Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH KROMATOGRAFI KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI DENGAN DETEKTOR FLUORESENSI

JURUSAN FARMASI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF.DR.HAMKA FAKULTAS FARMASI DAN SAINS 2013

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Kromatografi adalah suatu teknik pemisahan molekul berdasarkan perbedaan pola pergerakan antara fase gerak dan fase diam untuk memisahkan komponen (berupa molekul) yang berada pada larutan. Molekul yang terlarut dalam fase gerak, akan melewati kolom yang merupakan fase diam. Molekul yang memiliki ikatan yang kuat dengan kolom akan cenderung bergerak lebih lambat dibanding molekul yang berikatan lemah. Dengan ini, berbagai macam tipe molekul dapat dipisahkan berdasarkan pergerakan pada kolom. Setelah komponen terelusi dari kolom, komponen tersebut dapat dianalisis dengan menggunakan detektor atau dapat dikumpulkan untuk analisis lebih

lanjut. Beberapa alat-alat analitik dapat digabungkan dengan metode pemisahan untuk analisis secara on-line (on-line analysis) seperti: penggabungan kromatografi gas (gas chromatography) dan kromatografi cair (liquid chromatography) dengan mass spectrometry (GC-MS dan LC-MS), Fourier-transform infrared spectroscopy (GCFTIR), dan diode-array UV-VIS (HPLC-UV-VIS). Kromatografi biasanya terdiri dari fase diam (fase stasioner) dan fase gerak (fase mobile). Fase gerak membawa komponen suatu campuran melalui fase diam, dan fase diam akan berikatan dengan komponen tersebut dengan afinitas yang berbeda-beda. Jenis kromatografi yang berlainan bergantung pada perbedaan jenis fase, namun semua jenis kromatografi tersebut berdasar pada asas yang sama. Fase diam (Stationary phase) merupakan salah satu komponen yang penting dalam proses pemisahan dengan kromatografi karena dengan adanya interaksi dengan fase diamlah terjadi perbedaan waktu retensi (tR) dan terpisahnya komponen suatu senyawa analit termasuk asam amino. Fase diam dapat berupa bahan padat atau porous

(berpori) dalam bentuk molekul kecil atau cairan yang umumnya dilapiskan pada padatan pendukung. Fase gerak (Mobile phase) merupakan pembawa analit (asam amino), dapat bersifat inert maupun berinteraksi dengan analit tersebut. Fase gerak dapat berupa bahan cair dan dapat juga berupa gas inert yang umumnya dapat dipakai sebagai carrier gas senyawa mudah menguap (volatil).
Tabel. Klasifikasi kromatografi

Kriteria Fasa mobil

Nama Kromatografi cair, kromatografi gas Kromatografi adsorpsi, kromatografi partisi

Mekanisme

Kromatografi pertukaran ion kromatografi gel

Fasa stationer Kromatografi kolom, kromatografi lapis tipis, kromatografi kertas

B. Tujuan 1. Mengetahui pengertian dari kromatografi cair kinerja tinggi (HPLC) 2. Prinsip dari HPLC 3. Mengetahui alat-alat yang digunakan pada HPLC 4. Mengetahui bagaimana senyawa dapat diukur serapannya dengan HPLC detector fluoresensi 5. Mengetahui senyawa apa saja yang dapat diukur oleh HPLC dengan detector fluoresensi.

BAB II PEMBAHASAN
HPLC (High Performance Liquid Chromatography) atau biasa juga disebut dengan Kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) dikembangkan pada akhir tahun 1960an dan awal tahun 1970-an. Saat ini, HPLC merupakan teknik pemisahan yang diterima secara luas untuk analisis bahan obat, baik dalam bulk atau dalam sediaan farmasetik.

