Anda di halaman 1dari 5

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Keseimbangan lini berhubungan erat dengan produksi massal. Sejumlah pekerjaan perakitan dikelompokkan ke dalam beberapa pusat-pusat kerja, yang untuk selanjutnya kita sebut sebagai stasiun kerja. Waktu yang diizinkan untuk menyelesaikan elemen pekerjaan itu ditentukan oleh kecepatan lintas perakitan. Semua stasiun kerja sedapat mungkin harus memiliki waktu siklus idealnya, maka stasiun tersebut akan memiliki waktu menganganggur. Tujuan akhir dari keseimbangan lini adalah meminimasi waktu mengaggur di setiap stasiun kerja, sehingga dicapai efisiensi kerja yang tinggi pada setiap stasiun kerja. Pengelompokan tugas-tugas yang akan menghasilkan keseimbangan lintasan produksi memberikan informasi tentang kinerja waktu dari tugas-tugas tersebut. Permasalahan keseimbangan lini paling banyak terjadi pada proses perakitan dibandingkan dengan proses pabrikasi. Untuk itu kita sebagai mahasiswa Teknologi Industri Pertanian perlu mempelajari keseimbangan lini agar nantinya pada saat terjun di industri kita bisa melakukan penyeimbangan lini produksi dengan baik. B. Tujuan Praktikum 1. Mengajarkan mahasiswa untuk melakukan penyeimbangan lintasan produksi dengan bantuan komputer. 2. Mengajarkan mahasiswa untuk dapat menganalisa dampak penyeimbangan lintasan produksi terhadap pengelompokan stasiun kerja dan efisiensi lintasan produksi.

BAB II DASAR TEORI

Keseimbangan adalah keadaan output per unit waktu yang harus dibuat secara seimbang oleh lintasan. Sehingga, untuk lini yang benar-benar seimbang, tidak ada idle time yang terjadi pada tiap stasiun kerja. Stasiun kerja sendiri adalah tempat sepanjang lintasan dimana pekerjaan untuk operator dikerjakan. Pekerjaan dalam hal ini dapat terdiri dari satu tugas atau lebih. Waktu yang dibutuhkan untuk pekerjaan terlama atau mesin terlama pada lini akan menentukan tingkat keluaran pada lini tersebut. Faktor pembatasan ini sering disebut sebagai bottleneck operation, karena itu membatasi output keseluruhan urutan mesin dan orang. Sedangkan, waktu siklus untuk lini tersebut akan menentukan tingkat outputnya (Delmar,1985). Keseimbangan lini adalah suatu proses penugasan/penempatan beberapa pekerjaan pada beberapa stasiun kerja sehingga masing-masing stasiun kerja mempunyai beban kerja (waktu kerja per unit produk) yang hampir sama (Saroyo, 2013). Assembly Line Balancing (ALB atau Keseimbangan Lini Perakitan) adalah permasalahan penyeimbangan beban pada stasiun-stadiun kerja dibagian lini perakitan. Keseimbangan pada lini perakitan adalah sangat penting kerena menentukan seberapa besar kecepatan dan daya guna (efisiensi) produksi. Secara deterministik, kecepatan produksi lini perakitan ditentukan oleh stasiun kerja yang memiliki kecepatan operasi yang paling lambat (waktu operasi yang terbesar). Hal ini dikarenakan stasiun kerja yang lain harus mengalami waktu menganggur (idle) baik menunggu material input maupun menunggu daerah WIP (work in process) di depannya menjadi kosong. Selain itu, jika kecepatan produksi stasiun-stasiun kerja pada lini perakitan berbeda secara signifikan, efisiensi lini perakitan tersebut menjadi rendah. Hal ini diakibatkan waktu operasi tidak digunakan sepenuhnya dalam mentransformasikan barang, akan tetapi ada waktu operasi yang terbuang dikarenakan idle (menganggur) (Komarudin, 2010).

