Anda di halaman 1dari 11

Introduksi : a.

Definisi

Modified Radical Mastectomy adalah suatu tindakan pembedahan onkologis pada keganasan payudara yaitu dengan mengangkat seluruh jaringan payudara yang terdiri dari seluruh stroma dan parenkhim payudara, areola dan puting susu serta kulit diatas tumornya disertai diseksi kelenjar getah bening aksila ipsilateral level I, II/III secara en bloc TANPA mengangkat m.pektoralis major dan minor.
b. Ruang lingkup Payudara adalah masa stroma dan parenkhim payudara yang terletak di dinding torak anterior antara ICS II dan VI dan parasternal sampai dengan garis axilaris medius. Payudara mendapat vaskularisasi utama dari cabang a. mammaria interna, a. Torakoakromialis dan cabang a. Interkostalis 3,4,5. KGB regional pada payudara adalah KGB aksila, supra dan infraklavikula serta mammaria interna. KGB aksila dibagi atas 3 zona yaitu Level I, II dan III. Level I adalah KGB yang terletak lateral dari muskulus pektoralis minor, level II adalah KGB yang terletak dibelakang m.pektoralis minor dan Level III adalah KGB yang terletak medial dari m.pektoralis minor. Disamping itu juga ada KGB interpektoral atau disebut Rotter. Tumor pada payudara dibagi atas Tumor jinak: fibroadenoma, kista, Tumor ganas: invasif duktal, invasif lobular dan varian lainnya (mukoid, papiler , meduler, kribriform dll) Keganasan insitu : insitu lobular, insitu duktal dan mikroinvasif Sampai saat ini penyebab pasti kanker payudara, belum diketahui karena bersifat multifaktorial Faktor resiko kanker payudara: Usia > 35 tahun Menarche < 12 tahun Menopause > 55 tahun Nullipara Riwayat keluarga (orang tua, saudara kandung ) dengan kanker payudara Diagnosa kanker payudara ditegakkan dengan : Diagnosa konfirmasi keganasan : pemeriksaan klinis, FNA & pencitraan ( mamografi dan/atau USG payudara. (tripple diagnostic)

Diagnosa stadium kanker payudara : pemeriksaan klinis- laboratorium dan pencitraan ( foto toraks/paru- USG liver/abdomen- k/p bone scanning ). Pada keadaan dimana salah satu komponen dari triple diagnostic mengalami ketidak sesuaian interpretasi maka dikerjakan biopsi dengan pemeriksaan potong beku (bila ada fasilitas) atau biopsi saja dulu untuk mengetahui jenis histopatologinya. Terapi berikutnya tergantung dari hasil histopatologinya c. Indikasi operasi Kanker payudara stadium dini (I,II) Kanker payudara stadium lanjut lokal dengan persyaratan tertentu Keganasan jaringan lunak pada payudara. d. Kontra indikasi operasi Tumor melekat dinding dada Edema lengan Nodul satelit yang luas Mastitis inflamatoar e. Diagnosa banding Keganasan lainnya dari payudara ( sarkoma-limfoma dll ). Tumor phylodes ( ganas dan jinak ). Mastitis yang luas ( terutama mastitis tuberkulosa ) f. Pemeriksaan penunjang Mandatory - Mamografi dan/atau USG payudara - Foto toraks - FNAB tumor payudara - USG liver/abdomen - pemeriksaan kimia darah lengkap untuk persiapan operasi Oprional - bone scanning

