaitu Utara yang sejajar dengan garis jala vertikal atau sumbu Y. Hanya ada di peta. c. Utara Magnetis (Magnetic North/UM) diberi simbol T (anak pariah separuh), yaitu Utara yang ditunjukkan oleh jarum kompas. Utara magnetis selalu mengalami perubahan tiap tahunnya (ke Barat atau ke Timur) dikarenakan oleh pengaruh rotasi bumi. Hanya ada di medan. Karena ketiga arah utara tersebut tidak berada pada satu garis, maka akan terjadi penyimpangan-penyimpangan sudut, antara lain: a. Penyimpangan sudut antara US UP balk ke Barat maupun ke Timur, disebut Ikhtilaf Peta (IP) atau Konvergensi Merimion. Yang menjadi patokan adalah Utara Sebenarnya (US). b. Penyimpangan sudut antara US UM balk ke Barat maupun ke Timur, disebut Ikhtilaf Magnetis (IM) atau Deklinasi. Yanmg menjadi patokan adalah l Utara sebenarnya ((IS).

57

c. Penyirnpangan sudut antara UP UM balk ke Barat maupun ke Timur, disebut Ikhtilaf Utara Peta-Utara Magnetis atau Deviasi. Yang menjadi patokan adalah Utara Pela f71). Dengan diagram sudut digambarkan US UP UM TRUE NORTH MAGNETIS NORTH 8. Garis Kontur atau Garis Ketinggian Garis kontur adalah garis khayal dilapangan yang menghubungkan titik dengan ketinggian yang sama atau garis kontur adalah garis kontinyu diatas peta yang memperlihatkan titik-titik diatas peta dengan ketinggian yang sama. Nama lain garis kontur adalah garis tranches, garis tinggi dan garis tinggi horizontal. Garis kontur + 25m, artinya garis kontur ini menghubung kantitik-titik yang mempunyai ketinggian sama +25 m terhadap tinggi tertentu. Garis kontur disajikan di atas peta untuk memperlihatkan naik turunnya keadaan permukaan tanah. Aplikasi lebih lanjut dari garis kontur adalah untuk memberikan informasi slope (kemiringan tanah rata-rata), irisan profil memanjang atau melintang permukaan tanah terhadap jalur proyek (bangunan) dan perhitungan galian serta timbunan (cut and fill) permukaan tanah asli terhadap ketinggian vertikal garis atau bangunan. Garis kontur dapat dibentuk dengan membuat proyeksi tegak garis-garis perpotongan bidang mendatar dengan permukaan bumi ke bidang mendatar peta. Karena peta umumnya dibuat dengan skala tertentu, maka untuk garis kontur ini juga akan mengalami pengecilan sesuai skala peta

58

Bentuk bentuk lembah dan pegunungan dalam kontur Jalan menuju puncak umumnya berada di atas punggung (lihat garis titik-titik sedangkan disisinya terdapat lembah umumnya berisi sungai (lihat garis gelap).

Gambar 37. Peta topografi hipotetik yang mencerminkan suatu daerah yang terlipat dan tersesarkan. (http://nationalinks.blogspot.com/2009/03/peta-topografi-berasal-dari-bahasa.html)

Gambar 38. Peta topografi hipotetis yang mencerminkan suatu wilayah yang tersusun dari perselingan batuan yang resisten dan batuan non-resisten. (http://nationalinks.blogspot.com/2009/03/peta-topografi-berasal-dari-bahasa.html)

59

Sifat-sifat garis kontur, yaitu : a. Garis kontur merupakan kurva tertutup sejajar yang tidak akan memotong satu sama lain dan tidak akan bercabang. b. Garis kontur yang di dalam selalu lebih tinggi dari yang di luar. c. Interval kontur selalu merupakan kelipatan yang sama d. Indek kontur dinyatakan dengan garis tebal. e. Semakin rapat jarak antara garis kontur, berarti semakin terjal Jika garis kontur bergerigi (seperti sisir) maka kemiringannya hampir atau sama dengan 90. f. Pelana (sadel) terletak antara dua garis kontur yang sama tingginya tetapi terpisah satu sama lain. Pelana yang terdapat diantara dua gunung besar dinamakan PASS. g. Garis kontur berharga lebih rendah mengelilingi garis kontur yang lebih tinggi. h. Rangkaian garis kontur yang berbentuk huruf U menandakan punggungan gunung. i. Rangkaian garis kontur yang berbentuk huruf V menandakan suatu lembah/jurang 9. Titik Triangulasi Selain dari garis-garis kontur dapat pula diketahui tinggi suatu tempat dengan pertolongan titik ketinggian, yang dinamakan titik triangulasi Titik Triangulasi adalah suatu titik atau benda yang merupakan pilar atau tonggak yang

