Anda di halaman 1dari 36

WRAP UP BLOK KEDOKTERAN KELUARGA KUNJUNGAN RUMAH PASIEN DENGAN GANGGUAN PERNAPASAN

KELOMPOK B 9
Ketua Sekretaris Anggota : Nawar Najla Mastura :Nanda Permata Fajarani : Muhammad Ridwan Nova Anggar Kusuma N Nadya Hasnanda K Nadya Ramadhani Rizki Faujiah Munandar Rizky Aisyah Ronny Saputra 1102010204 1102010203 1102009189 1102009207 1102010201 1102010202 1102010253 1102010255 1102010257

Fakultas Kedokteran Universitas YARSI 2013-2014


1

Skenario 2 Kunjungan Rumah Pasien dengan Gangguan Pernapasan Seorang dokter berkunjung ke rumah pasien anak laki-laki, berumur 8 tahun dengan keluhan sesak nafas berulang. Keluhan seperti ini timbul hampir setiap minggu sehingga sangat menggangu kegiatan sekolah pasien. Oleh karena itu dokter ingin mengunjungi rumah pasien untuk mengetahui lebih jauh tentang kondisi pasien dan keluarganya. Pasien tinggal di sebuah rumah di kawasan padat penduduk dengan ukuran 4 x 7 m bersama keluarganya. Keluarga ini terdiri dari ayah, ibu, pasien dan dua orang kakak yang berumur 12 dan 14 tahun. Selain itu bersama keluarga ini tinggal kakek dan neneknya ( orang tua dari ayah ). Kondisi dalam rumah kurang rapih, kurang bersih, kurang pencahayaan dan ventilasi. Kakek dan ibu pasien mempunyai riwayat asma bronkial. Kakek dan ayah pasien adalah perokok berat. Ayah pasien adalah seorang lulusan SMP yang bekerja sebagai seorang buruh bangunan yang merupakan sumber pencari nafkahdalam keluarga. Ibu pasien adalah seorang lulusan SD yang bekerja sebagai tukang cuci pakaian di rumah tetanngganya, sedangkan kakek dan neneknya tidak bekerja. Kedua orang tua pasien sibuk dengan pekerjaannya sehingga pasien kurang mendapat perhatian yang baik, karena kondisi ekonomi yang kurang pasien sering terlambat ke dokter.

Pertanyaan : 1. Berapakah jumlah anggota keluarga yang ideal dalam satu rumah ? 2. Bagaimanakah ciri rumah yang sehat ? 3. Apakah hubungan asma bronkial dan perokok berat pada keluarga dan penyakit pasien ? 4. Faktor apa saja yang menyebabkan sesak nafas berulang ? 5. Sebagai dokter keluarga bagaimana pandangan saudara terhadap keluarga ini, dan bagaimana kaitannya dengan penyakit yang diderita anggota keluarga terebut ? 6. Sebagai dokter muslim, bagaimana pandangan saudara terhadap keluarga ini dan bagaimana hak dan kewajiban pasien baik sebagai individu maupun sebagai anggota keluarga?

Jawaban : 1. Satu ayah, satu ibu dan dua orang anak. 2. Bersih, rapih, pencahayaan cukup, ventilasi baik,tidak banyak perabotan, ukuran rumah sesuai dengan jumlah penghuni rumah ( 1 orang/ 8 m kubik ). 3. Asap rokok dapat mencetuskan sesak nafas, dan asma bronkial merupakan penyakit yang diturunkan. 4. Terpapar alergen terus menerus sepoerti debu, asap rokok, udara dingim, rumah yang sempit dengan ventilasi yang buruk, tingginya kelembaban, kurangnya kesadaran untuk berobat, tingkat pendidikan dan ekonomi yang rendah. 5. Jumlah anggota keluarga yang tinggi dalam satu rumah dibandingkan dengan luas rumah tidak sesuai, sehingga menyebabkan pasien sesak. 6. Kewajiban pasien sebagai individu ; menjaga kesehatan, berobat, menjauhi alergen, ikhtiar dan tawakal. Kewajiban pasien sebagai anggota keluarga ; membantu orang tua menjaga kebersihan rumah, menjaga kakek dan nenek.

Hipotesis Seorang pasien anak laki laki berumur 8 tahun dengan keluhan sesak nafas berulang dikunjungi rumahnya oleh seorang dokter. Anak diduga menderita asma bronkial karena kakek dan ibu pasien memiliki riwayat asma bronkial, selain karena asma bronkial merupakan penyakit turunan yang diturunkan secara genetik. Kondisi rumah pasien yang kurang terawat dengan ventilasi yang buruk membuat rumah pasien tidak layak untuk dihuni, selain itu jumlah keluarga yang ada di dalam rumah pasien tidak sesuai dengan luas rumahnya, kebiasaan merokok pada ayah dan kakek pasien menjadi pencetus bagi pasien menjadi sesak nafas berulang, tidak hanya itu kesibukan orang tua pasien membuat pasien kurang mendapat perhatian dan pendapatan keluarga yang rendah menjadi penghalang bagi pasien untuk berobat.

Sasaran Belajar L.I 1. Memahami dan Menjelaskan Keluarga. L.O 1.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi Keluarga. L.O 1.2 Memahami dan Menjelaskan Fungsi Keluarga. L.O 1.3 Memahami dan Menjelaskan Peran Keluarga. L.O 1.4 Memahami dan Menjelaskan Struktur Keluarga. L.O 1.5 Memahami dan Menjelaskan Hak & Kewajiban Keluarga. L.O 1.6 Memahami dan Menjelaskan Bentuk Keluarga. L.O 1.7 Memahami dan Menjelaskan Siklus Kehidupan Keluarga. L.O 1.8 Memahami dan Menjelaskan Dinamika Keluarga. L.I 2. Memahami dan Menjelaskan Rumah Sehat. L.O 2.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi Rumah Sehat. L.O 2.1 Memahami dan Menjelaskan Ciri Rumah Sehat. L.I 3. Memahami dan Menjelaskan Faktor Faktor yang mempengaruhi kesehatan dalam keluarga. L.I 4. Memahami dan Menjelaskan Konsep Keluarga Islami. L.O 4.1 Memahami dan Menjelaskan Fungsi Keluarga Islami. L.O 4.2 Memahami dan Menjelaskan Hak dan Kewajiban Keluarga dalam Merawat Anggota Keluarga yang Sakit.

L.I 1. Memahami dan Menjelaskan Keluarga. L.O 1.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi Keluarga. Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan keterikatan aturan, emosional dan individu mempunyai peran masing-masing yang merupakan bagian dari keluarga (Friedman,1998). Keluargaadalahunitterkecildarimasyarakatyangterdiridarisuami istridananaknya,atauayahdananaknya,atauibudananaknya(Suprajitno,2004). Spasinya dirapihkan lagi.. Coba cari definisi keluarga ,menurut yang lain.. L.O 1.2 Memahami dan Menjelaskan Fungsi Keluarga. Menurut Friedman fungsi keluarga dibagi menjadi 5 yaitu : 1) Fungsi Efektif

Berhubungan dengan fungsi internal keluarga yang merupakan dasar kekuatan keluarga. Fungsi efektif berguna untuk pemenuhan kebutuhan psikososial. Anggota kelurga mengembangkan gambaran diri yang fositif, peran dijalankan dengan baik dan penuh rasa sayang. 2) Fungsi Sosialisasi

Proses perkembangan dan perubahan yang dilalui individu menghasilkan interaksi sosial ,dan individu tersebut melaksanakan perannya dalam lingkungan sosial. Keluarga merupakan tempat individu melaksanakan sosialisasi dengan anggota kelurga dan belajar disiplin, norma budaya dan perilaku melalui interaksi dalam keluarga, sehigga individu mampu berperan didalam masyarakat. 3) Fungsi Reproduksi

Fungsi untuk meneruskan kelangsungan keturunan dan menambah sumber daya manusia. 4) Fungis Ekonomi

Fungsi untuk memenuhi kebutuhan keluarga, seperti makanan ,pakaian, perumahan, dan lainlain. 5) Fungsi Perawatan Keluarga

Keluarga menyediakan makanan, pakaian, perlidungan, dan asuhan kesehatan/keperawatan. Kemampuan keluarga melakukan asuhan keperawatan atau pemeliharaan kesehatan memengaruhi status kesehatan keluarga dan individu.