- pemeriksaan kimia darah/ tumor marker : CEA, Ca 15-3, CA 125 Tekhnik operasi Secara singkat tekhnik operasi dari mastektomi radikal modifikasi dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Penderita dalam general anaesthesia, lengan ipsilateral dengan yang dioperasi diposisikan abduksi 900, pundak ipsilateral dengan yang dioperasi diganjal bantal tipis. 2. Desinfeksi lapangan operasi, bagian atas sampai dengan pertengahan leher, bagian bawah sampai dengan umbilikus, bagian medial sampai pertengahan mammma kontralateral, bagian lateral sampai dengan tepi lateral skapula. Lengan atas didesinfeksi melingkar sampai dengan siku kemudian dibungkus dengan doek steril dilanjutkan dengan mempersempit lapangan operasi dengan doek steril 3. Bila didapatkan ulkus pada tumor payudara, maka ulkus harus ditutup dengan kasa steril tebal ( buick gaas) dan dijahit melingkar. 4. Dilakukan insisi (macam macam insisi adalah Stewart, Orr, Willy Meyer, Halsted, insisi S) dimana garis insisi paling tidak berjarak 2 cm dari tepi tumor, kemudian dibuat flap. 5. Flap atas sampai dibawah klavikula, flap medial sampai parasternal ipsilateral, flap bawah sampai inframammary fold, flap lateral sampai tepi anterior m. Latissimus dorsi dan mengidentifikasi vasa dan. N. Thoracalis dorsalis 6. Mastektomi dimulai dari bagian medial menuju lateral sambil merawat perdarahan, terutama cabang pembuluh darah interkostal di daerah parasternal. Pada saat sampai pada tepi lateral m.pektoralis mayor dengan bantuan haak jaringan maamma dilepaskan dari m. Pektoralis minor dan serratus anterior (mastektomi simpel). Pada mastektomi radikal otot pektoralis sudah mulai 7. Diseksi aksila dimulai dengan mencari adanya pembesaran KGB aksila Level I (lateral m. pektoralis minor), Level II (di belakang m. Pektoralis minor) dan level III ( medial m. pektoralis minor). Diseksi jangan lebih tinggi pada daerah vasa aksilaris, karena dapat mengakibatkan edema lengan. Vena-vena yang menuju ke jaringan mamma diligasi. Selanjutnya mengidentifikasi vasa dan n. Thoracalis longus, dan thoracalis dorsalis, interkostobrachialis. KGB internerural selanjutnya didiseksi dan akhirnya jaringan mamma dan KGB aksila terlepas sebagai satu kesatuan (en bloc) 8. Lapangan operasi dicuci dengan larutan sublimat dan Nacl 0,9%. 9. Semua alat-alat yang dipakai saat operasi diganti dengan set baru, begitu juga dengan handschoen operator, asisten dan instrumen serta doek sterilnya. 10. Evaluasi ulang sumber perdarahan 11. Dipasang 2 buah drain, drain yang besar ( redon no. 14) diletakkan dibawah vasa aksilaris, sedang drain yang lebih kecil ( no.12) diarahkan ke medial. 12. Luka operasi ditutup lapais demi lapis Komplikasi operasi

Dini : pendarahan, - lesi n. Thoracalis longus wing scapula - Lesi n. Thoracalis dorsalis. Lambat : - infeksi - nekrosis flap - wound dehiscence - seroma - edema lengan - kekakuan sendi bahu kontraktur Mortalitas hampir tidak ada Perawatan pasca bedah Pasca bedah penderita dirawat di ruangan dengan mengobservasi produksi drain, memeriksa Hb pasca bedah. Rehabilitasi dilakukan sesegera mungkin dengan melatih pergerakan sendi bahu. Drain dilepas bila produksi masing-masing drain < 20 cc/24 jam. Umumnya drain sebelah medial dilepas lebih awal, karena produksinya lebih sedikit. Jahitan dilepas umumnya hari ke10 s/d 14. Follow up Tahun 1 dan 2 kontrol tiap 2 bulan Tahun 3 s/d 5 kontrol tiap 3 bulan Setelah tahun 5 kontrol tiap 6 bulan Pemeriksaan fisik : tiap kali kontrol Thorax foto : tiap 6 bulan Lab. Marker : tiap 2-3 bulan Mammografi kontralateral : tiap tahun atau ada indikasi USG abdomen : tiap 6 bulan atau ada indikasi Bone scanning : tiap 2 tahun atau ada indikasi

Ada berbagai jenis mastektomi digunakan, dan jenis yang pasien memutuskan untuk menjalani (atau apakah ia akan memutuskan sebagai gantinya memiliki lumpectomy) tergantung pada faktor-faktor seperti ukuran, lokasi, dan perilaku dari tumor (jika ada),

apakah atau tidak operasi profilaksis, dan apakah atau tidak pasien bermaksud untuk menjalani dikarenakan alat operasi.

