Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH

(TINJAUAN PUSTAKA)

TERAPI OKSIGEN
DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI SYARAT
KEPANITERAAN KLINIK
BIDANG ANESTESIOLOGI DAN RAWAT INTENSIF
DI BLU RSUD KOTA SEMARANG

Oleh :
FATMALA HANINGTYAS
01.208.5654

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2013

LEMBAR PENGESAHAN

Nama

: FATMALA HANINGTYAS

NIM

: 01.208. 5654

Fakultas

: Kedokteran

Universitas

: Universitas Islam Sultan Agung Semarang

Tingkat

: Program Pendidikan Profesi Dokter

Bidang Pendidikan

: Anestesiologi dan Terapi Intensif

Periode Kepaniteraan Klinik : 1 Juli 27 Juli 2013


Judul Makalah

: Terapi Oksigen

Diajukan

: Juli 2013

Pembimbing

: Dr. Wahyu Hendarto, Sp. An, Msi. Med

TELAH DIPERIKSA DAN DISAHKAN TANGGAL : ..................................

Mengetahui :
Ketua SMF Anastesiologi dan Rawat Intensif

PEMBIMBING:

BLU RSUD Kota Semarang,

Dr. Purwito Nugroho, Sp. An, M.M


NIP. 19551221 198301 1 002

Dr. Wahyu Hendarto, Sp. An, M.HKes


NIP. 19531105 198111 1 001

KATA PENGANTAR

Puji syukur yang sebesar-besarnya penulis panjatkan kepada Allah SWT yang
telah memberikan rahmat dan karunianya sehingga makalah dengan judul Terapi
Oksigen ini dapat selesai dengan baik dan tepat pada waktunya.
Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi syarat Kepaniteraan Klinik Bidang
Anestesiologi dan Rawat Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung di
BLU RSUD Kota Semarang periode 1 Juli 27 Juli 2013 . Disamping itu, makalah ini
ditujukan untuk menambah pengetahuan bagi kita semua tentang Terapi Oksigen
Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih atas
bantuan dan kerja sama yang telah diberikan selama penyusunan referat ini, kepada :
1.

Dr. Susi Herawati, M.Kes, selaku Direktur Rumah Sakit Umum daerah Kota
Semarang

2.

Dr. Purwito Nugroho, Sp.An, M.M selaku ketua SMF dan pembimbing
Kepaniteraan Klinik Anestesiologi dan terapi Intensif RSUD kota Semarang.

3.

Dr. Wahyu Hendarto, Sp. An, M.Hkes., selaku pembimbing Kepaniteraan


Klinik Anestesiologi dan Terapi Intensif RSUD Kota semarang.

4.

Dr. Donni Indra Kusuma, Sp. An

Msi. Med, selaku pembimbing

Kepaniteraan klinik Anestesiologi dan Terapi Intensif RSUD Kota Semarang,


5.

Dr. Dian Ayu selaku Residen Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas
Kedokteran Universitas Diponegoro serta Staff Anestesiologi dan Terapi
Intensif RSUD Kota Semarang.

6.

Rekan- rekan Anggota Kepaniteraan Klinik di Bagian Anestesiologi dan


terapi Intensif RSUD kota Semarang.
3

Penulis menyadari masih banyak kekurangan, maka penulis sangat mengharapkan


saran dan kritik yang membangun dari semua pihak, supaya referat ini dapat menjadi
lebih baik, dan dapat berguna bagi semua yang membacanya. Penulis mohon maaf
yang sebesar-besarnya apabila masih banyak kesalahan maupun kekurangan dalam
mekalah ini.

Semarang,

Juli 2013

Penulis

TERAPI OKSIGEN

Fatmala Haningtyas*,

Wahyu Hendarto**

ABSTRACT: Oxygen therapy is an action to increase the partial pressure of oxygen at


inspiration, which can be done by increasing oxygen levels inspiration / FiO2
(Orthobarik), and increase the pressure of oxygen (Hyperbaric), the purpose of oxygen
therapy is to increase the concentration of O2 in arterial blood so entrance to the
network to facilitate aerobic metabolism, and maintain PaO2> 60 mmHg or SaO2> 90%.
Indication of oxygen therapy was patient hypoxia, oxygenation less while the normal
lung, while pulmonary oxygenation is not normal, adequate oxygenation, normal lung,
while the circulation is not normal, patients who require high concentration oxygen
delivery, and in patients with partial pressure of carbon dioxide (PaCO2 ) Is low.
Technical administration of oxygen therapy can be with such a low flow system, nasal
catheter, nasal cannula / cannula binasal / Nasal Prong, simple face shield, face shield
with a rebreathing bag, and the lid face with non-rebreathing bag. It could also be high
flow techniques such as, face shield with venturi / Venturi mask (High flow low
concentration), Bag and Mask / manual resuscitator, and a tracheostomy collar. Giving
oxygen therapy may result in fire, respiratory tract irritation, oxygen poisoning, seizures
and even coma.
Keywords: oxygen therapy, objectives, indications, techniques and risks
ABSTRACT: Terapi oksigen adalah suatu tindakan untuk meningkatkan tekanan parsial
oksigen pada inspirasi, yang dapat dilakukan dengan cara meningkatkan kadar oksigen
inspirasi / FiO2 (Orthobarik ), dan meningkatkan tekanan oksigen (Hiperbarik), tujuan
dari terapi oksigen ini adalah untuk meningkatkan

