Anda di halaman 1dari 26

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Rhinitis didefinisikan sebagai peradangan dari membran hidung yang ditandai dengan gejala kompleks yang terdiri dari kombinasi beberapa gejala berikut : bersin, hidung tersumbat, hidung gatal dan rinore. Mata, telinga, sinus dan tenggorokan juga dapat terlibat. Rinitis alergi merupakan penyebab tersering dari rinitis. Rinitis alergi adalah peradangan pada membran mukosa hidung, reaksi peradangan yang diperantarai IgE, ditandai dengan obstruksi hidung, sekret hidung cair, bersin-bersin, dan gatal pada hidung dan mata. Rhinitis alergi mewakili permasalahan kesehatan dunia mengenai sekitar 10 25% populasi dunia, dengan peningkatan prevalensi selama dekade terakhir. Rinitis alergi merupakan kondisi kronik tersering pada anak dan diperkirakan mempengaruhi 40% anak-anak. Sebagai konsekuensinya, rinitis alergi berpengaruh pada kualitas hidup, bersama-sama dengan komorbiditas beragam dan pertimbangan beban sosial-ekonomi, rinitis alergi dianggap sebagai gangguan pernafasan utama. Tingkat keparahan rinitis alergi diklasifikasikan berdasarkan pengaruh penyakit terhadap kualitas hidup seseorang. Diagnosis rinitis alergi melibatkan anamnesa dan pemeriksaan klinis yang cermat, lokal dan sistemik khususnya saluran nafas bawah.

1.2 Tujuan Penulisan Tujuan umum : Mahasiswa mampu : Menerapkan asuhan keperawatn pada pasien dengan rhinitis. Tujuan khusus : Mahasiswa mampu : 1. Melakukan pengkajian 2. Merumuskan diagnosa keperawatan 3. Menerapkan indikator keberhasilan (NOC) 4. Merumuskan intervensi keperawatan

BAB II TINJAUAN TEORITIS

2.1 Landasan Teoritis Penyakit 2.1.1 Definisi Rhinitis adalah suatu inflamasi ( peradangan ) pada membran mukosa di hidung. (Dipiro, 2005 ) Rhinitis alergi Adalah istilah umum yang digunakan untuk menunjukkan setiap reaksi alergi mukosa hidung, dapat terjadi bertahun-tahun atau musiman. (Dorland,2002 ) Rhinitis Alergi adalah inflamasi pada membran mukosa hidung yang disebabkan oleh adanya alergen yang terhirup yang dapat memicu respon hipersensitivitas. Klasifikasi Rhinitis Alergi : Berdasarkan waktu : Seasonal allergic rhinitis (SAR) Terjadi pada waktu yang sama setiap tahunnya musim bunga, banyak serbuk sari beterbangan Perrenial allergic rhinitis (PAR) Terjadi setiap saat dalam setahun penyebab utama: debu, animal dander, jamur, kecoa Occupational allergic rhinitis Terkait dengan pekerjaan Berdasarkan sifat berlangsung : Rinitis alergi musiman (seasonal, hay fever, pollinosis) Hanya ada pada negara dengan 4 musim. Alergen penyebabnya spesifik, yaitu tepung sari dan spora jamur. Rinitis alergi sepanjang tahun (perennial) Gejala keduanya hampir sama, hanya sifat berlangsungnya yang berbeda. Gejala rinitis alergi sepanjang tahun timbul terus-menerus atau intermitten. Meskipun lebih ringan dibandingkan rinitis musiman, tapi karena lebih persisten, komplikasinya lebih sering ditemukan. Dapat timbul pada semua golongan umur, terutama anak dan dewasa muda, namun berkurang dengan bertambahnya umur. Faktor herediter

berperan, sedangkan jenis kelamin, golongan etnis, dan ras tidak berpengaruh (Mansjoer Arif, dkk, 2001). Berdasarkan fase : Immediate Phase Allergic Reaction, Berlangsung sejak kontak dengan allergen hingga 1 jam setelahnya. Late Phase Allergic Reaction, Reaksi yang berlangsung pada dua hingga empat jam dengan puncak 6-8 jam setelah pemaparan dan dapat berlangsung hingga 24 jam. Berdasarkan tingkat keparahan : Rhinitis akut (coryza, commond cold) merupakan peradangan membran mukosa hidung dan sinus-sinus aksesoris yang disebabkan oleh suatu virus dan bakteri. Penyakit ini dapat mengenai hampir setiap orang pada suatu waktu dan sering kali terjadi pada musim dingin dengan insidensi tertinggi pada awal musim hujan dan musim semi. Rhinitis kronis adalah suatu peradangan kronis pada membran mukosa yang disebabkan oleh infeksi yang berulang, karena alergi, atau karena rinitis vasomotor.

2.1.2 Etiologi Penyebab tersering adalah alergen inhalan (dewasa) dan ingestan (anak-anak). Pada anak-anak sering disertai gejala alergi lain, seperti urtikaria dan gangguan pencernaan. Diperberat oleh faktor non spesifik, seperti asap rokok, bau yang merangsang, perubahan cuaca dan kelembaban yang tinggi. Berdasarkan cara masuknya, allergen dibagi atas: 1. Alergen Inhalan, yang masuk bersama dengan udara pernafasan, misalnya debu rumah, tungau, serpihan epitel dari bulu binatang serta jamur. 2. Alergen Ingestan, yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan, misalnya susu, telur, coklat, ikan dan udang. 3. Alergen Injektan, yang masuk melalui suntikan atau tusukan, misalnya penisilin atau sengatan lebah. 4. Alergen Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit atau jaringan mukosa, misalnya bahan kosmetik atau perhiasan.

