Anda di halaman 1dari 12

PENYAKIT MENULAR SEKSUAL

BAB 1 PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran menyebabkan diketahuinya bakteri, protozoa, jamur, dan virus sebagai penyebab penyakit hubungan seksual. Sebagian besar penyakit tersebut bisa disembuhkan kecuali AIDS. Di indonesia penyakit ini sudah banyak menjalar dengan perkembangan penularan yang sangat cepat, penyakit ini dapat melumpuhkan semua kemampuan daya tahan tubuh terhadap berbagai bkateri, protozoa, jamur dan virus lainnya. Dalam penelitian lebih lanjut dijumpai bahwa makin bertambah penyakit yang timbul akibat hubungan seksual, dari sudut etimologi ternyata penyakit hubungan seksual berkembang sangat cepat berkaitan dengan pertambahan dan terjadinya migrasi penduduk, bertambahnya kemakmuran, serta terjadi perubahan perilaku seksual yang makin bebas tanpa batas. Demikian untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dan keluarga telah ditemukan lima penyakit hubungan seksual yang banyak dijumpai sebagai upaya untuk lebih memperhatikan kesehatan reproduksi sehingga lebih menjamin peningkatan sumber daya manusia.

B. RUMUSAN MASALAH Seorang pria usia 25 tahun, belum menikah, bekerja sebagai sales obat datang dengan keluhan keluar duh tubuh purulenta dari orificium urethra eksternum disertai inflamasi dan disuria. Dari hasil pemeriksaan fisik ditemukan adanya nyeri pada kelenjar limpo nodi inguinalis dextra et sinistra dan badan demam. Sebelumnya tiga hari yang lalu, pasien berhubungan dengan wanita tuna susila dan berhubungan setiap satu bulan sekali dengan WTS selama enam bulan ini. Dari skenario tersebut, maka timbul beberapa rumusan masalah berupa: A. Pengertian Penyakit Menular Seksual B. C. Patofisiologi Penyakit Menular Seksual Etiologi / Faktor Penyebab Penyakit Menular Seksual

D. Jenis jenis Penyakit Menular Sekual E. F. Pengobatan Penyakit Menular Sekual Konsep / cara penanggulangan masalah Penyakit Menular Sekual

C. TUJUAN a. Tujuan umum

Untuk pemenuhan tugas mata kuliah Kesehatan Reproduksi terutama tentang Penyakit Menular Sekaual (PMS), agar mahasiswa mampu memahami lebih detail tentang PMS dan menambah semangat belajar dengan adanya makalah ini. b. Tujuan khusus 1. 2. 3. 4. 5. 6. Untuk mengetahui pengertian Penyakit Menular Seksual (PMS). Untuk mengetahui patofisiologi Penyakit Menular Seksual (PMS). Untuk mengetahui etiologi / faktor penyebab Penyakit Menular Seksual (PMS). Untuk mengetahui jenis jenis Penyakit Menular Seksual (PMS). Untuk mengetahui pengobatan Penyakit Menular Seksual (PMS). Untuk mengetahui konsep / cara penanggulangan masalah Penyakit Menular Seksual (PMS).

BAB 11 PEMBAHASAN

A. Pengertian Penyakit Menular Seksual

Penyakit Menular Seksual (PMS) adalah penyakit yang ditularkan melalui hubungan seks. Penyakit menular seksual akan lebih beresiko bila melakukan hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan baik melalui vagina, oral maupun anal. PMS dapat menyebabkan infeksi alat reproduksi yang harus dianggap serius.