Sederhana mastektomi (atau "total mastektomi"): dalam prosedur ini, jaringan payudara seluruh dihapus, tetapi aksilaris isi terganggu. Kadang-kadang "nodus limfa sentinel"--itu, nodus limfa aksilaris pertama yang sel-sel kanker yang metastasizing akan diharapkan ke-akan dihapus. Operasi ini kadang-kadang dilakukan bilateral (pada payudara kedua) pada pasien yang ingin menjalani mastektomi sebagai langkah pencegahan kanker. Pasien yang menjalani mastektomi sederhana biasanya dapat meninggalkan rumah sakit setelah tinggal singkat. Sering, tabung drainase dimasukkan selama operasi di dada mereka dan melekat pada perangkat isap kecil untuk menghapus subkutan cairan. Ini biasanya akan dihapus beberapa hari setelah operasi sebagai drainase mengurangi untuk kurang dari 20-30 ml per hari. Mastektomi radikal diubah: jaringan payudara seluruh dihapus bersama dengan isi aksilaris (jaringan lemak dan kelenjar getah bening). Berbeda dengan mastektomi radikal, otot-otot dada spared. Radikal mastektomi (atau "Halsted mastektomi"): pertama dilakukan pada tahun 1882, prosedur ini melibatkan menghapus seluruh payudara, aksilaris kelenjar getah bening, dan otot pectoralis besar dan kecil di belakang payudara. Prosedur ini lebih menodai dari mastektomi radikal diubah dan memberikan manfaat kelangsungan hidup tidak untuk sebagian besar tumor. Operasi ini sekarang digunakan untuk tumor yang melibatkan Otot pectoralis major atau kanker payudara berulang yang melibatkan dinding dada. Hemat kulit mastektomi: dalam operasi ini, jaringan payudara dihapus melalui sayatan konservatif yang dibuat sekitar areola (bagian gelap sekitar puting). Peningkatan jumlah kulit yang diawetkan dibandingkan dengan mastecomy tradisional resections berfungsi untuk memfasilitasi payudara rekonstruksi prosedur. Pasien dengan kanker yang melibatkan kulit, seperti kanker inflamasi, tidak kandidat untuk menyelamatkan kulit mastektomi. Puting-hemat/subkutan mastektomi: jaringan payudara akan dihapus, tetapi kompleks puting-areola yang diawetkan. Prosedur ini secara historis dilakukan hanya prophylactically atau dengan mastecomy untuk penyakit jinak lebih dari rasa takut perkembangan kanker peningkatan dalam mempertahankan jaringan ductal areolar. Seri terbaru menyarankan bahwa ini mungkin prosedur oncologically suara untuk tumor tidak dalam posisi subareolar.

Apa Saja Yang Menjadi Penyebab Kanker Payudara ?


Faktor-faktor seperti infertilitas, jumlah kelahiran sedikit, usia menopause yang tua, masa pubertas yang dini, riwayat penyakit tumor jinak payudara, riwayat keluarga kanker payudara, oral kontrasepsi, radiasi eksposur sudah dipastikan ada hubungannya dengan kanker payudara. Penyebab kanker payudara belum dapat sepenuhnya dipastikan, beberapa faktor penyebab yang telah dibuktikan masih menjadi kontroversi. Hormon estrogen sebelum dan sesudah menopause menjadi factor signifikan merangsang terjadinya kanker payudara. Selain

itu factor genetic, pola makan dan kejiwaan erat sekali kaitannya dengan terjadinya kanker payudara.

Gejala Kanker Payudara Ada Apa Saja ?


1.Satu sisi payudara terasa sedikit nyeri atau satu sisi punggung terasa pegal dan tidak nyaman. 2.Di bagian payudara diraba terasa ada benjolan sebesar kacang yang tidak menimbulkan rasa sakit. 3.Kulit pada benjolan tersebut menonjol. 4.Kulit di bagian dada mencekung atau keriput. 5.Puting susu menjadi erosi atau asimetris. 6.Kulit di bagian payudara menjadi tebal dan kasar serta pori-pori membesar. 7.Puting susu ada cairan (nipple discharge), cairan berdarah.

Apa Saja Metode Pendiagnosaan Kanker Payudara?


1.Memeriksakan diri setiap bulan : setiap wanita harus periksa diri pada hari kelima setelah haid. Caranya adalah tangan disabuni, rabalah daerah payudara dengan jari tengah dan telunjuk searah jarum jam dan aksila dan klavikularis fosa. 2.Palpasi dokter : dokter spesialis yang bepengalaman lewat cara palpasi dapat mengetahui ada tidaknya tumor di payudara, dapat menyaring beberapa pasien kanker payudara. 3.B-Ultrasound : pemeriksaan B-Ultrasound dapat memastikan jenis dan letak tumor. 4.Mamografi X-Ray : dengan Mamografi X-Ray bisa mendapatkan gambar yang jelas, dapat memeriksa palpasi tunas tumor yang kecil yang sulit ditemukan. 5.Biopsi Sitologi : pemeriksaan B-Ultrasound dan Mamografi X-Ray dilakukan jika ada tumor atau abses yang tidak dapat dibedakan, kemudian harus melakukan kepastian lesi diagnostik tusuk.

