Anda di halaman 1dari 10

PERANAN BADAN PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN (BPSK) DALAM HUBUNGAN DENGAN PENGAWASAN KLAUSULA BAKU DALAM PRAKTIK Februari

22, 2013 oleh mnfauzy in Uncategorized Tinggalkan Komentar BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pencantuman suatu klausul baku dalam penawaran suatu produk barang dan/atau jasa merupakan sesuatu yang diperbolehkan selama sesuai dengan ketentuan sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (Selanjutnya disebut UUPK). Dengan pencantuman klausul baku tersebut akan memberikan sesuatu hal yang menguntungkan karena sifatnya lebih praktis dan efisien. Namun dalam praktek, pencantuman klausul baku seringkali memberatkan salah satu pihak dalam hal ini adalah konsumen yang meskipun demikian seringkali konsumen harus menerima kondisi tidak seimbang tersebut karena pada hakikatnya membutuhkan produk barang dan/atau jasa tersebut. Lemahnya posisi konsumen dalam memilih sebuah produk barang dan/atau jasa tertentu yang sudah dicantumkan klausul baku yang memuat sifat merugikan, mulai diakomodasi dengan adanya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Pada Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen tersebut sudah diatur mengenai kriteria-kriteria klausul baku yang dilarang. Diantaranya klausul baku yang menyatakan pengalihan tanggung jawab pelaku usaha (huruf a Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen) atau yang dikenal dengan sebutan klausul eksenorasi. Atas kerugian-kerugian yang mungkin ditanggung oleh konsumen sebagai akibat pencantuman suatu klausul baku, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen tersebut juga mengakomodasi dengan adanya ketentuan Pasal 49 ayat (1) yang menetapkan pembentukan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (selanjutnya disebut BPSK). Kemudian dalam Pasal 52 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen ini, tercantum tugas BPSK yaitu: memberikan konsultasi perlindungan konsumen, melakukan pengawasan terhadap pencantuman klausul baku, dan menerima pengaduan konsumen atas terjadinya pelanggaran perlindungan konsumen, serta tugas-tugas lainnya . Akan tetapi dalam prakteknya, masih banyak ditemukan kendala bagi konsumen dalam memperjuangkan hak-haknya menyangkut adanya kerugian-kerugian yang diakibatkan oleh pencantuman klausul baku dalam produk barang dan/atau jasa yang sudah dibelinya. Pencantuman klausul baku yang sifatnya dilarang berdasarkan Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen masih banyak ditemukan dalam berbagai

penawaran produk barang dan/atau jasa, sekalipun dijelaskan telah dibentuk Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen sebagai sebuah badan yang mempunyai kewenangan melakukan pengawasan terhadap pencantuman klausul baku. Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka penulis tuangkan dalam sebuah makalah dengan judul Peranan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) dalam hubungan dengan Pengawasan Klausul Baku dalam Praktek. A. Identifikasi Masalah Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan dalam latar belakang di atas, maka penulis mengidentifikasikan permasalahan sebagai berikut : 1. Bagaimana efektivitas Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) dalam menjalankan kewenangannya mengawasi pencantuman klausul baku dikaitkan dengan Pasal 52 UndangUndang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen? 2. Bagaimana kekuatan hukum putusan BPSK menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen? BAB II BADAN PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN SEBAGAI BADAN YANG BERWENANG MELAKUKAN PENGAWASAN TERHADAP KLAUSUL BAKU A. Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen sebagai Lembaga Penegak Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Ketentuan Pasal 49 ayat (1) Undang-Undang Perlindungan Konsumen menetapkan pembentukan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) pada Daerah Tingkat II (Kabupaten), hal ini memperlihatkan maksud pembuat Undang-Undang bahwa putusan BPSK sebagai badan penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan tidak ada upaya banding dan kasasi. Rumusan dalam Pasal 49 ayat (1) di atas ini, menyangkut tugas Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Untuk penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan adalah tugas pokok, sebab masih ada tugas lain dari Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK), yaitu: memberikan konsultasi perlindungan konsumen, melakukan pengawasan terhadap pencantuman klausula baku, dan menerima pengaduan konsumen atas terjadinya pelanggaran perlindungan konsumen , serta tugas tugas lainnya. Undang-undang perlindungan konsumen dalam upaya memberdayakan konsumen menuntut hakhaknya terhadap pelaku usaha, menentukan bahwa konsumen dapat mengajukan gugatan kepada pelaku usaha di tempat konsumen yang bersangkutan berdomisili ( bertempat tinggal ). Upaya pemberdayaan melalui kemudahan menuntut pelaku usaha di tempat tinggal konsumen belum sepenuhnya dapat dilaksanakan.

