Anda di halaman 1dari 44

Laporan Mix Design dan Pengujian Beton

Disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah Bahan Bangunan II yang diberikan oleh : Drs. A. Manap, M.T.

Disusun oleh : Moch Syahiful Ridwan Andriyanta Briston B.M. Sigit Putra Prihono Septian Sumarsono NIM : 09505241011 NIM : 09505241009 NIM : 09505241010 NIM : 09505241008 NIM : 09505241007

TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2011

MIX DESIGN fc 30 Mpa Untuk Fly Over

BAHAN-BAHAN BETON 1. Semen Portland (PC). Semen yang akan digunakan dalam campuran ini adalah type I atau semen biasa yaitu semen jenis S-550, semen yang biasa dipakai pada bangunan yang penggunaannya tidak memerlukan persyaratan khusus. Mutu semen pada umumnya telah memenuhi syarat yang telah ditentukan dalam PBI 1982 sehingga dalam rancangan beton ini tidak perlu diadakan pengujian di laboratorium sebelumnya, dan langsung bisa dipakai dalam pencampuran nanti. Jenis semen portland dapat dibagi menurut beberapa segi yaitu segi kebutuhan, penggunaan, dan kekuatan :

Segi Kebutuhan Khusus. a. Semen Portland Cepat Mengeras (Rapid Hardening Portland Cement). Semen ini memiliki kadar C3S / C3A tinggi dan sangat halus dan masuk type V. b. Semen Tahan Sulfat. Semen ini sengaja dibuat dengan kadar C3A rendah digunkan dalam lingkungan yang kadar garamnya tinggi dan termasuk jenis type V. c. Semen portland dengan panas hidrasi rendah (Low Heat Cement). Semen ini memiliki derajad pengerasan kecil (lambat) biasanya digunakan untuk konstruksi yang tebal dan masuk ke type V. d. Semen Portland Pozzoland. Semen ini digunakan untuk bangunan yang mendapat gangguan garam sulfat atau panas rendah. e. Masonry Cement. Semen ini dicampur dengan bubuk batu kapur sampai 50 % dan digunakan untuk campuran pasangan.

f. Semen Portland Putih. Semen ini kadar besinya rendah dan harganya mahal karena memerlukan ketelitian tinggi dalam pembuatannya. g. Semen Alumunium. Digunakan untuk bangunan bersuhu tinggi dan bahan sulfat.

Segi Penggunaan. a. Jenis I :Semen portland jenis umum ( Normal Portland Cement ), :Semen jenis umum dengan perubahan perubahan (

yaitu jenis semen portland yang tidak memerlukan sifat khusus. b. Jenis II

Modified Portland Cement ). Semen ini memiliki panas lebih lambat dari pada semen jenis I. c. Jenis III : Semen portland dengan kekuatan awal tinggi (High - Early Strength - Portland Cement). Jenis ini memperoleh kekuatan tinggi dalam waktu singkat. d. Jenis IV: Semen portland dengan panas hidrasi rendah ( Low Heat Portland Cement ). Jenis ini merupakan panas khusus untuk penggunaan yang memerlukan panas hidarasi serendah-rendahnya. e. Jenis V : Semen portland bahan sulfat (Sulfate Resistring Portland Cement)Jenis ini dimaksudkan hanya untuk bangunan bangunan yang kena sulfat.

Segi Kekuatan. Ditinaju dari kekuatannya semen portland dibedakan menjadi empat : a. Semen portland mutu S-400, yaitu semen portland dengan kuat tekan pada umur 28 hari sebesar 400 kg/cm2. b. Semen portland mutu S-475, yaitu semn portland dengan kuat tekan pada umur 28 hari sebesar 475 kg/cm2. c. Semen portland mutu S-550, yaitu semn portland dengan kuat tekan pada umur 28 hari sebesar 550 kg/cm2. d. Semen portland mutu S-S, yaitu semn portland dengan kuat tekan pada umur 1 hari sebesar 225 kg/cm2dan pada umur 7 hari sebesar 525 kg/cm2.

2. Agregat Halus (Pasir). Agregat halus adalah bagian agregat yang ukuran butir-butirnya lebih kecil dari 4,8 mm. Hampir semua agregat halus berupa pasir alami dengan permukaan yang bundar biasanya berasal dari sungai. Pasir yang dihasilkan dengan memecah batu pada umumnya tidak cocok untuk campuran beton karena biasanya mengandung partikel-partikel yang terlalu halus. Susunan besar butir agregat halus jauh lebih penting artinya dari pada besar butir agregat kasar. Pasir yang didapat dari alam atau pasir sungai pada umumnya terlalu halus atau terlalu kasar sehingga untuk dapat dipakai sebagai campuran seringkali perlu diadakan penggabungan dua macam pasir atau bisa juga dengan mengadakan analisis ayak pasir. Dalam praktikum kali ini agregat halus yang digunakan adalah pasir yang didapat dari sungai yaitu ari sungai krasak. Seperti definisi sebelumnya, dalam praktikum digunakan pasir alami karena pasir alami dianggap lebih baik untuk campuran beton. Akan tetapi sebelum digunakan perlu diadakan pengujian analisa ayak untuk memperoleh gradasi yang baik dan untuk menentukan pasir ini masuk pada zone berapa. Hal ini berhubungan dengan perkiraan prosentase jumlah agregat halus pada campuran beton yang akan dibuat. Selain itu juga untuk mengetahui kadar partikel yang halus (debu) yang sebaiknya tidak digunakan dalam campuran. 3. Agregat Kasar (Kerikil). Agregat kasar yang dimaksud adalah semua agregat yang ukuran besar butirnya lebih besar dari 4,8 mm. Dapat berupa agregat alami yang berasal dari sungai atau penambangan dengan permukaan yang licin dan bundar misalnya koral atau dapat pula berupa batu pecah yang permukaanya kasar dan bersudut. Pada kenyataan yang sering kita temui tidaklah mungkin untuk memperoleh agregat kasar yang besar butirnya sama besar, tetapi biasanya terdiri dari campuran butir-butir dengan berbagai ukuran. Untuk mengetahui apakah besar butirnya cocok untuk campuran beton, maka perlu diadakan analisa ayak.

Agregat kasar yang akan digunakan dalam campuran ini adalah agregat kasar alami yang berasal dari batu kali dengan ukuran butir 20 mm. Pengujian kali ini agregat kasar yang dipakai belum dianggap memenuhi syarat butirannya sehingga perlu dilakukan analisa ayak yang telah kami adakan pengujan sebelumnya. 4. Air Pengaduk. Air pengaduk yang digunakan dalam campuran ini diambil dari sumur pompa dengan syarat fisik air tidak berwarna, tidak berbau dan memenuhi syarat air minum. Sehingga air ini sudah memenuhi syarat untuk digunakan dalam pencampuran campuran beton. Karena air ini telah memenuhi syarat maka tidak perlu diadakan pengujian di laboratorium.

A. SIFAT-SIFAT BETON 1. Beton Segar. a. Workability. Workability adalah sifat mudah dikerjakan, yaitu sifat yang dimiliki oleh beton segar yang mudah dalam pengerjaan mulai dari proses pengadukan, pengangkutan, penuangan,pencetakkan, proses fiishing, sampai proses perawatan atau curring. Terjadinya adalah pada saat beton dikerjakan atau pada saat pengerjaan. Sifat ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu : Kadar Air F.a.s (Faktor Air Semen). Sifat Agregat Kadar Agregat Halus Lumlah semen Admixture Alat yang digunakan dalam proses pengadukan dan pencampuran

b. Bleding. Bleding adalah proses terjadinya pemisahan butiran halus naik ke atas dalam hal ini adalah (pasir dan air ), ini terjadi pada saat beton segar

di padatkan, maka dari itu pada saat pemadatan beton segar di padatkan diusahakan supaya tidak terlalu lama dalam pemadatannya. Bleding dipengaruhi beberapa faktor yaitu : Cara pemedatan Kadar Air Admixture

c. Kohesifnes. Kohesifnes adalah sifat untuk saling melekatnya bahan-bahan beton. Sifat ini terjadi pada saat bahan-bahan beton dicampur dengan air. Sifat ini di pengaruhi oleh : Kehalusan semen Kadar Air Permukaan Agregat

d.Segregasi. Segregasi adalah pemisahan bahan-bahan beton, yaitu terjadi pada saat beton dituangkan kedalam cetakan atau begesting juga pada saat dipadatkan. Untuk mengecor agar tidak terjadi segregasi untuk kolom ketinggiam penuangan campuran beton maximal setiap 1 m tinggi kolom dibuat lubang untuk penuangan Sifat ini dipengaruhi oleh : 1. Jarak atau tinggi jatuh saat beton dituangkan. 2. Sifat agregat. 3. Kadar agregat kasar. 4. Admixture. e. Setting time. Setting time (waktu pengikatan) adalah sifat beton atau khususnya semen untuk mengikat dan mengeras. Sifat ini terjadi pada saat beton dicampur dan diaduk dengan air kemudian didiamkan.

