Anda di halaman 1dari 24

I. A.

Latar Belakang

PENDAHULUAN

Pada ilmu mikrobiologi ini kita mempelajari banyak tentang jasad-jasad renik yang disebut juga dengan microba atau protista, di mana adanya, ciri-cirinya, kekerabatan antara sesamanya seperti juga dengan kelompok organisme lainnya, penggunaan dan peranannya dalam kesehatan serta kesejahteraan kita.

Mikroorganisme sangat erat kaitannya dengan kehidupan kita, beberapa di antaranya bermanfaat dan yang lain merugikan. Banyak di antaranya menjadi penghuni dalam tubuh manusia. Beberapa mikroorganisme menyebabkan penyakit dan yang lain terlibat dalam kegiatan manusia sehari-hari seperti misalnya pembuatan anggur, keju, yogurt, produksi penicillin, serta proses-proses perlakuan yang berkaitan dengan pembuangan limbah. Pertumbuhan mikroorganisme dapat dipengaruhi oleh zat antimikroba. Anti mikroba adalah suatu zat kimia atau campuran zat kimia yang dipakai untuk mengurangi gejala penyakit atau untuk menyembuhkan penyaktit. Zat antimikroba tersebut kebanyakan tidak spesifik dan dapat menimbulkan strain mikroba baru yang lebih resisten terhadap anti mikroba dan dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. Kelangsungan hidup dari suatu mikroba sangat dipengaruhi oleh zat-zat kimia yang berpengaruh terhadap siklus hidup dari mikroba tersebut dan kemampuan bakteri dalam mempertahankan hidupnya dari penggaruh bahan-bahan tersebut. Uji sensitivitas bakteri merupakan cara untuk mengetahui dan mendapatkan produk alam yang berpotensi sebagai bahan anti bakteri serta mempunyai

kemampuan untuk menghambat pertumbuhan atau mematikan bakteri pada konsentrasi yang rendah. Metode uji sensitivitas bakteri adalah metode cara bagaimana mengetahui dan mendapatkan produk alam yang berpotensi sebagai bahan anti bakteri serta mempunyai kemampuan untuk menghambat pertumbuhan atau mematikan bakteri pada konsentrasi yang rendah. Uji sentivitas bakteri merupakan suatu metode untuk menentukan tingkat kerentanan bakteri terhadap zat antimikroba dan untuk mengetahui senyawa murni yang memiliki aktivitas antimikroba. B. Tujuan - Untuk mengetahui pengaruh antimikroba terhadap aktivitas bakteri gram positif dan gram negatif - Mengetahui pengaruh antagonisme dan sinergisme antar antimikoba terhadap bakteri gram posotif dan gram negatif

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Mikrobiologi adalah suatu cabang ilmu biologi yang mempelajari tentang mikroorganisme dan interaksi mereka dengan organisme lain dan lingkungannya (Singleton.2006). Sejarah tentang mikroba dimulai dengan ditemukannya mikroskop oleh Leeuwenhoek (1633-1723). Mikroskop temuan tersebut masih sangat sederhana, dilengkapi satu lensa dengan jarak fokus yang sangat pendek, tetapi dapat menghasilkan bayangan jelas yang perbesarannya antara 50-300 kali. (Skou, dan Sogaard Jensen. 2007) Mikroba ialah jasad renik yang mempunyai kemampuan sangat baik untuk bertahan hidup. Jasad tersebut dapat hidup hamper di semua tempat di permukaan bumi. Mikroba mampu beradaptasi dengan lingkungan yang sangat dingin hingga lingkungan yang relative panas, dari ligkungan yang asam hingga basa. Berdasarkan peranannya, mikroba dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu mikroba

menguntungkan dan mikroba merugikan (Afriyanto 2005). Antibakteri atau antimikroba adalah bahan yang dapat membunuh atau menghambat aktivitas mikroorganisme dengan bermacam-macam cara. Senyawa antimikroba terdiri atas beberapa kelompok berdasarkan mekanisme daya kerjanya atau tujuan penggunaannya. Bahan antimikroba dapat secara fisik atau kimia dan berdasarkan peruntukannya dapat berupa desinfektan, antiseptic, sterilizer, sanitizer dan sebagainya (Lutfi 2004). Bahan pengawet atau disebut juga senyawa antimikroba pada pangan dibedakan atas tiga golongan berdasarkan sumbernya, yaitu:

1. Senyawa antimikroba yang terdapat secara alami di dalam bahan pangan, misalnya asam pada buah-buahan, dan beberapa senyawa pada rempah-rempah. 2. Bahan pengawet yang ditambahkan dengan sengaja ke dalam pangan atau pangan olahan, misalnya: Nitrit untuk menghambat bakteri pada kornet sapi dan sosis, Garam natrium klorida untuk menghambat mikroba pada ikan asin, Asam benzoat untuk menghambat kapang dan kamir pada selai dan sari buah, Asam cuka (asam asetat) untuk menghambat mikroba pada asinan, Asam propionat untuk menghambat kapang pada roti dan keju, Sulfit untuk menghambat kapang dan kamir pada buah-buahan kering dan anggur. 3. Senyawa antimikroba yang terbentuk oleh mikroba selama proses fermentasi pangan. Asam laktat, hidrogen peroksida (H202), dan bakteriosin adalah senyawa antimikroba yang dibentuk oleh bakteri asam laktat selama pembuatan produkproduk susu fermentasi seperti yogurt, yakult, susu asidofilus, dan lain-lain, serta dalam pembuatan pikel dari sayur-sayuran seperti sayur asin. Antimikroba digunakan untuk membasmi mikroba penyebab terjadinya infeksi. Gejala infeksi terjadi akibat gangguan langsung oleh mikroba dan berbagai zat toksik yang dihasilkan mikroba. Pada dasarnya suatu infeksi dapat ditangani oleh sistem pertahanan tubuh, namun adakalanya sistem ini perlu ditunjang oleh penggunaan antibiotik. Antibiotik yang digunakan untuk membasni mikroba penyebab infeksi pada manusia, harus memiliki sifat toksisitas selektif. Artinya antibiotik harus bersifat toksik untuk mikroba, tetapi relatif tidak toksik untuk hospes. Toksisitas selektif tergantung kepada struktur yang dimiliki sel bakteri dan manusia

misalnya dinding sel bakteri yang tidak dimiliki oleh sel manusia, sehingga antibiotik dengan mekanisme kegiatan pada dinding sel bakteri mempunyai toksisitas selektif relatif tinggi (Ganiswarna, 1995). Sensitivitas bakteri terhadap antibiotik tergantung kapada kemampuan antibiotik tersebut untuk menembus dinding sel bakteri. Antibiotik lebih banyak yang efektif bekerja terhadap bakteri Gram positif karena permeabilitas dinding selnya lebih tinggi dibandingkan bakteri Gram negatif. Jadi suatu antibiotik dikatakan mempunyai spektrum sempit apabila mampu menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif, sedangkan antibiotik berspektrum luas jika pertumbuhan bakteri Gram positif dan bakteri Gram negatif dapat dihambat oleh antibiotik tersebut (Sumadio, dkk. 1994). Berdasarkan sasaran tindakan antibiotik terhadap mikroba maka antibiotik dapat dikelompokkan menjadi lima golongan yaitu antibiotik penghambat sintesis dinding sel mikroba, antibiotik yang termasuk kelompok ini ialah penisilin, sefalosporin, basitrasin, dan vankomisin. Yang kedua yaitu antibiotik penghambat sintesis protein sel mikroba, antibiotik yang termasuk kelompok ini ialah golongan aminoglikosida, makrolida, kloramfenikol, linkomisin dan tetrasilin. Yang ketiga yaitu antibiotik penghambat sintesis asam nukleat sel mikroba, antibiotik yang termasuk kelompok ini ialah rifampisin dan golongan kuinolon. Keempat yaitu antibiotik pengganggu fungsi membran sel mikroba, antibiotik yang termasuk kelompok ini ialah golongan polien. Dan yang kelima yaitu antibiotik penghambat

