Anda di halaman 1dari 10

Proses Pelingkupan Dalam KA-ANDAL Untuk Rencana Pembangunan Monorail Cibiru Unpad

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengantar Amdal

Proses Pelingkupan Dalam KA-ANDAL Untuk Rencana Pembangunan Monorail Cibiru – Unpad Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata

OLEH :

Lenna Lisbeth M

140410100025

Franky Gamaliel.P

140410100049

Amalia Shalihah

140410100061

Junia Anindya

140410100091

JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS PADJADJARAN

2013

  • A. Deskripsi Kegiatan

    • 1. Rencana Usaha / Kegiatan Penyebab Dampak

Aspek penting yang dilingkup dalam proses studi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) kegiatan pembangunan monorail adalah sebagai berikut : (i) rencana kegiatan pembangunan monorail yang dibatasi pada komponen kegiatan yang diperkirakan menimbulkan dampak perubahan secara mendasar terhadap komponen lingkungan, (ii) komponen lingkungan hidup yang ditelaah, dimana dibatasi hanya pada komponen lingkungan yang mengalami perubahan secara mendasar akibat serangkaian kegiatan pembangunan monorail, (iii) kegiatan lain yang ada di sekitar lokasi proyek.

1.1.

Rencana Jadwal Pelaksanaan Proyek

Secara umum aktivitas pembangunan monorail dibedakan atas 3 (tiga) tahapan kegiatan, yakni tahap pra-konstruksi (pengadaan lahan dan penerimaan tenaga kerja), konstruksi (pembukaan lahan, mobilisasi peralatan material, pembangunan sarana dan prasarana, dan pembangunan monorail ), dan pasca-kontruksi ( pengaplikasian monorail ). Pemilihan kegiatan yang menimbulkan dampak dan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak ditetapkan melalui suatu proses pelingkupan (scoping). Proses pelingkupan dilakukan melalui studi pendahuluan di lapangan, serangkaian diskusi antara anggota tim, hasil pertemuan dan konsultasi dengan berbagai pihak (pemrakarsa, pejabat pemerintah, para pakar, tokoh masyarakat dan/atau yang mewakili masyarakat yang terkena dampak) dan telaahan berbagai laporan studi sebelumnya yang relevan dengan rencana kegiatan proyek serta termasuk penjaringan lewat pengumuman di koran daerah.

1.2.

1.3.

Lokasi Proyek

1.4.

Pembangunan monorail dilakukan sepanjang jalan raya Cibiru hingga jalan Raya Sumedang di Km.5 (Kampus Universitas Padjadjaran Jatinangor). Pembangunan proyek ini meintasi 3 perguruan tinggi yaitu Institut Pemerintah Dalam Negeri (IPDN), Institut Koperasi Indonesia (Ikopin) dan Universitas Padjadjaran (Unpad). Selanjutnya deskripsi rona lingkungan akan dikhususkan ke Jalan Raya Cibiru dikarenakan daerah tersebut padat penduduk.

1.5.

Gambar 1. Peta Lokasi Proyek. 1.6. Gambar 2. Peta lokasi proyek dengan pencitraan google earth.

Gambar 1. Peta Lokasi Proyek.

1.6.

Gambar 1. Peta Lokasi Proyek. 1.6. Gambar 2. Peta lokasi proyek dengan pencitraan google earth.

Gambar 2. Peta lokasi proyek dengan pencitraan google earth.

1.7.

Tahapan Rencana Kegiatan Penyebab Dampak

Rencana kegiatan pembangunan monorail terbagi atas 3 tahap kegiatan, yaitu tahap pra-konstruksi, konstruksi dan pasca- kontruksi. Uraian komponen kegiatan yang ditelaah pertahapan kegiatan berkaitan dengan dampak yang ditimbulkan diuraikan sebagai berikut :

  • 2.1. Tahap Pra Konstruksi (Survei Lahan dan Mobilisasi Peralatan)

    • a. Survei Lahan Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini meliputi pengukuran atau pemetaan topografi, penentuan trace / aligmen lokasi pembangunan monorail serta kebutuhan prasarana lainnya termasuk penyelidikan beton, sehingga dapat ditentukan jenis beton yang sesuai guna mendukung peruntukan pembangunan monorail.