Sifat ini dipengaruhi oleh : 1. Jenis semen. 2. F.a.s (Faktor Air Semen). 3. Suhu disekitar. 4. Admixture. 2. Beton Keras. a. Kuat Tekan Beton. Dalam peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI 1971: 39) bahwa kuat tekan adalah bahan kontruksi yang mempuyai sifat kekuatan tekan yang khas, apabila diperiksa dengan sejumlah besar benda-benda uji, nilainya akan menyebar sekitar suatu nilai rata-rata. Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kekuatan beton yang dihasilkan dari beberapa benda uji setelah diuji dengan tekan dengan menggunakan mesin tekan meempuyai nilai rata-rata yang merupakan kekuatan beton secara umum dapat diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menahan kekuatan tertentu. Namun untuk lebih jelasnya berikut ini dikemukakan beberapa pendapat .menurut Nawy, (1990 : 41) bahwa : "kekutan tekan fc ditentukan dengan silinder standar ukuran 6 x 12 inci yang di rawat dibawah kondisi standar labolatorium pada kecepatan penbebanan tertentu pada umur 28 hari". Chu-Kia Wang dan Salmo (1993: 9) menyatakan bahwa kuat tekan beton adalah kekuatan tekan beton didalam lb/ in2 dari pengetesan benda uji yang berbentuk silinder dengan diameter 6 inci (150 cm) dan tinggi 13 inci (300 mm) pada hari ke 28 setelah benda uji dibuat. Perbandingan kekuatan beton pada berbagai benda uji pada PBI 1971:33 dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 1. Perbandingan kekuatan tekan beton pada berbagai benda uji

Benda uji Kubus 15 x15 x15 cm Kubus 20 x20 x 20 cm Slinder 15 x 30 cm

Perbandingan kekuatan tekan 1,00 0,95 0,83

Sumber : (Peraturan Beton Bertulang 1971 NI -2) Kekuatan adalah sifat utama yang harus dimiliki oleh beton, sebab beton yang tidak cukup menurut kebutuhan menjadi tidak berguna. Sifat ini berguna untuk menahan terjadinya kerusakan yang diakibatkan oleh pengaruh tegangan yang timbul akibat adanya beban atau faktor lain. Kekuatan tekan beton didefenisikan sebagai tegangan yang terjadi dalam benda uji pada pemberian beban hingga benda uji tersebut hancur. Pengukuran kuat tekan beton didasarkan pada SK SNI M 14 -1989 F (SNI 03-1974-1990). Beban yang bekerja atau terdistribusi secara kontinyu melalui titik berat, kemudian dihitung

dengan rumus: Fc = Dimana : Fc = kuat tekan beton (kg/cm2) P = beban (kg) A = luas penampang (cm2) Apabila tidak ditentukan dengan percobaan untuk keperluan perhitungan atau pemeriksaan mutu beton maka perbandingan kekuatan beton pada berbagai umur dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel 2. Perbandingan kekuatan beton pada berbagai umur Umur (hari) Semen Portland Semen portland dengan kekuatan awal yang tinggi Sumber : (PBI 1971: 34) 3 7 14 21 28 90 0,40 0,65 0,88 0,95 1,00 1,20 0,55 0,75 0,90 0,95 1,00 1,15

Kuat tekan beton merupakan faktor yang utama dan penting untuk diperhatikan di dalam pelaksanaan pengecoran dilapangan. Yang kemudian akan kami garis bawahi adalah terkait umur beton dan kuat tekan karakteristik yang dimilikinya pada umur tersebut. Rata-rata, beton mencapai kekuatan tekan karakteristik rencananya pada umur 28 hari. Pada umur tersebut kuat tekan karakteristik beton mencapai kekuatan rencananya. Mengetahui kekuatan tekan beton karakteristik ini penting, mengingat pada proyek konstruksi, uji tekan sample beton dilapangan terkadang dites tidak tepat pada umurnya (baca: 28 hari), sehingga perlu dilakukan pengkoreksian dengan

menggunakan faktor kekuatan untuk kemudian diketahui apakah pada umur tersebut kekuatan karakteristinya memenuhi atau tidak.

1) Tujuan Percobaan

Percobaan ini bertujuan untuk menentukan kekuatan tekan beton berbentuk kubus dan silinder yang dibuat dan dirawat (cured) di laboratorium. Kekuatan tekan beton adalah kemapuan beton untuk menahan beban persatuan luas sehingga menyebabkan beton tersebut hancur.
2) Peralatan

Mesin penguji tekanan beton.


3) Prosedur Pengujian

1. Persiapan bahan Bahan bahan yang disediakan antara lain : semen, pasir kerikil, dan air. Dalam uji kali ini semen yang kami gunakan adalah semen biasa yaitu semen tipe 1 sebanyak 16,40 kg ( telah kami hitung sebelumnya). Pasir yang kami gunakan yaitu pasir alami yang didapat dari sungai krasak, alasan digunakan pasir alami karena pasir alami dianggap lebih baik untuk campuran

beton. Sebelum dipakai pasir alami terlebih dahulu diadakan pengujian analisa ayak untuk memperoleh gradasi yang baik dan untuk menentukan pasir ini masuk dalam zone berapa. Setelah kami uji, pasir tersebut mempunyai gradasi max. 5 mm dan masuk dalam zone 2. Pasir yang digunakan harusnya dalam keadaan SSD (saturated surface dry ), bilamana tidak memungkinkan mendapatkan pasir SSD maka pasir harus dikoreksi terlebih dahulu. Pasir yang dibutuhkan dalam pengujian ini sebanyak 25,37 kg. Agregat kasar ( kerikil ) yang digunakan dalam campuran ini adalah agregat kasar alami yang berasal dari batu kali dengan ukuran butir max 20 mm, agregat kasar ini sudah melalui tahapan pengujian sebelumnya. Kebutuhan agregat kasar dalam pengujian ini sebanyak 39,68 kg. Air yang digunakan dalam campuran ini diambil dari sumur pompa dengan syarat fisik air tidak berwarna, tidak berbau dan memenuhi syarat air minum. Kebutuhan air dalam pengujian adalah 7,54 kg. 2. Persiapan alat Alat yang perlu disiapkan meliputi : mesin molen, slump tes, cetakan silinder dan cetakan kubus, sendok spesi, cangkul, bak penampung adukan, box ( tempat bahan bahan ) dsb. . 3. Pencampuran beton Hidupkan mesin molen, dilanjutkan dengan memasukkan agregat kasar terlebih dahulu sebanyak setengah dari kebutuhan bahan, masukkan pasir sebanyak setengah dari kebutuhan bahan, dilanjutkan dengan memasukkan semen setengah dari kebutuhan bahan, masukkkan air 1/3 dari kebutuhan bahan. Biarkan mesin berputar dulu, inni untuk memungkinkan adonan homogen. Selanjutnya masukkan sisa dari bahan yang ada, mulai dari agregat kasar, kemudian pasir, semen dan air. Biarkan adonan homogen, tuangkan adonan pada bak penampung adonan.

