Anda di halaman 1dari 14

PENINGKATAN PRODUKSI RUMPUT LAUT Gracilaria verrucosa DI TAMBAK DENGAN PENAMBAHAN PUPUK1 Oleh : Febriko S.

D, Agus Suriawan, Sofiati, M.A Rahman2

Abstrak
Hingga saat ini hasil budidaya Gracilaria di tambak belum dapat mencukupi tingginya permintaan pasar terutama industri agar-agar. Intensifikasi budidaya Gracilaria hingga saat ini terus digalakkan guna mencukupi tingginya kebutuhan industri agar-agar. Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi Gracilaria adalah dengan cara pengolahan lahan yang baik dan penggunaan pupuk yang tepat pada media tambak. Upaya pemupukan tambak bertujuan untuk mencukupi unsur hara lahan yang sangat dibutuhkan Gracilaria untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Produktifitas lahan tambak budidaya Gracilaria sangat dipengaruhi oleh ketersediaan unsur hara pada media tambak yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan Gracialaria. Selain unsur hara, faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan Gracilaria di tambak adalah salinitas, suhu air tambak dan kecerahan media. Perlakuan pada kegiatan ini adalah penambahan pupuk pada media tambak setelah pergantian air. Metode budidaya Gracilaria yang digunakan adalah metode dasar (broadcast), dengan luas lahan tambak 3.780 M2 dan bibit yang ditebar sebanyak 370 kg dan lama pemeliharaan adalah 90 hari. Hasil pengamatan menunjukkan pertambahan berat thallus selama pemeliharaan adalah 7,7 kali berat awal bibit, sedangkan panjang thallus pada akhir pemeliharaan mencapai 35,0 cm. Produktifitas lahan selama pemeliharaan adalah 2.870 kg Gracilaria basah.

Kata kunci : Gracilaria , agar-agar, thallus, metode dasar (broadcast).

1 2

Makalah disampaikan pada Seminar Indonesia Aquakultur tanggal 17 Nopember 2008 di Yogyakarta Perekayasa BBAP Situbondo

I. 1.1. Latar Belakang

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan salah satu negara penghasil dan pengekspor rumput laut yang cukup penting di Asia. Produksi rumput laut lima tahun terakhir (2001 s/d 2005) berturutturut adalah 27.874, 28.560, 40.162, 51.011 dan 69.264 ton, dengan nilai masing-masing 17.229, 15.785, 20.511, 25.296 dan 35.555 US $ (Demersal, 2006). Sebagai negara kepulauan, Indonesia mempunyai jumlah pulau 17.504 buah dan panjang garis pantai mencapai 81.000 km mempunyai potensi yang besar untuk pengembangan budidaya sumber daya laut. Salah satu sumber daya laut yang dapat dibudidayakan dan mempunyai nilai ekomonis penting adalah rumput laut. Disamping

mempunyai nilai ekonomis penting dan dapat dibudidayakan, rumput laut juga mempunyai prospek pasar yang bagus, baik untuk pasar dalam negeri maupun untuk pasar eksport serta dapat meningkatkan taraf hidup bagi masyarakat nelayan maupun pesisir. Dengan melakukan budidaya, selain dapat memenuhi permintaan pasar juga akan berperan dalam melestarikan lingkungan, terutama sumber daya rumput laut. Sebagi salah satu komoditas perdagangan internasional, rumput laut telah di ekspor oleh lebih dari 30 negara. (Anonymous, 2005) Perairan Indonesia sebagai daerah tropis memiliki sumberdaya rumput laut yang cukup besar baik sebagai sumberdaya plasma nutfah dengan kurang lebih 555 jenis rumput laut di perairan Indonesia (ekspedisi Laut Siboga 1899-1900 oleh Van Bosse). Jenis yang banyak terdapat di perairan Indonesia adalah Gracilaria, Gelidium, Eucheuma, Hypnea, Sargasum dan Turbinaria. Dari beberapa jenis rumput laut telah mampu dikembangkan ratusan jenis produk yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang, antara lain pada industri pangan dan non pangan (Heyne, 1922; Zaneveld, 1955 dalam Ditjen DKP, 2003). Jenis alga merah yang mempunyai nilai ekonomis penting adalah Eucheuma sp, Gracilaria sp, Gelidium sp, Sargassum sp dan Turbinaria sp. Dari jenis tersebut yang telah banyak dibudidayakan adalah jenis Eucheuma sp dan Gracilaria sp. Eucheuma sp dibudidayakan di perairan pantai/laut, sedangkan Gracilaria sp lebih banyak dibudidayakan di tambak. Jenis lainnya yang belum dapat dibudidayakan adalah Gelidium sp dan kelas dari algae coklat (Sargassum sp dan Turbinaria sp). Hingga saat ini hasil budidaya Gracilaria di tambak belum dapat mencukupi tingginya permintaan pasar terutama industri agar-agar akan Gracilaria kering sebagai bahan baku utama penghasil agar. Intensifikasi budidaya Gracilaria hingga saat ini terus digalakkan guna mencukupi kebutuhan industri agar-agar. Salah satu upaya untuk meningkatkan

produksi Gracilaria adalah dengan cara pengolahan lahan yang baik dan penggunaan pupuk yang tepat pada media tambak. Upaya pemupukan tambak bertujuan untuk mencukupi unsur hara lahan yang sangat dibutuhkan Gracilaria untuk tumbuh dan berkembang.
1

1.2.

