Anda di halaman 1dari 37

Pemicu 2 : Toksoplasmosis Kongenital Seorang Bayi laki-laki berusia 8 bulan, berat badan 6 kg dan panjang badan 68 cm dibawa berobat

dengan keluhan belum bisa tengkurap. Dari anamnesis diketahui bahwa berat lahir 3 kg dengan panjang lahir 50 cm. Saat ini bayi di beri ASI dan susu formula, sedangkan makanan tambahan belum diberikan. Bicara hanya cooing (mengeluarkan suara aaa..., ooo..., uuu.... pada pemeriksaan ditemukan mikrosefali, headlag, hepatomegali,

limfadenopati, dan khorioretinitis. Pada pemeriksaan CT scan kepala ditemukan kalsifikasi intraserebal. Pada pasien kemudian dilakukan pemeriksaan antibodi terhadap toksoplasma dan didapatkan hasil IgM (+), IgG (+). DK1P2 A. Klarifikasi dan Definisi Anamnesis : Pemeriksaan dengan wawancara Hepatomegali : Perbesaran hati lebih dari ukuran normal Mikrosefali : Lingkar kepala lebih dari tiga standar deviasi Limfadenopati : Pembesaran kelenjar limpa Toxoplasma : Penyakit yang disebabkan oleh parasit toxoplasma gondii Kalsifikasi : Mengerasnya jaringan organ akibat garam-garam kalsium Koreoretinitis : Peradangan pada retina dan khoroid Headlag : Kondisi dimana pada saat menarik bayi dari posisi telentang ke posisi duduk, kepala bayi tertinggal di belakang batang kepalanya atau seperti melipat kebelakang. IgM : Suatu bentuk antibodi tubuh yang timbul setelah perkembangan penyakit dihambat, yang bertugas untuk menangkap sisa bibit penyakit yang tertinggal. IgG : Suatu bentuk antibodi penghalang yang dihasilkan tubuh yang bertugas menangkap semua bibit penyakit untuk menghambat penyebarannya.

B. Keyword : a. Bayi laki-laki 8 bulan b. Berat Badan : 6 kg, Panjang badan : 68 cm c. Belum bisa tengkurap d. Berat badan lahir : 3 kg, Panjang badan lahir : 50 cm e. Mikrosefali
1

f. Hepatomegali g. Limfadenopati h. Khoreoretinitis i. Kalsifikasi Intraserebral j. Hanya bicara coiing k. Pemeriksaan antibodi toksoplasma IgM (+) dan IgG (+)

C. Rumusan Masalah : Gangguan tumbuh dan kembang bayi 8 bulan.

D. Analisis Masalah : Bayi laki-laki 8 bulan

Berat Lahir : 3 kg

Perlakuan : -Diberi ASI -Susu Formula tanpa makanan tambahan

Kondisi sekarang : BB: 8 Kg PB : 68 cm

Keluhan : -tidak bisa tengkurap -bicara hanya coing

Pemeriksaan umum : -Limfadenopati - Mikrosefali -Khoreoretinitis -Hepatomegali - Headlag Penatalaksanaan Pemeriksaan Antibodi : -IgG (+) -IgM (+)

E. Hipotesis Gangguan tumbuh kembang yang terjadi pada bayi 8 tersebut disebabkan oleh toksoplasmosis kongenital.

F. Learning Issues

1. Definisi Pertumbuhan dan Perkembangan 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan 3. Pertumbuhan dan Perkembangan normal pada bayi 4. Toksoplasmosis Kongenital a. Definisi b. Epidemiologi c. Etiologi d. Patogenesis e. Faktor Resiko f. Gejala Klinis g. Pemeriksaan Fisik dan Penunjang h. Penatalaksanaan i. Prognosis j. Komplikasi k. Pencegahan 5. Pertumbuhan dan Perkembangan Neurologis Bayi 6. Studi Kasus a. Hasil Pemeriksaan Mikrosefali Headleag Hepatomegali Limfadenopati Khorioretinitis

b. CT Scan Kalsifikasi Intracerebral

c. Pemeriksaan Antibodi - IgM dan IgG

DK2P2 PEMBAHASAN 1. Definisi pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan ialah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interseluler, berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh dalam arti sebagian atau keseluruhan. Jadi bersifat kuntitatif sehingga dengan demikian dapat kita ukur dengan menggunakan satuan panjang atau satuan berat.1 Perkembangan ialah bertambahnya kemampuan struktur dan fungsi tubuh yang telah kompleks, jadi bersifat kualitatif yang pengukurannya jauh lebih sulit daripada pengukuran pertumbuhan.Dengan demikian, seorang anak bukanlah dewasa kecil, oleh karena anak mempunyai ciri khas berbeda dengan orang dewasa baik antomi, fisiologi maupun biokimia.1

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan Pada umumnya anak memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan yang normal,dan ini merupakan hasil interaksi banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Banyak sekali faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Tumbuh kembang dipengaruhi oleh dua faktor pokok yaitu keturunan (genetik) dan lingkungan (biopsikososial).1 Pengaruh Genetik Pengaruh genetik ini bersifat ini bersifat heredo-kontitusional yang berarti bahwa bentuk untuk konstitusi seseorang ditentukan oleh faktor keturunan. Secar mudah dikatakan bahwa seorang anak akan besar dan tinggi bila ayah dan ibunyaa juga besar dan tinggi. Faktor herediter akan berpengaruh pada cepat pertumbuhan, kematangan penulangan, gizi, alat seksual dan saraf. Pengaruh Saraf Telah diketahui bahwa di otak terdapat pusat pertumbuhan (growth centre) yang diperkirakan terletak di hipotalamus yang berfungsi sebagai pengatur dan pengendali pertumbuhan yang sesuai dengan kurva pertumbuhan berdasar faktor genetik. Pusat pertumbuhan di hipotalamus itu berhubungan dengan lobus anterior kelenjar pituitari
4

yang dapat mengeluarkan hormon untuk ikut berperan melakukan pengawasan terhadap tumbuh kembang. Pengaruh Hormon Pengaruh hormon sudah mulai di intrauterin sejak janin berumur 4 bulan, yairu saat percepatan pertumbuhan panjang janin mencapai maksimum dan saat ini kelenjar pituitari dan tiroid mulai bekerja. Lobus anterior kelenjar pituitari mengeluarkan hormon pertumbuhan somatropin dan hormon tirotropik. Hormon tirotropik merupakan hormon yang menstimulasi kelenjar tiroid untuk bersekresi. Kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroksin yang keduanya menstimulasi metabolisme dan maturasi tulang, gigi, dan otak. Bila terjadi defisiensi hormon tiroid pada masa anak, maka pertumbuhan seluruh tubuh terganggu dan anak mengalami kelambatan mental dan bertubuh pendek (kretin). Pengaruh gizi Kecukupan pangan yang essensial baik kualitas maupun kuantitas sangat penting untuk pertumbuhan normal. Pada malnutrisi protein kalori yang berat (kwarshiorkor atau marasmus kwarshiorkor) terjadi kelambatan pertumbuhan tulang dan maturasi, kelambatan penyatuan epifisis sekitar 1 tahun dibandingkan dengan anak gizi cukup, dan proses pubertas juga terlambat. Banyak zat atau unsur yang penting untuk pertumbuhan, antara lain ialah yodium, kalsium, fosfor, magnesium, besi, fluor, dan bermacam-macam vitamin A, B12, C, dan D yang dapat mempengaruhi pertumbuhan anak. Pengaruh sosio-ekonomi Dimana kemampuan ekonomi juga berpengaruh kepada jenis makanan dan kesterilan makanan yang di makan pada saat anak bertumbuh dan berkembang. Pengaruh musim dan iklim Di negara-negara yang punya 4 musim per tahun, dapat diamati bahwa pertumbuhan lebih tinggi pada musim semi daripada musim gugur. Pengaruh latihan Dengan mengadakan latihan dan olahraga seseorang mempunyai kesempatan tumbuh lebuh baik, karena otot-ototnya bertambah besar. Demikian pula pada masa kanakkanak dan remaja diperlukan aktivitas gerakan-gerakan tubuh supaya

pertumbuhannya berjalan baik. Pengaruh penyakit


5

Dalam hal penyakit, ternyata wanita mempunyai ketahanan terhadap pertumbuhan dibandingkan dengan pria. Pada percobaan binatang, dapat dibuktikan bahwa binatang betina yang mengalami operasi akan lebih cepat mengalami maturasi dan tidak terjadi keterlambatan pertumbuhan. Pengaruh emosi Faktor emosi dapat berpengaruh pada pertumbuhan, misalnya karena tekanan batin atau stress. 1