Bagi konsumen yang di daerahnya ( Daerah Tingkat II) belum dibentuk BPSK, seperti konsumen di Jayapura, Ambon, Mataram , dan sebagainya, harus datang ke Kota Makasaar sebagai kota tempat. BPSK yang terdekat berada, kecuali jika konsumen tersebut menuntut pelaku usaha melalui lembaga peradilan umum. Dapat diketahui, bahwa hambatan yang sudah jelas mempengaruhi penegakan hukum di bidang perlindungan konsumen adalah faktor ekonomi , sarana dan prasarana yang tidak memadai. Pasal 50 dan 51 mengenai Badan Penyelesaian sengketa konsumen. Sedangkan Pasal 52 mengenai Tugas dan wewenang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen meliputi : a. Melaksanakan penanganan dan penyelesaian sengketa konsumen , dengan cara melalui mediasi atau arbitase atau konsiliasi; b. Memberikan konsultasi perlindungan konsumen; c. Melakukan pengawasan terhadap pencantuman Klausula baku; d. Melaporkan kepada penyidik umum apabila terjadi pelanggaran ketentuan dalam undangundang ini; e. Menerima pengaduan baik tertulis maupun tidak tertulis dari konsumen tentang terjadinya pelanggaran terhadap perlindungan konsumenn ; f. Melakukan penelitian dan pemeriksaan sengketa perlindungan konsumen; g. Memanggil pelaku usaha yang diduga telah melakukan pelanggarn terhadap perlindungan konsumen; h. Memanggil dan menghadirkan saksi, saksi ahli, dan atau setiap orang yang dianggap mengetahui pelanggaran terhadap undang-undang ini; i. Meminta bantuan penyidik untuk menghadirkan pelaku usaha, saksi, saksi ahli, atau setiap orang sebagaimana dimaksud pada huruf g dan huruf h, yang tidak bersedia memenuhi panggilan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen; j. Mendapatkan, meneliti dan/atau menilai surat, dokumen, atau alat bukti lain guna penyelidikan dan atau pemeriksaan; k. Memutuskan dan menetapkan atau tidak adanya kerugian pihak konsumen; l. Memberitahukan putusan kepada pelaku usaha yang melakukan pelanggaran terhadap perlindungan konsumen; m. Menjatuhkan sanksi administratif kepada pelaku usaha yanng melanggar ketentuan undangundang ini. B. Klausul Baku Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen Perjanjian baku atau standard contract, merupakan perjanjian yang telah ditentukan dan dituangkan dalam bentuk formulir. Mengenai perjanjian baku berlaku adagium take it or leave it contract. Jika setuju silakan diambil jika tidak maka tinggalkan saja, artinya perjanjian tersebut

tidak dilakukan. Kondisi seperti ini menjadikan konsumen memiliki posisi tawar yang lemah. Disatu sisi konsumen sangat membutuhkan produk dan atau jasa yang ditawarkan, disisi lain konsumen tidak dapat menegosiasikan apa yang tercantum dalam perjanjian tersebut sebagaimana menurut asas kebebasan berkontrak. Memperhatikan keadaan yang demikian, banyak isi perjanjian baku yang memberatkan atau merugikan konsumen. Lazimnya syarat-syarat dalam perjanjian baku tersebut adalah mengenai: 1. cara mengakhiri perjanjian; 2. cara memperpanjang berlakunya perjanjian; 3. cara penyelesaian sengketa; 4. klausula eksonerasi. Perjanjian baku merupakan suatu perjanjian yang memuat syarat-syarat tertentu sehingga terlihat lebih menguntungkan bagi pihak yang mempersiapkan pembuatannya. Berkaitan dengan sengketa konsumen, perhatian utama mengenai perjanjian baku tersebut adalah adanya klausula eksonerasi. Menurut Rijken, Klausula eksonerasi adalah klausul yang dicantumkan didalam suatu perjanjian dengan mana satu pihak menghindarkan