Anda di halaman 1dari 37

9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A.

Skizofrenia 1. Pengertian Skizofrenia adalah suatu psikosa fungsional dengan gangguan utama pada proses pikir serta disharmonisasi antara proses pikir, afek atau emosi, kemauan dan psikomotor disertai distorsi kenyataaan terutama karena waham dan halusinasi, assosiasi terbagi-bagi sehingga muncul

inkoherensi, afek dan emosi inadekuat, psikomotor menunjukkan penarikan diri, ambivalensi dan perilaku bizar (Maramis, 2009). Skizofrenia berasal dari dua kata skizo yang berarti retak atau pecah (split), dan frenia yang berarti jiwa. Dengan demikian seseorang yang menderita gangguan jiwa skizofrenia adalah orang yang mengalami keretakan atau keretakan kepribadian (splitting of personality) (Hawari, 2001). Skizofrenia merupakan sebuah sindrom kompleks yang dapat merusak pada efek kehidupan penderita maupun anggota-anggota keluarganya atau gangguan mental dini untuk melukiskan bentuk psikosis tertentu yang sesuai dengan pengertian skizofrenia sekarang (Durand dan H.Barlow, 2007). Hal tersebut dilaporkan dalam bentuk kasus yang terjadi pada seorang pemuda yang ditandai adanya kemunduran atau keruntuhan

10

fungsi intelek yang gawat, berikutnya (Kraepelin (1856-1926) dalam Kaplan & Sadock, 2010), menjadi dementia yanc, merupakan

kemerosotan otak (dementia) yang diderita oleh orang muds (praecox) yang pada akhirnya dapat menyebabkan kekaburan keseluruhan kepribadian. Bahwa halusinasi, delusi dan tingkah laku yang aneh pada penderita skizofrenia dapat dikatakan sebagai kelainan fisik atau suatu penyakit. (Eugen Bleuler (1857-1938) dalam Kaplan & Sadock, 2010). Memperkenalkan istilah skizofrenia atau jiwa yang terbelah, sebab gangguan ini ditandai dengan disorganisasi proses berpikir, rusaknya koherensi antara pikiran dan perasaan, serta berorientasi dini kedalam dan menjauh dari realitas yang intinya terjadi perpecahan antara intelek dan emosi. 2. Etiologi Skizofrenia a. Keterlibatan faktor keturunan Secara umum dapat dikatakan semakin dekat hubungan genetiknya dengan pasien, maka semakin besar pula kemungkinannya untuk menderita gangguan tersebut. Hal ini sering disebut concordant, yaitu anak kembar dari satu telur mempunyai kemungkinan tiga sampai enam kali lebih besar untuk sama-sama menderita gangguan skizofrenia dibandingkan dengan anak kembar dari dua telur.

11

b. Faktor lingkungan Penelitian menyatakan bahwa ibu yang terlalu melindungi, hubungan perkawinan orang tua yang kurang sehat, kesalahan dalam pola komunikasi diantara anggota keluarga dapat menimbulkan skizofrenia. Skizofrenia tidak diduga sebagai suatu penyakit tunggal tetapi sebagai sekelompok penyakit dengan ciri-ciri klinik umum. Banyak teori penting telah diajukan mengenai etiologi dan ekspresi gangguan ini, salah satunya yang diungkapkan oleh Residen Bagian Psikiatri UCLA. c. Teori biologik dan genetik Penelitian keluarga (termasuk penelitian kembar dan adopsi) sangat mendukung teori bahwa faktor genetik sangat penting dalam transmisi mendukung skizofrenia atau paling tidak memberi suatu sifat kerawanan dan juga dapat menjadi penyebab peningkatan insiden dari sindrom, yang mirip dengan skizofrenia (gangguan kepribadian skizoafektif, skizotipik dan lainnya) yang terjadi dalam keluarga. d. Hipotesis neurotransmitter Penelitian terakhir memperlihatkan adanya kelebihan reseptor dopaminergik dalam susunan syaraf pusat (SSP) penderita

skizofrenik. Pada hakekatnya neuroleptik diduga efektif karena kemampuannya memblokir reseptor dopaminergik. Penelitian

12

mengenai skizofrenik yang tidak di obati juga mengungkapkan suatu kelebihan dari reseptor dopaminergik yang secara langsung berlawanan dengan teori bahwa temuan ini berhubungan dengan pemberian neuroleptik. e. Pencetus psikososial Stressor sosio lingkungan sering menyebabkan timbulnya serangan awal dan kekambuhan skizofrenia serta dapat diduga sebagai suatu terobosan kekuatan protektif dengan tetap mempertahankan

kerawanan secara psiko biologik dalam pengendalian. Tiga tindakan emosi yang dinyatakan di lingkungan rumah : komentar kritis, permusuhan dan keterlibatan emosional yang berlebihan terbukti menyebabkan peningkatan angka kekambuhan skizofrenia. Etiologi atau penyebab skizofrenia yang lebih rinci dijelaskan oleh Kaplan dan Sadock (1998) sebagai berikut: 1. Model diatesis-stress Suatu model untuk integrasi faktor biologis dan faktor psikososial dan lingkungan adalah model diatesis-stress. Model ini

merumuskan bahwa seseorang mungkin memiliki suatu kerentanan spesifik (diatesis) yang jika dikenai oleh suatu pengaruh lingkungan yang menimbulkan stress akan memungkinkan perkembangan gejala skizofrenia.

13

2. Faktor biologis Semakin banyak penelitian telah melibatkan peranan patofiologis untuk daerah tertentu di otak termasuk sistem limbik, korteks frontalis dan ganglia basalis. Ketiga daerah tersebut saling berhubungan sehingga disfungsi pada salah satu daerah tersebut mungkin melibatkan patologi primer di daerah lainnya sehingga menjadi suatu tempat potensial untuk patologi primer pasien skizofrenik. 3. Kriteria Diagnostik Skizofrenia Adapun kriteria diagnostik skizofrenia meliputi (Maramis, 2009): a. Gangguan pada isi pikiran Delusi atau kepercayaan salah yang mendalam merupakan gangguan pikiran yang paling umum dihubungkan dengan skizofrenia. Delusi ini mencakup delusi rujukan, penyiksaan, kebesaran, cinta, kesalahan diri, kontrol, nihil atau doss dan pengkhianatan. Delusi lain berkenan dengan kepercayaan irasional mengenai suatu proses berpikir, seperti percaya bahwa pikiran bisa disiarkan, dimasuki yang lain atau hilang dari alam pikirannya karena paksaan dari orang lain atau objek dari luar. Delusi somatik meliputi kepercayaan yang salah dan aneh tentang kerja tubuh, misalnya pasien skizofrenia menganggap bahwa otaknya sudah dimakan rayap.

