Anda di halaman 1dari 9

EXANTHEMATOUS DRUG ERUPTION

I.

PENDAHULUAN Di Amerika Serikat, terdaftar lebih dari 300 juta resep obat dan pasien membeli jutaan obat setiap bulan. Dalam banyak kasus pasien menggunakan obat untuk pertama kalinya. Reaksi kulit merupakan salah satu efek samping yang paling umum dari obat, termasuk penisilin, sefalosporin, agen antimikroba sulfonamide, dan allopurinol (dengan kejadian hingga 50 kasus per 1000 pengguna baru), terutama obat-obatan anti kejang, termasuk carbamazepine, phenytoin, dan lamotrigin (dengan kejadian hingga 100 kasus per 1000 pengguna baru). Dilaporkan hampir semua resep obat menyebabkan ruam. Reaksi ini dapat bersifat dan asimptomatik sampai dapat mengancam nyawa. Reaksi kulit mungkin sulit untuk membedakan ruam yang tidak terkait dengan penggunaan obat, terutama exanthematous virus. 1 Exanthematous drug eruption (disebut juga morbilliformis atau erupsi obat makulopapular) adalah yang paling umum yang bisa menyebabkan erupsi. Kebanyakan ruam karena obat adalah bersifat terbatas dan hanya memilki gejala ringan. Kejadian terbanyak yang berkaitan dengan obat adalah exanthematous (makulopapular atau morbilliform), erupsi (> 80%) atau urtikaria (5 sampai 10%), namun persentase ini bervariasi. 1

II.

PATOGENESIS Antigen-presenting cells memberikan sinyal haptens, terdiri dari obat atau metabolit yang terikat dengan protein atau peptida, T cell mediated. Antigen ini spesifik pada proliferasi sel T, menginfiltrasi kulit, dan mengeluarkan sitokin, kemokin, dan mediator proinflamasi lain yang bertanggung jawab untuk tanda dan gejala yang berhubungan dengan ruam yang berhubungan dengan obat.

Berdasarkan teori yang dikenal sebagai konsep interaksi farmakologi obat dengan reseptor imun, obat molekul kecil atau metabolitnya yang bukan antigen, mengaktifkan sel T dengan mengikat reseptor sel-T. 1 Mekanisme yang memunculkan sel T terhadap suatu obat tidak diketahui, hanya sebagian kecil pasien yang diberikan obat memiliki reaksi klinis seperti ini, sedangkan yang lainnya memiliki reaktivitas imunologi tanpa ruam. Perubahan dalam status imun pasien, serta faktor genetik yang berhubungan dengan respon kekebalan tubuh, mempengaruhi resiko reaksi obat tersebut. Pasien dengan human immunodeficiency virus (HIV), transplantasi sumsum tulang, atau infeksi tertentu. yang mengonsumsi obat tertentu beresiko tinggi. Sebagai contoh, sebagian pasien dengan infeksi mononukleosis yang dirawat dengan aminopenicillins memiliki exanthematous eruption, sekitar 5% dari pasien tanpa gangguan ini yang mengonsumsi obat tersebut. Beberapa alel HLA memilki risiko lebih tinggi terhadap reaksi hipersensitivitas T-cell-mediated. Paling sering dalam kasus reaksi kulit yang parah, umumnya spesifik untuk jenis reaksi, penyebab obat, dan kelompok etnis. Di Eropa, mengonsumsi carbamazepine, HLA-A 3101 berkaitan dengan peningkatan risiko eksantema makulopapular. 1

III. FAKTOR RESIKO Faktor resiko meliputi : 2 1. Usia : drug eruption umumnya pada usia tua karena mengonsumsi lebih banyak obat dibandingkan usia muda dan mereka sering mengonsumsi lebih dari satu obat dalam 1 kali pemberian sehingga mereka lebih mudah terjadi erupsi karena obat. 2. Riwayat reaksi obat sebelumnya. 3. Riwayat keluarga. 4. Penggunaan obat dalam waktu jangka yang panjang.

5. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) menyebabkan imunitas menurun, hipersensitivitas reaksi obat meningkat

IV. GEJALA KLINIS

Gambar 1. Erupsi obat dengan makula pink yang simetris dan papul 1

Gejala klinis exanthematous drug eruption sebagai berikut : 3,4 1. Erupsi obat secara umum. 2. Selalu gatal. 3. Lesinya simetris dan sering dimulai pada daerah trunkus dan menyebar secara sentrifugal. 4. Erupsi terjadi dalam 3 pola klinis : Morbiliformis atau seperti campak Scarlatiniform atau seperti scarlet fever Papulosquamosa

5. Ruam didominasi dengan eritema berlangsung dalam 1 minggu sejak pengobatan dan menghilang (dengan deskuamasi) selama 1-2 minggu setelah menghentikan pengobatan.
3

6. Hipersensitivity syndrome reaction (HSR) : Muncul pada minggu 1-6 setelah terpapar dengan pengobatan Manifestasi kutaneus : Exanthematous eruption Manifestasi sistemik : berkaitan dengan organ dalam (hepatitis, nekrosis tubulus ginjal) Limfositosis atipikal dan eosinofilia sering muncul.

V.

