Anda di halaman 1dari 10

Juvenile myopia progression, risk factors and interventions

Progresivitas miopia remaja, faktor risiko dan intervensi Abstract


The development and progression of early onset myopia is actively being investigated. While myopia is often considered a benign condition it should be considered a public health problem for its visual, quality of life, and economic consequences. Nearly half of the visually impaired population in the world has uncorrected refractive errors, with myopia a high percent of that group. Uncorrected visual acuity should be screened for and treated in order to improve academic performance, career opportunities and socio economic status.

!engembangan dan perkembangan onset awal pada myopia sedang diselidiki secara aktif. "iopia yang sering dianggap sebagai kondisi yang benign sebaliknya harus dianggap sebagai suatu masalah kesehatan masyarakat dari segi penglihatan #visual$, kualitas hidup, dan konsekuensi ekonomi. %ampir setengah dari populasi di dunia yang mempunyai masalah dalam visual tidak dikoreksi kelainan refraksinya , dengan miopia mempunyai persen yang tinggi dari kelompok itu. Tes keta&aman visus harus diskrining untuk dan diterapi dalam rangka meningkatkan prestasi akademik, peluang karir dan status sosial ekonomi.
'enetic and environmental factors contribute to the onset and progression of myopia. Twin studies have supported genetic factors and research continues to identify myopia genetic loci. While multiple myopia genetic loci have been identified establishing myopia as a common comple( disorder, there is not yet a genetic model e(plaining myopia progression in populations. )nvironmental factors include near work, education levels, urban compared to rural location, and time spent outdoors. *n this field of study where there continues to be etiology controversies, there is recent agreement that children who spend more time outdoors are less likely to become myopic.

+aktor genetik dan lingkungan berkontribusi pada onset dan perkembangan miopia. ,tudi kembar telah mendukung faktor genetik dan menyambung penelitian untuk mengidentifikasi lokus genetik miopia. ,ementara beberapa lokus genetik miopia telah diidentifikasi membangun miopia sebagai kelainan kompleks yang umum, belum ada model genetik yang men&elaskan perkembangan miopia pada populasi. +aktor lingkungan termasuk dekat dengan peker&aan, tingkat pendidikan, perkotaan dibandingkan perdesaan, lokasi dan waktu yang dihabiskan di luar rumah. -alam bidang studi ini di mana ada kontroversi tentang etiologinya, yaitu ada kesepakatan baru baru ini bahwa anak anak yang menghabiskan lebih banyak waktu di luar rumah cenderung men&adi rabun.
Worldwide population studies, some completed and some in progress, with a common protocol are gathering both genetic and environmental cohort data of great value. There have been rapid population changes in prevalence rates supporting an environmental influence. *nterventions to prevent &uvenile myopia progression include pharmacologic agents, glasses and contact lenses.

!harmacological interventions over ./0 year trials have shown benefits. !eripheral vision defocus has been found to affect the emmetropi1ation process and may be affected by wearing glasses or contacts. 2ccommodation accuracy also has been implicated myopia progression. +urther research will aim to assess both the role and interaction of environmental influences and genetic factors.

,tudi populasi di seluruh dunia, sebagian sudah selesai dan sebagian dalam proses, dengan protokol umum yaitu mengumpulkan genetik dan data kohort lingkungan yang nilai besar. 2da perubahan populasi yang cepat di tingkat prevalensi yang mendukung pengaruh lingkungan. *ntervensi untuk mencegah perkembangan miopia pada saat rema&a termasuk agen farmakologis, kacamata dan lensa kontak. *ntervensi farmakologi atas percobaan . 0 tahun telah menun&ukkan manfaat. 3apang !andang !erifer defocus telah ditemukan untuk mempengaruhi proses emmetropisasi dan mungkin akan terpengaruh dengan memakai kacamata atau lensa kontak. 2kurasi akomodasi &uga berpengaruh dalam perkembangan myopia. !enelitian lebih lan&ut akan bertu&uan untuk menilai peran dan interaksi serta pengaruh lingkungan dan faktor genetik. 4ata kunci5 "iopia, kelainan refraksi, )mmetropisasi , 6eview
*ntroduction
The prevalence rate for myopia, an e(tremely common eye disorder worldwide, rose over the past three decades in the United ,tates from 078 to 9.87: and has risen to ;:/<:8 in some 2sian countries. 00,9= %igher myopia, over si( diopters, is also increasing 7: and is associated with an increased lifelong risk of rhegmatogenous retinal detachment, glaucoma, and myopic degeneration. 0;