    • b. Mobilisasi Peralatan Mobilisasi peralatan mencakup kegiatan pemindahan peralatan dari dan ke dalam lokasi proyek yang dilakukan pada awal dan akhir kegiatan konstruksi. Mobilisasi peralatan ini meliputi kegiatan pengerahan dan pengangkutan peralatan-peralatan berat yang akan digunakan untuk menunjang kegiatan baik untuk pembukaan lahan, pembuatan jalan, dan pembangunan sarana dan prasarana, dan operasional jembatan.

  • 2.2. Tahap Konstruksi (Pembukaan Lahan dan Pembangunan Sarana-Prasarana)

    • a. Pembukaan Lahan Areal yang diperuntukan bagi lokasi proyek adalah sepanjang 7 km. Luasan dimaksud akan dialokasikan untuk areal pembanguan jembatan monorail beserta fasilitas penunjangnya.

    • b. Pembangunan Sarana dan Prasarana Pembangunan sarana dan prasarana penunjang kegiatan pembangunan monorail berupa : jalan, jembatan, kantor, perumahan karyawan, pos Checker, pembangkit listrik, sarana air bersih, dan fasilitas penunjang lainya. Komponen-komponen tersebut bekerja secara terintegrasi dan harmonis satu sama lain. Pembangunan Jembatan, dan fasilitas penunjang . Untuk kelancaran transportasi menuju lokasi proyek dan pabrik memerlukan pembangunan jalan penghubung berupa jalan utama ke lokasi proyek.

    • c. Tahap Operasional Pengaplikasian monorail di sepanjang jalan Cibiru UNPAD berikut dengan jalur track maupun tarif penggunaan fasilitas monorail.

    • B. Rona Lingkungan Hidup Awal

      • 1. Komponen Lingkungan Fisik-Kimia

        • 1.1. Iklim

    Kecamatan Cibiru beriklim tropis yang ditandai oleh adanya dua musim, yakni kemarau dan penghujan. Musim kemarau biasanya dimulai pada bulan April sampai September. Sedangkan, musim penghujan biasanya dimulai pada bulan Oktober sampai dengan Maret. Curah hujannya rata-rata 3.060 milimeter per tahun. Sementara itu, suhu udaranya berkisar dari 18° Celcius sampai dengan 30° Celcius.

    • 1.2. Kualitas Udara Parameter kadar debu dan gas-gas di udara yang diukur erat kaitannya dengan dampak

    yang diperkirakan mungkin terjadi terhadap kualitas udara selama kegiatan proyek terutama tergantung dari banyaknya sumber pencemar yaitu aktivitas yang berlangsung (seperti kegiatan angkutan / transportasi yang melintas pada saat pengukuran), dan variabel lain seperti suhu, kelembaban, arah dan kecepatan angin.

    • 1.3. Kebisingan

    Dilakukan pengujian kebisingan dilokasi proyek menggunakan alat. Parameter kebisingan diukur dari suasana dan kondisi sebelum dilakukannya proyek monorail serta setelah

    dilakukannya proyek tersebut. Dimana selama proyek dilakukan diperkirakan akan terjadi kecenderungan kebisingan yang lebih tinggi intensitasnya daripada keadaan sebelum proyek monorail dilakukan.

    • 1.4. Penggunaan Lahan Luas Cibiru secara keseluruhan dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

    Tabel 1. Lahan Desa Cibiru Berdasarkan Penggunaannya

    No.

    Jenis Lahan

    Jumlah

    Prosentase (%)

     
    • 1 Sawah

    2

    0,67

     
    • 2 Perumahan

    71,5

    24,24

     
    • 3 Tegalan/ladang

    153,5

    45,93

     
    • 4 Empang/kolam

    1,5

    0,5

     
    • 5 Kas Desa

    12,5

    4,24

     
    • 6 Lapangan

    3

    1,01

     

    7

    Perkantoran Pemerintah

    2,05

    0.69

     

    8

    Lain-lain

    48,95

    16.59

    2.

    Komponen Lingkungan Sosial

     
    • 2.1. Demografi

     

    Penduduk Desa Cibiru berjumlah 11.336 jiwa, dengan jumlah Kepala Keluarga (KK) 3.115. Jika dilihat berdasarkan jenis kelaminnya, maka jumlah perempuannya mencapai 7.721 jiwa (50,5%) dan penduduk berjenis kelamin laki-laki 5.615 jiwa (49,5%). Untuk ukuran sebuah Kecamatan, jumlah penduduk Desa Cibiru tergolong besar. Salah satu faktor penyebabnya adalah desa tersebut relatif dekat dengan pusat-pusat keramaian (kota). Malahan, berbatasan dengan wilayah kota Bandung. Keberadaan desa yang relatif tidak jauh dari pusat-pusat keramaian ini pada gilirannya membuat jumlah penduduknya berkembang pesat, khususnya di sekitar Jalan Raya Cibiru, sehingga penduduk yang bermukim di wilayah tersebut lebih padat ketimbang wilayah-wilayah lainnya. Dengan perkataan lain, wilayah desa bagian bawah relatif padat ketimbang wilayah bagian tengah dan bagian atas (lereng Gunung Manglayang), karena disamping bagian tengah dan atas relatif jauh dari pusat keramaian, kedua wilayah ini merupakan areal perladangan dan kawasan hutan lindung.

