Anda di halaman 1dari 12

Makalah Termodinamika

PERANAN KELAPA SAWIT DI INDONESIA SEBAGAI

BAHAN UNTUK MENINGKATKAN PEROLEHAN


MINYAK BUMI PADA RESERVOIR

Disusun oleh: Wisnu Rochman Hidayatullah

Kelas R2 / Semester 3
NIM 21112037

FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS SERANG RAYA

KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabilalamin. Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah swt yang telah melimpahkan segala nikmat-Nya sehingga karya ilmiah dalam bentuk makalah berhasil diselesaikan. Tugas ini disusun sebagai salah satu syarat untuk mengikuti Ujian Tengah Semester mata kuliah TERMODINAMIKA I di Universitas Serang Raya (UNSERA) jurusan Teknik Kimia. Judul makalah yang dipilih adalah PERANAN KELAPA SAWIT DI INDONESIA SEBAGAI BAHAN UNTUK MENINGKATKAN PEROLEHAN MINYAK BUMI PADA RESERVOIR. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih mempunyai berbagai kekurangan. Oleh karena itu, Penulis mengharapkan segala masukan, saran, informasi, arahan dan bimbingan dari berbagai pihak guna menyempurnakan karya tulis ini sehingga menjadi lebih baik lagi kedepannya, dan Penulis berharap makalah ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang membutuhkan. Terima Kasih.

Cilegon, November 2013

Wisnu Rochman Hidayatullah

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................................................................................... i DAFTAR ISI............................................................................................................................................... ii LATAR BELAKANG.................................................................................................................................... 1 ALASAN PEMILIHAN JUDUL..................................................................................................................... 2 PENJELASAN INDUSTRI TERKAIT ............................................................................................................. 2 A. B. C. D. 1) 2) 3) 4) Profil Perusahaan ....................................................................................................................... 2 Kinerja Surfaktan Sebagai Bahan untuk Meningkatkan Perolehan Minyak Bumi (Enhanced Oil Recovery) ................................................................................................................................... 3 Metil Ester Sulfonat.................................................................................................................... 5 Proses Pembuatan Metil Ester Sulfonat .................................................................................... 7 Tahap Sulfonasi ....................................................................................................................... 7 Tahap Pemucatan (Bleaching) ................................................................................................ 8 Tahap Netralisasi .................................................................................................................... 8 Tahap Pengeringan ................................................................................................................. 8

MANFAAT INDUSTRI TERKAIT ................................................................................................................. 9 KESIMPULAN ........................................................................................................................................... 9 REFERENSI ............................................................................................................................................... 9