Dengan masuknya allergen ke dalam tubuh, reaksi alergi dibagi menjadi tiga tahap besar: 1. Respon Primer, terjadi eliminasi dan pemakanan antigen, reaksi non spesifik 2. Respon Sekunder, reaksi yang terjadi spesifik, yang membangkitkan system humoral, system selular saja atau bisa membangkitkan kedua system terebut, jika antigen berhasil dihilangkan maka berhenti pada tahap ini, jika antigen masih ada, karena defek dari ketiga mekanisme system tersebut maka berlanjut ke respon tersier 3. Respon Tersier , Reaksi imunologik yang tidak meguntungkan

2.1.3 Manifestasi Klinis Gejala rinitis alergi yang khas ialah terdapatnya serangan bersin berulang. Sebetulnya bersin merupakan gejala yang normal, terutama pada pagi hari atau bila terdapat kontak dengan sejumlah besar debu. Hal ini merupakan mekanisme fisiologik, yaitu proses membersihkan sendiri (self cleaning process). Bersin dianggap patologik, bila terjadinya lebih dari 5 kali setiap serangan, sebagai akibat dilepaskannya histamin. Disebut juga sebagai bersin patologis (Soepardi, Iskandar, 2004). Gejala lain ialah keluar ingus (rinore) yang encer dan banyak, hidung tersumbat, hidung dan mata gatal, yang kadang-kadang disertai dengan banyak air mata keluar (lakrimasi). Tanda-tanda alergi juga terlihat di hidung, mata, telinga, faring atau laring. Tanda hidung termasuk lipatan hidung melintang garis hitam melintang pada tengah punggung hidung akibat sering menggosok hidung ke atas menirukan pemberian hormat (allergic salute), pucat dan edema mukosa hidung yang dapat muncul kebiruan. Lubang hidung bengkak. Disertai dengan sekret mukoid atau cair. Tanda di mata termasuk edema kelopak mata, kongesti konjungtiva, lingkar hitam dibawah mata (allergic shiner). Tanda pada telinga termasuk retraksi membran timpani atau otitis media serosa sebagai hasil dari hambatan tuba eustachii. Tanda faringeal termasuk faringitis granuler akibat hiperplasia submukosa jaringan limfoid. Tanda laringeal termasuk suara serak dan edema pita suara (Bousquet, Cauwenberge, Khaltaev, ARIA Workshop Group. WHO, 2001). Gejala lain yang tidak khas dapat berupa: batuk, sakit kepala, masalah penciuman, mengi, penekanan pada sinus dan

nyeri wajah, post nasal drip. Beberapa orang juga mengalami lemah dan lesu, mudah marah, kehilangan nafsu makan dan sulit tidur (Harmadji, 1993).

2.1.4 Pemeriksaan Penunjang dan Diagnostik a. In vitro Hitung eosinofil dalam darah tepi dapat normal atau meningkat. Demikian pula pemeriksaan IgE total (prist-paper radio imunosorbent test) sering kali menunjukkan nilai normal, kecuali bila tanda alergi pada pasien lebih dari satu macam penyakit, misalnya selain rinitis alergi juga menderita asma bronkial atau urtikaria. Lebih bermakna adalah dengan RAST (Radio Immuno Sorbent Test) atau ELISA (Enzyme Linked Immuno Sorbent Assay Test). Pemeriksaan sitologi hidung, walaupun tidak dapat memastikan diagnosis, tetap berguna sebagai pemeriksaan pelengkap. Ditemukannya eosinofil dalam jumlah banyak menunjukkan kemungkinan alergi inhalan. Jika basofil (5 sel/lap) mungkin disebabkan alergi makanan, sedangkan jika ditemukan sel PMN menunjukkan adanya infeksi bakteri (Irawati, 2002). b. In vivo Alergen penyebab dapat dicari dengan cara pemeriksaan tes cukit kulit, uji intrakutan atau intradermal yang tunggal atau berseri (Skin End-point Titration/SET). SET dilakukan untuk alergen inhalan dengan menyuntikkan alergen dalam berbagai konsentrasi yang bertingkat kepekatannya.

Keuntungan SET, selain alergen penyebab juga derajat alergi serta dosis inisial untuk desensitisasi dapat diketahui (Sumarman, 2000). Untuk alergi makanan, uji kulit seperti tersebut diatas kurang dapat diandalkan. Diagnosis biasanya ditegakkan dengan diet eliminasi dan provokasi (Challenge Test). Alergen ingestan secara tuntas lenyap dari tubuh dalam waktu lima hari. Karena itu pada Challenge Test, makanan yang dicurigai diberikan pada pasien setelah berpantang selama 5 hari, selanjutnya diamati reaksinya.

2.1.5 Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan 1. Terapi yang paling ideal adalah dengan alergen penyebabnya (avoidance) dan eliminasi.

