Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia dan lingkungan yang saling mendukung dengan pendekatan paradigma sehat, sejak dalam kandungan sampai usia lanjut. Selain itu pembangunan di bidang kesehatan juga diarahkan untuk meningkatkan dan memelihara mutu lembaga pelayanan kesehatan melalui pemberdayaan sumber daya manusia secara berkelanjutan, dan sarana prasarana dalam bidang medis. Sumber daya manusia merupakan modal pembangunan yang paling utama, tetapi sumber daya manusia yang terlalu banyak serta tidak dilengkapi dengan kualitas yang baik hanya akan membebani pembangunan baik secara sosial maupun ekonomi. Indeks pembangunan manusia di Indonesia masih jauh terbelakang dibandingkan sebagian besar negara lain di dunia. Hal ini terkait erat dengan rendahnya pembiayaan pelayanan kesehatan baik oleh pemerintah dan swasta maupun masyarakat. Terbatasnya dana kesehatan makin diperkuat oleh kenyataan bahwa biaya pelayanan kesehatan dan medis semakin mahal

seiring dengan perkembangan pembangunan dan teknologi. Biaya produksi pelayanan kesehatan di pelayanan kesehatan yang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, antara lain disebabkan oleh meningkatnya harga obat-obatan, penggunaan alat/teknologi yang semakin canggih dan meningkatnya permintaan masyarakat akan pelayanan kesehatan. Akibatnya, terjadi berbagai isu yang berkaitan dengan tarif pelayanan kesehatan pemerintah. Penetapan tarif dalam pelayanan kesehatan sangat berperan dalam menentukan demand dari kelompok yang berpendapatan rendah

dibandingkan dengan kelompok yang berpendapatan tinggi. Untuk itu, tarif pelayanan kesehatan perlu ditetapkan secara rasional dengan

mempertimbangkan biaya per unit dan harga yang layak diterima masyarakat pengguna jasa pelayanan kesehatan, selain itu dalam penentuan tarif perlu

dilakukan analisis megenai kemampuan dan kemauan masyarakat untuk membayar jasa pelayanan kesehatan. Untuk mendapatkan suatu ukuran kemampuan membayar dan kemauan membayar suatu keluarga atau masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dapat ditelusuri dari pendapatan atau pengeluaran keluarga. B. Tujuan 1. Mengetahui kemampuan masyarakat Desa Candiwulan dalam membiayai pelayanan kesehatan. 2. Mengetahui kemauan masyarakat Desa Candiwulan dalam membiayai pelayanan kesehatan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Ability To Pay (ATP) Ability To Pay (ATP) adalah kemampuan seseorang untuk membayar jasa pelayanan yang diterimanya berdasarkan penghasilan yang dianggap ideal. Kemampuan membayar kesehatan atau dikenal dengan ability to pay (ATP) merupakan dana yang sebenarnya dapat dialokasikan oleh seseorang untuk membiayai kesehatan (Kemenkes, 2001). Dua batasan ATP yang dapat digunakan sebagai berikut: 1. ATP 1 adalah besarnya kemampuan membayar yang setara dengan 5 % dari pengeluaran pangan non esensial dan non makanan. Batasan ini

didasarkan bahwa pengeluaran untuk non makanan dapat diarahkan untuk keperluan lain, termasuk untuk kesehatan 2. ATP 2 adalah besarnya kemampuan membayar yang setara dengan jumlah pengeluaran Batasan untuk ini konsumsi didasarkan alkohol, kepada tembakau, pengeluaran sirih, yang

pesta/upacara.

sebenarnya dapat digunakan secara lebih efesien dan efektif untuk kesehatan. Misalnya dengan mengurangi pengeluaran

alkohol/tembakau/sirih untuk kesehatan (Adisasmita, 2008). Pendekatan yang digunakan dalam analisis ATP didasarkan pada alokasi biaya kesehatan terhadap kebutuhan sehari-hari dari pendapatan rutin. Harga barang (tarif pelayanan kesehatan), besar pendapatan, biaya pelayanan kesehatan dapat mempengaruhi ability to pay seseorang. Sedangkan (Thabrany, 2009) menjelaskan bahwa jumlah anggota keluarga juga dapat mempengaruhi ability to pay. Rumah tangga dengan jumlah keluarga lebih dari 4 orang memiliki risiko pemiskinan lebih tinggi. Semakin banyak jumlah anggota keluarga maka akan semakin banyak pula kebutuhan untuk memenuhi kesehatannya. Ekuitas atau keadilan dalam kesehatan menunjukkan bahwa idealnya setiap orang harus memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai kondisi optimal dari kesehatan mereka. Tidak ada seorang pun yang boleh

merasa dirugikan untuk mencapai ekuitas kesehatan sehingga jika inekuitas harus dicegah (Sihombing, 2013).

