Anda di halaman 1dari 71

UJ I TOKSI SI TAS UJ I TOKSI SI TAS

Pendahul uan
Uji toksisitas dapat dilakukan dengan 2 cara :
a) Kualitatif
Biasanya dilakukan atas dasar gejala
penyakit yang timbul
Akib t tid k ifik j l / kit Akibat tidak spesifiknya gejala/penyakit
akibat keracunan (tidak ada/belum
didapat gejala yang khas /
pathognomonik bagi setiap keracunan
b) K tit tif b) Kuantitatif
Uj i t k i i t Uj i t ok si si t as
Kuantitatif
Uji toksisitas terhadap hewan
uji
Penelitian epidemiologi
2 Cara
Kualitatif
Berdasar atas gejala yang
Kualitatif
Berdasar atas gejala yang
timbul
Respon tubuh terhadap racun
tidak spesifik karena belum ada p
yang khas (Pathognomonik)
Uj i Kual i t at i f
Gejala Keracunan & Penyebabnya Gejala Keracunan & Penyebabnya
Gejala Penyebab
Fibrosis SiO
2
, Fe, Asbest, CO, Co, dll
Granuloma Be, Bakteri, Fungi,dll
Demam Mn, Zn, Co, Pb, dll
Alergi Ni, TDI, Cr, berbagai zat organik, dll Alergi Ni, TDI, Cr, berbagai zat organik, dll
Asfiksia CO, H
2
S, CO
2
, SO
2
, NH
3
, CH
4
Mutagenesis Radiasi pengion, benzene, metil Hg
Karsinogenesis Aminodifenil Asbest benzidine vinilkloroda Karsinogenesis Aminodifenil, Asbest, benzidine, vinilkloroda
Teratogenesis As, F, metil Hg, TEL, benzene
Keracunan sistemik* Pb, Cd, Hg, F, Va, P, Bo, Ti, TEL
*) keracunan sistemik, dengan racun yang sengaja dibuat untuk meningkatkan ekonomi,
disebut racun ekonomi (pestisida)
G l (B ) Gr anul oma (Be)
Fi br osi s
Asf i k si a
T t i Ter at ogenesi s
Hewan Manusia Hewan Manusia
Anal i si s Kuant i t at i f
Sebelum melakukan uji kuantitatif :
Kenali sifat kimia fisika xenobiotik Kenali sifat kimia-fisika xenobiotik
Penting !!!
Untuk menentukan :
Portal entri dalam uji toksisitas
Hewan uji yang akan digunakan
Anal i si s Kuant i t at i f
Istilah untuk menyatakan toksisitas suatu zat :
Dosis Letal (LD)
Jumlah zat yang betul betul masuk ke dalam tubuh organisme Jumlah zat yang betul betul masuk ke dalam tubuh organisme
uji yang menyebabkan respons berupa kematian organisme uji
Untuk mencari dosis aman
menggunakan LD
50
(dosis yang mematikan 50% organisme
) uji)
Konsentrasi Letal (LC)
Konsentrasi zat yang berada di luar tubuh organisme yang Konsentrasi zat yang berada di luar tubuh organisme yang
menyebabkan respons berupa kematian organisme uji
Mempermudah menentukan konsentrasi zat yang aman yang
boleh ada di lingkungan
Anal i si s Kuant i t at i f
Istilah toksisitas yang lain
untuk menentukan dosis aman :
NOEL (no observed effect level)
NOAEL (no observed adverse effect level)
NOEL
NOAEL
Anal i si s Kuant i t at i f
Tujuan :
Penting untuk mengenal rantai makanan :
Memprediksi perginya
racun apabila racun
memasuki lingkungan
tertentu
Uji toksisitas
dilakukan
berurutan
zat yang terakumulasi
di dalam organisme
tentunya akan
t k l i l di
berurutan
dengan melihat
tingkat trofis
organisme uji
terakumulasi pula di
organisme dengan
tingkat trofis yang lebih
tinggi
Anal i si s Kuant i t at i f
Gambar Rantai Makanan, Ukuran dan Tingkat Trofis
Uj i T k i i t Uj i Tok si si t as
Tujuan :
Menilai efek akut sub akut & kronis Menilai efek akut, sub akut & kronis
Uji dilakukan berdasarkan waktu
Merupakan kendala utama
3 (tiga) kelompok uji toksisitas :
1) Uji Akut / Uji Tingkat I Uji jangka pendek 1) Uji Akut / Uji Tingkat I Uji jangka pendek
2) Uji Sub kronis / Uji Tingkat II
3) Uji Kronis / Uji Tingkat III
0
LD
50
, LC
50
, dermal dan iritasi mata
Uji mutagenisitas/karsinogen tk 1
1-
Uji mutagenisitas/karsinogen tk. 1
Sensitivitas kulit
Uji 90 hari tikus, mencit