* Coassistan FK Universitas Islam Sultan Agung


** Dokter Spesialis Anestesiologi BLU RSUD Kota Semarang

konsentrasi O2 pada darah arteri sehingga masuk ke jaringan untuk memfasilitasi


metabolisme aerob, dan mempertahankan PaO2 > 60 mmHg atau SaO2 > 90 %. Indikasi
pemberian terapi oksigen ini adalah pasien hipoksia, oksigenasi kurang sedangkan paru
normal, oksigenasi cukup sedangkan paru tidak normal, oksigenasi cukup, paru normal,
sedangkan sirkulasi tidak normal, pasien yang membutuhkan pemberian oksigen
konsentrasi tinggi, dan pada pasien dengan tekanan partial karbondioksida ( PaCO2 )
rendah. Tekhnik pemberian terapi oksigen ini bisa dengan sistem aliran rendah seperti,
kateter nasal, kanul nasal / kanul binasal / nasal prong, sungkup muka sederhana,
sungkup muka dengan kantong rebreathing, dan sungkup muka dengan kantong non
rebreathing. Bisa juga dengan tekhnik aliran tinggi seperti, sungkup muka dengan venturi
/ Masker Venturi (High flow low concentration), Bag and Mask / resuscitator manual,
dan Collar trakeostomi. Pemberian terapi oksigen dapat mengakibatkan kebakaran, iritasi
saluran pernapasan, keracunan oksigen, kejang bahkan sampai koma.
Kata kunci : terapi oksigen, tujuan, indikasi, tekhnik dan risiko

PENDAHULUAN
Anggapan bahwa oksigen merupakan unsur yang paling dibutuhkan bagi
kehidupan manusia agaknya memang benar. Tidak makan atau tidak minum
mungkin masih akan memberikan toleransi yang cukup panjang hingga sampai
kepada keadaan fatal, tetapi sebentar saja manusia tak mendapat oksigen maka
akan langsung fatal akibatnya. Tak hanya untuk bernafas dan memepertahankan
kehidupan, oksigen juga sangat dibutuhkan untuk metaboloisme tubuh. Oksigen
malah bisa menjadis arana untuk mengatasi berbagai macam penyakit.1
Oksigen pertama kali ditemukan oleh Yoseph Prietsley di Bristol Inggris tahun
1775 dan dipakai dalam bidang kedokteran oleh Thomas Beddoes sejak awal
tahun 1800. alvan Barach tahun 1920 mengenalkan terapi oksigen pasien
hipoksemia dan terapi oksigen jangka panjang pasien penyakit paru obstruktif
kronik. Chemiack tahun 1967 melaporkan pemberian oksigen melalui kanula
hidung dengan aliran lambat pasien hiperkapnia dan memberikan hasil yang baik
tanpa retensi CO2.2
Oksigen (O2) merupakan salah satu komponen gas dan unsure vital dalam
6

proses metabolisme, untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel


tubuh. Secara normal elemen ini iperoleh dengan cara menghirup udara ruangan
dalam setiap kali bernafas. Penyampaian O2 ke jaringan tubuh ditentukan oleh
interaksi system respirasi, kardiovaskuler dan keadaan hematologis.2
Adanya kekurangan O2 ditandai dengan keadaan hipoksia, yang dalam proses
lanjut dapat menyebabkan kematian jaringan bahkan dapat mengancam
kehidupan. Klien dalam situasi demikian mengharapkan kompetensi sebagai
dokter dalam mengenal keadaan hipoksemia dengan segera untuk mengatasi
masalah.
A. Anatomi Sistem Pernafasan
Sebelum membahas tentang terapi oksigen, kita seharusnya harus mengetahui
terlebih dahulu anatomi dan fisiologi sistem pernapasan.
-

Sistem Pernapasan pada Manusia terdiri atas:


1. Saluran Nafas Bagian Atas
a. Hidung
Hidung atau naso adalah saluran pernafasan yang pertama. Ketika
proses

pernafasan berlangsung, udara yang diinspirasi melalui

rongga hidung akan menjalani tiga proses yaitu penyaringan


(filtrasi), penghangatan, dan pelembaban. Hidung terdiri atas bagianbagian sebagai berikut:
b. Faring
Merupakan pipa berotot yang berjalan dari dasar tengkorak sampai
persambungannya dengan oesopagus pada ketinggian tulang rawan
krikoid.
- Nasofaring(terdapat pharyngeal tonsildan Tuba Eustachius).
Nasofaring terletak tepat di belakang cavum nasi , di bawah basis
crania dan di depan vertebrae cervicalis I dan II. Nasofaring
membuka bagian depan ke dalam cavum nasi dan ke bawah ke
dalam orofaring. Tuba eusthacius membuka ke dalam didnding
lateralnya pada setiap sisi. Pharyngeal tonsil (tonsil nasofaring)
adalah bantalan jaringan limfe pada dinding posteriosuperior
7

nasofaring.

Orofaring

Merupakan pertemuan rongga mulut dengan faring,terdapat pangkal


lidah). Orofaring adalah gabungan sistem respirasi dan pencernaan ,
makanan masuk dari mulut dan udara masuk dari nasofaring dan
paru.

Laringofaring(terjadi persilangan antara aliran udara dan aliran


makanan)
Laringofaring merupakan bagian dari faring yang terletak tepat
di belakang laring, dan dengan ujung atas esofagus.