!endahuluan Tingkat prevalensi untuk miopia, gangguan mata yang sangat umum di seluruh dunia, naik selama tiga dekade terakhir di 2merika ,erikat dari 078 men&adi 9.8 7: dan telah meningkat men&adi ;: <:8 dalam beberapa negara di 2sia.00, 9= "iopia tinggi, yang lebih dari enam dioptri, &uga meningkat 7: dan dikaitkan dengan peningkatan resiko ablasio retina rematogen, glaukoma, dan degenerasi miopik.0;
The cost each year in the United ,tates for optometric e(aminations, optical and surgical refractive corrections is several billion dollars..; Worldwide there are .7= million visually impaired persons due to uncorrected refractive errors accounting for 9<8 of all visually impaired persons. 9: Uncorrected visual acuity should be screened for and treated in order to improve academic performance, career opportunities and socio economic status.=> Understanding the risk factors and interventions for the most common form of myopia, &uvenile myopia is the aim of this review

?iaya setiap tahun di 2merika ,erikat untuk pemeriksaan @ptometric, koreksi dan bedah kelainan refraksi adalah beberapa miliar dolar. .; -i seluruh dunia terdapat .7= &uta orang karena kesalahan dikoreksi kira kira 9<8 dari semua yang mempunyai kelainan refraksi.9: keta&aman visual yang tidak dikoreksi i harus diskrining untuk dan diterapi dalam rangka meningkatkan prestasi akademik, peluang karir dan status sosio ekonomi. =>

"emahami faktor risiko dan intervensi paling umum dari myopia terutama myopia pada rema&a adalah tu&uan review ini.
Juvenile myopia "iopia pada anak rema&a
"ost studies classify over A:8 of myopia as early onset also called &uvenile or school myopia, occurring between < and .. years of age with progression throughout the early teenage years. .. There is agreement that both genetic and environmental factors contribute to the onset and progression of myopia. @ne variable predicting the future onset of myopia is a cycloplegic auto refraction of :.;7 diopter or less of hyperopia at a mean age of >.A years which has been shown to have a sensitivity of >;8 and specificity of ;=8 in predicting future myopia.7;

4ebanyakan penelitian mengklasifikasikan lebih dari A:8 dari miopia onset dini &uga disebut &uvenile atau miopia sekolah yang ter&adi antara < dan .. tahun dengan perkembangan pada umur anak rema&a awal. .. 2da kesepakatan bahwa faktor genetic dan faktor lingkungan berkontribusi terhadap onset dan perkembangan miopia. ,alah satu variabel diprediksi pada masa depanyaitu ter&adinya miopia adalah auto refraksi cycloplegic dari :,;7 diopter atau kurang dari hyperopia pada usia rata rata >,A tahun yang telah terbukti memiliki sensitivitas >;8 dan spesifisitas ;=8 dalam memprediksi myopia pada masa depan.7;
While prevalence studies may look at the same age group their protocols can differ making comparisons difficult. ,tarting with a year 0::: report, 0A many population studies around the world are using a common protocol. The ,ydney "yopia ,tudy =9 uses a protocol common with si( studies starting with the 6efractive )rror ,tudy in Bhildren #6),B$ in 0:::. %owever, there are also .= myopia prevalence studies in similar age groups that have different protocols for determining prevalence of myopia.=9

,ementara studi prevalensi mungkin terlihat pada kelompok usia yang sama, protokol mereka dapat berbeda membuatkan perbandingan sulit. "ulai dengan laporan tahun 0:::, 0A banyak studi populasi di seluruh dunia menggunakan protokol umum. The ,ydney "yopia ,tudy=9 menggunakan protokol umum dengan enam studi dimulai dengan ,tudi 4esalahan 4oreksi 6efraksi pada anak #6efractive )rror ,tudy in Bhildren ,6),B$ pada tahun 0:::. Namun, ada &uga .= studi prevalensi miopia pada kelompok usia yang sama yang memiliki protokol yang berbeda untuk menentukan prevalensi myopia.=9
The prevalence of myopia reported for A year old children varies from :.A8 in @man 0= to 0<8 in ,ingapore.99 The prevalence in @man for A year old children was :.A8, but the definition of myopia was more than C..: diopter when most studies use C:.7 diopter. The prevalence of myopia among pre school children at 4ing 2bdula1i1 "edical Bity, 6iyadh, ,audi 2rabia is 0.78. .