2-
Metabolisma/farmakokinetika pada hewan
Teratologi
Skema
Uji Toksisitas
3-
Uji mutagenisitas/karsinogen tk. 2
Studi 90-180 hari pada anjing atau monyet
j
Secara lengkap :
4-
Reproduksi
Toksisitas kronis-tikus, mencit
5-
Uji mutagenitas tk 3
6-
Uj i Ti ngk at I
Terdiri atas :
Uji dosis-respons untuk mencari LD/LC dan kemungkinan
kerusakan berbagai organ
Uji iritasi mata dan kulit Uji iritasi mata dan kulit
Screening pertama terhadap mutagenisitu (SAL, MOLY, ABS
dan SCE)
SAL = Ames Salmonella/microsome mutagenesis assay
ABS = Assay for chromosome abberation
SCE = Sister chromated exchange induction
MOLY = Mouse lymphoma L5178Y cell mutagenesis assay
Uj i Ti ngk at I
Uji D i R k i LD/LC Uji Dosis Respons untuk mencari LD/LC :
Dilakukan sesuai : Dilakukan sesuai :
sifat fisis kimiawi xenobiotik,
pemilihan organisme (derajat rendah) yang paling relevan
berdasarkan portal entri
Lama pengujian : 24 96 jam
T h Tahapan :
Tahap I :
untuk perkiraan kasar letak rentang dosis LD/LC 50/100 yang
dicari dengan cara Least Square atau Metode Probit g q
Uj i LD 50
Uj i LC50 Uj i LC50
Uj i Ti ngk at I
Uji I i i M & K li Uji Iritasi Mata & Kulit :
Dikenal sebagai : Draize Test Dikenal sebagai : Draize Test
Uji iritasi mata :
zat yang akan diuji dimasukkan pada salah satu matanya, mata
yang lain sebagai kontrol yang lain sebagai kontrol
Jenis hewan uji : kelinci albino
Waktu pemantauan : setelah 24 jam, 48 jam & 96 jam
Hasil dinilai dari gejala yang timbul pada mata :
edema, kekeruhan kornea, reaksi terhadap cahaya, pelebaran
vaskuler dan kemerahan
Uj i Ti ngk at I Uj i Ti ngk at I
Uji Iritasi Kulit : Uji Iritasi Kulit :
Bisa dilakukan langsung pada kulit
Tujuan : Tujuan :
Untuk mencari iritasi primer, sensitisasi kulit, foto-toksisitas dan foto
sensitisasi
A. Uji iritasi primer : B. Uji sensitisasi kulit :
dilakukan pada kulit punggung, kulit telinga
atau mencelupkan seluruh tubuh hewan ke
dalam cairan uji (2 uji terakhir sudah tidak
digunakan lagi)
untuk mengetahui apakah xenobiotik
menggangu sistem imunitas
hewan uji : mencit (guinea pig)
digunakan lagi)
hewan uji : kelinci albino
evaluasi : setelah 24, 48 & 96 jam
k k h ik
hewan uji diberi xenobiotik 3 hari sekali
selama 2 minggu, dengan selang
istirahat 2minggu
l i l h 24 48 & 96 j skor keparahan secara numerik evaluasi : setelah 24, 48 & 96 jam
Uj i Ti ngk at I Uj i Ti ngk at I
Uji Iritasi Kulit : Uji Iritasi Kulit :
C. Uji Fototiksiti &
Fotosensitisasi:
D. Uji Mutagenisitas :
Fotosensitisasi:
untuk melihat efek dari
kombinasi xenobiotik dengan
cahaya, terutama sinar UV
dilakukan dengan uji SAL, ABS, SCE & MOLY
SAL (Ames test)
bersifat reverse mutation test
hewan uji : Salmonella typhmurium
y
merupakan modifikasi dari uji
sebelumnya (setelah aplikasi
xenobiotik, dilakukan penyinaran
dengan UV)
hewan uji : Salmonella typhmurium
Uji essei untuk aberasi kromosom :
Uji ABS, SCE & MOLY
mekanisme aberasi setiap test berbeda
yang dicari : - kromosom terputus (breaks)
dengan UV)
hewan uji : mencit (guinea pig);
kelinci albino
evaluasi : setelah 24 48 & 96 jam
yang dicari : - kromosom terputus (breaks),
- terjadi pertukaran antar bagian
kromosom (sister chromatid)
hewan uji : sel hidup sel sumsum tulang tikus,
sel limfosit tikus penderita kanker dsb
evaluasi : setelah 24, 48 & 96 jam
sel limfosit tikus penderita kanker,dsb
Uj i Ti ngk at I
Uji akut dan khronis telah
terlaksana dalam tahun ke-1
tidak dapat mewakili
uji ini dilakukan pada sel
derajat rendah
tidak dapat mewakili
uji jangka panjang
PENTING !!!