ii

LATAR BELAKANG
Minyak bumi dikategorikan sebagai golongan energi fosil. Peran energi fosil (minyak dan gas bumi) bagi suatu negara adalah sebagai sumber perolehan devisa dan sebagai sumber energi. Sebagai sumber energi, peranan minyak bumi saat ini belum tergantikan oleh bahan lain. Sampai tahun 2000, peran energi fosil sebagai sumber energi di Indonesia mencapai 95 persen dari total energi primer komersial. Banyak sumber daya lain yang keberlangsungannya sangat tergantung pada persediaan minyak bumi. Misalnya, alat transportasi, alat pembangkit listrik dan alat produksi untuk industri. Industri pupuk dan petrokimia, industri besi dan baja, dan kilang minyak merupakan industri yang menggunakan minyak dan gas bumi dalam jumlah besar (Anonim, 2005; Redaksi Warta Pertamina, 2004). Berdasarkan data dari Badan Koordinasi Energi Nasional yang dilaporkan oleh Hehuwat (1992) diketahui bahwa total cadangan minyak bumi di Indonesia adalah 195 milyar barrel(1 barrel= 158,987 liter). Dari jumlah tersebut telah diproduksi sejumlah 48,4 milyar barrel. Bila diasumsikan bahwa produksi minyak bumi menggunakan teknologi konvensional mampu memproduksi 44 persen dari totalminyak bumi, maka sisa minyak bumi yang masih dapat diusahakan adalah sekitar 38 milyar barrel. OPEC World Energy Model (OWEM) melaporkan bahwa permintaan minyak bumi dunia pada tahun 2002-2010 diperkirakan akan tumbuh 1,8 persen per tahun, atau meningkat sebesar 12 juta barrel per hari (bph) menjadi 89 juta bph. Pada tahun 2010-2020, permintaan akan tumbuh lagi menjadi 106 juta bph dengan tambahan sebesar 17 juta bph. Pada tahun 2025 permintaan minyak bumi mentah dunia meningkat hingga 115 juta bph dengan pertumbuhan rata-rata 1,7 persen per tahun pada periode 2010-2025 (Kusuma, 2004). Bila kebutuhan minyak bumi dunia (Indonesia) yang terus meningkat tidak diimbangi dengan produksi yang mencukupi, maka akan mendatangkan krisis energi. Krisis energi tersebut akan mengganggu roda kehidupan (perekonomian) dunia. Pada tahun 2000 pernah terjadi krisis energi nasional dan internasional berupa kelangkaan bahan bakar minyak (BBM). Bahkan harga minyak mentah dunia sempat menembus US$ 74 per barrel pada awal Mei 2006. Krisis energi (BBM) yang terjadi dapat diatasi dengan cara mencari sumber energi alternatif atau meningkatkan produksi minyak bumi. Sumber energi alternatif yang telah digunakan antara lain biodisel, energi matahari, energi dari alam (air, geothermal/panas bumi, angin dan lain sebagainya). Namun, penggunaannya masih sangat terbatas dan dari segi kepraktisannya masih jauh dari yang diharapkan. Misalnya saja biodisel. Biodisel dapat disintesis dari beberapa sumber yang terbarukan seperti jarak (Jatropha sp) dan kelapa sawit (Elaeis guineensis). Namun, pengembangan teknologi untuk produksi secara komersial di Indonesia masih dalam tahap uji coba dan diperkirakan baru siap pada tahun 2015. Alternatif lain untuk mengatasi krisis energi adalah meningkatkan produksi minyak bumi. Peningkatan produksi minyak bumi dapat dilakukan dengan cara eksplorasi sumur baru (cekungan hidrokarbon) dan meningkatkan perolehan kembali (recovery) minyak bumi yang terdapat pada sumur lama. Eksplorasi sumur baru terbentur pada kendala semakin terbatasnya sumur baru. BPMIGAS menyatakan bahwa Indonesia memiliki 60 cekungan hidrokarbon, dimana 22 cekungan diantaranya belum di eksplorasi serta 38 cekungan telah dieksplorasi. Dari 38 cekungan ini yang telah diproduksi minyak dan gas buminya adalah 15 cekungan, 11 cekungan belum produksi serta 12 cekungan sisanya belum terbukti (BPMIGAS, 2005). Menurut Lake (1995) residu minyak bumi yang terdapat pada sumur yang telah diproduksi masih besar, berkisar 40-70 persen dari jumlah minyak bumi semula. Minyak bumi yang tertinggal tersebut merupakan minyak bumi yang terperangkap pada pori-pori batuan dan tidak dapat diproduksi dengan teknologi konvensional (tahap primer dan sekunder). Salah satu metode perolehan kembali minyak bumi setelah dengan teknologi konvensional diterapkan adalah peningkatan perolehan minyak bumi tahap lanjut (Enhanced Oil Recovery) melalui mekanisme penurunan tegangan antarmuka (Interfacial Tension disingkat IFT).

Fenomena tegangan antarmuka (IFT) memainkan perananpenting di dalam metode perolehan minyak bumi (Lakatos-Szab dan Lakatos, 2001). Bahan yang umum digunakan untuk memodifikasi tegangan antarmuka dan tegangan permukaan suatu zat adalah surfaktan yang berasal dari istilah asing surfactant (singkatan dari surface active agent). Proses perolehan kembali minyak bumi dengan menggunakan surfaktan termasuk ke dalam fase tersier atau tahap lanjut dalam produksi minyak bumi. Teknik perolehan minyak bumi menggunakan surfaktan dikenal dengan nama surfactant flooding.

