Anda di halaman 1dari 44

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18 BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Seperti yang kita ketahui bersama dunia industri sekarang berkembang dengan pesat, mulai dari meningkatnya produksi untuk barang maupun jasa, oleh sebab itu sekarang pekerjaan yang menggunakan otot / manual sudah diminimalisir dan digantikan oleh kekuatan mesin yang dapat di atur sedemikian rupa dalam mengatasi pekerjaan berat. Mekipun telah berangsur diminimalisir, studi mengenai konsumsi energi manusia tetap mutlak diperlukan dan menjadi prioritas utama, tujuannya antara lain untuk pemilihan frekuensi dan periode istirahat pada manajemen waktu kerja dan perbandingan metode alternative pemilihan peralatan untuk mengerjakan suatu jenis pekerjaan. Secara garis besar, kegiatankegiatan kerja manusia dapat dikelompokkan menjadi kerja fisik (otot) dan kerja mental (otak). Pemisahan ini tidak dapat dilakukan secara sempurna, karena terdapat hubungan yang erat antara satu dengan yang lainnya. 1.2 Tujuan 1. Mampu menentukan lama waktu istirahat total (total rest time) 2. Mampu menentukan besar energi expenditure pada suatu pekerjaan tertentu berdasarkan intensitas heart rate. 3. Mampu mengklasifikasi besar beban kerja untuk pekerjaan tertentu. 4. Mampu membuat grafik yang menghubungkan antara intensitas beban kerja (berlari di treat mill) dengan heart rate dan lama waktu pemulihan (recovery period).

1.3 Pembatasan Masalah Masalah yang dibahas pada praktikum ini meliputi data-data yang didapatkan pada saat praktikum fisiologi. Dimana fisiologi mengambil data mengenai laju denyut nadi pada menit yang kontinu seiring dengan meningkatnya pembebanan pada saat berlari di treat mill yaitu pada kecepatan 1, 3 dan 6. Dan kondisi operator dalam keadaan sehat dengan berat badan 59 Kg, tinggi badan 170 cm, dengan denyut nadi pada saat pertama kali sebelum melakukan aktifitas yaitu 87 denyut/ menit.

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18 1.4 Sistematika Penulisan Sistematika penulisan dalam laporan ini adalah : BAB I PENDAHULUAN Berisi latar belakang, tujuan praktikum, pembatasan masalah, dan sistematika penulisan. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Berisi tinjauan pustaka yang melandasi praktikum. BAB III PENGUMPULAN DATA Berisi data yang telah didapat saat praktikum. BAB IV PENGOLAHAN DATA Berisi pengolahan data fisiologi berupa besaran konsumsi energy, peningkatan cardiac output dari istirahat sampai kerja maksimum BAB V ANALISA Berisi analisa terhadap hasil pengolahan data dengan hasil perhitungan manual dan analisa grafik. BAB VI PENUTUP Berisi kesimpulan mengenai garis besar yang dapat ditarik dari analisa yang telah diberikan pada bab sebelumnya dan saran dari penyusun.

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Fisiologi Kerja Dalam dunia kerja saat ini yang semakin melangkah ke tahap modern, penggunaan alat-alat yang canggih semakin dipilih untuk menggantikan berbagai tugas manusia.Namun, tidak dapat dipungkiri, bahwa manusia merupakan salah satu faktor yang masih tetap digunakan dalam kemajuan teknologi ini.Oleh sebab itu, study mengenai konsumsi energi manusia tetap harus dilakukan untuk membuat pekerjaan lebih efisien dan efektif. Tubuh manusia dirancang untuk melakukan aktivitas serhari-hari, adanya masa otot yang bobotnya lebih dari separuh tubuh memungkinakan manusia untuk dapat menggerakkan tubuh dan melakukan kerja. Dari sudut pandang ergonomi, setiap beban kerja yang diterima oleh seseorang harus sesuai dan seimbang terhadap kemampuan fisik, koknitif, maupun keterbatasan manusia menerima beban tersebut. Menurut Sumamur (1984) bahwa kemampuan kerja seorang tenaga kerja berbeda dari yang satu dengan lainnya, dan sangat tergantung pada ketrampilan, kesegaran jasmani, keadaan gizi, jenis kelamin, usia, dan ukuran tubuh pekerja yang bersangkutan (Tarwaka, Solichul, H.A Bakri, 2004) Secara garis besar, kegiatankegiatan kerja manusia dapat dikelompokkan menjadi kerja fisik (otot) dan kerja mental (otak). Pemisahan ini tidak dapat dilakukan secara sempurna, karena terdapat hubungan yang erat antara satu dengan yang lainnya. Pengukuran denyut jantung merupakan variabel yang paling mudah untuk diukur. Akan tetapi hanya merupakan pengukuran energi secara tidak langsung. Namun demikian, denyut jantung tetap dipakai sebagai index beban kerja. (Nurmianto, 1998

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

2.2Kerja Fisik dan Kerja Mental Kerja fisik (physical work) adalah kerja yang memerlukan energi fisik otot manusia sebagai sumber tenaganya (power). Kerja fisik seringkali disebut sebagai manual operation dimana performance kerja sepenuhnya akan tergantung manusia baik yang berfungsi sebagai sumber tenaga (power) ataupun pengendali kerja (control). Dalam hal kerja fisik ini, konsumsi energi (energi consumption) merupakan faktor utama dan tolak ukur yang dipakai sebagai penentu berat atau ringannya kerja fisik tersebut. Proses mekanisasi kerja dalam dalam berbagai kasus akan diaplikasikan sebagai jalan keluar untuk mengurangi beban kerja yang terlalu berat dan harus dipikul manusia. Dengan mekanisasi peran manusia sebagai sumber energi kerja akan digantikan oleh mesin. Hal ini akan memberikan kemampuan yang lebih besar lagi untuk penyelesaian aktivitas-aktivitas yang memerlukan energi fisik yang besar dan berlangsung dalam periode waktu yang lama. ( Sritomo Wignjosoebroto,Ergonomi : Studi Gerak dan Waktu, 1995, hal 280) 2.3 Konsumsi Energi Para fisiolog kerja seperti Lehman telah meneliti konsumsi energi dari berbagai macam jenis pekerjaan untuk berbagai jenis aktivitas individu. Hal ini ditabulasikan ke dalam tabel berikut :
Tabel 2.1 Konsumsi Energi dalam Kalori Kerja Berbagai Macam Jenis Aktivitas Kerja

Activity Walking, empty handed

Conditions of Work Level, smooth surface 4 km / h Metalled road, heavy shoes 4 km / h

Kcal / min 2.1 3.1

Walking, with load on back

Level, metalled road 10 kg load 4 km / h 30 kg load 4 km / h 3.6 5.3

Climbing

16% gradient climbing speed 11.5 m / min Without load With 20 kg load 8.3 10.5

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

Climbing stairs

30.5% gradient climbing speed 17.2 m / min Without load With 20 kg load 13.7 18.4 5.2 8.5 9.5 11.5 2.5

Cycling Pulling hand cart Working with axe Filling iron Shoveling

Speed 16 km / h 3.6 km/ h level hard surface tractive force 11.6 kg Two handed strokes 35 strokes / min 60 strokes / min, 2.28 kcal / g of filling 10 sholves per min, throwing 2 m horizontally and 1 m high

7.8 8 3 0.5 0.7 1.6 7.6 8.7 8.3 1.0 2.0 2.0 3.0 4.0 5.0 4.0 6.0

Sawing wood Bricklaying Screwdriving

Two handed saw, 60 double strokes / min Normal rate 0.0041 m3 / min Screw horizontal Screw vertical Garden spade in clay soil

Digging Mowing Household work

Clover Cooking Loght cleaning, ironing Making bends, beating carpets, washing floors Heavy washing

Data khusus untuk basal metabolisme menurut Stevenson (1987) adalah sebagai berikut: Pria berat 70 kg : 1,2 kcal / menit Wanita berat 60 kg :1,0 kcal / menit (Eko Nurmianto, 1996)