!revalensi miopia dilaporkan pada anak anak yang berusia A tahun bervariasi dari :,A8 di @man0= men&adi 0<8 pada ,ingapore.99 !revalensi di @man untuk anak berusia A tahun adalah :,A8, tetapi definisi miopia lebih dari C..: diopter ketika sebagian besar penelitian menggunakan C:.7

diopter. !revalensi miopia pada anak pra sekolah di 4ing 2bdula1i1 "edical Bity, 6iyadh, 2rab ,audi 0,78 ..
The visual system has an active process of emmetropi1ation that involves defocus detection and a coordinated growth of the refractive components toward emmetropia with active structural changes. 79,=< *t is ama1ing how well emmetropi1ation works and understanding what occurs when this process fails is the target of the research.=: *n the first three years of life the cornea and lens change to counterbalance an appro(imately 0: diopter increase in a(ial length of the growing eye.9; ?etween ages = and .= the lens and or cornea need to ad&ust about = diopters to maintain emmetropia.

,istem visual memiliki proses aktif dari emmetropisasi yang melibatkan deteksi defocus dan pertumbuhan terkoordinasi komponen refraksi terhadap emmetropia dengan perubahan struktur yang aktif.79 , =< ,angat menak&ubkan seberapa baik emmetropisasi beker&a dan memahami apa yang ter&adi ketika proses ini gagal adalah target penelitian ini.=: -alam tiga tahun pertama kehidupan kornea dan perubahan lensa untuk mengimbangi sebuah peningkatan sekitar 0: diopter pan&ang aksial dari pertumbuhan mata.9; 2ntara usia = dan .= lensa dan atau kornea perlu menyesuaikan sekitar = dioptri untuk mempertahankan emmetropia.
2s the human eye grows the lens adds layers of tissue yet thins by stretching in the equatorial plane so that it flattens, thins and loses power to compensate for the increasing a(ial length and maintains emmetropia.=0,07 When the lens fails to stretch and thin the eye becomes myopic and the eyeball shape becomes more prolate or less oblate. The source of this interruption of equatorial e(pansion is unknown with one hypothesis being the thickening of the ciliary muscle which is found in myopic children and adults.=7,0

"ata manusia bertumbuh dengan lensa menambahkan lapisan &aringan yang menipis dengan peregangan di bidang ekuator sehingga mendatar, menipis dan kehilangan kekuatan untuk mengimbangi pan&ang aksial meningkatkan dan mempertahankan emmetropia.=0, 07 4etika lensa gagal untuk meregangkan dan tipis mata men&adi rabun dan bentuk bola mata men&adi lebih atau kurang oblate yg tersebar luas. ,umber gangguan ini ekspansi khatulistiwa tidak diketahui dengan satu hipotesis yang penebalan otot ciliary yang ditemukan pada anak anak dengan miopia dan pada orang dewasa.=7, 0
When myopia develops the eye is longer than it is wider #greater anteroposterior length than lateral transverse dimensions$. This prolate shape of the eyeball will create a relative hyperopic defocus in the peripheral vision, along the lateral dimensions away from the macula. This peripheral vision refraction is another hypothesis as a potential impact or trigger on the active emmetropi1ation process. == !eripheral refraction in the myopic eye becomes relatively more hyperopic #+ig. .$. 3ocal retinal regions can control local eye growth and myopia.70 The peripheral refractive state of the eye can affect eye development especially the progression of myopia.9A 2n interesting study found ;;8 of young entering emmetropic pilots with relative hyperopic defocus in their peripheral refraction developed myopia during their training. .= %yperopic eyes are usually myopic in the periphery adding to the hypothesis that the periphery focus could be a trigger in eye growth. 2lso being investigated is the increase in the lag of accommodation during near work and the increase in myopia.9,0<

