Anda di halaman 1dari 45

Upaya Peningkatan Kesehatan Kerja

Evi Melia Susan 10.2009.121 D-3 Fakultas Kedokteran Universitas Kristen krida Wacana Jl.Arjuna utara No.6 Kebon Jeruk, Jakarta 11510 E-mail: evimeliasusan@gmail.com

PENDAHULUAN Kecelakaan dan sakit di tempat kerja membunuh dan memakan lebih banyak korban jika dibandingkan dengan perang dunia. Riset yang dilakukan badan dunia ILO menghasilkan kesimpulan, setiap hari rata-rata 6.000 orang meninggal, setara dengan satu orang setiap 15 detik, atau 2,2 juta orang per tahun akibat sakit atau kecelakaan yang berkaitan dengan pekerjaan mereka. Jumlah pria yang meninggal dua kali lebih banyak ketimbang wanita, karena mereka lebih mungkin melakukan pekerjaan berbahaya. Secara keseluruhan, kecelakaan di tempat kerja telah menewaskan 350.000 orang. Sisanya meninggal karena sakit yang diderita dalam pekerjaan seperti membongkar zat kimia beracun (ILO, 2003). Pengeluaran biaya akibat kecelakaan dan sakit yang berkaitan dengan kerja merugikan ekonomi dunia lebih dari seribu miliar dolar (850 miliar euro) di seluruh dunia, atau 20 kali jumlah bantuan umum yang diberikan pada dunia berkembang. Di AS saja, kecelakaan kerja merugikan pekerja puluhan miliar dolar karena meningkatnya premi asuransi, kompensasi dan menggaji staf pengganti. Angka keselamatan dan kesehatan kerja (K3) perusahaan di Indonesia secara umum ternyata masih rendah. Berdasarkan data organisasi buruh internasional di bawah PBB (ILO), Indonesia menduduki peringkat ke-26 dari 27 negara. Kinerja penerapan K3 di perusahaan Indonesia masih jauh dari yang diharapkan. Padahal kalau kita menyadari secara nyata bahwa volume kecelakaan kerja juga menjadi kontribusi untuk melihat kesiapan daya saing. Jika volume itu masih terus tinggi, Indonesia bisa kesulitan dalam menghadapi pasar global. Jelas ini akan merugikan semua pihak, termasuk perekonomian kita. Juga terjadi ketidakefisienan sehingga tidak bisa bersaing.

PBL Blok 28 Occupational Medicine

PEMBAHASAN

2.1 Surveilance
Secara garis besar ruang lingkup surveilans K3 terbagi dua, yaitu : 1. Surveilans Efek Kesehatan dan Keselamatan

Pengumpulan, analisis & diseminasi/komunikasi data kesehatan (data penyakit) dan data keselamatan (data kecelakaan) spesifik untuk populasi pekerja berisiko dengan cara sitematik dan berksinabungan yang dapat digunakan bagi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program K3 di dunia usaha dan dunia kerja.1 2. Surveilans Hazard Kesehatan dan Keselamatan

Identifikasi hazard, pengukuran pajanan, analisis dan diseminasi atau komunikasi hazard kesehatan dan keselamatan yang spesifik bagi populasi pekerja berisiko dengan cara sistematik dan berkesinambungan digunakan bagi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program K3 di dunia usaha dan dunia kerja 3. Metode Surveilans K3

Dalam rangka pemantauan hazard dan risiko yang ada di tempat kerja, maka hal penting yang harus dilakukan adalah melakukan Surveilans Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Surveilans K3 terdiri dari strategi-strategi dan metode untuk mendeteksi dan menilai secara sistematis dampak dari suatu pekerjaan terhadap kesehatan dan keselamatan pekerja. Dengan surveilans maka dilakukanlah pengumpulan, analisis, interpretasi data, dan penyebaran informasi agar dapat diambil tindakan segera yang diyakini dapat mencegah pekerja dari penyakit dan kecelakaan.1 Langkah awal dalam kegiatan ini adalah dengan melakukan rekognisi faktor risiko, kemudian melakukan analisis, dan komunikasi yang nantinya diharapkan dapat dikembangkannya sistem pengumpulan, analisis dan diseminasi serta komunikasi data kesehatan dan keselamatan di tempat kerja Kegiatan Program meliputi rekognisi, analisis data kesehatan seluruh pekerja berisiko, dan komunikasi pada seluruh pihak yang berkepentingan. Metode yang digunakan untuk pelaksanaan Program Occupational Health surveilans adalah dengan melakukan identifikasi faktor risiko di tempat kerja dan identifikasi pekerja di populasi yang berisiko.1
PBL Blok 28 Occupational Medicine 2

Data Faktor Risiko Lingkungan Kerja Data Pemantauan Higiene Industri Data Pemantauan Ergonomi Data Pemantauan Stres Kerja Data Pemeriksaan Kesehatan Sebelum Bekerja, Berkala, Khusus, Return to Work, PHK/Pensiun Analisis & Komunikasi Trend Faktor Risiko & Status Kesehatan, Hubungan Antara Faktor Risiko & Efek Kesehatan

Objek Surveilans Kesehatan Kerja adalah sebagai berikut; Pekerja Lingkungan kerja Pekerjaan

Pengukuran Pajanan pada Pekerja Noise dosimeter Personal dust sampler Pengukuran dengan Spirometer Pengukuran logam berat di urine & darah

Pengukuran Pajanan pada Lingkungan Kerja Kebisingan di lingkungan kerja Debu di lingkungan kerja Temperatur di lingkungan kerja Logam berat di lingkungan kerja

Berdasarkan pekerjaan, tergantung lama pajanan orang pada pekerjaan tersebut, dijelaskan dalam bentuk hitungan atau fungsi dari pajanan dan tahun;1 pajanan x tahun = person-years Adapun pengukuran Pajanan juga ada dua macam, yakni Pajanan sesaat Pajanan kumulatif

Pajanan rata2 berdasarkan:


PBL Blok 28 Occupational Medicine 3

Sampel area Sampel individu (toksikan, BEI mis: azide iodide pd urine krn karbondisulfida asam t-t mukonat dalam urine karena benzene)

Persyaratan dan Teknik Pelaksanaan Persyaratan untuk Mengadakan Surveilans K3 di Tempat Kerja adalah sebagai berikut. 1. 2. 3. 4. Ada penyakit maupun cedera yang dapat diidentifikasi atau adanya dampak negatif pada pekerja lain yang dinilai dapat merugikan Efek penyakit dan/atau cedera tersebut terkait dengan eksposur/pajanan di tempat kerjanya. Ada kemungkinan atau probability bahwa efek penyakit dan/atau cedera tersebut berpotensi dapat terjadi Ada beberapa teknik yang berlaku untuk mendeteksi indikasi dari efek penyakit dan/atau cedera tersebut.

Teknik Surveilans kesehatan harus: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Sensitif Spesifik Mudah untuk dilakukan dan diinterpretasikan Aman Non-invasif Dapat diterima

Data yang tersedia atau didapat, digunakan untuk mengatasi masalah K3 berdasarkan evidence, dengan menyusun upaya promotif, prevetif, kebijakan, perencanaan program antara lain seperti berikut. 1. 2. 3. 4. Mengolah data sebagai alat/metode guna pemantauan penyakit atau masalah K3 di wilayah setempat Memantau kemajuan pelayanan K3 dan cakupan indikator K3 secara teratur (bulanan) dan terus menerus. Menilai kesenjangan pelayanan K3 terhadap standar pelayanan K3. Menilai kesenjangan pencapaian cakupan indikator K3 terhadap target yang ditetapkan, antara lain seperti beriku. a. Konsentrasi debu, pelarut organik, pestisida, uap logam atau bahan kimia lainnya di udara lingkuan kerja dibandingkan dengan nilai ambang batas yang diperkenankan

PBL Blok 28 Occupational Medicine

b. Tingkat pajanan bising, panas, atau getaran pada individu kelompok pekerja berisiko dibandingkan dengan nilai ambang batas yang diperkenankan. c. Hasil pantauan biomarker timah hitam, benzene, aseton, inhibitor kolinesterase atau bahan kimia lainnya dalam spesimen cairan tubuh pekerja dibandingkan dengan indeks pajanan biologik d. Tingkat kekerapan dan tingkat keparahan absenteisme yang terekam dibandingkan dengan standar atau target yang ditetapkan e. Tingkat kekerapan dan tingkat keparahan kecelakaan yang terekan dibandingkan dengan stanar atau target yang ditetapkan 5. 6. 7. Menilai Prevalens dan insiden penyakit spesifik yang diduga berkaitan dengan pajanan hazard di tempat kerja Menentukan sasaran individu, kelompok kerja, jenis pekerjaan dan wilayah prioritas yang akan ditangani secara intensif berdasarkan besarnya kesenjangan. Menilai keberhasilan pencapaian target, mengevaluasi dan menyusun strategi perbaikan secara terus menerus

Persiapan Pelaksanaan Surveillans Kesehatan Kerja 1. Penilaian risiko kesehatan atau HRA yang dilakukan berdasarkan hazard yang teridentifikasi oleh tim HI. Apabila belum ada, proses identifikasi hazard dan penilaian risiko serta HRA dilakukan oleh tim multidisiplin yang anggotanya terdiri dari wakil pimpinan dan pelaksana dari unit kerja terkait bagian kesehatan, keselamatan, HI ataupun lingkungan dan ergonomis.2 2. Perencanaan program

Setelah mendapatkan HRA, penaggungjawab surveilans Kesja yang adalah Dokter Kesehatan kerja Dan HI yang akan menyusun program awalan hingga menetapkan pekerja yang berisiko, penetapan jenis hazard dan efek kesehatan. 3. 4. Penetapan pekerja yang beresiko Penetapan jenis Hazard dan efek kesehatan yang dipantau Aktivitas Survei dan pembukaan hutan Hazard Teridentifikasi Racun flora fauna Debu dari kerak Hazard yang dipantau Racun flora Debu Antisipasi efek kesehatan Iritasi kulit Pneumokoniosis

PBL Blok 28 Occupational Medicine

bumi Vibrasi kendaraan Bising kendaraan Ergonomik Pengupasan kerak bumi

Vibrasi Bising Postur Janggal

Gangguan syaraf tepi Penurunan pendengaran CTD

Debu Vibrasi Bising Postur janggal

Pneumokoniosis Gangguan syaraf tepi Penurunan pendengaran CTD

Tabel 1 Cara penyajian data mengenai jenis Hazard yang dipantau. 5. Penetapan Jenis pemeriksaan kesehatan Hazard Bising Debu Ultra Violet Virus Hepatitis B Pelarut organik Jenis pemeriksaan Audiometri, kuesioner Spirometri. Foto toraks dan kuesioner Mata dan kuit HBsAg, HBcAg, SGOT dan SGPT Nerologic, iritasi mata dan saluran pernafasan, fungsi ginjal dan hati, spirometri, dan pemantauan biologic

Tabel 2 Contoh Jenis pemeriksaan kesehatan berdasarkan hazard spesifik Jabatan Pengguna respirator Off shore Supir Welders Fire fighter Jenis pemeriksaan Fungsi paru Audiogram, Fungsi paru, drugs dan alcohol Visus, audiogram, drugs dan alcohol Urinalisis dan Biomonitoring Audiogram dan fungsi paru

Tabel 3 Contoh Jenis pemeriksaan kesehatan berdasarkan hazard spesifik 6. Komunikasi untuk mendapatkan dukungan dan komitmen
PBL Blok 28 Occupational Medicine 6

Melibatkan seluruh pemangku kepentingan khusunya pemimpin tertinggi dan pekerja. Sebelum penyusunan proposal program, hendaknya dilakukan komunikasi berjenjang.2 7. Pembentukan tim surveilans

Profesi utama yang bertanggungjawab dalah doketr, perawat kesja, HI dan ergonomis. Dan membutuhkan keterlibatan manajer SDM untuk menentukan penempatan SDM. Supervisor untuk mengawas hazard dan pekerja serta memastikan pekerja terlibat aktif dalam surveilans kesehatan kerja. 8. Hasil pemeriksaan kesehatan dan informed concern

Tahapan Pelaksanaan Surveillans Kesehatan Kerja 1. a. Tahap pengumpulan data Data Faktor Risiko

Dikumpulkan dengan survey jalan selintas, interview, chemical inventory, tinjauan dokumen seperti safet data sheet. b. Data gangguan kesehatan

Dikumpulkan dengan survey jalan selintas, notulen rapat P2K3 dan data pemeriksaan kesehatan pekerja. c. Data pemantauan biologi

Biasanya data ini didapat dari HI atau pengukuran dengan melibatkan Laboratorium Provider. Sedangkan Informasi penanda kimia didapat dari ACGIH dan NIOSH 2. Tahap analisis data dan surveilans PAK