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

2.4 Beban Kerja Menurut Menpan, beban kerja adalah sekumpulan kegiatan yang harus diselesaikan oleh suatu unit organisasi atau pemegang jabatan dalam jangka waktu tertentu. Dari segi ergonomi, setiap beban kerja diterima oleh seseorang harus sesuai atau seimbang baik terhadap kemampuan fisik, kemampuan kognitif maupun keterbatasan manusia yang menerima beban tersebut. Menurut Rodahl (1989),Adiputro (2000) dan Manuaba (2000) bahwa secara umum sehubungan dengan beban kerja dan kapasitas kerja sipengaruhi oleh berbagai faktor yang sangat kompleks, baik faktor eksternal dan internal. 2.4.1 Beban Kerja Karena Faktor Eksternal Faktor eksternal adalah beban kerja yang berasal dari luar tubuh pekerja, yang termasuk beban kerja eksternal adalah tugas (task) itu sendiri, organisasi dan lingkungan kerja. Ketiga faktor tersebut disebut stressor. a. Tugas-tugas yang (tasks) yang dilakukan baik yang bersifat fisik, seperti stasiun kerja, kondisi atau medan, sikap kerja, dll. Sedangkan tugas-tuigas yang bersifat mental seperti kompleksitas pekerjaan, atau tingkat kesulitan pekerjaann yang mempengaruhi tingkat emosi pekerja, tanggung pekerja, dll. b. Organisasi kerja yang dapat mempengaruhi beban kerja seperti lamanya waktu kerja, waktu istirahat, kerja bergilir, kerja malam, sistem pengupahan, sistem keerja, musik kerja, pelimpahan dan wewenang kerja, dll. c. Lingkungan kerja yang dapat memberikan beban tambahan kepada pekerja adalah: Lingkungan kerja fisik seperti : mikroklimat, intensitas kebisinga, intensitas cahaya, vibrasi mekanis, dan tekanan udara Lingkungan kerja kimiawi seperti debu, gas-gas pencemar udara, dll Lingkungan kerja biologis, seperti bakteri, virus, parasit, dll.

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

Lingkungan kerja fisiologis seperti penempatan dan pemiliha karyawan, hubungan sesame pekerja, pekerja dengan atasan, pekerja dengan lingkungan sosial, dll. (Rodahl, 1989; Manuaba, 2000; Adiputro, 2000 )

2.4.2 Beban Kerja Karena Faktor Internal Faktor internal beban kerja adalah faktor yang berasal dari dalam tubuh itu sendiri sebagai akibat adanya reaksi dari beban kerja eksternal. Reaksi tersebut disebut strain, besar-kecilnya strain dapat dinilai baik secara obyekstif maupun subyektif. Secara obyektif yaitu melalui perubahan reaksi fisiologis, secara subyekstif dapat melalui perubahan fisiologis dan perubahan perilaku. Secara singkat faktor internal meliputi : Faktor somatic (jenis kelamin, umur, ukuran tubuh, kondisi kesehatan, kondisi kesehatan) Faktor psikis (motivasi, persepsi, kepercayaan, keinginan, kepuasan, dll) (Rodahl, 1989; Manuaba, 2000; Adiputro, 2000 ) 2.5 Manifestasi Kerja Berat Dengan bertambah kompleksnya aktivitas otot, maka beberapa halyang patut dijadikan pokok bahasan dan analisa terhadap manifestasi kerjaberat tersebut antara lain : 1. Denyut Jantung (heart rate) 2. Tekanan Darah (blood pressure) 3. Cardiac Output (Keluaran paru dengan satuan liter per menit) 4. Komposisi Kimia Darah (kandungan asam laktat) 5. Temperatur Darah (body temperature) 6. Kecepatan berkeringat (Sweating rate) 7. Pulmonary vebtilation (kecepatan membuka atau menutupnya vebtilasi paru dengan satuan liter per menit)
Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

8. Konsumsi energi dan oksigen Diantara berbagai kriteria tersebut, denyut jantung merupakan faktor yang mudah untuk diukur, namun denyut jantung hanya merupakan pengukuran enegi secara tidak langsung.Oleh sebab itu, digunakan pengukuran energi dan oksigen. Faktor ini, digunakan karena dapat dianggap sebagai faktor pengukur langsung dan valid, meskipun alat pengukurnya sendiri akan sedikit mengganggu subyek (orang) yang sedang diamati. Seperti misalnya : Masker yang harus dipakai dapat mengganggu proses pernafasan, jika tidak dipasang dengan sempurna. Peralatan ukur yang dipasang di punggung bisa dianggap terlalu berat sehingga dapat mempengaruhi kebebasan gerakannya. (Eko Nurmianto, 1996) 2.6 Penilaian Beban Kerja Fisik Menurut Astrand & Rodahl (1977) dan Rodahl (1989) bahwa penilaian beban fisik dapat dilakukan dengan dua metode secara objektif , yaitu penelitian secara langsung dan metode tidak langsung. Metode pengukuran langsung yaitu dengan mengukur oksigen yang dikeluarkan (energy expenditure) melalui asupan energi selama bekerja. Semakin berat kerja semakin banyak energi yang dikeluarkan. Meskipun metode dengan menggunakan asupan oksigen lebih akurat, namun hanya mengukur secara singkat dan peralatan yang diperlukan sangat mahal. Lebih lanjut Christensen (1991) dan Grandjean (1993) menjelaskan bahwa salah satu pendekatan untuk mengetahui berat ringannya beban kerja adalah dengan menghitung nadi kerja, konsumsi energi, kapasitas ventilasi paru dan suhu inti tubuh. Pada batas tertentu ventilasi paru, denyut jantung, dan suhu tubuh mempunyai hubungan yang linear dengan konsumsi oksigen atau pekerjaan yang dilakukan. Kemudian Konz (1996) mengemukakan bahwa denyut jantung adalah suatu alat estimasi laju metabolisme yang baik, kecuali dalam keadaan emosi dan konsodilatasi. Kategori berat ringannya beban kerja didasarkan pada metabolisme

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

respirasi, suhu tubuh, dan denyut jantung menurut Christensen, dapat dilihat pada table di berikut ini :
Tabel 2.2 Hubungan antara metabolisme, respirasi, temperature badan dan denyut jantung sebagai medi pengukur beban kerja

Kategori

Konsumsi Oksigen ( liter/ menit )

Temperatur Energi Rectal


o

Denyut Jantung

Lung Ventilation Liter / menit

Kkal/ Menit < 2.5

Sangat Ringan Ringan Moderat Berat

0.25 0.3

37.5

< 60

67

0.5 - 1 1.0 - 1.5 1.5 - 2.0

37.5 37.5 38 38 38.5

2.5-5.0 5.0-7.5 7.510.00

60 100 100 125 125 150

11 20 20 31 31 43

Sangat Berat

2.0 2.5

38.5 39

10.0012.5

150 175

43 56

Berat Ekstrim

> 2.5

> 39

> 12.5

> 175

60 100

( Sumber : Christensen, 1964 ) Berat ringannya beban kerja yang diterima oleh seorang tenaga kerja dapat digunakan untuk menentukan berapa lama seorang tenaga kerja dapat melakukan aktivitas kerjanya sesuai dengan kemampuan atau kapasitas kerja yang bersangkutan. Di mana semakin berat beban kerja, maka akan semakin pendek waktu seseorang untuk bekerja tanpa kelelahan dan gangguan fisiologis yang berarti atau sebaliknya.

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

Kerja fisik dikelompokkan menjadi beberapa kategori antara lain : a. Kerja total seluruh tubuh, yang mempergunakan sebagian besar otot biasanya melibatkan dua pertiga atau tiga perempat oleh otot tubuh. b. Kerja sebagian otot, yang membutuhkan lebih sedikit energi expenditure karena otot yang dipergunakan lebih sedikit. c. Kerja otot statis, yaitu otot yang dipergunakan untuk menghasilkan gaya, tetapi tanpa kerja mekanik membutuhkan kontraksi sebagian otot.

