Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH BAHASA INDONESIA

KALIMAT EFEKTIF

Dosen Pembimbing : Siti Zulaikah, S. Ag. MH Disusun Oleh Kelompok 7 : 1. ERIK PUJIANTO 2. FEBRIANA RAHMADHANI 3. SILVI RIZKI FAUZI 4. KUMALA EKA PUSPITA

Program Study Perbankan Syariah (C)

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) JURAI SIWO METRO T.A 2012 / 2013

KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT di mana atas anugerahnya, sehingga kami dapat menyelesaikan Tugas Makalah Bahasa Indonesia ini dan tidak lupa juga junjungan Nabi besar kita Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari alam kegelapan ke alam terang-benerang. Penulisan makalah ini yang di dalamnya mencakup mengenai Materi Pengertian Kalimat Efektif dan Ciri-Ciri Kalimat Efektif. Sebagai pembahasan materi ini kita dapat menambah pengetahuan kami tentang bagaimana cara menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan tidak menggunakan lagi bahasa yang tidak baku. Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu terselesainya makalah ini, sebagai manusia penulis juga tidak luput dari kesalahan dan kekurangan. Oleh sebab itu, penulis menantikan kritik dan saran yang bersifat konstruktif untuk penyempurnaan makalah ini.

Metro, 20 Oktober 2012 Penulis

Kelompok 7

ii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL............................................................................................. i KATA PENGANTAR ......................................................................................... ii DAFTAR ISI ........................................................................................................ iii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ..................................................................................... 1 B. Rumusan Masalah ................................................................................ 2 C. Tujuan Permasalahan............................................................................ 2

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Kalimat Efektif ................................................................... 3 B. Ciri-Ciri Kalimat Efektif ...................................................................... 3 C. Syarat-Syarat Kalimat Efektif .............................................................. 10 D. Struktur Kalimat .................................................................................. 10 E. Unsur-Unsur Kalimat............................................................................ 11

BAB III PENUTUP A. Simpulan ............................................................................................. 19 B. Saran ..................................................................................................... 20 DAFTAR PUSTAKA

iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara tepat dan dapat dipahami secara tepat pula (BPBI, 2003:91). Menurut sebuah buku, Kalimat efektif adalah suatu kaimat yang singkat, padat jelas dan lengkap yang dapat mewakili gagasan pembicara atau penulis serta dapat diterima maksudnya atau artinya serta memiliki tujuan yang di maksudkan oleh penulis atau pembicara. Definisi kalimat efektif juga diungkapkan oleh Badudu (1995) Kalimat efektif ialah kalimat yang baik karena apa yang dipikirkan atau dirasakan oleh pembaca (penulis dalam bahasa tulis) dapat diterima dan dipahami oleh pendengar (pembaca dalam bahasa tulis) sama benar dengan apa yang dipikirkan atau dirasakan oleh penutur atau penulis. Syarat-syarat kalimat efektif, yaitu : 1. Syarat awal yang meliputi pemilihan kata atau diksi dan penggunaan ejaan 2. Syarat utama yang meliputi struktur kalimat dan ciri kalimat efektif

Keraf (1984: 36) berpendapat, kalimat efektif tidak hanya sanggup memenuhi kaidah-kaidah atau pola-pola sintaksis, tetapi juga harus mencakup beberapa aspek lainnya yang meliputi, sebagai berikut: 1. Penulisan secara aktif sejumlah perbendaharaan kata (kosakata) bahasa tersebut 2. Penguasaan kaidah-kaidah sintaksis bahasa itu secara aktif, 3. Kemampuan menyampaikan gaya yang paling cocok untuk gagasan 4. Tingkat penalaran (logika) yang dimiliki seseorang.

