Anda di halaman 1dari 0

21

BAB 2
LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Pustaka
2.1.1 Proses Hierarki Analitik
Proses Hierarki Analitik atau Analytical Hierarchy Process (AHP)
dikembangkan oleh Dr. Thomas L. Saaty dari Wharton School of Business pada tahun
1970-an untuk mengorganisasikan informasi dan judgment dalam memilih alternatif
yang paling disukai (Saaty, 1983). Dengan menggunakan AHP, suatu persoalan yang
akan dipecahkan dalam suatu kerangka berpikir yang terorganisir, sehingga
memungkinkan dapat diekspresikan untuk mengambil keputusan yang efektif atas
persoalan tersebut. Persoalan yang kompleks dapat disederhanakan dan dipercepat
proses pengambilan keputusannya.
Prinsip kerja AHP adalah penyederhanaan suatu persoalan kompleks yang
tidak terstruktur, stratejik, dan dinamik menjadi bagian-bagiannya, serta menata
dalam suatu hierarki. Kemudian tingkat kepentingan setiap variabel diberi nilai
numerik secara subjektif tentang arti penting variabel tersebut secara relatif
dibandingkan dengan variabel tersebut secara relatif dibandingkan dengan variabel
yang lain. Dari berbagai pertimbangan tersebut kemudian dilakukan sintesa untuk
22
menetapkan variabel yang memiliki perioritas tinggi dan berperan untuk
mempengaruhi hasil pada sistem tersebut.
Secara grafis, persoalan keputusan AHP dapat dikonstruksikan sebagai
diagram bertingkat, yang dimulai dengan goal/sasaran, lalu kriteria level pertama,
subkriteria dan akhirnya alternatif.
AHP memungkinkan pengguna untuk memberikan nilai bobot relatif dari
suatu kriteria majemuk (atau alternatif majemuk terhadap suatu kriteria) secara
intuitif, yaitu dengan melakukan perbandingan berpasangan (Pairwise comparisons).
Dr. Thomas L. Saaty, pembuat AHP, kemudian menentukan cara yang konsisten
untuk mengubah perbandingan berpasangan atau pairwise menjadi suatu himpunan
bilangan yang mempresentasikan prioritas relatif dari setiap kriteria dan alternatif.
2.1.1.1 Model Keputusan Dengan AHP
AHP memiliki banyak keunggulan dalam menjelaskan proses pengambilan
keputusan, karena dapat digambarkan secara grafis, sehingga mudah dipahami oleh
semua pihak yang terlibat dalam pengambilan keputusan. Dengan AHP, proses
keputusan kompleks dapat diuraikan menjadi keputusan-keputusan lebih kecil yang
dapat ditangani dengan mudah.
Selain itu, AHP juga menguji konsistensi penilaian, bila terjadi
penyimpangan yang terlalu jauh dari nilai konsistensi sempurna, maka hal ini
menunjukkan bahwa penilaian perlu diperbaiki, atau hierarki harus distruktur ulang.
23
Beberapa keuntungan yang diperoleh bila memecahkan persoalan dan
mengambil keputusan dengan menggunakan AHP adalah
Kesatuan : AHP memberikan satu model tunggal yang mudak
dimengerti, luwes untuk aneka ragam persoalan tidak
terstruktur.
Kompleksitas : AHP memadukan ancangan deduktif dan ancangan
berdasarkan sistem dalam memecahkan persoalan
kompleks.
Saling ketergantungan : AHP dapat menangani saling ketergantungan
elemen-elemen dalam suatu sistem dan tidak
memaksanakan pemikiran linier.
Penyusunan hierarki : AHP mencerminkan kecenderungan alami pikiran
untuk memilah-milih elemen-elemen suatu sistem
dalam berbagai tingkat berlainan dan
mengelompokkan unsur yang serupa dalam setiap
tingkat.
Pengukuran : AHP memberi suatu skala untuk mengukur hal-hal
dan terwujud suatu metode untuk menetapkan
prioritas.
Konsistensi : AHP melacak konsistensi logis dari pertimbangan-
pertimbangan yang digunakan untuk menetapkan
berbagai prioritas.
Sintesis : AHP menentun ke suatu taksiran menyeluruh tentang
kebaikan setiap alternatif.
Tawar-menawar : AHP mempertimbangkan prioritas-prioritas relatif
dari berbagai faktor sistem dan memungkinkan
organisasi memilih alternatif terbaik berdasarkan
24
tujuan-tujuan mereka.
Penilaian dan konsesus : AHP tidak memaksakan konsesus tetapi
mensintesiskan suatu hasil yang representatif dari
berbagai penilaian yang berbeda.
Pengulangan proses : AHP memungkinkan organisasi memperhalus
defisini mereka pada suatu persoalan dan
memperbaiki pertimbangan dan perngertian mereka
melalui pengulangan.

