Anda di halaman 1dari 30

1

BAB I
PENDAHULUAN
Pakan adalah suatu bahan pakan atau campuran bahan pakan yang
dimakan hewan atau ternak serta mengandung energi, protein, dan nutrien lainnya
yang dibutuhkan oleh ternak serta tidak membahayakan untuk ternak. Analisis
proksimat merupakan cara analisis kimia bahan pakan berdasarkan atas komposisi
kimia dan kegunaannya, dari analisis proksimat dapat diketahui enam macam
fraksi yaitu kadar air, kadar abu, kadar protein kasar, kadar lemak kasar, kadar
serat kasar dan kadar bahan ekstra tanpa nitrogen (BETN). Analisis proksimat
dulu dikenal dengan analisis Weende yang berarti hasilnya hanya mendekati
sempurna.
Praktikum ilmu nutrisi ternak bertujuan untuk menganalisis proksimat,
mengetahui kandungan nutrisi dalam sampel bahan pakan. Manfaat praktikum
analisis proksimat adalah mengetahui kadar air, kadar abu, kadar protein kasar,
kadar lemak kasar, kadar serat kasar dan kadar bahan ekstra tanpa nitrogen
(BETN) dari bahan pakan daun gamal.






2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Bahan Pakan
Pakan adalah bahan yang dimakan dan dicerna oleh seekor hewan yang
mampu menyajikan hara atau nutrien yang penting untuk perawatan tubuh,
pertumbuhan, penggemukan, reproduksi (birahi, konsepsi, kebuntingan) serta
produksi susu (Blakely dan Bade, 1992). Bahan pakan adalah bahan yang dapat
dimakan, dicerna dan digunakan oleh hewan. Bahan makanan ternak terdiri dari
tanaman, hasil tanaman dan kadang-kadang juga bahan makanan yang berasal dari
ternak atau hewan yang hidup di laut (Tillman et al., 1998).
Gamal mempunyai kualitas yang sangat bervariasi tergantung pada umur,
lingkungan, bagian tanamannya, cuaca dan genotif. Kandungan proteinnya sekitar
18,8%, yaitu dimana kandungan protein ini akan menurun dengan bertambahnya
umur, namun demikian kandungan serat kasarnya akan mengalami peningkatan.
Daun gamal mempunyai palatabilitas rendah dikarenakan baunya yang
spesifik (Mathius et al., 1984). Bau yang spesifik daun gamal berasal dari
senyawa coumarin, sehingga untuk mengatasi hal tersebut dapat dilakukan
dengan pelayuan daun gamal sebelum diberikan pada ternak (Sutikno dan
Supriyadi, 1995). Palabilitas dari daun gamal merupakan masalah karena adanya
kandungan antinutrisi flavano 1 - 3,5% dan total phenol sekitar 3 - 5%
berdasarkan berat kering (Nahrowi, 2008). Kandungan nutrien yang terkandung
3

dalam daun gamal adalah KA 12,63%; BK 87,37%; PK 25,60%; SK 17,39%; LK
3,82%; BETN 44,24%; Abu 8,95%; Ca 2,24%; P 0,26 (Despal, 1993).
2.2. Analisis Proksimat
Analisis proksimat merupakan analisis yang digunakan untuk mengetahui
kadar nutrisi bahan pakan dengan prinsip mendekati nilai yang sebenarnya. Proses
pengeringan bahan pakan dengan dijemur memiliki kelemahan, yaitu proses
pengeringan akan berlangsung lambat sehingga kemungkinan terjadi proses
oksidatif maupun pembusukan oleh mikroorganisme. Kelemahan analisis
proksimat diantaranya yaitu terdapat VFA yang ikut menguap dalam pengovenan
dengan suhu 105 - 110
0
C sehingga terhitung dalam kadar air, pada proses tanur
terdapat pula bahan organik yang turut terlarut dan menjadi abu, vitamin larut
dalam analisis lemak kasar, nitrogen bukan protein ikut tertangkap dan terhitung
dalam kadar protein kasar serta tidak semua serat kasar terlarut pada analisis serat
kasar. Oleh karena kelemahan tersebut, maka analisis ini disebut sebagai analisis
proksimat (Kartadisastra, 1997). Pengujian kimia yang umum dilakukan pada
pakan ayam broiler adalah air, abu, protein kasar, lemak kasar, serat kasar,
kalsium dan fosfor. Pengujian kimia masih menjadi metode uji yang akurat untuk
memberikan hasil uji suatu produk (Amrullah 2004).