    • 2.2. Sosial Ekonomi

     

    Jenis-jenis mata pencaharian yang dilakukan oleh warga masyarakat Desa Cibiru sangat beragam. Mereka tidak hanya bertumpu pada sektor pertanian, sebagaimana lazimnya sebuah desa. Akan tetapi, ada yang bekerja sebagai pegawai negeri di berbagai instansi pemerintah, seperti: kelurahan, kecamatan, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan lain sebagainya. Kemudian, ada juga yang berjualan di Pasar Ujungberung, Cileunyi, dan di rumah sebagai pedagang kelontong. Dan, ada juga yang membuat keranjang bambu atas pesanan perusahaan kecap dan para petani sayur yang ada di Lembang. Selain itu, masih banyak jenis mata pencaharian lainnya, seperti: penjahit, montir, peternak, peladang, dan lain sebagainya.

     

    Tabel 2. Jenis Mata Pencaharian Penduduk Cibiru.

     
     

    No.

    Jenis Mata Pencaharian

    Jumlah

    Prosentase (%)

    1

    Pegawai Negeri

     
    • 346 12,72

    2

    Petani

    • 204 7,50

     

    3

    Buruh Tani

     
    • 532 19,55

    4

    Buruh/swasta

     
    • 472 17,53

    5

    Pengrajin

    68

    2,50

    6

    Pedagang/warung

    196

    7,23

     
    • 7 Penjahit

    5

    0,18

     
    • 8 Peternak

    861

    31,65

     
    • 9 Dokter

    2

    0,07

    10

    Montir

    34

    1,25

    • C. Hasil Konsultasi dengan Publik

    Hasil dari publikasi/penyampaian pada masyarakat: misalnya harus ada pekerja lokal, jalan tidak boleh macet, tidak ada aktivitas yang menyebabkan kerusuhan dll. Sikap dan persepsi masyarakat terhadap sesuatu sangat ditentukan oleh pengetahuan dan pemahamannya terhadap objek dari sikap itu sendiri. Selain itu, latar belakang budaya dan kondisi lingkungan (baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial) suatu masyarakat juga turut menentukan sikap dan persepsinya terhadap sesuatu, sehingga dilakukan pendataan secara tepat.

    • D. Dampak Potensial Dampak potensial yang teridentifikasi merupakan hasil interaksi antara komponen lingkungan hidup dengan rencana kegiatan usaha pembangunan Monorail. Interaksi komponen lingkungan yang diperkirakan akan mengalami perubahan (terkena dampak) karena rencana kegiatan usaha pembangunan monorail sebagai sumber dampak disajikan dalam bentuk matriks interaksi dampak sebagaimana yang tertuang pada tabel di bawah ini. Kegiatan yang diprakirakan akan menimbulkan dampak terhadap komponen lingkungan yang diamati diberi tanda (x). Tabel 4.1. Matriks Identifikasi Dampak Potensial Rencana Kegiatan Usaha Pembangunan Monorail

       

    A

     

    B

    D

    Komponen

                             

    Lingkungan

    1

    2

    3

    4

    5

    1

    2

    3

    4

    5

    6

    7

    1

    A. FISIK KIMIA

                             
    • 1. Iklim Mikro

             

    X

                 
    • 2. Kualitas Udara

               

    X

     

    X

     
    • X X

     

    X

    • 3. Kebisingan

               

    X

     

    X

     
    • X X

       
    • 4. Getaran

                             
    • 5. Bentang Alam

             

    X

                 
    • 6. Kualitas Tanah

                       
    • X X

    X

     

    X

    • 7. Banjir

             

    X

                 

    B. SOSIAL EKONOMI BUDAYA

                             
    • 1. Kepadatan penduduk

                   

    X

           
    • 2. Kesempatan Kerja bagi masyarakat

         

    X

           