Dari beberapa penjelasan tentang berbagai sumber yang saya dapat jadi, kalimat efektif selalu menonjolkan gagasan pokok dengan menggunakan penekanan agar dapat diterima oleh pembaca.

iv

B. Rumusan Masalah 1. Apa pengertian dari Kalimat Efektif ? 2. Ciri-ciri yang terdapat pada Kalimat Efektif ? C. Tujuan Permasalahan Tujuan dari permasalahan ini adalah untuk mengkaji dan mengetahui apa pengertian dari kalimat efektif dan ciri-ciri kalimat efektif itu sendiri.

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Kalimat Efektif Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan penutur/penulisnya secara tepat sehingga dapat dipahami oleh

pendengar/pembaca secara tepat pula. Efektif dalam hal ini adalah ukuran kalimat yang memiliki kemampuan menimbulkan gagasan atau pikiran pada pendengar atau pembaca. Dengan kata lain, kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mewakili pikiran penulis atau pembicara secara tepat sehingga pendengar/pembaca dapat memahami pikiran tersebut dengan mudah, jelas dan lengkap seperti apa yang dimaksud oleh penulis atau pembicaranya.

B.

Ciri-Ciri Kalimat Efektif Untuk dapat mencapai keefektifan, suatu kalimat harus memenuhi paling tidak enam syarat berikut, yaitu adanya:

1. Kesatuan Yang dimaksud dengan kesatuan adalah terdapatnya satu ide pokok dalam sebuah kalimat. Dengan satu ide itu kalimat boleh panjang atau pendek, menggabungkan lebih dari satu kesatuan, bahkan dapat mempertentangkan satu sama lainnya, asalkan ide atau gagasan kalimatnya tunggal. Penutur tidak boleh menggabungkan dua kesatuan yang tidak mempunyai hubungan sama sekali ke dalam suatu kalimat. a. Contoh kalimat yang tidak jelas kesatuan gagasannya: 1) Pembangunan gedung sekolah baru pihak yayasan dibantu oleh bank yang memberi kredit. (terdapat subjek ganda dalam kalimat tunggal). 2) Dalam pembangunan sangat berkaitan dengan stabilitas politik. (memakai kata depan yang salah sehingga gagasan kalimat menjadi kacau).
vi

3) Berdasarkan genda sekretaris manajer personalia akan memberi pengarahan kepada pegawai baru. (tidak jelas siapa yang memberi pengarahan).

b. Contoh kaimat yang jelas kesatuan gagasannya: 1) Pihak yayasan dibantu oleh bank yang memberi kredit untuk membangun gedung sekolah baru. 2) Membangunan sangat berkaitan dengan politik. 3) Berdasarkan agenda, sekretaris manajer personalia akan memberi pengarahan kepada pegawai baru.

2. Kepaduan (koherensi) Yang dimaksud koherensi adalah hubungan yang padu antara unsurunsur pembentuk kalimat. Yang termasuk unsur pembentuk kalimat adalah kata, frasa, klausa, serta tanda baca yang membentuk S-P-O-Pel-Ket dalam kalimat. a. Contoh kalimat yang unsurnya tidak koheren: 1) Kepada setiap pengendara mobil di Kota Jakarta harus memiliki surat izin mengemudi. (tidak mempunyai subjek/subjeknya tidak jelas). 2) Saya punya rumah baru saja diperbaiki. (struktur tidak benar/rancu) 3) Tentang kelangkaan pupuk mendapat keterangan para petani. (unsur S- P-O tidak berkaitan erat) 4) Yang saya sudah saya sarankan kepada mereka adalah merevisi anggaran daripada itu proyek. (salah dalam pemakaian kata dan frasa). b. Contoh kalimat yang unsur-unsurnya koheren: 1) Setiap pengendara mobil di Kota Jakarta harus memiliki surat izin mengemudi. 2) Rumah saya baru saja diperbaiki. 3) Para petani mendapat keterangan tentang kelangkaan pupuk.

vii

4) Yang sudah saya sarankan kepada mereka adalah merevisi anggaran proyek itu.