4etika miopia mengembangkan mata lebih pan&ang daripada lebar # pan&ang anteroposterior lebih besar daripada melintang lateral yang dimensi $ . ?entuk yg tersebar luas ini bola mata akan membuat defocus hyperopic relatif dalam penglihatan perifer , bersama dimensi lateral yang &auh dari makula . 6efraksi penglihatan perifer perifer adalah hipotesis lain sebagai dampak potensial atau memicu pada proses emmetropisasi. == 6efraksi peripheral aktif dalam mata rabun men&adi relatif lebih hyperopic #'ambar . $ . -aerah retina lokal dapat mengontrol pertumbuhan mata lokal dan myopia.70 ,tatus refraksi perifer mata dapat mempengaruhi perkembangan mata terutama perkembangan myopia.9A ,ebuah studi menarik ditemukan ;; 8 dari pilot muda yang masuk emmetropic dengan defocus hyperopic relatif refraksi periferal mereka berkembang men&adi miopia selama perlatihan..= hyperopic mata mereka biasanya rabun di pinggiran menambah hipotesis bahwa fokus pinggiran bisa men&adi pemicu pertumbuhan mata . Juga sedang diselidiki adalah peningkatan lag akomodasi selama dekat peker&aan dan peningkatan myopia.9, 0<
2 0:.: search in !ub"ed yields over .9,::: citations with many research disciplines working to identify risk factors and potential interventions to help control myopia. Understanding, controlling and treating myopia are also a goal of the World %ealth @rgani1ation, Dision 0:0: pro&ect. 7=

,ebuah pencarian di !ub"ed 0:.: menghasilkan lebih dari .9.::: kutipan dengan banyak disiplin penelitian beker&a untuk mengidentifikasi faktor risiko dan potensi intervensi untuk membantu mengontrol miopia. "emahami, mengontrol dan mengobati miopia &uga tu&uan dari @rganisasi 4esehatan -unia, Dision 0:0: pro&ect.7=
'enetic factors

+aktor genetic %eritabilitas tinggi miopia menun&ukkan bahwa ada signifikan komponen genetik untuk men&elaskan varians dalam populasi. ,ebuah indeks heritabilitas tinggi ditemukan dalam studi kembar bervariasi dari ;78 men&adi <98. ,ebuah penelitian sampel besar baru baru ini mono1igot dan kembar di1igot memperkirakan indeks heritabilitas dari ;;8 . 09 Namun, indeks tinggi ini tidak menghalangi pendahulu lingkungan, dan memiliki beberapa contestable asumsi #"organ dan 6ose$. ?ukti genetik lainnya menun&uk adalah prevalensi miopia pada anak anak meningkat dengan &umlah orang tua rabun dari ;,A, .9,<, 9=,A untuk persen untuk tidak, satu atau dua parents..7 rabun Namun, pengamatan yang menarik dari nilai heritabilitas rendah di orangtua korelasi keturunan ketika ada telah cepat lingkungan beralih antara generations.0> The 'en di "iopia#')"$ studi keluarga dihitung indeks heritabilitas antara 0;8 dan 778 .7 -alam sebuah faktor diwariskan studi kembar non dipertanggung&awabkan

>:8 dari rema&a myopia.=.


"ultiple myopia genetic loci have been identified establishing myopia as a common comple( disorder..9 2 recent review of data from the past decade in searching for myopia genes points to a(ial length and refraction sharing common genes and states that the ma&ority of myopia cases are not likely caused by defects in structural proteins, but in defects involving the control of structural proteins..A They conclude in discussing genes and their effects on myopia, EEit is hard to show anything but a modest effect on their etiologies. Thus we are still left with the impression that the influence of environment e(erts a greater effect than does the concerted action of several genesFF. .A