Tujuan Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mendapatkan informasi pertumbuhan rumput

laut Gracilaria verrucosa yang di budidayakan di tambak dengan pemupukan organik dan penambahan pupuk anorganik pada lahan tambak.

1.3.

Sasaran Sasaran dari kegiatan ini adalah terdapat peningkatan produksi rumput laut

Gracilaria verrucosa menjadi sebesar 5-6 kali bibit awal dari sebelumnya yang hanya 4 kali bibit awal.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Biologi dan Ekologi Gracilaria Gambaran umum rumput laut adalah macrobenthic (besar dan melekat), organisme

autothrophic, membutuhkan cahaya untuk keberlangsungan hidupnya sehingga rumput laut tidak dapat hidup pada kedalaman laut yang tidak ada penetrasi cahaya. Ukuran, bentuk dan warna rumput laut bervariasi. Rumput laut dapat ditemukan di beberapa variasi habitat sepanjang pantai dan melekat pada banyak jenis substrat seperti pasir, lumpur, batu, cangkang hewan laut, karang, kayu dan jenis rumput laut lainnya (Guanzon Jr., 2003). Algae kemungkinan merupakan kelompok pelopor atau perintis yang diklasifikasikan sebagian besar kepada kriteria biokemik, seperti yang dikemukakan oleh Lamouroux, C.A. Agardh dan W.H. Harvey. Linnaeus mengklasifikasikan berdasar sifat-sifat dasar yang kasar dari struktur thallus. Utrecht (1952), mengklasifikasikan Gracilaria sebagai berikut : Divisi : Rhodophyta Kelas : Rhodophyceae : Gigartinales : Gracilariaceae

Bangsa Suku

Marga : Gracilaria Jenis : Gracilaria verrucosa Dari hasil fotosintesa rumput laut menghasilkan beberapa zat penting dan mempunyai nilai ekonomis. Rumput laut merah (Rhodophyceae) menghasilkan floridin starch, mannoglycerate dan floridosida. Lebih spesifik lagi dikenal dengan polisakarida berupa agar-agar dan karaginan. Rumput laut cokelat (Phaeophyceae) menghasilkan alginat. Rumput laut hijau (Chlorophyceae) menghasilkan kanji dan lemak. Trono G.C,(1987),

Perkembangbiakan rumput laut pada dasarnya ada dua macam, yaitu secara kawin (generatif) antara gamet jantan dengan gamet betina dan secara tidak kawin dengan cara vegetatif, konjugatif dan spora.

Gambar 1. Diagram Daur Hidup Gracilaria verrucosa Gracilaria verrucosa dicirikan dengan bentuk thallus silndris, licin, berwarna kuning-coklat atau kuning-hijau. Percabangan berselang-seling tidak beraturan, kadang berulang-ulang memusat pada bagian pangkal. Cabang-cabang lateral memanjang menyerupai rumput, dengan panjang sekitar 25 cm dan diameter thallus sekitar 0,5-15 mm. (Doty, 1985) 2.2. Habitat Hidup dan Penyebaran Di alam Gracilaria hidup dengan cara menempel pada substrat dasar perairan atau benda lainnya pada daerah pasang surut. Bahkan di daerah Sulawesi pada musim-musim tertentu rumput laut jenis ini banyak terdampar di pantai karena hempasan gelombang dalam jumlah yang sangat besar dan berakibat over produksi. Gracilaria tersebar luas di sepanjang pantai daerah tropis. (Anggadiredja dkk, 2006) Gracilaria umumnya tumbuh di perairan yang mempunyai rataan terumbu karang melekat pada substrat karang mati atau kulit kerang ataupun batu gamping di daerah intertidal dan subtidal. Tumbuh tersebar hampir diseluruh perairan Indonesia. Di Indonesia umumnya yang dibudidayakan di tambak adalah jenis Gracilaria verrucosa. dan G. gigas , Jenis ini berkembang di perairan Sulawesi Selatan ( Jeneponto, Takalar, Sinjai, Bulukumba, Wajo, Paloppo, Bone, Maros); Pantai utara P. Jawa (Serang, Tangerang, Bekasi, Karawang, Brebes, Pemalang, Tuban dan Lamongan); Lombok Barat. Gracilaria selain dipanen dari hasil budidaya juga dipanen dari alam. Panen dari alam