3. Pertumbuhan dan Perkembangan Normal Bayi

A. Prinsip-prinsip Pertumbuhan dan Perkembangan Prinsip ini dapat menentukan ciri atau pola pertumbuhan dan perkembangan setiap anak. Prinsip pertumbuhan dan perkembangan diantaranya adalah : a. Proses pertumbuhan dan perkembangan sangat bergantung kepada aspek kematan susunan saraf b. Pertumbuhan dan perkembangan memiliki pola khas yang dapat terjadi mulai dari kepala hingga keseluruh tubuh atau juga dari kemapmpuan yang sederhana hingga mencapai kemampuan yang lebih kompleks hingga mencapai kesempurnaan tumbuh kembang.2

B. Ciri-ciri Tumbuh Kembang a. Tumbuh Terjadi perunahan ukuran dalam hal fisik Terdapat perubahan proporsi Ciri-ciri baru akan muncul dan yang lama akan menghilang.

b. Kembang Selalu melibatkan proses tumbuh yang diikuti perubahan fungsi Perkembangan memiliki pola yang konstan dengan hokum tetap Perkembangan memiliki urutan.2

C. Aspek-aspek Perkembangan yang Dipantau dalam Tumbuh Kembang anak. a. Gerak kasar atau motorik kasar adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak melakukan pergerakan dan sikap tubuh yang melibatkan otototot besar seperti duduk, berdiri, dan sebagainya. b. Gerak halus atau motorik halus adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan dilakukan oleh otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat seperti mengamati sesuatu, menjimpit, menulis, dan sebagainya. c. Kemampuan bicara dan bahasa adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara, berbicara, berkomunikasi, mengikuti perintah dan sebagainya. d. Sosialisasi dan kemandirian adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri anak (makan sendiri, membereskan mainan selesai bermain), berpisah dengan ibu/pengasuh anak, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya, dan sebagainya.3 D. Pertumbuhan dan Perkembangan Bayi a. Pertumbuhan Pertumbuhan pada bayi dapat dilihat dari pertumbuhan berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, organ penglihatan, organ pendengaran.

1. Berat Badan Pada masa pertumbuhan, berat badan bayi dibagi menjadi 2 fase, yaitu pada usia 0-6 bulan dan usia 6-12 bulan. Untuk usia 0-6 bulan pertumbuhan berat badan akan me-ngalami penambahan setiap minggu sekitar 140-200 gram dan berat badan akan menjadi 2 kali lipat lebih berat daripada berat badan lahir pada akhir bulan ke 6. Sedangkan pada usia 6-12 bulan terjadi penambahan setiap minggu sekitar 25-40 gram dan pada akhir bulan ke-12 akan terjadi pertambahan 3 kali lipat dari berat badan lahir.

2. Tinggi Badan
7

Pada usia 0-6 bulan bayi akan mengalami penambahan tinggi badan sekitar 2,5 cm setiap bulannya. Pada usia 6-12 bulan mengalami penambahan tinggi badan hanya sekitar 1,25 cm setiap bulannya. Pada akhir tahun pertama akan meningkat kira-kira 50% dari tinggi badan waktu lahir.

3. Lingkar Kepala Pertumbuhan lingkar kepala ini terjadi dengan sangat cepat sekitar enam bulan pertama, yaitu dari 35-43 cm. Pada usia-usia selanjutnya pertumbuhan lingkar kepala mengalami perlambatan. Pada usia 1 tahun hanya mengalami pertumbuhan kurang lebih 46,5 cm.

4. Organ Penglihatan Perkembangan organ penglihatan dapat dimulai pada saat ahir. Sudah terjadi perkembangan ketajaman penglihatan antara 20/100, asanya refleks pupil dan kornea, memiliki kemampuan fiksasi pada objek yang bergerak sejauh 20-25 cm. pada usia 1 bulan bayi memiliki perkembangan diantarnya adanya kemampuan melihat untuk mengikuti gerakan dalam rentang 90, dapat melihat orang secara terus menerus, dan kelenjar air mata sudah mulai berfungsi. Pada usia 2-3 bulan memiliki penglihatan perifer hingga 180. Pada usia 4-5 bulan kemampuan bayi untuk memfiksasi sudah mulai pada hambatan1,25 cm, dapat mengenali botol susu, melihat tangan saat duduk maupun berbaring, melihat bayangan di cermin, dan mampu mengakomodasi objek. Usia 5-7 bulan dapat menyesuaikan postur untuk melihat objek, mampu mengembangkan warna kesukaan kuning da merah, menyukai rangsangan visual kompleks, serta mengembangkan koordinasi mata dan tangan. Pada usia 7-11 bulan mampu memfiksasi objek yang sangat kecil. Pada usia 11-12 bulan ketajaman penglihatan mendekati 20/20 dan dapat mngikuti objek yang bergerak.

5. Organ Pendengaran Perkembangan pada pendengaran dapat dimulai dari sejak lahir. Setelah lahir bayi sudah dapat berespons dengan bunyi keras dengan refleks. Pada usia 2-3 bulan mampu memalingkan kepala ke samping bila bunyi dibuat setinggi telinga. Pada usia 3-4 bulan anak banyak memiliki kemampuan melokalisasi bunyi makin kuat dan mampu membuat bunyi tiruan. Pada usia 6-8 bulan
8

mampu merespons jika dipanggil namanya sendiri. Pada usia 10-12 bulan mampu mengenal kata beserta artinya.2

b. Perkembangan Bayi Perkembangan pada bayi mencakup perkembangan motorik halus, perkembangan motorik kasar, perkembangan bahasa, dan perkembangan perilaku / adaptasi sosial.

1. Motorik Halus Masa Neonatus (0-28 hari) Perkembangan motorik halus pada masa ini dimulai dengan adanya kemampuan untuk mengikuti garis tengah bila kita memberikan respons terhadap gerakan jari atau tangan.

Usia 1-4 bulan Perkembangan motorik halus pada usia ini adalah dapat melakukan hal-hal seperti memegang suatu objek, mengikuti objek dari sisi ke sisi, mencoba memegang dan memasukkan benda ke dalam mulut, memegang benda tapi terlepas, memerhatikan tangan dan kaki, memegang benda dengan kedua tangan, serta menahan benda di tangan walaupun hanya sebentar.

Usia 4-8 bulan Perkembangan motorik halus pada usia ini adalah sudah mulai mengamati benda, menggunakan ibu jari dan jari telunjuk untuk memegang,

mengeksplorasi benda yang sedang dipegang, mengambil objek dengan tangan tertungkup, mampu menahan kedua benda di kedua tangan secara simultan, menggunakan bahu dan tangan sebagai satu kesatuan, serta memindahkan objek dari satu tangan ke tangan yang lain.

Usia 8-12 bulan Perkembangan pada usia ini adalah mencari atau meraih benda kecil; bila diberi kubus mampu memindahkan, mengambil memegang dengan telunjuk dan ibu jari, membenturkannya, serta meletakkan benda atau kubus ke tempatnya.2

2. Perkembangan Motorik Kasar


9

Masa Neonatus (0-28 hari) Perkembangan motorik kasaryang dapat dicapai pada usia ini diawali dengan tanda gerakan seimbang pada tubuh dan mulai mengangkat kepala.

Usia 1-4 bulan Perkembangan dimulai dengan kemampuan mengangkat kepala saat tengkurap, mencoba duduk sebentar dengan ditopang, mampu duduk dengan kepala tegak, jatuh terduduk dipangkuan ketika dibantu pada posisi berdiri, kontrol kepala sempurna, mengangkat kepala sambil berbaring telentang, berguling dari telentang ke miring, posisi lengan dan tungkai kurang fleksi, dan berusaha untuk merangkak.

Usia 4-8 bulan Perkembangan motorik kasar pada bulan ini dapat dilihat pada perubahan dalam aktivitas, pada bulan ini sudah mampu untuk memalingkan kepala, duduk dengan tegak, membalikkan badan, bangkit dengan kepala tegak, berguling dari telentang dan tengkurap, serta duduk dengan bantuan dalam waktu yang singkat.

Usia 8-12 bulan Perkembangan diawali dengan duduk tanpa pegangan, berdiri dengan pegangan, bangkit lalu berdiri, berdiri 2 detik dan akhirnya berdiri sendiri.2

3. Perkembangan Bahasa Masa Neonatus (0-28 hari) Perkembangan bahasa dalam masa ini ditunjukkan dengan adanya kemampuan bersuara (menangis) dan berekasi terhadap suara berisik.