Dilakukan analisis trend dan interaksi pajanan, hasil pemantaun biologi dan efek kesehatan yang ditimbulkan, baik perorangan maupun kelompok. Analisis hasil surveilans hazard adalah membandingkan dengan nilai ambang batas. Analisi hasil surveilans efek kesehatan akan didapat apa, siapa, di mana, bilamana gangguan kesehatan terjadi sehingga didapat data distribusi frekuensi penyakit berdasarkan beberapa faktor risiko.2 Surveilans hazard kesehatan di lingkungan dapat menjawab intensitas, pajanan dan surveilans efek kesehatan pada pekerja menyediakan data status kesehatan pekerja. Menggabungkan data surveilans hazard dan surveilans efek kesehatan dapat dilakukan analisis epidemiologi untuk
PBL Blok 28 Occupational Medicine 7

menjelaskan mengapa danbagaiman suatu gangguan kesehatan timbul. Lebih lanjut dapat dilakukan pebandigan risiko relative pada pekerja terpajan dan tidak terpajan maka akan lebih jelas hubungan atau asosiasi antara factor risiko dan efek yang ditimbulkan.3 3. Tahap pelaporan dan pemanfaatan hasil surveilans untuk perbaikan

Pelaporan ini dilakukan pada forum yang melibatkan semua manajemen. Hasil analisis dikomunikasikan dalam bentuk agregat dengan kode etik dan menjunjung privasi. Penyampaian manfaat yang tinggi dan menguntungkan banyak pihak harus dilakukan untuk kesuksesan pelaksanaan rekomendasi, terkait program kesehatan yang diencanakan.2,3

2.2 Kesehatan Keselamatan Kerja


Kesehatan merupakan unsur penting agar kita dapat menikmati hidup yang berkualitas. Kesehatan juga menjadi faktor penting dalam menjaga kelangsungan hidup sebuah organisasi. Beberapa situasi dan kondisi pekerjaan, baik tata letak tempat kerja atau material-material pekerjaan yang digunakan, menghadirkan risiko yang lebih tinggi dari pada normal, terhadap kesehatan. Beberapa pajanan karena material-material tersebut juga berpengaruh terhadap kesehatan jika terlalu lama terkena pajanan tersebut. Pajanan yang dimaksud adalah ergonomi, fisik, psikososial, kimia, dan biologis.3 1. Faal kerja dan Ergonomi a. Faal kerja Ilmu faal yang dikhususkan untuk manusia yang bekerja disebut ilmu faal kerja atau fisiologi kerja. Dalam faal kerja, perhatian utama difokuskan kepada kerja fisik atau otot. Selain itu jantung dan sistem peredaran darah, paru dan alat pernapasan lainnya, sistem gastro-intestinal (mulut, esophagus, usus, hati dan lainnya) juga memainkan fungsi masing-masing dalam mendukung dan menunjang kelancaran berlangsungnya aktivitas dan rangkaian kegiatan dilakukan pekerjaan. Untuk kelangsungan pelaksanaan pekerjaan, semua organ terkait dan seluruh sistem yang beroperasi dalam tubuh harus berada pada kondisi optimal. Untuk pekerjaan fisik, otot adalah bagian tubuh terpenting bagi pelaksanaan aktivitas kerja. Namun begitu, bekerjanya otot yang terus-menerus tanpa berhenti bekerja, selalu diikuti dengan terjadinya kelelahan, yang memerlukan istirahat untuk pemulihan. Kelelahan otot secara fisik antara lain merupakan akibat dari efek zat sisa metabolisme seperti asam laktat, CO2, atau lainnya. Selain itu kelelahan tidak hanya ditentukan oleh kondisi ototnya, tapi juga dipengaruhi oleh aspek mental-psikologis.1 Otot dan tulang merupakan dua bagian tubuh yang sangat utama perannya dalam mekanisme bekerja fisik. Karena itu dikenal biomekanik, yaitu ilmu dan pengetahuan tentang gerakan otot dan tulang, yang penerapannya oleh tenaga kerja dalam melaksanakan pekerjaannya diharapkan agar dengan tenaga minim dpat dicapai hasil yang optimal atau maksimal, sedangkan
PBL Blok 28 Occupational Medicine 8

kesehatan tenaga kerja terpelihara dan tenaga kerja berada pada kondisi nyaman dalam bekerja. Biomekanik memberikan informasi tentang gerakan dan kekuatan pada pengguanaan leher dan kepala, tulang belakang, lengan, tangan, kaki, jari, dan sebagainya. Otot dan tulang merupakan faktor dominan dalam menentukan kekhususan seorang tenaga kerja dalam hal ukuran tinggi badan dan ukuran tubuh atau pun segmennya. Ukuran-ukuran tubuh menentukan kemampuan fisik tenaga kerja untuk bekerja.1 Peralatan kerja dan mesin perlu diserasikan dengan ukuran tubuh tenaga kerja untuk tujuan meraih hasil kerja yang secara kualitatif dan kuantitatif memuaskan serta tenaga kerja merasakan kemudahan dalam melakukan pekerjaannya. Karena itu berkembang ilmu antropometri, yaitu ilmu tentang ukuran tubuh dan segmen-segmennya, baik dalam keadaan statis maupun dinamis yang sangat besar manfaatnya bagi keperluan pelaksanaan pekerjaan dengan tujuan agar tenaga kerja sehat dan produktif bekerja. Ukuran tubuh demikian antara lain: 1. Berdiri: tinggi badan, tinggi bahu, tinggi siku, tinggi pinggul, panjang depa, dan panjang lengan. 2. Duduk: tinggi duduk, panjang lengan atas, panjang lengan bawah dan tangan, tinggi lutut, jarak lekuk lutut-garis punggung, jarak lekuk lutut-telapak kaki. Selain ukuran postur dan segmen tubuh demikian, masih banyak ukuran antropometris segmen tubuh yang perlu diketahui dengan pengukuran untuk digunakan untuk digunakan dalam upaya penyesuian faktor manusia dengan mesin dan peralatan serta perlengkapan kerja dan juga guna menetapkan cara kerja yang serasi dengan faktor manusia.2

PBL Blok 28 Occupational Medicine

Gambar 1. Data antropometri tenaga kerja dengan usia lebih dari 20 tahun tapi kurang dari 50 tahun

Gambar 2. Tingkat berat ringannya beban kerja menurut variabel faal

PBL Blok 28 Occupational Medicine

10

Gambar 3. Antropometri berdasarkan jenis kelamin Jantung adalah organ sangat penting dalam fisiologi kerja. Dengan kegiatan tubuh yang meningkat, jantung harus memompakan darah lebih banyak; hal ini berarti bahwa jumlah denyutan jantung per satuan waktu bertambah. Banyaknya denyutan jantung per satuan waktu merupakan suatu petunjuk tingkat berat-ringannya beban kerja. Pada pekerjaan sangat ringan denyut jantung atau nadi adalah < 75; pekerjaan ringan antara 75-100, agak berat 100-125, berat 125-150, sangat berat 150-175 dan luar biasa berat > 175/menitnya. Maksimum denyut nadi orang muda adalah 200/menit, sedangkan yang berusia 40 tahun ke atas 170/menit. Jantung yang sehat sesudah kerja akan berdenyut normal kembali.1,3 Salah satu kebutuhan utama bagi bekerjanya otot dan bagian tubuh lainnya adalah zat asam (oksigen) yang nantinya membantu untuk menghasilkan energi. Banyaknya O2 yang digunakan juga merupakan indicator besarnya beban kerja. Untuk bekerja, diperlukan energi. Semakin berat pekerjaannya, semakin besar energi yang diperlukan. Dalam hubungan ini banyaknya kalori yang dibutuhkan untuk bekerja merupakan indikator tingkat berat-ringannya beban pekerjaan. Tingkat produksi panas dalam tubuh sejalan dengan kenaikan suhu badan (terutama suhu rectal) dan juga upaya tubuh untuk mengeluarkan panas sebagai akibat
PBL Blok 28 Occupational Medicine 11

metabolism melalui evaporasi; hal ini untuk memelihara homeostatis suhu tubuh. Kecepatan penguapan keringat juga merupakan indikator. Namun indikator-indikator tersebut masih dipengaruhi oleh keadaan iklim/cuaca kerja serta faktor individual pekerjanya seperti emosi dan keterampilan.2 Ginjal tidak kalah pentingnya dalam memberikan dukungan fisiologis dalam mekanisme faal kerja, oleh karena merupakan organ yang mengeluarkan zat sampah metabolism yang terlarut. Ginjal juga berperan memelihara keseimbangan cairan tubuh. Ginjal yang sehat terutama diperlukan pada pekerjaan dengan iklim/cuaca kerja panas. Beban kerja suatu aktivitas pekerjaan menentukan berapa lama seorang tenaga kerja dapat atau mampu bekerja sesuai dengan kapasitas kemampuan bekerja tenaga kerja tersebut. Makin berat beban kerja fisiologisnya, makin pendek waktu seseorang dapat bekerja tanpa kelelahan atau gangguan kesehatan. Selain beban kerja dan kondisi organ tubuh, faktor waktu kerja dan faktor lingkungan tempat pekerjaan dilakukan sangat berpengaruh kepada faal kerja. Waktu mungkin dalam hal lamanya seseorang bekerja, pengaturan waktu istirahat, dan juga dalam hal periodisitasnya. Lamanya bekerja tergantung dari kemampuan seorang tenaga kerja melakukan pekerjaan, berat ringannya beban kerja dan kondisi lingkungan kerja. Adapun periodisitas waktu kerja berkaitan dengan irama biologis manusia, yaitu perubahan faal manusia menurut waktu seperi kehidupan siang untuk bekerja sedangkan malam untuk istirahat, periodisitas bulanan pada wanita.1 b. Ergonomi Kata ergonomi berasal dari bahasa Yunani: ergon (kerja) dan nomos (peraturan, hukum). Ergonomi adalah penerapan ilmu-ilmu biologis tentang manusia bersama-sama dengan ilmuilmu teknik dan teknologi untuk mencapai penyesuaian satu sama lain secara optimal dan manusia terhadap pekerjaannya, yang manfaat dari padanya diukur dengan efisiensi dan kesejahteraan kerja. Ergonomi merupakan perpaduan dari berbagai lapangan ilmu. Namun kekhususan utamanya adalah perencanaan tata kerja yang dilaksanakan dengan cara yang baik dalam hal metoda kerja dan peralatan serta perlengkapannya. Program ergonomi meliputi identifikasi problema yang dihadapi, pengambilan kebijakan pemecahan masalah, implementasi rumusan jalan keluar dengan memulainya pada skala kecil untuk dievaluasi efektivitasnya dan selanjutnya pelaksanaan hasil uji yang positif pada lingkup yang luas. Penentuan problema ergonomi dilakukan antara lain pengamatan terhadap gejala atau tanda absenteisme, kebiasaan sering pindah atau ganti kerja dan lain-lain yang mungkin merupakan akibat dari beban kerja yang berlebihan dan tidak terpikulkan oleh tenaga kerja, organisasi kerja yang sistemnya tidak memperhatikan kapasitas faktor manusia, kesulitan melakukan pekerjaan sebagai akibat buruknya desain mesin dan pengaturan tata kerja. Kelanjutan dari pengamatan adalah dibuatnya analisis pekerjaan, yang meliputi sistem kerja. Observasi langsung atau telemetris dari cara melakukan pekerjaan atau juga terhadap parameter
PBL Blok 28 Occupational Medicine 12

fisiologis faktor manusia, analisis potensi dan risiko bahaya atau kecelakaan yang sumbernya karakteristika fisik atau kejiwaan. Ergonomi dapat membuat beban kerja suatu pekerjaan menjadi berkurang. Tujuan utamanya adalah untuk menjamin keselamatan, kesehatan, dan kepuasan kerja, tetapi dengan itu produktivitas dan juga efisiensi serta efektivitas pekerjaan dapat ditingkatkan. Suatu lapangan penting dalam ergonomi adalah posisi tubuh dan gerakan seluruh dan aggota badan, yang menentukan besarnya pemakaian energy dan aktivitas sensorimotoris.4 Di bawah ini dikemukakan beberapa pedoman penerapan ergonomi sebagai pegangan: 1. sikap tubuh dalam melakukan pekerjaan sangat dipengaruhi oleh bentuk, ukuran, susunan dan penempatan mesin dan peralatan serta perlengkapan kerja, cara kerja mengoperasikan mesin dan peralatan yang merinci macam gerak, arah dan kekuatannya yang harus dilakukan. 2. untuk standarisasi bentuk dan ukuran mesin dan peralatan kerja, harus diambil ukuran terbesar sebagai dasar serta diatur suatu cara, sehingga dengan ukuran tersebut mesin dan peralatan kerja dapat dioperasikn oleh tenaga kerja yang ukuran antropometrisnya kurang dari standar. Sebagai contoh kursi yang tingginya dapat dinaik turunkan sesuai angka antropometris tenaga kerja yang duduk di kursi tersebut.1 3. ukuran antropometris statis terpenting sebagai dasar desain dan pengoperasian mesin dan peralatan kerja. 4. standar ukuran meja kerja bagi pekerjaan yang dilakukan dengan berdiri: a. pada pekerjaan tangan (manual) yang dilakukan dengan cara berdiri, tinggi meja kerja sebaiknya 5-10 cm di bawah tinggi siku. b. apabila bekerja dilakukan dengan berdiri dan pekerjaan dikerjakan diatas meja dan jika dataran tinggi siku dinyatakan sebagai dataran 0 maka bidang kerja: i. untuk pekerjaan memerlukan ketelitian 0 + (5-10) cm; ii. untuk pekerjaan ringan 0 (5-10) cm; iii. untuk bekerja berat yang perlu mengangkat barang berat dan memerlukan bekerjanya otot punggung 0 (10-20) cm 5. dari segi otot, posisi duduk yang paling baik adalah sedikit membungkuk, sedangkan dari aspek tulang, terbaik adalah duduk yang tegak, agar punggung tidak bungkuk dan otot perut tidak berada pada keadaan yang lemas. Sebagai jalan keluar, dianjurkan agar digunakan posisi duduk yang tegak dengan diselingi istirahat dalam bentuk sedikit membungkuk. 6. Tempat duduk yang baik memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. tinggi dataran duduk dapat diatur dengan papan injakan kaki sehingga sesuai dengan tinggi lutut, sedangkan paha berada dalam keadaan datar.2 b. tinggi papan sandaran punggung dapat diatur dan menekan dengan baik kepada punggung c. lebar alas duduk tidak kurang dari lebar terbesar ukuran antropometris pinggul 7. Pekerjaan berdiri sedapat mungkin diubah menjadi pekerjaan yang dilakukan dengan posisi duduk. Bagi tenaga kerja, disediakan tempat duduk dan diberi kesempatan untuk duduk.