B. Willingness to pay (WTP) Willingness to pay (WTP) yaitu besarnya dana yang mau dibayarkan keluarga untuk kesehatan. Kesediaan untuk membayar (willingness to pay) adalah kesediaan masyarakat untuk menerima beban pembayaran, sesuai dengan besarnya jumlah yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Willingness to pay adalah sejumlah uang atau kompensasi yang siap dibayar oleh konsumen untuk suatu peningkatan/penurunan konsumsi produk (barang dan jasa) yang diinginkan. Willingness to pay penting untuk melindungi konsumen dari penyalahgunaan kekuasaan monopoli yang dimiliki perusahaan dalam penyediaan produk berkualitas dan harga. Data pengeluaran rumah tangga untuk kesehatan dapat digunakan sebagai proksi terhadap WTP. Faktorfaktor yang mempengaruhi WTP, yaitu pendapatan, pengetahuan mengenai tarif dan persepsi serta penilaian tentang pelayanan yang diterima pasien (Gafni, 1991).

C. Hubungan ATP dan WTP 1. ATP > WTP Kemampuan membayar lebih besar daripada keinginan membayar. Artinya penghasilan relatif tinggi, tapi nilai utilitas terhadap jasa tersebut relatif rendah. Pada kondisi ini pengguna disebut sebagai choiced riders. 2. ATP < WTP Kemampuan membayar lebih kecil daripada keinginan membayar. Artinya penghasilan relatif rendah, tapi nilai utilitas terhadap jasa pelayanan tinggi. Pada kondisi ini pengguna disebut sebagai captive riders. 3. ATP = WTP Kemampuan membayar sama dengan keinginan membayar.

Penghasilan sesuai dengan nilai utilitas terhadap jasa pelayanan tinggi.

Analisis perbandingan penerapan biaya atau retribusi sebagai berikut: a. WTP merupakan fungsi dari tingkat pelayanan, maka jika WTP berada dibawah ATP, masih dimungkinkan menaikkan nilai tarif dengan perbaikan tingkat pelayanan. b. ATP fungsi dari kemampuan membayar, maka penentuan tarif jangan melebihi nilai ATP kelompok sasaran. c. Intervensi pemerintah dalam bentuk subsidi langsung maupun subsidi silang, pada kondisi tarif lebih dari ATP.

D. Pengeluaran Rumah Tangga Pola pengeluaran rumah tangga merupakan biaya yang dikeluarkan oleh rumah tangga baik untuk kebutuhan pangan maupun non pangan. Kebutuhan non pangan meliputi kebutuhan pendidikan, medis, bahan bakar, dan tabungan. Pengeluaran medis adalah semua jumlah uang yang dikeluarkan seseorang saat orang tersebut mengalami suatu penyakit. Pengeluaran medis mencakup biaya konsultasi dokter, pembelian obat, biaya pemeriksaan penunjang, dan retribusi pelayanan kesehatan. Pembelanjaan ke pengobatan alternatif dan atau obat tradisional juga termasuk pengeluaran medis. Tingkat inflasi, tingkat permintaan, kemajuan ilmu dan teknologi, perubahan pola penyakit, perubahan pola pelayaan kesehatan, perubahan pola hubungan dokterpasien, lemahnya mekanisme pengendalian biaya, serta penyalahgunaan asuransi kesehatan dapat meningkatkan pengeluaran medis (Sihombing, 2013). Harga barang (tarif pelayanan kesehatan), besar pendapatan, biaya pelayanan kesehatan, jumlah anggota keluarga mempengaruhi ability to pay. Rumah tangga dengan jumlah keluarga lebih dari 4 orang memiliki risiko pemiskinan lebih tinggi. Semakin banyak jumlah anggota keluarga maka akan semakin banyak pula kebutuhan untuk memenuhi kesehatannya (Sihombing, 2013). Pemerataan akses dan pemerataan pembiayaan dibutuhkan untuk menjamin bahwa seluruh penduduk mendapatkan pelayanan kesehatan yang terjangkau dan berkualitas. Selain itu pemerintah perlu mencari jalan keluar