Namun, sampai saat ini metode menggunakan standar :

pengukuran fisik dilakukan dengan

1. Konsep Horse Power (Foot-Pounds of Work Per Minute) oleh Taylor, tapi tidak memuaskan. 2. Tingkat konsumsi energi untuk mengukur pengeluaran energi. 3. Perubahan tingkat kerja jantung dan konsumsi oksigen (dengan metode terbaru). ( Sritomo Wignjosoebroto,Ergonomi : Studi Gerak dan Waktu, 1995 ) Menentukan Waktu Baku Dengan Metode Fisiologis Pengukuran fisiologis dapat dipergunakan untuk membandingkan Cost Energy pada suatu pekerjaan yang memenuhi waktu baku, dengan pekerjaan serupa yang tidak baku, tetapi perbandingan harus dibuat untuk orang yang sama. Dr. Lucien Brouha telah membuat tabel klasifikasi beban kerja, dalam reaksi fisiologis, untuk menentukan berat ringannya suatu pekerjaan.
Tabel 2.3 Tabel Klasifikasi Beban Kerja dalam Reaksi Fisologis

Oxygen Work Load Consumption In Liters Per Minute

Energy Expenditure In Calories Per Minute

Heart rate During Work In Beats Per Minute

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

10

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

Light Moderate Heavy Very Heavy

0,5 1,0 1,0 1,5 1,5 2,0 2,0 2,5

2,5 5,0 5,0 7,5 7,510,0 10,0 2,5

60 100 100 125 125 150 150 - 175

Tabel 2.4 Klasifikasi Beban Kerja dan Reaksi Fisiologis

Tingkat Pekerjaan Kkal/menit Undully Heavy Very Heavy Heavy Moderate Light Very Light >12,5

Energi

Detak Jantung

Konsumsi Energi

Kkal/8jam >6000 4800 6000 3600 4800 2400 3600 1200 2400 <1200

(detak / menit) >175 150 175 125 -150 125 150 60 100 <60 >2,5 2,0 2,5 1,5 2,0 1,0 1,5 0,5 1,0 <0,5

10,00 12,5 7,5 10,00 5,0 7,5 2,5 5,0 <2,5

( Eko Nurmianto, Ergonomi : Konsep Dasar dan Aplikasinya,1996, hal 137) 2.6.1 Penilaian Beban Kerja Berdasarkan Jumlah Kebutuhan Kalori Salah satu kebutuhan utama dalam pergerakkan otot adalah kebutuhan akan oksigen yang dibawa oleh darh ke otot untuk pembakaran zat dalam menghasilkan energi. Sehingga jumlah oksigen yang dipergunakan oleh tubuh merupakan salah satu indikator pembebanan selama bekerja. Dengan demikian
Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

11

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

setiap aktivitas pekerjaan memerlukan energi yang dihasilkan dari proses pembakaran. Berdasarkan hal tersebut maka kebutuhan kalori dapat digunakan sebagai indikator untuk menentukan besar ringannya beban kerja. Berdasarkan hal tersebut mentri tenaga kerja, melalui keputusan no 51 tahun 1999 menetapkan kebutuhan kalori untuk menentukan berat ringannya pekerjaan. Beban kerja ringan Beban kerja sedang Beban kerja berat : 100-200 Kilo kalori/jam : > 200-350 Kilo kalori/ jam : > 350-500 Kilo kalori/ jam

Kebutuhan kalori dapat dinyatakan dalam kalori yang dapat diukur secara tidak langsung dengan menentukan kebutuhan oksigen. Setiap kebutuhan oksigen sebanyak 1 liter akan memberikan 4.8 kilo kalori (Sumamun, 1989)Sebagai dasar perhitungan dalam menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan oleh seseorang dalam melakukan aktivitas pekerjannya, dapat dilakukan melalui pendekatan atau taksiran kebutuhan kalori menurut aktivitasnya. Menurut Grandjean (1993) bahwa kebutuhan kalori seorang pekerja selama 24 jam ditentukan oleh tiga hal : Kebutuhan kalori untuk metabolisme basal, dipengaruhi oleh jenis kelamin dan usia. Kebutuhan kalori untuk kerja, kebutuhan kalori sangat ditentukan dengan jenis aktivitasnya, berat atau ringan. Kebutuhan kalori untuk aktivitas lain-lain di luar jam kerja.

2.6.2 Penilaian Beban Kerja Berdasarkan Denyut Nadi Kerja Pengukuran denyut jantung selama bekerja merupakan suatu metode untuk menilai cardiovasculair strain. Derajat beban kerja hanya tergantung pada jumlah kalori yang dikonsumsi, akan tetapi juga bergantung pada pembebanan otot statis. Sejumlah konsumsi energi tertentu akan lebih berat jika hanya ditunjang oleh
Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

12

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

sejumlah kecil otot relative terhadap sejumlah besar otot. Beberapa hal yang berkaitan dengen pengukuran denyut jantung adalah sebagai berikut : 1. Astrand dan Christensen meneliti pengeluaran energi dari tingkat denyut jantung dan menemukan adanya hubungan langsung antara keduanya. Tingkat pulsa dan denyut jantung permenit dapat digunakan untuk menghitung pengeluaran energi. ( Retno Megawati, 2003 ) 2. Secara lebih luas dapat dikatakan bahwa kecepatan denyut jantung dan pernapasan dipengaruhi oleh tekanan fisiologis, tekanan oleh lingkungan, atau tekanan akibat kerja keras, di mana ketiga faktor tersebut memberikan pengaruh yang sama besar. Pengukuran berdasarkan criteria fisiologis ini bisa digunakan apabila faktor-faktor yang berpengaruh tersebut dapat diabaikan atau situasi kegiatan dalam keadaan normal. Pengukuran denyut jantung dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain : 1. Merasakan denyut jantung yang ada pada arteri radial pada pergelangan tangan. 2. Mendengarkan denyut jantung dengan stethoscope. 3. Menggunakan ECG ( Electrocardiograph ), yaitu mengukur signal elektrik yang diukur dari otot jantung pada permukaan kulit dada. Salah satu yang dapat digunakan untuk menghitung denyut jantung adalah telemetri dengan menggunakan rangsangan ElectroardioGraph (ECG). Apabila peralatan tersebut tidak tersedia dapat memakai stopwatch dengan metode 10 denyut (Kilbon, 1992). Dengan metode tersebut dapat dihitung denyut nadi kerja sebagai berikut
10 Denyut 60 Waktu Perhitunga n

Denyut Jantung (Denyut/Menit) =

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

13

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

Selain

metode

denyut

jantung

tersebut,

dapat

juga

dilakuakan

penghitungan denyut nadi dengan menggunakan metode 15 atau 30 detik. Penggunaan nadi kerja untuk menilai berat ringanya beban kerja memiliki beberapa keuntungan. Selain mudah, cepat, dan murah juga tidak memerlukan peralatan yang mahal, tidak menggangu aktivitas pekerja yang dilakukan pengukuran. Kepekaan denyut nadi akan segera berubah dengan perubahan pembebanan, baik yang berasal dari pembebanan mekanik, fisika, maupun kimiawi. Denyut nadi untuk mengestimasi index beban kerja terdiri dari beberapa jenis, Muller ( 1962 ) Memberikan definisi sebagai berikut : a. Denyut jantung pada saat istirahat ( resting pulse ) adalah rata-rata denyut jantung sebelum suatu pekerjaan dimulai. b. Denyut jantung selama bekerja ( working pulse ) adalah rata-rata denyut jantung pada saat seseorang bekerja. c. Denyut jantung untuk bekerja ( work pulse ) adalah selisish antara senyut jantung selama bekerja dan selama istirahat. d. Denyut jantung selama istirahat total ( recovery cost or recovery cost ) adalah jumlah aljabar denyut jantung dan berhentinya denyut pada suatu pekerjaan selesai dikerjakannya sampai dengan denyut berada pada kondisi istirahatnya. e. Denyut kerja total ( Total work pulse or cardiac cost ) adalah jumlah denyut jantung dari mulainya suatu pekerjaan samapi dengan denyut berada pada kondisi istirahatnya ( resting level ). ( Nurmianto, 1998 ) Peningkatan denyut nadi mempunyai peran yang sangat penting di dalam peningkatan cardio output dari istirahat sampai kerja maksimum, peningkatan tersebut oleh Rodahl (1989) didefinikan sebagai heart rate reserve (HR reserve). HR reserve tersebut diekspresikan dalam presentase yang dihitung dengan menggunakan rumus :

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

14

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

% HR Reserve =

Denyut nadi ker ja Denyut nadi istirahat 100 Denyut nadi maksimum Denyut nadi istirahat

Lebih lanjut Manuaba & Vanwonterghem (1996) menentukan klasifikasi beban kerja berdasakan peningkatan denyut nadi kerja yang dibandingkan dengan denyut nadi maskimum karena beban kardiovaskuler (cardiovasiculair = %CVL) yang dihitung berdasarkan rumus di bawah ini :