kualitasnya kurang baik karena tercampur dengan jenis lain. (Anonymous, 2005) 2.3. Agarofit dan Wilayah Pengembangan Agarofit adalah jenis rumput laut penghasil agar seperti Gracilaria spp. dan Gelidium spp/Gelidiella yang diperdagangkan untuk keperluan industri di dalam negeri maupun untuk diekspor. Agar-agar merupakan polisakarida yang semakin meningkat nilainya bila dapat ditingkatkan menjad agarose. Agar-agar dapat membentuk jeli seperti karaginan tetapi
3

kandungan sulfatnya masih ada, bila sudah bebas dari kandungan sulfat menjadi agarose. Jenis yang dikembangkan secara luas adalah Gracilaria spp. (Kadi dan Atmaja, 1988) Jenis Agarofit yang sudah banyak dikembangkan adalah dari jenis Gracilaria spp jenis ini meliputi Gracilaria verrucosa dan Gracilaria gigas. dibudidayakan di tambak. Umumnya kedua jenis ini

Wilayah pengembangan budidaya Gracilaria verrucosa dan

Gracilaria gigas meliputi daerah Sulawesi Selatan (Jeneponto, Takalar, Sinjai, Bulukumba, Wajo, Paloppo, Bone dan Maros) ; Lombok Barat ; Pantai Utara Jawa (Serang, Tangerang, Bekasi, Karawang, Brebes, Pemalang, Tuban, Lamongan, Pasuruan dan Situbondo). (Anonymous, 2005) 2.4. Kebutuhan Gracilaria dan Agar Walaupun rumput laut telah dikenal sejak lebih dari seabad yang lalu tetapi industrinya baru dimulai sejak tahun 1930 dengan teknologi dan peralatan yang masih sederhana. Pada tahun 1955 terdapat 5 industri agar sederhana dengan total produksi 13,7 ton pertahun. Dua puluh tahun kemudian, pada tahun 1975 jumlah industri pengolah agar menjadi 10 buah dengan total produksi 108,7 ton pertahun. Walaupun masih ada industri yang hanya melakukan formulasi atau blending kemudian di kemas dan dijual, sedangkan agarnya diperoleh dari impor. Pada tahun 1993 industri agar berkembang menjadi 12

industri besar dan 3 industri tradisional dengan total produksi 888,5 ton pertahun (Zatnika A, 1997). Tabel 1. Data kebutuhan agar dan Gracilaria sp. Produk Agar Produksi Indonesia Kebutuhan Rumput Laut Gracilaria sp Agarophytes Lainnya 2006 12.375 2.180 99.000 79.200 19.800 2007 13.600 2.480 108.800 87.040 21.760 2008 2009 2010 14.970 16.470 18.120 3.000 3.500 4.500 119.800 131.800 145.000 95.840 105.440 116.000 23.960 26.360 29.000

Sumber : Jana T. Anggadiredja, BPPT Seaweed Tim, ISS 2006

2.5.

Budidaya Gracilaria verrucosa

2.5.1. Pemilihan Lokasi dan Konstruksi Tambak Konstruksi tambak sangat berpengaruh terhadap usaha budidaya rumput laut di tambak, konstruksi yang ideal adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. Luas petakan berkisar 0,5 1 ha dan berbentuk persegi panjang Dasar tambak tanah berlumpur dan sedikit berpasir Pintu air dua buah untuk setiap petak, yang berfungsi sebagai pintu pemasukan dan pintu pembuangan 4. 5. Kedalaman air antara 50 60 cm Kontur tanah melandai 5 10 cm

Lokasi tambak Gracilaria harus mempunyai kriteria sebagai berikut : Dasar tambak pasir berlumpur Tersedia sumber air tawar untuk menurunkan salinitas Dekat dengan pantai untuk mempermudah pergantian air Elevasi pasang surut antara 1 2 m untuk mempermudah pergantian air Salinitas air tambak antara 20 33 ppt Suhu air berkisar antara 20 28 OC pH air tambak antara 6 9 Kedalaman air tambak minimal 50 cm

2.5.2. Persiapan Lahan dan Pengelolaan Air Persiapan lahan bertujuan untuk mengoptimalkan lahan tambak sebelum digunakan untuk budidaya Gracilaria, yang meliputi : Penjemuran dasar tambak hingga kering Memperbaiki saluran air tambak sehingga tidak mengganggu sirkulasi air Pengisian air setinggi 10 cm dan disaponin 50 kg/ha Kemudian tambak dikeringkan dan diisi air lagi hingga ketinggian 50 100 cm Dilakukan pemupukan tambak dengan menggunakan NPK 450 kg/ha

Pengisian air tambak dilakukan dengan cara gravitasi atau mengikuti pasang surut air laut, dengan persyaratan kualitas air sebagai berikut : Suhu air antara 20 28 OC Salinitas optimal antara 15 30 ppt pH antara 6,8 8,2 Kecerahan antara 50 100 cm Bebas dari bahan pencemar Sirkulasi air minimal dua kali seminggu

2.6.