pengurangan pembiayaan kesehatan dengan mendorong pemberlakuan asuransi kesehatan. Kebijakan pelayanan kesehatan dengan sistem asuransi kesehatan sosial dapat mengurangi beban masyarakat dalam pembiayaan kesehatan. Pelaksanaan asuransi ini tentunya harus didukung dengan pengendalian yang baik (Sihombing, 2013).

E. Asuransi Kesehatan dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM) Terdapat dua badan penyelenggara sistem pembiayaan pra-upaya yang utama di Indonesia sekarang ini. Pertama adalah PT.Askes yang mencakup sekitar empat juta pegawai negeri (atau 15 juta jiwa termasuk anggota keluarganya). Kedua adalah JPKTK atau Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Tenaga Kerja yang dikeloa oleh PT.Jamsostek. Sekarang diperkirakan sebanyak satu juta tenaga kerja yang ikut dalam program JPKTK tersebut (Ariyanto, 2009). Kabupaten Purbalingga yang sejak tahun 2001 melakukan suatu upaya pembenahan mekanisme pembiayaan kesehatan berbasis pre-paid payment dalam bentuk program Jaminan Pemeliharaan kesehatan Masyarakat (JPKM). Pada saat ini cakupan peserta JPKM telah mencapai 72% dari total penduduk di Kabupaten Purbalingga, sehingga tidaklah salah jika keinginan menuju universal coverage dengan mewajibkan seluruh penduduk di Kabupaten Purbalingga menjadi peserta JPKM menjadi salah satu obsesi dari pemerintah daerah Purbalingga. Perjalanan program JPKM telah berlangsung selama 6 tahun dengan skema yang tergolong ideal yaitu terjadi risk pooling antara peserta miskin dan yang tidak miskin. Di luar skema JPKM, upaya jaminan kesehatan yang ada adalah skema askes bagi pegawai negeri, Jamsostek untuk karyawan perusahaan dan sejak tahun 2005 terdapat skema asuransi kesehatan khusus untuk masyarakat miskin, yaitu Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan untuk Masyarakat Miskin (JPKMM). Meskipun masing masing skema jaminan kesehatan masih terpisah dikarenakan pedoman pemerintah saat ini, akan tetapi perkembangan masing masing skema sangat bagus. Komitmen Pemerintah Kabupaten Purbalingga selama

ini sangatlah kuat untuk memberikan pelayanan kesehatan yang adil bagi masyarakatnya (Ariyanto, 2009). Menurut Ariyanto (2009) menyebutkan bahwa 80 %peserta JPKM di Kabupaten Purbalingga telah memanfaatkan haknya dalam pelayanan kesehatan. Pada tahun 2007 telah ditetapkan besar anpremi baru sebesar Rp. 50.000 untuk strata II ( besaran premi tahun 2006adalah Rp 40.000) dan Rp. 100.000 untuk strata III (besaran premi tahun2006 adalah Rp 80.000).

F. Poliklinik Kesehatan Desa (PKD) Salah satu bentuk pembangunan kesehatan di Kabupaten Purbalingga pada saat ini juga bertujuan meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dengan mengembangkan Poliklinik Kesehatan Desa (PKD) dengan konsep Desa Sehat Mandiri (DSM) yang mencerminkan Sistem Kesehatan Daerah (SKD) dan mengarah kepada efisiensi dan keadilan dalam pelayanan kesehatan. Bagi keluarga miskin dan masyarakat yang tinggal di tempat yang jauh dan sulit dijangkau pelayanan kesehatan sebaiknya dilaksanakan sedekat mungkin dengan tempat tinggalnya dan dilaksanakan secara terintegrasi serta komprehensif melalui lembaga yang dinamakan Poliklinik kesehatan Desa (PKD) (Ariyanto, 2009). Secara umum PKD bertujuan untuk meningkatkan fungsi dan peran Polindes dari hanya sebagai tempat pelayanan, pembinaan, penyuluhan dan konseling Kesehatan Ibu dan Anak /KB menjadi Poliklinik Kesehatan Desa yangmempunyai fungsi dan peran yang lebih luas tidak hanya pelayanan KIA/KB saja tetapi layaknya poliklinik, juga memberikan pelayanan kesehatan lainnya, tidak hanya kuratif tetapi juga promotif dan

preventifseperti kesehatan lingkungan, upaya pencegahan penyakit menular dangizi ditambah upaya upaya pemberdayaan masyarakat sekitarnya (Ariyanto, 2009).