14

b. Gangguan pada bentuk pikiran, bahasa dan komunikasi Proses berpikir dari pasien skizofrenia dapat menjadi tidak terorganisasi dan tidak berfungsi, kemampuan berpikir mereka menjadi kehilangan logika, cara mereka mengekspresikan dalam pikiran dan bahasa dapat menjadi tidak dapat dimengerti, akan sangat membingungkan jika kita berkomunikasi dengan penderita, gangguan pikiran. Contoh umum gangguan berpikir adalah inkoheren, kehilangan asosiasi, neologisms, blocking dan pemakaian kata-kata yang salah. c. Gangguan persepsi halusinasi Halusinasi adalah salah satu simpton skizofrenia yang merupakan kesalahan dalam persepsi yang melibatkan kelima alat indera kita walaupun halusinasi tidak begitu terikat pada stimulus yang di luar tetapi kelihatan begitu nyata bagi pasien skizofrenia. Halusinasi tidak berada dalam kontrol individu, tetapi tejadi begitu spontan walaupun individu mencoba untuk menghalanginya. d. Gangguan afeksi (perasaan) Pasien skizofrenia selalu mengekspresikan emosinya secara, abnormal dibandingkan dengan orang lain. secara umum, perasaan itu konsisten dengan emosi tetapi reaksi ditampilkan tidak sesuai dengan perasaannya.

15

e. Gangguan psikomotor Pasien skizofrenia kadang akan terlihat aneh dan cara yang berantakan, memakai pakaian aneh atau membuat mimik yang aneh atau pasien skizofrenia akan memperlihatkan gangguan katatonik stupor (suatu keadaan di mana pasien tidak lagi merespon stimulus dari luar, mungkin tidak mengetahui bahwa ada orang di sekitarnya), katatonik rigid (mempertahankan suatu posisi tubuh atau tidak mengadakan gerakan) dan katatonik gerakan (selalu mengulang suatu gerakan tubuh) menonjol adalah afek yang menumpul, hilangnya dorongan kehendak dan bertambahnya kemunduran sosial. Menurut Eugen Bleuler (1857-1938) dalam Kaplan & Sadock, (2010) membagi gejala-gejala skizofrenia menjadi 2 kelompok: gejala positif dan negatif. Gejala positif antara lain thougt echo, delusi, halusinasi. Gejala negatifnya seperti: sikap apatis, bicara jarang, efek tumpul, menarik diri. Gejala lain dapat bersifat non-skizofrenia meliputi kecemasan, depresi dan psikosomatik.

B.

Depresi 1. Pengertian Depresi Menurut sejarah psikiatri dapat dilihat bahwa pengertian depresi sebagai gangguan tersendiri terpisah dari gangguan mental lain yang telah

16

lama ada sejak zaman Hipocrates (460-377 SM). Hipocrates inilah yang berusaha mengklasifikasikan gangguan jiwa dalam beberapa penyakit yang berdiri sendiri: epilepsi, mania (gaduh, gelisah, melankoli (depresi), paranoid. Walaupun namanya berbeda, waktu itu diberi nama melancholy, yang digambarkan sebagai kemurungan atau kesedihan yang ditimbulkan oleh karena kelebihan cairan empedu yang berwarna hitam (zwartgalligheid). Kemudian pada tahun 1905 istilah melancholy diganti dengan depresi oleh Meyer dengan alasan etiologi yang luas. Depresi merupakan kata Indonesia yang disadur dari bahasa Inggris yaitu depression, sadness dan low spirit (Hornby et al., 1955 dalam. Prawirohardjo, 2000). Depresi adalah suatu penyakit jiwa yang gejala utamanya adalah sedih, yang dapat disertai gejala-gejala psikologik lainnya, gangguan somatik maupun gangguan psikomotor dalam kurun waktu tertentu dan digolongkan kedalam penyakit jiwa afektif (Prawirohardjo, 2000). Stuart (2006) berpendapat bahwa depresi atau melankolia adalah suatu kesedihan dan perasaan yang berkepanjangan atau abnormal. Dapat digunakan untuk menunjukkan berbagai fenomena, seperti tanda, gejala, sindrom, emosional, reaksi. Menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnostik Gangguan Jiwa III di Indonesia yang dimaksud depresi adalah sekumpulan gejala dengan gambaran utama gangguan mood yang

17

mempengaruhi penampilan kognitif, psikomotor dan psikososial disertai kesulitan hubungan interpersonal (Videbeck, 2008). 2. Teori Penyebab Depresi Adapun teori penyebab terjadinya depresi meliputi (Lubis, 2009): a. Teori biologi: depresi berhubungan dengan gangguan pada ritme sirkadian, disfungsi otak, aktivitas kejang limbik, disfungsi

neuroendokrin, defisiensi biogenik amine, cacat pada sistem imun dan genetik b. Teori psikoanalitical: depresi berasal dari respon terhadap kehilangan, kekecewaan atau kegagalan. Rasa marah dipindahkan dan

dikembalikan pada diri sendiri, ketidakmampuan untuk berduka cita karena adanya kehilangan c. Teori Behavioral: kegagalan untuk menerima reinforcement positif dari orang lain dan lingkungan merupakan predisposisi bagi seseorang untuk mengalami gangguan depresi d. Teori kognitif: konsep negatif dari diri, pengalaman, orang lain dan lingkungan merupakan kontribusi terjadinya depresi. Kepercayaan bahwa seseorang tidak dapat mengontrol situasi memberikan kontribusi terjadinya depresi. e. Teori sociological: kehilangan kekuasaan, status, identitas, nilai dan tujuan untuk menciptakan eksistensi yang tepat akan menyebabkan depresi

18

f.

Teori Holism: depresi adalah hasil dari genetik, biologi, psikoanalisa, tingkah laku, kognitif dan pengalaman sosiologis.

3.

