Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Anak-anak Sunda dari kalangan rakyat di Jawa Barat yang mengenyam
pendidikan dasar sebelum Perang Dunia II mengenal Roesdi djeung Misnem:
Boekoe Batjaan pikeun Moerid² di Sakola Soenda (Rusdi dan Misnem: Buku
Bacaan untuk Murid-murid Sekolah Sunda). Buku bacaan (leesboek) tersebut
ditulis oleh A.C. Deenik, pengarang Belanda, bersama R. Djajadiredja, pengarang
Sunda, dan diterbitkan di Den Haag, Belanda, pada perempat pertama abad ke-
201. Isinya dilengkapi dengan gambar-gambar karya ilustrator Belanda W.K. de
Bruin (1871-1945). Jumlahnya terdiri atas 4 jilid. Sebagaimana yang tersurat
dalam subjudulnya, Roesdi djeung Misnem ―selanjutnya, akan disebut RdM―
ditujukan kepada murid-murid Sekolah Rakyat (SR) —setingkat sekolah dasar
kini— di Jawa Barat, yang ketika itu menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa
pengantarnya.
Buku RdM menuturkan pengalaman sehari-hari kakak beradik Rusdi dan
Misnem di lingkungan sekitar rumah mereka di kampung. Tuturannya dituangkan
dengan bahasa pergaulan sehari-hari yang lazim digunakan oleh masyarakat
Sunda pada masa itu. Gaya penyajiannya bersahaja, bahkan terkadang jenaka,
selaras dengan dunia kehidupan anak-anak. Dapat dikatakan bahwa RdM adalah
salah satu buku pertama yang menggambarkan keluarga Sunda. Bahkan, sebagai
buku yang juga turut menandai masa-masa awal diselenggarakannya pendidikan
formal tingkat dasar bagi kalangan rakyat di Jawa Barat, RdM tampaknya telah
memberikan semacam pola yang “diikuti” oleh buku-buku bacaan sejenis yang

1
Angka tahun publikasi buku ini belum dapat dipastikan. Dalam setiap terbitannya, penerbit buku
ini, yakni Blankwaardt en Schoonhoven di Den Haag, Belanda, tidak mencantumkan angka tahun
publikasi. Berdasarkan beberapa sumber, dapat diduga bahwa buku ini sangat mungkin pertama
kali terbit pada 1911. Dalam buku itu sendiri, ada beberapa petunjuk, antara lain cerita tentang
perayaan ulang tahun Ratu Belanda atau “Pesta Raja” pada 31 Agustus, yang tentu merujuk pada
masa kekuasaan Ratu Wilhelmina, dan cerita yang menyinggung-nyinggung “dalang Soewanda”,
yakni salah seorang dalang wayang golek terkemuka pada perempat pertama abad ke-20. Selain itu
perupa dan dosen seni rupa Haryadi Suadi, dalam sebuah perbincangan pribadi menuturkan bahwa
ibunya, Emmah Tarsimah (l. 1910), masuk SR di Cirebon pada 1917 dan waktu itu ia membaca
buku tersebut di sekolahnya.

1
muncul pada periode-periode selanjutnya, seperti Gandasari, Soember Aroem,
Soengkeman dll.

Gb. I.1 Buku RdM koleksi Bibliotheek KITLV, Leiden


(Foto: Wawan Setiawan)

Kenangan akan buku tersebut, yang kiranya timbul dari keakraban


sewaktu membacanya, tampaknya begitu kuat. Kenangan itu bahkan diteruskan
kepada satu dua generasi yang lahir setelah berakhirnya kolonialisme di Hindia
Belanda. Pada awal abad ke-21 pun, di lingkungan para penggemar buku-buku
bacaan berbahasa Sunda, RdM sesungguhnya masih beredar dan diperjualbelikan
meski dalam bentuk fotokopi. Setidak-tidaknya, hingga dasawarsa 1970-an atau
1980-an orang-orang tua di Tatar Sunda, terutama yang pernah mengalami zaman
kolonial, sering menyebut-nyebut “Buku Rusdi” dalam perbincangan sehari-hari.
Ungkapan “euweuh dina buku Rusdina” (dalam Buku Rusdi pun tidak ditemukan)
sering terlontar manakala mereka tidak setuju dengan suatu pendapat atau
keterangan. Bagi banyak orang yang membaca buku tersebut di sekolah, “Buku
Rusdi” kiranya telah menjadi bagian penting dari masa kanak-kanak mereka.

