Anda di halaman 1dari 25

ABSTRAK

Pada tugas antenna ini membahas rancang bangun, pengukuran, pengujian, dan aplikasi dari antenna mikrostrip plannar array 4 elemen. Antena ini dirancang untuk jarinngan teknologi wireless (WLAN) yang semakin berkembang saat ini menyebabkan banyaknya pelanggan (client) yang ingin terhubung pada jaringan komputer setempat, untuk memudahkan konektivitas antara satu jaringan komputer dengan jaringan komputer lain, dengan peran antena yang menggunakan mikrostrip beroperasi pada 2,4 Ghz pada sisi jaringan sangat berguna untuk komunikasi wireless yang terpadu, frekuensi tersebut sudah banyak digunakan diseluruh dunia karena frekuensi 2,4 GHz, merupakan standar dari protocol IEEE 802.11 b/g untuk wireless local area network (WLAN). Antena mikrostrip array 4 elemen ini dirancang menggunakan perangkat lunak Computer Studio Suite Microwave Studio (CST). Adapun rancang bangun antena ini bertujuan untuk merancang mikrostrip planar array 4 elemen yang berfrekuensi 2,4 GHz, polarisasi linier, dan meningkatkan performansi antena dalam penerimaan sinyal untuk mendukung WLAN. Hasil penguatan (gain) adalah 7,61 dB , VSWR adalah 1,56, pola radiasi antena adalah directional. Kata Kunci : mikrostrip, WLAN, plannar array, directional.

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1.

LATAR BELAKANG

Dewasa ini teknologi telekomunikasi semakin maju, seiring perkembangan zaman, salah satu contohnya adalah teknologi antena. Antena yang berfungsi baik sebagai transmitter (pemancar) maupun sebagai receiver (penerima) gelombang elektromagnetik memiliki

peranan yang sangat penting dalam suatu sistem telekomunikasi radio, oleh karena itu peningkatan mutu antena sangatlah diperlukan untuk mencapai suatu nilai pancar atau terima yang optimum. Perangkat antena dibedakan berdasarkan bentuk dan kualitas bahan yang digunakan, sehingga kemampuan tiap-tiap antena untuk memancarkan maupun menerima suatu gelombang elektromagnetik tentu berbeda. Antena merupakan komponen yang sangat penting pada sistem komunikasi, karena antena dapat berfungsi mentransformasikan suatu sinyal RF (Radio Frequency) yang merambat pada konduktor menjadi gelombang

elektromagnetik ke ruang bebas. Antena juga merupakan alat yang sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut untuk mendapatkan hasil yang optimal sesuai dengan kebutuhan telekomunikasi gelombang mikro. Sistem komunikasi yang memanfaatkan gelombang elektromagnetik adalah nirkabel (wireles).Salah satu Teknologi wireless yaitu WLAN

(Wireless Local Area Network) berfungsi untuk menjangkau wilayah LAN yang sulit dicapai dengan kabel tembaga biasa. Dalam hal ini dilhat dari arsitektur yang ada, komunikasinya dapat dilakukan anatara Access Point (AP) wireless yang tersambung secara wireless ke client. Dengan Antena mikrostrip beroperasi pada frekuensi 2,4 GHz pada sisi jaringan sangat berguna untuk komunikasi wireless yang terpadu, frekuensi.

1.2.

TUJUAN Tujuan tugas ini adalah membuat perancangan antena mikrostrip planar array 6

elemen untuk teknologi WLAN yang bekerja pada frekuensi 2.4 GHz.

BAB 2 ANTENA PLANAR MIKROSTRIP ARRAY UNTUK APLIKASI WLAN

2.1. WLAN

Jaringan lokal nirkabel atau WLAN adalah suatu jaringan area lokal nirkabel yang menggunakan gelombang radio sebagai media tranmisinya. Link terakhir yang digunakan adalah nirkabel, untuk memberi sebuah koneksi jaringan ke seluruh pengguna dalam area sekitar.