2.2.1. Kadar air
Setiap bahan pakan yang paling kering sekalipun, masih terdapat
kandungan air walaupun dalam jumlah yang kecil (Defano, 2000). Kadar air suatu
4

bahan pakan dapat diketahui bila bahan pakan tersebut dipanaskan atau
dikeringkan pada suhu 105 110
o
C (Tillman et al., 1998).

2.2.2. Kadar abu
Kadar abu dalam bahan pakan merupakan sisa pembakaran dalam tanur
pada suhu 400 - 600
o
C. Bahan pakan yang dipanaskan pada temperatur 600
o
C
selama 4 - 6 jam akan menghasilkan abu dan sejumlah zat anorganik yang
terkandung di dalam bahan pakan (Kartadisastra, 1997). Kombinasi unsur-unsur
mineral dalam bahan makanan berasal dari tanaman sangat bervariasi sehingga
nilai abu tidak dapat dipakai sebagai indeks untuk menentukan jumlah unsur
mineral tertentu atau kombinasi unsur-unsur yang penting (Tillman et al., 1998).
2.2.3. Serat kasar
Penetapan karbohidrat dalam proses analisis bahan makanan dibagi
menjadi dua golongan yaitu serat kasar dan BETN (Tillman et al., 1991).
Perbedaan kadar serat kasar dipengaruhi oleh komposisi kimia Gliricidia sepium
bervariasi sesuai dengan umur, bagian tanaman, musim dan tipe jenis. Semakin
dewasa tanaman maka tingkat protein kasar semakin berkurang dan serat kasarnya
semakin bertambah (Brewbaker et al., 1996).
2.2.4. Protein kasar
Kadar protein bahan pakan dapat diketahui dengan menentukan kadar N
secara kimiawi. Angka yang diperoleh tersebut dikalikan dengan faktor 6,25.
5

Faktor tersebut digunakan karena zat N mewakili kira-kira 16% dari jumlah
protein yang ada (Anggorodi, 1997). Kadar protein kasar dipengaruhi oleh
beberapa faktor seperti species, perbedaan umur tanaman, dan bagian tanaman
yang dianalisis, selain itu semakin tua umur tanaman maka kadar protein kasarnya
semakin berkurang (Kamal, 1999).

2.2.5 Lemak kasar
Lemak yang didapatkan dari analisis lemak ini bukan lemak murni. Selain
mengandung lemak sesungguhnya, ekstrak eter juga mengandung waks (lilin),
asam organik, alkohol, dan pigmen, oleh karena itu fraksi eter untuk menentukan
lemak tidak sepenuhnya benar (Anggorodi, 1997). Penetapan kandungan lemak
dilakukan dengan N-hexan sebagai pelarut. Fungsi dari N-hexan adalah untuk
mengekstraksi lemak atau untuk melarutkan lemak, sehingga merubah warna dari
kuning menjadi jernih (Mahmudi, 1997).

2.2.6. Bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN)
BETN suatu senyawa terdiri dari zat-zat monosakarida, disakarida, dan
polisakarida yang mudah larut dalam larutan asam dan basa serta serat kasar
mempunyai daya cerna yang tinggi (Anggorodi, 1997). Zat tersebut mempunyai
kandungan energi yang tinggi sehingga digolongkan dalam makanan sumber
energi yang tidak berfungsi spesifik. Kadar BETN adalah 100% dikurangi kadar
abu, protein, lemak kasar dan serat kasar, maka nilainya tidak selalu tepat serta
dapat dipengaruhi oleh kesalahan analisa dari zat-zat lain (Tillman et al., 1998)
6

BAB III
MATERI DAN METODE
Praktikum Ilmu Nutrisi Ternak dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 7
April 2013 pukul 05.30 - 22.30 WIB dan hari Senin tanggal 8 April 2013 pukul
05.30 - 21.30 WIB di Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Pakan Fakultas Peternakan
dan Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang.
3.1. Materi

Materi dalam praktikum ilmu nutrisi ternak menggunakan daun gamal yang
telah dikeringkan dan diblender menjadi tepung sebanyak 100 gram setelah
dilakukan sampling, H
2
SO
4
, H
3
BO
4
4%, indikator fenolftalein, NaOH 45 %, HCl
0,1 N dan aquades. Alat yang digunakan dalam praktikum protein kasar adalah
timbangan analitis untuk menimbang sampel dengan toleransi sebesar 0,00009,
oven berfungsi untuk proses pengeringan bahan pakan dan mengeringkan
peralatan-peralatan laboratorium, corong berfungsi untuk memindahkan suatu zat
cair dari satu tabung ke tabung yang lainnya lagi, gelas ukur berfungsi untuk
mengukur bahan yang berbentuk zat cair, labu erlenmenyer berfungsi untuk
mencampurkan larutan, baik yang berukuran 250 ml ataupun 500 ml, buret
berfungsi sebagai tempat zat titer dalam penentuan protein kasar (pada proses
titrasi) dan sebagai alat untuk kontrol angka titrasi, gelas beker berfungsi sebagai
tempat penyimpanan larutan dalam kapasitas yang kecil dan mempermudah
dalam penuangan larutan dengan intensitas yang kecil, labu destruksi berfungsi
sebagai tempat untuk mendistruksikan sampel dan sebagai media untuk proses
7