Terutama jika data uji
akan diekstrapolasikan akan diekstrapolasikan
pada manusia
Mewakili uji subkronis
Uj i Ti ngk at I I
Mewakili uji subkronis
Waktu essei :
Aplikasi pada kulit : 30 hari
Studi inhalasi : 30 90 hari
Uji oral : 90 hari Uji oral : 90 hari
Tujuan : mendapatkan nilai NOEL atau NOAEL, dst
Dosis yang diujikan divariasikan 3-4 variasi :
Dosis tinggi menyebabkan kematian
D i i j kk NOEL Dosis ringan menunjukkan NOEL
Hewan uji : tikus, anjing atau kera ; (jantan : 10-20 ekor & betina : 10-20
ekor pada setiap level dosis yang diberikan)
Observasi yang dilakukan terhadap:
ti t b h t lit bidit t k i setiap organ tubuh, mortalitas, morbiditas, mata, konsusmsi
makanan, berat badan, respons neurologis, perilaku tidak normal,
respirasi, elektro kardiogram (EKG), elektro-encefalogram (EEG),
hematologi, biokimia darah, analisis urin & tinja, kerusakan orgn
makroskopis
Uj i Ti ngk at I I
Tujuan Observasi yang dilakukan :
Skrining kedua terhadap mutagenisiti
Uji teratologi & uji reproduktif Uji teratologi & uji reproduktif
Uji farmakokinetik
Uji perilaku Uji perilaku
Uji interaksi, seperti sinergisme, antagonisme dan
aditivisme
semuanya diselesaikan dalam waktu dua-setengah tahun
Uj i Ti ngk at I I I /Uj i Kr oni s
Dilakukan dalam jangka panjang
Mewakili separuh usia hidup hewan uji, bahkan lebih dari satu
generasi
Y dilih t t d i b bk f k i d Yang dilihat : rentang dosis yang menyebabkan efek ringan dan
berat
Bila rentang sempit zat berbahaya
Bila rentang lebar zat tidak/kurang berbahaya Bila rentang lebar zat tidak/kurang berbahaya
Contoh :
- Rentang CO : (100 250) mg/m
3
- Rentang kafein : (100 mg 10 gr)/m
3
Rentang kafein : (100 mg 10 gr)/m
kafein dianggap kurang berbahaya
Uji terpenting : Uji karsinogenitas, teratogenitas & reproduksi
Uj i Ti ngk at I I I /Uj i Kr oni s
Tujuannya untuk menguji :
Mutagenisiti pada mamalia
Karsinonegisiti pada tikus selama 2 tahun Karsinonegisiti pada tikus selama 2 tahun
Farmakokinetika pada manusia bila relevan
Klinis pada manusia
D t id i l i t k f k t hd k k t d Data epidemiologis untuk efek terhdap eksposur akut dan
kronis
Pengujian suatu zat, tergantung pada penggunaannya dan
kemungkinan eksposur yang dapat diterima kemungkinan eksposur yang dapat diterima
manusia/masyarakat
Uj i Ti ngk at I I I /Uj i Kr oni s
D l ji i k III Dalam uji tingkat III :
Cari spesies yang cukup
sensitif
Ambil spesies dengan
Uji teratogenitas :
pada mamalia & jenis
pakis/ ferns
p g
mutasi spontan yang
moderat (1,5%)
Uji Mutagenisitas :
pakis/ ferns
Uji karsinogenitas :
pada mamalia
Mendasari semua proses
perubahan genetik
Hasil akhir : mutasi pada
sel genetik terjadi mutan
(jantan & betina)
d b b i f
sel genetik terjadi mutan
sel somatik terjadi
kanker
Sel embrio terjadi
monster atau cacat bawaan
pada berbagai fase
pertumbuhan
dan berbagai portal entri
monster atau cacat bawaan
Or gan Di per i k sa Sec ar a Pat ol ogi Or gan Di per i k sa Sec ar a Pat ol ogi
pada Uj i Subk hr oni s& Khr oni s
Ad l L i K l j l d h Adrenal
Sumsum Tulang,
Tulang
Caecum
Laring
Hati
Paru-paru, bronkhi
Kelenjar ludah
Saraf skiatika
Vesika seminales
Caecum
Colon
Duodenum
Esofasgus
Kelenjar limfe
Kelenjar susu
Rahang bawah
Kulit
Limpa
Saraf spinales Esofasgus
Mata
Kandung empedu
Ileum/usus halus
Rahang bawah
Ronga hidung
Indung telur
P ti id
Saraf spinales
Lambung
Testes
Ot t h
Jejunum/usus halus
Ginjal
Paratiroid
Pituitari
Prostat
Otot paha
Timus
Kandung kencing
Rektum Uterus, dll
Uj i Tok si si t as & Rant ai Mak anan
H k k ji k i i b d k ji d f fi d i Hakekat uji toksisitas : berdasarkan uji pada taraf trofis dari
yang terendah sampai yang tertinggi
Hewan uji dari berbagai tingkat trofis berbeda dengan lokasi Hewan uji dari berbagai tingkat trofis berbeda dengan lokasi
geografis dipilih atas dasar hewan dan/atau tanaman yang
ada
C t h h ji Contoh hewan uji :
Untuk perairan : dapat dilihat di buku Standard Method for the
Examination of Water & Waste Water (APHA, 1975)
Untuk toksin terestrial : digunakan hewan mulai dari cacing (Eiseina
foetida), sampai mamalia seperti tikus, anjing, kera, dll.