PRINSIP KERJA HPLC Adapun prinsip kerja dari KCKT adalah sebagai berikut : dengan bantuan pompa fasa gerak cair dialirkan melaluikolom ke detector. Cuplikan dimasukkan ke dalam aliran fasa gerak dengan cara penyuntikan. Didalam kolom terjadi pemisahan komponen-komponen campuran. Karena perbedaan kekuataninteraksi antara solute-solut terhadap fasa diam.Solut-solut yang kurang kuat interaksinya dengan fasa diam akan keluar dari kolom lebih dulu.Sebaliknya, solut-solut yang kuat berinteraksi dengan fasa diam maka solute-solut tersebut akankeluar kolom dideteksi oleh detector kemudian direkam dalam bentuk kromatogram kromatografigas. Seperti pada kromatografi gas, jumlah peak menyatakan konsentrasi komponen dalamcampuran. Computer dapat digunakan untuk mengontrol kerja sistem HPLC dan mengumpulkanserta mengolah data hasil pengukuran HPLC

JENIS HPLC Pemisahan dengan HPLC dapat dilakukan dengan fase normal (jika fase diamnya lebih polar dibanding dengan fase geraknya) atau fase terbalik (jika fase diamnya kurang non polar dibanding dengan fase geraknya). Berdasarkan pada kedua pemisahan ini, sering kali HPLC dikelompokkan menjadi HPLC fase normal dan HPLC fase terbalik. Selain klasifikasi di atas, HPLC juga dapat dikelompokkan berdasarkan pada sifat fase

diam dan atau berdasarkan pada mekanisme sorpsi solut, dengan jenis-jenis HPLC sebagai berikut: 1. Kromatografi Adsorbsi 2. Kromatografi fase terikat 3. Kromatografi penukar ion 4. Kromatografi Pasangan ion 5. Kromatografi Eksklusi Ukuran 6. Kromatografi Afinitas

SISTEM PERALATAN HPLC Instrumentasi HPLC pada dasarnya terdiri atas: wadah fase gerak, pompa, alat untuk memasukkan sampel (tempat injeksi), kolom, detektor, wadah penampung buangan fase gerak, dan suatu komputer atau integrator atau perekam.

1. Wadah Fase gerak dan Fase gerak Wadah fase gerak harus bersih dan lembam (inert). Wadah pelarut kosong ataupun labu laboratorium dapat digunakan sebagai wadah fase gerak. Wadah ini biasanya dapat menampung fase gerak antara 1 sampai 2 liter pelarut. Fase gerak atau eluen biasanya terdiri atas campuran pelarut yang dapat bercampur yang secara keseluruhan berperan dalam daya elusi dan resolusi. Daya elusi

dan resolusi ini ditentukan oleh polaritas keseluruhan pelarut, polaritas fase diam, dan sifat komponen-komponen sampel. Untuk fase normal (fase diam lebih polar daripada fase gerak), kemampuan elusi meningkat dengan meningkatnya polaritas pelarut. Sementara untuk fase terbalik (fase diam kurang polar daripada fase gerak), kemampuan elusi menurun dengan meningkatnya polaritas pelarut. Fase gerak sebelum digunakan harus disaring terlebih dahulu untuk menghindari partikel-partikel kecil ini. Selain itu, adanya gas dalam fase gerak juga harus dihilangkan, sebab adanya gas akan berkumpul dengan komponen lain terutama di pompa dan detektor sehingga akan mengacaukan analisis. Elusi dapat dilakukan dengan cara isokratik (komposisi fase gerak tetap selama elusi) atau dengan cara bergradien (komposisi fase gerak berubah-ubah selama elusi) yang analog dengan pemrograman suhu pada kromatografi gas. Elusi bergradien digunakan untuk meningkatkan resolusi campuran yang kompleks terutama jika sampel mempunyai kisaran polaritas yang luas. Fase gerak yang paling sering digunakan untuk pemisahan dengan fase terbalik adalah campuran larutan bufer dengan metanol atau campuran air dengan asetonitril. Untuk pemisahan dengan fase normal, fase gerak yang paling sering digunakan adalah campuran pelarut-pelarut hidrokarbon dengan pelarut yang terklorisasi atau

menggunakan pelarut-pelarut jenis alkohol. Pemisahan dengan fase normal ini kurang umum dibanding dengan fase terbalik.