    X

         

    X

    3. Pendapatan Masyarakat X 4. Aksesibilitas X X 5. Perekonomian Lokal 6. Penerimaan Asli Daerah 7.
    3.
    Pendapatan Masyarakat
    X
    4.
    Aksesibilitas
    X
    X
    5.
    Perekonomian Lokal
    6.
    Penerimaan Asli
    Daerah
    7.
    Sikap dan Persepsi
    X
    X
    X
    X
    C. KESEHATAN
    MASYARAKAT
    1.
    Sanitasi Lingkungan
    X
    X
    X
    2.
    Pola Penyakit
    X
    3.
    Keselamatan dan
    Kesehatan Kerja
    X
    X
    X X
    X
    X

    Keterangan:

    A.

    Pra Konstruksi

    B.

    Operasi

    1.

    Penetapan Lokasi

     

    1.

    Penyiapan lahan.

    2.

    Perizinan

    2.

    Mobilisasi alat dan material.

     

    a.

    Badan Hukum Usaha

    3.

    Penerimaan tenaga kerja konstruksi.

    b.

    Izin Tanah

    4.

    Pembuatan base camp

    c.

    Izin Instansi Terkait

    5.

    Pembangunan rel

     

    3.

    Sosialisasi

     

    6.

    Pembangunan Terminal

    4.

    Rekruitment dan Seleksi Tenaga Kerja

    7.

    Pengelolaan kesehatan dan keselamatan kerja

    5.

    Survei Kelayakan Teknis (oleh Pemrakarsa dan

    C.

    Pasca Operasi

     

    Instansi terkait)

    1. Demobilisasi peralatan

    • E. Prioritas Dampak Penting Hipotetik (Isu-Isu Pokok) Evaluasi dampak potensial dilakukan oleh pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan yang dalam hal ini dapat diwakili oleh konsultan penyusun AMDAL dengan mempertimbangkan hasil konsultasi dan diskusi dengan pakar, instansi yang bertanggung jawab serta masyarakat yang berkepentingan. Tujuan kegiatan ini adalah menghilangkan dampak potensial yang dianggap tidak relevan atau tidak penting, sehingga diperoleh daftar dampak penting hipotetik yang dipandang perlu dan relevan untuk ditelaah secara mendalam dalam studi ANDAL. Daftar dampak penting hipotesis yang dihasilkan pada tahap ini belum tertata secara sistematis. Metode yang digunakan adalah : Diskusi Diskusi dilakukan di antara anggota tim, antara anggota tim dengan pemrakarsa kegiatan, dengan institusi terkait serta dengan masyarakat setempat yang berpotensi terkena dampak. Pengamatan lapangan Pengamatan lapang dilaksanakan oleh ketua tim bersama anggota untuk mengidentifikasi dampak potensial secara mendalam melalui pengumpulan data sekunder, observasi lapangan dan wawancara. Penggunaan tujuh kriteria dampak penting, Kegiatan ini bertujuan untuk menilai sifat penting dampak berdasarkan Keputusan Kepala BAPEDAL No. 056 Tahun 1994 mengenai 7 (tujuh) kriteria dampak penting. Evaluasi dampak penting menunjukkan sifat dampak, sinergistik dan kumulatif dampak, sehingga dapat ditentukan

    penting tidaknya dampak, melalui : 1) jumlah manusia yang terkena dampak, 2) luas wilayah persebaran dampak, 3) intensitas dampak, 4) sifat kumulatif dampak, 5) lamanya dampak berlangsung, 6) berbalik tidaknya dampak, serta 7) banyaknya komponen lain yang terkena dampak. Selanjutnya berdasarkan proses evaluasi dampak potensial tersebut diperoleh dampak penting hipotetik sebagai berikut :

    • 1. Dampak Fisik dan Kimia Dampak potensial berdasarkan parameter fisik/ kimia akan jelas terlihat perubahannya antara sebelum dan sesudah proyek monorail. Perubahan yang terjadi dianggap sebagai suatu side effect dari keuntungan yang dihasilkan ketika proyek monorail telah diberlakukan. Beberapa perubahan-perubahan yang cenderung terjadi secara fisik maupun kimia, antara lain:

    Iklim Mikro

    Kualitas Udara dan Kebisingan

    Getaran

    Proyek pembangunan monorail akan menjadi trigger (pemicu) berkurang nya kemacetan. Seiiring dengan berkurangnya kemacetan, emisi yang ditimbulkan dari kendaraan akan berkurang juga sehingga menyebabkan berkurangnnya polusi udara. Dengan berkurangnya polusi udara kualitas udara yang ada setelah proyek pembangunan monorail diharapkan akan menjadi lebih baik.

