Anda di halaman 1dari 30

Kejang Demam yang Terjadi pada Anak Citra P.D.

C 102010307 E6 23 april 2011 Universitas Krida Wacana Alamat korespondensi: Citracahya91@yahoo.com Fakultas Kedokteran Universitas Krida Wacana Jl . Terusan arjuna no.6 Jakarta Barat 11510

PENDAHULUAN Anak adalah anugrah terbesar yang dimiliki para orang tua. Tidak semua pasang suami isti bisa memiliki keturunan. Maka dari semua orang tua sangat menjaga anaknya baik dari hal yang berbahaya bagi dirinya, memberikan pendidikan dan pengetahuan yang baik dan menjaga anaknya agar tidak terkena suatu penyakit. Semua orang tua sangat menjaga anaknya agar tidak sakit apalagi kejang. Kejang pada anak bayi dan balita biasanya terjadi pada golongan anak umur 6 bulan sampai 6 tahun. Hampir dari 3% dari anak yang berumur 5 tahun pernah menderita kejang demam. Kejang demam lebih sering didapatkan pada laki-laki dari pada perempuan. Hal tersebut disebabkan karena pad wanita didaptkan maturasi serebal yang lebi cepat dibandingkan laki-laki.(ME.Sumijati,200:72-73) Pada anak yang berusia 5 bulan sampai 6 tahun seringkali mengalami demam. Demam yang terjadi pada anak bisa karena lemahnya daya tahan tubuh mereka akan virus juga bisa karena perubahan suhu yang terlalu cepat. Pada sebagian anak yang tidak mempunyai daya tahan tubuh yang baik maka akan bereaksi dengan mengalami demam. Jika yang terjadi hanya demam saja barangkali tidak terlalu merisaukan orang tua akan tetapi jika pada demam itu disertai dengan kejang, hal tersebut bisa menimbulkan permasalahan serius. Kejang bisa diartikan
1|Page

sebagai reaksi berlebihan ketika mengalami demam. Reaksi berlebihan yang dimaksud adalah gerakan berlebihan pada lengan dan kakinya. Di sekujur tubuhnya juga bisa mengalami kekauan yang luar biasa. Bahkan pada sebagian anak yang mengalami kejang, bisa hilang kesadarannya. Oleh karena itu untuk bisa sedini mungkin menangani kejang demamn pada anak, maka setidaknya kita harus mengenali beberapa jenis kejang demam. PEMBAHASAN Susunan saraf Sel dikelilingi oleh suatu membrane yang terdiri dari permukaan dalam, adalah lipid dan pembekuan luar ionic. Dalam keadaan normal, membrane sel neuron dapat dilalui dengan mudah oleh ion kaliom k+ dan sangat sulit dilalu oleh ion Natrium (N+) dan elektrolit lainnya, kecuali ion klorida (Cl-). Akibatnya konsentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi Na+ rendah, sedangkan diluar sel neuron terdapat keadaan sebaliknya. Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam dan di luar sel neuron terdapat keadaan sebaliknya. Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam dan di luar sel makanya terdapat perbedaan potensial yang disebut potensial membrane dari sel neuron. Untuk menjaga keseimbangan potensial membrane ini diperlukan energy dan bantuan enzim Na-K-ATPase yang terdapat pada permukaan sel. Meskipun susunan saraf merupakan satu kesatuan jaringan komunikasi, susunan saraf umumnya dibagi berdasarkan anatominya menjadi susunan saraf pusat dan susunan saraf tepi. Susunan saraf pusat terdiri atas otak dan medulla spinalis, yang dikelilingi dan dilindungi oleh tengkorak dan columna vertebralis dari tulang. Otak adalah pusat pengendalian dari susunan saraf. Selsel dalam otak, setelah menampung pesan-pesan, berespon terhadapnya. Kebanyakan pesan berjalan melalui medulla spinalis. Jadi susunan saraf memungkinkan anda berespon terhadap perubahan dalam lingkungan. Susunan saraf menyimpan informasi yang akan dipakai beberapa hari, bulan atau bahkan tahun kemudian. Susunan saraf juga mengatur gerakan volunter dan ivolunter tubuh. Susunan saraf menyebabkan otot berkontraksi dan relaksasi. Susunan saraf mampu melakukan proses ini karena adanya milyaran sel saraf di tubuh. Sel saraf itu mengirim sinyal ke sel lain dan ke otot.

2|Page

Sistem saraf tersusun menjadi susunan saraf pusat (SSP) yang terdiri dari otak dan korda spinalis dan system saraf tepi (SST), yang terdiri dari serat-serat saraf yang membawa informasi antara SSP dan bagian tubuh lain (perifer) . SST kemudian dibagi lagi menjadi divisi aferen dan eferen. Divisi aferen (afferent berarti membawa ke).membawa informasi ke SSP, memberitahu SSP mengenai lingkungan eksternal dan aktivitas-aktivitas internal yang diatur SSP. Instruksi dari SSP disalurkan melalui divisi eferen ( efferent berarti membawa dari ) ke organ efektor otot atau kelenjar yang melaksanakan perintah untuk menimbulkan efek yang di inginkan. System saraf eferen dibagi menjadi system saraf somatic, yang terdiri dari serat-serat neuron motorik yang mempersarafi otot-otot rangka, dan serat-serat system saraf otonom, yang mempersarafi otot polos, otot jantung, dan kelenjar. System yang terakhir dibagi lagi menjadi system saraf simpatis dan system saraf parasimpatis, keduanya mempersarafi sebagian besar organ yang dipersarafi oleh system otonom.1 System saraf otonom Sistem saraf otonom ( autonomic nervous system, ANS) menyediakan jalur eferen untuk control involunter pada sebagaian besar organ tidak termasuk control motorik otot rangka (bab 50 & 51). ANS memberikan lengan efektor untuk refleks-refleks homeostatic (misalnya control tekanan darah), dan memungkinkan integrasi dan modulasi fungsi melalui mekanisme sentral di otak dalam menstimulus lingkungan dan emosi (misalnya berolahraga, termoregulasi, melawan atau lari).2 ANS dibagi menjadi system saraf simpatis dan system saraf parasimpatis. Keduanya mengandung neuron praganglion yang berasal dari system saraf pusat yang bersinaps dengan neuron pascaganglion tidak bermielin yang terletak di ganglia perifer, neuron pascaganglion mempersarafi organ atau jaringan target. System neuron praganglion simpatis maupun parasimpatis melepaskan asetilkolin di sinaps, yang bekerja pada reseptor nikotinik kolinergik diserabut pascaganglion. Neurotransmitter dan reseptor pascaganglion bergantung pada system dan organnya. Ganglia parasimpatis perifer umumnya terletak dekat atau di dalam rongga target, sedangkan ganglia simpatis sebagian besar terletak didua rantai simpatis di kedua sisi kolumna vertebralis (ganglia vertebralis), atau terletak di ganglia pravertebralis difusi pada fleksus visceral abdomen dan pelvis. Sehingga, ukuran neuron pascaganglion simpatis biasanya panjang,

3|Page

sedangkan ukuran neuron parasimpatis biasanya pendek. Sebagai pengecualian adalah persarafan simpatis di kelenjar adrenal, dimana neuron praganglion secara langsung mempersarafi medulla adrenal.2 System simpatis lebih pervasive (menyebar) dibandingkan system parasimpatis, jika suatu organ mendapat persarafan simpatis dan parasimpatis, seringkali kerjanya saling anatagonis. Akan tetapi, terdapat koordinasi sentral pada tingkat yang lebih tinggi, sehingga peningkatan aktivitas simpatis suatu organ biasanya disertai penurunan aktivitas parasimpatis. Aktivitas simpatis dan parasimpatis dapat memodulasi fungsi yang berbeda di organ yang sama (misalnya organ genital). Dalam terminology bebas, system simpatis bisa dikatakan mengoordinasi respon lari atau melawan, dan system parasimpatis mengoordinasi respon istirahat dan cerna.2 System simpatis Neuron praganglion simpatis berasal dari kornu lateralis medulla spinalis pada segmen T1-L2, dan keluar dari medulla spinalis melalui kornu ventralis menuju ganglia paravertebralis atau pravertebralis. Neuron pascaganglion simpatis berakhir di organ efektor, tempat neuron melepaskan noradrenalin (norepinefrin). Noradrenalin dan adrenalin (epinefrin) yang di lepaskan oleh medulla adrenal merupakan zat katekolamin, dan mengaktivasi reseptor adregenik. Yang terhubung ke mekanisme efektor selular melalui protein G. Terdapat dua kelas utama reseptor adregenik, yaitu resptor alfa dan beta, yang kemudian dibagi lagi menjadi beberapa subtype (misalnya alfa1,alfa2,beta1,beta2). Noradrenalin dan adrenalin sama-sama poten pada reseptor alfa1, yang terhubung dengan protein Gq dan umumnya terkait dengan kontraksi otot polos (misalnya otot polos pembuluh darah). Reseptor alfa2 terhubung dengan protein Gi/o dan sering kali bersifat inhibisi. Semua reseptor beta terhubung dengan protein Gs dan mengaktivasi adenilat siklase untuk membuat adenosine monofosfat siklik (cyclic adenosine monophosphate, cAMP). Noradrenalin lebih poten pada reseptor beta1 dan adrenalin lebih poten pada resptor beta2. Aktivasi reseptor beta menghasilkan relaksasi otot polos (misalnya otot polos pembunuh darah, jalan napas), tetapi meningkatkan denyut dan kekuatan jantung. Beberapa neuron simpatis melepaskan asetilkolin pada efektor (misalnya kelenjar keringat), sehingga dikenal sebagai neuron kolergenik simpatis. 2