C t h R t i M k Cont oh Rant ai Mak anan
Cont oh Rant ai Mak anan Cont oh Rant ai Mak anan
Uj i Tok si si t as & Rant ai Mak anan
O i Ti k T fi I Organisme Tingkat Trofis I:
Contoh (di perairan) : Selesnstrium capricornatum & Chlorella vulgaris,
algae air tawar karena banyak didapat & mudah dikultur
Ujinya didasarkan atas produksi biomassa selama 2 hari dengan berbagai
konsentrasi toksikan
Yang dicari : konsentrasi toksikan yang dapat menghambat Yang dicari : konsentrasi toksikan yang dapat menghambat
pertumbuhan sebanyak 50%
Cara pengujian :
Algae diinokulasikan ke dalam tabung berisi xenobiotik, disertai tabung kontrol
Dii k b i d l i k b t l 2 h i Diinkubasi dalam inkubator selama 2 hari
Pada akhir hari ke-2 : algae difilter, ditimbang beratnya
Biomassa algae digambarkan terhadap konsentrasi dan diekstrapolasi EC
50
(mg/dm) nilai ini dapat digunakan untuk mengetahui dampak yang akan ( g ) p g g p y g
terjadi bila konsentrasi toksikan di suatu perairan diketahui
Uj i Tok si si t as & Rant ai Mak anan
Organisme Tingkat Trofis II: Organisme Tingkat Trofis II:
Contoh : Daphnia magna, Artemi Salina
Parameter yang digunakan : efek toksikan terhadap individu y g g p
Respons yang dilihat : immobilisasi
Cara pengujian :
Ke dalam tiap tabung berisikan konsentrasi toksikan yang berbeda Ke dalam tiap tabung berisikan konsentrasi toksikan yang berbeda
dimasukkan 10 ekor hewan uji, disertai dengan tabung kontrol
EC
50
didapat dengan ekstrapolasi kurva
Uji dilakukan triplikat j p
Pada uji akut dicari EC dalam waktu 24 jam
Pada uji kronis yang digunakan untuk uji reprodukasi dicari EC dalam
kt 14 h i waktu 14 hari
Uj i Tok si si t as & Rant ai Mak anan
O i Ti k T fi III O i Ti k T fi IV Organisme Tingkat Trofis III:
Tingkat trofis III tidak diiukutserakan
dalam uji toksisitas, karena baik
biokimia dan faalnya sama dengan
Organisme Tingkat Trofis IV:
Di lingkungan akuatik diwakili
oleh ikan
Yang dicari : LD
50
& LC
50
.
y g
tingkat trofis IV dengan berbagai
pengecualian.
Yang dicari : LD
50
& LC
50
.
Uji akut dilakukan dalam 96 jam
Uji kronis dilakukan dalam 14 hari
Organisme Tingkat Trofis V:
Menggunakan hewan atau burung pemakan ikan
Yang dicari : LD
50
atau NOEL dengan memeriksa darahnya
Uji dilakukan dengan memasukkan toksikan per oral atau Uji dilakukan dengan memasukkan toksikan per oral atau
dengan suntukan intra peritoneal
Uji yang dilakukan : uji akut dan kronis
Uj i Tok si si t as Uj i Tok si si t as
At as Dasar Dosi s Respons
Maksud uji dosis-respons :
Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara xenobiotik
dengan respons organisme dan bagaimana hubungan tsb dengan respons organisme dan bagaimana hubungan tsb.