metabolisme mikroba, antibiotik yang termasuk kelompok ini ialah sulfonamida, trimetoprin dan asam p-amino salisilat (Ganiswarna, 1995). Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih bahan kimia sebagai senyawa antimikroba adalah sebagai berikut : 1. Memiliki kemampuan untuk mematikan mikroorganisme dalam konsentrasi rendah pada spectrum luas, sehingga dapat membunuh berbagai mikroorganisme. 2. Bisa larut dalam air atau pelarut lain sampai taraf yang diperlukan secara efektif. 3. Memiliki stabilitas tinggi, jika dibiarkan dalam waktu relatif lama tidak kehilangan sifat antimikrobanya. 4. Bersifat letal bagi mikroorganisme, tetapi aman bagi manusia maupun hewan. 5. Bersifat homogen, sehingga komposisi selalu sama untuk setiap aplikasi dosis takaran. 6. Senyawa tersedia dalam jumlah besar dengan harga yang pantas. 7. Sifat bahan harus serasi. 8. Dapat menentukan tipe mikroorganisme yang akan dibasmi. 9. Aman terhadap lingkungan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kerja antimikroba adalah sebagai berikut : 1. Konsentrasi bahan, setiap mikroorganisme memerlukan konsentrasi yang berbeda untuk senyawa antimikroba yang sama dalam menghambat atau membunuh. 2. Waktu, setiap mikroorganisme memerlukan waktu yang berbeda-beda ketika dipaparkan terhadap suatu senyawa antimikroba untuk dapat menghambatatau mematikan.

3. pH. Konsentrasi ion hydrogen mempengaruhi peranan bakterisida dengan cara mempengaruhi organisme dan bahan kimia dalam bakterisida tersebut. 4. Temperatur. Pembunuhan bakteri oleh bahan kimia akan meningkat dengan suatu peningkatan temperature. 5. Sifat organisme. Kemampuan suatu bahan tertentu bergantung pada komponen organisme yang diuji dengan bahan tersebut. 6. Usia mikroorganisme. Tingkat kerentanan mikroorganisme sangat ditentukan oleh umur biakan mikroorganisme. 7. Bahan ekstra. Adanya bahan organic seperti serum, darah atau nanah mempengaruhi aktivitas beberapa senyawa antimikroba. Zona Hambat merupakan tempat dimana bakteri terhamabat pertumbuhannya akibat antibakteri atau antimikroba. Zona hambat adalah daerah untuk menghambat pertumbuhan mikroorrganisme pada media agar oleh antibiotik. Contohnya: tetracycline, erytromycin, dan streptomycin. Tetracycline merupakan antibiotik yang memiliki spektrum yang luas sehingga dapat menghambat pertumbuhan bakteri secara luas (Pelczar, 1986). Logam berat terbagi atas 2 kelompok yaitu logam berat yang bersifat sangat beracun (toksik) seperti: Arsen (As), Merkuri (Hg), Timbal (Pb), Cadmium (Cd) danChromium (Cr) dan logam esensial yang juga dapat menjadi racun apabila dikonsumsi secara berlebihan, antara lain: Tembaga (Cu), Besi (Fe), Zink (Zn) dan Selenium (Se) (Suhendrayatma, 2001).

Bakteri Escherichia coli dan Bacillus subtilis merupakan kelompok bakteri enterobacteriaceae yang hidup di dalam saluran pencernaan manusia sebagai penghuni usus (enteron) dan bersifat patogen. Bakteri E. coli dapat menyebabkan gastroenteritis pada manusia, sedangkan B. subtilis dapat menyebabkan kerusakan pada makanan kaleng yang juga dapat mengakibatkan gastroenteritis pada manusia yang mengkonsumsinya. Penyakit infeksi hingga saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, penyakit ini merupakan penyebab kematian manusia sepanjang sejarah. Tumbuhan memiliki metabolit sekunder yang dapat bertanggung jawab terhadap ketahanan alami dari tumbuhan, mungkin karena alasan ini banyak tumbuhan yang digunakan untuk terapi infeksi dan penelitian untuk eksplorasi senyawa yang potensial sebagai anti mikroba. Salah satu diantaranya adalah pemanfaatan senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada tanaman Jahe (Zingiber officinale Roxb.). Berdasarkan uji fitokimia jahe memiliki kandungan minyak atsiri, fenol yang larut dalam pelarut etanol, berdasarkan uraian ini dapat diharapkan bahwa ekstrak dari tanaman jahe (Zingiber officinale Rosc) dapat menghambat pertumbuhan dari bakteri Eschercia coli dan Staphylococcus aureus(Mutholib, 2009). Kunyit mengandung lebih dari satu senyawa yang bersifat bakterisidal. Salah satu senyawa tersebut adalah senyawa kurkumin yang merupakan senyawa golongan fenol yang terdiri dari dua cincin fenol simetris dan dihubungkan dengan satu rantai hiptadiena. Senyawa fenol menghambat pertumbuhan mikroba dengan cara merusak

