Anda di halaman 1dari 17

PENDAHULUAN . Prolaps rektum merupakan suatu keadaan turunnya rektum melalui anus.

Prolaps

rektum jarang ditemukan bahkan jarang dibahas, tetapi jumlah kasus yang sebenarnya tidak diketahui karena jarang dilaporkan khususnya bila terjadi pada daerah terpencil. Prolaps rektum lebih sering terjadi pada orang dewasa dan bayi. Prolaps rektum atau prosidensia yang lengkap pada orang dewasa biasanya terjadi pada perempuan, terutama pada perempuan usia di atas 60 tahun.1,2

ISI

DEFENISI Prolaps rektum adalah turunnya rektum melalui anus. Dalam hal ini terjadi penonjolan mukosa rektum atau seluruh dinding rektum. Prolaps rektum yang bersifat sementara dan hanya mengenai lapisan rektum (mukosa), sering terjadi pada bayi normal, mungkin karena bayi mengedan selama defekasinya dan jarang berakibat serius. Prolaps rektum yang bersifat sementara hanya meliputi mukosa dan biasanya hanya terlihat penonjolan beberapa centimeter. Pada orang dewasa, prolaps lapisan rektum cenderung menetap dan bisa memburuk, sehingga lebih banyak bagian dari rektum yang turun. Prolaps rektum yang lengkap disebut prosidensia. Paling sering terjadi pada wanita di atas usia 60 tahun. 1,2 EPIDEMIOLOGI Prolaps rektum jarang ditemukan bahkan jarang dibahas, tetapi jumlah kasus yang sebenarnya tidak diketahui karena jarang dilaporkan khususnya bila terjadi pada daerah terpencil. Lebih sering terjadi pada orang dewasa dan bayi. Prosidensia atau prolaps rektum yang lengkap pada orang dewasa biasanya terjadi pada perempuan. Pada bayi, prolaps rektum biasanya terjadi pada bayi di bawah tiga tahun khususnya pada tahun pertama kehidupan.1,2 ANATOMI REKTUM Rektum bersinambung di superior dengan colon sigmoid. Rektum mulai pada kirakira setinggi bagian ketiga sakrum ( vertebrae S3 ). Panjang rektum kira-kira 12 cm, mengikuti lengkung sakrum dan coccygeus hingga kira-kira 3 cm melewati ujung coccygeus dan berakhir dengan membelok ke posteroinferior menjadi canalis analis.3,4

Gambar 1 Rektum dan Otot-otot Penahannya M. puborectalis membentuk suatu hubungan pada juncture antara rektum dan kanalis analis, membentuk angulus anorektalis. Di inferior rektum terletak di posterior dekat glandula prostate pada pria dan vagina pada perempuan. Akhir dari rektum terletak posterior terhadap rektum tendineum perinea pada kedua jenis kelamin, dan apex prostat pada pria.4 Peritoneum Pembungkus Rektum Dua pertiga bagian rektum dibungkus oleh peritoneum. Peritoneum membungkus 1/3 bagian superior rektum pada facies anterior dan lateralisnya, daerah 1/3 media mempunyai peritoneum hanya pada facies anteriornya, 1/3 inferior rektum tidak dibungkus oleh peritoneum.4 Pada laki-laki, peritoneum melipat dari facies anterior rektum ke dinding posterior vesica urinaria, pada tempat itu peritoneum membentuk lantai kantung rectovesicalis. Pada anak laki-laki, di mana vesica urinaria berada pada abdomen, peritoneum membentang ke inferior hingga basis prostat. Pada saat vesica urinaria berpindah ke dalam pelvis minor pada masa pubertas, hubungan-hubungan peritoneum seperti pada orang dewasa dicapai. Pada perempuan, peritoneum melipat ke rektum forniks posterior vaginae dan pada tempat tersebut peritoneum membentuk lantai kantung rectourina (=cavitas Douglasii).3,4

