Anda di halaman 1dari 150

LAPORAN PRAKTIKUM PSIT 1

MODUL 1 ANALISIS PASAR

Kelompok Nama Kelas Asisten Kriteria Penilaian Format Laporan Isi Analisa TOTAL

D-3

Tgl. Praktikum

26 Maret 2013

: 1. Noormalita Irviana Hari Praktikum : Selasa 2. Rizky Destiana Hapsari Dikumpulkan tgl : 2 April 2013 : D Yogyakarta,.........................................2013 : P-16
Asisten

: : : :

(maks. 20) (maks. 40) (maks. 40)

(...................................)

LABORATORIUM PSIT JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA 2013

BAB I PENELITIAN PASAR


1.1 Tujuan Praktikum 1. Memahami konsep analisis pasar 2. Mampu menganalisis pasar atas suatu produk tertentu 3. Memahami konsep HOQ 4. Mampu menyusun HOQ berdasarkan identifikasi kebutuhan pelanggan

1.2 Tugas Praktikum 1. Mendeskripsikan salah satu merk produk yang dipilih antara lain daerah atau luas pasar dimana produk tersebut dijual, saluran distribusi dan sistem penjualan dibandingkan dengan kompetitor 2. Menganalisis mengenai keadaan persaingan dengan produk lain, harga penjualan yang terbentuk, dan strategi pemasaran para pesaing 3. Menyusun HOQ dengan customer requirement minimal 5 dan dilengkapi dengan lampiran kuisioner yang dibuat.

1.3 Output 1.3.1 Deskripsi Produk dan Target Pasar Pada zaman yang sudah modern ini, sebuah mobil sudah menjadi kebutuhan yang penting bagi sebagian orang, misalnya mobil MPV (Multi Purpose Vehicle). Kita bisa memanfaatkan mobil ini sebagai family car atau bisa digunakan sebagai penunjang bisnis kita, seperti travel dan mengantar jemput anak-anak sekolah. Dilihat dari tingkat kegunaanya yang tinggi, maka perusahaan kami ingin menigkatkan inflasi pada penjualan produk kami. Untuk itu, dilakukan inovasi pengembangan pada mobil ini dengan dilihat dari identifikasi konsumen sendiri. Produk yang akan kami kembangkan yaitu Kaizen Car. Mobil ini adalah tipe mobil MPV (Multi Purpose Vehicle) berbentuk minibus yang dapat mengangkut banyak penumpang. Target pasar dari produk kami adalah kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya. Mobil ini diharapkan dapat diperuntukkan untuk masyarakat yang memiliki banyak keluarga atau untuk masyarakat yang memiliki bisnis, agar mobil ini dapat menunjang bisnis meraka seperti bisnis travel

atau antar jemput anak-anak sekolah. Kami memilih kota-kota besar karena di kota besar tersebut tingkat kepadatan penduduknya lebih tinggi dan tentunya aktivitas bisnis disanapun lebih banyak.

1.3.2

Kuisioner 1 Berdasarkan kuisioner 1 yang telah kami sebar ke 15 responden dan telah kami

rekap, maka didapat seperti tabel dibawah : Tabel 1.1 Rekapan kuisioner 1 No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 1.3.3 Kuesioner 2 Berdasarkan kuisioner 2 yang telah kami sebar ke 15 responden dan telah kami rekap maka didapat seperti tabel dibawah : Tabel 1.2 Rekapan kuisioner 2 Atribut Harga Eksterior Interior Spesifikasi Keamanan Jumlah Keterangan : STP : Sangat tidak penting STP 1 8 3 3 0 15 TP 0 0 2 6 7 15 CP 0 0 1 12 2 15 P 0 0 2 10 3 15 SP 0 0 1 8 6 15 Karakteristik Desain Body Desain Interior Desain Eksterior Spesifikasi Keamanan BBM Harga Fitur Warna Bagasi Kapasitas Penumpang Suku Cadang Teknologi Jumlah Responden 16 15 13 12 9 8 7 5 5 2 2 1 1

TP CP P SP

: Tidak penting : Cukup penting : Penting : Sangat penting

1.3.4

Kuesioner 3 Berdasarkan kuisioner 3 yang telah kami sebar ke 15 responden dan telah kami

rekap maka didapat seperti tabel dibawah : Tabel 1.3 Rekapitulasi kuisioner 3 No. Harga Eksterior Interior Spesifikasi Keamanan 1.3.5 House of Quality House Of Quality (HOQ) merupakan voice of customer yang perlu didengar perusahaan karena voice of customer merupakan cara sistematis untuk masuk dalam desain, proses dan produksi bahkan sampai pelayanan. HOQ merupakan rumah pertama dan bagian terlengkap dari pengembangan produk karena terdapat WHATs (customer requirement/voice of customer), HOWs (merupakan technical 1 0 2 0 0 2 Kaizen Car 2 3 4 0 1 10 4 8 1 3 11 1 2 8 5 7 6 0 5 4 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 APV Luxury 2 3 4 2 10 3 0 2 3 0 7 8 0 8 6 1 7 7 5 0 10 0 1 0

requirement), matriks hubungan, competitive assessment, dan important rating.

Secara keseluruhan, HOQ dapat digambarkan sebagai berikut: Tabel 1.4 HOQ

1.4 Hasil dan Pembahasan HOQ 1.4.1 Identifikasi Konsumen Peran konsumen sangat penting untuk menunjang target yang akan dicapai. Setiap konsumen pasti memiliki kriteria masing-masing dalam memilih sebuah mobil. Kadang, yang biasa mereka pertimbangkan dalam memilih sebuah mobil adalah bentuk body dari mobil itu sendiri. Selain itu, spesifikasi mesin juga menjadi pertimbangan yang sangat matang bagi konsumen. Dan fitur-fitur pendukung yang terdapat pada interior mobil juga salah satu yang dipertimbangkan bagi sebagian konsumen. Dari hasil kuesioner yang telah kami sebar menunjukkan bahwa Kaizen Car unggul dari mobil pesaing APV Luxury yaitu pada interior, spesifikasi dan keamanan yang dapat dilihat pada Tabel 1.12.

1.4.2

Menentukan Costumer Needs Customer needs sering juga disebut dengan vioce of customer (VOC). Item ini

mengandung hal-hal yang dibutuhkan oleh konsumen dan masih bersifat umum, sehingga sulit untuk langsung diimplementasikan Costumer needs dapat dilakukan melalui penelitian terhadap keinginan konsumen. Berdasarkan kuisioner 1 didapatkan 13 voice of customer seperti yang dapat dilihat pada tabel 1.1. Dari ke-13 voice of customer tersebut kami kelompokkan atribut-atribut yang memiliki tujuan yang sama. Seperti diantaranya desain body, desain eksterior dan warna dikelompokkan menjadi atribut eksterior. BBM, spesifikasi mesin, kapasitas penumpang dan kapasitas bagasi dikelompokkan menjadi atribut spesifikasi. Fitur, teknologi dan desain interior dikelompokkan menjadi atribut interior. Maka didapatkan 5 atribut customer needs yaitu sebagai berikut: 1. Harga 2. Eksterior 3. Interior 4. Spesifikasi 5. Keamanan

1.4.3 Menentukan Importance Rating Merupakan tingkat kepentingan dari VOC dan diperoleh dari hasil perhitungan kuisioner yang disebarkan kepada pelanggan. Berdasarkan hasil perhitungan dari kuisioner 2, didapatkan importance ratingnya sebagai berikut: Tabel 1.5 Importance rating Customer Requirement Harga Eksterior Interior Spesifikasi Keamanan IR 3 5 5 5 5

Berdasarkan pada perhitungan kuisioner 2 didapatkan Importance Rating (IR) masing-masing Customer Requirement. Pada atribut harga, didapatkan nilai IR 3 pada skala 5. Pada atribut eksterior, interior, spesifikasi, dan keamanan, didapatkan nilai IR yang sama, yaitu 5 pada skala 5.

1.4.4 Menentukan Technical Requirement Technical requirement merupakan penerjemah kebutuhan konsumen dalam bentuk teknis agar sebuah produk dapat dibentuk secara langsung. Pada bagian ini terdapat target spesifikasi yang akan ditetapkan berdasarkan kempampuan perusahaan yang telah ditetapkan melalui customer needs-nya. Berikut adalah technical requirement sebagai terjemahan dari customer requirement:

Tabel 1.6 Technical requirement Customer Requirement Harga Eksterior Technical Requirement Murah Dimensi panjang x lebar x tinggi Berat kosong Bentuk spion Jenis lampu Jenis bahan interior Multimedia system Mesin Kapasitas penumpang Kapasitas tanki Konsumsi bahan bakar Keamanan Jumlah sensor parkir Alarm distance sensor parkir

Interior Spesifikasi

1.4.5 Menentukan Relationship Relationship ditentukan oleh tiga kunci utama seperti yang ditunjukkan dalam tabel berikut: Tabel 1.7 Relationship
No. 1 2 3 Hubungan STRONG MEDIUM WEAK Bobot Simbol 9 3 1 Keterangan

Memberi Pengaruh yang besar pada kepuasan konsumen Memberi Pengaruh yang cukup berarti pada kepuasan konsumen Memberi sedikit Pengaruh pada kepuasan konsumen

Berikut adalah hubungan antara customer requirement dengan technical requirement. Hasil selengkapnya ada pada grafik HOQ. Tabel 1.8 Relationship Customer Requirement Harga Eksterior Technical Requirement Murah Dimensi panjang x lebar x tinggi Berat kosong Bentuk spion Hubungan Weak Strong Strong Strong

Customer Requirement Interior Spesifikasi

Technical Requirement Jenis lampu Jenis bahan interior Multimedia system Mesin Kapasitas penumpang Kapasitas tanki Konsumsi bahan bakar

Hubungan Strong Medium Weak Strong Weak Medium Strong Strong Medium

Keamanan

Jumlah sensor parkir Alarm distance sensor parkir

1.4.6

Menentukan Target (HOW MUCH) Tabel 1.9 Target Technical Requirement Murah Dimensi panjang x lebar x tinggi Berat kosong Bentuk spion Jenis lampu Jenis bahan interior Multimedia system Mesin Kapasitas penumpang Kapasitas tanki Konsumsi bahan bakar Jumlah sensor parkir Alarm distance sensor parkir Target 150.000.000 4800 x 1665 x 1900 mm 1840 kg Sein Led Fog Lamp Automative Synthetic Leather DVD,USB 1500 cc 8 46 liter Dalam kota 1:12 Luar kota 1: 15 4 sensor parkir 0,3 m - 1,5 m

1.4.7

Membuat Matriks Korelasi 1 Tabel 1.10 Matriks Korelasi 1


Dimensi panjang x lebar x tinggi

Customer Requirement Harga Eksterior Interior Spesifikasi Keamanan

I R 3 5 5 5 5

Target / Goal 150.000.000

Dalam kota 1:12 , Luar kota 1: 15

Automative Synthetic Leather

4800 x 1665 x 1900 mm

4 sensor parkir 45

Kepentingan

27

45

45

54

48

18

45

15

15

Pada customer requirement dengan atribut harga terdapat hubungan dengan empat technical requirement, yaitu hubungan kuat dengan technical requirement murah, hubungan medium dengan bentuk spion, dan hubungan lemah dengan jenis lampu dan jenis bahan interior. Pada atribut Eksterior, terdapathubungan kuat dengan empat technical requirement yaitu dimensi panjang x lebar x tinggi, berat kosong, bentuk spion, dan jenis lampu. Pada atribut interior, terdapat hubungan medium dengan jenis bahan interior dan hubungan lemah dengan multimedia sistem. Pada atribut spesifikasi, terdapat hubungan kuat dengan mesin, medium dengan kapasitas tanki, dan hubungan lemah dengan kapasitas penumpang dan konsumsi bahan bakar. Pada atribut keamanan,

0,3 m - 1,5 m

DVD,USB

Fog Lamp

Sein Led

1840 kg

1500 cc

46 liter

Alarm distance sensor parkir

Konsumsi bahan bakar

Kapasitas penumpang

Jumlah sensor parkir

Jenis bahan interior

Multimedia system

Kapasitas tanki

Berat kosong

Bentuk spion

Jenis lampu

Murah

Mesin

terdapat hubungan kuat dengan jumlah sensor parkir dan terdapat hubungan medium dengan alarm distance sensor parkir. 1.4.8 Membuat Matriks Korelasi 2 Tabel 1.11 Matriks Korelasi 2

Keterangan : : Saling berkaitan : Saling bertolak belakang

Berdasarkan matriks korelasi 2, yaitu matriks hubungan keterkaitan, namun pada produk yang akan dikembangkan ini, tidak terdapat hubungan keterkaitan. Sebaliknya, pada technical requirement murah mempunyai hubungan yang saling

bertolak belakang dengan bentuk spion, jenis lampu, dan jenis bahan interior, dan pada technical requirement mesin bertolak belakang dengan konsumsi bahan bakar.

1.4.9 Membuat Analisis tentang Competitive Technical Assessment Tabel 1.12 Competitive technical assessment Competitive Assessment Customer VOC IR Requirement ke1 2 3 4 5 Harga 1 3 Eksterior 2 5 Interior 3 5 Spesifikasi 4 5 Keamanan 5 5 Keterangan: Goal 5 5 5 5 5 Improvement Sales Rating Point 1,67 1 1 1 1 Row Weight 5,01 6 5 6 5 Action B A C A C

: Produk pesaing (APV Luxury) : Produk yang akan dikembangkan (Kaizen car)

Berdasarkan tabel 1.12 yaitu tabel Competitive technical assessment, dapat diketahui letak atau posisi produk yang akan dikembangkan terhadap posisi kompetitor dengan menggunakan lima customer requirement, yaitu harga, eksterior, interior, spesifikasi dan keamanan. Nilai IR pada produk yang akan dikembangkan berdasarkan customer requirement masing-masing adalah 3, 5, 5, 5, 5. Nilai IR pada produk pesaing masing-masing adalah 4, 5, 4, 4, 4. Oleh sebab itu, pada customer recuirement dengan atribut eksterior, nilai IR antara produk pesaing dengan produk yang akan dikembangkan sama, yaitu 5 pada skala 5. Nilai goal yang ditetapkan perusahaan pada seluruh customer requirement adalah 5, karena perusahaan yang akan mengembangkan produk ingin lebih mengungguli pesaing yang mayoritas posisi pada competitive assessment adalah 4. Nilai improvement rating didapatkan dengan membagi nilai goal yang telah ditetapkan perusahaan dengan nilai competitive assessment pada produk yang akan dikembangkan. Pada customer requirement harga, nilai improvement ratio adalah 1,67, sedangkan pada atribut selain harga, nilainya adalah 1. Sales point yang ditetapkan perusahaan untuk mengembangkan produk ini adalah pada VOC eksterior dan spesifikasi yang masing-masing bernilai 1,2. Dengan mengalikan importance rating, sales point, dan improvement ratio didapatkan nilai row weight pada masing-masing customer requirement. Pada customer requirement (VOC) pertama atau VOC ke-1 nilai row weight yang didapat adalah 5,01. Pada VOC

ke-2 dan ke-4 diperoleh 6. Pada VOC ke-3 dan ke-5 nilai row weight yang didapat adalah 5. Oleh sebab itu, dapat diketahui 2 nilai tertinggi pada row weight yang akan diberi action A, selain itu pada 5,01 akan diberi action B, dan pada nilai row weight 5 akan diberi action C.

1.4.10 Melakukan Analisis Terhadap HOQ Tabel 1.13 HOQ

1.5 Kesimpulan Dari tabel analisis competitor dapat dilihat bahwa VOC yang harus diperhatikan adalah VOC ke 2 dan 4 (kategori A) dimana pada VOC ini competitor berada di depan produk sehingga dibutuhkan inovasi baru agar dapat melampaui kemampuan competitor. Sedangkan dari tabel relasi antara customer requirement dan technical requirement dapat dilihat bahwa kepentingan terbesar terdapat pada teknis bentuk spion dan jenis lampu. Artinya untuk mendukung pengembangan pemenuhan VOC 2 dan VOC 4 maka perusahaan harus fokus pada kedua aspek teknik tersebut.

LAPORAN PRAKTIKUM PSIT 1

MODUL 2 PERENCANAAN PRODUK BARU

Kelompok Nama

D-3

Tgl. Praktikum Hari Praktikum

: :

2 April 2013 Selasa 9 April 2013

: 1. Noormalita Irviana 2. Rizky Destiana Hapsari

Dikumpulkan tgl :

Kelas Asisten Kriteria Penilaian Format Laporan Isi Analisa TOTAL

: :

D P-16

Yogyakarta,.........................................2013

Asisten : : : : (maks. 20) (maks. 40) (maks. 40) (...................................)

LABORATORIUM PSIT JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA 2013

BAB II PERENCANAAN PRODUK BARU


2.1 Tujuan Praktikum 1. Mampu melakukan analisa terhadap peluang (opportunity) untuk pengembangan produk baru. 2. Mampu membuat Product Innovation Charter (PIC) sebagai langkah awal perencanaan strategis pada level produk. 3. Dapat menganalisa dan memahami konsep pengembangan atribut-atribut produk. 4. Mampu menggali konsep baru secara sistematis melalui tabel kombinasi (morphological chart). 5. Mampu melakukan penyaringan konsep dengan matriks seleksi (Metode Pugh). 6. Mampu membuat desain produk (soft prototype) hasil inovasi dengan menggunakan software AutoCad.

2.2 Tugas Praktikum 1. Memilih part yang akan dibuat dari modul pertama. 2. Mengidentifikasi kebutuhan pelanggan dan spesifikasi part. 3. Melakukan penetapan fungsi dan pembuatan alternatif konsep. 4. Melakukan seleksi konsep, penilaian konsep dan pengujian konsep. 5. Membuat prototype part.

2.3 Output 2.3.1 PIC ( Product Innovation Charter) Tabel 2.1 Product Innovation Charter Mission Statement Nama produk By : Spion Sign LED : D-3 ( PT.Kaizen Autocar ) Spion LED yang lebih stylish dan dapat menjaga keselamatan Uraian produk driver seat saat akan berbelok sehingga dapat menekan angka kecelakaan lalu lintas. Sasaran bisnis utama Memperoleh 20% proporsi pasar Membuat fungsi baru dari spion Penambahan fitur baru dengan lampu sign LED, kaca zoom dan sensor anti maling. Pasaran utama Pasaran kedua Asumsi-asumsi dan batasan Stakeholder Keterangan : Disini kami ingin mengembangkan sebuah produk dari salah satu part eksterior yang terdapat pada mobil yaitu spion. Spion ini berbeda dari yang lain karena spion ini memiliki lebih banyak fitur, diantaranya adalah lampu sign LED, kaca zoom dan alat sensor anti maling. Oleh karena itu, spion ini dirancang untuk meningkatkan keamanan dari mobil tersebut dan juga diharapkan dapat memperoleh sekitar 20% proporsi pasar. Produsen mobil di Indonesia. Dealer sparepart di seluruh Indonesia Bengkel accessories mobil Terang lampu LED pada spion maksimal 15 watt Terdapat perubahan bentuk pada spion Kaca yang digunakan pada spion adalah kaca cembung Lampu pada bagian sign berwarna kuning Perusahaan hanya memproduksi batang spion saja. Pembeli dan pengguna Operasional manufaktur Distributor Pengecer

Pasaran utama kami adalah produsen mobil diseluruh Indonesia. Karena desain spion yang kami buat lebih aman dari spion yang sudah ada sebelumnya. Target pasar kedua kami adalah dealer spare part resmi diseluruh Indonesia dan bengkel accessories mobil agar memudahkan para customer untuk mendapatkan produk kami. Asumsi dan batasan yang digunakan pada pembuatan spion ini diantaranya adalah terang lamu LED pada spion tersebut maksimal 15 watt dan berwarna kuning. Kaca yang digunakan pada spion tersebut adalah kaca cembung. Selain itu, perusahaan hanya memproduksi batang spionnya saja, sedangkan untuk aspek lain seperti menghubungkan lampu sign pada mobil adalah di luar kemampuan perusahaan.

2.3.2 Identifikasi Kebutuhan Pelanggan Berdasarkan kuesioner terbuka yang telah kami sebar kepada 10 orang responden, maka didapatkan data seperti di bawah ini: Tabel 2.2 Indentifikasi Kebutuhan Pelanggan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Keterangan Adanya sensor cahaya Desain dinamis dan elegan Warna Ukuran Accessories lampu sign LED Buka tutup otomatis Zoom belakang pada jarak jauh Sensor anti maling Kuat/ kokoh Kaca cembung Fleksibel

Dari hasil identifikasi kebutuhan pelanggan tersebut, didapatkan bahwa: 1. Adanya sensor cahaya Sensor cahaya digunakan untuk menyerap cahaya yang berlebihan sehingga nantinya pada kaca spion tidak menyilaukan bagi pengendara. 2. Desain dinamis dan elegan

Spion diharapkan dapat didesain lebih elegan dan sporty sehingga memberikan kesan menarik pada mobil. 3. Warna Warna yang digunakan pada spion disesuaikan dengan warna asli mobil. 4. Ukuran Ukuran yang sesuai dan ergonomis dengan besar mobil akan memberikan desain yang lebih menarik. 5. Accessories lampu sign LED Pengguna dapat memberi tanda pada pengendara lain saat akan berbelok dan memberi kesan lebih elegan. 6. Buka tutup otomatis Dengan menggunakan automatisasi sitem buka tutup dapat mempermudah pengguna sehingga pada saat mesin mati dapat secara otomatis tertutup dan sebaliknya, pada saat mesin menyala spion akan otomatis terbuka. 7. Zoom belakang pada jarak jauh Penambahan kaca zoom pada kaca spion dapat membantu pengendara dalam berkendara untuk lebih dapat melihat posisi mobil pengendara lain di belakang kita. 8. Sensor anti maling Sensor anti maling berfungsi untuk meningkatkan tingkat keamanan spion yang dipasang pada suatu mobil. 9. Kuat/ Kokoh Didesain dengan material yang sederhana namun memiliki tingkat kekuatan yang tinggi. 10. Sifat kaca Kaca yang digunakan harus memiliki jarak pandang yang luas dan dapat menangkap bayangan yang dibelakang pengendara lebih luas sehingga lebih aman digunakan. Sifat kaca disini adalah kaca cembung. 11. Fleksibel Spion pada sebuah mobil diharapkan dapat dibuka dan ditutup dengan fleksibel yang tidak menyulitkan bagi pengendara mobil tersebut.

