Anda di halaman 1dari 14

HARA

Oleh : Nama : Asteroida Diza Prameswary NIM : B1J011042 Rombongan : III Kelompok : 4 Asisten : Putri Dhiyas Destiana

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN II

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2013

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Untuk dapat tumbuh dan berproduksi optimal, tanaman membutuhkan hara esensial selain radiasi surya, air, dan CO2. Unsur hara adalah nutrisi atau zat makanan yang bersama-sama dengan air diserap oleh akar tanaman, kemudian dibawa ke daun. Unsur hara sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang tanaman. Unsur hara yang dibutuhkan tanaman terdiri dari unsur hara makro dan unsur hara mikro (Musyarofah et al, 2007). Unsur hara makro merupakan unsur hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah besar, contohnya N, P, K, Ca, Mg, S dan lain-lain. Unsur hara mikro merupakan unsur hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah kecil, contohnya: Fe, Mn, B, Mo, Cu, Zn, dan Cl. Kebutuhan unsur hara selain disediakan oleh tanah juga dapat desediakan dengan penggunaan pupuk (Suwandi, 2009). Penggunaan pupuk mampu meningkatkan kandungan unsur hara dalam tanah sehingga dapat memaksimalkan penyerapan oleh akar tanaman, serta dapat menghasilkan produksi melimpah dibanding dengan tanaman yang hanya mengandalkan unsur hara yang terdapat dalam tanah. Umumnya gejala defisiensi unsur hara ada 3 macam yaitu : a. Klorosis : daun tidak berklorofil sehingga daun pucat kekuningan. Contohnya jika tanaman kekurangan unsur Ca, Zn, Fe, Mg. b. Nekrosis : kering daun di bagian tepi. Contohnya jika tanaman kekurangan unsur Mg, K, Mn, Cu. c. Kerdil : pertumbuhan terganggu, pendek. Contohnya jika tanaman kekurangan unsur P, B, Zn, N, Ca, S. Unsur hara makro maupun mikro walaupun berbeda dalam jumlah kebutuhanya, namun dalam fungsi pada tanaman, masing-masing unsur sama pentingnya dan tidak bisa digantikan satu sama lain. Unsur hara mempunyai fungsi dan peran khusus sendirisendiri terhadap proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman,sehingga ketika terjadi kekurangan salah satu dari unsur hara tersebut maka akan mengakibatkan tidak optimalnya pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Agar dapat diserap oleh tumbuhan unsur-unsur hara tersebut harus berada dalam keadaan tersedia atau terlarut dalam larutan tanah seperti ion: N, H, P, O, K, Mg, dan lain-lain (Fassler et al., 2010). Oleh karena itu kapasitas tukar kation, pH tanah dan keadaan air merupakan suatu faktor yang sangat berpengaruh terhadap ketersediaan unsur hara.

Menurut Meyer (1992), unsur hara makro yang paling banyak dibutuhkan oleh tanaman adalah N, P, dan K. unsur-unsur tersebut memiliki peran antara lain 1. Nitrogen, memiliki fungsi dalam menyusun asam nukleat dan bermacammacam asam amino. Selain itu, nitrogen berperan sebagai penyusun klorofil. Apabila kekurangan unsur nitrogen, warna dau akan pucat. 2. Pospor, memiliki fungsis sebagai penyusun ATP, UTP, GTP, dan sebagainya. ATP memiliki peran dalam reaksi metabolisme tumbuhan. Apabila tumbuhan kekurangan unsur ini pertumbuhannya terhambat dan biasanya akan tumbuh kerdil. 3. Kalium, memiliki peran sebagai kofaktor pada berbagai enzim dan biasanya dalam bentuk ion, tidak pernah dalam komplek organik di dalam sel.

B. Tujuan Untuk mengetahui macam-macam hara dan pengaruhnya terhadap

pertumbuhan tanaman.

II.

MATERI DAN METODE

A. Materi Peralatan yang digunakan dalam praktikum hara yaitu: 10 buah botol gelap, 10 sumbat botol dari kapas, beaker glass, timbangan analitik, penggaris dan kertas label. Bahan yang digunakan dalam praktikum hara yaitu: Rumput teki (Cyperus rotundus), larutan baku unsur hara, dan aquadest.

