Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM KIMIA FISIKA

KELARUTAN SEBAGAI FUNGSI TEMPERATUR

Disusun oleh :
1.

Juliana Sari Moelyono

6103008075

2.

Hendra Setiawan

6103008098

3.

Ivana Halingkar

6103008103

4.

Lita Kuncoro

6103008104

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA
SURABAYA
2009

Tujuan Percobaan :
Menentukan pengaruh temperatur terhadap kelarutan zat dan menghitung panas
kelarutannya.
I. Dasar Teori
Larutan adalah campuran homogen antara 2 zat atau lebih. Dalam suatu
larutan, zat yang jumlahnya lebih banyak disebut pelarut, zat yang jumlahnya
sedikit disebut zat terlarut. Partikel-partikel zat terlarut, baik berupa molekul
maupun ion, selalu berada dalam keadaan terhidrasi (terikat oleh molekul-molekul
pelarut air). Makin banyak partikel zat terlarut makin banyak pula molekul air yang
diperlukan untuk menghidrasi partikel zat terlarut itu. (Keenan, 1957).
Faktor-faktor yang menyebabkan zat terlarut adalah solvasi, tetapan
dielektrik, eflorensi, dan delikuensi. Solvasi adalah interaksi molekul-molekul
pelarut dengan partikel-partikel zat terlarut untuk membentuk agregat (gugusan).
Beberapa agregat semacam itu mempunyai partikel pelarut yang banyaknya dalam
jumlah tertentu dan beberapa agregat lain tidak tertentu. Bila pelarutnya adalah air
maka proses itu disebut hidrasi atau akuasi. (Keenan, 1957).
Jika ke dalam sejumlah air kita tambahkan terus menerus zat terlarut,lamakelamaan tercapai suatu keadaan di mana semua molekul air terpakai untuk
menghidrasi partikel yang dilarutkan, sehingga larutan itu tidak mampu lagi
menerima zat yang ditambahkan. Kita katakan larutan itu mencapai keadaan jenuh.
Larutan jenuh didefinisikan sebagai larutan yang telah mengandung zat terlarut
dalam konsentrasi maksimum (tidak dapat ditambah lagi). (Anshory, 1999).
Pembentukan larutan jenuh dipercepat dengan pengadukan yang kuat dan
pemberian zat terlarut yang berlebih. (Keenan, 1957). Harga konsentrasi maksimum
yang dapat dicapai oleh suatu zat dalam larutan disebut kelarutan (solubility). Jadi,
kelarutan (S) suatu zat adalah konsentrasi zat tersebut dalam larutan jenuh.
(Anshory, 1999).

Pada larutan jenuh terjadi keseimbangan antara zat terlarut dalam larutan dan
zat yang tidak terlarut. Dalam keseimbangan ini kecepatan melarut sama dengan
kecepatan mengendap, artinya konsentrasi zat dalam larutan akan selalu tetap. Jika
keseimbangan ini diganggu, misalnya dengan mengubah temperatur maka
konsentrasinya akan berubah.
Panas pelarut dikenal ada 2 reaksi, yaitu:
a. Reaksi endoterm:
Reaksi yang membutuhkan panas dan H bernilai positif, jika larutan
makin dipanaskan maka makin banyak zat terlarut dalam keadaan jenuh.
Contohnya, larutan NaCl, KCl, KClO3, CaCl2.
b. Reaksi eksoterm:
Reaksi yang melepaskan panas jika pada suhu stabil, dan H bernilai
negatif, karena kandungan sistem akan menurun dan jika larutan makin
dipanaskan maka sedikit zat dalam keadaan jenuh. Misalnya saja,
Ce2(SO4)3.