diri untuk memenuhi kewajibannya dengan membayar ganti rugi seluruhnya atau terbatas,yang terjadi karena ingkar janji atau perbuatan melawan hukum. Berkaitan dengan klausul baku tersebut terdapat dalam Pasal 1 Angka 10 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen bahwa: Klausula baku adalah setiap aturan atau ketentuan dan syarat-syarat yang telah dipersiapkan dan ditetapkan terlebih dahulu secara sepihak oleh pelaku usaha yang dituangkan dalam suatu dokumen dan/atau perjanjian yang mengikat dan wajib dipenuhi oleh konsumen. Pada dasarnya, Undang-Undang Perlindungan Konsumen mengakui adanya perjanjian baku tersebut. Akan tetapi, mengenai perjanjian baku ini diatur dalam Pasal 18 UUPK yaitu : 1. Pelaku usaha dalam menawarkan barang dan atau jasa yang ditujukan untuk diperdagangkan dilarang membuat atau mencantumkan klausula baku pada setiap dokumen dan/ atau perjanjian apabila : a. Menyatakan pengalihan tanggung jawab pelaku usaha; b. Menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali barang yang dibeli konsumen; c. Menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali uang yang dibayarkan atas barang dan atau jasa yang dibeli oleh konsumen; d. Menyatakan pemberian kuasa dari konsumen kepada pelaku usaha baik secara langsung maupun tidak langsung untuk melakukan segala tindakan sepihak yang berkaitan dengan barang yang dibeli oleh konsumen secara angsuran; e. Mengatur perihal pembuktian atas hilangnya kegunaan barang atau pemanfaatan jasa yang

dibeli oleh konsumen; f. Memberi hak kepada pelaku usaha untuk mengurangi manfaat jasa atau mengurangi harta kekayaan konsumen yang menjadi objek jual beli jasa; g. Menyatakan tunduknya konsumen kepada peraturan yang berupa aturan baru , tambahan, lanjutan dan / atau pengubahan lanjutan yang dibuat sepihak oleh pelaku usaha dalam masa konsumen memanfaatkan jasa yang dibelinya ; h. Menyatakan bahwa konsumen memberi kuasa kepada pelaku usaha untuk pembebanan hak tanggungan , hak gadai, atau hak jaminan terhadap barang yang dibeli oleh konsumen secara ansuran 2. Pelaku usaha dilarang mencantumkan klausula baku yang letak atau bentuknya sulit terlihat atau tidak dapat dibaca secara jelas , atau yang pengungkapannya sulit dimengerti. 3. Setiap klausula baku yang telah ditetapkan oleh pelaku usaha pada dokumen atau perjanjian yang memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dinyatakan batal demi hukum. 4. Pelaku usaha wajib menyesuaikan klausula baku yang bertentangan dengan undang-undang ini. Ketentuan tersebut secara prinsip mengatur dua macam larangan yang diberlakukan bagi para pelaku usaha yang membuat perjanjian baku dan/atau mencantumkan klausula baku dalam perjanjian yang dibuat olehnya. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi konsumen dari pembuatan klausula baku yang semena-mena dari para pelaku usaha, sehingga setiap individu mempunyai kedudukan yang sama di dalam hukum untuk melaksanakan dan meneguhkan hakhaknya. ketentuan Pasal 18 UUPK ini bersifat membatasi atau mengurangi prestasi yang harus dilakukan oleh pelaku usaha dan mengurangi hak konsumen untuk melakukan penawaran terhadap barang atau jasa yang ditawarkan oleh pelaku usaha. BAB III PENGAWASAN PENCANTUMAN KLAUSUL BAKU OLEH BPSK DAN KEKUATAN HUKUM DARI PUTUSAN BPSK A. Efektivitas Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen ( BPSK) dalam menjalankan kewenangannya mengawasi pencantuman klausul baku.