B. Metode 1. Botol gelap dicuci hingga bersih, kemudian dibilas dua kali dengan aquadest. 2. Botol tersebut ditandai dengan kertas label, masing-masing larutan hara lengkap dengan Fe EDTA atau hara lengkap dengan FeCl3, -Ca, -S, -Mg, -K, -N, -P, -Fe, dan -hara mikro. 3. Dibuat larutan baku Ca(NO3)2 1M, KNO3 1M s/d KCl 1M sebagaimana seperti tabel. 4. Larutan hara dengan komposisi seperti tabel disiapkan. 10 mL larutan Ca(NO3)2 1M, 4 mL MgSO4 1M, 2 mL KH2PO4 1M, 2mL Fe EDTA, dan hara mikro sebanyak 2 mL dipipet, aquadest ditambahkan, dan gelas ukur digunakan untuk mengukur volumenya. Diaduk hingga homogen. 5. Larutan hara berturut-turut dari hara lengkap Fe EDTA atau FeCl3, kemudian , Ca, -S, -Mg, -K, -N, -P, -Fe, -hara mikro. 6. Botol gelap diisi kurang lebih volume dengan larutan-larutan hara tersebut sesuai dengan labelnya masing-masing. Permukaan larutan hara ditandai dengan spidol. 7. Rumput teki diambil 10 buah. 8. Panjang akar terpanjang dan panjang batang di ukur, serta jumlah akarnya dicatat. 9. Rumput teki di pasang pada sumbat botol gelap. 10. Diamati tiap hari. Apabila larutan dalam botol berkurang, aquadest ditambahkan sampai tepat pada tanda spidol.

11. Akhir minggu kedua, panjang akar terpanjang, panjang batang di ukur kembali, dan jumlah akar yang terbentuk dicatat. Gejala-gejala kekurangan unsur yang khas diamati pada daun, batang, dan akar. 12. Semua larutan hara sisa dan bahan tanaman di buang. Kemudian botol-botol tersebut dicuci.

III.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.

Hasil

Gambar 1. hara minggu ke-0

Gambar 2. hara minggu ke-1

Gambar 3. hara minggu ke-2

Tabel 1. Parameter Jumlah Akar


SR Perlakuan Galat Total dB 9 JK KT Fhitung 1,5245189
ns

F Table 0,05 0,01 2,39 3,46

81,866667 9,096296

20 119,333333 5,966667 29 201,200000

Tabel 2. Parameter Panjang Akar Terpanjang


SR dB JK KT Fhitung
ns

F Table 0,05 2,39 0,01 3,46

Perlakuan Galat Total

9 20 29

41,372000 4,596889 177,286667 8,864333 218,658667

0,518582584

Tabel 3. Parameter Tinggi Tanaman


SR dB JK KT Fhitung
ns

F Table 0,05 2,39 0,01 3,46

Perlakuan Galat Total

9 20 29

48,033667 5,337074 221,033333 11,05167 269,067000

0,48292029

B. Pembahasan Berdasarkan hasil praktikum yang diperoleh dari tabel anova, didapatkan untuk ketiga parameter yang diujikan menghasilkan data yang non signifikan itu berarti

perlakuaan penambahan dan pengurangan unsur hara terhadap pertumbuhan tanaman rumput teki tidak berpengaruh. Berdasarkan hasil pengamatan praktikum hara dapat di ketahui bahwa pengaruh hara pada panjang akar tidak signifikan dengan jumlah Fhitung