%CVL

100 ( Denyut nadi ker ja Denyut Nadi Istirahat ) Denyut nadi maksimum Denyut nadi istirahat

Di mana denyut nadi maskimum adalah (220-umur) untuk laki-laki dan (200umur) untuk wanita. Dari perhitungan % CVL kemudian akan dibandingkan dengan klasifikasi yang telah ditetapkan sebagai berikut : < 30% = Tidak terjadi kelelahan

30% - 60% = Diperlukan perbaikan 60% - 80% = Kerja dalam waktu singkat 80% - 100% = Diperlukan tindakan segera >100% = Tidak diperbolehkan beraktivitas

Selain cara-cara tersebut di atas, Kilbon (1992) mengusulkan bahwa cardiovasculair strain dapat diestimasi denjgan menggunakan denyut nadi pemulihan (hearth rate recover) atau dikenal dengan metode Brouba. Keuntungan dari metode ini adalah sama sekali tidaj mengganggu atau menghentikan aktivitas kegiatan selama bekerja. Denyut nadi pemulihan (P) dihitung pada akhir 30 detik pada menit pertama, ke dua, dan ke tiga. P 1, 2, 3 adalah rata-rata dari ketiga nilai
Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

15

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

tersebut dan dihubungkan dengan total cardiac cost dengan ketentuan sebagai berikut : Jika P1 P3 10, atau P1, P2, P3 seluruhnya < 90, nadi pemulihan normal Jika rata-rata P1 tercatat 110, dan P1 P3 10, maka beban kerja tifak berlebihan Jika P1 P3< 10, dan jika P3> 90 perlu redesain pekerjaan (Tarwaka, Solichul, H.A Bakri, 2004) Untuk merumuskan hubungan antara energy expenditure dengan kecepatan denyut jantung, dilakukan pendekatan kuantitatif hubungan energy ekspenditure kecepatan denyut jantung dengan menggunakan analisis regresi.Denyut jantung dapat digunakan untuk mengestimasi pengeluaran energy atau kapasitas aerobic. Penelitian yang dilakukan oleh Widyasmara (2007) menunjukkan bahwa dengan menggunakan regresi dapat diketahui hubungan antara denyut jantung, tinggi badan, berat badan, dan usia dengan energy. Regresi antara denyut jantung dengan konsumsi oksigen dapat dilihat pada persamaan berikut : VO2 = 0.019 HR 0,024h+0.016w+0.045a+1.15 Keterangan : VO2 HR h w a : konsumsi oksigen (liter/menit) : Denyut Jantung (denyut/menit) : Tinggi badan (cm) : berat badan (kg) : usia (tahun) Sedangkan menurut Astrand dan Rodahi (2003), energy ekspenditure dapat dihitung dengan persamaan : 1 liter O2 = 5kkal
Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

16

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

Sehingga, hubungan antara denyut jantung dengan konsumsi energy dapat diketahui. Setelah besaran, kecepatan denyut jantung disetarakan dalam bentuk energy, maka konsumsi energy untuk suatu kegiatan tertentu dapat dituliskan sebagai berikut : KE = Et-Ei Keterangan : KE Et Ei : Konsumsi Energi (kkal/menit) : Pengeluaran energi saat melakukan kerja (kkal/menit) : Pengeluaran energi saat istirahat (kkal/menit) Untuk menghindari kerugian pengukuran pekerja ketika bekerja, dapat digunakan perubahan tingkat denyut selama pemulihan. Kurva pemulihan tingkat denyut jantung menunjukkan : Tekanan fisiologis Aptitude fisik dari subjek Keberadaan kelelahan fisiologis Kelelahan fisiologis saat rangkaian periode kerja diamati

Dengan melakukan pengukuran pada titik dapat ditunjukkan bahwa : a. Untuk melakukan pemulihan normal : pengukuran dari denyut pertama ke denyut ketiga sama atau lebih besar dari 10 denyut per menit. Ketiga denyut nadi sama atau lebih kecil dari 90 per menit. b. Tanpa pemulihan : penurunan dari denyut pertama ke denyut ketiga atau lebih kecil dari 10 denyut / menit. Denyut nadi ketiga di atas 90 denyut/ menit. 2.7 Beban Kerja Mental Selain beban kerja fisik, beban kerja mental harus pula dinilai. Namun demikian penilaian beban kerja mental tidak semudah peniali terhadap beban kerja fisik. Perubahan bersifat mental sulit diukur bedasarkan fungsi faal tubuh. Secara
Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

17

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

fisiologis, aktivitas mental terlihat sebagai suatu pekerjaan ringan, sehingga kebutuhan kalori untuk aktivitas mental juga lebih rendah. Namun secara moral dan tanggung jawab, aktivitas lebih berat daripada aktivitas fisik, karena melibatkan kerja otak (white collar) dari kerja otot (blue collar). Menurut Grandjean (1993) setiap aktivitas mental selalu melibatkan unsure persepsi, interupsi dan proses mental dari suatu informasi yang diterima oleh organ sensoris untuk diambil suatu keputusan tau proses mengingat informasi yang lampau. Yang menjadi masalah pada manusia adalah kemampuan mengingat kembali, di mana semakin bertambahnya umur akan mengurangi kemampuan otak dalam mengingat. 2.8 Kelelahan Kelahan adalah suatu mekanisme perlindungan tuguh agar tubuh terhindar dari kerusakkan lebih lanjut, sehingga terjadi oemulihan selama istirahat. (Tarwaka, Solichul, H.A Bakri, 2004). Kelelahan diatur secara sentral oleh otak. Di otak terdapat sistem aktivasi (bersimpat simaptis) dan inhibisi (bersifat parasimpatis). Istilah kelelahan biasanya menunjukkan kondisi yang berbeda-beda dari tubuh, namun semuanya bermuara pada kehilangan kapasitas dan efisiensi tubuh. Kelelahan dikalsifikasikan menjadi dua, yaitu kelelahan otot yang berupa rasa nyeri pada otot dan kelalahan umum yang ditandai dengan berkurangnya kemamuan untuk bekerja karena monotoni; intensitas, dan lamanya kerja fisik; keadaan lingkungan; sebab-sebab mental; status kesehatan dan keadaan gizi (Tarwaka, Solichul, H.A Bakri, 2004) 2.9 Kurva Pemulihan Untuk menghindari kerugian pengukuran pekerja ketika bekerja, dapat digunakan perubahan tingkat denyut selama pemulihan. Kurva pemulihan tingkat denyut jantung menunjukkan : Tekanan fisiologis Aptitude fisik dari subjek Keberadaan kelelahan fisiologis

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

18

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

Kelelahan fisiologis saat rangkaian periode kerja diamati

Dengan melakukan pengukuran pada titik dapat ditunjukkan bahwa : a. Untuk melakukan pemulihan normal : pengukuran dari denyut pertama ke denyut ketiga sama atau lebih besar dari 10 denyut per menit. Ketiga denyut nadi sama atau lebih kecil dari 90 per menit. b. Tanpa pemulihan : penurunan dari denyut pertama ke denyut ketiga atau lebih kecil dari 10 denyut / menit. Denyut nadi ketiga di atas 90 denyut/ menit.

