Anda di halaman 1dari 0

5

TINJAUAN PUSTAKA

Daerah aliran Sungai
Daerah aliran sungai yang diartikan sebagai bentang lahan yang dibatasi
oleh pembatas topografi (topography divide) yang menangkap, menampung dan
mengalirkan air hujan ke suatu titik patusan (outlet) telah secara luas diterima
sebagai satuan (unit) pengelolaan sumberdaya alam yang ada di dalam DAS (Tim
IPB 2002).
DAS sebagai sistem hidrologi dimana titik patusan merupakan titik kajian
hasil air (water yield) menjelaskan lebih lanjut bahwa air di titik patusan tidak
hanya berasal dari aliran di permukaan tanah (surface flow) tetapi juga berasal
dari aliran di dalam tanah, yaitu aliran bawah permukaan (sub surface flow) dan
aliran bumi (ground water flow). Pergerakan aliran bawah permukaandan aliran
bumi dipengaruhi oleh sifat tanah dan jenis serta struktur batuan (geology) yang
terdapat disuatu DAS. Dengan melihat sistem hidrologi tersebut, batas s uatu DAS
tidak hanya batas di permukaan tanah saja tetapi juga terdapat batas di dalam
tanah, di mana batas keduanya tidak selalu bersesuaian (coincide). Batas di dalam
tanah (di bawah permukaan tanah) relatif lebih sulit ditetapkan dan cenderung
bersifat dinamis, sehingga dalam kegiatan praktis, batas suatu DAS hanya
menggunakan batas di permukaan tanah, yang bersifat definitif untuk aliran
permukaan dan bersifat indikatif untuk aliran di dalam tanah dan untuk
keseluruhan sistem hidrologi DAS tersebut (Putro et al. 2003).
Mengacu kepada pengertian DAS dalam uraian di atas, maka di dalam suatu
DAS terdapat berbagai komponen sumberdaya, baik sumberdaya alam (natural
capital), yaitu udara (atmosphere), tanah dan batuan penyusunnya, vegetasi,
satwa, sumberdaya manusia (human capital) beserta pranata institusi formal
maupun informal masyarakat (social capital), maupun sumberdaya buatan (man
made capital) yang satu sama lain saling berinteraksi (interaction). Komponen-
komponen sumberdaya tersebut adalah khas untuk suatu DAS sehingga menjadi
karakteristik dari DAS tersebut (Putro et al. 2003).
Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai satuan perencanaan terkecil
mempunyai karakter yang spesifik yang sangat dipengaruhi oleh jenis tanah,

6
topografi, geologi, geomorfologi, vegetasi dan tataguna lahan (Seyhan 1977).
Istilah one river, one plan, one management yang populer mengindikasikan
pentingnya DAS dikelola sebagai suatu kesatuan utuh ekosistem sumberdaya
alam (Tim IPB 2002).
Cakupan luas suatu DAS bervariasi mulai dari beberapa puluh meter persegi
sampai dengan ratusan ribu hektar yang memiliki komponen-komponen masukan
yaitu curah hujan, komponen output yaitu debit aliran dan polusi/sedimen, dan
komponen proses yaitu manusia, vegetasi, tanah, iklim, dan topografi, sehingga
Asdak (2002), menyatakan bahwa pengelolaan DAS adalah suatu proses
formulasi dan implementasi kegiatan atau program yang bersifat manipulasi
sumberdaya alam dan manusia yang terdapat di DAS untuk memperoleh manfaat
produksi dan jasa tanpa menyebabkan terjadinya kerusakan sumberdaya tanah dan
air.
Morfometri Daerah Aliran Sungai
Istilah morfometri secara umum diaplikasikan pada pengukuran bentuk dan
pola. Terkait dengan morfometri DAS maka yang dimaksud dengan morfometri
DAS adalah pengukuran bentuk dan pola DAS dari suatu peta. Dikarenakan
adanya saling hubungan antar faktor, salah satu (biasanya yang paling mudah
diukur) seringkali dapat dijadikan sebagai pewakil untuk faktor yang lainnya.
Faktor-faktor yang terpilih dapat dipergunakan untuk menduga respon hidrologi
dari suatu daerah aliran sungai atau DAS terhadap masukan curah hujan di
kawasan tersebut. Selain itu morfometri DAS juga dapat dijadikan sebagai faktor
pembeda antara satu DAS dengan DAS lainnya untuk tujuan pembandingan
maupun klasifikasi (Gordon et al. 1992).
Parameter daerah tangkapan baik itu parameter topografi maupun parameter
morfometri telah dikenal mempunyai pengaruh terhadap proses alih ragam hujan
menjadi aliran/debit. Terdapat beberapa persamaan aliran yang kebanyakan
persamaan empiris dan sintetik yang dibangun dengan menggunakan parameter
DAS dikarenakan oleh ketiadaan data aliran (Sri Harto 2000a).
Kontribusi dari aliran interflow yang tertunda dan aliran air tanah (ground
water) ke sungai utamanya tergantung kepada variabel iklim dan topografi DAS.