3. Keparalelan Yang dimaksud dengan keparalelan atau kesejajaran adalah terdapatnya unsur-unsur yang sama derajatnya, sama pola atau susunan kata dan frasa yang dipakai di dalam kalimat. Umpamanya dalam sebuah perincian, unsur pertama menggunakan verba, unsur kedua dan seterusnya juga verba. Jika bentuk pertama menggunakan nomina, bentuk berikutnya juga harus nomina. b. Contoh kesejajaran atau paralelisme yang salah: 1) Kegiatan di perpustakaan meliputi pembelian buku, membuat katalog, dan buku-buku diberi label. 2) Kakakmu menjadi dosen atau pengusaha? 3) Demikianlah agar ibu maklum, dan atas perhatiannya ucapkan terimma kasih. 4) Dalam rapat itu diputuskan tiga hal pokok, yaitu meningkatan mutu produk, memperbanyak waktu penyiaran ikan dan pemasaran yang lebih gencar.

c.

Contoh kesejajaran atau paralelisme yang benar: 1) Kegiatan diperpustakaan meliputi pembelian buku, pembuatan katalog dan pelabelan buku. 2) Kakakmu sebagai dosen atau sebagai pengusaha? 3) Demikianlah agar Ibu maklum, dan atas perhatian Ibu saya ucapkan terima kasih. 4) Dalam rapat ini diputuskan tiga hal pokok, yaitu meningkatkan mutu produk, meningkatkan frekuensi iklan dan lebih menggencarkan pemasaran.

viii

4. Penekanan Yang dimaksud dengan penekanan adalah suatu perlakuan khusus menonjolkan bagian kalimat sehingga berpengaruh terhadap makna kalimat secara keseluruhan. Cara yang dipakai untuk memberi perlakuan khusus pada kata-kata tertentu ada beberapa, yaitu: a. Dengan meletakkan kata yang ditonjolkan itu di awal kalimat, b. Dengan melakukan pengulangan kata ( repetisi), c. Denga melakukan pengontrasan kata kunci, d. Dengan menggunakan partikel/penegas.

Contoh penekanan dengan menempatkan kata yang ditonjolkan pada awal kalimat: 1) Pada bulan Desember kita ujian akhir semester. (bukan akhir november). 2) Kita akan ujian akhir semester pada bulan Deember. (bukan mereka) 3) Ujian akhir semester kita tempuh pada bulan Desember. (bukan ujian tengah semester)

Contoh penekanan dengan pengulangan kata: 1) Saya senang melihat panorama alam yang indah; saya senang melihat lukisan yang indah, dan saya juga senang, melihat hasil seni ukir yang indah. 2) Sudara-saudara, kita tidak suka dibohongi, kita tidak suka ditipu, kita tidak suka dibodohi.

Contoh penekanan dengan pengontrasan kata kunci: 1) Penduduk desa itu tidak menghendaki bantuan yang berifat sementara, tetapi bantuan yang bersifat permanen. Contoh peneknan dengan menggunakan partikel penegas: 1) Hendak pulang pun hari sudah gelap dan hujan pula. 2) Adakah yang bertanggung jawab menyelesaikan masalah itu.

ix

5. Kehematan Yang dimaksud dengan kehematan ialah menghindari pemakaian kata yang tidak perlu. Hemat tidak bararti harus menghilangkan kata-kata yang dapat memperjelas arti kalimat. Hemat di sini berarti ekonomis tidak memakai kata-kata mubazir, tidak mengulang-ulang subjek, tidak menjamakkan kata yang sudah berbentuk jamak. Dengan hemat kata-kata, diharapkan kalimat menjadi padat berisi.

a.

Contoh kalimat yang tidak hemat kata: 1) Saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri bahwa mahasiswa itu belajar seharian dari pagi sampai petang. 2) Dalam pertemuan yang mana hadir di sana Wakil Gubernur DKI dilakukan suatu perundingan yang membicarakan perparkiran. 3) Manajer itu dengan segera mengubah rencananya setelah dia bertemu dengan direkturnya. 4) Agar supaya Anda dapat memperoleh nilai ujian yang memuaskan, Anda harus belajar dengan sebaik-baiknya.

b.

Contoh kalimat yang hemat kata: 1) Saya melihat sendiri mahasiswa itu belajar seharian. 2) Dalam pertemuan yang dihadiri Waki Gubernur DKI dilakukan perundingan tentang perparkiran. 3) Manajer itu dengan segera mengubah rencana setelah bertemu direkturnya. 4) Agar Anda memperoleh nilai ujian yang memuaskan, belajarlah baikbaik.

6. Kelogisan Yang dimaksud dengan kelogisan ialah mengupayakan agar ide kalimat masuk akal. Logis dalam hal ini juga menuntut adanya pola pikir yang sistematis (runtut/teratur dalam penghitungan angka dan penomoran). Sebuah kalimat yang sudah benar strukturnya, sudah benar pula pemakaian tanda baca, kata, dan frasa, dapat menjadi salah karena maknanya tidak masuk akal atau lemah dari segi logika. Perhatikan contoh kalimat yang lemah dari segi logika berbahasa berikut ini: a. Kambing sangat senang bermain hujan. (padahal kambin tergolong anti air). b. Karena lama tinggal di asrama putra, anaknya semua laki-laki. (apa hubungan tinggal di asrama putra dengan mempunyai anak lelaki?). c. Uang yang bertumpuk itu terdiri atas pecahan ratusan, puluhan, sepuluh ribuan, lima puluh ribuan, dua puluh ribuan. (tidak runtut dalam merinci sehingga lemah dari segi logika). d. Kepada Bapak Deka, waktu dan tempat kami persilahkan. (waktu dan tempat tidak perlu dipersilahkan)). e. Dengan mengucapkan syukur kepada Tuhan, selesailah makalah ini tepat pada waktunya. (berarti modal untuk menyelesaikan makalah cukuplah ucapan syukur kepada Tuhan.

7. Ketegasan Ketegasan atau penekanan ialah suatu perlakuan penonjolan terhadap ide pokok dari kalimat. Untuk membentuk penekanan dalam suatu kalimat, ada beberapa cara, yaitu: a. Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di depan kalimat (di awal kalimat) Contoh: 1) Harapan kami adalah agar soal ini dapat kita bicarakan lagi pada kesempatan lain.

xi

2) Pada kesempatan lain, kami berharap kita dapat membicarakan lagi soal ini. (ketegasan) 3) Presiden mengharapkan agar rakyat membangun bangsa dan negara ini dengan kemampuan yang ada pada dirinya. 4) Harapan presiden ialah agar rakyat membangun bangsa dan negaranya. (ketegasan)

b. Membuat urutan kata yang bertahap. Contoh: 1) Bukan seribu, sejuta, atau seratus, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar. (salah) 2) Bukan seratus, seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar. (benar)

c. Melakukan pengulangan kata (repetisi) Contoh: Cerita itu begitu menarik, cerita itu sangat mengharukan.

d. Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan. Contoh: Anak itu bodoh, tetapi pintar. e. Mempergunakan partikel penekanan (penegasan), seperti: partikel lah, -pun, dan kah. Contoh: 1) Dapatkah mereka mengerti maksud perkataanku? 2) Dialah yang harus bertanggung jawab dalam menyelesaikan tugas ini

xii

C.

Syarat-Syarat Kalimat Efektif Syarat-syarat kalimat efektif adalah sebagai berikut: 1. Secara tepat mewakili pikiran pembicara atau penulisnya. 2. Mengemukakan pemahaman yang sama tepatnya antara pikiran pendengar atau pembaca dengan yang dipikirkan pembaca atau penulisnya.

D.

Struktur Kalimat Struktur kalimat efektif haruslah benar. Kalimat itu harus memiliki kesatuan bentuk, sebab kesatuan bentuk itulah yang menjadikan adanya kesatuan arti. Kalimat yang strukturnya benar tentu memiliki kesatuan bentuk dan sekaligus kestuan arti. Sebaliknya kalimat yang strukturnya rusak atau kacau, tidak menggambarkan kesatuan apa-apa dan merupakan suatu pernyataan yang salah. Jadi, kalimat efektif selalu memiliki struktur atau bentuk yang jelas. Setiap unsur yang terdapat di dalamnya (yang pada umumnya terdiri dari kata) harus menempati posisi yang jelas dalam hubungan satu sama lain. Kata-kata itu harus diurutkan berdasarkan aturan-aturan yang sudah dibiasakan. Tidak boleh menyimpang, apalagi bertentangan. Setiap penyimpangan biasanya akan menimbulkan kelainan yang tidak dapat diterima oleh masyarakat pemakai bahasa itu. Misalnya, Anda akan menyatakan Saya menulis surat buat papa. Efek yang ditimbulkannya akan sangat lain, bila dikatakan: 1. Buat Papa menulis surat saya. 2. Surat saya menulis buat Papa. 3. Menulis saya surat buat Papa. 4. Papa saya buat menulis surat. 5. Saya Papa buat menulis surat. 6. Buat Papa surat saya menulis.

xiii

Walaupun kata yang digunakan dalam kalimat itu sama, namun terdapat kesalahan. Kesalahan itu terjadi karena kata-kata tersebut (sebagai unsur kalimat) tidak jelas fungsinya. Hubungan kata yang satu dengan yang lain tidak jelas. Kata-kata itu juga tidak diurutkan berdasarkan apa yang sudah ditentukan oleh pemakai bahasa. Demikinlah biasanya yang terjadi akibat penyimpangan terhadap kebiasaan struktural pemakaian bahasa pada umumnya. Akibat selanjutnya adalah kekacauan pengertian. Agar hal ini tidak terjadi, maka si pemakai bahasa selalu berusaha mentaati hokum yag sudah dibiasakan.

E.

Unsur-Unsur Kalimat Unsur kalimat adalah fungsi sintaksis yang dalam buku-buku tata bahasa Indonesia lama lazim disebut jabatan kata dan kini disebut peran kata dalam kalimat, yaitu subjek (S), predikat (P), objek (O), pelengkap (Pel), dan keterangan (Ket). Kalimat bahasa Indonesia baku sekurangkurangnya terdiri atas dua unsur, yakni subjek dan predikat. Unsur yang lain (objek, pelengkap, dan keterangan) dalam suatu kalimat dapat wajib hadir, tidak wajib hadir, atau wajib tidak hadir.

1. Predikat Predikat (P) adalah bagian kalimat yang memberitahu melakukan (tindakan) apa atau dalam keadaan bagaimana subjek (pelaku/tokoh atau benda di dalam suatu kalimat). Selain memberitahu tindakan atau perbuatan subjek (S), P dapat pula menyatakan sifat, situasi, status, ciri, atau jati diri S. termasuk juga sebagai P dalam kalimat adalah pernyataan tentang jumlah sesuatu yang dimiliki oleh S. predikat dapat juga berupa kata atau frasa, sebagian besar berkelas verba atau adjektiva, tetapi dapat juga numeralia, nomina, atau frasa nominal. Perhatikan contoh berikut: a. Kuda meringkik. b. Ibu sedang tidur siang. c. Putrinya cantik jelita. d. Kota Jakarta dalam keadaan aman.

xiv

e. Kucingku belang tiga. f. Robby mahasiswa baru. g. Rumah Pak Hartawan lima.

Kata-kata yang dicetak tebal dalam kalimat di atas adalah P. kata meringkik pada kalimat (a) memberitahukan perbuatan kuda. Kelompok kata sedang tidur siang pada kalimat (b) memberitahukan melakukan apa ibu, cantik jelita pada kalimat (c) memberitahukan bagaimana putrinya, dalam keadaan aman pada kalimat (d) memberitahukan situasi kota Jakarta, belang tiga pada kalimat (e) memberitahukan ciri kucingku, mahasiswa baru pada kalimat (f) memberitahukan status Robby, dan lima pada kalimat (g) memberitahukan jumlah rumah Pak Hartawan. Berikut ini contoh kalimat yang tidak memiliki P karena tidak ada kata-kata menunjuk pada perbuatan, sifat, keadaan, ciri, atau status pelaku atau bendanya. a. Adik saya yang gendut lagi lucu itu.

b. Kantor kami yang terletak di Jln. Gatot Subroto. c. Bandung yang terkenal kota kembang.

Walaupun contoh (a), (b), (c) ditulis persis seperti lazimnya kalimat normal, yaitu diawali dengan huruf kaital dan diakhiri dengan tanda titik, namun di dalamnya tidak ada satu kata pun yang berfungsi sebagai P. Tidak ada jawaban atas pertanyaan melakukan apa adik yang gendut lagi lucu (pelaku) pada contoh (a), tidak ada jawaban atas pertanyaan kenapa atau ada apa dengan kantor di Jalan Gatot Subroto dan Bandung terkenal sebagai kota kembang itu pada contoh (b) dan (c). karena tidak ada informasi tentang tindakan, sifat, atau hal lain yang dituntut oleh P, maka contoh (a), (b), (c) tidak mengandung P. Karena itu, rangkaian kata-kata yang cukup panjang pada contoh (a), (b), (c) itu belum merupakan kalimat, melainkan baru merupakan kelompok kata atau frasa.

xv

2. Subjek Subjek (S) adalah bagian kalimat menunjukkan pelaku, tokoh, sosok (benda), sesuatu hal, suatu masalah yang menjadi pangkal/pokok pembicaraan. Subjek biasanya diisi oleh jenis kata/frasa benda (nominal), klausa, atau frasa verbal. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh sebagai berikut ini: a. Ayahku sedang melukis.

b. Meja direktur besar. c. Yang berbaju batik dosen saya.

d. Berjalan kaki menyehatkan badan. e. Membangun jalan layang sangat mahal.

Kata-kata yang dicetak tebal pada kalimat di atas adalah S. Contoh S yang diisi oleh kata dan frasa benda terdapat ada kalimat (a) dan (b), contoh S yang diisi oleh klausa terdapat pada kalimat (c), dan contoh S yang diisi oleh frasa verbal terdapat pada kalimat (d) dan (e).

Dalam bahasa Indonesia, setiap kata, frasa, klausa pembentuk S selalu merujuk pada benda (konkret atau abstrak). Pada contoh di atas, kendatipun jenis kata yang mengisi S pada kalimat (c), (d) dan (e) bukan kata benda, namun hakikat fisiknya tetap merujuk pada benda. Bila kita menunjuk pelaku pada kalimat (c) dan (d), yang berbaju batik dan berjalan kaki tentulah orang (benda). Demikian juga membangun jalan layang yang menjadi S pada kalimat (e), secara implisit juga merujuk pada hasil membangun yang tidak lain adalah benda juga. Di samping itu, kalau diselami lebih dalam, sebenarnya ada nomina yang lesap, pada awal kalimat (c) sampai (e), yaitu orang pada awa kalimat (c) dan kegiatan pada awal kalimat (d) dan (e).

xvi

Selain ciri di atas, S dapat juga dikenali dengan cara bertanya dengan memakai kata tanya siapa (yang) atau apa (yang) kepada P. Kalau ada jawaban yang logis atas pertanyaan yang diajukan, itulah S. Jika ternyata jawabannya tidak ada dan atau tidak logis berarti kalimat itu tidak mempunyai S. Inilah contoh kalimat yang tidak mempunyai S karena tidak ada/tidak jelas pelaku atau bendanya. a. b. c. Bagi siswa sekolah dilarang masuk. Di sini melayani obat generic. Memandikan adik di pagi hari.

Contoh (a) sampai (c) belum memenuhi syarat sebagai kalimat karena tidak mempunyai S. Kalau ditanya kepada P, siapa yang dilarang masuk pada contoh (a) siapa yang melayani resep pada contoh (b) dan siapa yang memandikan adik pada contoh (c), tidak ada jawabannya. Kalaupun ada, jawaban itu terasa tidak logis.

3. Objek Objek (O) adalah bagian kalimat yang melengkapi P. objek pada umumnya diisi oleh nomina, frasa nominal, atau klausa. Letak O selalu di belakang P yang berupa verba transitif, yaitu verba yang menuntut wajib hadirnya O, seperi pada contoh di bawah ini. a. Nurul menimang Juru masak menggoreng b. Arsitek merancang c.

Verba transitif menimang, merancang, dan menggoreng pada contoh tersebut adalah P yang menuntut untuk dilengkapi. Unsur yang akan melengkapi P pada ketiga kalimat itulah yang dinamakan objek.

xvii

Jika P diisi oleh verba intransitif, O tidak diperlukan. Itulah sebabnya sifat O dalam kalimat dikatakan tidak wajib hadir. Verba intransitive mandi, rusak, pulang yang menjadi P dalam contoh berikut tidak menuntut untuk dilengkapi. a. Nenek mandi.

b. Komputerku rusak. c. Tamunya pulang.

Objek dalam kalimat aktif dapat berubah menjadi S jika kalimatnya dipasifkan. Perhatikan contoh kalimat berikut yang letak O-nya di belakang dan ubahan posisinya bila kalimatnya dipasifkan. a. 1) Martina Hingis mengalahkan Yayuk Basuki (O) 2) Yayuk Basuki (S) dikalahkan oleh Martina Hingis. b. 1) Orang itu menipu adik saya (O) 2) Adik saya (S) ditipu oleh orang itu.

4. Pelengkap Pelengkap (P) atau komplemen adalah bagian kalimat yang melengkapi P. letak Pel umumnya di belakang P yang berupa verba. Posisi seperti itu juga ditempati oleh O, dan jenis kata yang mengisi Pel dan O juga sama, yaitu dapat berupa nomina, frasa nominal, atau klausa. Namun, antara Pel dan O terdapat perbedaan. Perhatikan cnntoh di bawah ini: a. Ketua MPR membacakan Pancasila. S P O

b. Banyak orpospol berlandaskan Pancasila. S P Pel

Kedua kalimat aktif (a) dan (b) yang Pel dan O-nya sama-sama diisi oleh nomina Pancasila, jika hendak dipasifkan ternyata yang bisa hanya kalimat (a) yang menempatkan Pancasila sebagai O.

xviii

Ubahan kalimat (a) menjadi kalimat pasif adalah sebagai berikut: Pancasila dibacakan oleh ketua MPR. S P O

Posisi Pancasila sebagai Pel pada kalimat (b) tidak bisa dipindah ke depan menjadi S dalam kalimat pasif. Contoh berikut adalah kalimat yang tidak gramatikal. Pancasila dilandasi oleh banyak orsospol. Hal lain yang membedakan Pel dan O adalah jenis pengisinya. Selain diisi oleh nomina dan frasa nominal, Pel dapat juga diisi oleh frasa adjectival dan frasa preposisional. Di samping itu, letak Pel tidak selalu persis di belakang P. Apabila dalam kalimatnya terdapat O, letak pel adalah di belakang O sehingga urutan penulisan bagian kalimat menjadi SP-O-Pel. Berikut adalah beberapa contoh pelengkap dalam kalimat. a. Sutardji membacakan pengagumnya puisi kontemporer.

b. Mayang mendongengkan Rayhan Cerita si Kancil. c. Sekretaris itu mengambilkan atasannya air minum.

d. Annisa mengirimi kakeknya kopiah bludru. e. Pamanku membelikan anaknya rumah mungil.

5. Keterangan Keterangan (Ket) adalah bagian kalimat yang menerangkan berbagai hal mengenai bagian kalimat yang lainnya. Unsur Ket dapat berfungsi menerangkan S, P, O, dan Pel. Posisinya bersifat bebas, dapat di awal, di tengah, atau di akhir kalimat. Pengisi Ket adalah frasa nominal, frasa preporsisional, adverbia, atau klausa. Berdasarkan maknanya, terdapat bermacam-macam Ket dalam kalimat. Para ahli membagi keterangan atas Sembilan macam (Hasan Alwi dkk, 1998:366) yaitu seperti yang tertera pada tabel di bawah ini.

xix

JENIS KETERANGAN DAN CONTOH PEMAKAIANNYA

Jenis Keterangan 1. Tempat

Posisi/Penghubung

Contoh Pemakaian

di ke dari (di) dalam pada

di kamar, di kota ke Medan, ke rumahnya dari Manado, dari sawah (di) dalam rumah Pada saya, pada permukaan

2. Waktu

pada dalam sesebelum sesudah selama sepanjang

sekarang, kemarin pada pukul 5 hari ini dalam 2 hari ini sepulang dari kantor sebelum pukul 12 sesudah makan selama bekerja sepanjang hari dengan gunting, dengan mobil

3. Alat

dengan

4. Tujuan

supaya untuk bagi demi

supaya/agar kamu pintar untuk kemerdekaan bagi masa depan demi kekasihmu secara hati-hati dengan cara damai dengan jalan berunding satu sama lain seperti angina bagakan seorang dewi

5. Cara

secara dengan cara dengan jalan

6. Kesalingan 7. Similatif

seperti bagaikan

xx

laksana 8. Penyebaban karena sebab 9. Penyerta dengan bersama beserta

laksana bintang di langgit karena perempuan itu sebab kecerobohannya dengan adiknya bersama orang tuanya beserta saudaranya

xxi

BAB IV PENUTUP
A. Simpulan Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mewakili pikiran penulis atau pembicara secara tepat sehingga pndengar/pembaca dapat memahami pikiran tersebut dengan mudah, jelas dan lengkap seperti apa yang dimaksud oleh penulis atau pembicaranya. Ciri-ciri kalimat efektif: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Kesatuan Kepaduan Keparalelan Ketepatan Kehematan Kelogisan Ketegasan

Syarat-syarat kalimat efektif adalah sebagai berikut: 1. Secara tepat mewakili pikiran pembicara atau penulisnya.

2. Mengemukakan pemahaman yang sama tepatnya antara pikiran pendengar atau pembaca dengan yang dipikirkan pembaca atau penulisnya.

Penyusunan kalimat efektif, meliputi: 1. 2. 3. 4. 5. Subjek Predikat Objek Pelengkap Keterangan

xxii

B.

Saran 1. Bagi dosen atau guru Bagi dosen atau guru sebaiknya memahami dengan seksama dan benahi tentang bahasa indonesia yang memiliki berbagai ragam bahasa supaya dalam proses kegiatan belajar mengajar teradi komunikas yang baik dan tepat penggunaan bahasanya antara Bagi dosen atau guru dengan mahasiswa.

2. Bagi mahasiswa Para mahasiswa

sebaiknya

memahami

dan

mencari

pengetahuan secara seksama mengenai materi dalam makalah ini supaya pada saat mahasiswa terjun ke lapangan tidak terjadi kekeliruan dalam pemakaian bahasa terhadap mahasiswa lain dan masyarakat.

3. Bagi lembaga sekolah/universitas Lembaga sekolah/universitas sebaiknya memberikan dan menekankan perhatian penuh terhadap penggunaan ragam bahasa yang tepat agar terjalin komunikasi yang selaras. Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini. Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman dapat memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di kesempatan kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.

xxiii

Daftar Pustaka
Finoza, Lamuddin. 2002.. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta: Insan Mulia. Razak, Abdul. 1985. Kalimat Efektif. Jakarta: Gramedia. http:////Pengertian, Ciri, dan Penggunaan Kalimat Efektif.html.

xxiv