Gambar 2.1 Kurva Pemulihan

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

19

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

BAB III PENGUMPULAN DATA 3.1 Data Denyut Nadi Sebelum dan Pada Saat Melakukan Kerja a) Kecepatan 1 (15 menit) Operator Berat Badan Tinggi Badan : Fedrian Maulana : 59 kg : 170 cm

Denyut Nadi Sebelum Kerja : 87


Tabel 3.1 Data denyut nadi pada saat melakukan kerja kecepatan 1

Menit ke- denyut/menit 1 114 2 120 3 121 4 120 5 122 6 119 7 123 8 129 9 123 10 121 11 131 12 114 13 120 14 131 15 129 Jumlah Denyut Nadi Rata-rata : 1837 : 122,47

b) Kecepatan 3 (15 menit) Operator Berat Badan Tinggi Badan


Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

: Fedrian Maulana : 59 kg : 170 cm

20

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

Denyut Nadi Sebelum Kerja : 87

Tabel 3.2 Data denyut nadi pada saat melakukan kerja kecepatan 3

Menit ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jumlah Denyut Nadi Rata-rata

denyut/menit 115 120 120 121 125 116 132 126 130 131 130 130 134 129 141 : 1900 : 126,67

c) Kecepatan 6 (5 menit) Operator Berat Badan Tinggi Badan : Fedrian Maulana : 59 kg : 170 cm

Denyut Nadi Sebelum Kerja : 87


Tabel 3.3 Data denyut nadi pada saat melakukan kerja kecepatan 6

Menit ke- denyut/menit 1 126 2 135 3 137 4 142 5 136


Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

21

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

Jumlah Denyut Nadi Rata-rata

: 676 : 135,20

3.2 Data Denyut Nadi Pada Saat Periode Pemulihan a) Kecepatan 1 (15 menit) Operator Berat Badan Tinggi Badan : Fedrian Maulana : 59 kg : 170 cm

Denyut Nadi Sebelum Kerja : 87


Tabel 3.4 Data denyut nadi pada saat Pemulihan kecepatan 1

Menit ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jumlah Denyut Nadi Rata-rata

denyut/menit 90 96 96 94 106 100 97 89 92 88 93 88 101 88 88 : 1406 : 93,73

b) Kecepatan 3 (15 menit) Operator Berat Badan Tinggi Badan : Fedrian Maulana : 59 kg : 170 cm

Denyut Nadi Sebelum Kerja : 87


Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

22

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

Tabel 3.5 Data denyut nadi pada saat pemulihan kecepatan 3

Menit ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jumlah Denyut Nadi Rata-rata

denyut/menit 97 101 101 105 96 96 92 92 88 90 : 958 : 95,80

c) Kecepatan 6 (5 menit) Operator Berat Badan Tinggi Badan : Fedrian Maulana : 59 kg : 170 cm

Denyut Nadi Sebelum Kerja : 87


Tabel 3.6 Data denyut nadi pada saat pemulihan kecepatan 6

Menit ke1 2 3 Jumlah Denyut Nadi Rata-rata

denyut/menit 124 116 110 : 350 : 116,67

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

23

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

BAB IV PENGOLAHAN DATA 4.1 Perhitungan Konsumsi Energi, Penentuan Waktu Istirahat, dan % CVL untuk Tiap-tiap Beban Kerja 4.1.1 Beban Kerja Kecepatan 1

Konsumsi Energi 1. Rata-rata saat melakukan kerja 2. Rata-rata saat periode pemulihan 3. Diketahui : HR h : Denyut Jantung (denyut /menit) : 122,47 : 93,73

: Tinggi badan operator (cm)

w : Berat badan operator (kg) a : Usia operator

4. Pengukuran secara fisiologis saat melakukan kerja : Dimana : VO2 = 0,019 HR 0,024 h + 0,016 w + 0,045 a + 1,15 = 0,019 (122,47) 0,024 (170) + 0,016 (59) + 0,045 (20) + 1,15 = 1,241 liter/menit 1 liter02 = 5 kkal Et = 5 x VO2 = 5 x 1,241 liter /menit = 6,204 kkal/menit 5. Pengukuran secara fisiologis saat pemulihan: VO2 = 0,019 HR 0,024 h + 0,016 w + 0,045 a + 1,15 = 0,019 (93,73) 0,024 (170) + 0,016 (59) + 0,045 (20) + 1,15 = 0,695 liter/menit 1 liter02 = 5 kkal Ei = 5 x VO2

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

24

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

= 5 x 0,695 liter/menit = 3,475 kkal/menit Persamaan konsumsi energi : KE = Et Ei = 6,204-3,475 = 2,730 kkal/menit Waktu Istirahat RT = 0 RT RT S = 5 kkal/menit K = 2,730 kkal/menit 2,730< 5 Sehingga, RT = 0 Dimana : RT T K S : Waktu istirahat yang dibutuhkan dalam menit : Total waktu kerja dalam menit : Konsumsi energi rata-rata yang direkomendasikan dalam kkal/menit : Pengeluaran energi cadangan yang direkomendasikan dalam kkal/menit (biasanya wanita 4 atau pria 5 kkal/menit) BM : Metabolisme Basal (BM wanita=1,4 BM pria=1,7)
( )

untuk K < S untuk S K<2S untuk K 2S

Perhitungan CVL (%) Denyutnadi rata-rata saatmelakukankerja Denyutnadiawal Denyutnadimaksimum operator (pria) = 122,47denyut/menit = 87 denyut/menit = 220 Usia

DNK DNA DNmax

= 220 20 = 200 denyut/menit : Denyut nadi rata-rata saat kerja (denyut/menit) : Denyut nadi awal (denyut/menit) : Denyut nadi maksimum (denyut/menit)

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

25

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

% CVL

= = = 31,39 %

Kesimpulan : karena 30%<% CVL < 60% , maka dapat disimpulkan bahwa diperlukan suatu perbaikan pada suatu sistem kerja karena jika pekerjaan dilakukan terus menerus dalam jangka waktu tertentu tanpa istirahat operator akan mengalami kelelahan. 4.1.2 Beban Kerja Kecepatan 3

Konsumsi Energi 1. Rata-rata saat melakukan kerja 2. Rata-rata saat periode pemulihan 3. Diketahui : HR h : Denyut Jantung (denyut /menit) : 126,67 : 95,80

: Tinggi badan operator (cm)

w : Berat badan operator (kg) a : Usia operator = 0,019 HR 0,024 h + 0,016 w + 0,045 a + 1,15 = 0,019 (126,67) 0,024 (170) + 0,016 (59) + 0,045 (20) + 1,15 = 1,321 liter/menit 1 liter02 = 5 kkal Et = 5 x VO2 = 5 x 1,321 liter /menit = 6,603 kkal/menit 5. Pengukuran secara fisiologis saat pemulihan: VO2 = 0,019 HR 0,024 h + 0,016 w + 0,045 a + 1,15 = 0,019 (95,80) 0,024 (170) + 0,016 (59) + 0,045 (20) + 1,15
Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

4. Pengukuran secara fisiologis saat melakukan kerja : VO2

26

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

= 0,734 liter/menit 1 liter02 = 5 kkal Ei = 5 x VO2 = 5 x 0,734 liter/menit = 3,671 kkal/menit Persamaan konsumsi energi : KE = Et Ei = 6,603-3,671 = 2,932 kkal/menit Waktu Istirahat RT = 0 RT RT S = 5 kkal/menit K = 2,932 kkal/menit 2,932< 5 Sehingga, RT = 0 Dimana : RT T K S : Waktu istirahat yang dibutuhkan dalam menit : Total waktu kerja dalam menit : Konsumsi energi rata-rata yang direkomendasikan dalam kkal/menit : Pengeluaran energi cadangan yang direkomendasikan dalam kkal/menit (biasanya wanita 4 atau pria 5 kkal/menit) BM : Metabolisme Basal (BM wanita=1,4 BM pria=1,7)
( )

untuk K < S untuk S K<2S untuk K 2S

Perhitungan CVL (%) Denyutnadi rata-rata saatmelakukankerja Denyutnadiawal Denyutnadimaksimum operator (pria)
Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

=126,67 denyut/menit = 87 denyut/menit = 220 Usia

27

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

DNK DNA DNmax

= 220 20 = 200 denyut/menit : Denyut nadi rata-rata saat kerja (denyut/menit) : Denyut nadi awal (denyut/menit) : Denyut nadi maksimum (denyut/menit)

% CVL

= = = 35,11 %

Kesimpulan : karena 30%<% CVL < 60% , maka dapat disimpulkan bahwa diperlukan suatu perbaikan pada suatu sistem kerja karena jika pekerjaan dilakukan terus menerus dalam jangka waktu tertentu tanpa istirahat operator akan mengalami kelelahan. 4.1.3 Beban Kerja Kecepatan 6

Konsumsi Energi 1. Rata-rata saat melakukan kerja 2. Rata-rata saat periode pemulihan 3. Diketahui : HR h : Denyut Jantung (denyut /menit) : 135,20 : 116,67

: Tinggi badan operator (cm)

w : Berat badan operator (kg) a : Usia operator = 0,019 HR 0,024 h + 0,016 w + 0,045 a + 1,15 = 0,019 (135,20) 0,024 (170) + 0,016 (59) + 0,045 (20) + 1,15 = 1,483 liter/menit 1 liter02 = 5 kkal Et = 5 x VO2 = 5 x 1,483 liter /menit = 7,414 kkal/menit
Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

