Anda di halaman 1dari 7

BAB 7 Kedisiplinan a.

Pengertian Secara etimologis disiplin berasal dari bahasa inggris disciple yang berarti pengikut atau penganut pengajaran, latihan dan sebagainya. Kedisiplinan adalah kesadaran dan kesediaan seseorang menaati semua peraturan perusahaan dan norma-norma sosial yang berlaku. b. Tujuan Disiplin Pada dasarnya disiplin kerja bertujuan untuk menciptakan suatu kondisi yang teratur, tertib, dan pelaksanaan pekerjaan dapat terlaksana sesuai dengan rencana sebelumnya. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kedisiplinan Besar kecilnya pemberian kompensasi Ada tidaknya keteladanan pimpinan dalam perusahaan Ada tidaknya aturan pasti yang dapat dijadikan pegangan Keberanian pimpinan dalam mengambil tindakan Ada tidaknya pengawasan pimpinan Ada tidaknya perhatian kepada pada karyawan Diciptakan kebiasaan-kebiasaan yang mendukung tegaknya disiplin

c. Indikator Indikator Kedisiplinan Tujuan dan kemampuan, Teladan kepemimpinan, Balas jasa, Keadilan, Waskat, Sanksi hukuman, Ketegasan, dan Hubungan kemanusiaan

1. Tujuan dan kemampuan Tujuan yang akan dicapai harus jelas dan ditetapkan secara ideal serta cukup menantang bagi kemampuan pegawai. Hal ini berarti bahwa tujuan (pekerjaan) yang dibebankan kepada pegawai harus sesuai dengan kemampuan pegawai bersangkutan, agar dia bekerja dengan sungguh-sungguh dan disiplin dalam mengerjakannya. Disinilah letak pentingnya asas the right man in the right place and the right man in the right job. 2. Teladan pimpinan Teladan pimpinan sangat berperan sekali dalam menentukan kedisiplinan pegawai, karena pimpinan dijadikan teladan dan panutan oleh para bawahannya. Pimpinan harus memberikan contoh yang baik misalnya jujur, berdisipiln , adil, serta sesuai dengan kata dengan perbuatannya. 3. Balas jasa Balas jasa (gaji dan kesejahteraan) ikut mempengaruhi kedisiplinan karyawan, karena balas jasa akan memberikan kepuasan dan kecintaan pegawai terhadap perusahaan/pekerjaannya, jika kecintaan pegawai semakin baik terhadap pekerjaannya, maka kedisiplinan mereka akan semakin baik. 4. Keadilan Keadilan juga ikut mendorong terwujudnya kedisiplinan pegawai, karena ego dan sifat manusia yang selalu merasa dirinya penting dan diminta diperlakukan sama dengan manusia yang lain. Keadilan yang dijadikan dasar kebijaksanaan dalam pemberian balas jasa atau hukuman akan meransang terciptanya kedisiplinan pegawai yang baik. Seorang manajer yang cakap dalam memimpin akan selalu berusaha berlaku adil terhadap semua bawahannya, dengan demikian akan tercipta disiplin yang baik pada diri setiap pegawai. 5. Waskat Waskat (pengawasan melekat) adalah tindakan nyata yang paling efektif dalam mewujudkan kedisiplinan karyawan perusahaan. Dengan waskat berarti atasan harus aktif dan langsung mengawasi perilaku, moral, sikap, gairah kerja, dan prestasi kerja bawahannya. Waskat sangat efektif untuk meransang kedisiplinan dan moral kerja pegawai, karena mereka merasa mendapat perhatian, bimbingan, petunjuk, pengarahan dan pengawasan dari atasannya. Jadi waskat adalah tindakan nyata dan efektif untuk mencegah/mengetahui kesalahan, membetulkan kesalahan, memelihara kedisiplinan, meningkatkan prestasi kerja, mengaktifkan peranan atasan dan bawahan, menggali sistemsistem kerja yang paling efektif, serta menciptakan sistem internal kontrol yang terbaik dalam mendukung terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat.