PBL Blok 28 Occupational Medicine

13

8. Arah penglihatan untuk berdiri adalah 23-370 ke bawah, sedangkan untuk duduk 32-440 ke bawah sesuai posisi kepala yang pada keadaan istirahat. 9. Kemampuan seseorang bekerja seharian adalah 8-10 jam, lebih dari itu efisiensi dan kulitas kerja akan menurun. 10. Pemeliharaan penglihtan dilakukan sebaik-baiknya terutama penyelenggaraan pencahayaan dan penerangan yang baik terutama berkaitan dengan kepentingan pelaksanaan pekerjaan. 11. Batas kemampuan atau kesanggupan bekerja sudah tercapai, apabila bilangan nadi kerja mencapai angka 30/menit di atas bilangan nadi istirahat, dan kembali normal setelah istirahat sesudah 15 menit.1 Untuk menentukan sejauh mana prinsip-prinsip ergotomi telah diterapkan, biasanya disusun kuesioner. Pada ergonomi sesuai skenario C, yang sering dilakukan di pabrik sepatu adalah: 1. Ergonomis - Mengangkat, Membawa dan Memindahkan Mengangkat, membawa dan memindahkan: jangan sampai punggung Anda patah MENGAPA? Mengangkat barang berat dan cara mengangkat yang salah mengakibatkan kelelahan dan cedera punggung. Hal ini dapat mengakibatkan Anda mengalami kerugian yang amat besar, seperti Anda bisa kehilangan kemampuan bekerja dalam jangka waktu lama.4 BAGAIMANA? Latih pekerja gunakan kaki ketimbang punggung ketika mengangkat. Angkat dan rendahkan badan perlahan di depan badan tanpa memutar atau memutar dalam tubuh kita. Daripada mengangkat atau membawa benda berat, bagi benda tersebut dalam bungkus, kemasan atau keranjang yang lebih kecil yang memungkinkan kita menggunakan kekuatan pegangan (power grip), daripada sentuhan pegangan (pinch grip), saat membawa secara manual. Gunakan kereta dorong, dan alat beroda lainnya atau troli ketika memindahkan bendabenda yang berat. Kombinasikan angkatan dengan tugas yang secara fisik lebih ringan guna mencegah cedera, kelelahan dan guna menambah efisiensi. Rotasikan tugas kerja.

2. Ergonomis - Postur Berbahaya dan Tempat Duduk Postur berbahaya: postur yang buruk mengurangi efisiensi dan kenyamanan MENGAPA?
PBL Blok 28 Occupational Medicine 14

Pekerjaan dilakukan dalam posisi yang alami, dengan beban di kedua kaki dan tanpa membengkokkan ataupun memutar badan, mengurangi kelelahan dan meningkatkan produktivitas. Aturlah posisi tangan dengan baik agar posisi alami terjadi.4 BAGAIMANA? Cegah pekerjaan yang melelahkan atau posisi kerja yang tidak alami dan berkepanjangan. Cegah pekerjaan yang memerlukan posisi tangan yang lebih tinggi bagi pekerja yang berdiri dengan menyediakan ruangan kaki maupun panggung kecil. Berikan penugasan kerja untuk menciptakan peluang mengkombinasikan antara posisi berdiri dan duduk. Tempat duduk: sediakan tempat duduk yang baik bagi semua orang MENGAPA? Kerja dalam posisi duduk tampak lebih nyaman dibandingkan posisi lainnya. Namun, duduk dalam waktu lama juga melelahkan. Tempat duduk yang baik dengan sandaran yang nyaman dan kuat mengurangi kelelahan dan meningkatkan kepuasan kerja.3 BAGAIMANA? Sediakan kursi atau bangku yang tingginya tepat atau buat tempat duduk yang tingginya dapat disesuaikan. Pilih permukaan tempat duduk dan/atau Sediakan bantal untuk kenyamanan dan dorongan semangat. Sediakan kursi dengan sandaran yang layak ukurannya yang menyediakan pendukung punggung yang rendah.. 3. Ergonomis - Permukaan Kerja Permukaan kerja: sediakan permukaan kerja yang stabil pada setiap tempat kerja MENGAPA? Pekerjaan terdiri dari beragam tugas. Permukaan kerja yang stabil memungkinkan pekerjaan dilakukan setinggi siku sangat diperlukan. Permukaan yang terlalu sempit atau tidak stabil mengakibatkan kerugian waktu dan usaha lainnya, selain itu juga mengurangi produktivitas kerja dan meningkatkan kelelahan.2 BAGAIMANA? Pada setiap tempat kerja, sediakan permukaan kerja yang stabil dalam ukuran yang layak. Hindari permukaan yang sempit maupun tidak stabil. Hindari posisi yang membungkuk bagi pekerja yang berdiri dengan menambah ketinggian perlengkapan, kontrol atau permukaan kerja.
PBL Blok 28 Occupational Medicine 15

Sediakan meja kerja yang tingginya bisa disesuaikan bagi pekerja dalam posisi duduk hingga posisi tangan yang terlalu tinggi atau rendah serta postur memutar bisa dicegah. 4. Ergonomis - Peralatan Kerja Peralatan kerja: peralatan yang aman dan ergonomis adalah alat produktif MENGAPA? Peralatan yang disesuaikan dengan proses tertentu dan terawat baik adalah aman digunakan. Saat peralatan memotong tetap tajam, sedikit kekuatan yang diperlukan menggunakannya. Anak-anak dilarang bekerja menggunakan peralatan tajam. Pegangan yang lebar dan lunak pada peralatan alas kaki seperti pisau, gunting dan catut lebih memberikan kenyamanan saat digunakan. Peralatan tak nyaman dengan pegangan yang kecil dan keras (contohnya dari kayu atau logam) tidak ergonomis dan kurang produktif. Alat bantu dan alat jepit mengurangi kecelakaan, karena mencegah jatuhnya bahan, mengurangi kebutuhan perawatan karena postur yang buruk dan menyediakan pengawasan yang lebih baik terhadap proses kerja dan peralatan.2 BAGAIMANA? Gunakan peralatan yang hemat tenaga dan pastikan penggunaan pengaman. Pilih peralatan yang layak ukuran dan bentuknya agar mudah dan aman digunakan. Perbaiki peralatan atau gunakan peralatan pengunci untuk mengurangi kekuatan pegangan dan penanganan. Sediakan rumah bagi tiap-tiap peralatan. Pastikan bahwa peralatan terawat dan diperbaiki serta tidak ada peralatan yang tidak layak digunakan. 2. Faktor Biologis Faktor biologis pemyebab penyakit akibat kerja banyak ragamnya, yaitu virus, bakteria, protozoa, jamur, dll. Penyakit virus atau misalnya penyakit kuku dan mulut dpat pindah dari ternak menulari pekerja ternaknya. Penyebab penyakit yang tergolong protozoa antara lain adalah parasit plasmodium malaria. Ternyata terdapat jenis pekerjaan yang oleh karena sifat pekerjaannya yang memudahkan pekerja menderita penyakit tuberculosis (TBC) paru, contohnya:3 1. pekerjaan yang terlalu banyak sehingga luar biasa melelahkan 2. pekerjaan yang jumlah pekerjanya banyak sehingga bekerjanya berdesak-desakkan 3. pekerjaan yang ventilasi dan penerangannya sangat buruk 4. dan lain-lainnya. Demikian pula penyakit radang paru yang sangat mudah terjadi di kalangan pekerja yang pekerjaan dilakukan pada lingkungan yang terlalu berdebu. Berbeda dari faktor penyakit akibat kerja lainnya, faktor biologis dapat menular dari satu pekerja ke pekerja lainnya. Dari
PBL Blok 28 Occupational Medicine 16

itu, selain upaya yang biasa harus pula ditempuh cara pencegahan dan penanggulangan terhadap penyakit menular. Diantaranya dengan diselenggarakan imunisasi dengan melakukan vaksinasi.dengan pelaksanaan vaksinasi, kecil kemungkinan akan berulang terjadinya wabah. Selanjutnya sebai upaya minimum, adalah imunisasi dengan vaksin terhadap tifes dan kolera. Juga imunisasi terhadap dipteri, batuk rejan dan tetanus khususnya untuk anak-anak kalangan pekerja. Selain itu juga diberikan vaksinasi terhadap TBC dengan BCG. Penyakit infeksi akibat kerja atau penyakit yang timbul karena hubungan kerja jika penyebabnya dalah pekerjaan atau lingkungan kerja. Hal ini berarti penyebabnya terdapat dalam pekerjaan dan atau lingkungan pekerjaannya.1 3. Faktor psikologis Manusia memiliki rasa suka dan benci, gembira dan sedih, berani dan takut, dan lain sebagainya. Kesemua hal tersebut penyebabkan pengaruh sangat dominan terhadap keadaan pekerja dalam pekerjaan dalam melakukan pekerjaannyaatau pengusaha dalam usaha dan menjalankan usahanya. Misalnya rasa suka dan benci, kebencian dan ketidakcocokan kepada atasan atau sesama pekerjamenimbulkan berbagai akibat yang terlihat sebagai seringnya ketidak hadiran seorang pekerja dengan alasan sakit, atau sering terlambat atau cepat pulang. Tidak jarang manusia penyedih, perkataan sedikit keras saja yang dilontarkan atasan kepadanya dirasa sebagai suatu hal yang luar biasa. Kehendak kemauan dan cita-cita seorang pekerja berpengaruh pula pada pekerjaan. Mungkin pekerjaannya yang sekarang itu sama sekali bukan kehendak atau cita-citanya, sehingga yabng bersangkutan bekerja sekadarnya.4

4. Faktor fisik
Kebisingan Pengukuran kebisingan Maksud pengukuran kebisingan adalah: 1. Memperoleh data tentang frekuensi dan insensitas kebisingan di tempat perusahaan 2. Menggunakan data hasil pengukuran kebisingan untuk mengurangi intensitas kebisingian tersebut. Alat utama dalam pengukuran kebisingan adalah soundlevel meter. Alat ini mengukur kebisingan diantara 30-130 dB dan dari frekuensi 20-20.000 Hz. Gangguan kebisingan pada kesehatan

PBL Blok 28 Occupational Medicine

17

Mula-mula efek kebisingan pada pendengaran bersifat sementara dan pemulihan terjadi secara cepat sesudah dihentikan kerja ditempat kerja bising. Hilangnya daya dengar yang permanen biasanya dimulai pada prekuensi sekitar 4.000 Hz Di indonesia intensitas kebisingan yang disepakati sebagai pedoman bagi perlindungan alat pendengaran agar tidak kehilangan daya dengar untuk pemaparan selama 8 jam sehari dan 5 hari kerja atau 40 jam kerja seminggu adalah 85dB.2 Nilai ambang batas kebisingan Nilai ambang batas (NAB) kebisinga nsebagai faktor bahaya ditempat kerja adalah standar sebagai pedoman pengendalian agar tenaga kerja masih dapat menghadapinya tanpa mengakibatkan penyakit atau gangguan kesehatan dalam pekerjaan sehari-hari untuk waktu tidak melebihi 8 jam sehari dan lima hari kerja seminggu atau 40 jam seminggu. NAB kebisingan adalah 85 dB (A).2,4 Iklim (cuaca) kerja Suhu tubuh dipertahankan hampir menetap (homoeotermis) oleh suatu sistem pengatur suhu (thermoregulatory system). Suhu menetap ini adalah akibat keseimbangan antara panas yang dihasilkan dalam tubuh sebagai akibat metabolisme dengan pertukaran panas antara tubuh dengan lingkungan sekitar. Faktor-faktor yang menyebabkan pertukaran panas antara tubuh dengan lingkungan sekitarnya adalah konduksi, konveksi, radiasi dan evaporasi (penguapan keringat).3 Iklim kerja mempengaruhi daya kerja. Produktivitas, efisiensi dan efektivitas kerja sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim kerja. Iklim kerja yang termonetral (suhu netral), tidak dingin dan tidak panas biasanya kondusif tidak hanya untuk melaksanakan pekerjaan tetapi juga untuk memperoleh hasil karya yang baik. Suhu nyaman bagi orang indonesia adalah 24-26oC. Penerangan di Tempat Kerja Penerangan yang baik memungkinkan tenaga kerja melihat objek yang dikerjakannya secara jelas, cepat dan tanpa upaya yang tidak perlu. Dalam ruang lingkup pekerjaan, faktor yang menentukan visibilitas guna dilakukannya pekerjaan adalah ukuran objek, derajat kontras diantara objek dan luminensi (brightness) lapangan penglihatan, serta lamanya waktu melihat. demikian dapat saling mengimbangi satu denga yang lainnya, misalnya suatu kontras yang kurang dapat dilihat, apabila objek tersebut cukup besar. memudahkan sekelilingnya, Faktor-faktor objek dengan

Upaya mata yang berlebihan menjadi sebab kelelahan psikis/mental. Gejala-gejalanya meliputi sakit kepala, penurunan kemampuan intelektual, berkurangnya daya konsentrasi, dan melambatnya kecepatan berfikir.5
PBL Blok 28 Occupational Medicine 18

A. Lingkungan Fisik - Debu


1. Debu: buang debu, bersihkan secara teratur jangan sebarkan debu
MENGAPA? Mesin gerinda alas kaki menghasilkan banyak debu kulit, plastik, dan kain. Debu juga dihasilkan oleh proses kerja lainnya seperti proses penyisitan dan pemotongan. Semua debu berbahaya, debu dapat mengakibatkan iritasi atau merusak paru-paru dan rongga udara atas. Sebagai contoh, paparan debu dapat mengakibatkan kanker rongga hidung. Debu secara negatif mempengaruhi fungsi mesin, jadi perawatan mesin perlu dilakukan sesering mungkin. Debu juga mempengaruhi kualitas bahan baku dan produkproduk siap jual.1,3 BAGAIMANA?