4. Pengukuran secara fisiologis saat melakukan kerja : VO2

28

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

5. Pengukuran secara fisiologis saat pemulihan: VO2 = 0,019 HR 0,024 h + 0,016 w + 0,045 a + 1,15 = 0,019 (116,67) 0,024 (170) + 0,016 (59) + 0,045 (20) + 1,15 = 1,131 liter/menit 1 liter02 = 5 kkal Ei = 5 x VO2 = 5 x 1,131 liter/menit = 5,653 kkal/menit

Persamaan konsumsi energi : KE = Et Ei = 7,414-5,653 = 1,761 kkal/menit Waktu Istirahat RT = 0 RT RT S = 5 kkal/menit K = 1,761 kkal/menit 1,761< 5 Sehingga, RT = 0 Dimana : RT T K S : Waktu istirahat yang dibutuhkan dalam menit : Total waktu kerja dalam menit : Konsumsi energi rata-rata yang direkomendasikan dalam kkal/menit : Pengeluaran energi cadangan yang direkomendasikan dalam kkal/menit (biasanya wanita 4 atau pria 5 kkal/menit) BM : Metabolisme Basal (BM wanita=1,4 BM pria=1,7)
( )

untuk K < S untuk S K<2S untuk K 2S

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

29

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

Perhitungan CVL (%) Denyutnadi rata-rata saatmelakukankerja Denyutnadiawal Denyutnadimaksimum operator (pria) = 135,20 denyut/menit = 87 denyut/menit = 220 Usia

DNK DNA DNmax

= 220 20 = 200 denyut/menit : Denyut nadi rata-rata saat kerja (denyut/menit) : Denyut nadi awal (denyut/menit) : Denyut nadi maksimum (denyut/menit)

% CVL

= = = 42,65 %

Kesimpulan : karena 30%<% CVL < 60% , maka dapat disimpulkan bahwa diperlukan suatu perbaikan pada suatu sistem kerja karena jika pekerjaan dilakukan terus menerus dalam jangka waktu tertentu tanpa istirahat operator akan mengalami kelelahan. 4.2 Perhitungan Heart Reserve 4.2.1 Beban Kerja Kecepatan 1 Denyutnadi rata-rata saatmelakukankerja Denyutnadiawal Denyutnadimaksimum operator (pria) = 122,47denyut/menit = 87 denyut/menit = 220 Usia

DNK DNA DNmax

= 220 20 = 200 denyut/menit : Denyut nadi rata-rata saat kerja (denyut/menit) : Denyut nadi awal (denyut/menit) : Denyut nadi maksimum (denyut/menit)

% HRR
Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

30

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

= = 31,39 % 4.2.2 Beban Kerja Kecepatan 3 = 126,67 denyut/menit = 87 denyut/menit = 220 Usia

Denyutnadi rata-rata saatmelakukankerja Denyutnadiawal Denyutnadimaksimum operator (pria)

DNK DNA DNmax

= 220 20 = 200 denyut/menit : Denyut nadi rata-rata saat kerja (denyut/menit) : Denyut nadi awal (denyut/menit) : Denyut nadi maksimum (denyut/menit)

% HRR

= = = 35,11 %

4.2.3

Beban Kerja Kecepatan 6 = 135,20denyut/menit = 87 denyut/menit = 220 Usia

Denyutnadi rata-rata saatmelakukankerja Denyutnadiawal Denyutnadimaksimum operator (pria)

DNK DNA DNmax % HRR

= 220 20 = 200 denyut/menit : Denyut nadi rata-rata saat kerja (denyut/menit) : Denyut nadi awal (denyut/menit) : Denyut nadi maksimum (denyut/menit) = = = 42,65 %

4.3 Grafik Perbandingan Di bawah ini adalah tabel dan grafik perbandingan antara waktu dan denyut jantung pada saat bekerja dan pemulihan.
Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

31

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18
Tabel 4. Rekap Perhitungan Denyut Jantung

Kecepatan 1 3 6

VO2 Kerja 1,241 1,321 1,483

VO2 Pemulihan 0,695 0,734 1,131

KE 2,730 2,932 1,761

R 0 0 0

CVL (%) 31,39 35,11 42,65

HRR (%) 31,39 35,11 42,65

4.3.1 Grafik Perbandingan Semua Kecepatan Saat Melakukan Aktivitas

Perbandingan Denyut Jantung Kerja


Denyut jantung(Denyut/Menit) 160 140 120 100 80 60 40 20 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Waktu ke-(Menit) Gambar 4.1 Grafik Perbandingan Denyut Jantung Kerja Kecepatan 1 Kecepatan 3 Kecepatan 6

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

32

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

4.3.2

Grafik Perbandingan Semua Kecepatan Saat Pemulihan

Denyut Jantung(Denyut/Menit)

Perbandingan Denyut Jantung Pemulihan


140 120 100 80 60 40 20 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 waktu ke-(Menit) Gambar 4.2 Grafik Perbandingan Denyut Jantung Pemulihan Kecepatan 1 Kecepatan 3 Kecepatan 6

4.3.3

Grafik Heart Rate Terhadap Waktu Pada Saat Kerja Dari Data Kecepatan 1 Dan 3 Saat Melakukan Aktivitas

Perbandingan Waktu kerja Kecepatan 1 dan 3


Denyut Jantung (Denyut/menit) 160 140 120 100 80 60 40 20 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Menit Ke-

Kecepatan 1 Kecepatan 3

Gambar 4.3Grafik Perbandingan pada Waktu Kerja Kecepatan 1 dan 3

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

33

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

4.3.4

Grafik Heart Rate Terhadap Waktu Pada Saat Kerja Dari Data Kecepatan 3 Dan 6 Saat Melakukan Aktivitas

Perbandingan Waktu Kerja Kecepatan 3 dan 6


Denyut Jantung (Denyut/menit) 160 140 120 100 80 60 40 20 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Menit ke-

Kecepatan 3 Kecepatan 6

Gambar 4.4Grafik Perbandingan pada Waktu Kerja Kecepatan 3 dan 6

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

34

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

BAB V ANALISIS 5.1 Analisis Grafik Hasil Percobaan Fisiologi Berdasarkan grafik hasil percobaan fisiologi pada waktu kerja dapat dilihat bahwa pada tiap-tiap kecepatan tread millyaitu kecepatan 1, 3 dan 6 dihasilkan denyut jantung yang berbeda-beda. Untuk kecepatan tread mill 1 diperoleh denyut jantung ratarata 122,47 denyut/menit. Denyut jantung tertinggi terdapat pada menit ke 11 dan 14 yaitu 131 denyut/menit sedangkan denyut jantung terendah terdapat pada menit ke 1 yaitu 114 denyut/menit. Untuk kecepatan tread mill 3 diperoleh denyut jantung ratarata 126,67 denyut/menit. Denyut jantung tertinggi terdapat pada menit ke 15 yaitu 141 denyut/menit sedangkan denyut jantung terendah terdapat pada menit ke 1 yaitu 115 denyut/jantung. Untuk kecepatan tread mill 6 diperoleh denyut jantung rata-rata 135,20 denyut/menit. Denyut jantung tertinggi terdapat pada menit ke 4 yaitu 142 denyut/menit sedangkan denyut jantung terendah terdapat pada menit ke 1 yaitu 126 denyut/jantung.Dari ketiga hasil percobaan fisiologi untuk ketiga kecepatan berbeda dapat dilihat bahwa denyut jantung tertinggi terdapat pada menit akhir, hal ini menunjukan bahwa semakin lama bekerja maka semakin tinggi denyut jantung yang dihasilkan.Begitu pula semakin besar beban kerja maka semakin tinggi denyut jantung yang dihasilkan. Berdasarkan grafik hasil percobaan fisiologi pada waktu pemulihan dapat dilihat bahwa pada denyut jantung pada kondisi pemulihan untuk kecepatan tread mill1, 3 dan 6 dihasilkan denyut jantung yang berbeda-beda. Untuk kondisi pemulihan tread mill kecepatan 1 diperoleh denyut jantung rata-rata sebesar 93,73 denyut/menit. Denyut jantung tertinggi terdapat pada menit ke 13 yaitu 101 denyut/menit sedangkan denyut jantung terendah terdapat pada menit terakhir yaitu 88 denyut/menit. Untuk kondisi pemulihan tread mill kecepatan 6 diperoleh denyut jantung rata-rata sebesar 95,80denyut/menit. Denyut jantung tertinggi terdapat pada menit ke 1 yaitu 124 denyut/menit sedangkan denyut jantung terendah terdapat pada menit akhir yaitu 110 denyut/menit.
Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