2.3.3 Spesifikasi Part

Tabel 2.3 Spesifikasi Part No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kebutuhan 5 11 4,15 12,2 7 6 8,13 10,9 11 Warna Daya tahan spion Bentuk spion Sifat kaca spion Fitur lampu Ukuran spion Teknologi buka tutup spion Keamanan Bahan spion Metric Satuan Subj Subj Subj Subj Watt Cm Subj Subj Subj Ideal Cembung 10 watt 25x13x5 Otomatis Poly propylene

2.3.4 Kombinasi Alternatif Konsep dengan Morphology Chart a. Konsep kombinasi 1 Tabel 2.4 Morphology Chart konsep 1

Gambar 2.1 Kombinasi konsep 1

Dalam kombinasi konsep ini, dari segi bentuk spion ini berbentuk persegi panjang, sehingga pandangan pengendara terhadap kendaraan lain yang berada dibelakang mobil tersebut dapat terlihat lebih jelas. Dari segi lampu sign LED-nya berbentuk persegi panjang juga yang dapat memberikan pertanda untuk kendaraan lain pada saat mobil akan berbelok. Sedangkan pada segi kaca zoom berbentuk persegi yang dapat menyelaraskan bentuk spion yang sudah persegi panjang juga.

b. Konsep kombinasi 2 Tabel 2.5 Morphology Chart konsep 2

Gambar 2.2 Kombinasi konsep 2

Dalam kombinasi konsep ini, dari segi bentuk spion ini berbentuk elips, sehingga akan membuat tampilan spion lebih elegan. Dari segi lampu sign LED-nya yang juga berbentuk elips yang akan melengkapi kesan elegan pada spion tersebut. Sedangkan pada segi kaca zoom berbentuk lingkaran yang dapat menyelaraskan bentuk spion yang berbentuk elips.

c. Konsep Kombinasi 3 Tabel 2.6 Morphology Chart konsep 3

Gambar 2.3 Kombinasi konsep 3

Dalam kombinasi konsep ini, dari segi bentuk spion ini berbentuk setengah elips. Pada gambar sketsa bentuk spion pada konsep ini memang dibuat berbentuk setengah elips, namun pada hasil akhir pembuatan bentuk spion ini dengan software AutoCad akan ada sedikit kombinasi bentuk pada bentuk setengah elips tersebut. Hal ini bertujuan untuk memberikan kesan lebih stylish dan sporty. Dari segi lampu sign LED-nya berbentuk trapesium yang akan melengkapi kesan lebih elegan pada spion tersebut. Sedangkan pada segi kaca zoom berbentuk lingkaran yang juga dapat menyelaraskan bentuk spion yang sudah ada tersebut.

2.3.5 Penyaringan Konsep dan Penilaian Konsep a. Seleksi Konsep dengan Metode Pugh Tabel 2.7 Seleksi Konsep Tahap Pertama dengan Metode Pugh Konsep Kriteria seleksi 1 Daya tahan spion Besarnya ukuran Desain spion Sistem keamanan spion Fleksibilitas Jumlah + Jumlah 0 Jumlah Nilai akhir Peringkat Lanjutkan 0 + + + + 4 1 0 4 1 Ya 2 0 + + 2 1 2 0 2 Tidak 3 0 + + + + 4 1 0 4 1 Ya

Seleksi konsep tahap pertama ini dilakukan untuk membandingkan tiga alternatif konsep spion yang sudah kami buat dengan produk pesaing yang ada. Dari alternatif konsep tersebut akan dilihat kekurangan dan kelebihan yang kemudian akan dijadikan satu atau dua konsep yang akan maju untuk dikembangkan. Jika dilihat hasil dari tabel 2.7 maka dapat disimpulkan yang akan maju untuk dikembangkan yaitu konsep 1 dan konsep 3. Dari kedua konsep ini, selanjutnya akan dilakukan seleksi tahap kedua dengan cara menyebarkan kuesioner kepada 10 responden untuk dapat memilih satu diantara dua konsep yang ada.

b. Metode Penilaian Konsep dengan Metode Pugh Berdasarkan kuesioner tahap kedua yang telah kami sebar kepada 10 orang responden, maka didapatkan rekapitulasi data seperti di bawah ini: Tabel 2.8 Hasil data penilaian Konsep Kriteria Seleksi Daya tahan spion Besarnya ukuran Desain spion Sistem keamanan spion Fleksibilitas 2 3 3 4 3 3 2 3 4 3 3 3 3 4 3 4 4 4 3 4 3 3,5 3 4 4 3 5 4 3 3 4 4 3,7 4 4 3 5 4 3 3 4 4 5 3,9 Konsep 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 3 4 4 3 4 3 3 4 3 4 Ratarata 3,5 Konsep 3 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 4 4 4 3 4 3 3 4 3 4 Ratarata 3,6

4 5 4 3 4 4 3 3 4 2 3 2 1 2 2 3 2 3

4 2

3,8 2,2

3 3 4 3 4 4 4 4 3 5 4 4 4 5 3 5 4 4

4 5

3,6 4,3

Dari hasil rekapitulasi data kuesioner tahap kedua di atas, maka dapat ditentukan konsep produk mana yang paling baik yang nantinya akan dilanjutkan untuk dikembangkan dari segala aspek. Hasil seleksi metode penilaian konsep dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel 2.9 Hasil Seleksi Metode Penilaian Konsep Konsep Kriteria Seleksi Beban Rating Daya tahan spion Besarnya ukuran Desain spion Sistem keamanan spion Fleksibilitas Total Nilai Peringkat Lanjutkan? 10% 3 3,165 2 Tidak 0,3 3,5 3,26 1 Ya 0,68 20% 25% 30% 15% 3,5 3,8 2,2 3,7 1 3

Nilai Beban Rating Nilai Beban 0,7 0,95 0,66 0,555 3,6 3,6 4,3 3,9 0,72 0,74 0,67 0,45

Dilihat dari hasil survei kepada 10 responden kedua konsep tersebut, dan dari hasil perhitungan perolehan nilai bobot, maka dapat disimpulkan bahwa spion yang akan dilanjutkan untuk dikembangkan dari segala aspek yaitu konsep produk nomor 3, dengan kombinasi bentuk spion setengah elips, bentuk lampu sign LED berbentuk trapesium dan bentuk kaca zoom yang berbentuk lingkaran.

2.3.6 Pengujian Konsep Berdasarkan kuesioner tahap ketiga yang telah kami sebar kepada 10 orang responden, maka didapatkan rekapitulasi data seperti di bawah ini: Tabel 2.10 Hasil pengumpulan dan kuisioner pengujian konsep Tanggapan Saya pasti tidak akan membeli saya mungkin tidak akan membeli saya mungkin tidak membeli saya mungkin akan membeli saya pasti membeli Total Frequency 0 0 1 4 5 10 Percent 0 0 10 40 50 100 Valid Percent 0 0 10 40 50 100 Cummulative Percent 0 0 10 50 100

Diagram Pengujian Konsep


60 50 40 30 20 10 0 Saya saya saya saya saya pasti mungkin mungkin mungkin pasti tidak tidak tidak akan membeli akan akan membeli membeli membeli membeli

frekuensi (%)

Gambar 2.4 Diagram batang hasil pengujian konsep

Dari data tersebut didapatkan hasil Fdefinitely (proporsi responden dari survei yang memilih pasti akan membeli) adalah 0,5 dan Fprobably (proporsi responden survei yang memilih mungkin akan membeli) adalah 0,4. Pada Cdefinitely dan Cprobably merupakan nilai yang ditentukan berdasarkan pengalaman perusahaan. Dalam pemilihan Cdefinitely (responden pasti akan membeli produk tersebut) adalah 0,5 dan Cprobably (responden mungkin akan membeli produk tersebut) adalah 0,4. Dengan demikian, dapat diketahui nilai P yang merupakan probabilitas pelanggan pada target pasar untuk membeli produk pada periode yang ditentukan untuk 1 tahun mendatang. P = (Fdefinitely x Cdefinitely) + (Fprobably x Cprobably) P = (0,5 x 0,5) + (0,4 x 0,4) P = 0,41 Sehingga probabilitas peluang untuk menjangkau pasar dalam penjualan spion sign LED yaitu 41%. Dalam hal ini, membuktikan produk spion sign LED sangat diminati oleh masyarakat.

2.3.7 Diagram skema produk


Chasing

Lampu sign LED

Kaca Utama Spion

Kaca Zoom

Sensor Keamanan

Gambar 2.5 Skema spion sign LED

2.3.8 Gambar Virtual Prototype Produk

Gambar 2.6 Spion tampak depan

Gambar 2.7 Spion tampak belakang

Gambar 2.8 Spion tampak atas

Gambar 2.9 Spion tampak samping

LAPORAN PRAKTIKUM PSIT 1

MODUL 3 PERAMALAN

Kelompok Nama Kelas Asisten Kriteria Penilaian Format Laporan Isi Analisa TOTAL

D-3

Tgl. Praktikum

9 April 2013

: 3. Noormalita Irviana Hari Praktikum : Selasa 4. Rizky Destiana Hapsari Dikumpulkan tgl : 16 April 2013 : D Yogyakarta,.........................................2013 : P-16 Asisten : (maks. 20) : (maks. 40) : (maks. 40) (...................................) :

LABORATORIUM PSIT JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA 2013

BAB III PERAMALAN

3.1

Tujuan Praktikum 1. Mampu memprediksi kebutuhan/permintaan yang akan diperlukan dalam proses produksi. 2. Memahami tahapan dalam berbagai metode peramalan. 3. Mampu menentukan metode peramalan yang tepat.

3.2

Tugas Praktikum 2.3.4 Lakukan peramalan untuk produk yang akan dikembangkan untuk 5

periode kedepan dengan berbagai metode. Pilih hasil peramalan yang terbaik sebagai input untuk praktikum selanjutnya.

3.3

Output

1.3.1 Deskripsi Pasar dan Data Permintaan yang Didapatkan. Berdasarkan PIC yang telah dibuat pada modul 2, kami akan mengembangkan sebuah produk dari salah satu part eksterior yang ada dimobil yaitu spion. Spion ini berbeda dari yang lain karena spion ini memiliki lebih banyak fitur, diantaranya adalah lampu sign LED, kaca zoom dan alat sensor anti maling. Oleh karena itu, spion ini dirancang untuk meningkatkan keamanan dari mobil tersebut. Pasaran utama yang kami tuju adalah produsen mobil diseluruh Indonesia. Karena desain spion yang kami buat lebih aman dari spion yang sudah ada sebelumnya. Target pasar kedua yang kami tuju adalah dealer spare part resmi diseluruh Indonesia dan bengkel accessories mobil agar memudahkan para customer untuk mendapatkan produk kami. Dalam memproduksi suatu produk yang dalam studi kasus ini adalah spion, perusahaan harus memperhitungkan berapa jumlah spion yang harus diproduksi untuk memenuhi kebutuhan konsumen di masa yang akan datang sehingga produk-produk tersebut dapat dibuat dalam kuantitas yang tepat. Oleh karena itu, peramalan ini sangat dibutuhkan sebagai inputan bagi proses perencanaan produksi. Peramalan sendiri adalah menghitung seberapa banyak jumlah spion yang harus diproduksi berdasarkan jumlah spion yang telah diproduksi pada periode-periode

sebelumnya. Berikut ini adalah tabel jumlah produksi yang telah dilakukan oleh perusahaan selama 24 periode sebelumnya. Tabel 3.1 Data historis Periode Demand Periode Demand 1 9302 13 5651 2 7091 14 7481 3 6595 15 5652 4 7993 16 6078 5 6547 17 8908 6 6348 18 8208 7 9555 19 8974 8 9531 20 5907 9 5289 21 5241 10 5439 22 5570 11 8617 23 8749 12 9583 24 8730 1.3.2 Model Konstan Persamaan garis yang menggambarkan pola konstan adalah : Y(t) = a Nilai a dapat dihitung dengan rumus:

Dimana: a n : Nilai konstan : Jumlah periode peramalan

Y(t) : Data ke-t

Maka, nilai a dapat dihitung sebagai berikut:

Berikut ini merupakan hasil perhitungan peramalan data historis pada metode konstan: Tabel 3.2 Hasil peramalan data historis dengan metode konstan Periode 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 Demand 9302 7091 6595 7993 6547 6348 9555 9531 5289 5439 8617 9583 5651 7481 5652 6078 8908 8208 8974 5907 5241 5570 8749 8730 Peramalan

7376,625 7376,625 7376,625 7376,625 7376,625

Pada peramalan menggunakan metode konstan ini hasil yang didapat yaitu 7376,628. Karena ini menggunakan metode konstan, maka hasil prediksi untuk 5 periode ke depannya adalah sama yaitu 7376,628.

1.3.3 Model Regresi Persamaan garis yang mendekati bentuk data linier adalah: Y(t) = a + b(t) Konstanta a dan b ditentukan dari data mentah berdasarkan Kriteria Kuadrat Terkecil (least square criterion). Dimana a dan b dapat dihitung dengan rumus berikut:

Dari rumus yang telah dijabarkan di atas, maka persamaan dengan model regresi dapat dihitung seperti di bawah ini:

Maka persamaan regresi yang didapat adalah Y = 7600,728-17,928t Dari persamaan tersebut maka kita dapat menghitung peramalan untuk lima periode ke depan: Periode ke-25 = 7600,728-17,928 (25) = 7152,528 Periode ke-26 = 7600,728-17,928 (26) = 7134,6 Periode ke-27 = 7600,728-17,928 (27) = 7116, 672 Periode ke-28 = 7600,728-17,928 (28) = 7098,744 Periode ke-29 = 7600,728-17,928 (29) = 7080,816 Berikut ini merupakan hasil perhitungan peramalan data historis pada metode regresi linier:

Tabel 3.3 Hasil peramalan data historis dengan metode regresi linier Periode 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 Demand 9302 7091 6595 7993 6547 6348 9555 9531 5289 5439 8617 9583 5651 7481 5652 6078 8908 8208 8974 5907 5241 5570 8749 8730 Peramalan 7376,387 7376,408 7376,429 7376,45 7376,471 7376,492 7376,513 7376,534 7376,555 7376,576 7376,597 7376,618 7376,639 7376,66 7376,681 7376,702 7376,723 7376,744 7376,765 7376,786 7376,807 7376,828 7376,849 7376,87 7152,528 7134,6 7116, 672 7098,744 7080,816

1.3.4 Model Moving Average Forecasting a. Simple Moving Average Simple Moving Average menggunakan data yang sedang diobservasi tambah data sebelum observasi. Misalnya, menggunakan 5 periode moving average, maka forecasting menggunakan data periode ke-5 dan 4 data periode sebelumnya. Simple Moving average (SMAt) =

Dari rumus yang telah dijabarkan di atas, maka persamaan dengan model Simple Moving Average 3 periode dapat dihitung seperti di bawah ini: Periode ke-4 Periode ke-5 Periode ke-6 Dan seterusnya hingga pada periode ke-25. Sedangkan untuk periode ke-26 sampai periode ke-29 diasumsikan sama dengan hasil dari periode ke-25. Berikut ini merupakan hasil perhitungan peramalan data historis pada metode simple moving average 3 periode: = 7662,6667

Tabel 3.4 Hasil peramalan data historis dengan metode simple moving average 3 periode Periode Demand SMA 1 9302 2 7091 3 6595 4 7993 7662,6667 5 6547 7226,3333 6 6348 7045 7 9555 6962,6667 8 9531 7483,3333 9 5289 8478 10 5439 8125 11 8617 6753 12 9583 6448,3333 13 5651 7879,6667 14 7481 7950,3333 15 5652 7571,6667 16 6078 6261,3333 17 8908 6403,6667 18 8208 6879,3333 19 8974 7731,3333 20 5907 8696,6667 21 5241 7696,3333 22 5570 6707,3333 23 8749 5572,6667 24 8730 6520

Periode Demand 25 26 27 28 29

SMA 7683 7683 7683 7683 7683

Sedangkan, persamaan dengan model Simple Moving Average 5 periode dapat dihitung seperti di bawah ini: Periode ke-6 Periode ke-7 Periode ke-8 Dan seterusnya hingga pada periode ke-25. Sedangkan untuk periode ke-26 sampai periode ke-29 diasumsikan sama dengan hasil dari periode ke-25. Berikut ini merupakan hasil perhitungan peramalan data historis pada metode simple moving average 5 periode:

Tabel 3.5 Hasil peramalan data historis dengan metode simple moving average 5 periode Periode 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Demand 9302 7091 6595 7993 6547 6348 9555 9531 5289 5439 8617 9583 5651 7481 5652 6078 8908 SMA

7505,6 6914,8 7407,6 7994,8 7454 7232,4 7686,2 7691,8 6915,8 7354,2 7396,8 6889

Periode 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 b. Centered Moving Average

Demand 8208 8974 5907 5241 5570 8749 8730

SMA 6754 7265,4 7564 7615 7447,6 6780 6888,2 6839,4 6839,4 6839,4 6839,4 6839,4

Perbedaan utama antara Simple Moving Average dan Centered Moving Average terletak pada pemilihan observasi yang digunakan. Center berarti rataan antara data sekarang dengan menggunakan data sebelumnya dan data sesudahnya.

Misalnya untuk 5 periode moving average, maka SMA menggunakan data periode 3 ditambah data sebelumnya dan data sesudahnya CMAt = Dari rumus yang telah dijabarkan di atas, maka persamaan dengan model Centered Moving Average 3 periode dapat dihitung seperti di bawah ini: Periode ke-2 Periode ke-3 Periode ke-4 Dan seterusnya hingga pada periode ke-23. Sedangkan untuk periode ke-24 sampai periode ke-29 diasumsikan sama dengan hasil dari periode ke-23. Berikut ini merupakan hasil perhitungan peramalan data historis pada metode centered moving average 3 periode: = 7662,6667

Tabel 3.6 Hasil peramalan data historis dengan metode centered moving average 3 periode Periode Demand CMA 1 9302 2 7091 7662,6667 3 6595 7226,3333 4 7993 7045 5 6547 6962,6667 6 6348 7483,3333 7 9555 8478 8 9531 8125 9 5289 6753 10 5439 6448,3333 11 8617 7879,6667 12 9583 7950,3333 13 5651 7571,6667 14 7481 6261,3333 15 5652 6403,6667 16 6078 6879,3333 17 8908 7731,3333 18 8208 8696,6667 19 8974 7696,3333 20 5907 6707,3333 21 5241 5572,6667 22 5570 6520 23 8749 7683 24 8730 7683 25 7683 26 7683 27 7683 28 7683 29 7683 Sedangkan, persamaan dengan model Centered Moving Average 5 periode dapat dihitung seperti di bawah ini: Periode ke-3 Periode ke-4 Periode ke-5

Dan seterusnya hingga pada periode ke-22. Sedangkan untuk periode ke-23 sampai periode ke-29 diasumsikan sama dengan hasil dari periode ke-22. Berikut ini merupakan hasil perhitungan peramalan data historis pada metode centered moving average 5 periode:

Tabel 3.7 Hasil peramalan data historis dengan metode centered moving average 5 periode Periode 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 Demand 9302 7091 6595 7993 6547 6348 9555 9531 5289 5439 8617 9583 5651 7481 5652 6078 8908 8208 8974 5907 5241 5570 8749 8730 CMA

7505,6 6914,8 7407,6 7994,8 7454 7232,4 7686,2 7691,8 6915,8 7354,2 7396,8 6889 6754 7265,4 7564 7615 7447,6 6780 6888,2 6839,4 6839,4 6839,4 6839,4 6839,4 6839,4 6839,4 6839,4

1.3.5 Model Exponential Smoothing Forecasting Model Exponential Smoothing digunakan untuk peramalan jangka pendek.

Keterangan: Ft+1 : Ramalan untuk periode berikutnya Dt : Demand actual pada periode t Ft : Peramalan yang ditentukan sebelumnya untuk periode t : Faktor bobot, besar, smoothing yang dilakukan kecil dan sebaliknya Penetapan nilai konstanta memiliki andil yang penting dalam menghasilkan hasil ramalan yang valid. Dari rumus yang telah dijabarkan di atas, maka peramalan dengan model Exponential Smoothing Forecasting dapat dihitung seperti di bawah ini: Periode ke-2 = Demand pada periode ke-1 Periode ke-3 = Periode ke-4 = Periode ke-5 = = 0,2 x 7091 + (1 - 0.2) 9302 = 8859,8 = 0,2 x 6595 + (1 - 0.2) 8859,8 = 8406,84 = 0,2 x 7993 + (1 - 0.2) 8406,84 = 8324,072

Dan seterusnya hingga pada periode ke-24. Sedangkan untuk periode ke-25 sampai periode ke-29 diasumsikan sama dengan hasil dari periode ke-24. Berikut ini merupakan hasil perhitungan peramalan data historis pada metode Exponenstial Smoothing:

Tabel 3.8 Hasil peramalan data historis dengan metode Exponential Smoothing Periode Demand Peramalan 1 9302 2 7091 9302 3 6595 8859,8 4 7993 8406,84 5 6547 8324,072 6 6348 7968,6576 7 9555 7644,5261 8 9531 8026,6209 9 5289 8327,4967 10 5439 7719,7974 11 8617 7263,6379 12 9583 7534,3103

Periode Demand Peramalan 13 5651 7944,0482 14 7481 7485,4386 15 5652 7484,5509 16 6078 7118,0407 17 8908 6910,0326 18 8208 7309,626 19 8974 7489,3008 20 5907 7786,2407 21 5241 7410,3925 22 5570 6976,514 23 8749 6695,2112 24 8730 7105,969 25 7105,969 26 7105,969 27 7105,969 28 7105,969 29 7105,969 2.3.9 Perbandingan Model Perhitungan Di atas telah dijabarkan tentang perhitungan dengan menggunakan model time series yang terdiri dari empat model, yaitu: model konstan, model regresi linier, model moving average dan model exponential smoothing. Setiap model perhitungan telah diketahui data permintaan (demand) pada 24 periode sebelumnya dan dari demand tersebut akan didapatkan peramalan (forecasting) untuk periode selanjutnya. Dalam meramalkan suatu permintaan kita juga perlu menghitung besar kesalahan (forecast error) dari perbedaan atau selisih antara nilai aktual dan nilai ramalan. Keakuratan suatu model peramalan bergantung pada seberapa dekat nilai hasil peramalan terhadap nilai data yang sebenarnya. Dimana kesalahan (forecast error) tersebut nantinya akan dikumulatifkan guna untuk membandingkan tiap hasil dari perhitungan empat model diatas. Jumlah kesalahan (forecast error) tersebut disebut dengan CFE (Cumulatif Forecast Error). Selain menjumlahkan kesalahan-kesalahan absolute, kita perlu menghitung Rerata Simpangan Absolut (Mean Absolute Deviation/MAD) untuk mengukur keakuratan peramalan dengan mererata besaran dari kesalahan meramal atau nilai absolut dari masing-masing kesalahan. Pembagian dari CFE dan MAD yang didapat disebut dengan Tracking Signal. Dengan melihat nilai tracking signal

nantinya akan dapat dilihat periode yang keluar dari batas kontrol. Batas kontrol yang ditetapkan adalah 4 untuk UCL dan -4 untuk LCL. Berikut merupakan tabel perhitungannya:

Tabel 3.9 Hasil perhitungan metode konstan Periode Demand Peramalan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 9302 7091 6595 7993 6547 6348 9555 9531 5289 5439 8617 9583 5651 7481 5652 6078 8908 8208 8974 5907 5241 5570 8749 8730 7376,63 7376,63 7376,63 7376,63 7376,63 7376,63 7376,63 7376,63 7376,63 7376,63 7376,63 7376,63 7376,63 7376,63 7376,63 7376,63 7376,63 7376,63 7376,63 7376,63 7376,63 7376,63 7376,63 7376,63 FE 1925,38 -285,63 -781,63 616,38 -829,63 -1028,63 2178,38 2154,38 -2087,63 -1937,63 1240,38 2206,38 -1725,63 104,38 -1724,63 -1298,63 1531,38 831,38 1597,38 -1469,63 -2135,63 -1806,63 1372,38 1353,38 CFE 1925,38 1639,75 858,13 1474,50 644,88 -383,75 1794,63 3949,00 1861,38 -76,25 1164,13 3370,50 1644,88 1749,25 24,63 -1274,00 257,38 1088,75 2686,13 1216,50 -919,13 -2725,75 -1353,38 0,00 AD 1925,38 285,63 781,63 616,38 829,63 1028,63 2178,38 2154,38 2087,63 1937,63 1240,38 2206,38 1725,63 104,38 1724,63 1298,63 1531,38 831,38 1597,38 1469,63 2135,63 1806,63 1372,38 1353,38 CAD 1925,38 2211,00 2992,63 3609,00 4438,63 5467,25 7645,63 9800,00 11887,63 13825,25 15065,63 17272,00 18997,63 19102,00 20826,63 22125,25 23656,63 24488,00 26085,38 27555,00 29690,63 31497,25 32869,63 34223,00 MAD 1925,38 1105,50 997,54 902,25 887,73 911,21 1092,23 1225,00 1320,85 1382,53 1369,60 1439,33 1461,36 1364,43 1388,44 1382,83 1391,57 1360,44 1372,91 1377,75 1413,84 1431,69 1429,11 1425,96 TS 1,00 1,48 0,86 1,63 0,73 -0,42 1,64 3,22 1,41 -0,06 0,85 2,34 1,13 1,28 0,02 -0,92 0,18 0,80 1,96 0,88 -0,65 -1,90 -0,95 0,00

Diagram TS Metode Konstan


6 4 2 0 -2 -4 -6 TS UCL LCL 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

Gambar 1. Diagram tracking signal metode konstan

Terlihat dari tabel perhitungan metode konstan di atas MAD yang dihasilkan yaitu sebesar 1425,96 dan dari gambar tracking signal di atas menunjukkan bahwa tidak ada tracking signal yang out of control.