Kenali atau tingkatkan ventilasi penghisap udara lokal pada tempat-tempat yang menghasilkan debu, khususnya tempat gerinda alas kaki.Isolasikan tempat mesin gerinda atau proses kerja yang menghasilkan debu. Bersihkan tempat kerja secara teratur dan rawat tempat kerja setiap hari. Gunakan air kala membersihkan. Jangan sebar debu. Jika ventilasi penghisap udara lokal tak mungkin, gunakan lubang angin dan blower untuk mengurangi paparan terhadap debu.

B. Lingkungan Fisik - Bahan-bahan Kimia


2. Bahan-bahan kimia: lindungi pekerja dari bahaya kimia
MENGAPA?

Dalam pembuatan sepatu, paparan bahaya kimia yang serius seringkali disebabkan oleh penggunaan bahan pelarut dalam lem, primer, penghilang minyak, pembersih, dan cat. Gas-gas yang tersebar di sekeliling bengkel pelarut- tidak hanya terbatas pada proses pengeleman, pencucian/pembersihan, dan penyemiran. Bahan kimia alas kaki memiliki dampak kesehatan jangka panjang yang serius yang dapat muncul pada beberapa tahun ke depan: sebagai contoh kerusakan pada sistem saraf (rendahnya kapasitas intelektual, daya ingatlemah, dan lemahnya alat perasa, dll.), kulit, liver, ginjal, paru-paru, sistem kekebalan, dll. Penanganan bahan kimia yang keliru membahayakan lingkungan di luar bengkel. Bahan kimia alas kaki juga mudah terbakar dan rentan mengakibatkan bahaya kebakaran. Karenanya, jauhkanlah bahan kimia tersebut dari segala hal yang mudah menimbulkan kebakaran: percikan api, rokok, dll. Semua kaleng penyimpanan bahan kimia harus diberi label yang menjelaskan dengan baik cara penggunaan, informasi tentang produses, maupun upaya-upaya pencegahan kecelakaan dan informasi lain yang mendukung peningkatan K-3.2

PBL Blok 28 Occupational Medicine

19

BAGAIMANA? Periksalah bahwa seluruh kaleng penyimpan bahan kimia dilengkapi dengan label yang tepat dan lembar data keselamatan bahan tersedia pada seluruh bahan kimia. Jika tidak, informasikan pada pengawas tenaga kerja dan pabrik produsen tentang hal ini. Carilah kemungkinan pengganti bahan kimia yang lebih aman, missal bahan kimia berbasis air menggantikan bahan kimia berbasis pelarut. Kenali dan tingkatkan penggunaan ventilasi penghisap udara lokal. Pastikan seluruh kaleng dalam keadaan tertutup. Ubah cara kerja untuk mengurangi penanganan bahan-bahan kimia berbahaya secara langsung. Rotasikan tugas kerja. Sediakan pekerja dengan dan menggunakan pakaian dan sarung tangan pelindung untuk mencegah kontak langsung dengan bahan kimia berbahaya. Jika ventilasi penghisap udara tak mungkin, gunakan kipas angin dan sediakan lubang angin secukupnya untuk mengurangi paparan.

C. Lingkungan Fisik - Kebisingan


3. Kebisingan: pastikan kebisingan tak membahayakan pekerja
MENGAPA? Tingkat kebisingan tinggi yang dimunculkan oleh mesin dapat merusak pendengaran. Hal tersebut dapat mempengaruhi kesehatan pekerja pula, contoh menimbulkan darah tinggi, sakit kepala, nervous dan stress. Kebisingan dapat disebabkan oleg teriakan, signal, dan percakapan. Bising dapat menyebabkan kecelakaan dan mempengaruhi kualitas produk. Jika Anda berdiri pada jarak satu lengan dari kawan Anda dan tak dapat berbicara dengan tekanan suara normal, berarti tingkat kebisingan sudah tinggi. Dalam bengkel alas kaki, beberapa hal seperti mesin press, penggunaan palu, dan gerinda dapat menciptakan tingkat kebisigan yang tinggi. Dalam pabrik alas kaki yang lebih besar, tingkat kebisingan biasanya disebabkan oleh penggunaan banyak mesin.2,3,5 BAGAIMANA? Kurangi kebisingan pada sumber-sumbernya melalui alat-alat atau mesin-mesin yang dirancang dengan tepat, dirawat teratur, dan disesuaikan dengan pengguna. Beri sekat atau isolasikan sumber-sumber kebisingan semaksimal mungkin. Kurangi pemantulan kebisingan dengan meningkatkan jumlah atau penggunaan bahan-bahan kedap suara. Cara terakhir, gunakan penutup dan pelindung telinga jika perlu. PBL Blok 28 Occupational Medicine 20

D. Lingkungan Fisik - Panas


4. Panas: lindungi pekerja dari panas menyengat
MENGAPA? Panas mempengaruhi kapasitas kerja dan mengurangi produktivitas. Panas dapat mengakibatkan kelelahan, kesalahan kerja, dan kecelakaan. Bahaya kesehatan yang terkait dengan panas meliputi dehidrasi (kekurangan cairan), tidak segar, keram, dan iritasi. Khususnya dalam iklim tropis, sangat penting untuk menyediakan alat-alat yang melindungi pekerja dari panas yang menyengat. Dalam bengkel alas kaki, cobalah sedapat mungkin seluruh benda yang dapat menjaga suhu ruangan lebih rendah dari 30oC, suhu dimana sudah sangat tidak nyaman bagi lingkungan kerja.5 BAGAIMANA? Perbanyak ventilasi alam dengan menyediakan banyak lubang angin, jendela, atau pintu. Bukalah mereka sebanyak mungkin. Pisahkan atau beri sekat pada bahan-bahan, mesin, atau peralatan yang menghasilkan panas.

Gunakan ventilasi atau kipas angin untuk mendapatkan udara sejuk yang mengalir. Ingat bahwa pohon, semak, dan bunga-bunga dapat menolong mengurangi radiasi matahari yang berbahaya, angin panas, dan sekaligus menciptakan lingkungan yang menyenangkan.

F. Lingkungan Fisik - Pencahayaan 5. Pencahayaan: tambah pencahayaan untuk meningkatkan kualitas dan mencegah kecelakaan MENGAPA? Pencahayaan yang memadai dapat meningkatkan kenyamanan dan prestasi pekerja, juga membuat tempat kerja menjadi menyenangkan. Pencahayaan juga mengurangi kesalahan kerja, sehingga akhirnya meningkatkan kualitas. Tambahan, tempat yang gelap atau redup dapat mengakibatkan kecelakaan, khususnya kala bahan dipindahkan.1 BAGAIMANA? Maksimalisasikan penggunaan sinar matahari dengan: - penempatan mesin dan tempat kerja yang tepat; - atap yang lebih tinggi dan jendela yang lebih besar dan terbuka; serta - pasang genteng kaca (atau plastik). Bersihkan jendela secara teratur dan peliharalah lampu-lampu serta sumber-sumber cahaya lainnya. Hilangkan silau atau pantulan cahaya yang menyilaukan mata pekerja.
PBL Blok 28 Occupational Medicine 21

Perbanyak cahaya lampu atau sediakan lampu sorot. G. Lingkungan Fisik - Perawatan Tempat Kerja 6. Perawatan bengkel: pindahkan segala benda yang tidak diperlukan dan sediakan tempat yang layak untuk semua benda yang dibutuhkan MENGAPA? Saat tempat kerja bebas dari bahan sisa, kerja berproses secara aman dan nyaman. Tempat yang baik bebas dari segala hambatan dan para pekerja dapat dengan mudah menemukan alat yang tepat bagi pekerjaan mereka. Tempat kerja yang tertata rapi akan mengurangi terjadinya kebakaran dan kecelakaan. Tempat kerja yang rapi menampilkan kesan yang baik padapelanggan Anda.2 BAGAIMANA? Pindah semua benda yang tak diperlukan dari tempat kerja. Berikan tanggung jawab yang lebih sering pada pekerja tertentu guna membersihkan tempat tertentu. Sediakan tempat yang nyaman dan rak penyimpanan untuk alat-alat, bahan baku, bahan persediaan, dan hasil produksi. Jagalah kebersihan jalur jalan dan sela-sela agar mudah bagi pekerja berlalu lalang. H. Lingkungan Fisik - Pembuangan Limbah 7. Pembuangan limbah: bangun sistem pembuangan limbah yang baik MENGAPA? Limbah, bekas galian dan sisa bocoran air di lantai tidak hanya mengakibatkan kerugian material dan hambatan kerja, namun juga menyebabkan kecelakaan yang fatal. Tempat yang nyaman, tempat sampah yang mudah dibersihkan membantu dalam perawatan tempat kerja dan menciptakan kawasan yang bersih.2 BAGAIMANA? Sediakan tempat sampah yang cukup dalam ukuran yang layak. Laksanakan sistem yang teratur guna memindahkan limbah tempat kerja. Tentukan penanggungjawab yang jelas guna menangani limbah. I. Bangunan - Atap 8. Atap: lindungi pekerja dan hasil produksi Anda dari sengatan matahari dan hujan MENGAPA?

PBL Blok 28 Occupational Medicine

22

Bagi kesehatan dan kenyamanan pekerja, kelembaban dan suhu udara yang baik dalam tempat kerja adalah penting. Atap yang layak secara langsung maupun tidak langsung dapat melindungi mereka dari sengatan matahari. Jika hujan dan atap tak dalam keadaan baik, berisiko merusak bahan-bahan dan barang produksi.2 BAGAIMANA? Tingkatkan ketinggian atap untuk melindungi dari sengatan matahari dan hujan. Tingkatkan ketinggian atap untuk memperbanyak ventilasi dan pencahayaan alamiah dalam bangunan. J. Bangunan - Lantai dan Saluran Pembuangan Air 9. Lantai: perbaiki lantai tempat kerja Anda demi pekerjaan yang produktif dan aman MENGAPA? Permukaan lantai yang tak layak atau kurang perawatannya dapat menjadi sebab utama kecelakaan, mengganggu pekerjaan, dan merusak hasil produksi. BAGAIMANA? Perbaiki lantai demi terciptanya kekuatan yang lebih baik untuk digunakan dan daya tahan lantai dari abrasi. Jaga kebersihan lantai dari segala hambatan/benda berserakan. Jaga agar selalu dalam kondisi yang baik guna mencegah kecelakaan kerja, kerusakan bahan, serta hasil produksi. 10. Saluran pembuangan air: perbaiki sistem saluran pembuangan air guna menjaga tempat kerja Anda tetap kering dan bersih MENGAPA? Sistem saluran air yang baik sangat penting guna menjaga tempat kerja tetap kering, mencapai tingkat kesehatan yang baik, mengurangi timbulnya penyakit menular dan mencegah terjadinya kecelakaan.2 BAGAIMANA? Sediakan saluran pembuangan air yang layak di luar tempat kerja, dan ingat saluran pembuangan ini hanya digunakan untuk limbah cair. Sediakan sistem saluran air hujan. Jaga kebersihan dan kejernihan saluran air secara teratur. K. Bangunan - Pencegahan Kebakaran 11. Pencegahan kebakaran: lindungi usaha Anda dari bahaya kebakaran
PBL Blok 28 Occupational Medicine 23

MENGAPA? Pencegahan kebakaran adalah jaminan terbaik menghadapi kebakaran. Saat terjadi kebakaran, seringkali menyebabkan kematian, kerusakan bahan-bahan penting, selain itu juga kerugian finansial yang besar.2,4 BAGAIMANA? Jaga bangunan kerja dengan merawat tempat kerja. Sediakan perlengkapan dasar menangani kebakaran, contoh pemadam kebakaran, ember, dan selimut atau karung basah. Latih pekerja dalam mencegah dan menangani kebakaran. Periksa dan yakinkan semua alat listrik terbungkus baik. Sediakan tempat penyimpanan yang layak bagi bahan kimia yang mudah terbakar dan bahan lainnya, seperti: semua bahan kimia alas kaki berbasis pelarut, bahan bakar, dan gas. Jauhkan bahan-bahan tersebut dari sumber ledakan.