2. Simptomatis a. Medikamentosa-Antihistamin yang dipakai adalah antagonis H-1, yang bekerja secara inhibitor komppetitif pada reseptor H-1 sel target, dan merupakan preparat farmakologik yang paling sering dipakai sebagai inti pertama pengobatan rinitis alergi. Pemberian dapat dalam kombinasi atau tanpa kombinasi dengan dekongestan secara peroral. Antihistamin dibagi dalam 2 golongan yaitu golongan antihistamin generasi-1 (klasik) dan generasi-2 (non sedatif). Antihistamin generasi1 bersifat lipofilik, sehingga dapat menembus sawar darah otak (mempunyai efek pada SSP) dan plasenta serta mempunyai efek kolinergik. Preparat simpatomimetik golongan agonis adrenergik alfa dipakai dekongestan hidung oral dengan atau tanpa kombinasi dengan antihistamin atau tropikal. Namun pemakaian secara tropikal hanya boleh untuk beberapa hari saja untuk menghindari terjadinya rinitis medikamentosa. Preparat kortikosteroid dipilih bila gejala trauma sumbatan hidung akibat respons fase lambat berhasil diatasi dengan obat lain. Yang sering dipakai adalah kortikosteroid tropikal (beklometosa, budesonid, flusolid, flutikason, mometasonfuroat dan triamsinolon). Preparat antikolinergik topikal adalah ipratropium bromida, bermanfaat untuk mengatasi rinore, karena aktifitas inhibisi reseptor kolinergik permukaan sel efektor (Mulyarjo, 2006). b. Operatif- Tindakan konkotomi (pemotongan konka inferior) perlu dipikirkan bila konka inferior hipertrofi berat dan tidak berhasil dikecilkan dengan cara kauterisasi memakai AgNO3 25% atau troklor asetat (Roland, McCluggage, Sciinneider, 2001). c. Imunoterapi - Jenisnya desensitasi, hiposensitasi & netralisasi. Desensitasi dan hiposensitasi membentuk blocking antibody.

Keduanya untuk alergi inhalan yang gejalanya berat, berlangsung lama dan hasil pengobatan lain belum memuaskan (Mulyarjo, 2006).

2.1.6 Komplikasi Komplikasi rinitis alergi yang sering ialah: a. Polip hidung yang memiliki tanda patognomonis: inspisited mucous glands, akumulasi sel-sel inflamasi yang luar biasa banyaknya (lebih eosinofil dan limfosit T CD4+), hiperplasia epitel, hiperplasia goblet, dan metaplasia skuamosa. b. Otitis media yang sering residif, terutama pada anak-anak. c. Sinusitis paranasal merupakan inflamasi mukosa satu atau lebih sinus para nasal. Terjadi akibat edema ostia sinus oleh proses alergis dalam mukosa yang menyebabkan sumbatan ostia sehingga terjadi penurunan oksigenasi dan tekanan udara rongga sinus. Hal tersebut akan menyuburkan pertumbuhan bakteri terutama bakteri anaerob dan akan menyebabkan rusaknya fungsi barier epitel antara lain akibat dekstruksi mukosa oleh mediator protein basa yang dilepas sel eosinofil (MBP) dengan akibat sinusitis akan semakin parah (Durham, 2006)

2.1.7 WOC Terlampir.

2.2 Landasan Teoritis Asuhan Keperawatan 2.2.1 Pengkajian a. Anamnesa Identitas Nama Umur Alamat Bangsa Nomor RM Keluhan utama : Biasanya klien bersin malam hari atau pagi hari terutama pada suhu udara dingin, saat menyapu lantai/membersihkan tempat tidur. Hidung tersumbat, keluar ingus encer, menganggu tidur dan aktivitas lainnya.
7

Jenis kelamin : : : : :

Riwayat peyakit dahulu : Pernahkah pasien menderita penyakit THT sebelumnya. Riwayat keluarga : Apakah keluarga adanya yang menderita penyakit yang di alami pasien b. Pemeriksaan Fisik Pada muka biasanya didapatkan garis Dennie-Morgan dan allergic shinner, yaitu bayangan gelap di daerah bawah mata karena stasis vena sekunder akibat obstruksi hidung (Irawati, 2002). Selain itu, dapat ditemukan juga allergic crease yaitu berupa garis melintang pada dorsum nasi bagian sepertiga bawah. Garis ini timbul akibat hidung yang sering digosok-gosok oleh punggung tangan (allergic salute). Pada pemeriksaan rinoskopi ditemukan mukosa hidung basah, berwarna pucat atau livid dengan konka edema dan sekret yang encer dan banyak..Perlu juga dilihat adanya kelainan septum atau polip hidung yang dapat memperberat gejala hidung tersumbat. Selain itu, dapat pula ditemukan konjungtivis bilateral atau penyakit yang berhubungan lainnya seperti sinusitis dan otitis media. c. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan nasoendoskopi Pemeriksaan sitologi hidung Hitung eosinofil pada darah tepi Uji kulit allergen penyebab

d. Pengkajian 11 Pola Gordon 1. Pola Persepsi & Penanganan Kesehatan Tanyakan pandangan klien & keluarga tentang penyakit dan pentingnya kesehatan bagi klien dan keluarga? Apakah klien merokok / minum alcohol / pernah mengkonsumsi obat obat tertentu ? apakah ada alergi? 2. Pola Nutrisi & Metabolisme Kaji Pola nutrisi dan riwayat diet klien. Pola nutrisi dan metabolisme juga akan mempenagruhi penyakit Rhinitis 3. Pola Eliminasi Kaji pola miksi dan defekasi klien? Apakah terdapat gelaja inteinensia kandung kemih, gangguan fungsi usus ? apakah memakai alat bantu?
8