Tabel 3.10 Hasil perhitungan metode regresi linier Periode Demand Peramalan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 9302 7091 6595 7993 6547 6348 9555 9531 5289 5439 8617 9583 5651 7481 5652 6078 8908 8208 7582,80 7564,87 7546,94 7529,02 7511,09 7493,16 7475,23 7457,30 7439,38 7421,45 7403,52 7385,59 7367,66 7349,74 7331,81 7313,88 7295,95 7278,02 FE 1719,20 -473,87 -951,94 463,98 -964,09 -1145,16 2079,77 2073,70 -2150,38 -1982,45 1213,48 2197,41 -1716,66 131,26 -1679,81 -1235,88 1612,05 929,98 CFE 1719,20 1245,33 293,38 757,37 -206,72 -1351,88 727,89 2801,58 651,21 -1331,24 -117,76 2079,65 362,98 494,25 -1185,56 -2421,44 -809,39 120,58 AD 1719,20 473,87 951,94 463,98 964,09 1145,16 2079,77 2073,70 2150,38 1982,45 1213,48 2197,41 1716,66 131,26 1679,81 1235,88 1612,05 929,98 CAD 1719,20 2193,07 3145,02 3609,00 4573,09 5718,25 7798,02 9871,71 12022,09 14004,54 15218,02 17415,42 19132,09 19263,35 20943,16 22179,04 23791,09 24721,06 MAD 1719,20 1096,54 1048,34 902,25 914,62 953,04 1114,00 1233,96 1335,79 1400,45 1383,46 1451,29 1471,70 1375,95 1396,21 1386,19 1399,48 1373,39 TS 1,00 1,14 0,28 0,84 -0,23 -1,42 0,65 2,27 0,49 -0,95 -0,09 1,43 0,25 0,36 -0,85 -1,75 -0,58 0,09

Periode Demand Peramalan FE 19 8974 7260,10 1713,90 20 5907 7242,17 -1335,17 21 5241 7224,24 -1983,24 22 5570 7206,31 -1636,31 23 8749 7188,38 1560,62 24 8730 7170,46 1559,54

CFE 1834,49 499,32 -1483,92 -3120,23 -1559,62 -0,07

AD 1713,90 1335,17 1983,24 1636,31 1560,62 1559,54

CAD 26434,97 27770,14 29753,38 31389,69 32950,30 34509,85

MAD 1391,31 1388,51 1416,83 1426,80 1432,62 1437,91

TS 1,32 0,36 -1,05 -2,19 -1,09 0,00

Diagram TS Metode Regresi Linear


5 4 3 2 1 0 -1 -2 -3 -4 -5

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

TS

UCL

LCL

Gambar 2. Diagram tracking signal metode regresi linear

Terlihat dari tabel perhitungan metode regresi linear di atas MAD yang dihasilkan sebesar 1437,91 dan pada gambar tracking signal di atas menunjukkan bahwa tidak ada tracking signal yang out of control.

Tabel 3.11 Hasil perhitungan metode simple moving average 3 periode Periode Demand Peramalan 1 2 3 4 5 6 7 8 9302 7091 6595 7993 6547 6348 9555 9531 FE CFE AD CAD MAD TS

7.663 7.226 7.045 6.963 7.483

330,33 -679,33 -697,00 2592,33 2047,67

330,33 330,33 -349,00 679,33 -1046,00 697,00 1546,33 2592,33 3594,00 2047,67

330,33 1009,67 1706,67 4299,00 6346,67

330,33 504,83 568,89 1074,75 1269,33

1,00 -0,69 -1,84 1,44 2,83

Periode Demand Peramalan 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 5289 5439 8617 9583 5651 7481 5652 6078 8908 8208 8974 5907 5241 5570 8749 8730 8.478 8.125 6.753 6.448 7.880 7.950 7.572 6.261 6.404 6.879 7.731 8.697 7.696 6.707 5.573 6.520

FE -3189,00 -2686,00 1864,00 3134,67 -2228,67 -469,33 -1919,67 -183,33 2504,33 1328,67 1242,67 -2789,67 -2455,33 -1137,33 3176,33 2210,00

CFE 405,00 -2281,00 -417,00 2717,67 489,00 19,67 -1900,00 -2083,33 421,00 1749,67 2992,33 202,67 -2252,67 -3390,00 -213,67 1996,33

AD 3189,00 2686,00 1864,00 3134,67 2228,67 469,33 1919,67 183,33 2504,33 1328,67 1242,67 2789,67 2455,33 1137,33 3176,33 2210,00

CAD 9535,67 12221,67 14085,67 17220,33 19449,00 19918,33 21838,00 22021,33 24525,67 25854,33 27097,00 29886,67 32342,00 33479,33 36655,67 38865,67

MAD 1589,28 1745,95 1760,71 1913,37 1944,90 1810,76 1819,83 1693,95 1751,83 1723,62 1693,56 1758,04 1796,78 1762,07 1832,78 1850,75

TS 0,25 -1,31 -0,24 1,42 0,25 0,01 -1,04 -1,23 0,24 1,02 1,77 0,12 -1,25 -1,92 -0,12 1,08

Diagram TS Metode MA SMA 3 Periode


6,00 4,00 2,00 0,00 -2,00 -4,00 -6,00 TS UCL LCL 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21

Gambar 3. Diagram tracking signal metode simple moving average 3 periode

Terlihat dari tabel perhitungan metode simple moving average 3 periode di atas MAD yang dihasilkan yaitu sebesar 1850,75 dan dari gambar tracking signal di atas menunjukkan bahwa tidak ada tracking signal yang out of control.

Tabel 3.12 Hasil perhitungan metode simple moving average 5 periode Periode Demand Peramalan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 9302 7091 6595 7993 6547 6348 9555 9531 5289 5439 8617 9583 5651 7481 5652 6078 8908 8208 8974 5907 5241 5570 8749 8730 FE CFE AD CAD MAD TS

7505,6 6914,8 7407,6 7994,8 7454 7232,4 7686,2 7691,8 6915,8 7354,2 7396,8 6889 6754 7265,4 7564 7615 7447,6 6780 6888,2

-1157,6 2640,2 2123,4 -2705,8 -2015 1384,6 1896,8 -2040,8 565,2 -1702,2 -1318,8 2019 1454 1708,6 -1657 -2374 -1877,6 1969 1841,8

-1157,6 1482,6 3606 900,2 -1114,8 269,8 2166,6 125,8 691 -1011,2 -2330 -311 1143 2851,6 1194,6 -1179,4 -3057 -1088 753,8

1157,6 2640,2 2123,4 2705,8 2015 1384,6 1896,8 2040,8 565,2 1702,2 1318,8 2019 1454 1708,6 1657 2374 1877,6 1969 1841,8

1157,6 3797,8 5921,2 8627 10642 12026,6 13923,4 15964,2 16529,4 18231,6 19550,4 21569,4 23023,4 24732 26389 28763 30640,6 32609,6 34451,4

1157,6 1898,9 1973,73 2156,75 2128,4 2004,43 1989,06 1995,53 1836,6 1823,16 1777,31 1797,45 1771,03 1766,57 1759,27 1797,69 1802,39 1811,64 1813,23

-1 0,78 1,83 0,42 -0,52 0,13 1,09 0,06 0,38 -0,55 -1,31 -0,17 0,65 1,61 0,68 -0,66 -1,7 -0,6 0,42

Diagram TS Metode MA SMA 5 Periode


6 4 2 0 -2 -4 -6 TS UCL LCL 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19

Gambar 4. Diagram tracking signal metode simple moving average 5 periode

Terlihat dari tabel perhitungan metode simple moving average 5 periode di atas MAD yang dihasilkan yaitu sebesar 1813,23 dan dari gambar tracking signal di atas menunjukkan bahwa tidak ada tracking signal yang out of control.

Tabel 3.13 Hasil perhitungan metode centered moving average 3 periode Periode Demand Peramalan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 9302 7091 6595 7993 6547 6348 9555 9531 5289 5439 8617 9583 5651 7481 5652 6078 FE CFE AD CAD MAD TS

7.663 7.226 7.045 6.963 7.483 8.478 8.125 6.753 6.448 7.880 7.950 7.572 6.261 6.404 6.879

-571,7 -631,3 948,0 -415,7 -1135,3 1077,0 1406,0 -1464,0 -1009,3 737,3 1632,7 -1920,7 1219,7 -751,7 -801,3

-571,67 -1203,00 -255,00 -670,67 -1806,00 -729,00 677,00 -787,00 -1796,33 -1059,00 573,67 -1347,00 -127,33 -879,00 -1680,33

571,67 631,33 948,00 415,67 1135,33 1077,00 1406,00 1464,00 1009,33 737,33 1632,67 1920,67 1219,67 751,67 801,33

571,67 1203,00 2151,00 2566,67 3702,00 4779,00 6185,00 7649,00 8658,33 9395,67 11028,33 12949,00 14168,67 14920,33 15721,67

571,67 601,50 717,00 641,67 740,40 796,50 883,57 956,13 962,04 939,57 1002,58 1079,08 1089,90 1065,74 1048,11

-1,00 -2,00 -0,36 -1,05 -2,44 -0,92 0,77 -0,82 -1,87 -1,13 0,57 -1,25 -0,12 -0,82 -1,60

Periode Demand Peramalan 17 18 19 20 21 22 23 24 8908 8208 8974 5907 5241 5570 8749 8730 7.731 8.697 7.696 6.707 5.573 6.520 7.683 7.683

FE 1176,7 -488,7 1277,7 -800,3 -331,7 -950,0 1066,0 1047,0

CFE -503,67 -992,33 285,33 -515,00 -846,67 -1796,67 -730,67 316,33

AD 1176,67 488,67 1277,67 800,33 331,67 950,00 1066,00 1047,00

CAD 16898,33 17387,00 18664,67 19465,00 19796,67 20746,67 21812,67 22859,67

MAD 1056,15 1022,76 1036,93 1024,47 989,83 987,94 991,48 993,90

TS -0,48 -0,97 0,28 -0,50 -0,86 -1,82 -0,74 0,32

Diagram TS Metode MA CMA 3 Periode


6,00 4,00 2,00 0,00 -2,00 -4,00 -6,00 TS UCL LCL 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23

Gambar 5. Diagram tracking signal metode centered moving average 3 periode

Terlihat dari tabel perhitungan metode centered moving average 3 periode di atas MAD yang dihasilkan yaitu sebesar 993,90 dan dari gambar tracking signal di atas menunjukkan bahwa tidak ada tracking signal yang out of control.

Tabel 3.14 Hasil perhitungan metode centered moving average 5 periode

Periode 1 2 3

Demand Peramalan 9302 7091 6595

FE

CFE

AD

CAD

MAD

TS

7505,6

-910,6

-910,6

910,6

910,6

910,60

-1,00

Periode 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

Demand Peramalan 7993 6547 6348 9555 9531 5289 5439 8617 9583 5651 7481 5652 6078 8908 8208 8974 5907 5241 5570 8749 8730 6914,8 7407,6 7994,8 7454,0 7232,4 7686,2 7691,8 6915,8 7354,2 7396,8 6889,0 6754,0 7265,4 7564,0 7615,0 7447,6 6780,0 6888,2 6839,4 6839,4 6839,4

FE 1078,2 -860,6 -1646,8 2101,0 2298,6 -2397,2 -2252,8 1701,2 2228,8 -1745,8 592,0 -1102,0 -1187,4 1344,0 593,0 1526,4 -873,0 -1647,2 -1269,4 1909,6 1890,6

CFE 167,6 -693 -2339,8 -238,8 2059,8 -337,4 -2590,2 -889 1339,8 -406 186 -916 -2103,4 -759,4 -166,4 1360 487 -1160,2 -2429,6 -520 1370,6

AD 1078,2 860,6 1646,8 2101 2298,6 2397,2 2252,8 1701,2 2228,8 1745,8 592 1102 1187,4 1344 593 1526,4 873 1647,2 1269,4 1909,6 1890,6

CAD 1988,8 2849,4 4496,2 6597,2 8895,8 11293 13545,8 15247 17475,8 19221,6 19813,6 20915,6 22103 23447 24040 25566,4 26439,4 28086,6 29356 31265,6 33156,2

MAD 994,40 949,80 1124,05 1319,44 1482,63 1613,29 1693,23 1694,11 1747,58 1747,42 1651,13 1608,89 1578,79 1563,13 1502,50 1503,91 1468,86 1478,24 1467,80 1488,84 1507,10

TS 0,17 -0,73 -2,08 -0,18 1,39 -0,21 -1,53 -0,52 0,77 -0,23 0,11 -0,57 -1,33 -0,49 -0,11 0,90 0,33 -0,78 -1,66 -0,35 0,91

Diagram TS Metode MA CMA 5 Periode


6,00 4,00 2,00 0,00 -2,00 -4,00 -6,00 TS UCL LCL 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22

Gambar 6. Diagram tracking signal metode centered moving average 5 periode

Terlihat dari tabel perhitungan metode centered moving average 3 periode di atas MAD yang dihasilkan yaitu sebesar 1507, 10 dan dari gambar tracking signal di atas menunjukkan bahwa tidak ada tracking signal yang out of control.

Tabel 3.15 Hasil perhitungan metode Exponential Smoothing Periode Demand Peramalan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 17 18 19 20 21 22 23 24 9302 7091 6595 7993 6547 6348 9555 9531 5289 5439 8617 9583 5651 7481 5652 8908 8208 8974 5907 5241 5570 8749 8730 FE CFE AD CAD MAD TS

9302,00 8859,80 8406,84 8324,07 7968,66 7644,53 8026,62 8327,50 7719,80 7263,64 7534,31 7944,05 7485,44 7484,55 6910,03 7309,63 7489,30 7786,24 7410,39 6976,51 6695,21 7105,97

-2211,00 -2264,80 -413,84 -1777,07 -1620,66 1910,47 1504,38 -3038,50 -2280,80 1353,36 2048,69 -2293,05 -4,44 -1832,55 1997,97 898,37 1484,70 -1879,24 -2169,39 -1406,51 2053,79 1624,03

-2211,00 -4475,80 -4889,64 -6666,71 -8287,37 -6376,90 -4872,52 -7911,01 -10191,81 -8838,45 -6789,76 -9082,81 -9087,25 -10919,80 -9961,87 -9063,50 -7578,80 -9458,04 -11627,43 -13033,94 -10980,16 -9356,12

2.211,00 2.264,80 413,84 1.777,07 1.620,66 1.910,47 1.504,38 3.038,50 2.280,80 1.353,36 2.048,69 2.293,05 4,44 1.832,55 1.997,97 898,37 1.484,70 1.879,24 2.169,39 1.406,51 2.053,79 1.624,03

2211,00 4475,80 4889,64 6666,71 8287,37 10197,84 11702,22 14740,72 17021,52 18374,88 20423,57 22716,62 22721,06 24553,61 27591,61 28489,99 29974,69 31853,93 34023,32 35429,83 37483,62 39107,65

1105,50 1491,93 1222,41 1333,34 1381,23 1456,83 1462,78 1637,86 1702,15 1670,44 1701,96 1747,43 1622,93 1636,91 1623,04 1582,78 1577,62 1592,70 1620,16 1610,45 1629,72 1629,49

-2,00 -3,00 -4,00 -5,00 -6,00 -4,38 -3,33 -4,83 -5,99 -5,29 -3,99 -5,20 -5,60 -6,67 -6,14 -5,73 -4,80 -5,94 -7,18 -8,09 -6,74 -5,74

Diagram TS Metode Exponential Smoothing


6 4 2 0 -2 -4 -6 -8 -10 TS UCL LCL 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23

Gambar 7. Diagram tracking signal metode exponential smoothing

Terlihat dari tabel perhitungan metode centered moving average 5 periode di atas MAD yang dihasilkan yaitu sebesar 1629,49 dan dari gambar tracking signal di atas menunjukkan bahwa banyak tracking signal yang out of control. Rincian perhitungan dari setiap metode diatas dapat dirangkum hanya dengan melihat pada hasil prediksi, MAD dan Tracking Signal agar dalam perbandingan antar metode tersebut mudah dibaca, yaitu sebagai berikut:

Tabel 3.16 Rincian hasil perhitungan dari ke-empat model No 1 Model Konstan Prediksi MAD 7376,63 7376,63 7376,63 1425,96 7376,63 7376,63 7376,89 7376,91 7376,93 1437,91 7376,95 7376,98 7683 7683 7683 1850,75 TS Nilai TS

Regresi Linear

3 a

Moving Average SMA (3)

No

Model

SMA(5)

CMA(3)

CMA(5)

Exponential Smoothing

Prediksi MAD TS 7683 7683 6839,4 6839,4 6839,4 1813,23 6839,4 6839,4 7683 7683 993,90 7683 7683 7683 6839,4 6839,4 6839,4 1507,90 6839,4 6839,4 7105,97 periode ke - 5 7105,97 periode ke - 6 7105,97 periode ke - 7 7105,97 periode ke - 9 7105,97 periode ke - 10 periode ke - 11 periode ke - 13 periode ke - 14 periode ke - 15 1629,49 periode ke - 16 periode ke - 17 periode ke - 18 periode ke - 19 periode ke - 20 periode ke - 21 periode ke - 22 periode ke - 23 periode ke - 24

Nilai TS

-5,000 -6,000 -4,377 -4,830 -5,988 -5,291 -5,198 -5,599 -6,671 -7,477 -6,138 -5,726 -4,804 -5,938 -7,177 -8,093 -6,737 -5,742

2.3.10 Kesimpulan Dengan melihat perbandingan dari beberapa metode yang telah dilakukan yaitu dengan melihat nilai MAD dan tracking signal, dapat diketahui metode yang paling

baik untuk melakukan peramalan pada kasus di atas. Perbandingan pertama untuk menentukan metode terbaik adalah dengan melihat nilai MAD masing-masing metode yang mendekati nol. Hasil yang didapat adalah pada metode Centered Moving Average dengan 3 periode menghasilkan nilai MAD terkecil dibandingkan dengan metode lainnya, yaitu sebesar 993,90. Setelah membandingkan nilai MAD, maka yang harus diperhatikan adalah melihat tracking signal yang tidak keluar batas kendali yang ditetapkan, yaitu antara 4 dan -4. Karena pada metode Centered Moving Average 3 periode tidak ada nilai tracking signal yang keluar batas kendali, maka metode Centered Moving Average 3 periode adalah metode terbaik yang dapat digunakan untuk peramalan sesuai pola data pada kasus ini.

LAPORAN PRAKTIKUM PSIT 1

MODUL 4 PERENCANAAN PROSES

Kelompok Nama Kelas Asisten Kriteria Penilaian Format Laporan Isi Analisa TOTAL

D-3

Tgl. Praktikum

16 April 2013

: 5. Noormalita Irviana Hari Praktikum : Selasa 6. Rizky Destiana Hapsari Dikumpulkan tgl : 23 April 2013 : D Yogyakarta,.........................................2013 : P-16 Asisten : (maks. 20) : (maks. 40) : (maks. 40) (...................................) :

LABORATORIUM PSIT JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA 2013

BAB IV PERENCANAAN PROSES


2.4 Tujuan Praktikum 2.3.1 2.3.2 2.3.3 Memahami proses pembuatan sebuah produk. Memahami proses perakitan sebuah produk. Mampu merancang Bill Of Material dari sebuah produk.

2.3.4 Mampu merancang Operation Process Chart (OPC) dari sebuah produk. 2.3.5 Mampu merancang Assembly Chart (AC) dari sebuah produk.

2.3.6 Mengerti dan memahami penggunaan mesin-mesin dalam melakukan proses produksi.

2.5 Tugas Praktikum 2.3.1 Membuat Struktur Produk dan Bill of Material dari prototype mobil (Tamiya) berdasarkan informasi jenis dan jumlah komponen penyusun keseluruhan. 2.3.2 Membuat Assembly Chart berdasarkan dari hasil tugas satu di atas. 2.3.3 Membuat Operation Process Chart untuk komponen yang telah ditentukan.