0,518582584 ns, dapat di simpulkan hara tidak mampengaruhi terhadap pemanjangan


akar. Pengaruh hara pada pertumbuhan tinggi tanaman tidak signifikan dapat di lihat dari hasil Fhitung pada tabel mencapai 0,48292029 ns, semua hara pada tiap-tiap tanaman tidak berpengaruh besar untuk pertumbuhan tinggi tanaman. Pengaruh hara pada jumlah akar tidak signifikan bagi pertumbuhah jumlah akar pada tanaman hal tersebut bisa dilihat dari hasil Fhitung berjumlah 1,5245189 ns. Hal ini bisa terjadi dengan adanya beberapa faktor yang di alami pada saat pengamatan di antaranya kurang larutan dalam botol tanaman sehingga larutan hara tidak dapat berkerja dengan baik untuk pertumbuhan jumlah akar tersebut (Dwidjoseputro, 1992). Unsur hara essensial adalah unsur-unsur yang diperlukan oleh tumbuhan agar dapat menyelesaikan siklus hidupnya. Unsur-unsur tersebut diperlukan oleh tanaman sebagai penunjang aktivitas tanaman itu sendiri sebagai organisme autotrof terdiri dari air (90%) dan bahan kering atau dry matter (10%). Organisme ini harus mendapatkan substansi yang berasal dari lingkungan secara konstan untuk proses metabolisme tubuhnya, serta untuk tumbuh dan berkembang (Hoppins, 1995). Suatu unsur dikatakan esensial bila unsur itu juga berperan langsung dalam tumbuhan dan bukan meyebabkan suatu unsur lain menjadi lebih mudah tersedia, atau melawan efek unsur lain. Unsur yang dibutuhkan dalam jumlah banyak oleh tanaman disebut unsur hara makro, sedangkan unsur yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit disebut unsur hara mikro. Unsur hara makro terdiri dari C, H, O, N, S, P, K, Ca dan Mg yang berfungsi sebagai penunjang pertumbuhannya, sedangkan unsur hara mikro terdiri atas B, Cl, Ca, Fe, Mn, Mo dan Zn yang berfungsi untuk aktivitas enzimnya dan juga berperan dalam proses metabolisme tanaman. Menurut (Thomas & Richardson, 1973), unsur hara mikro yang dibutuhkan tanaman: A. Besi (Fe)

Besi (Fe) merupakan unsure mikro yang diserap dalam bentuk ion feri (Fe3+) ataupun fero (Fe2+). Fe dapat diserap dalam bentuk khelat (ikatan logam dengan bahan organik). Fungsi Fe antara lain sebagai penyusun klorofil, protein, enzim, dan berperanan dalam perkembangan kloroplas. Fungsi lain Fe ialah sebagai pelaksana pemindahan electron dalam proses metabolisme. Kekurangan Fe menyebabakan

terhambatnya pembentukan klorofil dan akhirnya juga penyusunan protein menjadi tidak . Defisiensi Fe menyebabkan kenaikan kadar asam amino pada daun dan penurunan jumlah ribosom secara drastis. Penurunan kadar pigmen dan protein dapat disebabkan oleh kekurangan Fe. Juga akan mengakibatkan pengurangan aktivitas semua enzim. B. Mangan (Mn) Mangaan diserap dalam bentuk ion Mn++. Seperti hara mikro lainnya, Mn dianggap dapat diserap dalam bentuk kompleks khelat dan pemupukan Mn sering disemprotkan lewat daun. Berperan sebagai activator bagi sejumlah enzim utama dalam siklus krebs, dibutuhkan untuk fungsi fotosintetik yang normal dalam kloroplas, ada indikasi dibutuhkan dalam sintesis klorofil. Defisiensi unsur Mn

antara lain : pada tanaman berdaun lebar, interveinal chlorosis pada daun muda mirip kekahatan Fe tapi lebih banyak menyebar sampai ke daun yang lebih tua, pada serealia bercak-bercak warna keabu-abuan sampai kecoklatan dan garis-garis pada bagian tengah dan pangkal daun muda, split seed pada tanaman lupin. C. Seng (Zn) Zn diserap oleh tanaman dalam bentuk ion Zn+ dan dalam tanah alkalis mungkin diserap dalam bentuk monovalen Zn(OH)+. Seperti unsur mikro lain, Zn dapat diserap lewat daun. Fungsi Zn antara lain : pengaktif enzim anolase, aldolase, asam oksalat dekarboksilase, lesitimase, sistein desulfihidrase, histidin deaminase, super okside demutase (SOD), dehidrogenase, karbon anhidrase, proteinase dan peptidase. Juga berperan dalam biosintesis auxin, pemanjangan sel dan ruas batang. Adapun gejala defisiensi Zn antara lain : tanaman kerdil, ruas-ruas batang memendek, daun mengecil dan mengumpul dan klorosis pada daun-daun muda dan intermedier serta adanya nekrosis. D. Tembaga (Cu) Tembaga (Cu) diserap dalam bentuk ion Cu++ dan mungkin dapat diserap dalam bentuk senyaewa kompleks organik, misalnya Cu-EDTA (Cu-ethilen diamine tetra acetate acid) dan Cu-DTPA (Cu diethilen triamine penta acetate acid). Fungsi dan

