Anda di halaman 1dari 11

1.

Judul Percobaan Titrasi Natrium Hidroksida dengan Asam Oksalat 0,0505 M

2. Tanggal Percobaan 19 November 2012

3. Tujuan Memahami dan dapat menstandarisasi larutan baku sekunder Natrium hidroksida dengan larutan baku primer H2C2O4

4. Dasar Teori 2.1 Titrasi Asam kuat dan basa kuat, dalam air akan terurai sempurna. Oleh karena itu ion hidrogen dan ion hidroksida selama titrasi dapat langsung dihitung dari jumlah asam atau basa yang ditambahkan. Pada titik ekivalen dari titrasi asam kuat dan basa kuat pada temperatur 25o C sama dengan pH air, yaitu sama dengan 7. Sebagai catatan perlu dikemukakan bahwa dasar perhitungan pada reaksi asam-basa yang terpenting adalah kesetimbangan dan stoikiometri reaksi. Di laboratorium kita sering menghitung volume dari suatu larutan yang dibutuhkan untuk bereaksi dengan larutan lain yang volume dan konsentrasinya telah diketahui. Lalu kita menghitung konsentrasi dari larutan tersebut. Proses tersebut dikatakan Titrasi. Titrasi adalah suatu metode penentuan kadar (konsentrasi) suatu larutan dengan larutan lain yang telah diketahui konsentrasinya. Titrasi merupakan suatu metoda untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah dikethaui konsentrasinya. Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses

titrasi, sebagai contoh bila melibatan reaksi asam basa maka disebut sebagai titrasi asam basa, titrasi redoks untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi, titrasi kompleksometri untuk titrasi yang melibatan pembentukan reaksi kompleks dan lain sebagainya. Titrasi asam basa terbagi menjadi dua, yaitu :

1.

Asidimetri

pengukuran

konsentrasi

asam

dengan

menggunakan larutan baku basa 2. Alkalimeteri : pengukuran konsentrasi basa dengan

menggunakan larutan baku asam.

2.2 Prinsip Titrasi Asam basa Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titrat ataupun titran. Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya. Titran ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan ekuivalen ( artinya secara stoikiometri titran dan titrat tepat habis bereaksi). Keadaan ini disebut sebagai titik ekuivalen. Pada saat titik ekuivalen ini maka proses titrasi dihentikan, kemudian kita mencatat volume titrat yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Dengan menggunakan data volume titran, volume dan konsentrasi titrat maka kita bisa menghitung kadar titran. 2.3 Jenis-Jenis Titrasi Asam Basa Titrasi asam basa terbagi menjadi 5 jenis yaitu : 1. Asam kuat - Basa kuat 2. Asam kuat - Basa lemah 3. Asam lemah - Basa kuat 4. Asam kuat - Garam dari asam lemah 5. Basa kuat - Garam dari basa lemah

Analisa kimia kuantitatif yang dilakukan dengan jalan mengukur volume suatu larutan baku yang tepat bereaksi (bereaksi sempurna) dengan larutan yang di analisis disebut dengan analisis volumetri. Misalnya akan dicari normalitas suatu larutan, maka ke dalam larutan tersebut ditambahkan larutan baku sehingga terjadi reaksi sempurna antara larutan dengan larutan baku. Larutan baku adalah larutan yang konsentrasinya telah diketahui secara pasti. Larutan baku terbagi atas dua macam, yaitu larutan baku primer dan larutan baku sekunder. Larutan baku primer adalah larutan baku yang setelah dibuat dapat langsung dipakai untuk ditambahkan ke dalam larutan yang akan dicari konsentrasinya, dibuat dari senyawa yang tingkat kemurniannya tinggi(99%), stabil pada suhu kara, massa molekul relatif (berat ekivalen) tinggi, dan tidak higroskopis. Contohnya adalah asam oksalat. Syarat-syarat senyawa baku primer : Rumus molekulnya diketahui dengan pasti Kemurniannya tinggi (99%) Stabil, tidak berubah selama proses pengerjaan pembuatan larutannya, misalnya tidak hidroskopis, tidak mudah bereaksi dengan komponen-komponen udara. Mr-nya tinggi agar dapat mengurangi kesalahan