4. Pola Aktivitas Dan Latihan Perubahan aktifitas biasanya/hobi sehubungan dengan Rhinitis. 5. Pola Istirahat Dan Tidur Kaji perubahan pola tidur, adanya factor factor yang mempengaruhi tidur seperti nyeri, cemas. 6. Pola Persepsi Kognitif Kaji adanya gangguan aspirasi , perubahan tingkah laku, , Gangguan adanya gatal dan nyeri, pada musim tertentu menyebabkan bersin, kesulitan memfokuskan kerja dengan karena gatal-gatal pada bagian hidung. 7. Pola Persepsi Dan Konsep Diri Bagaimana pandangan pasien dengan dirinya terkait dengan

penyakitnya? Bagaimana harapan klien terkait dengan penyakitnya? 8. Pola Peran Hubungan Tanyakan bagaimana fungsi peran klin dalm keluarganya sebelum & sesudah terkena penyakit Rhinitis, siapa saja system pendukung klien dan apakah ada masalah dilingkunagn keluarga ataupun social, apakah Ny.Rina mendapatkan perlakuan khusus didalam keluarga terkait dengan penyakit yang dideritanya saat ini. 9. Pola Seksualitas Kaji adanya masalah hubungan dg pasangan, perubahan tk. Kepuasan, Jika wanita : Kaji pola menstruasi, pemeriksaan payudara. 10. Pola Koping Toleransi Stres Kaji perasaan khawatir dan takut, perasaan ketergantungan akibat adanya kenyamann beraktivitas mempengaruhi harga diri klien , perlu pengkajian efektifitas teknik koping keluarga atau orang yang berarti 11. Pola Keyakinan Nilai Kaji bagaimana pengaruh agama terhadap klien menghadapai penyakitnya? ketersediaan suport sistem

2.2.2 Aplikasi NANDA, NOC dan NIC pada Klien NANDA NOC NIC PENGATURAN JALAN NAFAS Aktivitas: Posisikan pasien pada posisi maksimal tunjukkan posisi dada bantu klien batuk atau

1. Bersihan jalan napas Status Pernafasan : tidak efektif patensi jalan nafas Jumlah nafas Irama pernafasan Kedalaman nafas Kemampuan untuk bersihan sekresi Ketakutan Kecemasan Dypsnuea Batuk Akumulasi sputum

dengan suksion Instruksi bagai mana cara batuk yang efektif atur cairan yang masuk

untuk keseimbangan cairan yang optimal pantau status pernafasan dan oksigen seperlunya atur kelembaban udara atau oksigen seperlunya MEMANTAU PERNAFASAN Aktivasi : Pantau rata-rata, irama,

kedalaman, dan upaya nafas Catat pergerakan paru, lihat kesimetrisannya, menggunakan otot assesoris, dan supraclavicular dan

retraksi otot intercostal Pantau bunyi nafas, seperti mengik atau ngorok Pantau pola nafas,

10

bradpnea,takinea, hiperventilassi, pernafasan

kusmaul, cheyne-stok, dll Palpasi kesamaan ekspansi paru Askultasi suara paru setelah pengobatan Pantau sekresi pernafasan pasien Pantau kemampuan pasien untuk batuk dengan efektif Posisikan pasien sesuai

indikasi, untuk mencegah aspirasi

2. tidur

Gangguan

pola -

- Tidur

Peningkatan tidur

berhubungan penyumbatan

Klien diharapkan mampu Intervensi yang dilakukan : mengatur sendiri: Jam tidur Pola tidur Kualitas tidur Efisieensi tidur Tidur teratur Merasakan kesegaran setelah tidur Bangun sesuai waktu Kenyamanan tempat tidur Kenyamanan suhu ruangan Tidak ada tidur malam tetapkan pola tidur klien jelaskan pentingnya tidur

dengan

pada hidung

yang cukup selama , sakit, stres psikologis, dll tentukan efek dari obat

patien pada pola tidur monitor pola tidur pasien dan jumlah jam tidur monitor pola tidur pasien dan catat fisik (misalnya, jalan napas tersumbat, nyeri / ketidaknyamanan dan

frekuensi kencing) bantu patient mengatur pola tidur bantu eliminasi situasi stres sebelum tidur
11

kesulitan akan tidur Tidur siang

ketika

monitor

asupan

makanan

dan minuman untuk item yang memfasilitasi atau

Ketergantungan alat bantu ketika tidur

mengganggu tidur

3. Cemas berhubungan dengan Kurangnya Pengetahuan tentang penyakit.

Pengontrolan cemas

Pengurangan cemas Intervensi yang dilakukan : Menggunakan pendekatan

Klien mampu :