2.1.1.2 Prinsip Kerja AHP
Ide dasar prinsip kerja AHP adalah:
1. Penyusunan Hierarki
Persoalan yang akan diselesaikan, diuraikan menjadi unsur-unsurnya, yaitu
kriteria dan alternatif, kemudian disusun menjadi struktur hierarki. Contoh struktur
hierarki disajikan pada gambar 2.1.


Gambar 2.1 Contoh struktur hierarki dalam AHP
25


2. Penilaian Kriteria dan Alternatif
Kriteria dan alternatif dinilai melalui perbandingan berpasangan. Menurut Saaty
(1983), untuk berbagai persoalan, skala 1 sampai 9 adalah skala terbaik dalam
mengekspresikan pendapat. Nilai dan definisi pendapat kualitatif dari skala
perbandingan Saaty dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2.1 Skala Perbandingan
Nilai Keterangan
1 Kriteria/Alternatif A sama penting dengan kritera/alternatif B
3 A sedikit lebih penting dari B
5 A jelas lebih penting dari B
7 A sangat jelas lebih penting dari B
9 Mutlak lebih penting dari B
2,4,6,8 Apabila ragu-ragu antara dua nilai yang berdekatan

Nilai perbandingan A dengan B adalah 1 (satu) dibagi dengan nilai perbandingan
B dengan A.
3. Penentuan Prioritas
Untuk setiap kriteria dan alternatif, perlu dilakukan perbandingan berpasangan
(pairwise comparisons). Nilai-nilai perbandingan relatif kemudian diolah untuk
menentukan peringkat relatif dari seluruh alternatif.
26
Baik kriteria kualitatif, maupun kriteria kuantitatif, dapat dibandingkan sesuai
dengan judgement yang telah ditentukan untuk menghasilkan bobot dan prioritas.
Bobot atau prioritas dihitung dengan manipulasi matriks atau melalui penyelesaian
persamaan matematik.
4. Konsistensi Logis
Semua elemen dikelompokkan secara logis dan diperingkatkan secara konsisten
sesuai dengan suatu kriteria yang logis.
Untuk menyelesaikan masalah dengan menggunakan aplikasi AHP dapat
dilakukan dengan tahapan berikut ini.
1. Penentuan Masalah
Untuk menyelesaikan masalah tersebut, maka perlu dilakukan tiga langkah
berikut:
a. Penentuan sasaran yang ingin dicapai.
b. Penentuan kriteria pemilihan.
c. Penentuan alternatif pilihan.
2. Pembobotan Kriteria
Dari ketiga kriteria tersebut: bahan baku, pemasaran dan teknologi proses,
perlu ditentukan tingkat kepentingannya.
Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya:
Menentukan bobot secara sembarang.
Membuat skala interval untuk menentukan ranking setiap kriteria.
27
Menggunakan prinsip kerja AHP, yaitu perbandingan berpasangan
(pairwise comparision), tingkat kepentingan (imporlance) suatu kriteria
relatif terhadap kriteria lain dapat dinyatakan dengan jelas.
3. Penyelesaian dan Manipulasi Matriks
Matriks yang ada akan diolah untuk menentukan bobot dari kriteria, yaitu
dengan jalan menentukan nilai eigen (eigen vector). Prosedur untuk
mendapatkan nilai eigen adalah:
a. Kuadratkan matriks tersebut.
b. Hitung jumlah nilai dari setiap baris, kemudian lakukan normalisasi.
c. Ulangi proses pertama.
d. Hentikan proses ini, bila perbedaan antara jumlah dari dua perhitungan
berturur-turut lebih kecil dari suatu nilai batas tertentu.
e. J umlahkan setiap baris.
f.
Baris Banyak
Baris J umlah
i Normalisas Nilai Hitung =
g. Hitung perbedaan nilai eigen sebelum dan sesudah nilai, jika perbedaan
tersebut tidak terlalu besar sampai dengan 4 desimal.
Penyelesaian untuk matriks tersebut (misalnya dengan syarat nilai eigen
sudah tidak berubah sampai 4 angka di belakang koma).
4. Pembobotan alternatif
a. Susunlah matriks berpasangan untuk alternatif-alternatif bagi setiap
kriteria.
28
b. Hitung nilai eigen alternatif seperti langkah-langkah pada penyelesaian
dan manipulasi matriks kriteria diatas.
c. Urutkan nilai eigen dari semua kriteria diatas.
5. Perhitungan Consistency Ratio (CR)
a. Hitung nilai dari Weighted Sum Vector, dapat dihitung dengan jalan
mengalikan ke dua matriks tersebut (mengalikan matriks dan nilai eigen).
b. Kemudian hitung Consistency Vector dengan jalan menentukan nilai rata-
rata dari Weighted Sum Vector.
Eigen Nilai
WSV
CV =
c. Rata-ratakan Consistency Vector.
d. Nilai Consistency Index dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
1) - (n
n) - (p
CI = ; n: banyaknya alternatif
e. Consistency Ratio merupakan parameter yang digunakan untuk
memeriksa apakah perbandingan berpasangan telah dilakukan dengan
konsekuen atau tidak.
Untuk menghitung Consistency Ratio, dibutuhkan nilai RI, yaitu indeks
random yang didapat dari tabel Oarkridge.
RI
CI
CR =
29
J ika nilai CR tidak lebih dari 0.10, maka penilaian kriteria yang telah
dilakukan dengan konsisten.