2.3 Health Risk Assesment


Dalam upaya K3, basis dasarnya adalah loss control dan loss prevention. Keduanya berbasis pada hal yang sama yaitu: manajemen risiko K3. Risiko K3 sendiri muncul dari adanya hazards. Hazard(s) didefinisikan sebagai source, situation, or act with a potential for harm in terms of human injury or ill health, or a combination of these. Dari definisi ini juga terlihat bahwa risiko yang dimanage termasuk risiko kesehatan (risiko terhadap terjadinya ill health). Ill health sendiri didefinisikan sebagai identifiable, adverse physical or mental condition arising from and/or made worse by a work activity and/or work-related situation. Dalam konteks ini maka risiko yang dibahas adalah potensi penyakit yang muncul akibat pekerjaan atau yang dipengaruhi oleh faktor pekerjaan.6 Namun sayangnya, dalam proses hazard identification and risk assessment, risiko kesehatan masih menjadi anak tiri. Misalnya saja ketika melakukan HIRA mengenai pengoperasian mesin pemotong rumput, maka risiko yang diidentifikasi akan berfokus kepada terkena blade, terpantul kerikil. Namun jarang yang mengidentifikasi risiko munculnya gangguan neuromuscular pada tangan akibathazard: hand arm vibration; atau munculnya hearing loss akibat hazard: noise.1,5 Pada dasarnya Health Risk Assessment (HRA) secara konsep sama dengan HIRA Safety secara umum. Jadi dengan menilai kombinasi likelihood dan consequence suatu potensi ill health yang diakibatkan oleh suatu hazard. Yang membedakannya hanyalah pendekatan terhadap hazards. Dalam safety, hazards muncul dari faktor elektrik, mekanis, kinetis, dll. Sedangkan aspek kesehatan hazards dilihat sebagai faktor fisika, biologi, kimia, ergonomic, dan psikososial. Kemudian dalam pendekatan terhadap risiko potensi yang terjadi pada safety, yang diidentifikasi
PBL Blok 28 Occupational Medicine 24

adalah cedera atau injury yang muncul bersifat akut sedangkan pada kesehatan, yang diidentifikasi adalah gangguan fungsi atau munculnya suatu penyakit sehingga lebih bersifat long-term.2 Pada HRA, memang dibutuhkan satu hal yang lebih spesifik yaitu kemampuan menilai proses interaksi antara manusia dengan alat, material, dan lingkungannya. Pada HRA prosesnya dimulai dengan melakukan desk study terhadap proses kerja yang ada di tempat kerja. Pada tahap ini assessor melakukan identifikasi yang bersifat forecast terhadap pekerjaan yang ada di tempat kerja. Assessor melakukan document review termasuk terhadap blueprint fasilitas, prosedur kerja, dan material safety data sheet atas bahan-bahan yang dipakai. Fase ini dikenal juga sebagai tahap anticipation. Tahap berikutnya adalah melakukan recognition di tempat kerja untuk melakukan identifikasi dan konfirmasi atas hazard yang diidentifikasi pada fase sebelumnya. Hal ini dilakukan dengan melakukan walk trough survey di tempat kerja dengan melakukan penelusuran secara sistematik di tempat kerja. Pada kondisi ini, assessor harus mengidentifikasi : (1) what-apa saja hazard yang ada di tempat kerja, (2) who-siapa saja yang terpapar hazard ini, (3) when-kapan dan seberapa lama paparan dapat terjadi, (4) where- dimana bahaya muncul dan dimana paparan akan terjadi (5) how- bagaimana paparan itu terjadi Kemudian tahap berikutnya adalah melakukan evaluasi terhadap risiko dengan menilai nilai ambang batas. Penilaian bisa dilakukan dengan cara langsung yaitu mengukur terhadap dose hazard yang diterima personel dengan alat ukur, atau dengan cara matematis yaitu dengan melakukan perhitungan berdasarkan NAB yang telah ditetapkan.4 Setelah melakukan hal ini dilakukan maka langkah berikutnya adalah tahap menentukan langkah-langkah pengendalian dan penanggulangan yang akan dijalankan. Pendekatannya dapat menggunakan hirarki control sebagaimana pada HIRA Safety yaitu: Eliminasi, Substitusi, Engineering, Administration, dan PPE. Namun fokusnya diarahkan kepada tiga hal yaitu: (1) Pengendalian di tempat asal hazard (source) (2) Pengendalian di jalur atau mode paparan (exposure) (3) Pengendalian pada orang yang terpajan (host)
PBL Blok 28 Occupational Medicine 25

Setelah melakukan hal ini langkah berikutnya dalah dengan melakukan komunikasi dan konsultasi hasil HRA ini kepada semua pihak terkait dengan focus kepada bagaiaman pekerja mengenali bahaya ini, risiko apa yang dihadapi, dan bagaimana cara penanganannya. Proses komunikasi dapat dilakukan dengan menempatkan rambu dan marka, label dan tanda terkait dengan bahaya dan risiko ini.1 Kemudian langkah terakhir adalah dengan melakukan monitor dan review terhadap pelaksanaan langkah control, hazards yang ada di tempat kerja, dan dampak yang muncul pada karyawan yang terpajan. Dengan melakukan proses HRA ini seperti di atas, maka risiko-risiko kesehatan dapat diidentifikasi, dikendalikan, dan ditanggulangi jauh sebelum memunculkan dampak yang merugikan kesehatan pekerja. Karena penyakit akibat kerja akan menghasilkan kecacatan menetap yang sulit disembuhkan dan mengganggu fungsi social pekerja dalam jangka panjang.2,4 Medical Check Up Peranan tenaga kerja sebagai sumber daya manusia, merupakan salah satu hal penting dalam sebuah perusahaan. Perlu disadari bahwa setiap pekerja dihadapkan dengan berbagai bahaya potensial di tempat kerja. Sebaik apa pun lingkungan tempat kerja, potensi bahaya yang mengancam senantiasa ada, baik terhadap kesehatan maupun keselamatan pekerja yang menjadi salah satu faktor penentu produktivitas dan profitabilitas suatu perusahaan. Bila terjadi kecelakaan atau penyakit akibat hubungan kerja, tentunya akan menyebabkan kerugian yang tidak kecil bagi semua pihak, baik pihak pengusaha, tenaga kerja maupun masyarakat yang memerlukan produk atau hasil kerjanya. Oleh karena itu, perlindungan serta kenyamanan dan ketenangan terhadap tenaga kerja menjadi suatu kebutuhan yang mendasar untuk dipenuhi. Pemerintah melalui undang-undang tentang keselamatan dan kesehatan kerja, mewajibkan setiap perusahaan untuk memberikan perlindungan atas keselamatan dan kesehatan tenaga kerjanya. Pekerja berhak mendapatkan pemeriksaan kesehatan berkala minimal satu tahun sekali sesuai dengan pajanan di tempat kerja. Pekerja juga berkewajiban melakukan pemeriksaan kesehatan berkala untuk mempertahankan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya sehingga produktivitas kerja pun terjaga dengan baik.6 Adapun tujuan dari Medical Check Up berkala terhadap tenaga kerja adalah : 1. 2. 3. 4. Untuk mendapatkan pekerja yang sehat dan produktif, serta mencegah terjadinya penyakit dan kecelakaan akibat kerja Deteksi dini berbagai penyakit terutama untuk penyakit akibat kerja Data dasar dan pembanding untuk mendeteksi adanya kemungkinan penyakit akibat hubungan kerja Data dasar untuk pengembangan kegiatan promosi kesehatan perusahaan
PBL Blok 28 Occupational Medicine 26

Perusahaan, instansi atau institusi yang hendak mencapai provider untuk pemeriksa kesehatan hendaknya memperhatikan beberapa hal penting berikut : 1. 2. 3. 4. Legalitas provider pemeriksa Kompetensi dokter pemeriksa kesehatan Kualitas pemeriksaan dan layanan provider Kompetensi sumber daya manusia yang mengerjakan pemeriksaan

Pemeriksaan Kesehatan Sebelum Bekerja Merupakan pemeriksaan kesehatan yang dilakukan sebelum seorang tenaga kerja diterima untuk melakukan pekerjaannya. Tujuannya untuk memastikan bahwa calon tenaga kerja berada dalam kondisi kesehatan yang baik dan tidak berpotensi membahayakan diri sendiri, rekan kerja, dan juga lingkungan kerjanya, serta memiliki kapasitas yang dibutuhkan dalam pekerjaannya sehingga keselamatan dan kesehatannya selama bekerja akan terjamin.2,6 Pemeriksaan Kesehatan Berkala Merupakan pemeriksaan kesehatan yang dilakukan terhadap tenaga kerja pada waktu waktu tertentu. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi sedini mungkin setiap gangguan kesehatan yang terjadi dan berpotensi menjadi gangguan kesehatan dan berhubungan dengan pajanan bahaya kesehatan di tempat kerja. Pemeriksaan Kesehatan Khusus Merupakan pemeriksaan yang dilakukan secara khusus berdasarkan riwayat penyakit dan atau status kesehatan pekerja pada saat tertentu.1

2.4 Alur Produksi


Produksi Alas Kaki Pembuatan alas kaki dapat terdiri dari beberapa langkah, alur produksi yang sederhana dapat digambarkan seperti dalam gambar di bawah ini.

Persiapan bagian atas

Pembuatan Pola/ bahan alas kaki

Pemotongan bahan
Persiapan bagian bawah

Penyatuan bag. Atas dan bawah

Penyelesaian

PBL Blok 28 Occupational Medicine

27

Penyiapan Bahan

Showroom/ penyimpanan

Biasanya, alas kaki dirancang sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Suatu model akan digambarkan penuh warna dan rinci. Pembuatan alas kaki pada sektor informal mungkin memiliki berbagai model rancangan untuk dipasarkan dan memenuhi keinginan konsumen baru. Suatu pola menunjukkan bentuk dan ukuran bagian atas alas kaki; pola tersebut dapat diproduksi oleh pembuat alas kaki atau dipesan dari luar. Gaya bagian atas digambarkan pada bahan (misal kulit, polyurethane, PVC) menurut pola yang ada, kemudian bagian tersebut digunting. Setelah digunting, bagian luar bahan seringkali disisit menggunakan mesin sisit. Bagian atas dan lapisan dalam dijahit bersama; kemudian pembuatan lubang tali, lubang kancing, dan asesoris dapat dilaksanakan. Penyatuan bagian atas dan bawah pada umumnya dilakukan dengan proses pengeleman, tetapi juga ada yang dilakukan melalui proses penjahitan, pemakuan, atau penyekrupan. Sebelum disatukan, bagian sol dihaluskan dengan menggunakan gerinda. Pada solsol tersebut diberikan primer, bahan kimia berbasis pelarut agar sol tersebut bersih dan dapat melekatkan lem secara efektif. Sesudah dilakukan pengelaman pada bagian sol, kemudian bagian yang sudah dilem tersebut dipanaskan dalam suatu pemanas (biasanya oven) agar lem bertambah kuat. Lalu, agar pengelaman lebih kuat lagi, alas kaki tersebut dimampatkan/ditekan dengan mesin press. Proses akhir dapat terdiri dari beberapa kerja seperti: pembersihan, penyemiran, pemberian lilin, pewarnaan, dan penyemprotan dengan cat. Akhirnya, alas kaki dikemas dalam kotak atau tas plastik dan siap dipasarkan kepada para konsumen.1

2.4 Gizi Kerja


Istilah gizi kerja berarti nutrisi yang diperlukan oleh tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan jenis pekerjaan. Gizi kerja ditujukan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan serta mengupayakan daya kerja tenaga kerja yang optimal. Kesehatan dan daya kerja sangat erat hubungannya dengan tingkat gizi seseorang. Tubuh memerlukan zat-zat dari makanan untuk pemeliharaan tubuh, perbaikan kerusakan sel dan jaringan dan juga untuk pertumbuhan, yang banyak sedikitnya kebutuhan akan zat makanan ini sangat tergantung pada usia, jenis kelamin, beban kerja dan keadaan lingkungan yang berkaitan dengan individu bersangkutan. Bahan makanan dapat digolongkan menurut makanan pokok (nasi,jagung, roti) lauk pauk (daging, ikan, tahu, tempe), sayur mayur, buah-buahan dan susu. Bahan makanan mengandung pada umumnya zat-zat yang dibutuhkan tubuh yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin, garam mineral, dan air.1,4 Karena zat makanan yang diperlukan tubuh meliputi keseluruhan zat-zat tersebut, maka makanan yang cocok adalah makanan berimbang (balanxed diet). Makanan berimbang adalah makanan yang komposisi gizinya terdiri atas karbohidrat (65-70%) protein (10-15%), lemak (15-20%), cukup vitamin dan juga cukup mineral.

PBL Blok 28 Occupational Medicine

28

Tabel 1. Kebutuhan zat makanan Pemenuhan kebutuhan akan zat makanan menentukan status gizi seseorang termasuk tenaga kerja. Unsur terpenting bagi penilaian status gizi adalag tinggi badan dan berat badan yang menentukan besarnya indeks massa tubuh (IMT) yaitu berat badan (BB) dibagi kuadrat tinggi badan (TB) atau IMT=BB/TB2 dengan satuan kg per m2.