G. Puskesmas Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten atau kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan

kesehatan di suatu wilayah kerja. Puskesmas berperan menyelenggarakan sebagian dari tugas teknis operasional dinas kesehatan kabupaten atau kota dan merupakan unit pelaksana tingkat pertama serta ujung tombak pembangunan kesehatan di Indonesia (Sulastomo, 2007). Puskesmas hanya bertanggung jawab untuk sebagian upaya

pembangunan kesehatan yang dibebankan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten atau Kota sesuai dengan kemampuannya. Secara nasional, standar wilayah kerja puskesmas adalah satu kecamatan. Tetapi apabila disatu kecamatan terdapat lebih dari satu puskesmas, maka tanggung jawab wilayah keja dibagi antar puskesmas dengan memperhatikan keutuhan konsep wilayah (desa, kelurahan, RW), dan masing-masing puskesmas tersebut secara operasional bertanggung jawab langsung kepada dinas kesehatan kabupaten/ kota (Sulastomo, 2007). Visi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas adalah tercapainya kecamatan sehat menuju terwujudnya Indonesia sehat. Kecamatan sehat adalah gambaran masyarakat kecamatan masa depan yang ingin dicapai melalui penbangunan kesehatan, yakni masyarakat yang hidup didalam lingkungan dengan perilaku sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya (Sulastomo, 2007). Pembiayaan pelayanan kesehatan di puskesmas menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.128/ MENKES/SK/II/2004 dibagi menjadi 3, yaitu: 1. Pembiayaan Puskesmas dari Pemerintah Sesuai dengan azas desentralisasi, sumber pembiayaan yang berasal dari pemerintah terutama adalah pemerintah kabupaten/kota. di samping itu puskesmas masih menerima dana yang berasal dari pemerintah provinsi dan pemerintah pusat. Dana yang disediakan oleh pemerintah dibedakan atas dua macam yaitu: a. Dana anggaran pembangunan yang mencakup dana pembangunan gedung pengadaan peralatan serta pengadaan obat.

b.

Dana anggaran rutin yang mencakup gaji karyawan, pemeliharaan gedung dan peralatan, pembelian barang habis pakai serta biaya operasional. Puskesmas diberikan kesempatan mengajukan kebutuhan untuk kedua

anggaran tersebut melalui Dinas kesehatan kabupaten/kota. Anggaran yang telah disetujui yang tercantum dalam dokumen keuangan diturunkan secara bertahap ke Puskesmas melalui Dinas Kesehatan kabupaten/kota. Penanggung jawab penggunaan anggaran yang diterima oleh puskesmas adalah Kepala Puskesmas, sedangkan administrasi keuangan dilakukan oleh pemegang keuangan Puskesmas yakni seorang staff yang ditetapkan oleh Dinas kesehatan kabupaten/kota atas usulan Kepala Puskesmas. 2. Pembiayaan Puskesmas dari Retribusi Sesuai dengan kebijakan pemerintah, masyarakat dikenakkan kewajiban membiayai upaya kesehatan perorangan yang

dimanfaatkannya, yang besarnya ditentukan oleh Peraturan Daerah masing-masing (retribusi). Pada saat ini ada beberapa kebijakan yang terkait dengan pemanfaatan dana yang diperoleh dari penyelenggaraan upaya kesehatan perorangan ini yaitu: a. Seluruhnya disetor ke Kas Daerah Puskesmas menyetor seluruh dana retribusi yang diterima ke kas daerah melalui dinas kesehatan kabupaten/kota. b. Sebagian dimanfaatkan secara langsung oleh Puskesmas Beberapa menggunakan daerah sebagian tertentu dari dana membenarkan yang Puskesmas dari

diperoleh

penyelenggaraan upaya kesehatan perorangan, yang lazimnya berkisar antara 25-50% dari total dana retribusi yang diterima. Penggunaan dana hanya dibenarkan untuk membiayai kegiatan operasional Puskesmas. Penggunaan dana tersebut secara berkala dipertanggung jawabkan oleh puskesmas ke pemerintah daerah melalui Dinas kesehatan kabupaten/kota.