Gambar 2.1 Gambar Salah satu contoh topologi jaringan WLAN 2.1.2. Sejarah WLAN Pada akhir 1970-an IBM mengeluarkan hasil percobaan mereka dalam merancang WLAN dengan teknologi IR, perusahaan lain seperti Hewlett-Packard (HP) menguji WLAN dengan RF. Kedua perusahaan tersebut hanya mencapai data rate 100 Kbps. Karena tidak memenuhi standar IEEE 802 untuk LAN yaitu 1 Mbps maka produknya tidak dipasarkan. Baru pada tahun 1985, Federal Communication Commission (FCC) menetapkan pita Industrial, Scientific and Medical (ISM band) yaitu 902-928 MHz, 24002483.5 MHz dan 5725-5850 MHz yang bersifat tidak terlisensi, sehingga pengembangan WLAN secara komersial memasuki tahapan serius. Barulah pada tahun 1990 WLAN dapat
3

dipasarkan dengan produk yang menggunakan teknik spread spectrum (SS) pada pita ISM, frekuensi terlisensi 18-19 GHz dan teknologi IR dengan data rate >1 Mbps. Pasar yang menjadi targetnya adalah pabrik, kantor-kantor yang mengalami kesulitan dalam pengkabelan (seperti kantor dengan interior marmer dll), laboraturium, tempattempat yang bersifat sementara (seperti ruang kuliah, rapat, konfrensi dll) dan kampus. Perkiraan sementara yang dihasilkan menunjukkan bahwa kira-kira 5-15 % pasar LAN akan dikuasi oleh WLAN.(1)

Gambar 2.2 Gambar Aplikasi WLAN 2.1.3. Lapisan Fisik dan Topologi WLAN menggunakan standar protokol Open System Interconnection (OSI). OSI memiliki tujuh lapisan di mana lapisan pertama adalah lapisan fisik. Lapisan pertama ini mengatur segala hal yang berhubungan dengan media transmisi termasuk di dalamnya spesifikasi besarnya frekuensi, redaman, besarnya tegangan dan daya, interface, media penghubung antar-terminal dll. Media transmisi data yang digunakan oleh WLAN adalah IR atau RF. 2.1.3.1. Infrared (IR) Infrared banyak digunakan pada komunikasi jarak dekat, contoh paling umum pemakaian IR adalah remote control (untuk televisi). Gelombang IR mudah dibuat, harganya murah, lebih bersifat directional, tidak dapat menembus tembok atau benda
4

gelap, memiliki fluktuasi daya tinggi dan dapat diinterferensi oleh cahaya matahari. Pengirim dan penerima IR menggunakan Light Emitting Diode (LED) dan Photo Sensitive Diode (PSD). WLAN menggunakan IR sebagai media transmisi karena IR dapat menawarkan data rate tinggi (100-an Mbps), konsumsi dayanya kecil dan harganya murah. 2.1.3.2. Radio Frequency (RF). Penggunaan RF tidak asing lagi, contoh penggunaannya adalah pada stasiun radio, stasiun TV, telepon cordless dll. RF selalu dihadapi oleh masalah spektrum yang terbatas, sehingga harus dipertimbangkan cara memanfaatkan spektrum secara efisien. WLAN menggunakan RF sebagai media transmisi karena jangkauannya jauh, dapat menembus tembok, mendukung teknik handoff, mendukung mobilitas yang tinggi, meng-cover daerah jauh lebih baik dari IR dan dapat digunakan di luar ruangan. WLAN, di sini, menggunakan pita ISM dan memanfaatkan teknik spread spectrum (DS atau FH). 2.2. Antena Mikrostrip Berdasarkan asal katanya, mikrostrip terdiri atas dua kata, yaitu micro (sangat tipis/kecil) dan didefenisikan sebagai salah satu jenis antena yang mempunyai bentuk seperti bilah/potongan yang mempunyai ukuran sangat tipis/kecil. Antena mikrostrip mempunyai nilai radiasi yang paling kuat terutama pada daerah pinggiran di antara tepi biasanya substrat dibuat tebal dengan konstanta dielektrik yang rendah. Hal ini akan menghasilkan efisiensi dan radiasi yang lebih baik serta lebih lebar, namun akan menambah ukuran dari antena itu sendiri. Oleh sebab itu, kejelian dalam menetapkan spesifikasi, ukuran, dan performa akan menghasilkan antena mikrostrip yang mempunyai ukuran yang kompak dengan performa yang masih dalam batas toleransi. Seperti terlihat pada Gambar 2.2. Jenis antena ini memiliki keunggulan terutama pada rancangan antena yang tipis, ringan, tidak mahal, ketahanan yang tinggi, mampu disesuaikan dengan bidang planar dan non planar, serta dapat berintegrasi dengan peralatan telekomunikasi lain yang berukuran sempit, seperti Microwave Integrated Circuit (MICs). Namun pada prinsipnya antena mikrostrip memiliki bandwitdh yang sempit, dan bergantung pada ukuran, ketebalan substrat, jenis substrat,

dan tipe feed point nya. Namun keterbatasan ini telah mampu diatasi dengan desain antena mikrostrip yang beragam, seperti pembuatan patch berbentuk U atau V.