35

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

Berdasarka grafik hasil percobaan fisiologi untuk kondisi pemulihan untuk kecepatan tread mill 1, 3 dan 6 dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat penurun denyut jantung hal ini menandakan terjadi penurunan beban kerja karena adanya waktu istirahat. 5.2 Analisis Penentuan Beban Kerja
Tabel 5.1 BebanKerja Berdasarkan Konsumsi Energy

Kecepatan KE (kkal/menit) Tingkat Pekerjaan 1 3 6 2,730 2,932 1,761 Light Light Very Light

CVL (%) 31,39 35,11 42,65

Untuk mentukan beban kerja dapat dilihat dari beberapa faktor yaitu konsumsi energy, waktu istirahat, dan 5 CVL. Pada perhitungan konsumsi, waktu istrahat dan % CVL hasilnya berbeda-beda untuk kecepatan tread mill1, 3, dan 6. Berdasarkan konsumsi energy beban kerja dibagi menjadi beberapa tingkatan yaitu very light, light, heavy, heavy, very heavy dan undully heavy. Berdasarkan % CVL beban kerja dibagi beberapa tingkatan kemungkinan terjadinya kelelahan yaitu tidak terjadi kelelahan (< 30%), diperlukan perbaikan (30% - 60%), kerja dalam waktu singkat (60% - 80%), diperlukan tindakan segera (80% - 100%), dan tidak diperbolehkan beraktivitas (> 100%). Untuk Tread mill kecepatan 1 operator mengkonsumsi energi sebesar 2,730 Kkal/menit sehingga diketahui bahwa beban kerja yang diterima operator dikategorikan pekerjaan ringan (light) karena besar konsumsi energy berada dalam rentang 2,5 Kkal/menit-5 Kkal/menit. Sedangkan berdasarkan persentase CVL untuk tread millkecepatan 1 beban kerja yang diterima operator dikategorikan sebagai pekerjaan yang perlu ada perbaikan baik itu di system maupun lainnya. Karena nilai persentase CVL berada pada rentang 30%-60% yaitu 31,39 %.

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

36

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

Untuk Tread mill kecepatan 3 operator mengkonsumsi energi sebesar 2,932 Kkal/menit sehingga diketahui bahwa beban kerja yang diterima operator dikategorikan pekerjaan ringan (light) karena besar konsumsi energy berada dalam rentang 2,5 Kkal/menit-5 Kkal/menit. Sedangkan berdasarkan persentase CVL untuk tread millkecepatan 3 beban kerja yang diterima operator dikategorikan sebagai pekerjaan yang perlu ada perbaikan baik itu di system maupun lainnya. Karena nilai persentase CVL berada pada rentang 30%-60% yaitu 35,11 %. Untuk Tread mill kecepatan 6 operator mengkonsumsi energi sebesar 1,761 Kkal/menit sehingga diketahui bahwa beban kerja yang diterima operator dikategorikan pekerjaan sangat ringan (very light) karena besar konsumsi energy kurang dari 2,5 Kkal/menit. Sedangkan berdasarkan persentase CVL untuk tread millkecepatan 6 beban kerja yang diterima operator dikategorikan sebagai pekerjaan yang perlu ada perbaikan baik itu di system maupun lainnya. Karena nilai persentase CVL berada pada rentang 30%-60% yaitu 42,65 %. 5.3 Analisis Heart Reserve
Tabel 5.2 Perbandingan HRR

Kecepatan HRR (%) 1 3 6 31,39 35,11 42,65

Heart Rate Reserve (HRR) adalah prosentase peningkatan denyut jantung yang potensial dari waktu istirahat sampai kerja maksimum. Untuk kecepatan tread mill 1 diperoleh prosentase HRR sebesar 31,39% sehingga dikategorikan pekerjaan yang membutuhkan perbaikan untuk mengurangi kelelahan operator. Untuk kecepatan tread mill 3 diperoleh prosentase HRR sebesar 35,11 sehingga dikategorikan pekerjaan yang
Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

37

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

membutuhkan perbaikan untuk mengurangi kelelahan operator. Begitu pula untuk kecepatan tread mill 6 diperoleh prosentase HRR sebesar 42,65 % sehingga dikategorikan pekerjaan yang membutuhkan perbaikan untuk mengurangi kelelahan operator. Dapat disimpulkan bahwa nilai HRR akan berbeda untuk beban kerja yang berbeda pula. Prosentase HRR dipengaruhi oleh rata-rata denyut jantung saat bekerja dan denyut jantung sebelum melakukan pekerjaan.Sehingga semakin besar selisih rata-rata denyut jantung saat bekerja dan denyut jantung awal maka semakin besar prosentase HRR.Prosentase HRR juga dipengaruhi oleh umur operator, semakin muda umur operator maka semakin besar pula prosentase HRR.Semakin besar prosentase HRR maka semakin besar pula tingkat kelelahan yang dialami operator. 5.4 Analisis Perbedaan yang Terjadi Pada Konsumsi Energi Maupun Lamanya Periode Pemulihan dan Kaitannya dengan Prestasi Total Rest Time serta Siklus Kerja Fisiologis
Tabel 5.3 Perbandingan konsumsi energi

Kecepatan KE (kkal/menit) 1 3 6 2,730 2,932 1,761

Berdasarkan perhitungan konsumsi energi untuk kecepatan tread mill1, 3 dan 6 dihasilkan nilai konsumsi energi yang berbeda-beda. Untuk kecepatan tread mill 1 operator mengkonsumsi energy sebesar 2,730 Kkal/menit yang diperoleh dari konsumsi energy selama kerja dikurangi konsumsi energy saat pemulihan. Konsumsi energy selama kerja (Et) sebesar 6,204 kkal/menit sedangkan konsumsi energy selama pemulihan

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

38

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

(Ei)sebesar3,475 kkal/menit. Dari nilai konsumsi energy dapat ditentukan waktu istirahat untuk operator sebesar 0.Hal ini karena nilai konsumsi energi lebih kecil dari Pengeluaran energi cadangan yang direkomendasikan (KE<S). Untuk kecepatan tread mill 3 operator mengkonsumsi energy sebesar 2,932 Kkal/menit yang diperoleh dari konsumsi energy selama kerja dikurangi konsumsi energy saat pemulihan. Konsumsi energy selama kerja (Et) sebesar 6,603 kkal/menit sedangkan konsumsi energy selama pemulihan (Ei) sebesar 3,671 kkal/menit. Dari nilai konsumsi energy dapat ditentukan waktu istirahat untuk operator sebesar 0.Hal ini karena nilai konsumsi energi lebih kecil dari Pengeluaran energi cadangan yang direkomendasikan (KE<S). Untuk kecepatan tread mill 6 operator mengkonsumsi energy sebesar 1,761 Kkal/menit yang diperoleh dari konsumsi energy selama kerja dikurangi konsumsi energy saat pemulihan. Konsumsi energy selama kerja (Et) sebesar 7,414 kkal/menit sedangkan konsumsi energy selama pemulihan (Ei) sebesar 5,653 kkal/menit. Dari nilai konsumsi energy dapat ditentukan waktu istirahat untuk operator sebesar 0.Hal ini karena nilai konsumsi energi lebih kecil dari Pengeluaran energi cadangan yang direkomendasikan (KE<S). Nilai total rest time untuk kecepatan tread mill1, 3 dan 6 dihasilkan nilai yang sama yaitu 0. Hal ini menandakan bahwa ketiga pekerjaan tersebut tidak dibutuhkan waktu istirahat atau dengan kata lain operator tidak mengalami kelelahan untuk beban kerja tersebut. 5.5 Analisis Perbedaan Rumus VO2 max Berdasarkan praktikum yang telah kami laksanakan, besarnya tingkat konsumsi oksigen yang dibutuhkan seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan dapat diketahui dengan menggunakan rumus : VO2 = 0.019HR 0.024h + 0.016w + 0.045a + 1.15 Dimana : VO2 : Konsumsi oksigen (liter/menit)
Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