c. Seluruhnya dimanfaatkan secara langsung oleh Puskesmas Beberapa daerah tertentu lainnya membenarkan Puskesmas menggunakan seluruh dana yang diperoleh dari penyelenggaraan upaya kesehatan perorangan untuk membiayai kegiatan operasional Puskesmas. Dahulu puskesmas yang menerapkan model pemanfaatan dana seperti ini disebut Puskesmas Swadana. Pada saat ini sesuai dengan kebijakan dasar puskesmas yang juga harus 3. Pembiayaan Puskesmas dari Sumber lain Pada saat ini Puskesmas juga menerima dana dari beberapa sumber lain seperti: a. PT. ASKES yang peruntukannya sebagai imbalan jasa pelayanan yang diberikan kepada para peserta ASKES. Dana tersebut dibagikan kepada para pelaksana sesuai dengan ketentuan yang berlaku. b. PT (Persero) jamsostek yang peruntukannya juga sebagai imbalan jasa pelayanan kesehatan yang diberikan kepada peserta jamsostek. Dana tersebut juga dibagikan kepada para pelaksana sesuai dengan ketentuan yang berlaku. c. JPSBK/PKPSBBM untuk membantu masyarakat miskin, pemerintah menyalurkan dana secara langsung ke Puskesmas. Pengelolaan dana ini mengacu pada pedoman yang telah ditetapkan.

Apabila sistem Jaminan Kesehatan Nasional yang berlaku akan terjadi perubahan pada sistem pembiayaan Puskesmas. Sesuai dengan konsep yang telah disusun direncanakan pada masa yang akan datang pemerintah hanya bertanggung jawab untuk membiayai upaya kesehatan masyarakat, sedangkan untuk upaya kesehatan perorangan dibiayai melalui sistem Jaminan Kesehatan Nasional, kecuali untuk penduduk miskin yang tetap ditanggung oleh pemerintah dalam bentuk pembayaran premi. Dalam keadaan seperti ini, apabila puskesmas tetap diberikan kesempatan menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan, maka puskesmas akan menerima pembayaran dalam bentuk kaitasi dari Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan Nasional. Untuk itu puskesmas harus dapat mengelola dana kapitasi tersebut dengan sebaik-

baiknya sehingga disatu pihak lain tetap memberikan keuntungan bagi Puskesmas tetapi apabila Puskesmas hanya bertanggung jawab

menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat. Maka Puskesmas hanya akan menerima dan mengelola dana yang berasal dari pemerintah.

H. Biaya pelayanan Rumah Sakit Biaya pelayanan rumah sakit di Indonesia, baik rawat jalan maupun rawat inap, merupakan biaya yang paling tinggi tingkat ketidakpastiannya. Tingginya tingkat ketidakpastian biaya pelayanan kesehatan tersebut, serta terbatasnya kemampuan ekonomi seseorang sering kali menjadi alasan sulitnya memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan yang disediakan. Kondisi tersebut menjadikan pelayanan kesehatan di Indonesia seolah kurang adil dan merata, baik secara geografis maupun ekonomis.Besarnya biaya yang harus dikeluarkan oleh rumah tangga termiskin atau terkaya untuk pengobatan dapat membebani perekonomian rumah tangga (Nurhikmah, 2009). Departemen Kesehatan mengartikan tarif sebagai nilai suatu jasa pelayanan rumah sakit dengan sejumlah uang dimana berdasarkan nilai tersebut, rumah sakit bersedia memberikan jasakepada pasien. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam penetapan tarif rumah sakit adalah biaya satuan, jenis pelayanan dan tingkat pemanfaatan, subsidisilang, tingkat kemampuan masyarakat, tarif pelayanan pesaing yang setara (Rianti, 2011). Tarif adalah harga jual yang memperhitungkan Unit Cost, Jasa Pelayanan (Medis, Paramedis dan Non Medis), Rencana Pengembangan dan Margin. Untuk menentukan pola tarif masing-masing produk di Rumah Sakit, sangat tergantung dengan jenis usaha masing-masing instalasi. Ada 3 macam jenis usaha, yaitu : 1. Usaha jasa Produk layanan yang ada di Instalasi Rawat Inap, Instalasi Rawat Jalan (Poliklinik), IRD, ICU, OK, Penunjang Medis dan lain-lain 2. Usaha perdagangan Produk penjualan yang ada di Apotek