7
Faktor topografi yang dominan adalah kelerengan DAS dan kerapatan Drainase
(Mazvimavi et al. 2004).
Hidrograf
Hidrograf dapat digambarkan sebagai penyajian grafis antara salah satu
unsur aliran dengan waktu (Sri Harto 1993). Sedangkan hidrogaf limpasan
didefinisikan sebagi grafik yang kontinyu yang menunjukkan sifat-sifat dari aliran
sungai berkaitan dengan waktu. Normalnya diperoleh dari garis pencatatan
kontinyu yang mengindikasikan debit dengan waktu (Viessman et al. 1989).
Hidrograf memberikan gambaran mengenai berbagai kondisi (karakteristik)
yang ada di DAS secara bersama-sama, sehingga apabila karakteristik DAS
berubah maka akan menyebabkan perubahan bentuk hidrograf (Sosrodarsono &
Takeda 1983). Hidrograf juga menunjukkan tanggapan menyeluruh DAS
terhadap masukan tertentu. Sesuai dengan sifat dan perilaku DAS yang
bersangkutan, hidrograf aliran selalu berubah sesuai dengan besaran dan waktu
terjadinya masukan (Sri Harto 1993).
Linsley et al. (1982) menyatakan terdapat 3 (tiga) komponen penyusun
hidrograf, yaitu : (1) aliran di atas tanah (overland flow/surface runoff), ialah air
yang dalam perjalannya menuju saluran melalui permukaan tanah; (2) aliran
bawah permukaan (interflow/ subsurface storm flow), ialah sebagian air yang
memasuki permukaan tanah dan bergerak ke samping melalui lapisan atas tanah
sampai saluran sungai. Kecepatan pergerakan aliran bawah permukaan ini lebih
lambat dibandingkan dengan aliran permukaan; dan (3) aliran air tanah
(groundwater flow) yang juga disebut sebagai aliran dasar. Sedangkan Viessman
et al. (1989) menambahkan satu komponen lagi sebagai penyusun hidrograf.
Sehingga menurutnya komponen hidrograf terdiri dari : (1) aliran permukaan
langsung, (2) aliran antara (inter flow), (3) air tanah atau aliran dasar, dan (4)
presipitasi di saluran air (channel precipitation).
Wilson (1990) mengemukakan bahwa mula-mula yang ada hanya aliran
dasar yaitu aliran yang berasal dari air tanah dan akuifer-akuifer yang berbatasan
dengan sungai yang mengalir terus menerus secara perlahan-lahan sepanjang
waktu. Segera setelah hujan mulai turun, terdapat suatu periode awal dari
intersepsi dan infiltrasi sebelum setiap limpasan terukur mencapai aliran