2
Dalam kata-kata seorang seniman dan penulis yang lahir pada 1939, RdM
merupakan “buku bacaan bahasa Sunda ‘legendaris’” (Suadi, 2005: 76). Bahkan
seorang sastrawan Indonesia terkemuka yang lahir pada 1938 pernah menulis esai
tentang kenangan pribadinya atas buku tersebut pada 1957. Dia antara lain
mengatakan, “Bila ada orang yang bertanya kepada saya: ‘Buku apa yang paling
saya sukai dan paling bagus sebagai bacaan anak-anak di Sekolah Rakyat
(Dasar)?’; tak pelak lagi saya tentu menjawab: ‘Buku Roesdi djeung Misnem.’”
(Rosidi, 1966: 42)
Tidak mengherankan bila keterangan mengenai buku tersebut terdapat
dalam Ensiklopedi Sunda: Alam, Manusia dan Budaya, termasuk Budaya Cirebon
dan Betawi (2000) susunan Ajip Rosidi dkk. Bahkan dalam ensiklopedi tersebut
dikatakan bahwa RdM dapat dijadikan “bahan kajian kemasyarakatan” karena
isinya diyakini sesuai dengan keadaan masyarakat Sunda (di perkampungan) pada
masanya. Dengan kata lain, oleh pembaca yang menyukainya, RdM bukan hanya
dianggap sebagai bahan bacaan yang menarik hati, melainkan juga dianggap
sebagai refleksi atas keadaan masyarakat Sunda dahulu kala.
Sebagaimana buku Ot en Sien melekat pada kenangan orang-orang
Belanda yang dibesarkan pada masa sebelum perang, demikian pula RdM melekat
pada pikiran dan kenangan masyarakat yang pernah membacanya. Sedemikian
kuatnya buku itu melekat pada kenangan mereka kiranya tidak hanya
dimungkinkan oleh aspek verbalnya, melainkan juga dimungkinkan oleh aspek
visualnya. Kata dan gambar berjalin berkelindan membentuk pikiran dan
kenangan. Namun, tampaknya, selama ini banyak orang yang membicarakan buku
tersebut cenderung hanya mengingat narasinya, dan kurang memperhatikan
ilustrasinya. Padahal, bagaimanapun, ilustrasi buku tersebut tidak dapat diabaikan.
Imajinasi anak-anak Sunda sebelum Perang Dunia II tentang sosok kakak beradik
Rusdi dan Misnem beserta keadaan di sekitarnya tentu tidak hanya dipengaruhi
oleh narasi, melainkan juga oleh ilustrasi. Bahkan tidak berlebihan jika dikatakan
bahwa ilustrasi buku tersebut telah menjadi ilustrasi bagi pikiran dan kenangan
kolektif.
Barangkali tidak banyak orang yang menyadari bahwa ilustrasi buku
tersebut sesungguhnya telah menjadi artefak budaya tersendiri, yang ikut

3
menandai suatu kurun dalam kehidupan masyarakat Sunda khususnya, dan
masyarakat Indonesia umumnya. Setidak-tidaknya, gambar-gambar yang telah
ikut memengaruhi pikiran dan kenangan kolektif itu, merupakan bagian tersendiri
dari sejarah ilustrasi buku di Indonesia. Kenyataan inilah yang telah menimbulkan
dorongan bagi penelitian ini.

I.2 Rumusan Masalah


Sebagaimana yang telah dikemukakan dalam uraian di atas, gambar-
gambar dalam buku tersebut dibuat oleh seorang ilustrator Belanda —berdasarkan
teks hasil kolaborasi antara seorang pengarang Sunda dan seorang pengarang
Belanda— sebagai ilustrasi yang menggambarkan kehidupan orang Sunda, yang
dicerap oleh anak-anak Sunda dalam pendidikan formal pada zaman kolonial.
Ringkasnya, ada aspek “Belanda” dalam visualisasi Sunda.
Aspek “Belanda” tersebut tidak hanya mengacu pada subjek pembuat
gambar, sebagaimana aspek “Sunda” dalam hal ini tidak hanya merujuk pada
objek gambar. Ilustrator W. K. De Bruin tumbuh dalam suatu tradisi artistik
tertentu, bekerja dengan menerapkan teknik tertentu, dan diarahkan oleh suatu
kebijakan tertentu. Demikian pula karakter Rusdi dan Misnem dibuat berdasarkan
rujukan tertentu, dijelmakan dari suatu alam pikiran tertentu dan disesuaikan
dengan tata sosial tertentu yang melingkupi khalayak pembacanya. Kedua aspek
tersebut bertemu dan saling silang secara kompleks dalam suatu tatanan visual.
Dengan menekankan hal itu, dalam garis besarnya penelitian ini mengarah
pada masalah ikonografis, yakni hal-ihwal yang tampak dalam gambar dan makna
yang terkandung di dalamnya. Sejalan dengan kecenderungan analisis ikonografis
yang lazimnya mengarah ke isi atau motif gambar dan makna gambar, masalah
tersebut dapat dirinci ke dalam dua rumusan pertanyaan pokok berikut:

1. Motif-motif apa yang terdapat dalam pencitraan manusia, alam dan budaya
Sunda oleh W.K. de Bruin dalam ilustrasi buku RdM? Dalam hal ini
perhatian diarahkan pada raut, latar, tema, sudut pandang, tata letak, dan
lain-lain, sebagai idiom-idiom visual yang diolah gambar.

4
2. Makna apa yang dapat digali dari pencitraan manusia, alam dan budaya
Sunda oleh De Bruin dalam ilustrasi buku RdM? Dalam hal ini tekanan
diletakkan pada upaya menafsirkan gambar atau menggali nilai-nilai
budaya tertentu yang tersirat dalam gambar. Pada titik ini pula peneliti
berupaya mempertimbangkan sangkut paut gambar-gambar karya De
Bruin pada pandangan umum orang Eropa mengenai masyarakat jajahan
pada masanya.

I.3 Fokus Penelitian

Topik Penelitian:
Interpretasi Ikonografis
atas Ilustrasi karya W.K. de Bruin
dalam buku Roesdi djeung Misnem

Objek Penelitian:
Pendekatan Ilustrasi karya W.K. de Bruin
Budaya Visual dalam buku
Roesdi djeung Misnem

Motif Gambar Makna Gambar


Idiom-idiom visual yang Narasi di balik gambar
membentuk pencitraan atau nilai-nilai budaya
manusia, alam dan yang tersirat dalam
budaya Sunda gambar

Aspek internal Aspek eksternal


Ekspresi ilustrator Interpretasi peneliti
peneliti

Konteks Historis:
Kolonialisme di Hindia Belanda
sebelum PD II

Gb. I.2 Bagan Topik dan Masalah Penelitian

5
Fokus perhatian pada motif dan makna dari rangkaian ilustrasi karya W.K.
de Bruin membatasi jangkauan penelitian ini pada kerangka disiplin seni rupa.
Disiplin ikonografi sendiri, sebagaimana yang akan dijelaskan dalam Bab II,
merupakan bagian tersendiri dari sejarah seni. Sedangkan masalah-masalah yang
berkaitan dengan tata sosial di Hindia Belanda pada zaman kolonial, khususnya
menyangkut kebijakan pendidikan dasar bagi kalangan rakyat, dijadikan konteks
kesejarahan dari rangkaian ilustrasi tersebut.
Rangkaian ilustrasi yang dijadikan objek penelitian ini cukup banyak.
Ilustrasi karya W.K. de Bruin dalam keempat jilid buku tersebut terdiri atas 38
gambar dalam Jilid I, 40 gambar dalam Jilid II, 41 gambar dalam Jilid III, dan 31
gambar dalam Jilid IV. Sedangkan gambar yang dimuat pada kulit muka luar dan
kulit belakang luar pada keempat jilid buku tersebut diambil dari salah satu
gambar yang dimuat di dalam masing-masing buku. Dengan demikian, keempat
jilid buku tersebut memuat 150 gambar. Untuk mendapatkan amatan selayang
pandang atas seluruh gambar tersebut, dapat dilihat Lampiran 1. Hanya beberapa
gambar di antaranya, dari tiap-tiap jilid yang dianggap representatif, yang diambil
sebagai sampel penelitian ini.

I.4 Tujuan Penelitian


Penelitian ini diselenggarakan untuk mencapai tujuan sebagai berikut:

1. Tersedianya paparan mengenai motif dan makna ilustrasi karya W.K. de Bruin
dalam buku RdM dan kandungan maknanya.
2. Tersedianya paparan mengenai konteks historis dari rangkaian ilustrasi buku
RdM khususnya, dan ilustrasi buku pada zaman kolonial di Hindia Belanda
umumnya.