?eberapa lokus genetik miopia telah diidentifikasi membangun miopia sebagai kompleks umum disorder..9 ,ebuah tin&auan baru baru ini data dari satu dekade terakhir dalam mencari miopia gen poin dengan pan&ang aksial dan berbagi umum refraksi gen dan menyatakan bahwa mayoritas kasus myopia tidak kemungkinan disebabkan oleh cacat pada protein struktural, tetapi dalam cacat melibatkan kontrol proteins..A struktural "ereka menyimpulkan dalam membahas gen dan pengaruhnya terhadap miopia,GG sulit untuk menun&ukkan apa apa tapi efek sederhana pada etiologi mereka. Jadi kita masih ditinggalkan dengan kesan bahwa pengaruh lingkungan memberikan efek yang lebih besar daripada yang terpadu aksi dari beberapa genGG..A
)nvironmental factors
While we wait for more evidence for genetic determination of refractive error there does e(ist evidence pointing to environmental risk factors. The increasing prevalence of myopia and high myopia which at times has rapidly changed in Taiwan, ,ingapore, %ong 4ong, ,candinavia, and the United ,tates has been pointed out as likely being environmental. =9,7: *n can be difficult to compare prevalence studies if the protocol for sampling, refraction and use of cycloplegia is not standardi1ed. ,tarting with a year 0::: study there have been population studies in Bhile, Bhina, Nepal, Urban *ndia, 6ural *ndia, ,outh 2frica, and 2ustralia using a common or comparable protocol. =9 This common protocol was further advanced in The ,ydney "yopia ,tudy which had a stratified random cluster sample a group of children aged A and a group aged .0, with a three year interval for ree(amination. -ata on eye structure and changes over time in this study include using Byclopentolate use with auto refraction, noncontact biometry including optical coherence tomography. ?y also gathering data from the parents of the study population the study aimed to assess interactions between genetic and environmental risk factors.=9

faktor faktor lingkungan ,ementara kita menunggu lebih banyak bukti untuk penentuan genetik kesalahan bias ada memang ada bukti menun&uk faktor risiko lingkungan . !eningkatan prevalensi miopia dan miopia tinggi yang kadang kadang telah dengan cepat berubah di Taiwan , ,ingapura , %ong 4ong , ,kandinavia , dan 2merika ,erikat telah menun&ukkan lebih mungkin men&adi lingkungan . =9,7: -alam bisa sulit untuk membandingkan studi prevalensi &ika protokol untuk pengambilan sampel , refraksi dan penggunaan cycloplegia tidak standar . -imulai dengan tahun 0::: studi telah ada studi populasi di Bhile , Bhina , Nepal , *ndia !erkotaan , !edesaan *ndia , 2frika ,elatan , dan 2ustralia menggunakan protocol.=9 umum atau sebanding protokol umum ini lebih ma&u di The ,ydney "yopia ,tudi yang memiliki cluster random

stratified sampel sekelompok anak anak berusia A dan kelompok usia .0 , dengan interval tiga tahun untuk pemeriksaan ulang . -ata pada struktur mata dan perubahan dari waktu ke waktu dalam penelitian ini meliputi menggunakan penggunaan cyclopentolate dengan auto refraksi , biometri noncontact termasuk tomografi koherensi optik . -engan &uga mengumpulkan data dari orang tua dari populasi penelitian studi bertu&uan untuk menilai interaksi antara genetik dan lingkungan factors.=9 risiko
Urbani1ation and educational attainment also has some contribution toward myopia development but only e(plains a small proportion of the variance seen.0> Near work has been identified as a risk factor but with a weak association and difficult to quantify.7A

Urbanisasi dan pencapaian pendidikan &uga memiliki beberapa kontribusi terhadap perkembangan miopia tetapi hanya men&elaskan sebagian kecil dari varians seen.0> ker&a Near memiliki telah diidentifikasi sebagai faktor risiko tetapi dengan hubungan yang lemah dan sulit untuk quantify.7A
6ecently data have shown a protective effect of the time spent outdoors in A/; year old children.=.,=A,9.,.>,0: This outdoor protective effect was also reported in .0 year old ,ydney children. #6ose et al., 0::>b$ The time outdoor protective effect has been reported in the United ,tates, =.,.> in Turkey,=A and in Jordan.#4hader et al., 0::A$ The @rinda longitudinal study found this protective difference precedes the onset of myopia..> The reduction in the probability of developing myopia by eighth grade if a child had two myopic parents went from :.A: if the outdoor time in the third grade was low #:/7 h per week$ to :.0: if the outdoor time is high #H.9 h per week$..> ,tatisticians have modeled risk factors that include age, gender, ethnicity, school, *I level, number of books read per week, height, parental myopia and addingtime spent outdoors significantly improves the fit of themodel. <