Etiologi Depresi Faktor penyebab terjadinya depresi menurut Kaplan dan Saddock (2010) adalah: a. Faktor Biologi Noreepinephrin dan serotonin adalah dua jenis neurotransmitter yang bertanggung jawab mengendalikan patofisiologi gangguan alam perasaan pada manusia. Gangguan depresi melibatkan keadaan patologi di limbic system, basal ganglia dan hypothalamus. Limbic system dan basal ganglia berhubungan sangat erat, hipotesa sekarang menyebutkan produksi alam perasaan berupa emosi, depresi dan mania rupakan peranan utama limbic system. Disfungsi hypothalamus berakibat perubahan regulasi tidur, selera makan, dorongan seksual dan memacu perubahan biologi dalam endokrin dan imunologik. b. Faktor Genetika Gangguan alam perasaan (mood) baik tipe bipolar (adanya episode manik dan depresi) dan tipe unipolar (hanya depresi saja) memiliki kecenderungan menurun kepada generasinya. Gangguan bipolar lebih kuat menurun daripada unipolar. Sebanyak 50 % pasien bipolar memiliki satu orang tua dengan alam perasaan atau gangguan afektif, yang tersering unipolar (depresi saja). Jika salah satu orang tua mengidap gangguan bipolar maka 27 % anaknya memiliki resiko

19

mengidap gangguan alam perasaan. Bila kedua orang tua mengidap gangguan bipolar maka 75 % anaknya memiliki resiko mengidap gangguan alam perasaan. c. Faktor Psikososial Peristiwa traumatik kehidupan dan lingkungan sosial dengan suasana yang menegangkan dapat menjadi kausa gangguan neurosa depresi. Sejumlah data yang kuat menunjukkan kehilangan orang tua sebelum berusia 11 tahun dan kehilangan pasangan hidup dapat memacu serangan awal gangguan neurosa depresi. Boyd dan Nihart (1998) menggambarkan hubungan sebabsebab biopsikososial terjadinya depresi pada lansia terdiri dari: 1) Biologik: penyakit fisik, disregulasi neurotransmitter dalam sistem saraf pusat (SSP), efek samping terapi pengobatan, interaksi pengobatan resep maupun non resep, gangguan mobilitas, perubahan kapasitas sensorik. 2) Psikologis: stress, kehilangan sesuatu dalam hidup, episode depresi sebelumnya (diawal kehidupan), kemunduran kognitif. 3) Sosiokultural: isolasi sosial, kematian atau ketidakmampuan pasangan atau teman, kesulitan ekonomi, pensiun, gangguan perubahan lingkungan. 4. Faktor Resiko Depresi Menurut Kaplan dan Saddock (2010), faktor resiko dari depresi dipengaruhi oleh:

20

a.

Umur, rata-rata usia onset untuk depresi berat adalah kira-kira 40 tahun, 50 % dari semua pasien mempunyai onset antara usia 20 dan 50 tahun. Gangguan depresif berat juga mungkin memiliki onset selama masa anak-anak atau pada lanjut usia, walaupun hal tersebut jarang terjadi

b.

Jenis kelamin, terdapat prevalensi gangguan depresi berat yang dua kali lebih besar pada wanita dibandingkan laki-laki. Alasan adanya perbedaan telah didalilkan sebagai melibatkan perbedaan hormonal, perbedaan stressor psikososial bagi perempuan dan laki-laki

c.

Status perkawinan, pada umumnya, gangguan depresif berat terjadi paling sering pada orang-orang yang tidak memiliki hubungan interpersonal yang erat atau karena perceraian atau berpisah dengan pasangan.

d.

Status fungsional baru, adanya perubahan seperti pindah ke lingkungan baru, pekerjaan baru, hilangnya hubungan yang akrab, kondisi sakit, adalah sebagian dari beberapa kejadian yang menyebabkan seseorang menjadi depresi.

5.

Gejala-gejala Depresi Menurut Pedoman dan Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) III depresi ditandai dengan gejala, yaitu (Videbeck, 2008) : a. Gejala utama pada derajat ringan, sedang dan berat 1) Afek depresif 2) Kehilangan minat dan kegembiraan

21

3) Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan aktivitas menurun. b. Gejala lain, meliputi: 1) Konsentrasi dan perhatian berkurang. 2) Harga diri dan kepercayaan diri berkurang. 3) Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna. 4) Pandangan masa depan yang suram dan pesimistik. 5) Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri. 6) Tidur terganggu. 7) Nafsu makan berkurang. Individu yang terkena depresi pada umumnya menunjukkan gejala psikis, gejala fisik dan sosial yang khas, seperti murung, sedih berkepanjangan, sensitif, mudah marah dan tersinggung, hilang semangat kerja, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya konsentrasi dan menurunnya daya tahan. Gejala-gejala ini dapat dilihat dari tiga segi yaitu: a. Gejala fisik Gejala depresi yang kelihatan ini mempunyai rentangan dan variasi yang luas sesuai dengan berat ringannya depresi yang dialami. Namun secara garis besar ada beberapa gejala fisik umum yang relatif mudah dideteksi. Gejala itu seperti: 1) Sulit tidur, terlalu banyak atau terlalu sedikit

22

2) Pada umumnya, orang yang mengalami depresi menunjukkan perilaku yang pasif, menyukai kegiatan yang tidak melibatkan orang lain seperti nonton tv, makan, tidur. 3) Orang yang terkena depresi akan sulit memfokuskan perhatian atau pikiran pada suatu hal, atau pekerjaan. Sehingga mereka juga akan sulit memfokuskan energi pada hal-hal prioritas.

Kebanyakan yang dilakukan justru hal-hal yang tidak efisien dan tidak berguna, seperti misalnya mengemil, melamun, merokok terus-menerus, sering menelpon yang tidak perlu. Orang yang terkena depresi akan terlihat dari metode kerjanya yang menjadi kurang terstruktur, sistematika kerjanya jadi kacau atau kerjanya jadi lamban. 4) Orang yang terkena depresi akan kehilangan sebagian atau seluruh motivasi kerjanya. Sebabnya, ia tidak lagi bisa menikmati dan merasakan kepuasan atas apa yang dilakukannya. Ia sudah kehilangan minat dan motivasi untuk melakukan kegiatannya seperti semula. Oleh karena itu, keharusan untuk tetap beraktivitas membuatnya semakin kehilangan energi karena energi yang ada sudah banyak terpakai untuk mempertahankan diri agar tetap dapat berfungsi seperti biasanya. Mereka mudah sekali lelah, capai padahal belum melakukan aktivitas yang berarti.