Menurut Undang-Undang 1992 membagi Fungsi Keluarga sebagai berikut : 1) Fungsi keagamaan

Membina norma/ajaran agama sebagai dasar dan tujuan hidup seluruh anggota keluarga, menerjemahkan ajaran dan norma agama kedalam tingkah laku hidup sehari-hari bagi seluruh anggota keluarga,memberi contoh konkret dalam kehidupan sehari-hari dalam pengalaman ajaran agama, melengkapi dan menambah proses belajar anak tentang keagamaan yang tidak/kurang diperoleh disekolah atau masyarakat, membina rasa, sikap ,dan praktik kehidupan beragama. 2) Fungsi Budaya

Membina tugas keluarga sebagai sarana untuk meneruskan norma budaya masyarakat dan bangsa yang ingin dipertahankan, membina tugas keluarga untuk menyaring norma dan budaya asing yang tidak sesuai, membina tugas keluarga sebagai saran anggota nya untuk mencari pemecahan masalah dari berbagai pengaruh negatif globalisasi dunia,membina tugas keluarga sebagai sarana bagi anggotanya untuk mengadakan kompromi/adaptasi dan praktik (positif) serta globalisasi dunia, membina budaya keluarga yang sesuai, selaras dan seimbang dengan budaya masyarakat /bangsa untuk menunjang terwujudnnya norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera. 3) Fungsi Cinta Kasih

Menumbuhkembangkan potensi simbol cinta kasih sayang yang telah ada diantara anggota keluarga dalam simbol yang nyata, seperti ucapan dan tingkah laku secara optimal dan terus menerus,membina tingkah laku ,saling menyayangi diantara anggota keluarga maupun antara keluarga yang satu dengan yang lainnya secara kuantitatif dan kualitatif, membina praktik kecintaan terhadap kehidupan duniawi dan uhkrawi dalam keluarga secara serasi, selaras dan seimbang, membina rasa ,sikap, dan praktik hidup keluarga yang mampu memberikan dan menerima kasih sayang sebagai pola hidup ideal menuju keluarga kecil bahagia dan sejahtera. 4) Fungsi Perlindungan

Memenuhi kebutuhan akan rasa aman diantara anggota keluarga.Bebas dari rasa tidak aman yang tumbuh dari dalam maupun dari luar keluarga, membina keamanan keluarga baik fisik maupun psikis dari berbagai bentuk ancaman dan tantangan yang datang dari luar maupun dalam, membina dan menjadikan stabilitas dan keamanan keluarga sebagai modal menuju keluarga kecil bahagia dan sejahtera. 5) Fungsi Reproduksi

Membina kehidupan keluarga sebagai wahana pendidikan reproduksi sehat baik bagi anggota keluarga maupun keluarga sekitarnya, memberikan contoh pengalaman kaidah-kaidah pembetukan keluarga dalam hal usia , kedewasaan fisik dan mental, mengamalkan kaidahkaidah reproduksi sehat baik yang berkaitan dengan jangka waktu melahirkan, jarak antara kelahiran dua anak , dan jumlah ideal anak yang diinginkan dalam keluarga, mengembang
8

kan kehidupan reproduksi sehat sebagai modal yang kondusif menuju keluarga kecil bahagia dan sejahtera. 6) Fungsi Sosialisasi

Menyadari, merencanakan dan menciptakan lingkungan keluarga sebagai wahana pendidikan dan sosialisasi anak yang pertama dan utama, menyadari ,merencanakan , dan menciptakan kehidupan keluarga sebagai pusat tempat anak dapat mencari pemecahan masalah dari berbagai konflik dan permasalahan yang dijumpainya baik lingkungan masyarakat maupun sekolahnya. Membina proses pendidikan dan sosialisasi anak tentang hal yang perlu dilakukannya untuk meningkatkan kemantangan dan kedewasaan baik fisik maupun mental, yang tidak/kurang diberikan lingkungan sekolah maupun masyarakat. Membina proses pendidikan dan sosialisasi yang terjadi dalam keluarga sehingga tidak saja bermamfaat positif bagi anak, tetapi juga orang tua untuk perkembangan dan kematangan hidup bersama menuju keluarga kecil bahagia dan sejahtera. 7) Fungsi Ekonomi

Melakukan kegiatan ekonomi baik diluar maupun didalam kehidupan keluarga dalam rangka menopang perkembangan hidup keluarga, mengelola ekonomi keluarga sehingga terjadi keserasian, keselamatan dan keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran keluarga, mengatur waktu sehingga kegiatan orang tua diluar rumah dan perhatiaanya terhadap anggota rumah tangga bejalan serasi , selaras ,dan seimbang , membina kegiatan dan hasil ekonomi keluarga sebagai modal untuk mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera. 8) Fungsi Pelestarian Lingkungan

Membina kesadaran dan praktik kelestarian lingkungan internal keluarga, membina kesadaran, sikap dan praktik pelestarian lingkunga hidup yang serasi, selaras, dan seimbang antara lingkungan keluarga dan lingkungan hidup sekitarnya. L.O 1.3 Memahami dan Menjelaskan Peran Keluarga. Peran keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal yang berhubungan dengan posisi dan situasi tertentu. Berbagai peran yang terdapat dalam keluarga adalah sebagai berikut: o Peran ayah sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, kepala rumah tangga, anggota dari kelompok sosialnya dan anggota masyarakat. o Peran ibu sebagai isteri, ibu dari anaknya, mengurus rumah tangga, pengasuh, pendidik dan pelindung bagi anak-anaknya, anggota kelompok social dan anggota masyarakat serta berperan sebagai pencari nafkah tambahan bagi keluarga. o Peran anak-anak sebagai pelaksana peran psikososial sesuai dengan tingkat perkembangan baik fisik, mental dan spiritual.

Friedman (2002) membagi lima peran kesehatan dalam keluarga yaitu : o Mengenal gangguan perkembangan kesehatan tiap anggota. o Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat. o Memberikan keperawatan kepada anggota keluarga yang sakit, dan yang tidak dapat membantu dirinya sendiri karena cacat atau usianya yang terlalu muda. o Mempertahankan suasana di rumah yang menguntungkan kesehatan dan perkembangan kepribadian anggota keluarga. o Mempertahankan hubungan kepribadian anggota keluarga dan lembaga-lembaga kesehatan, yang menunjukkan pemanfaatan dengan baik fasilitas-fasilitas kesehatan yang ada. L.O 1.4 Memahami dan Menjelaskan Struktur Keluarga. 1) Dominasi jalur hubungan darah a. Patrilineal Keluarga yang dihubungkan atau disusun melalui jalur garis ayah.Suku-suku di Indonesia rata-rata menggunakan struktur keluarga patrilineal. b. Matrilineal Keluarga yang dihubungkan atau disusun melalui jalur garis ibu. Suku padang salah satu suku yang yang mengunakan struktur keluarga matrilineal. 2) Dominasi keberadaan tempat tinggal a. Patrilokal Keberadaan tempat tinggal satu keluarga yang tinggal dengan keluarga sedarah dari pihak suami. b. Matrilokal Keberadaan tempat tinggal satu keluarga yang tinggal dengan keluarga sedarah dari pihak istri. 3) Dominasi pengambilan keputusan a. Patriakal Dominasi pengambilan keputusan ada pada pihak suami. b. Matriakal Dominasi pengambilan keputusan ada pada pihak istri.

10

Ciri-ciri struktur keluarga 1) Terorganisasi Keluarga adalah cerminan organisasi, dimana masing-masing anggota keluarga memiliki peran dan pungsi masing-masing sehingga tujuan keluarga dapat tercapai.Organisasi yang baik ditandai dengan adanya hubungan yang kuat antara anggota sebagai bentuk saling ketergantungan dalam mencapai tujuan. 2) Keterbatasan Dalam mencapai tujuan, setiap anggota keluarga memiliki peran dan tanggung jawabnya masing-masing sehingga dalam berinteraksi setiap anggota tidak semena-mena, tetapi mempunyai keterbatasan yang dilandasi oleh tanggung jawab masing-masing anggota keluarga. 4) Perbedaan Adanya peran yang beragam dalam keluarga menunjukan masing-masing anggota keluarga mempunyai peran dan fungsi yang berbeda dan khas seperti halnya peran ayah sebagai pencari nafkah utama, peran ibu yang merawat anak-anak. L.O 1.5 Memahami dan Menjelaskan Hak & Kewajiban Keluarga. Hak dan Kewajiban anatara orang tua dan anak serta hak kewajiban antara orang tua menurut undang RI no 1 tahun 1974 tentang perkawinan Pasal 45 1) Kedua orang tua wajib memelihara dan mendidik anak-anak mereka sebaikbaiknya. 2) Kewajiban orang tua yang di maksud ayat (1) pasal ini berlaku sampai anak ini kawin atau dapat berdiri sendiri. Kewajiban mana berlaku terus meskipun perkawinan antara kedua orang tua putus. Pasal 46 1) Anak wajib menghormati orang tua dan mentaati kehendak mereka yang baik. 2) Jika anak telah dewasa, ia wajib memelihara menurut kemampuannya,orang tua dan keluarga dalam garis lurus ke atas,bila mereka itu memerlukan bantuannya. Pasal 47 1) Anak yang belum mencapai umur 18(delapan belas) tahun atau belum pernah melangsungkan perkawinan ada di bawah kekuasaan orang tuanya selama mereka tidak di cabut dari kekuasaannya. 2) Orang tua mewakili anak tersebut mengenai perbuatan hukum di dalam dan di luar pengadilan. Pasal 48 1) Orang tua tidak di perbolehkan memindahkan hak atau menggadaikan barangbarang tetap yang di miliki anaknya yang belum berumur 18(delapan belas) tahun atau belum melangsungkan perkawinan kecuali apabila kepentingan anak itu menghendakinya.
11