c. Laring (tenggorok)
Saluran udara dan bertindak sebagai pembentuk suara. Pada bagian
pangkal ditutup oleh sebuanh empang tenggorok yang disebut
epiglottis, yang terdiri dari tulang-tulanng rawan yang berfungsi
ketika menelan makanan dengan menutup laring.
Terletak pada garis tengah bagian depan leher, sebelah dalam kulit,
glandula

tyroidea, dan beberapa otot kecila, dan didepan

laringofaring dan bagian atas esopagus.3


2. Saluran Nafas Bagian Bawah
a.Trachea atau Batang tenggorok
Merupakan tabung fleksibel dengan panjang kira-kira 10 cm dengan
lebar 2,5

cm. trachea berjalan dari cartilago cricoidea kebawah

pada bagian depan leher dan dibelakang manubrium sterni, berakhir


setinggi angulus sternalis (taut manubrium dengan corpus sterni)
atau sampai kira-kira ketinggian vertebrata torakalis kelima dan di
tempat ini bercabang mcnjadi dua bronckus (bronchi).
Trachea tersusun atas 16 - 20 lingkaran tak- lengkap yang berupan
cincin

tulang rawan yang diikat bersama oleh jaringan fibrosa

dan yang melengkapi lingkaran disebelah belakang trachea, selain


itu juga membuat beberapa jaringan otot.
8

b. Bronchus
Bronchus yang terbentuk dari belahan dua trachea pada ketinggian
kira-kira vertebrata torakalis kelima, mempunyai struktur serupa
dengan trachea dan dilapisi oleh.jenis sel yang sama.
Bronkus-bronkus itu berjalan ke bawah dan kesamping ke arah
tampuk paru.
Bronckus kanan lebih pendek dan lebih lebar, dan lebih vertikal
daripada yang kiri, sedikit lebih tinggi darl arteri pulmonalis dan
mengeluarkan sebuah cabang utama lewat di bawah arteri, disebut
bronckus lobus bawah. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih
langsing dari yang kanan, dan berjalan di bawah arteri pulmonalis
sebelurn di belah menjadi beberapa cabang yang berjalan kelobus
atas dan bawah. Cabang utama bronchus kanan dan kiri bercabang
lagi menjadi bronchus

lobaris dan kernudian menjadi lobus

segmentalis. Percabangan ini berjalan terus menjadi bronchus yang


ukurannya semakin kecil, sampai akhirnya menjadi bronkhiolus
terminalis, yaitu saluran udara terkecil yang tidak mengandung
alveoli (kantong udara). Bronkhiolus terminalis memiliki garis
tengah kurang lebih I mm. Bronkhiolus

tidak diperkuat oleh

cincin tulang rawan. Tetapi dikelilingi oleh otot polos sehingga


ukurannya dapat berubah. Seluruh saluran udara ke bawah sampai
tingkat bronkbiolus terminalis disebut

saluran penghantar udara

karena fungsi utamanya adalah sebagai penghantar udara ke tempat


pertukaran gas paru-paru. yaitu alveolus.4
B. Fisiologi Respirasi
Proses pernafasan terdiri dari 2 bagian, yaitu sebagai berikut :
Ventilasi pulmonal yaitu masuk dan keluarnya aliran udara antara
atmosfir dan alveoli paru yang terjadi melalui proses bernafas
(inspirasi dan ekspirasi) sehingga terjadi disfusi gas (oksigen dan
karbondioksida) antara alveoli dan kapiler pulmonal serta ransport O2
9

& CO2 melalui darah ke dan dari sel jaringan.


Mekanik pernafasan
Masuk dan keluarnya udara dari atmosfir ke dalam paru-paru
dimungkinkan olen peristiwa mekanik pernafasan yaitu inspirasi dan
ekspirasi. Inspirasi (inhalasi) adalah masuknya O2 dari atmosfir &
CO2 ke dlm jalan nafas.
Dalam inspirasi pernafasan perut, otot difragma akan berkontraksi dan
kubah difragma turun ( posisi diafragma datar ), selanjutnya ruang
otot intercostalis externa menarik dinding dada agak keluar, sehingga
volume paru-paru membesar, tekanan dalam paru-paru akan menurun
dan lebih rendah dari lingkungan luar sehingga udara dari luar akan
masuk ke dalam paru-paru. Ekspirasi (exhalasi) adalah keluarnya CO2
dari paru ke atmosfir
melalui jalan nafas. Apabila terjadi pernafasan perut, otot difragma
naik kembali ke posisi semula ( melengkung ) dan muskulus
intercotalis interna relaksasi. Akibatnya tekanan dan ruang didalam
dada mengecil sehingga dinding dada masuk ke dalam udara keluar
dari paru-paru karena tekanan paru-paru meningkat.4

Transportasi gas pernafasan


a. Ventilasi
Selama inspirasi udara mengalir dari atmosfir ke alveoli. Selama
ekspirasi sebaliknya yaitu udara keluar dari paru-paru. Udara yg
masuk ke dalam alveoli mempunyai suhu dan kelembaban atmosfir.
Udara yg dihembuskan jenuh dengan uap air dan mempunyai suhu
sama dengan tubuh.
b. Difusi
Yaitu proses dimana terjadi pertukaran O2 dan CO2 pada pertemuan
udara dengan darah. Tempat difusi yg ideal yaitu di membran
alveolar-kapilar karena permukaannya luas dan tipis. Pertukaran gas
antara alveoli dan darah terjadi secara difusi. Tekanan parsial O2
(PaO2) dalam alveolus lebih tinggi dari pada dalam darah O2 dari
alveolus ke dalam darah.
10

Sebaliknya

(PaCO2)

darah

>

(PaCO2)

alveolus

sehingga

perpindahan gas tergantung pada luas permukaan dan ketebalan


dinding alveolus. Transportasi gas dalam darah O2 perlu ditrasport
dari paru-paru ke jaringan dan CO2 harus ditransport kembali dari
jaringan ke paru-paru. Beberapa faktor yg mempengaruhi dari paru
ke jaringan , yaitu:

Cardiac out put.

Jumlah eritrosit.

