Anda di halaman 1dari 46

BAB 1 PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Salah satu bentuk sediaan steril adalah injeksi. Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Dimasukkan ke dalam tubuh dengan menggunakan alat suntik. Suatu sediaan parenteral harus steril karena sediaan ini unik yang diinjeksikan atau disuntikkan melalui kulit atau membran mukosa ke dalam kompartemen tubuh yang paling dalam. Sediaan parenteral memasuki pertahanan tubuh yang memiliki efesiensi tinggi yaitu kulit dan membran mukosa sehingga sediaan parenteral harus bebas dari kontaminasi mikroba dan bahan-bahan beracun dan juga harus memiliki kemurnian yang dapat diterima.

B.

Rumusan Masalah Apa yang dimaksud dengan pemberian obat parenteral ? Apa tujuan Pemberian secara parenteral ? Bagaimana caranya memberikan ? Mengenal tindakan sesuai SOP

C.

Tujuan Dengan membaca makalah ini diharapkan kita mengetahui dan mengerti akan cara pemberian sesuai SOP dan melaksanakan mengingat SOP sangatlah penting.

BAB 1 TINJAUAN PUSTAKA 1. Pengertian Cairan Sediaan parenteral yaitu sediaan yang digunakan tanpa melalui mulut atau dapat dikatakan obat dimasukkan de dalam tubuh selain saluran cerna (langsung ke pembuluh darah) sehingga memperoleh efek yang cepat dan langsung sampai sasaran. Misal suntikan atau insulin. Sediaan parenteral merupakan sediaan steril. Sediaan ini diberikan melalui beberapa rute pemberian yaitu intravena, intraspinal, intramuskuler, subkutis dan intradermal. Apabila injeksi diberikan melalui rute

intramuscular, seluruh obat akan berada di tempat itu. Dari tempat suntikan itu obat akan masuk ke pembuluh darah di sekitarnya secara difusi pasif, baru masuk ke dalam sirkulasi. Cara ini sesuai utnuk bahan obat , baik yang bersifat lipofilik maupun yang hidrofilik. Kedua bahan obat itu dapat diterima dalam jaringan otot baik secara fisis maupun secara kimia. Ahkan bentuk sediaan larutan, suspensi, atau emulsi juga dapat diterima lewat intramskuler, begitu juga pembawanya bukan hanya air melainkan yang non air juga dapat. Hanya saja apabila berupa larutan air harus diperhatikan pH larutan tersebut. Terapi cairan inravena (IV) dipakai dalam pemberian cairn yang mengndung air, dekstrose, vitamin, elktrolit, dan obat-obatan. Kini terdapat semakin banyak obat-obat yang diberikan melalui rute intravena supaya dapat diabsorpsi langsung dan bekerja cepat.. Beberapa obat diberikan dengan dorongan IV(bolus). Banyak obat yang diberikan intravena mengiritasi vena, sehingga obat0obat ini diencerkan ke dalam cairan 500 -100 ml. obat-obat lain diberikan dalam jumlah cairan yang besar dalam jangka waktu tertentu, seperti dalam 4-8 jam.

2.

Kebutuhan Cairan

Cairan infus

1) Kebutuhan nutrisi untuk bayi dan anak-anak Umur Kebutuhan kalori harian

6 Bulan 6-12 Bulan 12-36 Bulan 4-10 tahun >10 Tahun, Laki-Laki >10 Tahun,Perempuan Nutrisi Karbohidrat Lemak Protein

120 kalori/kg 100 kalori/kg 90-95 kalori/kg 80 Kalori/kg 45 Kalori/Kg 38 Kalori/Kg Total Presentasi Kalori 40-45 40 bergabung 85-88 20

2) Perhitungan Kebutuhan Harian Cairan Dan Elektrolit Untuk Pemeliharaan Untuk Anak-Anak Berat Formula

Rumus untuk pemberian cairan Pemeliharaan berdasarkan Berat Badan Neonatus (kurang dari 72 jam setelah lahir ) 0-10 kg 100 mL/kg (dapat dinaikkan hingga 150ml/kg untuk memenuhi kebutuhan kalori dengan fungsi ginjal dan jantung memadai) 11-20 kg 1000 ml/ 10 kg tambah 50 ml / kg untuk seiap berat badan lebih dari 10 kg 21-30 kg 1500 ml / 20 kg tambah 25ml / mg untuk setiap berat badan lebih dari 20 kg 60-100 ml/kg

Rumus untuk pemberian cairan pemeliharaan dalam jam berdasarkan berat badan 0-10 kg 11-20 kg 4ml/kg perjam 40 ml/jam /10 kg ditambah 2ml/kg / jam untuk berat badan 11-20kg 21-30 kg 60 ml/jam / 20 kg tambah 1ml/kg/ jam untuk berat badan 21-30 kg Rumus untuk pemberian cairan berdasarkan luas pemukaan tubuh (LPT) Insensible Water Losses (IWL)
2 2

1500 ml/m LPT/hari

300 ml/m LPT/hari

3) Kondisi Yang Memerlukan Terapi Cairan Perdarahan dalam jumlah banyak (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah). Trauma abdomen (perut) berat (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah). Fraktur (patah tulang), khususnya di pelvis (panggul) dan femur (paha) (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah). Serangan panas (heat stroke) (kehilangan cairan tubuh pada dehidrasi). Diare dan demam (mengakibatkan dehidrasi). Luka bakar luas (kehilangan banyak cairan tubuh). Semua trauma kepala, dada, dan tulang punggung (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah). Pasien kritis (rawat di UGD & ICU) Pasien yang sulit makan dan minum viaoral