penentuan protein kasar, khususnya dalam tahap destruksi, dan kompor listrik
berfungsi untuk memanaskan bahan yang akan diuji coba, crussibel porselin,
oven, eksikator, dan tanur listrik.
3.2. Metode
3.2.1. Analisis kadar air
Mempersiapkan sampel yang akan di analisis secara proksimat
menggunakan alat yang akan digunakan. Mencuci bersih botol timbang yang telah
dikeringkan di dalam oven selama 1 jam pada suhu 105 110
o
C. Memasukan
dalam eksikator selama 15 menit. Menimbang sampel sebanyak + 1 gram,
memasukan sampel ke dalam botol timbang. Mengeringkan di dalam oven selama
4 6 jam, pada suhu 105 - 110
o
C. Mendinginkan di dalam eksikator selama 15
menit dan menimbang kembali berat sampel (dihitung sebagai berat setelah oven).
Proses pengeringan dilakukan 3 x 1 jam hingga beratntya mencapai konstan
(selisih penimbangan 0,2 mg). Menghitung kadar air dengan rumus :
(Berat botol timbang berat sampel sesungguhnya - berat setelah oven
Berat sampel sesungguhnya
x 100
3.2.2. Analisis kadar abu
Mencuci crussible porselin hingga bersih dan mengeringkan di dalam
oven pada suhu 105 110
o
C selama 1 jam, kemudian mendinginkan di dalam
eksikator selama 15 menit setelah itu menimbangnya. Menimbang sampel
sebanyak + 1 gram dan dimasukan ke dalam crussible porselin, setelah itu
memijarkan sampel ke dalam tanur listrik selama 4 jam dengan suhu 600
o
C
8

hingga menjadi abu semua. Menunggu suhu turun hingga 120
o
C dan
mengangkat crussible porselin dari tanur kemudian mendinginkan dalam
eksikator selama 15 menit, menimbang kembali beratnya (dihitung sebagai berat
setelah tanur), menghitung kadar abu dengan rumus :
( Berat setelah tanur) (berat )
Berat sampel sesungguhnya
x 100
3.2.3 Analisis serat kasar
Memasukkan labu erlenmeyer, beker gelas yang telah dicuci dan kertas
saring whatman ke dalam oven selama 1 jam pada suhu 105 - 110
0
C.
Memasukkan sampel daun gamal 1 gram ke dalam labu erlenmeyer kemudian
menambahkan 50 ml H
2
SO
4
0,3 N dan memasaknya hingga mendidih selama 30
menit. Menambahkan larutan 25 ml NaOH 1,5 N ke dalam gelas beker kemudian
memasaknya hingga mendidih selama 30 menit. Menyaring cairan tersebut
dengan kertas saring yang telah dipasang pada corong buchner. Mengeringkan
kertas saring dalam oven pada suhu 105 110 C selama 1 jam, kemudian
mendinginkan dalam eksikator selama 15 menit kemudian timbang. Menyaring
sampel dengan labu penghisap kemudian mencuci berturut-turut dengan 50 ml air
panas, 50 ml H
2
SO
4
0,3 N, 50 ml air panas, dan 25 ml aseton. Memasukkan kertas
saring beserta isinya dalam crusible poselin dan mengeringkannya dalam oven
pada suhu 105 110
0
C selama 1 jam, kemudian mendinginkannya dalam
eksikator selama 15 menit dan menimbang beratnya. Memasukkan kertas saring
beserta isinya dalam crusible porselin ke dalam tanur pada suhu 105 110
0
C
9