60

menyatakan tinggi mutlak suatu tempat dari permukaan laut. Macam-macam titik triangulasi a.Titik Primer, I. 14 , titik ketinggian gol.l, No. 14, tinggi 3120 mdpl. 3120 b. Titik Sekunder, S.45 , titik ketinggian gol.II, No.45, tinggi 2340 rndpl. 2340 c. Titik Tersier, 7: 15 , titik ketinggian gol.III No. 15, tinggi 975 mdpl 975 d. Titik Kuarter, Q.20 , titik ketinggian gol.IV, No.20, tinggi 875 mdpl. 875 e. Titik Antara, TP.23 , titik ketinggian Antara, No.23, tinggi 670 mdpl. 670 f. Titik Kedaster, K.131 , titik ketinggian Kedaster, No.l 31, tg 1202 mdpl. 7202 g. Titik Kedaster Kuarter, K.Q 1212, titik ketinggian Kedaster Kuarter, No. 1212, tinggi 1993 mdpl. 1993 10. Legenda Peta Adalah informasi tambahan untuk memudahkan interpretasi peta, berupa unsur yang dibuat oleh manusia maupun oleh alam. Legenda peta yang penting untuk dipahami antara lain: a. Titik ketinggian b. Jalan setapak c. Garis batas wilayah d. Jalan raya e. Pemukiman f. Air g. Kuburan

61

BAB VII PENGENALAN GEOMORFOLOGI DAN GEOLOGI CITRA PENGINDERAAN JAUH VII.1. Geomorfologi Geomorfologi adalah merupakan salah satu bagian dari geografi. Di mana geomorfologi yang merupakan cabang dari ilmu geografi, mempelajari tentang bentuk muka bumi, yang meliputi pandangan luas sebagai cakupan satu kenampakan sebagai bentang alam (landscape) sampai pada satuan terkecil sebagai bentuk lahan (landform). Pengamatan dan identifikasi bentuk lahan seperti dilakukan langsung di lapangan dengan melakukan field trip atau dapat juga dilakukan dengan interprestasi foto udara atau dengan Analisis Citra Satelit (ACS). Pengindraan jauh sebagai alat bantu untuk memantau atau mengamati objek muka biumi tanpa ada sentuhan secara langsung, anatara lain berupa foto udara atau citra satelit. Bentang lahan akan mudah diidentifikasi dengan pandangan jarak jauh atau kalau menggunakan foto udara atau citra satelit menggunakan skala gambar kecil. Sebaliknya untuk bentang lahan mudah diamati dari jarak dekat atau dengan foto udara atau citra satelit dengan skala lebih besar. Dengan pengamatan dan analisis bentuk lahan dari foto udara akan diperoleh informasi biofisik lainnya baik yang bersifat sebagai parameter tetap (landform, rock, soil, slope) maupun parameter berubah (erosion, terrace, land use). Bentuk lahan walupun mudah diamati dengan foto udara tapi perlu dilakukan pendekatan dengan melakukan mendatangi langsung ke lapangan dalam bentuk
61

62

kunjungan lapangan (field trip). Hal tersebut dimaksudkan untuk lebih memastikan unsur pembentuk landform terisi dari komposisi atau susunan batuan apa saja. Disamping itu dengan survai lapangna akan diperoleh beberapa kunci interpretasi fotro udara (IFU) dari hasil kunjungan lapangan pada berbagai bentuk lahan yang berbeda. Sehingga dengan kunci IFU akan diperoleh analaisis bentuk lahan yang lebih lengkap yang merupakan satu komponen penyusun bentang lahan. Bentuk muka bumi yang kompleks telah menjadi suatu pokok bahasan tersendiri khususnya dalam usaha pemanfaatannya. Dalam hal ini setiap bentukan lahan mempunyai kapasitas berbeda dalam mendukung suatu usaha pemanfaatan yang tentunya mengarah untuk tepat guna. Sehingga dengan tujuan sama yaitu bermaksud menyederhanakan bentuk lahan permukaan bumi yang kompleks ini, maka pemahaman mengenai ilmu geomorfologi yang mempelajari bentukanbentukan lahan menjadi sangat penting. Penyederhanaan muka bumi yang kompleks ini membentuk suatu unit-unit yang mempunyai kesamaan dalam sifat dan perwatakannya. Kesatuan sifat ini meliputi kesamaan struktur geologis atau geomorfologis sebagai asal pembentukannya, proses geomorfologis sebagai pemberi informasi bagaimana lahan terbentuk, dan kesan topografis yang akan memberikan informasi tentang konfigurasi permukaan lahan. Dengan adanya informasi tersebut perencanaan penggunaan lahan secara tepat akan dapat lebih terwujud

