Anda di halaman 1dari 6

Pengertian Pelecehan Seksual Sebelum membahas apa itu pelecehan seksual, akan disinggung terlebih dahulu arti kata

dari pelecehan seksual. Menurut kamus besar Indonesia (1990) pe ngertian pelecehan seksual adalah pelecehan yang merupakan bentuk pembendaan dari kata ker a melecehkan yang berarti menghinakan, memandang rendah, mengabaikan. Sedangkan seksual memiliki arti hal yang berkenan dengan seks atau enis kelamin, hal yang berk enan dengan perkara persetubuhan antara laki!laki dan perempuan. "engan demikian, berdasarkan pengertian tersebut maka pelecehan seksual berarti suatu bentuk penghinaan atau memandang rendah seseorang karena hal !hal yang berkenan dengan seks, enis kelamin atau akti#itas seksual antara laki !laki dan perempuan. Menurut Mboiek, (199$%1) dan Stanko (199&%'&) pengertian pelecehan seksual

adalah suatu perbuatan yang biasanya dilakukan lali !laki dan ditu ukan kepada perempuan dalam bidang seksual, yang tidak disukai oleh perempuan sebab ia merasa terhina, tetapi kalau perbuatan itu ditolak ada kemungkinan ia menerima akibat buruk lainnya. Pengertian lainnya dikemukakan oleh Sanistuti (dalam "ald oeni,199(%(), pelecehan seksual adalah semua tindakan seksual ataukecenderungan bertindak seksual yang bersi)at intimidasi non)isik (kata !kata, bahasa, gambar) atau )isik (gerakan kasat mata dengan memegang, menyentuh, meraba, mencium) yang dilakukan seorang laki!laki atau kelompoknya terhadap perempuan atau kelompoknya. "alam pelecehan seksual terdapat unsur !unsur yang meliputi % 1. suatu perbuatan yang berhubungan dengan seksual, $. pada umumnya pelakunya laki !laki dan korbannya peerempuan, *. +u ud perbuatan berupa )isik dan non)isik dan, (. tidak ada kesukarelaan. " ari pengertian tersebut dapat diperoleh kesimpulan bah+a unsur utama yang membedakan pelecehan seksual atau bukan adalah tindakan ,suka sama suka- (.ign osoebroto, *0 !*$). Menurut data ./0 $00& ditemukan adanya seorang perempuan dilecehkan, diperkosa dan dipukuli setap hari di seluruh dunia. Paling tidak setengah dari penduduk dunia ber enis kelamin perempuan telah mengalami kekerasan secara )isik. Studi tentang kekerasan terhadap perempuan yang dilakukan organisasi ini di 10 negara (1angladesh, 1ra2il, 3th iophia, 4epang, 5amibia, Peru, Samoa, Serbia dan Montenegro, 6hailand dan 6an2ania) menun ukan bah+a kekerasan dalam rumah tangga yang dialami perempuan lebih sering dilakukan oleh orang !orang terdekat, misalnya suami, pacar, kenalan dekat. "emikian pula h alnya dalam kasus pelecehan seksual dan pemerkosaan, orang!orang di sekitar perempuan

(memangsa) mereka. Sebanyak $(.000 perempuan di+a+ancarai dan didengarkan keluhan mereka, $07 diantara mereka mengatakan bah+a kekerasan yang mereka alami tidak pernah di ceritakan kepada siapapun karena malu, tabu dan takut. Sebanyak (7 hingga 1$7 pernah mengalami penon okan dan penendangan di perut perempuan. 6indakan pelecehan seksual, baik yang bersi)at ringan (misalnya secara #erbal) maupun yang berat (seperti perkosaan) merupakan tindakan menyerang dan merugikan indi#idu, yang berupa hak!hak pri#asi dan berkaitan sengan seksualitas. "emikian uga, hal itu menyerang kepentingan umum berupa aminan hak!hak asasi yang harus dihormati secara kolekti). Perlindungan /ukum Pasal!pasal yang mengatur tentang tindak pidana tersebut terdapat pada 89/P mengenai ke ahatan kesusilaan dan pelanggaran kesusilaan. Pencabulan (pasal $:9 !$9& ; $) penghubungan pencabulan (pasal $:&!$::). Padahal dalam kenyataan, apa yang dimaksud dengan pelecehan seksual mungkin belum masuk dalam kategori yang dimaksud dalam pasal !pasal tersebut. "ari de)inisi umum tersebut maka pelecehan seksual diartikan sebagai segala macam bentuk perilaku yang berkonotasi seksual yang dilakukan secara sepihak dan tid ak diharapkan oleh orang yang men adi sasaran dan penolakan atau penerimaan korban atas perilaku tersebut di adikan sebagai bahan pertimbangan baik secara implisit maupun ekplisit dalam membuat keputusan menyangkut karir atau peker aanya, menganggu ketenan gan beker a, mengitimidasi, dan menciptakan lingkungan ker a yang tidak aman dan tidak nyaman bagi si korban. 8onsepsi kekerasan menurut 89/P, sebagaimana tertuang dalam pasal $:9 89/P, diartikan membuat orang pingsan atau tidak berdaya. <pakah suatu peng gunaan kekerasan harus menimbulkan rasa sakit dan luka, pingsan atau tidak berdaya. Pengertian tersebut diatas hanya memberikan pen elasan penggunaan kekerasan secara )isik, padahal masih ada bentuk penggunaan kekerasan secara psikis seperti pada pelecehan seksual, hal ini tidak terangkum dalam 89/P. "emikian uga ke ahatan seksual dalam =99 89/P terdapat pada bab 6indak Pidana 8esusilaan dalam mencakup '& pasal ((&> !'0(), terbagi dalam sepuluh bagian, seperti% pelanggaran kesusilaan itu sendiri, pornogra) i dan pornoaksi, perkosaan, 2ina dan perbuatan cabul (mulai tindak pidana bagi pasangan yang tinggal bersama tanpa ikatan ,perka+inan yang sah- sampai dengan persetubuhan dengan anak !anak), perdagangan anak untuk tu uan