Exercise

Hematokrot

darah,

akan

meningkatkan

vikositas

darahmengurangi transport O2 menurunkan CO.


a. Perfusi pulmonal
Merupakan aliran darah aktual melalui sirkulasi pulmonal dimana
O2 diangkut dalam darah membentuk ikatan (oksi Hb) /
Oksihaemoglobin (98,5%) sedangkan dalam eritrosit bergabung
dgn Hb
dalam plasma sbg O2 yg larut dlm plasma (1,5%). CO2 dalam
darah ditrasportasikan sebagai bikarbonat, alam eritosit sebagai
natrium bikarbonat, dalam plasma sebagai kalium bikarbonat ,
dalam larutan
bergabung dengan Hb dan protein plasma. C02 larut dalam
plasma sebesar 5 7 % , HbNHCO3 Carbamoni Hb (carbamate)
sebesar 15 20 % , Hb + CO2 HbC0 bikarbonat sebesar 60
80% . 4

Pengukuran volume paru


Fungsi paru, yg mencerminkan mekanisme ventilasi disebut volume
paru dan
kapasitas paru. Volume paru dibagi menjadi :

Volume tidal (TV) yaitu volume udara yang dihirup dan


dihembuskan setiap kali bernafas.

Volume cadangan inspirasi (IRV) , yaitu volume udara


11

maksimal yang dapat dihirup setelah inhalasi normal.

Volume Cadangan Ekspirasi (ERV), volume udara maksimal


yang dapat dihembuskan dengan kuat setelah exhalasi normal.

Volume residual (RV) volume udara yg tersisa dalam paru-paru


setelah ekhalasi maksimal.

Kapasitas Paru

Kapasitas vital (VC), volume udara maksimal dari poin inspirasi


maksimal.

Kapasitas inspirasi (IC) Volume udara maksimal yg dihirup


setelah ekspirasi normal.

Kapasitas residual fungsiunal (FRC), volume udara yang tersisa


dalam

paru-paru setelah ekspirasi normal.

Kapasitas total paru (TLC) volume udara dalam paru setelah


inspirasi maksimal.

Pengaturan pernafasan
Sistem kendali memiliki 2 mekanismne saraf yang terpisah yang
mengatur pernafasan. Satu system berperan mengatur pernafasan
volunter dan system yang lain berperan mengatur pernafasan otomatis. 2

C. Definisi Terapi Oksigen


Terapi oksigen adalah memasukkan oksigen tambahan dari luar ke paru
melalui

saluran

pernafasan

dengan

menggunakan

alat

sesuai

kebutuhan.3
Terapi oksigen adalah pemberian oksigen dengan konsentrasi yang
lebih tinggi dari yang ditemukan dalam atmosfir lingkungan. Pada
ketinggian air laut konsentrasi oksigen dalam ruangan adalah 21 %5.
Terapi oksigen adalah suatu tindakan untuk meningkatkan tekanan
parsial oksigen pada inspirasi, yang dapat dilakukan dengan cara:
a. Meningkatkan kadar oksigen inspirasi / FiO2 (Orthobarik )
b. Meningkatkan tekanan oksigen (Hiperbarik)
D. Tujuan/ kegunaan
12

a. Meningkatkan konsentrasi O2 pada darah arteri sehingga masuk ke


jaringan untuk memfasilitasi metabolisme aerob
b. Mempertahankan PaO2 > 60 mmHg atau SaO2 > 90 % untuk :
- Mencegah

dan

mengatasi

hipoksemia

hipoksia

serta

mmempertahankan oksigenasi jaringan yang adekuat.


- Menurunkan kerja nafas dan miokard.
- Menilai fungsi pertukaran gas
Alat

Aliran (L/menit)

Fi

O2 (fraksi

inspirasi)
0,24

0,28

Kanula 3

0,32

nasal

0,36

0,40

6
5-6

0,44
0,40

6-7

0,50

7-8
6

0,60
0,60

0,70

0,80

0,80

Masker
oksigen
Masker
dengan
kantong
reservoir

oksigen

10
0,80
Tabel 1 : Macam-macam alat terapi oksigen4
E. Indikasi
a. Pasien hipoksia
Hipoksia hipoksik merupakan masalah pada individu normal pada
daerah ketinggian serta merupakan penyulit pada pneumonia dan
berbagai penyakit sistim pernafasan lainnya.
Gejala dan tanda hipoksia hipoksik:
1. Pengaruh penurunan tekanan barometer
Penurunan PCO2 darah arteri yang terjadi akan menimbulkan
13

alkalosis respiratorik.
2. Gejala hipoksia saat bernafas oksigen
Di ketinggian 19.200 m, tekanan barometer adalah 47 mmHg,
dan pada atau lebih rendah dari tekanan ini cairan tubuh akan
mendidih pada suhu tubuh. Setiap orang yang terpajan pada
tekanan yang rendah akan lebih dahulu meninggal saat hipoksia,
sebelum

gelembung

uap

air

panas

dari

dalam

tubuh

menimbulkankematian.
3. Gejala hipoksia saat bernafas udara biasa
Gejala mental seperti irritabilitas, muncul pada ketinggian
sekitar 3700 m. Pada ketinggian 5500 m, gejala hipoksia berat,
dan diatas 6100 m, umumnya seseorang hilang kesadaran.
4. Efek lambat akibat ketinggian
Keadaan ini ditandai dengan sakit kepala, iritabilias, insomnia,
sesak nafas, serta mual dan muntah.
5. Aklimatisasi
Respon awal pernafasan terhadap ketinggian relatif ringan,
karena alkalosis cenderung melawanefek perangsangan oleh
hipoksia.