peranan Cu antara lain : mengaktifkan enzim sitokrom-oksidase, askorbit-oksidase, asam butirat-fenolase dan laktase. Berperan dalam metabolisme protein dan karbohidrat, berperan terhadap perkembangan tanaman generatif, berperan terhadap fiksasi N secara simbiotis dan penyusunan lignin. Adapun gejala defisiensi / kekurangan Cu antara lain : pembungaan dan pembuahan terganggu, warna daun muda kuning dan kerdil, daun-daun lemah, layu dan pucuk mongering serta batang dan tangkai daun lemah. E. Molibden (Mo) Molibden diserap dalam bentuk ion MoO4-. Variasi antara titik kritik dengan toksis relatif besar. Bila tanaman terlalu tinggi, selain toksis bagi tanaman juga berbahaya bagi hewan yang memakannya. Hal ini agak berbeda dengan sifat hara mikro yang lain. Fungsi Mo dalam tanaman adalah mengaktifkan enzim nitrogenase, nitrat reduktase dan xantine oksidase. Gejala yang timbul karena kekurangan Mo hampir menyerupai kekurangan N. Kekurangan Mo dapat menghambat pertumbuhan tanaman, daun menjadi pucat dan mati dan pembentukan bunga terlambat. F. Boron (B) Boron dalam tanah terutama sebagai asam borat (H2BO3) dan kadarnya berkisar antara 7-80 ppm. Boron dalam tanah umumnya berupa ion borat hidrat B(OH) 4-. Boron yang tersedia untuk tanaman hanya sekitar 5% dari kadar total boron dalam tanah. Boron ditransportasikan dari larutan tanah ke akar tanaman melalui proses aliran masa dan difusi. Selain itu, boron sering terdapat dalam bentuk senyawa organik. G. Klor(Cl) Klor merupakan unsur yang diserap dalam bentuk ion Cl- oleh akar tanaman dan dapat diserap pula berupa gas atau larutan oleh bagian atas tanaman, misalnya daun. Kadar Cl dalam tanaman sekitar 2000-20.000 ppm berat tanaman kering. Kadar Cl yang terbaik pada tanaman adalah antara 340-1200 ppm dan dianggap masih dalam kisaran hara mikro.

Menurut Meyer and Anderson (1992), peranan umum unsur hara esensial bagi tumbuhan antara lain : 1. Komponen penyusun protoplasma dan dinding sel Sejumlah elemen sangat penting sebagai komponen permanen pada protoplasma dan dinding sel.

2. Berpengaruh pada tekanan osmotik sel tumbuhan Tekanan osmotik beberapa sel tumbuhan diatur oleh bahan organik dan bahan mineral yang terlarut dalam cairan sel. Kebanyakan sel tumbuhan dengan konsentrasi unsur hara yang tinggi, tekanan osmotik cairan tumbuhan sangat rendah. 3. Berpengaruh terhadap kerja asam dan bufer Unsur hara yang diserap dari tanah seringkali berpegaruh pada pH cairan sel dan bagian lain dari sel tumbuhan, walaupun kadang-kadang tidak begitu besar. Asam organik dan senyawa lain menyebabkan aktivitas metabolik pada tumbuhan biasanya mempunyai pengaruh terutama dalam menentukan pH sel. 4. Berpengaruh pada permeabilitas membran sitoplasma Permeabilitas membran sitoplasma dipengaruhi oleh kation dan anion pada medium yang terkontak langsung dengannya. 5. Fungsi toksik dari elemen mineral Banyak unsur hara dalam bentuk ion mempunyai pengaruh toksik terhadap protoplasma, kadang-kadang menyebabkan kematian saat konsentrasinya sangat rendah. 6. Fungsi antagonistik Satu ion atau garam berpengaruh balik pada ion atau garam lain. Beberapa elemen mineral berinteraksi dengan cara mengatur keseimbangan ion. 7. Fungsi katalitik Pengaruh khusus unsur hara pada tumbuhan diakibatkan oleh partisipasinya dalam suatu fungsi atau sistem katalitik dan berbagai reaksi enzimatis dalam sel. Unsur hara dapat tersedia disekitar akar melalui 3 mekanisme penyediaan unsur hara, yaitu: (1) aliran massa, (2) difusi, dan (3) intersepsi akar. Hara yang telah berada disekitar permukaan akar tersebut dapat diserap tanaman melalui dua proses, yaitu: 1. Proses Aktif: Proses penyerapan unsur hara dengan energi aktif dapat berlangsung apabila tersedia energi metabolik. Energi metabolik tersebut dihasilkan dari proses pernapasan akar tanaman. Selama proses pernapasan akar tanaman berlangsung akan dihasilkan energi metabolik dan energi ini mendorong berlangsungnya