B. Patofisiologi Bila tidak diobati secara tepat, infeksi dapat menjalar dan menyebabkan penderitaan, sakit berkepanjangan, kemandulan dan bahkan kematian. Wanita lebih beresiko untuk terkena PMS lebih besar daripada laki-laki sebab mempunyai alat reproduksi yang lebih rentan. Dan seringkali berakibat lebih parah karena gejala awal tidak segera dikenali, sedangkan penyakit melanjut ke tahap lebih parah. Oleh karena letak dan bentuk kelaminnya yang agak menonjol, gejala PMS pada laki-laki lebih mudah dikenali, dilihat, dan dirasakan. Sedangkan pada perempuan sebagian besar gejala yang timbul hampir tak dapat dirasakan. Cara penularan Penyakit Menular Seksual ini terutama melalui hubungan seksual yang tidak terlindungi, baik pervaginal, anal, maupun oral. Cara penularan lainnya secara perinatal, yaitu dari ibu ke bayinya, baik selama kehamilan, saat kelahiran ataupun setelah lahir. Bisa melalui transfuse darah atau kontak langsung dengan cairan darah atau produk darah. Dan juga bisa melalui penggunaan pakaian dalam atau handuk yang telah dipakai penderita Penyakit Menular Seksual(PMS). Perilaku seks yang dapat mempermudah penularan PMS adalah : 1. Berhubungan seks yang tidak aman (tanpa menggunakan kondom). 2. Gonta-ganti pasangan seks. 3. Prostitusi. 4. Melakukan hubungan seks anal (dubur), perilaku ini akan menimbulkan luka atau radang karena epitel mukosa anus relative tipis dan lebih mudah terluka disbanding epitel dinding vagina. 5. Penggunaan pakaian dalam atau handunk yang telah dipakai penderita PMS. C. Etiologi / Faktor Penyebab Penyakit menular seksual dapat diklasifikasikan berdasarkan agen penyebabnya, yakni: a. Dari golongan bakteri, yakni Neisseria gonorrhoeae, Treponema

pallidum, Chlamydia trachomatis, Ureaplasma urealyticum, Mycoplasma hominis, Gardnerella vaginalis, Salmonella sp, Shigella sp, Campylobacter sp, Streptococcus group B, Mobiluncus sp.

b.

Dari golongan protozoa, yakni Trichomonas vaginalis, Entamoeba

histolytica, Giardia lamblia, c. Dari golongan virus, yakni Human Immunodeficiency Virus(tipe 1 dan

2), Herpes Simplex Virus (tipe 1 dan 2), Human papiloma Virus, Cytomegalovirus, Epstein-barr virus, Molluscum contagiosum virus, d. Dari golongan ektoparasit, yakni Phthirus pubis dan Sarcoptes scabei.

D. Jenis jenis Penyakit Menular Seksual 1. Gonore

Gonore adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh Neisseria Gonorrhoeae yang menginfeksi lapisan dalam uretra, leher rahim, rektum dan tenggorokan atau bbagian putih mata (konjungtiva). Gejalanya yaitu : Pada pria, gejala awal biasanya timbul dalam waktu 2 7 hari setelah terinfeksi. Gejalanya berawal sebagai rasa tidak enak pada uretra, yang beberapa jam kemudian diikuti oleh nyeri ketika berkemih dan keluarnya nanah dari penis. Penderita sering berkemih dan merasakan desakan untuk berkemih, yang semakin memburuk ketika penyakit ini menyabar ke uretra bagian atas. Lubang penis tampak merah dan bengkak. Pada wanita, gejala awal biasa timbul dalam waktu 7 21 hari setelah terinfeksi. Penderita wanita seringkali tidak menunjukkan gejala selama beberapa minggu atau bulan, dan tidak diketahui menderita penyakit ini hanya setelah mitra seksualnya tertular. Jika timbul gejala, biasanya bersifat ringan. Tetapi penderita menunjukkan gejala yang berat, seperti desakan untuk berkemih, nyeri ketika berkemih, keluarnya cairan dari vagina dan demam.

Komplikasi yaitu kadang menyebar melalui aliran darah ke 1 atau beberapa sendi, dimana sendi menjadi bengkak dan sangat nyeri, sehingga pergerakannya menjadi terbatas. Infeksi melalui aliran darah juga bisa menyebabkan timbulnya bintik bintik merah berisi nanah di kulit, demam, rasa tidak enak badan atau nyeri di beberapa sendi yang berpindah dari satu sendi ke sendi lainnya (sindroma artritis dermatitis). Diagnosa ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan mikroskopik terhadap nanah, dimana ditemukan bakteri penyebab gonore. Jika pada pemeriksaan mikroskopik tidak ditemukan bakteri, maka dilakukan pembiakan dilaboratorium. Jika diduga terjadi infeksi tenggorokan atau rektum, diambil contoh dari daerah ini da dibuat biakan. Pengobatan, biasanya diobati dengan suntikan tunggal seftriakson intramuskuler atau dengan pemberian antibiotik per-oral selama satu minggu (biasanya diberikan doksisiklin). Jika gonore telah menyebar melalui aliran darah, biasanya penderita dirwat di rumah sakit dan mendapatkan antibiotik intrvena. 2. Sifilis