selama 1 jam. Kemudian mendinginkan di dalam eksikator selama 15 menit dan
timbang beratnya (dihitung sebagai berat setalah oven). Kertas saring dan isinya
yang ada dalam crussible porselin tersebut dipijarkan kembali di dalam tanur
listrik pada suhu 400 600
0
C selama 4 6 jam, lalu dinginkan di dalam eksikator
selama 15 menit dan ditimbang beratnya (dihitung sebagai berat setelah tanur).
Menghitung kadar serat kasar dengan rumus :
Berat setelah oven berat setelah tanur berat kertas saring
Berat sampel sesungguhnya
x 100
3.2.4. Analisis protein kasar
Menimbang sampel seberat 1 gram kemudian memasukkan dalam labu
destruksi, menimbang katalisator masingmasing seberat 1 gram dan mencampur
ke dalam labu destruksi, menambahkan H
2
SO
4
pekat sebanyak 15 ml kemudian di
destruksi dalam lemari asam hingga berubah menjadi hijau jernih lalu menunggu
hingga dingin, melakukan proses destilasi dengan menggunakan penangkap
H
3
BO
3
4% sebanyak 20 ml dan memberikan 2 tetes indikator MR dan MB.
Sampel yang telah didestruksi kemudian dimasukkan kedalam labu destilasi dan
ditambahkan 50 ml aquades dan 40 ml NaOH 45 %, melakukan destilasi sampai
penangkap berubah menjadi warna dari ungu menjadi hijau. Menitrasi hasil
destilasi dengan menggunakan HCl 0,1 N sampai berubah menjadi warna ungu,
dan menghitung kadar protein dengan rumus :
( titran sampel blangko ) x N HCl x 0,014 x 6,25
Berat sampel sesungguhnya
x 100

10

3.2.5. Analisis lemak kasar
Metode yang dilakukan dalam analisis kadar lemak kasar adalah dengan
cara menimbang kertas saring yang berbentuk kotak dengan menggunakan
timbangan analitis. Menimbang sampel sebanyak 1 gram pada kertas saring.
Kemudian memasukkan sampel yang telah ditimbang dalam kertas saring
kedalam oven selama 6 jam pada suhu 105 110
0
C. Mendinginkan sampel yang
telah diambil dari oven kedalam eksikator selama 15 menit dan menimbang
beratnya sebagai berat setelah oven 1. Memasukkan sampel dalam soxhlet yang
telah terpasang dalam waterbath, kemudian menuangkan larutan N-hexan dan
memasang pendingin tegak yang dialiri dengan air dingin, lalu menyaring dengan
N-hexan dalam soxhlet selama 10 x sirkulasi dengan menghitung waktu per
sirkulasi. Mengeluarkan sampel dari soxhlet dan mengangin-anginkan sampai
tidak berbau N-hexan, setelah tidak berbau lagi, memasukkan sampel kedalam
oven selama 2 jam pada suhu 105 110
0
C. Mendinginkan sampel kedalam
eksikator selama 15 menit dan menimbang kembali sebagai berat setelah oven.
Menghitung kadar lemak kasar dengan rumus :

Berat setelah oven 1 berat kertas saring
x 100
3.2.6. Analisis BETN
Bahan ekstrak tanpa nitrogen diperoleh dari hasil kurang dari seratus
dikurangi kadar abu, protein kasar, lemak kasar dan serat kasar, rumus:
BETN = 100 (Kadar Abu + PK + LK + SK)
11

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Praktikum
Tabel 1. Hasil Analisis Proksimat
Sumber: Data Primer Praktikum Ilmu Nutrisi Ternak, 2013.
* Hasil perhitungan analisis proksimat
** Despal, 1993
4.2. Pembahasan
4.2.1. Kadar air
Berdasarkan hasil praktikum analisis proksimat diperoleh bahwa kandungan
kadar air dalam daun gamal yaitu sebesar 18,28%. Hal ini tidak sesuai dengan
pendapat Despal (1993) bahwa kadar air hasil analisis proksimat daun gamal
adalah 12,63%. Perbedaan ini dikarenakan bahan pakan yang akan dijadikan berat
kering mengalami pengeringan yang kurang maksimal, sehingga air yang
terkandung dalam sampel masih cukup tinggi. Hal ini sesuai dengan pendapat
Defano (2000) bahwa setiap bahan pakan yang paling kering sekalipun, masih
terdapat kandungan air walaupun dalam jumlah yang kecil. Penentuan kadar air
Komponen Proksimat
Hasil Analisis* Literatur**
----------------------------%---------------------------
Air 18,28 12,63
Abu 13,39 8,95
Protein Kasar 21,91 25,60
Lemak Kasar 9,1 3,82
Serat Kasar 31,78 17,39
BETN 23,82 44,25
12