4. Pengujian slump a) Bersihkan cone. Basahi permukaannya dengan air, dan tempatkan di papan slump. Papan slump harus bersih, stabil (tidak mudah bergeser),tidak berdebu, dan tidak miring. b). Ambil sampel beton c) Berdiri pada pijakan (kuping) yang ada pada cone. Isi sepertiga bagian dari cone dengan sampel. Padatkan dengan cara rodding, yaitu menusuk-nusuk beton sebanyak 25 kali. Lakukan dari bagian terluar ke bagian tengah. d). Isi lagi hingga mencapai 2/3 bagian cone. Lakukan rodding 25 kali, tapi hanya sampai ke bagian atas lapisan pertama. Bukan ke dasar cone. e). Isi hingga penuh, lakukan lagi rodding 25 kali hingga ke bagian atas lapisan kedua. f). Ratakan bagian atas beton yang meluap dengan menggunakan batang besi. Bersikan papan slump di sekitar cone. Tekan pegangan cone ke bawah, dan lepaskan pijakan. g). Angkat pelan-pelan cone tersebut. Jangan sampai sampel bergerak/bergeser. h). Balikkan cone, tempatkan di samping sampel, dan letakkan batang besi di atas cone yang terbalik tersebut. i). Ukur slump beberapa titik, dan catat rata-ratanya. j). Jika sampelnya gagal atau berada di luar toleransi, maka harus diambil sampel lain, kemudian dilakukan slump test lagi. Jika masih gagal juga, maka beton tersebut boleh ditolak. 5. Pembuatan benda uji a) Siapkan cetakkan, olesi cetakan dengan Vaseline/oli agar mudah dilepaskan dari betonnya. Kemudian letakkan di atas tempat yang rata b) Masukkan adukan beton ke dalam cetakan yang diambil langsung dari bak penampung adonan dengan mengunakan sendok spesi. c) Adukan beton diisikan kedalam cetakan dalam 3 lapis yang sama tebalnya, dimana setiap lapisnya ditusuk 10 kali denga tongkat baja dengan diameter 16 mm dengan ujung dibulatkan.

d) Kubus kubus atau silinder yang baru dicetak, di uji berat jenis beton segar terlebih dahulu dengan cara ditimbang. Benda uji yang baru dicetak, harus disimpan pada tempat yang bebas getaran dengan suhu ruang selama 24 jam. Setelah itu, kubus kubus atau silinder dilepas dari cetakan 6). Perawatan Benda Uji Setelah benda uji dilepas dari cetakan saat itu juga benda uji harus direndam. Ini dimaksudkan untuk mencegah moisture pada beton ( tidak kurang dari 80% ) dan mempertahankan suhu yang baik selama durasi waktu tertentu. 7). Pengujian kuat tekan benda uji Sebelum Benda uji diperiksa kekuatannnya, benda uji ditimbang terlebih dahulu untuk menentukan berat jenis beton. Pada waktu pengujian, tekanan pada bidang bidang yang menempel pada permukaan alat uji.Apabila benda yang diuji tersebut berbentuk silinder dan kedua permukaannya tidak rata maka dilakukan pelapisan lapisan balerang ( kepping ). Tekanan harus dinaikkan secara berangsur-angsur dengan kecepatan 6+4 kg/cm2 tiap detik. Sebagai beban hancur dari benda uji, berlaku beban tertinggi yang ditunjukkan oleh pesawat penguji. PERHITUNGAN Kekuatan tekan beton = P/A (kg/cm2) Dimana : P = Beban maksimum (kg) A = Luas penampang benda uji (cm2)
4) Alat UJi Beton

Untuk mengetahui sifat kuat tekan beton dilakukan pengujian di laboratorium terhadap benda uji beton. Dengan memakai rumus penentuan kuat tekan beton, yaitu sebagai berikut : Kuat tekan fc
p (kg/cm2, MPa). A

Untuk 10 kg/cm2 = 1 MPa Kuat tekan yang dipersyaratkan fc = fcr k . SD Keterangan : fcr k SD = Kuat tekan rata-rata = Tetapan statistik k = 1,64. = Standart Deviasi.

SD

( fc fcr)
N 1

(kg/cm2, MPa)

Faktor-faktor yang mempengaruhi dan memiliki Kuat Tekan adalah : 1. Faktor Air Semen (f.a.s). Faktor air semen sangat berpengaruh sekali terhadap beton terutama kekuatannya. Hal ini dapat ditemukan dari hasil pengujian yang telah dilakukan sebelumnya oleh orang lain, yaitu menyimpulkan sebagai berikut : Jika faktor air semen (f.a.s) semakin tinggi, maka sudah jelas beton akan memiliki kekuatan semakin rendah. Jika sebaliknya yaitu f.a.s rendah nilainya , maka beton akan memiliki kekuatan yang semakin tinggi, tetapi nilai rendah f.a.s tersebut tidak kurang dari batas-batas tertentu atau nilai rendah f.a.s mencukupi untuk melalui proses hidrasi sempurna antara semen dan air serta agregat lain ketika pengerasan. 2. Kepadatan. 3. Umur Beton 4. Suhu. Pada tinggi (panas) pertambahan kekuatan pada awalnya akan tinggi. Sedangkan pada suhu rendah pertambahan kekuatan lama-

kelamaan akan mencapai kekuatan 100 %, tetapi dalam waktu yang lebih lama. Sehingga untuk suhu ideal dalam proses perawatan beton adalah (20-30oC).Apabila semakin tinggi suhu maka proses terjadinya reaksi akan semakin cepat. Suhu perawatan diatas 50 C dapat merusak beton karena semen mengeras terlalu cepat. 5. Jenis Semen. Jenis semen sudah jelas berpengaruh pada kekuatan beton. Dari pengujian kadar semen yang rendah digunakan untuk membuat beton akan menghasilkan kekuatan tekan beton yang rendah pula. Namun penggunaan kadar semen yang terlalu tinggipun tidak menjamin kalau kuat tekan beton akan tinggi. Dalam hal ini kadar semen memiliki nilai optimum untuk mencapai kekuatan yang diinginkan, misalnya untuk beton dengan kuat tekan minimun 35 MPa menggunakan kadar semen 320. 6. Jumlah Semen. 7. Jenis Agregat. 8. Jenis Admixture. Admixture memiliki tujuan untuk mencapai kekuatan pada saat beton belum ataupun telah berumur 28 hari. Adapun tujuan yang lainnya adalah untuk megurangi jumlah air yang akan digunakan dengan nilai slump tetap tinggi. Yang jelas admixture tidak bertujuan untuk menambah kekuatan beton itu sendiri, jadi pada umur 28 hari beton yang menggunakan bahan tambah admixture akan mempunyai kekuatan seperti yang telah direncanakan. b. Kuat Tarik Beton. Kuat tarik beton adalah kemampuan beton untuk menahan tarikan (gaya tarik). Disamping beton memiliki kekuatan tekan beton juga harus memiliki kuat tarik, tanpa memasang tulangan beton harus memiliki kuat tarik sebesar 1/18 - 1/10 dari kuat tekan. Tetapi dalam perhitungan struktur kuat tarik diabaikan. Biasanya pengujian kuat tarik beton dilakukan pada perencanaan jalan (jalan raya ataupun untuk lapangan terbang) dan jembatan. Pengujian ini dilakukan terhadap tarik lentur dan tarik belah.

Metode ini digunakan sebagai acuan dalam melakukan pengujian untuk menentukan kuat tarik belah benda uji silinder beton. Kuat tarik belah benda uji silinder beton adalah nilai kuat tarik tidak langsung dari benda uji beton. Peralatan menggunakan mesin uji tekan untuk uji kuat tarik belah, pelat penekan dengan permukaan ratadengan panjang melebihi ukuran benda uji dan lebar tidak kurang dari 50 mm serta ketebalan tidak kurang dari tebal meja penekan, alat bantu penandaan dan penempatan benda uji, jangka sorong dan alat penata beban. Bahan penunjang uji lainnya terdiri dari dua buah bantalan penekan terbuat plat besi. Benda uji beton ringan: umur 28 hari dalam kondisi kering. Benda uji beton inti: umur 28 hari, dirawat 7 hari dalam kondisi lembab suhu (21 25) C dengan kelembaban nisbi (45 55) %. Cara pengujian: Ambil benda uji dari tempat perawatan, bungkus dengan kain basah dan bersihkan, catat identitas, tipe, jenis, umur, kondisi, berat, diameter, panjang, pasang lapisan perata beban, letakan pada mesin uji, jalankan mesin tekan dengan penambahan konstan sampai beban maksimum, gambar pola keremukannya. Tampak Samping

B. MERANCANG CAMPURAN BETON Untuk memudahkan langkah-langkah merancang campuran beton PBI 71, dipakai data isian (formulir) dan juga tabel-tabel penetapan nilai serta grafik perhitungan (terlampir).