penimbangan Larutan baku sekunder adalah larutan baku yang setelah dibuat tidak dapat langsung digunakan, tetapi harus di cek kembali

konsentrasinya dnegan menambahkan larutan baku primer. Umumnya digunakan untuk melakukan titrasi larutan uji. Senyawa baku sekunder tidak harus memenuhi persyaratan seperti senyawa primer sehingga harganya murah dan biasa digunakan secara rutin, umumnya digunakan untuk melakukan titrasi larutan uji, contoh: asam klorida, natrium hidroksida dll

Standarisasi atau pembakuan adalah proses pengecekan larutan baku sekunder dengan larutan baku primer. Titik ekivalen adalah saat banyaknya asam atau basa yang ditambahkan tepat setara secara stokiometri dengan banyaknya basa atau asam yang terdapat dalam larutan yang di analisis (pH pada saat asam dan basa tepat ekivalen). Titik akhir titrasi adalah titik pada saat tercapainya kesetaraan asam dan basa yang bereaksi atau titik pada saat larutan mengalami perubahan warna yang disebabkan oleh penambahan indikator. Untuk mengetahui tercapainya titik ekivalen dapat diukur dengan pH meter, potensiometer, atau dengan suatu zat petunjuk yang dinamakan dengan indikator pH. Indikator pH adalah asam lemah atau basa lemah organik yang menunjukan perubahan warna pada pH warna tertentu. Dalam memilih indikator untuk titrasi asam basa harus disesuaikan dengan pH saat tercapainya titik ekivalen. Untuk memperoleh ketepatan hasil titrasi yang tinggi, maka titik akhir titrasi harus sedekat mungkin dengan titik ekivalen. Oleh karena itu, harus dipilih indikator yang mengalami perubahan warna di sekitar titik ekivalen. Pada titrasi jumlah ekivalen asam sama dengan jumlah ekivalen basa, sehingga dapat dituliskan sebagai berikut: Ekiuvalen asam = ekivalen basa V asam N asam = V basa N basa Larutan asam dapat ditentukan kadarnya melalui penambahan larutan baku basa yang tepat ekivalen (setara) dengan jumlah asam yang ada. Titik pada saat tercapainya kesetaraan asam dan basa yang bereaksi dinamakan titik akhir titrasi. Untuk mengamati titik ekivalen ini digunakan indicator asam-basa, yaitu suatu zat yang dapat berubah warnanya tergantung PH larutan. Jenis indicator yang dipilih harus tepat. Titik akhir titrasi tidak selalu berimpit dengan titik ekivalen dan selisihnya dinamakan kesalahan titrasi. Ketepatan dalam memilih indikator dapat memperkecil kesalahan titrasi.

5. Alat dan Bahan yang digunakan Alat : Buret 50 mL Pipet Volumetrik 10 mL Labu Erlenmeyer Gelas Kimia Gelas Ukur Statif Penjepit Buret Corong Pendek Kertas Hisap Batang Pengaduk Botol Semprot

Bahan : Larutan NaOH x M Larutan H2C2O4 Indikator Fenolftalein

6. Prosedur dan Pengamatan No 1 Prosedur Siapkan alat alat untuk titrasi Pengamatan Pastikan semua alat dalam keadaan baik, tidak ada yang rusak 2 Bilas semua alat dengan air ledeng, detergen dan akuades 3 Bilas alat ukur dengan larutan yang akan digunakan Pembilasan dilakukan hingga benar benar bersih Buret dibilas dengan NaOh yang akan digunakan Pipet gondok di bilas dengan H2C2O4 4 Pipet 10 ml larutan asam oksalat 0,0505 M dengan menggunakan Asam oksalat berwarna bening Pengelapan dilakukan akan tidak