Sifilis adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh Treponema Pallidum. Bakteri ini masuk kedalam tubuh maniusia melalui selaput lendir (vagina dan mulut) atau melalui kulit. Dalam beberapa jam bakteri akan sampai ke kelenjar getah bening terdekat, kemudin menyebar keseluruh tubuh melalui aliran darah. Sifilis juga bisa menginfeksi janin selama dalam kandungan dan menyebabkan cacat bawaan. Gejala biasanya mulai timbul dalam waktu 1 13 minggu setelah terinfeksi; rata rata 3 4 minggu. Infeksi bisa menetap selama bertahun tahun dan jarang menyebabkan kerusakan jantung, kerusakan otak maupun kematian. Diagnosa ditegakkan berdasarkan gejala gejalanya. Diagnosa pasti ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan fisik. Ada 2 jenis pemeriksaan darah yang digunakan : 1. Tes penyaringan : VDRL (Veneral disease research laboratory ) atau RPR (Rapid plasma reagin). Tes penyaringan ini mudah dilakukan dan tidak mahal. Mungkin perlu dilakukan tes ulang karena pada beberapa minggu pertama sifilis primer hasilnya bisa negatif. 2. Pemeriksaan antibiotik terhadap bakteri penyebab sifilis. Pemeriksaan ini lebih akurat. Salah satu dari tes ini adalah tes FTA ABS (fluorescent treponema antibody absorption), yang digunakan untuk memperkuat hasil tes penyaringan yang positif. Pengobatan, antibiotik untuk semua fase sifilis biasanya adalah suntikan penisillin. Untuk sifilis fase primer, suntikan diberikan melalui kedua bokong, masing masing satu kali

Untuk sifilis fase sekunder, biasanya diberikan suntikan tambahan dengan selang waktu 1 minggu.

3. Kondiloma Akuminata

Kondiloma akuminata merupakan kutil di dalam atau di sekeliling vagina, penis, atau dubur, yang ditularkan melalui hubungan seksual. Penyebab virus papilloma. Pada wanita virus papilloma tipe 16 dan 18 yang menyerang leher rahim tetapi tidak menyebabkan kutil pada alat kelamin luar dan bisa menyebabkan kanker leher rahim. Virus tipe ini dan virus papiloma lainnya bisa menyebabkan tumor intra-epitel pada leher rahim (ditunjukkan dengan hasil pap-smear yang abnormal) atau kanker pada vagina, vulva, dubur, penis, mulut, tenggorokan atau kerongkongan. Gejala, Kondiloma akuminata paling sering timbul di permukaan tubuh yang hangat dan lembab. Pada pria, area yang sering terkena adalah ujung dan batang penis dan dibawah kulit depannya (jika tidak disunat). Pada wanita timbul divulva, dinding vagina, leher rahim (serviks) dan kulit disekeliling vagina. Kondiloma akuminata juga bisa terjadi di daerah sekeliling anus dan rektum, terutama pada pria homoseksual dan wanita yang melakukan hubungan seksual melalui dubur. Biasanya muncul dalam waktu 1 6 hari setelah terinfeksi, dimulai sebagai pembengkakan kecil yang lembut, lembab, berwarna merah atau pink. Mereka tumbuh dengan cepat dan bisa memiliki tangkai. Pada suatu daerah seringkali tumbuh beberapa kutil dan permukaannya yang kasar memebrikan gambaran seperti bunga kol. Diagnosa ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Kutil yang menetap bisa diangkat melalui pembedahan dan diperiksa dibawah mikroskop untuk meyakinkan bahwa itu bukan merupakan suatu keganasan. Wanita yang memiliki kutil di leher rahimnya, harus menjalani pemeriksaan pap-smear secara rutin. Pengobatan, kutil pada alat kelamin luar bisa diangkat melalui laser, krioterapi (pembekuan) atau pembedahan dengan bius lokal. Pengobatan kimiawi, seperti podofilum resin atau racun yang dimurnikanatau asam trikloroasetat, bisa dioleskan langsung pada kutil. Tetapi pengobatan ini memerlukan waktu beberapa minggu sampai beberapa bulan, bisa melukai kulit disekelilingnya dan sering gagal. Kutil di uretra bisa diobati dengan obat anti kanker seperti tiotepa atau florourasil. 4. HIV AIDS

Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV; atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain).Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada

dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan. Penyebab AIDS merupakan bentuk terparah atas akibat infeksi HIV. HIV adalah retrovirus yang biasanya menyerang organ-organ vital sistem kekebalan manusia, seperti sel T CD4+ (sejenis sel T), makrofaga, dan sel dendritik. HIV merusak sel T CD4+ secara langsung dan tidak langsung, padahal sel T CD4+ dibutuhkan agar sistem kekebalan tubuh dapat berfungsi baik. Bila HIV telah membunuh sel T CD4+ hingga jumlahnya menyusut hingga kurang dari 200 per mikroliter darah, maka kekebalan di tingkat sel akan hilang, dan akibatnya ialah kondisi yang disebut AIDS. Infeksi akut HIV akan berlanjut menjadi infeksi laten klinis, kemudian timbul gejala infeksi HIV awal, dan akhirnya AIDS; yang diidentifikasi dengan memeriksa jumlah sel T CD4+ di dalam darah serta adanya infeksi tertentu. Penularan Seksual, Penularan (transmisi) HIV secara seksual terjadi ketika ada kontak antara sekresi cairan vagina atau cairan preseminal seseorang dengan rektum, alat kelamin, atau membran mukosa mulut pasangannya. Hubungan seksual reseptif tanpa pelindung lebih berisiko daripada hubungan seksual insertif tanpa pelindung, dan risiko hubungan seks anal lebih besar daripada risiko hubungan seks biasa dan seks oral. Seks oral tidak berarti tak berisiko karena HIV dapat masuk melalui seks oral reseptif maupun insertif. Kekerasan seksual secara umum meningkatkan risiko penularan HIV karena pelindung umumnya tidak digunakan dan sering terjadi trauma fisik terhadap rongga vagina yang memudahkan transmisi HIV. Diagnosis, Sejak tanggal 5 Juni 1981, banyak definisi yang muncul untuk pengawasan epidemiologi AIDS, seperti definisi Bangui dan definisi World Health Organization tentang AIDS tahun 1994. Namun demikian, kedua sistem tersebut sebenarnya ditujukan untuk pemantauan epidemi dan bukan untuk penentuan tahapan klinis pasien, karena definisi yang digunakan tidak sensitif ataupun spesifik. Di negara-negara berkembang, sistem World Health Organization untuk infeksi HIV digunakan dengan memakai data klinis dan laboratorium; sementara di negara-negara maju digunakan sistem klasifikasi Centers for Disease Control (CDC) Amerika Serikat Pencegahan, Tiga jalur utama (rute) masuknya virus HIV ke dalam tubuh ialah melalui hubungan seksual, persentuhan (paparan) dengan cairan atau jaringan tubuh yang terinfeksi, serta dari ibu ke janin atau bayi selama periode sekitar kelahiran (periode perinatal). Walaupun HIV dapat ditemukan pada air liur, air mata dan urin orang yang terinfeksi, namun tidak terdapat catatan kasus infeksi dikarenakan cairancairan tersebut, dengan demikian risiko infeksinya secara umum dapat diabaikan 5. Cangkroid

Cangkroid merupakan penyakit menukar seksual yang disebabkan oleh Hemophilus ducreyi, dimana terjadi luka terbuka (ulkus, borok) pada alat kelamin yang sifatnya menetap dan terasa nyeri.