Tabel 2. IMT Selain dengan memakai rumus tersebut, berat badan ideal dan normal dapat ditentukan dengan rumus: 1. Berat badan ideal = tinggi badan (cm)-100 2. Berat badan normal tinggi badan (cm)-100 10%
PBL Blok 28 Occupational Medicine 29

Kebutuhan kalori orang dewasa termasuk tenaga kerja ditentukan oleh: 1. Metabolisme basal 2. Pengaruh makanan atas kegiatan tubuh (10% dari metabolisme basal) 3. Aktivitas otot Zat makanan Karbohidrat Lemak Protein Tabel 3. Kalori yang dihasilkan per gram zat makanan Kilokalori/gram 4 9 4

Tabel 4. Pengerahan energi per jam per orang dengan berat badan 70 kg dan per kg berat badan pada berbagai jenis kegiatan Jenis kelamin Laki-laki Berat badan 65 (ideal) 60 55 Perempuan 55 (ideal) 50 45 Tabel 5. Pemakaian energi per jam Kilokalori (kilokal) 3000 2780 2540 2600 2360 2130

PBL Blok 28 Occupational Medicine

30

Standar ini untuk seorang tenaga kerja perorangan masih perlu dikoreksi dengan faktor-faktor sebagai berikut: 1. Faktor usia menurut presentasi Usia (tahun) 20-30 30-40 40-50 50-60 60-70 >70 Persentasi (%) 100 97 94 86,5 79 69

2. Tingkat aktivitas (termasuk pekerjaan) yang untuk orang standar rinciannya meliputi: Laki-laki 8 jam 8 jam 1 jam 1 jam 4 jam 1 jam Perempuan 8 jam 8 jam 1 jam 1 jam 4 jam 1 jam

Istirahat ditempat tidur Bekerja (aktivitas ringan) Berjalan Aktivitas ringan pribadi Duduk Rekreasi

Tabel 6. Penyesuaian kebutuhan kalori berdasarkan tingkat kegiatan tanpa atau dengan pekerjaan ringan, sedang, dan berat menurut jenis kelamin dan berat badan
PBL Blok 28 Occupational Medicine 31

3. Keadaan hamil dan menyusui bagi wanita. Biasanya kalori ditambah 10% Dalam hubungan pekerjaan, bahan makanan yang dibutuhkan oleh tenaga kerja adalah bahan makanan yang memenuhi kebutuhan gizi masyarakat pada umumnya ditambah dengan tambahan kebutuhan kalori untuk keperluan melaksanakan pekerjaan. Atas dasar antrpometris tahun 1980an yang menyatakan tinggi badan rata-rata dan berat badan rata-rata tenaga kerja laki-laki 161,3 cm dan 52,2 kg serta perempuan 151,6 cm dan 45,4 kg, maka kebutuhan kalori tenaga kerja laki-laki utnuk pekerjaan ringan, sedang sampai berat adalah 2350, 2610 dan 3130 kilokalori dan tenaga kerja perempuan adalah 2040, 2270, dan 2720 kilokalori.5 Pada upaya menerapkan gizi kerja beberapa hal khusus perlu mendapat perhatian: 1. Pengaruh frekuensi makan dan komposisi makanan: a. Pengalaman dari pelaksanaan gizi kerja diperusahaan menunjukan bahwa pemberian kesempatan untuk makan pada saat-saat istirahat kerja membantu pemmperbaiki produktifitas dan dapat mengurangi timbulnya kelelahan kerja. b. Makin pagi mempunyai pengaruh penting kepada produktifitas kerja. Makan pagi merupakan salah satu aspek dari kebiasaan atau cara hidup sehat. c. Makanan yang diberikan dalam pekerjaan harus bersifat ringan, mudah dicerna dan berfungsi menambah kalori yang dibutuhkan. d. Jika nilai gizi makanan dipenuhi untuk kebutuhan kalori termasuk kalori kerja maka tidak perlu ditambah frekuensi makan. Kecuali makanan selingan pada saat istirahat kerja. 2. Untuk pekerjaan pada tempat kerja yang bersuhu tinggi, harus diperhatikan secara khusus kebutuhan akan air dan gara msebagai pengganti cairan untuk penguapan keringat. GANGGUAN KESEHATAN DAN DAYA TAHAN KERJA Agar seorang tenaga kerja berada dalam keserasian sebaik-baiknya, yang berarti bahwa yang bersangkutan dapat terjamin keadaan kesehatan dan produktifitas kerjanya secara optimal, maka perlu ada keseimbangan yang positif-konstruktif, antara lain unsur-unsur:4 1. Beban kerja 2. Beban tambahan akibat dari perkerjaan dan lingkungan kerja 3. Kapasitas kerja Beban kerja Setiap pekerjaan merupakan beban bagi pelakunya. Beban tersebut mungkin fisik, mental dan sosial. Seorang tenaga kerja yang secara fisik bekerja berat sepertinya halnya buruh bongkar muat barang, memikul lebih banyak beban fisik dari pada beban mental dan sosial. Berlainan dari itu adalah beban kerja seorang pengusaha atau manajemen, tanggung jawabnya merupakan
PBL Blok 28 Occupational Medicine 32

beban mental yang relatif jauh lebih besar dari beban fisik yang dituntut oleh pekerjaannya. Adapun petugas sosial misalnya penggerak lembaga swadaya masyarakat atau gerakan mengentaskan kemiskinan, mereka lebih menghadapi dan memikul beban kerja sosial kemasyarakatan.6 Seorang tenaga kerja memiliki kemampuan tersendiri dalam hal kapasitas menanggung beban kerjanya. Mungkin diantara mereka lebih cocok untuk beban fisik, mental atau sosial. Namun demikian, terdapat kesamaan yang berlaku umum yaitu mereka memiliki keterbatasan hanya mampu untuk memikul beban sampai suatu tingkat tertentu. Selain dari batas maksimal beban, bagi masing-masing tenaga kerja terdapat bembebanan kerja yang paling optimal bagi tenaga kerja yang bersangkutan. Prinsip ini sebenarnya yang mendasari maksud penempatan seoran tenaga kerja yang tepat pada pekerjaan yang tepat pula. Beban tambahan akibat lingkungan kerja Sebagai tambahan kepada beban kerja yang merupakan beban langsung akibat pekerjaan atau beban pekerjaan yang sebenarnya, pekerjaan biasanya dilakukan dalam suatu lingkungan atau situasi, yang menyebabkan adanya beban tambahan kepada tenaga kerja baik jasmaniah maupun rohaniah. Terdapat 5 faktor penyebab beban tambahan dimakasud:3,5 1. Faktor fisis yang meliputi keadaan fisik seperti bangunan gedung atau volume udara per kapita atau luas lantai kerja maupun hal-hal yang bersifat fisis seperti penerangan, suhu udara, kelembapan udara, tekanan udara, kecepatan aliran udara, kebisingan. 2. Faktor kimia yaitu semua zat kimia anorganis dan organis yang mungkin wujud fisiknya yang merupakan salah satu atau lebih dari bentuk gas, uap, debu, kabut, cairan dan atau zat padat. 3. Faktor biologis, yaitu semua mahluk hidup baik dari golongan tumbuhan maupun hewan. Dari yang paling sederhana bersel tunggal sampai yang paling tinggi tingkatannya. 4. Faktor fisiologis/ergonomis, yaitu interaksi antara faal kerja manusia dengan pekerjaan dan lingkungan kerjanya seperti konstruksi mesin yang disesuaikan dengan fungsi indera manusia, postur dan cara kerja yang mempertimbangkan aspek antropometris dan fisiologis manusia. 5. Faktor mental dan psikologis, yaitu reaksi mental dan kejiwaan terhadap suasana kerja, hubungan antara pengusaha dan tenaga kerja, struktur dan prosedur organisasi pelaksanaan kerja. Kemampuan kerja seorang tenaga kerja berbeda dari satu kepada yang lainnya dan sangat tergantung kepada motivasi kerja, pengalaman, latar belakang pendidikan, keahlian, keterampilan terhadapa pekerjaan, kondisi kesehatan, keadaan gizi, jenis kelamin dan usia. Semakin tinggi mutu keterampilan kerja yang dimiliki, kian efisien tenaga kerja bekerja sehingga beban kerja menjadi relatif jauh lebih ringan. Tidak mengherankan apabila angka sakit sangat
PBL Blok 28 Occupational Medicine 33

kurang pada mereka yang memiliki keterampilan tinggi, lebih-lebih jika mereka cukup termotivasi untuk mendedikasikan hidupnya kepada pekerjaannya.1,6 PENCEGAHAN TERHADAP GANGGUAN KESEHATAN DAN DAYA KERJA Gangguan pada kesehatan dan daya kerja akubat berbagai faktor dalam pekerjaan dan lingkungan kerja bisa dihindarkan, asal saja perusahaan, pimpinan atau manajemen perusahaan dan pekerja serta serikat pekerja ada kemauan yang kokoh-kuat untuk mencegahnya. Peraturan perundang-undangan tidak akan ada faedahnya, apabila perusahaan tidak melaksanakan ketetapan yang berlaku sebagaimana diatur oleh perundang-undangan, juga sama halnya apabila pengurus perusahaan dan pekerja tidak mengambil peranan proaktif dalam menghindarkan terjadinya gangguan terhadap kesehata, daya kerja dan produktivitas tenaga kerja. Pencegahan utama terhadap timbulnya gangguan pada kesehatan dan daya kerja dengan akibat negatif bagi efisiensi dan produktivitas kerja adalah 2(dua) hal berikut:1,3 1. Manajerial, yang meliputi unsur-unsur: a. Manajemen perusahaan mempunyai kebijakan yag tegas dan jelas dalam upaya mencegah terjadinya gangguan kepada kesehatan dan daya kerja; atas dasar kebijakan tersebut disusun program yang rinci tentang identifikasi, evaluasi dan pengendalian faktor-faktor yang menjadi penyebab gangguan tersebut lengkap dengan rencana kerja, sumber daya manusia, pembiayaan, dan sebagainya; dan program tersebut dilaksanakan dengan dilakukan penilaian mengenai hasil kerja yang dicapai untuk kemudian dipergunakan untuk perencanaan program selanjutnya. b. Pekerja dan serikat pekerja tidak sekadar mendukung melainkan aktif berpartisipasi dalam pelaksanaan program tersebut mengingat bahwa keberhasilan program pada akhirnya adalah untuk mewujudkan kesejahteraan semua pihak yang menjadi pelaksana proses produksi. Pekerja menurut kelompok unit produksi melaksanakan dengan motivasi penuh upaya menungkatkan mutu terpadu dengan melakukan identifikasi, mengevaluasi prioritas dan menetapkan serta melaksanakan upaya korektif guna meniadakan hambatan dari gangguan kesehatan dan daya kerja untuk meraih efisiensi dan produktivitas kerja yang diupayakan selalu menjadi lebih baik. c. Banyak ketentuan perundang-undangan yang mengatur standar minimal mengenai higiene perusahaan (industri), ergonomi dan kesehatan kerja seperti tentang pelayanan kesehatan kerja, pemeriksaan kesehatan tenaga kerja, diagnosis penyakit akibat kerja, kewajiban melaporkan penyakit akibat kerja, pengendalian intensitas atau kadar aneka faktor gangguan kesehatan dan daya kerja pada pekerjaan dan lingkungan kerja ditempat kerja, dan lainnya. Penerapan standar minimum demikian adalah awal dari upaya ke arah realisasi pencegahan gangguan kesehatan dan daya kerja serta menjadi pintu masuk bagi program selanjutnya dalam menarik manfaat guna mewujudkan tingkat kesehatan tenaga kerja dan produktivitas kerja yang optimal.3
PBL Blok 28 Occupational Medicine 34