Usia 1-4 bulan Perkembangan ditandai dengan kemampuan bersuara dan tersenyum, mengucapkan huruf hidup, berceloteh, mengucap kata ooh/aah, tertawa dan berteriak, mengoceh spontan, serta bereaksi dengan mengceh.

Usia 4-8 bulan


10

Perkembangan bahasa pada usia ini adalah dapat menirukan bunyi atau katakata, menoleh ke arah suara atau sumber bunyi, tertawa, menjerit, menggunakan vokalisasi semakin banyak, serta menggunakan kata yang terdiri atas dua suku kata dan dapat membuat dua bunyi vokal yang bersamaan seperti ba-ba.

Usia 8-12 bulan Perkembangan pada usia ini sudah mampu mengucapkan kata papa dan mama yang belum spesifik, mengoceh hingga mengatakan secara spesifik, serta dapat mengucapkan 1-2 kata.2

4. Perkembanghan perilaku/adaptasi sosial Masa Neonatus (0-28 hari) Perkembangan adaptasi sosial atau prilaku masa neonatus ini dapat ditunjukkan dengan adanya tanda-tanda tersenyum dan mulai menatap muka untuk mengenali seseorang.

Usia 1-4 bulan Perkembangan pada usia ini diawali dengan kemampuan mengamati tangannya, tersenyum spontan dan membalas senyum bila diajak senyum, mengenal ibunya dengan penglihatan, penciuman, pendengaran, dan kontak, tersenyum pada wajah manusia, waktu tidur dalam sehari sedikit daripada waktu terjaga, membentuk siklus tidur bangun, menangis bila terjadi sesuatu yang aneh, mengenal dan tidak dikenal, senang menatap wajah-wajah yang dikenalnya, serta terdiam bila ada orang yang tak dikenal (asing).

Usia 4-8 bulan Perkembangan adaptasi sosial pada usia ini antara lain anak merasa takut dan terganggu dengan keberadaan orang asing, mulai bermain dengan mainan, mudah frustasi, serta memukul-mukul lengan dan kaki jika sedang kesal.

Usia 8-12 bulan Perkembangan terjadi dimulai dengan kemampuan bertepuk tangan,

menyatakan keinginan, sudah mulai minum dengan cangkir, menirukan kegiatan orang, bermain bola atau lainnya dengan orang lain.2
11

4. Toksoplasmosis Kongenital

A. Definisi Toxoplasmosis merupakan penyakit zoonosis yaitu penyakit pada hewan yang dapat ditularkan ke manusia. Penyakit ini disebabkan oleh protozoa yang dikenal dengan nama Toxoplasma gondii, yaitu suatu parasit intraseluler yang banyak terinfeksi pada manusia dan hewan peliharaan. Toxoplasmosis merupakan salah satu dari kelompok penyakit Infeksi TORCH , singkatan dari infeksi oleh parasit Toxoplasma gondhii, Other ( virus lain yang dampak klinisnya lebih terbatas, misalnya: Measles, Varicella, Echovirus, Mumps, Vaccinia, Polio, Coxsackie-B, Hepatitis B dan C, HIV, Human Parvovirus B-19, terkadang Syphillis, Strepto Gr-B, Listeriosis ), virus Rubella, virus CMV ( Cytomegalo Virus ) dan virus Herpes simplex ( HSV1-HSV2 ).4

Toksoplasmosis kongenital adalah infeksi pada bayi baru lahir yang berasal dari penularan lewat plasenta pada ibu yang terinfeksi. Bayi tersebut biasanya asimtomatik, namun manifestasi lanjutnya bervariasi baik gejala maupun tanda-tandanya seperti khorioretinitis, strabismus, epilepsi, dan retardasi psikomotor.5

B. Epidemiologi Survey serologi memperlihatkan bahnwa prevalensi infeksi toksoplasma berbeda berdasarkan umur, geografi dan kebiasaan makan. 1) Di inggris: 10% penduduk mempunyai antibodi toksoplasma 20% pada umur 20 tahun 70% pada umur 70 thun 2) Angka yang sama juga ditemukan di amerika serikat dan lebih lagi di perancis 80% pada usia 20 tahun, orang prancis suka makan daging mentah atau tidak sempurna memasaknya. 3) Di Indonesia uji serologi positif dari tiga survey berbeda 2-51% Ada asosiasi antara prevalensi toksoplasmosis pada manusia dengan keberadaan kucing. Antibodi toksoplasmosis jauh lebih tinggi frekuensinya di kepulauan pasifik yang berpenghuni dengan yang tidak. Fenomena yang sama juga ditemukan di irian jaya.6
12

C. Etiologi

Toxoplasmosis disebabkan oleh parasit obligat intraseluler yaitu toxoplasma gondii. Parasit ini merupakan golongan protozoa yang hidup bebas di alam, dimana pertama kali di temukan pada limpa. Toxoplasma ini biasanya bebentuk bulat dan oval. Penyakit ini bisa menular ke manusia akibat termakan parasit obligat intraselular (T.gondii). misalnya makan daging mentah atau daging yang belum matang.T.gondii bisa berkembang biak di semua mamalia seperti ternak atau hewan peliharaan. Hospes definitive toxoplasma gondii adalah kucing dan binatang sejenisnya. Hospes perantara adalah manusia, mamalia dan burung. Parasit inilah yang menyebabkan toxoplasmolisis congenital. D. Patogenesis

Jika kista jaringan yang mengandung bradizoit atau ookista yang mengandung sporozoit tertelan oleh pejamu, maka parasit akan terbebas dari kista oleh proses pencernaan. Setelah itu, bradizoit atau takizoit tersebut akan masuk menginvasi ke dalam usus. Kemudian parasit tersebut di fagositosis oleh makrofag dan menyebabkan sel pecah. Setelah sel tersebut pecah, ada sebagian parasit yang mati dan ada pula sebagian parasit yang menginvasi ke sel lain. Parasit melakukan penyebaran secara hematogen dan secara limfogen. Kemudian parasit tersebut melakukan invasi ke jaringan dan membentuk kista jaringan.5

E. Faktor Resiko

Resiko Transmisi ke Janin Resiko infeksi janin pada kehamilan yang tidak yang tidak di terapi berhubungan langsung dengan usia kehamilan saat infeksi maternal. Beberapa studi di prancis sebelum terapi antitoksoplasma diberikan pada wanita hamil yang terinfeksi memperlihatkan transmisi vertical meningkat dari 25%, 54%, 65% setelah infeksi pda trisemster I,II,III. Ini menunjukkan resiko terinfeksi fetus meningkat selama kehamilan dan keseluruhan resikonya adalah 40-50% tanpa pengobatan.

13

Resiko Kerusakan pada Janin Derajat berat ringan dari infeksi konginital tergantung usia janin saat di infeksi maternal, makin dini makin berat. Bila infeksi maternal terjadi sebelum usia kehamilan 20 minggu, diperkirakan 25% janin akan mendapatkan infeksi berat (terkadang abortus spontan atau Intra Fetal Death), 15% infeksi ringan dan 60% infeksi subklinis. Resiko tertinggi melahirkan anak dengan infeksi konginital bila infeksi terjadi di antara minggu ke 10-minggu ke 24. Bila infeksi maternal terjadi pada akhir kehamilan, biasanya menghasilkan bayi asymptomatic dengan infeksi latent (90%) atau gangguan ringan (10%).6 F. Manifestasi Klinis Secara umum manifestasi klinis dari toxoplasmosis dibagi menjadi 2; manifestasi sistemik dan neurologik. Yang digolongkan ke dalam manifestasi sistemik meliputi demam, hepatosplenomegali, anemia, serta pneumonitis yang terjadi karena adanya parasitemia. Sedangkan kelainan-kelainan seperti korioretinitis, hidrosefalus, serta serangan kejang tergolong manifestasi neurologik, yang terjadi karena adanya invasi parasit melewati barier otak, maupun deposit dari kista parasit di jaringan otak. Trias klasik dari toxoplasmosis kongenital, yaitu korioretinitis, hidrosefalus, dan kalsifikasi intrakranial, hanya ditemukan dalam proporsi yang sedikit pada kasus-kasus simptomatik. Demam, hepatosplenomegali, anemia, dan ikterik merupakan tanda-tanda yang lebih sering muncul. Bercak-bercak merah, trombositopenia, eosinofilia, dan pneumonitis kadang dapat ditemukan. Cairan spinal sering mengalami abnormalitas. Keterlibatan sistem neurologis dan okular seringkali timbul kemudian apabila tidak ditemukan pada saat kelahiran. Kejang, retardasi mental, dan kekakuan adalah sekuele yang sering ditemukan.6

G. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Penunjang a. Serologi Tes serologi dapat menunjang diagnosis toksoplasmosis. Tes yang dapat dipakai adalah tes warna Sabin Feldman (Sabin Feldman Dye Test) dan tes hemaglutinasi tidak langsung (IHA), untuk deteksi antibodi IgG, tes zat anti fluorosen tidak langsung (IFA), dan tes ELISA untuk deteksi antibodi IgG dan IgM.
14

Tes Sabin Feldman terutama mengukur antibodi IgG. Tes ini didasarkan oleh rupturnya T.gondii yang hidup dengan antibodi spesifik dan komplemen di dalam serum yang diperiksa. Pemeriksaan ini masih merupakan rujukan pemeriksaan serologi. Hasil serologi menjadi positif dalam 2 minggu setelah infeksi, dan menurun setelah 1-2 tahun. Tes Indirect Flouroscence Antibody IgG (IgG-IFA) mengukur antibodi IgG. Antibodi biasanya tampak 1-2 minggu setelah infeksi, mencapai titer tinggi (> 1:1000) sesudah 6-8 minggu dan kemudian menurun dalam waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Tes Indirect Flouroscence Antibody IgM (IgM-IFA) berguna untuk mendiagnosis infeksi T.gondii akut pada anak yang lebih tua karena antibodi IgM tampak lebih awal (sering pada 5 hari sesudah infeksi) dan menghilang lebih cepat daripada antibodi IgG. Uji IgM-IFA mendeteksi IgM spesifik toxoplasma kurang lebih hanya pada 25% bayi yang terinfeksi secara kongenital pada saat lahir. Tes Double Sandwich Enzyme-linked immunosorbent assay (DS-ELISA-IgM) lebih sensitif dan spesifik daripada uji IgM-IFA untuk deteksi antibodi IgM toksoplasma. ELISAIgM mendeteksi sekitar 75 % bayi dengan infeksi kongenital Uji warna Sabin-Feldman bergantung pada munculnya antibody dalam 2-3 minggu yang akan menyebabkan membrane T gondii yang hidup dan dibiakkan laboratorium menjadi tidak permeable terhadap biru metilen basa, sehingga organism tidak dapt diwarnai jika terdapat serum positif. Oji tersebut telah digantikan oleh uji IFA dan ELISA. Uji tersebut tidak menyebabkan para ahli teknologi terpajan terhadap organism hidup yang berbahaya seperti yang diperlukan pada uji pewarnaan. Uji CF dapat positif (titer 1:8) paling cepat 1 bulan setelah infeksi, tetapi tes ini tidak bermanfaat pada banyak infeksi kronik. IFA aglutinasi langsung, dan uji kulit toksoplasmin secara rutin digunakan untuk tujuan diagnostic. Uji intrakutan frenkel berguna untuk surfey epidemiologi.5 b. Polymerase Chain Reaction (PCR) Penggunaan PCR dalam mendeteksi toksoplasma gondii dapat membuat diagnosis dini yang cepat dan tepat untuk toksoplasmosis kongenital prenatal dan postnatal dan infeksi toksoplasmosis akut pada wanita hamil dan penderita imunokompromais. Spesimen tubuh yang digunakan adalah cairan tubuh termasuk cairan serebrospinal, cairan amnion, dan darah.5

15

c. CT Scan Pada pemeriksaan CT Scan akan menunjukan gambaran menyerupai multiple ring atau lesi tunggal. Lesi tersebut terutama berada pada ganglia basal dan corticomedullary junction.5 H. Penatalaksanaan 1. Terapi maternal pada ibu yang terinfeksi: spiramycine 3 gram/hari.

2. Terapi bila fetus terinfeksi: terapi maternal diganti dengan kemoterapi anti-Toxoplasma kombinasi, regimen yang digunakan: pyrimethamine 50 mg/hari & sulfadiazine 3 gram/hari setelah usia kehamilan 24 minggu. 3. Preparat asam folat juga dapat diberikan untuk mencegah timbulnya efek samping akibat pemberian pyrimethamine. 4. Terapi bagi BBL, kemoretapi anti-Toxoplasma kombinasi: pyrimethamine 1mg/kgBB per hari selama 2 bulan dilanjutkan dengan 1 mg/kgBB tiap 2 hari selama 10 bulan, sulfadiazine 50 mg/kgBB per hari, serta asam folat 5-10 mg 3 kali seminggu untuk mencegah efek samping dari pyrimethamine. I. Prognosis Terapi maternal untuk wanita yang memperoleh infeksi toxoplasma selama kehamilan mengurangi peluang terjadinya transmisi kongenital hingga 70%. Bayi yang terinfeksi toxoplasma sejak lahir apabila tidak dirawat akan memiliki prognosa yang buruk. J. Komplikasi Pada beberapa kasus yang tidak mendapatkan perawatan, didapatkan perkembangan menjadi korioretinitis, kalsifikasi serebral, serangan kejang, dan retardasi psikomotor. K. Pencegahan Pencegahaan terhadap infeksi ini bertujuan untuk mencegah penularan ibu ke anak: Menjaga Kebersihan Mencuci tangan setelah memegang daging mentah Menghindari feces kucing Ibu hamil trimester pertama sebaiknya diperiksa secara berkala
16

Pengobatan pada ibu yang terinfeksi. Memasak daging minimal 66C atau dibekukan pada suhu -20C. Menjaga makanan agar tidak terkontaminasi binatang rumah atau serangga. Disarankan untuk menjauhi makanan-makanan yang memungkinkan kontaminasi dengan kista, ookista, maupun troposit Toxoplasma, misalnya sayur-sayuran segar yang kurang bersih dicuci, masuknya debu yang mengandung kista atau ookista di jalan-jalan kedalam makanan, masakan daging belum masak benar, dan sebagainya.

Jangan terlalu banyak memelihara binatang terutama kucing dan lakukan vaksinasi teratur. Wanita hamil jangan berdekatan dengan kucing. Mencuci dengan baik semua makanan yang tidak dimasak. Memakai sarung tangan jika berkebun. Mencegah kontaminasi lalat dan lipas pada makanan. Karena binatang reservoir banyak tersebar diseluruh Indonesia, maka perlu diadakan penelitian prevalensi penyebarannya.4

5. Pertumbuhan dan Perkembangan Neurologis Bayi

Perkembangan otak manusia telah dimulai sejak minggu ketiga kehamilan, dan berkembang sebesar 50% hingga kelahirannya. Berat otak pada bayi yang baru lahir adalah 400 gram dengan diameter 32-36 cm, yaitu setengah dari besar otak orang dewasa. Pada 2 tahun pertama kehidupan, perkembangan otak meningkat sebesar 30%. Periode ini dinamakan periode emas, yaitu saat terbaik untuk memberikan stimulasi bagi perkembangan otak anak. Namun pemberian stimulasi lebih baik dilakukan sedini mungkin, yaitu ketika masih saat intrauterin. Otak anak kemudian berkembang sebesar 20% hingga usia 12 tahun, dan menetap pada volume tersebut hingga dewasa.7

Perkembangan otak manusia: a. Neurulasi primer (pembuatan neuron): minggu ke-3 sampai dengan bulan ke-4 kehamilan. b. Perkembangan prosensefalon (kedua hemisfer cortex cerebrii): bulan ke-2 sampai dengan bulan ke-3 kehamilan. c. Proliferasi neuron: bulan ke-3 sampai dengan bulan ke-4 kehamilan (kesalahan pada tahap ini mengakibatkan bayi mikrosefali).
17

d. Migrasi neuron: bulan ke-3 sampai dengan bulan ke-5 kehamilan. e. Organisasi (terjadi percabangan dendrit, akson, sinaps, sel glia serta apoptosis sebagai eliminasi selektif): trimester ke-3 kehamilan hingga postnatal. f. Mielinasi (pembentukan mielin): periode postnatal.7