Gambar 2.3 Struktur antena mikrostrip

Gambar 2.3 menunjukkan struktur dari sebuah antena mikrostrip. Secara umum, antena mikrostrip terdiri atas 3 bagian, yaitu patch, substrat, dan ground plane. Patch terletak di atas substrat, sementara ground plane terletak pada bagian paling bawah. Pada umumnya, patch terbuat dari logam konduktor seperti tembaga atau emas dan mempunyai bentuk yang bermacam-macam. Bentuk patch antena mikrostrip yang sering dibuat, misalnya segi empat, segi tiga, lingkaran, dan lain lain. Patch berfungsi sebagai pemancar (radiator). Patch dan saluran pencatu biasanya terletak di atas substrat. Tebal patch dibuat sangat tipis (t 0; t = ketebalan patch). Substrat terbuat dari bahan-bahan dielektrik. Substrat biasanya mempunyai tinggi (h) antara 0,003 0,05 . Bahan dielektrik FR Epoxy Alumina Material sintetik Teflon Nilai konstanta dielektrik (r) 4,1 - 4,4 9,8 2,08
6

Material komposit duroid Ferimagnetik ferrite Semikonduktor silicon Fiberglass

2,2 10,8 9 16 11,9 4,882

Tabel 2.1 Nilai Konstanta Dielektrik Dan Bahan Dielektrik

Tabel 2.1 menunjukkan nilai permeativitas relatif bahan dielektrik yang sering digunakan untuk membuat substrat antena mikrostrip. Tampak bahwa semikonduktor (silikon) memiliki nilai r yang lebih tinggi dan teflon memiliki nilai r yang lebih rendah. Antena mikrostrip mempnyai nilai radiasi yang paling kuat terutama pada daerah pinggiran di antara tepi patch. Untuk performa antena yang baik, biasanya substrat dibuat tebal dengan konstanta dielektrik yang rendah. Karakteristik Antena Mikrostrip Antena mikrostrip mulai mendapatkan perhatian pada awal tahun 1970an, walaupun ide awal antena ini muncul pada tahun 1953 dan patennya pada tahun 1955. Seperti pada Gambar 2.9, antena mikrostrip terdiri dari sebuah strip metal (patch) yang sangat tipis (t << o) dimana o adalah (panjang gelombang ruang hampa) diatas sebuah ground (lapisan konduktif lain) yang dipisahkan oleh substrat dielektrik (h << o), biasanya (0,003 o < h < 0,05 o).

Gambar 2.4 Dimensi antena mikrostrip

Banyak substrat yang bisa digunakan untuk desain antena mikrostrip, konstanta dielektrik yang biasa dipakai adalah diantara rentang 2.2 < r < 12. Dan susbtrat yang paling baik
7

dipergunakan untuk antena ini adalah yang memiliki konstanta dielektrik paling rendah dari rentang tersebut, karena dengan konstanta dielektrik tersebut akan menghasilkan efisiensi yang lebih baik, bandwidth yang lebih lebar, radiasi yang lebih bebas, namun membutuhkan ukuran element yang lebih besar. Sering kali, antena mikrostrip yang di desain merupakan antena patch. Berdasarkan Gambar 2.5 Antena Mikrostrip memiliki sumber radiasi yang meradiasi sematamata karena medan antara ujung patch dan bidang ground. Lapisan konduktif bawah berlaku mirip dengan bidang ground reflektif, memantulkan kembali energi melewati substrat dan ke ruang kosong.

Gambar 2.5 Jalur medan yang meradiasi dari patch antena dari formasi gelombang permukaan

2.2.1 Jenis-jenis Antenna Mikrostrip Pada Gambar 2.2.2 ada berbagai macam bentuk dasar dari antena mikrostrip. Seperti Square, rectangular, dan sircular adalah merupakan desain yang umum digunakan dalam perancangan antena mikrostrip, karena sangat mudah untuk dianalisa dan difabrikasi, karakteristik radiasi yang menarik, dan yang paling penting kecilnya radiasi cross-polarization. Selain itu, terdapat pula antena dipole, karena memiliki bandwidth yang lebar dan kecil ukurannya sehingga sering dipakai untuk antena array. Setiap desain memiliki karakteristik masing-masing.