Apa Itu Metode Terapi Tradisional Kanker Payudara ?


1.Operasi konservasi payudara : mengeksisi tumor dan sejumlah kecil jaringan disekitarnya. 2.Radikal mastektomi : mengeksisi seluruh payudara, termasuk atau tidaknya kelenjar getah bening aksila.

Metode Perawatan Kanker Payudara Ada Apa Saja ?


Metode Perawatan Pasca Operasi 1.Latihan sendi bahu secara kontinyu pasca operasi. 2.Istirahat yang cukup sesudah keluar dari rumah sakit, berolahraga yang sesuai, seperti jogging dan tai chi. 3.Jaga pola makan, nutrisi yang tinggi, membiasakan pola hidup yang sehat. Metode Perawatan Psikologis 1.Pemeriksaan secara rutin ke rumah sakit. 2.Jaga suasana hati dan kondisi mental yang baik. 3.Dukungan dan suasana yang hangat dari pasangan dan keluarga. 4.Segera memberikan pencerahan dan bujukan.

Metode Perawatan Terbaik Kanker Payudara


Multidisiplin tim yang dibentuk oleh ahli bedah payudara, patolog, ahli onkologi radiasi, ahli onkologi minimal invasive, perawat perawatan payudara dan penerjemah, berdasarkan kondisi dan gejala pasien kanker payudara lewat konsultasi para ahli dapat memastikan diagnosa yang efektif, pengobatan dan pengendalian penyakit, meningkatkan probabilitas pengobatan pasien kanker payudara.

Praktek Mastektomi Radikal Pada Kanker Payudara


November 26th, 2012 . No Comments

Mastektomi radikal adalah prosedur di mana seluruh payudara diangkat, termasuk kulit, areola, puting, dan kelenjar getah bening ketiak yang paling, yang pectoralis major otot yang terhindar. Secara historis, mastektomi radikal yang dimodifikasi adalah metode utama pengobatan kanker payudara. Sebagai pengobatan kanker payudara berevolusi, konservasi payudara menjadi lebih banyak digunakan. Namun, mastektomi masih tetap menjadi pilihan yang layak untuk wanita dengan kanker payudara Indikasi Saat ini masih pilihan pasien untuk menjalani konservasi payudara atau mastektomi dengan atau tanpa rekonstruksi. Namun, ada beberapa kontraindikasi untuk konservasi payudara yang mastektomi dianjurkan.

Menurut pedoman Kanker Komprehensif Jaringan Nasional, indikasi untuk mastektomi meliputi: Sebelum radiasi terapi untuk payudara atau dinding dada Terapi radiasi dikontraindikasikan oleh kehamilan (kecuali pasien pada trimester ketiga yang dapat menerima postpartum radiasi) Inflamasi kanker payudara Menyebarkan microcalcifications mencurigakan atau ganas-muncul Penyakit luas yang multicentric, terletak di lebih dari satu kuadran, dan tidak dapat dihapus melalui insisi tunggal dengan margin negatif Sebuah marjin patologis positif setelah ulangi kembali-eksisi dan hasil kosmetik suboptimal Indikasi relatif untuk mastektomi meliputi: Aktif penyakit jaringan ikat yang melibatkan kulit (misalnya, skleroderma, lupus) Tumor yang lebih besar bahwa diameter 5 cm Pasien yang lebih muda dari 35 tahun atau premenopause dengan BRCA1 dikenal / 2 mutasi memiliki peningkatan risiko kekambuhan lokal. Mastektomi profilaksis bilateral dapat dipertimbangkan untuk pengurangan risiko. Kontraindikasi Ada kontraindikasi sangat sedikit untuk mastektomi radikal yang dimodifikasi. Untuk pasien yang hadir dengan penyakit metastasis, modus utama dari pengobatan tetap terapi sistemik. Mastektomi saat ini tidak standar perawatan untuk pasien dengan penyakit metastasis. Kontraindikasi tambahan melibatkan pasien yang tidak dapat menerima anestesi umum. Teknis Pertimbangan Praktik Terbaik Telah ada perdebatan nasional baru-baru ini atas indikasi untuk diseksi kelenjar getah bening aksila. Indikasi saat ini untuk tingkat I atau diseksi aksila II pada pasien yang menjalani mastektomi meliputi: Pasien harus dievaluasi untuk diseksi kelenjar getah bening aksila berdasarkan kasus per kasus. Diseksi aksila tidak mungkin bermanfaat bagi pasien dengan karakteristik tumor yang menguntungkan, pasien usia lanjut, pasien dengan komorbiditas ganda, atau pasien untuk siapa diseksi aksila penuh tidak akan mempengaruhi rekomendasi mengenai pengobatan sistemik. Prosedur Perencanaan Pasien yang menjalani mastektomi memiliki pilihan untuk rekonstruksi segera atau ditunda menggunakan jaringan autologous atau implan. Sebelum mastektomi, pasien harus dirujuk ke dokter bedah plastik. Keputusan untuk rekonstruksi segera atau ditunda dibuat berdasarkan kebutuhan akan radiasi pascamastektomi dan preferensi ahli bedah. Pencegahan Komplikasi Komplikasi terkait dengan mastektomi radikal yang dimodifikasi meliputi isu yang terkait