2. Pompa Pompa yang cocok digunakan untuk HPLC adalah pompa yang mempunyai syarat sebagaimana syarat wadah pelarut yakni: pompa harus inert terhadap fase gerak. Bahan yang umum dipakai untuk pompa adalah gelas, baja tahan karat, Teflon, dan batu nilam. Pompa yang digunakan sebaiknya mampu memberikan tekanan sampai 5000 psi dan mampu mengalirkan fase gerak dengan kecepatan alir 3 mL/menit. Untuk tujuan preparatif, pompa yang digunakan harus mampu mengalirkan fase gerak dengan kecepatan 20 mL/menit.

Tujuan penggunaan pompa atau sistem penghantaran fase gerak adalah untuk menjamin proses penghantaran fase gerak berlangsung secara tepat, reprodusibel, konstan, dan bebas dari gangguan. Ada 2 jenis pompa dalam HPLC yaitu: pompa dengan tekanan konstan, dan pompa dengan aliran fase gerak yang konstan. Tipe pompa dengan aliran fase gerak yang konstan sejauh ini lebih umum dibandingkan dengan tipe pompa dengan tekanan konstan.

3. Tempat penyuntikan sampel Sampel-sampel cair dan larutan disuntikkan secara langsung ke dalam fase gerak yang mengalir di bawah tekanan menuju kolom menggunakan alat penyuntik yang terbuat dari tembaga tahan karat dan katup teflon yang dilengkapi dengan keluk sampel (sample loop) internal atau eksternal.

Posisi pada saat memuat sampel

Posisi pada saat menyuntik sampel

4. Kolom dan Fase diam Ada 2 jenis kolom pada HPLC yaitu kolom konvensional dan kolom mikrobor. Kolom merupakan bagian HPLC yang mana terdapat fase diam untuk berlangsungnya proses pemisahan solut/analit. Kolom mikrobor mempunyai 3 keuntungan yang utama dibanding dengan kolom konvensional, yakni:

Konsumsi fase gerak kolom mikrobor hanya 80% atau lebih kecil dibanding dengan kolom konvensional karena pada kolom mikrobor kecepatan alir fase gerak lebih lambat (10 -100 l/menit).

Adanya aliran fase gerak yang lebih lambat membuat kolom mikrobor lebih ideal jika digabung dengan spektrometer massa.

Sensitivitas kolom mikrobor ditingkatkan karena solut lebih pekat, karenanya jenis kolom ini sangat bermanfaat jika jumlah sampel terbatas misal sampel klinis. Meskipun demikian, dalam prakteknya, kolom mikrobor ini tidak setahan kolom

konvensional dan kurang bermanfaat untuk analisis rutin. Kebanyakan fase diam pada HPLC berupa silika yang dimodifikasi secara kimiawi, silika yang tidak dimodifikasi, atau polimer-polimer stiren dan divinil benzen. Permukaan silika adalah polar dan sedikit asam karena adanya residu gugus silanol (Si-OH). Silika dapat dimodifikasi secara kimiawi dengan menggunakan reagen-reagen seperti klorosilan. Reagen-reagen ini akan bereaksi dengan gugus silanol dan menggantinya dengan gugus-gugus fungsional yang lain. Oktadesil silika (ODS atau C18) merupakan fase diam yang paling banyak digunakan karena mampu memisahkan senyawa-senyawa dengan kepolaran yang rendah, sedang, maupun tinggi. Oktil atau rantai alkil yang lebih pendek lagi lebih sesuai untuk solut yang polar. Silika-silika aminopropil dan sianopropil (nitril) lebih cocok sebagai pengganti silika yang tidak dimodifikasi. Silika yang tidak dimodifikasi akan memberikan waktu retensi yang bervariasi disebabkan karena adanya kandungan air yang digunakan. 5. Detektor HPLC Detektor pada HPLC dikelompokkan menjadi 2 golongan yaitu: detektor universal (yang mampu mendeteksi zat secara umum, tidak bersifat spesifik, dan tidak bersifat selektif) seperti detektor indeks bias dan detektor spektrometri massa; dan