4|Page

System parasimpatis Neuron praganglion parasimpatis berasal dari batang otak, tempat asal saraf kranialis ke III, VII,IX,dan X (vagus), dan juga dari medulla spinalis segmen sacral kedua dan ketiga. Neuron pasacaganglion parasimpatis melepaskan asetilkolin, yang bekerja pada reseptor muskarinik koligernik. Aktivasi parasimpatis menyebabkan sekresi pada banyak kelenjar (misalnya kelenjar mukosa bronkus), dan juga kontraksi (misalnya detrusor kandung kemih) atau relaksasi (misalnya sfingter interna kandung kemih) otot polos, walaupun hanya sedikit efeknya pada pembuluh darah. Pengecualian yang harus di catat adalah vasodilatasi penis dan klitoris yang kemudian menyebabkan ereksi.2

Gambar

1.1.

system

syaraf

simpati

dan

syaraf

parasimpatik.

http://www.google.co.id/imgres?imgurl .

5|Page

Definisi Kejang Convulsion kunvulsi, kejang. Kontraksi involunter otot-otot volunter. Serangan kejang merupakan gejala sebagian kelainan neurologi; gejala ini tidak sendirinya merupakan suatu kesatuan penyakit. Clonik c. konvulsi klonik. Konvulsi yang ditandai oleh kontraksi dan relaksasi otot yang silih berganti. Febrile c. kejang demam. Konvulsi yang hanya terjadi pada anak-anak yang berusian 6 bulan hingga 5 tahun dan menyertai keadaan demam dengan suhu tubuh 400C atau lebih. Tonic c.konvulsi tonik. Kontraksi otot yang berlagsung lama, seperti yang terjadi akibat sernagan epilepsy.3 Suhu tubuh yang normal adalah 370C. Jika suhu tubuh di buah hati naik jauh diatas normal (38,50C), dapat terjadi step. Penyakit ini sering ditemukan terutama pada anak usia enam bulan sampai 3 tahun, step terjadi ketika suhu tubuh meningkat terlalu cepat sedangkan mekanisme pengaturan suhu tubuh di otak belum sempurna. Gejala tubunya mendadak kaku, matanya tak berkedip, tangan dan kakinya menyentak-nyentak kejang. Tubuhnya bisa membiru dan pingsan selama beberapa menit.4 Kejang demam jarang terjadi pada epilepsy, dan kejang demam ini secara spontan sembuh tanpa terapi. Kejang demam ini merupakan gangguan kejang yang paling lazim pada masa anak, dengan prognosis yang sangat baik secara seragam. Namun, kejang demam dapat menandakan penyakit infeksi akut serius mendasari seperti sepsis atau meningitis bacteria sehingga setiap anak harus diperiksa secara cermat dan secara tepat diamati mengenai penyebab demam yang menyertai. Kejang demam adalah tergantung umur dan jarang sebelum umur 9 bulan dan susah umur 5tahun. Puncak umur mulainya adalah sekitar 14-18 bulan, dan insiden mendekati 3-4% anak kecil. Ada riwayat kejang demam keluarga yang kuat pada saudara kandungan dan orangtua, menunjukan kecenderungan genetic. Penelitian binatang menunjuk bawha vasopressin arginin dapat merupakan mediator penting pada pathogenesis kejang akibat hipertemia. Kejang dikelompokkan menjadi 2 golongan besar, tergantung pada sumber lepas muatan listrik : kejang fokal (parsial) dan kejang umum (sentrensefalik). Pada kejang fokal lepas muatan listrik dimulai dari daerah focus kejang di otak unilateral: lobus temporalis, lobus frontalis, korteks motorik, dll. Jadi kejang pada penderita dimulai dengan kejang lengan kanan disertai
6|Page

aura berupa perasaan seperti mengecap permen merupakan kejang parsial, menandakan adanya lesi pada lobus frontalis atau lobus temporalis. Kejang parsial yang disertai gangguan kesadaran dikenal sebagai kejang parsial komplek, dan harus dibedakan dengan kejang parsial sederhana yag tidak disertai gangguan kesadaran.5 Perlu diketahui bahwa walaupun aktivitas tertentu pada akhirnya dikaitkan dengan daerah tertentu diotak, tidak ada bagian otak yang berfungsi sendirian. Setiap bagian bergantung pada hubungan kompleks di antara banyak bagian lain baik untuk pesan-pesan yang masuk maupun keluar. Dengan mengingat hal ini, marilah kita sekarang membahas lokasi-lokasi derah fungsional utama otak. Patokan-patokan anatomis yang digunakan dalam pemetaan korteks adalah lipatan-lipatan dalam tertentu yang membagi setiap belahan korteks menjadi empat lobus utama; lobus-lobus oksipitalis, temporalis, parietalis, dan fontalis. Lihatlah peta fungsional dasar untuk kortesk di gambar selama pembahasan berikut mengenai aktivitas utama yang berkaitan dengan berbagai lobus-lobus ini.

Gambar. 1.3. bagian otak manusia, www.google.com Lobus oksipitalis dan temporalis. Lobus oksipitalis, yang terletak disebelah posterior (di kepala belakang), bertanggung jawab untuk pengolahan awal masukan penglihatan. Sensasi suara mula-mula diterima oleh lobus temporalis, yang terletak disebelah lateral (di sisi kepala).1 Lobus parietalis. Lobus parietalais dan lobus frontalis, yang terletak di puncak kepala, dipisahkan oleh sebuah lipatan dalam, sulkus sentralis, yang berjalan ke bawah di bagian tengah permukaan lateral tiap-tiap hemisfer. Lobus parietalis terletak dibelakang sulkus sentralis pada kedua sisi, dan lobus frontalis terletak di depan sulkus.1

7|Page

Lobus parietalis. Terutama bertanggung jawab untuk menerima dan mengolah nasukan sensorik seperti sentuhan, tekanan, panas, dingin, dan nyeri dari permukaan tubuh. Sensasisensasi ini secara kolektif dikenal sebagai sensasi somestetik (somesthetic berarti perasaan tubuh). Lobus parietalis juga merasakan kesadaran mengenai posisi tubuh, suatu fenomena yang disebut sebagai propriosepsi. Korteks somatosensorik, tempat pengolahan kortikalawal masukan somestetik dan proprioseptor ini, terletak dibagian depan lobus parietalis tepat dibelakang sulkus sentralis. Setiap daerah di dalam korteks somatosensorik menerima masukan sensorik dari derah tertentu di tubuh. Distribusi pengolahan sensorik korteks ini diperlihatkan dalam gambar. Perhatikan bahwa pada apa yang disebut sebagai homunculus sensorik (homunculus berarti manusia kecil) ini, tubuh digambarkan terbalik (dari bawah ke aats) di korteks somatosensorik dan, yang lebih penting lagi, bagian-bagian tubuh yang berbeda tidak direpresentasikan setara. Ukuran tiap-tiap bagian tubuh pada homunkulus ini mencerminkan proporsi relatifkorteks somatosensorik yang diabdikan untuk bagian tersebut. Ukutan yang berlebihan dari wajah, lidah, tangan, dan genitalis mencerminkan persepsi sensorik tingkat tinggi berkaitan dengan bagian-bagian tubuh tersebut.1 Koteks somatosensorik tiap-tiap sisi otak sebagian besar menerima masukan sensorik dari sisi tubuh yang berlawanan, karena sebagian besar jalur asendens membawa informasi sensorik naik dari korda spinalis menyilang ke sisi yang berlawanan sebelum akhirnya berakhi di korteks. Dengan demikian, kerusakan belahan kiri korteks somatosensorik pada sisi kanan tubuh, sementara kehilangan sensorik pada sisi kiri berkaitan dengan kerusakan belahan kanan korteks.1 Kesadaran sederhana mengenai sentuhan, tekanan, atau suhu dideteksi oleh thalamus, tingkat otak yang lebih rendah, tetapi korteks somatosensorik berfungsi lebih jauh dari pada sekedar pengenalan murni sensasi menjadi persepsi sensorik yang lebih utuh. Thalamus membuat anda sadar bahwa sesuatu yang panas versus sesuatu yang dingin sedang menyentuh badan anda tetapi tidak memberitahu di mana atau seberapa besar intensitasnya.korteks somatosensorik menentukan lokasi sumber masukan sensorik dan merasakan tingkat intensitas rangsangan. Korteks ini juga mampu melakukan diskriminasi spatial (ruang), sehingga korteks mampu mengetahui bentuk suatu benda yang sedang di pegang dan dapat membedakan perbedaan ringan antara benda-benda serupa yang berkontrak dengan kulit.1