2.6 Output 1.3.1 Struktur Produk

TAMIYA

LEVEL 0

LEVEL 1 BODY BAWAH (1) BODY ATAS (1) LOCK BODY (1)

CHASIS (1)

RANGKAIAN DEPAN (1)

RANGKAIAN BE;AKANG (1)

GIR 4WD (1)

RANGKAIAN DINAMO (1)

RANGKAIA N SAKLAR (1)

TUTUP BATERAI (1)

LEVEL 2

BAMPER (2)

RODA (2)

BAMPER (2)

RODA (2)

ELEMEN DINAMO (1)

GIR DINAMO (1)

RUMAH DINAMO (1)

TUTUP DINAMO (1)

ELEMEN SAKLAR (1)

LEMPENGAN TEMBAGA (1)

TUTUP SAKLAR (1)

LEVEL 3

ELEMEN BAMPER (1)

BAUT (2)

BAUT ROLLER (2)

BANTALAN ROLLER (2)

ROLLER (2)

RING (2)

MUR (2)

BAN (2)

VELG (2)

AXLE (1)

GIR (1)

ELEMEN BAMPER (1)

BAUT (2)

BAUT ROLLER (2)

BANTALAN ROLLER (2)

ROLLER (2)

RING (2)

MUR (2)

BAN (2)

VELG (2)

AXLE (1)

GIR (1)

LEVEL 4

Gambar 1. Struktur produk tamiya

1.3.2 Bill Of Material

Tabel 3.1 Bill of Material tamiya No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 No Komponen 001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 011 012 013 014 015 016 017 018 019 020 021 022 023 024 025 026 027 Nama Komponen Tamiya Body bawah Chasis Rangkaian depan Bamper Elemen bamper Baut Baut roller Bantalan Roller Roller Ring Mur Roda Ban Velg Axle Gear Rangkaian Belakang Bamper Elemen bamper Baut Baut roller Bantalan Roller Roller Ring Mur Roda Gambar Level 0 1 2 2 3 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 2 3 4 4 4 4 4 4 4 3 Quantity 1 1 1 1 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 1 2 1 2 2 2 2 2 2 2

No 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44

No Komponen 028 029 030 031 032 033 034 035 036 037 038 039 040 041 042 043 044

Nama Komponen Ban Velg Axle Gear Gear 4 WD Rangkaian Dinamo Elemen dinamo Gir dinamo Rumah dinamo Tutup dinamo Rangkaian saklar Elemen saklar Lempengan tembaga Tutup saklar Tutup baterai Body atas Lock body

Gambar

Level 4 4 4 4 2 2 3 3 3 3 2 3 3 3 2 1 1

Quantity 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

1.3.3 Assembly Chart

Gambar 2. Assembly chart tamiya

1.3.4 Operation Process Chart

Gambar 3. Operation process chart tamiya

1.4 Analisa 1.4.1 Bill of Material Dalam pembuatan suatu produk tamiya, tamiya yang di dalam struktur produk berada pada level 0. Pada struktur produk penyusun, terdapat tiga bagian yang utamayang menyusun produk tamiya tersebut, yaitu body bawah, body atas, dan lock body. Bagian penyusun pertama adalah body bawah yang berlevel 1, pada bagian ini terdapat tujuh komponen yang akan menyusun body bawah suatu tamiyaKomponen pertama adalah chasis yang berjumlah 1,rangkaian depan, rangkaian belakang, Gear 4WD, rangkaian dinamo, rangkaian saklar, dan tutup baterai yang berlevel 2. Bagian penyusun rangkaian depan disusun oleh bamper dan roda. Pada bagian bamper, terdapat elemen bamper yang berjumlah 1, baut, baut untuk roller, bantalan roller, roller ring, dan mur yang masing-masing berjumlah 2 buah dan berlevel 4. Pada bagian roda, terdapat empat komponen penyusun pada level 4 yaitu ban, dan velg yang masing-masing berjumlah 2, axle yang berjumlah 1 dan gir yang berjumlah 1. Sama halnya dengan komponen penyusun rangkaian depan, rangkaian belakang juga memiliki 2 bagian penyusun yaitu ban bamper dan roda yang masing-masing memiliki komponen penyusun yang sama, namun pada rangkaian belakang, jenis bamper yang diguanakan beda dengan bamper yang digunakan pada rangkaian depan. Pada level 4, komponen dan jumlah komponen penyusun sama dengan jumlah pada rangkaian depan. Dalam pembuatan produk tamiya, tidak terlepas dari gear 4 WD, dalam struktur produk yang telah dibuat, maka gear 4WD berada pada level 3. Selanjutnya adalah bagian pada dinamo, yang memiliki 3 komponen penyusun, yaitu elemen dinamo, gear dinamo, rumah dinamo, dan tutup dinamo. Masing-masing berjumlah 1 dan berlevel 3. Bagian penyusun selanjutnya pada body bawah adalah rangkaian saklar yang memiliki 2 komponen penyusun, yaitu elemen saklar dan lempengan tembaga yang masing-masing berjumlah 1 dan berlevel 3. Bagian terakhir penyusun body bawah adalah tutup baterai yang berjumlah 1 dan berlevel 3. Pada level 2, selain pada bagian body bawah, terdapat body atas dan lock body. Body atas dan lock body masing-masing berjumlah 1. Setelah struktur produk dan bill of material dirakit, maka dapat dihasilkan satu produk tamiya.

1.4.2 Assembly Chart Berdasarkan Bill of Material yang telah ditentukan, maka dapat dibuat suatu produk tamiya dengan merakit komponen-komponen dari tamiya tersebut. Perakitan pertama dimulai dengan perakitan pada bagian bamper depan. Langkah pertama adalah melakukan assembly terhadap baut roller dan bantalan roller yang menghasilkan S19A yang selanjutnya di-assembly kembali dengan roller yang menghasilkan sub-assembly S18A. S18A di-assembly kembali ring yang

menghasilkan S17A. Langkah selanjutnya adalah melakukan assembly terhadap S17A dengan elemen bamper depan yang menghasilkan S16A. S16A di-assembly kembali dengan mur yang menghasilkan sub-assembly S15A. Setelah di-assembly dengan mur, langkah selanjutnya adalah assembly terhadap S15A dan baut yang menghasilkan subassembly S14A. Setelah bagian bamper depan selesai di-assembly, langkah berikutnya adalah melakukan assembly antara chasis dan rangkaian yang telah dibuat yang menghasilkan S13A. Setelah bagian bamper depan terpasang pada bagian chasis, maka langkah selanjutnya adalah melakukan assembly terhadap roda depan. Langkah pertama adalah mekakukan assembly terhadap gear dan axle yang menghasilkan sub-assembly S15A2 yang akan di assembly kembali dengan velg yang menghasilkan S14A2. Setelah itu, bagian ban di assembly dengan S14A2 yang menghasilkan sub-assembly S13A2. Setelah bagian roda depan terpasang, langkah selanjutnya adalah meng-assembly antara bagian roda depan dan bagian chasis yang telah di-assembly dengan bamper depan, yang menghasilkan sub-assembly S12A. Setelah melakukan assembly anatara chasis, bamper depan, dan roda depan, langkah berikutnya adalah melakukan assembly terhadap bagian pada bamper belakang. Sama halnya dengan bagian bamper depan, langkah pertama adalah mengassembly antara baut roller dan bantalan roller yang menghasilkan sub-assembly S17A2. Setelah itu, S17A2 di asssembly kembali dengan roller yang menghasilkan sub-assembly S16A2. Langkah selanjutnya adalah mekakukan assembly terhadap ring dan S16A2 yang menghasilkan S15A3. S15A3 di-assembly kembali elemen bamper belakang yang menghasilkan sub-assembly S14A3. S14A3 di-assembly kembali dengan mur yang menghasilkan sub-assembly S13A3. Dan langkah terakhir pada bagian bamper belakang adalah melakukan assembly antara S13A3 dengan baut yang menghasilkan sub-assembly S12A2. Setelah bagian bamper belakang terpasang, maka

di assembly kembali dengan bagian sebelumnya, yaitu chasis yang telah d assembly dengan roda depan dan bamper depan, yang menghasilkan assembly S11A. Sama halnya dengan bagian roda depan, maka roda belakang juga dilakukan assembly terhadap bagian-bagian roda belakang. Langkah pertama adalah meng-assembly komponen gear dan axle yang mengahsilkan sub-assembly S13A4 selanjutnya adalah assembly antara S13A4 dengan velg yang menghasilkan sub-assembly S12A3. Setelah velg terpasang, maka dilakukan assembly antara S12A3 dan ban yang menghasilkan sub-assembly S11A2. Langkah berikutnya adalah melakukan assembly antara roda belakang dan S11A yang menghasilkan S10A. Setelah bagian bamper dan roda depan dan belakang terpasang pada chasis, maka langkah selanjutnya adalah assembly anatara komponen gear 4WD dan S10A yang menghasilkan S9A. Pada bagian dinamo, langkah awal adalah assembly antara elemen dinamo itu sendiri dan gir dinamo yang menghasilkan S10A2 yang akan di-assembly kembali dengan rumah dinamo yang menghasilkan S9A2. Setelah bagian dinamo ipasang, maka langkah berikutnya adalah assembly terhadap bagian dinamo dan S9A yang menghasilkan S8A. Setelah bagian dinamo terpasang pada chasis da komponen lainnya maka langkah yang dilakukan berikutnya adalah memasang tutup dinamo pada bagian dinamo tersebut, yaitu assembly antara tutup dinamo dan S8A yang menghasilkan S7A. Langkah selanjutnya adalah melakukan assembly terhadap bagian saklar. Assembly pertama adalah antara S7A dan elemen saklar yang menghasilkan S6A yang akan di assembly kembali dengan lempengan tembaga yang menghasilkan S5A. Langkah berikutnya adalah meng-assembly tutup saklar dengan S5A yang menghasilkan S4A. Setelah bagian saklar terpasang, maka komponen yang di-assembly adalah tutup baterai dan S4A yang menghasilkan S3A yang di-assembly kembali dengan body atas yang menghasilkan S2A. Langkah terakhir adalah melakukan assembly terhadap lock body dengan sub-assembly sebelumnya yaitu S2A yang menghasilkan SA.

1.3.5 Operation Process Chart Operation Process Chart (OPC) pada komponen chasis dimulai dari memasukkan bijih plastik ke dalam mesin moulding dan waktu yang dibutuhkan

dalam proses ini sekitar 20 detik. Setelah itu dilakukan pencetakan dengan menggunakan cetakan chasis selama 10 detik. Lalu dilakukan pendinginan hasil moulding dengan menggunakan yang telah dicetak tadi dengan menggunakan mesin hopper dryer selama 30 detik. Setelah didinginkan, maka dilakukan pemotongan dengan mesin pemotong dalam waktu 10 detik dilanjutkan dengan proses penghalusan dengan mesin penghalus selama 15 detik lalu dilanjutkan kembali dengan proses pengecatan dengan mesin pengecatan selama 20 detik. Setelah semua proses selesai dilakukan, maka dilakukan inspeksi selama 5 detik untuk meyakinkan bahwa komponen tersebut tidak cacat. OPC pada axle depan dimulai dari mengukur besi batangan dengan menggunakan alat ukur selama kurang lebih 30 detik. Setelah itu dilakukan pemotongan dengan menggunakan mesin pemotong dalam waktu 1 menit. Lalu dilakukan proses bubut degan membentuk silinder persegi 6 dengan menggunakan mesin bubut dalam waktu 1 menit. Setelah semua proses selesai dilakukan, maka dilakukan inspeksi selama 5 detik. Seteah itu, komponen chasis yang sudah terbentuk tadi di-assembly dengan axle depan ini yang menghasilkan SA1. Proses sub-assembly ini kira-kira hanya membutuhkan waktu 5 detik. Setelah itu dilakukan inspeksi kembali selama 5 detik. OPC pada velg depan dimulai dari memasukkan bijih plastik ke dalam mesin moulding dan waktu yang dibutuhkan dalam proses ini sekitar 20 detik. Setelah itu dilakukan pencetakan dengan menggunakan cetakan velg selama 10 detik. Lalu dilakukan pendinginan hasil moulding yang telah dicetak tadi dengan menggunakan mesin hopper dryer selama 30 detik. Setelah didinginkan, maka dilakukan pemotongan dengan mesin pemotong dalam waktu 10 detik dilanjutkan dengan proses penghalusan dengan mesin penghalus selama 15 detik lalu dilanjutkan kembali dengan proses pengecatan dengan mesin pengecat selama 20 detik. Setelah semua proses selesai dilakukan, maka dilakukan inspeksi selama 5 detik. SA1 yang telah dibentuk tadi lalu di-assembly kembali dengan velg depan selama 5 detik dan akan menghasilkan SA2. Setelah itu dilakukan inspeksi kembali selama 5 detik. OPC ban depan dimulai dari memasukkan karet ke dalam mesin moulding dan waktu yang dibutuhkan dalam proses ini sekitar 20 detik. Setelah itu dilakukan pencetakan dengan menggunakan cetakan ban selama 10 detik. Lalu dilakukan pendinginan hasil moulding yang telah dicetak tadi dengan menggunakan mesin

hopper dryer selama 30 detik. Setelah didinginkan, maka dilakukan pemotongan dengan mesin pemotong dalam waktu 10 detik. Lalu dilanjutkan kembali dengan proses pengecatan dengan mesin pengecat selama 15 detik. Setelah semua proses selesai dilakukan, maka dilakukan inspeksi selama 5 detik. SA2 yang telah dibentuk tadi lalu di-assembly kembali dengan ban depan selama 5 detik dan akan menghasilkan SA Roda. Setelah itu dilakukan inspeksi kembali selama 5 detik.

LAPORAN PRAKTIKUM PSIT 1

MODUL 5 PERENCANAAN AGREGAT DAN KAPASITAS PRODUKSI

Kelompok Nama

D-3

Tgl. Praktikum Hari Praktikum Dikumpulkan tgl

: : :

23 April 2013 Selasa 30 April 2013

: 7. Noormalita Irviana 8. Rizky Destiana Hapsari

Kelas Asisten Kriteria Penilaian Format Laporan Isi Analisa TOTAL

: :

D P-16

Yogyakarta,.........................................2013

Asisten : : : : (maks. 20) (maks. 40) (maks. 40) (...................................)

LABORATORIUM PSIT JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA 2013

BAB V PERENCANAAN AGREGAT DAN KAPASITAS PRODUKSI

2.7 Tujuan Praktikum 2.3.1 Mampu merencanakan produksi, inventori dan sumber daya yang stabil terhadap fluktuasi permintaan 2.3.2 Mampu menentukan strategi perencanaan produksi yang layak dan dapat meminimalkan total biaya produksi 2.3.3 Memahami proses perencanaan agregat dan kapasitas dalam suatu industri

2.8 Tugas Praktikum Membuat analisis pemilihan strategi yang disesuaikan dengan kapasitas perusahaan dari kasus yang telah ditentukan.

1.3 Output 1.3.1 Informasi Umum Tabel 5.1 Biaya-biaya Biaya-Biaya Bahan baku Holding costs Biaya stockout Hiring and training cost Layoff costs (firing) Biaya lembur (overtime) Biaya pekerja $ 5,5 $ 1 $ 1,5 per unit per unit per bulan per unit per bulan

$ 200 per perkerja $ 250 per perkerja $ 9 $ 8 per jam per pekerja per jam

Tabel 5.2 Lain-lain Lain-Lain Inventori awal Waktu produktif/ pekerja/ hari Jam kerja yang dibayar/ pekerja Jumlah pekerja Waktu produksi 200 unit

7,25 jam 8 7 orang

0,15 per jam per unit

Tabel 5.3 Hasil peramalan Hasil Peramalan Permintaan (unit) Januari 7683 Februari 7683 Maret 7683 April 7683 Mei 7683 Juni 7683 Rata-Rata 7683

Tabel 5.4 Perhitungan data produksi tahun 2013 Perhitungan Data Kebutuhan Produksi Tahun 2013 Januari Jumlah hari Jam/pekerja/bln Unit/ pekerja $/pekerja/bln Kapasitas Produksi Maksimum 22 159,5 1063,333 $1.408 7443,333 Februari 19 137,75 918,333 $1.216 6428,333 Maret 21 152,25 1015 $1.344 7105 April 21 152,25 1015 $1.344 7105 Mei 22 159,5 Juni 23 166,75

1063,333 1111,667 $1.408 $1.472

7443,333 7781,667

1.3.2 Chase Strategy Tabel 5.5 Perhitungan chase strategy PERHITUNGAN CHASE STRATEGY Bulan Jumlah hari Jam/pekerja/bln Unit/ pekerja $/pekerja/bln Bulan Permintaan Inv. awal Net req. Produksi Kbthn pekerja Hired Fired Pekerja Inv. akhir Januari 22 159,5 Februari 19 137,75 Maret 21 152,25 1015 1344 Maret 7683 0 7.683 7.683 8 0 1 8 0 April 21 152,25 1015 1344 April 7683 0 7.683 7.683 8 0 0 8 0 Mei 22 159,5 Juni 23 166,75

1063,333 918,333 1408 Januari 7683 200 7.483 7.483 8 1 0 8 0 1216 Februari 7683 0 7.683 7.683 9 1 0 9 0

1063,333 1111,667 1408 Mei 7683 0 7.683 7.683 8 0 0 8 0 1472 Juni 7683 0 7.683 7.683 7 0 1 7 0

Tabel 5.6 Perhitungan biaya produksi chase strategy PERHITUNGAN BIAYA PRODUKSI Biaya Bhn baku ($) Pekerja ($) Hiring cost ($) Firing cost ($) Januari Februari Maret April Mei Juni Costs $252.439 $65.280 $400 $500 $318.619

$41.156,5 $42.256,5 $42.256,5 $42.256,5 $42.256,5 $42.256,5 $11.264 $200 $0 $10.944 $200 $0 $10.752 $0 $250 $10.752 $0 $0 $11.264 $0 $0 $10.304 $0 $250

9.000 8.000 7.000 6.000 5.000 4.000 3.000 2.000 1.000 0 1 2 3 4 5 6 Produksi Kapasitas

Gambar 5.1. Grafik chase strategy

1.3.3 Level Strategy Tabel 5.7 Perhitungan level strategy PERHITUNGAN LEVEL STRATEGY Bulan Jumlah hari Jam/pekerja/bln Unit/ pekerja $/pekerja/bln Bulan Permintaan Inv. Awal Net req. Pekerja Produksi Inv. Akhir Surplus Shortage Januari 22 159,5 1063,333 1408 Januari 7683 200 7.483 7 7.683 200 200 0 Februari 19 137,75 918,333 1216 Februari 7683 200 7.483 7 7.683 200 200 0 Maret 21 152,25 1015 1344 Maret 7683 200 7.483 7 7.683 200 200 0 April 21 152,25 1015 1344 April 7683 200 7.483 7 7.683 200 200 0 Mei 22 159,5 Juni 23 166,75

1063,333 1111,667 1408 Mei 7683 200 7.483 7 7.683 200 200 0 1472 Juni 7683 200 7.483 7 7.683 200 200 0

Tabel 5.8 Perhitungan biaya produksi level strategy PERHITUNGAN BIAYA PRODUKSI Biaya Pekerja ($) Bhn baku ($) Holding cost ($) Stockout cost ($) Januari $9.856 $42.257 $200 $0 Februari $8.512 Maret $9.408 April $9.408 Mei $9.856 Juni $10.304 Costs $57.344

$42.257 $42.257 $42.257 $42.257 $42.257 $253.539 $200 $0 $200 $0 $200 $0 $200 $0 $200 $0 $1.200 $0 $312.083

9.000 8.000 7.000 6.000 5.000 4.000 3.000 2.000 1.000 0 1 2 3 4 5 6 Produksi Kapasitas

Gambar 5.2. Grafik level strategy

1.3.4 Flexible Strategy Tabel 5.9 Perhitungan flexible strategy WORKFORCE AND OVERTIME STRATEGY Bulan Jumlah hari Jam/pekerja/bln Unit/ pekerja $/pekerja/bln Bulan Permintaan Inv. Awal Net req. Pekerja Produksi Kekurangan produksi Surplus Produksi lembur Jam lembur/ pekerja Januari 22 159,5 1063,333 1408 Januari 7.683 200 7.483 7 7.443 40 0 40 0,03896 Februari 19 137,75 918,333 1216 Februari 7.683 0 7.683 7 6.428 1.255 0 1.255 1,41541 Maret 21 152,25 1015 1344 Maret 7.683 0 7.683 7 7.105 578 0 578 0,58979 April 21 152,25 1015 1344 April 7.683 0 7.683 7 7.105 578 0 578 0,58979 Mei 22 159,5 Juni 23 166,75

1063,333 1111,667 1408 Mei 7.683 0 7.683 7 7.443 240 0 240 0,23376 1472 Juni 7.683 0 7.683 7 7.782 99 0 99 0,092236

Tabel 5.10 Perhitungan biaya produksi flexible strategy PERHITUNGAN BIAYA PRODUKSI Biaya Pekerja ($) Bahan baku ($) Holding cost ($) Biaya Lembur ($) Januari $9.856 Februari $8.512 Maret $9.408 April $9.408 Mei $9.856 Juni $10.304 Costs $57.344

$40.938,33 $35.355,83 $39.077,5 $39.077,5 $40.938,33 $42.799,17 $238.186,67 $0 $54 $0 $1.694,25 $0 $780,3 $0 $780,3 $0 $324 $0 $133,65 $0 $3.766,5 $299.297,17

9.000 8.000 7.000 6.000 5.000 4.000 3.000 2.000 1.000 0 1 2 3 4 5 6 Produksi Kapasitas