Pupuk dan Pemupukan Tambak Fungsi utama pemupukan adalah memberikan unsur hara yang diperlukan bagi

pertumbuhan rumput laut, memperbaiki struktur tanah dan menghambat peresapan air pada tanah-tanah yang tidak kedap air (porous). Jenis pupuk yang dapat memperbaiki struktur tanah dan menghambat peresapan air pada tanah adalah jenis pupuk organik atau pupuk kandang. Pupuk kandang yang dibutuhkan untuk luas areal tanam 1 ha berkisar antara 160 180 kg. Seperti pada tanaman lainnya, rumput laut Gracilaria juga memerlukan nutrisi untuk pertumbuhannya, diantaranya nitogen, phosphat dan kalium. Secara umum pada empat minggu pertama, rumput laut lebih banyak memerlukan nutrisi nitrogen, sedangkan pada
5

dua atau tiga minggu sebelum panen rumput laut lebih banyak memerluan nutrisi phosphat (Wisman dkk, 2007). Kendala yang dihadapi adalah seringnya pergantian air di tambak sehingga unsur hara (nutrisi) yang dibutuhkan rumput laut ikut terbuang, karena itu pupuk dalam bentuk pellet relatif lebih efektif kerena dapat melepas nutrisi ( unsur hara) secara bertahap. Penambahan pupuk dilakukan secara bertahap setelah dilakukan pergantian air tambak. Pupuk pertanian yang biasanya digunakan untuk pemupukan tambak adalah Urea, TSP, ZA dan NPK. 2.7. Penebaran dan Pemeliaraan Bibit Rumput Laut Bibit yang digunakan harus memenuhi persyaratan atau berkualitas sesuai standard yang ditentukan. Bibit dapat berasal dari pembudidaya atau dari petani penyedia bibit. Menurut BPPT (1994), bibit Gracilaria yang baik harus memenuhi kriteria sebagi

berikut : Tabel 2. Kriteria bibit Gracilaria.


No 1 Kriteria Spesifikasi Uraian Thallus silindris, licin, berwarna merah-coklat atau kuninghijau. Percabangan tidak beraturan, memusat pada bagian pangkal. Cabang lateral memanjang menyerupai rambut dengan panjang sekitar 15-30 cm. Air 11,6% ; Protein kasar 25-35% ; Lemak 1,05% ; Karbohidrat 43,10% ; Serat 7,50% ; Abu 11,40% 220 g/cm2

2 3

Komposisi Gel Strength

Sebelum ditebar bibit harus diadaptasikan terlebih dahulu dengan cara merendam dalam air tambak selama 1-2 jam. Setelah itu dilakuan pemilian bibit yang masih baik, bibit yang kodisinya masih baik segera ditanam/ditebar. Penanaman bibit Gracilaria di tambak dilakukan dengan menggunakan metode broadcast, dimana bibit ditebar pada seluruh bagian tambak. Keuntungan dari metode penanaman ini adalah biaya lebih murah,

penanaman dan pengelolaannya lebih mudah. Pada penanaman pertama, bibit rumput laut harus memiliki kualitas yang sangat baik dan untuk selanjutnya bibit rumput laut dapat diambil dari hasil panen. Pada kondisi salinitas yang mendukung, rumput laut akan tumbuh dengan optimal dan menghasilkan spora dan spora ini akan tumbuh menjadi rumput laut. Pada umumnya penebaran awal bibit rumput laut berkisar antara 1 1,5 ton untuk luasan areal tanam 1 ha. (Anonymous, 2005) Untuk mempertahankan salinitas dan unsur hara yang dibutuhkan rumput laut, perlu dilakukan pergantian air tiap tiga hari sekali dengan cara membuang air tambak antara 5060 % dan menggantinya dengan air yang baru. Pada saat musim kamarau pergantian air dapat dilakukan tiap dua hari sekali, hal ini bertujuan untuk mempertahankan salinitas agar tidak terlalu tinggi sebagai akibat dari penguapan air tambak.