Pada laki-laki dan perempuan, peritoneum melipat ke lateralis dari rektum membentuk fossa pararectales pada tiapa sisi rektum di bagian 1/3 superiornya. Fossa pararectales memungkinkan rektum untuk menggelembung.4 Rektum dan Flexuranya Meskipun sesuai asal namanya (rectus=lurus; Lat), rektum melengkung mengikuti lengkungan sacrococcygealis. Pars terminalisnya menekuk tajam dalam arah posterior, di mana rektum beralih menjadi canalis analis. Walaupun umumnya mempunyai caliber lebih kecil dari colon sigmoid, diameter rektum membesar sewaktu melintas ke inferior. Pars inferiornya yaitu ampulla recti sangat melebar.4 Rektum membentuk huruf S pada planum coronalis. Ada tiga kecembungan di rektum yang ditunjukkan oleh flexura, yang menyebabkan terdapatnya lipatan bagian dalam (valvula) membrane mukosa yang disebut plica rectalis transversa (=plica transversalis), yang sebagian tertutup lumen rektum.4 Plica rectalis terdiri dari membrane mukosa yang membungkus otot polos sirkuler. Bentuk rektum dipertahankan oleh perluasan taeniae coli (pita muscularis) pada dinding anterior dan posterior rektum.4 Hubungan hubungan Rektum Rektum berhubungan di posterior dengan: 4 (1) 3 vertebrae sacralis bagian inferior, (2) os coccygeus, (3) ligamentum anococcygeum, (4) vasa sacralis media, (5) cabang-cabang a. rectalis superior, dan (6) ujung inferior truncus symphaticus.

Rektum dikelilingi oleh suatu selubung facialis dan melekat dengan longgar ke facies anterior sacri.4 Di anterior pada laki-laki, rektum berhubungan dengan: 4 (1) basis vesicae urinaria, (2) pars terminalis ureter, (3) ductus deferens, (4) vesiculae seminalis, dan glandula prastat. Kedua lapisan septum rectovesicalis terletak pada planum medianum antara vesica urinaria dan rektum dan berhubungan erat dengan vesicular seminalis dan glandula prostat. Septum rectovesicalis menggambarkan suatu bidang potensial yang menjadi pemisah antara rektum dan glandula prostat.3,4 Pada perempuan hubungan anterior rektum adalah :4 (1) vagina : rektum terpisah dari fornix posterior vagina, (2) cervix uteri : rektum terpisah dari cervix uteri oleh kantung rectouterina, dan (3) septum rectovaginalis memisahkan vagina dan rektum pada bagian inferior kantung rectouterina. Pasokan Arteri Rektum Terdapat lima arteri rectalis yang beranastomosis secara bebas antara satu sama lain, sebagai berikut.3,4 (1) A. rectalis superior, lanjutan dari a. mesenterica inferior. Arteri ini memasok pars terminalis colon sigmoid dan pars superior rektum. Arteri ini melintasi vasa iliaca communis sinistra dan turun ke dalam pelvis minor dalam mesocolon sigmoid. Pada kira-kira setinggi vertebrae S3, a.rectalis superior membagi diri dalam dua cabang yang menuruni tiap sisi rektum.

(2) Dua aa.rectalis media, cabang-cabang a.iliaca interna yang memasok rektum pars media dan inferior. (3) Dua aa.rectalis inferior, cabang0cabang aa.pudenda interna. Arteri ini mulai dari fossa ischiorectalis, dam memasok pars inferior rektum dan canalis analis.

Aliran Venasus Rektum Aliran venosus rektum dialirkan melalui vv.rectalis superior, media, dan inferior. Terdapat banyak anastomosis di antara vasa ini.3,4 Plexus venosus rectalis mengelilingi rektum dan bergabung ke plexus venosus vesicalis pada laki-laki dan plexus venosus uterovaginalis pada perempuan. Plexus venosus rectalis terdiri dari dua bagian :3,4 (1) plexus venosus rectalis internus yang terlatak profunda terhadap epithelium rektum, dan (2) plexus venosus rectalis externus yang terletak externa terhadap lapisan muscularis rektum. Plexus rectalis internus mengalirkan darahnya ke dalam v.rectalis superior, tetapi berhubungan bebas dengan plexus venosus rectalis externus. Pars superior plexus venosus rectalis externus mengalir ke dalam v.rectalis superior yaitu permulaan dari v.mesenterica superior. Pars inferior plexus venosus rectalis externus mengalir ke dalam v.iliaca interna.4

Gambar 2. Aliran Darah Rektum Aliran Limfe Rektum Kebanyakan pembuluh limfe dari separuh superior atau lebih dari rektum naik sepanjang vasa rectalis superior ke nnll.pararectalis, kemudian melintas ke lymphonodus pada pars inferior mesenterium colon sigmoid dan ke nnll.mesenterica inferior.4 Pembuluh limfe dari separuh inferior rektum ke superior dengan aa.rectalis media dan mengalir ke dalam nnll.iliaca interna. Limfe dari nodus ini melintas ke nnll.iliaca communis dan nnll.aortica.4