2.1.2 Aplikasi Logika Fuzzy
2.1.2.1 Sistem Pakar
Sistem pakar dapat diterapkan untuk persoalan di bidang industri, pertanian,
bisnis, kedokteran, militer, komunikasi dan transportasi, pariwisata, pendidikan dan
lain sebagainya. Permasalahan-permasalahan tersebut bersifat cukup kompleks dan
terkadang tidak memiliki algoritma yang jelas di dalam pemecahannya, sehingga
dibutuhkan kemampuan seorang atau beberapa ahli untuk mencari sistematika
penyelesaiannya secara evolutif. Penerapan sistem pakar dapat dilakukan dalam
ruang lingkup permasalahan-permasalahan yang bersifat analitik, sintesis dan
integratif.
Penerapan pada permasalahan analisis dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
a. Interprestasi
Interprestasi merupakan pendekatan untuk penyelesaian masalah yang
didasarkan dari suatu kumpulan fakta (data atau informasi), misalnya
inteprestasi data, penguraian data, penelaahan terhadap data yang kompleks
dan klasifikasi. Contoh penerapan dari interpretasi adalah:
Analisa pasar untuk komoditi pertaniaan tertentu.
Indentifikasi media iklan yang sesuai.
30
Identifikasi kebutuhan pelatihan yang sesuai di dalam proses
pengembangan sumberdaya manusia.
Identifikasi kebutuhan pengolahan bahan pangan dengan suatu proses
perlakuan tertentu (misalnya ekstraksi).
b. Diagnostik
Diagnostik merupakan kemampuan untuk menjalankan fungsi diagnosa
komponen, telaah situasi, identifikasi beserta pemechaan masalahnya (trouble
shooting), isolasi kesalahan dan manajemen krisis. Contoh penerapan daro
diagnostik adalah:
Diagnosa penyakit infeksi dan penentuan dosis obatnya.
Diagnosa resesi perusahaan dan usaha penyembuhannya.
Diagnosa kerusakan perangkat keras komputer.
Diagnosa penyimpangan produk pangan (segar atau terolah) yang
disimpan pada kondisi suhu dan ruang penyumpanan beserta kemasan
tertentu.
Sintesis merupakan hasil pemecahaan masalah yang dibatasi oleh kondisi
berupa sejumlah kendala dan pembatasan, tetapi dalam interprestasinya akan
menghasilkan rekomendasi yang sesuai dengan tujuan yang digariskan sebelumnya.
Perihal sintesis ini erat kaitannya dengan sistem manajemen suatu bidang, yaitu
meliputi rancang bangun, spesifikasi dan perancanaan. Beberapa penerapannya
adalah berupa:
31
Strategi penentuan harga.
Strategi pengembangan produk.
Rancang bangun sirkuit perangkat elektronis komputer.
Desain dan proses dari alat pengukur karakteristik.
Fisika-kimia bahan pangan dan alat pengolahannya.
Banyak bidang dalam sistem manejemen memerlukan keterampilan
penyelesaian persoalan yang memadukan antara pendekatan analisis dengan sistem.
Kedua pendekatan ini perlu dipadukan secara berurutan, karena penyelesaian
persoalannya saling berkaitan dengan analisa lanjutannya. Perihal keterpaduan yang
dapat dibantu oleh sistem pakar adalah:
Analisa citra yang dikaitkan dengan posisi tambang mineral.
Peramalan cuaca.
Pendugaan kemampuan suatu bangunan waduk, nuklir, dan lain
sebagainya.
Formulasi bahan industri, baik yang bersifat padat, semi basah dan cairan.
Pengendalian proses (misalnya optimisasi proses fermentasi) dan mutu
(standar penerimaan) dari produk agroindustri.
Hal yang dikemukakan di atas tentunya perlu memperhatikan hirarki struktur
data, baik yang berupa konteks permsalahan (pengetuhaan dasar dan penugasan),
modul yang dikembangkan (pengelompokan kriteria atau kondisi), aturan (aturan
biasa dan aturan dua meta) dan fakta (unsur penyusunan sistem). Dengan mengetahui
32
hirarki struktur pengetahuan, maka selanjutnya dapat dikembangkan organisasi atau
struktur sistem pakar yang diperlukan, yaitu berupa topik penerapan, bidang
penerapan (tujuan dan ciri), pembuat (perusahaan/perorangan), hasil yang diharapkan
(saat ini dan mendatangi) dan perangkat pendukung yang diperlukan (biaya dan alat).
Dengan kondisi yang telah dipersiapkan seperti di atas, makan selanjutnya
perlu memperhatikan masalah interaksi manusia-mesin (komputer atau robot), karena
penerapan sistem pakar ini mengarah pada proses otomasi yang didasarkan pada
gabungan keahlian manusia dan keahlian buatan, seperti disajikan pada tabel 2.2.
Dengan melihat komparatif keahlian yang disajikan pada Tabel 2.2, maka
dapat dikatakan bahwa keberhasilan penerapan sistem pakar diberbagai bidang
penerapan yang luas sangat ditentukan oleh kontrol situasi oleh manusia dan
kemampuan menghitung beserta pelaksanaannya oleh komputer.