8
sungai/anak sungai dan selama per iode turunnya hujan kehilangan tersebut akan
terus berlangsung tetapi dalam jumlah yang semakin kecil. Apabila kehilangan
awal telah terpenuhi, maka limpasan permukaan akan mulai terjadi dan akan
berlanjut terus hingga mencapai suatu nilai puncak yang terjadi pada waktu TP.
Kemudian limpasan permukaan akan turun sepanjang sisi turun (recession limb)
sampai hilang sama sekali.
Bentuk Hidrograf
Bentuk hidrograf pada umumnya dapat sangat dipengaruhi oleh sifat hujan
yang terjadi, akan tetapi juga dapat dipengaruhi oleh sifat DAS yang lain (Sri
Harto 1993; Viessman et al. 1989). Seyhan (1977) mengemukakan bahwa
hidrograf periode pendek terdiri atas cabang naik, puncak (maksimum) dan
cabang turun. Sedangkan untuk hidrograf jangka panjang dibedakan menjadi 3
(tiga) yaitu Hidrograf bergigi, hidrograf halus dan hidrograf yang ditunjukkan
oleh sungai-sungai besar (Ward 1967, diacu dalam Seyhan 1977). Perbedaan
antara jangka pendek dan jangka panjang tersebut tergantung pada panjang waktu
dari tujuan pengamatan yang dilakukan (Kobatake 2000).
Seyhan (1977), Viessman et al. (1989) dan Sri Harto (1993) membagi
hidrograf menjadi 3 (tiga) bagian yaitu sisi naik (rising limb), Puncak (crest ) dan
sisi resesi (recession limb). Oleh sebab itu bentuk hidrograf dapat ditandai dari
tiga sifat pokoknya, yaitu waktu naik (time of rise), debit puncak (peak discharge)
dan waktu dasar (base time).
Waktu naik adalah waktu yang diukur dari saat hidrograf mulai naik
sampai terjadinya debit puncak. Debit puncak (Qp) adalah debit maksimum yang
terjadi dalam kejadian hujan tertentu. Waktu dasar (Tb) adalah waktu yang
diukur saat hidrograf mulai naik sampai waktu dimana debit kembali pada suatu
besaran yang ditetapkan (Sri Harto 1993).
Karakter kontribusi air tanah pada aliran banjir sangat berbeda dari
limpasan permukaan, maka kontribusi air tanah harus dianalisis secara terpisah,
dan oleh karenanya salah satu syarat utama dalam analisis hidrograf ialah
memisahkankedua hal tersebut (Wilson 1990).

9












Hidrograf Satuan

Hidrograf satuan merupakan hidrograf limpasan langsung (direct runoff
hydrograph) yang dihasilkan oleh hujan efektif yang terjadi secara merata di
seluruh DAS dan dengan intensitas tetap dalam satuan waktu yang ditetapkan
(Sherman 1932, diacu dalam Sri Harto 1993). Bentuk hidrograf satuan yang
benar untuk DAS tertentu dapat diperkirakan dengan suatu rata-rata dari sejumlah
hidrograf satuan yang diperoleh untuk DAS yang sama atau dengan hidrograf
satuan tunggal dari suatu hujan badai yang hebat, yang terpusatkan dan
terdistribusi dengan baik (Banes 1952; Gray 1973, diacu dalam Seyhan 1977).
Namun demikian Sri Harto (1993) mengemukakan bahwa tidak pernah terdapat
petunjuk tentang berapa jumlah kasus yang diperlukan untuk memperoleh
hidrograf satuan ini. Semakin sedikit jumlah kasus banjir yang dipergunakan,
makin besar nilai debit puncak yang diperoleh dibandingkan dengan
menggunakan jumlah kasus banjir yang banyak.
Wilson (1990) menekankan bahwa korelasi yang dicari adalah antara hujan
bersih atau hujan ef ektif (yaitu sisa hujan dalam bentuk limpasan sesudah semua
kehilangan akibat evaporasi, intersepsi dan infiltrasi telah diperhitungkan) dan
limpasan permukaan (yaitu hidrograf limpasan dikurangi aliran dasar). Metode
ini meliputi 3 (tiga) prinsip, yaitu :
Tp = waktu naik
Qp = debit puncak
Tb = waktu dasar
Gambar 1. Bentuk Hidrograf
Waktu (jam)
QP
TB
TP
Sisi Resesi/Lengkung Resesi
Debit
(m
3
/detik)
Sisi Naik/Lengkung Naik