23

5) Depresi itu sendiri adalah perasaan negatif. Jika seseorang menyimpan perasaan negatif maka jelas akan membuat letih karena membebani pikiran dan perasaan dan ia harus memikulnya dimana saja dan kapan saja, suka tidak suka. b. Gejala Psikis 1) Kehilangan rasa percaya diri Penyebabnya, orang yang mengalami depresi cenderung

memandang segala sesuatu dari sisi negatif, termasuk menilai diri sendiri. Pasti mereka senang sekali membandingkan antara dirinya dengan orang lain. Orang lain dinilai lebih sukses, pandai, beruntung, kaya, lebih berpendidikan, lebih berpengalaman, lebih diperhatikan oleh atasan dan pikiran negatif lainnya. 2) Sensitif Orang yang mengalami depresi senang sekali mengkaitkan segala sesuatu dengan dirinya perasaannya sensitive sekali, sehingga sering peristiwa yang netral jadi dipandang dari sudut pandang yang berbeda oleh mereka, bahkan disalahartikan. Akibatnya, mereka mudah tersinggung, mudah marah, perasa, curiga akan maksud orang lain (yang sebenarnya tidak ada apa-apa), mudah sedih, murung, dan lebih suka menyendiri 3) Merasa diri tidak berguna Perasaan tidak berguna ini muncul karena mereka merasa menjadi orang yang gagal terutama dalam bidang atau lingkungan yang

24

seharusnya mereka kuasai. Misalnya seorang manager mengalami depresi karena ia dimutasikan ke bagian lain. Dalam persepsinya, pemutasian itu disebabkan ketidakmampuannya dalam bekerja dan pimpinan menilai dirinya tidak cukup memberikan kontribusi sesuai dengan yang diharapkan 4) Perasaan Bersalah Perasaan bersalah terkadang timbul dalam pemikiran orang yang mengalami depresi. Mereka memandang suatu kejadian yang menimpa dirinya sebagai suatu hukuman atau akibat dari kegagalan mereka melaksanakan tanggung jawab yang seharusnya dikerjakan. Banyak pula yang merasa dirinya menjadi beban bagi orang lain dan menyalahkan diri mereka atas situasi tersebut. 5) Perasaan terbebani Banyak orang yang menyalahkan orang lain atas kesusahan yang dialami. Mereka merasakan beban yang terlalu berat karena merasa dibebani tanggung jawab yang berat. c. Gejala Sosial Masalah depresi yang berawal dari diri sendiri pada akhirnya mempengaruhi lingkungan dan pekerjaan (atau aktivitas lainnya). Bagaimana tidak, lingkungan tentu akan bereaksi terhadap perilaku orang yang depresi tersebut yang pada umumnya negatif (mudah marah, tersinggung, menyendiri, sensitive, mudah letih, mudah sakit). Masalah sosial yang terjadi biasanya berkisar pada masalah yang

25

berinteraksi dengan rekan kerja, atasan, atau bawahan. Masalah ini tidak hanya berbentuk konflik, namun masalah lainnya juga seperti perasaan minder, malu, cemas jika berada diantara kelompok dan merasa tidak nyaman untuk berkomunikasi secara normal. Mereka merasa tidak mampu untuk bersikap terbuka dan secara aktif menjalin hubungan dengan lingkungan sekalipun ada kesempatan. 6. Tingkatan Depresi Menurut PPDGJ-III, depresi dibagi sesuai dengan tingkat

keparahannya, yaitu (Videbeck, 2008): a. Depresi Ringan Pedoman yang dipakai adalah: 1) Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi 2) Ditambah sekurang-kurangnya 2 dari gejala lainnya 3) Tidak boleh ada gejala yang berat diantaranya 4) Lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya sekitar 2 minggu 5) Hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan social yang biasa dilakukan b. Depresi Sedang Pedoman yang dipakai adalah : 1) Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi seperti pada episode depresi ringan 2) Ditambah sekurang-kurangnya 3 (dan sebaiknya 4) dari gejala lainnya

26

3) Lamanya seluruh episode berlangsung minimum sekitar 2 minggu 4) Menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan dan urusan rumah tangga. c. Depresi Berat Pedoman yang dipakai adalah: 1) Semua 3 gejala depresi harus ada 2) Ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya, dan beberapa diantaranya harus berintensitas berat 3) Bila ada gejala penting (misalnya agitasi dan retardasi psikomotor) yang mencolok, maka pasien mungkin tidak mau atau tidak mampu untuk melaporkan banyak gejala secara rinci Dalam hal demikian, penilaian secara menyeluruh terhadap episode depresif berat masih dapat dibenarkan, yaitu: a) Episode depresif biasanya harus berlangsung sekurangkurangnya dua minggu, akan tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat, masih dibenarkan untuk menegakkan diagnosis dalam kurun waktu kurang dari dua minggu b) Sangat tidak mungkin pasien akan mampu meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan atau urusan rumah tangga, kecuali pada tahap yang sangat terbatas. Lebih lanjut dijelaskan bahwa depresi berat ditandai dengan adanya: 1) Episode depresif berat yang memenuhi kriteria menurut episode depresif berat tanpa gejala psikotik.

27

2) Disertai waham, halusinasi atau stupor depresif. Waham biasanya melibatkan ide tentang dosa, kemiskinan atau malapetaka yang mengancam dan pasien merasa bertanggung jawab atas hal itu. Halusinasi auditorik atau olfaktorik biasanya berupa suara yang menghina atau menuduh, atau bau kotoran atau daging membusuk. Retardasi psikomotor yang berat dapat menuju pada stupor. Jika diperlukan, waham atau halusinasi dapat ditentukan sebagai serasi atau tidak serasi dengan afek (mood-congruent) 7. Penatalaksanaan Depresi Penatalaksanaan pada penderita depresi harus dilakukan secara adekuat dengan menggunakan kombinasi terapi psikologis dan

farmakologis disertai pendekatan multidisiplin yang menyeluruh. Adapun penatalaksanaan depresi (Agus, 2002) meliputi: a. Terapi Fisik 1) Obat. Secara umum, semua obat anti-depresan sama efektifitasnya. Pemilihan jenis anti-depresan lebih ditentukan oleh pengalaman klinikus dan familiarity terhadap jenis-jenis anti-depresan. Pertimbangkan baik, untung dan rugi dari setiap pemberian terapi dengan mengacu pada 4 hal yaitu efektivitas, tolerabilitas, keamanan, dan interaksi obat. 2) Terapi ECT (Electroconvulsive Therapy). Untuk pasien depresi yang tidak bisa makan minum, mau bunuh diri atau retardasi psikomotor yang hebat, maka ECT merupakan pilihan terapi yang efektif dan aman. ECT diberikan 1-2 kali seminggu pada pasien