Saraf-Saraf Rektum Pasokan saraf ke rektum berasal dari systerna symphaticum dan parasymphaticum. Plexus rectus media adalah bagian dari plexus hypogastricus inferior. Empat sampai delapan

saraf melintas langsung dari plexus ini ke rektum. Saraf-saraf parasimpatis berasal dari nn.S2, S3, dan S4 berjalan melalui nn.splanchnicus pelvicus sacralis. Saraf-saraf sensorik mengikuti jalan-jalan saraf parasimpatis dan serabut-serabutnya dirangsang oleh regangan dinding rektum.3,4 HISTOLOGI REKTUM Tunika Mukosa Terdiri dari epitel kolumner simpleks, mempunyai sel goblet dan mikrovili, tapi tidak mempunyai plika sirkularis maupun vili intestinalis. Pada lamina propia terdapat kelenjar intestinal lieberkuhn, sel lemak, dan nodulus limpatikus. Dibawah lamina terdapat muskularis mukosa.5 Tunika Submukosa Jaringan ikat longgar banyak mengandung pembuluh darah, sel lemak dan saraf pleksus meissner.5 Tunika Muskularis Terdiri atas otot sirkular (bagian dalam) dan otot longitudinal (bagian luar). Otot sirkular berbentuk utuh tapi otot longitudinal terbagi tiga untaian besar (taenia koli). Diantaranya dipisah oleh pleksus mienterikus auerbach.5 Adventisia Merupakan jaringan ikat longgar yang menutupi rektum, sisanya ditutupi serosa. Banyak pembuluh darah terlihat di adventisia dan submukosa.

FISIOLOGI REKTUM Proses defekasi Defekasi adalah pengeluaran feses dari anus dan rektum. Frekwensi defekasi pada setiap orang sangat bervariasi dari beberapa kali perhari sampai 2 atau 3 kali perminggu.

Banyaknya feses juga bervariasi setiap orang. Ketika gelombang peristaltik mendorong feses ke dalam colon sigmoid dan rektum, saraf sensoris dalam rektum dirangsang dan individu menjadi sadar terhadap kebutuhan untuk defekasi.6 Rektum biasanya kosong sampai menjelang defekasi. Hal ini karena terdapat sfingter fungsional yang lemah sekitar 20 cm dari anus pada perbatasan antra colon sigmoid dan rektum. Di sini juga terdapat sebuah sudut tajam yang menambah resistensi terhadap pengisian rektum. Bila pergerakan massa mendorng feses masuk ke dalam rektum, secara normal timbul keinginan untuk defekasi, termasuk refleks kontraksi rektum dan relaksasi sfingter anus.6 Pendorongan massa feses yang terus-menerus melalui anus dicegah oleh kontraksi tonik dari (1) sfingter ani internus, penebalan otot polos sirkular sepanjang beberapa centimeter yang terletak tepat di dalam anus, dan (2) sfingter ani eksternus, yang terdiri dari otot lurik volunter yang mengelilingi sfingter internus dan meluas ke sebelah distal.6 Defekasi biasanya dimulai oleh dua refleks defekasi. Salah satu dari refleks-relfleks ini adalah refleks intrinsik yang diperantarai oleh system saraf enterik setempat. Hal ini dijelaskan sebagai berikut. Ketika feses masuk kedalam rektum, pengembangan dinding rektum memberi suatu sinyal aferen yang menyebar melalui pleksus mesenterikus untuk memulai gelombang peristaltik pada colon desenden, colon sigmoid, dan di dalam rektum. Gelombang ini menekan feses kearah anus. Begitu gelombang peristaltik mendekati anus, sfingter ani internus direlaksasi oleh sinyal-sinyal penghambat dari pleksus mesenterikus; jika sfingter ani eksternus secara sadar, secara volunter berelaksasi di waktu yang bersamaan akan terjadi defekasi.6 Akan tetapi, refleks defekasi intrinsic jika bekerja sendiri bersifat lemah. Agar

menjadi efektif dalam menimbulkan defekasi, refleks biasanya diperkuat oleh refleks defekasi parasimpatis yang melibatkan segmen sacral medula spinalis. Bila ujung-ujung saraf