Selama kegiatan budidaya rumput laut berjalan, perawatan secara berkala perlu dilakukan pada rumput lautitu sendiri dan pada petakan tambak. Perawatan pada rumput laut meliputi penyiangan/membuang rumput/alga lainnya yang bersifat kompetitor, sehingga tidak mengganggu pertumbuhan rumput laut Gracilaria yang dibudidayakan. Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan rumput laut ini salah satunya termasuk tumbuhan penempel. Tumbuhan penempel bersifat kompetitor dalam menyerap nutrisi untuk pertumbuhan, kadang-kadang algae filamen dapat menjadi pengganggu karena menutupi permukaan rumput laut yang menghalangi proses penyerapan dan fotosintesa. Tumbuhan penempel tersebut antara lain Hypnea, Dictyota, Acanthopora, Laurencia, Padina, Amphiroa dan alga filamen seperti Chaetomorpha, Lyngbya dan Symploca (Atmadja & Sulistijo, 1980).

2.8.

Polikultur Dengan Udang Dan Bandeng Budidaya Gracilaria dapat dilakukan secara monokultur dan polikultur bersama

udang dan bandeng di tambak. Dengan menggunakan sistem budidaya polikultur dapat meningkatkan efisiensi penggunaan lahan tambak dan pendapatan pembudidaya secara berkesinambungan (Djajadiredja dan Yunus, 1983) . Budidaya secara monokultur adalah dengan hanya membesarkan rumput laut saja, sedangkan secara polikultur dilakukan bersama bandeng dan udang. Budidaya ini didasari atas prinsip keseimbangan alam. Rumput laut berfungsi sebagai penghasil oksigen dan tempat berlindung bagi ikan-ikan dan udang dari predator dan sebagai biological filter. Ikan dan udang membuang kotoran yang dapat dipakai sebagai nutrient oleh rumput laut. Rumput laut menyerap CO2 terlarut hasil pernapasan ikan dan udang. Secara umum,

kehadiran rumput laut dalam tambak udang/bandeng berdampak positif. Budidaya polikultur rumput laut dengan bandeng, udang pada 1 ha tambak idealnya digunakan rasio sebagai berikut : 1 ton rumput laut : 1.500 ekor gelondongan ikan bandeng : 5.000 ekor tokolan udang windu. Gelondongan bandeng ditebar setelah rumput laut berumur 10 hari. Padat penebaran bandeng 1.500 ekor/ha. Seminggu kemudian baru dilakukan penebaran tokolan udang dengan padat penebaran 5.000 ekor/ha. (Anonymous, 2005) 2.9. Pemanenan Pemanenan pertama dapat dilakukan pada saat rumput laut berumur 90-120 hari setelah penebaran awal bibit (tergantung pertumbuhan rumput laut dan kesuburan lahan tambak budidaya). Pemanenan dapat dilakukan secara selektif pada rumput laut yang tua atau pamanenan total. Pada pemenenan secara selektif, rumput laut hasil pemanenan

dapat langsung dikeringkan setelah dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran yang menempel seperti lumpur, tanaman epifit atau keong yang biasanya menempel pada rumput laut. Pada

pemenenan total, rumput laut yang masih muda umumnya ditanam kembali digunakan untuk bibit. Pada usaha budidaya rumput laut secara polikultur panen dilakuan setelah rumput laut berumur 120 hari (4 bulan), dengan tujuan memberi kesempatan bandeng dan udang untuk tumbuh dan berkembang. Pada budidaya sistem polikultur udang dan bandeng

dipanen terlebih dahulu dengan cara mengurangi volume air tambak. Setelah udang dan bandeng dipanen, tahap selanjutnya adalah panen rumput laut dengan cara menurunkan ketinggian air tambak hingga 30 cm. Pada umumnya pemanenan dilakukan dengan meninggalkan sebagian rumput laut untuk dijadikan sebagai bibit. Setelah dilakukan pemanenan terhadap rumput laut, tahap berikutnya adalah mengisi kembali air tambak untuk selanjutnya dilakukan pemeliharaan terhadap bibit rumput laut.

III. 3.1. Alat : - Petakan tambak - Keranjang - Peralatan lapangan Alat dan Bahan

BAHAN DAN METODE

- Timbangan - Alat potong - Pengukur kualitas air

Bahan : 3.2. Bibit rumput laut Gracilaria verrucosa. Pupuk anorganik pertanian Pupuk organik (pupuk kandang) Metode Pada kegiatan perekayasaan ini dilakukan dua metode tanam yaitu : 1. P0 : Kontrol

2. P1 (AN) : Perlakuan dengan menggunakan pupuk anorganik 3. P2 (OR) : Perlakuan dengan menggunakan pupuk organik dan anorganik . 3.2.1. Persiapan Lahan Petak lahan tambak yang digunakan seluas 0,5 ha. Membersihkan saluran inlet dari rumput dan tanah dasar tambak Mengolah dasar tambak dan menjemurnya Memupuk dasar tambak dengan pupuk NPK 450 kg/ha Mengisi tambak dengan air sampai kedalaman 10 cm
8