28

rawat inap, dengan metode unilateral untuk mengurangi confusion atau memory problem. Terapi ECT diberikan sampai ada perbaikan mood (sekitar 5-10 kali), sementara anti-depresan maintenance harus diberikan untuk mencegah relaps atau kekambuhan. 3) Terapi profilaksis. Terapi profilaksis harus diberikan untuk mencegah terjadinya kekambuhan depresi. Setelah gejala-gejala depresi membaik, terapi anti-depresan masih harus dilanjutkan selama 4-6 bukan dengan dosis terapeutik penuh. Beberapa penelitian bahkan menganjurkan agar terapi diteruskan sampai 2 tahun. Kapan anti-depresan boleh dihentikan, sangatlah tergantung pada evaluasi klinis (perkembangan efek samping, munculnya penyakit fisik atau kelemahan kondisi umum). b. Terapi psikologik antara lain: 1) Psikoterapi Psikoterapi individual maupun kelompok paling efektif jika dilakukan bersama-sama dengan pemberian anti-depresan. Baik pendekatan secara psikodinamik maupun kognitif behavioural adalah sama keberhasilannya. 2) Terapi kognitif Terapi kognitif perilaku bertujuan mengubah pola pikir pasien yang selalu negatif (persepsi diri yang buruk, masa depan yang suram, dunia yang tak ramah, diri yang tak berguna lagi, tak mampu dan sebagainya) ke arah pola pikir yang netral atau positif.

29

3) Terapi keluarga Problem keluarga dapat berperan dalam perkembangan gangguan depresi, sehingga dukungan terhadap keluarga pasien adalah sangat penting. Tujuan dari terapi terhadap keluarga pasien yang depresi adalah untuk meredakan perasaan frustasi dan putus asa, merubah dan memperbaiki sikap/struktur dalam keluarga yang menghambat proses penyembuhan pasien. 4) Penanganan ansietas (relaksasi) Macam relaksasi antara lain (Davis et.al., 1995): Relaksasi progresif, pernafasan musik, dalam, meditasi, guided imagery, dan

mendengarkan visualisasi. 8.

biofeedback,

kesadaran

tubuh,

Instrumen Pengukuran Tingkat Depresi Dalam mengukur tingkat depresi menggunakan skala Hamilton Rating Scale For Depresion (HRSD) yaitu suatu skala depresi yang terdiri dari 24 item, yaitu item berkisar antara 0 sampai 4, atau 0 sampai 2 dengan total skor antara 0 sampai 76. Dokter mengevaluasi jawaban pasien terhadap pertanyaan tentang rasa bersalah, pikiran bunuh diri, kebiasaan tidur, dan gejala lain dari depresi, dan penilaian diperoleh dari wawancara klinik. Hasil skor penilaian menggunakan HRSD adalah sebagai berikut (Riwanti, 2006): a. Tidak dijumpai depresi skor HRSD 0 6 b. Depresi ringan skor HRSD 7 17

30

c. Depresi sedang skor HRSD 18 24 d. Depresi berat skor HRSD > 24 HRSD atau Hamilton Rating Scale for Depression merupakan salah satu dari berbagai intrumen untuk menilai depresi. Penelitian yang membandingkan HRSD dengan skor depresi lain didapatkan konsistensi. Reliabilitas antara pemeriksa pada umumnya cukup tinggi. Demikian juga halnya reliabilitas oleh satu pemeriksa yang dilakukan pada waktu yang berbeda (Riwanti, 2006). Adapun untuk mengukur tingkat depresi seseorang menggunakan Hamilton Rating Scale for Depression (Aziz, 2007) : a. Keadaan perasaan sedih (sedih,putus asa,tak berdaya,tak berguna) Perasaan ini ada hanya bila ditanya; perasaan ini dinyatakan secara verbal spontan; perasaan yang nyata tanpa komunikasi verbal, misalnya ekspresi muka, bentuk, suara, dan kecenderungan menangis pasien menyatakan perasaan yang sesungguhnya ini dalam

komunikasi baik verbal maupun nonverbal secara spontan. b. Perasaan bersalah Menyalahkan diri sendiri dan merasa sebagai penyebab penderitaan orang lain; ada ide-ide bersalah atau renungan tentang kesalahankesalahan masa lalu; sakit ini sebagai hukuman, waham bersalah dan berdosa; ada suara-suara kejaran atau tuduhan dan halusinasi penglihatan tentang hal-hal yang mengancamnya.

31

c. Bunuh diri merasa hidup tak ada gunanya, mengharapkan kematian atau pikiranpikiran lain kearah itu, ada ide-ide bunuh diri atau langkah-langkah ke arah itu. d. Gangguan pola tidur (initial insomnia) Ada keluhan kadang-kadang sukar masuk tidur misalnya, lebih dari setengah jam baru masuk tidur; ada keluhan tiap malam sukar masuk tidur. e. Gangguan pola tidur (middle insomnia) pasien mengeluh gelisah dan terganggu sepanjang malam, terjadi sepanjang malam (bangun dari tempat tidur kecuali buang air kecil). f. Gangguan pola tidur (late insomnia) bangun saat dini hari tetapi dapat tidur lagi, bangun saat dini hari tetapi tidak dapat tidur lagi. g. Kerja dan kegiatan-kegiatannya pikiran perasaan ketidakmampuan keletihan atau kelemahan yang berhubungan dengan kegiatan kerja atau hobi; hilangnya minat terhadap pekerjaan atau hobi atau kegiatan lainnya baik langsung atau tidak pasien menyatakan kelesuan, keragu-raguan dan rasa bimbang; berkurangnya waktu untuk aktivitas sehari-hari atau produktivitas menurun. Bila pasien tidak sanggup beraktivitas, sekurang-kurangnya 3 jam sehari dalam kegiatan sehari-hari; tidak bekerja karena sakitnya sekarang (dirumah sakit) bila pasien tidak bekerja sama sekali, kecuali