(Harrow, 1974)

Menurut Van Hoff, makin tinggi temperatur, makin banyak zat yang larut.
Pengaruh temperatur terhadap kelarutan dapat dirumuskan sebagai berikut:
d ln S / dT = H/RT2 , jika diintegralkan menjadi
ln S2/S1
ln S

= H/R {(T1-T2)/(T2/T1)} + c , atau dinyatakan sebagai:


= H/R. 1/T + c

Keterangan: S

= kelarutan zat (gr/1000gr pelarut)

H = panas pelarutan/gr
R

= konstanta gas umum (Kal/mol K)

= temperatur (K)

H + = makin tinggi T makin banyak zat yang larut (endotermis)


H - = makin tinggi T makin sedikit zat yang larut (eksotermis)
(Atkins, 1997)
Sedangkan untuk konsentrasi asam oksalat dapat ditentukan dengan :

S=

NNaOH x a(ml) NaOH


b(ml)H2C2O4 x

Di mana : a = ml NaOH yang digunakan untuk menitrasi


b = ml H2C2O4 jenuh yang dititrasi
II. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan :
- Thermostat

- Termometer

- Buret

- Erlenmeyer 250 mL

- Gelas Ukur

- Pipet volume 5 mL

- Tabung reaksi

- Batang pengaduk

- Neraca kasar

- Neraca analitis

- Pipet volume 10 mL

- Labu takar 100 mL

- Piknometer

- Corong

- Gelas beker

- Statif

- Pipet tetes

- Botol timbang

Bahan yang digunakan :


- Larutan asam oksalat

- Kertas timbang

- Indikator pp 1%

- Garam kasar/garam dapur

- Akuades

- Es batu

- Larutan NaOH 0,5 N

- Kertas saring

III. Cara Kerja :


A. Standarisasi Larutan Natrium Hidroksida 0,5 N dengan Asam Oksalat 0,5 N

Buat larutan NaOH 0,5 N dengan menimbang padatan NaOH secara kasar

Buat larutan asam oksalat 0,5 N dengan menimbang H2C2O4.2H2O secara analitis
(tingkat kesalahan 10%)

Tentukan konsentrasi larutan NaOH dengan larutan asam oksalat

B. Pengukuran Kelarutan Asam Oksalat pada Berbagai Suhu


Pada suhu kamar kristal asam oksalat dapat dilarutkan dalam 100 mL akuades
sedikit demi sedikit hingga jenuh. Larutan jenuh dalam tabung reaksi yang
dilengkapi dengan termometer dan pengaduk, kemudian dimasukkan dalam
thermostat pada temperatur yang dikehendaki

Pada percobaan ini akan ditentukan kelarutan asam oksalat dalam akuades pada
temperatur: 25, 20, 15, 10, 5, dan 0C

Larutan diaduk supaya temperaturnya homogen

Setelah mencapai keseimbangan (15 menit), diambil 5 mL larutan (kristal asam


oksalat tidak ikut terbawa). Kemudian larutan 5 mL asam oksalat dititrasi dengan
larutan NaOH 0,5 N

Untuk setiap temperatur, percobaan diulang 2 kali


IV. Data hasil percobaan & perhitungan

- Larutan Asam Oksalat 0,5 N 100 mL


G
1000

valensi
Mr
V
G
1000
0,5 =

2
126,07 100
G = 3,1518 g
Range = 2,8366 g 3,4670 g
N =

- Larutan NaOH 0,5 N 1000 mL


G
1000

valensi
Mr
V
G 1000
0,5 =

1
40 1000
G = 20,00 g
N =

- Data penimbangan asam oksalat (H2C2O4.2H2O)


Berat zat kasar = 3,21 g
Berat botol timbang = 14,0703 g
Berat (botol timbang + zat) = 17, 2531 g
Berat zat (H2C2O4.2H2O) analitis = 3,1828 g
G
1000

valensi
Mr
V
3,1828 1000
=

2
126,07 100
= 0,5049 N

N asam oksalat =

V asam oksalat
10,0 mL
10,0 mL
10,0 mL

N asam oksalat
0,5049 N
0,5049 N
0,5049 N
N NaOH rata-rata

V NaOH
11,05 mL
10,90 mL
10,85 mL

N NaOH
0,4569 N
0,4632 N
0,4653 N
0,4643 N

Contoh perhitungan :
N1 V1 = N2 V2

N1 V1 = N2 V2

0,5049 10,0 = N2 10,90

0,5049 10,0 = N2 10,85

N2 = 0,4632 N
N NaOH rata rata =

N2 = 0,4653 N
( N titrasi 2 + N titrasi 3 )
2

(0,4632 + 0,4653)
= 0,4643 N
2

- Perhitungan Berat Jenis Asam Oksalat


Berat pikno (Wo)

= 11,5631 gr

Berat pikno + aquades (Wa)