Memberantas hama tambak dengan saponin 50 kg/ha Mengeringkan tambak, dan kemudian diisi air lagi hingga kedalaman 30 cm Tambak siap ditebar bibit Gracilaria

3.2.2. Penebaran Bibit 1. Metode budidaya yang digunakan adalah metode dasar (broadcast) 2. Bibit yang ditebar sebanyak 1 ton/ha tambak 3. Mengadaptasikan bibit dengan media tambak selama 1-2 jam 4. Menebarkan rumput laut secara merata pada petakan tambak pada pagi hari 5. Melakukan penyebaran ulang rumpun yang sudah tumbuh pada 4 minggu pertama. 6. Gelondongan udang dengan kepadatan 5.000 ekor/ha ditebar setelah rumput laut berumur 10 hari 3.2.3. Perawatan 1. Ketinggian air dipertahankan 30 cm pada 4 minggu pertama 2. Ketinggian air dipertahankan 50 cm pada minggu ke 5 sampai panen 3. Melakukan pembersihan kotoran dan membalik rumput laut 4. Mengganti air media tambak 50% tiap tiga hari sekali 5. Pada perlakuan P1 Penambahan Urea 3 kg/ha pada 4 minggu pertama setelah penggantian air 6. Pada perlakuan P2 dilakukan penambahan Urea 3 kg/ha dan pupuk kandang 10-20 kg/ha pada 4 minggu pertama setelah penggantian air 7. Penambahan pupuk setelah penggantian air perlakuan pada minggu ke 5-12 8. Penimbangan Gracilaria tiap 2 minggu sekali pada rumpun yang sama 9. Pemanenan dilakukan setelah rumput laut berumur 90 hari. 3.2.4. Pengamatan Pertumbuhan Penimbangan berat rumpun dengan cara sampling tiap 2 minggu sekali dan saat panen. Presentase laju pertumbuhan harian dihitung menggunakan rumus sebagai berikut : dgn TSP 5 kg/ha pada kedua

W t G = W o
Keterangan : G Wt W0 t = = = =

1t

1 x 100%

Laju pertumbuhan harian (% ) Bobot rata-rata akhir (gram) Bobot rata-rata awal (gram) Waktu pengujian

- Pengukuran panjang thallus tiap 2 minggu sekali.


9

- Berat total pada akhir pemeliharaan. - Kualitas air setiap seminggu sekali

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kegiatan perekayasaan ini dilaksanakan di tambak BBAP Situbondo, dilaksanakan mulai bulan September sampai dengan bulan Nopember 2007.

dan

Kegiatan

berlangsung selama 4 bulan pemeliharaan, pada tiga petak tambak dengan luas masingmasing adalah 3.780 M2. Bibit awal rumput laut yang digunakan pada masing-masing petak tambak adalah 370 kg. Tabel 2. Data sampling Gracilaria tiap perlakuan.
Perlakuan P1 : Anorganik P2 : (Organik+Anorganik) P0 : Kontrol Berat Awal (gr) 26,4 26,2 26,0 30 hari II IV 41,2 55,3 43,6 60,8 41,0 55,1 60 hari VI VIII 69,6 83,8 77,8 94,9 67,6 80,0 90 hari X XII 97,8 119,4 112,2 149,4 92,6 104,9

Data pengukuran berat rumpun tiap pelakuan disajikan pada Tabel 2. Dari data tersebut diketahui pertambahan berat rumpun pada perlakuan P2 menunjukkan hasil tertinggi (149,0 gr) dibandingkan dua perlakuan lainnya, P0 dan P1 masing-masing adalah 104,9 dan 112,4 gr. Kondisi ini dipengaruhi oleh adanya penambahan pupuk organik pada perlakuan P2, dimana pupuk organik bersifat memperbaiki kondisi dasar tambak dan melepas unsur hara secara perlahan-lahan karena aktifitas perombakan mikroorganisme. Sehingga unsur hara yang dilepas tidak mudah terbuang kerena pergantian air media tambak. Demikian juga pada perlakuan P1 dengan penambahan pupuk anorganik,

menunjukkan pertambahan berat lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan P0. Pupuk anorganik yang berbentuk butiran bersifat melepaskan unsur hara secara bertahap sehingga unsur hara yang dilepaskan tidak langsung hanyut tidak termanfaatkan oleh Gracilaria. Pendapat yang sama juga menyatakan bahwa, pupuk anorganik yang berbentuk pellet bersifat melepaskan unsur hara secara bertahap karena pupuk anorganik berbentuk pellet. (Wisman

I.C dkk, 2004).