10
a. Pada hujan bersih intensitas seragam pada suatu daerah aliran tertentu,
intensitas hujan yang berbeda tetapi mempunyai durasi yang sama
menghasilkan limpasan dengan periode yang sama, meskipun jumlahnya
berbeda
b. Pada hujan bersih intensitas seragam pada suatu daerah aliran tertentu,
intensitas hujan yang berbeda tetapi mempunyai durasi yang sama
menghasilkan hidrograf limpasan, dimana ordinatnya pada setiap waktu
sembarang memiliki proporsi yang sama terhadap satu sama lain seperti
intensitas hujan. Ini berarti bahwa hujan sebanyak n kali lipat dalam suatu
waktu tertentu akan menghasilkan suatu hidrograf dengan ordinat sebanyak n
kali lipat. Prinsip superposisi dipakai pada hidrograf yang dihasilkan oleh
hujan bersih berintensitas seragam yang memiliki pe riode -periode yang
berdekatan dan atau tersendiri.
Soemarto (1987) mengemukakan 4 (empat) dalil dalam teori klasik
tentang hidrograf satuan, yang menganggap bahwa teori hidrograf satuan
merupakan penerapan dari teori sistem linier dalam bidang hidrologi. Keempat
dalil tersebut adalah sebagai berikut :
a. Dalil I (Prinsip merata) : hidrograf satuan ditimbulkan oleh satu satuan
hujan lebih yang terjadi merata di seluruh DAS, selama waktu yang
ditetapkan.
b. Dalil II (prinsip waktu dasar konstan) : dalam suatu DAS, hidrograf satuan
yang dihasilkan oleh hujan-hujan efektif dalam waktu yang sama akan
mempunyai waktu dasar yang sama, tanpa melihat intensitas hujannya
(Gambar 2).
c. Dalil III (prinsip linearitas) : besarnya limpasan langsung pada suatu DAS
berbanding lurus terhadap tebal hujan efektif, yang berlaku bagi semua
hujan dengan waktu yang sama (Gambar 2).
d. Dalil IV (prinsip superposisi): total hidrograf limpasan langsung yang
disebabkan oleh beberapa kejadian hujan yang terpisah merupakan
penjumlahan dari tiap-tiap hidrograf satuan (Gambar 3).

11












Gambar 2. Hidrograf Satuan Bebas Terhadap Waktu Dan Limpasannya Berbanding
Lurus Dengan Tebal Hujan Efektif (Soemarto 1987)


















Gambar 3. Hidrograf Satuan Memenuhi Prinsip Superposisi (Soemarto 1987)

Hujan (Masukan)
Qh
1
= Q
11
+ 0
Qh
2
= Q
12
+ Q
21

Qh
3
= Q
13
+ Q
22



Hujan (Masukan)
Hidrograf Satuan (Keluaran)
Q2 = d2
Q1 = d1

12
Schulz (1980) mengemukakan bahwa aplikasi dari konsep hidrograf satuan
dari suatu hidrograf aliran permukaan membutuhkan analisis pemisahan aliran
permukaan dari aliran dasar terhadap hidrograf hasil pencatatan. Analisis hidrograf
satuan dari perekaman aliran membutuhkan pengisolasian aliran permukaan dari
total aliran. Terdapat tiga metode yang umum digunakan untuk memisahkan aliran
dasar (base flow) dari total hidrograf yang tercatat, yaitu :
a. Straight line method
b. Fixed Base Length Method
c. Variable Slope Method













Gambar 4. Metode Pemisahan Aliran Dasar (Base Flow) dari Hidrograf Aliran Total

Hidrograf satuan pengukuran dapat diperoleh jika tersedia data rekaman
AWLR (automatic water level recorder), pengukuran debit yang cukup dan data
hujan (manual dan otomatis). Untuk memudahkan analisis, dipilih kasus hidrograf
yang terpisah (isolated ) dan mempunyai satu puncak (single peak) serta distribusi
hujan yang cukup (Sri Harto 1993). Sesudah hidrograf satuan ditentukan untuk
suatu lokasi tertentu, adalah mungkin untuk menaksir limpasan permukaan dari
suatu curah hujan dengan berbagai lama hujan dan intensitas. Hal ini dapat
diketahui dengan memanfaatkan informasi kedalaman hujan dan lama hujan
efektif yang ditentukan (Seyhan 1977). Untuk mengatasi kendala tidak
Debit
T itik Infleksi
T
Days
Waktu
1
3
2
1 = Straight Line Method
2 = Fixed Base Lenght Method
3 = Variable Slope Method
T Days = (DA)
0.2

DA = Luas DAS (mil
2
)

13
tersedianya data yang cukup dikarenakan oleh kurangnya stasiun pengukuran pada
sejumlah sungai, maka dikembangkanlah beberapa hidrograf satuan sintetik
(Veissman et al. 1989).