Waktu Pengujian Prosentase terhadap umur 28 hari

3 hari 40 %

7 hari 65 %

14 hari 88 %

21 hari 95 %

28 hari 100 %

Langkah-langkah rancangan campuran beton dapat diuraikan sebagai berikuk sesuai dengan urutan formulir pengisian data hasil perhitungan. 1. Kuat Tekan Rata-rata Yang Disyaratkan (fc) Kuat tekan beton yang disyaratkan (fc) sesuai dengan persyaratan perencanaan struktur dan kondisi setempat. Untuk kuat tekan beton pada penelitian ini ditetapkan sebesar 30 Mpa. 2. Penetapan Nilai Deviasi Standar Nilai deviasi standar diperoleh dari Tabel 1. halaman 7 karena tidak mempunyai catatan/pengalaman hasil pengujian beton dan pengujian kurang dari 30 buah benda uji maka dipakai tingkat pengendalian mutu pekerjaan sebesar 5,6 Mpa (cukup). 3. Penghitungan Nilai Tambah (margin),(M). Nilai tambah (margin) dengan bagian cacat 5 persen, k = 1,64 dan sd = 5,6, maka : M = k . sd = 1,64 x 5,6 = 9,184 Mpa 4. Menetapkan Kuat Tekan Rata-rata Yang Direncanakan (fcr) Kuat tekan yang direncanakan diperoleh dengan rumus : fcr = fc + M = 30 + 9,184 = 39,184 Mpa 5. Penetapan Jenis Semen Portland Jenis semen ditetapkan semen Tipe I 6. Penetapan Jenis Agregat Jenis agregat halus alami (pasir kali krasak), agregat kasar alami 7. Menetapkan Faktor Air Semen

Berdasarkan jenis semen yang dipakai dan kuat tekan rata-rata silinder beton yang direncanakan pada umur 28 hari, ditetapkan nilai faktor airsemen sebesar 0,46 dengan melihat tabel 7.11 8. Penetapan Faktor Air Semen Maksimum Untuk beton yang tidak terlindung dari hujan dan terik matahari langsung (Tabel 7.12) diperoleh faktor air semen maksimum 0,55. Maka dipakai faktor air semen yaitu 0,55. 9. Penetapan Nilai Slam Tinggi nilai slam ditentukan antara 75 mm 150 mm. 10. Penetapan Besar Butir Agregat Maksimum Ukuran agregat maksimum ditentukan 20 mm. 11. Menetapkan Kebutuhan Air Untuk menentukan kadar air bebas, perikas Tabel 7.14 untuk agregat gabungan antara pasir alami dan alami, maka kadar air bebas harus diperhitungkan 195 Kg/m3. nilai slam 60 180 mm dan baris maksimum agregat 20 mm dipakai sebagai dasar perhitungan. Maka kebutuhan air yang diperlukan adalah 195 kg/ . Apabila agregat halus dan kasar

dipakai jenis yang berbeda maka menggunakan rumus yang berbeda pula, Rumus yang digunkaan : A = 0,67 Ah + 0,33 Ak A Ah Ak = Jumlah air yang dibutuhkan, Liter/m3 = Perkiraan jumlah air untuk agregat halus = Perkiraan jumlah air untuk agregat kasar

Dimana,

12. Menghitung Berat Semen Yang Diperlukan Berat semen per meter kubik beton dihitung dengan membagi jumlah air langkah (11) dengan faktor air semen yang diperoleh pada langkah (7) dan (8). Kadar semen = 195 : 0,55 13. Kebutuhan Semen Minimum Dengan melihat Tabel 7.15, maka pada konstruksi yang dimaksud harus menggunakan semen minimum 325 Kg/m3. Kebutuhan semen minimum = 423,9 Kg/m3

ini ditetapkan untuk menghindari beton dari kerusakan akibat lingkungan korosif, air payau,air laut. 14. Penyesuaian Kebutuhan Semen Karena kebutuhan semen pada langkah (13) nilainya lebih kecil dari langkah (12), maka dipakai kebutuhan semen 423,9 Kg/m3 (diambil nilai yang terbesar). 15. Penyesuaian Faktor Air Semen Karena tidak ada perubahan jumlah semen akibat langkah (14), maka faktor air semen tidak berubah. 16. Penentuan daerah Gradasi Agregat Halus Dari hasil penelitian didapatkan data pasir kali krasak termasuk dalam zone 2. 17. Persen Bahan Lebih Halus dari 4,8 mm Harga persen agregat lebih halus dari 4,8 mm, untuk kelompok butir agregat maksimum 20 mm pada nilai slam 60 180 mm, dan nilai faktor air semen 0,46. untuk agregat halus zone 2, diperoleh harga antara 34 43 %. Harga yang dipakai data diambil antara 34% - 43%. Dalam penelitian ini diambil nilai 39 %. 18. Berat Jenis Agregat Campuran Berat jenis agregat halus Berat jenis agregat kasar Jadi, berat jenis agregat campuran = = = 2,6 Kg/m3 2,46 Kg/m3 (0,39 x 2,6) + (0,621x 2,4)

= 2,515 Kg/m3dibulatkan 2,52 Kg/m3

19. Penentuan Berat Jenis Beton Berat jenis beton diperoleh dengan Gambar 7.11, dengan cara membuat grafik baru yang sesuai dengan nilai berat jenis agregat gabungan, yaitu 2,52 Kg/m3. Dari titik potong grafik baru tadi ditarik garis horizontal kekiri sehingga diperoleh nilai berat jenis beton sebesar 2300 Kg/m3. 20. Menghitung Kebutuhan Agregat Campuran Kebutuhan agregat campuran dihitung dengan cara mengurangi berat beton per-meter kubik dikurangi kebutuhan air dan semen.

Kebutuhan agregat campuran = berat jenis beton kadar semen kadar air = 2300 423,9 195 = 1681,1 Kg/m3 21. Menghitung Kebutuhan Agregat Halus Kebutuhan agregat halus diperoleh dengan cara mengalikan kebutuhan agregat campuran dengan persentase berat agregat halusnya. Kebutuhan agregat halus = 0,39 x 1681,1= 655.63 Kg/m3

22. Menghitung Berat Agregat Kasar Yang Diperlukan Kebutuhan agregat kasar dihitung dengan cara mengurangi kebutuhan agregat campuran dengan kebutuhan agregat halus.Kebutuhan agregat kasar = 1681,1 655.63 = 1025,47 Kg/m3.

Gambar 1. Hubungan faktor air-semen dan kuat tekan rata-rata silinder beton (sebagai perkiraan nilai fas)

Tabel 1. Nilai Deviasi Standar Untuk Berbagai Tingkat Pengendalian Mutu Pekerjaan. Tingkat Pengendalian Mutu Pekerjaaan Memuaskan Sangat baik Baik Cukup Jelek Tanpa Kendali Tabel 2. Jumlah Semen Minimum dan F.a.s. Maksimum Jumlah Semen min./m3 Beton (kg) 275 Nilai F.a.s Maksimum S(Mpa) 2,8 3,5 4,2 5,6 7,0 8,4

Jenis Konstruksi Beton dalam ruang bangunan a. Keadaan keliling non korosif b. Keadaan keliling korosif disebabkan oleh kondensasi atau uap-uapan korosif Beton diluar ruangan bangunan a. Tidak terlindung dari hujan dan terik matahari langsung b. Terlindung dari hujan dan terik matahari langsung Beton yang masuk kedalam tanah a. Mengalami keadaan basah dan kering berganti-ganti b. Mendapat pengaruh sulfat alkali dari tanah atau air tanah Beton yang kontinu berhubungan dengan air a. Air tawar b. Air laut

0,60

325

0,52

325 275

0,55 0,60

325 375

0,55 0,52

275 375

0,57 0,52

Tabel 3. Perkiraan Kebutuhan Air Per Meter Kubik Beton Besar Ukuran Maks. Kerikil (mm) 10 Jenis Batuan 0 - 10 Alami Batu Pecah 20 Alami Batu Pecah 40 Alami Batu Pecah 150 180 135 170 115 155 180 205 160 190 140 175 Slump 30 - 60 30 - 60 205 230 180 210 160 190 60 - 180 225 250 195 225 175 205

Tabel 4. Kebutuhan Semen Minimum Untuk Berbagai Pembetonan dan Lingkungan Khusus Semen Minimum Jenis Pembetonan Beton dalam ruang bangunan a. Keadaan keliling non korosif b. Keadaan keliling korosif disebabkan oleh kondensasi atau uap-uapan korosif Beton diluar ruangan bangunan a. Tidak terlindung dari hujan dan terik matahari langsung b. Terlindung dari hujan dan terik matahari langsung Beton yang masuk kedalam tanah a. Mengalami keadaan basah dan kering berganti-ganti b. Mendapat pengaruh sulfat alkali dari tanah atau air tanah Beton yang selalu berhubungan dengan air tawar / payau / laut (kg/m3 beton) 275 325