2. Teknis operasional yang mencakup unsur-unsur: a. Identifikasi faktor yang potensial dapat menimbulkan gangguan pada kesehatan tenaga kerja dan produktivitas kerja serta mengevaluasi kuantitatif besarnya faktor tersebut. Faktor demikian mungkin fisis, kimiawi, biologis, fisiologis/ergonomis dan atau mental psikologis. Setelah dilakukan identifikasi, faktor tersebut dinilai bobotnya melalui evaluasi yang hasilnya digunakan untuk upaya pengendalian. b. Pengendalian faktor penyebab gangguan kesehatan tenaga kerja dan produktivitas kerja tergantung kepada faktor yang menjadi penyebab gangguan tersebut dan pendekatan yang ditempuh sangat berbeda untuk masing-masing faktor fisis, kimiawi, biologis, fisiologis/ergonomis dan mental psikologis. Dasar keilmuan dan teknologi yang digunakan serta sumber daya manusia untuk menangani faktor yang bersangkutan harus benar-benar sesuai dengan problematik yang dihadapi.2 c. Faktor apapun yang menjadi penyebab gangguan kesehatan tenaga kerja dan produtivitas kerja hanya akan dapat ditangani dengan baik apabila dilakukan penyuluhan, pendidikan, pelatihan tentang tujuan dan cara mengendalikan faktor tersebut; kegiatan- kegiatan demikian tidak hanya sekedar merubah pengetahuan, sikap dan perilaku saja melainkan membuat semua orang mampu berbuat sesuai dengan peran yang dituntut kepada masing-masing serta menggerakkan partisipasi aktif setiap orang dalam aktivitas program. Perlu diperhatikan bahwa penerangan tentang hiperkes sebelum kerja bertujuan agar pekerja mengetahui dan menaati peraturan-peraturan, dan agar mereka lebih berhati-hati dalam melakukan pekerjaannya.4 d. Pemeriksaan kesehatan tenaga kerja, pengukuran dan evaluasi tingkat paparan serta monitoring biologis masing-masing atau diselengarakan secara serentak sesuai dengan kegunaannya sangat penting artinya bagi pengendalian faktor fisis, kimiawi, dan biologis. e. Untuk pengendalian faktor kimiawi terhadap aneka pendekatan teknis yang biasanya cukup handal sebagai cara pengendalian terhadap resiko terjadinya ganguaan kesehatan tenaga kerja dan produktivitas kerja. Teknik dan teknologi pengendalian faktor kimiawi tersebut antara lain: 1. Substitusi, yaitu mengganti bahan yang lebih berbahaya dengan bahan yang kurang bahayanya atau tidak berbahaya sama sekali, misalnya karbontetraklorida diganti dengan triklor etilen. 2. Ventilasi umum, yaitu mengalirkan udara sebanyak menurut perhitungan kedalam ruang tempat kerja agar kadar zat kimia berbahaya oleh masuknya udara ini menjadi lebih rendah dari pada kadar yang membahayakan yaitu dibawah kadar nilai ambang batas (NAB). 3. Ventilasi keluar setempat (local exhausters) ialah instalasi yang mengisap udara disuatu tempat kerja tertentu melalui kanopi, agar zat-zat kimia dari tempat tertentu yang membahayakan dihisap dan dialirkan keluar ruang tempat kerja.
PBL Blok 28 Occupational Medicine 35

4. Isolasi, yaitu mengisolasi operasi atau proses dalam perusahaan yang membahayakan. Misalnya isolasi mesin yang sangat hiruk pikuk, agar intensitas kebisingan tidak menjadi gangguan lagi.6 5. Pakaian pelindung sesuai dengan keperluannya, misalnya massker, kacamata, sarung tangan, sepatu, topi, pakaian kerja dan lain-lain biasanya sangat berguna untuk melindungi kesehatan dan keselamatan tenaga kerja serta memungkinkan tenaga kerja dapat dengan aman melakukan pekerjaan sehingga produktif oleh karena dilindungi oleh alat pelindung diri (APD) yang dipakainya. PENYAKIT AKIBAT KERJA Terdapat 3 istilah untuk suatu kelompok penyakit yang sama yaitu penyakit yang timbul karena hubungan kerja, penyakit yang disebabkan karena pekerjaan atau lingkungan kerja, dan penyakit akibat kerja. Berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku, kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang terjadi berhubung dengan hubungan kerja, termasuk penyakit yang timbul karena hubungan kerja, demikian pula kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan berangkat dari rumah menuju tempat kerja.2 Penyebab Penyakit Akibat Kerja Dalam ruang atau ditempat kerja biasanya terdaoat faktor-faktor yahng menjadi penyebab penyakit akibat kerja sebagai berikut:3,4 1. Faktor fisis seperti: b. Suara yang dapat mengakibatkan tuli akibat kerja c. Radiasi sinar radioaktif, infra merah, dan ultra violet d. Suhu yang terlalu tinggi menyebabkan heat stroke (pukulan panas), kejang panas (heat cramps), atau hiperpireksia. Sedangkan suhu terlalu rendah antara lain menimbulkan frostbite. e. Tekanan udara tinggi menyebabkan penyakit kaison (caisson disease) f. Penerangan lampu yang buruk dapat menyebabkan kelainan kepada indera penglihatan atau kesilauan yang memudahkan terjadinya kecelakaan. 2. Faktor kimiawi, yaitu antara lain: b. Debu yang menyebabkan pnemokoniasis, diantaranya silikosis, dan asbestosis. c. Uap yang diantaranya menyebabkan demam uap logam (metal fume fever), dermatosis akibat kerja, atau keracunan akibat zat toksis uap formaldehida. d. Gas, misalnya keracunan oleh CO, e. Larutan zat kimia yang misalnya menyebabkan iritasi kepada kulit 3. Faktor biologis, misalnya bibit penyakit antraks atau brusella yang menyebabkan penyakit akibat kerja.
PBL Blok 28 Occupational Medicine 36

4. Faktor fisiologis/ergonomis, yaitu antara lain kesalahan konstruksi mesin, sikap badan yahng tidak benar dalam melakukan pekerjaan dan lain-lain yang kesemuaan menimbulkan kelelahan fisik dan gangguan kesehatan bahkan lambat laun terjadi perubahan fisik tubuh pekerja atau kecacatan. 5. Faktor mental-psikologis yang terlihat misalnya pada hubungan kerja atau hubungan industrial yang tidak baik, dengan timbulnya misalnya depresi atau penyakit psikosomatis.2 Deteksi Dini Penyakit Akibat Kerja Seperti halnya berlaku untuk semua penyakit, akibat akibat kerja bermula dari efek ringan pekerjaan atau lingkungan kerja kepada tenaga kerja (efek ringan demikian merupakan pengaruh awal dan belum termasuk keadaan sakit). Kemudian efek tersebut bertambah sehingga terjadi penyakit dini, dan selanjutnya efek pekerjaan atau lingkungan kerja berkembang menjadi penyakit berat atau lanjut bahkan sering kali disertai kecacatan. Deteksi dini diartikan sebagai upaya mengetahui atau membuat diagnosis penyakit akibat kerja dan tingkat awal atau permulaan sakit.1 Deteksi dini adalah deteksi gangguan mekanisme homeostasi dan kompensasi pada waktu perubahan biokimiawi, morfologis, dan fungsional masih dapat pulih. Perubahan demikian terjadinya sebelum timbulnya gejala dan tanda penyakit akibat kerja, perubahan tersebut bebrbentuk: perubahan biokimiawi dan morfologis yang dapat diukur kadarnya dengan analisis laboratoris, perubahan keadaan fisik dan atau fungsi tubuh yang dievaluasi dengan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium, dan perubahan kesehatan yang dinilai dari riwayat medis dan data yang diperoleh dari tenaga kerja misalnya dengan menggunakan kuisioner. Untuk mendeteksi dini penyakit akibat kerja dilakukan pemantauan kesehatan yang dikaitkan dengan kemungkinan pengaruh pekerjaan dan lingkungan kerja kepada tenaga kerja, pemeriksaan kesehatan sebelum kerja.3 Pencegahan dan Penatalaksanaan Penyakit Akibat Kerja Pencegahan terhadap penyakit akibat kerja mungkin adalah kebijakan paling utama. Sebagaimana pencegahan akibat kecelakaan kerja, maka bagi pencegahan penyakit akibat kerja diperlukan peraturan perundang-undangan, standarisasi, pengawasan, penelitian, pendidikan, pelatihan, penyuluhan, pelaksanaan asuransi dan upaya ditempat kerja terutama diperusahan pada semua sektor kehidupan. Pencegahan mempunyai 2 aspek yaitu administratif dan teknis; administratif dalam arti kebijakan khususnya dalam aspek manajerial dan teknis yaitu penerapan secara nyata dilapangan pada tenaga kerja, pekerjaan dan lingkungan kerja. Secara teknis aktivitas pencegahan adalah pengenalan resiko bahaya pekerjaan dan lingkungan kerja terhadap kesehatan beserta pengukuran, evaluasi dan upaya pengendaliannya; pemeriksaan kesehatan sebelum kerja, pra-penempatan, berkala dan khusus, isolasi operasi atau proses produksi yang berbahaya, dan pemakaian alat proteksi diri.1
PBL Blok 28 Occupational Medicine 37

Penatalaksanaan penyakit akibat kerja mencakup beberapa aspek yaitu pelaksanaan jaminan sosial tenaga kerja khususnya jaminan sosial penyakit akibat kerja sebagai kecelakaan kerja, penatalaksanaan medis terhadap penderita penyakit akibat kerja. Dalam rangka jaminan sosial, penyakit akibat kerja wajib dilaporkan; tenaga kerja yang menderita penyakit akibat kerja mempunyai hak atas jaminan sebagai mana berlaku bagi kecelakaan kerja. HIGIENE PERUSAHAAN DAN KESEHATAN KERJA INDUSTRI TEKSTIL Industri tekstil ditinjau dari higiene perusahaan dan kesehatan kerja memiliki kekhususan yang tidak terdaat pada industri lain. Misalnya saja tentang penyakti bissinosis dan demam pabrik (mill fever). Selain itu timbulnya kelelahan pada pekerja merupakan problema yang harus mendapat perhatian diperusahaan.2 Penyakit Khusus Pekerja Industri Tekstil Dalam perindustrian tekstil yang menggunakan berbagai bahan baku telah dilaporkan berbagai macam penyakit. Sebagian besar penyakti tersebut adalah penyakit yang biasa terdapat pada masyarakat dan sebagian lagi ialah penyakit akibat kerja. Penyakit yang bukan merupakan penyakit akibat kerja seperti influenza, bronkhitis, dan TBC paru terdapat diantara pekerja yang pekerjaannya dilakukan diruangan berdebu, penyakit khusus seperti pnemopati (penyakti paru) ditemukan pada pekerja yang mengolah vlas yang sudah terlalu lama disimpan, tumbuhan ganas pada pekerja pabrik tekstil adalah kanker kulit dan kanker jari tangan. Bissinosis diderita oleh pekerja pemintalan.1 Namun dari kesemua penyakit tersebut, terpenting dalam perindustrian tekstil adalah penyakit bissinosis yang khas ditandai oleh adanya Monday feelings atau istilah lainnya syndrom hari senin. Demam pabrik (mill fever) ialah penyakit yang diderita oleh pekerja yang baru saja mulai masuk kerja dipabrikpemintalan atau baru masuk kembali kerja sesudah berlibur yang cukup lama. Dengan gejala demam, muntah, pusing, dan lain-lain yang berlangsung 3-5 hari. Lalu untuk selanjutnya pekerja tidak pernah menderitanya lagi.1 Kelelahan pekerja dalam industri tekstil terkenal melelahkan. Beberapa faktor dalam hal ini dapat dinyatakan sebagai penyebabnya, yaitu: 1. 2. 3. 4. Pekerjaan dalam industri tekstil banyak bersifat berdiri, Pekerjaannya sendiri cukup menjemukan Suhu lingkungan kerja yang tinggi dan kelembapan udara yang tinggi pula Kadar debu, yang walaupun belum sampai menimbulkan penyakit bissinosis, tetapi dirasakan sebagai suatu gangguan kepada pekerja melaksanakan pekerjaannya.
PBL Blok 28 Occupational Medicine 38

Upaya pencegahan kecelakaan kerja ditujukan kepada sebab-sebab terjadinya kecelakaan kerja. Misalnya disediakan cukup tempat duduk. Atau diadakan upaya untuk menurunkan suhu dan kelembapan udara dengan alat pendingin udara yang mengambil uap air dari udara. Hal lain yang perlu adalah diadakan kamar berhias khusus wanita yang biasanya jumlahnya dominan pada industri tekstil. Keberadaan dan penggunaan kamar berhias demikian meninggikan semangat kerja, kondusif bagi upaya kesehatan promotif dan memelihara produktifitas kerja.5,6

2.5 Usaha Peningkatan Kesehatan Pekerja


Penyuluhan Penerapan Sistem Manajemen K3 adalah kegiatan dari dan untuk kebutuhan personel perusahaan. Oleh karena itu perlu dibangun rasa adanya keikutsertaan dari seluruh karyawan dalam perusahaan melalui program penyuluhan.3 Kegiatan penyuluhan ini harus diarahkan untuk mencapai tujuan, antara lain: Menyamakan persepsi dan motivasi terhadap pentingnya penerapan Sistem Manajemen K3 bagi kinerja perusahaan. Membangun komitmen menyeluruh mulai dari direksi , manajer, staf dan seluruh jajaran dalam perusahaan untuk bekerja bersama-sama dalam menetapkan standar sistem ini. Kegiatan penyuluhan ini dapat dilakukan melalui beberapa cara, misalnya dengan pernyataan komitmen manajemen, melalui ceramah, surat edaran atau pembagian bukubuku yang terkait dengan Sistem Manajemen K3.1,2

Penyediaan kantin Kalau waktu bekerja menghendekai bahwa pekerja haru mkaan siang dalam lingkungan pekerjaan, maka harus disediakan ruang mkana yang cukup luas sehingga semua pekerja dapat makan sekaligus atau bergantian. Pekerja tidak diperbolehkan makan diruang kerja sebab tempat itu biasanya terdapat bahan beracun atau bahan yang dapat membahayakan kesehatan. Pada tiap perusahaan yang pekerjaanya terkena debu atau bahan beracun harus disediakan tempat makan yang terpisah keculia kapau perkerja lebih menyukai makan diluar perusahaan. Ruang makan juga harus mendapt cukup penerangan dan juga ventilasi yang memadi serta udara yang cukup sejuk. Kalau dalam perusahaab diadakan kantin makan, kantin itu harus dibuat, dirawat dan dijalankan sesuai dengan peraturan untuk kebersihan pada tempat makan umum. Dapur, tempat makan, dan alat-alat untuk keperluan makan harus bersih dan memenuhi syarat kesehatan. Air minum dan makanan yang dihidangkan harus bersih dan sehat. Semua personil yang melayani kantin harus diperiksa kesehatannya pada waktu-waktu tertentu menurut peraturan yang berlaku. Semua personil harus selalu bebas dari penyakit menular dan selalu menjaga kesehatan dan kebersihan, alat makan atau mask sesudah dipakai harus dibersihkan dengan sabun dan air panas serta dikeringkan. Alat tersebut haru dibuat dari bahan yang mudah dibersihkan.4
PBL Blok 28 Occupational Medicine 39