golongan detektor yang spesifik yang hanya akan mendeteksi analit secara spesifik dan selektif, seperti detektor UV-Vis, detektor fluoresensi, dan elektrokimia. Idealnya, suatu detektor harus mempunyai karakteristik sebagai berikut: a. Mempunyai respon terhadap solut yang cepat dan reprodusibel. b. Mempunyai sensitifitas yang tinggi, yakni mampu mendeteksi solut pada kadar yang sangat kecil. c. Stabil dalam pengopersiannya. d. Mempunyai sel volume yang kecil sehingga mampu meminimalkan pelebaran pita. e. Signal yang dihasilkan berbanding lurus dengan konsentrasi solut pada kisaran yang luas (kisaran dinamis linier). f. Tidak peka terhadap perubahan suhu dan kecepatan alir fase gerak. Beberapa detektor yang paling sering digunakan pada HPLC dengan karakteristik detektor seperti berikut : Detektor Sensitifitas Kisaran (g/ml) Absorbansi Uv-vis Fotometer filter Spektrofotometer 5 x 10-10 5 x 10-10
-10

Karakteristik

linier

104 105 10
5

Sensitivitas

bagus,

paling

sering

digunakan, selektif terhadap gugusgugus dan struktur-struktur yang tidak jenuh.

spektrometer photo- > 2 x 10 diode array Fluoresensi 10-12

104

Sensitifitas sangat bagus, selektif, Tidak peka terhadap perubahan suhu dan kecepatan alir fase gerak.

Indeks bias

5 x 10-7

104

Hampir bersifat universal akan tetapi sensitivitasnya sedang. Sangat sensitif terhadap suhu, dan tidak dapat

digunakan pada elusi bergradien Elektrokimia Konduktimetri Amperometri 10-8 10-12 104 105 Peka terhadap perubahan suhu dan kecepatan alir fase gerak, tidak dapat digunakan pada elusi bergradien. Hanya mendeteksi solut-solut ionik.

Sensitifitas sangat bagus, selektif tetapi timbul masalah dengan adanya

kontaminasi elektroda.

DERIVATISASI PADA HPLC Derivatisasi melibatkan suatu reaksi kimia antara suatu analit dengan suatu reagen untuk mengubah sifat fisika-kimia suatu analit. Tujuan utama penggunaan derivatisasi pada HPLC adalah untuk: 1. Meningkatkan deteksi 2. Merubah struktur molekul atau polaritas analit sehingga akan menghasilkan puncak kromatografi yang lebih baik 3. Merubah matriks sehingga diperoleh pemisahan yang lebih baik 4. Menstabilkan analit yang sensitif. Detektor yang paling banyak digunakan dalam HPLC adalah detektor UV-Vis sehingga banyak metode yang dikembangkan untuk memasang atau menambahkan gugus kromofor yang akan menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu. Di