= 21,7444 gr

Berat pikno + as.Oksalat (Ws) = 22,1806 gr


air suhu 31C 31 C = ?
interpolasi : 30 C = 995,7 kg/m3

35 C = 994,1 kg/m3

X X1
Y Y1
=
X 2 X 1 Y 2 Y1
31 30
Y 995,7
=
35 30 994,1 995,7
1
Y 995,7
=
5
1,6
Y = 995,38 kg 3 air pada suhu 31C = 995,38 kg 3 = 0,99538 g
m
m
cm 3

sampel =

Ws W0
air
Wa W0

22,1806 11,5631

= 21,7444 11,5631 0,99538


= 1,0380 gr/cm3
Tabel data pengamatan
Suhu
( C)
0
5
10
15
20
25

Volume
NaOH

C NaOH
(N)

H2C2O4
(ml)

(ml)
9.75
9.75
9.45
9.50
11.75
11.80
14.15
14.20
21.30
21.35
21.80
21.75

Volume

0.4643

5.0

0.4643

5.0

0.4643

5.0

0.4643

5.0

0.4643

5.0

0.4643

5.0

C H2C2O4
(N)
0.9054
0.9054
0.8775
0.8822
1.0911
1.0957
1.3140
1.3186
1.9779
1.9826
2.0243
2.0197

C H2C2O4
rata-rata

Ln C

(N)
0.9054

-0.0994

0.8799

-0.1279

1.0934

0.0893

1.3163

0.2748

1.9803

0.6832

2.0220

0.7041

Contoh perhitungan konsentrasi H2C2O4


0 C N1 x V1 = N2 x V2
9.75 x 0.4643 = 5.0 x N2
N2 = 0.9054 N
N rata-rata = 0.9054 + 0.9054 = 0.9054 N
2
5 C N1 x V1 = N2 x V2
9.45 x 0.4643 = 5.0 x N2
N2 = 0.8775 N

N1 x V1 = N2 x V2
9.50 x 0.4643 = 5.0 x N2
N2 = 0.8822 N

N rata rata = 0.8775 + 0.8822 = 0.8799 N


2
T (K)

1/T (1/K)

273

3.6630x10-3

278

3.5971x10-3

283

3.5336x10-3

288

3.4722x10-3

293

3.4130x10-3

298

3.3557x10-3

S rata-rata

(mol/1000gr)

(mol/1000gr)

0.8772
0.8772
0.7693
0.7734
1.0512
1.0556
1.2659
1.2703
1.9055
1.9100
1.9502
1.9458

0.8772

-0.1310

0.7714

-0.2595

1.0534

0.0520

1.2681

0.2375

1.9078

0.6460

1.9480

0.6668

Kelarutan asam oksalat (S)


S = V NaOH x N NaOH
V H2C2O4 x H2C2O4
0 C S1 = 9.75 x 0.4643 = 0.8722 (mol/1000gr)
5 x 1.0380
S2 = 9.75 x 0.4225 = 0.8722 (mol/1000gr)
5 x 1.0380
S rata-rata = 0.8722 (mol/1000gr)
5 C S1 = 9.45 x 0.4225 = 0.7693 (mol/1000gr)
5 x 1.0380
S2 = 9.50 x 0.4225 = 0.7734 (mol/1000gr)

Ln S

5 x 1.0380
S rata-rata = 0.7714 (mol/1000gr)