dalam bahan kering dapat dilakukan dengan mengoven sampel bahan pakan
selama 4 jam dengan suhu kisaran 105 - 110
o
C. Hal ini sesuai dengan pendapat
Tillman et al., (1998) bahwa kadar air suatu bahan pakan dapat diketahui bila
bahan pakan tersebut dipanaskan atau dikeringkan pada suhu 105 110
o
C.
4.2.2. Kadar abu
Berdasarkan hasil praktikum yang diperoleh kadar abu hasil analisis
proksimat sebesar 13,39%. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Despal (1993)
bahwa kadar abu hasil analisis proksimat daun gamal adalah 8,95%. Perbedaan ini
di mungkinkan dalam pengambilan daun yang akan digunakan sebagai sampel
memiliki umur yang berbeda, sehingga unsur-unsur yang terkandung didalamnya
juga berbeda. Hal ini sesuai dengan pendapat Tillman et al., (1998) bahwa
kombinasi unsur-unsur mineral dalam bahan makanan berasal dari tanaman sangat
bervariasi sehingga nilai abu tidak dapat dipakai sebagai indeks untuk
menentukan jumlah unsur mineral tertentu atau kombinasi unsur-unsur yang
penting. Penentuan kadar abu dalam bahan kering, dilakukan dengan
menggunakan tanur listrik selama 4 jam dengan suhu 600
o
C. Hal ini sesuai
dengan pendapat Kartadisastra (1997) bahwa abu dalam bahan pakan merupakan
sisa pembakaran dalam tanur pada suhu 400 - 600
o
C.
4.2.3. Serat kasar
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh bahwa kadar serat kasar setelah
dianalisis sebesar 31,78%. Hasil analisis proksimat tersebut masih diatas dari hasil
13

literatur. Menurut Despal (1993) serat kasar dari analisis proksimat daun gamal
adalah 17,39%. Perbedaan ini dimungkinkan umur daun yang dijadikan sampel
berbeda, sehingga unsur-unsur mineral yang terkandung berbeda. Hal ini sesuai
dengan pendapat Brewbaker et al., (1996) bahwa perbedaan kadar serat kasar
dipengaruhi oleh komposisi kimia Gliricidia sepium bervariasi sesuai dengan
umur, bagian tanaman, musim dan tipe jenis. Semakin dewasa tanaman maka
serat kasarnya semakin bertambah. Perhitungan serat kasar merupakan bagian dari
penentuan kadar karbohidrat dari suatu bahan pakan. Hal ini sesuai dengan
pendapat Tillman et al., (1991) bahwa penetapan karbohidrat dalam proses
analisis bahan makanan dibagi menjadi dua golongan yaitu serat kasar dan bahan
ekstrak tanpa nitrogen (BETN).
4.2.4. Protein kasar
Berdasarkan hasil praktikum yang diperoleh dari praktikum analisis
proksimat kadar protein kasar yaitu 21,91%. Hasil analisis proksimat tidak sesuai
dengan hasil dari literatur. Menurut Despal (1993) protein kasar dari analisis
proksimat daun gamal adalah 25,60%. Perbedaan ini dikarenakan pengambilan
daun yang berbeda, semakin tua daun yang dipanen maka kadar protein kasar
daun gamal akan berkurang. Hal ini sesuai dengan pendapat Kamal (1999) bahwa
kadar protein kasar dipengaruhi oleh faktor species, perbedaan umur tanaman, dan
bagian tanaman yang dianalisis. Semakin tua umur tanaman maka kadar protein
kasarnya semakin berkurang. BPTP Sulawesi Selatan (2003) menambahkan
14

bahwa gamal merupakan tanaman yang baik untuk diberikan kepada ternak
kambing karena mempunyai kandungan protein yang tinggi 23,5%.
Kadar protein dihitung dengan mengalikan 6,25 yang mana N sampel
diasumsikan sebesar 16%. Hal ini sesuai dengan pendapat Anggorodi (1997)
bahwa kadar protein bahan pakan dapat diketahui dengan menentukan kadar N
secara kimiawi. Angka yang diperoleh tersebut dikalikan dengan faktor 6,25.
Faktor tersebut digunakan karena zat N mewakili kira-kira 16% dari protein.
4.2.5. Lemak kasar
Kadar lemak kasar dianalisis dengan jalan mengekstraksikan sampel
tersebut dalam N-hexan. Hasil analisis proksimat lemak kasar diperoleh 9,1%.
Menurut Despal (1993) lemak kasar dari analisis proksimat daun gamal adalah
3,82%. Kadar lemak kasar hasil analisis proksimat cukup tinggi dibandingkan
dengan literatur, hal ini dikarenakan hasil yang diperoleh bukanlah kadar lemak
sesungguhnya melainkan campuran dari berbagai zat, sehingga disebut lemak
kasar. Hal ini sesuai dengan pendapat Anggorodi (1997) yaitu selain mengandung
lemak sesungguhnya, ekstract eter juga mengandung waks (lilin), asam organik,
alkohol, dan pigmen, oleh karena itu fraksi eter untuk menentukan lemak tidak
sepenuhnya benar. Penetapan kandungan lemak dilakukan dengan N-hexan
sebagai pelarut. Hal ini sesuai dengan pendapat Mahmudi (1997) yaitu fungsi dari
N-hexan adalah untuk mengekstraksi lemak atau untuk melarutkan lemak,
sehingga merubah warna dari kuning menjadi jernih.
15