8|Page

Korteks somatosensorik, pada gilirannya, memproyeksikan masukan sensorik ini melalui serat-serat substansia alba ke daerha-daerah sensorik yang lebih tinggi di dekatnya untuk elaborasi, analisis, dan integrasi lebih lanjut informasi sensorik tersebut. Daerah-daerah yang lebih tinggi ini penting untuk persepsi pola-pola kompleks stimulasi somatosensorik sebagai contoh apresiasi simultan mengenai tekstur , kepadatan, suhu, bentuk, posisi, dan letak suatu benda yang sedang anda pegang.1 Lobus frontalis. Lobus frontalis yang terletak di korteks bagian depan, bertanggung jawab terhadap tiga fungsi utama: (1) aktivitas motorik volunteer, (2) kemampuan berbicara, dan (3) elaborasi pikiran. Daerah di lobus frontalis belakangan tepat di depan sulkus sentralis dan dekat dengan korteks somatosensorik adalah korteks motorik primer. Daerah ini member kotrol volunteer atas gerakan yang dihasilakn otot-otot rangka. Seperti pada pengolahan sensorik, korteks motorik di tiap-tiap sisi otak terutama mengontrol otot di sisi tubuh yang berlawanan. Jaras-jaras saraf yang berasal dari korteks motorik hemisfer kiri menyebrang (menyilang) sebelum tururn ke korda spinalis untu berakhir di neutron-neutron motorik eferen mencetuskan kontraksi otot rangka di sisi kanan tubuh. Dengan demikian, kerusakan di korteks motorik di sisi kiri otak akan menimbulkan paralisis di sisi kanan tubuh dan demikian sebaliknya.1 Stimulasi daerah-daerah yang berlainan di korteks motorik primer juga menyebabkan timbulnya gerakan di bagian-bagian tubuh yang berbeda. Seperti homunculus sensorik untuk korteks somatosensorik, homunculus motorik yang melukiskan lokasi dan jumlah relative korteks motorik yang diabdikan sebagai keluaran ke otot-otot tiap-tiap bagian tubuh, juga terbalik dan mengalami distrosi. Jari tangan, ibu jari tangan, dan otot-otot lidah dan bibir, digambarkan secara berlebihan yang mencerminkan control motorik halus atas bagian-bagian tubuh ini. Bandingkan ini dengan seberapa kecil jaringan otak yang mengontrol badan, lengan,dan ekstremitas bawah, yang tidak mampu melakukan gerakan kompleks. Dengan demikian, luas representasidi korteks motorik sebanding dengan presisi dan kompleksitas keterampilan motorik yang diperlukan oleh bagian yang bersangkutan.1 Kejang diartikan sebagai suatu perubahan mendadak pada aktivitas elektrik korteks serebri yang secara klinis bermanifestasi dalam bentuk perubahan kesadaran atau gejala motorik,

9|Page

sensorik atau perilaku. Kejang menyeluruh terjadi dalam perjalanan penyakit medic utama yang menandakan terkenanya system saraf pusat oleh gangguan dan membutuhkan penilaian dan investigasi yang teliti. Kejang seperti ini dapat menyertai demam tinggi, hiponatremia, asidosis metabolic, efek penghentian alcohol atau obat, dan gagal ginjal atau hati, menunjukkan adanya ensefalopati metabolic tanpa membutuhkan perumusan penyakit neurologic lain. Penetuan bahwa ensefalopati metabolic mungkin bertanggung jawab adalah tergantung dokumentasi penyakit sistemik dan perhatian yang teliti terhadap pengecualian lesi insfeksius tambahan, lesi vaskuler atau neoplastik dalam system saraf.6 Kejang adalah perubahan fungsi otak mendadak dan sementara akibat dari aktifitas neuronal yang abnormal dan sebagai pelepasan listrik serebral yang berlebihan. Aktivitas ini bersifat dapat parsial atau vocal, berasal dari daerah spesifik korteks serebri, atau umum, melibatkan kedua hemisfer otak. Manifestasi jenis ini bervariasi, tergantung bagian otak yang terkena. Penyebab kejang mencakup factor-factor perinatal, malformasi otak ongenital, factor genetic, penyakit infeksi (ensefalitis, meningitis), penyakit demam, gangguan metabilisme, trauma, neoplasma, toksin, gangguan sirkulasi, dan penyakit degenerative susunan saraf. Kejang disebut idiopatik bila tidak dapat ditemukan penyebabnya. Kejang adalah gerakan otot tonik atau klorik yang involuntary yang merupakan serangan berkala, disebabkan oleh lepasnya muatan listrik neuron kortikal secara berlebihan. Kejang tidak secara otomatis berarti epilepsy. Cedera kepala yang berat, radang otak, radang selaput otak, gangguan elektrolit dalam darah, kadar gula darah yang terlalu tinggi, tumor otak, stroke, hipoksia, semuanya dapat menimbulkan kejang. Kecuali tetanus, histeri, hal-hal yang tadi, kelak dikemudian hari dapat menimbulkan epilepsy.6 Aliran arus ekstrasel yang berasal dari aktivitas listrik di dalam korteks serebrum dapat dideteksi dengan menempatkan elektroda-elektorda pencatatan dikulit kepala untuk menghasilkan catatan grafik yang dikenal sebagai elektroensefalogram atau EEG. Gelombang otak ini sebagian besar bukan disebabkan oleh potensial aksi, tetapi mencerminkan aktivitas potensial pascasinap kolektif sesaat ( yaitu, EPSP dan IPSP; lihath. 92*) di badan sel dan dendrite yang terletak pada lapisan-lapisan korteks dibawah elektroda pencatat.7