diharapkan

yang tenang Menjelaskan termasuk semua sensasi

prosedur, Monitor cemasnya Berusaha informasi mencar untuk intensitas

mungkin dialami selama prosedur Berusahalah untuk

memahami perspektif pasien dari situasi streesful Memberikan tentang informasi diagnosis,

menurunkan cemas Koping saat situasi stres Mnggunakan reelaksasi teknik untuk

faktual

pengobatan dan prognosis Menetapkan dengan pasien mempromosikan

untuk

menurunkan cemas Monitor durasi cemas Monitor sensori Memelihara tidur adekuat Monitor manifestasi fisik terhadap cemas Monitor manifestasi yang sering terjadi ketika cemas pola persepsi

keselamatan dan mengurangi rasa takut Menyediakan

objek yang bias membuat pasien nyaman Mendorong aktivitas yang

tidak kompetitif, yang sesuai Mendengarkan dengan

perhatian Memperkuat perilaku Menciptakan suasana untuk


12

Kontrol respon cemas

memfasilitasi percaya Mendorong verbalisasi

perasaan, persepsi, dan ketakutan Mengidentifikasi ketika

tingkat perubahan kecemasan Menyediakan aktivitas

pengalihan diarahkan pengurangan ketegangan

Membantu

pasien situasi

mengidentifikasi

Kontrol rangsangan, yang sesuai untuk kebutuhan patien

Mendukung

penggunaan

mekanisme pertahanan yang sesuai Instruksikan penggunaan pasien teknik pada relaksasi

Memberi

obat

untuk yang

mengurangi sesuai

kecemasan,

13

BAB III ASKEP SESUAI KASUS 3.1 Pengkajian A. Anamnesa a) Identitas Nama : Ny. TB Umur : 36 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Pekerjaan : petani Tanggal masuk RS : 27 Juli 2013 b) Keluhan Utama : Pilek kambuh-kambuhan c) Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke poliklinik THT BRSD Wonosobo pada tanggal 27 Juni 2013 dengan keluhan pilek kambuh-kambuhan kurang lebih 10 tahun, memberat 1 bulan ini. Pasien sering bersin-bersin apabila menghirup serbuk bunga salak (mata pencaharian pasien sebagai petani salak), tetapi dirasakan 1 tahun ini lebih sering dari sebelum-sebelumnya dan membuat pasien berhenti bekerja. Hidung dirasakan tersumbat, dan keluar ingus cair. Pasien juga mengeluh di tenggorokan terasa gatal. Bila pagi hari dan udara dingin pilek dirasakan bertambah, bersin-bersin juga dikeluhkan bertambah. Pasien tidak demam saat datang ke poliklinik, tetapi dalam 1 bulan ini kadang-kadang muncul demam. Pasien bolak-balik berobat ke puskesmas, tetapi tidak mereda. d) Riwayat Penyakit Dahulu : Keluhan ini muncul kambuh-kambuhan sejak pasien bekerja di kebun salak kurang lebih 10 tahun, pasien hanya berobat di puskesmas bila berat. Pasien belum pernah melakukan tes alergi. Riwayat penyakit asma disangkal pasien. e) Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada yang menderita penyakit serupa dengan pasien. B. Pemeriksaan Fisik a) Keadaan umum : Pasien tampak pilek keluar ingus dari hidung b) Kesadaran : Composmentis
14

c) Vital Sign : Tekanan Darah : 130/90 Mmhg Nadi : 80x/mnt RR : 20x/mnt T : suhu raba afebris d) Pemeriksaan lokalis 1) Telinga Inspeksi : 2) Hidung Inspeksi : Palpasi 3) Tenggorokan Inspeksi : Mukosa lidah : dalam batas normal, tidak terdapat gambaran peta Mukosa faring : hiperemis (+), granuler (+), oedem (+)
15

Bentuk dan ukuran : normal Benjolan : tidak ada benjolan Serumen : tidak ada serumen Edema : tidak ada edema Hiperemi : tidak

Palpasi : Nyeri tarik auricular : (-/-) Pembesaran kelenjar limfe : (-/-) Membrane tymphani intake + + Serumen - -

Tidak terdapat kelainan congenital pada hidung Tidak terdapat jaringan parut dalam hidung Tidak terdapat deviasi septum Tampak pembengkakan & hiperemis pada konka hidung Tidak tampak oedem mukosa Mukosa hidung hiperemis

Tidak ada nyeri tekan Tidak ada krepitasi

Uvula : di tengah, tidak ada kelainan Tonsil : tidak membesar, tidak hiperemis

Palpasi : Pembesaran lnn submandibula (-) Nyeri tekan (-)