325 275

325 Lihat tabel 4.a Lihat tabel 4.b

Tabel 4.a Kandungan Semen Minimum Untuk Beton yang behubungan dengan Air Tanah yang Mengandung Sulfat Konsentrasi Sulfat (SO3) dalam Tanah SO3 dalam Campur an Air : Tanah = 2:1 (gr/ltr) < 0,1 SO3 dalam Air Tanah (gr/ltr) Kandungan Semen Min. (kg/m3) Ukuran Maks. Agregat (mm)

Jenis Semen

Total SO3 %

< 0,2

< 0,3

Tipe I dengan atau tanpa Pozolan (15% 40%) Tipe I tanpa Pozolan Tipe I dengan pozolan (15% 40%) atau Semen Portland Pozolan Tipe II atau V

40 20 280 300

10 350

0,2 - 0,5

1,0 1,9 0,3 1,2

290

330

380

250 340

290 380

430 430

0,5 1,0

1,9 3,1

1,2 2,5

Tipe I dengan Pozolan (15% - 40%) atau semen Portland pozolan Tipe II atau V

290 330 330

330 370 370

380 420 420

1,0 2,0 > 2,0

3,1 5,6 > 5,6

2,5 5,0 > 5,0

Tipe II atau V Tipe II atau V dan lapisan pelindung

Tabel 4.b Kandungan Semen Minimum Untuk Beton Bertulang Dalam Air Kandungan Semen Minimum Tipe Semen Ukuran Maksimum Agregat (mm)

Berhubungan Dengan

40 Air Tawar Air Payau Semua tipe I - V Tipe I + Pozolan (15 40%) pozolan Tipe II atau V Air Laut Tipe II atau V 280 340

20 300 380

290 330

330 370

Tabel 5. Batas Gradasi Pasir


Lubang Ayakan (mm) 10 4.8 2.4 1.2 0.6 0.3 0.15 Persen Berat Tembus Kumulatif Zone 1 100 90 - 100 60 - 95 30 - 70 15 - 34 5 - 20 0 - 10 Zone 2 100 90 - 100 75 - 100 55 - 100 35 - 59 8 - 30 0 - 10 Zone 3 100 90 - 100 85 - 100 75 - 100 60 - 79 12 - 40 0 - 10 Zone 4 100 95 - 100 95 - 100 90 - 100 80 - 100 15 -50 0 - 15

Gambar 2. Grafik presentase agregat halus terhadap agregat keseluruhan untuk buktir maksimum 20 mm.

Gambar 3. Grafik hubungan kandungan air, berat jenis agregat campuran, dan berta beton.

Demikianlah langkah yang telah dilasanakan dalam perencanaan campuran beton. Dari data langkah-langkah tersebut diperoleh hasil untuk campuran tiap m3. Untuk agregat SSD : - Semen Portland (S-550) - Air yang dibutuhkan - Agregat Halus (pasir) - Agregat Kasar (kerikil) = = = = 423,9 kg 195 kg

655,63 kg 1025,47kg

Dari hasil diatas dihitung untuk kebutuhan 5 benda uji silinder + 1 kubus dengan volume 1 silinder yang memiliki diameter 15 cm dan tinggi 30 cm adalah 57,8925 cm3 dan untuk mengantisipasi terjadinya kekurangan bahan ketika pembuatan beton, maka dihitung untuk volume 5 silinder + 1 kubus, sehingga diperoleh 7,8895cm3, tetapi dalam perhitungan diperhitungkan dengan satuan m3 maka dari hasil tersebut dijadikan m3 menjadi : 0907,885m3 15%. Maka kebutuhan bahan adalah sebagai berikut ( untuk 8 benda uji ) :

Untuk agregat SSD : - Semen Portland (S-550) = 16,40 - Air yang dibutuhkan - Agregat Halus (pasir) = 7,54 = 25,37 kg kg kg kg

- Agregat Kasar (kerikil) = 39,68

Pembuatan Benda Uji Benda uji yang dibuat pada pengujian kuat tekan dan geser berbentuk kubus ( 1 buah ) dan silinder ( 5 buah ), dengan dimensi sebagai berikut : Kubus dengan dimensi (15x15x15) cm, jadi volume kubus 3375 cm3 = 0,003375 m3 Silinder dengan diameter 15 cm dan tingginya 30 cm, Jadi volume silinder v = .r2.t v = 3,14 . 7,52 . 30 v = 5298,75 cm3

v = 0,005298,75 m3

Volume total benda uji adalah = ( 1 x Vkubus ) + ( 5 x Vsilinder ) = ( 1 x 0,003375 ) + ( 5 x 0,005298) = 0,029865 m3 = 0,03 m3

Dengan koreksi air 15% menjadi : Berat total Air Semen Pasir Kerikil = 74,714 kg = 6,44 kg = 14 kg = 21,274 kg = 33 kg

Kadar Air Koreksi Dari pengujian kadar air didapat Kadar air pasir SSD = 1,1% Kadar air kerikil SSD = 3,59%

Sedangkan di lapangan Kadar air pasir Kadar air kerikil = 2,5% = 2,0%

Perhitungan Kadar Air Koreksi Air = berat air = 6,44 + = 6,442 kg Semen = TETAP = 16,40 kg +

Pasir

=berat pasir + = 21,64 +

= 21,7 kg

Kerikil = berat kerikil + = 33,84 + = 33,89 kg Table I No cetakan 1 2 3 4 5 6 silinder 1 silinder 2 silinder 3 silinder 4 silinder 5 kubus

berat berat cetakan + berat beton cetakan (kg) beton segar (kg) segar (kg) 11,50 24,08 12,58 9,70 23,41 13,71 12,18 24,62 12,44 10,25 22,50 12,25 10,95 23,42 12,47 7,1 14,63 7,53

Table II Pengujian Kuat Tekan Beton berat diame NO cetakan beton ter (kg) beton ( D) (cm) 1 2 3 4 5 silinder 1 silinder 2 silinder 4 silinder 5 kubus 12,58 13,71 12,25 12,47 7,53 15,01 15,03 15,08 15,02 15,04

luas permu kaan benda uji(A) (m2 ) 1,76 1,77 1,79 1,77 2,26

kuat tekan beton(P) 7 hari 14 28 hari hari (kg) (kg) (kg)

fc' ( ) (kg/m2)

32000 29000 38000 45000 52000

18,18 16,38 21,23 25,42 23,01

Perhitungan kuat tekan beton 1. Silinder 1 Fc = Fc = Fc = 18,18 kg/m2

2. Silinder 2 Fc = Fc = Fc = 16,38 kg/m2 3. Silinder 4 Fc = Fc = Fc = 21,23 kg/m2 4. Silinder 5 Fc = Fc = Fc = 25,42 kg/m2 5. Kubus Fc = Fc = Fc = 23,01 kg/m2

Tabel Pengujian Kuat Tekan Kubus Menngunakan Alat Hammer Test fc' ( p/A) 28 NO cetakan berat pjng sisi luas hari beton (cm) permukaan MPa benda uji(A) 28 27 28 29 23 1 kubus 7,53 kg 15,04 cm 2,26 m3 33 31 26 26 25 rata-rata kuat tekan pada umur 28 hari 25.09

Tabel Hasil Pengujian Tarik Belah NO cetakan berat diameter panjang beton beton( cm) beton

1 silinder 4 Kuat tarik belah =

12,25 kg

15,02 cm

30 cm

luas permukaan benda uji(A) 1,54 m

kuat tarik belah beton(P) 28 hari 20000 kg

= =
= 28,27 kg/cm2

TABEL PENGUJIAN KUAT TEKAN PADA UJI TARIK LENTUR NO BERAT BETON (kg) DIAMETER LUAS BETON (CM) (A) (m2) KUAT Fc (

PERMUKAAN TEKAN BETON UMUR 35 hari 34000

(kg/m2)

1 2 3

11,50

10,14

1,02

33,33

Perhitungan kuat tekan beton Fc = = = 33,33 kg/m2

FOLMULIR PERANCANGAN ADUKAN BETON (Menurut SK.SNI.T 15-1990-03)