3. Usaha pengolahan/industri Produk olahan yang ada Instalasi Gizi, jika instalasi tersebut sudah menjadi Revenue / Profit Centre (Rianti, 2011). Unsur tarif Rumah Sakit Pemerintah / non profit, terdapat dua bagian yaitu tarif yang dibebankan pemerintah dan yang dibebankan masyarakat. Biaya pemerintah seperti misalnya biaya gaji karyawan dan biaya investasi. Biaya yang dibebankan masyarakat untuk biaya operasionalnya. Sehingga RSUD yang berstatus Badan Layanan Umum Daerah(BLUD). Tarif Pasien yang dirawat dibedakan menjadi 2 jenis : 1. Mandiri (umum) Pasien mandiri/umum membayar fee for service secara out of pocket. 2. Ada penjamin (asuransi). Pasien berdasar penjaminnya: a. Asuransi Pegawai Negeri (PT ASKES). Peserta ditanggung oleh PT ASKES dan membayar kepada RSUD sesuai dengan tarif kesepakatan antara PT ASKES dengan Rumah sakit b. Asuransi swasta. Tarifnya merupakan fee for service. 1) Asuransi penanggung bekerja sama dengan RS 2) Penanggung menentukan kelas dimana peserta berhak dirawat 3) Tarif sesuai dengan kesepakatan antara penanggung dengan RS, sesuai dengan tarif yang berlaku 4) Apabila peserta menghendaki naik kelas, selisih biaya ditanggung oleh peserta c. Jamkesmas dan Jamkesda, diperuntukkan bagi warga miskin. Tarifnya berdasarkan sistem paket (INA-CBG). Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat) 1) Peserta ditanggung oleh Departemen Kesehatandan membayar ke dengan sistem paket 2) Jamkesda (Jaminan Kesehatan Daerah) Jamkesda adalah program bantuan sosial untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin yang tidak masuk dalam program JAMKESMAS. Dana diambil dari APBD II 60% dan

Propinsi 40%, Peserta adalah masyarakat miskin yang dinyatakan oleh Kepala Desa/Lurah dan ditandatangani camat (Rianti, 2011).

BAB III METODE PENELITIAN

A. Subjek Penelitian Subjek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu ibu rumah tangga atau kepala keluarga sebanyak 15 responden. B. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan pada tanggal 2-10 November 2013 di Desa Candiwulan Kecamatan Kutasari Kabupaten Purbalingga. C. Jenis dan Metode Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah survei dengan metode deskriftif cross-sectional. D. Sumber Data Sumber data yang digunaka adalah data primer berupa hasil kuesioner dan data sekunder berupa profil Desa Candiwulan 2012. E. Cara Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara kepada responden secara langsung. F. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian yang digunakan yaitu kuesioner terbuka dimana kuesioner diisi oleh peneliti.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil 1. Gambaran Umum Desa Candiwulan a. Kondisi Geografis Desa Candiwulan termasuk dalam wilayah Kecamatan Kutasari Kabupaten Purbalingga bagian barat, yang memiliki batas

administratif sebagai berikut : Sebelah Utara : Desa Karangjengkol Sebelah Timur : Desa Karangcegak Sebelah Selatan : Desa Karangreja dan Meri Sebelah Barat : Desa Cendana dan Limbangan