dalam rektum dirangsang sinyal dihantarkan pertama-tama ke medulla spinalis (sacral 2 4) dan kemudian kembali ke colon desenden, colon sigmoid dan rektum dan anus melalui seratserat saraf parasimpatis dalam nervus pelvikus.. Sinyal sinyal parasimpatis ini meningkatkan gelombang peristaltik, merelaksasikan sfingter ani internus dan meningkatkan refleks defekasi instrinsik. Pengeluaran feses dibantu oleh kontraksi otot-otot perut dan diafragma yang akan meningkatkan tekanan abdominal dan oleh kontraksi musculus levator ani pada dasar panggul yang menggerakkan feses melalui saluran anus. Defekasi normal dipermudah dengan refleksi paha yang meningkatkan tekanan di dalam perut dan posisi duduk yang meningkatkan tekanan ke bawah ke arah rektum. Jika refleks defekasi diabaikan atau jika defekasi dihambat secara sengaja dengan mengkontraksikan muskulus sfingter ani eksternus, maka rasa terdesak untuk defekasi secara berulang dapat menghasilkan rektum meluas untuk menampung kumpulan feses.6 ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI PROLAPS REKTUM Prolaps rektum disebabkan oleh kelemahan ligament dan otot-otot yang

mempertahankan bentuk rektum. Pada sebagian besar orang dengan prolaps rektum, terdapat kelemahan musculus sfingter ani. Penyebab pasti kelemahan ligamen dan otot-otot rektum tidak diketahui; akan tetapi, prolaps rektum biasanya dihubungkan dengan kondisi berikut.7,8,9 o Usia lanjut o Masa konstipasi yang lama o Diare lama o Mengedan lama saat defekasi o Kehamilan o Fibrosis kistik o Chronic obstructive pulmonary disease o Pertusis

o Sclerosis multiple o Paralysis (paraplegi) Ada dua teori yang berhubungan dengan prolaps rektum. Pertama, prolaps rektum merupakan hernia yang meluncur keluar menyeberang ke dalam fascia pelvicum. Teori kedua menyatakan bahwa prolaps rektum berawal dari intususepsi circumferensial interna pada rektum yang mulai 6-8 cm proximal berbatasan dengan anus. 7 Umumnya gambaran anatomi tertentu pada prolpas rektum ditemukan saat operasi. Gambaran anatomi tersebut mencakup fatulous atau kelemahan sfingter anus dengan m. levator diastasis, cul-de-sac douglasi anterior yang dalam, fiksasi rektum posterior yang tidak bagus sepanjang mesenterium rektum, pembesaran rectosigmoid. Gambaran anatomi ini pada dasarnya tidak dapat dijelaskan penyebabnya.7 KLASIFIKASI Prolaps rektum dikategorikan sesuai dengan tingkat keparahan, mencakup: 3,10,11,12 1) Prolaps internal, rektum telah prolaps, tapi tidak terlalu jauh keluar melalui anus. Juga dikenal sebagai prolaps tidak lengkap. 2) Prolaps mukosa, hanya lapisan mukosa rektum menonjol melalui anus. 3) Prolaps eksternal, seluruh ketebalan rektum menonjol melewati anus. Juga dikenal sebagai prolaps lengkap. Dapat menjadi prolaps inkarserata ataupun srtangulata.

Gambar 3. Prolaps Rektum GAMBARAN KLINIS DAN DIAGNOSIS Salah satu gejala awal dari prolaps rektum rasa tidak nyaman di sekitar anorektum selama defekasi. Kesulitan dalam memulai defekasi, sensasi defekasi terhambat, perasaan defekasi tidak lancar di mana terasa masih tersisa feses merupakan gejala awal yang umum terjadi pada prolaps rektum. Awalnya, massa keluar dari anus hanya setelah defekasi dan biasanya masuk kembali saat pasien berdiri. Kemudian massa terlihat lebih menonjol lagi terutama saat terjadi ketegangan otot dan manuver valsava seperti bersin dan batuk.3,7 Sebagaimana perkembangan penyakit, rektum yang menonjol kemudian tidak dapat lagi masuk atau memendek secara spontan, sehingga penderita mungkin harus