?aru baru ini data yang telah menun&ukkan efek perlindungan dari waktu dihabiskan di luar ruangan di children.=. berusia A ; tahun, =A,9.,.>,0: luar ruangan ini efek perlindungan &uga dilaporkan di ,ydney berusia .0 tahun anak anak. #6ose et al., 0::>b$ Waktu luar ruangan efek perlindungan telah dilaporkan di 2merika ,erikat, =.,.> di Turki, =A dan di Jordania. #4hader et al., 0::A$ @rinda studi longitudinal menemukan perbedaan pelindung ini mendahului timbulnya myopia..> !enurunan probabilitas mengembangkan miopia oleh kelas delapan &ika seorang anak memiliki dua rabun orang tua pergi dari :,A: &ika waktu outdoor di kelas tiga rendah #: 7 &am per minggu$ dengan :,0: &ika waktu outdoor tinggi #H .9 &am per minggu$ ..> ,tatistik memiliki model faktor risiko yang meliputi usia, &enis kelamin, etnis, sekolah, tingkat *I, &umlah buku yang dibaca per minggu, tinggi, miopia orangtua dan menambahkan waktu yang dihabiskan di luar ruangan secara signifikan meningkatkan fit dari model.<

To help measure the relative roles of the environment and genes it is valuable to e(amine the prevalence of similar ethnicity in a population that migrates to a different environment. This was done in comparing the prevalence and risk factors in A and ; year old children of Bhinese ethnicity in ,ydney and ,ingapore. The prevalence of myopia in the Bhinese children was =.=8 in ,ydney and 0<..8 in ,ingapore yet the children in ,ydney read significantly more books and had more total time in near activities. The most significant factor between the two sites was much more time on outdoor activities in ,ydney. 90 "easuring the prevalence rates in Baucasian and Bhinese students in local and international schools in %ong 4ong found both an effect of the different genetic background and an effect of the %ong 4ong environment.0. *ndians show a very low prevalence of myopia in *ndia, however, the prevalence of myopia in *ndians in ,ingapore ismhigh.77 !ark and Bongdon=; argue that many of the prevalence studies in the literature have EEsignificant shortcomingsFF chiefly due to lack of longitudinal data. "organ and 6ose0> feel there is enough environmental evidence that in high pressure environments with intensive mass education systems in highly urbani1ed environments, almost everyone could become myopic

Untuk membantu mengukur peran relatif lingkungan dan gen itu berharga untuk memeriksa prevalensi etnis yang sama dalam suatu populasi yang berpindah ke lingkungan yang berbeda . %al ini dilakukan dalam membandingkan prevalensi dan risiko faktor A dan anak anak berusia ; tahun dari etnis Tionghoa di ,ydney dan ,ingapura . !revalensi miopia di Bina 2nak anak adalah =,= 8 di ,ydney dan 0<,. 8 di ,ingapura belum anak anak di ,ydney baca signifikan lebih buku dan memiliki total waktu lebih dekat kegiatan . +aktor yang paling signifikan antara dua lokasi itu &auh lebih banyak waktu pada kegiatan di luar ruangan di ,ydney.90 "engukur tingkat prevalensi di 4aukasia dan mahasiswa Bina di sekolah sekolah lokal dan internasional di %ong 4ong menemukan kedua efek genetik yang berbeda latar belakang dan efek dari environment.0. %ong 4ong *ndia menun&ukkan prevalensi yang sangat rendah miopia di *ndia , namun , prevalensi miopia di *ndia di ,ingapura high.77 !ark and Bongdon=; berpendapat bahwa banyak dari prevalensi studi dalam sastra memiliki kekurangan yang signifikan GG GG terutama karena kurangnya data longitudinal . "organdan6ose0> merasa ada bukti cukup bahwa dalam lingkungan lingkungan tekanan tinggi dengan massa pendidikan intensif sistem di lingkungan urbanisasi tinggi , hampir semua orang bisa men&adi rabun.
*nterventions
*nterventions to control &uvenile myopia progression have included pharmaceutical agents, bifocal and !rogressive lens glasses, and rigid gas permeable contact lenses. *n a review of myopia trials to retard myopia progression in 0::0 it was felt there was insufficient evidence to support any interventions. 99