ALASAN PEMILIHAN JUDUL


Surfaktan yang biasa digunakan dalam proses EOR adalah petroleum sulfonate yang merupakan turunan dari minyak bumi. Kelemahan surfaktan tersebut adalah sifatnya yang tidak terbarukan, tidak ramah lingkungan dan memiliki ketahanan yang buruk terhadap kondisi sadah, sedangkan kelebihannya adalah mempunyai kinerja maksimal dalam menurunkan tegangan antarmuka, bahkan dilaporkan mencapai 0,1 N/m atau 10-4 dyne/cm (Salager, 2002). Surfaktan lain yang memiliki prospek cerah untuk dipalikasikan pada proses EOR adalah surfaktan yang diperoleh metil ester minyak kelapa sawit yang disebut dengan metil estersulfonat (MES). Sifatnya yang terbarukan, dapat didegradasi oleh lingkungan/mikroorganisme (biodegradable), karakteristik deterjensi yang baik menjadi keunggulan surfaktan MES. Bila dibandingkan dengan petroleum sulfonate, MES memiliki kinerja yang lebih rendah dalam menurunkan tegangan antarmuka. Apabila dikaitkan dengan produksi surfaktan MES yang akan diaplikasikan dalam surfactant flooding, Indonesia mempunyai potensi besar untuk menjadi produsen surfaktan. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki areal perkebunan kelapa sawit yang cukup luas. Luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia pada tahun 2004 adalah 5 juta hektar dengan produksi 11,08 juta ton per tahun. Luas areal kelapa sawit terus bertambah, demikian pula produksi dan ekspornya. Indonesia menempati produsen minyak sawit kasar (CPO dan PKO) kedua terbesar di dunia dan diprediksikan pada tahun 2010 (bahkan pemerintah menargetkan tahun 2008) sebagai nomor satu di dunia, melampaui Malaysia. Pangsa pasar produksi CPO Indonesia adalah 36 persen dari total produksi dunia, Malaysia 47 persen. Bersamasama, Indonesia dan Malaysia menguasai 85 persen produksi CPO dunia atau 23 persen dari produksi minyak hayati dunia (Samhadi, 2006).

PENJELASAN INDUSTRI TERKAIT A. Profil Perusahaan


Pusat Penelitian Surfaktan dan Bioenergi Surfactant and Bioenergy Research Center (SBRC )
Surfactant and Bioenergy Research Center (SBRC) merupakan salah satu pusat penelitian di bawah Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) , Institut Pertanian Bogor (IPB) . Daerah penelitian utama adalah surfaktan dan bioenergi . Pusat Penelitian ini didirikan pada tahun 2004 dengan nama Surfactant Research & Development Center (SRDC) sebagai acuan IPB atas ketergantungan Indonesia pada impor surfaktan. Selanjutnya, isu krisis energi dan perubahan iklim juga memicu pusat penelitian ini untuk mengambil peran dalam penelitian dan pengembangan. Dengan dua subjek yang difokuskan tersebut, maka pada tahun 2006 pusat penilitian ini berubah menjadi Surfactant and Bioenergy Research Center ( SBRC ). Pengembangan surfaktan meliputi bahan baku eksplorasi, pengolahan surfaktan dan teknologi, dan pengaplikasian produknya di berbagai industri. Di sisi lain, pengembangan bioenergi dirancang sebagai kegiatan terpadu mulai dari hulu ke hilir mencakup pembibitan dan teknik budidaya tanaman bioenergi, proses dan teknologi, pola kelembagaan dan model pengembangan untuk bisnis bioenergi, sosialisasi dan promosi

kegiatan terkait. Baru-baru ini, Jatropha curcas Linn. merupakan salah satu tanaman bioenergi yang dijadikan fokus pada penelitian dan pengembangan di pusat ini selain ubi kayu sebagai bahan baku bioetanol dan ganggang mikro sebagai bahan baku biofuel alternatif ramah lingkungan berikutnya . VISI Visi SBRC adalah menjadi pusat penelitian surfaktan dan bioenergi terkemuka yang melibatkan multidisiplin keilmuan dan mampu memberikan manfaat yang seluas-luasnya kepada masyarakat secara nasional maupun global MISI Menjadi pelopor pengembangan surfaktan dan bioenergi di Indonesia Menyediakan teknologi terpadu bagi pengembangan surfaktan dan bioenergi Membentuk masyarakat yang mandiri dan peduli lingkungan (green country)

MANDAT UTAMA : Melakukan kajian dan pengembangan di bidang surfaktan dan bioenergi

Staf Pimpinan Pusat Penelitian Surfaktan & Bioenergi Kepala : Prof. Dr. Ir. Erliza Hambali, Msi Sekretaris : Dr. Dwi Setyaningsih, S.TP, M.Si

Alamat : Kampus IPB Baranangsiang, Jl Raya Pajajaran Bogor 16153 Telp : 0251-8330970 Fax : 0251-8330977 Email : info.sbrc@gmail.com Website : http://www.sbrc-ipb.com