Gambar 2.6 Bentuk dasar antena mikrostrip

Dan sesuai dengan kebutuhan akan teknologi, desain antena mikrostrip ini mengalami perubahan pula menjadi lebih kompleks seperti terlihat pada gambar 2.6. Ini dilakukan agar dapat memenuhi kriteria pada aplikasi-aplikasi tertentu. Pembentukan patch seperti H-shape, Ushape dan bentuk lainnya dilakukan untuk mendapatkan kriteria antena seperti pembentukan frekuensi resonansi yang lebih banyak, peningkatan gain, dan lain sebagainya. Pembentukan patch seperti H-shape, U-shape dan bentuk lainnya dilakukan untuk mendapatkan kriteria antena seperti pembentukan frekuensi resonansi yang lebih banyak, peningkatan gain, dan lain sebagainya.

Gambar 2.7 Beberapa modifikasi antena mikrostrip

2.2.2 Penggunaan Antena Mikrostrip Keragaman desain yang memungkinkan dalam antena-antena mikrostrip barangkali melebihi elemen antena tipe lainnya. Antena mikrostrip digunakan dimana ukuran, berat, biaya, performa yang baik, kesesuaian dengan rangkaian terintegrasi gelombang milimeter dan gelombang mikro, ketahanan, kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan bidang planar dan non-planar, dsb. yang dibutuhkan. Adapun Kelebihan dan Kekurangan Antena Mikrostrip Antena mikrostrip mengalami peningkatan popularitas terutama dalam aplikasi mikrostrip juga kompatibel dan dapat diintegrasikan langsung dengan sirkuit utamanya, seperti pada sekarang, pemakaian antena mikrostrip menjadi semakin berkembang. Hampir semua peralatan telekomunikasi wireless yang ada tidak menunjukkan sebuah fisik antena. Hal ini karena peralatan telekomunikasi tersebut menggunakan antena mikrostrip yang dapat diintegrasikan langsung dengan MICs-nya. Beberapa keuntungan dari antena mikrostrip adalah : 1. Mempunyai bobot yang ringan dan volume yang kecil. 2. Konfigurasi yang dengan perangkat utamanya. 3. Biaya fabrikasi yang murah sehingga dapat dibuat dalam jumlah yang besar. 4. Mendukung polarisasi linear dan sirkular. 5. Dapat dengan mudah diintegrasikan dengan wireless karena strukturnya yang low profile. 6. Kemampuan dalam 7. Tidak memerlukan catuan tambahan. Namun, antena mikrostrip juga mempunyai beberapa kelemahan, yaitu : 1. Efisiensi yang rendah. 2. Penguatan yang rendah. 3. Memiliki rugi-rugi hambatan. 4. Memiliki daya. 5. Timbulnya gelombang permukaan. 2.2.3 Teknik Pencatuan Antena Teknik pencatuan antenna mikrostrip persegi dapat dilakukan secara langsung menggunakan teknik probe koaxial atau dengan menggunakan microstrip line. Pencatuan juga bias dilakukan secara tidak langsung yaitu dengan menggunakan kopling elektromagnetik,
10

dimana tidak ada kontak metalik langsung antara feed line dan patch. Teknik pencatuan mempengaruhi impedansi input dan karakteristik antena. 2.2.3.1 Teknik microsrip line feed Teknik microsrip line feed sangat mudah untuk difabrikasi, mudah untuk match dengan hanya mengatur posisi feed tersebut. Pada teknik ini digunakan strip kecil tambahan yang biasanya sangat lebih kecil dibanding patch antena, seperti terlihat pada Gambar 2.8

Gambar 2.8 Line Feed

2.2.3.2

Teknik Pencatuan Probe Koaxial Pada teknik ini, pencatuan dilakukan dengan cara melubangi patch untuk

dihubungkan dengan elemen pencatu (konektor). Penentun letak titik catu yang tepat menyebabkan antena ini tidak membutuhkan rangkaian penyepadan dalam

pengaplikasiannya. Berikut gambar nya :

Gamabar 2.9 Teknik coaxial probe

11

2.2.3.3

Teknik aperture coupling Teknik aperture coupling pada Gambar 2.10 adalah yang paling sulit untuk

difabrikasi dari keempat jenis feeding ini dan juga memiliki bandwidth yang sempit. Namun, teknik feeding ini mampu menghasilkan pola radiasi yang baik. Untuk desain ini, parameter elektrik dari substrat, dan lebar dari line feed mampu mengoptimalkan desain.