4) Jenis-Jenis Cairan 1. Berdasarkan Osmolaritasnya o Cairan hipotonik: Adalah cairan infuse yang osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum (konsentrasi ion Na+ lebih rendah dibandingkan serum), sehingga larut dalam serum, dan menurunkan osmolaritas serum. Maka cairan ditarik dari dalam pembuluh darah keluar ke jaringan sekitarnya (prinsip cairan berpindah dari osmolaritas rendah ke osmolaritas tinggi), sampai akhirnya mengisi sel-sel yang dituju. Digunakan pada keadaan sel mengalami dehidrasi, misaln ya pada pasien cuci darah (dialisis) dalam terapi diuretik, juga pada pasien hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) dengan

ketoasidosis diabetik. Contohnya adalah NaCl 45% dan Dekstrosa 2,5%. o Cairan Isotonik: Adalah cairan infuse yang osmolaritas (tingkat kepekatan) cairannya mendekati serum (bagian cair dari komponen darah), sehingga terus berada di dalam pembuluh darah. Bermanfaat pada pasien yang mengalami hipovolemi (kekurangan cairan tubuh, sehingga tekanan darah terus menurun). Memiliki risiko terjadinya overload (kelebihan cairan), khususnya pada penyakit gagal jantung kongestif dan hipertensi. Contohnya adalah cairan Ringer-Laktat o Cairan hipertonik: Adalah cairan infus yang osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum, sehingga menarik cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh darah. Mampu menstabilkan tekanan darah, meningkatkan produksi urin, dan mengurangi edema (bengkak). Penggunaannya kontradiktif dengan cairan hipotonik. Misalnya: Dextrose 5%, NaCl 45% hipertonik, Dextrose 5%+Ringer-Lactate, Dextrose 5%+NaCl 0,9%, produk darah (darah), dan albumin

2.

Berdasarkan Golongan Lain Berbagai regimen yang kita kenal untuk penanganan resusitasi cairan yaitu diantaranya adalah koloid, kristaloid, whole blood dan komponen-komponen darah. a. Cairan Kristaloid

Larutan kristaloid adalah larutan air dengan elektrolit dan atau dextrosa, yang tidak mengandung molekul besar. Dalam waktu yang singkat, kristaloid sebagian besar akan keluar dari intravaskular . Sehingga volume yang diberikan harus lebih banyak ( 3:1 dengan volume darah yang hilang). Ekspansi cairan dari ruang intravaskuler ke interstitial berlangsung selama 30-60 menit, dan akan keluar sebagai urin dalam 24-48 jam. Secara garis besar kristaloid bertujuan untuk meningkatkan volume ekstrasel, tanpa peningkatan volume intra sel. Meskipun banyak jenis cairan kristaloid yang tersedia, namun NaCl 0,9% dan Ringer laktat adalah pilihan pertama yang paling masuk akal. NaCl 0,9% Keuntungannya yaitu murah dan mudah didapat, cairan infus ini juga kompatibel untuk dicampurkan dengan produk-produk darah dan merupakan pilihan yang terbaik untuk resusitasi volume. Kekurangannya. NaCl 0,9% dapat berkontribusi menyebabkan asidosis hipercloremik ketika resusitasi cairan jumlah besar diperlukan. (untuk menggantikan setiap liter volume darah, maka kita membutuhkan sekitar 3 liter Nacl 0,9% ) jadi perbandingan cairan ini dengan volume darah yang hilang adalah 3 : 1 Ringer Laktat Keuntungannya: murah dan mudah didapat,

memiliki komposisi isotonis yang lebih fisiologis dengan cairan tubuh, menghasilkan pergantian elemen kalsium dan pottasium, ion sodium dan chlor yang dihasilkan juga lebih fisiologis. Kekurangannya: Relatif tidak kompatibel terhadap produk-produk darah, kandungan Ca pada Ringer laktat

dapat mengaktifasi cascade koagulasi pada produk-produk darah, serta kandungan laktat dalam infus ringer laktat ini juga dapat memperburuk koreksi terhadap metabolik asidosis yang sedang berlangsung. Dextrose atau glukosa Tidak di indikasikan untuk pasien trauma karena memilki potensi bahaya. Stress sebagai respon yang dipicu oleh trauma mayor atau pembedahan sering menyebabkan kadar gula darah meningkat. Pemberian dextrose secara cepat dalam jumlah banyak selama resusitasi dapat menyebabkan diuresis osmotik dan menjadi faktor perancu terhadap defisit intravaskular. Penggunaan

dextrose dapat menyebabkan hiperglikemi pada pasien trauma. Namun glukosa dapat digunakan sebagai cairan maintainance selama fase post resusitasi. b. Cairan Koloid Penggunaan cairan koloid intra vena pada

penanganan trauma masih kontroversi. Pada jaman perang dulu, koloid yang digunakan hanyalah albumin dan plasma. Namun sekarang, dikenal Dextran , haemacel, albumin, plasma dan darah. Koloid mengandung molekul-molekul besar berfungsi seperti albumin dalam plasma, tinggal dalam intravaskular cukup lama (waktu paruh koloid intravaskuler 36 jam), sehingga volume yang diberikan sama dengan volume darah. Kekurangan dari koloid yaitu mahal. Koloid mempunyai kelebihan yaitu dapat

menggantikan dengan cepat dan dengan volume cairan yang lebih sedikit,ekspansi volume plasma lebih panjang, dan resiko edema pheripheral kecil. Secara umum koloid dipergunakan untuk :

Resusitasi cairan pada penderita dengan defisit cairan berat (syok hemoragik) sebelum transfusi tersedia Resusitasi cairan pada hipoalbuminemia berat, misalnya pada 3. Konsentrasi larutan Osmolalitas (satuan osmol/L) Osmolaritas = molaritas jumlah partikel zat terlarut yang terdisosiasi Osmolaritas 1 mol/L larutan natrium klorida adalah : 1 (jumlah mol) 2 (jumlah partikel = 2 osmol/L Osmolaritas 1 mol/L larutan glukosa adalah : 1 1 = 1 osmol/L luka bakar.