Tujuan : mencari dosis aman bagi manusia
Dosis yang digunakan dikaitkan dengan respons yang dicari
ataupun dikaitkan dengan tujuan eksperimen
Dosis dapat berupa : LD,LC atau ED saja
Uj i Tok si si t as At as Dasar Dosi s Respons
Respons yang dicari :
berupa kematian ataupun respons perubahan fungsi atau
biokimiawi organisme g
Yang penting :
dosis dan respons harus dapat diukur secara kuantitatif
Uji d i Uji dosis respons :
menguji respons organisme percobaan pada berbagai dosis
tertentu, untuk periode eksposur tertentu, untuk
mendapatkan respons yang secara matematis konsisten mendapatkan respons yang secara matematis konsisten
misalnya : dengan meningkatnya dosis, jika respons konsisten maka akan
meningkat pula responsnya
Uj i Tok si si t as At as Dasar Dosi s Respons
Hal yang perlu ditentukan lebih dahulu :
Organisme percobaan
Penentuan respons yang dicari Penentuan respons yang dicari
Penentuan periode pemaparan atau lamanya
percobaan
Penentuan seri dosis
Or gani sme Per c obaan
Organisme yang dipilih :
Yang paling sesuai untuk percobaan xenobiotik
tertentu
Yang mempunyai karakteristik biokimiawi &
mekanisme toksisitasnya sama atau mirip dengan y p g
manusia
jika hal ini tidak/belum diketahui, maka
pemilihan berdasarkan metode standar pemilihan berdasarkan metode standar
NI l ai LD50 Unt uk Cyper met r i n Pada NI l ai LD50 Unt uk Cyper met r i n Pada
Ber bagai Hew an Uj i (t i dak sama)
Hewan Uji LD50 (mg/kg)
Tikus besar (rat) 251 us besa ( at)
Tikus
Hamster Siria
5
8
400 Hamster Siria
Hamster Cina
Anak Sapi
400
203
500 Anak Sapi
Anak Babi
Kambing
500
142-284
>600 Kambing 600
Or gani sme Per c obaan
Kriteria hewan uji :
Kalau dapat secara genetis identik
Faktor penting lain yang
perlu diperhatikan :
Dilakukan berjenjang dari organisme
bersel tunggal sampai yang
berderajat tinggi
Anatomi
Faal
Spesies terpilih
Berat, ukuran, anatomi, fisiologi
Spesies
Bagaimana hewan uji
g
tertentu
Usia, gizi, keturunan, dll
bereaksi terhadap zat yang
diujikan
S i t i i t l i Sensi t i vi t as popul asi
Anat omi
A t i
Luas permukaan hewan kecil >>hewan besar
Anatomi
Metabolisme :
Semakin besar hewan makanan yang
diperlukan >>>
PENTING !!
Dalam
Karakteristik membran antara otak dan
sirkulasi
Contoh :
Dalam
interpolasi
dosis aman
bagi manusia
- Membran hamster sulit ditembus DDT
LD
50
oral : 5000 mg/kg BB
- Membran mencit mudah ditembus DDT
- LD
50
oral : 100-200 mg/kg BB
Fi si ol ogi / Faal
T b h hij T b h hij Tumbuhan hijau :
dapat berfotosintesa & tidak mempunyai syaraf
Hewan petelur (itik) :
biasa mengerami telurnya dalam keadaan relatif puasa
C
O
Tumbuhan hijau :
dapat berfotosintesa & tidak mempunyai syaraf
Hewan petelur (itik) :
biasa mengerami telurnya dalam keadaan relatif puasa biasa mengerami telurnya dalam keadaan relatif puasa
dalam fungsinya : berat badan itik betina akan turun dengan 25 30%
lemak yang ada digunakan untuk keperluan energinya
terjadi pelepasan insektisida dari lemak, masuk sirkulasi dan
kemungkinan itik akan keracunan dan mati
O
N
biasa mengerami telurnya dalam keadaan relatif puasa
dalam fungsinya : berat badan itik betina akan turun dengan 25 30%
lemak yang ada digunakan untuk keperluan energinya
terjadi pelepasan insektisida dari lemak, masuk sirkulasi dan
kemungkinan itik akan keracunan dan mati kemungkinan itik akan keracunan dan mati