4) Pemeriksaan tanda-tanda khas rhinitis alergi: Allergic shiner : (+) Allergic salute : (-) Allergic crease : (-) Facies adenoid : (-) Cobblestone appearance : (+) Geographic tongue : (-) C. Pemeriksaan penunjang : a) Pemeriksaan nasoendoskopi b) Pemeriksaan sitologi hidung c) Hitung eosinofil pada darah tepi d) Uji kulit allergen penyebabaa D. Pengkajian 11 fungsional gordon 1. Pola persepsi dan penganganan kesehatan Pada saat pengkajian klien hanya tahu bahwa penyakitnya adalah pilek biasa, tetapi klien juga bingung kenapa pilek yang diderita tak kunjung sembuh melainkan bertambah parah 1 tahun ini. Klien sering berobat balok balik ke puskesmas untuk mengobati pilek yang dideritanya. 2. Pola nutrisi dan metabolik Klien tidak mengalami gangguan pada pola makannya, mual dan muntah tidak ada di keluhkan. 3. Pola eliminasi Pola eliminasi kien normal tidak ada ganguan. 4. Pola aktivitas dan latihan Pola aktivitas klien terganggu karna penyakit yang dideritanya klien kerap batuk-batuk dan pilek akibat kantak dengan debu, terutama debu serbuk salak. 5. Pola istirahat dan tidur Pola istirahat dan tidur terganggu karena batuk dan pilek yang dideritanya akibat alergi, sehingga waktu istirhat dan tidur klien berkurang.
16

6. Pola persepsi dan kognitif Karena penyakit yang dideritanya, klien sulit memfokuskan diri dalam menjalankan pekerjaannya. Klien sering mengeluhkan flue/pilek dan bersinbersin bertambah pada pagi hari dan cuaca dingin. 7. Pola persepsi dan konsep diri Klien merasa sedih akan penyakit yang dideritanya karena pekerjaannya saat ini dapat memperberat penyakitnya. Klien mengaharapkan penyakitnya cepat sembuh dan tidak kambuh lagi. 8. Pola peran dan hubungan Klien yang bekerja sebagai petani akan terganggu hubungannya dengan rekan kerja dan sumber pencahariannya jadi terhambat karena penyakit yang dideritanya. 9. Pola seksualitas Siklus mentruasi klien tidak terganggu. 10. Pola koping dan stres Pasien yang terbuka akan segala hal memudahkannya untuk mentolelir stresor yang datang sehingga pasien lebih tenang dalam menghadapi penyakitnya, hanya saja masih timbul rasa khawatir akan kehilangan pekerjaan. 11. Pola keyakin dan nilai Klien yang beragama islam dan taat beribadah, dengan keadaanya saat ini klien lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. 3.2 NANDA, NOC, NIC No. 1 Nanda Bersihan Jalan NOC nafas Keadaan NIC pernafasan: Pengaturan jalan nafas Aktivitas: pernafasan Posisikan pasien pada

tidak efektif

jalan nafas yang jelas Indikator:

Do: Tekanan Darah : 130/90 Mmhg Nadi : 80x/mnt RR : 20x/mnt suhu raba afebris

Nilai

posisi maksimal tunjukkan posisi dada bantu klien batuk atau

pada skala yang ditentukan Pengeluaran dahak keluar dari jalan nafas Tidak ada demam

dengan suksion Instruksi bagai mana cara batuk yang efektif

17

ds: Klien

Keadaan

pernafasan:

atur cairan yang masuk untuk keseimbangan cairan yang optimal

mengeluh pertukaran gas

sering bersin ketika Indikator: menghirup serbuk salak Dirasakan sejak 10 tahun yang lalu Kemudahan bernafas Tekanan dalam normal Tekanan dalam normal Keadaan ventilasi Nilai pernafasan pernafasan: CO2 batas O2 batas

pantau status pernafasan dan oksigen seperlunya atur kelembaban udara atau oksigen seperlunya

Pembersihan jalan nafas tentukan penyedotan kebutuhan pada mulut

dan/atau trakea. dengarkan sebelum penyedotan. informasikan pada pasirn dan keluarga mengenai bunyi dan nafas sesudah

pada skala yang ditentukan Tingkat kedalaman inspirasi Kemudahan bernafas Pengeluaran

penyedotan tersebut. Pemberian obat penenang. lakukan pencegahan

umum: memakai sarung tangan, kacamata debu, dan masker.

dahak dari jalan Memantau Pernafasan nafas Pengeluaran udara Tidak adanya Aktivasi : Pantau rata-rata, dan irama, upaya

kedalaman, nafas Catat lihat

pengumpulan nafas bibir Tidak pernafasan dangkal adanya melalui

pergerakan

paru,

kesimetrisannya, otot dan

menggunakan assesoris,

supraclavicular dan retraksi otot intercostal


18

Tidak

adanya

Pantau bunyi nafas, seperti mengik atau ngorok Pantau pola nafas,

dyspnea pada saat istirahat

bradpnea,takinea, hiperventilassi, pernafasan kusmaul, cheyne-stok, dll Palpasi kesamaan ekspansi paru Askultasi suara paru setelah pengobatan Pantau sekresi pernafasan pasien Pantau kemampuan pasien untuk batuk dengan efektif Posisikan pasien sesuai

indikasi, untuk mencegah aspirasi Pengurangan cemas Intervensi yang dilakukan : Menggunakan pendekatan yang tenang Monitor cemasnya Berusaha informasi mencar untuk intensitas Menjelaskan semua

2.