Karena konsentrasi substansi tersebut dalam tubuh sangat rendah, maka digunakan satuan miliosmol (mosmol/L)

Oamolalitas (satuan osmol/Kg Larutan molal adalah jika 1 mol zat terlarut terdapat dalam 1 kg zat pelarut. Osmolalitas = molalitas jumlah ion dalam larutan Di dalam tubuh zat pelarut selalu berupa air, dan karena berat 1 liter air hampir sama dengan 1 kg maka dua satuan di atas (osmolaritas dan osmolalitas) hampir identik.

4.

Jenis- Jenis Cairan Infus 1 ASERING Indikasi: Dehidrasi (syok hipovolemik dan asidosis) pada kondisi: gastroenteritis akut, demam berdarah dengue (DHF), luka bakar, syok hemoragik, dehidrasi berat, trauma. Komposisi: Setiap liter asering mengandung: Na 130 mEq K 4 mEq Cl 109 mEq Ca 3 mEq Asetat (garam) 28 mEq

Keunggulan: Asetat dimetabolisme di otot, dan masih dapat ditolelir pada pasien yang mengalami gangguan hati. Pada pemberian sebelum operasi sesar, RA mengatasi asidosis laktat lebih baik dibanding RL pada neonates. Pada kasus

10

bedah, asetat dapat mempertahankan suhu tubuh sentral pada anestesi dengan isofluran. Mempunyai efek vasodilator. Pada kasus stroke akut, penambahan MgSO4 20 % sebanyak 10 ml pada 1000 ml RA, dapat meningkatkan tonisitas larutan infus sehingga memperkecil risiko memperburuk edema serebral. 2 KA-EN1B Indikasi: Sebagai larutan awal bila status elektrolit pasien belum diketahui, misal pada kasus emergensi (dehidrasi karena asupan oral tidak memadai, demam) < 24 jam pasca operasi. Dosis lazim 500-1000 ml untuk sekali pemberian secara IV. Kecepatan sebaiknya 300-500 ml/jam (dewasa) dan 50-100 ml/jam pada anak-anak. Bayi prematur atau bayi baru lahir, sebaiknya tidak diberikan lebih dari 100 ml/jam 3. KA-EN 3A & KA-EN 3B Indikasi: Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian, pada keadaan asupan oral terbatas. Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam) Mensuplai kalium sebesar 10 mEq/L untuk KA-EN 3A, Mensuplai kalium sebesar 20 mEq/L untuk KA-EN 3B 4. KA-EN MG3 Indikasi : Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian, pada keadaan asupan oral terbatas. Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam). Mensuplai kalium 20 mEq/L. Rumatan untuk kasus dimana suplemen NPC dibutuhkan 400 kcal/L 5) KA-EN 4A Indikasi : Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak Tanpa kandungan kalium, sehingga dapat diberikan pada pasien dengan berbagai

11

kadar konsentrasi kalium serum normal Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik Komposisi (per 1000 ml): Na 30 mEq/L K 0 mEq/L Cl 20 mEq/L Laktat 10 mEq/L Glukosa 40 gr/L 6) KA-EN 4B Indikasi: Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak usia kurang 3 tahun. Mensuplai 8 mEq/L kalium pada pasien sehingga meminimalkan risiko hipokalemia Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik

Komposisi: Na 30 mEq/L K 8 mEq/L Cl 28 mEq/L Laktat 10 mEq/L Glukosa 37,5 gr/L 7) Otsu-NS Indikasi: Untuk resusitasi Kehilangan Na > Cl, misal diare Sindrom yang berkaitan dengan kehilangan natrium (asidosis diabetikum, insufisiensi adrenokortikal, luka bakar) 8) Otsu-RL Indikasi: Resusitasi Suplai ion bikarbonat Asidosis metabolik

9) MARTOS-10 Indikasi:

12

Suplai air dan karbohidrat secara parenteral pada penderita diabetik Keadaan kritis lain yang membutuhkan nutrisi eksogen seperti tumor, infeksi berat, stres berat dan defisiensi protein. Dosis: 0,3 gr/kg BB/jam Mengandung 400 kcal/L

10) AMIPAREN Indikasi: Stres metabolik berat, Luka bakar, Infeksi berat, Kwasiokor, Pasca operasi, Total Parenteral Nutrition, Dosis dewasa 100 ml selama 60 menit

11) AMINOVEL-600 Indikasi: Nutrisi tambahan pada gangguan saluran GI, Penderita GI yang dipuasakan, Kebutuhan metabolik yang meningkat (misal luka bakar, trauma dan pasca operasi), Stres metabolik sedang, Dosis dewasa 500 ml selama 4-6 jam (20-30 tpm) 12) PAN-AMIN G Indikasi: Suplai asam amino pada hiponatremia dan stres metabolik ringan Nitrisi dini pasca operasi Tifoid.