Perkembangan neural plate terjadi pada embrio berusia 20 hari, kemudian perkembangan neuronal crest terjadi pada embrio berusia 26 hari. Perkembangan sinaps dimulai saat 6 bulan kehamilan, dan kemudian puncak perkembangannya berdasarkan fungsi terbagi menjadi: a. Melihat & mendengar dengan puncak perkembangannya saat 3 bulan kelahiran. b. Kemampuan berbicara pada 9 bulan kelahiran. c. Ketrampilan (skill) pada tahun ke-2 kelahiran.7

Karakteristik otak pada bayi : - Memiliki 100 milyar neuron - Stimulasi2 dini pada bayi dapat meningkatkan pertumbuhan dan fungsi otak karena stimulasi dapat merangsang pembentukan koneksi dengan mekanisme blooming

(perkembangan) dan purning (kematian). - Otak bayi masih fleksibel dan kenyal. - Terjadi perubahan2 pada neuron yaitu adanya mielinisasi dan pembentukan sinaps. Puncak keduanya dipengaruhi oleh genetik dan lingkungan.7 Gambar 1 Pertumbuhan Jumlah Saraf pada Bayi. 7

18

Lingkar kepala bayi harus diukur setiap bulannya hingga berusia 2 tahun, di mana pada usia tersebut lingkar otak anak normal sekitar 45-50 cm. Jika kurva berada di bawah daerah tersebut maka dikatakan anak tersebut mengalami mikrosefali, dan jika kurva berada di atas daerah tersebut maka dikatakan makrosefali. Kelainan-kelainan lain pada bentuk kepala, antara lain: a. Brachycephaly (flat-head syndrome), yang disebabkan karena kedua sutura koronal (memisahkan bagian frontal dan parietal) menutup lebih cepat dari waktu normal. b. Scaphocephaly, yang disebabkan karena kedua sutura sagital (memisahkan kedua bagian parietal kanan dan kiri) menutup lebih cepat dari waktu normal. c. Hidrocephalus, yang disebabkan oleh produksi yang tidak seimbang dan penyerapan dari cairan cerebrospinal (CSF) di dalam sistem ventrikular.7

Perubahan Fisiologis Sistem Neurologis pada Bayi Baru Lahir Pada saat lahir sistem saraf belum terintegrasi sempurna namun sudah cukup berkembang untuk bertahan dalam kehidupan ekstra uterin. Fungsi tubuh dan respon-respon yang diberikan sebagian besar dilakukan oleh pusat yang lebih rendah dari otak dan reflekreflek dalam medulla spinalis. BBL baru dapat menjalankan fungsi pada tingkat batang otak.
19

Kontrol saraf dari pusat yang lebih tinggi secara bertahap berkembang, membuat lebih memungkinkannya perilaku yang kompleks dan bertujuan. Refleks pada bayi terbagi menjadi dua, yaitu: 1. Refleks primitif a. Refleks mulut yaitu rooting (bergerak mencari puting susu ibu), mengisap, menelan. b. Moro yaitu bayi merasa terkejut ketika ia merasa seperti jatuh. Bayi akan menampakkan ekspresi kaget, tangan direntangkan ke samping dengan telapak terbuka, dan ibu jari fleksi atau tertekuk. c. Placing, stepping yaitu kaki akan menapak jika bertemu permukaan yang datar dan dapat meletakkan 1 kaki di depan yang lain secara bergantian (melangkah). d. Palmar & plantar grasp yaitu jari-jari tangan menutup seperti menggenggam dan fleksi jari kaki (tertekuk ke dalam). e. Refleks tonus leher asimetris yaitu ketika kepala bayi dipalingkan ke samping, tangan pada sisi tersebut akan melurus dan tangan pada sisi yang berlawanan akan menekuk. 7 Gambar 2 Gerak refleks pada bayi.7

20

Tabel 1 Evolusi dari refleks primitif .7 Refleks Moro Palmar grasp Plantar grasp Tonus leher Placing & walking Muncul 32 minggu 28 minggu 25 minggu 35 minggu 37 minggu Hilang 6 bulan 5-6 bulan 9-12 bulan 7 bulan Meningkat

Jika refleks yang seharusnya sudah hilang pada usia tertentu masih ditemui, maka kemungkinan terdapat gangguan pada sistem saraf pusat. 7

2. Refleks postural Refleks postural muncul pada saat bayi berusia 6-7 bulan serta merupakan langkah awal untuk bergerak, merangkak, dan berjalan. Refleks postural antara lain: a. Parasut: umumnya muncul saat usia 8-9 bulan. Saat bayi diposisikan terbalik, lengan akan terentang sebagai sikap proteksi. b. Sideway protective reaction: berkembang pada usia 5-7 bulan. Pada posisi duduk, bayi akan berusaha menahan badannya ke depan (anterior), samping (lateral), dan belakang. Anterior propping berkembang lebih dulu dibandingkan lateral propping. Lateral propping yang asimetris dapat menjadi tanda awal hemiparesis .7 Gambar 3 Refleks Postural.7

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam perkembangan neurologis bayi adalah tonus. Tonus adalah kontraksi terus-menerus atau parsial pasif dari otot-otot. Kelainan tonus, antara lain:

21

a. Hipertoni (spastisitas). Bayi dikatakan hipertoni bila posisi kaki bayi kaku dan lurus ketika ditidurkan, sehingga dapat disimpulakan terdapat gangguan pada SSP (lesi pada upper motor neuron). b. Hipotoni, saat kedua tangan bayi ditarik ke atas, kepala bayi akan jatuh ke belakang (tidak bisa melawan gravitasi) dan lemas. Hal tersebut disebut juga dengan istilah no head lag. 7

Gangguan SSP antara lain spastisitas, refleks fisiologis meningkat, refleks patologis (refleks abnormal yang disebabkan karena lesi di SSP) positif, dan atrofi otot (-). Cara untuk melihat tonus pada bay antara lain: a. Horisontal suspension (untuk melihat kekuatan batang tubuh) b. Vertical suspension (untuk melihat kekuatan bahu).7

BBL cukup bulan dikenal sebagai mahluk yang reaktif, responsif, dan hidup. Perkembangan sensoris BBL dan kapasitas untuk melakukan interaksi sosial dan organisasi diri sangat jelas terlihat.8 Myelinisasi system saraf mengikuti hukum perkembangan cephalokaudal

proksimodistal (kepala ke jari kaki-pusat ke perifer) dan berhubungan erat dengan kemampuan keterampilan motorik halus dan kasar yang tampak. Myelin diperlukan untuk transmisi cepat dan efisien pada sebagian impuls saraf sepanjang jalur neural. Traktus yang mengalami myelinisasi paling awal adalah traktus sensoris, serebral, dan ekstra pyramidal. Saraf ini menyebabkan pengindraan tajam pengecap, pembau, dan pendengaran pada BBL, begitu juga persepsi nyeri. Semua saraf kranial sudah ada dan mengalami myelinisasi, kecuali saraf opticus dan olfaktorius.9 Perkembangan otak bayi pada 2 tahun pertama kehidupan mencakup beberapa hal yaitu: a. Motorik kasar (tidak terkait dengan kecerdasan) b. Motorik halus (terkait dengan kecerdasan) c. Komunikasi dan bahasa d. Kognitif( kecerdasan).7

22

Motorik kasar: Tabel 3 Motorik Kasar. 7 Kepala mantap No head lag Hands together in midline Refleks tonus leher asimetris (-) Duduk tanpa bantuan Berguling bolak-balik Berjalan sendiri Berlari 2 bulan 3 bulan 3 bulan 4 bulan 6 bulan 6,5 bulan 12 bulan 16 bulan

Harus diwaspadai jika: a. 4 bulan b. 8 bulan c. 12 bulan d. 18 bulan : tangan bayi belum mantap yang berarti ada gangguan SSP : bayi belum bisa berguling bolak-balik : anak belum bisa duduk tanpa bantuan : anak belum bisa berjalan

Motorik kasar abnormal dapat ditandai dengan perkembangan terlambat, hipotoni-hipertoni, dan tidak semestinya.7 Motorik halus: Tabel 4 Motorik Halus.7 Menggenggam benda Meraih benda Palmar grasp hilang 3,5 bulan 4 bulan 4 bulan

Memindahkan benda dari 1 tangan ke 5,5 bulan tangan lain Menggenggam benda dengan ibu jari Mencoret-coret Membangun menara dengan 6 kubus 5,5 bulan 13 bulan 22 bulan

23

Harus diwaspadai jika: a. 4 bulan b. 4-5 bulan c. 1 tahun d. 18 bulan : palmar grasp (+) pada bayi : bayi belum bisa meraih atau memegang benda : anak belum bisa memegang benda dengan jari : anak belum bisa memegang benda kecil dengan jari.7