Timbulnya

asidosis

laktat

dalam

otak

akan

menyebabkan penurunan pH LCSdan meningkatkan respon


terhadap hipoksia.
Penyakit yang menyebabkan Hipoksia Hipoksik
Penyakit penyebabnya secara kasar dibagi atas penyakit dengan
kegagalan organ pertukaran gas, penyakit seperti kelainan jantung
kongenital dengan sebagian besar darah dipindah dari sirkulasi
vena kesisi arterial, serta penyakit dengan kegagalan pompa
pernafasan. Kegagalan paru terjadi bilakeadan seperti fibrosis
pulmonal menyebabkan blok alveoli kapiler atau terjadi ketidak
seimbangan ventilasi perfusi. Kegagalan pompa dapat disebabkan
oleh kelelahan otot-otot pernafasan pada keadaan dengan
peningkatan beban kerja pernafasan atau oleh berbagai gangguan
14

mekanik seperti pneumothoraks atau obstruksi bronkhialyang


membatasi ventilasi. Kegagalan dapat pula disebabkan oleh
abnormalitas pada mekanisme persarafan yang mengendalikan
ventilasi, seperti depresi neuron respirasi di medula oblongata oleh
morfin dan obat-obat lain7
Hipoksia Anemik
Sewaktu istirahat,hipoksia akibat anemia tidaklah berat, karena
terdapat peningkatan
merah,kecuali

apabila

kadar

2,3-DPG

defisiensi

didalam

hemoglobin

sel

darah

sangat

besar.

Meskipun demikian, penderita anemia mungkin mengalami


kesulitan cukup besar sewaktu melakukan latihan fisik karena
adanya keterbatasan kemampuan meningkatkan pengangkutan
O2 kejaringan aktif7.
Hipoksia Stagnan
Hipoksia akibat sirkulasi lambat merupakan masalah bagi organ
seperti ginjal dan jantung saat terjadi syok. Hati dan mungkin
jaringan otak mengalami kerusakan akibat hipoksia stagnan pada
gagal jantung kongestif. Pada keadaan normal, aliran darah ke
paru-paru sangat besar, dan dibutuhkan hipotensi jangka waktu
lama untuk menimbulkan kerusakan yang berarti. Namun, syok
paru dapat terjadi pada kolaps sirkulasi berkepanjangan,terutama
didaerah paru yang letaknya lebih tinggi dari jantung8.
Hipoksia Histotoksik
Hipoksia yang disebabkan oleh hambatan proses oksidasi jaringan
paling sering diakibatkan oleh keracunan sianida. Sianida
menghambat sitokrom oksidasi serta mungkin beberapa enzim
lainnya. Biru metilen atau nitrit digunakan untuk mengobati
keracunan sianida. Zat-zat tersebut bekerja dengan sianida,
menghasilkan sianmethemoglobin, suatu senyawa non toksik.
Kemampuan pengobatan menggunakansenyawa ini tentu saja
terbatas pada jumlah methemoglobin yang dapat dibentuk dengan
15

aman. Pemberian terapi oksigen hiperbarik mungkin juga


bermanfaat.
b. Oksigenasi kurang sedangkan paru normal
c. Oksigenasi cukup sedangkan paru tidak normal
d. Oksigenasi cukup, paru normal, sedangkan sirkulasi tidak normal.
e. Pasien yang membutuhkan pemberian oksigen konsentrasi tinggi.
f. Pasien dengan tekanan partial karbondioksida ( PaCO2 ) rendah.
Contoh :
-

Pasien dengan kadar O2 arteri rendah dari hasil AGD

Pasien dengan peningkatan kerja napas dimana tubuh terjadi


hipoksemia ditandai dengan PaO2 dan SpO2 menurun. Pasien
yang teridentifikasi hipoksemia contohnya syok dan keracunan
CO
Hipoksemia adalah suatu keadaan dimana terjadi penurunan
konsentrasi oksigen dalam darah arteri (PaO2) atau saturasi O2 arteri
(SaO2) dibawah nilai normal (nilai normal PaO285-100 mmHg),
SaO2 95%. Hipoksemia dibedakan menjadiringan sedang dan berat
berdasarkan nilai PaO2 dan SaO2. hipoksemia ringan dinyatakan
pada keadaan PaO2 60-79 mmHg dan SaO2 90-94%, hipoksemia
sedang PaO2 40-60 mmHg, SaO2 75%-89% dan hipoksemia berat
bila PaO2kurang dari 40 mmHg dan SaO2kurang dari 75%. Umur
juga mempengaruhi nilai PaO2 dimana setiap penambahan umur
satu tahun usia diatas 60 tahun dan PaO 2 80 mmHg maka terjadi
penurunan PaO2 sebesar 1 mmHg. Hipoksemia dapat disebabkan
oleh gangguan ventilasi, perfusi, hipoventilasi, pirau, gangguan
difusi dan berada ditempat yang tinggi8.
Keadaan hipoksemia menyebabkan beberapa perubahan fisiologi
yan gbertujuan untuk mempertahankan supaya oksigenasi ke
jaringan memadai. Bila tekanan oksigen arteriol (PaO2) dibawah 55
mmHg.kendali nafas akan meningkat, sehingga tekanan oksigen
arteriol

(PaO2)

yang

meningkat

dan

sebaliknyatekanan

karbondioksida arteri (PaCO2) menurun.jaringan Vaskuler yang


16

mensuplai darah di jaringan hipoksia mengalami vasodilatasi, juga


terjadi takikardi kompensasi yang akan meningkatkan volume
sekuncup jantung sehingga oksigenasi jaringan dapat diperbaiki.
Hipoksia alveolar menyebabkan kontraksi pembuluh pulmoner
sebagai respon untuk memperbaiki rasio ventilasi perfusi di area
paru terganggu, kemudian akan terjadi peningkatan sekresi
eritropoitin ginjal sehingga mengakibatkan eritrositosis dan terjadi
peningkatan sekresi eritropoitin ginjal sehingga mengakibatkan
eritrositosis danterjadi peningkatan kapasiti transfer oksigen.
Kontraksi pembuluh darah pulmoner, eritrositosis dan peningkatan
volume sekuncup jantung akan menyebabkan hipertensi pulmoner.
Gagal jan tung kanan bahkan dapat menyebabkan kematian9.
-

Pasien dengan peningkatan kerja miokard, dimana jantung


berusaha untuk mengatasi gangguan O2 melalui peningkatan laju
pompa jantung yang adekuat.