39

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

HR : Denyut Jantung (denyut/menit) h w a : Tinggi badan (cm) : Berat badan (kg) : Usia (tahun)

Dari rumus di atas besarnya nilai konsumsi oksigen dipengaruhi oleh denyut jantung, tinggi badan operator, berat badan operator dan umur operator. Dari rumus di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Semakin tinggi denyut jantung maka semakin besar nilai konsumsi oksigen, semakin tinggi tinggi badan operator maka semakin kecil nilai konsumsi oksigen, semakin berat berat badan operator maka semakin besar pula nilai konsumsi oksigen, dan semakin tua usia operator maka semakin besar konsumsi oksigen yang dibutuhkan operator. Rumus di atas digunakan jika operator adalah seorang pria, jika operator adalah seorang wanita maka besarnya konsumsi energi yang dibutuhkan oleh operator dapat diketahui dengan menggunakan rumus : VO2 = 0,014 HR+ 0,017 w 1,706 Dimana: VO2 : Konsumsi oksigen (liter/menit) HR : Denyut jantung (denyut/menit) w : Berat badan (kg) dari rumus di atas dapat diambil kesimpulan bahwa besarnya konsumsi oksigen untuk operator wanita dipengaruhi oleh denyut jantung dan berat badan operator. Semakin tinggi denyut jantung maka semakin besar konsumsi oksigen yang dibutuhkan operator, begitu pula semakin berat berat badan operator maka semakin besar pula nilai konsumsi oksigen yang dibutuhkan operator. Dari kedua rumus di atas terdapat dua aspek yang sama yang mempengaruhi besarnya konsumsi oksigen yang dibutuhkan baik untuk operator pria maupun operator wanita yaitu denyut jantung dan berat badan
Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

40

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

operator. Yang membedakan penggunaan rumus di atas adalah berdasarkan jenis kelamin operator. 5.6 Manfaat Perhitungan Waktu Istirahat Total dengan Perancangan Kerja Manfaat dari perhitungan waktu istirahat adalah untuk mengurangi kelelahan setelah melakukan suatu pekerjaan sehingga energy yang sudah digunakan saat bekerja pulih kembali sehingga pekerja dapat tetap bekerja dengan optimal dan produktivitas tidak menurun.Dalam suatu perancangan kerja perhitungan waktu istirahat sangat penting karena waktu istirahat sangat mempengaruhi performansi dan efektivitas pekerja dalam melakukan suatu pekerjaan.Waktu istirahat harus disesuaikan dengan beban kerja yang diterima oleh pekerja sehingga pekerja tidak mengalami kelelahan. Waktu istirahat ditentukan dari besarnya konsumsi energi yang dibutuhkan oleh pekerja dalam melakukan suatu pekerjaan.Semakin besar konsumsi energi maka semakin banyak pula waktu istirahat yang harus diberikan kepada pekerja. Semakin besar konsumsi energi menunjukan bahwa semakin besar pula beban kerja yang diterima pekerja, sehingga waktu istirahat yang diberikan kepada pekerja akan semakin lama.

5.7

Analisis Hubungan antara Beban Kerja Tingkat Konsumsi Energi dan % CVL Beban kerja yang diterima oleh operator dapat diketahui dari besarnya konsumsi energy yang dibutuhkan operator dalam melakukan suatu pekerjaan. Berdasarkan perhitungan konsumsi energy diperoleh hasil yang berbeda-beda untuk tread millkecepatan 1, 3 dan 6. Hal ini dikarenakan beban kerja yang diterima operator berbeda pula. Untuk tread millkecepatan 1 diperoleh nilai konsumsi energy sebesar 2,730 Kkal/menit sehingga dikategorikan dalam beban kerja yang ringan karena nilai konsumsi energi berada pada rentang 2,5 Kkal/menit 5 Kkal/menit. Begitu pula untuk kecepatan tread mill3 diperoleh nilai konsumsi energy sebesar 2,932 Kkal/menit sehingga dikategorikan ke

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

41

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

dalam beban kerja yang ringan karena nilai konsumsi energy berada pada rentang 2,5 Kkal/menit 5 Kkal/menit. Untuk kecepatan tread mill6 diperoleh nilai konsumsi energy sebesar 1,761 Kkal/menit sehingga dikategorikan ke dalam beban kerja yang sangat ringan karena nilai konsumsi energy berada pada rentang < 2,5 Kkal/menit. Dari perhitungan konsumsi energy untuk kecepatan tread mill1, 3 dan 6 dapat diambil kesimpulan bahwa operator menerima beban kerja yang ringan sehingga tidak menimbulkan kelelahan. Persentase CVL dapat digunakan sebagai parameter apakah beban kerja yang diterima oleh operator dapat menyebabkan kelelahan atau tidak. Dari perhitungan persentase CVL untuk kecepatan tread mill1, 3 dan 6 dihasilakan nilai yang berbeda-beda. Persentase CVL untuk kecepatan tread mill1, 3 dan 6 adalah 31,39 %, 35,11 % dan 42,65 %. Hal ini menun jukan bahwa beban kerja yang diterima oleh operator membutuhkan perbaikan karena jika pekerjaan ini dilakukan terus menerus dana dalam jangka waktu yang lama maka akan mengakibatkan kelelahan. Dari nilai persentase CVL dapat diambil kesimpulan bahwa semakin besar nilai persentase CVL maka semakin besar pula beban kerja yang diterima oleh operator.

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

42

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

BAB VI PENUTUP 6.1 Kesimpulan 1. Lama waktu istirahat total (total rest time) dapat ditentukan berdasarkan besarnya konsumsi energi dan persentase CVL yang dibutuhkan operator saat melakukan pekerjaan. Pada kecepatan tread mill1, 3 dan 6 diperoleh waktu istirahat yang sama yaitu 0. Hal ini menyatakan bahwa beban kerja yang diterima operator ringan sehingga operator tidak

membutuhkan waktu istirahat. 2. Besarnya konsumsi energy yang dibutuhkan operator saat melakukan pekerjaan dipengaruhi oleh denyut jantung, tinggi badan, berat badan dan usia. Konsumsi energy untuk kecepatan tread mill1, 3 dan 6 adalah 2,730 Kkal/menit; 2,932 Kkal/menit; dan 1,761 Kkal/menit. 3. Beban kerja dapat diketahui berdasarkan konsumsi energy yang dibutuhkan oleh operator dalam melakukan suatu pekerjaan dan persentase CVL. Beban kerja dikategorikan dalam beberapa tingkatan yaitu very light, light, moderate, heavy, very heavy danundully heavy. Konsumsi energy untuk kecepatan tread mill1 dan 3 adalah 2,730 Kkal/menit dan 2,932 Kkal/menit sehingga dikategorikan beban kerja yang ringan, sedangkan untuk kecepatan tread mill 6 konsumsi energi sebesar 1,761 Kkal/menit sehingga dikategorikan ke dalam beban kerja yang sangat ringan. 4. Grafik hubungan antara intensitas beban kerja dengan heart rate dan waktu pemulihan menunjukan bahwa semakin tinggi beban kerja maka semakin tinggi pula heart rate (denyut jantung). Begitu pula semakin lama waktu pemulihan maka semakin cepat pula denyut jantung kembali ke posisi awal sebeum bekerja.

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

43

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 3A Fisiologi Kerja Kelompok 18

6.2

Saran Adapun saran yang diberikan dalam praktikum ini adalah : 1. Dalam praktikum ini, operator yang melakukan tread mill dipilih yang memiliki postur tubuh yang ideal dan dalam kondisi yang prima. 2. Ketika melakukan tread mill operator harus fokus dan tenang. 3. Sebaiknya sebelum melakukan tread mill, dipastikan alat pengukur denyut jantung yang digunakan berfungsi dengan baik dan dipahami karena itu akan berpengaruh terhadap penentuan denyut jantung pemulihan. 4. Dalam melakukan tread mill, sebaiknya pencatatan denyut jantung harus benar-benar tepat dan sesuai waktu yang diberikan agar pengolahan data lebih akurat.

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 2012

44