Anda di halaman 1dari 5

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

We are faced with a world in which the figuring of imagined reality was overwhelmingly
visual and aural.
—Benedict Anderson, Imagined Communities

VI.1 Kesimpulan
Secara umum, dapat dikatakan bahwa ilustrasi-ilustrasi yang dibuat oleh W.K. de
Bruin untuk buku Roesdi djeung Misnem telah memainkan fungsinya dengan cara yang
cukup baik. Sebagaimana lazimnya ilustrasi buku, gambar-gambar karya guru gambar
dari Den Haag itu telah memperjelas maksud teks seraya menghiasi halaman buku tempat
tersajinya teks tersebut. Cara De Bruin memvisualisasikan karakter individu dan
masyarakat serta latar kehidupannya sebagaimana yang diceritakan dalam teks bukan
hanya menunjukkan upayanya untuk memahami teks, melainkan juga menunjukkan
upayanya untuk menyuguhkan gambar yang akrab dengan masyarakat pembaca buku
tersebut, terutama anak-anak. Gambar-gambar yang terdapat dalam buku tersebut
memiliki potensi besar untuk tetap diingat oleh mereka yang pernah membacanya pada
masa kanak-kanak di sekolah —yang sebagian besar, kalau tidak semuanya, kini telah
tiada.
Meskipun sejauh ini belum dapat dipastikan apakah De Bruin pernah atau tidak
pernah melawat ke Hindia Belanda, bagaimanapun gambar-gambarnya dalam buku
tersebut menyiratkan adanya observasi etnografis —barangkali melalui sumber-sumber
sekunder— mengenai kehidupan di Tatar Sunda sebelum Perang Dunia II. Setidak-
tidaknya, hal itu dimungkinkan oleh kenyataan bahwa hingga perempat pertama abad ke-
20, yakni pada waktu De Bruin membuat rangkaian ilustrasi untuk buku tersebut, telah
cukup banyak bahan pengetahuan perihal kehidupan di Hindia Belanda yang dapat
dikuasai oleh masyarakat di Negeri Kincir Angin, semisal bahan-bahan berupa drawing,
lukisan, foto, kronik, catatan perjalanan, laporan jurnalistik, hasil penelitian, arsip
pemerintahan dll. Sebagaimana ilustrator dan penulis Belanda Ben Wierink (yang
memakai nama pena Oom Ben) pada abad ke-19 menyerap aspek-aspek lukisan wayang
dan ragam hias batik Hindia Belanda —yang barangkali merupakan buah tersendiri dari

111
pameran kebudayaan dunia di Amsterdam atau Amsterdamse Wereldtentoonstelling pada
1883— dalam sejumlah ilustrasinya, tidak mengherankan jika De Bruin pun tampak
sedikit banyak mengenal karakter wayang dan ragam hias batik, misalnya, sebagaimana
yang terlihat dalam gambar-gambar yang terdapat dalam “Buku Rusdi”. Sekurang-
kurangnya, ia dapat berkonsultasi kepada A.C. Deenik, salah seorang rekan kerjanya
dalam pembuatan buku ini, yang pernah tinggal dan bekerja di Bandung.
Dari aspek ikonografisnya, terlihat bahwa dengan idiom-idiom visual yang sedikit
banyak dipungut dari Tatar Sunda, gambar-gambar karya De Bruin tentang anak-anak
dan masyarakat Sunda pada umumnya serta latar kehidupan mereka menimbulkan kesan
realistis, dalam arti mampu mendekati kehidupan sehari-hari di Tatar Sunda pada suatu
masa. Penggambaran profil tokoh-tokoh cerita —terutama Rusdi dan Misnem—,
kegiatan sehari-hari mereka, lingkungan fisik dan sosial mereka serta adat-istiadat yang
mereka jalani tampak diupayakan agar sedapat mungkin terlihat sebagai gambar
kehidupan yang khas Hindia Belanda. Namun, pada sejumlah rinciannya, gambar-gambar
De Bruin dalam buku tersebut sepertinya mengandung beberapa kekurangan dalam
observasi etnografis semisal dalam hal membedakan domba dari kambing (embé) beserta
keadaan kandangnya, menggambarkan desain interior rumah penduduk desa,
menggambarkan tungku (hawu), dll.
Jika aspek ikonografis dari gambar-gambar De Bruin diamati lebih dekat akan
terlihat bahwa visualisasi manusia, alam dan budaya Sunda oleh De Bruin sedikit banyak
bersesuaian dengan pandangan umum orang Eropa pada zaman kolonial mengenai
masyarakat pribumi di tanah jajahan. Dalam hal ini patut dicatat bahwa ada masanya
dalam pandangan umum orang Eropa, masyarakat pribumi di “timur” —khususnya di
Hindia Belanda—, dikesankan sebagai masyarakat yang secara rasial seakan-akan berada
di antara kera dan manusia, yang cenderung hidup malas (the lazy native) serta merusak
diri sendiri, dalam suatu lingkungan yang cenderung liar tapi sekaligus eksotis. Dalam
kaitan inilah dapat dilihat antara lain bahwa visualisasi karakter kakak beradik Rusdi dan
Misnem oleh De Bruin menampilkan sosok-sosok berwajah tirus, berhidung pesek dan
berkulit gelap. Ikon Rusdi, misalnya, dibuat dalam wujud sesosok anak lelaki gemuk dan
berkulit hitam yang berpakaian compang-camping serta memegang sebatang tongkat dan
sebutir pisang. Demikian pula penggambaran kegiatan sehari-harinya terkadang