32

tugas-tugas di bangsal atau jika pasien gagal melaksanakan; kegiatankegiatan di bangsal tanpa bantuan. h. Kelambanan (lambat dalam berpikir, berbicara gagal berkonsentrasi, dan aktivitas motorik menurun) sedikit lamban dalam wawancara; jelas lamban dalam wawancara; sukar diwawancarai; stupor (diam sama sekali). i. Kegelisahan (agitasi) kegelisahan ringan; memainkan tangan jari-jari, rambut, dan lain-lain; bergerak terus tidak dapat duduk dengan tenang; meremas-remas tangan, menggigit-gigit kuku, menarik-narik rambut, menggigit-gigit bibir. j. Kecemasan (ansietas somatik) sakit nyeri di otot-otot, kaku, dan keduten otot; gigi gemerutuk; suara tidak stabil; tinitus (telinga berdenging); penglihatan kabur; muka merah atau pucat, lemas; perasaan ditusuk-tusuk. k. Kecemasan (ansietas psikis) ketegangan subyektif dan mudah tersinggung; mengkhawatirkan halhal kecil; sikap kekhawatiaran yang tercermin di wajah atau pembicaraannya; ketakutan yang diutarakan tanpa ditanya. l. Gejala somatik (pencernaan) nafsu makan berkurang tetapi dapat makan tanpa dorongan teman, merasa perutnya penuh; sukar makan tanpa dorongan teman, membutuhkan pencahar untuk buang air besar atau obat-obatan untuk saluran pencernaan.

33

m. Gejala somatik (umum) anggota gerak, punggung atau kepala terasa berat; sakit punggung, kepala dan otot-otot, hilangnya kekuatan dan kemampuan. n. Kotamil (genital) sering buang air kecil terutama malam hari dikala tidur; tidak haid, darah haid sedikit sekali; tidak ada gairah seksual dingin (firgid); ereksi hilang; impotensi. o. Hipokondriasis (keluahan somatik, fisik yang berpindah-pindah) dihayati sendiri, preokupasi (keterpakuan) mengenai kesehatan sendiri, sering mengeluh membutuhkan pertolongan orang lain, delusi hipokondriasi. p. Kehilangan berat badan (A dan B) (1). Bila hanya dari anamnesis (wawancara) berat badan berkurang penurunan berhubungan berat dengan penyakitnya lagi

sekarang,jelas

badan,tak

terjelaskan

penurunan berat badan. (2). Di bawah pengawasan dokter bangsal secara mingguan bila jelas berat badan berkurang menurut ukuran, kurang dari 0,5 kg seminggu, lebih dari 0,5 kg seminggu, tidak ternyatakan lagi kehilangan berat badan. q. Insight (pemahaman diri) mengetahui sakit tetapi berhubungan dengan penyebab-penyebab iklim, makanan, kerja berlebihan, virus, perlu istirahat, dan lain-lain.

34

r. Variasi Harian adakah perubahan atau keadaan yang memburuk pada waktu malam atau pagi. s. Depersonalisasi (perasaan diri berubah) dan derealisasi (perasaan tidak nyata tidak realistis). t. Gejala-gejala paranoid Kecurigaan; pikiran dirinya menjadi pusat perhatian, atau peristiwa kejadian diluar tertuju pada dirinya (ideas refence); waham kejaran.

C.

Terapi Senam Pendekatan psikoterapi bagi pasien terdepresi adalah pendekatan kognitif dan pendekatan yang lebih terarah dan lebih terstruktur. Walaupun setelah periode depresif menghilang, intervensi keterampilan jangka panjang masih diperlukan. Pada beberapa program terapi, modelling dan permainan peran dapat membantu menegakkan keterampilan pemecahan masalah yang baik. Beberapa pendekatan psikoterapi berbeda yang digunakan telah menunjukkan hasil, yaitu psikoterapi perorangan, terapi berorientasi kesadaran, terapi tingkah laku, terapi bermain, model stress hidup, psikoterapi kognitif, terapi aktivitas kelompok, terapi kerja, pendidikan remedial, penempatan di luar rumah serta ECT (Weller, 1990). Terapi aktivitas kelompok merupakan suatu jenis terapi aktivitas yang dilaksanakan oleh pasien dengan depresi secara bersama-sama dalam usaha penyaluran energi secara benar dalam bentuk senam.

35

Pengertian senam adalah aktivitas fisik yang dilakukan baik sebagai cabang olahraga tersendiri maupun sebagai latihan untuk cabang olahraga lainnya. Berbeda dengan cabang olahraga lain umumnya yang mengukur hasil aktivitasnya pada obyek tertentu, senam mengacu pada bentuk gerak yang dikerjakan dengan kombinasi terpadu dan menjelma dari setiap bagian anggota tubuh dari komponen-komponen kemampuan motorik seperti : kekuatan, kecepatan, keseimbangan, kelentukan, agilitas dan ketepatan. Dengan koordinasi yang sesuai dan tata urutan gerak yang selaras akan terbentuk rangkaian gerak artistik yang menarik (Brick, 2002). Sedangkan menurut Hidayat (1990) menyatakan senam ialah latihan tubuh yang diciptakan dengan sengaja, disusun secara sistematik dan dilakukan secara sadar dengan tujuan membentuk dan mengembangkan pribadi secara harmonis. Olahraga senam sendiri ada bermacam-macam, seperti : senam kuno, senam sekolah, senam alat, senam korektif, senam irama, turnen, senam artistik dan senam ritmik atau modern ritmik seperti senam aerobik. Berikut ini akan diuaraikan mengenai senam aerobik : 1. Definisi Senam Aerobik Aerobik berasal dari kata aero yang berarti oksigen. Jadi aerobik sangatlah erat dengan penggunaan oksigen. Dalam hal ini berarti latihan aerobik adalah latihan yang menggunakan sistem kerja dengan menggunakan osigen sebagai kerja utama. Olahraga yang berlangsung secara kontinyu lebih dari empat menit dengan intensitas rendah termasuk golongan aerobik. Jadi olahraga yang bersifat aerobik bukan hanya senam