Hewan berdarah dingin :
enzim biotransformasinya mempunyai aktivasi yang rendah
sehingga insidensi kanker pada ikan rendah (karsinogen perlu enzim
T
O
kemungkinan itik akan keracunan dan mati
biotransformasi untuk membentuk metabolit yang karsinogenik)
Kelinci :
mempunyai enzim atropin esterase tidak peka terhadap atropin
jika dipakai sbg hewan uji untuk atropa belladona tidak timbul efek
H
jika dipakai sbg hewan uji untuk atropa belladona tidak timbul efek
Spesi es
K k i h d Kepekaan spesies terhadap
karsinogen berbeda-beda
C t h
Ca paru-paru PAH + enzim biotransformasi (aril
hidrokarbon hidroksilase) akan membentuk metabolit
Contoh
hidrokarbon hidroksilase) akan membentuk metabolit
yang karsinogenik
Bakat alergi dan lain-lain penyakit tergantung dari
spesies
Mutasi spontan pada berbagai spesies hewan akan
berbeda-beda
dalam uji karsinogenisitas biasanya diambil
bakat mutasinya yang sedang saja bakat mutasinya yang sedang saja
Respons
Respons yang dilihat :
respons sangat ringan sampai pada yang parah (kematian)
Yang penting : Yang penting :
respons dapat diukur secara kuantitatif
Respons yag diteliti akan memperlihatkan korelasi matematis
yang konsisten
Terdapat variasi respons antar spesies Terdapat variasi respons antar spesies
Respons yang sering dilihat : kematian
karena kesulitan dalam menentukan hewan uji mati atau
immobil saja
perhatikan periode waktu observasi sehingga waktu terjadi
kematian diketahui
Per i oda Ek sper i men
Periode eksperimen : jam, hari, minggu dan tahun
ada uji jangka pendek (Short Term Test/STT)
ada uji jangka panjang (Long Term Test/LTT) j j g j g ( g )
Perhatikan juga :
interval waktu eksposur,
konsentrasi zat pemapar konsentrasi zat pemapar,
lamanya observasi setelah dipapari
PENTING PENTING
dalam perhitungan
mencari dosis aman
Penent uan Ser i Dosi s
S i d i l di k l bih d h l b l Seri dosis perlu ditentukan terlebih dahulu sebelum
dilakukan percobaan
Jika rentang konsentrasi telah diketahui Jika rentang konsentrasi telah diketahui
maka dapat dipakai acuan baku mutu
contoh : untuk buangan industri, maka dapat dipakai
acuan baku mutu air buangan acuan baku mutu air buangan
Pada prakteknya : perlu penelitian awal
karena dalam penentuan LC & LD : organisme uji karena dalam penentuan LC & LD : organisme uji
harus bertahan
minimal 96 jam
Kur va Dosi s Respons
Setelah data terkumpul :
disajikan dalam bentuk grafik dosis-respons
biasanya : kurva distribusi frekuensi kumulatif biasanya : kurva distribusi frekuensi kumulatif
Kurva membentuk huruf S mempunyai fungsi sbb :
( )
1 Fungsi ini merupakan fungsi logistik
( )
( )
+ < <
+
=

y
e
Y F
y
1
1 Fungsi ini merupakan fungsi logistik
Kurva dapat dibuat linier dengan
Melakukan logit
( )
( ) y f
bil k l f l it ( )
( )
( )
( ) ( )

+ = =
=

=
k
j j
x x p
y
y f
y f
y maka , y f
apabila maka ,
1
ln y f logit
| o ( ) ( )

= j
j j
1
Kur va Dosi s Respons
( )
k
j
j j
x x p | o

(
(

|
|
.
|

\
|
+ + =


=
exp 1
1
1
| |
( )
( )
( )
k
x p
x p
| | | | |
(

=
=
1
ln x p logit
,...., , , : dimana
3 2 1
'
Persamaan p(x) dapat
( )
( )
( )
x p
=
=
=

x ,...., x , x , x 0 D p
x ,...., x , x , x 1 D p

1
k 3 2 1
k 3 2 1
diselesaikan
dengan regresi ganda biasa
sehingga eksponen (
i
&
j
)
diketahui dan dapat
( )
k k
k
j
j j
x x x x p
x
| | | o
| o
+ + + + =

=
.....