112
memperlihatkan perilaku yang cenderung ganjil seperti merokok —yang seakan menjadi
bagian tersendiri dari gambaran orang Eropa tentang pribumi tanah jajahan yang suka
mengisap candu— atau bermain-main dengan bangkai ular. Masyarakat di sekeliling
Rusdi dan Misnem yang digambarkan oleh De Bruin adalah masyarakat yang membakar
kemenyan untuk menyembuhkan orang sakit tapi juga masyarakat yang terpana
mengelilingi sebuah gramofon.
Pertautan antara ilustrasi De Bruin dan pandangan umum orang Eropa mengenai
pribumi tanah jajahan menjadi signifikan manakala diingat bahwa buku Roesdi djeung
Misnem merupakan bagian tersendiri dari realisasi kebijakan pemerintah kolonial di
bidang pendidikan untuk anak-anak pribumi Hindia Belanda sebelum Perang Dunia II.
Gambar yang memperlihatkan perilaku Rusdi ketika sedang merokok sambil
bersembunyi di dekat kandang kambing, misalnya, merupakan bagian tersendiri dari
instruksi didaktik yang menekankan buruknya akibat dari kebiasaan merokok. Demikian
pula gambar yang menunjukkan seorang dukun membakar kemenyan ketika Rusdi sakit
merupakan bagian dari cara mendidik yang menekankan bahwa orang yang demam
sebaiknya diobati dengan pil kina.
Sementara dari aspek penggayaannya, antara lain terlihat bahwa untuk
memvisualisasikan karakter Rusdi dan Misnem, De Bruin sangat mengandalkan arsiran
yang rapat dengan tarikan garis ke berbagai arah. Garis-garis seperti itu terutama
dieksplorasi untuk menimbulkan citraan kulit yang legam. Arsiran seperti itu sangat
menonjol pada gambar wajah, tangan dan kaki. Dalam upaya menimbulkan citraan
tentang wajah tokoh utama cerita ini, misalnya, De Bruin juga menggambar wajah yang
bulat, dengan jarak antara ujung hidung dan bibir atas tampak memanjang, dan lekukan
antara pangkal hidung dan tulang jidat tampak tajam serta tulang rahang tampak
menonjol.
Tidak banyak eksperimen visual yang dibuat oleh De Bruin dalam “Buku Rusdi”.
Secara umumnya, gambar-gambarnya dalam buku tersebut berpegang erat pada fungsi
komunikatifnya sebagai ilustrasi bagi teks, terutama untuk anak-anak. Dalam
komposisinya, sejumlah gambar di antaranya mengandung inset untuk menonjolkan
objek gambar tertentu sesuai dengan sifat instruktif teks. Sementara pada sejumlah
gambar lainnya, yang fungsinya lebih cenderung mendekati iluminasi, De Bruin secara

113
kreatif tampak lebih banyak mengeksplorasi bentuk dan gerak, terutama berupa siluet.
Idiom-idiom visualnya tetap dipungut dari kehidupan Hindia Belanda, termasuk dari
jagat pewayangan dan ragam hias batik. Adapun dalam gambar-gambar yang berfungsi
baik sebagai ilustrasi maupun sebagai iluminasi, De Bruin tetap menonjolkan ikon-ikon
Hindia Belanda lengkap dengan idiom-idiom visualnya yang mengacu pada kain batik,
batang bambu dll.

VI.2 Saran
Kesimpulan di atas pada dasarnya bersifat sementara. Karena itu, diperlukan
penelitian lebih lanjut untuk meninjaunya kembali secara lebih mendalam atau untuk
mencapai kesimpulan yang lebih definitif.
Dalam perjalanan kariernya sebagai ilustrator buku, khususnya untuk buku-buku
tentang atau untuk masyarakat Hindia Belanda, De Bruin tidak hanya menggambar
manusia, alam dan budaya Sunda, melainkan juga menggambar manusia, alam dan
budaya Jawa, Madura, Dayak, Papua dll., selain tentu saja membuat ilustrasi untuk buku-
buku berbahasa Belanda yang dialamatkan kepada masyarakat setempat. Dengan
mengingat hal itu, ada baiknya jika penelitian lebih lanjut diarahkan pada contoh-contoh
karya De Bruin yang lebih banyak dan beragam untuk melihat secara lebih persis cara
manusia, alam dan budaya Hindia Belanda divisualisasikan. Akan lebih baik kiranya jika
penelitian mengenai hal itu mengandung komparasi visual dengan karya-karya De Bruin
yang merepresentasikan manusia, alam dan budaya Eropa.
Tentu saja, De Bruin bukan satu-satunya ilustrator Belanda yang pernah membuat
rangkaian gambar tentang Hindia Belanda. Ada sederet nama lainnya yang patut dicatat
semisal Cornelis Jetses, Tjeerd Bottema, dll. Cukup banyaknya ilustrasi buku tentang
Hindia Belanda yang mereka wariskan sejauh ini masih seperti hutan perawan yang
belum banyak dijelajahi oleh para peneliti seni rupa atau budaya visual. Bahan-bahan
penelitian itu sekurang-kurangnya akan sangat berarti bagi siapapun yang tertarik untuk
merekonstruksikan sejarah ilustrasi buku di Indonesia dan sejauh mana hal itu berpautan
dengan perkembangan ilustrasi buku di Belanda pada masanya.
Akhirnya, penelitian ini sesungguhnya mengandung harapan tersendiri akan
terselenggaranya penelitian lebih jauh yang dapat mempertautkan beragam karya visual,

114
seperti drawing, lukisan, foto dll. dengan seluk-beluk kehidupan sosial, politik dan
budaya yang melingkupinya. Dalam hal ini, pendekatan budaya visual kiranya masih
dapat diandalkan untuk menguak lapis demi lapis makna dari beragam citraan dan ikon
yang melekat pada kehidupan orang banyak dari dulu hingga kini.

115