Line Balancing yaitu sekelompok orang atau mesin yang melakukan tugas-tugas sekuensial dalam merakit suatu produk yang diberikan kepada masing-masing sumber daya secara seimbang dalam setiap lintasan produksi, sehingga dicapai efisiensi kerja yang tinggi di setiap stasiun kerja. Fungsi dari line balancing adalah membuat suatu lintasan yang seimbang. Tujuan pokok dari penyeimbangan lintasa adalah memaksimalkan kecepatan ti tiap stasiun kerja, sehingga dicapai efisiensi kerja yang tinggi di tiap stasiun kerja tersebut (Bedworth, 1982). Keseimbangan lintasan meliputi seleksi kombinasi yang tepat dari elemenelemen kerja untuk dilaksanakan pada setiap stasiun kerja. Tujuannya adalah untuk meminimalkan input tenaga kerja yang dibutuhkan dan investasi fasilitas atau untuk mendapatkan sejumlah output. Tujuan secara umum adalah (Dilworth, 1986) : 1. Minimasi jumlah stasiun kerja (pekerja) yang dibutuhkan untuk mencapai waktu siklus tertentu. 2. Minimasi waktu siklus (maksimasi laju atau tingkat output) Ketidakefisienan proses transformasi pengubahan input (bahan baku) menjadi output (produk) sangat dipengaruhi aliran bahan yang belum seimbang. Ketidakseimbangan ini ditunjukkan dengan produk yang belum bisa memenuhi permintaan, waktu siklus produksi yang begitu besar, dan terjadinya bottle neck dan idle time. Kesemuanya itu menunjukkan bahwa produktivitas kerja masih rendah. Perencanaan kapasitas sangat penting untuk menentukan jumlah kapasitas yang tepat pada tempat dan waktu yang tepat. Perencanaan produksi tidak hanya memprediksi ukuran fasilitas tapi juga jumlah pekerja dan waktu proses (Schroeder, 1985). Terdapat beberapa istilah yang biasa digunakan dalam line balancing seperti precedence diagram, cycle time, dan balance delay. Precedence diagram merupakan gambaran secara grafis dari urutan operasi kerja, serta ketergantungan pada operasi kerja lainnya yang tujuannya mempermudahkan pengontrolan dan perencanaan kegiatan yang terkait di dalamnya. Cycle time adalah waktu yang

diperlukan untuk memubuat satu unit produk per satu stasium. Balance delay digunakan untuk mengetahui seberapa besar waktu menganggur dalam suatu lintasan (Sutalaksana, 2003).

DAFTAR PUSTAKA Bedworth, D. 1982. Integrated Production Control System:. John Willey & Sons Inc: New York. Chutima, et all. 2012. Practical Assembly-Line Balancing in a Monitor Manufacturing Company. Chulalongkorn University. Diakses di http://www.tijsat.tu.ac.th/issues/2004/no2/2004_V9_No2_8.pdf. pada sabtu 7 Desember 2013 pukul 14.40 WIB Delmar, D. 1985. Operations And Industrial Management Design And Managing For Productivity. Mc. Graw Hill Book Company. USA Dilworth, J.B. 1986. Production & Operations Management: Manufacturing & Non Manufacturing, Third Edition. University Of Alabama. Briminghan : New York Komarudin. 2010. Assembly Line Balancing (Keseimbangan Lini Perakitan). Diakses di http://staff.blog.ui.ac.id/komarudin74/2010/10/05/ assembly-line-balancing-keseimbangan-lini-perakitan/ pada sabtu 7 Desember 2013 pukul 14.05 WIB Saroyo, Pujo. 2013. Handot Praktikum Perencanaan dan Pengendalian Produksi. Yogyakarta : Laboratorium Sistem Produksi FTP UGM Schroeder, R.G. 1985. Manajemen Operasi, Pengambilan Keputusan Dalam Fungsi Operasi. Erlangga : Jakarta. Sutalaksana, Iftikar Z. 2006. Teknik Perancangan Sistem Kerja. Bandung : Institut Teknologi Bandung