Beberapa trauma

Terapi ini diberikan dengan orang yang mempunyai gejala :


-

Sianosis

- Keracunan

Hipovolemi

- Asidosis

Perdarahan

- Selama dan sesudah pembedahan

Anemia berat

- Klien dengan keadaan tidak sadar

Kriteria pemberian terapi oksigen tersebut dapat dilakukan dengan


beberapa cara dibawah ini.
1. Pemberian oksigen secara berkesinambungan (terus menerus),
Diberikan apabila hasil analisis gas darah pada saat istirahat,
didapat nilai:
PaO2 kurang dari 55 mmHg atau saturasi kurang dari 88%.
PaO2 antara 56-59 mmHg atau saturasi 89% disertai kor
pulmonale, polisitemia (hematokrit >56%).
2. Pemberian secara berselang
Diberikan apabila hasil analisis gas darah saat latihan didapat
17

nilai:
Pada saat latihan PaO2 55 mmHg atau saturasi 88%
Pada saat tidur PaO255 mmHg atau saturasi 88% disertai
komplikasi

seperti

hipertensi

pulmoner.somnolen

dan

aritmia.
Pasien dengan keadaan klinik tidak stabil yang mendapat terapi
oksigen perlu dievaluasi gas darah (AGD) serta terapi untuk
menentukan perlu tidaknya terapi oksigen jangka panjang.
F. Kontra indikasi
Tidak ada kontra indikasi absolut :
a. Kanul nasal / Kateter binasal / nasal prong : jika ada obstruksi
nasal.
b. Kateter nasofaringeal / kateter nasal : jika ada fraktur dasar
tengkorak kepala, trauma maksilofasial, dan obstruksi nasal.
c. Sungkup muka dengan kantong rebreathing : pada pasien dengan
PaCO2 tinggi, akan lebih meningkatkan kadar PaCO2 nya lagi.10

G. MACAM-MACAM ALAT TERAPI OKSIGEN


a. Kateter Nasal
Merupakan suatu alat sederhana yang dapat memberikan oksigen secara
kontinyu dengan aliran 1 6 liter/mnt dengan konsentrasi 24% - 44%.
Prosedur pemasangan kateter ini meliputi insersi kateter oksigen ke
dalam hidung sampai naso faring. Persentase oksigen yang mencapai
paru-paru beragam sesuai kedalaman dan frekuensi pernafasan,
terutama jika mukosa nasal membengkak.5
a. Keuntungan Pemberian oksigen stabil, klien bebas bergerak, makan
dan berbicara, dan membersihkan mulut, murah dan nyaman serta
dapat juga dipakai sebagai kateter penghisap. Dapat digunakan
18

dalam jangka waktu yang lama.


b. Kerugian Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen yang lebih
dari 44%, tehnik memasukan kateter nasal lebih sulit dari pada
kanula nasal, nyeri saat kateter melewati nasofaring, dan mukosa
nasal akan mengalami trauma, fiksasi kateter akan memberi tekanan
pada nostril, maka kateter harus diganti tiap 8 jam dan diinsersi
kedalam nostril lain, dapat terjadi distensi lambung, terjadi iritasi
selaput lendir nasofaring, aliran dengan lebih dari 6 liter/mnt dapat
menyebabkan nyeri sinus dan mengeringkan mukosa hidung, serta
kateter mudah tersumbat dan tertekuk.11
b. Kanul Nasal/ Binasa/ Nasal Prong
Merupakan suatu alat sederhana yang dapat memberikan oksigen
kontinyu dengan aliran 1 6 liter/mnt dengan konsentrasi oksigen sama
dengan kateter nasal yaitu 24 % - 44 %. Persentase O2 pasti tergantung
ventilasi per menit pasien. Pada pemberian oksigen dengan nasal kanula
jalan nafas harus paten, dapat digunakan pada pasien dengan pernafasan
mulut.
FiO2 estimation :
Flows FiO2
1 Liter /min : 24 %
2 Liter /min : 28 %
3 Liter /min : 32 %
4 Liter /min : 36 %
5 Liter /min : 40 %
6 Liter /min : 44 %
Formula : ( Flows x 4 ) + 20 % / 21 %
a. Keuntungan
Pemberian oksigen stabil dengan volume tidal dan laju pernafasan
teratur, pemasangannya mudah dibandingkan kateter nasal, murah,
disposibel, klien bebas makan, minum, bergerak, berbicara, lebih
mudah ditolerir klien dan terasa nyaman. Dapat digunakan pada
19

pasien dengan pernafasan mulut, bila pasien bernapas melalui


mulut, menyebabkan udara masuk pada waktu inhalasi dan akan
mempunyai efek venturi pada bagian belakang faring sehingga
menyebabkan oksigen yang diberikan melalui kanula hidung
terhirup melalui hidung.11
b. Kerugian
Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen lebih dari 44%,
suplai oksigen berkurang bila klien bernafas melalui mulut, mudah
lepas karena kedalaman kanul hanya 1/1.5 cm, tidak dapat
diberikan pada pasien dengan obstruksi nasal. Kecepatan aliran
lebih dari 4 liter/menit jarang digunakan, sebab pemberian flow
rate yang lebih dari 4 liter tidak akan menambah FiO2, bahkan
hanya pemborosan oksigen dan menyebabkan mukosa kering dan
mengiritasi selaput lendir. Dapat menyebabkan kerusakan kulit
diatas telinga dan di hidung akibat pemasangan yang terlalu ketat
berkurangnya hipoksia).11
c. Sungkup Muka Sederhana
Digunakan untuk

konsentrasi

oksigen rendah

sampai

sedang.