Gambar 5.3. Grafik flexible strategy

1.4 Analisa 1.4.1 Analisa strategi a. Chase Strategy Pada Chase Strategy kapasitas dan jumlah produksi ditentukan oleh permintaan produk pada setiap periode. Langkah awal perhitungan Chase Strategy adalah dengan menghitung nilai net.req periode Januari yang didapatkan dari pengurangan permintaan dengan inventory awal. Hasilnya adalah 7.483. Langkah kedua adalah menentukan jumlah produksi, yangbernilai sama dengan nilai net req yaitu 7.483. Langkah ketiga adalah mentukan kebutuhan pekerja yaitu dengan pembagian antara net.reg dengan unit/ pekerja yang menghasilkan 8. Karena pekerja yang dibutuhkan pada periode Januari adalah 8, sedangkan jumlah pekerja pada periode sebelumnya adalah 7, maka dilakukan hiring (perekrutan) tenaga kerja, yaitu dengan menambah 1 pekerja. Langkah terakhir adalah menentukan inventory akhir yang didapatkan dari pengurangan antara produksi dengan net.req, maka pada periode Januari tidak ada inventory akhir. Pada bulan Februari, tidak ada inventory awal, karena pada periode sebelumnya jumlah inventory akhir adalah 0, sehingga nilai net.req dan produksi pada periode ini adalah 7.683. Kebutuhan pekerja pada periode Februari adalah 9, sehingga harus dilakukan hiring sejumlah 1 pekerja karena jumlah pekerja periode sebelumnya

adalah 8. Pada periode Februari juga tidak terdapat inventory akhir, sehingga inventory awal periode selanjutnya bernilai 0. Pada bulan Maret, dengan permintaan sebesar 7.683 dan tidak ada inventory awal maka didapatkan nilai net.req dan produksi yaitu 7.683. kebutuhan pekerja pada periode ini adalah 8, sehingga perlu dilakukan firing (pemecatan) 1 pekerja karena jumlah pekerja pada periode sebelumnya adalah 9 pekerja. Pada periode ini juga tidak terdapat inventory akhir. Pada bulan April, jumlah permintaan adalah 7.683 dan tidak terdapat inventory awal karena pada periode sebelumnya nilai inventory akhir adalah 0, maka nilai net.req dan produksi pada periode ini adalah 7.683. Kebutuhan pekerja pada periode April adalah 8, sehingga tidak dilakukan hiring maupun firing karena jumlah pekerja pada periode sebelumnya juga 8. Pada periode ini, juga tidak terdapat inventory akhir sehingga nilai inventory awal pada periode Mei adalah 0. Pada bulan Mei, dengan jumlah permintaan 7.683 dan tidak terdapat inventory awal, maka nilai net.req dan produksi juga 7.683. sama halnya dengan bulan April, kebutuhan pekerja pada periode ini adalah 8,sehingga tidak terdapat hiring maupun firing, dan pada periode ini tidak terdapat inventory akhir, sehingga nilai inventory akhir bulan ini adalah 0. Pada bulan Juni, jumlah permintaan adalah 7.683 dan tidak terdapat inventory awal, sehingga nilai net.req dan produksi juga sama, yaitu 7.683. Kebutuhan pekerja pada periode ini adalah 7 pekerja, sehingga perlu dilakukan firing 1 pekerja karena pada periode sebelumnya jumlah pekerjanya adalah 8 pekerja. Perhitungan biaya produksi pada Chase Strategy, dimulai dengan menghitung biaya bahan baku, kemudian menghitung biaya pekerja, dan terakhir menghitung biaya hiring cost atau firing cost jika ada. Biaya bahan baku didapatkan dari perkalian biaya bahan baku per unit yaitu $ 5,5 per unit dengan jumlah produksi masingmasing periode. Total biaya bahan baku didapatkan dari menjumlahkan seluruh biaya bahan baku tiap periode, hasilnya adalah $ 252.439,00. Perhitungan biaya kedua adalah biaya pekerja yang didapatkan dari perkalian antara $/pekerja/bulan dengan kebutuhan pekerj. Total biaya pekerja adalah dengan cara menjumlahkan biaya pekerja masing-masing periode, yang menghasilkan $65.280,00. Perhitungan biaya ketiga adalah biaya hiring cost, yang didapatkan dari perkalian antara hired dan biaya hiring and training cost yaitu $ 200 per pekerja. Total biaya hiring cost adalah $400

karena hanya 2 kali melakukan perekrutan tenaga kerja yang masing-masing hanya 1 pekerja. Perhitungan biaya terakhir adalah biaya firing cost yaitu dengan mengalikan jumlah pekerja fired dengan biaya lay off yaitu $250 per pekerja. Total biaya firing cost adalah $ 500. Pada Chase straetegy, total biaya produksi yang dibuthkan adalah $318.619,00

b. Level Strategy Pada Level Strategy, jumlah permintaan periode januari hingga periode Juni sama, yaitu 7683, jumlah pekerja konstan, yaitu 7 dan inventory awal bernilai 200. Pada jumlah produksi, nilai dari periode Januari hingga Juni juga sama, yaitu 7.683 Pada periode Januari nilai net req didapatkan dari mengurangkan antara Permintaan dengan inventory awal, dan menghasilkan 7.483. Nilai inventory akhir didapatkan dari pengurangan antara jumlah produksi dengan net.req, yang menghasilkan 200, dan nilai tersebut akan dijadikan inventory awal pada periode selanjutnya. Karena pada periode ini terdapat inventory akhir sebesar 200, maka inventory tersebut dijadikan sebagai surplus pada periode Januari. Pada periode Februari hingga periode Juni, dengan jumlah permintaan, jumlah pekerja, dan jumlah produksi yang sama, maka nilai inventory akhir pada periode Februari, akan dijadikan sebagai surplus pada periode tersebut, dan nilai inventory akhir tersebut akan dijadikan sebagai inventory awal pada periode selanjutnya. Inventory akhir pada bulan Februari hingga Mei sama, yaitu 200, sehingga nilai surplus periode Februari hingga Mei 200. Inventory awal pada periode Maret hingga Juni juga sama yaitu 200, sehingga pada periode terakhir yaitu periode Juni, terdapat inventory akhir 200, dan surplus 200.Karena nilai inventory akhir seluruh periode bernilai positif, maka tidak ada nilai shortage pada periode Januari hingga Juni. Perhitungan biaya produksi pada Level Strategy juga sama dengan

perhitungan pada strategy sebelumnya, namun pada Level Strategy tidak terdapat hiring ataupun firing cost melainkan holding dan stockout cost. Pada level strategy, perhitungan biaya pertama adalah biaya pekerja, yang didapatkan dari perkalian antara pekerja dengan $/pekerja/bulan, dan dilanjutkan dengan menjumlahkan seluruh biaya pekerja masing-masing periode. Total biaya pekerja dengan level strategy adalah $57.344. Perhitungan biaya kedua adalah biaya bahan baku, yaitu dengan mengalikan jumlah produksi dengan biaya bahan baku per unit, yaitu $ 5,5 per unit, yang

dilanjutkan dengan menjumlahkan biaya bahan baku seluruh periode. Total biaya bahan baku sebesar $253.539. Karena pada strategi ini tidak terdapat shortage, maka pada strategi ini tidak ada biaya stockout. Perhitungan biaya terakhir adalah biaya holding cost, yang didapatkan dari nilai surplus dikali dengan biaya holding cost per unit ( $ 1 per unit per bulan). Total holding cost pada strategi ini sebensar $120. Oleh sebab itu, total biaya produksi dengan level strategy sebesar $312.083.

c. Flexible Strategy Pada flexible strategy jumlah permintaan dari periode Januari hingga Juni sama yaitu sebesar 7683. Jumlah pekerja konstan yaitu sebanyak 7 pekerja. Sedangkan inventori awal pada periode Januari sebesar 200. Maka net requirement dari periode Januari hingga Juni dapat dihitung dengan pengurangan antara permintaan dengan inventori awal yang pada periode Januari menghasilkan 7483. Produksi pada periode pertama hingga periode Juni adalah hasil perkalian antara unit/pekerja dan pekerja yang pada periode Januari menghasilkan 7443. Pada periode Januari, perusahaan mengalami kekurangan produksi sebesar 40, hasil ini didapat dari pengurangan antara produksi dengan net requirement. Karena pada periode ini terdapat kekurangan produksi, maka dilakukan overtime dengan produksi lembur sebanyak kekurangan produksi yang dibutuhkan sebanyak 40. Maka, jam lembur dapat dihitung dengan rumus (produksi lembur x waktu produksi) / jumlah hari / pekerja yang menghasilkan 0,038961039. Pada periode Februari hingga Juni perusahaan tidak memiliki inventori awal dikarenakan pada bulan sebelumnya perusahaan tidak memiliki surplus. Maka, net requirement pada bulan Februari hinggan Juni adalah sebesar 7683. Produksi pada periode Februari didapatkan sebesar 6428. Namun, perusahaan mengalami kekurangan produksi sebesar 1255, hasil ini diperoleh dari (produksi permintaan) + inventory awal, rumus ini berlaku hingga pada periode Juni. Oleh karena itu, dilakukan overtime dengan produksi lembur sebanyak kekurangan produksi yang dibutuhkan sebanyak 1255. Maka jam lembur dapat dihitung dengan rumus yang telah dijelaskan di atas sebesar 1,415413534. Produksi pada periode Maret dan April didapatkan sebesar 7105. Namun, perusahaan mengalami kekurangan produksi sebesar 578. Oleh karena itu, dilakukan

overtime dengan produksi lembur sebanyak kekurangan produksi yang dibutuhkan sebanyak 578. Maka jam lembur yang dibutuhkan yaitu selama 0,589795918. Produksi pada periode Mei didapatkan sebesar 7443. Namun, perusahaan mengalami kekurangan produksi sebesar 240. Oleh karena itu, dilakukan overtime dengan produksi lembur sebanyak kekurangan produksi yang dibutuhkan sebanyak 240. Maka jam lembur yang dibutuhkan yaitu selama 0,233766234. Produksi pada periode Juni didapatkan sebesar 7782. Namun, perusahaan mengalami kekurangan produksi sebesar 99. Oleh karena itu, dilakukan overtime dengan produksi lembur sebanyak kekurangan produksi yang dibutuhkan sebanyak 99. Maka jam lembur yang dibutuhkan yaitu selama 0,092236025. Perhitungan biaya produksi pada Flexible Strategy juga sama dengan

perhitungan pada strategy sebelumnya, namun pada flexible Strategy tidak terdapat stockout cost melainkan holding dan biaya lembur. Pada flexiblestrategy, perhitungan biaya pertama adalah biaya pekerja, yang didapatkan dari perkalian antara pekerja dengan $/pekerja/bulan, dan dilanjutkan dengan menjumlahkan seluruh biaya pekerja masing-masing periode. Total biaya pekerja dengan flexible strategy adalah $57.344. Perhitungan biaya kedua adalah biaya bahan baku, yaitu dengan mengalikan jumlah produksi dengan biaya bahan baku per unit, yaitu $ 5,5 per unit, yang dilanjutkan dengan menjumlahkan biaya bahan baku seluruh periode. Total biaya bahan baku sebesar $238.186. Perhitungan biaya terakhir adalah biaya lembur, yang didapatkan dari nilai perkalian antara biaya lembur per jam per pekerja dengan pekerja, dan jumlah lebur/pekerja.Total biaya lembur pada strategi ini sebensar $3.766,5 Oleh sebab itu, total biaya produksi dengan level strategy sebesar $299.297.

1.4.2 Analisa feasibilitas Jika kita melihat grafik pada chase strategy, terlihat pada periode Januari hingga Juni produksi pada bulan tersebut melebihi kapasitas produksi maksimum. Dengan melihat nilai inventory awal yang hanya 200, sedangkan permintaan selama periode Januari hingga Juni sangat besar, yaitu 7683, sehingga untuk memenuhi permintaan yang sangat besar, maka perusahaan harus memproduksi dalam jumlah yang besar juga. Selain itu, jumlah pekerja awal yang menentukan kapasitas produksi maksimum lebih sedikit dari kebutuhan pekerja pada chase strategy menjadikan nilai kapasitas

produksi maksimum lebih kecil dari jumlah produksi masing-masing periode. Oleh sebab itu, chase strategy dinilai tidak feasible. Sama halnya dengan chase strategy, jika kita lihat grafik pada level strategy, terlihat pada periode Januari hingga Juni jumlah produksi melebihi kapasitas produksi maksimum yang dibutuhkan pada periode tersebut. Walaupun jumlah pekerja pada strategi ini konstan yaitu 7 pekerja, namun inventory awal setiap periode yang sama dan sangat kecil dibandingkan dengan jumlah permintaan tiap periode sehingga jumlah produksi lebih besar daripada kapasitas produksi. Oleh sebab itu, level strategy juga dinilai tidak feasible. Sedangkan untuk flexible strategy, terlihat pada grafik bahwa terdapat produksi yang tidak melebihi kapasitas produksi maksimum yaitu pada periode Januari. Pada periode tersebut, jumlah produksi yang sama dengan kapasitas produksi maksimum. Oleh sebab itu, flexible strategy dinilai feasible untuk diterapkan didalam perusahaan.

1.5 Kesimpulan Dari ketiga strategi yang sudah dihitung, maka dapat ditarik kesimpulan strategi yang paling baik atau yang feasible untuk digunakan dalam perusahaan tersebut adalah flexible strategy. Hal ini dikarenakan total biaya yang dihasilkan dari flexible strategy memiliki nilai yang paling kecil yaitu sebesar $299.297,17 jika dibandingkan dengan chase strategy $318.619,00 ataupun dengan level strategy $312.083,00. Selain itu, pada jumlah flexible strategy terdapat satu periode yang tidak melebihi kapasitas produksi maksimum. Pada periode tersebut, jumlah produksi dengan kapasitas produksi maksimum bernilai sama, yaitu 7443.

LAPORAN PRAKTIKUM PSIT 1

MODUL 6 MICROMOTION STUDY

Kelompok Nama

: :

Kelas : Asisten : Kriteria Penelitian Format Laporan : Isi : Analisa : TOTAL :

D-3 1. Noormalita Irviana 2. Rizky Destiana Hapsari D P-16

Tgl. Praktikum : 30 April 2013 Hari Praktikum : Selasa Dikumpul Tgl : 28 Mei 2013 Yogyakarta,.2013 Asisten (..)

LABORATORIUM PSIT JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA 2013

BAB VI MICROMOTION STUDY


6.1 Tujuan Praktikum 1. Mengetahui metode Micromotion Study dalam aplikasi pengukuran waktu baku dengan menganalisis elemen-elemen gerakan kerja. 2. Mampu mengidentifikasi elemen-elemen gerakan dan mampu menganalisis elemen-elemen gerakan yang efektif dan tidak efektif pada suatu pekerjaan. 3. Mampu melakukan perbaikan-perbaikan elemen-elemen gerakan yang tidak diperlukan atau tidak efektif sehingga dapat melakukan pengaturan tata letak fasilitas atau stasiun kerja. 4. Mampu menghitung waktu baku dengan mempelajari elemen-elemen gerakan yang ada dengan bantuan rekaman film.

6.2 Tugas Praktikum 1. Mengamati dan menganalisarekaman video perakitan dan menganalisa elemenelemen gerakan yang ada pada 4 stasiun kerja. 2. Menghitung waktu baku dengan menggunakan tabel elemen gerakan. 3. Membuat Standard Operation Procedure (SOP) dari hasil pengamatan elemen gerakan perakitan Tamiya yang ada pada setiap stasiun kerja.

6.3 Output 6.3.1 Deskripsi Jumlah Operator Jenis Kelamin Jumlah Stasiun Kerja Produk yang dirakit Deskripsi pekerjaan : 4 orang operator : Laki-laki : 4 buah stasiun kerja : Sebuah mobil tamiya : Pekerjaan merakit bagian-bagian tamiya untuk dapat menjadi sebuah mobil tamiya ini dilakukan oleh masing-masing operator dengan jarak part yang berbeda-beda. Posisi operator pada saat melakukan pekerjaan adalah berdiri.

Di bawah ini merupakan gambar layout kerja operator beserta tabel yang berisi jarak antara tiap-tiap part dengan operator.

Stasiun Kerja 1

Opera tor

G Obeng 14,02 inch

F Eyelet 12,99 inch

E Velg 10 inch

C Ban 9,8 inch

A Gear, Axle 11,02 inch

H Konveyor Beban 17,5 inch

D Roller 14,96 inch

B Chasis 14,96 inch

Gambar 6.1. Stasiun kerja 1

Tabel 6.1. Jarak stasiun kerja 1 Kode A B C D E F G Gear,Axle Chasis Ban Roller Velg Eye Let Obeng Part Jarak (cm) 28 38 25 38 25,4 33 35,6 Jarak (inch) 11,02 14,96 9,8 14,96 10 12,99 14,02

Stasiun Kerja 2

Opera tor

E Axle 10 inch

D Double gear 8,27 inch

C Switch 7 inch

B Plat, Gear, Cover switch 9,84 inch F Velg 14,96 inch

A Konveyor Beban 17,5 inch

G Ban 15,98 inch

Gambar 6.2. Stasiun kerja 2

Tabel 6.2. Jarak stasiun kerja 2 Kode A B C D E F G Part Body Bawah Gear, Plat, Switch Cover Switch Double Gear Axle Velg Ban Jarak (cm) 44,5 25 17,8 21 25,4 38 40,6 Jarak (inch) 17,5 9,84 7 8,27 10 14,96 15,98

Stasiun Kerja 3

Opera tor

E Obeng, Baut, Bumper 12 inch

A Konveyor Beban 13,98 inch

D Plat 10 inch

C Dinamo cover 9 inch

B Dinamo Gear cover 12 inch

Gambar 6.3. Stasiun kerja 3

Tabel 6.3. Jarak stasiun kerja 3 Kode A B C D E Part Body Bawah Dinamo, Gear Dinamo Dinamo Cover Plat Obeng, Baut, Bamper Jarak (cm) 35,5 30,5 22,86 25,4 30,5 Jarak (inch) 13,98 12 9 10 12

Stasiun Kerja 4

Opera tor

E Obeng 11,02 inch

D Tang kecil, mur, baut, roller 7,99 inchi

C Pengait, body atas 12 inch B Battery cover, battery 13,98 inchi

A Konveyor Beban 14,96 inch

Gambar 6.4. Stasiun kerja 4

Tabel 6.4. Jarak stasiun kerja 4 Kode A B C D E Body Bawah Battery Cover, Battery Pengait, Body Atas Tang Kecil, Mur, Baut, Roller Obeng Part Jarak (cm) 38 35,5 30,5 20,3 28 Jarak (inch) 14,96 13,98 12 7,99 11,02

a. Stasiun Kerja 1 Tabel 6.5. Peta tangan kanan-kiri stasiun kerja 1 Tangan Kiri Gerakan Jarak Kode TMU TMU 8,7 Menjangkau C Memegang C Membawa C Mengarahkan C Menjangkau C Memegang C Membawa C 9,8 9,8 9,8 9,8 9,8 9,8 R9,8A G1A M9,8C P2SE R9,8A G1A M9,8C 8,62 2 13,34 16,2 8,62 2 13,34 16,2 2 8,7 2 13,5 Mengarahkan C P1SE 5,6 5,6 2 Menjangkau A Memegang A Membawa A Mengarahkan A Menjangkau C Memegang C Membawa C Menjangkau B 9,8 9,8 9,8 14,96 11,02 11,02 11,02 R11,02A G1A M11,02C P2SSE R9,8A G1A M9,8C R14,96A 8,718 2 9,314 19,7 8,62 2 13,34 10,932 8,62 2 13,34 16,2 P2SE RL1 R10A G1A M10C P1SE RL1 R9,8A G1A M9,8C P2SE 9,8 9,8 9,8 10 10 10 Mengarahkan E Melepas C Menjangkau E Memegang E Membawa E Mengarahkan E Melepas C Menjangkau C Memegang C Membawa C Mengarahkan C 2 13,5 Tangan Kanan Kode R10A G1A M10C Jarak 10 10 10 Gerakan Menjangkau E Memegang E Membawa E

Tangan Kiri Gerakan Memegang B Membawa B 14,96 Jarak Kode G1A M14,96C TMU 2 14,9 9,159 2 14,367 5,6 2 19,7 Mengarahkan C Melepas B+G P2SE RL1 16,2 2 10,509 Menjangkau F Memegang F Membawa F Mengarahkan F Melepas F Menjangkau D Memegang D Membawa D Mengarahkan D Menjangkau B Memegang B Membawa B Mengarahkan B 14,96 14,96 14,96 14,96 14,96 14,96 12,99 12,99 12,99 R12,99D G1B 14,893 3,5 2 16,918 TMU

Tangan Kanan Kode Jarak Gerakan

R11,02A G1A M11,02C P1SE RL1 P2SSE

11,02 11,02 11,02

Menjangkau A Memegang A Membawa A Mengarahkan A Melepas A Mengarahkan G+A

R14,02A G1A M14,02C

14,02 14,02 14,02

Menjangkau G Memegang G Membawa G

M12,99C 16,0415 P1SE RL1 R14,96A G1A M14,96C P1SE R14,96A G1A M14,96C P1SSE 5,6 2 10,932 2 17,764 5,6 10,932 2 17,764 9,1 37,8 5,6 150,4 TS 90 '7 G2 TS 180 '16 R14,96A 14,96 Mengarahkan D Memutar G Memegang G Memutar G Menjangkau D 11,2 P1SD Mengarahkan F 9,1 5,6 P1SSE G2 Mengarahkan G Memegang F

Menjangkau F

12,99

R12,99D

14,893

10,932

Tangan Kiri Gerakan Memegang F Membawa F Mengarahkan F Menjangkau B Memegang B Membawa B Mengarahkan B 14,96 14,96 14,96 Jarak 12,99 12,99 Kode G1B TMU 3,5 TMU 2

Tangan Kanan Kode G1A M14,96C P1SE Jarak 14,96 14,96 Gerakan Memegang D Membawa D Mengarahkan D

M12,99C 16,0415 17,764 P1SE R14,96A G1A M14,96C P1SSE 5,6 10,932 2 17,764 9,1 5,6 197,4 5,6

G2 TS 90 '21

Memegang G Memutar G

Melepas G

RL1

2 2 RL1 Melepas B

Total TMU = 942,2225 = 32,9689 detik = 0,54948 menit 0,00916 jam

Pada stasiun kerja 1, operator merakit bagian tamiya yang terdiri dari beberapa part, diantaranya adalah eyelet, velg, roller, ban, chasis, gear, axle, dan obeng. Partpart tersebut memiliki jarak yang berbeda-beda dengan operator. Jarak gear dan axle, chasis, ban, roller, velg, eye let, obeng masing-masing adalah 11,02 inchi, 14,96 inchi, 9,8 inchi, 14,96 inchi, 10 inchi, 12, 99 inchi, dan 14,02 inchi. Pada stasiun ini, gerakan perakitan pertama adalah gerakan pada part velg dan ban, dilanjutkan pada bagian axle, dan chasis, selanjutnya gerakan untuk perakitan gear dan terakhir gerakan perakitan pada roller. Dari hasil gerakan yang dilakukan operator untuk merakit bagian tamiya pada stasiun kerja 1 ini dapat diketahui total TMU yang dibutuhkan operator untuk merakit bagian tamiya pada stasiun kerja 1 ini adalah 942,2225 atau 32,9689 detik.