6. Sanksi hukuman Sanksi hukuman berperan penting dalam memelihara kedisiplinan pegawai. Dengan sangsi hukum yang semakin berat, maka pegawai akan semakin takut untuk melanggar peraturan-peraturan perusahaan, sikap dan perilaku indispliner pegawai juga akan semakin berkurang. Sanksi hukum harus diterapkan berdasarkan pertimbangan logis, masuk akal dan diinformasikan secara jelas kepada seluruh pegawai. Sanksi hukum harus bersifat mendidik pegawai untuk mengubah perilakunya yang bertentangan dengan peraturan/ketentuan yang sudah disepakati bersama. Lebih jauh sanksi hukum haruslah wajar untuk setiap tingkatan indisipliner, sehingga dapat menjadi alat motivasi bagi pegawai untuk menjaga dan memelihara kedisiplinan dalam perusahaan. 7. Ketegasan Ketegasan pimpinan dalam melakukan tindakan akan mempengaruhi baik/ buruknya kedisiplinan pegawainya. Jadi pimpinan harus berani tegas dalam bertindak untuk menghukum setiap pegawai yang indisipliner sesuai dengan sanksi hukum yang telah ditetapkan. 8. Hubungan kemanusiaan Hubungan kemanusiaan yang harmonis di antara sesama karyawan ikut menciptakan kedisiplinan yang baik pada suatu perusahaan, hubunganhubungan baik bersifat vertikal maupun horizontal dapat dilakukan secara harmonis. d. Jenis Jenis Disiplin Disiplin preventif Disiplin korektif Disiplin progresif

Disiplin preventif adalah disiplin yang ditujukan untuk mendorong pegawai agar berdisplin diri dengan mentaati dan mengikuti berbagai standar dan peraturan yang telah ditetapkan. Menurut T. Hani Handoko Disiplin preventif adalah kegiatan yang dilakukan untuk mendorong para karyawan agar mengikuti berbagai standard an aturan sehingga penyelewengan- penyelewengan dapat dicegah. Dengan demikian disiplin preventif merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh organisasi untuk menciptakan suatu sikap dan iklim organisasi dimana semua anggota organisasi dapat menjalankan dan mematuhi peraturan yang telah ditetapkan atas kemauan sendiri. Adapun fungsi dari disiplin preventif adalah untuk mendorong disiplin diri para pegawai sehingga mereka dapat menjaga sikap disiplin mereka bukan karena paksaan. Disiplin korektif merupakan disiplin yang dimaksudkan untuk menangani pelanggaran terhadap aturan-aturan yang berlaku dan memperbaikinya untuk masa yang akan datang. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Prabu Mangkunegara bahwa Disiplin

korektif adalah suatu upaya untuk menggerakan pegawai dalam menyatukan suatu peraturan dan mengarahkan untuk tetap mematuhi peraturan sesuai dengan pedoman yang berlaku dalam perusahaan. Berdasarkan pertanyaan di atas maka dapat disimpulkan bahwa disiplin korektif merupakan suatu upaya untuk memperbaiki dan menindak pegawai yang melakukan pelanggaran terhadap aturan yang berlaku. Dengan kata lain sasaran disiplin korektif adalah para pegawai yang melanggar aturan dan diberi sanksi yang sesuai dengan aturan yang berlaku. Disiplin korektif ini dilakukan untuk memperbaiki pelanggaran dan mencegah pegawai yang lain melakukan perbuatan yang serupa dan mencegah tidak adanya lagi pelanggaran dikemudian hari. Disiplin progresif merupakan pemberian hukuman yang lebih berat terhadp pelanggaran yang berulang. Tujuannya adalah memberikan kesempatan kepada pegawai untuk mengambil tindakan korektif sebelum hukuman-hukuman yang lebuh serius. Dilaksanakan disiplin progresif ini akan memungkinkan manajemen untuk membantu pegawai memperbaiki kesalahan. Seperti yang dikemukakan oleh Veithzal Rivai bahwa Disiplin progresif dirancang untuk memotivasi karyawan agar mengoreksi kekeliruannya secara sukarela. Contoh dari disiplin progresif adalah teguran secara lisan oleh atasan, skorsing pekerjaan, diturunkan pangkat atau dipecat. e. Persaingan dan Konflik 1. Persaingan Persaingan merupakan kegiatan yang berdasarkan atas sikap rasional dan emosional dalam mencapai prestasi kerja yang terbaik. 2. Konflik Konflik adalah persaingan yang kurang sehat berdasarkan ambisi dan sikap emosional dalam memperoleh kemenangan. 3. Hal yang menyebabkan terjadinya persaingan dan konflik Tujuan Ego manusia Kebutuhan Perbedaan pendapat Salah paham Perasaan dirugikan Perasaan sensitif