36

aerobik, tetapi masih banyak jenis olahraga lainnya, misalnya bersepeda, berenang, jalan cepat, lari lintas alam, lari maraton. Menurut Dinata (2007) senam aerobik adalah serangkaian gerak yang dipilih secara sengaja dengan cara mengikuti irama musik yang dipilih sehingga melahirkan ketentuan ritmis, kuntinuitas dan durasi tertentu. Pengertian lain senam aerobik adalah suatu sistematika gabungan antara rangkaian gerak dan musik yang sengaja dibuat sehingga muncul keselarasan antara gerakan dan musik tersebut untuk mencapai tujuan tertentu. 2. Macam senam aerobik berdasarkan tingkat benturan Berdasarkan tingkat intensitas gerakan dan pola kaki yang digunakan, maka senam aerobik dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu senam aerobik low impact atau benturan ringan, moderate impact atau benturan sedang, dan juga aerobik high impact atau benturan keras. Perbedaan tingkat benturan tersebut didasarkan pada perbedaan sentuhan salah satu kaki terhadap lantai. Pada gerakan senam aerobik low impact maka salah satu kaki selalu berada dan menapak di lantai setiap waktu.Contoh gerakan kaki senam aerobik low impact adalah Cha-chacha, grapevine, mengangkat lutut, langkah V dan lain-lain. Pada gerakan senam aerobik moderate impact maka salah satu kaki selalu berada di lantai dengan posisi tumit mengangkat tetapi jari kaki tetap berada di lantai setiap waktu dengan contoh gerakan kaki menekan kaki ke atas, melompat dan twist. Sedangkan pada senam aerobik mengarah pada

37

gerakan kaki meninggalkan lantai atau berada di udara dengan contoh gerakan kaki loncat, power moves, lompat sergap dll. Sedangkan gabungan dari ketiga macam benturan atau impact diatas dapat disebut sebagai mix impact yang artinya dalam rangkaian gerakan senam aerobik mix impact tersebut adalah kombinasi dan campuran dari senam aerobik low impact, moderate impact dan high impact. 3. Jenis Senam Aerobik Pada saat ini, senam aerobik telah jauh berkembang pesat dan berbeda. Sekarang aerobik bisa dilakukan secara individu dengan menirukan gerakan senam yang terdapat dalam cd senam aerobik yang banyak beredar dipasaran, misalnya cd karya Berty tylarso, Rudi poccopocco, Ester suwito dll. Aerobik dapat pula dilakukan secara berkelompok misalnya di pusat pusat kebugaran, instansi dinas, jumat dan minggu pagi serta acara-acara lainnya. Pembagian senam Aerobik menurut cara melakukan dan musik pengiring, yaitu: a. Low impact aerobics (senam aerobik aliran gerakan ringan) b. High impact aerobics (senam aerobik aliran gerakan keras) c. Discorobic (kombinasi antara gerakan-gerakan aerobik aliran keras dan ringan disko) d. Rockrobic (kombinasi gerakan-gerakan aerobik dan ringan serta gerakan-gerakan rock nroll)

38

e. Aerobic sport (kombinasi gerakan-gerakan keras dan ringan serta gerakan-gerakan kalestetik/kelentukan) Jenis senam aerobik berdasakan tingkat benturan kaki terdapat 3 macam low impact, high impact dan moderat impact. Tingkat benturan adalah tingkat sentuhan salah satu kaki terhadap lantai. Berikut akan diuraikan mengenai benturan kaki Low Impact. 4. Tujuan dari senam aerobik adalah : a. Meningkatkan kemampuan jantung dan paru-paru. Gerakan yang dipilih harus mampu menyebabkan denyut jantung meningkat sedemikian rupa ke target latihan atau disebut juga zona latihan. b. Pembentukan tubuh. Gerakan yang dipilih harus mengandung kalestenik yang memenuhi tuntutan teknik dan ketentuan anatomis tertentu. 5. Manfaat Melakukan Senam Aerobik Melakukan aktivitas olahraga senam aerobik dengan takaran yang pas dan ideal akan membawa banyak manfaat bagi seseorang. Berikut ini manfaatnya (Nelly, 2009): a. Melatih jantung, paru dan peredaran darah sehingga dapat mereka bekerja secara lebih efektif dan efisien. b. Melatih kekuatan otot-otot tertentu sehingga otot-otot tersebut terlihat lebih kuat dan kencang. c. Meningkatkan kelenturan tubuh dan lain-lain.

39

Manfaat lainnya adalah (Nelly, 2009): a. Meningkatkan fungsi jantung. Dengan menaikkan detak jantung selama minimal 20 menit, meningkatkan daya tahan dan kekuatannya. b. Meningkatkan kinerja paru-paru seperti bagian lain dari tubuh. Aerobik membantu untuk memperluas paru-paru dan meningkatkan stamina dan kekuatan. c. Menjaga jantung dan paru-paru bekerja dengan baik adalah hal yang terpenting untuk dapat menguasai latihan berat tertentu. Setelah daya tahan dibangun, akan lebih mudah untuk menyelesaikan latihan dalam jumlah yang relatif singkat. d. Membantu untuk menurunkan berat badan. Karena dalam latihan aerobik memanfaatkan oksigen secara maksimal, sehingga dapat meningkatkan metabolisme tubuh atau pembakaran lemak. e. Menjadi awet muda, karena latihan aerobik juga memiliki efek signifikan pada kesehatan otak pada saat terjadi proses penuaan, sehingga dapat memperbaiki kemampuan memori atau daya ingat, dan meningkatkan kemampuan fungsi-fungsi organ tubuh f. Meningkatkan sistem kekebalan tubuh, selain itu juga dapat meningkatkan daya ingat dan konsentrasi seseorang. g. Melawan depresi. Kegiatan aerobik yang teratur telah dikenal untuk meningkatkan mood seseorang dan membantu membendung efek depresi. Tidak hanya peningkatan denyut jantung memperbaiki mood, kegiatan aerobik dapat menyenangkan dan terlalu ramah.