Merupakan alat pemberian oksigen jangka pendek, kontinyu atau selang


seling. Aliran 5 8 liter/mnt dengan konsentrasi oksigen 40 60%.
Masker ini kontra indikasi pada pasien dengan retensi karbondioksida
karena akan memperburuk retensi. Aliran O2 tidak boleh kurang dari 5
liter/menit

untuk

mendorong

CO2

keluar

dari

masker.

FiO2 estimation :
Flows FiO2
5-6 Liter/min : 40 %
6-7 Liter/min : 50 %
7-8 Liter/min : 60 %
a. Keuntungan
Konsentrasi oksigen yang diberikan lebih tinggi dari kateter atau
20

kanula nasal, sistem humidifikasi dapat ditingkatkan melalui


pemilihan sungkup berlubang besar, dapat digunakan dalam
pemberian terapi aerosol.
b. Kerugian
Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen kurang dari 40%,
dapat

menyebabkan

penumpukan

CO2

jika

aliran

rendah.

Menyekap, tidak memungkinkan untuk makan dan batuk.Bisa terjadi


aspirasi bila pasien mntah. Perlu pengikat wajah, dan apabila terlalu
ketat menekan kulit dapat menyebabkan rasa pobia ruang tertutup,
pita elastik yang dapat disesuaikan tersedia untuk menjamin
keamanan dan kenyamanan.
d. Sungkup Muka dengan Kantong Rebreathing
Rebreathing mask
Suatu teknik pemberian oksigen dengan konsentrasi tinggi yaitu 35
60% dengan aliran 6 15 liter/mnt , serta dapat meningkatkan nilai
PaCO2. Udara ekspirasi sebagian tercampur dengan udara inspirasi,
sesuai dengan aliran O2, kantong akan terisi saat ekspirasi dan hampir
menguncup waktu inspirasi. Sebelum dipasang ke pasien isi O2 ke
dalam kantong dengan cara menutup lubang antara kantong dengan
sungkup minimal 2/3 bagian kantong reservoir. Memasang kapas
kering pada daerah yang tertekan sungkup dan tali pengikat untuk
mencegah

iritasi

kulit.

mnkmnmm

FiO2 estimation :
Flows ( lt/mt ) FiO2 ( % )
6 : 35 %
8 : 40 50 %
10 15 : 60 %
21

a. Keuntungan
Konsentrasi oksigen lebih tinggi dari sungkup muka sederhana, tidak
mengeringkan selaput lendir.
b. Kerugian
Tidak dapat memberikan oksigen konsentrasi rendah, kantong
oksigen bisa terlipat atau terputar atau mengempes, apabila ini
terjadi dan aliran yang rendah dapat menyebabkan pasien akan
menghirup

sejumlah

besar

karbondioksida.

Pasien

tidak

memungkinkan makan minum atau batuk dan menyekap, bisa terjadi


aspirasi bila pasien muntah, serta perlu segel pengikat.
e. Sungkup Muka dengan Kantong Non Rebreathing
Non rebreathing mask
Teknik pemberian oksigen dengan konsentrasi oksigen yang tinggi
mencapai 90 % dengan aliran 6 15 liter/mnt. Pada prinsipnya udara
inspirasi tidak bercampur dengan udara ekspirasi, udara ekspirasi
dikeluarkan langsung ke atmosfer melalui satu atau lebih katup,
sehingga dalam kantong konsentrasi oksigen menjadi tinggi. Sebelum
dipasang ke pasien isi O2 ke dalam kantong dengan cara menutup
lubang antara kantong dengan sungkup minimal 2/3 bagian kantong
reservoir. Memasang kapas kering pada daerah yang tertekan sungkup
dan tali pengikat untuk mencegah iritasi kulit. Kantong tidak akan
pernah kempes dengan total. Perawat harus menjaga agar semua
diafragma

karet

harus

pada

tempatnya

dan

tanpa

tongkat.

FiO2 estimation :
Flows ( lt/mt ) FiO2 ( % )
6 : 55 60
8 : 60 80
10 : 80 90
12 15 : 90
a. Keuntungan :
Konsentrasi oksigen yang diperoleh dapat mencapi 90%, tidak
22

mengeringkan selaput lendir.


b. Kerugian :
Tidak dapat memberikan oksigen konsentrasi rendah. Kantong
oksigen bisa terlipat atau terputar, menyekap, perlu segel pengikat,
dan tidak memungkinkan makan, minum atau batuk, bisa terjadi
aspirasi bila pasien muntah terutama pada pasien tidak sadar dan
anak-anak.
G. Resiko Terapi Oksigen
Salah satu resiko terapi oksigen adalah keracunan oksigen. Hal ini dapat
terjadi bila oksigen diberikan dengan fraksi lebih dari 50% terusmenerus selama 1-2 hari. Kerusakan jaringan paru terjadi akibat
terbentuknya metabolik oksigen yang merangsang sel PMN dan H 2O2
melepaskan enzim proteolotikdan enzim lisosom yang dapat merusak
alveoli. Sedangkan resiko yang lain seperti retensi gas karbondioksida
dan atelektasis.11
Oksigen 100% menimbulkan efek toksik, tidak saja pada hewan, namun
juga pada bakteri, jamur, biakan sel hewam dan tanaman. Apabila O 2
80-100% diberikan kepada manusia selama 8 jam atau lebih, saluran
pernafasan akan teriritasi, menimbulkan distres substernal, kongesti
hidung, nyeri tenggorokan dan batuk. Pemajanan selama 24-48 jam
mengakibatkan kerusakan jaringan paru.
Sejumlah bayi dengan sindroma gawat nafas yang diterapi dengan O2,
selanjutnya mengalami gangguan menahun yang ditandai dengan kista
dan pemadatan jaringan paru (displasia bronkopulmonal). Komplikasi
lain pada bayi-bayi ini adalah retinopti prematuritas (fibroplkasia
retrolental), yaitu pembentukan jaringan vaskuler opak pada matayang
dapat mengakibatkan kelainan penglihatan berat. Pemberian O2 100%
pada tekanan yang lebih tinggi berakibat tidak hanya iritasi
trakeobronkial, tetapi juga kedutan otot, bunyi berdering dalam telinga,
rasa pening, kejang dan koma. Pajanan terhadap O2 tekanan tinggi
(oksigenasi hiperbarik) dapat menghasilkan peningkatan jumlah O2
23

terlarut dalam darah. Oksigen bukan zat pembakar tetapi dapat


memudahkan terjadinya kebakaran, oleh karena itu klein dengan terapi
pemberian oksigen harus menghindari : Merokok, membuka alat listrik
dalam area sumber oksigen, menghindari penggunaan listrik tanpa
Ground. 14