Pendapat lain menyebutkan, Trono G.C,(1987), untuk

mengoptimalkan pertumbuhan Gracilaria, selama pemeliharaan tiap 3 hari sekali (setelah pergantian air) dilakukan penambahan pupuk organik (pupuk kandang) 160-180 kg/ha atau anorganik (urea 3 kg/ha). Perbedaan pertumbuhan rumput laut yang dipelihara juga dipengaruhi oleh metode budidaya yang digunakan yaitu pergantian air media pemeliharaan tiap 2-3 hari sekali. Dimana pada perlakuan P0 (tanpa penambahan pupuk), setiap selesai pergantian air tidak dilakukan penambahan pupuk, baik pupuk organik maupun anorganik. Sedangkan pada perlakuan P1 (penambahan pupuk organik) dan P2 (penambahan pupuk organik dan
10

anorganik), setelah pergantian air dilakukan penambahan pupuk sehingga kebutuhan unsur hara pada perairan selalu tercukupi. Trono G.C,(1987), menyebutkan pergantian air

dilakukan tiap satu minggu dua kali, dan dilakukan penambahan pupuk urea 3 kg/ha serta dapat juga ditambah dengan dengan kotoran babi yang difermentasi sebanyak 16 -180 kg/ha. Tabel 3. Pertambahan panjang dan berat tiap rumpun Gracilaria.
Perlakuan P1 (Anorganik) P2 (Organik+Anorganik) P0 : Kontrol Berat Awal (gr) 26,4 26,2 26,0 Berat Akhir (gr) 112,4 129,4 104,9 Panjang Awal (cm) Panjang Akhir (cm) Berat Total (kg)

11,3 12,0 12,0

33,7 35,0 33,3

2.587 (6,9x) 2.870 (7,7x) 2.558 (6,9x)

Dari Table 3. dapat diketahui bahwa hasil panen akhir kegiatan perekayasaan, perlakuan P2 merupakan yang tertinggi dengan hasil panen 2.870 kg (7,750x bibit awal), disusul perlakuan P1 dengan total panen 2.587 kg (6,991x bibit awal) dan terakhir pada perlakuan P0 dengan total panen 2.558 kg (6,910x bibit awal). Selain kesuburan

perairan (pemupukan), faktor lain yang berpengaruh pada pertumbuhan Gracilaria di tambak adalah kualitas air tambak yang meliputi ; salinitas, suhu, pH dan kecerahan. Hasil pengukuran kualitas air pada media tambak menunjukkan salinitas 30 ppt, suhu air 27o C, pH 8,0 dan kecerahan > 50 cm. Kondisi ini merupakan kondisi optimal untuk tumbuh dan berkembangnya Gracilaria. Anonymous, (1990) menyebutkan kisaran suhu

optimal untuk pertumbuhan Gracilaria antara 1530C, suhu dibawah 10C pertumbuhan Gracilaria lambat dan suhu diatas 35C Gracilaria tidak tumbuh dan berkembang. Chen Jia Xin, (1989), melaporkan bahwa pada suhu 30 C, pertumbuhan harian Gracilaria verrucosa di Guangdong dan Hainan adalah 0,1-0,2 cm/hari, tetapi apabila suhu air lebih rendah menjadi 28 C, pertumbuhan harian naik menjadi 0,4-0,5 cm/hari. Tetapi apabila kisaran suhu antara 1525 C, pertumbuhan Gracilaria bias lebih tinggi menjadi 1 cm/hari. Menurut Chen Jia Xin, (1989) bahwa Gracilaria merupakan macroalgae yang bersifat Euryhaline dan dapat tumbuh pada kisaran salinitas antara 5.238.1 ppt dan salinitas optimal untuk tumbuh adalah 11.330.1 ppt. Kecerahan perairan tambak berpengaruh pada intensitas cahaya matahari yang masuk kedalam tambak dan berpengaruh pula pada fotosintesa. Hasil pengukuran kecerahan perairan tambak di lokasi kegiatan perekayasaan adalah > 50, ini berarti Gracilaria dapat berfotosintesa secara optimal. Gracilaria

membutuhkan intensitas cahaya matahari yang tinggi untuk dapat berfotosintesa secara optimal. Kisaran nilai kecerahan perairan yang antara 0,5 1,5 m, memberikan pertambahan panjang antara 5 5,5 cm selama 10 hari pemeliharaan pada suhu air 17oC di China (Chen Jia Xin, 1989).