10 | P a g e

Aktivitas listrik selalu dapat dicatat dari otak yang hidup, bahkan selama keadaan tidur dan tidak sadar, tetapi bentuk-bentuk gelombang bervariasi bergantung pada derajat aktivitas korteks serebrum. Bentuk-bentuk gelombang sering tampak ireguler, tetapi kadang-kadang dapat diamati adanya pola-pola yang berbeda berdasarkan amplutido dan frekuensi gelombang. Salah satu contoh dramatis diperlihatkan dalam dengan bentuk gelombang EEG yang tercatat di atas korteks occipitalis (penglihatan) berubah secara mencolok sebagai respon terhadap tindakan sederhana berupa pembukaan dan penutupan mata.7 Tidak peduli apa yang anda kerjakan, neuron dalan otak anda secara tetap meneruskan dan menerima implus. Perubahan dalam aktivitas listrik otak dapat direkam sebagai gelombang otak. Gelombang otak dapat direkam oleh alat khusus yang dinamakan elektroensefalograf atau EEG. Sebuah EEG memberi rekaman visual tentang impuls otak. Bila sedang berfikir keras, gelombang itu lebih sering muncul dan tidak banyak bervariasi tingginya. Selama tidur, gelombang itu timbul lebih lambat namun sangat bervariasi tingginya. Pada gangguan otak jenis tertentu gelombang itu menunjukan perubahan. Aktivitas otak anda bervariasi, tergantung jenis aktivitas yang sedang anda lakukan.EEG memiliki tiga kegunaan utama: 1. EEG memperoleh kegunaan lain yaitu dalam penentuan kematian otak secara legal. Walaupun seseorang mungkin telah berhenti bernafas dan jantungnya mungkin berhenti memompa darah, namun aktifitas pernafasan dan sirkulasi sering dapat dipulihkan dan dipertahankan apabila tindakan-tindakan resuitasi dilakukan segera mungkin. Akan tetapi karena kerentanan otak terhadap kekurangan O2, kerusakan otak irevesibel mungkin telah terjadi sebelum fungsi jantung dan paru dipulihkan, sehingga menghasilkan suatu situasi paradox, yaitu otak yang mati di dalam tubuh yang hidup. Terdapat dampak medis, legal, dan social yang penting dalam menentukan apakah seorang pasien koma dipertahankan oleh pernapasa buatan dan tindakan-tindakan suportif lain hidup atau mati. Kebutuhan akan organ-organ hidup untuk pembedahan transplantasi modern menyebabkan ketepatan waktu penentuan hidup atau mati itu sangatlah penting. Para dokter, pengacara, dan masyarakat umum telah menerima gagasan bahwa kematian otak ---- yaitu, tidak berfungsinya otak dengan ketidak mungkinan untuk pulih merupakan penentu kematian pada keadaan-keadaan tersebut. Indikasi kematian otak yang paling banyak diterima adalah senyap elektroserebrum (electrocerebral silence)EEG yang pada dasarnya datar.
11 | P a g e

Walaupun demikian, hal ini harus disertai oleh criteria ketat lainnya, misalnya tidak adanya refleks mata untuk mencegah kesalahan diagnosis pada individu dengan EEG datar yang disebabkan oleh hal-hal yang dapat dipulihkan, misalnya akibat intoksikasi obat-obat tertentu.1 Klasifikasi kejang Gambar 1.1. Klasifikasi kejang disertai demam pada anak. http://doctorology.net/?p=3
kejang demam kejang demam sederhana

kejang demam kompleks kejang dengan demam infeksi intrakranial meningis/ensefalis bukan kejang demam

gangguan elektrolit berat yang disertai demam

Kejang pada anak

epilepsi (kejang tanpa demam dan berulang )

serangan epilepsi yang disertai demam

hipo/hiperglikemia

penyakit dengan demam dan gerakan mirip kejang

kejang tanpa demam

gangguan elektrolit tanpa demam

keracunan

trauma

hipoksia

Serangan parsial (kejangfokal). Timbulnya manifestasi motorik atau sensorik fokal memberikan gambaran klinis yang memberitahukan lokasi lesi serebral. Devisiasi mata dan kepala pada satu sisi (kejang aversif) biasanya menunjukkan focus iritiatif pada daerah prefrontal yang berlawanan. Kejang jacksonian mulai sebagai gerakan klonik pada satu bagian tubuh, seringkali ibu jari, sudut mulut, atau ibu jari kaki, dan menyebar pada kelompok otot yang berdekatan setelah beberapa detik atau menit. Kejang dapat berlanjut mengenai seluruh sisi atau menjadi menyeluruh dengan disertai hilangnya kesadaran. Kejang jacksonian hampir selalu disertai dengan EEG interikal yang abnormal.
12 | P a g e

Pada tahun 1981, The International League Against Epilepsy (ILAE) membuat suatu system klasifikasi international kejang epileptic yang membagi kejang menjadi dua kelompok besar yaitu kejang parsial (fokal atau local) dan kejang generalisata. Kejang parsial kemudian dibagi lagi menjadi Parsial Sederhana, Parsial Komplek, dan Parsial yang menjadi Generalisata sekunder. Adapun yang termasuk kejang generalisata yaitu Lena (Tipikal atau atipikal), mioklonik, klonik, tonik, tonik-klonik, dan kejang atomic. 1. Kejang parsial (partial-onset seizure), kejang parsial bermula dari area focus tertentu korteks serebri.9 2. Kejang parsial yang kompleks (kejang psikomotor atau lobus temporalis) tipe berbeda dengan kejang parsial sederhana. Serangan ini dapat dimulai dengan gejala aura yang timbul dari pelepasan muatan listrik dalam bagian autonom, visceral dan olfaktorius lobus temporalis serta system limbic dan acapkali berkaitan dengan gerakan perilaku atau gerakan motorik yang kompleks yang membuat pasien mengalami amnesia setelah serangan berlalu. Pengalaman subjektif aura mencakup halusinasi (olfaktorius, gustatorius, visual atau auditorius), ilusi (distrosi spasial, shrinkage atau angulasi), penyimpangan kognitif dan perubahan afektif. Kejang dapat berakhir hanya dengan komponen subjektif atau dapat berlanjut menjadi fase motorik, yang seringkali terjadi dengan gerakan motorik berulang seperti mengecap, menelan, menanggalkan pakaian dan pembicaraan tidak menentu.6 3. Kejang generalisata (generalisata-onset seizure), kejang generalisata berawal dari kedua hemisfer serebri. Bila bermula dari thalamus dan struktur subkortikal lainnya. Pada EEG ditemukan kelainan secara serentak pada kedua hemisfer. Kejang generalisata memberikan manifestasi bilateral pad tubuh dan ada gejalan penurunan kesadaran, kejang generalisata diklasifikasikan menjadi atomic, tonik, klonik, tonik klonik atau absence sizure. Beberapa penyakit yang memberikan kejang generalisata antara lain : Benign Neonatal Convulsion, Benign Myoclomic Epilepsy, Childhood Absence Epilepsy, Juvenille Absence Epilepsy, Juvenille Myoclonic Epilepsy. Kejang Tonik adalah kekauan kontraktur pad otot-otot, termasuk otot pernafasan. Kejang klonik berupa gemetar yang bersifat lebih lama. Jika keduanya muncul secara bersamaan makan disebut kejang tonik klonik (kejang Gran mal). Sebagian kejang yang lain sulit dikelompokkan pada salah

13 | P a g e

satunya dimasukkan sebagai kejang tidak terklasifikasi (Unclassified Seizure). Cara pengelompokan ini masih diterima secara luas.9 Gambar 1.2. jenis-jenis kejang9
kejang parsial kompleks kejang parsial kejang parsial sederhana jenis kejang kejang absens kejang umum kejang mioklonik kejangang antonik

Mekanisme kejang Cairan serebrospinalis dibentuk terutama oleh plekus koroideus yang ditemukan didaerah-daerah tertentu rongga ventrikel otak. Pleksus koroideus terdiri dari massa jaringan pia meter seperti kembang kol yang kaya akan pembuluh darah yang masuk ke dalam kantungkantung yang dibentuk oleh sel-sel ependimal. Setelah terbentuk, CSS mengalir melalui empat ventrikel yang saling berhubungan di dalam bagian interior otak dan kanalis sentralis korda spinalis yang sempit, yang berhubungan dengan ventrikel terakhir. Cairan serebrospinalis keluar melalui lubang-lubang kecil dari ventrikel keempat di dasar otak memasuki ruang subaraknoid dan akhirnya mengalir diantara lapisan-lapisan menings di seluruh permukaan otak dan korda spinalis. Sewaktu mencapai bagian atas otak, SSP direabsorpsi dari ruang subaraknoid ke dalam darah vena melalui vilus araknoidalis.1 Aliran CSS melalui system ini dipermudah oleh factor-faktor sirkulasi dan postural yang menimbulkan tekanan SSP sebesar 10 mmHg. Penurunan tekanan akibat pengeluaran hanya beberapa milliliter (ml) CSS selama pungsi lumbal untuk analisis laboratorium dapat menimbulkan nyeri kepala hebat.1 Melalui proses pembentukan, sirkulasi, dan reabsorpsi yang terus menerus, seluruh volume CSS yang sekitar 125 sampai 150 ml digantikan lebih dari tiga kali sehari. Hidrosefalus (air di dalam otak) terjadi apabila salah satu dari proses-proses tersebut terganggu sehingga
14 | P a g e