Komplikasi Intravenaa Phlebitis merupakan inflamasi vena yang disebabkan oleh iritasi kimia maupun mekanik yang sering disebabkan oleh komplikasi dari terapi intravena, Plebitis dikarateristikkan dengan adanya dua atau lebih tanda nyeri, kemerahan, kemerahan, bengkak, indurasi dan terba mengeras di bagian vena yang terpasang kateter intra vena (La Rocca, 1998 ). Infiltrasi adalah bocornya cairan atau obat-obatan kejaringan, yang dapat menyebabkan pembengkakan. Ekstravasasi adalah peradangan akibat obat-obat kemoterapi tang bersifat iritasi dari vena kejaringan di sekitarnya
13

Emboli adalah obstruksi pembuluh darah oleh badan materi yang tidak larut. Konsdisi ini biasanya disebabkan oleh trombus (bekuan), tetapi penyebab lainya bisa termasuk sel kanker, lemak, cairan amnion, gas, bakteri, dan parasit Hematoma, yakni darah mengumpul dalam jaringan tubuh akibat pecahnya pembuluh darah arteri vena, atau kapiler, terjadi akibat penekanan yang kurang tepat saat memasukkan jarum, atau tusukan berulang pada pembuluh darah. Tromboflebitis, atau bengkak (inflamasi) pada pembuluh vena, terjadi akibat infus yang dipasang tidak dipantau secara baik dan benar.

5.

Metode Pemberian Cairan Secara Intravena Anatomi posisi pemberian sacara intravena

6.

Intravena infus & intravena bolus Intravena infus adalah pemberian sejumlah cairan kedalam tubuh melalui jarum, kedalam pembuluh vena untuk menggantikan kehilangan cairan atau zat-zat makanan dari tubuh. Intravena bolus adalah memberikan obat dari jarum suntik secara langsung kedalam saluran atau jalan infus
14

Grafik intravena infus dan intravena bolus

Grafik Intravena Infus Kontiniu & Intermitten

15

Intravena Infus Kontiniu & Intermitten Ada dua metode yamg dipakai dalam pemberian cairan dan obat-obtan intravena : infus intravena kontiniu dan infus intravena intermiten. Pemberian intravena kontiniu dimaksudkan untuk mengganti kehilangan cairan, menjaga keseimbangan cairan dan merupakan sarana pemberian obat. Pemberian intravena intermiten terutama ditujukan untuk memberikan obat-obat intravena. Contoh obat : Kontinu Tetrasiklin (t 11 jam) Digoksin ( t - 36 jam), tetapi ndigitalis biasanya dibagi dalam 3-4 dosis yang diberikan selama 1-2 hari. Lidokain (t - 1 jam) untuk aritmia setelah infark miokard Intermitten

16

Metronidasol ranitidin Penambahan Obat Kedalam Wadah Infus Kebanyakan obat-obat diberikan secara infus contimu atau intermitten. Teknik aseptic yang didahului dengan mencuci tangan dan desinfektan dengan alcohol ketika akan menambahkan obat ke dalam cairan infus. Ketika peyuntikan kedalam wadah infus, harus dilettakkan pada permukaan datar untuk menghidari .. wadah ketika injeksi dilakukan ( Lister 2004) dan membantu pencampuran cairan . Tempat injeksi seharusnya didesinfektan sesuai dengan aturan setempat dan obat dimasukkan menggunakan jarum 23G atau 25G . Label harus ditempelkan pada wadah yang berisi : o o o o Nama obat yang ditambahkan Dosis Tanggal dan waktu penambahan nya Tanda tangan dari petugas yang menambahkan / diperiksa ( NPSA 2007 ) Infus intravena piggybag Infus intravena Piggyback digunakan dalam pemberian dua macam cairan; jarum infus II diinjeksikan ke karet pada sistem jarum infus I

17

18

Secondary Infusion Primary Infusion Vial Tube Macrodrip Chanber Ruller Drop Secondary Post Needle Adopter Menurut definisi dalam Farmakope, sediaan steril untuk kegunaan parenteral digolongkan menjadi 5 jenis yang berbeda, yaitu: 1. Obat, larutan, atau emulsi yang digunakan untuk injeksi ditandai dengan nama: injeksi. Contoh: Injeksi Insulin 2. Sediaan padat kering atau cairan pekat yang tidak mengandung dapar, pengencer, atau bahan tambahan lain dan larutan yang diperoleh setelah penambahan pelarut yang memenuhi persyaratan injeksi. Kita dapat membedakan dari nama bentuknya: steril. Contoh: Sodium steril 3. Sediaan seperti tertera pada no. 2, tetapi mengandung satu atau lebih dapar, pengencer, atau bahan tambahan lain dan dapat dibedakan dari nama bentuknya: untuk injeksi. Contoh: Methicillin Sodium untuk injeksi. 4. Sediaan berupa suspensi serbuk dalam medium cair yang sesuai dan tidak disuntikan secara intravena atau ke dalam saluran spinal. Kita dapat membedakannya dari nama bentuknya: suspensi steril. Contoh: Cortison Suspensi steril 5. Sediaan padat kering dengan bahan pembawa yang sesuai membentuk larutan yang memenuhi semua persyaratan untuk suspensi steril setelah penambahan pembawa yang sesuai. kita dapat membedakan dari nama bentuknya: steril untuk suspensi
19