Jarak dari desa Candiwulan ke Kecamatan Kutasari 2 km dan ke Kecamatan Purbalingga 10 Km. Desa Candiwulan Kecamatan Kutasari memiliki luas wilayah 739,187 ha yang terdiri dari pemukiman penduduk 110,5298 ha, tanah sawah 55,860 ha, tanah tegalan 158,793 ha dan sebagian tanah kering seluas 325,1828 ha, sedang sisanya terdiri dari perkebunan, tegalan, lahan usaha perikanan dan lain-lain. b. Keadaan Penduduk Jumlah penduduk desa Candiwulan 5.440 jiwa yang terdiri dari 2.745 jiwa penduduk laki-laki dan 2.695 jiwa penduduk perempuan dengan kepadatan penduduk 500,6 jiwa/km. Sedang jumlah rumah tangga 1.546 KK dan rata-rata anggotanya 6 jiwa dengan jumlah bayi 92 bayi dan jumlah anak usia 1-5 tahun 374 anak. c. Tingkat Pendidikan Tabel 4.1 Tingkat pendidikan masyarakat desa Candiwulan untuk usia 10 tahun keatas
No 1. 2. 3. 4. 5. Tingkat Pendidikan Tidak/belum sekolah Belum tamat SD Tidak Tamat SD Tamat SD Tamal SLTP Jumlah 544 orang 288 orang 1.143 orang 2.051 orang 269 orang

Lanjutan tabel 4.1


6. 7. 8. Tamat SLTA Tamat akademi Tamat Sarjana/ D IV 521 orang 33 orang 34 orang

Sumber: Kecamatan Kutasari dalam angka 2012 d. Keadaan Ekonomi Keadaan ekonomi masyarakat desa Candiwulan dapat dilihat dari pekerjaan penduduk di usia diatas 15 tahun. Tabel 4.5 Mata pencaharian Penduduk Desa Candiwulan
No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10 Mata Pencahariaan Petani Buruh Tani Buruh Industri/ karyawan pabrik Buruh Bangunan Pengusaha Pedagang PNS TNI/Polri Pensiunan Lain-lain Jumlah 434 orang 987 orang 167 orang 133 orang 5 orang 122 orang 24 orang 2/4 orang 21 orang 119 orang

Sumber: Kecamatan Kutasari dalam angka 2012 2. Karakteristik Responden 3. Hasil Penelitian Hasil kuesioner yang terkumpul sebanyak 15 responden

menunjukkan bahwa jumlah rata-rata pengeluaran untuk pangan esensial dalam sebulan responden di Desa Candiwulan sebesar Rp 685.267. Untuk jumlah rata-rata pengeluaran non esensial dalam sebulan sebesar Rp 111.467. Untuk jumlah rata-rata pengeluaran non pangan dalam sebulan sebesar Rp 587.906. Untuk jumlah rata-rata disposible income (non esensial+non pangan) sebesar Rp 699.372. Rata-rata kemampuan responden membayar tarif pelayanan kesehatan (ATP) di Desa Candiwulan sebesar Rp 34.969. Rata-rata kemauan responden membayar tarif pelayanan kesehatan rawat jalan di PKD saat berobat yaitu sebesar Rp 14.000. Rata-rata kemauan responden membayar tarif pelayanan kesehatan rawat jalan di Puskesmas saat berobat yaitu sebesar Rp 43.333. Rata-rata kemauan responden membayar tarif pelayanan kesehatan rawat inap di RSUD saat berobat yaitu sebesar Rp 243.000. Rata-rata kemauan responden membayar

premi jaminan kesehatan untuk satu tahun yaitu sebesar Rp 11.333. Ratarata kemauan responden membayar pelayanan kesehatan masyarakat yaitu sebesar Rp 27.011.

B. Pembahasan 1. Karakteristik Responden 2. Hasil Penelitian Kemampuan membayar kesehatan atau dikenal dengan ability to pay (ATP) merupakan dana yang sebenarnya dapat dialokasikan oleh seseorang untuk membiayai kesehatan (Kemenkes, 2001). Dua batasan ATP yang dapat digunakan sebagai berikut: 1. ATP 1 adalah besarnya kemampuan membayar yang setara dengan 5 % dari pengeluaran pangan non esensial dan non makanan. Batasan ini didasarkan bahwa pengeluaran untuk non makanan dapat

diarahkan untuk keperluan lain, termasuk untuk kesehatan 2. ATP 2 adalah besarnya kemampuan membayar yang setara dengan jumlah pengeluaran untuk konsumsi alkohol, tembakau, sirih, pesta/upacara. Batasan ini didasarkan kepada pengeluaran yang sebenarnya dapat digunakan secara lebih efesien dan efektif untuk kesehatan. Misalnya dengan mengurangi pengeluaran

alkohol/tembakau/sirih untuk kesehatan (Adisasmita, 2008).