BPSK adalah badan yang dibentuk melalui Keppres No. 90 Tahun 2001 di sepuluh kota di Indonesia. Yaitu suatu lembaga yang berwenang untuk menyelesaikan sengketa konsumen diluar pengadilan. Tujuan pembentukkan BPSK adalah untuk melindungi konsumen maupun pelaku usaha dengan menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian hukum dan keterbukaan informasi . Dalam dunia usaha, terdapat perjanjian yang mencantumkan klausul baku yang menempatkan posisi tidak seimbang antara pelaku usaha dan konsumen, pada akhirnya akan melahirkan perjanjian yang merugikan konsumen. Undang-undang Perlindungan Konsumen (UUPK) tidak merumuskan pengertian perjanjian baku, tapi menggunakan istilah klausula baku. Menurut Pasal 1 ayat (10) UUPK dirumuskan, klausula baku adalah setiap aturan atau ketentuan dan syarat-syarat yang telah dipersiapkan dan ditetapkan terlebih dahulu secara sepihak oleh pelaku usaha yang dituangkan dalam suatu dokumen dan/atau perjanjian yang mengikat dan wajib dipenuhi konsumen. UUPK tidak melarang pelaku usaha untuk membuat klausula baku atas setiap dokumen dan perjanjian transaksi usaha perdagangan barang atau jasa, selama dan sepanjang klausula baku tersebut tidak mencantumkan ketentuan sebagaimana dilarang dalam Pasal 18 ayat (1), serta tidak berbentuk sebagaimana dilarang dalam pasal 18 ayat (2) UUPK tersebut. Tujuan penggunaan klausula baku dalam kegiatan bisnis sebenarnya untuk menghemat waktu dalam setiap kegiatan jual beli, amat tidak efisien apabila setiap terjadi transaksi antara pihak penjual dan pembeli, mereka membicarakan mengenai isi kontrak jual beli. Karenanya, dalam suatu kontrak standar dicantumkan klausul-klausul yang umumnya digunakan dalam kontrak jual beli. Untuk mewujudkan perlindungan konsumen, terlebih lagi dalam hal pencantuman klausula baku yang sering menghantarkan atau konsumen sering merasa dirugikan dengan adanya klausuala baku yang berisikan perjanjian atau ketentuan yang dibuat secara sepihak oleh pelaku usaha, maka dilakukanlah suatu pengawasan dalam pencantuman klauasula baku tersebut. Pengawasan ini tentunya dilakuan lembaga yang memiliki kewenangan akan pelasanaan pengawasan terhadap klausula baku tersebut. Lembaga tersebut adalah Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen atau lebih sering disebut dengan singkatan BPSK. (BPSK) ditugaskan untuk mengawasi pencantuman klausula baku, selain menyelesaikan sengketa konsumen. Namun, BPSK bersifat pasif dan hanya bertindak jika ada pengaduan atau keluhan konsumen. BPSK juga gamang, tidak merasa berwenang menindak pencantuman klausula baku yang dilarang. Tindakah BPSK sebatas meminta pelaku usaha untuk menghapus klausula yang diarang itu jika timbul sengketa. Ada delapan jenis klausula baku yang dilarang dalam UU Perlindungan Konsumen. Artinya, klausula baku selain itu sah dan mengikat secara hukum. Klausula baku dilarang mengadung unsur-unsur atau pernyataan :