33
Tabel 2.2 Komparatif Keahlian Manusia dan Keahlian Buatan
KEAHLIAN MANUSIA KEAHLIAN BUATAN

Tidak tahan lama
Sukar dialihkan
Sukar di dokumentasi
Tidak bisa diramalkan
Mahal
Kreatif
Adaptif
Berpengalaman dengan
panca indera
Berpandangan luas
Pengetahuan praktis yang
masuk akal

Permanen
Mudah dialihkan
Mudah di dokumentasi
Konsisten
Tidak terlalu mahal
Statis, tergantung
pengetahuan yang
dimasukkan
Terprogram
Masukan berupa simbol
Berorientasi khusus
Pengetahuan bersifat teknis

2.1.2.2 Sistem Fuzzy
Orang yang belum pernah mengenal logika fuzzy pasti akan mengira bahwa
logika fuzzy adalah sesuatu yang amat rumit dan tidak menyenangkan. Namun,
sayang sekali seseorang mulai mengenalnya, ia pasti akan sangata tertarik dan akan
menjadi pendatang baru untuk ikut serta mempelajari logika fuzzy. Logika fuzzy
dikatakan baru yang lama, sebab ilmu tentang logika fuzzy itu sendiri sudah ada sejak
lama.
Logika fuzzy adalah suatu cara yang tepat untuk memetakan suatu ruang input
ke dalam suatu ruang output. Sebagai contoh:
34
1. Manajer pergudangan mengatakan pada manajer produksi seberapa
banyakpersediaan barang pada akhir minggu ini, kemudian manajer produksi
akan menetapkan jumlah barang yang harus diproduksi esok hari.
2. Pelayan restoran memberikan pelayanan terhadap tamu, kemudian tamu akan
memberikan tip yang sesuai atas baik tidaknya pelayanan yang diberikan.
3. Anda mengatakan pada saya seberapa sejuk ruangan yang anda inginkan,
saya akan mengatur putaran kipas yang ada pada ruangan ini.

Alasan digunakannya logika fuzzy, antara lain:
1. Konsep logika fuzzy mudah dimengerti. Konsep matematis yang mendasari
penalaran fuzzy sangat sederhana dan mudah dimengerti.
2. Logika fuzzy sangat fleksibel.
3. Logika fuzzy memiliki toleransi terhadap data-data yang tidak tepat.
4. Logika fuzzy mampu memodelkan fungsi-fungsi nonlinear yang sangat
kompleks.
5. Logika fuzzy dapat membangun dan mengaplikasikan pengalaman-
pengalaman para pakar secara langsung tanpa harus melalui proses pelatihan.
6. Logika fuzzy dapat bekerjasama dengan teknik-teknik kendali secara
konvensional.
7. Logika fuzzy didasarkan pada bahasa alami.
Gugus fuzzy pertama kali diperkenalkan oleh Prof. L. A. Zadeh dari Barkeley
pada tahun 1965. Pada 10 tahun pertama, kemunculan gugus fuzzy tidak terlalu
35
diperhatikan, namun baru-baru ini telah terjadi perkembangan yang cukup pesat
dalam hal jumlah peneliti dan paper-paper mengenai gugus fuzzy dan aplikasinya,
sehingga dibentuk organisasi International Fuzzy Systems Association (IFSA).
Teori gugus fuzzy pertama kali hanya dipandang sebagai teknik yang secara
matematis mengekspresikan ambiguity dalam bahasa. Namun saat ini, teori gugus
fuzzy dikembangkan sebagai pengukuran beragam fenomena ambiguity secara
matematis yang mencakup konsep peluang.
Sistem fuzzy merupakan penduga numeric yang terstruktur dan dinamik.
Sistem ini mempunyai kemampuan untuk mengembangkan sistem intelijen dalam
lingkungan yang tidak pasti, dan tidak tepat. Sistem ini menduga suatu fungsi dengan
logika fuzzy. Logika fuzzy merupakan bagian dari logika boolean, yang digunakan
untuk menangani konsep derajat kebenaran, yaitu nilai kebenaran antara benar dan
salah. Logika fuzzy sering menggunakan informasi linguistik dan verbal. Dalam
logika fuzzy terdapat beberapa proses, yaitu penentuan gugus fuzzy, serta proses
inferensi fuzzy. Alur penyelesaian masalah dengan menggunakan metode fuzzy
disajikan pada gambar berikut.