I.5 Manfaat Penelitian


Manfaat yang kiranya dapat diberikan oleh penelitian ini adalah sebagai
berikut:

6
1. Turut menyumbangkan temuan bagi telaah atas sejarah seni ilustrasi di
Indonesia. Telaah atas hal itu masih sedikit. Penelitian ini kiranya
bermanfaat sebagai salah satu upaya untuk menyediakan bahan-bahan bagi
penelitian lebih lanjut mengenai sumber tradisi, wawasan estetik, dan
teknik artistik yang mewarnai perkembangan seni ilustrasi di Indonesia.
Bila penelitian seperti ini diperbanyak dan diperluas, dapat diharapkan
bahwa di kemudian hari akan terselenggara penelitian yang lebih
komprehensif mengenai ilustrasi khususnya dan karya visual umumnya.
2. Turut menyumbangkan temuan bagi telaah atas fungsi sosial ilustrasi
buku, khususnya dalam konteks Indonesia. Diharapkan, penelitian ini
dapat menyediakan bahan-bahan bagi penelitian lebih lanjut mengenai
peran dan kedudukan ilustrasi buku dalam ruang dan waktu tertentu.
Dengan adanya penelitian seperti ini, dapat diharapkan bahwa di kemudian
hari akan terselenggara penelitian yang lebih komprehensif mengenai
implikasi sosial, politik dan budaya dari serangkaian kerja artistik.

I.6 Hipotesis
Penelitian ini pada dasarnya tidak bermaksud menguji hipotesis tertentu.
Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa peneliti tidak berangkat dengan
pikiran hampa. Ada wawasan tertentu yang turut melatarbelakangi, mengarahkan,
dan mendorong penelitian ini, meskipun wawasan tersebut sedapat mungkin tidak
akan membatasi keleluasaan peneliti dalam upaya menggali dan merumuskan
temuan-temuan yang dianggap penting dalam penelitian ini.
Dalam hal ini, antara lain dapat dikemukakan bahwa gambar-gambar
karya W.K. de Bruin dalam buku RdM tampaknya dapat dilihat dalam kerangka
perkembangan prentenboek (buku bergambar) dan illustratie (ilustrasi) di Belanda
sejauh itu. Sebagai guru menggambar di Den Haag, W.K. de Bruin tampaknya
membuat gambar-gambar untuk buku ini dengan sedikit banyak terpengaruh oleh
gaya dan aliran seni serta illustratietechniek (teknik ilustrasi) yang berkembang di
Belanda pada masa itu.
Sementara itu, sifat realistis yang melekat pada gambar-gambar karya De
Bruin pada umumnya tampaknya tidak didasari oleh pengamatan langsung
ilustrator tersebut atas kehidupan masyarakat Sunda pada saat itu. Paling tidak,

7
sejauh ini belum didapatkan kepastian, apakah W.K. de Bruin pernah berkunjung
ke Hindia Belanda. Persepsinya tentang kehidupan masyarakat Sunda tampaknya
banyak didasarkan atas informasi dari A.C. Deenik yang pernah bekerja sebagai
guru di Bandung, atau atas karya-karya fotografis tentang Hindia Belanda yang
diboyong ke Negeri Kincir Angin.
Betapapun, buku RdM, terutama gambar-gambar di dalamnya, patut
dipertautkan dengan relasi pihak Belanda dengan Hindia Belanda dalam kerangka
kebijakan pendidikan dasar bagi anak-anak bumiputera pada masa sebelum
Perang Dunia II. Dengan demikian, pandangan-pandangan sosial, politik dan
budaya dari pihak Belanda yang diwakili oleh A.C. Deenik dan W.K. de Bruin,
sebagaimana pandangan-pandangan sosial, politik dan budaya dari pihak Hindia
Belanda yang diwakili oleh R. Djajadiredja sedikit banyak turut memengaruhi
seluk-beluk rangkaian ilustrasi tersebut. Dengan demikian, selain terpaut tidak
dapat dilepaskan dari sejarah ilustrasi buku di Belanda, hasil kerjasama ini dengan
sendirinya turut mewarnai sejarah ilustrasi buku di Hindia Belanda.