b. Stasiun Kerja 2 Tabel 6.6. Peta tangan kanan-kiri stasiun kerja 2 Tangan Kiri Gerakan Menjangkau A Memegang A Membawa A Mengarahkan A Jarak 17,5 17,5 17,5 Kode R17,5A G1A M17,5C P1SSE TMU 12,075 2 19,975 9,1 7,4 3,5 11,1 10,4 Memegang A G2 5,6 2 8,62 2 13,34 5,6 2 8,008 2 12,043 9,1 2 8,62 2 13,34 10,4 Menekan B APA 10,6 10,6 2 8,62 2 13,34 R7A G1B M7C P1NSE RL1 R9,84A G1A M9,84C P1SE RL1 R8,27A G1A M8,27C P1SSE RL1 R9,84A G1A M9,84C P1NSE APA RL1 R9,84A G1A M9,84C 9,84 9,84 9,84 9,84 9,84 9,84 8,27 8,27 8,27 9,84 9,84 9,84 7 7 7 Menjangkau C Memegang C Membawa C Mengarahkan C Melepas C Menjangkau B Memegang B Membawa B Mengarahkan B Melepas B Menjangkau D Memegang D Membawa D Mengarahkan D Melepas D Menjangkau B Memegang B Membawa B Mengarahkan B Menekan B Melepas B Menjangkau B Memegang B Membawa B TMU Tangan Kanan Kode Jarak Gerakan

Tangan Kiri Gerakan Jarak Kode TMU TMU 5,6 2 Memegang A Melepas A G2 RL1 5,6 2 2

Tangan Kanan Kode P1SE RL1 Jarak Gerakan Mengarahkan B Melepas B

RL1 15,98 15,98 15,98

Melepas A Menjangkau G Memegang G Membawa G

11,391 R15,98A Menjangkau F Memegang F Membawa F Mengarahkan F Melepas F Menjangkau F Memegang F Membawa F Mengarahkan F Melepas F 14,96 14,96 14,96 14,96 R14,96A 10,932 G1A M..C P2SE RL1 16,2 2 16,2 2 P2SE RL1 2 2 G1A

18,682 M15,98C

Mengarahkan G Melepas G 15,98 15,98 15,98 Menjangkau G Memegang G Membawa G Mengarahkan G Melepas G 10 10 10 Menjangkau E Memegang E Membawa E Mengarahkan E

R14,96A 10,932 11,391 R15,98A G1A 2 2 G1A

M14,96C 17,764 18,682 M15,98C P2SE RL1 16,2 2 16,2 2 8,7 2 13,5 19,7 P2SE RL1 R10A G1A M10C P2SSE

Memegang G Menjangkau A Memegang A Membawa A Mengarahkan A 17,5 17,5 17,5

G3 R17,5A G1A M17,5C P1SSE

5,6 12,075 2 19,975 9,1 19,7 P2SSE 15,98 15,98 15,98 Mengarahkan G Menjangkau G Memegang G Membawa G Mengarahkan G

11,391 R15,98A 2 G1A

18,682 M15,98C Memutar A Memutar A Melepas A TS 180 TS 180 RL1 9,4 9,4 2 2 RL1 16,2 P2SE

Melepas A

Tangan Kiri Gerakan Jarak Kode TMU TMU

Tangan Kanan Kode Jarak Gerakan

Total TMU = 542,41 = 17,8362 Detik = 0,29727 Menit = 0,00495 Jam

Pada stasiun kerja 2, operator merakit bagian tamiya yang terdiri dari beberapa part, diantaranya adalah axle, double gear, ban, switch, velg, plat, gear dan cover switch. Part-part tersebut memiliki jarak yang berbeda-beda. Jarak pada part body bawah, gear, plat, dan switch cover, double gear, axle, velg dan ban masing-masing adalah 17,5 inchi, 9,84 inchi, 7 inchi, 8, 27 inchi, 10 inchi, 14,96 inchi, dan 15, 98 inchi. Pada stasiun ini gerakan perakitan dilakukan pertama kali pada part switch, plat double gar dan gear pada chasis, dilanjutkan dengan ban, velg dan roda, dan langkah terakhir adalah penggabungan antara chasis dengan roda. Dari hasil gerakan yang dilakukan operator untuk merakit bagian tamiya pada stasiun kerja 2 ini dapat diketahui total TMU yang dibutuhkan operator untuk merakit bagian tamiya pada stasiun kerja 2 ini adalah 542,41 atau 17,8362 detik.

c. Stasiun Kerja 3 Tabel 6.7. Peta tangan kanan-kiri stasiun kerja 3 Tangan Kiri Gerakan Jarak Kode Tmu Tmu 8,3 2 12,7 5,6 8,7 2 13,5 Mengarahkan C Memutar C P1NSE TS 90 10,4 5,4 2 8,7 2 RL1 R10A G1A 10 10 Melepas D Menjangkau D Memegang D 21 Tangan Kanan Kode R9A G1A M9C G3 R10A G1A M10C P2NSE 10 10 10 Jarak 9 9 9 Gerakan Menjangkau C Memegang C Membawa C Memegang C Menjangkau D Memegang D Membawa D Mengarahkan D

Tangan Kiri Gerakan Jarak Kode Tmu Tmu 13,5 21 2 9,6 2 15,2 Mengarahkan B Menjangkau A Memegang A Membawa A Mengarahkan A 13,98 13,98 13,98 P2SSE 19,7 19,7

Tangan Kanan Kode M10C P2NSE RL1 R12A G1A M12C P2SSE 12 12 12 Jarak 10 Gerakan Membawa D Mengarahkan D Melepas D Menjangkau B Memegang B Membawa B Mengarahkan B

R13,98A 10,491 G1A 2

M13,98C 16,883 P1SSE 9,1 19,7 2 9,6 2 15,2 P2SSE RL1 R12A G1A M12C P2SSE RL1 R12A G1A M12C P1SSE RL1 R12D G1B M12C P1SSD RL1 R12A G1A M12C 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 Mengarahkan B Melepas B Menjangkau B Memegang B Membawa B Mengarahkan B Melepas B Menjangkau E Memegang E Membawa E Mengarahkan E Melepas E Menjangkau E Memegang E Membawa E Mengarahkan E Melepas E Menjangkau E Memegang E Membawa E

Mengarahkan B

P2SSE

19,7

19,7 2 9,6 2 15,2 9,1 2 14,2 3,5 15,2 14,7 2 9,6 2 15,2

Tangan Kiri Gerakan Jarak Kode Tmu Tmu 9,1

Tangan Kanan Kode P1SSE TS 90 70,2 14,2 3,5 15,2 14,7 '13 R12D G1B M12C P1SSD TS 90 59,4 2 '11 Rl1 Memutar E Melepas E 12 12 12 Memutar E Menjangkau E Memegang E Membawa E Mengarahkan E Jarak Gerakan Mengarahkan E

Memegang A

G3

5,6 2 Rl1 Melepas A

Total TMU = 584,674 = 20,7027 Detik = 0,34504 Menit = 0,00575 Jam

Pada stasiun kerja 3, operator merakit bagian tamiya yang terdiri dari beberapa part, diantaranya adalah obeng, baut, bumper, plat, dinamo cover dan dinamo gear cover. Part-part tersebut memiliki jarak yang berbeda-beda dengan operator . Jarak Body bawah yang terletak pada konveyor berjarak 13, 98 inchi. Jarak dinamo dan gear dinamo, obeng, baut, dan bamper terletak 12 inchi dari operator, jarak dinamo cover dan plat masing-masing adalah 9 dan 10. Gerakan perakitan dimulai dari dinamo cover dengan plat lalu dimasukkan dinamo, dan digabungkan ke chasis. Langkah selanjutnya adalah memasang gear cover, dan langkah terakhir adalah memasang bamper belakang ke chasis. Dari hasil gerakan yang dilakukan operator untuk merakit bagian tamiya pada stasiun kerja 3 ini dapat diketahui total TMU yang dibutuhkan operator untuk merakit bagian tamiya pada stasiun kerja 3 ini adalah 584,674 atau 20,7027 detik.

d. Stasiun Kerja 4 Tabel 6.8. Peta tangan kanan-kiri stasiun kerja 4 Tangan Kiri Gerakan Menjangkau A Memegang A Membawa A Mengarahkan A Melepas A Menjangkau D Memegang D Membawa D Mengarahkan D Melepas D Menjangkau A Memegang A Membawa A Mengarahkan A 14,96 14,96 14,96 7,99 7,99 7,99 Jarak 14,96 14,96 14,96 Kode TMU TMU Tangan Kanan Kode Jarak Gerakan

R14,96A 10,932 G1A 2

M14,96C 17,764 P1SSE RL1 R7,99A G1A M7,99C P1SE RL1 9,1 2 7,895 2 11,493 3,5 R7,99D G1B M7,99C P1NSD 7,99 7,99 7,99 Menjangkau D Memegang D Membawa D Mengarahkan D

11,793 11,793 5,6 2 16

R14,96A 10,932 G1A 2

M14,96C 17,764 P1SSE 9,1 16 2 11,493 3,5 11,793 16 43,2 2 11,493 3,5 11,793 14,7 21,6 2 P1NSD RL1 R7,99D G1B M7,99C P1NSD TS 90 '8 RL1 R7,99D G1B M7,99C P1SSD TS 90 '4 RL1 R7,99A 7,99 7,99 7,99 7,99 7,99 7,99 7,99 Mengarahkan D Melepas D Menjangkau D Memegang D Membawa D Mengarahkan D Memutar D Melepas D Menjangkau D Memegang D Membawa D Mengarahkan D Memutar D Melepas D Menjangkau D

Melepas A

RL1

7,895

Tangan Kiri Gerakan Jarak Kode TMU TMU 2 9,692 11,493 3,5 11,793 Memegang D Menjangkau A Memegang A Membawa A Mengarahkan A 14,96 14,96 14,96 G3 5,6

Tangan Kanan Kode G1A M7,99A R7,99D G1B M7,99C Jarak 7,99 7,99 7,99 7,99 7,99 Gerakan Memegang D Membawa D Menjangkau D Memegang D Membawa D

R14,96A 10,932 G1A 2

M14,96C 17,764 P1SSE 9,1 5,6 2 11,493 3,5 11,793 16 P1SE RL1 R7,99D G1B M7,99C P1NSD TS 90 59,4 2 7,895 2 11,793 14,7 32,4 2 10,491 2 16,883 19,7 2 '11 RL1 R7,99A G1A M7,99C P1SSD TS 90 '6 RL1 R13,98A G1A M13,98C P2SSE RL1 13,98 13,98 13,98 7,99 7,99 7,99 Memutar D Melepas D Menjangkau D Memegang D Membawa D Mengarahkan D Memutar D Melepas D Menjangkau B Memegang B Membawa B Mengarahkan B Melepas B 7,99 7,99 7,99 Mengarahkan D Melepas D Menjangkau D Memegang D Membawa D Mengarahkan D

Tangan Kiri Gerakan Jarak Kode TMU TMU 10,491 2 16,883 19,7 2 10,491 2 16,883 Menekan AF 3,4 19,7 2 9,6 2 15,2 10,4 2 9,6 2 15,2 26,6 2 Melepas A RL1 2

Tangan Kanan Kode R13,98A G1A M13,98C P2SSE RL1 R13,98A G1A M13,98C P2SSE RL1 R12A G1A M12C P1NSE RL1 R12A G1A M12C P2NSD RL1 7,9 7,9 7,9 12 12 12 13,98 13,98 13,98 Jarak 13,98 13,98 13,98 Gerakan Menjangkau B Memegang B Membawa B Mengarahkan B Melepas B Menjangkau B Memegang B Membawa B Mengarahkan B Melepas B Menjangkau C Memegang C Membawa C Mengarahkan C Melepas C Menjangkau C Memegang C Membawa C Mengarahkan C Melepas C

Total TMU = 812,515 = 29,2505 Detik = 0,48751 Menit = 0,00813 Jam

Pada stasiun kerja 4, operator merakit bagian tamiya yang terdiri dari beberapa part, diantaranya adalah obeng, tang kecil, mur, baut, roller, pengait, body atas, battery cover dan battery. Part-part tersebut memiliki jarak yang berbeda-beda dengan operator , jarak body bawah, battery cover dan battery, pengait dan body atas, tang kecil, mur, dan baut, dan obeng masing-masing adalah 14,96 inchi, 13,98 inchi, 12 inchi, 7,99 inchi, 11,02 inchi. Gerakan perakitan dimulai dari part roller dengan menggunakan mur dan baut, lalu pada bagian battery,battery cover, dan body atas

pada chasis dan terakhir gerakan pada part pengait untuk mengaitkan body atas dengan chasis. Dari hasil gerakan yang dilakukan operator untuk merakit bagian tamiya pada stasiun kerja 4 ini dapat diketahui total TMU yang dibutuhkan operator untuk merakit bagian tamiya pada stasiun kerja 4 ini adalah 812,515 atau 29,2505 detik.

6.3.1 SOP (Standard Operational Procedure) Tabel 6.9. SOP perakitan tamiya No 1 2 3 Kegiatan Penggabungan ban depan dengan velg depan Pemasangan salah satu roda dengan axle Pemasangan gear depan dengan chasis Pemasangan antara roda dan axle yang telah dipasang 4 tadi dengan gear depan dan chasis lalu dilanjutkan memasang ban sebelahnya 5 6 7 8 9 10 11 12 Pemasangan roller ke chasis dengan menggunakan baut Pemasangan switch ke chasis Pemasangan plat ke chasis Pemasangan double gear ke chasis Pemasangan front gear cover ke chasis Pemasangan gear belakang ke chasis Penggabungan ban belakang dengan velg belakang Pemasangan salah satu roda dengan axle Pemasangan antara roda dan axle yang telah dipasang 13 tadi dengan gear belakang dan chasis lalu dilanjutkan memasang ban sebelahnya 14 15 Pemasangan dinamo cover dengan plat Pemasangan dinamo dengan dinamo cover yang sudah digabungkan dengan plat tadi Hasil dari pemasangan pada kegiatan 15 digabungkan ke chasis 3 20,7 Detik 2 17,84 Detik 1 32,97 Detik Elemen Waktu Baku

16

No

Kegiatan Pemasangan gear cover dengan chasis dan hasil dari penggabungan pada kegiatan 15 tadi Pemasangan bumper belakang ke chasis dengan menggunakan baut Pemasangan roller ke bumper belakang dengan menggunakan baut dan direkatkan dengan mur Pemasangan battery dan pemasangan battery cover pada chasis Pemasangan body atas ke chasis Pemasangan pengait antara body atas dan chasis

Elemen

Waktu Baku

17

18

19

20 21 22

29,25 Detik

Elemen pada SOP perakitan tamiya ini dibuat berdasarkan stasiun kerja perakitan bagian-bagian tamiya. Stasiun kerja 1 merupakan elemen 1, stasiun kerja 2 merupakan elemen 2, stasiun kerja 3 merupakan elemen 3 dan stasiun kerja 4 merupakan elemen 4. Setiap elemen memiliki waktu baku yang didapat dari peta tangan kanan-kiri sebelumnya. Pada elemen 1 memiliki waktu baku sebesar 32,97 detik. Elemen 2 sebesar 17,84 detik. Elemen 3 sebesar 20,97 detik. Dan elemen 4 sebesar 29,25 detik.

6.3.2 Kesimpulan Pada perakitan tamiya di atas, terdapat 4 operator dengan 4 stasiun kerja. Gerakan efektif yang dilakukan oleh masing-masing operator diantaranya adalah menjangkau, memegang, membawa, melepas, mengarahkan, memutar, dan menekan. Waktu baku yang digunakan pada masing-masing stasiun berbeda-beda. Pada SOP perakitan tamiya di atas, terdapat 22 tahapan yang harus dilakukan dalam merakit sebuah tamiya dengan membagi stasiun kerja menjadi 4 elemen. Setiap elemen mempunyai waktu baku dalam perakitan. Waktu baku pada stasiun kerja 1 sebesar 32,97 detik, pada stasiun kerja 2 sebesar 17, 84 detik, pada stasiun kerja 3 sebesar 20,7 detik, dan pada stasiun kerja 4 waktu baku yang digunakan sebesar 29,25 detik.

LAPORAN PRAKTIKUM PSIT 1

MODUL 7 PENYEIMBANGAN LINI PERAKITAN

Kelompok Nama Kelas Asisten Kriteria Penilaian Format Laporan Isi Analisa TOTAL

D-3

Tgl. Praktikum

28 Mei 2013

: 9. Noormalita Irviana 10. Rizky Destiana Hapsari : D : P-16 : : : : (maks. 20) (maks. 40) (maks. 40)

Hari Praktikum : Selasa Dikumpulkan tgl : 4 Juni 2013 Yogyakarta,.........................................2013 Asisten

(...................................)

LABORATORIUM PSIT JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA 2013

BAB VII PENYEIMBANGAN LINI PERAKITAN


7.1 Tujuan Praktikum 1. Mampu menyeimbangkan lini perakitan untuk meningkatkan performa lini perakitan. 2. memahami proses penyeimbangan lini perakitan.

7.2

Tugas Praktikum Membuat analisa penyeimbangan lini perakitan dari kasus yang telah

ditentukan.

7.3

Output 7.3.1. Kondisi awal lini perakitan

Gambar 7.1. Kondisi awal lini perakitan

7.3.2.

Pengolahan Data a. Hasil rancangan lini perakitan yang sudah diseimbangkan

Gambar 7.2. Solusi 1 desain lini perakitan dengan CT 0,82

Gambar 7.3. Solusi 2 desain lini perakitan dengan CT 0,72

b. Tabel perhitungan Diketahui: T = Jam kerja perhari (menit) = 360 menit D = Jumlah produk yang diproduksi perhari = 430 unit

Batasan waktu siklus = Ti max CT T/D = 0,7135 CT 0,837209302 Solusi 1 CT terpilih = 0,82 menit K = Total Ti/CT terpilih = 5,07134

Tabel 7.1. Penugasan elemen solusi 1 Kolom 1 2 3 4 Element i 1 2 3 4 6 5 8 5 7 9 6 10 12 11 13 Ti 0,321 0,3375 0,7135 0,263 0,6155 0,1415 0,0825 0,1905 0,178 0,434 0,222 0,5125 0,147 0,656 0,164 0,451 0,369 ST 0,6585 0,7135 0,263 0,757 CT-ST 0,1615 0,1065 0,557 0,063

0,6595

0,1605

Tabel 7.2. Station time solusi 1 WS 1 2 3 4 5 6 7 Total ST ST 0,6585 0,7135 0,263 0,757 0,451 0,656 0,6595 4,1585

Tabel 7.3. Hasil perhitungan EL, SI, BD, IT solusi 1 EL SI BD IT 72% 0,73516 28% 1,5815 menit

Solusi 2 CT terpilih = 0,82 menit K = Total Ti/CT terpilih = 5,77569

Tabel 7.4. Penugasan elemen solusi 2 Kolom 1 2 3 4 Element i 1 2 3 4 6 5 5 8 7 9 6 10 12 11 13 Ti 0,321 0,3375 0,7135 0,263 0,6155 0,1415 0,0825 0,1905 0,178 0,434 0,222 0,5125 0,147 0,656 0,064 0,5925 0,1275 ST 0,6585 0,7135 0,263 0,6155 CT-ST 0,0615 0,0065 0,457 0,1045

0,6595

0,0605

Tabel 7.5. Station time solusi 2 WS 1 2 3 ST 0,6585 0,7135 0,263

WS 4 5 6 7 Total ST

ST 0,6155 0,5925 0,656 0,6595 4,1585

Tabel 7.6. Hasil perhitungan EL, SI, BD, IT solusi 2 EL SI BD IT 83% 0,4976005 17% 0,8815 menit

c. Grafik perbandingan beban kerja kondisi awal, solusi 1 dan solusi 2.

grafik beban kerja setiap stasiun kerja


1,4 1,2 waktu (menit) 1 0,8 0,6 0,4 0,2 0 1 2 3 4 5 6 7 stasiun kerja ke Solusi 1 Kondisi Awal Solusi 2

Gambar 7.4. Grafik beban kerja kondisi awal dengan solusi 2

7.4

Analisa 7.4.1. Analisa perbandingan EL, SI, BD, IT. Dalam perhitungan pada solusi 1, nilai EL atau efisiensi lintasan

perakitan didapat dari:

, maka didapatkan hasil 72%. Nilai SI

atau Smoothness Index didapat dari: hasil 0,73516. Nilai BD atau Balance Delay didapat dari:

, maka didapatkan ,

maka didapatkan hasil 28%. Sedangkan niai IT didapat dari IT = (K x CT) - Ti, maka didapatkan hasil 1,5815 menit. Sedangkan dalam perhitungan pada solusi 2, nilai EL yang didapatkan sebesar 83%, nilai SI sebesar 0,4976005, nilai BD sebesar 17% dan nilai IT yang didapat sebesar 0,8815 menit. Dari perhitungan EL, SI, BD, dan IT kedua solusi diatas maka dapat dibandingkan solusi mana yang terbaik dan terpilih dalam studi kasus ini. Dalam membandingkan kedua solusi tersebut, pertama kali dilihat nilai EL yang terbesar terlebih dahulu. Nilai EL yang terbesar dari kedua solusi tersebut didapat pada solusi kedua yaitu sebesar 83%. Setelah itu, dilihat nilai SI, BD, dan IT yang terkecil dibandingkan dengan kedua solusi tersebut. Maka hasil yang didapat adalah nilai SI, BD dan IT yang terkecil dari kedua solusi tersebut adalah pada solusi kedua dengan nilai SI = 0,4976005, BD = 17% dan IT =0,8815 menit.

7.4.2.

Analisa grafik perbandingan kerja Dari grafik di atas, dapat dilihat perbandingan beban kerja antara

kondisi awal dengan solusi pertama, dan solusi kedua. Pada kondisi awal, jumlah workstation yang terbentuk adalah sebanyak 6 workstation. Berbeda dengan kondisi awal, workstation yang terbentuk pada solusi 1 dan 2 sebanyak 7 workstation. Pada Workstation 1 atau stasiun kerja 1 (WS 1) waktu yang dibutuhkan pada kondisi awal, solusi 1, dan solusi 2 sama, yaitu 0,6585 menit. Pada WS 2, waktu yang dibutuhkan antar solusi dan kondisi awal masih sama, yaitu 0,7135 menit. Namun pada WS 3, terdapat perbedaan waktu yang dibutuhkan pada masing-masing alternatif. Pada kondisi awal waktu yang dibutuhkan adalah 0,8785 menit, pada solusi 2 dan 3 waktu yang dibutuhkan sebesar 0,263 menit. Pada WS 4, waktu yang dibutuhkan pada masing-masing alternatif juga berbeda. Pada kondisi awal, waktu yang dibutuhkan sebesar 0,5925 menit, pada solusi 1 sebesar 0,757 menit, dan pada solusi 2 sebesar 0,6155 menit. Pada workstation 5 waktu yang dibutuhkan pada kondisi awal adalah sebesar 1,1685 menit, pada solusi 1 sebesar 0,451 menit, dan pada solusi 2 sebesar 0,5925. Pada WS 6, waktu yang dibutuhkan pada kodnsisi awal sebesar 0,147, dan

pada solusi 1 dan 2 sama, yaitu sebesar 0,656. Karena pada kondisi awal workstation yang terbentuk hanya 6 workstation, maka pada kondisi awal pada WS 7 tidak terdapat nilainya. Berbeda dengan solusi 1 maupun solusi 2 ya, workstation yang terbentuk 7 workstation, sehingga terdapat waktu yang dibutuhkan pada masingmasing solusi. Pada WS 7, waktu yang dibutuhkan dengan menggunakan solusi 1 maupun 2 sama, yaitu 0,6595.