36


Gambar 2.2 Alur penyelesaian masalah dengan Metode Fuzzy
Macam-macam fungsi keanggotaan dalam Sistem Fuzzy.
1. Single Point
2. Interval of Confidence
3. Triangular Fuzzy Number
4. Gaussian

Fuzzifikasi
Bilangan fuzzy dapat diproses secara matematik fuzzy sesuai dengan
metode representasi.
Rumus perhitungan rata-rata geometri berdasarkan TrFN jarak
n
n) Pakar a nilai - ... * II Pakar a nilai * I Pakar a nilai ( a=
37
n
n) Pakar a nilai - ... * II Pakar b nilai * I Pakar b nilai ( b=
n
n) Pakar a nilai - ... * II Pakar c nilai * I Pakar c nilai ( c=
n
n) Pakar a nilai - ... * II Pakar d nilai * I Pakar d nilai ( d=
n
d) * c * b * a ( Geometri rata - Rata Nilai =
n : banyaknya skala yang akan digunakan dalam perhitungan.
a d : skala yang akan digunakan dalam perhitungan.

Defuzzifikasi
Defuzzifikasi merupakan suatu proses pengubahan output fuzzy ke output
yang bernilai tunggal (crisp). Terdapat banyak metode defuzzifikasi, namun yang
biasa digunakan adalah metode Centroid dan Maxinum. Di dalam metode
variabel dari centre of gravity suatu fungsi keanggotaan untuk nilai fuzzy.
Sedangkan di dalam metode Maxinum, satu dari nilai-nilai variabel yang
merupakan nilai kepercayaan maksimum gugus fuzzy dipilih sebagai nilai tunggal
untuk variabel output.

Pengembangan sistem fuzzy dapat diterapkan dalam segala bidang, terutama
dalam bidang sistem pakar. Penerapan sistem fuzzy dalam sistem pakar untuk
merepresentasikan pengetahuan pada lingkungan yang tidak pasti dan tidak lengkap
serta sangat kompleks. Penggabungan kedua sistem tersebut dikenal dengan sistem
pakar fuzzy. Sistem tersebut merupakan pengembangan sistem pakar yang
38
menggunakan logika fuzzy secara keseluruhan, yang meliputi gugus fuzzy, aturan
fuzzy if-then, serta proses inferensi.
Sistem pakar fuzzy telah banyak diterapkan dalam berbagai bidang, yaitu:
pengawasan linear dan nonlinear, pengenalan pola, serta sistem keuangan.
Selain diterapkan pada sistem pakar, sistem fuzzy juga diterapkan pada
pengambilan keputusan kelompok. Salah satu contohnya yaitu pada web chat dengan
aplikasinya dalam pengambilan keputusan kelompok secara label linguistik.
Mekanisme agregasi preferensi yang digunakan pada web chat ini adalah metode
fuzzy Delphi untuk penilaian individual dan metode label linguistik untuk penilaian
berpasangan. Dalam metode label linguistik, preferensi diberikan dalam bentuk label
linguistik dan proses perhitungan Trapezoidal Fuzzy Number (TrFN).
2.1.2.3 Fuzzy Facility Layout Problem
Cheng dan Gen memperkenalkan alternatif untuk penanganan ketidakpastian,
yang disebut dengan pendekatan fuzzy. Teori fuzzy set adalah pendefinisian yang
paling sempurna untuk memodelkan ketidakpastian. Kemampuan fuzzy set dalam
mengatasi ketidakpastian sangat penting untuk semua situasi pada saat informasi
yang tersedia tidak tepat dan ketidakpastian yang berhubungan dengan data tidak
dapat dihindarkan.
Ketidakpastian aliran material diantara fasilitas biasanya digambarkan dengan
convex fuzzy number, yang biasa disebut juga dengan fuzzy interflow. Fuzzy number
39
yang biasa digunakan untuk menggambarkan fuzzy interflow adalah trapezoidal fuzzy
number (TrFN).

2.1.3 Perancangan Tata Letak Fasilitas
Salah satu metode yang paling efektif untuk meningkatkan produktivitas dan
menekan biaya produksi adalah dengan cara mengurangi atau menghilangkan
ativitas-aktivitas yang tidak perlu melalui pengaturan tata letak fasilitas.
Tata letak (layout) atau pengaturan dari fasilitas produksi dan area kerja
adalah salah satu masalah yang sering dijumpai dalam dunia industri. Masalah ini
juga menjadikan tata letak suatu pabrik dan penanganan pemindahan bahan (material
handling) menjadi salah satu kegiatan rekayasawan industri yang paling tua. Sejalan
dengan meluasnya pandangan rekayasawan industri ke arah kegiatan yang banyak
melibatkan kegiatan fisik, rekayasawan makin mampu memahami hamper semua
kegiatan yang mempunyai arti akan menuntut fasilitas fisik. Sehingga perancangan
suatu fasilitas merupakan satu kegiatan penting bagi penyusunan unsur fisik suatu
bangunan, baik itu pergudangan, kantor pos, toko, restaurant dan juga industri.