samping itu, juga dikembangkan suatu metode untuk menghasilkan fluorofor (senyawa yang mamapu berfluoresensi) sehingga dapat dideteksi dengan fluorometri. Suatu reaksi derivatisasi harus mempunyai syarat-syarat sebagai berikut, yakni: produk yang dihasilkan harus mampu menyerap baik sinar ultraviolet atau sinar tampak atau dapat membentuk senyawa berfluoresen sehingga dapat dideteksi dengan spektrofluorometri; proses derivatisasi harus cepat dan menghasilkan produk yang sebesar mungkin (100 %); produk hasil derivatisasi harus stabil selama proses derivatisasi dan deteksi; serta sisa pereaksi untuk derivatisasi harus tidakmenganggu pemisahan kromatografi. Berbagai macam bahan penderivat telah tersedia antara lain : Gugus fungsional Reagen untuk dapat dideteksi dengan UV-Vis Asam-asam kaboksilat; asamasam lemak;asamasam fosfat p-nitrobenzil-N,Ndiisopropilisourea (PNBDI); 3,5dinitrobenzil-N,Ndiisopropilisourea (DNBDI); pbromofenasil bromida (PBPB) Alkohol 3,5-dinitrobenzil klorida (DNBC); 4-dimetilaminiazobenzen-4sulfinil (Dabsyl-Cl); 1naftilisosianat (NIC-1). Aldehid; keton p-nitrobenziloksiamin hidroklorida (PNBA); 3,5dinitrobenziloksiamin hidroklorida (DNBA); Amin primer Amin primer (1o) Fluoresamin o-ftalaldehid (OPA) 3,5-dinitrobenzil klorida 7-kloro-4-nitrobenzo-2Dansil hidrazin Reagen untuk dapat dideteksi dengan Fluoresen 4-bromometil-7asetoksikumarin; 4-bromometil-7metoksikumarin;

dan sekunder (2o)

(DNBC);N-suksinimidil-pnitrofenilasetat (SNPA); Nsuksinimidil-3,5-dinitrofenilasetat (SDNPA); 4dimetilaminiazobenzen-4-sulfinil (Dabsyl-Cl); 1-naftilisosianat (NIC-1).

oksa-1,3-diazol (NBD-Cl); 7-fluoro-4-nitrobenzo-2oksa-1,3-diazol (NBD-F); Dansil klorida

Asam-asam amino (peptida)

4-dimetilaminiazobenzen-4sulfinil (Dabsil-Cl)

Fluoresamin o-ftalaldehid (OPA) 7-kloro-4-nitrobenzo-2oksa-1,3-diazol (NBD-Cl); 7-fluoro-4-nitrobenzo-2oksa-1,3-diazol (NBD-F);

Derivatisasi ini dapat dilakukan sebelum analit memasuki kolom (pre-column derivatization) atau setelah analit keluar dari kolom (post-column derivatization).

HPLC dengan Detektor Fluoresensi Fluoresensi adalah emisi cahaya setelah penyerapan sinar ultraviolet (UV) atau cahaya tampak oleh molekul fluoresensi atau substruktur disebut fluorophore . Dengan demikian, fluorophore menyerap energi dalam bentuk cahaya pada panjang gelombang spesifik dan membebaskan energi dalam bentuk cahaya yang dipancarkan pada panjang gelombang yang lebih tinggi. Fluoresensi adalah proses pemancaran radiasi cahaya oleh suatu materi setelah tereksitasi oleh berkas cahaya berenergi tinggi. Emisi cahaya terjadi karena proses absorbsi cahaya oleh atom yang mengakibatkan keadaan atom tereksitasi. Keadaan atom yang tereksitasi akan kembali keadaan semula dengan melepaskan energi yang