Penentuan Hidrograf Satuan Pengukuran
Untuk menurunkan hidrograf satuan dari suatu hujan yang sederhana dapat
dilakukan dengan cara membagi nilai aliran langsung kurva debit dengan
besarnya kedalaman hujan efektif sehingga diperoleh hidrograf satuan. Waktu
dasar (Tb) diasumsikan konstan untuk hujan denan durasi yang sama (Bedient &
Huber 1989).
Persamaan Konvolusi diskret, seperti yang tersebut di bawah, merupakan
kegunaan dari hidrograf satuan untuk menentukan aliran langsung (direct runoff)
Qn, dengan hujan efektif tertentu Pm, dan hidrograf satuan U
n-m+1
(Wilson 1990).
Q
1
= P
1
U
1
+
Q
2
= P
2
U
1
+ P
1
U
2
+
Q
3
= P
3
U
1
+ P
2
U
2
+ P
1
U
3

........
Q
M
= P
M
U
1
+ P
M-1
U
2
+ ....... + P
1
U
M

Q
M+1
= 0 + P
M
U
2
+ ....... + P
2
U
M
P
1
U
M+1

........
QN-1 = 0 + 0 + + ....... + 0 + 0 + + ....... + PMUN- M+1 PM-1UN-M+1
QN = 0 + 0 + + ....... + 0 + 0 + + ....... + 0 + PMU N- M+1

Jika terdapat M denyut (pulse) hujan efektif dan N denyut (pulse) aliran langsung
dari sutau hujan yang dipertimbangkan untuk dipergunakan dalam menetapkan
hidrograf satuan, maka terdapat sebanyak N persamaan yang dapat dibuat untuk
menentukan besarnya Qn, dengan n = 1, 2,3, ..., N. Persamaan tersebut akan
terdiri dari N-M +1 nilai yang belum diketahui dari hidrograf satuan. Beberapa
persamaan akan berulang karena terdapat lebih banyak persamaan (N) daripada
yang tidak diketahui (N-M + 1). Proses kebalikannya disebut dengan
Dekonvolusi, yaitu dipergunakan untuk menurunkan hidrograf satuan dari data
hujan efektif Pm tertentu dan aliran langsung Qn tertentu. Besaran hidrograf
satuan pada U
1
dan U
2
dapat dicari dengan cara seperti berikut :
U1 = Q1/P1
U
2
= (Q
2
P
2
U
1
)/P
1
demikian seterusnya, sehingga diperoleh hasil hidrograf
satuan dari data pengukuran.

14
Penentuan Tebal Hujan Efektif
Hujan kotor (gross rainfall) yang jatuh dalam suatu kawasan akan
terdistribusi dalam beberapa komponen. Komponen tersebut adalah Evaporasi,
infiltrasi, depression storage, detention storage, dan direct runoff/aliran langsung
(Bedient & Huber 1989). Dengan demikian Hujan lebih atau hujan efektif adalah
sisa hujan dalam bentuk limpasan sesudah kehilangan akibat evaporasi, intersepsi dan
infiltrasi (Wilson 1990). Hujan lebih (volume dari limpasan) untuk suatu kejadian
hujan dapat ditentukan dengan menggunakan sala h satu dari persamaan infiltrasi yang
sudah dikembangkan (Ward 1995).
Viessman et al. (1989) mengemukakan bahwa salah satu metode untuk
mengetahui tebal hujan yang menyebabkan direct runoff (DRO) ditentukan dengan
persamaan sebagai berikut :
Tebal Hujan efektif =
( )
A
t DROx


................................................................. (1)
Dimana :
DRO : Aliran langsung yang terukur (m
3
/s)
t : Interval waktu pengukuran (jam)
A : Luas DAS (m
2
)