Tabel 5 Komunikasi dan bahasa. Bahasa reseptif dan ekspresif (9-10 bln)7: Senyum sebagai respon terhadap wajah dan suara Celoteh 1 suku kata 1,5 bulan 6 bulan

Mengikuti 1 langkah perintah dengan isyarat (menunjuk, 7 bulan dll) Mengikuti 1 langkah perintah tanpa isyarat (berikan 10 bulan benda itu padaku) Mengucapkan kata pertama (bermakna) Mengucapkan 4-6 kata Mengucapkan kalimat 2 kata 12 bulan 15 bulan 18 bulan

Harus diwaspadai jika: a. 12 bulan b. 16 bulan c. 24 bulan : anak hanya mengoceh (baba, dada), tidak mau menujuk : anak belum mengucapkan kata yang bermakna : belum bisa mengucapkan kalimat 2 kata

d. Semua umur : kehilangan kemampuan untuk berbicara, tersenyum pada orang lain.7

Etiologi berbicara tertunda: a. Hilang pendengaran b. Retardasi mental c. Kelainan motorik oral (bicara tapi artikulasi tidak jelas) d. Kemampuan ekspresif tertunda (bayi mengerti ucapan orang lain tapi tidak bisa berbicara) e. Selective mutism (tidak mau berbicara di tempat-tempat tertentu) f. Stimulasi dengan cara komunikasi 2 arah. Bayi yang disuruh menonton tv oleh pengasuhnya agar diam merupakan contoh kurangnya stimulasi. g. Bilingual (bayi akan bingung karena belum memiliki konsep bahasa yang jelas)
24

h. Autisme.7 Tabel 6 Kemampuan kognitif .7 Menatap sejenak pada suatu tempat Menatap pada tangan sendiri Memanipulasi suatu benda Bermain (egosentris) Bermain pura-pura dg boneka 17 bulan pura-pura 2 bulan 4 bulan 8 bulan sendiri 12 bulan

Fungsi sensoris BBL sudah sangat berkembang dan memiliki efek yang bermakna pada pertumbuhan dan perkembangan, termasuk proses perlekatan (attachment). a. Penglihatan Pada saat lahir, struktur mata belum lengakap. Fovea sentralis belum berdiferensiasi sempurna dari macula. Otot siliar juga masih imatur, membatasi kemampuan mata untuk berakomodasi dan memfokuskan pada objek sepanjang waktu. Bayi dapat mencari dan mengikuti objek. Pupil bereaksi terhadap cahaya, reflek mengedip berespon terhadap rangsang minimal, dan reflek kornea dapat diaktivasi dengan sentuhan ringan. Kelenjar air mata biasanya mulai berfungsi sampai usia 2 4 minggu.8 BBL memiliki kemampuan untuk memfokuskan penglihatan sementara pada objek yang terang atau bergerak yang berjarak 20 cm (8 inci) dan pada garis tengah lapang penglihatan. Kenyataanya, kemampuan bayi untuk melakukan fiksasi terhadap gerakan yang terkoordinasi lebih besar selama jam pertama kehidupan dibandingakan selama hari-hari berikutnya. Ketajaman penglihatan dilaporkan antara 20/100 dan 20/400, bergantung pada teknik pengukurannya.8 Bayi juga memiliki kemampuan pemilihan visual : warna medium (kuning, hijau, merah jambu) dibandingakan warna terang (merah, orange, biru) atau warna remang : pola kontras hitam putih, terutama bentuk-bentuk geometris dan papan catur, objek besar dengan kompleksitas warna medium dibandingakan dengan objek kecil, kompleks, dan objek yang mengkilat dibandingakan buram.8

25

b. Pendengaran Begitu cairan amnion dialirkan keluar telinga, bayi mungkin telah memiliki tajam pendengaran yang sama dengan dewasa. Neonatus sudah dapat bereaksi terhadap suara keras sekitar 90 desible (dB) dengan reflek terkejut. Respon BBL terhadap suara frek. rendah dibandingkan frek. tinggi berbeda : suara yang rendah, seperti suara detak jantung, metronome, atau buaian, cenderung menurunkan aktivitas motorik dan menangis, sedangkan suara tinggi menimbulkan reaksi waspada. Sensitivitas awal terhadap suara manusia juga sudah ada, meskipun tidak spesifik terhadap percakapan. Misalnya, bayi berusia kurang dari 3 hari dapat membedakan suara ibunya dengan suara wanita lainnya. Ketika berusia 5 hari, bayi mampu membedakan antara cerita yang diceritakan ulang kepadanya selama trimester terakhir kehamilan oleh ibunya dan cerita yang sama yang diceritakan setelah kelahiran oleh wanita lain.8 Telinga dalam dan tengah sangat besar saat lahir, tetapi kanalis eksternusnya kecil. Prosesus mastoideus dan bagian tulang kanalis eksternus belum berkembang.

Konsekuensinya, selaku timpani dan saraf fasialis terletak sangat dekat ke permukaan dan sangat mudah rusak.8 c. Penghidu BBL bereaksi terhadap bau yang kuat seperti alkohohol atau cuka dengan menolehkan kepalanya. Bayi yang diberi ASI mampu menghidu ASI dan akan menangis mencari ibunya ketika payudara ibu sudah membengkak dan mulai merembes. Bayi juga mampu membedakan ASI dari ibunya dan ASI wanita lain dari baunya. Bau ibu dipercaya mempengaruhi proses keterikatan dan keberhasilan penyususan. Pencucian puting yang tidak perlu secara rutin dapat mengganggu keberhasilan pemberian ASI.8 d. Pengecap BBL memiliki kemampuan membedakan berbagai rasa. Berbagai tipe larutan mencetuskan berbagai reflek gusto fasial yang berbeda. Larutan yang tidak berasa tidak akan mencetuskan ekspreisi fascial, larutan manis mencetuskan gerakan menghisap dan wajah yang puas, larutan masam menyebabkan pengerutan bibir, dan cairan pahit menghasilkan ekspresi kecewa dan marah. BBL lebih menyukai air glukosa dibandingkan air steril. Selama masa kanak awal kuncup pengecap terdistribusi terutama pada ujung lidah.8

26

e. Perabaan Pada saat lahir, bayi mampu mengindra sensasi taktil pada semua bagian tubuhnya, meskipun wajah (terutama mulut), tangan dan telapak kaki tampaknya yang paling sensitive. Semakin banyak domentasi yang menerangkan bahwa perabaan dan tepukan lembut pada punggung atau menggosok perut biasanya mencetuskan respon penenangan bayi. Akan tetapi, rangsang nyeri seperti tusukan jarum akan mencetuskan respon kemarahan.8 Pertumbuhan otak setelah lahir mengikuti pola pertumbuhan cepat, yang dapat diprediksi selama periode bayi sampai awal masa kanak-kanak. Pertumbuhan ini menjadi lebih bertahap selama sisa dekade pertama dan minimal selama masa remaja. Pada akhir tahun pertama, pertumbuhan serebelum, yang dimulai pada usia kehamilan sekitar 30 minggu, berakhir. Mungkin inilah penyebab otak rentan terhadap trauma nutrisi dan trauma lain selama masa bayi.8 Otak memerlukan glukosa sebagai sumber energi dan suplai O2 dalam jumlah besar untuk proses metabolisme yang adekuat. Kebutuhan yang besar ini menandakan diperlukannya suatu pengkajian cermat tentang kemampuan bayi dalam mempertahankan kelancaran jalan nafas dan juga pengkajian kondisi-kondisi pernafdasan yang membutuhkan O2. Kebutuhan akan glukosa perlu dip[antau dengan cermat pada BBL yang mengkin mengalami episode hipoglikemia.8 Aktivitas motorik spontan dapat muncul dalam bentuk tremor sementara dimulut dan didagu, terutama sewaktu menangis, dan pada ekstremitas, terutama pada lengan dan tangan. Tremor ini normal akan tetapi, tremor persisten atau tremor yang mengenai seluruh tubuh dapat mengenai indikasi kondisi yang patologis. Gerakan tonik dan klonik yang mencolok serta kedutan otot wajah merupakan tanda konvulsi (kejang). Perlu dibedakan antara tremor normal dan tremor akibat hipoglikemia dan gangguan sistem saraf pusat (SSP), sehingga upaya perbaikan dapat dimulai sedini mungkin.8 Kontrol neurologi pada BBL, walaupun masih sangat terbatas, dapat ditemukan. Apabila BBL diletakkan dipermukaan yang keras dengan wajah yang mengahadap ke bawah, bayi akan memutar kepalanya kesamping untuk mempertahankan jalan nafas. Bayi juga akan berusaha mengangkat kepalanya supaya tetap sejajar dengan tubuhnya bila kedua lengan bayi ditarik keatas hingga kepala terangkat.8