I.7 Metode Penelitian


Untuk mendekati masalah tersebut di atas, penelitian ini bertolak dari
sudut pandang budaya visual, yakni bidang kajian yang pada dasarnya berupaya
menganalisis dan memaknai berbagai gejala visual dalam kehidupan sehari-hari.
Sedangkan tekanan pembahasannya diletakkan pada motif dan makna dari gejala
visual yang diamati, sebagaimana yang lazim dilakukan dalam studi ikonografis.
Pembahasan yang lebih terperinci mengenai budaya visual dan ikonografi
dikemukakan dalam Bab II.
Observasi dan analisis atas motif dan maksa dari gejala visual yang
diangkat dalam penelitian ini ditempuh dengan mengikuti langkah-langkah
penafsiran karya visual sebagaimana yang dirumuskan oleh ahli sejarah seni
Erwin Panofsky (1862-1968) dalam buku Studies in Iconology (1939), yang
secara berurutan terdiri atas deskripsi pra-ikonografis (pre-iconographical
description), analisis ikonografis (iconographical analysis) dan interpretasi
ikonografis (iconographical interpretation). Untuk meminjam istilah dari
Panofsky, penelitian ini dapat dikatakan merupakan interpretasi ikonografis
(iconographical interpretation) atas ilustrasi karya W.K. de Bruin dalam buku

8
tersebut. Penjelasan lebih lanjut mengenai ketiga strata penafsiran karya visual
tersebut juga dikemukakan dalam Bab II.
Hingga batas tertentu, penelitian ini menyerupai kritik seni. Setidak-
tidaknya, dalam penelitian ini, analisis gambar juga mengikuti langkah-langkah
kerja kritik seni sebagaimana yang dipaparkan oleh Edmund Burke Feldman
dalam karyanya, Art as Image and Idea, salah satu literatur klasik di bidang seni
yang masih layak diikuti. Secara singkat, langkah-langkah tersebut terdiri atas:

1. Deskripsi
Pada tahapan permulaan ini gambar-gambar dideskripsikan seobjektif
mungkin, dalam arti rincian karakteristik penampakannya digambarkan
tanpa beban penilaian atau evaluasi. Dalam kerangka penelitian ini,
langkah ini amat penting terutama untuk mengidentifikasi motif-motif
gambat. Feldman sendiri membandingkan upaya seperti ini dengan peran
saksi dalam sidang pengadilan. Saksi hanya berupaya memberikan
informasi mengenai suatu perkara atau keadaan, dalam arti sedapat
mungkin tidak membebani informasinya dengan penilaian. Dengan kata
lain paparan pada bagian ini pada dasarnya bersifat informatif.
2. Analisis Formal
Setelah mendapatkan gambaran objektif mengenai gambar-gambar yang
sedang dikaji, upaya berikutnya adalah meninjau cara, langkah, atau teknik
yang ditempuh oleh ilustrator untuk menghadirkan karyanya. Pada bagian
ini ilustrasi buku ditinjau berkaitan dengan antara lain teknik tarikan
garisnya, permainan cahaya dan bayang-bayangnya, sudut pandang
penggambarannya, dsb. Deskripsi pada tahapan ini merupakan persiapan
bagi langkah interpretatif pada tahapan berikutnya.
3. Interpretasi
Langkah berikutnya adalah berupaya menggali kandungan makna dari
karya gambar-gambar yang dikaji atau menguak kompleksitas nilai budaya
yang tersirat di belakangnya. Karena objek penelitian ini adalah ilustrasi
buku, upaya ini dengan sendirinya patut memperhatikan relasi antara
gambar dan teks. Namun, bagaimanapun, bahasa rupa hingga batas
tertentu memiliki jagatnya sendiri, sehingga peneliti tetap berupaya

9
menguak lapisan-lapisan makna yang terkandung dalam gambar yang
sedang dikaji.
4. Evaluasi
Akhirnya, peneliti berupaya mengevaluasi isi dan makna gambar secara
menyeluruh. Upaya ini antara lain akan mencakup perbandingan antara
gambar-gambar yang sedang dikaji dan karya-karya sejenis,
mempertautkan karakteristik penampakannya dengan kecenderungan
umum di bidang seni pada masanya, dsb. (Feldman, 1967)

Data-data dihimpun dengan cara sebagai berikut:

1. Studi kepustakaan, yakni menelaah isi buku RdM, yang terdiri dari teks verbal
dan gambar, dan buku serta dokumen lain, khususnya yang menyajikan hasil-
hasil penelitian mengenai seni ilustrasi pada dasawarsa 1920-an serta buku-
buku yang isinya dapat dibandingkan dengan RdM..
2. Wawancara, antara lain dengan anak dan famili R. Djajadiredja (alm.), lulusan
Sekolah Rakyat di Tatar Sunda sebelum PD II, dan narasumber lain seperti
ilustrator, kritikus seni, dan peneliti di bidang seni.
3. Observasi, yakni dengan mengamati koleksi museum gambar atau tempat
lainnya yang relevan.