KESIMPULAN
Terapi oksigen adalah memasukkan oksigen tambahan dari luar ke paru melalui
saluran pernafasan dengan menggunakan alat sesuai kebutuhan. Tujuan terapi oksigen ini
adalah untuk meningkatkan konsentrasi O2 pada darah arteri sehingga masuk ke jaringan
untuk memfasilitasi metabolisme aerob, mempertahankan PaO2 > 60 mmHg atau SaO2 >
90 %. Indikasi terapi oksigen ini adalah untuk pasien hipoksia, oksigenasi kurang
sedangkan paru normal, oksigenasi cukup sedangkan paru tidak normal, oksigenasi
cukup, paru normal, sedangkan sirkulasi tidak normal, pasien yang membutuhkan
pemberian oksigen konsentrasi tinggi, pasien dengan tekanan partial karbondioksida
( PaCO2 ) rendah. Kontra indikasi pemakaian terapi oksigen ini adalah pemakaian kanul
nasal/kateter binasal/nasal prong : jika ada obstruksi nasal, pemakaian kateter
nasofaringeal / kateter nasal : jika ada fraktur dasar tengkorak kepala, trauma
maksilofasial, dan obstruksi nasal,

pemakaian sungkup muka dengan kantong

rebreathing : pada pasien dengan PaCO2 tinggi, akan lebih meningkatkan kadar PaCO2
nya lagi. Komplikasi pemakaian terapi oksigen yang terlalu lama dapat mengakibatkan
keracunan oksigen, kerusakan jaringan paru terjadi akibat terbentuknya metabolik
oksigen yang merangsang sel PMN dan H2O2 melepaskan enzim proteolotikdan enzim
lisosom yang dapat merusak alveoli16. Sedangkan resiko yang lain seperti retensi gas
karbondioksida dan atelektasis. Apabila O2 80-100% diberikan kepada manusia selama 8
jam atau lebih, saluran pernafasan akan teriritasi, menimbulkan distres substernal,
kongesti hidung, nyeri tenggorokan dan batuk. Pemajanan selama 24-48 jam
mengakibatkan kerusakan jaringan paru. Pemberian O2 100% pada tekanan yang lebih
tinggi berakibat tidak hanya iritasi trakeobronkial, tetapi juga kedutan otot, bunyi
berdering dalam telinga, rasa pening, kejang dan koma.16
24

DAFTAR PUSTAKA
1. Anonymous. Meditasi Dzikir. Stress and Health Solution. Web .12 Desember
2005. www.MedDzik.org
2. Astowo. Pudjo. Terapi oksigen: Ilmu Penyakit Paru. Bagian Pulmonologi dan
Kedokteran Respirasi. Jakarta: FKUI, 2005
3. Blogspot. 2009. The Human Respiratory System. Blog Spot.Com available at
http://anatomi-tubuh-manusiadanhewan.blogspot.com/2009/05/sistempernapasan-pada-manusia.html. Accesswd July 2013
4. Ikawati, Z. Anatomi Dan Fisiologi Sistem Pernapasan. PDF. Rohsiswatmo, R.
2010. Terapi Oksigen Pada Neonatus. Jakarta: Divisi Perinatologi Ilmu
Kesehatan Anak FKUI - RSCMk FKUI RSCM, 2009
5. Akhmad, I. Terapi Oksigen Dalam Asuhan Keperawatan. Program Studi Ilmu
Keperawatan FK USU Medan : FK USU, 2004
6. Rogayah, R. The Principle Of Oxigen Therapy. Jakarta: Departemen
Pulmonologi Dan Respiratori FK UI, 2009
7. Brunner & Suddarth. Buku Ajar Medikal Bedah. Edisi bahasa Indonesia, vol.
8. Jakarta: EGC, 2001
8. Potter & Perry. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses, dan
Praktik. Volume 2. Edisi 4. Jakarta: EGC, 2002
9. Nursing

Begin.

2011.

Terapi

Oksigen.

Available

at

http://nursingbegin.com/terapi-oksigen/ . Accessed July 2013


10. Anonymous. Meditasi Dzikir. Stress and Health Solution. Available at
www.MedDzik.org. Accesed July 2013.

11. Astowo. Pudjo. Terapi oksigen: Ilmu Penyakit Paru. Bagian Pulmonologi dan
25

Kedokteran Respirasi. Jakarta : FKUI, 2005


12. Ganong, F. William. Fisiologi Kedokteran Edisi 20. Jakarta: EGC, 2003
13. Latief, A. Said. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Bagian Anestesiologi dan
Terapi Intesif. Jakarta : FKUI, 2002
14. Anonymous. 2004. Hiperbari Terapi Oksigen Murni Tekanan Tinggi.

Available at (www.pikiranrakyat.com). Accesed July 2013


15. Anonymous. Sehat dan Bugar dengan Terapi Oksigen. Available at
( www.fajar.co.id). Accesed July 2013
16. Widiastuti, N. Anatomi Dan Fisiologi Sistem Respirasi. Program Studi Ilmu
Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Wiramedika PPNI. Bali: EGC,
2010

26