4.2.6. Bahan ekstrak tanpa nitrogen
Kadar bahan ekstrak tanpa nitrogren (BETN) 32,92%, nilai tersebut tidak
sesuai dengan pendapat Despal (1993) bahwa kandungan BETN yang terdapat
dalam daun gamal adalah sebesar 44,24%. Hal ini bisa terjadi karena dapat
dipengaruhi oleh kesalahan hasil analisa dari zat-zat lain. Ini sesuai dengan
pendapat Tillman et al., (1998) yang menyatakan bahwa kadar BETN adalah
100% dikurangi kadar abu, protein, lemak kasar dan serat kasar, maka nilainya
tidak selalu tepat serta dapat dipengaruhi oleh kesalahan analisis dari zat-zat lain.










16

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum Ilmu Nutrisi Ternak, dapat disimpulkan bahwa
Analisis Proksimat merupakan salah satu cara dalam mengetahui kandungan
nutrien yang ada dalam bahan pakan. Daun gamal yang dianalisis proksimat
diperoleh kandungan nutrisi yaitu kadar air 18,28%, kadar abu 13,39%, protein
kasar 21,91%, lemak kasar 6,74%, serat kasar 31,78%, dan BETN 32,92 %. Hasil
analisis proksimat belum sesuai dengan literatur yang ada, hal ini disebabkan
karena banyak faktor, seperti daun yang dianalisis memiliki umur yang berbeda,
dan kurang maksimalnya penjemuran.
5.2. Saran
Praktikum seharusnya dilakukan diluar jam kuliah, sehingga praktikum dan
kuliah dapat berjalan lancar tanpa ada yang ditinggalkan dan menjadi efektif.






17

DAFTAR PUSTAKA
Amrullah, L. K. 2004. Nutrisi Ayam Broiler. Lembaga Satu Gunung Budi,
Bogor.

Anggorodi, R. 1997. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT Gramedia, Jakarta.

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP). 2003. Pemberian Daun Gamal
pada Kambing. Litbang Deptan, Makassar.

Blakely J, Bade DH. 1992. Ilmu Peternakan. Edisi Ke-empat. Terjemahan B.
Srigandono. UGM-Press, Yogyakarta.

Brewbaker, J., P.cheeke, N. Glover, C. Hughses, D. Kass, M. Kass, B. Scibert,
J. stewart, S. Sumberg and F. Wiersum.1996. Glicirida : Produksi dan
Manfaat (diterjemahkan oleh Emmanuel Keffi). Asia Pasific Agroforesty
Network Secretariat, Bogor.

Defano. 2000. Ilmu Makanan Ternak. Gajah Mada University Press Fakultas
Peternakan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Despal. 1993. Evaluasi Nutrisi Daun Kembang Sepatu. IPB, Bogor.

Kamal, Muhammad. 1999. Nutrisi Ternak Dasar. Laboratorium Makanan Ternak
Jurusan nutrisi dan Makanan ternak Fakultas Peteranakan UGM,
Yogyakarta.

Kartadisastra, H.R. 1997. Penyedia dan Pengelolaan Pakan Ternak Ruminansia
Sapi, Kerbau, Domba, Kambing. Kanisius, Yogyakarta.

Mahmudi, M. 1997. Penurunan Kadar Limbah Sintesis Asam Fosfat
Menggunakan Cara Ekstraksi Cair-Cair dengan Solven Campuran
Isopropanol dan n-Heksan. Semarang: Universitas Diponegoro.

Mathius, I. W., J. E Van Eys dan M. Rangkuti, 1984. Penggunaan
Campuran Rumput Gajah dan Daun Singkong Kering dengan
Penambahan Tepung Jagung atau Dedak Padi oleh Domba dan
Kambing yang sedang Tumbuh. Proceeding.Pertemuan Ilmiah
Penelitian Ruminansia Kecil. Nopember 1983. Puslitbang Peternakan
Bogor. Hal: 72 76.

Nahrowi. 2008. Pengetahuan Bahan Pakan. Nutri Sejahtra Press, Bogor.