Cemas dengan

berhubungan Kurangnya

Pengontrolan cemas

Pengetahuan penyakit.

tentang Klien diharapkan mampu :

prosedur, termasuk sensasi mungkin dialami selama prosedur Berusahalah memahami untuk perspektif

menurunkan cemas Koping saat situasi stres Mnggunakan teknik reelaksasi untuk

pasien dari situasi streesful berikan informasi faktual tentang tetapkan untuk diagnosis,

menurunkan cemas Monitor cemas durasi

pengobatan dan prognosis dengan pasien

mempromosikan
19

Monitor sensori Memelihara

persepsi

keselamatan mengurangi rasa takut

dan

pola

sediakan objek yang bisa membuat pasien nyaman dengarkan perhatian ciptakan suasana untuk dengan

tidur adekuat Monitor manifestasi fisik terhadap cemas Monitor manifestasi yang sering terjadi ketika cemas Kontrol cemas respon

memfasilitasi percaya identifikasi ketika tingkat perubahan kecemasan sediakan pengalihan dukung mekanisme yang sesuai Instruksikan pasien pada penggunaan relaksasi beri obat untuk mengurangi kecemasan yang sesuai Pemberian obat penenang Intervensi yang dilakukan: Kaji pasien riwayat dan kesehatan riwayat teknik aktivitas diarahkan

pengurangan ketegangan penggunaan pertahanan

pemakaian obat penenang Tanyakan kepada pasien atau keluarga tentang pemberian

pengalaman tinjau

obat penenang sebelumnya ulang tentang pemberian

contraindikasi obat penenang

20

Beritahu keluarga dan/atau pasien evaluasi kesadaran refleks tentang efek

pemberian obat penenang tingkatan pasien dan

normal

sebelum

pemberian obat penenang Peningkatan tidur tetapkan pola tidur klien jelaskan pentingnya tidur yang cukup selama , sakit, stres psikologis, dll tentukan efek dari obat patien pada pola tidur monitor pola tidur pasien dan jumlah jam tidur monitor pola tidur pasien dan catat fisik (misalnya, tidur jalan napas tersumbat,

Gangguan

pola

tidur dengan pada

- Tidur

berhubungan penyumbatan hidung

Klien diharapkan mampu Intervensi yang dilakukan : mengatur sendiri: Jam tidur Pola tidur Kualitas tidur Efisieensi tidur Tidur teratur Merasakan kesegaran setelah tidur Bangun sesuai waktu malam

Data Objektif : Frekuensi klien 22.00 06.00 tidur

Data Subjektif : Klien mengatakan mengaami kesulitan karena bernafas hidung tersumbat Pola tidur tidur sulit dan

nyeri / ketidaknyamanan dan frekuensi kencing) bantu patient mengatur

Kenyamanan tempat tidur Kenyamanan suhu ruangan Tidak kesulitan akan tidur ada ketika

pola tidur bantu eliminasi situasi stres sebelum tidur monitor asupan makanan dan minuman untuk item yang memfasilitasi atau

sebelummnya lebih dari 9 jam

mengganggu tidur Pemantauan tanda-tanda vital Intervensi yang dilakukan:

21

ukur tekanan darah, denyut nadi, status catat pantau pantau cardiac pantau suara jantung teliti kemungkinan temperature, pernafasan, dan jika

diperlukan gejala dan turun

naiknya tekanan darah naik turunnya

tekanan nadi tingkatan irama

penyebab perubahan tandatanda vital periksa yang keakuratan digunakan alat untuk

mendapatkan data pasien secara periodic

3.1 Sub topik tambahan sesuai kasus (mis: peran perawat pada kasus)

BAB IV Pembahasan (data senjang) Rhinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitisasi dengan allergen yang sama serta dilepaskannya suatu mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan allergen spesifik tersebut. Menurut WHO ARIA tahun 2001 rhinitis alergi adalah kelainan pada
22

hidung degan gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar allergen yang diperantarai oleh IgE. Reaksi alergi terdiri dari 2 fase yaitu Immediate Phase Allergic Reaction atau Reaksi Alergi Fase Cepat (RAFC) yang berlangsung sejak kontak dengan allergen sampai 1 jam setelahnya dan Laten Phase Allergic Reaction atau Reaksi Alergi Fase Lambat (RAFL) yang berlangsung 2 4 jam dengan puncak 6 8 jam (fase hipereaktivitas) setelah pemaparan dan dapat berlangsung sampai 24 48 jam. Pada reaksi ini dilepaskan berbagai mediator seperti histamine (H), leukotrien (LT), prostaglandin D-2 (PGD-2), bradikinin (BK), platelet activating factor (PAF) dan lain-lain yang akan menimbulkan gejala klinis. Pada rhinitis alergi, H, BK, LT dan PAF mengaktifkan sel-sel endotel pembuluh darah mukosa hidung sehingga terjadi vasodilatasi dan pengumpulan darah, serta peningkatan permeabilitas vaskuler dan sekresi kelenjar akibat stimulai reflex saraf kolinergik. Stimulasi pada reseptor H1 di ujung saraf sensoris menyebabkan gejala bersin-bersin dan gatal pada hidung. Gejala-gejala tersebut timbul beberapa saat setelah terpapar allergen. Fase ini disebut respon fase cepat dengan histamine sebagai mediator utama sehingga preparat anti histamine efektif untuk mengatasi gejala. Gejala dapat berlanjut sampai 6 8 jam kemudian yang timbul akibat aktivitas berbagai mediator, tetapi histamine bukan pemegang peran utama. Fase ini disebut respon fase lambat dengan gejala yang menonjol terutama adalah obstruksi hidung. Pada fase ini selain factor spesifik (allergen), iritasi oleh factor non spesifik dapat memperberat gejala seperti asap rokok, bau yang merangsang, perubahan cuaca dan kelembapan yang tinggi. Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang, pasien didiagnosis menderita rhinitis alergi. Berdasarkan anamnesa, pasien mengeluhkan keluhan pilek berulang kurang lebih 10 tahun dan memberat sudah 1 bulan ini. Pasien sering bersin-bersin apabila menghirup serbuk bunga salak, hidung dirasakan tersumbat, dan keluar ingus cair. Pasien juga mengeluh di tenggorokan terasa gatal. Mata kadang sampai nrocos. Bila pagi hari dan udara dingin pilek dirasakan semakin parah, bersinbersin juga lebih banyak dari biasa. Pasien tidak demam saat datang ke poliklinik, tetapi dalam 1 bulan ini kadang-kadang muncul demam. Pemeriksaan didapat pembengkakan & hiperemis pada konka hidung inferior, mukosa hidung hiperemis dan terdapat secret serous (encer) berwarna jernih. Pada pasien ini
23