dengan penyembuhan luka, seperti hematoma, infeksi, dehiscence, seroma kronis, dan nekrosis kulit. Risiko nekrosis kulit sering melibatkan flap superior dan tepi luka. Hal ini sering diobati dengan hanya debridement lokal dan perawatan luka. Pasien pada risiko tinggi untuk komplikasi pasca operasi adalah pasien dengan diabetes, perokok, pasien dengan riwayat radiasi dinding dada sebelumnya, dan pasien lain dengan penyakit pembuluh difus kecil. Setelah diseksi aksila, bersama dengan masalah penyembuhan normal lokal, perubahan dari sistem limfatik daerah menempatkan pasien pada peningkatan risiko komplikasi.

III. PEMERIKSAAN LANJUTAN PADA KANKER PAYUDARA


May 6, 2010 at 8:28 am Leave a comment Pada topik kali ini akan dibahas mengenai Pemeriksaan lain/Test lain setelah kanker terdiagnosa. Bila hasil PA memperlihatkan kanker, dokter akan menganjurkan test lain untuk mencari tahu apakah kanker itu menyebar dan untuk membantu menentukan terapi yang paling baik . 1. Foto rontgen dada Foto rontgen dada ini diperlukan, selain untuk skreening pra-operasi, juga untuk melihat apakah ada penyebaran kanker ke paru-paru 2.Scan tulang (bone scanning) Scan tulang akan memberikan informasi penyebaran kanker payudara pada tulang. scan tulang sebetulnya tidak direkomendasikan, kecuali bila disertai gejala penyebaran ke tulang meliputi rasa nyeri atau bila ada perubahan yang spesifik pada hasil test darah. Pada saat dilakukan scan tulang, suatu zat radioaktif dengan dosis yang sangat kecil disuntikkan ke dalam pembuluh darah vena anda. Pasien yang menjalani scan tulang ini tidak akan merasa sakit. 3. Computerized Tomography (CT atau CAT) Scan CT scan dilakukan bila ditemukan gejala atau adanya kelainan pada pemeriksaan lain yang mencurigakan bahwa kanker itu menyebar ke organ lainnya. Pada stadium awal kanker, CT scan tidak diperlukan. Tapi pada stadium lanjut, dapat dilakukan pemeriksaan CT scan abdomen (perut) dan atau CT scan thoraks (dada) untuk melihat apakah kanker tersebut menyebar. Dengan CT scan, dilakukan pemotretan dengan sinar X dari beberapa sudut berbeda. Penting untuk diketahui bahwa pemeriksaan CT scan ini tidak menyebabkan sakit kecuali hanya pada saat penyuntikan zat kontras (dan ha ini pun masih dapat ditolerir).