    • 2. Sosial Ekonomi Masyarakat Dampak potensial berdasarkan parameter sosial ekonomi akan jelas terlihat perubahannya antara sebelum dan sesudah proyek monorail. Perubahan yang terjadi dianngap sebagai suatu side effect dari keuntungan yang dihasilkan ketika proyek monorail telah diberlakukan. Beberapa perubahan-perubahan yang cenderung terjadi secara fisik maupun kimia, antara lain:

    1)

    Kepadatan penduduk

    2)

    Kesempatan Kerja bagi masyarakat

    3)

    Pendapatan Masyarakat

    4)

    Aksesibilitas

    5)

    Penerimaan Asli Daerah

    Perekonomian daerah lokasi proyek diprakirakan akan mengalami perubahan seiring dengan adanya proyek monorail. Terbukanya kesempatan kerja yang berimplikasi pada

    peningkatan pendapatan masyarakat serta pajak dan munculnya usaha-usaha/mata pencaharian lain yang dengan adanya proyek pembangunan monorail yang dapat memudahkan proses mobilisasi. Dampak penting hipotetik pembentuk isu pokok adalah kesempatan kerja, pendapatan masyarakat, peningkatan pendapatan asli daerah dan perekonomian lokal.

    • F. Kepakaran Yang Diperlukan Tenaga Ahli yang dibutuhkan untuk melaksanakan kegiatan ini adalah tenaga ahli yang professional dengan kualifikasi sebagai berikut:

      • 1. Ahli Perencana Transportasi (Ketua Tim), dengan kualifikasi pendidikan minimal Pascasarjana S2 Teknik Sipil/Planologi/Manajemen Transportasi/ Teknik Transportasi, dengan pengalaman minimal 9 (sembilan) tahun dalam bidang perencanaan transportasi.

      • 2. Ahli Perencanaan Wilayah, dengan kualifikasi pendidikan minimal Sarjana S1 atau Pascasarjana S2 Planologi/Perencanaan Wilayah Kota, dengan pengalaman di bidang perencanaan wilayah minimal 10 (sepuluh) tahun untuk S1 atau minimal 5 (lima) tahun untuk S2.

      • 3. Ahli Pemodelan Transportasi, dengan kualifikasi pendidikan minimal Sarjana S1 atau Pascasarjana S2 Teknik Sipil/Planologi/Manajemen Transportasi/Teknik Transportasi, dengan pengalaman di bidang pemodelan transportasi minimal 10 (sepuluh) tahun untuk S1 atau minimal 5 (lima) tahun untuk S2.

      • 4. Ahli Sipil/Struktur, dengan kualifikasi pendidikan minimal Sarjana S1 atau Pascasarjana S2 Teknik Sipil, dengan pengalaman di bidang struktur minimal 10 (sepuluh) tahun untuk S1 atau minimal 5 (lima) tahun untuk S2.

      • 5. Ahli Prasarana KA, dengan kualifikasi pendidikan minimal Sarjana S1 atau Pascasarjana S2 Teknik Sipil, dengan pengalaman di bidang prasarana kereta api minimal 10 (sepuluh) tahun untuk S1 atau minimal 5 (lima) tahun untuk S2.

      • 6. Ahli Sarana dan Sistem Operasi KA, dengan kualifikasi pendidikan minimal Sarjana S1 atau Pascasarjana S2 Teknik Sipil/Teknik Mesin, dengan pengalaman di bidang sarana dan sistem operasi kereta api minimal 10 (sepuluh) tahun untuk S1 atau minimal 5 (lima) tahun untuk S2.

      • 7. Ahli Ekonomi Transportasi, dengan kualifikasi pendidikan minimal Sarjana S1 atau Pascasarjana S2 Teknik Sipil/Ekonomi, dengan pengalaman di bidang ekonomi transportasi minimal 10 (sepuluh) tahun untuk S1 atau minimal 5 (lima) tahun untuk S2.

      • 8. Ahli Lingkungan, dengan kualifikasi pendidikan minimal Sarjana S1 atau Pascasarjana S2 Teknik Lingkungan/Teknik Penyehatan, dengan pengalaman di bidang teknik lingkungan minimal 10 (sepuluh) tahun untuk S1 atau minimal 5 (lima) tahun untuk S2.