2.1.3.1 Pengertian Perancangan Tata Letak Fasilitas
Tata letak pabrik didefinisikan sebagai penggambaran hasil perancangan
kegiatan yang berhubungan dengan perancangan susunan unsur fisik suatu kegiatan
dan berhubungan erat dengan industri manufaktur. Beberapa definisi mengenai
perancangan fasilitas menurut para ahli antara lain:
40
Menurut Dieter (Dieter E. George, 2000), perancangan tata letak mencakup
penyusunan fisikal dan dari fasilitas industri di mana penyusunan tersebut
sudah ada maupun masih dalam bentuk perancangan yang berisi ruang (space)
yang dibutuhkan oleh pergerakan material, penyimpanan, pekerja tak
langsung dan aktifitas pendukung dan pembantu, yang sama-sama merupakan
perlengkapan operasi dan personel.
Menurut E.Meyers (Fred E. Meyers, 1993), perancangan tata letak adalah
pengaturan fasilitas-fasilitas fisik dari suatu perusahaan untuk meningkatkan
efisiensi penggunaan peralatan, material dan tenaga.
Menurut J ames Apple (Apple, J ames M, 1990, p2), perancangan fasilitas
adalah proses menganalisis, membentuk konsep, merancang dan mewujudkan
sistem bagi pembuatan barang atau jasa. Rancangan ini umumnya
digambarkan sebagai rencana lantai, yaitu satu susunan fasilitas fisik
(perlengkapan, tanah, bangunan dan sarana lain) untuk mengoptimumkan
hubungan antara petugas pelaksana, aliran barang, aliran informasi dan
tatacara yang diperlukan untuk mencapai tujuan usaha secara efisien,
ekonomis dan aman.
Maka dalam pengeritan secara umum, perancangan fasilitas dapat diartikan
sebagai suatu rencana lantai atau susunan fasilitas fisik (perlengkapan, tanah,
bangunan dan fasilitas lain) untuk mengoptimumkan hubungan antara manusia, mesin
41
dan peralatan, material energi, uang (modal), informasi dan sumber daya alam (tanah,
air, mineral, dll) untuk menghasilkan suatu produk secara efektif, efisien dan aman.
2.1.3.2 Ruang Lingkup Perancangan Tata Letak Fasilitas
Perancangan fasilitas merupakan suatu rangkaian kegiatan yang sangat luas
yang saling berhubungan dan secara keseluruhan membentuk kegiatan perancangan
tata letak fasilitas. Ruang lingkup pekerjaan perancangan fasilitas mencakup satu
kajian yang cermat paling tidak dari bidang-bidang berikut: (Apple. J ames M. 1990,
p3)
1. Pengangkutan
2. Penerimaan
3. Gudang bahan baku
4. Produksi
5. Perakitan
6. Pengemasan dan pengepakan
7. Pemindahan barang
8. Pelayanan pegawai
9. Kegiatan produksi penunjang
10. pergudangan
11. Pengiriman
12. Perkantoran
13. Fasilitas luar (penunjang)
42
14. Bangunan
15. Lahan
16. Lokasi
17. Keamanan
18. Buangan
2.1.3.3 Tujuan Perancangan Tata Letak Fasilitas
Tujuan dari perancangan fasilitas ini adalah untuk menggambarkan sebuah
susunan yang ekonomis dari tempat-tempat kerja yang berkaitan, di mana barang-
barang dapat berproduksi secara ekonomis.
Tujuan utama tersebut antara lain adalah: (Apple. J ames M, 1990, p6)
1. Memudahkan proses manufaktur
a. Penyusunan mesin, peralatan dan tempat kerja sehingga barang dapat
bergerak dengan lancar.
b. Hilangkan kelambatan yang ada dengan meminimasi waktu yang tidak
produktif.
c. Rencanakan aliran sehingga pekerjaan yang melalui sebuah tempat
dapat dikenali dan dihitung dengan mudah.
d. J aga mutu pekerjaan dengan merencanakan pemenuhan syarat-syarat
yang mengarahakan pada mutu yang baik.