No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Uraian Hasil Kuat tekan yang disyaratkan pada umur 28 hari 30 Mpa Deviasi standar (s) 5,6Mpa Nilai tambah (m) 9,184 Mpa Kuat tekan rata-rata yang direncanakan 39,184 Mpa Jenis semen Tipe I Jenis kerikil alami Faktor air semen (Gambar.1) 0,46 Faktor air semen maksimum (Tabel 2)> Dipakai fas 0,55 0,46 yang rendah 9. Nilai slump 70 150 mm 10. Ukuran maksimum agregat kasar 20 mm 11. Kebutuhan air (Tabel 3) 195 Kg/m3 12. Kebutuhan semen Portland (langkah (11) : (8)) 423,9 Kg 13. Kebutuhan semen portland minimum (Tabel 4) 325 Kg 14. Dipakai kebutuhan semen Portland 423,9 Kg 15. Penyesuaian jumlah air atau fas -16. Daerah gradasi agregat halus (Tabel 5) Zone 2 17. Persen agregat halus terhadap campuran (Gb.7.10) 39 % 18. Berat jenis agregat campuran 2,52 Kg/m3 19. Berat jenis beton(Gambar 3) 2300Kg/m 20. Kebutuhan agregat (langkah (19) (11) (14)) 1681,1 Kg/m3 21. Kebutuhan agregat halus (langkah (17)*(20)) 655,63 Kg/m3 22. Kebutuhan agregat kasar (langkah (20) - (21)) 1025,47 Kg/m3 Kesimpulan: Volume Berat Total Air Semen Agregat Agregat (Kg/m3) (Kg/Lt) (Kg) Halus Kasar (Kg) (Kg) 1m3 2300 195 423,9 655,63 1025,47 1 adukan (0.0053m3) 7,54 16,40 25,37 39,68

C. PEMBUATAN BETON Setelah merancang pembuatan beton dan menghitung kebutuhan agregat kemudian melakukan proses pembuatan beton. Pembuatan beton terdiri dari menakar (menimbang) bahan-bahan, mengaduk / mencampur, mengangkut dari tempat pengadukan, pengecoran, mencetak (memasukkan campuran kedalam cetakan), memadatkan, dan merawat. 1. Penakaran (Penimbangan) Bahan-Bahan. Penakaran bahan-bahan adalah pengambilan bahan-bahan untuk beton menurut takaran yang ditentukan. Takaran bahan dapat ditentukan menurut

perbandingan berat dan volume. Takaran yang tidak tepat mengakibatkan kualitas beton yang dihasilkan tidak memenuhi syarat mutu. Terutama takaran yang berkaitan dengan bayaknya air pengaduk dan banyaknya semen. Dilapangan penakaran lebih mudah dilaksanakan dengan ukuran

volume jika disyaratkan menggunakan ukuran berat, dapat menjadi bentuk volume dengan membuat takaran yang isinya disesuaikan dengan

menggunakan perbandingan berat. 2. Pencampuran Beton. Yang dimaksud dengan pencampuran beton adalah proses

pencampuran antara bahan-bahan dasar beton, yaitu semen, pasir, kerikil dan air dalam jumlah yang boleh ditentukan. Pencampuran dapat dilakukan dua cara yaitu : a. Pencampuran dengan tangan. Pencampuran menggunakan tangan biasanya dilakukan apabila beton yang dihasilkan tidak banyak. PBI tahun 1971 mensyaratkan beton yang boleh diaduk menggunakan tangan hanya beton mutu Bo saja. Cara pencampuran dengan tangan pertamakali mencampur pasir dengan semen sampai homogen, kemudian dicampur dengan kerikil dan dicampuran sampai homogen pula. Lalu dimasukkan air, setelah campuran homogen, siap untuk dicetak. b. Pencampuran dengan mesin. Tempat pencampuran dengan pencampur berbentuk bintang,

merupakan alat yang paling esisien dalam segi keseragaman beton yang dihasilkan pada pencampuran dengan mesin, pengisian mesin tidak boleh melampaui batas kapasitas pencampurannya. Pada kapasitas alat pencampuran dan jumlah takaran, akan diketahui bahwa alat pencampuran itu hanya separuh lebih sedikit daripada kapasitas rata-rata.

3. Pengangkutan Beton. Pengangkutan campuran beton dari tempat mencampur ke tempat percetakan dapat dilakukan dengan berbagai cara dan alat. Beberapa jenis alat

yang biasa kita pakai untuk pengangkutan beton antara lain : gerobak, kereta dorong, ember, atau truk molen. 4. Pengecoran / Penuangan Campuran Beton. Untuk mendapatkan beton yang baik diusahakan supaya tidak terjadi segregasi. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada pengecoran beton agar mendapat kualitas baik adalah : a. Campuran beton harus dituang secara menerus (tidak putus). b. Bekesting diolesi dengan minyak / oli. c. Campuran tidak boleh dijatuhkan lebih dari satu meter. d. Agar tidak timbul rongga campuran beton dipadatkan selama pengecoran. 5. Pemadatan Beton. Pemadatan beton dapat dilakukan dengan tangan atau dengan mesin penggetar. Campuran yang baru dituang harus segera dipadatkan dengan cara ditusuk-tusuk dengan tongkat kayu / baja. Dalam proses pemadatan waktu yang diperlukan jangan terlalu lama agar tidak terjadi bleding (pemisahan bahan butiran halus naik keatas).

Alat getar ada dua macam :

a. Alat getar intrun (interval vibrator) : adalah alat getar yang berbentuk seperti tongkat. b. Alat getar cetakan (form vibrator, external vibrator) adalah alat getar yang ditempelkan pada cetakan beton (bekesting). 6. Perawatan Beton (Curing). Perawatan beton (curing) adalah suatu langkah / tindakan untuk memberikan kesempatan pada beton maningkatkan kekuatan dengan sempurna atau mencapai kekuatan maksimal. Salah satu perawatan beton dalam pengujian laboratorium adalah perendaman. Maksud direndam adalah untuk perawatan dan menjaga kelembaban beton selama proses kimia pengikatan semen. Yang dimaksud dengan perendaman adalah setiap kita selesai melakukan pekerjaan beton, maka permukaan beton sebaiknya direndam air atau kalau tidak memungkinkan permukaan tersebut diberi karung goni

kemudian disiram air, biarkan permukaan beton lembab selama minimal 7 hari. Proses ini dilakukan karena, hal itu memungkinkan proses hidrasi yaitu reaksi mineral semen dengan air, bisa berlangsung dengan baik untuk menghasilkan kekuatan dan daya tahan beton seperti yang direncanakan. Kurangnya kelembaban akan membuat mineral semen kurang bereaksi dengan baik untuk menghasilkan karakteristik beton yang dikehendaki . Terjemurnya beton yang baru selesai terhadap matahari, akan dengan cepat menghilangkan kandungan air yang dibutuhkan didalam beton untuk sempurnanya reaksi sehingga akan menghasilkan mutu beton yang tidak baik, retak dan kerusakan pada permukaan beton. Berdasarkan hasil kajian, kelembaban yang relative didalam beton yang aptimum untuk reaksi adalah 80% keatas, bila kelembaban beton terpengaruh oleh pengaruh lingkungan hingga turun dibawah 80%, maka reaksi akan terganggu bahkan terhenti sama sekali. Oleh karena itu menjaga kondisi beton tetap lembab secara kontinyu sampai mencapai mutu beton yang disyaratkan. Jika adukan beton setelah dituang dan dipadatkan, dan tidak dilakukan proses perawatan yang memadai dan hanya dibiarkan terekspos diruang terbuka, maka mutu dan kekuatan beton yang dihasilkan akan berkurang, bahkan bisa mengurangi kekuatan hingga 50% dari nilai rancangan mutu beton. Bahkan perawatan dari beton pada saat selesai dituangkan dalam pekerjaan sehari-hari sering sekali diabaikan, perawatan hanya pada hari pertama, sedangkan hari berikutnya beton dibiarkan kering. Temperatur merupakan factor yang sangat penting dalam perkembangan kekuatan beton, suhu optimal agar terjadi reaksi sempurna berkisar antara 10 23 C, bahkan jika perawatan dilakukan dibawah suhu 10 C, maka tidak akan memberikan perkembangan kekuatan nyang tinggi, bahkan jika perawatan dibawah titik beku maka tidak akan menghasilkan

kekuatan sama sekali. Sebaliknya jika suhu naik diatas 23 C, perkembangan kekuatan di umur awal semangkin meningkat, namun bisa menimbulkan efek lain, misalnya laju perkembangan kekuatan berikutnya akan terhambat dan mengakibatkan kekuatan beton akhir, lebih rendah, efek lainnya dengan menaiknya suhu lingkungan, laju penguapan air juga akan semangkin meningkat pula sehingga kelembaban akan turun dan mengakibatkan laju kekuatan beton berikutnya juga terganggu. Oleh karena itu, perawatan beton yang baik harus dilakukan terutama di umur awal, minggu pertama, sebab bila terjadi penguapan air yang signifikan diumur awal, beton akan mengalami penyusutan dan hal ini akan menimbulkan beban tarik yang terjadi lebih besar dari kekuatan tarik beton yang dicapai, maka dipastikan akan terjadi retak-retak permukaan. Tujuan perawatan beton yaitu : 1. Mencegah kehilangan moisture pada beton (tidak kurang dari 80%) 2. Mempertahankan suhu yang baik selama durasi waktu tertentu (diatas suhu beku dan dibawah 50 derajat Celcius) Tips untuk perawatan beton : 1. Gunakan air secukupnya 2. Jangan dibiarkan kering 3. Beton kering = semua reaksi berhenti 4. Beton tidak dapat direvitalisasi setelah kering 5. Pertahankan suhu yang sedang (20-30 derajat Celcius) 6. Beton yang mengandung abu terbang membutuhkan waktu perawatan lebih lama