intervensi *ntervensi untuk mengontrol perkembangan miopia rema&a memiliki termasuk agen farmasi, bertitik api dua dan lensa !rogressive gelas, dan gas lensa kontak permeabel kaku. -alam tin&auan percobaan miopia untuk menghambat perkembangan miopia pada tahun 0::0 itu merasa ada bukti yang cukup untuk mendukung setiap interventions.99
2nimal studies show myopic defocus produced by positive lenses reduce a(ial length increase. 7> Jet, a two year controlled prospective study on myopic children aged </.9 who were under corrected by appro(imately K:.;7 diopter

showed an enhanced rather than an inhibited myopia development in a(ial length and thus more myopia.>

!enelitian terhadap hewan menun&ukkan defocus rabun dihasilkan oleh positif lensa mengurangi pan&ang aksial increase.7> Namun, dua tahun yang dikendalikan prospektif studi pada anak anak berusia < .9 rabun yang di bawah dikoreksi oleh sekitar K:.;7 diopter menun&ukkan ditingkatkan daripada perkembangan miopia menghambat pan&ang aksial dan dengan demikian lebih myopia.>
*n a randomi1ed masked 0 year trial giving myopic children atropine in one eye the treated eye progressed :.=> diopters and the untreated eye progressed ..0: diopters. ; This difference in myopia progression of C:.<0 - was also accompanied by a reduced a(ial elongation of :.9: mm. No serious adverse events related to atropine were reported. %owever, this difference narrowed one year after the atropine was stopped.9< This atropine study group also reports embarking on a new randomi1ed clinical trial using three different atropine concentrations with bilateral treatment for more than two years with a post treatment monitoring to evaluate long term comparative myopia control effects of the treatment.; There have been two studies using !iren1epine gel, in the United ,tates, 97 and, in 2sia,9> showing a nearly 7:8 reduction in progression when used twice a day.

-alam u&i coba 0 tahun bertopeng acak memberi anak anak rabun atropin dalam satu mata mata diobati berkembang :,=> dioptri dan mata yang tidak diobati berkembang .,0: diopters.; !erbedaan ini dalam perkembangan miopia dariL :,<0 - &uga disertai oleh perpan&angan aksial berkurang dari :,9: mm. Tidak ada yang serius )fek samping yang berhubungan dengan atropin dilaporkan. Namun, !erbedaan ini menyempit satu tahun setelah atropin itu stopped.9< kelompok studi atropin ini &uga melaporkan embarking pada u&i klinis acak baru menggunakan tiga atropin yang berbeda konsentrasi dengan pengobatan bilateral selama lebih dari dua tahun dengan pemantauan pasca pengobatan untuk mengevaluasi pan&ang efek kontrol miopia &angka komparatif treatment.; yang 2da dua studi menggunakan !iren1epine gel, dalam 2merika ,erikat, 97 dan, di 2sia, 9> menun&ukkan penurunan hampir 7:8 dalam perkembangan bila digunakan dua kali sehari.
6igid contact lenses have been reported to slow myopia progression but had not been studied in a controlled randomi1ed trial until 0::=. 6igid gas permeable contact lenses were found to have only a mild nonsignificant protective effect. .< 2 more recent two year study of forty, >/.. year old children given corneal reshaping contact lenses during sleep reported slowed eye growth compared to the matched soft contact wearing children. 7. 3ensa kontak kaku telah dilaporkan untuk memperlambat perkembangan miopia tetapi belum diteliti dalam u&i coba terkontrol secara acak hingga tahun 0::=. 'as lensa kontak permeabel kaku ditemukan hanya memiliki efek perlindungan tidak signifikan ringan. .< ,ebuah studi dua tahun lebih baru dari empat puluh, anak anak berusia > .. tahun yang diberikan lensa kontak saat tidur membentuk kembali kornea mata melaporkan pertumbuhan melambat dibandingkan dengan kontak lunak yang cocok mengenakan children.7. Two randomi1ed trials of !rogressive addition lens showed a very small protective effect of wearing the progressive glasses..:,.0 %owever, recently in a two year study, three randomi1ed groups of children wearing single vision glasses, bifocals, or bifocals with base in prism progressed after two years ..77 -, :.<A -, and :.;: -, respectively.A