ditemukan gejala allergic shiner yaitu adanya bayangan gelap di daerah bawah mata yang terjadi karena stasis vena sekunder akibat obstruksi hidung. Gejala ini biasa muncul pada anak. Gejala lain yang sering muncul pada anak seperti Allergic salute, Allergic crease, Facies adenoid dan Geographic tongue tidak ditemukan pada pasien ini. Cobblestone appearance ditemukan pada pasien ini dimana dinding posterior pasien tampak granuler dan oedem. Gejala-gejala pasien muncul apabila terpapar dengan allergen serbuk bunga salak. Untuk memastikan adanya alergi terhadap factor pencetus ini pasien disarankan untuk melakukan pemeriksaan tes alergi/ tes cukit kulit, uji intrakutan atau intradermal yang tunggal atau berseri (Skin End point Titration/ SET) yang sering dilakukan untuk allergen inhalan dengan menyuntikkan allergen dalam berbagai konsentrasi yang bertingkat kepekatannya. Terapi yang paling ideal adalah dengan menghindari kontak dengan allergen penyebabnya (avoidance) dan eliminasi. Terapi medikamentosa pada pasien ini diberikan anti histamine non sedative cetirizine, preparat dekongestan oral pseudoefedrin dan preparat kortikosteroid. Pengobatan baru untuk rhinitis alergi adalah dengan pemberian anti leukotrien (zafirlukast/ montelukast), anti IgE dan DNA rekombinan. Tindakan operatif konkotomi parsial, konkoplasti atau multiple outfractured, inferior turbinoplasty perlu dipikirkan apabila konka inferior hipertrofi berat dan tidak berhasil dikecilkan dengan cara kauterisasi memakai AgNO3 25% atau triklor asetat. Pengobatan imunoterapi diberikan pada alergi inhalan dengan gejala yang berat dan sudah berlangsung lama serta pengobatan lain tidak memberikan hasil yang memuaskan. Tujuan dari imunoterapi adalah pembentukan IgG blocking antibody dan penurunan IgE.

BAB V PENUTUP

a. Kesimpulan Rhinitis adalah suatu inflamasi ( peradangan ) pada membran mukosa di hidung. (Dipiro, 2005 ).

24

Rhinitis adalah peradangan selaput lendir hidung. ( Dorland, 2002 ) Berdasarkan cara masuknya allergen dibagi atas :

Alergen Inhalan, yang masuk bersama dengan udara pernafasan, misalnya debu rumah, tungau, serpihan epitel dari bulu binatang serta jamur

Alergen Ingestan, yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan, misalnya susu, telur, coklat, ikan dan udang

Alergen Injektan, yang masuk melalui suntikan atau tusukan, misalnya penisilin atau sengatan lebah

Alergen Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit atau jaringan mukosa, misalnya bahan kosmetik atau perhiasan.

b. Saran Penulis sangat membutuhkan saran, demi meningkatkan kwalitas dan mutu makalah yang kami buat dilain waktu. Sehingga penyusun dapat memberikan informasi yang lebih berguna untuk penyusun khususnya dan pembaca umumnya.

DAFTAR PUSTAKA Behrman, dkk. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Vol.1 Edisi 15. 2000. Jakarta: EGC Behrman, dkk. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Vol.2 Edisi 18. 2000. Jakarta: EGC Dorland, WA. Newman. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29. 2002. Jakarta: EGC

25

Hassan, rusepno dkk. Ilmu Kesehatan Anak Edisi 2. 1985. Jakarta: Info Medika Junadi, purnawan dkk. Kapita Selekta Kedokteran. 1982. Jakarta: Media Aesculapius Long, barbara C. Perawatan Medikal Bedah. 1996. Bandung: Yayasan IAPK Pajajaran Mansjoer, arif dkk. Kapita Selekta Kedokteran Jilid.1 Edisi 3. 1993. Jakarta : Media Aesculapius Price, silvya A. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 4. 1995. Jakarta : EGC Smeltzer, suzanne C. Keperawatan Medikal Bedah. 2001. Jakarta: EGC Soepardi, efiaty arsyad. 1997. Telinga-Hidung-Tenggorok. Jakarta : fakultas kedokteran universitas indonesia

26