Gambar 2.10 Aperture Coupling

2.2.3. 4 Teknik Pencatuan proximity-coupled Pada pengkopelan ini digunakan dua buah substrat, dimana patch diletakkan pada substrat bagian atas dengan bidang pentanahannya dihilangkan seluruhnya. Saluran mikrostrip diletakkan pada substrat bagian bawah dan tetap memiliki bidang pentanahan. Saluran mikrostrip diletakkan di tengah-tengah dari lebar patch dan berjarak s dari tepi patch, seperti terlihat pada Gambar 2.11. Besar penggandengan tergantung dari dua faktor, yaitu jarak s dan lebar patch W. Penggandengan akan meningkat ketika jarak bertambah dan mencapai nilai maksimum ketika s = L/2

12

Gambar 2.11 Geometri antena mikrostrip dengan teknik pengkopelan secara proximity-coupled

Sebuah sifat kunci dari proximity-coupled patch adalah mekanisme koplingnya yang kapasitif di alam. Ini berbeda dengan metode kontak langsung yang unggul secara induktif. Perbedaan dalam mekanisme kopling secara signifikan mempengaruhi bandwidth impedansi yang mampu diperoleh. Sebab, kopling induktif dari bentuk geometri edge- dan probe-fed membatasi ketebalan material yang dapat digunakan. Jadi, telah menjadi sifatnya bahwa bandwidth dari proximity-coupled patch lebih besar dari direct contact feed patches. Setiap teknik pencatuan memiliki keunggulannya sendiri, itu semua disesuaikan dengan karakteristik antena masing-masing. Dengan keempat teknik pencatuan tersebut, diharapkan antena mikrostrip yang terbentuk memiliki kesesuaian dengan karakteristik antena yang diinginkan. Dari keempat teknik pencatuan tersebut, dapat dibuat tabel perbandingannya dalam Tabel 2.2.

13

Tabel 2.2 Perbandingan Beberapa Teknik Pencatuan

Karakteristik

Microstrip line Feed

Coaxial Feed

Aperture coupled

Proximity coupled Feed

Reliability

Sangat baik

Kurang, pengaruh fabrikasi

Baik

Baik

Fabrikasi

Mudah

Perlu adanya Penyolderan dan pengeboran

Agak rumit

Agak rumit

Peningkatan Bandwidth

25%

25%

>10%

Dapat >10 %

2.2.4. Gain Antena Gain antenna dapat dihitung dengan menggunakan antenna lain sebagai antenna yang standard atau sudah memiliki gain yang standard. Dimana membandingkan daya yang diterima antara antenna standard dan antenna yang akan diukur dari antenna pemancar yang sama dan dengan daya yang sama. Gain adalah penguatan atau kemapuan pada antena yang berhubungan dengan directivity dan efisiency antenna. Penguatan (G) pada antena microstrip dapat dihitung dengan perkalian antara directivity dan effisiensi pada antena. Jika effisiensi kurang dari 100 persen, penguatan kurang dari directivity.

14

2.2.5. Waveguide

Waveguide adalah saluran tunggal yang berfungsi untuk menghantarkan gelombang elektromagnetik (microwave) dengan frekuensi 300 MHz 300 GHz. Dalam kenyataannya, waveguide merupakan media transmisi yang berfungsi memandu gelombang pada arah tertentu. Secara umum waveguide dibagi menjadi tiga yaitu, yang pertama adalah Rectanguler Waveguide (waveguide dengan penampang persegi) dan yang kedua adalah Circular Waveguide (waveguide dengan penampang lingkaran), dan Ellips Waveguide (waveguide dengan penampang ellips).

15

BAB 3 PERANCANGAN DAN PERHITUNGAN

3.1.