Ada keuntungan dan kelemahan pemberian obat secara parental diantaranya Keuntungan : o Efek obat dapat diramalkan dengan pasti. o Bioavabiltas sempurna atau hampir sempurna. o Kerusakan obat dalam tractus gastrointestinalis dapat dihindarkan . o Obat dapat diberikan kepada penderita yang sedang sakit keras ataupun koma. Kelemahan : o Pemberian sediaan parenteral harus dilakukan oleh personal yang terlatih dan membutuuhkan waktu pemberian yang lebih lama o Pemberian obat secara parenteral sangat berkaitan dengan ketentuan prosedur aseptic rasa nyeri pada lokasi penyuntikan yang tidak selalu dapat dihindari o Bila obat telah diberikan secara parenteral, sukar sekali untuk menghilangkan/merubah efek fisiologisnya karena obat telah berada dalam sirkulasi sistemik o Harganya relatif lebih mahal, karena persyaratan manufaktur dan pegemasan o Masalah lain dapat timbul pada pemberian obat secara parenteral dan interaksi obat secara parenteral seperti septisema, infeksi jamur, inkompatibilitas karena pencampuran sediaan parenteral dan interaksi obat o Persyaratan sediaan parenteral tentang sterilitas, bebas dari partikulat, bebas dari pirogen, dan stabilitas parenteral harus oleh semua personel yang terlihat. 7. Cara Pemberian Sediaan Parenteral (Rute Pemerian) Persyaratan farmasetik yang dimaksud antara lain pemilihan wadah dengan ukuran yang tepat, penentuan pH, pemilihan bahan pengawet dan :

20

penetapan tonisitas. Untuk jelasnya dapat diikuti uraian masing-masing rute pemberian injeksi.: Pemberian Subkutan Pemberian intramuskuler Pemberian intravena Pemberian intraspinal Intraperitoneal Intradermal Intratekal Intraartikular

1. Pemberian Subkutis (Subkutan) Lapisan ini letaknya persis dibawah kulit, yaitu lapisan lemak (lipoid) yang dapat digunakan untuk pemberian obat antara lain vaksin, insulin, skopolamin, dan epinefrin atau obat lainnya. Injeksi subkutis biasanya diberikan dengan volume samapi 2 ml (PTM membatasi tak boleh lebih dari 1 ml) jarum suntik yang digunakan yang panjangnya samapi sampai 1 inci (1 inchi = 2,35 cm)

21

Cara pemberian subkutis lebih lambat apabila dibandingkan cara intramuskuler atau intravena. Namun apabila cara intravena volume besar tidak dimungkinkan cara ini seringkali digunakan untuk pemberian elektrolit atau larutan infuse i.v sejenisnya. Cara ini disebut

hipodermoklisis, dalam hal ini vena sulit ditemukan. Karena pasti terjadi iritasi maka pemberiannya harus hati-hati. Cara ini dpata dimanfaatkan untuk pemberian dalam jumlah 250 ml sampai 1 liter. 2. Pemberian intramuskuler Intramuskuler artinya diantara jaringan otot. Cara ini keceparan absorbsinya terhitung nomor 2 sesudah intravena. Jarum suntik ditusukkan langsung pada serabut otot yang letaknya dibawah lapisan subkutis. Penyuntikan dapat di pinggul, lengan bagian atas. Volume injeksi 1 samapi 3 ml dengan batas sampai 10 ml (PTMvolume injeksi tetap dijaga kecil, biasanya tidak lebih dari 2 ml, jarum suntik digunakan 1 samai 1 inci. Problem klinik yang biasa terjadi adalah kerusakan otot atau syaraf, terutama apabila ada kesalahan dalam teknik pemberian (ini penting bagi praktisi yang berhak menyuntik). Yang perlu diperhatikan bagi Farmasis anatara lain bentuk sediaan yang dapat diberikan intramuskuler, yaitu bentuk larutan emulsi tipe m/a atau a/m, suspensi dalam minyak atau suspensi baru dari puder steril. Pemberian intramuskuler memberikan efek depot (lepas lambat), puncak

konsentrasi dalam darah dicapai setelah 1-2 jam. Faktor yang mempengaruhi pelepasan obat dari jaringan otot (im) anatar lain : rheologi produk, konsentrasi dan ukuran partikel obat dalam pembawa, bahan pembawa, volume injeksi, tonisitas produk dan bentuk fisik dari produk. Persyaratan pH sebaiknya diperhatikan, karena masalah iritasi, tetapi dapat dibuat pH antara 3-5 kalau bentuk suspensi ukuran partikel kurang dari 50 mikron. 3. Pemberian intravena Penyuntikan langsung ke dalam pembuluh darah vena untuk mendapatkan efek segera. Dari segi kefarmasian injeksi IV ini boleh dikata

22

merupakan pilihan untuk injeksi yang bila diberikan secara intrakutan atau intramuskuler mengiritasi karena pH dan tonisitas terlalu jauh dari kondisi fisiologis. Kelemahan cara ini adalah karena kerjanya cepat, maka pemberian antidotum mungkin terlambat. Volume pemberian dapat dimulai Dari 1 ml hingga 100 ml, bahkan untuk infus dapat lebih besar dari 100 ml. Kecepatan penyuntikan samapi 5 ml diberikan 1 ml/10 detik, sedangkan untuk di atas 5 ml kecepatannya 1 ml/20 detik. Intravena hanya terbatas untuk pemberian larutan air, kalau merupakan bentuk emulsi harus memenuhi ukuran partikel tertentu. Kalau dapay diusahakan pH dan tonisitas sesuai dengan keadaan fisiologis.