Gejala mulai timbul dalam waktu 3-7 hari setelah terinfeksi. Lepuhan kecil yang terasa nyyeri timbul dialat kelamin dan disekitar anus. Lepuhan ini akan segera pecah dan membentuk luka terbuka yang dangkal. Luka tersebut bisa membesar dan bergabung satu sama lain. Diagnosa ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Contoh nanah diambil dan dibiakkan di laboratorium. Pengobatan, diberikan suntikan antibiotik seftriakson atau eritromisin setiap 6 jam selama 7 hari. Nanah dari kelenjar getah bening yang membengkak bisa dikeluarkan dengan bantuan sebuah jarum. Penderita diawasi minimal selama 3 bulan untuk memastikan bahwa infeksi telah sembuh. Jika memungkinkan, mitra seksual juga diselidiki, sehingga bisa diperiksa dan jika perlu, diobati. Pencegahan, cangkroid adalah infeksi bakteri yang ditularkan melalui hubungan seksual. Untuk mencegah penyebaran cangkroid, lakukanlah hubungan seksual yang aman (menggunakan kondom atau tidak bergonta ganti pasangan seksual). 6. Herpes Genitalis

Herpes genitalis adalah suatu penyakit menular seksual di daerah kelamin, kulit di sekeliling rektum atau daerah di sekitrnya yang disebabkan oleh virus herpes simpleks Gejala awalnya mulai timbul pada hari ke 4-7 setelah terinfeksi. Gejala awal biasanya berupa gatal, kesemutan dan sakit. Lalu akan muncul bercak kemerahan yang kecil, yang diikuti oleh sekumpulan lepuhan kecil yang terasa nyeri. Lepuhan ini pecah dan bergabung membentuk luka yang melingkar. Luka yang terbentuk biasanya menimbulkan nyeri dan berbentu keropeng. Luka akan membaik dalam waktu 10 hari tetapi bisa meninggalkan jaringan parut. Diagnosa ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya. Untuk memperkuat diagnosa, diambil apusan dari luka dan dibiakkan di laboratorium. Pemeriksaan darah bisa menunjukkan adanya antibodi terhadap virus. Pengobatan, tidak ada pengobatan yang dapat menyembuhkan herpes genitalis, tetapi pengobatan bisa memperpendek lamanya serangan. Jumlah serangan bisa dikurangi dengan terus menerus mengkosumsi obat anti-virus dosis rendah. Pengobatan akan efektif jika dimulai sedini mungkin, biasanya 2 hari setelah timbulnya gejala. 7. Trikomoniasis

Trikomoniasis adalah suatu penyakit menular seksual pada vagina atau uretra yang disebabkan oleh Trichomonas vaginalis.

Gejalanya, pada wanita penyakit ini biasanya dimualai dengan keluarnya cairan dari vagina yang berbusa dan berwarna kuning kehijauan. Pada pria, mengeluarkan cairan berbusa atau cairan seperti nanah dari uretra, mengalami nyeri saat berkemih dan desakan berkemih yang lebih sering. Gejala ini biasanya timbul pada pagi hari. Diagnosa, pada wanita biasanya ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan mikroskopik terhadap contoh cairan vagina. Pada pria dilakukan pemeriksaan mikroskopik terhadap sekret dari ujung penis yang diambil pada pagi hari sebelum penderita berkemih dan sebagian dibiakkan di laboratorium. Jika hasil pemeriksaan mikroskopik belum meyakinkan, bisa dilakukan pembiakan air kemih. Pengobatan, Metronodasol dosis tunggal per-oral bisa menyembuhkan sampai 95% penderita. Karena efektifitas tunggal pada penderita pria masih diragukan, maka kepada penderita pria obat ini biasanya diberikan selama 7 hari.

Gejala umum penyakit menular seksual : a. Pada anak perempuan gejalanya berupa:

Cairan yang tidak biasa keluar dari alat kelamin perempuan warnanya kekuningan-kuningan, berbau tidak sedap. b. Menstruasi atau haid tidak teratur. Rasa sakit di perut bagian bawah. Rasa gatal yang berkepanjangan di sekitar kelamin. Pada anak laki-laki gejalanya berupa: Rasa sakit atau panas saat kencing. Keluarnya darah saat kencing. Keluarnya nanah dari penis. Adanya luka pada alat kelamin. Rasa gatal pada penis atau dubur.