berupa cahaya (deeksitasi). Fluoresensi merupakan proses perpindahan tingkat energi dari keadaan atom tereksitasi menuju ke keadaan stabil (ground states). Proses fluoresensi berlangsung kurang lebih 1 nano detik sedangkan proses fosforesensi berlangung lebih lama, sekitar 1 sampai dengan 1000 mili detik. Detektor fluoresensi mungkin yang paling sensitif di antara yang ada detektor HPLC modern. Hal ini dimungkinkan untuk mendeteksi bahkan kehadiran molekul analit tunggal dalam aliran sel. Biasanya, sensitivitas fluoresensi adalah 10 -1000 kali lebih tinggi dibandingkan dengan detektor UV untuk bahan menyerap UV yang kuat. Detektor fluoresensi sangat spesifik dan selektif antara lain detektor optik. Hal ini biasanya digunakan sebagai keuntungan dalam pengukuran spesies neon tertentu dalam sampel. Ketika senyawa memiliki gugus fungsional spesifik sangat antusias oleh energi panjang gelombang lebih pendek dan memancarkan radiasi panjang gelombang yang lebih tinggi yang disebut fluoresensi. Biasanya, emisi diukur pada sudut yang tepat untuk eksitasi. Kira-kira sekitar 15 % dari semua senyawa memiliki fluoresensi alam . Kehadiran terkonjugasi pi - elektron terutama di komponen aromatik memberikan aktivitas neon yang paling intens . Juga , alifatik dan senyawa alisiklik dengan gugus karbonil dan senyawa dengan ikatan rangkap terkonjugasi yang sangat berpendar , tetapi biasanya untuk tingkat yang lebih rendah . Kebanyakan hidrokarbon aromatik tersubstitusi berpendar dengan yeld kuantum meningkat dengan jumlah dering , derajat mereka kondensasi dan kekakuan struktural mereka.

Intensitas fluoresensi tergantung pada kedua eksitasi dan panjang gelombang emisi, sehingga secara selektif mendeteksi beberapa komponen sementara menekan emisi lain . Deteksi komponen apapun secara signifikan tergantung pada panjang gelombang yang dipilih dan jika salah satu komponen dapat dideteksi pada 280 ex dan 340 em. Yang lain bisa terjawab. Sebagian besar detektor modern memungkinkan cepat beralih dari eksitasi dan emisi panjang gelombang, yang menawarkan kemungkinan untuk mendeteksi semua komponen dalam campuran. Sebagai contoh, dalam sangat penting kromatogram aromatik polynuclear eksitasi dan emisi panjang gelombang yang 280 dan 340 nm , masing-masing, untuk pertama 6 komponen , dan kemudian berubah menjadi nilai-nilai masing-masing 305 dan 430 nm , nilai-nilai yang terakhir merupakan kompromi terbaik untuk memungkinkan deteksi sensitif senyawa . Detektor fluorescens yang digunakan pada HPLC sama halnya dengan detektor pada spektrofluoro-fotometer. Detektor paling sederhana menggunakan lampu merkuri sebagai sumber cahaya dan filter untuk mengisolasi panjang gelombang emisi radiasi. Lampu Xenon digunakan pada instrumen yang lebih baik dengan gratting sebagai monokromatornya.

Proses Penyerapan Senyawa dengan Detektor Fluoresensi Menurut diagram Jablonski (Gambar 7.1), energi emisi lebih rendah dibandingkan dengan eksitasi. Ini berarti bahwa emisi fluoresensi yang lebih tinggi terjadi pada panjang gelombang dari penyerapan (eksitasi). Perbedaan antara eksitasi dan panjang gelombang emisi dikenal sebagai pergeseran Stoke.

Langkah pertama (i) adalah eksitasi, di mana cahaya diserap oleh molekul, yang ditransfer ke keadaan tereksitasi secara elektronik yang berarti bahwa sebuah elektron bergerak dari keadaan dasar singlet, S0, ke keadaan singlet tereksitasi S1. Ini diikuti dengan relaksasi getaran atau konversi internal (ii), dimana molekul ini mengalami transisi dari elektronik atas ke yang lebih rendah S 1, tanpa radiasi apapun. Akhirnya, emisi terjadi (iii), biasanya 10 - 8 detik setelah eksitasi, ketika kembali elektron kekeadaan dasar lebih stabil, S0, memancarkan cahaya pada panjang gelombang yang sesuai dengan perbedaan energi antara kedua negara elektronik.

