Anda di halaman 1dari 6

ANALISA KADAR LEMAK

Pendahuluan : Lemak atau lipid didefinisikan sebagai bahan yang larut dalam pelarut organik, akan tetapi hanya sedikt atau tidak larut sama sekali dalam air. Ada beberapa kelompok lipid dan semuanya mempunyai karakteristik yang hampir sama dan spesifik, disebabkan oleh adanya bagian hidrokarbon yang utama dalam molekulnya. Minyak dan lemak merupakan bagian dari lipid yang berbeda satu dengan yang lainnya dalam apakah berada dalam bentuk cairan (minyak) atau padatan (lemak) dalam suhu kamar. Kebanyakan minyak dan lemak tersusun atas asam lemak dengan panjang rantainya lebih dari 12 atom karbon. Pada umumnya analisis lipid biasanya dilakukan dengan melihat sifat fisika-kimia hasil berbagai asam lemak yang teresterkan dengan gliserol (gliserida), dikarenakan kebanyakan lipid tersusun dari asam lemak penyusun trigliserida. Lipid mengandung beberapa komponen minor seperti zat warna / pigmen, sterol (fitosterol dalam minyak yang berasal dari tanaman dan kolesterol yang berasal dari lemak hewani), vitamin A,D,E dan K, lilin (ester asam lemak dengan alkohol rantai panjang), eter, serta produk degradasi asam lemak,protein dan karbohidrat. Analisis lipid memerlukan pengisolasian lipid secara kuantitatif dari komponen-komponen non-lipid. Ekstraksi lipid dari sumbernya sperti makanan, hewan, jaringan tanaman atau mikrorganisme harus dilakukan sedemikian rupa sehingga menghindari perubahan-perubahan lipid. Selama ekstraksi lipid, 3 jenis interaksi biasanya akan dirusak yakni : ikatan van der Waals dalam lipid, lipidprotein, dan kompleks lipid-karbohidrat; interaksi elektrostatik dan ikatan hidrogen antar lipid dan protein; serta ikatan kovalen antar lipid, karbohidrat dan protein. Pemilihan pelarut tergantung pada jenis lipid dan interaksi yang akan dirusak. Lipid netral dapat diekstraksi dengan pelarut non-polar, sementara fosfolipid dan glikolipid diekstraksi dengan campuran pelarut yang lebih polar. Ekstraksi dan pengukuran lipid melibatkan beberapa tahap yang mencakup : (1) pra-perlakuan sampel seperti pengeringan, pengurangan ukuran dan juga hidrolisis dengan asam untuk melepaskan lipid yang terikat (2) homogenisasi (3)

pemisahan cairan dari padatan (4) penghilangan kontaminan non-lipid (5) penghilangan pelarut dan pengeringan serta (6) penghitungan kandungan lipid dengan penimbangan. Prosedur ekstraksi lipid biasanya melibatkan pemilihan pelarut yang selektif untuk ekstraksi bahan yang dituju. Kelarutan lipid sangat tergantung pada pada jenis lipid yang ada, banyaknya lipid non-polar dan lipid polar yang terdapat dalam sampel. Ekstraksi lipid dari sumbernya biasanya dilakukan dengan metode Soxhlet dan metode Goldfisch. Shokletasi adalah teknik pengekstraksian yang kontinu. Shokletasi ditujukan untuk menarik zat padat atau cair dari suatu bahan padatan dengan menggunakan pelarut. Pelarut yang digunakan untuk shokletasi adalah pelarut yang titik didihnya rendah (volatif) seperti eter, aseton, metilen klorida dan petroleum eter tergantung bahan yang akan diekstraksi. Bila pelarut yang digunakan mempunyai titik didih yang tinggi maka akan dapat merusak senyawa yang akan diekstrak pada waktu sirkulasi penguapan dengan suhu yang tinggi. Beberapa senyawa organik dapat mengalami oksidasi dan dekomposisi pada suhu yang tinggi dalam tekanan atmosfer. Metode ekstraksi shoklet dapat digunakan untuk ekstraksi kuantitatif lipid dalam bahan makanan dengan kandungan lemak yang tinggi atau rendah. Metode ini hanya akan mengekstraksi lipid yang non-polar dari sampel, karena lipid yang polar pada umumnya jarang larut dalam pelarut non-polar. Kelemahan dari metode ini adalah lipid polar dan yang terikat tidak terekstraksi ke dalam pelarut. Secara umum alat soxhlet terdiri dari tiga bagian besar yaitu labu, soxhlet (tempat) sampel dan pendingin tegak untuk mengembunkan pelarut.