pipet gondok. Isi pipet hingga melebihi tanda batas, lap ujung pipet dengan kertas isap, lalu keluarkan isi pipet hingga pas tanda batas 5 Larutkan NaOH 10 kali. Gunakan gelas ukur untuk mengukur 10 ml NaOH 1M, tuangkan ke gelas kimia, bilas yang tersisa di gelas ukur dengan akuades, masukkan ke gelas kimia, lalu tambahkan akuades hinng volume menjadi 100 ml. Masukkan NaOH kedalam buret hingga melewati 1cm dari tanda batas. 6 Keringkan bagian buret yang kosong dengan kertas isap. Lalu tanda bataskan. 7 Asam oksalat yang telah di pipet 10ml dimasukan kedalam erlenmeyer dengan posisi miring. Bilas mulut erlenmeyer dengan akuades dan tambahkan 2 tetes fenolftalein 8 Melakukan titrasi dengan larutan NaOH x M. Sampai terjadi perubahan warna pada larutan di erlenmeyer. Erlenmeyer harus digoyang goyangkan secara

terjadi kelebihan jumlah zat, karena praktikum ini adalah kuantitatif

NaOH yang dimiliki adalah 1M NaOH berwarna bening NaOH setelah dilarutkan 10 kali 0,1M Jangan sampai ada udara pada mulut ataupun didalam buret

Tanda batas pertama adalah 0

Tidak terjadi perubahan warna saat diteteskan fenolftalein

Warna yang terbentuk adalah merah muda bening

konstan berlawanan arah jarun jam. 9 Catat volume titran yang diperlukan sampai warna berubah. Percobaan 1 = 8,65 mL Percobaan 2 = 8,71 mL Percobaan 3 = 8,52 mL Percobaan 4 = 8,85 mL Percobaan 5 = 8,89 mL Percobaan 6 = 8,81 mL 10 Hitung larutan basa dan konsentrasinya

7. Perhitungan dan Persamaan Reaksi Persamaan Reaksi H2C2O4 + 2NaOH Na2C2O4 + H2O

Tabel perhitungan NaOH yang dibutuhkan Pembacaan Awal 0 9 18 27 29 38 Pembacaan Akhir 8,65 17,71 26,52 35,85 37,89 46,81 NaOH yang digunakan 8,65 mL 8,71 mL 8,52 mL 8,85 mL 8,89 mL 8,81 mL

Rata-rata NaOH =

= 8,74 mL

Normalitas = valensi x Molaritas N. H2C2O4 = 2 x 0,0505 M = 0,101 N N1 N. H2C2O4 0,101 x x x V1 V.H2C2O4 10 . 10-3 L N.NaOH [NaOH] = = = 0,1155 M = = = = N2 N.NaOH N.NaOH x V2 x V.NaOH x 8,74 . 10-3 L

= 0,1155 Normalitas

Jadi konsentrasi NaOH adalah 0,1155 M

8. Kesimpulan Jadi dengan melakukan praktikum titrasi NaOH dengan Asam Oksalat ini kita dapat memahami dan menstandarisai larutan baku sekunder NaOH dengan larutan baru primer H2C2O4.

9. Daftar Pustaka Mahmudi, dkk. 2000. Kimia Dasar 1 Kimia Dasar 2. Malang : JICA Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. S, Syukri.1999. Kimia Dasar 1. Bandung : Penerbit ITB. Whitten, dkk. General Chemistry Seventh Edition. http://yusufzae.blogspot.com/2011/12/laporan-titrasi.html (di akses pada tanggal 23 November 2012)

10. Lampiran

Foto saat melakukan pembilasan

Foto saat pencairan NaOH dan saat memasukan NaOH kedalam buret

Foto Saat memipet H2C2O4 dan pembilasan mulut erlenmeyer

Foto saat melakukan titrasi

Foto hasil titrasi