B. Kinerja Surfaktan Sebagai Bahan untuk Meningkatkan Perolehan Minyak Bumi (Enhanced Oil Recovery)
Menurut Nummedal et al.(2003) peningkatan perolehan minyak bumi (oil recovery) dapat dilakukan dengan cara menambahkan surfaktan ke dalam air injeksi. Proses perolehan minyak bumi menggunakan surfaktan disebut dengan surfactant flooding dan dikategorikan ke dalam proses tersier produksi minyak bumi. Dalam surfactant flooding, karakteristik air yang diinjeksikan ke dalam sumur minyak bumi harus sesuai dengan karakteristik air formasi yaitu air yang berada di dalam cekungan minyak bumi(reservoir). Demikian pula dengan penginjeksian surfaktan (umumnya bahan kimia), disyaratkan tidak mengubah kondisi formasi yang telah ada di dalam reservoir minyak bumi. Pada gambar diperlihatkan ilustrasi proses dalam surfactant flooding.

Pada umumnya tidak hanya surfaktan yang digunakan dalam surfactant flooding, namun juga polimer (umumnya poliakrilamida). Polimer diijeksikan setelah campuran surfaktan air injeksi dipompakan ke dalam sumur minyak. Tujuannya adalah meningkatkan stabilitas genangan (flood) dan meningkatkan efisiensi penyapuan (sweep efficiency) minyak. Masih menurut Nummedal (2003), surfactant flooding paling jarang digunakan dalam proses recovery minyak bumi karena persoalan rancangannya yang sulit dan mahalnya harga bahan kimia (surfaktan). Hal senada juga diungkapkan oleh Technology Assesment Board 1978 bahwa surfactant flooding merupakan proses yang sangat kompleks, namun demikian mempunyai potensi recoveryminyak yang superior. Mekanisme reaksi yang terjadi di dalam sumur minyak setelah surfaktan diinjeksikan dijelaskan sebagai berikut. Pada dasarnya, mekanisme reaksi yang terjadi mirip dengan proses emulsifikasi kotoran pada pencucian menggunakan deterjen. Awalnya surfaktan tunggal yang disebut monomer akan mengikat minyak pada permukaan minyak (adsorpsi). Karena tenaga dorong dari pompa dan bobotnya yang ringan, surfaktan terlepas dari permukaan minyak dengan mengikat minyak pada bagian ekornya (lipofilik). Surfaktan tersebut kemudian membentuk agregat setelah bertemu dengan monomer surfaktan lain dalam larutan. Proses pengikatan minyak oleh surfaktan akan lebih mudah bila minyak terdispersi di dalam larutan. Mekanisme tersebut diilustrasikan pada gambar.

Mikroemulsi terbentuk setelah larutan surfaktan bereaksi dengan minyak. Mikroemulsi yang mengandung minyak tersebut kemudian didorong menggunakan larutan polimer (poliakrilamida) dan minyak bumi diproduksi pada sumur produksi. Pada kenyataannya, mekanisme reaski yang terjadi tidak sesederhana seperti yang telah dijelaskan. Kondisi geologis batuan turut mempengaruhi kinerja surfaktan. Surfaktan diharapkan dapat menurunkan tegangan antarmuka antara minyak dan batuan sehingga gaya adhesi minyak dan batuan berkurang. Gaya adhesi tersebut diperkuat oleh gaya kapiler, karena minyak

terperangkap pada pori-pori batuan. Dengan turunnya tegangan antarmuka tersebut, minyak akan terkonsentrasi pada permukaan batuan. Pada akhirnya, surfaktan dapat mengikat minyak dan minyak dapat diproduksi. Produksi minyak menggunakan proses surfactant flooding sangat dipengaruhi oleh kemampuan surfaktan dalam menurunkan tegangan antarmuka (Drelich et al., 2002). Maka dari itu, formula surfaktan yang dibuat harus memiliki kinerja dan stabilitas tinggi pada kondisi reservoir. Selain itu, surfaktan juga harus tersedia dalam jumlah yang cukup atau dengan kata lain availability-nya tinggi. Oleh karena itu kombinasi penggunaan surfaktan MES yang bersifat terbarukan dan surfaktan nonyl phenol ethoxylateyang memiliki kinerja tinggi dalam satu formula merupakan salah satu terobosan baru.