membrane sel yang akan menyebabkan denaturasi protein sel dan mengurangi tekanan permukaan sel (Hidayati, 2002). Kencur (Kaempferia galanga L.) sudah sejak lama dikenal dan ditanam di Indonesia. Tanaman kencur mempunyai kegunaan tradisional dan sosial cukup luas dalam masyarakat Indonesia (Rukmana, 1994: 10). Rimpang tanaman kencur mempunyai khasiat obat antara lain untuk menyembuhkan batuk dan mengeluarkan dahak (ekspektoansia), mencuci luka yang bernanah, borok atau kudis (Afriatini, 2001: 14). Khasiat lain dari kencur adalah untuk mengobati diare dan menghilangkan darah kotor (Ramadoni, 2008).

III. METODE PRAKTIKUM A. Alat dan Bahan Alat : - Cawan petri steril - Pipet mikro - Jangka sorong - Kertas saring whatman (cakram) Bahan : - Medium NA - E.coli - B.subtilis - Natrium benzoat 0,1% - Asam sitrat 0,1% - Kunyit - Kencur - Jahe - Asam asetat 0,1% - Aquades

B. Prosedur Praktikum 1. Penggunaan single kertas cakram

Menyiapkan 2 cawan petri steril, masukkan masing-masing 1 ml starter mikroba

memasukkan medium ke dalam cawan petri steril dalam keadaan hangat 45oC

Memutar-mutar cawan petri untuk meratakan medium

mencelupkan kertas cakram ke dalam larutan pengawet selama 10 menit lalu kering anginkan dan memasukkannya ke dalam cawan petri yang telah diisi medium

menginkubasi medium selama 48 jam pada suhu ruang dengan posisi cawan terbalik

Mengamati zona bening dan melakukan pengukuran penghambatan antimikroba terhadap bakteri. pengamatan dikakukan 2 kali setelah 24 jam dan 48 jam.

2. Penggunaan Double kartas cakram

Menyiapkan 2 cawan petri steril, masukkan masing-masing 1 ml starter mikroba

Memasukkan medium ke dalam cawan petri steril dalam keadaan hangat 45oC

Memutar-mutar cawan petri untuk meratakan medium

Mencelupkan kertas cakram 1 ke dalam larutan pengawet A selama 10 menit lalu kering anginkan dan memasukkannya ke dalam cawan petri yang telah diisi medium

Mencelupkan kertas cakram 2 ke dalam larutan pengawet B selama 10 menit lalu kering anginkan dan memasukkannya ke dalam cawan petri yang telah diisi medium (diletakkan diatas kertas cakram 1)

Menginkubasi medium selama 48 jam pada suhu ruang dengan posisi cawan terbalik

Mengamati zona bening dan melakukan pengukuran penghambatan antimikroba terhadap bakteri. pengamatan dikakukan 2 kali setelah 24 jam dan 48 jam.

IV.

DATA PENGAMATAN

Tabel 1. Tabel hasil pengamatan diameter zona bening antimikroba single cakram (Diameter kertas cakram = 5,5 mm) Waktu Bakteri pengamatan Kunyit E.coli As.Benzoat aquades 24 jam Kunyit B.subtilis As.Benzoat aquades E.coli Kunyit As.Benzoat aquades 48 jam B.subtilis Kunyit As.Benzoat aquades 8,0 7,0 8,7 7,9 6,9 6,6 6,9 6,8 7,1 7,6 6,9 7,47 5,2 5,1 6,8 6,8 7,3 4,7 7,2 7,2 8,1 6,9 5,9 5,7 8,1 6,2 7,9 6,7 5,9 4,3 6,83 6,17 7,6 6,8 6,37 4,9 Antimikroba I 6,1 12,4 4,2 II 8,3 10,3 5,2 III 7,2 12,7 4,5 Rata-rata 7,2 11,8 4,63 Pengukuran zona jernih (mm)

Tabel 2. Tabel hasil pengamatan diameter zona bening antimikroba double cakram (Diameter kertas cakram = 5,5 mm) Waktu Bakteri pengamatan Kunyit + E.coli As.Benzoat 24 jam Kunyit + B.subtilis As.Benzoat Kunyit + E.coli As.Benzoat 48 jam Kunyit + B.subtilis As.Benzoat 8,1 8,5 8,7 8,43 7,8 6,6 6,6 7,0 7,1 7,4 8,2 7,56 7,4 8,6 9,7 8,56 Antimikroba I II III Rata-rata Pengukuran zona jernih (mm)

V.

PEMBAHASAN

Antibakteri atau antimikroba adalah bahan yang dapat membunuh atau menghambat aktivitas mikroorganisme dengan bermacam-macam cara. Senyawa antimikroba terdiri atas beberapa kelompok berdasarkan mekanisme daya kerjanya atau tujuan penggunaannya. Bahan antimikroba dapat secara fisik atau kimia dan berdasarkan peruntukannya dapat berupa desinfektan, antiseptic, sterilizer, sanitizer dan sebagainya (Lutfi 2004). Antibiotika/antimikroba adalah senyawa kimia khas yang dihasilkan atau diturunkan oleh organisme hidup, termasuk struktur analognya yang dibuat secara sintetik, yang dalam kadar rendah mampu menghambat proses penting dalam kehidupan satu spesies atau lebih mikroorganisme. Pada awalnya antibiotika diisolasi dari mikroorganisme, tetapi sekarang beberapa antibiotika telah didapatkan dari tanaman tinggi atau binatang (Soekardjo, 1995). Zona Hambat merupakan tempat dimana bakteri terhamabat pertumbuhannya akibat antibakteri atau antimikroba. Zona hambat adalah daerah untuk menghambat pertumbuhan mikroorrganisme pada media agar oleh antibiotik. Contohnya: tetracycline, erytromycin, dan streptomycin. Tetracycline merupakan antibiotik yang memiliki spektrum yang luas sehingga dapat menghambat pertumbuhan bakteri secara luas (Pelczar, 1986). Pada praktikum ini, dilakukan uji pengaruh antimikroba dalam menghambat pertumbuhan mikroba. Dalam praktikum ini menggunakan mikroba E.coli dan B.subtilis dimana E.coli adalah bakteri gram negatif sedangkan B.subtilis adalah

bakteri gram positif. Dan untuk mengetahui pengaruh antimikroba terhadap pertumbuhan E.coli dan B. subtilis.dilakukan percobaan dengan menggunakan kertas cakram. Prosedur kerja pada praktikum ini yaitu biakan E.coli dan B. subtilis sebanyak 1 ml dimasukkan kedalam cawan petri steril kemudian ditambahkan dengan medium NA dalam keadaan hangat suhu 45oC sebagai sumber nutrien dan media tumbuh bakteri. Kemudian cawan diputar-putar untuk meratakan medium NA dan dibiarkan hingga medium memadat. Setelah itu, kertas cakram dicelupkan ke dalam larutan pengawet selama 10 menit kemudian dikeringanginkan dan dimasukkan kedalam cawan petri yang berisi medium. Kertas cakram digunakan karena kertas cakram berfungsi untuk mengukur sensitivitas senyawa antimikroba terhadap aktivitas mikroba. Senyawa antimikroba atau pengawet yang digunakan pada praktikum ini adalah kunyit dan asam benzoat 0,1% serta digunakan pula akuades sebagai kontrol. Selain menggunakan metode single cakram, digunakan pula metode double cakram yaitu dengan dua buah kertas cakram. Prosedur yang digunakan pada metode ini hampir sama dengan metode single cakram, metode double kertas cakram menggunakan 2 buah kertas cakram berfungsi untuk mengukur sensitivitas senyawa antimikroba terhadap aktivitas mikroba .Kertas cakram yang pertama dicelupkan ke dalam larutan kunyi dan kertas cakram yang kedua dicelupkan ke dalam larutan asam benzoat 0,1% kemudian diletakkan secara menumpuk. Setelah kertas cakram dimasukkan kedalam cawan petri berisi medium, medium kemudian diinkubasi selama 48 jam pada suhu ruang dengan posisi cawan terbalik. Pengamatan terhadap

zona bening/zona hambat dilakukan dua kali yaitu setelah 24 jam dan 48 jam. Pengukuran zona hambat antimikroba terhadap bakteri dilakukan dengan

menggunakan jangka sorong. Jangka sorong memiliki tingkat ketelitian yang lebih tinggi dibandingkan dengan penggaris biasa sehingga diharapkan hasil pengukuran yang didapat bisa lebih akurat. Dari pengamatan yang telah dilakukan, didapatkan hasil pada waktu inkubasi 24 jam, untuk E.coli dengan antimikroba kunyit diameter zona hambatnya yaitu 7,2 mm, antimikroba asam benzoat 0,1% diameter zona hambatnya 11,8 mm, antimikroba double cakram (kunyit dan asam abenzoat 0,1%) zona hambatnya 8,56 mm dan zona hambat akuades sebagai kontrol yaitu 4,63 mm. Pada inkubasi 24 jam ternyata zona hambat terbesar adalah pada antimikroba asam benzoat 0,1% yaitu sebesar 11,8 mm. Pada waktu inkubasi 48 jam, untuk E.coli dengan antimikroba kunyit diameter zona hambatnya yaitu 6,8 mm, antimikroba asam benzoat 0,1% diameter zona hambatnya 6,37 mm, antimikroba double cakram (kencur dan asam benzoat 0,1%) zona hambatnya 7,0 mm dan zona hambat akuades sebagai kontrol yaitu 4,9 mm. Pada inkubasi 48 jam zona hambat terbesar adalah dengan menggunakan metode double cakram (kunyit dan asam benzoat 0,1%). Adanya perbedaan jenis zona hambat terbesar pada masing-masing inkubasi hal ini disebabkan karena adanya perbedaan kandungan senyawa bioaktif pada masing antimikroba. Pada waktu inkubasi 24 jam, untuk B.subtilis dengan antimikroba kunyit diameter zona hambatnya yaitu 6,83 mm, antimikroba asam benzoat 0,1% diameter

zona hambatnya 6,17 mm, antimikroba double cakram (kencur dan asam benzoat 0,1%) zona hambatnya 7,56 mm dan zona hambat akuades sebagai kontrol yaitu 7,6 mm. Pada inkubasi 24 jam zona hambat terbesar adalah dengan menggunakan aquades sebagai kontrol. Pada waktu inkubasi 48 jam, untuk B.subtilis dengan antimikroba kunyit diameter zona hambatnya yaitu 7,6 mm, antimikroba asam benzoat 0,1% diameter zona hambatnya 6,9 mm, antimikroba double cakram (kencur dan asam benzoat 0,1%) zona hambatnya 8,43 mm dan zona hambat akuades sebagai kontrol yaitu 7,47 mm. Pada inkubasi 48 jam zona hambat terbesar adalah dengan menggunakan metode double cakram (kunyit dan asam benzoat 0,1%). Perbedaan diameter zona hambat ini disebabkan karena berbeda pula jenis antimikroba dan kandungan yang ada pada senyawa tersebut. Dalam praktikum yang kami lakukan didapat kunyit memiliki zona hambat yang lebih besar dibadingkan dengan asam benzoat 0,1%, hal ini disebabkan karena kunyit mengandung lebih dari satu senyawa yang bersifat bakterisidal. Salah satu senyawa tersebut adalah senyawa kurkumin yang merupakan senyawa golongan fenol yang terdiri dari dua cincin fenol simetris dan dihubungkan dengan satu rantai hiptadiena. Senyawa fenol menghambat pertumbuhan mikroba dengan cara merusak membrane sel yang akan menyebabkan denaturasi protein sel dan mengurangi tekanan permukaan sel (Hidayati, 2002). Setelah kami melakukan pengukuran zona hambat dari bakteri E. coli dan B. substilis baik single cakram maupun double cakram yaitu didapatkan rata-rata hasil

pengukuran terbesar yaitu zona hambat yang dihasilkan oleh bakteri B. substilis dengan single cakram maupun double cakram yang diinkubasikan selama 24 jam dan 48 jam. Pada beberapa penelitian meyebutkan bahwa efek penghambatan

senyawa antimikroba lebih efektif terhadap bakteri Gram positif daripada dengan bakteri Gram negatif. Hal ini disebabkan perbedaan komponen penyusun dinding sel kedua kelompok bakteri tersebut. Pada bakteri Gram posiitif 90 persen dinding selnya terdiri atas lapisan peptidoglikan, selebihnya adalah asam teikoat, sedangkan bakteri Gram negatif komponen dinding selnya mengandung 5-20 persen peptidoglikan, selebihnya terdiri dari protein, lipopolisakarida, dan lipoprotein. Namun dalam praktikum ini justru penghambatan senyawa antimikroba lebih efektif terhadap bakteri Gram Negatif. Hal ini disebabkan karena mikroorganisme E. coli merupakan

mikroorganisme yang resisten terhadap zat antimikroba atau antibiotik. Sehingga antibiotik yang digunakan harus memiliki aktivitas antimikroba yang tinggi. Hanya dari golongan antibiotik tertentu saja yang bisa membunuh E. coli. Konsentrasi antimikroba yang terlalu banyak ataupun terlalu sedikit juga mempengaruhi pengaruh antimikroba terhadap bakteri. Mekanisme penghambatan mikroorganisme oleh senyawa antimikroba disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

1.

Menggangu pembentukan dinding sel Mekanisme ini disebabkan karena adanya akumulasi komponen lipofilat yang

terdapat pada dinding atau membran sel sehingga menyebabkan perubahan komposisi penyusun dinding sel. Terjadinya akumulasi senyawa antimikroba dipengaruhi oleh bentuk tak terdisosiasi. Pada konsentrasi rendah molekul-molekul phenol yang terdapat pada minyak thyme kebanyakan berbentuk tak terdisosiasi, lebih hidrofobik, dapat mengikat daerah hidrofobik membran protein, dan dapat melarut baik pada fase lipid dari membran bakteri. Beberapa laporan juga meyebutkan bahwa efek penghambatan senyawa antimikroba lebih efektif terhadap bakteri Gram positif daripada dengan bakteri Gram negatif. Hal ini disebabkan perbedaan komponen penyusun dinding sel kedua kelompok bakteri tersebut. Pada bakteri Gram posiitif 90 persen dinding selnya terdiri atas lapisan peptidoglikan, selebihnya adalah asam teikoat, sedangkan bakteri Gram negatif komponen dinding selnya mengandung 5-20 persen peptidoglikan, selebihnya terdiri dari protein, lipopolisakarida, dan lipoprotein. 2. Bereaksi dengan membran sel Komponen bioaktif dapat mengganggu dan mempengaruhi integritas membran sitoplasma, yang dapat mengakibatkan kebocoran materi intraseluler, seperti senyawa phenol dapat mengakibatkan lisis sel dan meyebabkan denaturasi protein, menghambat pembentukan protein sitoplasma dan asam nukleat, dan menghambat ikatan ATP-ase pada membran sel.

3.

Menginaktivasi enzim Mekanisme yang terjadi menunjukkan bahwa kerja enzim akan terganggu

dalam mempertahankan kelangsungan aktivitas mikroba, sehingga mengakibatkan enzim akan memerlukan energi dalam jumlah besar untuk mempertahankan kelangsungan aktivitasnya. Akibatknya energi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan menjadi berkurang sehingga aktivitas mikroba menjadi terhambat atau jika kondisi ini berlangsung lama akan mengakibatkan pertumbuhan mikroba terhenti (inaktif). Efek senyawa antimikroba dapat menghambat kerja enzim jika mempunyai spesifitas yang sama antara ikatan komplek yang menyusun struktur enzim dengan komponen senyawa antimikroba. Gugus hidroksil (-OH) dan gugus aldehid (-CHO) yang terdapat pada komponen aktif rempah, menunjukan aktivitas antimikroba yang kuat. Mekanisme penghambatannya yaitu Gugus hidroksil membentuk ikatan hidrogen dengan sisi aktif enzim sehingga menyebabkan deaktivasi enzim. 4. Menginaktivasi fungsi material genetik Komponen bioaktif dapat mengganggu pembentukan asam nukleat (RNA dan DNA), menyebabkan terganggunya transfer informasi genetik yang selanjutnya akan menginaktivasi atau merusak materi genetik sehingga terganggunya proses pembelahan sel untuk pembiakan (Dwidjoseputro, 2003). Pada beberapa penelitian meyebutkan bahwa efek penghambatan

senyawa antimikroba lebih efektif terhadap bakteri Gram positif daripada dengan bakteri Gram negatif. Hal ini disebabkan perbedaan komponen penyusun dinding sel kedua kelompok bakteri tersebut. Pada bakteri Gram posiitif 90 persen dinding selnya

terdiri atas lapisan peptidoglikan, selebihnya adalah asam teikoat, sedangkan bakteri Gram negatif komponen dinding selnya mengandung 5-20 persen peptidoglikan, selebihnya terdiri dari protein, lipopolisakarida, dan lipoprotein. Namun dalam praktikum ini justru penghambatan senyawa antimikroba lebih efektif terhadap bakteri Gram Negatif. Pada percobaan ini perlakuan yaitu single cakram dan double cakram. Perlakuan single cakram adalah untuk mengetahui kemampuan masing-masing antimikroba dalam menghambat pertumbuhan mikroba, sedangkan perlakuan double cakram adalah untuk mengetahui reaksi antimikroba jika digunakan secara bersamaan. Reaksi yang ditimbulkan bisa reaksi antagonisme ataupun sinergisme. Pada perlakuan menggunakan double kertas cakram kelompok kami

mendapatkan hasil yang menunjukkan bahwa penggabungan senyawa antimikroba asam benzoat dan kunyit memberikan reaksi yang antagonis pada penghambatan pertumbuhan bakteri E. coli (bakteri Gram -) sedangkan pada bakteri Bacillus substilis (bakteri Gram +) menunjukan reaksi yang sinergis. Terjadinya reaksi yang sinergis disebabkan oleh penggunaan senyawa antimikroba yang bersamaan yang dapat meningkatkan efektifitas penghambatan mikroba. Pada hasil pengamatan diatas bisa dicontohkan bahwa adanya senyawa bioaktif dengan penambahan senyawa asam asetat menjadi reaksi yang sinergis. Sedangkan reaksi yang antagonis disebabkan karena adanya dua jenis senyawa antinmikroba yang memiliki daya hambat satu sama lain sehingga kedua jenis senyawa tersebut sulit menyatu

VI. A. Kesimpulan

PENUTUP

Zona hambat terbesar yaitu zona hambat yang dihasilkan oleh antimikroba asam benzoat pada bakteri E. coli yang memiliki diameter sebesar 11,8 mm

Zona hambat terkecil yaitu zona hambat yang dihasilkan oleh aquades pada bakteri E. coli yang memiliki diameter sebesar 4,63 mm

Zona hambat yang dihasilkan oleh bakteri B. substilis dengan single cakram maupun double cakram yang diinkubasikan selama 24 jam dan 48 jam memiliki rata-rata yang terbesar.

Penggabungan senyawa antimikroba asam benzoat dan kunyit pada perlakuan double cakram memberikan reaksi yang antagonis pada penghambatan pertumbuhan bakteri E. coli (bakteri Gram -) sedangkan pada bakteri Bacillus substilis (bakteri Gram +) menunjukan reaksi yang sinergis.

B. Saran Dalam melakukan praktikum pengujian antimikroba terhadap pertumbuhan mikroba, harus diperhatikan kesterilan alat yang digunakan dalam praktikum, prosedur kerja serta dalam pengukuran zona hambat harus dilakukan secara teliti agar didapatkan hasil yang akurat.

DAFTAR PUSTAKA Afriyanto Eddy. 2005. Pakan Ikan dan Perkembangannya. Jakarta : Penerbit Kanisius. Djide, M.N, 2003. Mikrobiologi Farmasi, Jurusan Farmasi Unhas, Makassar. Dwidjoseputro, D.1998, Dasar-Dasar Mikrobiologi, Djambatan, Jakarta. Gaman, P. M., dan Sherrington, K. B., 1992, Ilmu Pangan : Pengantar Ilmu Pangan, Nutrisi, dan Mikrobiologi, Edisi Kedua, Yogyakarta, UGM Press. Ganiswarna, S.G, 1995. Farmakologi dan Terapi Edisi 4. Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. Jati Wijaya. 2007. Biologi Interaktif. Jakarta : Ganeca Exact. Jawetz, G., Melnick, J. L., dan Adelberg, E. A. 1991, Mikrobiologi untuk Profesi Kesehatan, Jakarta, EGC. Lutfi Ahmad. 2004. Kimia Lingkungan. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional Pelczar, Michael J, 1986, Dasar-Dasar Mikrobiologi, UI-Press, Jakarta. Suhendrayatna, 2001, Bioremoval logam berat dengan menggunakan

mikroorganisme,Disampaikan pada seminar on-Air Bioteknologi untuk Indonesia Abad 21. 1-14 Februari 2001, Sinergy Forum-PPI Tokyo Institute of Technology. Sumadio, H., dan Harahap, 1994, Biokimia dan Farmakologi Antibiotika, USU Press, Medan. Suwandi U. 1999. Peran Media Untuk Identifikasi Mikroba Patogen Cermin Dunia Kedokteran. Jakarta : Grup Kalbe Farma.