DIAGNOSIS Biasanya diagnosis dibuat atas dasar klinis. kadang-kadang, biopsi kulit dapat membantu, terutama dalam membedakan dari kondisi lain, seperti penyakit graft versus tuan rumah. penting untuk menilai apakah reaksi obat yang terisolasi pada kulit, atau mempengaruhi sistem organ lain, seperti yang terjadi dengan drug reaction with eosinophilia and systemic symptoms (DRESS), yang mempengaruhi hematologi, limfatik, hati, ginjal, dan sistem pulmonar. 4

VI. DIAGNOSA BANDING Diagnosis banding exanthematous drug eruption : 1. Eksantem Virus Gejala klinisnya berupa demam, malaise, sakit tenggorokan, mual, muntah, diare, sakit perut, dan sakit kepala. Lesi mukokutaneusnya yakni sebagai berikut : - Eritema yang meluas di seluruh badan, "scarlatiniform" Makulopapular, erupsi "morbilliform" Erupsi vesikular Kadang-kadang terdapat peteki

Mukosa: Lesi mikroulseratif, peteki palatal, konjungtivitis Papula merah muda yang konfluen (morbilliform, rubeola, campak). - Biasanya pusat, yaitu, kepala, leher, dan ekstremitas proksimal.6

Gambar 2. Makula eritematosa dan papul, perubahan kulit yang khas pada infeksi akut. Erupsi dibedakan dari exanthematous (morbilliform) erupsi obat. A. distribusi Khas lesi pada badan dan ekstremitas. B. makula merah mu dan papula menjadi konfluen di beberapa daerah. 6

2. Pitiriasis Rosea Lesi biasanya hanya pada wajah dan leher. Plak mungkin tidak ada, atau mungkin ada beberapa. Papula dan plak dengan marginal collarette berwarna merah muda yang pucat atau cokelat. Berbentuk oval, tersebar, dengan panjang oval lesi mengikuti garis belahan dalam pola "Christmas tree". 6

Gambar 3. Terlihat exanthem pitiaris rosea dengan lesi herald patch 6

3. Demam Scarlet Eritema halus belang-belang pertama kali tercatat pada badan bagian atas terutama pada lipatan kulit seperti leher, aksila, selangkangan, antecubital dan fossa poplitea. Palms / sol biasanya tidak ada. Lesi belang-belang menjadi confluently eritematosa, yaitu, scarlatiniform. Peteki linear ditemukan pada lipatan-lipatan tubuh. Intensitas exanthem bervariasi dari eritema ringan sampai sedang. 6

Gambar 4. Eritema belang-belang menjadi konfluen (scarlatiniform). Peteki dapat terjadi dan memiliki exanthem di lipatan-lipatan tubuh. 6

VII. PENATALAKSANAAN Mengidentifikasi obat merupakan landasan manajemen terjadinya erupsi obat. Hal ini sangat penting untuk obat dengan waktu paruh (<24 jam), ruam exanthematous mungkin merupakan tanda awal Steven Johnson Syndrome (SJS). Mengidentifikasi obat terbukti menurunkan mortalitas. Pasien dengan tanda-tanda dan gejala yang menunjukkan ruam mungkin merupakan manifestasi awal dari reaksi parah yang harus diawasi secara ketat dan sering dirawat di rumah sakit sampai reaksi parah dapat ditangani. Jika obat ini penting dan reaksi tidak parah, desensitisasi dapat dicoba setelah sembuh, tapi ini proses jarang diperlukan dan rumit. Memberikan antihistamin seperti diphenhydramine dan hydroxyzine dapat mengurangi gejala simptomatik, seperti pruritus. Glukokortikoid topikal (yang tidak boleh digunakan pada wajah atau di daerah intertriginosa) dapat mengurangi tanda dan gejala ruam, namun data dari percobaan belum berhasil membuktikannya. 1

Data dari retrospektif dan study open-label, masing-masing,menunjukkan bahwa pengobatan awal SJS dengan glukokortikoid sistemik atau siklosporin dapat menurunkan angka kematian. Peran dari immunoglobulin intravena dalam pengobatan SJS masih kontroversial. Manfaat sistemik glukokortikoid relatif terhadap risiko dalam pengobatan exanthematous drug reactions tidak jelas. 1

DAFTAR PUSTAKA
1. Stern, Robert. Exanthematous drug eruptions. England.The New England Journal of Medicine. 2012. P : 2494-2500. 2. Goodheart, Herbert. Drug Eruption. In : Photoguide to Common Skin Disorders. USA. Wolter Kluster. 2009. P : 297-300. 3. Khanna, Neena. Cutaneous Reactions to Drugs. In : Ilustrated Synopsis of Dermatology & Sexually Transmitted Diseas 3rd edition. India. Elsevier. 2009. P : 175-78. 4. Grammer, LC. Drug Alleergy. In : Patternsons Allergic Disease 7th edition. Philadepia. Elsevier. 2009. P : 251-52. 5. Buka, Bobby. Neonatal and Pediatric Dermatologic Emergencies. In : Bukas Emergencies in Dermatology. London. Springer. 2013. P : 9. 6. Wolff K, Richard AJ. Candidiasis. Fitzpatricks : Color atlas & synopsis of clinical dermatology. New york. McGraw-Hill. 2009. P: 161,671,835.