Berdasarkan hasil penelitian didapat Hasil kuesioner yang terkumpul sebanyak 15 responden

menunjukkan bahwa jumlah rata-rata pengeluaran untuk pangan esensial dalam sebulan responden di Desa Candiwulan sebesar Rp 685.267. Untuk jumlah rata-rata pengeluaran non esensial dalam sebulan sebesar Rp 111.467. Untuk jumlah rata-rata pengeluaran non pangan dalam sebulan sebesar Rp 587.906. Untuk jumlah rata-rata disposible income (non esensial+non pangan) sebesar Rp 699.372.

Harga barang (tarif pelayanan kesehatan), besar pendapatan, biaya pelayanan kesehatan dapat mempengaruhi ability to pay seseorang. Sedangkan (Thabrany, 2009) menjelaskan bahwa jumlah anggota keluarga juga dapat mempengaruhi ability to pay.

Willingness to pay (WTP) yaitu besarnya dana yang mau dibayarkan keluarga untuk kesehatan. Kesediaan untuk membayar (willingness to pay) adalah kesediaan masyarakat untuk menerima beban pembayaran, sesuai dengan besarnya jumlah yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Faktorfaktor

yang

mempengaruhi

WTP,

yaitu

pendapatan,

pengetahuan mengenai tarif dan persepsi serta penilaian tentang pelayanan yang diterima pasien (Gafni, 1991).

I.

Hubungan ATP dan WTP 4. ATP > WTP Kemampuan membayar lebih besar daripada keinginan membayar. Artinya penghasilan relatif tinggi, tapi nilai utilitas terhadap jasa tersebut relatif rendah. Pada kondisi ini pengguna disebut sebagai choiced riders. 5. ATP < WTP Kemampuan membayar lebih kecil daripada keinginan membayar. Artinya penghasilan relatif rendah, tapi nilai utilitas terhadap jasa pelayanan tinggi. Pada kondisi ini pengguna disebut sebagai captive riders. 6. ATP = WTP Kemampuan membayar sama dengan keinginan membayar.

Penghasilan sesuai dengan nilai utilitas terhadap jasa pelayanan tinggi.

Analisis perbandingan penerapan biaya atau retribusi sebagai berikut: d. WTP merupakan fungsi dari tingkat pelayanan, maka jika WTP berada dibawah ATP, masih dimungkinkan menaikkan nilai tarif dengan perbaikan tingkat pelayanan.

e.

ATP fungsi dari kemampuan membayar, maka penentuan tarif jangan melebihi nilai ATP kelompok sasaran.

f.

Intervensi pemerintah dalam bentuk subsidi langsung maupun subsidi silang, pada kondisi tarif lebih dari ATP.

PKD yang ada di Desa Candiwulan tidak memberlakukan tarif, pemberian pelayanan kesehatan dilakukan secara gratis. Sedangkan tarif Puskesmas yang ada di Desa Candiwulan sebesar Rp 15.000.

BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan B. Saran

Adisasmita, Wiku. 2008. Rancangan Peraturan Daerah Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan. FKM UI: Jakarta.

Tentang

Ariyanto T. 2009. Analisis Sistem Terhadap Pelayanan Kesehatan Dasar pada Poliklinik Kesehatan Desa di Kabupaten Purbalingga. Tesis . Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Gafni, A. 1991. Willingness to-Pay as a Measure of Benefits: Relevant Questions in the Context of Public Decisionmaking about Health Care Programs. Medical Care. Vol. 29 (12) ; 1246-1252 Kemenkes, 2001. Pedoman Penatapan dan Koleksi Premi JPKM. Jakarta. Nurhikmah, 2009. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga. Medan: Universitas Sumatera Utara. Rianti A, Kodrat W, Ferry H. 2011. Kemampuan dan Kemauan Membayar Pasien Terhadap Pelayanan Rawat Inap Rsud Dr. Rasidin Padang. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran.

Sihombing G.Rien, R. N. Thinni. 2013. Dampak Pembiayaan Kesehatan Terhadap Ability To Pay Dan Catastrophic Payment . Jurnal Administrasi Kesehtaan Indonesia Vol 1 (1) ; 1-8 Sulastomo,2007. Manajemen Kesehatan. PT Gramedia Pustaka Utama,Jakarta

Thabrany, H., 2009. Sakit Pemiskinan dan MDG's. Jakarta: PT. Kompas.