40

h. Latihan aerobik meningkatkan koordinasi. Terutama saat kita lanjut usia, koordinasi penting untuk gaya hidup sehat. 6. Terapi senam aerobik low impact Pengertian senam aerobik Low impact menurut Nelly (2009) adalah senam aerobik aliran gerakan ringan dengan salah satu kaki tetap menapak pada lantai setiap waktu. Dalam penelitian ini terapi senam aerobik Low impact memberikan gerakan senam yang terstruktur, ritmik dengan diiringi musik yang semangat untuk mencapai perbedaan jumlah skor pre-test dan post-test pada sampel. Sistematika latihan senam aerobik low impact tidak terlepas dari sistematika umum berolahraga yang terdiri dari tiga fase, yaitu (Anonim, 2012) : a. Pemanasan (Warming Up) Dalam fase ini dapat menggunakan pola warming up yang didahului oleh kegiatan stretching atau penguluran otot-otot tubuh dan dilanjutkan dengan gerakan dinamis pemanasan. Pola yang kedua yaitu kebalikan dari pola pertama dimana seseorang melakukan pemanasan dinamis dulu kemudian dilanjutkan dengan melakukan kegiatan penguluran otot-otot tubuh atau stretching. Kegiatan pemanasan atau warming up ini memiliki tujuan yaitu: meningkatkan elastisitas otot dan ligamen di sekitar persendian untuk mengurangi resiko cedera. Meningkatkan suhu tubuh dan

41

denyut nadi sehingga mempersiapkan diri agar siap menuju ke aktivitas utama, yaitu aktivitas latihan. Dalam fase ini, pemilihan gerakan harus dilakukan dan dilaksanakan secara sistematis, runtut dan konsisten. Misalnya, apabila gerakan tersebut dimulai dari kepala, maka urutannya adalah kepala, lengan, dada, pinggang dan kaki. Begitu pila sebaliknya. b. Kegiatan Inti Fase latihan adalah fase utama dari sistematika latihan senam aerobik. Dalam fase ini target latihan haruslah tercapai. Salah satu indikator latihan telah memenuhi target adalah dengan memprediksi bahwa latihan tersebut telah mencapai training zone. Training zone adalah daerah ideal denyut nadi dalam fase latihan. Rentang training zone adalah 60 %-90 % dari denyut nadi maksimal seseorang (DNM). Denyut nadi yang dimiliki oleh setiap orang berbeda, tergantung dari tingkat usia seseorang. Berikut ini adalah rumus untuk mencari denyut nadi maksimal seseorang (DNM) : DNM = 220 Usia (Tahun). Umumnya rumus ini digunakan untuk atlet. Sedangkan rumus menghitung denyut nadi maksimal bagi orang awam atau bukan atlet adalah : SDNM = 200 - Usia (Tahun). Dalam senam aerobik, fase inti dapat dilakukan dengan aktivitas senam aerobik low impact, moderate impact, high impact maupun mix impact selama 25- 55 menit.

42

c. Pendinginan (Cooling Down) Pada fase ini hendaknya melakukan dan memilih gerakan gerakan yang mampu menurunkan frekuensi denyut nadi untuk mendekati denyut nadi yang normal, setidaknya mendekati awal dari latihan. Pemilihan gerakan pendinginan ini harus merupakan gerakan penurunan dari intensitas tinggi ke gerakan intensitas rendah. Ditinjau dari segi faal, perubahan dan penurunan intensitas secara bertahap tersebut berguna untuk menghindari penumpukan asam laktat yang akan menyebabkan kelelahan dan rasa pegal pada bagian tubuh atau otot tertentu. Pada gerakan senam aerobik low impact maka salah satu kaki selalu berada dan menapak di lantai setiap waktu. Berikut ini adalah gerakan kaki senam aerobik low impact : b. Single step (langkah Tunggal) Langkahkan kaki kanan ke arah kanan lanjutkan dengan membawa kaki kiri ke arah kaki kanan dan menutup langkah (Hitungan 1) c. Double step (langkah ganda) Langkahkan kaki kanan ke arah kanan, lanjutkan dengan membawa kaki kiri ke arah kaki kanan dan menutup langkah (hitungan 1). Lakukan hitungan 1 sekali lagi atau ke arah kanan (hitungan 2) d. V step (langkah segitiga) Langkahkan kaki kanan ke arah diagonal kanan depan (1), Langkahkan kaki kiri ke arah diagonal kiri depan (2), Bawa kembali

43

kaki kanan ke posisi awal (3) dan bawa kaki kiri kembali ke posisi awal (4) e. Berjalan Melangkah maju dan mundur. Hampir sama dengan double step, hanya dalam penggunaan langkah kaki kiri tidak menutup langkah ke kaki kanan (pada hitungan 1) melainkan bawa kaki kiri di sisi belakang kaki kanan. Salah satu kaki menapak di lantai, kaki lainnya di gunakan untuk mengangkat lutut.

44

D.

Kerangka Teori Berdasarkan tinjauan teori yang telah diuraikan sebelumnya dapat dibuat kerangka teori sebagai berikut. Jenis gangguan jiwa : a. Skizofrenia b. Depresi c. Kecemasan d. Gangguan Kepribadian e. Gangguan Mental Organik f. Gangguan Psikosomatik g. Retardasi Mental h. Gangguan Perilaku Masa Anak dan Remaja

Faktor resiko depresi : a. Umur b. Jenis Kelamin c. Status perkawinan

Depresi

Tingkat Depresi Ringan Sedang Berat

Penanganan : a. ECT b. Psikofarmaka atau obat c. Terapi psikologis: - Psikoterapi d. Terapi aktifitas Kelompok : - Berkomunikasi - Menggambar - Keluarga e. Terapi fisik - Senam - Kerja bakti

Gambar 2.1. Kerangka Teori (Sumber : Modifikasi teori dari Kaplan dan Saddock, 2010; Maslim, 2001; Agus, 2002; Weller, 1990))

45

E. Kerangka Konsep Variabel terikat Tingkat Depresi sebelum diterapi Variabel bebas Terapi senam aerobic low impact Variabel terikat Tingkat Depresi setelah diterapi

Keterangan : : : Diteliti

Gambar 2.2. Kerangka Teori

F. Hipotesis Ho: Tidak ada pengaruh terapi senam aerobik low impact terhadap tingkat depresi pada pasien skizofrenia di Ruang Sadewa RSUD Banyumas tahun 2012. Ha: Ada pengaruh terapi senam aerobik low impact terhadap tingkat depresi pada pasien skizofrenia di Ruang Sadewa RSUD Banyumas tahun 2012.