63

VII.2. Geologi Citra Penginderaan Jauh Dalam penafsiran kualitatif foto udara tidak ada kunci yang dapat dengan mudah dipakai untuk menentukan dengan pasti suatu jenis batuan. Namun, paling tidak penafsir dapat melokalisasi penyebaran suatu batuan yang nampak pada foto udara, akan mempunyai kunci-kunci yang sama. Mengacu pada kunci-kunci yang sama tersebut diharapkan kemiripan batuan yang ada di lapangan. Kunci-kunci tersebut dijelaskan dibawah ini. I. Kunci Pengenal Merupakan tanda-tanda yang terlihat pada foto udara untuk mengenal suatu benda atau objek yeng terpotret. Ada beberapa kunci pengenal, yaitu : A. Rona (Tone) Rona tejadi karena setiap benda yang terpotret mempunyai sifat memantulkan sinar matahari yang berlainan (ada yang sedikit dan ada yang banyak), maka akibatnya sinar yang menyentuh film jadi berlainan, sehingga dihasilkan rona yang berlainan pada foto udara. Rona cerah dihasilkan oleh benda yang dapat memantulkan sinar matahari, dan sebaliknya. Faktor-faktor yang mempengaruhi rona pada foto udara : 1. Kedudukan benda yang di foto terhadap sinar matahari. 2. Warna batuan. 3. Kelicinan permukaan yang memantulkan sinar. 4. Bayangan awan. 5. Kelembaban udara.

64

6. Tumbuhan penutup. 7. Tanah penutup. Rona dapat dibagi dalam beberapa tingkat, yakni : amat cerah, cerah, abu-abu cerah, abu-abu gelap, gelap dan amat gelap. Rona, selain dapat mengenali beberapa jenis batuan . Ada juga yang disebut linesments yaitu rona yang gelap yang berbentuk garis yang lurus-lurus atau kedudukannya sudut menyudut. Ini disebabkan adanya sturktur geologi seperti patahan atau kekar, sehingga pada daerah tersebut merupakan daerah yang lunak atau lemah. B. Tekstur (Textura) Merupakan hubungan antara rona yang kecil-kecil yang terdapat pada foto udara. Tekstur pada setiap jenis batuan berbeda-beda bergantung pada kemiripan batuan di lapangan. C. Pola (Pattern) Merupakan rangkaian bentuk-bentuk topografi, rona, aliran sungai. Pola pelurusan topografi, pelurusan sungai, pelurusan rona, kemungkinanya sangat erat dengan struktur geologi. D. Hubungan dengan keadaan sekitarnya Bahwa setiap peristiwa geologi akan sangat erat hubungannya satu dengan yang lainnya. Sehingga dalam penafsiran foto udara perlu kita meneliti regionalnya yang kemungkinan dapat memberikan jalan yang lebih terang kepada penafsiran kita.

65

E. Bentuk (Shape) Bentuk merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam foto udara. Dengan melihat bentuk pada foto udara, kita dapat meng-interpretasi daerah yang kita teliti. F. Ukuran (Size) Ukuran dari suatu benda merupakan cerminan dari bentuknya, dengan ukuran interpretasi kita akan lebih terbantu terhadap bentuk benda yang kita teliti. G. Bayangan (Shadow) Dengan adanya bayangan dari benda yang terpotret disampingnya yang juga ikut terpotret, maka dapat dikenali bentu benda yang sebenarnya. II. Kunci Penafsiran Kunci penafsiran merupakan gejala alam yang secara tidak langsung dapat memberikan keterangan kepada penafsir untuk mengetahui keadaan geologi daerah terpotret. Kunci-kunci penafsir itu adalah sebagai berikut : Topografi Topografi merupakan kunci penafsir yang penting sekali. Topografi dapat mengambarkan karakteristik suatu batuan. Pada dasarnya topografi

menggambarkan kekerasan batuan atau daya tahan batuan terhadap tenaga asal luar.

66

Pola aliran Pola aliran dapat diartikan sebagai posisi dan arah aliran sungai-sungai di suatu daerah. Beberapa macam pola aliran sungai, yaitu : o Pola mendaun (denritik) o Pola sejajar (paralel) o Pola memancar (radial) o Pola membulat (annular) o Pola menangga (trellis) o Pola menyudut tegak atau miring (rectangular or angular angulate) o Pola membalik (contorted) Tumbuhan penutup (Vegetasi) Terdapat hubungan yang erat antara tumbuhan, tanah, dan batuan. Vegetasi biasanya merupakan faktor yang paling sering ditemukan sebagai pengganggu dalam menghasilkan kualitas foto udara yang baik. Hal ini disebabkan karena iklim tropis di Indonesia yang memungkinkan vegetasi berkembang dengan sangat cepat. Kebudayaan (Culture) Kebudayan adalah hasil tangan manusia. Apabila kita menemukan perkampungan penduduk, maka akan ditemukan daerah hasil gunungapi atau endapan alluvium yang umumnya dipakai sebagai tempat bercocok tanam. Sehingga daerah ini akan memperlihatkan bentuk yang berbeda dalam foto udara.