penimbunan CSS yang berlebihan. Peningkatan tekanan CS yang terjadi dapat menimbulkan kerusakan otak dan menyebabkan retardasi mental apabila tidak terapi. Terapi berupa pembuatan pirau (shunt) secara bedah untuk mengalirkan kelebihan CSS ke vena lain ditubuh.1 Densitas CSS hampir serupa dengan densitas otak itu sendiri, sehingga pada dasarnya otak terapung didalam lingkungan cair yang khusus ini . fungsi utama CSS adalah sebagai cairan peredam getaran (shock-absorbing atau bantalan) untuk mencegah otak membentur bagian dalam tengkorak sewaktu kepala mendapat gerakan yang mendadak dan menggetarkan.1 Selain melindungi otak yang lembut tersebut dari trauma mekanis, CSS melaksanakan peran penting yang berkaitan dengan pertukaran bahan antara cairan tubuh dan otak. Di semua jaringan tubuh, ruang antara sel-sel diisi oleh sejenis cairan ekstrasel yang dikenal sebagai cairan iterstisium. Yang berkontak langsung dengan neuron dan sel-sel glia adalah cairan intestisium otak dan bukan plasma darah atau CSS. Karena cairan interstisium otak secara langsung membasahi sel-sel saraf, komposisinya sangat penting. Komposisi cairan interstisium otak lebih di pengaruhi oleh perubahan dalam plasma darah karena antara ciran interstisium otak lebih dipengaruhi oleh perubahan dalam komposisi CSS dari pada oleh perubahan dalam plasma darah karena antara cairan interstisium otak dan CSS terjadi pertukaran zat yang cukup bebas sedangkan antara cairan iterstisium otak dan darah hanya terjadi pertukaran yang terbatas. Dengan demikian komposisi CSS perlu diatur dalam rentang yang sempit.1 Cairan serebrospinalis dibentuk memalui mekanisme transportasi selektif melintasi membrane pleksus koroideus. Komposisi CSS berbeda dari komposisi plasma. Sebagai contoh, CSS memiliki kadak K+ lebih rendah dari NA+ lebih tinggi, sehingga CSS merupakan lingkungan yang ideal untuk perpindahan ion-ion tersebu menurut garadien konsentrasi suatu proses yang penting untuk hantaran implus saraf.1 Tiap neuron yang aktif melepaskan muatan listriknya. Fenomena elektrik ini adalah wajar. Manifestasi biologiknya ialah merupaka gerak otot atau suatu modalitas sensorik, tergantung dari neuron kortikal mana yang melepaskan muatan listriknya. Bilamana neuron somatosensorik yang melepaskan muatannya, timbulah perasaan protopatik atau propireseptif. Demikian pula akan timbul perasaan panca indera apabila neuron daerah korteks pancaindera melepaskan muatan listriknya.7 Secara fisiologi, suatu kejang merupakan akibat dari serangan muatan listrik terhadap neuron yang rentan didaerah focus epileeptogenik. Diketahui bawha neuron-neuron ini sangat
15 | P a g e

peka dan untuk alasan yang belum jelas tetap berada dalam keadaan terdepolarisasi. Neuronneuron disekitar focus epilogenetik bersifat GABA-nergik dan hiperpolarisasi, yang menghambat neuron epileptogenik. Pada suatu saat ketika neuron-neuron epileptogenik melebihi pengaruh penghambat di sekitarnya, menyebar ke struktur korteks sekitarnya dan kemudian ke subkortikal dan struktur batang otak.7 Dalam keadaan fisiologik neuron melepaskan muatan listriknya oleh karena potensial membrannya direndahkan oleh potensial postsinaptik yang tiba pada dendrite. Pada keadaan patologik gayang yang bersifat mekanik atau toksik dapat menurunkan potensial membrane neuron, sehingga neuron melepaskan muatan listriknya dan terjadi kejang.6 Meskipun mekanisme kejang yang tepat belum diketahui, tampak ada beberapa factor fisiologi yang menyebabkan perkembangan kejang. Untuk memulai kejang, harus ada kelompok neuron yang mampu menimbulkan ledakan discharge (rabas) yang berarti dan system hamabatan GABA-nergik. Perjalanan discharge (rabas) kejang akhirnya tergantung pada eksitasi sinaps glutamaterik. Bukti baru-baru ini menunjukkan bahwa eksitasi neurotransmitter asam amini (glutamate,aspartat) dapat memainkan peran dalam menghasilkan eksitasi neuron dengan bekerja pad reseptor sel tertentu. Diketahui bahwa kejang dapat berasal dari derah kematian neuron dan bahwa daerah otak ini dapat meningkatkan perkembangan sinaps hipereksitable baru yang dapat menimbulkan kejang. Misalnya, lesi pada lobus temporalis (termasuk glioma tumbuh lambat, hematoma, gliosis dan malformasi anteriovenosus) menyebabkan kejang. Dan bila jaringan abnormal diambil cara bedah, kejang mungkin berhenti. Lebih lanjut konvulsi dapat ditimbulkan pada binatang percobaan dengan fenomena membangkitkan. Pada model ini, stimulasi otak subkonvulsif menyeluruh. Pembangkitan dapat menyebabkan terjadinya epilepsy pada manusia pascacedera otak. Pada manusia telah diduga bahwa aktivitas kejang berulang dari lobus temporalis normal kontralateral dengan pemindahan stimulus melalui korpus kollusum.10

Struktur otak secara makroskopik


Sekitar 90% sel-sel didalam SSP bukanlah neuron tetapi sel glia dan sel neuroglia. Walaupun jumlahnya besar, sel glia hanya menempati separuh dari volume otak karena sel-sel ini tidak memiliki cabang-cabang ekstensif seperti neuron. Tidak seperti neuron, sel glia tidak memulai atau mengahantarkan impuls saraf. Namun, sel-sel ini penting untuk viabilitas SSP. Sejak penemuan mereka pada abad kesembilan belas, sel-sel glian hanya dianggap sebagai adukan semen pasif yang secara fisik menunjang neuron yang memiliki fungsi penting. Namun,
16 | P a g e

selama decade terakhir, berbagai peran penting dari sel-sel yang dinamis ini mulai terkuak. Selsel glia berfungsi sebagai jaringan ikat SSP dan dengan demikian membantu menunjang neuron baik secara fisik maupun metabolic. Terdapat empat jenis sel glia di SSP yaitu atrosit, oligodendroglia, sel ependim, dan microglia.1 Kejang dikelompokkan menjadi 2 golongan besar, tergantung pada sumber lepas muatan listrik : kejang fokal (parsial) dan kejang umum (sentrensefalik). Pada kejang fokal lepas muatan listrik dimulai dari daerah focus kejang di otak unilateral: lobus temporalis, lobus frontalis, korteks motorik, dll. Jadi kejang pada penderita dimulai dengan kejang lengan kanan disertai aura berupa perasaan seperti mengecap permen merupakan kejang parsial, menandakan adanya lesi pada lobus frontalis atau lobus temporalis. Kejang parsial yang disertai gangguan kesadaran dikenal sebagai kejang parsial komplek, dan harus dibedakan dengan kejang parsial sederhana yag tidak disertai gangguan kesadaran.5 Gambar 1.3. korteks cerebrum. http://www.google.co.id/imglanding?q=korteks+cerebrum

A. Hemispherium cerebri Hemispherium cerebri satu sama lain merupakan bayangan cermin, terdiri atas lipatan cortex (subtansia gricea/pallium) dengan substansia alba di bawahnya dan kumpulan neuronneuron profunda yang disebut nuclei (ganglia) basales. Luas cortex cerebri kurang lebih 2200cm2, namun hanya sepertiganya yang terdapat pada permukaan. Sisanya tersembunyi di dalam liatan sulcus. Tebal cortex cerebri bervariasi anatar 4,5 mm sampai 1,5 mm. Kedua hemispherium cerebri terpisah satu sama lain oleh fissure longitudinal cerebriyang ditempati oleh falx cerebri.

17 | P a g e

Pada daerah frontal dan occipital pemisahan ini sempurna tetapi di bagikan central fissure longitudinalis hanya sampai ke serabut comissura interhemispherik. Serabut comimisura interhemispherik yang terbesar disebut corpus callosum. Masing-masing hemispherium cerebri terbagi menjadi lobus-lobus utama oleh berbagai sulcus. Lobus-lobus utama oleh berbagai sulcus. Lobus-lobus utama tersebut diberi nama sesuai dengan tulang calvarium yang menutupinya. Subtansia gricea cortex cerebri menusia sangat berlipat-lipat. Satu sisi lipatan cortex disebut gyrus sedangkan parit yang memisahkan gyrus cerebri disebut sulcus cerebri. Cerebrum dibagi menjadi enam lobi yaitu: a) Lobus frontalis b) Lobus temporalis c) Lobus parietalis d) Lobus occipitalis e) Lobus insula f) Lobus limbicus *catatan lobus insularis dan lobus limbicus bukan merupakan lobus dalam arti yang sebenarnya. Lobus limbicus terdapat pada aspectus medialis hemispherium cerebri, yang terdiri dari sebagian lobus frontalis, sebagian lobus parietalis, sebagian lobus occipitalis dan sebagian lobus temporalis yang mengililingi bagian central truncus encephali.