11

Tabel 4. Data kualitas air tambak selama kegiatan. Parameter Salinitas (ppt) Suhu air ( C) pH Kecerahan (cm)
o

Rata-rata Nilai 30 27 8,0 > 50

Beberapa permasalahan muncul pada saat kegiatan perekayasaan berjalan antara lain adalah ; pertumbuhan rumput laut lambat (kerdil), rumput laut diselimuti lumut atau alga berfilamen dan rumput laut tertutup lumpur pada satu sisi petekan tambak. Pertumbuhan rumput laut lambat dan sebagian kerdil disebabkan karena kualitas bibit yang digunakan tidak memenuhi standar yang telah ditetapkan, yaitu thallus silindris, licin, berwarna merahcoklat atau kuning-hijau. Percabangan tidak beraturan, memusat pada bagian pangkal. Cabang lateral memanjang menyerupai rambut dengan panjang sekitar 15-30 cm. Sedangkan lumut dan alga berfilamen muncul karena kurangnya perawatan pada rumput laut (tidak dibersihkan dari tanaman pengganggu). Sementara pada masalah rumput laut yang tertutup lumpur terjadi karena hembusan angin timur yang cukup kencang terjadinya gelombang pada perairan tambak sehingga berakibat rumput laut tertimbun lumpur. Selain itu kondisi ini juga terjadi karena air laut sebagai sumber air tambak banyak mengandung lumpur yang tersuspensi. V. 5.1. Kesimpulan Dari kegiatan perekayasaan ini dapt ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Penambahan pupuk organik dan anorganik dapat meningkatkan produksi Gracilaria sebesar 2.870 kg atau 5,74 x bibit awal. 2. Penambahan pupuk anorganik dapat meningkatkan produksi Gracilaria sebesar 2.587 kg atau 5,17x bibit awal. 3. Sedangkan pada perlakuan tanpa penembahan pupuk produksi Gracilaria sebesar 2.558 kg atau 5,11 x bibit awal. 5.2. Saran Dari kegiatan ini untuk memperoleh hasil produksi Gracilaria di tambak yang maksimal, dapat disarankan untuk menerapkan seleksi bibit Gracilaria, terutama untuk bibit awal penanaman, sehingga permasalahan pertumbuhan lambat atau kerdil dapat dihindari. KESIMPULAN DAN SARAN

12

DAFTAR PUSTAKA

Anggadiredja, J T., Zatnika, A., Heri Purwoto, dan Istini, S., 2006, Rumput Laut Pembudidayaan, Pengolahan dan Pemasaran Komoditas Perikanan Potensial. Penebar Swadaya, Informasi Dunia Pertanian, Jakarta. -------------------, 1990. Training Manual on Gracilaria Culture and Seaweed Processing in China. Zhanjiang Fisheries College People's Republic of China. Regional Seafarming Development and Demonstration Project (RAS/90/002). -------------------,2005. Profil Rumput Laut Indonesia, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta. 169 p. ------------------, 2005. Pengembangan Budidaya Rumput Laut Terpadu Dengan Pola Kemitraan. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta. 17 p. Atmadja, W.S. dan Sulistijo 1980. Experimental cultivation of red algal Eucheuma and Gracilaria in the lagoon of Pari Island Indonesia. Proc. Trop. Ecol. and Develop. Kuala lumpur : 11211126. Chen Jia Xin, 1989. GRACILARIA CULTURE IN CHINA. NETWORK OF AQUACULTURE CENTRES IN ASIANational Inland Fisheries Institute Kasetsart University Campus Bangkhen, Bangkok. Thailand. Gavino C. Trono, Jr. 1988. MANUAL ON SEAWEED CULTURE. POND CULTURE OF GRACILARIA. ASEAN/UNDP/FAO Regional Small-Scale Coastal Fisheries Development Project Manila, Philippines. Guanzon, N.G.Jr., 2003. Seaweed Biology and Ecology. Lecture Note. Responsible Aquaculture Development Training Programe. Aquaculture Department. SEAFDEC. Tingbauan. Iloilo. Philipines. 21 p. Kadi, A. dan Atmaja, W.S. 1988. Rumput Laut (Algae): Jenis, Reproduksi, produksi Budidaya dan Pasca Panen. Puslitbang Oseaologi. LIPI.71p Laode M.Aslan, 1998. Budidaya Rumput laut. Penerbit Kanisius, Yogyakarta. Soegiarto A, Sulistijo, W.S Atmadja dan H. Mubarak, 1978. Rumput Laut (Algae). Manfaat, Potensi dan Usaha Budidayanya. LON-LIPI SDE 45. Jkt:61 P. Sudjiharno, Aji N., 1999. Budidaya Rumput Laut di Indonesia. Prosiding : Seminar dan pameran Budidaya Laut Dalam Menunjang Protekan 2003. Jakarta 26 27 Agustus 1999. Direktorat Jenderal Perikanan. Departemen Pertanian. 12 p. Zatnika A, 1997. Profil Industri Rumput Laut Indonesia. Tim Rumput Laut BPPT. BPPT, Jakarta.

13