4. Pemberian intrathekal-intraspinal Penyuntikan langsung ke dalam cairan serebrospinal pada beberapa temapt. Cara ini berbeda dengan cara spinal anastesi. Kedua pemberian ini mensyaratkan sediaan dengan kemurniaannya yang sangat tinggi, karena dearah ini ada barier (sawar) darah sehingga daerahnya tertutup. Sediaan intraspinal anastesi biasanya dibuat hiperbarik yaitu cairannya mempunyai tekanan barik lebih tinggi dari tekanan barometer. Cairan sediaan akan bergerak turun karena gravitasi, oleh sebab itu harus pada posisi pasien tegak. 5. Intraperitoneal Penyuntikan langsung ke dalam rongga perut, dimana obat secara cepat diabsorbsi. Sediaan intraperitoneal dapat juga diberikan secara intraspinal, im,sc, dan intradermal 6. Intradermal Capa penyuntikan melalui lapisan kulit superficial, tetapi volume pemberian lebih kecil dan sc, absorbsinya sangat lambat sehingga onset yang dapat dicapai sangat lambat. 7. Intratekal

23

Digunakan khusus untuk bahan obat yang akan berefek pada cairan serebrospinal. Digunakan untuk infeksi ssp seperti meningitis, juga untuk anestesi spinal. Intratekal umumnya diinjeksikan secara langsung pada lumbar spinal atau ventrikel sehingga sediaan dapat berpenetrasi masuk ke dalam daerah yang berkenaan langsung pada SSP.

8.

Administration Of Intravenous Solution

METODE PEMBERIAN INTRAVENA o Terapi kontinyu : a. Infus intravena, obat dilarutkan dalam cairan infus dan diteteskan perlahan-lahan ke dalam vena. Dengan metoda ini secara simultan dapat menyempurnakan terapi obat dan cairan, secara kontinu konsentrasi obat dalam darah konstan b. Hook-ups, menggunakan sebuah tabung dengan klem yang menghubungkan dua wadah cairan infus o Terapi periodik : a. Metode Piggyback, digunakan dalam pemberian dua macam cairan; jarum infus II diinjeksikan ke karet pada sistem jarum infus I.

24

b.

Pemberian intravena secara langsung (Direct iv Push/Bolus), larutan obat diinjeksikan secara langsung ke dalam vena dalam selang waktu yang pendek.

9.

Metode Pemberian Intravena Terapi kontinyu : a) Infus intravena, obat dilarutkan dalam cairan infus dan diteteskan perlahan-lahan ke dalam vena. Dengan metoda ini secara simultan dapat menyempurnakan terapi obat dan cairan, secara kontinu konsentrasi obat dalam darah konstan. b) Hook-ups, menggunakan sebuah tabung dengan klem yang

menghubungkan dua wadah cairan infus. Terapi periodik : a) Metode Piggyback, digunakan dalam pemberian dua macam cairan; jarum infus II diinjeksikan ke karet pada sistem jarum infus I. b) Pemberian intravena secara langsung (Direct iv Push/Bolus), larutan obat diinjeksikan secara langsung ke dalam vena dalam selang waktu yang pendek.

10. Jenis Infus Set Dewasa

25

Jenis Infus Set Pediatric

26

11. Cara Pemasangan Infus

27

Adapun prosedur pemasangan infus yaitu;

28

29

30

Laju Pemberian Tetesan Peningkatan dalam laju tetesan akan menghasilkan tetesan yang lebih besar. Laju tetesan yang cepat itu berarti ukuran dari tetesan akan meningkat sebanyak 25 % atau lebih besar dari tetesan awal Tujuan dari pemantauan laju aliran (tetesan) infus yaitu untuk : Untuk mengurangi toksisitas pada pesien utuk terapi obat intravena Meningkatkan kemungkinan terjadinya phlebilitas dan tromboplebitas (peradangan dan pembekuan dalam pembuluh darah) Komplikasi infiltrasi Menyebabkan udema paru yang dapat menyebabkan gangguan pada fungsi ginjal dan jantung Menyebabkan syok (penurunan tekanan darah)

31

Menyebabkan masalah metabolik. 12. Laju pemberian Laju pemberian infus intravena didasarkan pada luas area permukaan tubuh dan usia pasien serta komposisi cairan. Laju dan volume total pemberian seringkali dibatasi oleh kemampuan pasien untuk menerima cairan tersebut, misalnya pada kasus gagal ginjal dan hati. Laju pemberian normal/lazim untuk larutan isotonis dengan viskositas rendah (dextrosa 5%, NaCl fisiologis, ringer laktat) adalah 125 ml/jam = 1 liter tiap 8 jam atau 2 mL/menit. Larutan sangat hipertonik seperti larutan hiperalimentasi digunakan dengan kecepatan tidak lebih dari 1 L setiap 8 jam atau 3 L setiap 24 jam. Kecuali pada kasus khusus (kehilangan darah, shock, tujuan anestesi) laju pemberian dapat 1 liter tiap 1,5 jam = 11 ml/menit. Laju pemberian infus intravena dapat dinyatakan dalam beberapa cara : 1000 ml tiap 8 jam, 1000 ml pada 50 ml/jam, 30 tetes/menit

13. Indikasi Penyuntikan Secara Intravena Menjamin penyampaian obat , bila trejadi keadaan shock Bisa menyeimbangkan elektrolit dan cairan tubuh dengan cepat Untuk mencapai efefarmakologis dengan cepat khusus dalam keadaan emergency Untuk pengobatan penyakit serius Untuk pemberian makanan secara kontinu Pemberian intraspinal Pemberian secara intraspinal yaitu dengan cara

menyuntikkan kedalam sumsum tulang belakang. Sediaan intraspinal anastesi biasanya dibuat hiperbarik yaitu cairannya mempunyai tekanan barik lebih tinggi dari tekanan barometer. Cairan sediaan akan bergerak turun karena gravitasi, oleh sebab itu harus pada posisi pasien tegak.