7.5

Kesimpulan Dari perhitungan di atas, maka dapat diambil kesimpulan, desain lini

perakitan yang terbaik adalah desain lini perakitan pada solusi 2. Hal ini karena EL atau efisiensi lini perakitan yang ada pada solusi 2 memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan dengan solusi 1 yaitu sebesar 83% yang berarti bahwa pekerjaan yang dilakukan akan lebih efisien jika menggunakan solusi kedua dibanding dengan solusi 1. Selain nilai EL, nilai SI (Smoothness Index), BD (Balance Delay) dan IT (Idle Time) pada solusi kedua lebih kecil dibandingkan dengan solusi 1 yaitu SI = 0,4976005, BD = 17% dan IT =0,8815 menit. Dengan nilai SI yang lebih kecil dibandingkan dengan solusi 1, dapat diartikan bahwa waktu tunggu yang diperlukan pada solusi 2 lebih kecil jika dibandingkan dengan solusi 1. Selain itu, nilai BD yang juga lebih kecil jika dibandingkan dengan solusi 1 dapat diartikan bahwa solusi 2 memiliki keseimbangan lini perakitan yang lebih baik dari solusi 1. Solusi 2 juga memiliki nilai IT yang lebih kecil jika dibandikan dengan solusi 1 yang berarti waktu menganggur yang terjadi pada solusi kedua lebih kecil dibandingkan dengan solusi 1.

LAPORAN PRAKTIKUM PSIT 1

MODUL 8 IMPLEMENTASI PENYEIMBANGAN LINI PERAKITAN

Kelompok Nama

D-3

Tgl. Praktikum

4 Juni 2013

Kelas Asisten Kriteria Penilaian Format Laporan Isi Analisa TOTAL

: 11. Noormalita Irviana Hari Praktikum : Selasa 12. Rizky Destiana Hapsari Dikumpulkan tgl : 11 Juni 2013 : D Yogyakarta,.........................................2013 : P-16 Asisten : (maks. 20) : (maks. 40) : (maks. 40) (...................................) :

LABORATORIUM PSIT JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA 2013

BAB VIII IMPLEMENTASI PENYEIMBANGAN LINI PERAKITAN


8.1 Tujuan Praktikum Mampu mengimplementasikan rencana penyeimbangan lini perakitan yang telah dibuat dan membandingkannya dengan hasil aktualnya.

8.2

Tugas Praktikum 1. Membuat analisis komparatif antara performansi teoritis dan aktual dari lini perakitan yang telah dibentuk. 2. Membuat beberapa saran perbaikan lini perakitan berdasarkan data aktual.

8.3

Output 1. Pengolahan Data Tabel 8.1 SOP awal

Stasiun Kerja 1

Elemen Kerja Merakit roller depan dengan chasis Memasang velg depan dengan tire dan hexa

Siklus 1 Produk 1 1,57 0,27 0,33 0,53 0,5 1,67 0,27 0,32 1,17 0,27 7,08 Produk 2 1,38 0,25 0,27 0,38 0,45 1,62 1,83 0,27 1,1 0,37

Siklus 2 Produk 1 1,43 0,25 0,17 0,23 0,15 0,40 1,00 0,38 1,02 0,27 6,9 Produk 2 1,18 0,22 0,25 0,28 0,20 0,22 0,55 0,55 0,95 0,27

Merangkai ban depan, turn gear dan switch Memasang switch plate, double gear dan cover depan Merakit velg, tire belakang, dan hexa

Merangkai dinamo Memasang ban belakang, gear dan turn gear Memasang dinamo Memasang roller belakang ke bemper

belakang Memasang baterai belt dan body Cycle Time (Waktu Siklus)

Pada SOP awal, terdapat 4 stasiun kerja dengan masing-masing elemen kerja dan melakukan dua siklus kerja. Masing-masing siklus kerja membuat 2 produk dengan waktu yang berbeda-beda. Waktu siklus yang dihasilkan antara siklus pertama dan kedua berbeda, namun perbedaannya tidak terlalu signifikan. Pada siklus 1, waktu siklus (Cycle Time) yang didapat sebesar 7,08, sedangkan untuk siklus 2 sebesar 6,9.

Tabel 8.2 Perbandingan waktu tiap produk Variabel Pengamatan Idle Bottleneck Reject Product Delay 2,3,4 Siklus 1 Produk 1 Produk 2 2,4 3 2,4,3 Siklus 2 Produk 3 Produk 4 2 3,4

Dalam memproduksi 4 produk yang dibagi dengan 2 siklus, terdapat beberapa variabel yang mempengaruhi waktu penyelesaian tiap produk pada masing-masing stasiun kerja. Variabel pengamatan tersebut diantaranya adalah adanya idle, bottleneck, reject product, dan delay. Pada siklus pertama dan produk pertama terjadi delay pada stasiun kerja 2, 3, dan 4 dan reject product, sedangkan pada produk kedua terdapat idle pada stasiun kerja 2 dan 4, terjadi bottleneck pada stasiun kerja 3 dan reject product. Pada siklus kedua dan produk pertama terjadi delay pada stasiun kerja 2, 4, dan 3 dan reject product, sedangkan pada produk kedua terdapat idle pada stasiun kerja 2 dan terjadi bottleneck pada stasiun kerja 3 dan 4 dan reject product. Dari tabel 8.2 di atas dapat dilihat bahwa semua produk pada 2 siklus yang terjadi mengalami reject product. Hal ini dikarenakan tingkat ketelitian dari pekerja dalam merakit komponen-komponen tamiya tersebut rendah. Dalam perakitan tersebut, terdapat 2 reject product yang terjadi, diantaranya dalah pemasangan baut roller depan yang kurang kencang dan pemasangan gear pada dinamo yang kurang dalam sekaligus kurang kencang.

2. Evaluasi Performansi Lini Perakitan Teoritis dan Aktual A. Tabel penugasan elemen kerja aktual

Berdasarkan data percobaan lini perakitan aktual, maka digunakan waktu siklus aktual terbesar untuk perbandingan evaluasi performansi. Dalam percobaan sebelumnya didapatkan bahwa waktu siklus (CT) terbesar adalah 7,08.

Tabel 8.3 Penugasan elemen kerja aktual Stasiun Kerja 1 Ti 1,39 0,2475 2 0,255 0,355 0,325 3 0,9775 0,9125 0,38 4 1,06 0,295 1,355 5,725 2,595 4,485 0,8575 6,2225 ST Aktual 1,39 CT-ST 5,69

Pada stasiun kerja 1 (WS 1), waktu yang dibutuhkan adalah 1,39 menit, nilai tersebut didapat dengan menjumlahkan Ti masing-masing elemen kerja. Namun karena pad WS 1 hanya terdapat 1 elemen kerja maka nilai Ti sama dengan nilai ST Aktual. Pada WS 2, terdapat 3 elemen kerja, masing-masing waktu yang dibutuhkan tiap elemen adalah 0,2475 menit, 0,255 menit, dan 0,355 menit. Oleh sebab itu nilai ST aktual pada WS 2 sebesar 0,8575 menit. Pada WS 3 terdapat 4 elemen kerja, waktu masing-masing elemen adalah 0,,325 menit, 0,9775 menit, 0,9125 menit, dan 0,38 menit, sehingga nilai ST aktual pada WS 3 sebesar 2,595 menit. Pada WS ke 4 hanya terdapat 2 elemen kerja, waktu masing-masing elemen sebesar 1,06 menit dan 0,295 menit, sehingga nilai ST aktual pada WS 4 sebesar 1,355 menit.

1,39

0,2475

0,255

0,355

WS 1

WS 2
5
0,325

6
0,9775

WS 3

7
0,9125

8
0,38 0,295 1,06

10

WS 4

Gambar 8.1 Presedence diagram awal

Dari tabel 8.1 penugasan elemen kerja didapatkan hasil sebagai berikut : 1. Efisiensi lini perakitan = = = 21,88 % x 100%

2. Smoothness index

= = = 11,13

3. Balance delay

= = = 78,12%

x 100%

4. Idle time

= = 4,57 detik

B. Tabel perbandingan performansi lini perakitan antara aktual dengan teoritis Tabel 8.4 Perbandingan performansi lini perakitan Performansi Persentage of Line efficiency Smoothness index Idle time Percentage of Balance delay Hitung (Teoritis) 83,00% 0,4976005 0,8815 17,00% Aktual 21,88% 11,13 4,570 78,12%

Pada tabel 8.4 dapat dilihat perbandingan performansi lini perakitan antara performansi hitung (teoritis) dan performansi aktual. Pada performansi efisiensi perakitan, nilai efisiensi hitung sebesar 83 % sedangkan pada aktual sebesar 21,88 %. Pada performansi smoothness index, nilai hitung (teoritis) sebesar 0,497 sedangkan pada aktual nilainya sebesar 11,13. Pada performansi Idle time, nilai hitung sebesar 0,8815 sedangkan nilai aktual sebesar 4,570. Pada performansi Balance delay, nilai hitung sebesar 17% sedangkan nilai aktualnya 78,12%.

C. Grafik perbandingan performansi lini perakitan antara aktual dan teoritis a. Perbandingan beban kerja
2,59

3 2,5

0,7135 0,8575

1,5
0,6585

1,355

2
1,39

0,6155

0,5925

1 0,5 0

0,263

0,656

0,6595

ST Hitung (Teoritis) ST Aktual

Station Time

Gambar 8.2 Grafik perbandingan beban kerja

b. Perbandingan efisiensi perakitan


90,00% 80,00% 70,00% 60,00% 50,00% 40,00% 30,00% 20,00% 10,00% 0,00%

Hitung (Teoritis) Aktual

Persentage of Line Efficiency


Gambar 8.3 Grafik perbandingan efisiensi perakitan

c. Perbandingan smoothness index


12 10 8 6 4 2 0

Hitung (Teoritis) Aktual

Smoothness Index

Gambar 8.4 Grafik perbandingan smoothness index

d. Perbandingan balance delay


90,00% 80,00% 70,00% 60,00% 50,00% 40,00% 30,00% 20,00% 10,00% 0,00%

Hitung (Teoritis) Aktual

Percentage of Balance Delay

Gambar 8.5 Grafik perbandingan balance delay

e. Perbandingan idle time


5 4,5 4 3,5 3 2,5 2 1,5 1 0,5 0

Hitung (Teoritis) Aktual

Idle Time Gambar 8.6 Grafik perbandingan idle time

8.4

Analisis 1. Analisis Grafik Pada gambar 8.2 dapat dilihat bahwa beban kerja antara ST hitung dan ST

aktual sangat berbeda, karena stasiun kerja pada ST hitung yang terbentuk sebanyak 7 stasiun kerja, sedangkan pada aktualnya stasiun kerja yang ada hanya terdapat 4 stasiun kerja. Oleh sebab itu, beban kerja yang dihasilkan juga sangat berbeda dan menjadikan beban kerja pada ST aktual sangat besar dan tidak seimbang. Pada WS 1, ST aktual sebesar 1,39, sedangkan ST hitung hanya 0,6585. Pada WS 2, ST aktual sebesar 0,8575, sedangkan ST hitung hanya 0,7135. Pada WS 3, ST aktual sebesar 2,595, sedangkan ST hitung hanya 0,263. Pada WS 4, ST aktual sebesar 1,355, sedangkan ST hitung hanya 0,6155. Karena pada aktual hanya terdapat 4 stasiun kerja, maka ST aktual untuk WS 5, 6, dan 7 tidak ada, sedangkan dalam ST hitung nilai WS 5, 6, dan 7 masing-masing 0,5925, 0,656, dan 0,6595. Pada gambar 8.3 dapat dilihat efisiensi lintasan perakitan, yaitu antara waktu yang digunakan dengan waktu yang tersedia. Pada gambar 8.3 menunjukkan grafik perbandingan antara efisiensi perakitan hitung dan aktual yang sangat signifikan. Persentase efisiensi perakitan hitung lebih besar daripada nilai efisiensi perakitan pada aktual. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa efisiensi lintasan perakitan hitung lebih bagus dibandingkan pada aktualnya.

Pada gambar 8.4 yaitu grafik perbandingan smoothness index (SI), dapat diketahui tingkat waktu tunggu relatif dari suatu lini perakitan. Pada gambar 8.4 terlihat bahwa SI hitung lebih kecil daripada SI aktual. Suatu lini perakitan yang seimbang adalah jika nilai SI semakin mendekati nol. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa lini perakitan hitung lebih seimbang daripada lini perakitan aktual. Pada gambar 8.5, yaitu grafik perbandingan balance delay, dapat dilihat bahwa balance delay hitung lebih rendah daripada balance delay (BD) aktual. Oleh sebab itu, lini perakitan hitung mempunyai keseimbangan yang lebih baik dibandingkan dengan lini perakitan balance delay aktualnya, karena penurunan BD suatu lini mengindikasi keseimbangan yang lebih baik. Pada gambar 8.6 yaitu grafik perbandingan idle time, dapat dilihat perbandingan antara idle time hitung dan secara aktual. Semakin besar nilai idle time, maka lini perakitan semakin tidak seimbang. Pada gambar 8.6 terlihat bahwa nilai idle time aktual lebih besar daripada nilai hitungnya. Oleh sebab itu, lini perakitan secara aktual tidak seimbang karena nilai idle time yang sangat tinggi.

2. Perbaikan Lini Perakitan Berdasarkan Evaluasi performansi teoritis dan aktual lini perakitan yang terbentuk, maka disimpulkan bahwa performansi teoritis lebih baik dari performansi aktual. Hal tersebut karena EL performansi teoritis (83%) lebih besar dari (21,88%) dan SI performansi teoritis (0,4976) lebih kecil dari performansi aktual (11,13). Selain itu, Idle time performansi teoritis lebih kecil (0,8815) dibandingkan dengan performansi aktual (4,570), dan nilai balance delay performansi teoritis (17,00%) lebih kecil daripada performansi aktual (78,12%). Perbaikan lini perakitan yang dapat diusulkan agar performansi aktual lebih baik adalah penambahan stasiun kerja karena stasiun kerja aktual hanya sebanyak 4 sedangkan pada teoritis sebanyak 7 stasiun kerja. Hal tersebut dilakukan agar mendapatkan waktu siklus yang lebih baik. Selain itu, penambahan stasiun kerja dapat lebih menyeimbangkan lini perakitan dan dapat mengurangi reject product. Hal lain yang dapat diperbaiki adalah desain layout yang lebih ergonomis sehingga konsentrasi pekerja lebih fokus untuk menyelesaikan sebuah produk dan letak beberapa komponen yang akan di rakit harus lebih tertata rapi agar tidak menyebabkan kebingungan dalam perakitan komponen tersebut.

8.5

Kesimpulan Dari perhitungan performansi dan perbandingan nilai antara aktual dan teoritis,

dapat disimpulkan bahwa lini perakitan performansi teoritis lebih seimbang dan lebih baik dibandingkan lini perakitan aktual. Hal ini dikarenakan EL performansi teoritis (83%) lebih besar dari EL performansi aktual (21,88%) yang berarti bahwa pekerjaan yang dilakukan akan lebih efisien jika menggunakan performansi teoritis dibanding dengan performansi aktual yang telah dilakukan. SI performansi teoritis (0,4976) lebih kecil dari performansi aktual (11,13) yang dapat diartikan bahwa waktu tunggu yang diperlukan pada performansi teoritis lebih kecil jika dibandingkan dengan performansi aktual. Selain itu, Idle time performansi teoritis lebih kecil (0,8815) dibandingkan dengan performansi aktual (4,570) yang berarti waktu menganggur yang terjadi pada performansi teoritis lebih kecil dibandingkan dengan performansi aktual. Dan nilai balance delay performansi teoritis (17,00%) lebih kecil daripada performansi aktual (78,12%) yang dapat diartikan bahwa performansi teoritis memiliki keseimbangan lini perakitan yang lebih baik dari perfomansi aktual karena memiliki lebih banyak stasiun kerja dibandingkan dengan performansi aktualnya.

LAPORAN PRAKTIKUM PSIT 1

MODUL 9 REBA

Kelompok Nama

D-3

Tgl. Praktikum

11 Juni 2013

Kelas Asisten Kriteria Penilaian Format Laporan Isi Analisa TOTAL

: 13. Noormalita Irviana Hari Praktikum : Selasa 14. Rizky Destiana Hapsari Dikumpulkan tgl : 18 Juni 2013 : D Yogyakarta,.........................................2013 : P-16 Asisten : (maks. 20) : (maks. 40) : (maks. 40) (...................................) :

LABORATORIUM PSIT JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA 2013

BAB IX REBA
9.1 Tujuan Praktikum 1. Mahasiswa mampu memahami analisa postur kerja. 2. Mahasiswa mampu menganalisa postur kerja pekerja. 3. Mahasiswa mampu memberi rekomendasi berdasar analisa postur kerja.

9.2

Tugas Praktikum 1. Menganalisa postur kerja berdasarkan video/gambar dengan metode REBA. 2. Membuat rekomendasi dari analisa postur.

9.3

Output

9.3.1 Objek Penelitian Nama Operator Jenis Kelamin Usia Kegiatan Kerja : Rizky Destiana Hapsari : Perempuan : 20 tahun : Operator melakukan perakitan pada bagian rangkaian depan mobil tamiya yang terdiri dari beberapa part, yaitu: velg depan, tire, hexa, ban depan, turn gear, switch, switch plate, double gear dan cover depan. Pertama, operator memasang velg depan dengan tire dan hexa. Kedua, operator merangkai ban depan, turn gear dan switch. Ketiga, operator memasang switch plate, double gear dan cover depan. Posisi operator pada saat melakukan pekerjaan adalah berdiri. Stasiun Kerja Produk yang Dirakit : Operator melakukan kegiatan kerja di stasiun kerja 2 : Rangkaian depan mobil tamiya

Gambar 9.1. Postur kerja

9.3.2 Analisa Postur Kerja Tabel 9.1 Pergerakan postur No. 1 2 3 4 5 6 Postur Punggung Leher Kaki Lengan Atas Lengan Bawah Pergelangan Tangan Sudut 42 15 22 40 23 45 Flexion Flexion Flexion dan Tertopang Flexion Flexion Extension dan Menyimpang Keterangan

Operator melakukan perakitan pada rangkaian depan mobil tamiya dengan posisi berdiri. Kriteria postur operator pada saat melakukan perakitan adalah pada bagian punggung melakukan pergerakan flexion dan sudut yang terbentuk sebesar 420, bagian leher melakukan pergerakan flexion dan sudut yang terbentuk sebesar 150, bagian kaki melakukan pergerakan flexion dan sudut yang terbentuk sebesar 220 dan tertopang, bagian lengan atas melakukan pergerakan flexion dan sudut yang terbentuk sebesar 400, bagian lengan bawah melakukan pergerakan flexion dan sudut yang terbentuk sebesar 230, serta bagian pergelangan tangan melakukan pergerakan extension dan

sudut yang terbentuk sebesar 450 dan menyimpang.

9.3.3 Skor REBA Tabel 9.2 Skor REBA

L Trunk 3 2 Upper Arms

2
GROUP A
Neck 1

4
L R

+
0
LOAD / FORCE COUPLING

+
2

2 Lower Arms

GROUP B

L Legs 1 3 Wrist

SCORE A

SCORE B

SCORE C

+
Activity Score

REBA Score

1. Group A a. Punggung (Trunk) Bagian punggung pada proses kerja ini membungkuk atau melakukan pergerakan flexion sebesar 420, sehingga skornya adalah 3. b. Leher (Neck) Penilaian untuk postur leher operator membentuk sudut 150 dan melakukan pergerakan flexion, maka skor yang didapat adalah 1.

c. Kaki (Legs) Posisi kaki normal/seimbang/tertopang dan membentuk sudut 220 sehingga skornya adalah 1. d. Beban (Load) Beban yang dibawa memiliki berat < 5 kg sehingga skornya adalah 0.

2. Group B a. Lengan atas (Upper arm) Posisi pada lengan atas membentuk sudut 400 dan melakukan pergerakan flexion maka skornya adalah 2. b. Lengan bawah (Lower arm) Posisi lengan bawah membentuk sudut 230 maka skornya adalah 2. c. Pergelangan tangan (Wrist) Pergerakan pergelangan tangan membentuk sudut 450 dan melakukan pergerakan extension maka skornya adalah 2 dan karena pergelangan tangan operator agak menyimpang maka ditambah +1, sehingga totalnya adalah 2+1=3 d. Force coupling Dalam hal ini benda yang diangkat adalah part tamiya seperti velg depan, tire, hexa, ban depan, turn gear, switch, switch plate, double gear dan cover depan yang memiliki pegangan tangan yang tidak bisa diterima walaupun memungkinkan, sehingga skor untuk coupling adalah 2. e. Activity score Pada tahap bekerja terjadi 1 atau lebih bagian tubuh statis, ditahan lebih dari 1 menit maka skornya adalah 1 serta pengulangan gerakan dalam rentang waktu singkat, diulang lebih dari 4 kali per menit maka skornya ditambah +1 sehingga totalnya adalah 1+1=2

Tabel 9.3 Level resiko dan tindakan Action Level 0 1 2 3 4 Skor REBA 1 2-3 47 8 - 10 11 15 Level Resiko Bisa diabaikan Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Tindakan Perbaikan Tidak perlu Mungkin perlu Perlu Segera Perlu saat ini juga

Dengan demikian hasil penilaian untuk grup A adalah 2 + 0 = 2 dan hasil dari penilaian grup B adalah 4 + 2 = 6 maka hasil dari penilain tabel C adalah 4 dengan activity score sebesar 2, maka skor REBA adalah 4 + 2 = 6, yang artinya tindakan perbaikan perlu dilakukan.