2 2 1 1
1
diketahui dan dapat
dikembalikan/disubstitusikan
pada persamaan
semula
( )
k k
p | | |
2 2 1 1
Kur va Dosi s Respons
I nt er ak si
Interaksi yang dapat terjadi :
Interaksi Kimia
Interaksi karena reaksi kimiawi yang menimbulkan senyawa baru
yang bersifat lebih toksis
Interaksi Biologis
interaksi yang terjadi dengan tubuh organisme yang menimbulkan
efek berlebih maupun berkurang
Interaksi sangat dipengaruhi oleh dosis xenobiotik
Interaksi antar xenobiotik dapat menimbulkan efek :
Aditif
Sinergistik
Antagonistik
I nt er ak si
I k i Adi if
Interaksi Sinergistik
Interaksi Aditif
Terjadi apabila efek
kombinasi dua atau
lebih xenobiotik
Terjadi apabila efek kombinasi dua atau
lebih xenobiotik memberikan efek yang
lebih dari pertambahan masing-masing
zat
lebih xenobiotik
merupakan
pertambahan dari efek
masing-masing zat
Dapat terjadi apabila :
- xenobiotik memberikan efek
pada organ yang sama
l h t t tid k tid k
Dapat terjadi apabila
mekanisme efek sama,
identikal, ataupun
berbeda
- salah satu zat tidak tidak
menimbulkan efek bila diberikan
sendiri, tetapi dapat meningkatkan
efek daripada zat lain
Misalnya : 2 jenis
organofosfat diberikan
serentak
terjadi efek aditif
p
Misalnya : etanol yang meningkatkan
toksisitas karbon tetraklorida atau
kloroform terhadap hati
terjadi efek aditif
I nt er ak si
I k i A i ik Interaksi Antagonistik :
Terjadi apabila dua atau lebih kombinasi zat menimbulkan efek
k d i t b h i i t yang kurang dari pertambahan masing-masing zat
Dapat terjadi apabila :
Zat yang satu menetralisasi efek zat yang lain Zat yang satu menetralisasi efek zat yang lain
Terjadi reaksi kimiawi antar zat dan menimbulkan senyawa baru
yang krang toksik
Terjadi efek yang memodifikasi reaksi dengan enzim, sehingga
biotransformasi menjadikan zat yang toksis menjadi efektif biotransformasi menjadikan zat yang toksis menjadi efektif
Terjadi kompetisi dalam untuk bergabung dengan reseptor yang
sama, sehingga terjadi blokade
Misalnya : CO dan O terhadap Hb Misalnya : CO dan O
2
terhadap Hb
I nt er ak si
Metoda skrining untuk melihat ada interaksi :
1) Tentukan LD
20
masing-masing zat )
20
g g
2) Kombinasikan kedua zat sekaligus
Bila respons > 40% : ada interaksi sinergisme
Bila respons = 40% : ada interaksi aditif Bila respons = 40% : ada interaksi aditif
Bila respons < 40% : ada interaksi antagonisme
Kur va Konsent r asi Subl et al
Konsentrasi subletal adalah konsentrasi xenobiotik di lingkungan
yang rendah atau tidak mematikan akibat adanya baku mutu
lingkungan
A k h k t i bl t l ? K k t i d iki Apakah konsentrasi subletal aman ? Kapan konsentrasi sedemikian
dapat membahayakan ?
Efek xenobiotik belum dapat diketahu pasti
Ada kemungkinan kumulasi perlu dipantau efek kronisnya Ada kemungkinan kumulasi perlu dipantau efek kronisnya
Kurva dosis respon zat essensial dan non-essensial : Gambar 7.4
zat essensial (mikro-nutrien) adalah zat yang essensial dalam
jumlah kecil bagi faal tubuh yang normal jumlah kecil bagi faal tubuh yang normal
akan menimbulkan kelainan apabila jumlah yang
tersedia tidak ada atau sangat minim,
abnormalitas dapat timbul jika kadar zat yang ada
l bihi di l k melebihi yang diperlukan.
Kur va Konsent r asi Subl et al
Ek st r apol asi Bi oessei Ke Manusi a
T j ji bi i Tujuan uji bioessei :
Mencari dosis aman bagi manusia
Membuat standar kualitas lingkungan
Ekstrapolasi hasil bioessei ke manusia ditentukan oleh 2
sifat xenobiotik sbb :
Zat yang bersifat karsinogenik Zat yang bersifat karsinogenik
Zat yang bersifat tidak karsinogenik
Ekstrapolasi didasarkan pada : Ekstrapolasi didasarkan pada :
Berat badan atau luas permukaan
Atau atas dasar farmakokinetika Physiologically based
pharmacokinetic model (PBPM)
Ek st r apol asi Bi oessei Ke Manusi a
Klasifikasi Karsinogenitas
menurut International Agency Reseach on Cancer (IARC) :
Kategori Bobot bukti
Karsinogenik bagi manusia
Mungkin sekali karsinogen bagi
Ada data pada manusia
Data manusia terbatas data hewan cukup Mungkin sekali karsinogen bagi
manusia
Mungkin karsinogen bagi manusia
Data manusia terbatas, data hewan cukup
Data pada manusia dan hewan terbatas