43
2. Meminimumkan pemindahan barang.
Tata letak yang baik harus dirancang sedemikian rupa sehingga
pemindahan barang dapat diturunkan sampai batas minimum.
3. Menjaga keluwesan
Cara yang umum untuk memudahkan penyusunan ulang peralatan ini
adalah dengan membangun atau memasang sistem utilitas pada tempat-
tempat yang sambungan-sambungan pelayanannya dapat dipasankan
dengan mudah ketika bangunan didirikan. Susunan seperti itu memberi
kemungkinan mesin dipindahkan ke lokasi baru, atau dipasang kembali di
tempat semula.
4. Memelihara perputaran barang setengah jadi yang tinggi
Dalam hal ini penyimpanan barang setengah jadi diturunkan sampai
sekecil mungkin, sehingga akan mengurangi waktu total peredaran dan
jumlah barang setengah jadi dalam persediaan. Pada akhirnya akan
menyebabkan menurunnya biaya produksi.
5. Menurunkan penanaman modal dalam peralatan.
Susunan mesin dan departemen yang tepat dapat membantu menurunkan
jumlah peralatan yang diperlukan.
6. Menghemat pemakaian ruang bangunan.
44
Setiap meter persegi luas lantai dalam sebuah pabrik memakan biaya. Tata
letak yang tepat dicirikan oleh jarak yang minimum antar mesin, setelah
keluasaan yang diperlukan bagi gerakan orang dan barang ditentukan.
7. Meningkatkan efektifitas pemakaian tenaga kerja.
Sejumlah besar tenaga kerja produktif dapat terbuang karena keadaan tata
letak yang buruk. Dilain pihak tata letak yang tepat dapat menaikkan
pemakaian tenaga kerja secara efektif dengan cara menyeimbangkan
siklus mesin sehingga mesin dan pekerja tidak perlu menganggur.
8. Memberikan kemudahan, keselamatan dan kenyamanan pada pegawai.
Untuk memenuhi tujuan ini diperlukan perhatian atas hal-hal seperti
penerangan, pergantian udara, keselamatan, pembuangan kelembaban,
debu, kotoran dan lain sebagainya. Selain itu, kebisingan dan
perlindungan dari kebakaran perlu juga diperhatikan.








45
2.1.4 Kriteria Perancangan Tata Letak
Pada dasarnya kriteria utama perancangan tata letak ini adalah optimasi
pengaturan fasilitas-fasilitas operasi sehingga nilai yang diciptakan oleh sistem
produksi akan maksimal. Adapun secara rinci beberapa kriteria perancangan tata
letak fasilitas diantaranya adalah sebagai berikut: (Purnomo. Hari, 2004, p118)
1. Pemanfaatan area yang ada.
Perancangan tata letak yang optimal akan meberikan solusi dalam
penghematan penggunaan area (space) yang ada, baik area untuk
produksi, gudang, service dan untuk departemen lainnya.

2. Memaksimalkan dayaguna pemakaian mesin, tenaga kerja, dan fasilitas
produksi lebih besar.
Pengaturan yang tepat akan dapat mengurangi unvestasi di dalam
peralatan dan perlengkapan produksi. Peralatan-peralatan dan
perlengkapan dalam proses produksi dapat dipergunakan di dalam tingkat
effisiensi yang cukup tinggi. Begitu juga tenaga kerja dan fasilitas
produksi lainnya akan dapat lebih berdaya guna.

3. Meminimasi material handling.
Selama proses produksi/operasi perusahaan akan selalu terjadi aktivitas
perpindahan baik itu bahan baku, tenaga kerja, mesin ataupun peralatan
produksi lainnya. Proses perpindahan ini memerlukan biaya yang relatif
46
cukup besar. Dengan demikian, perancangan tata letak yang baik harus
mampu meminimalkan aktivitas-aktivitas perpindahan bahan. Tata letak
sebaiknya dirancang sedemikian rupa sehingga memungkinkan jarak
angkut dari masing-masing fasilitas dapat diminimalisir.

4. Berkurangnya waktu tunggu, kemacetan dan kesimpangsiuran.
Waktu tunggu dalam proses produksi (production delays) yang berlebihan
akan dapat dikurangi dengan pengaturan tata letak yang terkoordinasi
dengan baik. Banyaknya perpotongan dari suatu lintasan produksi
seringkali menyebabkan terjadinya kemacetan-kemacetan.

5. Adanya jaminan keamanan, keselamatan, dan kenyamanan bagi tenaga
kerja.
Para tenaga kerja tentu saja menginginkan bekerja dalam lingkungan yang
aman, nyaman dan menyenangkan. Hal-hal yang dianggap
membahayakan bagi kesehatan dan keselamatan kerja harus dihindari.

6. Waktu proses manufaktur yang lebih singkat.
Dengan memperpendek jarak antara operasi satu dengan operasi
berikutnya, maka waktu yang diperlukan dari bahan baku untuk
berpindah dari satu stasiun kerja ke stasiun kerja lainnya dapat
47
dipersingkat pula. Dengan demikian total waktu produksi juga dapat
dipersingkat.

7. Berkurangnya persediaan setengah jadi.
Persediaan barang setengah jadi (work in process inventory) terjadi
karena belum selesainya proses produksi dari produk yang bersangkutan.
Persediaan barang setengah jadi yang tinggi tidak menguntungkan
perusahaan karena dana yang tertanam tersebut sangat besar. Perancangan
tata letak yang baik hendaknya memperhatikan keseimbangan lintasan
(line balancing), karena menumpuknya barang setengah jadi salah
satunya disebabkan oleh tidak seimbangnya lintasan produksi.