1. Pengalihan tanggungjawab dari pelaku usaha (atau pengusaha) kepada konsumen 2. Hak pengusaha untuk menolak mengembalikan barang yang dibeli konsumen 3. Hak pengusaha untuk menyerahkan uang yang dibayarkan atas barang atau jasa yang dibeli oleh konsumen 4. Pemberian kuasa dari konsumen kepada pengusaha untuk melakukan segala tindakan sepihak berkaitan dengan barang yang dibeli secara angsuran 5. Mengatur perihal pembuktian atas hilangnya kegunaan barang atau pemanfaatan jasa yang dibeli konsumen 6. Hak pengusaha untuk mengurangi manfaat jasa atau mengurangi harta kekayaan konsumen yang menjadi obyek jual beli jasa 7. Tunduknya konsumen kepada peraturan yang berupa aturan baru, tambahan atau lanjutan yang dibuat sepihak oleh pengusaha semasa konsumen memanfaatkan jasa yang dibelinya 8. Pemberian kuasa kepada pengusaha untuk pembebanan tanggungan gadai, atau hak jaminan terhadap barang yang dibeli oleh konsumen secara angsuran Selain itu, pengusaha juga dilarang mencantumkan klausula baku yang letak atau bentuknya sulit terlihat atau tak dapat jelas dibaca, atau yang maksudnya sulit dimengerti. Jika pengusaha tetap mencantumkan klausula baku yang dilarang tersebut, maka klausula itu batal demi hukum. Artinya, klausula itu dianggap tidak pernah ada. Salah satu kewenangan BPSK sebagaimana termaktub dalam Pasal 52 huruf c UUPK adalah melakukan pengawasan terhadap pencantuman klausula baku. Ketentuan ini diperjelas dalam Pasal 9 Keputusan menteri perindustrian dan perdagangan nomor 350 tahun 2001 tentang pelaksanaan tugas dan wewenang badan penyelesaian sengketa konsumen (selanjutnya disebut Kepmenperindag no 350/2001) yang menyebutkan bahwa : Pasal 9 (1) Pengawasan terhadap pencantuman klausula baku, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf c, dilakukan oleh BPSK dengan atau tanpa pengaduan dari konsumen. (2) Hasil pengawasan pencantuman klausula baku sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) yang membuktikan adanya pelanggaran terhadap larangan pencantuman klausula baku di dalam Undang-undang Perlindungan Konsumen, diberitahukan secara tertulis kepada pelaku usaha sebagai peringatan. (3) Peringkatan tertulis sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilakukan 3 (tiga) kali berturutturut dengan tenggang waktu untuk masing-masing peringatan 1 (satu) bulan. (4) Bilamana pelaku usaha tidak mengindahkan peringatan tertulis sebagaimana dimaksud dalam ayat (3), maka BPSK melaporkan kepada Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) yang ruang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang Perlindungan Konsumen untuk dilakukan penyidikan dan proses penuntutan sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku.