memasukkannya secara manual. Kondisi ini mungkin lebih lanjut sampai pada tahap di mana rektum yang menonjol keluar tidak dapat masuk lagi dan menjadi prolaps terus-menerus. 7 Ada perbedaan klinis prolaps rektum pada anak dan orang dewasa. Pada anak dengan prolaps rektum umumnya mempunyai susunan anatomi yang normal. Mukosa rektum keluar saat defekasi dan masuk kembali tanpa menimbulkan nyeri, kadang tanpa dorongan tangan. Pada sebagian pasien, mukosa yang prolaps tersebut tidak dapat kembali walau didorong. Hal ini akan menimbulkan udem, nyeri, dan kadang berdarah.13 Pada orang dewasa, awalnya prolaps masih kecil dan makin lama bertambah besar. Prolaps tambah besar karena udem, sehingga makin besar dan tidak dapat dimasukkan lagi karena rangsangan dan bendungan mukus serta keluarnya darah. Sfingter anus menjadi longgar dan hipotonik sehingga terjadi inkotinensia feses. Pada pemeriksaan stadium permulaan terdapat penonjolan mukosa konsentrik.13 Penderita dengan prolaps rektum dapat ditemukan gejala-gejala meliputi penonjolan massa dari rektum, nyeri saat buang air defekasi, keluar lendir atau darah dari massa yang menonjol, inkontinensia feses, dan pada massa prolaps yang lebih besar biasanya penderita kehilangan keinginan untuk defekasi.7 Pada pemeriksaan fisik, stadium permulaan massa yang menonjol terlihat lipatan mukosa konsentrik radier, seluruh ketebalan dinding dapat dirasakan, mukosa merah muda dan mengkilat. Pemeriksaan fisik juga mungkin tampak ulserasi rektum dan penurunan tonus sfingter anus. Pada keadaan kronis sering ditemukan lendir akibat iritasi. Gejala yang dikeluhkan penderita harus dikonfirmasi pada pemeriksaan fisik dengan menyuruh penderita duduk di toilet dan mengedan, dimana setelah itu seharusnya rektum prolaps. Jika tidak prolaps dengan mengedan, maka dilakukan prosedur fosfat enema untuk merangsang prolaps. Pada anak-anak, dapat digunakan gliserin supositoria sebagai pengganti fosfat enema.

Pemeriksaan anorektal cukup untuk diagnosis ketika rektum menonjol dari anus di mana paling mudah ditemukan pada prolaps retum lengkap.7,13 Pemeriksaan penunjang diperlukan dalam menegakkan diagnosis terutama untuk prolaps internal ataupun untuk mendiagnosis stadium permulaan. Kolonoskopi untuk memastikan apakah prolaps murni dari rektum di mana colon di atasnya normal. Manometri anorektal untuk mengukur seberapa baik otot-otot di sekitar rektum berfungsi. Videodefaecogram merupakan pemeriksaan X-ray yang dilakukan saat pasien mengalami defekasi untuk membantu menentukan apakah prolaps internal dan jika operasi penting dilakukan segera. 14 DIAGNOSIS BANDING Dalam mendiagnosis prolaps rektum harus diperhatikan beberapa gejala yang hampir sama dengan hemoroid. Pada prolaps rektum dan hemoroid keduanya terjadi penonjolan pada anus. Akan tetapi pada hemoroid penonjolannya dapat di atas linea dentate atau di bawahnya dan penonjolan berupa benjolan kebiru-biruan sementara pada prolaps rektum penonjolannya terlihat berupa mukosa merah muda mengkilat. Perdarahan pada prolaps rektum jarang, hanya kadang diketahui jika rektum telah turun di anus beberapa bulan sampai tahun. Prolaps mukosa kadang tampak hampir mirip dengan prolaps polip bertangkai atau papil rektum hipertrofik.15 Pada anak-anak, ujung distal dari invaginasi dapat menonjol ke luar anus sehingga kadang dianggap dapat tampak sebagai prolaps rektum. Akan tetapi, keadaan ini dapat dibedakan dengan memasukkan jari dibedakan dengan memasukkan jari di antara dinding anus yang keluar dengan cincin anus tempat adanya rongga dalam.13 PENANGANAN