32

Intraperitoneal Penyuntikan langsung ke dalam rongga perut, dimana obat secara cepat diabsorbsi. Sediaan intraperitoneal dapat juga diberikan secara intraspinal, intramuskuler dan intradermal Pembarian Intradermal Capa penyuntikan melalui lapisan kulit superficial, tetapi volume pemberian lebih kecil dan Pemberian Intratekal Digunakan khusus untuk bahan obat yang akan berefek pada cairan serebrospinal. Digunakan untuk infeksi ssp seperti meningitis, juga untuk anestesi spinal. Intratekal umumnya absorbsinya sangat lambat

sehingga onset yang dapat dicapai sangat lambat.

diinjeksikan secara langsung pada lumbar spinal atau ventrikel sehingga sediaan dapat berpenetrasi masuk ke dalam daerah yang berkenaan langsung pada SSP. Pemberian intra artikular Pemberian secara intra artikular menyuntikkan langsung kedalam sendi yaitu dengan cara

14. Komposisi sediaan parenteral 1. Bahan aktif 2. Bahan tambahan a. Antioksidan : Garam-garam sulfurdioksida, termasuk bisulfit, metasulfit dan sulfit adalah yang paling umum digunakan sebagai antioksidan. Selain itu digunakan :Asam askorbat, Sistein, Monotiogliseril, Tokoferol. b. Bahan antimikroba atau pengawet (Hanya untuk sediaan injeksi, tidak boleh ditambahkan untuk sediaan infus)

contoh : Benzalkonium klorida, Benzil alcohol, Klorobutanol, Metakreosol, Timerosol, Butil p-hidroksibenzoat, Metil phidroksibenzoat, Propil p-hidroksibenzoat, Fenol.

33

c. Buffer (Hanya untuk sediaan injeksi, tidak boleh ditambahkan untuk sediaan infus)

contoh : Asetat, Sitrat, Fosfat. d. Bahan pengkhelat : Garam etilendiamintetraasetat (EDTA). Gas inert : Nitrogen dan Argon. e. Bahan penambah kelarutan (Kosolven) : Etil alkohol, Gliserin, Polietilen glikol, Propilen glikol, Lecithin f. Surfaktan : Polioksietilen dan Sorbitan monooleat. g. Bahan pengisotonis : Dekstrosa dan NaCl h. Bahan pelindung : Dekstrosa, Laktosa, Maltosa dan Albumin serum manusia. i. Bahan penyerbuk : Laktosa, Manitol, Sorbitol, Gliserin. 3. Pembawa a. Pembawa air b. Pembawa nonair dan campuran

Faktor fisiko kimia pembuatan sediaan parenteral 1. Kelarutan Umumnya obat untuk membuat sediaan parenteral volume besar mudah larut sehingga kelarutan jarang menjadi hambatan. Kelarutan penting diperhatikan bila sediaan dipakai sebagai pembawa obat lain atau terjadinya kristal dari beberapa zat seperti manitol (13 g dlm 100 ml pada suhu 14 0C). 2. pH pH perlu diperhatikan mengingat pH yang tidak tepat dapat berpengaruh pada darah, kestabilan obat dan berpengaruh pada wadah terutama wadah gelas, plastik dan tutup karet. pH darah normal : 7,35 7,45 sehingga bila sediaan parenteral volume basar mempunyai pH diluar batas tsb dapat menyebabkan masalah. pada tubuh.

34

3.

Pembawa Umumnya digunakan pembawa air. Bila berupa emulsi, partikel tidak boleh lebih besar dari 0,5 m.

4.

Cahaya dan Suhu Cahaya dan suhu dapat mempengaruhi kestabilan obat. Contoh vitamin harus disimpan dalam wadah terlindung cahaya.

5.

Faktor Kemasan/ wadah Bahan pembuat wadah sangat berpengaruh terhadap kestabilan obat parenteral volume basar seperti gelas, plastik dan tutup karet. Kandungan mikroba dari komponen kemasan sediaan parenteral dapat memberikan kontaminasi, misalnya dari komposisi, selama transportasi dan kondisi penyimpanan produk parenteral.