Ketentuan diatas jelas menyebutkan bahwa BPSK dapat melakukan pengawasan terhadap klausula baku dengan atau tanpa pengaduan dari konsumen. Artinya BPSK dapat secara aktif melakukan pengawasan terhadap pencantuman klausula baku. Fakta yang terjadi adalah BPSK tidak secara aktif mengawasi klausula baku, penyebabnya adalah kewenangan dan tata cara menjalankan kewenangan untuk mengawasi klausula baku tidak diterangkan lebih lanjut dalam penjelasan ataupun peraturan pelaksanaannya. Faktor lain adalah BPSK lebih memilih berperan pasif karena BPSK memiliki juga kewenangan sebagai lembaga penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan, sehingga BPSK menunggu laporan dari konsumen yang merasa dirugikan. B. Kekuatan hukum putusan BPSK menurut Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Putusan BPSK merupakan putusan yang final dan mengikat sebagaimana termaktub dalam Pasal 54 ayat (3) UUPK. Sesuai dengan ketentuan tersebut, maka putusan tersebut tidak memerlukan upaya hukum lanjutan, karena dengan adanya putusan final, maka dengan sendirinya sengketa yang diperiksa telah berakhir dan para pihak yang bersengketa harus tunduk dan melaksanakan putusan yang sudah final tersebut . Setiap putusan, baik putusan hakim maupun putusan arbitrase pada dasarnya merupakan hukum yang mengikat semata-mata para pihak yang bersangkutan. Artinya, putusan hakim menentukan hukum yang konkret bagi pihak-pihak tertentu dalam suatu peristiwa yang konkret pula . Karena sifatnya yang mengikat itulah, utusan yang telah dijatuhkan itu haruslah dihormati oleh kedua belah pihak. Salah satu pihak tidak boleh bertindak bertentangan dengan putusan . Suatu putusan memperoleh kekuatan hukum yang pasti atau tetap (inkracht van gewijsde) apabila tidak ada lagi upaya hukum tersedia, khususnya upaya hukum biasa yang terdiri dari perlawanan (verzet), banding, dan kasasi. Kekuatan hukum yang tetap artinya adalah putusan itu tidak dapat lagi dirubah, sekalipun oleh pengadilan yang lebih tinggi, kecuali dengan upaya hukum yang khusus, yaitu request civil dan perlawanan pihak ketiga . Ketentuan Pasal 56 ayat (2) UUPK mengenai diperbolehkannya upaya pengajuan keberatan terhadap putusan BPSK ke Pengadilan Negeri memperlihatkan bahwa UUPK tidak konsisten dalam mengatur ketentuan mengenai sifat putusan BPSK. Ketentuan tersebut memperlihatkan bahwa pembuat undang-undang memang menghendaki campur tangan pengadilan untuk menyelesaikan sengketa konsumen. Berkaitan dengan upaya hukum keberatan terhadap putusan BPSK, terdapat permasalahan seperti : 1. Terminologi keberatan tidak dikenal dalam sistem hukum acara yang ada, 2. Upaya hukum keberatan dapat dianalogikan dengan upaya hukum banding atau tidak. Peraturan Mahkamah Agung nomor 1 tahun 2006 tentang tata cara pengajuan keberatan terhadap

putusan badan penyelesaian sengketa konsumen, Pasal 1 angka 3, mengartikan Keberatan sebagai upaya bagi pelaku usaha dan konsumen yang tidak menerima putusan BPSK. Upaya hukum banding adalah upaya yang diberikan undang-undang untuk mengajukan perkaranya kepada pengadilan yang lebih tinggi untuk dimintakan pemeriksaan ulang atas putusan pengadilan tingkat pertama . Dalam upaya hukum keberatan, dilakukan pemeriksaan yang berdasarkan atas putusan BPSK dan berkas perkara. Lembaga BPSK seolah-olah ditempatkan sebagai lembaga peradilan tingkat pertama, sedangkan pengadilan negeri di tingkat banding. Upaya hukum keberatan terhadap putusan BPSK merupakan terobosan hukum baru, karena jika digunakan terminologi upaya hukum banding terhadap putusan BPSK, dan prosedurnya sesuai dengan hukum acara perdata, maka penyelesaian sengketa konsumen akan menjadi lama seperti