pelacuran, penganiayaan terhadap he+an, pencegahan kehamilan, hal !hal yang berhubungan dengan pengguguran kandungan, pengemisan, bahan yang memabukkan sampai dengan per udian. Selain itu penggunaan istilah dalam tindak pidana perkosaan dan pecabulan tetap mengunakan kata persetubuhan. /al ini akan membuat tindak pidana perkosaan tipis bedanya dengan pencabulan yang akan menyebabkan kasus perkosaan akan men adi kasus pencabulan bila tidak ditemukan bukti!bukti adanya kekerasan atau perla+anan dari korban. Pelecehan seksual yang sering ter adi tidak dapat di erat pelakunya karena tidak mencukupi unsurnya untuk kasus pencabulan atau perkosaan. Menggunakan pasal !pasal yang tidak rele#an dengan kasus sehingga tidak memberikan keadilan dan mereduksi nilai kekerasan yang dialami oleh perempuan, misalnya kasus pelecehan seksual men adi kasus pencabulan. "alam masyarakat, perempuan dianggap merupakan ,milik- masyarakat. Sehingga setiap tingkah lakunya dikontrol yang menyebabkan perempuan kehilangan kendali atas tubuh dan bahkan i+anya. "alam kondisi seperti ini perempuan berada dalam posisi yang rentan terhadap kekerasan seksual yang dilakukan oleh indi#idu maupun komunitas serta sulit terbebas dari siklus kekerasan yang ter adi tersebut. 1agaimana dengan persoalan /<M? "alam kon#ensi Internasional ( khususnya yang lebih dirati)ikasi pemerintah Indonesa), berkaitan dengan perlindungan hak asasi perempuan, maka pada tanggal 10 "esember 19(: menekankan bah+a ,setiap manusia dilahirkan merdeka dan sama dalam martabat dan hak!haknya-. <rtinya, hak asasi ma nusia (/<M) merupakan suatu hak yang melekat pada diri manusia, yang bersi)at sangat mendasar dan mutlak diperlukan agar manusia dapat berkembang sesuai dengan bakat, cita !cita dan martabatnya. /ak bersi)at uni#ersal, artinya ia dimiliki setiap manusia ta npa membedakan bangsa, ras, agama maupun enis kelamin. Secara ob ekti), prinsip perlindungan terhadap /<M antara negara yang satu dengan yang lain adalah sama. 6etapi secara sub ekti), dalam pelaksanaanya tidak demikian. <rtinya, pada suatu +aktu ada pers amaan hakikat terhadap apa yang sebaiknya dilindungi dan diatur, tetapi pada saat yang bersamaan ada perbedaan persepsi dan pena)siran /<M antara negara yang satu dengan negara yang lain. 8eadaan ini lebih disebabkan oleh adanya perbedaan latar belakang id eologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan uga perbedaan kepentingan nasional dari masing!masing negara.