Sutikno, I., dan Supriyadi. 1995. Coumarin dalam Daun Glirisidia. Ilmu dan
Peternakan 8(2) : 44-48.
18


Tillman, Hartadi, H, Reksohadiprodjo, Prawirokusumo dan Lebdosoekodjo. 1991.
Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

Tillman, Hartadi, H, Reksohadiprodjo, Prawirokusumo dan Lebdosoekodjo. 1998.
Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.








































19

LAMPIRAN
Lampiran 1. Perhitungan Kadar Air
Tabel 2. Analisis Kadar Air
Kode
Berat botol
timbang
Berat
sampel
Berat kertas
minyak awal
Berat kertas
minyak akhir
Berat setelah di
oven
-------------------------------------------g---------------------------------------------
2.1 23,6071 1,0007 0,3259 0,3278 24,4275
2.2 21,7611 1,0007 0,3118 0,3141 22,5729
Sumber: Data Primer Praktikum Ilmu Nutrisi Ternak, 2013.
Air (2.1) berat sampelberat kertas minyak awal-berat kertas minyak akhir
1,0007 gram 0,3259 gram - 0,3278 gram
1,3266 gram - 0,3278 gram
0,9988 gram
Air (2.2) berat sampelberat kertas minyak awal-berat kertas minyak akhir
1,0007 gram 0,3118 gram - 0,3141 gram
1,3125 gram - 0,3141 gram
0,9984 gram
Kadar Air(2.1)

berat botol timbangberat sampel sesungguhnya-berat setelah oven
berat sampel sesungguhnya
x 100

23,6071 0,9988 - 24,4275
0,9988
X 100

24,6059 24,4275
0,9988
X 100

20

Lampiran 1. (Lanjutan)

0,1784
0,9988
X 100
0,17861 X 100
17, 86

Kadar Air (2.2)

berat botol timbangberat sampel sesungguhnya-berat setelah oven
berat sampel sesungguhnya
x 100

21,7611 0,9984 - 22,5729
0,9984
X 100

22,7595 - 22,5729
0,9984
X 100

0,1866
0,9984
X 100
0,18689 X 100
= 18,69%

kadar air (2.1) kadar air (2.2)
2


17,86 18,69
2


36,551
2

18,28
100 - rata-rata kadar air
100 - 18,28
81,72
21

Lampiran 2. Perhitungan Kadar Abu
Tabel 3. Analisis Kadar Abu
Kode
Berat Crussibel
Porselin
Berat
sampel
Berat kertas
minyak awal
Berat kertas
minyak akhir
Berat setelah di
oven
-------------------------------------------g---------------------------------------------
2.1 18,0704 1,0000 0,3022 0,3030 18,1792
2.2 19,8853 1,0008 0,3009 0,3007 19,9955
Sumber: Data Primer Praktikum Ilmu Nutrisi Ternak, 2013.
Abu 2.1
Sampel sesungguhnya = (berat sampel + KM awal) KM akhir
= (1,0000 + 0,3022) 0,3030
= 0,9992 gram

Berat setelah tanur - Berat crussibel porselin
Berat sampel sesungguhnya
x 100

18,1792 - 18,0704
0,9992
x 100

0,1088
0,9992
x 100
10,89
Abu 2.2
Sampel sesungguhnya = (berat sampel + KM awal) KM akhir
= (1,0008 + 0,3009) 0,3007
= 1,001 gram

Berat setelah tanur - Berat crussibel porselin
Berat sampel sesungguhnya
x 100

19,9955 - 19,8853
1,0001
x 100
22

Lampiran 2. (Lanjutan)

0,1102
1,0001
x 100
11,01

kadar abu (2.1) kadar abu (2.2)
2

10,89 11,01
2

= 10,95%
Konversi = Kadar abu rata-rata x 100%
BK

10,89 11,01
2
x100

= 13,39%










23

Lampiran 3. Perhitungan Kadar Serat Kasar
Tabel 4. Analisis Serat Kasar
Kode
Berat
sampel
Berat kertas
minyak awal
Berat kertas
minyak akhir
Berat kertas
saring
Berat setelah
oven
Berat setelah
tanur
-------------------------------------------g---------------------------------------------
2.1 1,0001 0,3109 0,3131 1,0137 22,4554 21,1980
2.2 1,0004 0,3095 0,3100 1,0042 22,1655 20,8861
Sumber: Data Primer Praktikum Ilmu Nutrisi Ternak, 2013.
Sampel sesungguhnya (2.1) = (berat sampel + kertas minyak awal) kertas
minyak akhir
= (1,0001 + 0,3109) 0,3131
= 0,9979 gram
SK (2.1) = % 100
ya sesungguhn sampel berat
saring kertas berat - nur setelah ta berat oven setelah berat