Schulz (1980) mengemukakan bahwa manakala hidrograf pengukuran dan
hujan dianalisis, perbedaan antara volume hujan dengan volume runoff dapat
didefinisikan sebagai indeks phi (F). Indeks phi (F) merupakan laju hujan rata-rata
dimana diatas indeks ini besarnya volume runoff sama dengan volume hujan. Jika
volume infiltrasi desebut dengan basin recharge, maka indeks phi (F) dapat dihitung
dengan persamaan sebagai berikut :
Basin Recharge F
Lama Hujan t
= = .................................................................. (2)
Konsep indeks phi (F ) adalah sebagaimana yang disajikan pada Gambar 5.
Perkiraan indeks infiltrasi juga dapat dilakukan dengan mempertimbangkan
pengaruh parameter DAS yang secara hidrologik dapat diketahui pengaruhnya
terhadap indeks infiltrasi. Persamaan pendekatannya (Harto 1993) adalah sebagai
berikut :
F = 10,4903 3,859 . 10
-6
A
2
+ 1,6985 . 10
-13
(A/SN)
4
.......... (3)

15
Dimana :
A = luas DAS (dalam km
2
)
SN = perbandingan antara jumlah orde sungai tingkat satu dengan jumlah orde
sungai semua tingkat

0
1
2
3
4
5
6
7
1 2 3 4 5 6 7 8
Waktu (Jam)
I
n
t
e
n
s
i
t
a
s

H
u
j
a
n

(
m
m
/
J
a
m
)
Intensistas Hujan Indeks Phi

Gambar 5. Konsep Indeks Phi (F)

Hidrograf Satuan Sintetik
Seyhan (1977) mengemukakan bahwa beberapa parameter fisik DAS
berperan dalam menentukan bentuk hidrograf satuan selain karakteristik hujan.
Parameter fisik DAS tersebut adalah luas DAS, kemiringan, pola drainase, dan lain-
lain. Parameter-parameter fisik DAS itulah yang akan dipergunakan untuk
menetapkan besarnya hidrograf satuan dari DAS yang bersangkutan dengan metode
hidrograf satuan sintetik.
Keuntungan dari penggunaan hidrograf satuan sintetik adalah bisa
mensintesasikan hidrograf dari DAS yang terukur dan menggunakannya untuk DAS
yang tidak terukur (Seyhan 1977). Kelemahan dari hidrograf satuan sintetik adalah
karena persamaan hidrograf satuan sintetik dibuat secara empiris dengan data yang
diperoleh pada tempat-tempat lokal. Oleh karena itu, persamaan tersebut terbatas
pada kawasan dengan kondisi geografis yang serupa dengan kawasan dimana
persamaan tersebut diperoleh (Seyhan 1977; Sri Harto 1993).
Basin Recharge
F
Hujan yang menjadi DRO

16
Hidrograf satuan sintetik yang memanfaatkan parameter DAS dan sudah
umum dikenal adalah metode yang dikembangkan oleh Snyder tahun 1938. Metode
ini didasarkan pada pemikiran bahwa pengalihragaman hujan menjadi aliran baik
pengaruh translasi maupun tampungannya dapat dijelaskan dipengaruhi oleh sistem
DAS-nya (Seyhan 1977; Linsley et al. 1982; Veissman et al. 1989; Sri Harto
1993). Model-model hidrograf satuan sintetik yang telah dikembangkan diantaranya
adalah :
Model Snyder
Persamaan-persamaan yang diturunkan dengan menggunakan metode Snyder
(Seyhan 1977; Linsley et al. 1982; Veissman et al. 1989; Sri Harto 1993) adalah:
t
l
= Ct (L . Lc)
0,3
............................................................. (4)
tr = tl /5,5 .............................................................. (5)
Qp = (640 Cp.A)/t
l
................................................................(6)
T = 3 + tl/8 ................................................................(7)
t
lR
= t
l
+ 0,25 (t
R
t
l
) ...............................................................(8)
Dengan :
tl = time lag atau waktu capai puncak dari pusat hujan (jam)
Ct = tetapan yang berkisar antara 0,7-1,0
L = panjang sungai utama (mil)
Lc = panjang sungai diukur sampai titik terdekat dengan titik berat
DAS (mil)
tr = lama hujan lebih (jam)
Cp = tetapan berkisar antara 0,35-0,5
t
lR
= waktu capai puncak bila lama hujan tidak sama dengan tr
T = time base atau waktu dasar (jam)
A = luas DAS (dalam mil persegi)
Qp = debit puncak (kaki kubik per detik atau cfs)

Model US SCS
US SCS mengembangkan rumus dengan koefisien-koefisien empirik yang
menghubungkan unsur-unsur hidrograf satuan dengan karakteristik DAS.
Hidrograf satuan model US SCS terdiri dari 4 variabel pokok yaitu t
L
(time lag),