peradilan biasa karena tidak memiliki jangka waktu sebagaimana ditentukan dalam UUPK. Upaya hukum keberatan membuat ketentuan arbitrase BPSK menyimpang dengan ketentuan umum mengenai arbitrase yang diatur dalam Undang-undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa (selanjutnya disebut UU Arbitrase), dimana putusan dari badan arbitrase adalah putusan yang final, tidak dapat dibanding, dan tidak dapat diajukan ke pengadilan negeri. Suatu putusan dimaksudkan untuk menyelesaikan suatu persoalan atau sengketa dan menetapkan hak atau hukumnya, hal ini tidak berarti semata-mata hanya menetapkan hak dan hukumnya saja, melainkan juga realisasi atau pelaksanaannya (eksekusi) secara paksa . Eksekusi putusan adalah realisasi kewajiban pihak yang bersangkutan untuk memenuhi prestasi yang tercantum dalam putusan tersebut. Eksekusi dengan kata lain berarti pula pelaksanaan isi putusan hakim yang dilakukan secara paksa dengan bantuan pengadilan apabila pihak yang kalah tidak mau melaksanakan putusan secara sukarela . Pasal 57 UUPK mengatur bahwa putusan BPSK dimintakan penetapan eksekusinya kepada pengadilan negeri. Secara normatif, setiap putusan, baik putusan pengadilan maupun arbitrase harus memuat kepala putusan yang berbunyi : Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa. Kepala putusan itulah yang memiliki kekuatan eksekutorial terhadap putusan . Apabila tidak dilakukan keberatan terhadap putusan BPSK, maka putusan BPSK tersebut telah mempunyai kekuatan hukum tetap, namun BPSK masih perlu meminta penetapan fiat eksekusi ke pengadilan negeri. Artinya putusan BPSK belum memiliki kekuatan eksekutorial jika tidak dimintakan penetapan fiat eksekusi ke pengadilan negeri. Baik UUPK dan Kepmenperindag no 350/2001, tidak mengatur mengenai kewajiban pencantuman irah-irah Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa. Hal ini dikarenakan secara struktural, kedudukan BPSK berada dibawah Departemen Perdagangan, sedangkan HIR/RBG dan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman merupakan peraturan yang berlaku bagi badan peradilan.

Pasal 52 huruf k UUPK dikatakan bahwa BPSK memutuskan dan menetapkan ada atau tidak adanya kerugian di pihak konsumen. Selanjutnya menurut Pasal 57 UUPK, putusan BPSK tersebut dimintakan penetapan eksekusi kepada pengadilan negeri tempat konsumen dirugikan. Putusan yang diambil dan dijatuhkan oleh BPSK apabila gugatan dikabulkan dan harus berisi amar/diktum (condemnatoir), harus dilandasi putusan memuat amar tentang besarnya ganti kerugian yang pasti . Jadi putusan BPSK yang dapat dieksekusi hanya putusan BPSK yang memuat besarnya ganti kerugian. BAB IV SIMPULAN Pada bagian akhir makalah ini, kami akan mengutarakan simpulan sebagai hasil dari penelitian, yang terdiri dari : 1. BPSK dalam menjalankan kewenangannya mengawasi pencantuman klausul baku adalah tidak efektif, BPSK dapat melakukan pengawasan terhadap klausula baku dengan atau tanpa pengaduan dari konsumen. Fakta yang terjadi adalah BPSK tidak secara aktif mengawasi klausula baku. 2. Putusan BPSK memiliki kekuatan hukum menurut UUPK sebagai putusan yang final dan mengikat, Apabila tidak dilakukan keberatan terhadap putusan BPSK, maka putusan BPSK tersebut telah mempunyai kekuatan hukum tetap, namun BPSK masih perlu meminta penetapan fiat eksekusi ke pengadilan negeri. Artinya putusan BPSK belum memiliki kekuatan eksekutorial jika tidak dimintakan penetapan fiat eksekusi ke pengadilan negeri. Kekuatan putusan BPSK dalam hal penyelesaian sengketa dilakukan secara arbitrase tidak dilakukan sesuai dengan kaidah arbitrase pada umumnya karena terhadap putusan BPSK dapat diajukan Keberatan dan Kasasi.