4. Magnetic Resonance Imaging (MRI) Pada Scan MRI, digunakan gelombang raiomagnetik untuk menghasilkan gambar yang detil dari organ dalam. MRI dapat digunakan untuk melihat kelainan pada otak dan sumsum tulang belakang serta untuk melihat suatu daerah yang dicurigai di dalam tulang. Pemeriksaan MRI secara rutin untuk semua pasien kanker payudara tidaklah diperlukan. Keadaan yang memerlukan pemeriksaan MRI payudara adalah bila seorang pasien mempunyai kanker di axilla (ketiak) dari hasil biopsi, tetapi tidak menunjukkan gejala ketika payudaranya diperiksa oleh dokter atau pada pemeriksaan mammografi. 5. Positron Emission Tomography (PET) Scan Pada PET scan, digunakan suatu bentuk gula (glukosa) yang mengandung radioaktif. Sejumlah kecil zat radioaktif disuntikkan ke alam pembuluh vena lengan. Setelah glukosa tersebut dimasukkan ke dalam tubuh, kemudian pasien masuk ke dalam mesin PET yang memiliki kamera khusus yang dapat mendeteksi radioaktif. Karena kanker payudara memakai energi dalam jumlah yang besar,maka daerah kanker akan menyerap glukosa radioaktif dalam jumlah besar. PET scan tidak direkomendasikan untuk pasien kanker payudara, tetapi dapat digunakan untuk mengevaluasi pasien secara dini pada pasien dengan metastase atau kanker payudara rekuren (berulang). 6. Test Darah Test darah ini meliputi:

Pemeriksaan darah rutin

Hasil test yang abnormal berhubungan dengan problem kesehatan, termasuk anemia,yang dapat menunjukkan bahwa kanker telah menyebar ke sumsum tulang. Demikian pula, bila anda mendapat khemoterapi, dokter akan mengulang pemeriksaan ini secara teratur karena khemoterapi sering menyebabkan gangguan bentuk sel darah yang berasal dari sumsum tulang.

Kimia darah dan Test Enzim

Test ini dilakukan pada pasien dengan Kanker Payudara invasive. (Tetapi tidak diperlukan pada Kanker in situ). Dengan test ini, dapat pula diketahui bahwa kanker menyebar ke tulang atau liver. Bila hasil test ini abnormal, dokter akan menganjurkan melakukan Test Imaging, seperti Scan Tulang atau CT Scan. 7. Tumor Test (Estrogen Reseptor (ER), Progesteron Reseptor(PR) dan HER2) Test tumor ini adalah salah satu langkah penting untuk memutuskan pilihan terapi terbaik sesuai dengan tipe kanker anda.

Estrogen Reseptor dan Progesteron Reseptor

Estrogen dan Progesteron adalah dua jenis hormone pada wanita, yang memicu pertumbuhan sel payudara dan memegang peranan penting pada sebagian kanker payudara. Sel kanker memberi respon pada hormone ini melalui ER dan PR tersebut. Test pada tumor untuk melihat reseptor hormone dinamakan Reseptor Hormone Assay. Bila kanker tidak mempunya reseptor ini, dinamakan PR- atau ER-. Sebaliknya bila kanker mempunyai reseptor ini, maka dinamakan PR+ atau ER+. Kanker dapat juga hanya ER+ atau PR+. Pemeriksaan hormone reseptor ini sangat penting karena sel kanker yang mempunyai ER atau PR+ seringkali berhenti tumbuh bila pasien tersebut diberi obat yang menghambat efek estrogen dan progesterone obat yang menurunkan level estrogen di dalam tubuh. Obat- obat tersebut menurunkan kemungkinan kanker tumbuh kembali (rekuren) dan meningkatkan kesempatan hidup lebih lama. Sebagian besar penderita kanker payudara dengan ER+ atau PR+ akan diberi obat-obat tersebut sebagai bagian dari terapi. Bagaimanapun, obat-obat tersebut tidak akan efektif bila kanker tidak mempunyai reseptor ini. Pada semua penderita kanker payudara, kecuali Karsinoma in Situ Lobular, harus dilakukan test hormone ini.

HER2

HER2 adalah suatu protein yang merangsang pertumbuhan kanker payudara. Sekitar 15-20% kanker payudara memiliki protein ini. Kanker payudara dengan HER2 + mempunyai kecenderungan untuk tumbuh dan berkembang lebih cepat daripada kanker payudara dengan HER2 -. Trastuzumab dan Lapatinib adalah dua jenis pengobatan yang ada, khusus untuk tumor dengan target HER2+. Penelitian terakhir menunjukkan bila transtuzumab diberikan setelah operasi pada kanker dengan HER2+, menurunkan resiko rekurensi, pada tumor dengan diameter lebih besar dari 1 cm atau pada kanker yang menyebar ke kelenjar limfe. Penelitian lain pada wanita dengan kanker payudara yang sedah lanjut, menunjukkan bahwa Lapitinib efektif dalam menghambat pertumbuhan tumor dengan HER2+ setelah Trastuzumab berhenti bekerja.