2.6 Pencegahan dan Keselamatan Kerja


Jelas bahwa kecelakaan kerja menelan biaya yang luar biasa tinggi. Dari segi biaya saja dapat dipahami, bahwa terjadinya kecelakaan dalam kerja harus dicegah. Pencegahan kecelakaan berdasarkan tentang penyebab kecelakaan. Sebab-sebab kecelakaan yang terjadi di perusahaan diketahuai dengan mengadakan analisis setiap kecelakaan yang terjadi. Selai dengan analisis, sangat penting dilakukan adanya identifikasi bahaya yang terdapat dan dapat menimbulkan insiden kecelakaan diperusahaan serta mengasses (assesment) besar risiko bahaya. Resiko kecelakaan kerja adalah perpaduan antara kemungkinan terjadinya kecelakaan (probabiltas) danakibat (konsekuensi, keparahan. Baik kemungkinan maupun akibat dapat dinyatakan dan dibuat kategori kualitatif ataupun kuantitatif. Contoh kategori kualitatif kemungkinan dari yang paling rendah ke kategori paling tinggi adalah :2,5,6 1.Kemungkinan tidak terjadi 2.Kemungkinan terjadi tapi sangat kecil 3.Kemungkinan terjadi kadang-kadang saja 4.Kemungkinan terjadi pasti tetapi jarang 5.Dan kemungkinan terjadi berulang Pencegahan ditujukan kepda lingkungan, mesin,peralatan kerja, perlenglapan kerja, dan terutama faktor manusia. Lingkuan harus memenuhi syarat lingkuan kerja yang aman serta memenuhi persyaratan keselamatan, penyelenggaraan kerumahtanggan yang baik, kondisi gedung yang memenuhi syrat keselamatan, dan perencanaan yang sepenuhnya memperhatikan faktor keselamatan, syarat-syarat lingkungan kerja meliputi higene umum, sanitasi, ventilasi udara, pencahayaan dan penerangan ditempat kerja, dan pengaturan suhu udara diruang kerja. Setiap upaya pencegehaan kecelakaan denagn cara menghilangkan atau mengurangi sebab-musababnya selalu akan disertai menurunnya angka frekuensi kecelakaan (injury frequency rate) yaitu jumlah kecelakaan yang membawa korban dikalikan 1.000.000 (sejuta) dibagi dengan jumlah jam orang yang bekerja dalam perusahaan yang bersangkutan dan angka keparahan kecelakaan (injury severity rate) yaitu jumlah hari kerja yang hilang dialikan 1.000 dibagi dengan sejumlah jam orang yang bekerja dalam perusahaan yang bersangkutan. Selain itu keberhasialan upaya pencegahan dapat dinilai dari panjangya waktu tidak terjadinya kecelakaan misalnya yang tidak menyebabkan hilangnya hari kerja (zero accident). Namu pada sewaktu-waktu penurunan angka kecelakaan ni tidak terjadi demikian pesat, tidak speerti penurunan pada keadaan awal program. Penyebab dari tidak pesatnya angak kecelakaan tersebut ialah faktor manusia yang tidak dapat dikoreksi labih jauh lagi.2,6

PBL Blok 28 Occupational Medicine

40

Alat Pelindung Diri Perlindungan keselamatan pekerja melalui upaya teknis pengamanan tempat, mesin,peralatan dan lingkungan kerja wajib diutamakan, namun kadang-kadang risiko terjadinya kecelakaan masih belum spenuhnya dapat dikendalikan, sehingga digunakan alat pelindung diri (alat proteksi diri) (personal protective device) . jadi penggunaan APD adalah alternatif terakhir yaitu oerlengkapan dari sgenap upaya teknis pencegahan kecelakaan. APD harus memenuhi persyratan:3 1. Enak (nyaman) dipakai 2.Tidak menggangu pelaksanaan pekerjaan 3.Memberingan perlindungan efektif terhadap macam bahaya yang dihadapi Pakaian kerja harus dianggap sebagai lat perlindungan terhadap nahaya kecelkaan. Pakaian kerja pria yang bekerja melayani mesin seharusnya berlangan pendek, pas (tidak longgar) pada dada atau pungguan, tidak ada dasi tidak ada lipatan atau kerutan yang mungkin mendatangka bahaya. Wanita sebaiknya mengenakan celana panjang, jala atau ikat rambut, baju yang pas dan tidak mengenakan perhiasan. Pakaian kerja sintetis hanya baik terhadap bahan kimi korosif, tetapi justru bahaya pada lingkunan kerja dengan bahan yang dapat meledak oleh aliran listrik statis.1 Alat proteksi diri beaneka ragam. Jika digolongkan menurut bagian tubuh yang dilindunginya, maka jenis alat proteksi diri dapat dilihat pada daftar sbb : 1. Kepala : pengikat rambut, penutup rambut, topi dari berbagai jenis yaitu topi pengaman (safety helmet) topi atau tudung kepala, tutup kepala 2. Mata 3. Muka : kacamata pelindung (protective goggles) : Pelindung muka (face shields)

4. Tangan dan jari: sarung tangan ( sarung tangan dengan ibujari terpisah), sarung tangan biasa ( gloves) pelindung telapak tanga (hand pad) dan sarung tangan yang menutupi pergelanan tangan sampai lengan (sleeve). 5. Kaki : sepatu pengaman (safety shoes)

6. Alat pernafasan: Respirator, masker alat bantu pernafasan. 7. Telinga : Sumbat telinga (ear plug), tutup telinga (ear muff)

8. Tubuh : pakaian kerja menurut keperluan yaitu pakaian kerja yang tahan panasm tahan dingin, pakaian kerja lainnya
PBL Blok 28 Occupational Medicine 41

9. Lainnya

: sabuk pengaman

Fasilitas Kesejahteraan Toilet Toilet: pastikan fasilitas toilet sesuai dengan kegunaannya MENGAPA? Toilet yang terawat baik merupakan kebutuhan terpenting sebagian besar pekerja. Fasilitas toilet di lokasi yang nyaman juga menghemat waktu kerja. Jumlah toilet yang cukup, bersih dan terawat baik menunjukkan kondisi tempat kerja Anda.4 BAGAIMANA? Sediakan fasilitas toilet yang cukup memadai jumlahnya dan dekat dengan tempat kerja. Sediakan fasilitas cuci tangan yang terpisah dan memadai jumlahnya lengkap dengan sabun atau pencuci tangan. Jamin toilet dan fasilitas cuci tangan dibersihkan secara teratur dan dalam kondisi sanitasi yang baik. Bila memungkinkan, sediakan toilet yang terpisah antara wanita dan laki-laki. Jika tidak, pastikan privasi dan kenyamanan para pekerja saat menggunakan toilet.

Fasilitas Kesejahteraan - Tempat Mencuci


Fasilitas mencuci penting untuk higienitas dan kesehatan MENGAPA? Fasilitas mencuci yang mudah dijangkau dan digunakan terus menerus, membantu mencegah penyerapan bahan-bahan kimia melalui kulit atau tertelan ketika makan. Perawatan fasilitas mencuci yang baik juga berdampak positif bagi kepuasan bekerja.4 BAGAIMANA? Periksalah bahwa fasilitas mencuci yang cukup, bersih dan terawatt baik berada dekat tempat kerja. Ketika menata ulang atau membangun kembali ruang kerja Anda, buatlah fasilitas mencuci yang baik guna menjamin kesehatan dan kerapihan. Rawat dan bersihkan fasilitas mencuci atau kran air dengan baik. Fasilitas Kesejahteraan - Air Minum Air minum: air minum penting bagi kesehatan MENGAPA? Fasilitas minum yang baik banyak berguna dalam mencegah kelelahan dan menjaga kesehatan pekerja. Khususnya pada lingkungan yang panas, hasil kerja mengakibatkan kurangnya air. Hal tersebut dapat mempengaruhi kesehatan dan produktivitas pekerja jika air minum yang bersih tidak tersedia.4 BAGAIMANA? Sediakan fasilitas air minum yang baik dekat tempat kerja.
PBL Blok 28 Occupational Medicine 42

Pastikan bahwa air minum yang aman dan tidak terkontaminasi oleh debu, bahan-bahan kimia, atau kotoran contohnya kotoran serangga selalu tersedia.

`Fasilitas Kesejahteraan - Makanan Higienis Makanan higienis: makanan higienis yang baik penting untuk kerja dan kesehatan MENGAPA? Usaha alas kaki menghabiskan bagian yang penting dalam kehidupan pekerja sehari-hari di tempat kerja. Pekerja membutuhkan minum, makan, dan istirahat. Fasilitas memasak dan ruang makan yang bersih dan higienis adalah penting. Makan, minum, dan merokok di tempat proses kerja sangat berbahaya dan mengakibatkan tertelannya debu dan bahan-bahan kimia yang berbahaya.4 BAGAIMANA? Pastikan bahwa makanan selalu disiapkan di tempat yang bersih dan higienis. Sediakan ruang terpisah untuk makanan di dekat tempat kerja, tapi jauh dari ruang kerja. Jaga kebersihan fasilitas mencuci untuk menjamin higienitas makanan.

PBL Blok 28 Occupational Medicine

43

PENUTUP KESIMPULAN Peranan tenaga kerja sebagai sumber daya manusia, merupakan salah satu hal penting dalam sebuah perusahaan. Perlu disadari bahwa setiap pekerja dihadapkan dengan berbagai bahaya potensial di tempat kerja. Sebaik apa pun lingkungan tempat kerja, potensi bahaya yang mengancam senantiasa ada, baik terhadap kesehatan maupun keselamatan pekerja yang menjadi salah satu faktor penentu produktivitas dan profitabilitas suatu perusahaan. Bila terjadi kecelakaan atau penyakit akibat hubungan kerja, tentunya akan menyebabkan kerugian yang tidak kecil bagi semua pihak, baik pihak pengusaha, tenaga kerja maupun masyarakat yang memerlukan produk atau hasil kerjanya. Oleh karena itu, perlindungan serta kenyamanan dan ketenangan terhadap tenaga kerja menjadi suatu kebutuhan yang mendasar untuk dipenuhi. Pemerintah melalui undang-undang tentang keselamatan dan kesehatan kerja, mewajibkan setiap perusahaan untuk memberikan perlindungan atas keselamatan dan kesehatan tenaga kerjanya. Pekerja berhak mendapatkan pemeriksaan kesehatan berkala minimal satu tahun sekali sesuai dengan pajanan di tempat kerja. Pekerja juga berkewajiban melakukan pemeriksaan kesehatan berkala untuk mempertahankan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya sehingga produktivitas kerja pun terjaga dengan baik. K3 dikatakan merupakan modal utama kesejahteraan para buruh/tenaga kerja secara keseluruhan. Selain itu, dengan penerapan K3 yang baik dan terarah dalam suatu wadah industri tentunya akan memberikan dampak lain, salah satunya adalah sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Tujuan dari sistem manajemen K3 adalah sebagai alat untuk mencapai derajat kesehatan tenaga kerja yang setinggi-tingginya dan sebagai upaya untuk mencegah dan memberantas penyakit kecelakaan-kecelakaan akibat kerja, memelihara, dan meningkatkan kesehatan dan gizi para tenaga kerja, merawatkan dan meningkatkan efisiensi dan daya prodiktivitas tenaga manusia, memberantas kelelahan kerja dan melipatgandakan gairah serta kenikmatan bekerja. Lebih jauh sistem ini dapat memberikan perlindungan bagi masyarakat sekitar suatu perusahaan agar terhindar dari bahaya pengotoran bahan-bahan proses industrialisasi yang bersangkutan, dan perlindungan masyarakat luas dari bahaya-bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh produk-produk industri.

PBL Blok 28 Occupational Medicine

44

DAFTAR PUSTAKA 1. R.K, Sumamur. Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja (Hiperkes). Jakarta: CV Sagung Seto; 2009. H. 272-579. 2. Jeyaratnam J., Koh D. Buku Ajar Praktik Kedokteran Kerja. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2010. H. 351-66. 3. Ridley, John. Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Edisi ketiga. Jakarta: Erlangga; 2008. H. 39144. 4. Buchari. Manajemen Kesehatan Kerja dan Alat Pelindung Diri. Jakarta: EGC. 2007. H. 125203. 5. Suardi R. Sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja: manajemen risiko. Jakarta: Penerbit PPM; 2007. H. 1,8, 88-90. 6. M Soeripto. Higiene industri: pengenalan bahaya faktor kimia di lingkungan kerja. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2008. H. 28.

PBL Blok 28 Occupational Medicine

45