17
Qp (m
3
/detik), Tp (jam), dan Tb (jam). Persamaan-persamaan yang dikembangkan
dari model ini adalah sebagai berikut (Wanielista et al. 1997):
1. Persamaan time lag (t
L
)
( )
5 , 0
7 , 0 8 , 0
L
Y 1900
1 S L
t

+
= ................................................................................... (9)
dimana :
t
L
= waktu tenggang (time lag) antara terjadinya hujan lebih sampai
terjadinya aliran puncak (jam)
L = panjang aliran sungai utama (ft)
S = retensi maksimum (inchi), S = 1000/CN 10
CN= bilangan kurva (curve number), yaitu suatu indeks yang menyatakan
pengaruh bersama tanah, penggunaan tanah, perlakuan terhadap tanah
pertanian, keadaan hidrologi, dan kandungan air tanah sebelumnya.
Y = kemiringan lereng (%)
2. Persamaan time to peak (T
p
)
L p
t
2
D
T + =

................................................................................... (10)
dimana :
T
p
= waktu yang diperlukan untuk mencapai laju aliran puncak (jam)
t
L
= waktu tenggang (time lag) antara terjadinya hujan lebih sampai
terjadinya aliran puncak (jam)
3. Persamaan peak discharge(Q
p
)
p
p
T
A 484
Q

=

................................................................................... (11)
dimana :
Q
p
= debit puncak/laju puncak aliran permukaan (cfs)
T
p
= waktu yang diperlukan untuk mencapai laju aliran puncak (jam)
A = luas DAS (mil
2
)
4. Persamaan time base (T
b
)
p b
T 67 , 2 T =

................................................................................... (12)
dimana:

18
Tb = waktu dasar (jam)
T
p
= waktu yang diperlukan untuk mencapai laju aliran puncak (jam)

Pada penggambaran kurva hidrograf satuan sintetik, sering pula untuk DAS
kecil diambil nilai T
b
= 3 ~ 5 T
p
.
Gambar 6. Bentuk Hidrograf Satuan Sintetik US SCS

Hidrograf Satuan Sintetik (HSS) Gama 1
Untuk kasus di Indonesia, Sri Harto (1993) mengembangkan metode
penentuan hidrograf satuan sintetik yang dikembangkan berdasarkan data empiris
hasil penelitiannya terhadap beberapa parameter morfometri DAS. Parameter DAS
yang diperlukan dalam membuat hubungan antara pengalihragaman hujan menjadi
debit adalah :
1. Faktor-sumber (SF) yaitu perbandingan antara jumlah panjang sungai-
sungai tingkat satu dengan jumlah panjang sungai-sungai semua tingkat.
Penetapan tingkat-tingkat sungai dilakukan dengan metode Strahler yaitu:
a) Sungai-sungai paling ujung adalah sungai-sungai tingkat satu.
b) Apabila dua buah sungai dengan tingkat yang sama bertemu akan
terbentuk sungai satu tingkat lebih tinggi
c) Apabila sebuah sungai dengan suatu tingkat bertemu dengan sungai
lain dengan tingkat yang lebih rendah maka tingkat sungai pertama
tidak berubah.
Tb
Tp
D
t
i
Qp
tL

19








Gambar 7. Penetapan Tingkat-Tingkat Sungai Menurut Strahler
2. Frekuensi-sumber (SN) yaitu perbandingan antara jumlah orde sungai-
sungai tingkat satu dengan jumlah orde sungai-sungai semua tingkat
3 3. . Faktor-lebar (WF) yaitu perbandingan antara lebar DAS yang diukur pada
titik di sungai yang berjarak 0,75 L dengan lebar DAS yang diukur pada
titik di sungai yang berjarak 0,25 L dari stasiun hidrometri (Gambar 8).
4. Rasio luas DAS bagian hulu atau Relatif Upper Area (RUA) adalah
pe er r b ba a n nd di in ng ga a n n a an nt ta ar ra a l lu ua as s D DA AS S y ya anng g d diiu uk ku ur r d di i h hu ul lu u g ga arri is s y ya an ng g d di it t a ar r i ikk
t te eg ga ak k l lu ur r u us s g ga ar ri is s h hu ub bu un ng g a an nt ta ar ra a s st ta assi iu un n h hi iddr r o om me e t tr ri i dde e n ng ga an n t t i it ti ik k y yaan ngg
p pa a l li in ng g d de e k ka at t d de en ng ga a n n t t i it t i ik k b be er r a at t D DA AS S d di i s su un ng ga ai i, , m me el le ew wa at t i i t t i it ti ik k t te er rs se eb bu ut t
( (A Au u) ) d de e n ng ga an n l lu ua as s t to ot ta al l D DA AS S ( (A A) ) (Gambar 9).
5. Faktor-simetri (SIM) yaitu hasil kali antara faktor -lebar (WF) dengan luas
DAS bagian hulu (RUA).