E. Pengobatan

Penanganan pasien infeksi menular seksual terdiri dari dua cara, bisa dengan penaganan berdasarkan kasus(case management) ataupun penanganan berdasarkan sindrom (syndrome management). Penanganan berdasarkan kasus yang efektif tidak hanya berupa pemberian terapi antimikroba untuk menyembuhkan dan mengurangi infektifitas mikroba, tetapi juga diberikan perawatan kesehatan reproduksi yang komprehensif. Sedangkan penanganan berdasarkan sindrom didasarkan pada identifikasi dari sekelompok tanda dan gejala yang konsisten, dan penyediaan pengobatan untuk mikroba tertentu yang menimbulkan sindrom. Penanganan infeksi menular seksual yang ideal adalah penanganan berdasarkan mikrooganisme penyebnya. Namun, dalam kenyataannya penderita infeksi menular seksual selalu diberi pengobatan secara empiris. Antibiotika untuk pengobatan IMS adalah : 1. Pengobatan gonore: penisilin, ampisilin, amoksisilin, seftriakson, spektinomisin, kuinolon, tiamfenikol, dan kanamisin. 2. Pengobatan sifilis: penisilin, sefalosporin, termasuk sefaloridin, tetrasiklin,

eritromisin, dan kloramfenikol 3. 4. 5. Pengobatan herpes genital: asiklovir, famsiklovir, valasiklovir Pengobatan klamidia: azithromisin, doksisiklin, eritromisin Pengobatan trikomoniasis: metronidazole.

F. Konsep / Cara Penanggulangan Masalah Adapun upaya penanggulangan Penyakit Menular Seksual yang dapat dilakukan adalah: a. Tidak melakukan hubungan seks. b. Menjaga perilaku seksual (seperti: penggunaan kondom).

c. Bila sudah berperilaku seks yang aktif tetaplah setia pada pasangannya. d. Hindari penggunaan pakaian dalam serta handuk dari penderita PMS. e. Tawakal pada Tuhan Yang Maha Esa. f. Bila nampak gejala-gejala PMS segera ke dokter atau petugas kesehatan setempat.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Penyakit Menular Seksual (PMS) adalah penyakit yang ditularkan melalui hubungan seks. Cara penularan Penyakit Menular Seksual ini terutama melalui hubungan seksual yang tidak terlindungi, baik pervaginal, anal, maupun oral. Cara penularan lainnya secara perinatal, yaitu dari ibu ke bayinya, baik selama kehamilan, saat kelahiran ataupun setelah lahir. Bisa melalui transfuse darah atau kontak langsung dengan cairan darah atau produk darah. Penanganan pasien infeksi menular seksual terdiri dari dua cara, bisa dengan penaganan berdasarkan kasus(case management) ataupun penanganan berdasarkan sindrom (syndrome management). Adapun upaya penanggulangan Penyakit Menular Seksual yang dapat dilakukan adalah: a. b. c. Tidak melakukan hubungan seks. Menjaga perilaku seksual (seperti: penggunaan kondom). Bila sudah berperilaku seks yang aktif tetaplah setia pada pasngannya.

B. Saran Disarankan kepada tenaga kesehatan terutama jurusan kebidanan agar kiranya dapat memberika penyuluhan kepada masyarakat pada umumnya tentang Penyakit Menular Seksual (PMS) yang dapat menyerang baik perempuan maupun laki-laki yang dampaknya sangat berbahaya dan bahkan bisa mematikan.

DAFTAR PUSTAKA

Ratna Mardiana. 2010. Mengenal, mencegah, dan mengobati penularan penyakit dari infeksi. Yogyakarta . Citra Pustaka Ida Ayu Chandranita Manuaba. 2009. Memahami kesehatan reproduksi wanita. Edisi II. Jakarta. Buku Kedokteran EGC. Hal. 7, 41-48. Kamal Zharif Kamaluddin. 2011. Http://majalahkesehatan.com/sekilas-tentang-pms-penyakitmenularseksual