Kegunaan HPLC dengan detector fluoresensi Hanya sedikit ion anorganik yang berpendar, yang paling dikenal adalah ion uranil, UO22+. Umumnya alanisis fluorometrik melibatkan molekul organik. Ada beberapa senyawa kelat logam yang berpendar yang memberikan metode yang peka untuk beberapa ion logam. Seringkali kelat logam diekstraksi dari dalam larutan berair

menjadi suatu pelarut organik sebelum pengukuran, suatu proses dan sekaligus memisahkannya dari ion-ion pengganggu dan mengkonsentrasikan spesies yang berpendar. Misalnya, banyak terdapat reagensia flourometrik untuk aluminium dan berilium. Logam-logam yang lebih berat seperti Fe2+, Co2+, Ni2+ dan Cu2+ sebaliknya cenderung mematikan flourosens yang diperagakan oleh banyak zat pengkelat itu

sendiri, hadinya logam itu dalam kompleks mendorong dibuangnya energi yang diserap secara tak radiantif. Kadang suatu analit yang tidak berpendar dapat diubah menjadi suatu molekul yang berpendar kuat, dengan suatu reaksi yang cepat dan kuantitatif, yang dengan muadah digabungkan ke dalam suatu prosedur analitik keseluruhan. Misalnya, hormon epinefrin (adrenalin) mudah diubah menjadi adrenolutin. Dalam larutan basa, anion folat dari adrenolutin berpendar dengan kuat (eksitasi 360 nm; pancaran 530 nm). Beberapa vitamin dapat ditetapkan secara fluorometrik. Oksidasi lembut tiamina (vitamin B1) oleh Fe(CN)63-, misalnya akan menghasilkan suatu produk yang disebut tiokrom yang memperagakan fluoresens biru pada kondisi yang tepat. Jika pancaran pendaran itu diukur terhadap dua porsi sampel, satu diolah dengan ferisianida dan yang lain tidak, orang dapat mengurangi kontribusi pengganggu non-tiamina yang berpendar untuk meningkatkan selektivitas. Riboflavin (vitamin B1) dan piridoksin (B6) merupakan vitamin lain yang dapat ditetapkan oleh fluoresensi. Meskipun kebanyakan asam amino tidak berpendar, tetapi mudah bereaksi dengan reagen fluoresamina untuk membentuk senyawa yang sangat berpendar yang telah digunakan dalam biokimia untuk mendeteksi kuantitas. Metode fluoresensi sangat baik untuk menetapkan beberapa hidrokarbon aromatik polisiklik yang telah dikelompokkan sebagai polutan prioritas oleh Jawatan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA), yang mengatakan bahwa fluoresens memberi deteksi yang sangat peka terhadap komponen-komponen sampel tertentu dalam kromatografi cairan.

BAB III PENUTUP


Kesimpulan 1. Detektor fluorescens yang digunakan pada HPLC sama halnya dengan detektor pada spektrofluoro-fotometer. 2. Karakteristik detector fluoresensi yaitu sensitifitas sangat bagus, selektif, Tidak peka terhadap perubahan suhu dan kecepatan alir fase gerak. 3. Fluoresensi merupakan detektor yang peka untuk senyawa yang dapat berfluoresensi atau dapat diubah menjadi derivat yang berfluoresensi dengan jalan perubahan kimia atau dengan reaksi penggabungan dengan preaksi yang berfluoresensi pada gugus fungsional yang spesifik

DAFTAR PUSTAKA
Sumber: http://hplc.chem.shu.edu/NEW/HPLC_Book/Detectors/det_flur.html

(diakses pada 10 Desember 2013)

Rohman, Abdul. 2009. Kromatografi untuk Analisis Obat. Graha Ilmu. Yogyakarta. Watson, David. G. 2009. Analisis Farmasi : buku ajar untuk mahasiswa farmasi dan praktisi kimia farmasi. EGC. Jakarta. Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Departemen Kesehatan. Jakarta.