Anda di halaman 1dari 2

ABSTRAK Granuloma adalah lesi makrofag epithelioid berupa nodul kecil yang merupakan reaksi peradangan lokal dari

suatu jaringan tubuh. Granuloma kanal merupakan reaksi peradangan lokal pada liang telinga. Pasien anak laki-laki berusia 10 tahun dengan keluhan telinga kiri terasa gatal dan sering mengeluarkan cairan berwarna hijau. Keadaan ini sudah dideritanya sejak 5 tahun yang lalu. Tidak ada riwayat infeksi maupun trauma sebelumnya. Pada pemeriksaan kanalis aurikularis dekstra et sinistra didapatkan terdapat granuloma, ada AS terdapat sekret berwarna kehijauan. Tidak nyeri.

Kata kunci : granuloma kanal.

KASUS Pasien anak laki-laki berusia 10 tahun dengan keluhan telinga kiri terasa gatal dan sering mengeluarkan cairan berwarna hijau. Keadaan ini sudah dideritanya sejak 5 tahun yang lalu. Tidak ada riwayat infeksi maupun trauma pada telinga sebelumnya. Pasien tidak batuk atau pilek, tenggorokan tidak nyeri, tidak gatal. Pada pemeriksaan kanalis aurikularis dekstra et sinistra didapatkan CAD terdapat granuloma, terdapat serumen, tetapi tidak ada sekret, tidak nyeri bila ditekan, membran timpani tidak dapat teramati karena terhalang granuloma. Pada CAS terdapat sekret berwarna kehijauan, terdapat granuloma yang tidak nyeri bila ditekan, membran timpani tidak dapat diamati karena terhalang oleh granuloma. Pemeriksaan hidung dan sinus paranasal dalam batas normal, pemeriksaan rongga mulut dalam batas normal, pemeriksaan tenggorokan dalam batas normal.

DIAGNOSIS Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik maka dibuat diagnosa kerja granuloma kanalis aurikularis bilateral.

TERAPI Penatalaksanaan pada pasien ini yaitu dengan tindakan granulomektomi.

DISKUSI Granuloma adalah lesi makrofag epithelioid berupa nodul kecil yang merupakan reaksi peradangan lokal dari suatu jaringan tubuh. Granuloma kanal merupakan reaksi peradangan lokal pada liang telinga. Granuloma dapat timbul sebagai manifestasi dari OMSK (Otitis Media Supuratif Kronis). Otitis media superatif kronika (OMSK) atau otitis media perforata (OMP) adalah infeksi kronis di telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan sekret yang keluar dari telinga tengah terus menerus atau hilang timbul. Sekret mungkin encer atau kental, bening atau berupa nanah. Granuloma juga dapat terjadi karena adanya benda asing di dalam telinga yang dapat menimbulkan reaksi inflamasi. Tanda adanya reaksi benda asing adalah fagositosis. Diawali dengan pengenalan antigen dari luar tubuh oleh sel imunogenik untuk mengeluarkan benda asing tersebut dengan fagositosis. Jika objek terlalu besar, fagosit membentuk sel raksasa benda asing untuk mengelilingi dan mengisolasi benda asing. Jika objek makroskopis perlindungan dengan sel raksasa gagal dan reaksi radang menjadi persisten membentuk granuloma benda asing. Penatalaksanaan pada granuloma kanal meliputi terapi medikamentosa dengan kortikosteroid topikal, antibiotik oral atau kombinasi keduanya dapat menghentikan pembesaran granuloma yang berhubungan dengan otitis media kronik. Obat tetes telinga (dapat melunakkan granuloma selama 2 sampai 3 minggu). Terapi lainnya yaitu dengan cara pembedahan granulomektomi (dengan specimen jaringan yang adekuat dapat digunakan untuk diagnosis histologi untuk menentukan rencana terapi).

KESIMPULAN Granuloma adalah lesi makrofag epithelioid berupa nodul kecil yang merupakan reaksi peradangan lokal dari suatu jaringan tubuh. Granuloma kanal merupakan reaksi peradangan lokal pada liang telinga. Dapat timbul sebagai manifestasi dari OMSK (Otitis Media Supuratif Kronis) atau karena adanya benda asing di dalam telinga yang dapat menimbulkan reaksi inflamasi. Penatalaksanaan pada granuloma kanal meliputi terapi medikamentosa dengan kortikosteroid topikal, antibiotik oral dan obat tetes telinga atau dengan cara pembedahan granulomektomi.

REFERENSI 1. Nizar, Nuty W, Endang Mangunkusumo. Buku Ajar Ilmu kesehatan Hidung dan Telinga. Editor : Eliaty AS, Nurbaiti, edisi ke 5 tahun 2006. 2. 3. McClay, Jhon E MD. Gastro-Esophageal Reflux Disease. www.emedicine.com Adam, Boies, Higler. BOIES. Buku Ajar Penyakit THT. Jakarta, EGC, 1997. Hal 196-8