Sistematika Penulisan
Hasil-hasil penelitian ini disusun ke dalam enam bab dengan sistematika
sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini menguraikan latar belakang penelitian, rumusan masalah, fokus


penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan metode penelitian.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini memaparkan sejumlah konsep pokok yang dijadikan pijakan


oleh peneliti untuk meninjau masalah yang diteliti berdasarkan sejumlah
buku dan bahan bacaan lain yang dijadikan rujukan konseptual dan

10
teoretis. Berturut-turut dipaparkan gagasan perihal signifikansi gambar,
ilustrasi buku dalam kerangka komunikasi, kaitan gambar dengan
kolonialisme, pendekatan budaya visual, dan metode penafsiran gambar
dari Panofsky.

BAB III “BUKU RUSDI” DAN PENDIDIKAN KOLONIAL

Bab ini mengemukakan amatan yang lebih terperinci atas buku, penulis
dan terutama ilustrator RdM, serta konteks historisnya. Di sini dibahas
pula segi-segi penting dari RdM serta peran dan fungsi buku tersebut
dalam pendidikan dasar penduduk bumiputra di Hindia Belanda sebelum
PD II. Pembahasan diawali dengan tinjauan selayang pandang atas
beberapa sumber data menyangkut sosok dan karya W.K. de Bruin.

BAB IV GAMBAR DE BRUIN

Dalam bab ini dikemukakan tinjauan umum atas gambar-gambar karya


De Bruin, khususnya dalam RdM. Uraian di sini pada dasarnya
menggambarkan kecenderungan pokok dalam kreativitas De Bruin di
bidang ilustrasi. Dalam uraian di sini diidentifikasi antara lain sejumlah
ragam gambar karya De Bruin serta idiom visualnya.

BAB V SUPERIORITAS EROPA DALAM REPRESENTASI SUBJEK


KOLONIAL

Dalam bab ini dipaparkan tinjauan atas gambar-gambar karya De Bruin


dari RdM yang dijadikan sampel penelitian ini. Pertimbangan yang
mendasari pemilihan sampel juga dikemukakan di sini. Di sini juga
dikemukakan analisis atas gambar-gambar tersebut berdasarkan metode
penafsiran karya visual dari Panofsky.

Bab VI KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini mengemukakan beberapa kesimpulan yang ditarik dari analisis


yang dipaparkan pada bab sebelumnya, serta beberapa saran yang
dianggap penting untuk penelitian selanjutnya.

11
I.8 Alur Kerja
Alur kerja penelitian ini dapat digambarkan melalui bagan sebagai berikut:

Judul Penelitian
Interpretasi Ikonografis atas Ilustrasi
karya W.K. de Bruin dalam buku Roesdi djeung Misnem

Batasan Masalah Rumusan Masalah Tujuan Penelitian


Penelitian ini membatasi 1. Motif-motif apa saja yang terdapat
perhatiannya dalam 1.Tersedianya paparan
kerangka disiplin seni dalam pencitraan manusia, alam dan mengenai motif ilustrasi
rupa, dengan budaya Sunda oleh W.K. de Bruin karya W.K. de Bruin dalam
memokuskan telaah atas dalam ilustrasi buku RdM?
buku RdM dan kandungan
motif dan makna ilustrasi
karya W.K. de Bruin 2. Makna apa saja yang dapat digali
maknanya.
sebagai objek dari pencitraan manusia, alam dan
penelitiannya. budaya Sunda oleh De Bruin dalam 2.Tersedianya paparan
ilustrasi buku RdM? mengenai konteks historis
dari rangkaian ilustrasi
buku RdM khususnya, dan
ilustrasi buku pada zaman
kolonial di Hindia Belanda
Metodologi
umumnya.
1. Metode
Deskripsi praikonografis, analisis
ikonografis dan interpretasi ikonografis
dari Panofsky.
2. Teknik Pengumpulan Data
• Studi kepustakaan: buku RdM, dan
buku serta dokumen lainnya yang
relevan.
• Wawancara: dengan anak dan famili R.
Djajadiredja (alm.), lulusan Sekolah
Rakyat di Tatar Sunda sebelum PD II,
dan narasumber lainnya yang relevan.
• Observasi: museum gambar atau
tempat lainnya yang koleksinya
relevan.
3. Pendekatan Keilmuan
Pendekatan budaya visual.

Analisis Data

Kesimpulan

Gb. I.3 Bagan Alur Kerja Penelitian

12