15. Untuk Pembuatan Larutan Parenteral Dikenal Dua Jenis Aqua 1. AQUA PRO INJECTION (API ) Umumnya adalah air suling atau aquabidest . air ini harus memenuhi persyaratan tertentu dan dipakai untuk membuat obat suntik yang kemudian disterilkan lagi 2. STERIL AQUA PRO INJECTIONEM Adalah air yang steril dan memenuhi persyaratan tertentu , yang ditambahkan kepada zat padat steril dengan maksud melarutkan atau mensuspensikannya dan sediaan hasil segera dapat disuntikan . tidak mengandung antimikroba atau bahan tambahan lainnya 16. Cara Menghitung Tetesan Infus Pemberian cairan melalui infus merupakan tindakan memasukkan cairan melalui intravena yang dilakukan pada pasien dengan bantuan perangkat infus. Tindakan ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit serta sebagai tindakan pengobatan dan pemberian makanan. Berikut penjelasan dan contoh bagaimana cara menghitung tetesan cairan infus: a. Dewasa: (makro dengan 20 tetes/ml)

35

Rumus

TPM

1 3

cc Jam

cc 3 x Jam

dari mana mendapat 1/3 diatas, angka tersebut didapat dari ; 20 tetes untuk 1cc

60 menit untuk 1 jamnya b. Anak: (mikro dengan 60 tetes/ml) Rumus TPM = 1 1 dari mana mendapat 1/1 diatas, angka tersebut didapat dari ; 60 tetes untuk 1cc x cc Jam = cc Jam

60 menit untuk 1 jamnya c. Pasien Rumus dengan TPM = Tranfusi: 1 4 dari mana mendapat 1/4 diatas, angka tersebut didapat dari ; 15 tetes untuk 1cc x (tranfusi cc Jam = dengan cc 4 x Jam 15 tetes/ml)

60 menit untuk 1 jamnya

atau dengan cara lain A. Kalibrasi Tetesan Infus 1. Micro drip 1 cc = 60 tetes/menit 2. macro drip 1 cc = 15 tetes/ml (Abbot Lab) 1 cc = 15 tetes/ml ( Mc Graw Lab) 1 cc = 10 tetes/ml (Travenol Lab) B. Rumus menghitung kecepatan cairan (ml/menit)

36

Tetes/menit =JumlahCairan yang masuk (cc) x 1 cc Lamanya infus (jam x 60 menit ) Lamanya infus =jumlah cairan yang masuk (cc) Jumlah tetesan(tts/m) / 1 cc

Contoh: Contoh (dewasa) : Seorang pasien dewasa dipasang Infus set Makro diperlukan rehidrasi dengan 1000 ml (2 botol) dalam 1 jam atau mendapat advis dari dokter 1000ml/1jam, maka tetesan per menit adalah: TETESAN PERMENIT= 1000 ml /3 X 1 = 333tetes/menit Contoh: (anak-anak) Seorang pasien neonatus dipasang Infus set Mikro diperlukan rehidrasi dengan 250 ml dalam 2 jam atau mendapat advis dari dokter 250ml/2jam, maka tetesan per menit adalah: TETESAN PERMENIT (MIKRO) = 250 / 2 = 125tetes/menit Cara yang lain . (sumber: Intravenous Infusion Therapy for nurse principle and practice ;252)

37

mililiter per menit

38

Contoh :

mililiter per jam

39

Contoh

40

41

Contoh perhitungan sediaan parenteral Sediaan Infuse Intravena Injeksi Ringer laktat Menurut Formularium NAsional 1978 komposisi injeksi ringer laktat adalah sebagai berikut : Tiap 500ml mengandung : Acidum Lacticum Natrium Hidroxydum Natrii Chloridum Kalii Chloridum Calcii Chloridum 1,2 ml 525 mg 3 gram 200mg 135mg

42

43

Tabel osmolaritas

Osmolarity (mOms/L) >350 329-350 270-328 250-269 0-249

Tonicity

Hypertonic Sedikit hypertonic Isotonic Sedikit hypotonic Hypotonic

44

BAB III

PENUTUP A. Kesimpulan Jika terjadi kesalahan pada pemasangan infuse maka akan mengakibatkan terjadinya : Phlebitis merupakan inflamasi vena yang disebabkan oleh iritasi kimia maupun mekanik yang sering disebabkan oleh komplikasi dari terapi intravena, Plebitis dikarateristikkan dengan adanya dua atau lebih tanda nyeri, kemerahan, kemerahan, bengkak, indurasi dan terba mengeras di bagian vena yang terpasang kateter intra vena (La Rocca, 1998 ). Infiltrasi adalah bocornya cairan atau obat-obatan kejaringan, yang dapat menyebabkan pembengkakan. Ekstravasasi adalah peradangan akibat obat-obat kemoterapi tang bersifat iritasi dari vena kejaringan di sekitarnya Emboli adalah obstruksi pembuluh darah oleh badan materi yang tidak larut. Konsdisi ini biasanya disebabkan oleh trombus (bekuan), tetapi penyebab lainya bisa termasuk sel kanker, lemak, cairan amnion, gas, bakteri, dan parasit Hematoma, yakni darah mengumpul dalam jaringan tubuh akibat pecahnya pembuluh darah arteri vena, atau kapiler, terjadi akibat penekanan yang kurang tepat saat memasukkan jarum, atau tusukan berulang pada pembuluh darah. Tromboflebitis, atau bengkak (inflamasi) pada pembuluh vena, terjadi akibat infus yang dipasang tidak dipantau secara baik dan benar.

B. Saran Dengan adanya makalah ini diharapkan mahasiswa dapat meningkatkan pemahaman akan pentingnya sediaan parenteral dalam kehidupan sehari- hari dan pelayanan kesehatan

45

DAFTAR PUSTAKA

Ditjen POM, (1979), Farmakope Indonesia, Edisi III, Depkes RI, Jakarta. WHO, (1998 ), Nursing care of the sick: A guide for nurses working in small rural hospitals. Departemen kesehatan RI, dirjenyanmed, 1991. Prosedur keperawatan Dasar, Direktorat rumah sakit dan pendidikan.

46