Pasal 49 1) Salah seorang atau kedua orang tua dapat di cabut kekuasaannya terhadap seorang anak atau lebih untuk waktu yang tertentu atas permintaan orang tua yang lain keluarga anak dalam garis lurus keatas dan saudara kandung yang telah dewasa atau pejabat yang berwenang dengan keputusan Pengadilan dalam hal-hal : a. Ia sangat melalaikan kewajibannya terhadap anaknya. b. Ia berkelakuan buruk sekali. 2) Meskipun orang tua di cabut kekusaannya, mereka masih berkewajiban untuk memberi biaya pemeliharaan kepada anak tersebut. L.O 1.6 Memahami dan Menjelaskan Bentuk Keluarga. 1. TRADISIONAL : a. The nuclear family (keluarga inti) : Keluarga yang terdiri dari suami, istri dan anak. b. The dyad family : Keluarga yang terdiri dari suami dan istri (tanpa anak) yang hidup bersama dalam satu rumah. c. Keluarga usila : Keluarga yang terdiri dari suami istri yang sudah tua dengan anak sudah memisahkan diri. d. The childless family : Keluarga tanpa anak karena terlambat menikah dan untuk mendapatkan anak terlambat waktunya, yang disebabkan karena mengejar karir/pendidikan yang terjadi pada wanita. e. The extended family (keluarga luas/besar) : Keluarga yang terdiri dari tiga generasi yang hidup bersama dalam satu rumah seperti nuclear family disertai : paman, tante, orang tua (kakak-nenek), keponakan, dll). f. The single-parent family (keluarga duda/janda) : Keluarga yang terdiri dari satu orang tua (ayah dan ibu) dengan anak, hal ini terjadi biasanya melalui proses perceraian, kematian dan ditinggalkan (menyalahi hukum pernikahan). g. Commuter family : Kedua orang tua bekerja di kota yang berbeda, tetapi salah satu kota tersebut sebagai tempat tinggal dan orang tua yang bekerja diluar kota bisa berkumpul pada anggota keluarga pada saat akhir pekan (week-end). h. Multigenerational family : Keluarga dengan beberapa generasi atau kelompok umur yang tinggal bersama dalam satu rumah. i. Kin-network family : Beberapa keluarga inti yang tinggal dalam satu rumah atau saling berdekatan dan saling menggunakan barang-barang dan pelayanan yang sama. Misalnya : dapur, kamar mandi, televisi, telpon, dll). j. Blended family : Keluarga yang dibentuk oleh duda atau janda yang menikah kembali dan membesarkan anak dari perkawinan sebelumnya.

12

k. The single adult living alone / single-adult family : Keluarga yang terdiri dari orang dewasa yang hidup sendiri karena pilihannya atau perpisahan (separasi), seperti : perceraian atau ditinggal mati. 2. NON-TRADISIONAL : a. The unmarried teenage mother : Keluarga yang terdiri dari orang tua (terutama ibu) dengan anak dari hubungan tanpa nikah. b. The stepparent family: Keluarga dengan orangtua tiri. c. Commune family : Beberapa pasangan keluarga (dengan anaknya) yang tidak ada hubungan saudara, yang hidup bersama dalam satu rumah, sumber dan fasilitas yang sama, pengalaman yang sama, sosialisasi anak dengan melalui aktivitas kelompok / membesarkan anak bersama. d. The nonmarital heterosexual cohabiting family : Keluarga yang hidup bersama bergantiganti pasangan tanpa melalui pernikahan. e. Gay and lesbian families : Seseorang yang mempunyai persamaan sex hidup bersama sebagaimana pasangan suami-istri (marital partners). f. Cohabitating couple : Orang dewasa yang hidup bersama di luar ikatan perkawinan karena beberapa alasan tertentu. g. Group-marriage family : Beberapa orang dewasa yang menggunakan alat-alat rumah tangga bersama, yang merasa telah saling menikah satu dengan yang lainnya, berbagi sesuatu, termasuk sexual dan membesarkan anaknya. h. Group network family : Keluarga inti yang dibatasi oleh set aturan/nilai-nilai, hidup berdekatan satu sama lain dan saling menggunakan barang-barang rumah tangga bersama, pelayanan dan bertanggung jawab membesarkan anaknya. i. Foster family : Keluarga menerima anak yang tidak ada hubungan keluarga/saudara dalam waktu sementara, pada saat orangtua anak tersebut perlu mendapatkan bantuan untuk menyatukan kembali keluarga yang aslinya. j. Homeless family : Keluarga yang terbentuk dan tidak mempunyai perlindungan yang permanen karena krisis personal yang dihubungkan dengan keadaan ekonomi dan atau problem kesehatan mental. k. Gang : Sebuah bentuk keluarga yang destruktif, dari orang-orang muda yang mencari ikatan emosional dan keluarga yang mempunyai perhatian, tetapi berkembang dalam kekerasan dan kriminal dalam kehidupannya. Genogram Definisi : genogram adalah suatu alat bantu berupa peta skema (visual map) dari silsilah keluarga pasien yang berguna bagi pemberi layanan kesehatan untuk segera mendapatkan
13

informasi tentang nama anggota keluarga pasien, kualitas hubungan antar anggota keluarga. Genogram adalah biopsikososial pohon keluarga, yang mencatat tentang siklus kehidupan keluarga, riwayat sakit di dalam keluarga serta hubungan antar anggota keluarga. Di dalam genogram berisi : nama, umur, status menikah, riwayat perkawinan, anak-anak, keluarga satu rumah, penyakit-penyakit spesifik, tahun meninggal, dan pekerjaan. Juga terdapat informasi tentang hubungan emosional, jarak atau konflik antar anggota keluarga, hubungan penting dengan profesional yang lain serta informasi-informasi lain yang relevan. Dengan genogram dapat digunakan juga untuk menyaring kemungkinan adanya kekerasan (abuse) di dalam keluarga.

Genogram idealnya diisi sejak kunjungan pertama anggota keluarga, dan selalu dilengkapi (update) setiap ada informasi baru tentang anggota keluarga pada kunjungan-kunjungan selanjutnya. Dalam teori sistem keluarga dinyatakan bahwa keluarga sebagai sistem yang saling berinteraksi dalam suatu unit emosional. Setiap kejadian emosional keluarga dapat mempengaruhi atau melibatkan sediktnya 3 generasi keluarga. Sehingga idealnya, genogram dibuat minimal untuk 3 generasi. Dengan demikian, genogram dapat membantu dokter untuk : 1) Mendapat informasi dengan cepat tentang data yang terintegrasi antara kesehatan fisik dan mental di dalam keluarga. 2) Pola multigenerasi dari penyakit dan disfungsi.

14

Simbol dalam genogram Sumber?

15

Simbol Dalam Genogram L.O 1.7 Memahami dan Menjelaskan Siklus Kehidupan Keluarga. Siklus Hidup Keluarga (Family Life Cycle) adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perubahan-perubahan dalam jumlah anggota, komposisi dan fungsi keluarga sepanjang hidupnya. Siklus hidup keluarga juga merupakan gambaran rangkaian tahapan yang akan terjadi atau diprediksi yang dialami kebanyakan keluarga. Siklus hidup keluarga terdiri dari variabel yang dibuat secara sistematis menggabungkan variable demografik yaitu status pernikahan, ukuran keluarga, umur anggota keluarga, dan status pekerjaan kepala keluarga.

16

TAHAPAN-TAHAPAN SIKLUS HIDUP KELUARGA Dalam ilmu kependudukan biasanya dikenal dengan 6 tahap siklus hidup keluarga, yaitu : 1) Tahap Tanpa Anak Dimulai dari perkawinan hingga kelahiran anak pertama. 2) Tahap Melahirkan (Tahap Berkembang) Dimulai dari kelahiran anak sulung hingga anak bungsu. 3) Tahap Menengah Dimulai dari kelahiran anak bungsu, hingga anak sulung meninggalkan rumah atau menikah 4) Tahap Meninggalkan Rumah Dimulai dari anak sulung meninggalkan rumah sampai anak bungsu meninggalkan rumah (perkawinan biasanya dianggap meninggalkan rumah). 5) Tahap Purna Orang Tua Dimulai dari saat anak bungsu meninggalkan rumah, hingga salah satu pasangan meninggal dunia. 6) Tahap Menjanda/Menduda Dimulai dari saat meninggalnya suami atau istri, hingga pasangannya meninggal dunia. Siklus hidup keluarga dalam ilmu kependudukan dipandang penting, karena lima alasan pokok sebagai berikut : 1) Menunjukan interaksi antara anggota keluarga. Peristiwa-peristiwa seperti kelahiran, kematian, dan perubahan umur atau status anak, tidak hanya mempengaruhi individu-individu yang bersangkutan, tetapi juga anggota keluarga yang lain. 2) Memperjelas pengaruh yang kontinu dari peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahaptahap awal siklus terhadap kehidupan keluarga sampai akhir siklus tersebut. 3) Menghilangkan konsepsi yang salah tentang keluarga, misalnya pandangan bahwa keluarga hanya melewati satu atau dua tahap tertentu saja. 4) Merupakan suatu ringkasan yang penting tentang pengaruh gabungan faktor-faktor fertilitas, mortalitas, nupsialitas dengan faktor-faktor ekonomi dan kebudayaan. 5) Dapat menjelaskan bermacam-macam variasi kegiatan sosial demografi dan sosial ekonomi.

17

Menurut Neighbour (1985) tahapan, tugas dan masalah yang menjadi isu penting dalam setiap tahapan siklus kehidupan keluarga adalah sebagai berikut : 1) Tahap Perkawinan 2) Tahap Melahirkan Anak 3) Tahap Membesarkan Anak-Anak Memasuki Sekolah Dasar 4) Tahap Membesarkan Anak-Anak Usia Remaja 5) Tahap Keluarga Mulai Melepaskan Anak-Anak 6) Tahap Tahun-tahun Pertengahan 7) Tahap Usia Tua MODEL SIKLUS HIDUP KELUARGA Tahap-tahap siklus hidup keluarga digambarkan ke dalam 2 model, yaitu: 1) Siklus Hidup Keluarga Model Tradisional Siklus hidup keluarga model tradisional yaitu pergerakan tahap yang sebagian besar keluarga lewati, dimulai dari belum menikah (bujangan), menikah, pertumbuhan keluarga, penyusutan keluarga, dan diakhiri dengan putusnya unit dasar. Tahapan dari FLC model tradisional adalah: Tahap I: Bachelor

Pemuda/i single dewasa yang hidup berpisah dengan orang tua. Tahap II: Honeymooners

Pasangan muda yang baru menikah. Tahap III: Parenthood

Pasangan yang sudah menikah setidaknya ada satu anak yang tinggal hidup bersama. Tahap IV: Postparenthood

Sebuah pasangan menikah yang sudah tua dimana tidak ada anak yang tinggal hidup bersama. Tahap V: Dissolution

Salah satu pasangan sudah meninggal. 2) a. Siklus Hidup Keluarga Model Non-Traditional Family Household
18

1. Childless Couples: pasangan yang memilih untuk tidak memiliki anak dikarenakan oleh pasangan tersebut lebih memilih pada pekerjaan. 2. Pasangan yang menikah diumur diatas 30 tahun menikah terlalu lama dikarenakan karir dimana memutuskan untuk memiliki sedikit anak atau justru malah tidak memiliki anak. 3. Pasangan yang memiliki anak di usia yang terlalu dewasa (diatas 30 tahun). 4. Single Parent I: single parent yang terjadi karena perceraian. 5. Single Parent II: pria dan wanita muda yang mempunyai satu atau lebih anak diluar pernikahan. 6. Single Parent III: seseorang yang mengadopsi satu atau lebih anak. 7. Extended Family: seseorang yang kembali tinggal dengan orang tuanya untuk menghindari biaya yang dikeluarkan sendiri sambil menjalankan karirnya. Misalnya anak, atau cucu yang cerai kemudian kembali ke rumah orang tuanya. b. Non-Family Household

1. Pasangan tidak menikah 2. Perceraian tanpa anak 3. Single Person: orang yang menunda pernikahan atau bahkan memutuskan untk tidak menikah 4. Janda atau duda L.O 1.8 Memahami dan Menjelaskan Dinamika Keluarga. Adanya interaksi (hubungan) antara individu dengan lingkungan sehingga tersebut dapat diterima dan menyesuaikan diri baik dalam lingkungan keluarga maupunkelompok sosial yang sama. Dinamika keluarga adalah interaksi atau hubungan pasien dengan anggota keluarganya dan juga bisa mengetahui bagaimana kondisi keluarga di lingkungan sekitarnya. Keluarga diharapkan mampu memberikan dukungan dalam upaya kesembuhan pasien. Ada empat aspek yang selalu muncul dalam dinamika keluarga Pertama, tiap anggota keluarga memiliki perasaan dan idea tentang diri sendiriyang biasa dikenal dengan harga diri atau self-esteem. Kedua, tiap keluarga memiliki cara tertentu untuk menyampaikan pendapatdan pikiran mereka yang dikenal dengan komunikasi. Ketiga, tiap keluarga memiliki aturan permainan yang mengatur bagaimanamereka seharusnya merasa dan bertindak yang berkembang sebagai sistemnilai keluarga. Yang terakhir, tiap keluarga memiliki cara dalam berhubungan dengan orang luar dan institusi di luar keluarga yang dikenal sebagai jalur ke masyarakat
19

L.I 2. Memahami dan Menjelaskan Rumah Sehat. L.O 2.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi Rumah Sehat. Rumah Sehat adalah bangunan rumah tinggal yang memenuhi syarat kesehatan, yaitu rumah yang memiliki jamban yang sehat, sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah, ventilasi rumah yang baik, kepadatan hunian rumah yang sesuai dan lantai rumah yang tidak terbuat dari tanah. L.O 2.1 Memahami dan Menjelaskan Ciri Rumah Sehat. Persyaratan Kesehatan Rumah Tinggal menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 829/Menkes/SK/VII/1999 adalah sebagai berikut: 1. Bahan Bangunan a. Tidak terbuat dari bahan yang dapat melepaskan zat-zat yang dapat membahayakan kesehatan, antara lain sebagai berikut : Debu Total tidak lebih dari 150 g m3. Asbes bebas tidak melebihi 0,5 fiber/m3/4jam. Timah hitam tidak melebihi 300 mg/kg.

b. Tidak terbuat dari bahan yang dapat menjadi tumbuh dan berkembangnya mikroorganisme patogen. 2. Komponen dan penataan ruang rumah Komponen rumah harus memenuhi persyaratan fisik dan biologis sebagai berikut: a. Lantai kedap air dan mudah dibersihkan. b. Dinding Di ruang tidur, ruang keluarga dilengkapi dengan sarana ventilasi untuk pengaturan sirkulasi udara. Di kamar mandi dan tempat cuci harus kedap air dan mudah dibersihkan.

c. Langit-langit harus mudah dibersihkan dan tidak rawan kecelakaan. d. Bumbung rumah yang memiliki tinggi 10 meter atau lebih harus dilengkapi dengan penangkal petir. e. Ruang di dalam rumah harus ditata agar berfungsi sebagai ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, ruang tidur, ruang dapur, ruang mandi dan ruang bermain anak. f. Ruang dapur harus dilengkapi dengan sarana pembuangan asap. 3. Pencahayaan

20

Pencahayaan alam atau buatan langsung atau tidak langsung dapat menerangi seluruh bagian ruangan minimal intensitasnya 60 lux dan tidak menyilaukan. 4. Kualitas Udara Kualitas udara di dalam rumah tidak melebihi ketentuan sebagai berikut : a) b) c) d) e) f) Suhu udara nyaman berkisar antara l8C sampai 30C. Kelembaban udara berkisar antara 40% sampai 70%. Konsentrasi gas SO2 tidak melebihi 0,10 ppm/24 jam. Pertukaran udara. Konsentrasi gas CO tidak melebihi 100 ppm/8jam Konsentrasi gas formaldehide tidak melebihi 120 mg/m3.

5. Ventilasi Luas penghawaan atau ventilasi a1amiah yang permanen minimal 10% dari luas lantai. 6. Binatang penular penyakit Tidak ada tikus bersarang di rumah. 7. Air a. Tersedia air bersih dengan kapasitas minmal 60 lt/hari/orang b. Kualitas air harus memenuhi persyaratan kesehatan air bersih dan air minum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 8. Tersediannya sarana penyimpanan makanan yang aman dan hygiene. 9. Limbah a. Limbah cair berasal dari rumah, tidak mencemari sumber air, tidak menimbulkan bau dan tidak mencemari permukaan tanah. b. Limbah padat harus dikelola agar tidak menimbulkan bau, tidak menyebabkan pencemaran terhadap permukaan tanah dan air tanah. 10. Kepadatan hunian ruang tidur Luas ruang tidur minimal 8m2 dan tidak dianjurkan digunakan lebih dari dua orang tidur dalam satu ruang tidur, kecuali anak dibawah umur 5 tahun. Masalah perumahan telah diatur dalam Undang-Undang pemerintahan tentang perumahan dan pemukiman No.4/l992 bab III pasal 5 ayat l yang berbunyi Setiap warga negara

21

mempunyai hak untuk menempati dan atau menikmati dan atau memiliki rumah yang layak dan lingkungan yang sehat, aman , serasi, dan teratur Bila dikaji lebih lanjut maka sudah sewajarnya seluruh lapisan masyarakat menempati rumah yang sehat dan layak huni. Rumah tidak cukup hanya sebagai tempat tinggal dan berlindung dari panas cuaca dan hujan, Rumah harus mempunyai fungsi sebagai : 1. Mencegah terjadinya penyakit. 2. Mencegah terjadinya kecelakaan. 3. Aman dan nyaman bagi penghuninya. 4. Penurunan ketegangan jiwa dan sosial. L.I 3. Memahami dan Menjelaskan Faktor Faktor yang mempengaruhi kesehatan dalam keluarga. Timbulnya penyakit disebabkan oleh ketidakseimbangan antara factor penjamu (host), faktor agen penyakit, dan faktor lingkungan. Factor host Host adalah seseorang yang mempunyai resiko untuk terkena suatu penyakit. Resiko internal: Genetic Umur ; sesorang anggota keluarga dengan usia yang lebih tua cenderung lebih perhatian terhadap anggota keluarga yang lain Pendidikan : makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah meneriam informasi sehingga makin banyak penetahuan yang dimiliki Pekerjaan Sex Fisiologi tubuh Keadaan imunologia Tingkah laku Resiko eksternal Lingkungan Kebudayaan Kepercayaan Ras
22

Social ekonomi Factor agen Agen adalah suatu unsure, organisme hidup atau kuman infektif yang dapat menyebabkan terjadinya suatu penyakit Factor yang mempengaruhi : Factor nutrisi Kimiawi Fisik Biologis Unhealthy behaviour Factor lingkungan Lingkungan adalah semua factor luar dari suatu individu yang dapat berupa lingkungan fisik, biologis, dan social. Sesungguhnya keadaan keluarga secara keseluruhan memang mempunyai pengaruh yang amat besar terhadap kesehatan setiap anggota keluarga. Pengaruh tersebut dapat dilihat paling tidak pada lima hal : 1. Penyakit keturunan Setiap orang pada dasarnya adalah hasil interaksi antara berbagai factor genetic (fungsi reproduksi). Apabila ditemukan kelainan tertentu pada factor genetic tersebut, yang antara lain muncul karena perkawinan (tahap awal dari siklus keluarga) maka tidaklah sulit dipahmi bahwa orang tersebut dapat menderita penyakit keturunan tertentu pula. 2. Perkembangan bayi dan anak Sekalipun pada dasarnya keadaan fisik dan mental bayi serta anak mempunyai kemampuan mengatasi berbagai pengaruh lingkungan, tetapi pengalaman membuktikan jika bayi dan anak tersebut maka perkembangan bayi dan anak tersebut akan terganggu, baik perkembangan fisik maupun perilakunya. 3. Penyebaran penyakit Apabila dilingkungan keluarga terdapat penderita penyakit infeksi maka tidaklah sulit diperkirakan bahwa anggota keluarga yang lain akan mudah terserang penyakit tersebut. 4. Pola penyakit dan kematian Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa seseorang yang hiduo membujang atau bercerai (siklus kehidupan keluarga) cenderung memperlihatkan angka penyakit dan kematian yang lebih tinggi daripada mereka yang berkeluarga.
23

5. Proses penyembuhan penyakit Proses penyembuhan penyakit anak-anak yang menderita penyakit kronis jauh lebih baik pada keluarga dengan fungsi keluarga yang sehat daripada keluarga dengan fungsi keluarga yang sakit. L.I 4. Memahami dan Menjelaskan Konsep Keluarga Islami. Keluarga muslim adalah keluarga yang meletakkan segala aktivitas pembentukan keluarganya sesuai dengan syariat Islam yang berdasarkan al -Quran dan as-Sunnah. Keluarga tersebut dibangun di atas aqidah yang benar dan semangat untuk beribadah kepada Allah serta semangat untuk menghidupkan syiar dan adab-adab Islam Islam sebagaimana telah dicontohkan Rasulullah SAW. Menurut HammudahAbdul Al-Ati dalam bukunya The Family Structure in Islam definisi keluarga dilihat secara operasional adalah: Suatu struktur yang bersifat khusus yang satu sama lain mempunyai ikatan khusus, baik lewat hubungan darah atau pernikahan. Perikatan itu membawa pengaruh pada adanya rasa saling berharap (mutual expectation) yang sesuai dengan ajaran agama, dikukuhkan dengan kekuatan hukum serta secara individual saling mempunyai ikatan batin. Bentuk keluarga yang paling sederhana adalah keluarga inti yang terdiri atas suami istri dan anak-anak yang biasanya hidup bersama dalam suatu tempat tinggal. Namun demikian menurut Abdul Al Ati pengertian keluarga tidaklah dibatasi oleh kerangka tempat tinggal. Sebab anggota sebuah keluarga tidaklah selalu menempati tempat tinggal yang sama. Adanya rasa saling harap sebagai unsur dalam perikatan keluarga itu lebih penting dari unsur tempat tinggal. Pentingnya Keharmonisan Keluarga Yang paling berpengaruh buat pribadi dan masyarakat adalah pembentukan keluarga dan komitmennya pada kebenaran. Alloh dengan hikmahNya telah mempersiapkan tempat yang mulia buat manusia untuk menetap dan tinggal dengan tentram di dalamnya. FirmanNya: "dan diantara tanda-tanda kekuasanNya adalah Dia mencipatakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan diajadikanNya diantara kamu rasa kasih sayang. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (Ar Ruum [30]: 21) Hak dan Kewajiban Anak Kewajiban Anak Terhadap Orang Tua Pada dasarnya, kewajiban seorang anak merupakan hak bagi orang tua begitu pula sebaliknya hak anak adalah merupakan kewajiban dari orang tua sendiri. Diantara kewajiban anak untuk berbakti pada orang tuanya dibagi menjadi dua yaitu ketika mereka masih hidup dan sesudah mereka wafat. A. Saat Orang Tua Masih Hidup 1) Menaati mereka selama tidak mendurhakai Allah.

24

Taat, patuh dan hormat pada kedua orang tua merupakan kewajiban bagi setiap anak Adam(manusia). Sedangkan mendurhakai keduanya merupakan perbuatan yang diharamkan, kecuali jika mereka menyuruh untuk berbuat syirik atau bermaksiat kepada Allah. Allah berfirman, artinya, Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, . Rasulullah SAW. bersabda, Tidak ada ketaatan untuk mendurhakai Allah. Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam melakukan kebaikan. Adapun contoh bentuk ketaatan pada orang tua diantaranya: a) Apabila orang tua meminta makan maka anak wajib memberikan. b) Memberikan sesuatu yang diinginkan orang tua baik yang diminta atupun tidak. c) Segera mendatangi panggilan orang tua. d) Melaksanakan semua perintah orang tua asalkan buka perintah maksiat. e) Tidak membentak, menghardik, memukul bahkan membunuh orang tua meskipun orang tua salah. Berbakti terhadap kedua orang tua dapat direalisasikan dengan berbagia bentuk. Di antara bakti terhadap kedua orang tua adalah menjauhkan ucapan dan perbuatan yang dapat menyakiti mereka, walaupun berupa isyarat atau dengan ucapan ah, tidak mengeraskan suara melebihi suara mereka, mendahulukan keperluan orang tua dari pada keperluan pribadi. 2) Berbakti terhadap kedua orang tua dapat direalisasikan dengan berbagai bentuk. Diantara wujud lain dari pada bakti pada orang tua diantaranya: a) Tidak berkata ah dan tidak mengeraskan suara melebihi suara orang tua b) Tidak mendahului jalan orang tua c) Mendahulukan keperluan orang tua dari pada keperluan pribadi d) Tidak berkata kasar 3) Meminta izin kepada mereka sebelum berjihad dan pergi untuk urusan lainnya. Amat penting kedudukan izin kepada orang tua dalam masalahjihad. Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan bertanya, Wahai Rasulullah apakah aku boleh ikut berjihad? Beliau balik bertanya, Apakah kamu masih mempunyai kedua orangtua? Laki-laki tersebut menjawab, Masih. Beliau bersabda, Berjihadlah (dengan cara berbakti) kepada keduanya. 4) Memberikan nafkah kepada orang tua Beberapa ayat dalam Al Quran yang membahas tentang hal ini adalah Al Baqarah ayat 15 dan Ar-Rum ayat 38. Rasulullah SAW. pernah bersabda kepada seorang laki-laki ketika ia
25

berkata, Ayahku ingin mengambil hartaku. Nabi SAW. bersabda, Kamu dan hartamu adalah milik ayahmu. Oleh sebab itu, hendaknya seorang anak tidak bersikap bakhil (kikir) terhadap orang yang menyebabkan keberadaan dirinyaatas izin Allah, memeliharanya ketika kecil, serta telah berbuat baik kepadanya. 5) Memenuhi sumpah/nadzar kedua orang tua Jika kedua orang tua bersumpah untuk suatu perkara tertentu yang di dalamnya tidak terdapat perbuatan maksiat, maka wajib bagi seorang anak untuk memenuhi sumpah keduanya karena hal itu termasuk hak mereka. 6) Mendahulukan berbakti kepada ibu dari pada ayah. : : : : (). : : () . : : () . : : () . : : . Seorang lelaki pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Siapa yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku? beliau menjawab, Ibumu. Lelaki itu bertanya lagi, Kemudian siapa lagi? Beliau kembali menjawab, Ibumu. Lelaki itu kembali bertanya, Kemudian siapa lagi? Beliau menjawab, Ibumu. Lalu siapa lagi? Tanyanya. Ayahmu, jawab beliau. Hadits di atas tidak bermakna lebih menaati ibu dari pada ayah. Sebab, menaati ayah lebih didahulukan jika keduanya menyuruh pada waktu yang sama dan dalam hal yang dibolehkan syariat. Alasannya, ibu sendiri diwajibkan taat kepada suaminya. 7) Mendahulukan berbakti pada orang tua dari pada berbuat baik pada istri Di antara hadits yang menunjukkan hal tersebut adalah kisah tiga orang yang terjebak di dalam gua lalu mereka tidak bisa keluar kemudian mereka bertawasul dengan amal baik mereka, di antara amal mereka, ada yang mendahulukan memberi susu untuk kedua orang tuanya, walaupun anak dan istrinya membutuhkan. Begitupula dengan kisah Alqomah 8) Mendoakan kedua orang tua. Merupakan perihal yang sangat urgen sebab doa juga merupakan wujud ungkapan terimakasih anak terhadap orang tua. Ayat Al-Quran yang membahas tentang kewajiban mendoakan keduanya salah satunya adalah firman Allah SWT :

26

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". 9) Memelihara orang tua Ayat yang membahas tentang hal ini adalah surat Al-Isra ayat 23 dan Al-Ahqaf ayat 15 B. Ketika Orang Tua Telah Meninggal Ada beberapa kewajiban yang dilakukan anak terhadap orang tuanya ketika mereka sudah tiada diantaranya: 1) Mengurus jenazahnya dan banyak mendoakan untuknya, karena ini merupaka bukti kebaktian anak terhadap orang tuanya sebelum dikebumikan. 2) Memohonkan ampun untuk keduanya. Karena doa yang yang masih bisa menjadi amal jariyah adalah doa anak sholeh terhadap orang tuanya. Namun anak yang dimaksud anak di sini tidak hanya anak kandung saja tapi anak tiri, ataupun anak angkatpun bisa. Karena dalam doa kita juga dianjurkan untuk mendoakan semua orang muslim. 3) Melanjutkan amalan baik yang belum sempat dilakukan mereka semasa hidup karena demikian itu akan menjadi amalan jariyah bagi orang tua meskipun telah memenuhi panggilanya. 4) Menunaikan janji, hutang dan wasiat orang tua yang belum terlaksana. 5) Memuliakan teman atau sahabat dekat kedua orang tua Rasulullah SAW pernah bersabda, Sesungguhnya bakti anak yang terbaik adalah seorang anak yang menyambung tali persahabatan dengan keluarga teman ayahnya setelah ayahnya meninggal. 6) Menyambung tali silaturrahim dengan kerabat ibu dan ayah Rasulullah SAW. bersabda, Barang siapa yang ingin menyambung silaturrahim ayahnya yang ada dikuburannya, maka sambunglah tali silaturrahim dengan saudara-saudara ayahnya setelah ia meninggal. Hak-hak yang harus diperoleh anak 1) Hak Mendapatkan Rasa Kasih Sayang Banyak hal yang bisa menjadi ungkapan kasih sayang, hal yang demikian tak ditinggalkan oleh syariat, hingga didapati banyak contoh dari Rasulullah SAW, bagaimana beliau mengungkapkan kasih sayang kepada anak-anak. Satu contoh yang beliau berikan adalah mencium anak-anak. Bahkan beliau mencela orang yang tidak pernah mencium anak-anaknya. Kisah-kisah tentang ini bukan hanya satu dua. Di antaranya dituturkan oleh shahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiallahu 'anhu:
27

: .

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mencium Al-Hasan bin 'Ali, sementara AlAqra' bin Habis At-Tamimi sedang duduk di sisi beliau. Maka Al-Aqra' berkata, "Aku memiliki 10 anak, namun tidak ada satu pun dari mereka yang kucium." Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memandangnya, lalu bersabda, "Siapa yang tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi." Kalaulah dibuka perjalanan para pendahulu yang shalih dari kalangan shahabat radhiallahu 'anhum, hal ini pun ditemukan di kalangan mereka. Bahkan dilakukan oleh shahabat yang paling mulia, Abu Bakr Ash-Shiddiqradhiallahu 'anhu. Ketika Abu Bakr radhiallahu 'anhu tiba di Madinah bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam hijrah, dia mendapati putrinya, 'Aisyah radhiallahu 'anha sakit panas. Al-Barra' bin 'Azibradhiallahu 'anhu yang menyertai Abu Bakr saat menemui putrinya mengatakan: :

"Kemudian aku masuk bersama Abu Bakr menemui keluarganya. Ternyata 'Aisyah putrinya sedang berbaring, terserang penyakit panas. Maka aku melihat ayah 'Aisyah mencium pipinya dan berkata, 'Bagaimana keadaanmu, wahai putriku?'." Inilah kasih sayang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, seorang ayah yang paling mulia di antara seluruh manusia. Tak segan-segan beliau mendekap dan mencium putra-putri dan cucu-cucunya. Begitu pun yang beliau ajarkan kepada seluruh manusia. 2) Hak untuk memperoleh kehidupan Problematika perekonomian seakan menjadi momok yang menakutkan bagi calon orang tua bahkan orang tua sekalipun. Banyak sekali orang tua yang mnelantarkan anak yang telah dilahirkan sendiri dari rahimnya. Bahkan tak sedikit pula yang membiarkan anaknya merasakan kehidupan dunia ini. Allah berfirman: Janganlah kamu membunuh anak anakmu karena takut miskin. Kami akan memberikan rizqi kepadamu dan kepada mereka. 3) Hak mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) Wajib bagi seorang ibu menyusui anaknya yang masih kecil, sebagaimana firman Allah yang artinya: Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Sebuah riwayat disampaikan oleh 'Umar bin Al-Khaththab radhiallahu 'anhu: . : : . : .
28

"Datang para tawanan di hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Ternyata di antara para tawanan ada seorang wanita yang buah dadanya penuh dengan air susu. Setiap dia dapati anak kecil di antara tawanan, diambilnya, didekap di perutnya dan disusuinya. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bertanya, "Apakah kalian menganggap wanita ini akan melemparkan anaknya ke dalam api?" Kami pun menjawab, "Tidak. Bahkan dia tak akan kuasa untuk melemparkan anaknya ke dalam api." Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sungguh Allah lebih penyayang daripada wanita ini terhadap anaknya." 4) Hak untuk mendapat nama yang baik dari orang tua Pemberian nama yang baik bagi anak adalah awal dari sebuah upaya pendidikan terhadap anak anak. Ada yang mengatakan; apa arti sebuah nama. Ungkapan ini tidak selamanya benar. Islam mengajarkan bahwa nama bagi seorang anak adalah sebuah doa. Dengan memberi nama yang baik, diharapkan anak mampu berperilaku baik sesuai dengan namanya. Adapun setelah kita berusaha memberi nama yang baik, dan telah mendidiknya dengan baik pula, namun anak kita tetap tidak sesuai dengan yang kita inginkan, maka kita kembalikan kepada Allah SWT. Nama yang baik dengan akhlak yang baik, itulah yang diharapkan oleh setiap orang tua. 5) Hak mendapat aqiqohan dari orang tua. Aqiqah hukumnya sunnah muakkadh (sangat dianjurkan) bagi yang mampu melakukannya, berdasarkan sabda Nabi SAW " : ".

Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih paa hari ketujuh (sejak kelahiran anaknya), lalu dinamai dan dicukur rambutnya. 6) Hak mendapat pendidikan Mendidik anak dengan baik merupakan salah satu sifat seorang ibu muslimah. Bahkan ibu merupakan madrasah awal bagi putra putrinya. Dia senantiasa mendidik anak-anaknya dengan akhlak yang baik, yaitu akhlak Muhammad dan para sahabatnya yang mulia. Mendidik anak bukanlah sekedar kemurahan hati seorang ibu kepada anak-anaknya, akan tetapi merupakan kewajiban dan fitrah yang diberikan Allah kepada seorang ibu. Mendidik anak pun tidak terbatas dalam satu perkara saja tanpa perkara lainnya, seperti mencucikan pakaiannya atau membersihkan badannya saja. Bahkan mendidik anak itu mencakup perkara yang luas, mengingat anak merupakan generasi penerus yang akan menggantikan kita yang diharapkan menjadi generasi tangguh yang akan memenuhi bumi ini dengan kekuatan, hikmah, ilmu, kemuliaan dan kejayaan. Bak dan tidaknya seorang anak juga ada pengaruhnya terhadap peran orang tua. Karena pada dasarnya anak itu terlahir dalam keadaan fitrah, jadi yang menjadikan anak tersebut islam ataupun kafir adalah orang tuanya. Hak dan Kewajiban Orang Tua

29

Kewajiban Orang tua kepada Anak 1) Berdoa sebelum bercampur dengan istri, sehingga jika Allah takdirkan dari pencampuran tadi, si istri hamil, maka anaknya menjadi anak yang soleh. 2) Mengikuti rosulullah dalam menyambut kelahiran anak. 3) Tinggal di lingkungan yang islami 4) Memberi nama yang baik 5) Ibu hendaknya Menyusui anaknya 6) Mengasuh dan membimbing anak (bukan diasuh oleh pembantu). 7) Mengkhitan si anak 8) Mengajari alquran, sholat,puasa, adab dan etika 9) Mengajari anak naik kuda, berenang dan memanah. 10) Memberi nafkah dari rezeki yang halal sampai si anak mandiri atau menikah. 11) Memilihkan teman yang baik. 12) Berbuat adil kepada semua anak anaknya. 13) Menjadi contoh yang baik bagi anaknya. 14) Mencarikan pendamping hidup yang sholeh bagi anaknya. Hak-hak Orang Tua Yang dimaksud dengan hak-hak orang tua di sini adalah kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan seorang anak terhadap orang tuanya. Ada banyak hak orang tua atas anak, yang paling penting di antaranya adalah : 1) Bergaul dengan keduanya dengan cara yang baik. Hal itu ditunjukkan melalui perkataan, perbuatan, harta, dan badan. 2) Menaati perintah keduanya kecuali dalam hal-hal yang sifatnya maksiat. 3) Berbicara kepada mereka berdua dengan penuh kelembutan dan sopan santun. 4) Tawadhu (rendah diri) dan tidka boleh bersikap sombong di hadapan keduanya. 5) Banyak berdoa dan memohon ampun untuk mereka berdua, terlebih di saat keduanya telah meninggal dunia. 6) Memelihara nama baik, kehormatan, dan harta mereka berdua.

30

7) Melakukan perbuatan yang membuat mereka senang tanpa harus ada perintah terlebih dahulu. 8) Menghormati teman-teman mereka berdua semasa mereka masih hidup, dan begitu juga setelah matinya. 9) Segera memenuhi panggilan mereka berdua Hak dan Kewajiban Antar Keluarga Hak Kerabat dan Sanak Keluarga 1) Dikunjungi/silaturahim Dalil hadits: Siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rizkinya maka hendaklah dia takut kepada Allah dan bersilaturahim kepada kerabat. (HR. Ahmad dan Al Hakim). 2) Selamat dari tangan dan lisannya. Maksudnya adalah tidak digunjingkan dan dianiaya. 3) Bersedekah/memberi hadiah. Shadaqah yang paling utama adalah kepada kerabat yang memutuskan kekerabatan. (HR. Ahmad, Thabrani dan Baihaqi) L.O 4.1 Memahami dan Menjelaskan Fungsi Keluarga Islami. Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat perlu diberdayakan fungsinya agar dapat mensejahterakan umat manusia. Dalam Islam fungsi keluarga meliputi : a. Penerus misi umat Islam Dalam sejarah, dapat kita lihat bagaimana islam sanggup berdiri tegap dalam menghadapi berbagai ancaman dan bahaya. Demikianlah berlomba-lomba untuk mendapatkan keturunan yang bermutu merupakan faktor penting yang telah memelihara keberadaan umat islam yang sedikit. Pada waktu itu menjadi pendukung islam dalam mempertahankan kehidupannya ( Berkeluarga ) b. Perlindungan terhadap akhlak Islam memandang pembentukan keluarga sebagai sarana efektif memelihara pemuda dari kerusakan dan melindungi masyarakat dari kekacauan. Karena itulah Rasulullah bersabda : Wahai pemuda, siapa diantara kalian yang berkemampuan maka menikahlah, karena nikah lebih melindungi mata dan farji, dan barang siapa yang tidak mampu maka hendaklah shoum, karena shoum itu baginya daalah penenang. ( HR. AL-Khosah dari Abdullahbin Masud ) c. Wahana pembentukan generasi Islam
31

Keluarga lah sekolah kepribadian pertama dan utama bagi anak. Penyair kondang Hafidz Ibrohim mengatakan : Ibu adalah sekolah bagi anak-anaknya. Bila engkau mendidiknya berarti engkau telah menyiapkanbangsa yang baik perangainya. Ibu sangat berperan dalam pendidikan keluarga, sementara ayah mempunyai tugas yaitu menyediakansarana bagi berlangsungnya pendidkan tersebut. Keluarga lah yang menerapkan sunnah Rasul dari bangun tidur sampai sampai akan tidur lagi. Maka tercipta lah generasi islam yang handal dan berkualitas d. Memelihara status sosial dan ekonomi Dalam pembentukan keluarga, islam mewujudkan ikatan dan persatuan. Dengan adanya ikatann keturunan maka diharapkan akan mempererat tali persaudaraan anggota masyarakat dan bangsa. Islam memperbolehkan pernikahan antar bangsa Arab dan Ajam ( Non Arab ),antara kulit putih dan kulit hitam, anatara orang timur dengan orang barat. Berdasarkan fakta ini Islam sudah mendahului semua system Demokrasi dalam mewujudkan persatuan ummat Fungsi ekonomi dalam keluarga akan Nampak. Rasul bersabda : Nikahilah wanita, karena ia akan mendatangkan Maal. (HR. Abu Dawud, dari Urwah RA). Perkawinan adalah sarana untuk mendapakan sarana keberkahan dibandingkan dengan bujangan, berkeluarga lebih hemat ekonomis dan lebih giat dalam mencari nafkah. e. Menjaga kesehatan Pernikahan memelihara para pemuda yang sering melakukan kebiasaan onani yang menguras tenaga dan dapat mencegah penyakit kelamin. f. Memantapkan spiritual (Ruhiyyah) Pernikahan sebagai pelengkap dari keimanan dan pelapang jalan menuju sabilillah, hati menjadi tenang bersih dari berbagi kecenderungan dan jiwa terlindung dari berbagai was was g. Menegakan keluarga yang Sakinah Keluarga Sakinah adalah keluarga yang terbentuk dari pasangan yang baik kemudian menerapakan nilai nilai Islam dalam melakukan hak dan kewajiban rumah tanggasertam mendidik anak dalam suasana mawadah warohmah. Dan difirmankan Allah SWT dalam surat Ar-Ruum ayat 21 artinya : Dan diantara tanda-tanda ia ciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenang kepadanya dan dijadikannyadiantaramu rasa cinta dan kasih sayan. Sesungguhnyadalam hal ini terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang memikirkan . (QS. Ar-Ruum : 21). L.O 4.2 Memahami dan Menjelaskan Hak dan Kewajiban Keluarga dalam Merawat Anggota Keluarga yang Sakit.
32

Kewajiban-Kewajiban Orang yg Sakit: 1) Orang yang sakit memiliki kewajiban untuk senantiasa ridha terhadap qadha Allah Subhanahu wa Taala, bersabar atas taqdir-Nya serta berbaik sangka kepada Rabbnya. Itu yang lebih baik baginya. 2) Seyogyanya orang yang sedang sakit memiliki perasaan antara rasa takut dan harap, yaitu takut akan siksa Allah Azza wa Jalla atas dosa-dosanya dan berharap akan rahmat Allah Azza wa Jalla kepadanya. Sikap ini didasarkan pada hadits dari Anas bin Malik Radhiyallahuanhu yang mengatakan: 3) Seberat apapun sakit yang diderita, tidak boleh baginya untuk berangan-angan ingin mati. Hal ini karena ada hadits Ummul Fadhl Radhiyallahuanha, bahwa Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam pernah datang kepada mereka tatkala Abbas Radhiyallahuanhu (paman Rasulullah) menderita sakit, hingga Abbas berangan-angan ingin mati. 4) Jika ia masih memiliki tanggungan atas hak-hak orang lain, hendaklah ia tunaikan kepada yang berhak apabila hal itu mudah baginya. Jika tidak mudah, hendaklah ia berwasiat (kepada keluarganya). Sesungguhnya Nabi Shallallahualaihi wa Sallam berkata: Barang siapa pernah mendhalimi hak saudaranya dalam hal harga diri[1] atau hartanya, hendaklah ia selesaikan sebelum datang hari kiamat, hari yang tidak diterima dinar tidak pula dirham. Jika ia punya amalan shalih maka diambil darinya lalu diberikan kepada orang yang punya hak. Jika ia tidak punya amalan shalih, maka diambil dosa-dosa orang yang bersangkutan lalu dibebankan kepadanya. 5) Orang yang sakit hendaknya bersegera untuk menyiapkan wasiat karena ada sabda RasulullahShallallahualaihi wa Sallam: Tidak benar bagi seorang muslim yang bermalam dua malam sedangkan ia punya sesuatu yang ingin diwasiatkannya kecuali semestinya wasiat itu telah ditulis di sisinya. Ibnu Umar Radhiyallahuanhuma berkata: Tidaklah berlalu satu malam sejak aku mendengar RasulullahShallallahualaihi wa Sallam mengatakan itu kecuali sudah kutulis wasiatku. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim juga Ashabus Sunan maupun yang lain. 6) Wajib baginya untuk memberikan wasiat kepada sanak kerabatnya yang tidak menerima warisan darinya. Allah Azza wa Jalla berfirman:
33

Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) kematian, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiatlah untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma`ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa. (Al-Baqarah: 180) 7) Boleh baginya untuk berwasiat dengan sepertiga hartanya, tidak boleh lebih. 8) Hendaklah dalam berwasiat ini disaksikan oleh dua orang yang jujur yang muslim. Jika tidak ada maka bisa dengan dua orang (yang jujur) non muslim dengan diminta agar keduanya bersumpah untuk bisa dipercaya apabila ragu akan persaksiannya 9) Adapun berwasiat agar hartanya diberikan kepada kedua orang tua dan sanak kerabat yang berhak menerima warisan dari orang yang meninggalkan warisan itu, maka ini tidak boleh dilakukan. Karena hal ini sudah dimansukh dengan ayat tentang warisan. Dan telah dijelaskan pula oleh RasulullahShallallahualaihi wa Sallam dengan penjelasan yang paling sempurna, ketika beliau berkhutbah pada haji Wada. Kata beliau: Sesungguhnya Allah telah memberikan hak kepada setiap yang punya hak, dan tidak ada wasiat bagi ahli waris. 10) Diharamkan membuat wasiat yang mendatangkan mudharat (kerugian) bagi orang lain, seperti berwasiat agar sebagian ahli waris jangan diberikan hak warisnya atau berwasiat agar melebihkan sebagian ahli waris atas sebagian yang lain. Hal ini disebabkan adanya firman Allah Subhanahu wa Taala: Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan. (An-Nisaa: 7) 11) Wasiat yang lalim (tidak adil) hukumnya batil lagi tertolak, karena adanya sabda RasulullahShallallahualaihi wa Sallam: Barang siapa yang mengada-adakan perkara baru dalam (agama) kami ini yang tidak ada asal darinya, maka ia tertolak. 12) Ketika banyak terjadi kebidahan pada sebagian besar kaum muslimin di masa ini. Begitu pula dalam permasalahan yang berkaitan dengan jenazah. Maka termasuk kewajiban seorang
34

muslim adalah untuk berwasiat agar disiapkan (urusan kematiannya) dan agar dikuburkan berdasarkan Sunnah (tuntunan Nabi Shallallahualaihi wa Sallam), sebagai pengamalan terhadap firman Allah Subhanahu wa Taala (At-Tahrim: 6) Kewajiban Keluarga Terhadap Orang Sakit Menjenguk Orang Sakit dan Hukumnya Orang sakit adalah orang yang lemah, yang memerlukan perlindungan dan sandaran. Perlindungan (pemeliharaan, penjagaan) atau sandaran itu tidak hanya berupa materiil sebagaimana anggapan banyak orang, melainkan dalam bentuk materiil dan spiritual sekaligus. Karena itulah menjenguk orang sakit termasuk dalam bab tersebut. Menjenguk si sakit ini memberi perasaan kepadanya bahwa orang di sekitarnya (yang menjenguknya) menaruhperhatian kepadanya, cinta kepadanya, menaruh keinginan kepadanya, dan mengharapkan agar dia segera sembuh. Faktor-faktor spiritual ini akan memberikan kekuatan dalam jiwanya untuk melawan serangan penyakit lahiriah. Oleh sebab itu, menjenguk orang sakit, menanyakan keadaannya, dan mendoakannya merupakan bagian dari pengobatan menurut orang-orang yang mengert. Maka pengobatan tidak seluruhnya bersifat materiil (kebendaan). Karena itu, hadits-hadits Nabawi menganjurkan "menjenguk orang sakit" Dari abu musa r.a. berkata, bersabda Rasulullah saw.: jenguklah orang sakit, dan berikanlah makanan kepada orang yang lapar, dan bebaskanlah tawanan. (h.r. bukhari) Hak orang islam terhadap orang islam lainnya ada enam: 1. Apabila engkau berjumpa dengannya berilah salam kepadanya. 2. Apabila ia mengundangmu penuhilah undangnnya itu. 3. Apabila ia meminta nasehat kepadamu, nasehatilah dia. 4. Apabila ia bersin, lalu memuji allah, maka doakanlah ia olehmu. 5. Apabila ia sakit, tengoklah ia, dan apabila ia meninggal dunia, maka iringkanlah dia. (h.r. muslim) Menjenguk orang yang terbaring sakit ini sebagai fardhu kifayah, membebaskan tawanan. Jumhur hukumnya sunnah. Namun pada tertentu. sakit. Sebagian ulama telah menetapkan menjenguk orang seperti halnya memberi makan orang yang kelaparan dan ulama berpendapat bahwa menjenguk ini pada dasarnya perkembangannya ia menjadi wajib di beberapa kalangan

Perintah menjenguk orang sakit mengandung hikmah, dapat meringankan beban mental keluarganya, sebagai ungkapan kasih sayang, mengingatkan manusia akan mati, memberikan dorongan kejiwaan dan menghibur, dan lain-lain.

35

Daftar Pustaka Friedman, M. Marilyn.( 1998). Keperawatan Keluarga : Teori dan Praktik.Jakarta : EGC. Goldenberg, I., & Goldenberg, H. (2008). Family therapy: An overview. Belmont, CA: Thomson Brooks/Cole. Kewajiban-Kewajiban Orang Sakit. Available at : http://darussunnah.or.id/artikelislam/nasehat/kewajiban-kewajiban-orang-sakit/ (Last Update 2012, December 20) Kewajiban Orang Tua dan Anak dalam Islam. Available at: http://al-islamindonesia.blogspot.com/2012/05/kewajiban-orang-tua-dan-anak-dalam.html (Last Update 2012, December 20) McDaniel, S., Campbell, T.L., Hepworth, J., & Lorenz, A. (2005). Family - Oriented Primary Care (2nd Ed.). New York: Springer (page 42) RI No. 829 Menkes SK/VII/1999 Tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan. Available at : http://journal.unair.ac.id/filerPDF/KESLING-2-1-04.pdf (Last Update 2012, December 23) Sloane, P.D., Slatt, L.M., Ebell, M.H., & Jacques, L.B. (2002). Essential ofFamily Medicine (4th Ed.). Baltimore: Lippincott Williams & Wilkins (page 24) Sudiharto. (2007). Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Pendekatan Keperawatan Transkultural. Jakarta:EGC. Suprajitno. (2004). Asuhan Keperawatan Keluarga. Jakarta : EGC. Undang-Undang RI no 1 tahun 1974 tentang perkawinan. Available at : http://www.bkn.go.id/bapek/peraturan/undang-undang-uu/82-uu-no-1-tahun-1974tentang-perkawinan.html (Last Update: 2012, December 19)

36