Anda di halaman 1dari 12

PREPARASI ONLAY KLAS I DAN KLAS II, PROSES PEMBUATAN, POLISH, HINGGA SEMENTASI

MAKALAH KONSERVASI GIGI 1

DISUSUN OLEH : 1. Resty Wahyu Veriani 2. Heztri Sela Prima 3. Sheilladelia Shavira (04121004065) (04121004066) (04121004067)

4. Khairannisa Trisna Asih (04121004068) 5. Catherine Swasti A 6. Siti Firdha Bimariska 7. Intan Ardita 8. Karlina Dwi Putri (04121004069) (04121004070) (04121004071) (04121004072)

Dosen Pembimbing : drg. Ulfa Yasmin

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2013
i

DAFTAR ISI

Halaman Judul ......................................................................................... Daftar Isi.................................................................................................. PEMBAHASAN ...................................................................................... 1.1 Restorasi Rigid ................................................................................... 1.2 Onlay ................................................................................................. 1.3 Teknik Restorasi Onlay ...................................................................... 1.4 Kesimpulan ........................................................................................ Daftar Pustaka .........................................................................................

i ii 1 1 1 4 8 10

ii

PEMBAHASAN

1.1 Restorasi Rigid Restorasi merupakan perawatan untuk mengembalikan struktur anatomi dan fungsi pada gigi yang disebabkan karies, fraktur, atrisi, abrasi, dan erosi. Restorasi dapat dibagi atas dua bagian, yaitu plastis dan rigid. Dalam restorasi onlay, restorasi ini termasuk dalam restorasi rigid yang merupakan restorasi yang dibuat di labratorium dental dengan menggunakan model cetakan gigi yang dipreparasi kemudian disemenkan pada gigi. Umumnya restorasi ini

membutuhkan kunjungan berulang dan penempatan tumpatan sementara sehingga lebih mahal untuk pasien. Beberapa bahan restorasi rigid untuk onlay yang digunakan yaitu logam dengan kekuatan tensil yang besar, yang membutuhkan preparasi kavitas yang luas dan bevel sebagai retensi tetapi memiliki masalah estetis. Kemudian bahan porselen, bahan ini membutuhkan biaya yang besar biasanya sampai dua atau tiga kali lebih mahal dari restorasi rigid logam atau komposit plastis. Teknik restorasi rigid dibagi atas tiga metode yaitu, direct, semidirect dan indirect. Restorasi onlay bisa menggunakan teknik semidirect (satu kali kunjungan yang dibuat menggunakan die fleksible dan berfungsi untuk mengoreksi kontak marginal) dan teknik indirect (pembuatan restorasi rigid yang dilakukan dalam laboratorium dental dengan menggunakan model dari kavitas gigi yang dipreparasi dan membutuhkan kunjungan berulang). Dengan teknik restorasi rigid indirect, penyusutan polimerisasi terjadi ekstraoral dan kontur yang lebih mudah dicapai karena restorasi dibuat diluar mulut, serta celah dalam restorasi dapat diminimalkan dengan memberikan tekanan pada restorasi sebelum penyinaran.

1.2 Onlay Onlay merupakan rekonstruksi gigi untuk menutupi beberapa cusp gigi posterior dan didesain untuk memperkuat gigi yang menjadi lemah karena karies atau restorasi sebelumnya. Ciri utama dari restorasi ini adalah mempertahankan sebagian besar jaringan gigi yang berhubungan dengan gingival dan hal ini

merupakan

pertimbangan

periodontal

yang

membantu.

(Baum,

Lloyd

dkk.1997:544).

Indikasi onlay : 1. Pengganti restorasi amalgam yang rusak 2. Apabila restorasi dibutuhkan sebagai penghubung cusp bukal dan lingual 3. Restorasi karies interproksimal gigi posterior 4. Retorasi gigi posterior yang menerima tekanan oklusal yang kuat 5. Untuk mengurangi kerentanan gigi terhadap fraktur tonjol

Kontra indikasi : Restorasi dengan kavitas yang kecil

Keuntungan : 1. Kekuatan terhadap fraktur tinggi 2. Biokompatibel 3. Low wear 4. Kontrol terhadap kontur dan kontak baik

Kerugian : 1. Memerlukan lebih dari satu kali kunjungan 2. Menggunakan restorasi sementara 3. Memerlukan biaya yang cukup mahal 4. Teknik yang digunakan cukup sulit

5. Pada saat preparasi gigi, lebih banyak permukaan gigi yang dikikis

Untuk mencapai fungsi yang optimal dan hasil yang estetis, petunjuk persiapan berikut harus dipertimbangkan : 1. Semua enamel harus didukung oleh dentin yang sehat. 2. Semua sudut dan tepi bagian dalam harus dibuat membulat untuk menghindari tekanan. 3. Semua dinding proksimal harus flare atau miring 5-15 derajat ( tanpa undercut). 4. Yang harus diperhatikan adalah tidak adanya undercut dan kedalaman minimum yang masih bisa untuk preparasi dari permukaan oklusal adalah 1,5 mm.

Alat-alat yang digunakan : 1. Kontra angel 2. Ekskavator 3. Eksplorer/ sonde 4. Bur (fisur, bulat, inverted) 5. Batu karborundum dan sikat/brush 6. Semprotan udara 7. Gips snap dan spatula untuk gips 8. Plat gelas dan spatula 9. Lecron 10. Moffel dan alat slinger 11. Tungku/ perapian

Bahan-bahan yang digunakan : 1. Alkohol 70 % 2. Inlay wax 3. Orden 4. Serbuk seng oksida 5. Investment gips

6. Kawat sprue

1.3 Teknik Restorasi Onlay Preparasi Kavitas KLAS I

Apabila morfologi oklusal telah mengalami perubahan karena restorasi sebelumnya, karies, atau penggunaan fisik, maka inlay dengan dua permukaaan tidak akan adekuat lagi. Hal ini memerlukan suatu restorasi yang meliputi seluruh daerah oklusal. Dalam keadaan ini, onlay merupakan jenis restorasi yang tepat. Restorasi ini tidak melibatkan bagian proksimal. (Baum, Lloyd dkk.1997:544) 1. Lakukan pengurangan cups oklusal pada gigi yang akan dipreparasi, namun tidak mencapai proksimal, sekitar 1,5mm menggunakan bur karbid. Disebut juga ekstrakorona karena pengisian restorasi berada pada mahkota gigi, tepatnya hanya pada cups. 2. Dinding dibuat tegak atau sedikit divergen kearah oklusal untuk memudahkan afdruk malam atau pemasangan onlay 3. Kemudian membentuk bevel pada cavosurface angel untuk memperluas perlekatan agar tidak mudah pecah apabila mendapat tekanan oklusi, sekitar 0,5mm.

Klas II

Preparasi onlay telah melibatkan lebih dari satu tonjolan gigi yang hilang dan telah melibatkan bagian proksimal. Prinsip preparasi onlay ini pada prinsipnya hampir sama dengan amalgam klas II namun onlay klas II kavitasnya yang sudah lebar dan tidak memungkinkan lagi untuk direstorasi amalgam kavitas klas II. Disebut juga intrakorona karena pengisian restorasi mencapai bagian dalam kavitas, tidak hanya pada cups luar. 1. Pengurangan oklusal untuk mendapatkan akses dan lapangan pandang yang baik untuk tahap selanjutnya, menggunakan bur karbid dengan kedalaman 1,5 mm. 2. Mengambil dentin yang terinfeksi, defek restorasi dan proteksi pulpa. 3. Axiopulpal line angel dibuat tajam dengan fine grit diamond dan axiogingival line angel diberi groove/ alur. 4. Dinding dibuat tegak atau sedikit divergen kearah oklusal untuk memudahkan afdruk malam atau pemasangan onlay. 5. Cavosurface angel diberi bevel lebih kurang 0,5 mm. Retensi berbentuk groove dibuat dengan bur karbid (0,3mm) sebagai retensi gigi yang pendek yang banyak mengambil cusp dan resistensi diperoleh dengan membentuk dinding-dinding kavitas yang sejajar satu dengan yang lain, dinding-dinding yang lurus, dasar yang datar, dan sudut-sudut yang tajam. 6. Menghaluskan sudut-sudut aksio-pulpal dan tepi email sebagai bevel. Hendaknya bevel tidak diluaskan lebih dalam karena akan mengurangi retensi dari suatu restorasi. Bevel biasanya tidak dibuat di dinding aproksimal karena akan membentuk undercut, mengingat sebagian besar tepi kavitas terletak dibawah gigi yang paling cembung, akan tetapi dinding gingiva harus dibevel dengan bur barker curson halus dan

kuncup kecepatan tinggi, hal ini sangat penting karena meningkatkan kecekatan tuangan. Membuat model kerja die Mencetak rahang pasien kemudian dicor menggunakan stone untuk menghasilkan model kerja dengan gigi yang telah dipreparasi

Melakukan tumpatan sementara pada pasien dengan restorasi rigid menggunakan semen perekat sementara seperti : zinc oksid eugenol.

Memodel malam Teknik yang digunakan disini adalah teknik langsung/direct, artinya kita langsung memodel malam pada kavitas yang telah dipreparasi. Sedangkan nantinya saat di klinik, kita menggunakan teknik tidak langsung/ indirect. Malam inlay dilunakkan diatas lampu spiritus, kemudian kemudian ditekan-tekan pada kavitas sampai penuh dan dimodel, baik tonjol maupun fisur sesuai bentuk anatomis semula. Kawat spru yang dibuat dari penjepit
6

kertas/ paper clip ditusukkan pada daerah tepi (marginal ridge) dekat titik kontak. Spru ditarik keluar dengan arah vertical. Apabila malam tidak dapat keluar atau masih terdapat sisa malam dalam kavitas, menandakan preparasi kavitas masih kurang atau asih ada undercut. Preparasi diperbaiki dengan menghilangkan bagian-bagian yang merupakan

undercut. Bevel dilihat pada model malam, batasnya harus jelas dan tegas. Menanam dalam moffel Investment gip diaduk dalam gip snap dengan konsistensi yang tidak terlalu kental. Model malam dan spru yang telah dilengkapi dengan reservoir diulasi dengan kuas ang telah dicelupkan ke dalam adonan investment, kemudian difiksasi pada moffel hood. Moffel diletakkan di atas moffel hood, kemudian moffel diisi dengan gip investmen yang telah diaduk sambil moffel diketuk-ketuk, sehingga tidak ada gelembung udara. Setelah gip investment mengeras moffel hood dilepas.

Menghilangkan malam Kawat spru diambil dengan memanaskan pada lampu spiritus. Setelah gip investment keras, letakkan moffel dengan posisi terbalik (bekas spru di bawah) pada tungku, dengan maksud untuk mencairkan malam yang ada pada investment sehingga malam keluar seluruhnya, sampai investment dan lubang bekas spru terlihat merah membara. Kemudian moffel diletakkan pada alat slinger dan di slinger.

Pengepasan onlay Spru dipotong dengan discus carborondum. Jika ada gelembung logam dihilangkan dengan bur (bagian dalam onlay jangan dibur). Kavitas didisinfeksi, onlay dicoba dimasukkan dan dikeluarkan dari kavitas harus stabil dan tidak goyang, hubungan tepi harus baik, tidak ada trauma tekanan oklusi dengan gigi antagonisnya dan pada bagian proksimal tidak ada over hanging.

Pemolesan Inlay dihaluskan dengan batu karborundum, dilanjutkan dengan finishing bur. Terakhir dibuat mengkilap dengan menggunakan sikat dan serbuk batu apung (pumice) dengan air.

Pemasangan

Setelah onlay dipoles, onlay dibersihkan dengan alkohol. Kavitas juga didisinfeksi lalu keduanya dikeringkan. Aduk semen seng fosfat dengan konsistensi yang tepat, oleskan pada bagian dalam onlay (tipis-tipis saja), kemudian onlay dimasukkan pada kavitas yang seluruh dindingnya sudah diberi lapisan tipis semen seng fosfat. Tekan onlay tersebut tepat pada arahnya sampai semen keras. Pada saat pemasangan onlay, tumpatan sementara dibongkar dan dibersihkan lagi, kemudian baru dipasangkan restorasi onlay yang telah dipoles.

1.4 Kesimpulan Onlay adalah salah satu restorasi non plastis yang merupakan rekonstruksi gigi yang lebih luas meliputi satu tonjol gigi atau lebih, dapat menggunakan teknik semidirect maupun indirect, restorasi ini termasuk restorasi rigid yaitu
8

restorasi yang dibuat di labratorium dental dengan menggunakan model cetakan gigi yang dipreparasi kemudian disemenkan pada gigi. Umumnya restorasi ini membutuhkan kunjungan berulang dan penempatan tumpatan sementara sehingga lebih mahal untuk pasien. Beberapa bahan restorasi yang digunakan pada onlay, seperti: logam tuang, resin komposit dan porselen atau keramik. Dalam preparasinya dibagi menjadi dua klas yaitu klas I (bagian oklusal) dan klas II (meliputi bagian proksimal) yang membutuhkan bevel agar perlekatan saat pemasangannya lebih kuat dan tidak mudah pecah, dilanjutkan dengan memodel malam dengan teknik indirect pada model die dari hasil cetakan pada gigi yang telah dipreparasi hingga polish dan sementasi ke gigi yang akan dipasangkan onlay.

DAFTAR PUSTAKA

Anusavice, Kenneth J. 2003. Philips : Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi. Johan Arief Budiman dan Susi Purwoko (terj.). Jakarta : EGC. Baum, Philips, Lund. 1997. Buku Ajar Ilmu Konservasi Gigi Edisi III. Jakarta: EGC Jack L. Ferracane, Ph.D.. 2001. Materials in Dentistry: Principles and Applications. USA: Lippincott Williams & Wilkins. Walton, Richard E. dan Mahmoud Torabinejad. 2008. Prinsip dan Praktik Ilmu Endodonsia Edisi 3. Jakarta : EGC.

10