C. Metil Ester Sulfonat


MES merupakan surfaktan anionik yang bermuatan negatif sehingga cocok digunakan pada sumur yang batuannya mengandung silikat yang juga bermuatan negatif. Namun demikian MES tidak cocok bila digunakan pada sumur yang batuannya mengandung kapur karena kapur bermuatan positif. Perbedaan muatan akan mengakibatkan terikatnya MES pada batuan dan kehilangan sifat aktif permukaannya (Hidayati, 2006). ). Penelitian pembuatan MES telah dilakukan oleh Chemiton Corporation, Inc. Sheats dan MacArthur (2002) melaporkan bahwa metil ester sulfonat dapat disintesis dari beberapa tanaman seperti kelapa, kelapa sawit (CPO dan PKO), tallow dan kedelai. Metil ester termasuk ke dalam golongan ester. Ester dibuat dengan mereaksikan asam karboksilat dan alkohol. Cox dan Weerasoriya (2001) melaporkan bahwa sebagian besar metil ester diproduksi dari oleokimia. Metil ester dapat diproduksi melalui esterifikasi asam lemak dengan metanol. Reaksi transesterifikasi dapat dilihat pada Gambar 3. Metil ester juga dapat diperoleh melalui reaksi esterifikasi antara asam lemak dengan alkohol, seperti pada reaksi yang terlihat pada Gambar 4 berikut (Hart, 1990). Minyak/lemak Metanol Metil ester Gliserin Gambar 3. Reaksi transesterifikasi antara trigliserida dan metanol

Karakteristik MES disajikan pada Tabel 1 dan gambarproduk dan struktur MES dapat dilihat pada Gambar 5 dan Gambar 6. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa selain MES sebagai produk utama juga dihasilkan produk lain yang tidak diinginkan seperti garam di-natrium karboksi sulfonat (di-salt), metanol, hidrogen peroksida, air, petroleum eter, natrium karboksilat, natrium sulfat, dan natrium metil sulfat. Metanol sisa yang terdapat dalam produk komersial adalah 0.5 persen (bobot). Menurut Hovda (2002) dan

MacArthur et al. (2002), di-natrium karboksi sulfonat merupakan pengotor pada MES yang dapat menurunkan deterjensi MES.

Keterangan : Sumber bahan baku MES tersebut : A : Minyak Kelapa (C12-C14) B : Minyak inti sawit (C8-C18) C : Stearin sawit (C16-C18) D : Lemak Tallow (C16-18) E : Minyak kedelai (C18)

Menurut Hovda (2002), ada tiga tipe proses pembuatan MES yaitu proses yang menggunakan dua tahap pemucatan sehingga diperlukan halogen, proses yang menggunakan pemurnian ultra, proses/teknologi yang dikembangkan Chemiton Corporation menggunakan agen peroksida untuk tahap pemucatan. Foster (1997) berpendapat bahwa untuk mendapatkan produk yang unggul dari reaksi sulfonasi, rasio mol reaktan merupakan faktor utama yang harus dikendalikan. Faktor lainnya adalah suhu reaksi, konsentrasi reaktan (gas SO3), pH netralisasi, lama penetralan, dan suhu selama penetralan. Faktorfaktor tersebut memang memberikan pengaruh pada kualitas produk, namun pengaruhnya tidak sebesar pengaruh akibat rasio mol. Agen sulfonasi yang digunakan secara luas pada reaksi sulfonasi adalah asam sulfat (H2SO4) dan oleum (SO3 H2SO4). Tipe reaksi proses sulfonasi dibedakan berdasar agen sulfonasi yang digunakan. Faktor-faktor yang menentukan dalam pemilihan tipe reaksi sulfonasi adalah kuantitas dan kualitas produk yang diinginkan, harga reagen (bahan pereaksi), biaya peralatan, dan biaya pengolahan limbah.

D. Proses Pembuatan Metil Ester Sulfonat


Produksi metil ester sulfonat dalam skala industri terdiri dari 4 (empat) tahap yaitu tahap sulfonasi, tahap pemucatan, tahap netralisasi, dan tahap pengeringan. 1) Tahap Sulfonasi MES diproduksi melalui proses sulfonasi metil ester dengan campuran SO 3/udara. Reaksi pengontakkan SO3 dan bahan organik terjadi di dalam suatu falling film reactor. Gas dan organik o mengalir di dalam tube secara co-current dari bagian atas reaktor pada temperatur 45 C dan keluar o reaktor pada temperatur sekitar 30 C. Proses pendinginan dilakukan dengan air pendingin yang berasal dari cooling tower. Air pendingin ini mengalir pada bagian shell dari reaktor. Hal ini bertujuan untuk menjaga kestabilan temperatur reaksi akibat reaksi eksoterm yang berlangsung di dalam reaktor.