Gambar : Peralatan shokletasi Cara kerjanya adalah sampel dalam bentuk irisan atau bubuk dimasukkan kedalam kertas saring kemudian ditempatkan pada tabung soxhlet. Labu yang telah diisi dengan pelarut yang sesuai dipanaskan dengan penangas minyak atau air tergantung titik didih pelarut. Pelarut akan menguap melalui pipa T dan akan cair kembali sesudah sampai pada pendingin memenuhi tabung soxhlet sekaligus mengekstrak bahan yang diinginkan. Setelah permukaan pelarut sampai batas maka secara otomatis pelarut akan turun kembali ke labu pemanas dengan membawa bahan yang diekstrak. Berlangsung sirkulasi yang sama dimana waktu pelarut menguap kembali akan meninggalkan bahan yang diekstraksi dalam labu sampai ekstraksi berlangsung dengan sempurna.

Prinsip

Lemak bebas diekstraksi dengan pelarut non polar. Metode soxhlet yaitu lemak yang terekstraksi dalam pelarut akan terakumulasi dalam wadah pelarut (labu Soxhlet), kemudian dipisahkan dari pelarutnya dengan cara dipanaskan. Pelarut akan menguap sedangkan lemak tidak karena titik didih lemak lebih tinggi dari pelarut, sehingga lemak akan tertinggal dalam wadah. Lemak hasil ekstraksi kemudian ditimbang beratnya lalu dihitung sehingga diperoleh kadar lemak dalam sampel.

Tujuan Metode

: Untuk mengetahui kadar lemak dalam suatu sampel uji. : Soxhletasi

Alat

1. Kertas saring 2. Labu Lemak 3. Alat Soxhlet 4. Oven 5. Neraca analitik 6. Desikator 7. Thimbel

Reagen 1. Eter

2. HCl 8 N 3. Aquadest Sampel : Buah Alpukat

Prosedur

1. Kertas saring dibebaslemakkan dengan cara merendam kertas saring dengan eter, kemudian kertas saring dikeringkan. 2. Mencuci labu didih hingga bersih kemudian memasukkan ke oven dengan suhu 105o C selama 30 menit, setelah 30 menit mengeluarkannya dan memasukkannya kedalam deksikator selama 15 menit. 3. Menimbang labu didih kosong sebanyak dua kali. 4. Sebanyak 5 gram buah alpukat yang sudah halus ditimbang di atas kertas saring bebas lemak. 5. Melipat kertas saring yang telah berisi sampel kemudian mengikatnya dengan benang wool. 6. Memasukkan sampel pada rangkaian alat Soxhlet. 7. Mengisi Soxhlet dengan pelarut eter sebanyak dua kali volume soxhlet agar pada saat proses penguapan labu didih tidak kosong.

8. Melakukan ekstraksi dengan pelarut eter hingga tiga kali siklus agar semua lemak pada sampel terikat pada eter. 9. Eter diuapkan dengan alat soxhlet untuk mempercepat proses penguapan pelarut. 10. Penguapan dilanjutkan dengan pemanasan pada waterbath hingga benarbenar tersisa lemak saja pada labu didih. 11. Labu didih yang berisi residu lemak di letakkan dalam oven sampai tidak berbau zat pelarut lagi. 12. Labu didih didinginkan di deksikator hingga suhu kamar. 13. Labu didih berisi residu lemak ditimbang sebanyak dua kali.

Perhitungan : Penimbangan bobot A = B1 = B2 = 95,0879 gr 95,6295 gr 95,6299 gr B A gr bahan :

Perhitungan kadar lemak : % Lemak =

% Lemak I =

95, 6295 95, 0879 5, 0462 54, 16 5, 0462

= 10,7328 % = 10,73 % % = 95, 6299 95, 0879 5, 0462 54, 2 5, 0462

= 10,7408 % = 10,74 %

Rata rata % lemak =

10, 73 % + 10, 74 % 2 = 10,735 %

Pembahasan : Pada analisa lemak, lemak diekstraksi dengan eter atau pelarut non-polar. Pada ekstraksi dengan pelarut non-polar lemak yang terekstrak merupakan kandungan lemak bebas dalam sampel uji. Ekstraksi dengan metode soxhlet memiliki kekurangan, salah satu akibatnya adalah ekstraksi tidak merata. Namun, ekstraksi dengan metode ini lebih banyak digunakan karena sederhana dan tidak membutuhkan banyak biaya.

Daftar Pustaka

Ibrahim, Sanusi: Sitorus, Marham, 2013, Teknik Laboratorium Kimia Organik Edisi 1, Yogyakarta ; Graha Ilmu. Rohman, Abdul, 2013, Analisis Komponen Makanan Edisi 1, Yogyakarta : Graha Ilmu. Widodo, Didik Setiyo ; Lusiana, Retno Ariadi, 2010, Kimia Analisis Kuantitatif Dasar Peguasaan Aspek Eksperimenta Edisi 1, Yogyakarta : Graha Ilmu.