-ua percobaan acak lensa tambahan progresif menun&ukkan efek perlindungan yang sangat kecil mengenakan progresif glasses..:, .0 Namun, baru baru ini dalam sebuah studi dua tahun, tiga kelompok secara acak anak anak memakai kacamata visi tunggal, kacamata, atau kacamata dengan basis di prisma berkembang setelah dua tahun ..77 -, - :,<A, dan :,;: -, respectively.A ?aseline data for the ,tudy of Theories about "yopia !rogression #,T2"!$ have recently been reported.= This 0 year, double masked, randomi1ed trial will look at !rogressive addition lenses compared to single vision glasses and myopia progression and also look at peripheral refraction, accommodative response and convergence, crystalline lens radii of curvature, a(ial dimensions, intraocular pressure, corneal curvature and thickness, as well as near work and outdoor activity assessment. The ,T2"! study will gather complete biometric data at A month intervals. The ,T2"! baseline data found that indeed the myopic children did have a peripheral hyperopic defocus similar to other reports along the lateral meridian of the eye and a new finding was a myopic defocus along the vertical peripheral meridian of the eye.#+ig. 0$

?aseline data untuk ,tudi Teori tentang "iopia 4ema&uan #,T2"!$ baru sa&a reported.= ini 0 tahun, double bertopeng, u&i coba secara acak akan melihat !rogresif lensa tambahan dibandingkan dengan kacamata visi tunggal dan myopia perkembangan dan &uga melihat refraksi perifer, akomodatif respon dan konvergensi, &ari &ari lensa kristal kelengkungan, dimensi aksial, tekanan intraokular, kornea kelengkungan dan ketebalan, serta dekat peker&aan dan outdoor penilaian aktivitas. !enelitian ,T2"! akan mengumpulkan lengkap -ata biometrik pada interval A bulan. The ,T2"! dasar -ata menemukan bahwa memang anak anak rabun memang memiliki hyperopic perifer defocus mirip dengan laporan lain sepan&ang meridian lateral mata dan temuan baru adalah rabun defocus sepan&ang meridian perifer vertical mata. #'ambar 0$
Bonclusion
'enetic studies are actively continuing, but to date have not yet identified a genetic pathway for familial risk of myopia. The emmetropi1ation process continues to beinvestigated looking for risk factors, such as peripheral vision defocus and accommodative lag, contributing to &uvenile myopia progression. !harmacologic treatments have reduced myopia progression but more studies including longer follow up are needed. 6ecent epidemiological studies have identified the time spent outdoors to be protective of the development of myopia. "uch progress has been made in the past decade both in epidemiological studies as well as in clinical trials leading to new questions requiring more research

4esimpulan ,tudi genetik secara aktif terus, namun sampai saat ini belum belum mengidentifikasi &alur genetik untuk risiko familial miopia. *tu !roses emmetropi1ation terus mencari beinvestigated untuk faktor risiko, seperti penglihatan perifer defocus dan akomodatif lag, memberikan kontribusi untuk perkembangan miopia rema&a. !engobatan farmakologis telah mengurangi perkembangan myopia tapi lebih banyak penelitian lagi termasuk tindak lan&ut yang diperlukan. ?aru studi epidemiologi telah mengidentifikasi waktu yang dihabiskan di luar ruangan untuk men&adi pelindung dari perkembangan miopia. ?anyak kema&uan telah dibuat dalam dekade terakhir baik dalam epidemiologi penelitian serta dalam u&i klinis yang mengarah ke baru pertanyaan yang memerlukan penelitian lebih lan&ut