% 42 , 24
% 100
9979 , 0
2437 , 0
% 100
0,9979
1,0137 - 21,1980 - 22,4554




Sampel sesungguhnya (2.2) = (berat sampel + kertas minyak awal) kertas
minyak akhir
= (1,0004 + 0,3095) 0,3100
= 0,9999 gram
SK (2.2) = % 100
ya sesungguhn sampel berat
saring kertas berat - nur setelah ta berat oven setelah berat


24

Lampiran 3. (Lanjutan)
SK rata-rata =
2
2.2 SK 2.1 SK


% 97 , 25
2
27,52% 24,42%



Rata-rata SK
BK
100

25,97
81,72
100
31,78








25

Lampiran 4. Perhitungan Kadar Protein Kasar
Tabel 5. Analisis Protein Kasar
Kode Berat sampel
Berat kertas
minyak awal
Berat kertas
minyak akhir
Titran HCl
(ml)
---------------------------------g--------------------------------
2.1 1,0007 0,3166 0,3188 19,5
2.2 1,0001 0,3151 0,3157 22
Sumber: Data Primer Praktikum Ilmu Nutrisi Ternak, 2013.
Sampel sesungguhnya (2.1) = (berat sampel + berat kertas minyak awal) - berat
kertas minyak akhir
= (1,0007 + 0,3166) 0,3188
= 0,9985 gram
PK (2.1) = % 100
ya sesungguhn sampel berat
6,25 x 0,014 x HCl N x blangko) - sampel (titran

19,5-0,3x 0,1 x 0,014 x 6,25


0,9985
x 100

18,7 x 0,1 x 0,014 x 6,25


0,9995
x 100

0,168
0,9985
x100
16, 83
Sampel sesungguhnya (2.2) = (berat sampel + berat kertas minyak awal) - berat
kertas minyak akhir
= (1,0001 + 0,3151) 0,3157
= 0,9995 gram
PK (2.2) = % 100
ya sesungguhn sampel berat
6,25 x 0,014 x HCl N x blangko) - sampel (titran

26

Lampiran 4. (Lanjutan)

22-0,3 0,1 0,014 6,25
0,9995
X 100

21,70,10,0146,25
0,9995
X 100

0,189875
0,9995
X 100 18,99
Rata-rata Protein Kasar

kadar protein kasar 2.1kadar protein kasar 2.2
2


16,8318,99
2


35,82
2
17,91

protein kasar
bahan kering
100

17,91
81,72
100
21,91





27

Lampiran 5. Perhitungan Kadar Lemak Kasar
Tabel 6. Analisis Lemak Kasar
Kode
Berat
sampel
Berat kertas
minyak awal
Berat kertas
minyak akhir
Berat
setelah
oven 1
Berat
setelah
oven 2
Berat
kertas
saring
-------------------------------------------g---------------------------------------------
2.1 1,0009 0,2853 0,2872 1,8633 1,8084 1,0271
2.2 1,0002 0,2810 0,2863 1,7594 1,7009 0,9138
Sumber: Data primer Praktikum Ilmu Nutrisi Ternak, 2013
Konversi sampel ke % Bahan Kering:
(2.1)
berat setelah oven 1 x
Berat Kering
100

1,8633 x
81,72
100

1,8633 x 0,8172
= 1,5227 gram
berat setelah oven 2 x
Berat Kering
100

1,8084 x
81,72
100

1,8084 x 0,8172
= 1,4778 gram
(2.2)
berat setelah oven 1 x
Berat Kering
100

1,7594 x
81,72
100

28

Lampiran 5. (Lanjutan)
1,7594 x 0,8172
= 1,4378 gram
berat setelah oven 2 x
Berat Kering
100

1,7009 x
81,72
100

1,7009 x 0,8172
= 1,3899 gram
Kadar Lemak Kasar (2.1)

berat setelah oven 1-berat setelah oven 2
berat setelah oven 1-berat kertas saring
x 100

1,5227 1,4778
1,5227 1,0271
X 100

0,0449
00,4956
X 100
9,06
Kadar Lemak Kasar (2.2)

berat setelah oven 1-berat setelah oven 2


berat setelah oven 1-berat kertas saring
x 100

1,4378 - 1,3899
1,4378 0,9138
X 100

0,0479
0,524
X 100
9,14
29

Lampiran 5. (Lanjutan)
Rata-rata Kadar Lemak Kasar

kadar lemak kasar 2.1 kadar lemak kasar 2.2


2


9,06 9,14
2


18,2
2
9,1
















30

Lampiran 6. Perhitungan BETN
BETN = 100% - (kadar abu + serat kasar + protein kasar + lemak kasar)%
= 100% - (13,39 + 31,78 + 21,91 +9,1)%
100 - 76,18
23,82