8. Aktivitas supervisi lebih mudah.
Penempatan ruangan supervisor yang tepat akan memberikan keleluasaan
bagi supervisor untuk mengawasi aktivitas yang sedang berlangsung di
area kerja.

2.1.5 Analisis Aktifitas
2.1.5.1 From To Chart
From To Chart kadang-kadang disebut juga sebagai trip Frequency Chart
atau Travel Chart, yaitu suatu teknik konvensional yang umum digunakan untuk
perancanaan tata letak pabrik dan pemindahan bahan dalam suatu proses produksi.
48
Teknik ini sangat berguna untuk kondisi-kondisi dimana banyak material yang
mengalir melalui suatu area. Pada dasarnya from to chart ini merupakan adaptasi dari
Mileage Chart yang umum dijumpai pada suatu peta perjalanan. Angka-angka
yang terdapat dalam suatu from to chart akan menunjukkan total dari berat beban
yang harus dipindahkan, jarak perpindahan bahan, volume atau kombinasi dari ketiga
faktor ini.
From to chart dapat dibagi menjadi 3, yaitu from to chart frekuensi, from to
chart inflow, from to chart outflow.
From To Chart Frekuensi
From To Chart Frekuensi merupakan table yang bertujuan untuk
melihat material yang mengalir dari suatu fasilitas ke fasilitas lainnya.
Frekuensi perpindahan material ini dilihat berdasarkan tabel pada
aliran proses produksi.
From To Chart Inflow
Pada tabel ini, matriks diisi dengan rasio:
berada tersebut sel mana di Kolom Total
frekuensi) FTC (dari terisi yang matriks sel pada Nilai

From To Chart Outflow
Pada table ini, matriks diisi dengan rasio:
an mesin tuju menjadi tersebut sel mana di Kolom Total
frekuensi) FTC (dari X kolom pada terisi yang matriks sel pada Nilai



49
2.1.5.2 Skala Prioritas
Skala prioritas merupakan skala yang menunjukkan derajat kepentingan antar
mesin-mesin produksi maupun antar mesin dan gudang. Ada dua macam skala
prioritas, yaitu skala prioritas inflow, dibuat berdasarkan FTC inflow dan skala
prioritas outflow yang dibuat berdasarkan FTC outflow.
Untuk membantu menentukan kegiatan mana yang harus diletakkan pada
suatu tempat, telah ditetapkan satu pengelompokan derajat kedekatan, yang diikuti
dengan tanda bagi tiap derajat kedekatan tadi. Tanda yang menyatakan derajat
kedekatan tersebut ditentukan sebagai berikut.
A mutlak, kegiatan tersebut saling berdampingan satu dengan lainnya
E sangat penting, kegiatan-kegitan tersebut saling berdampingan
I penting, kegitan-kegitan tersebut saling berdekatan
O Kegiatan biasa/umum, dimana saja tidak masalah
U Tidak perlu adanya keterkaitan geografis apapun
Pengisian derajat kedekatan pada table skala prioritas berdasarkan angka-
angka dari FTC Inflow dan Outflow dengan berdasarkan range nilai untuk masing-
masing derajat kedekatan. (Apple, J ames M, p 225).

2.1.5.3 Analisa Relationship Diagram (ARD)
Hasil daripada skala prioritas akan dimanfaatkan untuk penentuan daripada
masing-masing fasilitas yang telah ditentukan hubungan kedekatannya pada suatu
diagram yang dikenal dengan Analisa Relationshio Diagram (ARD). Pada dasarnya
50
ARD ini menjelaskan hubungan pola aliran bahan dan lokasi daripada masing-masing
fasilitas. Dalam pembuatan ARD ini, kita juga dapat membuat Activity Template
Block Diagram. Pada diagram ini, tiap-tiap template akan menjelaskan mengenai
fasilitas yang bersangkutan dan hubungannya dengan aktivitas dari yang lain dapat
dilihat pada bab pembahasan mengenai penggunaan ARD ini.
Beberapa hal yang harus diperhatikan di dalam pembuatan ARD lantai
produksi antara lain:
1. ARD terdiri atas beberapa buah kotak berbentuk bujur sangkar yang
disusun sedemikian rupa sesuai dengan derajat kedekatannya membentuk
suatu susunan yang baik dengan meminimalkan adalanya dumyy (kotak
kosong sebagai tandan lahan tak terpakai).
2. Derajat kedekatannya yang telah ditentukan harus diperhatikan dalam hal
peletakan berbagai fasilitas yang ada, misal:
Derajat Kedekatan A, berarti antar fasilitas harus tepat bersebelahan
Derajat Kedekatan E, berarti antar fasilitas maksimal berjarak 1 kotak
Derajat Kedekatan I, berarti antar fasilitas maksimal berjarak 2 kotak
Derajat Kedekatan O, berarti antar fasilitas maksimal berjarak 3 kotak
Derajat Kedekatan I, jarak tidak diperhatikan
Derajat Kedekatan X, jarak tidak diperhatikan