B. Lobus frontalis Merupakan lobus terbesar, kurang lebih sepertiga dari permukaan hemispherium cerebri. Lobus frontalis membentangdari sulcus centralis sampai polus frontalis dengan di sebelah inferolateral dibatasi oleh sulcus lateralis cerebri. Permukaan konveksitasnya terdiri atas empat lipatan utama: 1. Gyrus precentralis : gyrus ini berjalan sejajar sulcus centralis. Batas dari gyrus precentralis adalah sulcus precentralis. Sulcus ini membentang sampai facies medialis hemispherium cerebri. Daerah di sebelah rostral area motorik primer disebut area premotorik atau prefrontal.
18 | P a g e

2. Gyrus frontalis superior : membentang horizontal Gyrus frontalis medium : sering terbagi dua oleh sulcus yang dangkal 3. Gyrus frontalis medium : membentang horinzontal 4. Gyrus frontalis inferior : membentang horizontal Gyrus frontalis inferior terbagi oleh ramus ascendens sulcus lateralis menjadi 3 bagian yaitu : a. Pars orbiltalis b. Pars triangularis c. Pars opercularis Pars triangularis dan opercularis pad hemispherium yang dominan (biasanya sisi kiri pada orang tidak kidal) disebut area biacara brocca yang berperan dalam mekanisme motorik untuk formulasi bicara. C. Lobus temporalis Lobus ini terletak di sebelah ventral sulcus lateralis dan pada permukaan lateralnya terdapat tiga gyri yang membentang miring yaitu: 1. Gyrus temporalis superior 2. Gyrus temporalis medius 3. Gyrus temporalis inferior Pada sisi dalam dari sulcus lateralis terdapat beberapa lipatan pandek miring disebut gyrus temporales transversal dari heschl yang merupakan cortex auditoris (pendengaran) primer. Facies inferior lobus temporalis terletak pada fossa crania media. Pada daerah ini terdapat gyrus temporalis inferior, gyrus occipitotemporalis membentuk lobus pryformis yang merupakan cortex olfactoris primer. SELAPUT OTAK atau MENINGES Serabut saraf yang bergerak ked an dari berbagai bagian otak dikelompokan menjadi berkas-berkas aluran tertentu dalam sumsum tulang belakang. Pia mater yang menyelipkan dirinya ke dalam celah yang ada pada otak dan sumsum tulang belakang, dan sebagai akibat dari kontak yang sangat erat tadi menyediakan darah untuk struktur-struktur ini.8 Araknoid merupakan selaput halus yang memisahkan pia mater dari dura mater.8

19 | P a g e

Dura mater yang padat dank eras, terdiri atas dua lapisan. Lapisan luar yang melapisi tengkorak, dan lapisan dalam yang bersatu dengan lapisan luar, kecil pada bagian tertentu, tempat sinus venus terbentuk, dan tempat dura mater membentuk bagian-bagian berikut : falks serebri yang terletak di antara kedua hemisfer otak. Tepi atas falks serebri membentuk sinus longitudinalis superior atau sinus sagitalis superior yang menerima darah ceba dari otak, dan tepi bawah falks serebri membentuk sinus longitudinalis inferior atau sinus sagitalis inferior yang menyalurkan darah keluar falks serebri. Tentorium serebeli memisahkan serebelum dari serebrum.8 Diagfragma selae adalah sebuah lipatan berupa cincin dalam dura mater dan yang menutupi sela tursika, yaitu sebuah lekukan pada tulang sphenoid yang berisi hipofisis.8 Gambar 1.4. Selaput otak atau meninges.

MEDULA SPINALIS Korda jaringan saraf yang terbungkus dalam kolumna vertebra yang memanjang dari medulla batang otak sampai ke area vertebra lumbal pertama disebut medulla spinalis. Bagian-bagian dari spinal cord, yaitu: 1) Bagian tengkuk yang disebut saraf C (cervical), merupakan spinal cord yang berada di bagian leher dan berfungsi dalam pergerakan tangan, leher dan tubuh bagian atas. 2) Bagian dada yang disebut sarat T (thoracic), merupakan spinal cord yang berada di bagian dada, dan berfungsi dalam pergerakan dada dan perut.

20 | P a g e

3) Bagian pinggang yang disebut saraf L (lumbar), merupakan spinal cord yang berada di bagian pinggang dan berfungsi dalam pergerakan kaki, kandung kemih usus dan organ kelamin.8 a. Struktur umum medulla spinalis. 1 Medulla spinalis berbentuk silinder berongga dan agak pipih. Walaupun diameter medulla spinalis bervariasi, diameter strutur ini biasanya sekitar ukuran jari kelingking. Pajang rata-rata 42cm. 2 Dua pembesaran, pembesaran lumbal dan serviks, menandai sisi keluar saraf spinal besar yang mensuplai lengan dan tungkai. 3 Tigapuluh satu pasang saraf spinal keluar dari area urutan korda melalui foramina invertebral. 4 Korda berakhir di bagian bawah vertebra lumbal pertama atau kedua. Saraf spinal bagian bawah yang keluar sebelum ujung korda mengarah ke bawah, disebut korda equine, muncul kolumna spinalis pada foramina inverterbal lumbal dan sacral yang tepat. a) Konus medularis (terminalis) adalah ujung kaudal korda b) Filum terminal adalah perpanjangan fibrosa pia mater yang melekat pada konus medularis sampai ke kolumna vertebra. 5 Meninges (dura mater, araknoid dan pia mater) yang melapisi otak, juga melapisi korda. 6 Fisura median anterior (ventral) dalam dan fisura posterior (dorsal) yang lebih dangkal menjalar di sepanjang korda dan membaginya.11
Gambar 1.5. Medula spinallis. http://www.google.co.id/imglanding?q=medula+spinalis

21 | P a g e

Cairan cerebrospinalis terbentuk di flexus choroideus ventriculi lateralis. Berbentuk huruf C pararel dengan fornix, melekat pada fissure choroidea. Cairan cerebrospinalis mengaliri keempat ventrikel yang ada di otak kemudian cairan cerebrospinalis direabsorpsi oleh vili arachnoid. Cairan serebrospinalis terdapat : a. Ventrikel otak b.Cysterna sekitar otak c. Ruang subarachnoid (sekitar otak dan medulla spinalis) saling berhubungan, sehingga LCS mengalir bebas. Pembentukan LCS : a. 500ml/hari (4x volume ruang LCS) b.Dibentuk pleksus choroideus (sebagian besar) c. Permukaan ependimal dari ventrikel dan membrane arachnoidal, pembuluh darah sekitar otak. Cara mengukur LCS : 1.Orang peraga baring di sisi 2.Tekanan LCS spinal = tekanan LCS otak 3.Jarum panjang : tusuk ke ruang subarachnoid medula spinalis antara procesus spinalis L III- IV (punksi lumbal) 4.Hubungkan dengan pipa gelas -> tinggi cairan dibaca sebagai tekanan LCS (mmH2O)

Struktur otak secara histology


Otak : 1.Serebrum 2.Serebelum 3.Batang otak / brainstem (midbrain, pons dan medulla oblongata) Serebrum Dibagi menjadi hemisfer serebri kiri dan kanan. Secara histology, terdiri atas 6 lapisan yaitu : 1 Lapisan molecular 2 Lapisan granular luar 3 Lapisan sel-sel pyramid
22 | P a g e