9.3.4 Rekomendasi Postur Kerja Berdasarkan perhitungan skor REBA yang didapat dari analisis postur, maka ada beberapa rekomendasi yang disarankan agar operator dapat bekerja baik yaitu : 1. Meja kerja yang digunakan oleh operator dengan posisi kerja berdiri lebih ditinggikan lagi hingga sejajar dengan tinggi siku berdiri operator. 2. Operator disarankan menggunakan kursi agar posisi saat mengambil objek tidak membungkuk. 3. Kursi yang nantinya digunakan oleh operator lebih baik terdapat sandaran untuk punggung. 4. Dibuat meja kerja yang terdapat pemisah antara bagian-bagian tamiya yang berbeda agar operator tidak kebingungan dalam mencari bagian-bagian tersebut.

9.4

Kesimpulan Operator melakukan perakitan rangkaian depan tamiya dengan posisi berdiri.

Dari postur kerja yang ada, maka dapat dianalisis bahwa pada bagian punggung melakukan pergerakan flexion sebesar 420, bagian leher melakukan pergerakan flexion sebesar 150, bagian kaki melakukan pergerakan flexion sebesar 220 dan tertopang, bagian lengan atas melakukan pergerakan flexion sebesar 400, bagian lengan bawah

melakukan pergerakan flexion sebesar 230, serta bagian pergelangan tangan melakukan pergerakan extension sebesar 450 dan menyimpang. Dari hasil perhitungan REBA didapatkan skor sebesar 6 yang berarti perlu adanya perbaikan agar tidak terjadi Cumulative Trauma Disorders (CTDs). Rekomendasi yang diberikan agar mencegah terjadinya CTDs diantaranya adalah meja kerja yang digunakan oleh operator dengan posisi kerja berdiri lebih ditinggikan lagi hingga sejajar dengan tinggi siku berdiri operator, operator disarankan menggunakan kursi agar posisi saat mengambil objek tidak membungkuk, kursi yang nantinya digunakan oleh operator lebih baik terdapat sandaran untuk punggung, atau dibuat meja kerja yang terdapat pemisah antara bagian-bagian tamiya yang berbeda agar operator tidak kebingungan dalam mencari bagian-bagian tersebut.

LAPORAN PRAKTIKUM PSIT 1

MODUL 10 ANTROPOMETRI

Kelompok Nama

D-3

Tgl. Praktikum Hari Praktikum

:
: :

18 Juni 2013 Selasa 25 Juni 2013

: 3. Noormalita Irviana

4. Rizky Destiana Hapsari Dikumpulkan tgl Kelas Asisten Kriteria Penilaian Format Laporan Isi Analisa TOTAL : : : :
(maks. 20) (maks. 40) (maks. 40)

: :

D P-16

Yogyakarta,.........................................2013

Asisten

(...................................)

LABORATORIUM PSIT JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA 2013

BAB X ANTROPOMETRI

2.9

Tujuan Praktikum

2.3.1 Mahasiswa dapat merancang sebuah desain stasiun kerja yang digunakan dalam sebuah pekerjaan perakitan Tamiya. 2.3.2 Mampu mengetahui interaksi antara manusia, mesin, peralatan, bahan, maupun lingkungan kerjanya. 2.3.3 Mampu memahami adanya sejumlah data antropometri dan

menggunakannya untuk perancangan / pengaturan sistem kerja. 2.3.4 Membekali mahasiswa dengan konsep berpikir (prosedural),

penganalisaan dan perancangan. 2.3.5 Mampu merancang desain menggunakan software. produk dengan data antropometri

2.10

Tugas Praktikum

Membuat desain stasiun kerja untuk proses perakitan Tamiya. Desain merupakan produk rancangan meja dan kursi untuk proses perakitan dengan memperhatikan data antropometri pekerja dan dibuat dalam bentuk desain visual.

1.3.6 Output 10.3.1 Data Antropometri Dimensi Tubuh Pekerja

Tabel 10.1 Bank data Antropometri dan Dimensi Tubuh No 1 2 3 4 TBD 62 56 58 59 LB 43 47 40 41 TSD 24 22 24 27 Dimensi Tubuh TP TPO 18,5 32,8 11,5 41 9,1 44 12,5 44,6 PPO 48,6 45 46,4 47 LP 45,5 40 38 36,5 PLB 26,8 26,5 26,5 29

No 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

TBD 55,5 54 61 58,1 54 61,5 54 56 58 56 55,7 58,2 55,3 57,2 58,5 60 54 54,4 55,6 60 56,5 58,5 53,5 59,5 61,5 59 Keterangan : TBD LB TSD TP TPO PPO LP PLB

LB 40,5 41 25 36,1 31,8 36 35 37 30,5 28,5 32,8 36,8 33,2 39,2 34 39 36 35,1 31,4 43,7 37 33 35,7 37,5 36,6 37,1

TSD 20,4 23 27 22,2 28,5 20 20 24,2 20,5 26,6 23 25,8 20,5 21,3 26 24 32,2 30,5 19 26 30 25,7 24,5 23 29 21,5

Dimensi Tubuh TP TPO 13 41,5 11,5 43 13,5 47,6 15 42,3 15,5 32,7 13,1 41,5 9,8 40 12,6 38 11,4 40 12,8 40 20,5 37,5 12,5 40,5 13,5 42 11,6 41 14 40,5 12,6 38,5 18 38,9 14,4 40 8,5 43,7 13,5 43,6 14 39 13,5 41 15 40 11,7 37,8 17 37,8 11,5 40

PPO 43 40 44,5 47,2 52,5 43,3 41 48,2 44,1 48 45,5 45,6 50,5 45 48 47 46 46 41,6 44 40 50,5 43 39 47,5 48

LP 37 34,6 41 37,5 30 36,5 35,6 30,8 34,8 34 28 38,7 30 34,5 36 36 25,5 36,4 32,1 42,5 29,5 34,5 32,2 34 39,8 42

PLB 25 25,5 26,5 24 24,1 25 24 25,5 25,3 26,2 24,5 24 26 25,1 27 24 25 23,5 23,9 25 24 25,5 25 22,3 24,2 24,7

: Tinggi Bahu Duduk : Lebar Bahu : Tinggi Siku Duduk : Tebal Paha : Tinggi Popliteal : Pantat Popliteal : Lebar pinggul : Panjang Lengan Bawah

10.3.2 Pengolahan Data Antropometri Diketahui : N K s : 30 : 95% 1,96 : 5% 0,05

a. Kecukupan Data 2.3.1 Kecukupan Data Dimensi TBD

Karena N < N = 1,7034 < 30 maka data dinyatakan cukup.

2.3.2

Kecukupan Data Dimensi LB

Karena N < N = 4,89 < 30 maka data dinyatakan cukup.

2.3.3

Kecukupan Data Dimensi TSD

Karena N < N = 5,443 < 30 maka data dinyatakan cukup.

2.3.4

Kecukupan Data Dimensi TP

Karena N < N = 7,5939 < 30 maka data dinyatakan cukup.

2.3.5

Kecukupan Data Dimensi TPO

Karena N < N = 2,76 < 30 maka data dinyatakan cukup.

2.3.6

Kecukupan Data Dimensi PPO

Karena N < N = 2,193 < 30 maka data dinyatakan cukup.

2.3.7

Kecukupan Data Dimensi LP

Karena N < N = 4,909 < 30 maka data dinyatakan cukup.

2.3.8

Kecukupan Data Dimensi PPO

Karena N < N = 2,02 < 30 maka data dinyatakan cukup.

b. Keseragaman Data

BKA = X k BKB = X k Keterangan : BKA BKB : Standar Deviasi : Batas Kontrol Atas : Batas Kontrol Bawah

Tabel 10.2 Tabel Keseragaman Data Tiap Dimensi No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 TBD 62 56 58 59 55,5 54 61 58,1 54 61,5 54 56 58 56 55,7 LB 43 47 40 41 40,5 41 25 36,1 31,8 36 35 37 30,5 28,5 32,8 TSD 24 22 24 27 20,4 23 27 22,2 28,5 20 20 24,2 20,5 26,6 23 Dimensi Tubuh TP TPO 18,5 32,8 11,5 41 9,1 44 12,5 44,6 13 41,5 11,5 43 13,5 47,6 15 42,3 15,5 32,7 13,1 41,5 9,8 40 12,6 38 11,4 40 12,8 40 20,5 37,5 PPO 48,6 45 46,4 47 43 40 44,5 47,2 52,5 43,3 41 48,2 44,1 48 45,5 LP 45,5 40 38 36,5 37 34,6 41 37,5 30 36,5 35,6 30,8 34,8 34 28 PLB 26,8 26,5 26,5 29 25 25,5 26,5 24 24,1 25 24 25,5 25,3 26,2 24,5

No 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Total rata-rata BKA BKB

TBD 58,2 55,3 57,2 58,5 60 54 54,4 55,6 60 56,5 58,5 53,5 59,5 61,5 59

LB 36,8 33,2 39,2 34 39 36 35,1 31,4 43,7 37 33 35,7 37,5 36,6 37,1

TSD 25,8 20,5 21,3 26 24 32,2 30,5 19 26 30 25,7 24,5 23 29 21,5

Dimensi Tubuh TP TPO 12,5 40,5 13,5 42 11,6 41 14 40,5 12,6 38,5 18 38,9 14,4 40 8,5 43,7 13,5 43,6 14 39 13,5 41 15 40 11,7 37,8 17 37,8 11,5 40

PPO 45,6 50,5 45 48 47 46 46 41,6 44 40 50,5 43 39 47,5 48

LP 38,7 30 34,5 36 36 25,5 36,4 32,1 42,5 29,5 34,5 32,2 34 39,8 42

PLB 24 26 25,1 27 24 25 23,5 23,9 25 24 25,5 25 22,3 24,2 24,7

1720,5 1090,5 731,4 401,6 1210,8 1366 1063,5 753,6 57,35 36,35 24,38 13,3867 40,36 45,5333 35,45 25,12 2,53469 4,61203 3,44327 2,63762 3,07095 3,26204 4,51555 1,31815 64,9541 50,1861 34,7098 21,2995 49,5729 55,3195 48,9966 29,0744 49,7459 22,5139 14,0502 5,4738 31,1471 35,7472 21,9034 21,1656 1. Keseragaman Data Dimensi TBD

= 2,534

Keseragaman data TBD


70 60 Ukuran TBD 50 40 30 20 10 0 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 BKA BKB TBD

Gambar 10.1 Keseragaman data Dimensi TBD

Berdasarkan grafik pada gambar 10.1, maka data pada dimensi TBD dikatakan seragam karena seluruh data berada diantara BKA dan BKB.

2. Keseragaman Data Dimensi LB

= 4,612

Keseragaman data LB
60 50 Ukuran LB 40 BKA 30 20 10 0 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 BKB LB

Gambar 10.2 Keseragaman data Dimensi LB

Berdasarkan grafik pada gambar 10.2, maka data pada dimensi LB dikatakan seragam karena seluruh data berada diantara BKA dan BKB.

3. Keseragaman Data Dimensi TSD

= 3,44

Keseragaman data TSD


40 35 30 Ukuran TSD 25 20 15 10 5 0 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 BKA BKB TSD

Gambar 10.3 Keseragaman data Dimensi TSD

Berdasarkan grafik pada gambar 10.3, maka data pada dimensi TSD dikatakan seragam karena seluruh data berada diantara BKA dan BKB.

4. Keseragaman Data Dimensi TP

= 2,637

Keseragaman data TP
25 20 Ukuran TP 15 10 5 0 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 BKA BKB TP

Gambar 10.4 Keseragaman data Dimensi TP

Berdasarkan grafik pada gambar 10.4, maka data pada dimensi TP dikatakan seragam karena seluruh data berada diantara BKA dan BKB.

5. Keseragaman Data Dimensi TPO

= 3,07 3,07

3,07

Keseragaman data TPO


60 50 Ukuran TPO 40 BKA 30 20 10 0 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 BKB TPO

Gambar 10.5 Keseragaman data Dimensi TPO

Berdasarkan grafik pada gambar 10.5, maka data pada dimensi TPO dikatakan seragam karena seluruh data berada diantara BKA dan BKB.

6. Keseragaman Data Dimensi PPO

= 3,26 3,26

3,26

Keseragaman data PPO


60 50 Ukuran PPO 40 BKA 30 20 10 0 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 BKB PPO

Gambar 10.6 Keseragaman data Dimensi PPO

Berdasarkan grafik pada gambar 10.6, maka data pada dimensi PPO dikatakan seragam karena seluruh data berada diantara BKA dan BKB.

7. Keseragaman Data Dimensi PPO

= 4,515 4,515

4,515

Keseragaman data LP
60 50 Ukuran LP 40 BKA 30 20 10 0 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 BKB LP

Gambar 10.7 Keseragaman data Dimensi LP

Berdasarkan grafik pada gambar 10.7, maka data pada dimensi LP dikatakan seragam karena seluruh data berada diantara BKA dan BKB.

8. Keseragaman Data Dimensi PLB

=1,32

Keseragaman data PLB


35 30 Ukuran PLB 25 20 15 10 5 0 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 BKA BKB PLB

Gambar 10.8 Keseragaman data Dimensi PLB

Berdasarkan grafik pada gambar 10.8, maka data pada dimensi PLB dikatakan seragam karena seluruh data berada diantara BKA dan BKB.

c. Uji Normalitas Data Pengolahan Data Normalitas dan Percentile dengan SPSS: 1. Input data nilai dimensi pada data view. 2. Masuk ke tampilan variable view, kemudian kolom name diganti dengan nama dimensi. 3. Pengolahan data : a. b. c. d. Klik analyze, pilih descriptive statistics, kemudian explore. Masukkan semua variabel sebagai dependent variables. Checklist both pada toolbox display. Pilih statistic: checklist descriptive, percentiles, kemudian

continue. e. Pilih plots: checklist none pada boxplots, stem dan leaf pada descriptive. f. g. Checklist normality plots with test, kemudian continue. Pilih options: checklist exclude cases listwise, kemudian continue. Klik continue. Hasil pengolahan data ditampilkan pada output.

Tabel 10.3 Test of Normality


Tests of Normality Kolmogorov-Smirnov Statistic TBD LB TSD TP TPO PPO LP PLB .138 .124 .119 .150 .153 .074 .107 .120 df 30 30 30 30 30 30 30 30
a

Shapiro-Wilk Statistic .942 .986 .953 .945 .944 .981 .990 .950 df 30 30 30 30 30 30 30 30 Sig. .104 .953 .204 .121 .116 .858 .992 .171

Sig. .151 .200 .200


* *

.085 .070 .200 .200 .200


* * *

a. Lilliefors Significance Correction *. This is a lower bound of the true significance.

Dilihat dari gambar 10.3 Test of Normality di atas semua dimensi yang digunakan untuk membuat sebuah bangku kuliah dikatakan normal karena seluruh nilai Sig. lebih 0,05.

1. Uji Normalitas Dimensi Tinggi Bahu Duduk (TBD)

Gambar 10.9 Histogram Dimensi TBD

Gambar 10.10 Diagram Normal Q-Q Plot of TBD

2. Uji Normalitas Dimensi Lebar Bahu (LB)

Gambar 10.11 Histogram Dimensi LB

Gambar 10.12 Diagram Normal Q-Q Plot of LB

3. Uji Normalitas Dimensi Tinggi Siku Duduk (TSD)

Gambar 10.13 Histogram Dimensi TSD

Gambar 10.14 Diagram Normal Q-Q Plot of TSD

4. Uji Normalitas Dimensi Tebal Paha (TP)

Gambar 10.15 Histogram Dimensi TP

Gambar 10.16 Diagram Normal Q-Q Plot of TP

5. Uji Normalitas Dimensi Tinggi Popliteal (TPO)

Gambar 10.17 Histogram Dimensi TPO

Gambar 10.18 Diagram Normal Q-Q Plot of TPO

6. Uji Normalitas Dimensi Pantat Popliteal (PPO)

Gambar 10.19 Histogram Dimensi PPO

Gambar 10.20 Diagram Normal Q-Q Plot of PPO

7. Uji Normalitas Dimensi Lebar Pinggul (LP)

Gambar 10.21 Histogram Dimensi LP

Gambar 10.22 Diagram Normal Q-Q Plot of LP

8. Uji Normalitas Dimensi Panjang Lengan Bawah (PLB)

Gambar 10.22 Histogram Dimensi PLB

Gambar 10.23 Diagram Normal Q-Q Plot of PLB

d. Persentil Tabel 10.3 Persentil Dimensi TBD 54 54 55,525 57,6 59 61,05 61,5 PERCENTILE UKURAN TBD

P5 P10 P25 P50 P75 P90 P95

57,6

Tabel 10.4 Persentil Dimensi LB PERCENTILE 29,4 UKURAN LB 31,31 33,4 36,35 36,35 39,15 41,2 43,385

P5 P10 P25 P50 P75 P90 P95

Tabel 10.5 Persentil Dimensi TSD PERCENTILE P5 P10 P25 P50 P75 P90 P95 20 20,36 21,625 24 26,45 29,1 30,275 Tabel 10.6 Persentil Dimensi TP[NI1] PERCENTILE P5 P10 P25 P50 P75 P90 P95 9,415 11,24 11,625 13,05 14,3 17,1 18,275 Tabel 10.7 Persentil Dimensi TPO 34,915 37,77 38,925 40,25 41,875 43,73 44,33 PERCENTILE UKURAN TPO UKURAN TP UKURAN TSD

24

18,275

P5 P10 P25 P50 P75 P90 P95

40,25

Tabel 10.8 Persentil Dimensi PPO PERCENTILE P5 P10 P25 P50 P75 P90 P95 40 40,9 43,475 45,8 47,875 48,79 50,5 Tabel 10.9 Persentil Dimensi LP 28,675 29,95 32,65 35,8 37,875 41,1 42,275 PERCENTILE UKURAN LP UKURAN PPO

45,8

P5 P10 P25 P50 P75 P90 P95

42,275[U2]

Tabel 10.10 Persentil Dimensi PLB PERCENTILE 23,68 UKURAN PLB 23,99 24,025 25 25 25,875 26,53 26,91

P5 P10 P25 P50 P75 P90 P95

10.3.3 Deskripsi Produk a. Produk yang Dikembangkan Penggunaan data antropometri di atas digunakan untuk membuat bangku kuliah yang diperuntukan untuk wanita dan digunakan untuk melakukan perakitan tamiya. Bangku kuliah yang didesain harus sesuai dengan

dimensi tubuh operator sehingga dapat mengurangi kelelahan fisik atau dapat pula menghindari terjadinya Cumulative Trauma Disorders (CTDs) yang nantinya dapat menyebabkan meningkatnya produk cacat.

b.

Dimensi Tubuh Dimensi tubuh yang digunakan untuk mendesain ulang bangku dan meja

kuliah antara lain TBD (Tinggi Bahu Duduk), LB (Lebar Bahu), TSD (Tinggi Siku Duduk), TP (Tebal Paha), TPO (Tinggi Popliteal), PPO (Pantat Popliteal), LP (Lebar Pinggul), dan PLB (Panjang Lengan Bawah). 1. TBD (Tinggi Bahu Duduk) Dimensi tinggi bahu duduk digunakan untuk menentukan tinggi kursi dari alas tempat duduk kursi. Percentile yang digunakan adalah P50 karena bangku kuliah tersebut diharapkan nantinya dapat mewakili rata-rata dari tinggi bahu duduk banyak orang khususnya wanita agar nyaman untuk digunakan. 2. LB (Lebar Bahu) Dimensi lebar bahu digunakan untuk menentukan lebar sandaran kursi. Percentile yang digunakan adalah P50 karena bangku kuliah tersebut diharapkan nantinya dapat mewakili rata-rata dari lebar bahu banyak orang khususnya wanita agar nyaman untuk digunakan. 3. TSD (Tinggi Siku Duduk) Dimensi tinggi siku duduk digunakan untuk menentukan tinggi meja dari alas kursi. Percentile yang digunakan adalah P50 karena bangku kuliah tersebut diharapkan nantinya dapat mewakili rata-rata dari tinggi siku duduk banyak orang khususnya wanita agar nyaman untuk digunakan. 4. TP (Tebal Paha) Dimensi tebal paha digunakan untuk menentukan tinggi meja dari alas kursi. Percentile yang digunakan adalah P95 agar pengguna bangku kuliah tersebut yang memiliki paha yang besar/tebal dapat menggunakan bangku kuliah tersebut dengan nyaman tanpa merasakan kesempitan.

5. TPO (Tinggi Popliteal) Dimensi tinggi popliteal digunakan untuk menentukan tinggi alas duduk dari lantai. Percentile yang digunakan adalah P5 karena agar pengguna bangku kuliah tersebut yang memiliki panjang kaki yang kurang, dapat menggunakan bangku tersebut dengan nyaman tanpa kakinya harus menggantung di atas lantai. 6. PPO (Pantat Popliteal) Dimensi pantat popliteal digunakan untuk menentukan panjang alas kursi. Percentile yang digunakan adalah P50 karena bangku kuliah tersebut diharapkan nantinya dapat mewakili rata-rata dari pantat popliteal banyak orang khususnya wanita agar nyaman untuk digunakan. 7. LP (Lebar Pinggul) Dimensi lebar pinggul digunakan untuk menentukan lebar alas kursi. Percentile yang digunakan adalah P95 karena agar pengguna bangku kuliah tersebut yang memiliki pinggul yang besar dapat menggunakan bangku kuliah tersebut dengan nyaman tanpa merasakan kesempitan. 8. PLB (Panjang Lengan Bawah) Dimensi panjang lengan bawah digunakan untuk menentukan lebar meja. Percentile yang digunakan adalah P50 karena bangku kuliah tersebut diharapkan nantinya dapat mewakili rata-rata dari panjang lengan bawah banyak orang khususnya wanita agar nyaman untuk digunakan.

10.3.3 Gambar Desain Produk (3D)

Gambar 10.25 Desain bangku kuliah

10.4

Kesimpulan Dari data-data yang telah dijelaskan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa uji

kecukupan data untuk dimensi TBD (Tinggi Bahu Duduk), LB (Lebar Bahu), TSD (Tinggi Siku Duduk), TP (Tebal Paha), TPO (Tinggi Popliteal), PPO (Pantat Popliteal), LP (Lebar Pinggul), dan PLB (Panjang Lengan Bawah) secara keseluruhan data dianggap cukup karena masing-masing N lebih besar dari N. Selain itu, data yang digunakan untuk semua dimensi yang dibutuhkan untuk membuat suatu bangku kuliah dikatakan seragam karena seluruh data yang ada masih berada di antara BKA dan BKB. Disamping itu, untuk uji normalitas dengan menggunakan software SPSS, semua data tersebut dikatakan normal karena keseluruhan nilai Sig. dari seluruh dimensiyang dibutuhkan lebih besar dari 0,05.