Se ak a+al ,9ni#ersal "eclaration o) /uman =ights- ini memang dimaksudkan sebagai common standard o) achie#ement )or all peoples and all nations. In i berarti bah+a deklarasi tersebut hanya memberikan garis besar bagi negara !negara dalam menentukan apa yang selayaknya dihormati sebagai /<M. Secara yuridis deklarasi tidak meletakkan suatu ke+a iban apa pun yang bersi)at mengikat. 6idak ada satu negara a tau kekuatan apa pun yang dapat memaksakan dipatuhinya deklarasi ini. 8endatipun deklarasi tersebut hanya merupakan an uran moral sa a, pada kenyataanya mempunyai peran yang cukup besar dalam mendorong masyarakat internasional untuk menyusun suatu kon#ensi, baik internasional maupun regional yang berkaitan dengan /<M. 1eberapa diantaranya adalah% the 3uropean con#ention on human right 19'0, con#ention relating to the status o) re)ugees 19'1, con#ention on the political right o) +omen 19'*, con#ention against discrimination in education 19&0, international con#enant on economic, social and cultural rights 19&&, international con#enant on ci#il and political rights 19&&, international con#ention on the elimination o) all )orms o) racial discrimination 19&&, con#ention on the elimination o) all )orms o) discrimination against +omen 19>9, con#ention on the right o) the child 19:9, dan 6he @iena "eclaration on /uman =ights 199*. Pada tahun 19>9, ma elis umum P11 mengesahkan kon#ensi yang sangat bernilai kemanusiaan tinggi yaitu 3limination o) all )orms o) discrimination against +omen (A3"<.). Bebih dari 1*0 negara menyetu ui untuk melaksanakan sebagian besar dari kon#ensi tersebut. 1anyak 5egaratelah berusaha untuk mengubah atau untuk menyelaraskan undang !undang dan kebiasaan yang ada dalam masyarakat guna meningkatkan persamaan dera at dan hak !hak perempuan. .alaupun kon#ensi tersebut sangat komprehensi), masih banyak terlihat praktek C praktek penggunaan kekerasan terhadap perempuan, seperti masih ditemukannya pe rdagangan perempuan, dengan ancaman atau penggunaan kekerasan. 6he @iena "eclaration on /uman =ights 199* pada pasal 1: dan *: menggolongkan kekerasan terhadap perempuan sebagai pelanggaran terhadap hak asasi manusia. 1ilamana tindakan kekerasan dika i menurut pandangan hak asasi manusia, sebenarnya tindakan kekerasan itu harus dapat dicegah karena bertentangan dengan hak asasi manusia dan menghalangi pemenuhan dari kebutuhan dasar manusia. Meskipun demikian penggunaan kekerasan sebagaimana di elaskan di atas memang kadangkala tidak dapat dihindari terutama

oleh para penegak hukum. 0leh karena itu satu !satunya cara dapat dilaksanakan adalah membatasi dan mengendalikan penggunaan tindakan kekerasan itu. Pelecehan seksual termasuk tindak kekerasan terhadap p erempuan, yang perlu digugat karena merupakan mani)estasi ketidakadilan sehubungan dengan peran dan perbedaan gender. Pelecehan seksual sebagai salah satu bentuk tindak kekerasan terhadap perempuan bukanlah masalah indi#idu semata!mata, melainkan lebih merupakan masalah ke ahatan yang berakar pada nilai ! nilai budaya, sosial, ekonomi, dan politik di dalam masyarakat tersebut. 6indak kekerasan terhadap perempuan merupakan penghambat kema uannya serta menghalanginya menikmati hak asasi dan kebebasan, yang ug a menghambat tercapainya kesetaraan gender antara perempuan dan laki !laki. 6indak kekerasan terhadap perempuan dianggap sebagai pelanggaran hak asasi dan telah disepakati dalam kon)erensi dunia tentang hak asasi manusia di .ina 199*. <kan tetapi belum ban yak orang yang mengetahui bah+a tindakan kekerasan, termasuk pelecehan seksual, merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia. "ari beberapa pengamatan di lapangan dapat disimpulkan bah+a bukan sa a banyak korban yang tidak tahu haknya, malahan mereka t akut melaporkannya. "isamping itu ditemukan uga, bah+a banyak para penegak hukum uga tidak tahu hak !hak yang dipunyai korban, sehingga mereka sudah merasa puas kalau sudah mampu menegakkan hak !hak pelaku ke ahatan (seperti tertuang dalam 89/<P). D8orban ke ahatan pelecehan seksual dengan kekerasan mempunyai ke+a iban di samping hak. <dapun hak!hak korban ke ahatan pelecehan seksual sampai pada kekerasan )isik adalah sebagai berikut% mendapat bantuan )isik (pertolongan pertama kesehatan, pakaian), mendapat bantuan dalam menyelesaikan masalahnya baik dari tingkat a+al seperti pelaporan maupun proses selan utnya, misalnya pendampingan oleh pengacara dan sebagainya, mendapatkan rehabilitasi dan pembinaan antara lain meminta untuk tidak diekspose di media secar a besar!besaran dan terbuka, dilindungi dari kemungkinan adanya ancaman dari pihak pelaku ke ahatan atau keluarganya, mendapatkan restitusi ganti kerugian, kompensasi dari pihak pelaku, dan menggunakan rechtsmiddelen (upaya hukum). /ak!hak korban tersebut diatas, perlu diad#okasi sehingga trauma secara psikologis bisa berkurang dan terlebih lagi penanganan hukum terhadap pelaku bisa ditegakkan. "alam

mengad#okasi korban sangat diperlukan, oleh sebab itu peran #olunter dan mungkin uga peran perguruan tinggi uga sangat diharapkan dalam perlindungan kepada korban.

Anda mungkin juga menyukai