27

2. Pemeriksaan Neurologis Pemeriksaan neurologis pada anak pertama kali dapat dilakukan secara inspeksi dengan mengamati berbagai kelainan neurologis, seperti kejang; tremor/gemetaran (gerakan halus yang konstan); korea (gerakan involunter kasar, tanpa tujuan, cepat dan tersentaksentak, serta tidak terkoordinasi); diplegia (kelumpuhan pada dua anggota gerak); paraplegia (kelumpuhan pada anggota gerak bawah); tetraplagia/parese (kelumpuhan pada keempat anggota gerak); hemiparese/plegi (kelumpuhan pada sisi tubuh atau anggota gerak yang dibatasi garis tengah di daerah tulang belakang). Pemeriksaan kedua adalah pemeriksaan refleks. Pada pemeriksaan ini yang dapat diperiksa antara lain sebagai berikut: 1. Refleks superficial, dengan cara menggores kulit abdomen dengan empat goresan yang membentuk segiempat dibawah xifoid (di atas simpisis). 2. Refleks tendon dalam, dengan mengetuk menggunakan hammer pada tendon biseps, trisep, patella, dan Achilles. Penilaiannya adalah jika pada bisep (terjadi fleksi sendi siku), trisep (terjadi ekstensi sendi siku), patella (terjadi ekstensi sendi lutut), dan pada achilles (terjadi fleksi plantar kaki). Apabila hiperefleksi berarti ada kelainan pada upper motor neuron dan apabila hiporefleks berarti terjadi kelainan pada lower motor neuron. 3. Refleks patologis dapat menilai adanya refleks Babinzki dengan cara menggores permukaan plantar kaki dengan alat yang sedikit runcing, hasilnya positif apabila terjadi reaksi ekstensi ibu jari. Pemeriksaan ketiga adalah pemeriksaan rangsang meningeal, antara lain kaku kuduk. Cara melakukannya adalah pasien diatur posisi telentang kemudian leher ditekuk, apabila terdapat tahanan dagu dan dagu tidak menempel atau mengenai bagian dada maka disebut kaku kuduk (psositif). Brudzinski I diperiksa dengan cara pasien diatur dalam posisi telentang, meletakan satu tangan dibawah pasien, kemudian tangan lain diletakan di dada untuk mencegah badan terangkat, kemudian kepala difleksikan ke dada. Adanya rangsangan meningeal apabila kedua tungkai bawah akan fleksi pada sendi panggul dan lutut. Brudzinski II dengan cara pasien diatur telentang , difleksikan secara pasif tungkai atas pada sendi panggul, ikuti fleksi tungkai lainnya. Apabila sendi lutut lainnya dalam keadaan ekstensi, maka terdapat tanda meningeal dan tanda Kernig. Dengan posisi dalam keadaan telentang,

28

fleksikan tungkai atas tegak lurus, kemudian luruskan tungkai bawah dapat membentuk sudut 135 derajat terhadap tungkai atas. Pemeriksaan terakhir adalah pemeriksaan kekuatan dan tonus dengan cara menilai adanya kekuatan tonus otot pada bagian ekstremitas. Caranya dengan memberi tahanan, mengangkat atau menggerakan bagian otot yang akan dinilai dengan ketentuan sebagaimana tersaji pada Tabel 1. Tabel 7. Nilai Kekuatan Otot (Tonus Otot). Nilai Kekuatan Keterangan

Otot (tonus Otot) 0 1 (0%) Paralisis, tidak ada kontraksi otot sama sekali (10%) Terlihat atau teraba getaran kontraksi otot, tetapi tidak ada gerakan anggota gerak sama sekali

(25%) Dapat menggerakan anggota gerak, tetapi tidak kuat menahan berat dan tidak dapat melawan tekanan pemeriksa

(50%) Dapat menggerakan anggota gerak untuk menahan berat, tetapi dapat menggerakan anggota badan untuk melawan tekanan pemeriksa

(75%) Dapat menggerakan sendi dengan aktif untuk menahan berat dan melawan tekanan secara stimultan

(100%) Normal

29

6. Studi Kasus

A. HASIL PEMERIKSAAN

1. MIKROSEFALI Mikrosefali didefinisikan sebagai lingkar kepala yang berukuran lebih dari tiga standar deviasi di bawah mean menurut usia dan jenis kelamin. Keadaan ini relatif lazim, terutama pada populasi dengan relardasi mental. Meskipun ada banyak penyebab mikrosefali, kelainan pada migrasi neuron selama perkembangan janin, termasuk hereropia sel neuron dan kekacauan arsitektur sel, ditemukan pada banyak otak. Mikrosefali dapat dibagi lagi menjadi 2 kelompok utama: mikrosefali primer (genetika) dan mikrosefali sekunder (non-genetika). Diagnosis yang tepat adalah penting uniuk konseling genetika dan untuk peramalan kehamilan yang akan datang. ETIOLOGI. Mikrosefali primer merujuk pada kelompok keadaan yang biasanya tidak memiliki malformasi lain dan mengikuti pola pewarisan mendelian atau terkait dengan sindrom gentik tertentu. Bayi-bayi ini biasanya dikenali saat lahir karena kecilnya lingkar kepala. Tipe yang paling lazim adalah mikrosefali dominan autosom dan familial dan serangkaian sindrom kromosom. Mikrosefali sekunder akibat dari sejumlah besar agen berbahaya yang dapat mengenai janin dalam uterus atau bayi selama masa penumbuhan otak cepat, terutama pada usia 2 tahun pertama.10

2. HEADLAG Menurut Uji PediNeurological, oleh Paul D. Larsen, M.D. dari University of Nebraska School of Medicine, dan Suzanne S. Stensaas, Ph.D. dari University of Utah School of Medicine, head lag adalah ketika kita menarik bayi dari posisi telentang ke posisi duduk, dan kepala bayi tertinggal di belakang batang kepalanya atau seperti melipat kebelakang.11 Head Lag terjadi pada bayi baru lahir karena otot-otot lehernya masih lemah, tetapi saat mencapai usia 4 bulan seharusnya Head Lag ini menghilang karena bayi sudah dapat menegakkan kepalanya.12

30

Gambar 4 Headlag.12

3. HEPATOMEGALI Hepatomegali adalah pembesaran di hati lebih dari ukuran normalnya. Konfirmasi ukuran hepar dapat dilakukan dengan ultrasonografi atau sidik isotop. Penyebab yang paling umum adalah sirosis, gagal jantung, dan kanker. Karena hati terlibat di banyak fungsi-fungsi tubuh, hal ini berpengaruh juga dengan banyak kondisi yang menyebabkan Hepatomegali.13

31

4. LIMFADENOPATI Limfadenopati adalah kelenjar getah bening yang teraba dan membesar. Dibagi 2 berdasarkan penyebabnya, Lokal dan Umum. Tetapi walaupun pembagian ini bermanfaat, dapat menyesatkan pada dua keadaan. Apabila hanya terdapat satu rangkaian kelenjar getah bening yang teraba secara klinis pada pasien dengan limfadenopati umum Pada gangguan tertentu yang dapat menyebabkan limfadenopati lokal maupun umum. Penyebab Limfadenopati Umum, Infeksi : Bakteri (cth: otitis media, faringitis, tuberkolosis), Jamur (cth: aktinomikosis), Virus (cth: cat scratch fever,

limfogranuloma vereneum). Keganasan : Limfoma Hodgkin dan Non-Hodgkin. Penyebab Limfadenopati Khusus, Infeksi : Bakteri (cth: brusellosis, sifilis, endokarnitis), Jamur (cth: histoplasmosis), Virus (cth: mononucleosis infeksiosa, campak, rubella, hepatitis virus), Protozoa (cth: toksoplasmosis). Lainnya : Penyakit peradangan non infeksi, reaksi obat, Angioimunoblastik.14

5. KHORIORETINITIS Khorioretinitis adalah peradangan pada retina yang menyerang tempat apa saja di retina. Kalau menyembuh akan terlihat sebagai kelompok kecil hiperpigmentasi dan hipopigmentasi yang menjadi bukti adanya peradangan. Sering disebabkan oleh infeksi, seperti histoplasmosis.15

32

B. CT SCAN Kalsifikasi Serebral pada Bayi Computed tomography (CT) memiliki sensitivitas yang tinggi dan mudah untuk mendeteksi dan lokalisasi kalsifikasi intrakranial. Dalam scan didapatkan gambar penyakit yang berhubungan dengan kalsifikasi intrakranial dan menekankan utilitas CT untuk diagnosis diferensial.