D t tid k k t k k d k t i
Tidak dapat diklasifikasi
Mungkin bukan karsinogen bagi
manusia
Data tidak cocok untuk kedua kategori
Tidak ada data pada hewan & manusia
Ek st r apol asi Zat Ti dak Kar si nogeni k
Berdasarkan atas berat badan (BB) dengan memasukkan
berbagai faktor keamanan (safety factors), sbb
Thd (mg/kg/h) x 70 kg Thd
00
(mg/kg/h) x 70 kg
Safe Human Dose = -----------------------------
(SHD) SF ( )
THD = dosis threshold/ ambang, tanpa ada efek yang nyata
SF : 10---1000
Ek st r apol asi Zat Ti dak Kar si nogeni k
SHD inhalasi:
(o )(BR)(C)(t)
SHD = ------------------mg/kg
BB
o = % zat yang diabsorpsi paru-paru (= 100% bila tdk o = % zat yang diabsorpsi paru-paru (= 100% bila tdk
diketahui)
BR = breathing rate
t = waktu paparan t = waktu paparan
br x t = 30 m
3
/h = 24 jam
BB : 70 kg bagi laki-laki dan 60 kg bagi wanita
Ek st r apol asi Zat Kar si nogeni k
Semua zat yang dianggap karsinogenik, dalam analisis ini
dianggap tidak mempunyai ambang aman
Dalam ekstrapolasi diambil angka yang diperkirakan dapat p g y g p p
diterima oleh masyarakat
Misalnya : apakah orang dapat menerima atau mentolerir
pertambahan satu orang penderita kanker dalam 100.000 p g p
penduduk atau satu orang per 10.000.000 penduduk
Maka SHD dapat dituluskan sbb :
Artinya :
SHD = x 10
-5
10
-7
Artinya :
Eksposur seumur hidup akan
menambah satu penderita kanker per
100.000 dan/atau 10.000.000
penduduk
Ek st r apol asi Zat Kar si nogeni k
Efek racun dapat dipastikan jika :
Terjadi kecelakaan/kesalahan Terjadi kecelakaan/kesalahan
Ada bukti dari hasil studi epidemiologis
Ada pengalaman eksposur di industri p g p
Per masal ahan Uj i Tok si si t as
Adanya berbagai Kontroversi & Argumentasi dari
berbagai pihak : berbagai pihak :
Organisme berbeda jauh dari manusia
Masyarakat penyayang binatang sangat
t ji t k i it d iki menentang uji toksisitas sdemikian
Keadaan laboratorium berbeda dengan realitas
Masal ah Or gani sme Per c obaan
H il ji d k i b Hasil uji dengan menggunakan organisme percobaan
yang sedapat mungkin sensitivitasnya menyerupai/
mendekati manusia Tidak sempurna
Contoh : obat penenang ibu hamil Thalomide yang pada uji Contoh : obat penenang ibu hamil Thalomide yang pada uji
toksisitas hewan tidak didapat efek jelek, tetapi pada
manusia terjadi focomelia
Dosis yag didapat dari percobaan (NOEL,
NOAEL,LOEL,LOAEL) merupakan fungsi dari berbagai
faktor :
Spesies patologi jumlah sampel rute eksposur usia Spesies, patologi, jumlah sampel, rute eksposur, usia
pertama mendapat eksposur, perioda eksposur, lamanya
observasi (dari awal sampai akhir eksperimen)
Per bedaan Li ngk ungan Al ami ah & Per bedaan Li ngk ungan Al ami ah &
Li ngk ungan Labor at or i um
Laboratorium Alam/Riil
D t dib t b b t Tid k d t dib t b b t Dapat dibuat bebas patogen
Keadaan steril
Cahaya buatan
Tidak dapat dibuat bebas patogen
Tidak dapat disterilkan
Cahaya alamiah tidak terkontrol
Eksposur konstan
Populasi homoogen
Zat racun murni
Eksposur tidak jelas
Populasi heterogen
Racun campuran
Pemant auan
L t b l k b k k li di d l li k b l Latar belakang : banyak sekali racun di dalam lingkungan yang belum
diketahui efeknya
perlu pemantauan secara kontinyu
P t dil k k d Pemantauan dilakukan pada :
Aspek lingkungan
Kesehatan masyarakat
Menentukan efektifitas pemantauan masyarkat untuk berbagai xenobiotik :
BEI (Biological Effect Indicators)
menetukan jaringan tubuh tertentu yang paling efektif dipantau
dan telah pula ditentukan kadar normal bagi xenobiotik tsb di dalamnya dan telah pula ditentukan kadar normal bagi xenobiotik tsb di dalamnya
daftar dapat dilihat pada standar lingkungan kerja yang dibuat oleh
Govermental Industrial Hygienist (ACGIH)
jaringan yang dipantau : darah, urin, cairan cerebro-soinalis, kuku, rambut,
enzim, protein dalam serum, elektolit, DNA, perilaku, alat reproduksi, dll
Pemant auan
Pemantauan perlu dilakukan terhadap Flora & Fauna :
terdapat katak-katak yang cacat, seperti bermata satu, berkaki p y g , p ,
tiga, dst (mengindikasikan ada zat pencemar mutagenik)
perubahan biomassa, populasi berbagai fauna dan flora di alam
bebas