Gambar 8. Penentuan Faktor Lebar DAS

A
B
C
WU
WL
A D = L
A B = 0,25 L
A C = 0,75 L
WF = WU/WL
SIM = WF . RUA
D



20








Gambar 9. Penetapan Relatif Upper Area (RUA) suatu DAS

6. Jumlah pertemuan sungai (JN) adalah jumlah semua pertemuan sungai di
dalam DAS tersebut. Jumlah ini tidak lain adalah jumlah orde sungai
tingkat satu dikurangi satu.
7. Kerapatan jaringan drainase (D) yaitu jumlah panjang sungai semua tingkat
tiap satuan luas DAS.
8. Kemiringan rata-rata DAS/Slope (S) yaitu perbandingan selisih antara
ketinggian titik tertinggi dan ketinggian titik keluaran (outlet) pada sungai
utama, dengan panjang sungai utama yang terletak pada kedua titik
tersebut.
9. Panjang Sungai Utama (L) yaitu panjang sungai utama yang diukur mulai
dari outlet sampai ke hulu
10. Luas total DAS (A)
Komponen hidrograf satuan sintetik (HSS) Gama 1 terdiri dari 4 (empat)
variabel pokok yaitu : waktu-naik/time to rise (TR), debit-puncak/peak-discharge
(QP), waktu dasar/time to base (TB) dan koefisien tampungan (K), dengan
persamaan-persamaan (Sri Harto 1993) sebagai berikut :
TR = 0,43 (L/100 SF)
3
+ 1,0665 SIM + 1,2775 ............................... (13)
QP = 0,1836 A
0,5886
TR
-0,4008
JN
0,2381
................................(14)
TB = 27,4132 TR
0,1457
S
-0,0986
SN
0,7344
RUA
0,2574
................................(15)
Sedangkan untuk koefisien tampungan dipergunakan untuk menetapkan
kurva resesi hidrograf satuan sintetik yang didekati dengan persamaan berikut :
K = 0,5617 A
0,1798
S
-0,1446
SF
-1,0897
D
0,0452
..................................... (16)
Au

= Titik Berat DAS

RUA = Au/A

21
Sisi resesi dinyatakan dalam bentuk persamaan eksponensial sebagai
berikut:
Qt = Qp e
-t/k
............................................................................. (17)
Dimana :
Qt = debit dihitung pada waktu t jam setelah Qp, da lam m
3
/detik
Qp = debit puncak (dengan waktu pada saat debit puncak dianggap t = 0),
dalam m
3
/detik
K = koefisien tampungan

Sri Harto (2000b) mengemukakan bahwa dari hasil penelitian yang pernah
dilakukan selama ini, model Nakayasu juga cukup baik untuk dipergunakan di
Indonesia meskipun memerlukan koreksi. Apabila karena suatu alasan Model HSS
Gama 1 tidak dapat dipergunakan, maka disarankan untuk menggunakan model
Nakayasu dengan koreksi untuk waktu capai puncak (time to peak) dikalikan
dengan 0,75 dan debit puncak dikalikan dengan 1,25.
Selain metode hidrograf satuan sintetik tersebut, masih terdapat beberapa
model hidrograf satuan sintetik yang telah dikembangkan. Diantaranya adalah
model Distribusi Gamma, Metode Gray, Espey 10-minute Synthetic Unit
Hydrograph, Clarks Instantaneous Unit Hydrograph (IUH) Time-Area Method,
Nashs Synthetic IUH, Colorado Unit-Hydrograph Procedure/CUHP (Veissman et
al. 1989).