67

BAB VIII KESIMPULAN & SARAN KESIMPULAN 1. Mineral adalah Suatu benda padat / tidak selamanya padat yang terbentuk secara alamiah yang merupakan bahan anorganik, mempunyai sifat fisik tertentu, homogen, mempunyai susunan kristal dan mempunyai komposisi kimia. Sifat Fisik minerall adalah warna, perawakan, kilap, kekerasan, cerat, balahan, pecahan, berat jenis, kemagnetan. 2. Pengertian Batuan Beku adalah Jenis batuan yang terbentuk dari magma yang mendingin dan mengeras, dengan atau tanpa proses kristalisasi, baik dibawah permukaan sebagai batuan intrusif (plutonik) maupun diatas permukaan sebagai batuan ekstrusif (vulkanik). Pengertian Batuan Sedimen adalah batuan yang terbentuk akibat litifikasi hancuran batuan lain (dentritus) atau karena hasil proses kimiawi maupun biokimiawi. Pengertian Batuan Metamorf adalah batuan yang terbentuk dari proses metamorfisme, dimana terjadi perubahan atau altereasi; physical (struktur, tekstur) dan chemical dari suatu batuan pada temperatur dan tekanan tinggi di dalam kerak bumi. 3. Fosil adalah Jejak / sisakehidupan baiklangsung / tidak langsung terawetka n dalam lapisan kulit bumi, terjadi secara alami dan mempunyai umur geologi ( > 500.000 tahun )

67

68

4. Geologi struktur adalah bagian dari ilmu geologi yang mempelajari tentang bentuk (arsitektur) batuan sebagai hasil dari proses deformasi. Adapun deformasi batuan adalah perubahan bentuk dan ukuran pada batuan sebagai akibat dari gaya yang bekerja di dalam bumi. 5. Alat-alat geologi sebagai alat ukur fenomena geologi dan media pembelajaran dan menjunjung kemampuan pemahaman dan keterampilan mahasiswa tentang konsep geologi. Alat alat geologi antara lain : Kompas Geologi , Palu Batuan Sedimen , Palu Batuan Beku , Lup , GPS , dll 6. Peta topografi adalah jenis peta yang ditandai dengan skala besar dan detail, biasanya menggunakan garis kontur dalam pemetaan modern. Sebuah peta topografi biasanya terdiri dari dua atau lebih peta yang tergabung untuk membentuk keseluruhan peta. Sebuah garis kontur merupakan kombinasi dari dua segmen garis yang berhubungan namun tidak berpotongan, ini merupakan titik elevasi pada peta topografi 7. Geomorfologi adalah merupakan salah satu bagian dari geografi. Di mana geomorfologi yang merupakan cabang dari ilmu geografi, mempelajari tentang bentuk muka bumi, yang meliputi pandangan luas sebagai cakupan satu kenampakan sebagai bentang alam (landscape) sampai pada satuan terkecil sebagai bentuk lahan (landform).Foto udara adalah salah satu jenis citra penginderaan jauh , sedangkan Penginderaan jauh itu sendiri adalah penggunnaan sensor radiasi elektromagnetik untuk merekam gamabar

69

lingkungan bumi yang dapat diinterpretasikan sehingga menghasilkan informasi yang berguna (Curran , 1985). SARAN 1. Untuk Asisten Dosen terima kasih telah membimbing kami angkatan 2012 dengan sangat baik , tapi kalau bisa setiap praktikum bisa menyediakan Modul agar lebih efektif dalam pembelajaran. 2. Waktu yang diberikan harus lebih tepat waktu lagi agar semua berjalan lebih lancar lagi.

70

DAFTAR PUSTAKA
Aji , Wisnu Saputra , 2011 . Laporan Resmi Praktikum Geologi Dasar. Yogyakarta (tidak dipublikasikan) Miftahussalam. Materi-materi kuliah Teknik GeologiIST AKPRIND Yogyakarta (Noor, Djauhari (2009).pengantar geologi) (PPT Praktikum Geologi Dasar 2012 Teknik Geologi IST AKPRIND) (http://lorenskambuaya.blogspot.com/2012/05/skala-mohs.html) http://berita-iptek.blogspot.com/2008/11/cara-terbentuknya-fosil.html. http://franzbonbon.blogspot.com/2011/01/peralatan-geologi.html http://nationalinks.blogspot.com/2009/03/peta-topografi-berasal-dari-bahasa.html