4. Kebaikan dan Keburukan Persaingan / Konflik Kebaikan persaingan / konflik : 1. Sebagai sarana instrospeksi atau evaluasi diri demi kemajuan 2. Meningkatkan moral kerja atau prestasi kerja 3. Mendorong perkembangan diri demi kemajuan 4. Memotivasi dinamika organisasi dan kreativitas pegawai. Keburukan persaingan / konflik : 1. Kerjasama kurang serasi dan harmonis di antara pegawai 2. Memotivasi sikap-sikap emosional pegawai 3. Menimbulkan sikap apriori pada pegawai 4. Meningkatkan absen dan turnover pegawai 5. Kerusakan produksi dan kecelakan makin meningkat f. Kepuasan Kerja, Stres, Konseling, Frustasi, dan Audit Personalia 1. Kepuasan Kerja Kepuasan kerja adalah sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai pekerjaannya. Kepuasan kerja karyawan dipengaruhi faktor-faktor : 1. Balas jasa yang adil dan layak 2. Penempatan yang tepat sesuai keahlian 3. Berat-ringannya pekerjaan 4. Suasana dan lingkungan pekerjaan 5. Peralatan yang menunjang pelaksanaan pekerjaan 6. Sikap pimpinan dalam kepemimpinannya 7. Sifat pekerjaan monoton atau tidak Analisis tentang kepuasan kerja dapat dikaitkan dengan: Kepuasan kerja dan kedisiplinan Kepuasan kerja dan umur karyawan

2. Stres

Kepuasan kerja dan organisasi Kepuasan kerja dan kepemimpinan

Stres biasa diartikan sebagai tekanan, ketegangan atau gangguan yang tidak menyenangkan yang berasal dari luar diri seseorang. Gejala Stres Menurut Cary Cooper dan Alison Straw Fisik Perilaku Intelektual Interpersonal

Faktor Faktor Penyebab Stres Karyawan Beban kerja yang sulit dan berlebihan. Tekanan dan sikap pimpinan yang kurang adil dan wajar. Waktu dan peralatan kerja yang kurang memadai Konflik antara pribadi dengan pimpinan atau kelompok kerja. Balas jasa yang terlalu rendah. Masalah masalah keluarga seperti anak, istri, mertua, dll.

Dampak Stres Kerja Pada Perusahaan 1.Terjadinya kekacauan, hambatan baik dalam manajemen maupun operasional kerja. 2. Mengganggu kenormalan aktivitas kerja 3. Menurunkan tingkat produktivitas 4.Menurunkan pemasukan dan keuntungan perusahaan. 3. Konseling Konseling adalah pembahasan suatu masalah dengan seorang karyawan, dengan maksud pokok membantu karyawan tersebut agar dapat mengatasi masalah secara baik. Fungsi Konseling Pemberian nasihat, Peneteraman hati

Komunikasi, Pengenduran ketegangan emosional, dan Penjernihan pemikiran Tipe-Tipe Konseling Directive counseling Nondirective counseling (client-centered) Cooperative counseling

4. Frustasi Frustasi merupakan suatu keadaan ketegangan yang tak menyenangkan, dipenuhi perasaan dan aktivitas simpatetis yang semakin meninggi yang disebabkan oleh rintangan dan hambatan. 5. Audit Personalia Audit personalia adalah mengevaluasi kualitas, kuantitas, dan kegiatan kegiatan personalia yang dilakukan dalam suatu organisasi.