Agar campuran MESA mencapai waktu yang tepat dalam reaksi sulfonasi yang sempurna, o MESA harus dilewatkan kedalam digester yang memilki temperature konstan (~80 C) selama kurang lebih satu jam. Efek samping dari MESA digestion adalah penggelapan warna campuran asam sulfonat secara signifikan. Sementara itu, gas-gas yang meninggalkan reaktor menuju sistem pembersihan gas buangan (waste gas cleaning system). 2) Tahap Pemucatan (Bleaching) Untuk mengurangi warna sampai sesuai dengan spesifikasi, digested MESA harus diukur didalam sistem kontinu acid bleaching, dimana dicampurkan dengan laju alir metanol yang terkontrol dan hidrogen peroksida sesudahnya. Reaksi bleaching lalu dilanjutkan dengan metanol reflux dan pengontrolan temperatur yang presisi. 3) Tahap Netralisasi Acid ester yang terbentuk dalam proses sulfonasi bersifat tidak stabil dan mudah terhidrolisis. Oleh karena itu, pencampuran yang sempurna antara asam sulfonat dan aliran basa dibutuhkan dalam proses netralisasi untuk mencegah lokalisasi kenaikan pH dan temperatur yang dapat mengakibatkan reaksi hidrolisis yang berlebih. Neutralizer beroperasi secara kontinu, mempertahankan komposisi dan pH dari pasta secara otomatis.

4) Tahap Pengeringan Selanjutnya, pasta netral MES dilewatkan ke dalam sistem TurboTube Dryer dimana metanol dan air proses yang berlebih dipisahkan untuk menghasilkan pasta terkonsentrasi atau produk granula kering MES, dimana produk ini tergantung pada berat molekul MES dan target aplikasi produk. Langkah akhir adalah merumuskan dan menyiapkan produk MES dalam komposisi akhir, baik itu dalam bentuk cair, batangan semi-padat atau granula padat, dengan menggunakan teknologi yang tepat.
TM

MANFAAT INDUSTRI TERKAIT


Konversi minyak kelapa sawit menjadi surfaktan yang merupakan pengembanganan produk ke arah hilir akan meningkatkan nilai tambah produk kelapa sawit. Pengembangan agroindustri yang lebih berorientasi ke arah hilir merupakan strategi yang harus dilaksanakan untuk beberapa jenis komoditas perkebunan yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi produk hilir yang berorientasi ekspor (Suprihatini et al., 2004). Keluaran dari pembangunan agroindustri adalah perolehan nilai tambah yang signifikan atas input teknologi yang diberikan. Semakin canggih teknologi yang digunakan untuk melakukan diversifikasi produk dari bahan baku, maka semakin tinggi pula nilai tambah produk diversifikasi tersebut serta memiliki harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga komoditas awalnya (Gumbira Said, 2001). Hambali et al. (2004) penyatakan bahwa surfaktan memiliki nilai tambah hampir delapan kali lipat bila dibandingkan dengan minyak sawit mentah (CPO dan PKO).

KESIMPULAN
Penelitian mengenai penggunaan surfaktan yang merupakan turunan minyak bumi untuk proses recovery minyak bumi telah banyak dilakukan, sedangkan penelitian mengenai penggunaan surfaktan yang berasal dari sumber terbarukan untuk proses recovery minyak bumi masih jarang dilakukan. Apabila surfaktan dari sumber yang berbeda tersebut dapat dikombinasikan dengan baik maka akan diperoleh suatu formula yang persediaannya terjamin dan berkualitas.

REFERENSI
Purwanto, Slamet. 2006. Penggunaan Surfaktan Metil Ester Sulfonat Dalam Formula Agen Pendesak Minyak Bumi. Fakultas Teknologi Pertanian: Institut Pertanian Bogor, Indonesia http://sbrc.ipb.ac.id/id/tentangkami/tentangsbrc http://lppm.ipb.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=64:surfactant-and-bioenergyresearch-center-sbrc-&catid=37:pusat-pusat-yang-dikoordinir-oleh-lppm-ipb-&Itemid=56 http://majarimagazine.com/2008/05/produksi-metil-ester-sulfonat-untuk-surfaktan/

Anda mungkin juga menyukai