Kalsifikasi

Gambar 3. Aksial unenhanced CT menunjukkan thalamic bilateral yang luas dan periventrikular kalsifikasi terkait dengan dilatasi ventrikel asimetri dalam toksoplasmosis kongenital.

Sejumlah besar agen infeksi mungkin melibatkan sistem saraf pusat janin di dalam rahim. Yang paling umum dari infeksi-infeksi yang terjadi adalah TORCH agen seperti toksoplasmosis, rubella, Cytomegalovirus (CMV) dan Herpes simplex virus (HSV). Infeksi HSV kongenital menunjukkan kerusakan otak yang luas, multicystic encephalomacia dan kalsifikasi yang tersebar. Toksoplasmosis kongenital umumnya terkait dengan hidrosefalus dan kalsifikasi acak nodular di periventrikular, ganglia basalis dan daerah kortikal serebral (Gbr. 3).

33

Kalsifikasi intrakranial dapat diklasifikasikan menjadi 6 kelompok terutama berdasarkan etiopathogenesis mereka: yaitu faktor umur dan fisiologis, kongenital, infeksi, endokrin dan metabolik, vaskular, dan neoplastik (Tabel). Kongenital kalsifikasi Kondisi ini sering terlihat pada Sturge-Weber syndrome (SWS), Tuberous sclerosis (TS) dan lipoma intrakranial, sedangkan neurofibromatosis (NF), Cockayne (CS) dan sindrom Gorlin (GS) relatif jarang. SWS adalah gangguan langka yang terdiri dari port-wine nevus dalam distribusi oftalmik yang cabang saraf trigeminal dan malformasi sistem saraf. Hasil dari sindrom malformasi pembuluh darah serebral yang terletak pada bagian pia mater dalam. Malformasi seperti ini menyebabkan hipertensi vena dan selanjutnya hipoperfusi dari korteks yang mendasari , menyebabkan kronis serebral iskemia, atrofi parenkim, pembesaran bagian mata ipsilateral koroid pleksus dan kalsifikasi. Kalsifikasi pada SWS menunjukkan karakteristik pola kortikal linier. TS adalah gangguan dominan autosomal yang ditandai dengan keterbelakangan mental, epilepsi dan adenoma sebaceum. Lesi intrakranial di TS terdiri dari subependymal hamartoma, umbi subkortikal, tumor sel raksasa, dan materi putih lesi. Kalsifikasi dari nodul subependymal yang patognomonik dan umumnya terletak sepanjang alur caudothalamic dan atrium. Umbi subkortikal yang kalsifikasi lebih sering pada pasien lanjut usia. NF1 adalah gangguan dominan autosomal yang ditandai dengan adanya glioma, dysplasias dan hamartomas. Intrakranial hamartomas di NF1 sering terlihat di lokasi globus pallidus, tapi jarang terjadi pengapuran. Lipoma Intrakranial merupakan malformasi kongenital jinak, diamana biasanya terdapat kamjuan yang tetap bergejala. Sekitar 80-90% dari lipoma intrakranial terletak pada atau dekat garis tengah. Sebuah lengkung atau fokal pola kalsifikasi sering terlihat di kapsul mereka dan sekitarnya parenkim. CS adalah gangguan autosomal resesif, yang menunjukkan ensefalopati yang progresif termasuk kalsifikasi intrakranial dan Lesi putih materi. Kalsifikasi umumnya dalam pola kasar dan sering melibatkan materi putih subkortikal, basal ganglia dan inti dentata. GS predisposisi tumor autosomal dominan sindrom yang terdiri dari beberapa karsinoma sel basal kulit, odontogenik keratocyst dari rahang, berbagai kelainan rangka, dan pipih.16

34

C. PEMERIKSAAN ANTIBODI

IgG dan IgM

Suatu imunoglobulin (Ig) atau antibodi merupakan protein yang mengikat antigen dalam kasus-kasus tertentu. Baik IgM dan IgG merupakan imunoglobulin. Antibodi diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh untuk melawan antigen seperti bakteri dan virus. IgM merupakan antibodi yang dihasilkan segera setelah eksposur terhadap penyakit, sementara IgG umumnya memberikan kekebalan terhadap pasien.

IgG adalah antibodi yang paling banyak ditemukan dalam tubuh manusia. IgG ditemukan di semua cairan tubuh dan berfungsi melindungi tubuh manusia terhadap serangan bakteri dan virus, sementara IgM ditemukan terutama dalam cairan getah bening dan darah. IgM merupakan antibodi pertama yang dihasilkan oleh janin manusia serta antibodi pertama yang dihasilkan dalam kasus penyakit tertentu. Dengan kata lain apabila terinfeksi toksoplasma, tubuh akan menghasilkan IgM terlebih dahulu, baru kemudian membentuk IgG.

Antibodi IgG dan IgM ini memiliki nilai ambang batas, dimana apabila nilai IgG atau IgM melebihi nilai ambang batasnya disebut bernilai postif, dan sebaliknya. Nilai ambang batas tersebut biasanya tertera pada hasil pemeriksaan laboratorium.

Apabila IgG positif dan IgM negative disimpulkan infeksi sudah lama terjadi. Bila IgG negative dan IgM positif dapat disimpulkan bahwa infeksi baru saja terjadi. Namun, apabila IgG dan IgM dua-duanya positif maka disimpulkan bahwa infeksi sedang berada pada tahap manifest, yaitu sudah terjadi infeksi namun waktunya belum terlalu lama. Untuk itu, pada kasus IgG dan IgM dua-duanya positif sebaiknya juga dilakukan pemeriksaan aviditas IgG anti toksoplasmosis. Bila nilai aviditas IgG rendah, hal itu menunjukkan infeksi tersebut baru terjadi, dan bila aviditas IgG tinggi merupakan tanda adanya antibodi lampau (infeksi sudah lama terjadi).

35

G. Kesimpulan : Gangguan tumbuh kembang yang terjadi pada bayi 8 bulan tersebut disebabkan oleh toksoplasmosis kongenital.

36

DAFTAR PUSTAKA

1. Narendra Moersintowati B., Sularyo Titi S., Soetjiningsih, dkk. 2002. Buku Ajar 1 Tumbuh Kembang Anak dan Remaja. Sagung Seto: Jakarta. 2. (Pengantar Ilmu Kesehatan Anak, hidayat; 2008) 3. (http://file.upi. edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI) 4. Haksohusodo, Suwardji. 2002. Infeksi TORCH (Patogenesis, Infeksi Maternal-

Kongenital, dan Pengobatannya). Yogyakarta : Medika FK UGM bekerjasama dengan Yayasan Inovasi Biomolekular Kedokteran Haksohusodo. 5. Sudoyo, Aru.W.et all. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III, Edisi V. Jakarta: Interna Publishing FKUI. 6. Wibisomo, Sekti Djoko.dkk. 2005. Ragam Medikamentosa Terapi Toxoplasmosis pada Kehamilan. Jakarta 7. Departemen Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran UI 2009 8. Bobak, Irena M. dkk. 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Jakarta: EGC. 9. Wong, Donna. L. Buku Ajar Pediatri. Edisi 6, Volume 1. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2009. 10. Ilmu Kesehatan Anak Nelson, Vol. 3. Richard E. Behrman. Jakarta : EGC. 2000 11. http://pregnancy.doctissimo.com/pregnancy-a-z/head-lag.html 12. http://www.livestrong.com/article/232297-head-lag-in-infant-development/ 13. Panduan Pemeriksaan Kesehatan dengan Dokumentasi Soapie. Patricia Gonce Morton. Jakarta : EGC. 2003 14. Kisi-kisi Menembus Masalah Bedah. J.A. Britto dan M. J. R. Darlympe Hay. Jakarta : EGC : 2005. 15. Diagnosis Fisik. John W. Burnside dan Thomas J. McGlynn. Jakarta : EGC. 16. Krolu,Ylmaz & Cem all. 2010. Intracranial calcifications on CT. Journals inTurkish Society of Radiology 2010 on Diagnose Interventions of Radiology; Vol.16 Page. 263269

37