penyerapan unsur hara secara proses aktif. Apabila proses pernapasan akar tanaman berkurang akan menurunkan pula proses penyerapan unsur hara melalui proses aktif. Bagian akar tanaman yang paling aktif adalah bagian dekat ujung akar yang baru terbentuk dan rambut-rambut akar. Bagian akar ini merupakan bagian yang melakukan kegiatan respirasi (pernapasan) terbesar. 2. Proses Selektif: Bagian terluar dari sel akar tanaman terdiri dari: (1) dinding sel, (2) membran sel, (3) protoplasma. Dinding sel merupakan bagian sel yang tidak aktif. Bagian ini bersinggungan langsung dengan tanah. Sedangkan bagian dalam terdiri dari protoplasma yang bersifat aktif. Bagian ini dikelilingi oleh membran. Membran ini berkemampuan untuk melakukan seleksi unsur hara yang akan melaluinya. Proses penyerapan unsur hara yang melalui mekanisme seleksi yang terjadi pada membran disebut sebagai proses selektif. Proses selektif terhadap penyerapan unsur hara yang terjadi pada membran diperkirakan berlangsung melalui suatu carrier (pembawa). Carrier (pembawa) ini bersenyawa dengan ion (unsur) terpilih. Selanjutnya, ion (unsur) terpilih tersebut dibawa masuk ke dalam protoplasma dengan menembus membran sel.

IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa: 1. Hara makro merupakan unsur yang dibutuhkan dalam jumlah banyak dalam tanaman. Hara makro berperan dalam elektro kimia, penyusunan struktur dan sebagai katalitik. 2. Gejala yang timbul bila kekurangan unsure hara maka tumbuhan akan mengalami klorosis, kerdil dan nekrosis bahkan kematian. 3. Penghilangan unsur hara yang dilakukan tidak berpengaruh nyata pada rumput teki.

DAFTAR REFERENSI

Dwidjoseputro. 1992. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia, Jakarta. Fassler Erika, Brett H. Robinson, Satish K. Gupta, Rainer Schulin. 2010. Uptake And Allocation Of Plant Nutrients And Cd In Maize, Sunflower And Tobacco Growing On Contaminated Soil And The Effect Of Soil Conditioners Under Field Conditions. Nutr Cycl Agroecosyst. DOI 10.1007/s10705-009-9342-z. Hoppins, W.G. 1995. Introduction to Plant Physiology. John Wiley & Sons, Inc, New York. Meyer, B. S. and D. B. Anderson. 1992. Plant Fisiology. D. Van Nostrand Company, Inc, Princeton, New Jersey. Musyarofah Neni, Slamet Susanto, Sandra A. Aziz, dan Suyanto Kartosoewarno. 2007. Respon Tanaman Pegagan (Centella asiatica L. Urban) Terhadap Pemberian Pupuk Alami di Bawah Naungan. Bul. Agron. (35) (3) 217 224. Suwandi. 2009. Menakar Kebutuhan Hara Tanaman dalam Pengembangan Inovasi Budi Daya Sayuran Berkelanjutan. Pengembangan Inovasi Pertanian 2(2): 131-147. Thomas. M.S.L. And J.A. Richardson. 1973. Plant Physiology. Longman Group Ltd, London.