4 Lapisan granualar dalam 5 Lapisan ganglioner 6 Lapisan sel-sel multiform atau polimorf Semua lapis ini mempunyai batas yang tegas dan semua berisi neuroglia. Serebelum Korteks serebelum terdiri atas 3 laisan dari luar kedalam yaitu : 1 Lapisan molecular 2 Lapisan ganglioner 3 Lapisan granular MEDULA SPINALIS Medula spinalis (spinal cord) merupakan bagian susunan saraf pusat yang terletak di dalam kanalis vertebralis dan menjulur dari foramen magnum ke bagian atar region lumbalis.12 Medulla spinalis potongan melintang terdiri atas subtansia alba (sebelah luar) dan substansia grisea (sebelah dalam) berbentuk huruf H atau kupu-kupu. Bagian tengah terdapat kanalis sentralis. Substansia alba berisi akson dengan fungsi khusus yaitu motorik dan sensoris yang disebut funikulus. Ada 3 funikulus: dorsal, ventral dan lateral. Substansia grisea berisi perikarion, banyak terdapat sinaps neuron. Sel saraf motorik merupakan sel saraf multipolar. Spinal cord atau dikenal sebagai saraf-saraf tulang belakang. Spinal cord dilindungi oleh ruas-ruas tulang belakang, dan posisinya sambung-menyambung dari otak hingga ujung ruas tulang ekor manusia. Seperti otak, di dalam spinal cord terdapat cairan cerebrospinal (CSF) yang berfungsi sebagai pelindung. Spinal cord berfungsi sebagai pembawa informasi dari otak ke seluruh tubuh, serta menginisiasi pergerakan dan fungsi tubuh.12 Gambar 1.4. medulla spinal. http://www.google.co.id/imglanding?q=medula+spinalis

Cairan serebrospinalis secara histology Cairan serebrospinalis : cairan yang terdapat di dalam ruang-ruang otak (ventrikel otak), yaitu :
23 | P a g e

1 Ruang subarachnoid 2 Ventrikel otak 3 Kanal sentralis medulla spinalis Cairan dihasilkan oleh pleksus choroideus Mengandung : air, glukosa, asam amino, vit C, B dan asam folat. Meninges dan pleksus koroid Neuron dan makroglia asalnya ektodermal, namun pembuluh darah SSP berasal dari mesenkim dan ketiga lapis pembungkus otak dan medulla spinal terdiri atas jaringan ikat yang paling liar, duramater atau pachimenings, adalah jaringan ikat padat, sedangkan yang paling dalam, pia mater dan lapisan tengah, araknoid, adalah jaringan ikat lebih longgar. Kedua lapis terakhir membentuk leptomenings13. DURA MATER Dura spinal dan yang dariotak berbeda hubungannya dengan jaringan tulang sekitar. Permukaan dalam dari kanal vertebral dilapisi oleh jaringan ikat periosteumnya sendiri, dan membrane dura silindris tersendiri yang secara longgar membungkus medulla spinal. Ruang epidural lebar, di antaa periosteum dan dura, mengandung jaringan ikat longgar, sel-sel lemak, dan pleksus vena epidural. Permukaan dalam dari dura di lapisi oleh sel-sel gepeng dan terikat erat pad medulla spinal di kedua sisinya oleh sederetan ligament dentikulata. Umumnya serat kolagen dura tersusun memanjang dan mengandung lebih sedikit serat elastin daripada dura serebri.13 Dura mater otak mulanya memiliki dua lapisan, namun pada orang dewasa mereka merapat erat. Keduanya terdiri atas serat kolagen dan fibroblast panjang. Batas keduanya tidak jelas, namun susunannya sedikit berbeda. Kapis kuar atau dura periosteal, melekat secara cranial, dan basis tengkorak, tempat ia lebih melekat erat. Ia berfungsi sebagai periosteum, lebih banyak selnya daripada lapisa dalam, dan mengandung banyak pembuluh darah. Serat kolagenya tersusun dalam berkas-berkas.13 Lapisan dalam, dura meningeal, disusun oleh serabut halus membentuk lembaran yang hampir utuh. Serat-seratnya yang berjalan ke atas dan belakang dari daerah frontal disusun membentuk sudut tergadap yang sedikit lebih gelap, initi lonjong dengan kromatin yang lebih padat daripada yang di lapis luar. Pembuluh darah kecil terdapat pada kedua lapisan dura.12

24 | P a g e

Sebelah dalam dari dura interna terdapat selapis sel batas, modifikasi fibroblast gepeng dengan cabang-cabang panjang dan berkelok yang bercampur-baur dengan yang berasal dari selsel berdekatan. Sel-sel ini memiliki organel pada umumnya. Cabang-cabangnya melekat pada desmosom dan taut rekah yang todak terdapat pada sel dari dura meningal. Ruang intersel tidak diisi serat kolagen namun oleh materi keruh, kemungkinan mukopolisakarida alami. Fibroblast gelap bercabang banyak, materi intersel amorf, dan tiadanya serat jaringan ikat merupakan cirri sendiri bagi lapis ini. Pada zona peralihan antara lapis sel batas dan dura meningeal, terdapat materi intersel keruh, bersama serat kolagen halus.13 ARAKNOID unsure akanoid dari leptomeninges terdiri atas selapis sel-sel yang tersusun longgar, lapis sawar akanoid, dan daerah dalam dengan sel-sel tersusun sangat longgar, yang sebagaian besar tegak lurus terhadap lapis itu dan melintasi ruang subaraknoid di antaranya pia mater. Sel trabekel araknoid ini adalah modifikasi fibroblast. Dengan cabang-cabang panjang saling berhubungan sesamanya dan dengan sel-sel lapis sawar oleh desmosom dan taut rekah. Sedikit serat kolagen terdapat bersama sel-sel trabekel itu. Sel-sel lapisa sawar dipisahkan oleh sedikit atau tanpa ruang ekstrasel dan saling melekat melalui banyak desmosom dan taut kedpan. Terdapat lamina basal tipis pada aspek itern lapis ini.13 PIA MATER Lapis ini, melekat erat pada otak medulla spinal, terdiri atas modifikasi fibroblast gepeng yang mengikuti garis bentuk jaringan saraf dibawahnya. Mereka mungkin terdapt berupa satu lapis atau pada daerah lain tertentu saling meliputi. Mereka sangat mirip sel-sel dari trabekel araknoid. Pada lapis ini terdapat banyak pembuluh darah, namun karena tipisnya, mereka sering hanya sebagian diliputi oleh sel trabekel. Pia mater dan akanoid berhubungan begitu erat, sehingga sering diperlukan sebagai satu lapis, pia araknoid. Serat kolagen dan elastin halus terselip di antara sel-sel pia dan jaringan saraf dibawahnya. Makrofag juga ditemukan di antara sel-sel pia dan merbran basal glia sekitar pembuluh darah pia. Pada manusia, mereka sering banyak mengandung semacam pigmen kuning yang bereaksi positif untuk besi. Sepanjang pembuluh pia terdapat kelompok-kelompok kecil limfosit dan sebaran sel mast. Pada keadaan patolohgis tertentu, jumlahnya sangat bertambah. Dalam pia pembungkus permukaan ventral medulla oblongata ditemukan melanosit dan jumlah bervariasi.13

25 | P a g e

Gambar 1.5. Meninges (dura mater, pia mater dan araknoid).


http://www.google.co.id/imglanding?q=meninges

SARAF dari MENINGES Dura dan pia mater banyak sarafnya. Semua pembuluh dari pia dan dari pleksus koroid, dikelilingi pleksus saraf luas dalam advebtisianya. Akson, dari system simpatis, berasal dari saraf cranial tertentu dan dari pleksus karotis dan vertebral. Ujung saraf sensoris tanpa simpai dan bahkan sel sarag tunggal juga terdapat dalam adventisia daripembuluh darah. Selain saraf ke pembuluh, dura serebri mengandung banyak ujung saraf sensoris. Pia juga mengandung banyak pleksus saraf, terutama dalam tela koroidea dari ventrikel ketiga. Akson berakhir atau berupa pelebaran berbentuk pir besar atau pelebaran bulbosa atau kelokan spiral mirip pada badan meissner. Pada pia spinal, pembuluh mendapatkan sarafnya dari pleksus sesudah pembuluh darah spinal yang lebih besar. Ujung saraf aferen juga ada, namun penyebarannya tak merata.13 Baik saraf bermielin maupun tanpa myelin menyertai pembuluh darah ke dalam substansia medulla spinal dan otak, berkahir pada sel oto polos dindind pembuluh. Mereka datang dari saraf serupa dari pembuluh pia.13 PLEKSUS KOROID Seluruh SSP bermandikan cairan serebrospinal yang digetahkan pleksus koroid. Di pleksus ini tidak terdapat jaringak saraf di dindingnya, dan pia mater yang sangat vaskuler jadinya
26 | P a g e

