Anda di halaman 1dari 5

APLIKASI FARMAKOKINETIK DOSIS GANDA Pada dasarnya suatu penyakit dapat diobati oleh satu obat.

Obat tersebut ditetapkan dosis dan frekuensi pemakaiannya dalam sehari karena pada umumnya obat digunakan untuk pemakaian ganda (berulang). Frekuensi pemakaian ditetapkan berdasarkan parameter farmakokinetiknya seperti tetapan kecepatan eliminasi. Semakin kecil tetapan kecepatan eliminasi, maka semakin berkurang frekuensi pemakaiannya dibandingkan dengan obat yang mempunyai tetapan kecepatan eliminasi yang lebih besar. Oleh karenanya, jika seseorang mendapatkan dua jenis obat atau lebih yang mempunyai waktu paruh biologis berbeda maka frekuensi pemakaiannya seharusnya berlainan. tersebut di atas dipelajari di dalam ilmu farmakokinetik. "etode pemberian Obat Pada sukarelawan dengan metode three way crossover Sukarelawan $!% Periode # Parasetamol &'' mg Periode ## (ombinasi Periode ### Fenilpropan spek!aspek

Parasetamol olamin )*+ &'' mg dan PP )*l &' &' mg

,!-

Fenilpropan olamin )*+ &' mg

mg Parasetamol &'' mg

(ombinasi Parasetamol &'' mg dan PP )*l &' mg

&!.

(ombinasi Parasetamol &'' mg dan PP )*l &' mg

Fenilpropan olamin )*+ &' mg

Parasetamol

)asil penetapan parameter farmakokinetik dari kedua obat baik tunggal maupun kombinasi menunjukkan nilai tetapan absorpsi (ka) tidak berbeda secara bermakna, artinya pemberian secara bersamaan (kombinasi) antara parasetamol dan fenilpropanolamin hidroklorida tidak mempengaruhi kecepatan absorpsi masing!masing obat yang diberikan secara tunggal. )al yang sama ditunjukkan nilai tetapan laju elimiasi dari kompartemen sentral (k e) dan waktu tercapainya konsentrasi puncak (tmaks) yang tidak berbeda secarabermakna antara pemberian secara tunggal dengan kombinasi baik pada parasetamol maupun

fenilpropanolamin hidroklorida Perbedaan waktu paruh eliminasi dari seluruh tubuh (t/0) untuk parasetamol antara pemberian tunggal dan kombinasi, tidak bermakna secara statistik dengan metode uji t!student pasangan sepadan pada aras keberartian (p) ','&. kan tetapi untuk nilai t/0 dari fenilpropanolamin hidroklorida berbeda secara bermakna antara nilai t/0 fenilpropanolamin hidroklorida yang diberikan secara tunggal (rata!rata .,11 jam) dan yang diberikan secara kombinasi dengan pemberian parasetamol (rata!rata $',.' jam). 2engan demikian pemberian secara bersamaan antara parasetamol dosis &'' mg dan fenilpropanolamin hidroklorida dosis &' mg,

mempengaruhi waktu paruh eliminasi fenilpropanolamin hidroklorida yakni menjadi lebih lama, sedangkan pada parasetamol tidak berpengaruh. 3ilai 4*'!5 (luas daerah di bawah kur6a) dan *maks (konsentrasi puncak) 4* '!5 dan *maks untuk

dari kedua obat memiliki perbedaan bermakna baik nilai

parasetamol maupun fenilpropanolamin hidroklorida antara obat yang diberikan secara tunggal dan kombinasi. 2ari hasil tersebut dapat dikatakan bahwa tingkat absorpsi untuk parasetamol yang diberikan secara tunggal lebih besar dari pada tingkat absorpsi parasetamol yang diberikan secara kombinasi. 2emikian pula tingkat absorpsi fenilpropanolamin hidroklorida yang diberikan secara tunggal lebih besar dari tingkat absorpsi fenilpropanolamin hidroklorida yang diberikan secara kombinasi. 2engan demikian pemberian bersamaan antara parasetamol dan fenilpropanolamin hidroklorida dalam bentuk kombinasi tetap dapat menurunkan tingkat absorpsi dari masing!masing obat. Parameter t/0, *maks dan 4*'!5 merupakan parameter farmakokinetik

yang sangat penting untuk menetapkan profil farmakokinetik suatu obat. 2engan demikian dapat dikatakan bahwa profil farmakokinetik fenilpropanolamin hidro! klorida yang diberikan secara tunggal berbeda secara bermakna dengan profil farmakokinetik parasetamol yang diberikan secara kombinasi dengan parasetamol. Sementara pengaruh pemberian kombinasi obat ini terhadap parasetamol hanya mempengaruhi nilai *maks dan 4*'!5. Oleh karena itu pemberian secara bersamaan (kombinasi tetap) dari parasetamol dan fenilpropanolamin hidroklorida berpengaruh terhadap nilai!nilai parameter atau profil farmakokinetik dari masing!masing obat tersebut. Sehingga diperlukan

adanya pengkajian lebih lanjut untuk menentukan frekuensi pemakaian dan dosis dari kedua obat tersebut apabila diberikan sebagai kombinasi tetap, sebagaimana terdapat dalam obat flu atau obat batuk yang banyak beredar di #ndonesia. KESIMPULAN Pemberian kombinasi parasetamol dosis &'' mg dan fenilpropanolamin hidroklorida dosis &' mg secara oral pada enam orang sukarelawan mempengaruhi profil farmakokinetik masing!masing obat yang diberikan secara tersendiri7tunggal. Pada profil farmakokinetik parasetamol yang diberikan secara kombinasi dengan fenilpropanolamin )*l menunjukkan nilai kadar puncak (*maks) dan +uas bawah (ur6a ( 4*'!5) lebih kecil dari pada nilai *maks dan rea di

4*'!5 dari

parasetamol yang diberikan secara tersendiri7 tunggal. Sedangkan pada profil farmakokinetik fenilpropanolamin )*l yang diberikan secara kombinasi dengan parasetamol juga menunjukkan nilai *maks dan 4*
'!5

yang lebih kecil serta nilai

waktu paruh eliminasi dari tubuh (t/0, ) yang lebih

besar dari pada nilai *maks,

4*

'!5,

dan t/0 dari fenilpropanolamin )*l

yang diberikan secara tersendiri7tunggal.