Pengaruh temperatur terhadap beton :

1. Semakin tinggi suhu, semakin cepat terjadinya reaksi hidrasi 2. Suhu ideal adalah suhu ruang 3. Bila beton membeku selama 24 jam pertama, maka beton tersebut tidak akan pernah mencapai kembali sifat awalnya 4. Suhu perawatan diatas 50 derajat C dapat merusak beton karena semen mengeras terlalu cepat 5. Perawatan yang dipercepat dapat menghasilkan beton yang lebih kuat namun memiliki durabilitas yang rendah Jenis-jenis perawatan beton antara lain : 1. Steam Curing a. Menguntungkan bila menginginkan kekuatan awal Panas tambahan dibutuhkan untuk menyelesaikan hidrasi (misal pada musim dingin) b. Ada 2 metoda, yaitu Live steam (tekanan atmosferik) & Autoclave (tekanan tinggi) 2. Penyemprotan/ Fogging a. Metoda yang baik untuk kondisi dgn suhu diatas suhu beku dan humiditas rendah b. Kekurangannya yaitu biaya & dapat menyebabkan erosi pada permukaan beton yang baru mengeras 3. Penggenangan/Perendaman a. Ideal untuk mencegah hilangnya moisture b. Mempertahankan suhu yang seragam c. Kekurangannya yaitu membutuhkan tenaga kerja yang banyak dan perlu pengawasan & tidak praktis untuk proyek yang besar 4. Lembaran Plastik (Sesuai ASTM C171)

a. Lapisan Polyethylene dgn ketebalan 4 mm b. Kelebihannya yaitu ringan, efektif sbg penghalang hilangnya moisture, & mudah diterapkan c. Kekurangannya yaitu dapat menyebabkan discoloration permukaan, lebih terlihat bila lapisan plastik bergelombang, & diperlukan penambahan air secara periodik 5. Penutup Basah (Sesuai ASTM C171) a. Menggunakan bahan yang dapat mempertahankan moisture, spt. burlap (karung goni) yang dibasahin b. Kelebihannya yaitu tidak terjadi discoloration & tahan terhadap api c. Kekurangannya yaitu memerlukan penambahan air secara periodik & diperlukan lapisan plastik penutup burlap untuk mengurangi kebutuhan penambahan air 6. Curing Compound (Sesuai ASTM C 309) a. Membentuk lapisan tipis pada permukaan untuk menghalangi penguapan b. Efisiensinya di test dengan ASTM C 156 Akan susah dibandingkan bila beton tanpa perawatan, karena beton bisa jadi retak karena terlalu kering pada saat ikat awal sehingga mutu beton jauh sekali dari harapan

D. PENGUJIAN WORKABILITY Seperti yang telah dijelaskan diatas workability beton adalah sifat beton yang dapat dengan mudah dikerjakan. Untuk memenuhi hal tersebut maka harus dilakukan pengujian workability dengan cara menggunakan alat slump, yaitu berupa kerucut terpancung. Pengukuran menggunakan alat slump

ini bertujuan untuk mengukur tinggi penurunan campuran beton yang dicetakkan pada kerucut terpancung tersebut. Ketinggian penurunan menentukan nilai mudah tidaknya beton untuk dapat dikerjakan, apabila nilai turun semakin tinggi maka beton semakin mudah dikerjakan dan air yang digunakan jelas banyak, begitu juga sebaliknya. Tetapi nilai tinggi turunnya campuran beton tersebut mempunyai nilai optimum untuk mencapai kekuatan beton yang direncanakan.

Alat slump terdiri dari : 1. Corong baja berbentuk krucut terpancung yang berlubang pada kedua ujungnya. Bagian bawah berdiameter 20 cm, dan bagian atas berdiameter 10 cm, sedang tinggi kubus 30 cm. 2. Tongkat baja dengan diameter 16 cm dan panjang 60 cm.

Cara pengukuran tinggi slump : a) Bersihkan cone. Basahi permukaannya dengan air, dan tempatkan di papan slump. Papan slump harus bersih, stabil (tidak mudah bergeser),tidak berdebu, dan tidak miring. b). Ambil sampel beton

c) Berdiri pada pijakan (kuping) yang ada pada cone. Isi sepertiga bagian

dari cone dengan sampel. Padatkan dengan cara rodding, yaitu menusuknusuk beton sebanyak 25 kali. Lakukan dari bagian terluar ke bagian tengah.

d). Isi lagi hingga mencapai 2/3 bagian cone. Lakukan rodding 25 kali, tapi hanya sampai ke bagian atas lapisan pertama. Bukan ke dasar cone.

e). Isi hingga penuh, lakukan lagi rodding 25 kali hingga ke bagian atas lapisan kedua.

f). Ratakan bagian atas beton yang meluap dengan menggunakan batang besi. Bersikan papan slump di sekitar cone. Tekan pegangan cone ke bawah, dan lepaskan pijakan.

g). Angkat pelan-pelan bergerak/bergeser.

cone

tersebut.

Jangan

sampai

sampel

h). Balikkan cone, tempatkan di samping sampel, dan letakkan batang besi di atas cone yang terbalik tersebut.

i). Ukur slump beberapa titik, dan catat rata-ratanya.

j). Jika sampelnya gagal atau berada di luar toleransi, maka harus diambil sampel lain, kemudian dilakukan slump test lagi. Jika masih gagal juga, maka beton tersebut boleh ditolak.

E. PEMBUATAN BENDA UJI Benda uji beton digunakan untuk berbagai macam keperluan misalnya untuk mengetahui kuat tekan, kuat tarik belah, modulus elastisitas dan lain sebagainya. Berhubungan dengan keperluan tersebut, benda uji dapat dibuat bermacam-macam misal dalam bentuk silinder, kubus, ataupun prisma. Berikut ini adalah syarat benda uji :

1. Benda uji harus dibuat dari cetakan baja yang mempunyai permukaan rata. Cetakan sebelumnya harus bersih kemudian dioles dengan vaselin, oil atau minyak agar beton mudah dilepas dari cetakan. 2. Campuran beton untuk benda uji harus diambil langsung dari mesin pengaduk dengan menggunakan ember atau alat lain yang tidak menyerap air. 3. Pada campuran beton yang encer, campuran beton diisikan dalam 3 lapis, dimana setiap lapis ditusuk sebanyak 25 kali. Untuk campuran beton yang kental cetakan harus diberi sambungan tambahan keatas, kemudian campuran diisikan sekaligus. Selanjutnya campuran dipadatkan sesuai dengan langkah pelaksanaan yang telah tersebut diatas. 4. Benda uji yang baru dicetak, harus disimpan ditempat yang bebas dari getaran dan ditutup dengan karung basah selama 24 jam. Setelah itu cetakan dilepas, kemudian benda uji ditimbang untuk menentukan berat kering lalu direndam dalam bak air, selama waktu yang telah ditentukan. 5. Sebelum benda uji siap untuk diperiksa kekuatannya, harus diukur pada tiap sisi dengan ketelitian 1 mm, berat isi beton juga harus ditentukan dengan ketelitian sampai ratusan gram. 6. Pada pelaksanaan pengujian, tekanan diletakkan pada bagian bidang yang rata, jika benda uji berbentuk silinder, kedua permukaan harus dilapisi dengan lilin / malam untuk meletakan permukaan (kepping). Tekanan harus dinaikkan berangsur-angsur dengan kecepatan 6 + 4 kg/cm2 tiap detik. 7. Sebagai beban hancur dari benda uji berlaku beban tertinggi yang ditunjukan oleh pesawat penguji. Pesawat penguji tidak boleh mempunyai kesalahan yang melebihi 3% pada setiap pembebanan diatas 19% dari kapasitas maksimum.

Prosedur Pembuatan Sampel Silinder

Bersihkan cetakan silinder dan lumuri permukaan dalamnya dengan form oil, agar adukan beton tidak menempel di permukaan besi dari cetakan tersebut.

Ambil sampel adukan beton Isi 1/2 dari isi cetakan dengan sampel dan lakukan pemadatan dengan cara menusuk-nusuk (rodding) sebanyak 25 kali. Isi lagi cetakan silinder hingga sampel beton sedikit meluap. Lakukan rodding 25 kali sampai ke atas lapisan pertama.

Ratakan beton yang meluap, dan bersihkan tumpahan-tumpahan beton yang menempel di sekitar cetakan Beri label. Letakkan di tempat yang teduh dan kering dan biarkan beton setting sekurang-kurangnya selama 24 jam. Buka cetakan dan rendam beton

F. PERHITUNGAN SD DAN FC Benda uji umur 7 hari. Fcr = =


P A

32000 = 18,1 MPa 176 ,86 x10

SD

( fc fcr)
N 1

= fc

11,9 = 0.57MPa 7 1

= fcr K x S = 18,1 1.64 x 0,57 = 18,1 0,9348 = 17,165 MPa fc = 17,165 MPa fc =
17,165 = 26,40 MPa (0.65 = faktor konversi) 0.65

7 hari 28 hari

G. EVALUASI MUTU Selama masa pelaksanaan, mutu beton dan mutu pelaksanaan perlu diperhatikan dan diperiksa secara kontinu dari hasil-hasil pemeriksaan bendabenda uji. 1. Apabila pengawas ahli tidak menentukan sebelumnya, maka pada pekerjaan beton dengan jumlah mutu beton lebih besar dari 60 m3, harus dibuat 1 benda uji setiap 5 m3 beton untuk masing-masing mutu beton pada tiap harinya, kecuali pada permulaan dari pelaksanaan, dimana frekuensi pembuatan benda uji harus lebih besar agar dalam waktu sesingkat-singkatnya dapat terkumpul 20 buah benda uji. Untuk mencapai hal ini, maka 1 benda uji beton dibuat setiap 3 m3 beton. Hasil pemeriksaan 20 benda uji pertama ini harus dipakai sebagai dasar untuk mempertimbangkan apakah perlu diadakan perubahan dalam campuran beton, cara pelaksanaan atau dalam nilai deviasi standar rencana (SD). Dalam proses pemeriksaan mutu beton dengan jumlah dari masing-masing mutu beton lebih dari 60 m3, harus dipenuhi ketentuanketentuan dari ayat (2) PBI 1971. Untuk pekerjaan beton dengan jumlah dari masing-masing mutu beton kurang dari 60 m3 berlaku ayat (3). 2. Pada pekerjaan beton dengan jumlah dari masing-masing mutu beton lebih dari 60 m3, berlaku ketentuan-ketentuan berikut untuk masingmasing mutu beton agar dapat memenuhi syarat, yaitu : a. Tidak boleh terjadi lebih dari satu nilai diantara 20 nilai hasil pengujian benda uji berturut-turut kurang dari kuat desak karakteristik yang disyaratkan (SN). b. Tidak boleh terjadi satu pun nilai rata-rata dari 4 hasil pengujian benda uji berturut-turut kurang dari ( SN + 0,82 S ). c. Selisih antara nilai tertinggi dan terendah diantara 4 hasil pengujian benda uji berturut-turut tidak boleh lebih besar dari 4,3 S. d. Dalam segala hal, hasil pengujian 20 benda uji berturut-turut, harus memenuhi syarat PBI 1971, pasal 4.5.

Setiap hasil pengujian 20 benda uji berturut-turut seperti disebut dalam syarat 4 diatas, harus dipakai sebagai dasar untuk mempertimbangkan apakah perlu diadakan perubahan dalam campuran beton, cara pelaksanaan, atau dalam menentukan nilai deviasi standar rencan ( SD ) untuk pengujian selanjutnya. 1. Apabila syarat 1 s/d 3 dari sub ayat diatas tidak terpenuhi sebagian atau seluruhnya, segera setelah hal itu diketahui, pelaksana diwajibkan menyelidiki sebab dari penyimpangan tersebut dan melaporkan hasilnya kepada pengawas ahli, disertai dengan usulan mengenai tindak-tindakan perbaikan selanjutnya, seperti perubahan komposisi campuran beton, perubahan cara pelaksanan dan tindakan-tindakan pengamanan lainnya. Seletah disetujui oleh pengawas ahli, tindakan tersebut harus segera dilaksanakan pada pengecoran beton berikutnya. Dalam hal ini mutu beton yang dicor pada waktu terjadi penyimpangan tersebut hanya dapat dianggap memenuhi syarat, apabila syarat 4 dari sub ayat a diatas telah terpenuhi. 2. Apabila syarat 4 dari sub ayat a diatas tidak terpenuhi, untuk beton tidak memenuhi syarat, dan pengecoran beton harus segera dihentikan. Dalam hal ini tindakan-tindakan yang diambil selanjutnya ditentukan dalam pasal 4.8 PBI 1971. 3. Pada pekerjaan beton dengan jumlah dari masing-masing mutu beton kurang dari 60 m3, untuk masing-masing mutu beton berlaku ketentuanketentuan berikut. a. Pembuatan benda uji dapat dilakukan sebagai berikut. 1. Interval jumlah pengecoran beton (per-m3) yang sekiranya sama dalam pembuatan benda uji ditetapkan sedemikian rupa sehingga setelah selesai pengecoran beton seluruhnya, masing-masing mutu beton dapat terkumpul minimal 20 buah benda uji. 2. Apabila karena alasan-alasan tertentu pembuatan 20 buah benda uji dianggap tidak praktis atau tidak dapat dilakukan, jumlah benda uji yang dapat dibuat kurang dari 20 buah, asalkan pembuatannya dilakukan dengan interval jumlah pengecoran yang kira-kira sama.

b. Apabila telah selesai pengecoran kemudian masing-masing mutu beton dapat terkumpulkan minimum 20 buah benda uji, maka mutu beton dianggap memenuhi syarat, jika hasil pengujian 20 buah benda uji tersebut menunjukan bahwa pasal 4.5 ayat (2) PBI 1971 terpenuhi. c. Apabila setelah selesai pengecoran untuk masing-masing mutu beton mendapatkan jumlah benda uji kurang dari 20 buah, maka harus dilakukan penilaian dengan cara evaluasi menurut dalil-dalil matematika statistik yang berbeda, mutu beton tersebut dianggap memenuhi syarat, apabila nilai rata-rata dari setiap 4 hasil pengujian benda uji berturut-turut tersebut adalah lebih besar dari (SN + 0,82 S), dimana SN adalah kuat desak beton karakteristik yang disyaratkan dan SD adalah standar deviasi rencana yang dimaksudkan oleh pasal 4.5 ayat (3). d. Apabila dari hasil-hasil pengujian benda-benda uji kuat desak beton karakteristik ternyata tidak tercapai, maka mutu beton tidak memenuhi syarat, dan tidakan-tindakan yang diambil selanjutnya ditentukan dalam pasal 4.8 PBI 1971. 4. Agar dalam waktu yang singkat sudah ada gambaran tentang mutu dari beton dan dari pelaksanaannya, dianjurkan juga untuk membuat benda uji untuk diperiksa pada umur 3 atau 7 hari disamping membuat benda uji untuk diperiksa pada umur 28 hari. Hasil-hasil pengujian dengan benda uji ini dapat dijadikan dasar untuk mempertimbangkan apakah perlu diadakan perubahan dalam campuran dan / atau cara pelaksanaannya. Sebagai penilaian yang menentukan bagi mutu beton, tetap harus diambil berdasarkan pemeriksaan benda uji pada umur 28 hari. 5. Untuk menilai apakah beton sudah cukup keras, sehingga cetakan atau acuan-acuan dapat dibongkar, atau beban-beban dapat diberikan pada beton tersebut, maka disamping untuk memeriksa mutu, pengawas ahli juga dapat memerintahkan pembuatan benda-benda uji untuk penilaian ini. 6. Pembuatan dan pemeriksaan benda-benda uji harus memenuhi ketentuanketentuan yang berlaku.