berkontak langsung dengan epitel pelapis ventrikel, ependim. Dalam membentuk pleksus koroid, kedua lapis ini menjulurkan lipatan-lipatan ke dalam lumen. Lipatan-lipatan itu sendiri memiliki banyak vili, masing-masing ditutupi epitel dan mengandung pembuluh aferen dan eferen pia dan anyaman kapiler di antaranya. Jadi pleksus koroid memiliki permukaan sangat luas, diperkirakan lebih dari 200 cm2.13 Sel-sel daerah khusu epital ependim ini adalah kuboid dengan satu ini bulat, banyak mitokondria berbentuk batang, dan reticulum endoplasma sedang. Permukaan bebasnya ditutupi brush border atipis terdiri atas mikrovili tak teratur, sering dengan gelembung di ujungnya. Meskipun pelebaran ini mungkin artefak akibat fiksasi, mikrovili sel jenis lain, yang diolah sama tidak menunjukkan hal demikian.13 Pleksus koroid berfungsi sebagai sawar selektif, mempertahankan lingkungan cairan SSP agar konstan, mereka menghasilkan CSS dengan kecepatan rata-rata 14-36 ml/jam, mengganti volume total sebesar 150 ml, empat sampai lima kali sehari. Hal ini terlaksana dengan adanya gradient ion. Pada permukaan basal dan basolaterla sel, ion H+ ditukarkan dengan ion Na+ dalam plasma danini dipompa keluar apeks sel. Ion Cl- dan HCO- berpindah dari sitoplasma menerobos merman apical untuk menetralkan kelenihan ion Na+. Gradien osmotic yang terjadi berakibat berdifusinya air ke dalam ventrikel. Meskipun air merupakan 90% dari CSS, komposisi ionnya diatur secara aktif.13 Perpindahan substansi melalui epiterl koroid terjadi dalam dua arah. Molekul sepertiga glukosa dan asam amino yang dibutuhkan otak dalam jumlah besar berpindah melalui difusi berfasilitas melawan gradient konsentrasi, sedangkan subtasnsi yang dibutuhkan dalam jumlah kecil seperti vitamin C, vitamin B, dan fosfat berpindah melalui transport aktif, protein biasanya tak ada dalam CSS, namun diduga seidkit sekali disekresi pleksus koroid, yang juga mengekskresi produk samping metabolic dan obat tertentu ke dalam darah untuk didegradasi dalam hati atau dikeluarkan melalui ginjal. Endotel kapiler pleksus koroid itu sangat tipis, dengan banyak pori ditutupi diagfragma. Jika pewarna vital seperti biru tripan, disuntikan secara intravena secara berulang, maka akan disimpan dalam epitel koroid, atau ditelan makrofag yang ada di jaringan ikat perivaksular. Bila proksidase horseradish disuntikan ked ala darh, protein ini dapat diperlihatkan melintas endotel kapiler dan mengumpul dalam ruang ekstrasel. Ia juga menyusup di antara sel-sel epitel namun tidak dapat masuk CSSoleh adanya taut kedap di antara apek-apek sel.13
27 | P a g e

CAIRAN SEREBROSPINAL CSS yang dihasilkan oleh pleksus koroid diventrikel lateral, mengalir ke ventrikel ketiga, tempat dibentuk lebih banyak cairan ditambahkan. Ia kemudian keluar melalui foramina magendie dan luschka ke dalam ruang subaraknoid, tempat ia mengalir ke atas di atas permukaan otak dan kebawah sekitar medulla spinal. Metabolit dari otak berdifusi secara bebas dari ruang ekstrasel, melintasi ependim dank e dalam CSS dalam ruang subaraknoid.13 Selain perannya mempertahankan lingkungan cairan yang sesuai bagi otal, CSS ikut member perlindungan terhadap geger otak ringan dan cedera mekanik lain. Ia dibentuk dengan kecepatan 350 ul/men atau sekitar 500 ml sehari. Dari jumlah ini, sekitar 30 ml terdapat dalam ventrikel, sedangkan lainnya mengisi ruang dan sisterna subaraknoid. Meskipun sebagian besar CSS (mungkin lebih dari setengahnya) dibentuk oleh pleksus koroid, cukup banyak yang berasal dari tempat lain, dari parenkim otak, cairan itu menembus ependim masuk ke ventrikel. Kontribusi tambahan terjadi di area postern pada tepian kaudal ventrikel keempat. Selama keluarnya cairan secara tetap untuk mengimbangi produksi CSS yang kontinu, sebagian kecil memasuki pembuluh limf ekstrakranial melalui ruang perineural sekitar akar sarad cranial dan spinal, dan sebagian berdifusi ke dalam cena sperfisial kecil. Namun, sebagian besar kembali ke darah vena melalui kekhususan setempat pada araknoid.13

KESIMPULAN Kejang diartikan sebagai suatu perubahan mendadak pada aktivitas elektrik korteks serebri yang secara klinis bermanifestasi dalam bentuk perubahan kesadaran atau gejala motorik, sensorik atau perilaku. Kejang menyeluruh terjadi dalam perjalanan penyakit medic utama yang menandakan terkenanya system saraf pusat oleh gangguan dan membutuhkan penilaian dan investigasi yang teliti. Kejang seperti ini dapat menyertai demam tinggi, hiponatremia, asidosis metabolic, efek penghentian alcohol atau obat, dan gagal ginjal atau hati, menunjukkan adanya ensefalopati metabolic tanpa membutuhkan perumusan penyakit neurologic lain. Penetuan bahwa ensefalopati metabolic mungkin bertanggung jawab adalah tergantung dokumentasi penyakit sistemik dan perhatian yang teliti terhadap pengecualian lesi insfeksius tambahan, lesi vaskuler atau neoplastik dalam system saraf.6

28 | P a g e

Kejang adalah perubahan fungsi otak mendadak dan sementara akibat dari aktifitas neuronal yang abnormal dan sebagai pelepasan listrik serebral yang berlebihan. Aktivitas ini bersifat dapat parsial atau vocal, berasal dari daerah spesifik korteks serebri, atau umum, melibatkan kedua hemisfer otak. Manifestasi jenis ini bervariasi, tergantung bagian otak yang terkena. Penyebab kejang mencakup factor-factor perinatal, malformasi otak ongenital, factor genetic, penyakit infeksi (ensefalitis, meningitis), penyakit demam, gangguan metabilisme, trauma, neoplasma, toksin, gangguan sirkulasi, dan penyakit degenerative susunan saraf. Kejang disebut idiopatik bila tidak dapat ditemukan penyebabnya. Ada tes yang dilakukan agar kita mengetahui ada gangguan pada meanings, dapat dilakukan test queckenstedt : 1 Pemeriksaan tekan kuat kedua sisi leher VJI tertekan hambat venous returnLCS tertahanN: tekanan LCS naikstop tekanan LCS tekanan LCS menurun (N) 2 Blok/ sumbatan canalis vertebralis tekanan LCS tetap. Guna : diagnosis sumbatan LCS Diagnosis blok canalis vertebralis. DAFTAR PUSTAKA 1. Sherwood L,Santoso B.Fisiologi manusia: dari sel ke system. E/2.Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC.2001.h.105-19. 2. Safitri A, Astika R.Physiologi at a glance.Jakarta:Penerbit Erlangga.2009.h.24-25. 3. Yudha E.Kamus saku perawat,E/22.Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC.2005.h.168. 4. Ruci D,Wardhani DK.Toddlercare.Jakarta:Penerbit Erlangga.2003.h.44. 5. Suwono W.Buku saku neurologi.Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC.2001.h.92. 6. Asdie A.Harrison prinsip-prinsip ilmu penyakit dalam vol 5 e/13.Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC.2001.h.115. 7. Mardjono, Mahar.Neurologi klinis dasar.Jakarta:Dian Rakyat.2006. 8. Handoyo S.Anatomi dan fisiologi untuk paramedic.Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama.2009.335-5. 9. Budiman, Gregory.Basic neuroanatomical pathways second edition.Jakarta:FKUI.2009.

29 | P a g e

10. Wahab A.Ilmu kesehatan anak nelson,Ed.15,Vol.3.Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC.2001.h.2059-1. 11. Widyastuti P.Anatomi dan fisiologi untuk pemula.Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC.2004.h.173-2. 12. Novianty A.Asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan system

persarafan.Jakarta:Penerbit Salemba Medika.2008.h.30. 13. Hartanto H.Buku ajar histology,E/12.Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran

EGC.2002.h.320-6.

30 | P a g e