Grafik hubungan antara ln S vs 1/T


X
1/T (1/K)
0.0036630
0.0035971
0.0035336
0.0034722
0.0034130
0.0033557

Y
ln S
-0.1310
-0.2595
0.0520
0.2375
0.6460
0.6668

y = bx + a
a = 11,38
b = -3189
r = 0,9397
ln S =

H 1
+C
R T

H
= b R =1,9787 kal / molK
R

H
= -3189
R

H = 3189 x 1,9787 = 63100,0743 kal/mol

Grafik hubungan antara ln C vs 1/T


X
1/T (1/K)
0.0036630
0.0035971
0.0035336
0.0034722
0.0034130
0.0033557

Y
ln C
-0.3048
-0.0179
0.2503
0.4346
0.6699
0.7060

y = bx + a
a = 12.2391
b = -3408
r = -0.9868
ln S =

H 1
+C
R T

H
= b R =1,9787 kal / molK
R

H
= -3408
R

H = 3408 x 1,9787 = 6743,4096 kal/mol


V. Pembahasan

Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh temperatur terhadap


kelarutan zat dan menghitung panas kelarutan zat. Dalam percobaan ini
digunakan asam oksalat sebagai zat terlarut dan akuades sebagai pelarut. Asam
oksalat yang dilarutkan dalam akuades mula-mula larut, namun ketika asam
oksalat terus ditambahkan, sebagian asam oksalat menjadi tidak larut. Hal ini
disebabkan dalam suatu larutan, partikel-partikel zat terlarut selalu berada dalam
keadaan terhidrasi (terikat oleh molekul-molekul zat pelarut). Ketika zat terlarut
terus ditambahkan maka akan tercapai suatu kondisi di mana molekul-molekul
zat pelarut tidak mampu mengikat partikel-partikel zat terlarut. Larutan yang
mengandung zat terlarut dalam konsentrasi maksimum disebut larutan jenuh.
Pengadukan dilakukan dalam pembuatan larutan asam oksalat jenuh untuk
mempercepat pembuatan larutan asam oksalat jenuh. Asam oksalat dapat larut
karena adanya interaksi antara partikel-partikel asam oksalat dengan molekulmolekul air yang kemudian membentuk agregat. Pengadukan akan memperbesar
interaksi antara partikel-partikel asam oksalat dengan molekul-molekul air
sehingga proses pelarutan berlangsung lebih cepat.
Untuk mengetahui pengaruh temperatur terhadap kelarutan zat, larutan
harus dibuat jenuh. Pada larutan jenuh terjadi keseimbangan antara zat terlarut
dalam larutan dan zat yang tidak terlarut. Dalam keseimbangan ini kecepatan
melarut sama dengan kecepatan mengendap, artinya konsentrasi zat dalam
larutan akan selalu tetap. Pengubahan temperatur dapat mengganggu
keseimbangan pada larutan jenuh sehingga konsentrasi larutan berubah. Bila
larutan dibuat tidak jenuh, saat temperatur diturunkan larutan akan mengkristal,
namun pengkristalan tidak berlangsung lama karena pada larutan tidak jenuh
tidak terjadi kesetimbangan antara zat terlarut dan tidak terlarut. Akibatnya zat
yang mengkristal dapat dilarutkan kembali sehingga pengubahan temperatur
tidak memberikan pengaruh signifikan kepada kelarutan.
Dalam percobaan ini, larutan asam oksalat jenuh diberi perlakuan suhu
yang berbeda-beda yaitu 0C, 5C, 10C, 15C, 20C, dan 25C. Dari data
percobaan dapat dilihat bahwa semakin tinggi temperatur, maka konsentrasi dan
kelarutan asam oksalat bertambah, kecuali pada suhu 5C konsentrasi dan

kelarutan asam oksalat berkurang (terjadi penyimpangan). Kesalahan percobaan


ini mungkin disebabkan larutan asam oksalat setelah mencapai suhu
keseimbangan tidak segera dititrasi sehingga terjadi transfer panas dengan
lingkungan (suhu tidak tepat 5C). Pada suhu 25C konsentrasi larutan asam
oksalat maksimum (2,0220 N) dan kelarutan asam oksalat maksimum (1,9480
mol/1000 gr).
VI. Kesimpulan
a. Temperatur berpengaruh terhadap kelarutan asam oksalat jenuh.
b. Asam oksalat memiliki panas pelarutan positif (termasuk reaksi
endoterm).
c. H yang didapat dari grafik hubungan ln S vs 1/T adalah 63100,0743
kal/mol sedangkan H yang didapat dari grafik hubungan antara ln C vs
1/T adalah 6743,4096 kal/mol.

DAFTAR PUSTAKA
Atkins, P.W. 1986. Physical Chemistry, 3rd ed. New York: Oxford University
Press.
Keenan, C.W. dan Jesse H.W. 1957. General College Chemistry, fourth edition.
New York: Harper & Row, Publisher, Inc.
Harrow,Gorgon M. 1974. Physical Chemistry for the Life Sciences. New
Mc Graw Hill.
Anshory, I. 1999. KIMIA SMU jilid 3. Jakarta: Erlangga.

York: