Anda di halaman 1dari 16

1

BAB 1 PENDAHULUAN

Batu empedu merupakan salah satu penyakit yang sering dijumpai. Di negara-negara barat, kelainan ini merupakan penyebab angka kesakitan yang penting. Operasi sistem bilier merupakan operasi yang paling sering dilakukan dibandingkan operasi abdomen lainnya. Empedu yang normal dibentuk oleh hepatosit, terdiri dari air, elektolit, dan solut organik. Solut organik mengandung sedikit protein dan terdiri dari tiga unsur utama, yaitu garam empedu, kolesterol, dan fosfolipid. Ketiganya terkandung dalam 80% bagian kering dari empedu. Garam empedu diklasifikasikan menjadi primer dan sekunder. Asam empedu primer, asam kolat dan asam kenodeoksikolat, disintesis di hepar dari kolesterol dan kemudian berkonjugasi dengan glisin atau taurin. Siklus enterohepatik memungkinkan reabsorbsi dan resirkulasi asam empedu primer. Sebagian kecil (kurang dari 5%) memasuki kolon dan mengalami perubahan menjadi asam empedu sekunder, yaitu asam deoksikolat dan asam litokolat. Kolesterol empedu sebagian besar disintesis di hepar dengan sedikit berasal dari makanan. Kolesterol bersifat hidrofobik dan memerlukan zat lain untuk menjadi larut. Pemahaman terhadap mekanisme yang menyebabkan larutnya kolesterol dalam keadaan fisiologis akan sangat membantu dalam menerangkan tejadinya batu kolesterol. Di lain pihak, pengetahuan tentang konsentrasi kalsium dan bilirubin di dalam empedu diperlukan untuk memahami bagaimana terjadinya batu pigmen.1

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Definisi

Kolelitiasis adalah penyakit batu empedu yang dapat ditemukan di dalam kandung empedu atau di dalam saluran empedu, atau pada kedua-duanya. Sebagian besar batu empedu,terutama batu kolesterol, terbentuk di dalam kandung empedu.2,3 Hati terletak di kuadran kanan atas abdomen di atas ginjal kanan, kolon, lambung, pankreas, dan usus serta tepat di bawah diafragma. Hati dibagi menjadi lobus kiri dan kanan, yang berawal di sebelah anterior di daerah kandung empedu dan meluas ke belakang vena kava.2 Kuadran kanan atas abdomen didominasi oleh hati serta saluran empedu dan kandung empedu.Pembentukan dan ekskresi empedu merupakan fungsi utama hati. Kandung empedu adalah sebuah kantung terletak di bawah hati yang mengonsentrasikan dan menyimpan empedu sampai ia dilepaskan ke dalam usus. Kebanyakan batu duktus koledokus berasal dari batu kandung empedu, tetapi ada juga yang terbentuk primer di dalam saluran empedu. Batu empedu bisa terbentuk di dalam saluran empedu jika empedu mengalami aliran balik karena adanya penyempitan saluran. Batu empedu di dalam saluran empedu bisa mengakibatkan infeksi hebat saluran empedu (kolangitis). Jika saluran empedu tersumbat, maka bakteri akan tumbuh dan dengan segera menimbulkan infeksi di dalam saluran. Bakteri bisa menyebar melalui aliran darah dan menyebabkan infeksi di bagian tubuh lainnya.2 Adanya infeksi dapat menyebabkan kerusakan dinding kandung empedu, sehingga menyebabkan terjadinya statis dan dengan demikian menaikkan batu empedu. Infeksi dapat disebabkan kuman yang berasal dari makanan. Infeksi bisa merambat ke saluran empedu sampai ke kantong empedu. Penyebab paling utama adalah infeksi di usus. Infeksi ini menjalar tanpa terasa menyebabkan peradangan pada saluran dan kantong empedu sehingga cairan yang berada di kantong empedu mengendap dan menimbulkan batu. Infeksi tersebut misalnya tifoid atau tifus. Kuman tifus apabila bermuara di kantong empedu dapat menyebabkan peradangan lokal yang tidak dirasakan pasien, tanpa gejala sakit ataupun demam. Namun, infeksi lebih sering timbul akibat dari terbentuknya batu dibanding penyebab terbentuknya batu.2,3

2.2

Faktor Risiko Kolelitiasis 4,5

Usia umumnya di atas 40 tahun. Jenis kelamin perempuan, kemungkinan akibat efek hormon estrogen pada perempuan, sehingga perempuan muda berisiko 3-4 kali lebih besar menderita kolelitiasis daripada laki-laki pada usia yang sama

Sedang dalam terapi estrogen Obesitas, secara signifikan berhubungan dengan kadar kolesterol yang tinggi sehingga meningkatkan pembenukan batu kolesterol di kantung empedu Penurunan berat badan drastis. Riwayat keluarga. Batu empedu 2 kali lebih sering diderita pada anak dari orangtua yang juga menderita batu empedu Diet Tinggi lemak atau pada penderita dislipidemia Sirosis hepatik. Keadaan ini menyebabkan 10 kali peningkatan risiko menderita kolelitiasis Stasis kandung empedu, seperti pada penyakit diabetes, nutrisi parenteral total, postvagotomi dll Penyakit hemolitik. Hal ini mungkin disebabkan pembentukan bilirubin yang terlalu banyak Perempuan multipara Obat-obatan yang meningkatkan risiko kolelitiasis adalah clofibrate, octreotide, dan ceftriaxone.

2.3

Etiopatogenesis Kolelitiasis

Kolelitiasis terjadi karena substansi-substansi empedu tertentu terkonsentrasi tinggi di dalam kandung empedu dan menurunkan solubilitasnya. Akibat konsentrasinya yang pekat, terjadi supersaturasi empedu dengan substansi ini dan berkembang menjadi kristal-kristal mikroskopik. Kristal-kristal ini akan mengendap ketika bercampur dengan mukus pada kandung empedu dan duktus bilier. Lama-kelamaan, kristal tersebut bertambah besaar dan beragregasi membentuk batu yang besar. Adanya sumbatan batu pada duktus bilier menyebabkan gejala klinis dan komplikasi pada penyakit ini. 6

Endapan batu terbentuk selama stasis kandung empedu seperti pada masa kehamilan atau dalam masa penggunaan TPN (Total Parenteral Nutrition). Umumnya endapan ini bersifat asimtomatik dan hilang ketika penyebabnya berhenti. Namundemikian, endapan tersebut dapat berkembang menjadi batu dan berpindah ke saluran empedu, menyebabkan sumbatan , kolik bilier dan, kolangitis atau pankreatitis.6 Adapun dua substansi utama pembentuk batu empedu adalah kolesterol dan kalsium bilirubin. Batu Kolesterol 6 Lebih dari 80% batu empedu di Amerika Serikat mengandung kolesterol sebagai komponen mayor. Faktor utama yang menentukan terbentuknya batu kolesterol adalah: Jumlah sekresi kolesterol oleh sel-sel hati cenderung tinggi lesitin dan garam empedu Konsentrasi dan keadaan stasis dari kandung empedu

Batu kalsium, bilirubin dan batu pigmen Empedu dalam keadaan normal bersifat steril namun pada keadaan khusus (obstruksi) dapat dikolonisasi bakteri. Bakteri akan menghidrolasi bilirubin terkonjugasi sehingga meningkatkan bilirubin tak terkonjugasi, yang akhirnya mempresipitasi kristal kalsium bilirubin. Bakteri juga menghidrolasi lesitin sehingga terbentuk asam lemak yang juga dapat mengikat kalsium. Batu yang terbentuk disebut batu pigmen coklat, dan tidak seperti batu pigmen hitam yang terbentuk ddi kandung empedu, batu pigmen coklat umumnya terbentuk di duktus bilier. Batu pigmen hitam bentuknya kecil, keras dan terdiri dari kalsium bilirubin dan garam kalsium inorganik (kalsium karbonat, kalsium fosfat). Faktor yang mempercepat pembenttukan batu adalah penyakit hati alkoholik, hemolisis kronik dan usia tua.6 Batu campuran Batu kolesterol dapat menjadi lokasi kolonisasi bakteri sehingga menimbulkan inflasmasi kandung empedu. Enzim litik dari bakteri dan leukosit menyebabkan hidrolisis bilirubin konjugat dan asam lemak. Seiring waktu, batu kolesterol akan bercampur dengan konjugat bilirubin dan garam kalsium lainnya.

2.4

Manifestasi Klinis Kolelitiasis 2,6 Gejala dan komplikasi yang ditemukan pada kolelitiasis terjadi akibat pergerakan batu-batu yang keluar dari kandung empedu dan menumpuk di duktus bilier komunis. Batu empedu asimtomatik yang ditandai dengan ditemukannya batu empedu dapat di dalam kandung empedu selama berpuluh tahun tanpa menyebabkan gejala atau komplikasi. Batu empedu simtomatik, fase ini ditandai dengan gejala kolik bilier. Nyeri kolik bilier terjadi ketika batu menumpuk di duktus bilier dan menyebabkan obstruksi sehingga ketika kandung empedu berkontraksi terjadi peningkatan tekanan kandung empedu dan salurannya yang menimbulkan peregangan dan rasa nyeri. Pada umumnya nyeri akan menghilang antara 30 sampai 90 menit saat kandung empedu mulai berelaksasi dan obstruksi berkurang. Inflamasi tidak terjadi saat kolik bilier tanpa komplikasi sehingga terdapat perbedaan klinis antaara kolelitiasis dan kolesistitis. Pada kolelitiasis nyeri perut tidak terlokalisasi dan bersifat nyeri viseral, pada pemeriksaan klinis tidak ditemukan spasme perut pada penekanan, serta tidak dijumpai demam. Kolelitiasis dengan komplikasi dapat terjadi kolesistitis dimana kolelitiasis yang parah dan kronik akan menyebabkan inflamasi. Pasien akan mengalami kolik bilier yang lebih parah dan tidak berkurang intensitasnya setelah beberapa waktu. Diagnosis 3

2.5

Anamnesis Setengah sampai duapertiga penderita kolelitiasis adalah asimtomatis. Keluhan yang mungkin timbul adalah dispepsia yang kadang disertai intoleran terhadap makanan berlemak. Pada yang simtomatis, keluhan utama berupa nyeri di daerah epigastrium, kuadran kanan atas atau perikomdrium. Rasa nyeri lainnya adalah kolik bilier yang mungkin berlangsung lebih dari 15 menit, dan kadang baru menghilang beberapa jam kemudian. Timbulnya nyeri kebanyakan perlahanlahan tetapi pada 30% kasus timbul tiba-tiba. Lebih kurang seperempat penderita melaporkan bahwa nyeri berkurang setelah menggunakan antasida. Kalau terjadi kolelitiasis, keluhan nyeri menetap dan bertambah pada waktu menarik nafas dalam.

2.6

Pemeriksaan Penunjang

a.Pemeriksaan Laboratorium Kolelitiasis yang asimtomatik umumnya tidak menunjukkan kelainan pada pemeriksaan laboratorium. Apabila terjadi peradangan akut dapat terjadi leukositosis, biasanya akan diikuti kenaikan ringan bilirubin serum akibat penekanan duktus koledokus oleh batu. Kadar bilirubin serum yang yang tinggi mungkin disebabkan oleh batu di dalam duktus koledokus. Kadar fosfatase alkali serum dan mungkin kadar amylase serum biasanya meningkat sedang setiap kali terjadi serangan akut.7 b. Pemeriksaan Radiologis Foto polos abdomen

Foto polos abdomen biasanya tidak memberikan gambaran yang khas karena hanya sekitar 10-15% batu kandung empedu yang bersifat radioopak. Kadang kandung empedu yang mengandung empedu berkalsium tinggi dapat dilihat dengan foto polos abdomen. Pada peradangan akut dengan kandung empedu yang membesar atau hidrops, kandung empedu kadang terlihat sebagai massa jaringan lunak dikuadran kanan atas yang menekan gambaran udara dalam usus besar, flexura hepatica.7

Foto Rongent pada kolelitiasis

Ultrasonografi

Pemeriksaan ini merupakan metode noninvasif yang sangat bermanfaat dan merupakan pilihan pertama untuk mendeteksi kolelitiasis.

Ultrasonografi dapat memberikan informasi yang cukup lengkap mengenai : Memastikan adanya batu empedu Menunjukkan berapa batu empedu yang ada dan juga ukurannya. Melihat lokasi dari batu empedu tesebut. Apakah di dalam kandung empedu atau di dalam duktus.

Ada 2 jenis pemeriksaan menggunakan ultrasonografi, yaitu : Ultrasonografi transabdominal Pemeriksaan ini tidak menimbulkan rasa nyeri, murah dan tidak membahayakan pasien. Hampir sekitar 97% batu empedu dapat didiagnosis dengan ultrasonografi transabdominal, namun kurang baik dalam mengidentifikasi batu empedu yang berlokasi di dalam duktus dan hanya dapat mengidentifikasi batu empedu dengan ukuran lebih besar dari 45 mm. Ultrasonografi endoskopi Ultrasonografi endoskopik dapat memberikan gambaran yang lebih baik daripada ultrasonografi transabdominal. Karena sifatnya yang lebih invasif dan juga dapat mendeteksi batu empedu yang berlokasi di duktus biliaris lebih baik. Kekurangannya adalah mahal dari segi biaya dan banyak menimbulkan risiko bagi pasien. Ultrasonografi mempunyai derajat spesifisitas dan sensitifitas yang tinggi untuk mendeteksi batu kandung empedu dan pelebaran saluran empedu intrahepatik maupun ekstrahepatik. Juga dapat dilihat dinding kandung empedu yang menebal karena fibrosis atau udem karena peradangan maupun sebab lain. Batu yang terdapat pada duktus

koledokus distal kadang sulit dideteksi, karena terhalang udara didalam usus. Dengan ultrasonografi punktum maksimum rasa nyeri pada batu kandung empedu yang gangren lebih jelas daripada dengan palpasi biasa.2,7

Hasil USG menunjukan adanya batu pada kandung empedu

Kolesistografi

Untuk penderita tertentu, kolesistografi dengan kontras cukup baik karena relatif murah, sederhana, dan cukup akurat untuk melihat batu radiolusen sehingga dapat dihitung jumlah dan ukuran batu. Kolesistografi oral akan gagal pada keadaan ileus paralitik, muntah, kadar bilirubin serum diatas2 mg/dl, obstruksi pylorus, dan hepatitis karena pada keaadaan tersebut kontras tidak dapat mencapai hati. Penilaian kolesistografi oral lebih bermakna pada penilaian fungsi kandung empedu.7

Hasil Kolesistografi CT scan

Menunjukan batu empedu dan dilatasi saluran empedu.

CT-Scan abdomen atas menunjukkan batu empedu multiple

ERCP ( Endoscopic Retrograde Cholangio Pancreatography)

Yaitu sebuah kanul yang dimasukan ke dalam duktus koledukus dan duktus pancreatikus, kemudian bahan kontras disuntikkan ke dalam duktus tersebut. Fungsi ERCP ini memudahkan visualisasi langsung stuktur bilier dan memudahkan akses ke dalam duktus koledukus bagian distal untuk mengambil batu empedu, selain itu ERCP berfungsi untuk membedakan ikterus yang disebabkan oleh penyakit hati (ikterus hepatoseluler dengan ikterus yang disebabkan oleh obstuksi bilier dan juga dapat digunakan untuk menyelidiki gejala gastrointestinal pada pasien-pasien yang kandung empedunya sudah diangkat.ERCP ini berisiko terjadinya tanda-tanda perforasi/ infeksi.8

ERCP menunjukkan batu empedu di duktus ekstrahepatik (panah pendek) dan di duktus intrahepatik (panah panjang) Magnetic Resonance Cholangio-pancreatography (MRCP)

10

Magnetic resonance cholangio-pancreatography atau MRCP adalah modifikasi dari Magnetic Resonance Imaging (MRI), yang memungkinkan untuk mengamati duktus biliaris dan duktus pankreatikus. MRCP dapat mendeteksi batu empedu di duktus biliaris dan juga bila terdapat obstruksi duktus.

Hasil MRCP

2.7 Penatalaksanaan 2.7.1 . Penatalaksanaan Nonbedah 9 a. Disolusi Terapi disolusi dengan asam kenodeoksikolat (chenodeoxycholic acid, CDCA) pertama kali diperkenalkan pada awal tahun 1970-an. Mekanisme kerjanya dengan mereduksi sifat lithogenik dan derajat saturasi kolesterol dengan asam empedu melalui inhibisi selektif terhadap enzim hydroxymethylglutaryl (HMG)-CoA reduktase yang berperan dalam biosintesis kolesterol. Namun, karena efektivitasnya yang rendah dan dengan

mempertimbangkan efek samping yang ditimbulkan, penggunaannya tergantikan oleh asam ursodeoksikolat. Penggunaan asam empedu untuk melarutkan batu empedu cukup efektif pada pasien simptomatik dengan batu kolesterol kecil (kurang dari 5 mm) yang mengambang pada kandung empedu yang fungsional. Keadaan ini ditemukan pada 15% pasien batu empedu simptomatik. Terapi ini membutuhkan pemberian obat selama 6-12 bulan dan diperlukan monitoring hingga dicapai disolusi. Keefektivan terapi ini mencapai 60% pada batu berukuran kurang dari 10 mm dan 90% pada batu empedu berukuran kurang dari 5 mm. Tetapi, hampir separuhnya mengalami rekurensi dalam 5 tahun. Angka rekurensi lebih rendah pada batu tunggal, individu yang tidak

11

gemuk, dan penderita muda. Saat ini, indikasi terapi disolusi dengan asam empedu terbatas pada pasien dengan kondisi komorbid yang tidak memungkinkan operasi secara aman dan pada pasien yang menolak operasi.

b). Disolusi kontak Metode ini didasarkan pada prinsip PTC dan instilasi langsung pelarut kolesterol ke kandung empedu. Dengan anastesi lokal, pigtail catheter dimasukkan perkutan melalui parenkim hati ke dalam kandung empedu. Hal ini dapat dilakukan dengan tuntunan fluoroskopi atau USG. Pelarut poten kolesterol, seperti methyltert-butylether dan monooctanoin, kemudian diinfuskan secara langsung ke dalam kandung empedu. Pada pemberian methyltert-butylether, pembatasan waktu kontak antara instilasi dan aspirasi sangat diperlukan untuk mencegah tumpahnya pelarut ini ke dalam duktus biliaris. Bila hal ini terjadi, keluhan nyeri perut yang transien dan duodenitis dapat timbul. Angka rekuresi tindakan ini mencapai 10% pertahun.

c). Litotripsi (Extarcorvoral Shock Wave Lithotripsy =ESWL) Litotripsi gelombang elektrosyok meskipun sangat populer beberapa tahun yang lalu, analisis biaya-manfaat pada saat ini hanya terbatas untuk pasien yang benar-benar telah dipertimbangkan untuk menjalani terapi ini. Efektifitas ESWL memerlukan terapi adjuvant asam ursodeoksilat. 2.7.2 Penanganan operatif 3 a). Open kolesistektomi Operasi ini merupakan standar untuk penanganan pasien dengan batu empedu simtomatik. Indikasi yang paling umum untuk kolesistektomi adalah kolik biliaris rekuren, diikuti oleh kolesistitis akut. Komplikasi yang berat jarang terjadi, meliputi trauma CBD, perdarahan, dan infeksi. Data baru-baru ini menunjukkan mortalitas pada pasien yang menjalani kolesistektomi terbuka pada tahun 1989, angka kematian secara keseluruhan 0,17 %, pada pasien kurang dari 65 tahun angka kematian 0,03 % sedangkan pada penderita diatas 65 tahun angka kematian mencapai 0,5 % b). Kolesistektomi laparoskopik Kelebihan tindakan ini meliputi nyeri pasca operasi lebih minimal, pemulihan lebih cepat, hasil kosmetik lebih baik, menyingkatkan perawatan di rumah sakit dan biaya yang

12

lebih murah. Indikasi tersering adalah nyeri bilier yang berulang. Kontra indikasi absolut serupa dengan tindakan terbuka yaitu tidak dapat mentoleransi tindakan anestesi umum dan koagulopati yang tidak dapat dikoreksi. Komplikasi yang terjadi berupa perdarahan, pankreatitis, bocor stump duktus sistikus dan trauma duktus biliaris. Resiko trauma duktus biliaris sering dibicarakan, namun umumnya berkisar antara 0,51%. Dengan menggunakan teknik laparoskopi kualitas pemulihan lebih baik, tidak terdapat nyeri, kembali menjalankan aktifitas normal dalam 10 hari, cepat bekerja kembali, dan semua otot abdomen utuh sehingga dapat digunakan untuk aktifitas olahraga.

c). Kolesistektomi minilaparatomi. Modifikasi dari tindakan kolesistektomi terbuka dengan insisi lebih kecil dengan efek nyeri pasca operasi lebih rendah.

2.7.3 Pencegahan dari nutrisi kolelitiasis Bahan makanan yang tidak dianjurkan untuk diet penyakit kandung empedu adalah semua makanan dan daging yang mengandung lemak, gorengan dan makanan yang menimbulkan gas seperti ubi, kacang merah, kol, sawi, lobak, ketimun, durian dan nangka. Konsumsi makanan yang mengandung lemak terutama lemak hewani berisiko untuk menderita kolelitiasis. Kolesterol merupakan komponen dari lemak. Jika kadar kolesterol yang terdapat dalam cairan empedu melebihi batas normal, cairan empedu dapat mengendap dan lama kelamaan menjadi batu. Intake rendah klorida, kehilangan berat badan yang cepat mengakibatkan gangguan terhadap unsur kimia dari empedu dan dapat menyebabkan penurunan kontraksi kandung empedu.4 Pencegahan primer yang dilakukan terhadap individu yang memiliki risiko untuk terkena kolelitiasi adalah dengan menjaga kebersihan makanan untuk mencegah infeksi, misalnya S.Thyposa, menurunkan kadar kolesterol dengan mengurangi asupan lemak jenuh, meningkatkan asupan sayuran, buah-buahan, dan serat makanan lain yang akan mengikat sebagian kecil empedu di usus sehingga menurunkan risiko stagnasi cairan empedu di kandung empedu , minum sekitar 8 gelas air setiap hari untuk menjaga kadar air yang tepat dari cairan empedu. 4,9

13

2.7.4 Tatalaksana nutrisi Batu empedu yang sangat terkait dengan tinggi lemak , diet rendah serat . Mereka jarang pada populasi Asia dan Afrika mengikuti tradisional , sebagian besar berbasis tanaman, diet , dan menjadi lebih umum dengan pergeseran ke arah kebarat-baratan . Surplus protein hewani dan lemak hewan , kurangnya serat makanan , dan makan lemak jenuh dari dari pada sumbersumber tak jenuh tampaknya menjadi faktor utama untuk pengembangan batu empedu . Faktor-faktor berikut ini dikaitkan dengan penurunan risiko batu empedu : Pola makan nabati 9, 10 Kedua lemak hewani dan protein hewani dapat berkontribusi pada pembentukan batu empedu. Dalam populasi paling Barat , diperkirakan 80 % dari batu empedu adalah batu kolesterol. Tidak mengherankan , wanita vegetarian memiliki risiko lebih rendah untuk batu empedu , dibandingkan dengan nonvegetarian . diet vegetarian tinggi serat , dan apa pun lemak yang dikandungnya sebagian besar tak jenuh . Perempuan mengkonsumsi prot ein nabati memiliki risiko 20 % sampai 30 % lebih rendah dibandingkan mereka yang mengkonsumsi lebih sedikit. Demikian pula , perempuan dan laki-laki yang asupan lemak terutama berasal dari sumber tanaman memiliki penurunan risiko terkena gallstones. Sebuah pengecualian adalah trans asam - lemak minyak nabati yang terhidrogenasi parsial sering digunakan dalam makanan-makanan ringan yang sering dikaitkan dengan peningkatan kadar resiko batu empedu. lebih tinggi dengan diet yang menyediakan karbohidrat dalam halus, sebagai lawan yang tidak dimurnikan. Individu mengkonsumsi karbohidrat yang paling halus memiliki risiko 60 % lebih besar untuk mengembangkan batu empedu , dibandingkan dengan mereka yang mengkonsumsi least. Sebaliknya , seseorang yang banyak makan serat ( khususnya pada serat larut ) memiliki risiko 15 % lebih rendah untuk batu empedu dibandingkan dengan mereka yang mengonsumsi least. Menghindari kelebihan berat badan dan melakukan pendekatan yang sehat untuk mengontrol berat badan . Wanita kelebihan berat badan dengan BMI 30 kg/m2 atau lebih memiliki setidaknya dua kali lipat risiko untuk penyakit batu empedu , dibandingkan dengan wanita dengan berat badan normal ( IMT < dari 25 kg/m2 ) . Tingkat resiko yang sama ada untuk pria dengan BMI minimal 25 kg/m2 , dibandingkan dengan laki-laki dengan BMI <

14

22,5 kg/m2 . Dengan obesitas lebih parah ( misalnya , BMI 30 sampai 45 kg/m2 ) , risiko bagi perempuan adalah 3,7-7,4 kali dari wanita dengan BMI kurang dari 24 kg/m2. Berat bersepeda ( berulang kali kehilangan dan mendapatkan kembali berat badan ) meningkatkan kemungkinan cholelithiasis . Risiko meningkat dari 20 % pada "cahaya" cyclers ( mereka yang hilang / kembali 5 sampai 9 lbs) menjadi 70 % pada cyclers "parah " ( mereka yang hilang / kembali > 20 lbs) .Diet kalori sangat rendah meningkatkan risiko batu empedu . Kandung empedu stasis empedu dan indeks saturasi kolesterol terjadi selama penurunan berat badan yang cepat , akuntansi untuk risiko yang lebih besar pengembangan batu empedu . Termasuk sejumlah kecil lemak ( 10 g / hari ) memberikan maksimal kandung empedu pengosongan dan mencegah pembentukan batu empedu pada kalori terbatas .Seperti pengamatan mendukung upaya pengendalian berat badan berdasarkan rendah lemak , diet nabati , yang biasanya menyebabkan sehat dan berkelanjutan pengendalian berat badan , daripada penggunaan kalori yang sangat rendah diet susu formula.

Moderat asupan alkohol. Dibandingkan dengan konsumsi jarang atau pantang, konsumsi alkohol ditemukan untuk menjadi baik berbanding terbalik dikaitkan dengan risiko batu empedu , atau untuk menganugerahkan risiko 10 % sampai 50 % lebih rendah untuk sakit. Namun, mengingat epidemi saat hati berlemak nonalkohol penyakit pada 50 % sampai 75% dari obesitas dan risiko kesehatan lainnya (misalnya , kanker payudara ) karena konsumsi alkohol , penggunaan alkohol tidak dapat direkomendasikan sebagai strategi pencegahan batu empedu .

Aktivitas fisik . Beberapa bukti menunjukkan bahwa aktivitas fisik mengurangi risiko batu empedu . Lakilaki muda atau setengah baya ( 65 tahun atau lebih muda ) yang paling aktif secara fisik memiliki setengah risiko untuk mengembangkan batu empedu , dibandingkan dengan mereka yang kurang aktif . Pada pria yang lebih tua , aktivitas fisik mengurangi risiko sebesar 25 % .20 Aktivitas fisik juga melindungi terhadap batu empedu . BAB 3 KESIMPULAN

Kolelitiasis adalah terbentuknya batu empedu yang bila masuk ke dalam saluran empedu menimbulkan penyumbatan dan kram, Penyaluran empedu ke duodenum mengganggu

15

sehingga mengganggu absorpsi lemak. Ada dua jenis batu empedu, yaitu batu kolesterol dan batu pigmen yang terdiri dari polimer dan bilirubin dan garam kalsium. Faktor resiko terjadinya batu kolesterol antara lain adalah gender perempuan, kegemukan, faktor etnik, obat-obatan dan penyakit saluran cerna, sedangkan faktor risiko batu pigmen antara lain adalah berat badan kurang, asupan lemak dan protein kurang, serta Sirosis Hati. Tujuan diet adalah untuk mencapai dan mempertahankan status gizi optimal dan memberi istirahat pada kandung empedu, dengan cara menurunkan berat badan bila kegemukan yang dilakukan secara bertahap, kemudian membatasi makanan yang menyebabkan kembung atau nyeri abdomen dan mengatasi malabsorbsi lemak.

DAFTAR PUSTAKA

1. Saunders KD, Cates JA, Roslyn JJ. Pathogenesis of gallstones. In: The Surgical Clinics of North America, Biliary Tract Surgery. Pitt HA (e d). WB Saunders Co, Philadelphia, Vol .70, No. 6, 1990: 1197-1216

16

2. Lili K. Djoewaeny Referat Subbagian Bedah Digestif Fakultas Kedokteran Unpad/ RSHS, Bandung. Juli 2003. 3. Meyers WC, Jones RS. Gallstones. In: Textbook of Liver and Biliary Surgery. JB Lippincott Co, Philadelphia, 1990: 228. 4. NutritionMD.com. Cholelithiasis: Overview and Risk Factors. 2013. Diakses di: http://www.nutritionmd.org/health_care_providers/gastro intestinal/cholelithiasis.html. Diakses pada: 18 Oktober 2013 5. Clinical key.com. Cholelithiasis And Choledocholithiasis Causes, Diagnosis & Treatments. Diakses di: https://www.clinicalkey.com /topics/surgery/cholelithiasisand-choledocholithiasis.html. Diakses pada: 18 Oktober 2013 6. Heumann DM, Mixa AA. Cholelithiasis. 2013. Diakses di:

http://emedicine.medscape.com/article/175667-overview#showall. Diakses pada: 18 Oktober 2013 7. Beckingham IJ. Gallstone disease, clinical review. In: BMJ, Vol. 322, 2001:91-4 8. Binmoeller, Kenneth F; Thonke, Frank; Soehendra, Nib; Endoscopic treatment of Mirizzis syndrome. In: Gastrointestinal Endoscopy, Vol. 39, No. 4, 1993: 532 536. 9. Alan R. Gaby, MD. 2009. Nutritional Approaches to Prevention and Treatment of Gallstones. Alternative Medicine Review : 14, 3. 10. Bagan Tatalaksana Anak Gizi Buruk Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Bina Gizi Dan Kesehatan Ibu Dan Anak Direktorat Bina Gizi. 2011.