PERANCANGAN ANTENA MIKROSTRIP ARRAY Perancangan antenna ini menggunakan waveguide pada frekuensi yang telah ditentukan

yaitu 2.4 GHz. Nilai yang telah didapatkan pada tabel waveguide sebagai parameter dalam menentukan lebar, W dan panjang, L, menentukan lebar (Wz) dan Transformer saluran impedansi. 3.2. PERHITUNGAN Merancang antenna Mikrostrip planar array 4 elemen, pada frekuensi 2.4 GHzmenggunakan substrat jenis FR4 Epoxy dengan konstanta permitifitas dielektrik relatif ( r) sebesar 4,4 dengan ketebalan substrat (h) 1,6 mm diukur dengan menggunakan mikrometer, sedangkan strip konduktor (t) sebesar 0,1 mm. 1. Perencanaan Dimensi Elemen Peradiasi Menentukan panjang gelombang pada ruang bebas:

Maka panjang gelombang pada saluran transmisi mikrostrip dapat dihitung dengan persamaan :

16

Persamaan dimensi lebar menggunakan persamaan

Persamaan dimensi panjang (L) :

( )]

)]

Kemudian menghitung pertambahan panjang ( ( ( ( ) ) )

Dengan itu dapat diketahui panjang efektifnya sebagai berikut:

17

Kemudian menentukan panjang elemen peradiasi (L):

Jadi, untuk element peradiasi pada frekuensi 2400 MHz dimensinya adalah W= 38mm dan L= 29,4mm

Menghitung jarak anta elemen peradiasi:

Menentukan impedansi masukan elemen peradiasi saluran transmisi dan transformer

18

Penentuan ukuran lebar saluran transmisi masukan elemen peradiasi dan transformer ( )

Penentuan anjang saluran transformer:

3.3

PERHITUNGAN MENGAPLIKASIKAN PADA SOFTWARE CST Dengan menggunakan software CST, akan mendapatkan pola radiasi, VSWR, dan gain.

19

BAB 4 SIMULASI DAN ANALISA

4.1. SIMULASI Pada simulasi perancangan antenna ini menggunakan software CST. Buka software CST Klik new Pilih antenna(planar)

Kemudian memasukkan parameter nya pada list parameter sesuai perhitungan nya.

20

Setelah nilai parameter dimasukkan dimulai dengan membuat bagian patch, gunakan rumus untuk menentukan titik penggambaran yang diinginkan. Setelah dihasilkan gambar antenna seperti gambar di bawah ini :

Kemudian membuat waveguide port

21

Akan didapat gambar perspektif dari antenna

Setelah memasukkan waveguide portnya kemudian masukkan nilai frekuensi kerja antenna yang diinginkan.

Setelah terbentuk tata letak rancangan nya seperti gambar diatas, maka akan di run untuk mengetahui nilai VSWR dan gain nya, setelah di run, hasil nya adalah seperti gambar berikut.

22

VSWR 1,56

Gain 7,61 dB

23

Bentuk polaradiasinya adalah directional 4.2. ANALISA Pada penelitian ini, yang berjudul Perancangan Antena Mikrostrip Array untuk Aplikasi WLAN pada frekuensi 2,4 GHz ini mengacu pada jurnal, perancangan antena mikrostrip array pada frekuensi 2.4 GHz untuk Wireless Local Area Network. Pada perancangan menggunakan software CST, maka dimasukkan parameter-parameter pada perhitungan awal, sehingga didapatkan gain sebesar 7,61 dB dan VSWR sebesar 1,56 untuk hasil perancangan di software. Adapun hasil VSWR dan gain pada jurnal tersebut adalah menghasilkan VSWR sebesar 1,365 dan gain nya sebesar 5,895. Hasil yang didapatkan yaitu VSWR dan gain pada perancangan ini menghasilkan nilai VSWR dan gain yang sudah optimal, karena pada hasil VSWR yang ideal adalah 1, dan hasil gain yang ideal adalah kurang dari 10. Perbandingn hasil perancangan dengan perhitungan nya juga sudah mencapai hasil terdekat. Adapun pola radiasi yang didapat dari hasil pengukuran mempunyai pola radiasi yang directional yaitu mengarah pada arah tertentu.

24

BAB 5 KESIMPULAN

Pada perancangan antena mikrostrip plannar array untuk aplikasi WLAN, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Dapat menghasilkan gain yang optimum mencapai 7,61 dB dan VSWR sebesar 1,56. 2. Antenna Mikrostip planar array merupakan radiasinya mengarah pada arah tertentu. 3. Semakin tinggi frekuensi kerja yang digunakan maka semakin tinggi pula gain yang didapatkan. 4. Perubahan frekuensi mempengaruhi besarnya impedansi, return loss, dan koefisien pantul. 5. Menghasilkan polaradiasi directional. antenna yang directional, yaitu pola

25