Banyak kasus prolaps rektum disebabkan oleh sembelit atau mengejan, tapi koreksi sembelit dan mengejan mungkin tidak cukup untuk memperbaiki prolaps. Sebagian besar prolaps memburuk tanpa pembedahan.8 Pada bayi dan anak-anak, diberikan pelunak feses beberapa minggu agar tekanan ataupun kebutuhan mengedan berkurang. Cara defekasi sebaiknya duduk, tidak jongkok untuk mengurangi tekanan waktu mengedan. Melilit bokong dengan tali pengikat diantara waktu defekasi, biasanya membantu prolaps sembuh dengan sendirinya. Perbaikan keadaan umum dan nutrisi merupakan dasar pengobatan. Diberikan makanan berserat untuk memperlancar defekasi.7,8,13 Perawatan medis biasanya digunakan untuk meredakan gejala-gejala prolaps rektum atau sementara untuk mempersiapkan orang untuk pembedahan. Bran atau psyllium, pelunak tinja dan supositoria atau enema sering digunakan. Pelunak feses, seperti sodium docusate (Colace) atau calcium docusate (Surfak), dapat digunakan untuk mengurangi nyeri dan tekanan mengedan selama defekasi..7,8 Pada orang dewasa, sering dapat ditangani dengan mengurangi prolaps secara manual bila masih pada stadium internal. Prolaps lengkap yang sering dialami orang dewasa dan orang tua memerlukan tindakan bedah. Penanganan bedah dapat dilakukan melalui laparotomi (abdomen) atau melalui perineum.13 Rektopeksi yang dilakukan melalui laparotomi bukan merupakan operasi yang ringan. Rektum dimobilisasi dari panggul dan dilepaskan dari jaringan sekitarnya, kemudian ditarik ke atas dan difiksasi pada sacrum. Fiksasi rektum atau retropeksi ini dapat dilakukan dengan bahan teflon atau jahitan mersilen. Kadang dilakukan sigmoidektomi dan colon desendens dianastomosis dengan sisa rektum.13 Untuk orang yang terlalu lemah untuk menjalani operasi karena usia lanjut atau kesehatan yang buruk,dilakukan prosedur Thiersch. Pada operasi dengan cara ini dipasang

pita dari bahan sintetik atau benda lain di subkutan sekitar anus yang mencegah prolaps. Keuntungannya ialah operasi ringan, tetapi terdapat penyulit impaksi feses, infeksi, dan erosi pita ke dalam rektum.1,8,13 KOMPLIKASI Prolaps rektum dapat menyebabkan kerusakan jaringan pada rektum seperti ulserasi mukosa dan pendarahan. Prolaps inkarserata di mana rektum tidak dapat masuk lagi juga menjadi penyulit dari prolaps rektum. Selanjutnya dapat terjadi prolaps strangulata di mana aliran darah ke rektum terhambat. Pada akhirnya dapat terjadi gangrene dan nekrosis pada rektum. Tingkat kekambuhan pasca operasi mencapai 15%, pada jenis operasi apapun. 2,10 PROGNOSIS Jika dilakukan penanganan tepat waktu, sebagian besar penderita yang telah menjalani operasi tidak mengalami gejala atau hanya sedikit kekambuhan prolaps rektum pasca operasi. Akan tetapi, beberapa faktor, seperti umur, tingkat keparahan prolaps, tipe operasi, dan keadaan umum penderita, mempengaruhi kualitas dan kecepatan pemulihan penderita.8 PENCEGAHAN Diet serat tinggi dan banyak mengkonsumsi buah-buahan dapat mengurangi resiko konstipasi. Mengedan selama defekasi perlu dihindari. Seseorang dengan diare kronik, konstipasi, atau hemoroid harus segera berobat untuk menghindari terjadinya prolaps rektum. Latihan-latihan yang memperkuat otot sfingter ani dapat juga membantu mencegah terjadinya prolaps rektum.8,16

KESIMPULAN Prolaps rektum adalah turunnya rektum melalui anus. Dalam hal ini terjadi penonjolan mukosa rektum atau seluruh dinding rektum. Prolaps rektum diklasifikasikan menjadi prolaps internal disebut juga prolaps tidak lengkap, prolaps mukosa, dan prolaps eksternal disebut juga prolaps lengkap. Terapi prolaps rektum tergantung tingkat keparahannya. Pada bayi dan anak-anak, sebagian besar dilakukan penanganan konservatif dan jarang dilakukan pembedahan. Sedangkan pada orang dewasa yang sering mengalami prolaps rektum lengkap, terapi dilakukan dengan pembedahan. Bila dilakukan penganan secara tepat maka tingkat kekambuhan prolaps rektum sangat kecil atau hampir tidak ada. Akan tetapi, hal tersebut dipengaruhi oleh keadaan penderita itu sendiri. Makan makanan serat tinggi dan banyak mengkonsumsi buah-buahan merupakan cara terbaik untuk menghindari terjadinya prolaps rektum.